Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

Vertigo adalah halusinasi gerakan lingkungan sekitar serasa berputar


mengelilingi pasien atau pasien serasa berputar mengelilingi lingkungan sekitar.
Keluhan vertigo tidak selalu sama dengan pusing atau dizziness. Dizziness
merupakan keluhan yang sering dialami oleh pasien yang datang untuk meminta
pertolongan ke dokter. Dizziness atau pusing merupakan suatu istilah yang masih
umum, sehingga perlu untuk mendeskripsikannya menjadi lebih spesifik
berdasarkan gejalanya. Dizziness dibagi menjadi beberapa subtipe yaitu vertigo,
disequilibrium, presinkop, dan lightheadedness. disequilibrium merupakan
ketidakseimbangan tubuh tanpa adanya ilusi gerakan, presinkop adalah sensasi
yang terjadi sebelum kehilangan kesadaran, dan lightheadedness adalah pusing
melayang seperti akan jatuh, giddiness, wooziness. Keempat subtipe tersebut
mempunyai gejala dan etiologi yang berbeda-beda sehingga penting bagi petugas
kesehatan yaitu dokter untuk dapat membedakannya dari hasil anamnesis dan
pemeriksaan fisik agar dapat memberikan penatalaksanaan yang tepat. Vertigo
merupakan keluhan yang paling sering dialami diantara keempat subtipe dizziness
tersebut yaitu sekitar 45-54% (Thompson et.al., 2009). Vertigo dibagi menjadi
vertigo vestibular (true vertigo) dan vertigo nonvestibular. Vertigo vestibular,
berdasarkan letak gangguan pada sistem vestibular, dibagi menjadi vertigo perifer
dan vertigo sentral, dan >50% merupakan vertigo perifer (Wahyudi, 2012).

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Vertigo berasal dari bahasa latin, vertere yang berarti berputar, dan
igo yang berarti kondisi. Vertigo merupakan bagian dari dizzines, yaitu
persepsi atau ilusi gerakan. Penderita vertigo merasakan perasaan berputar
terhadap objek di sekitarnya atau objek disekitarnya yang bergerak
berputar terhadap dirinya. Vertigo vestibular merupakan true vertigo,
dimana terjadi gangguan keseimbangan akibat terganggunya sistem
vestibular yang dibagi menjadi dua, yaitu vertigo vestibular perifer dan
vertigo vestibular sentral. Vertigo perifer terjadi gangguan pada nervus
vestibulokoklearis yang keluar dari nukleus vestibularis, utrikulus,
sakulus, atau kanalis semisirkularis. Sedangkan vertigo sentral terjadi
gangguan pada serebelum atau batang otak.
2.2. Anatomi dan Fisologi Sistem Vestibular
Sistem vestibular atau aparatus vestibular merupakan organ sensorik
yang berperan untuk mendeteksi sensasi keseimbangan. Sistem vestibular
perifer terdiri dari struktur telinga dalam sampai nukleus vestibularis,
sedangkan sistem vestibular sentral di mulai dari nukleus vestibularis yang
mempunyai koneksi yang luas dengan struktur batang otak dan serebelum.
Sistem vestibular perifer terdapat didalam pars petrosa ossis
temporalis, terdiri dari labirin tulang dan labirin membranosa. Labirin
tulang terdiri atas tiga bagian, yaitu koklea, vestibulum, dan tiga kanalis
semisirkularis (Snell, 2012). Koklea merupakan organ sensorik utama
untuk pendengaran dan hampir tidak berhubungan dengan keseimbangan
(Guyton, 2007). Vestibulum merupakan bagian tengah dari labirin tulang
yang didalamnya terdapat sakulus dan utrikulus yang merupakan bagian
dari labirin membranosa. Ketiga kanalis semisirkularis yaitu bagian lateral,
posterior, dan anterior bermuara ke posterior vestibulum dengan terdapat

2
3

pelebaran pada tiap ujungnya yang disebut ampulla, dimana terdapat organ
reseptor sistem vestibular yaitu krista ampularis (Snell, 2012).

Gambar 1. Anatomi Telinga dalam

Labirin membranosa terdiri dari sakulus dan utrikulus yang berisi


cairan endolimfe dan dikelilingi oleh cairan perilimfe dalam labirin tulang
yang dalam keadaan normal tidak ada hubungan antara ruang endolimfe
dan perilimfe. Di bagian permukaan dalam dari setiap sakulus dan
utrikulus terdapat daerah sensorik yang disebut makula.
Sel-sel rambut khusus terdapat di tiap krista ampularis dan makula
yang berfungsi untuk merubah energi mekanis menjadi impuls sensorik.
Penempatan sel-sel rambut pada bermacam-macam arah dalam makula
sakulus dan utrikulus adalah untuk menerima rangsangan saat terjadi
perubahan posisi kepala sehubungan dengan gaya tarik gravitasi yang
selanjutnya akan disalurkan melalui saraf vestibular ke sistem saraf pusat
untuk menjaga keseimbangan. Saat kepala tiba-tiba mulai berputar ke
suatu arah, endolimfe dalam kanalis semisirkularis, akibat efek inersianya,
cenderung menetap, sedangkan kanalis semisirkularis akan
berbelok/berputar. Keadaan ini menyebabkan cairan relatif mengalir dalam
kanalis dengan arah yang berlawanan dengan perputaran kepala untuk
menjaga keseimbangan (Guyton, 2007).
4

Gambar 2. Sistem Vestibular Perifer

Fisiologi Sistem Vestibular


Keseimbangan dan orientasi tubuh seseorang terhadap lingkungan
disekitarnya tergantung pada input sensorik dan reseptor vestibuler di
labirin, organ visual, dan proprioseptif. Gabungan informasi ketiga
reseptor sensorik tersebut akan diolah di SSP, sehingga menggambarkan
keadaan posisi tubuh pada saat itu.
Gerakan atau perubahan kepala dan tubuh akan menimbulkan
perpindahan cairan endolimfe di labirin dan selanjutnya selia sel rambut
akan menekuk. Tekukan silia menyebabkan permeabilitas membran sel
berubah sehingga ion kalsium akanmasuk ke dalam sel yang menyebabkan
terjadinya proses depolarisasi dan akan merangsang perlepasan
neurotransmitter eksitator yang selanjutnya akan meneruskan impuls
sensoris melalui saraf aferen ke pusat keseimbangan di otak. Sewaktu
berkas silia mendorong ke arah berlawanan, maka terjadi hiperpolarisasi.
Organ vestibuler berfungsi sebagai transduser yang mengubah energi
mekanik akibat rangsangan otolit dan gerakan endolimfe di dalam kanalis
semisirkularis menjadi energi biolistrik, sehingga dapat memberi informasi
mengenai perubahan posisi tubuh akibat percepatan linier atau percepatan
sudut. Dengan demikian dapat memberi informasi mengenai semua gerak
5

tubuh yang sedang berlangsung. Sistem vestibuler berhubungan dengan


sistem tubuh lain, sehingga kelainannya dapat menimbulkan gejala pada
sistem tubuh bersangkutan. Gejala yang timbul dapat berupa vertigo, rasa
mual dan muntah. Pada jantung berupa bradikardi atau takikardi dan pada
kulit reaksinya berkeringat dingin.

2.3. Gangguan Vestibular Perifer


1. BPPV
Benign paroxysmal positional vertigo adalah gangguan vestibular
perifer yang paling sering terjadi. Di Amerika, 64 dari 100.000 orang
mengalami BPPV. Perempuan lebih sering terkena dibandingkan laki-laki,
dengan gejala dirasakan paling banyak pada usia 40-50 tahun. Ada
beberapa teori yang menjelaskan mengenai proses terjadinya BPPV salah
satunya adalah teori kanalitiasis. Kalsium karbonat yang bergerak di dalam
kanalis semisirkularis (kanalitiasis) menyebabkan endolimfe bergerak dan
akan menstimulasi ampula dalam kanal, sehingga menyebabkan vertigo.
Kanalitiasis paling sering terjadi di kanalis semisirkularis posterior, namun
dapat pula mengenai kanalis semisirkularis lateran dan anterior.
Penderita BPPV mengeluhkan vertigo yang timbul mendadak saat
perubahan posisi kepala misalnya miring ke satu sisi pada waktu
berbaring, bangkit dari tidur, membungkuk atau waktu menegakkan
kembali badan, menunduk atau menengadah. Vertigo muncul secara tiba-
tiba dan berlangsung singkat biasanya kurang dari 1 menit (Thompson
et.al., 2009). Penderita dapat merasakan pusing (light-headedness) diantara
serangan vertigo, dapat disertai mual dan kadang-kadang muntah. BPPV
yang mengenai kanalis semisirkularis posterior biasanya mempunyai
gejala berupa nistagmus rotatory yang ada masa laten beberapa detik dan
berlangsung kurang dari 30 detik, muncul kembali saat perubahan posisi,
dan akan semakin berkurang apabila dilakukan pengulangan terus menerus
manuver perubahan posisi kepala tersebut. Diagnosis BPPV dapat
ditegakkan secara klinis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik
6

ataupun pemeriksaan khusus seperti tes dix hallpike yaitu tes untuk
memprovokasi timbulnya vertigo oleh perubahan posisi kepala.

2. Penyakit Meniere
Penyakit meniere adalah suatu gangguan kronis telinga dalam, tidak
fatal namun mengganggu kualitas hidup. Gejala pada penyakit meniere
disebabkan oleh peningkatan cairan endolimfe atau endolymphatic
hydrops. Endolympatic hydrops dideskripsikan sebagai peningkatan
tekanan dan displacement mekanis organ telinga dalam sehingga
mempresipitasi terjadinya serangan. Endolympatic hydrops juga
menimbulkan micro ruptur pada membran Reissner, sehingga terjadi
percampuran antara cairan endolimfe dan perilimfe. Campuran cairan ini
akan merendam reseptor pada koklea dan sistem vestibular, sehingga
selain gangguan keseimbangan, pada penyakit meniere didapatkan juga
gangguan pendengaran.
Penyebab pasti penyakit meniere belum dapat dijelaskan, namun ada
beberapa faktor yang dapat menyebabkan penyakit meniere seperti
inflamasi, trauma, otosklerosis, autoimun, gangguan endokrin, dan genetik
(Gnerre et al., 2015). Kejadian penyakit meniere banyak ditemukan pada
orang kaukasia, dan perempuan lebih sering terkena dibandingkan laki-
laki dengan usia antara 20-50 tahun. Menurut guidelines of the American
Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery (AAO-HNS),
penyakit meniere ditandai 4 gejala, yaitu:
- Vertigo; Rasa berputar, episodik, derajat ringan sampai berat, dengan
durasi minimal 20 menit setiap episode serangan namun tidak lebih
dari 24 jam.
- Gangguan pendengaran; Berfluktuasi, tuli sensoris frekuensi rendah,
yang memberat saat serangan dan makin lama bisa semakin
memberat.
- Tinitus; khas seperti dering bernada rendah atau roaring noise di
telinga.
7

- Rasa penuh di dalam telinga.


Gejala klinis pada penyakit meniere akan mengalami remisi spontan
pada 60-80% penderita, sedangkan 10-20% membutuhkan terapi yang
adekuat untuk mengatasi penyakit meniere yang dideritanya. Umumnya
penyakit meniere hanya mengenai satu telinga (unilateral), namun pada
15% penderita dapat terjadi secara bilateral.

3. Neuritis Vestibularis
Neuritis vestibularis merupakan gangguan vestibular perifer
terbanyak kedua setelah BPPV. Infeksi virus diduga menjadi penyebab
neuritis vestibularis. Hal ini didukung oleh hipotesis bahwa terjadinya
bersifat endemik pada bulan tertentu yang berhubungan dengan infeksi
virus. Dapat juga disebabkan karena reaktivasi herpes simplex virus yang
mengenai vestibular ganglion, saraf vestibular, labirin, atau mengenai
ketiganya. Gejala neuritis vestibularis adalah vertigo yang
berkepanjangan, mual muntah, dan gangguan keseimbangan yang
berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu. Selain itu,
terdapatnya nistagmus, positif head-thrust test, dan tidak ada defisit
neurologis, merupakan karakteristik klinis neuritis vestibularis.

4. Labyrinthitis
Labyrinthitis merupakan inflamasi pada labirin membranosa,
mengenai organ vestibular dan koklear. Dapat terjadi secara unilateral
maupun bilateral, dan sama seperti neuritis vestibularis yang biasanya
didahului oleh infeksi pernafasan bagian atas. Mikroorganisme yang dapat
menginfeksi dapat berupa virus maupun bakteri. Labyrinthitis akibat virus
biasanya dialami oleh orang dewasa di usia 40-70 tahun. Bakterial
labyrinthitis dapat terjadi akibat infeksi otogenik seperti cholesteatoma
atau otitis media dan pada penderita meningitis. Labyrinthitis akibat
meningitis paling sering mengenai anak usia <2 tahun. Otogenik infeksi
biasanya hanya gejala unilateral, sedangkan meningitic labyrinthitis
menyebabkan gejala bilateral.
8

Berbeda dengan neuritis vestibularis, penderita labyrithitis datang


dengan keluhan yang mengindikasikan gangguan pada vestibular dan
koklear. Vertigo dirasakan secara tiba-tiba disertai kehilangan
pendengaran dan ditemukan gejala dari penyakit yang menjadi sumber
infeksi seperti otitis media, mastoiditis atau meningitis.

2.4. Diagnosa Vertigo Vestibular Perifer


1. Anamnesis
Pertama-tama ditanyakan bentuk vertigonya, melayang, goyang,
berputar, tujuh keliling, rasa naik perahu dan sebagainya, hal ini untuk
mengetahui jenis vertigo vestibulaer atau non vestibuler. Perlu diketahui
juga keadaan yang memprovokasi timbulnya vertigo. Perubahan posisi
kepala dan tubuh, keletihan dan ketegangan. Profil waktu, apakah
timbulnya akut atau perlahan-lahan, hilang timbul, paroksismal, kronik
progresif atau membaik. Apakah ada gangguan pendengaran yang
biasanya menyertai/ditemukan pada lesi alat vestibuler atau n.
vestibularis. Perhatikan juga apakah terdapat gangguan neurologis.
Apakah ada gejala-gejala gangguan batang otak atau kortikal (misalnya,
nyeri kepala, gangguan visual, kejang, hilang kesadaran). Penggunaan
obat-obatan seperti streptomisin, kanamisin, salisilat, antimalaria dan lain-
lain yang diketahui ototoksik/vestibulotoksik dan adanya penyakit
sistemik seperti anemia, penyakit jantung, hipertensi, hipotensi, penyakit
paru dan kemungkinan trauma akustik.
Tabel 1. Perbedaan vertigo vestibular dan non vestibular

Gejala Vertigo Vestibular Vertigo Non Vestibular


Sifat vertigo rasa berputar melayang, hilang
keseimbangan
Serangan episodik kontinu
Mual/muntah + -
Gangguan pendengaran +/- -
Gerakan pencetus gerakan kepala gerakan obyek visual
Situasi pencetus - keramaian, lalu lintas
9

Tabel 2. Perbedaan Vertigo Vestibuler Perifer dan Sentral

Vertigo Vestibuler Perifer Vertigo Vestibuler Sentral

Kejadian Episodik, onset mendadak Konstan

Arah nistagmus (Spinning) Satu arah bervariasi


Horizontal, vertikal, oblik, atau
Aksis nistagmus, Horizontal atau rotatorik
rotarik
Gejala otonom Mual, muntah, keringat (++) Mual, muntah, keringat (+)
Hilang pendengaran,
Bisa terjadi Tidak ada
tinnitus
Kehilangan kesadaran Tidak ada Dapat terjadi
Sering disertai deficit saraf
Gejala neurologis lainnya Tidak ada kranial serta tanda-tanda serebelar
dan piramidal

Durasi serangan vertigo pada vertigo perifer juga berbeda-beda


sesuai etiologi yang mendasarinya, seperti:
a. Episode (serangan) vertigo yang berlangsung beberapa detik
Paling sering disebabkan oleh vertigo posisional benigna. Dapat
dicetuskan oleh perubahan posisi kepala. Berlangsung beberapa detik
dan kemudian mereda. Paling sering penyebabnya idiopatik (tidak
diketahui), namun dapat juga diakibatkan oleh trauma di kepala,
pembedahan di telinga atau oleh neuronitis vestibular. Prognosis
umumnya baik, gejala menghilang secara spontan.
b. Episode vertigo yang berlangsung beberapa menit atau jam
Dapat dijumpai pada penyakit meniere atau vestibulopati berulang.
Penyakit meniere mempunyai trias gejala yaitu ketajaman
pendengaran menurun (tuli), vertigo dan tinitus.
c. Serangan vertigo yang berlangsung beberapa hari sampai beberapa
minggu
Neuronitis vestibular merupakan kelainan yang sering datang ke unit
darurat. Pada penyakit ini, mulainya vertigo dan nausea serta muntah
yang menyertainya ialah mendadak, dan gejala ini dapat berlangsung
beberapa hari sampai beberapa minggu. Fungsi pendengaran tidak
10

terganggu pada neuronitis vestibular. Pada pemeriksaan fisik mungkin


dijumpai nistagmus.

2. Pemeriksaan Fisik
Ditujukan untuk meneliti faktor-faktor penyebab, baik kelainan
sistemik, otologik atau neurologik-vestibuler atau serebeler, dapat berupa
pemeriksaan fungsi pendengaran dan keseimbangan, gerak bola
mata/nistagmus dan fungsi serebelum. Pendekatan klinis terhadap
keluhan vertigo adalah untuk menentukan penyebab, apakah akibat
kelainan sentral yang berkaitan dengan kelainan susunan saraf pusat
(korteks serebrim serebelum, batang otak atau berkaitan dengan sistim
vestibuler/otologik, selain itu harus dipertimbangkan pula faktor
psiikologik/psikiatrik yang dapat mendasari keluhan vertigo tersebut.(12)
Faktor sistemik yang juga harus dipikirkan/dicari antara lain
aritmi jantung, hipertensi, hipotensi, gagal jantung kongestif, anemi,
hipoglikemi. Dalam menghadapi kasus vertigo, pertama-tama harus
ditentukan bentuk vertigonya, lalu letak lesi dan kemudian penyebabnya,
agar dapat diberikan terapi kausal yang tepat dan terapi simtomatik yang
sesuai.

3. Pemeriksaan Neurologi
Pemeriksaan neurologis dilakukan dengan perhatian khusus pada :
1. Fungsi vestibuler/serebeler
a. Uji Romberg :
Penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan, mula-mula
dengan kedua mata terbuka kemudian tertutup. Biarkan pada
posisi demikian selama 20-30 detik. Harus dipastikan bahwa
penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya dengan
bantuan titik cahaya atau suara tertentu). Pada kelainan
vestibuler hanya pada mata tertutup badan penderita akan
bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi, pada
11

mata terbuka badan penderita tetap tegak. Sedangkan pada


kelainan serebelar badan penderita akan bergoyang baik pada
mata terbuka maupun pada mata tertutup.

Gambar 3. Uji Romberg


b. Uji Romberg dipertajam
Pemeriksa berada dibelakang pasie. Tumit pasien berada didepan
ibu jari kaki yang lainnya. Pasien diamati dalam keadaan mata
terbuka selama 30 detik, lalu kemudian menutup mata selama 30
detik. Interpretasi sama dengan uji romberg.
c. Tandem gait.
Penderita berjalan dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan
pada ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti. Pada kelainan
vestibuler, perjalanannya akan menyimpang dan pada kelainan
serebeler penderita akan cenderung jatuh.
d. Uji Unterberger
Berdiri dengan kedua lengan lurus horizontal ke depan dan
jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama
satu menit. Pada kelainan vestibuler posisi penderita akan
menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti
orang melempar cakram; kepala dan badan berputar ke arah
lesi, kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada
12

sisi lesi turun dan yang lainnya naik. Keadaan ini disertai
nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi.

Gambar 4. Uji Unterberger


e. Past-ponting test (Uji Tunjuk Barany).
Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan
penderita disuruh mengangkat lengannya ke atas, kemudian
diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. Hal
ini dilakukan berulang- ulang dengan mata terbuka dan
tertutup. Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan
lengan penderita ke arah lesi.

Gambar 5. Past-ponting test


13

f. Uji Babinsky-Weil
Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima
langkah ke depan dan lima langkah ke belakang selama setengan
menit; jika ada gangguan vestibuler unilateral, pasien akan
berjalan dengan arah berbentuk bintang.

4. Pemeriksaan Khusus Oto-Neurologi


Pemeriksaan ini terutama untuk menentukan apakah letak
lesinya di sentral atau perifer.
1. Fungsi Vestibuler
a. Uji Dix Hallpike
Perhatikan adanya nistagmus, lakukan uji ini ke kanan dan kiri.
Dari posisi duduk di atas tempat tidur, penderita dibaringkan ke
belakang dengan cepat, sehingga kepalanya menggantung 45
di bawah garis horizontal, kemudian kepalanya dimiringkan
45 ke kanan lalu ke kiri. Perhatikan saat timbul dan
hilangnya vertigo dan nistagmus, dengan uji ini dapat
dibedakan apakah lesinya perifer atau sentral. Perifer, vertigo dan
nistagmus timbul setelah periode laten 2-10 detik, hilang dalam
waktu kurang dari 1 menit, akan berkurang atau menghilang
bila tes diulang-ulang beberapa kali (fatigue). Sentral, tidak
ada periode laten, nistagmus dan vertigo berlangsung lebih
dari 1 menit, bila diulang-ulang reaksi tetap seperti semula
(non-fatigue).

Gambar 6. Uji Dix Hallpike


14

b. Tes Kalori
Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30, sehingga kanalis
semisirkularis lateralis dalam posisi vertikal. Kedua telinga
diirigasi bergantian dengan air dingin (30C) dan air hangat
(44C) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5
menit. Nistagmus yang timbul dihitung lamanya sejak permulaan
irigasi sampai hilangnya nistagmus tersebut (normal 90-150
detik). Dengan tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis
atau directional preponderance ke kiri atau ke kanan. Canal
paresis adalah jika abnormalitas ditemukan di satu telinga, baik
setelah rangsang air hangat maupun air dingin, sedangkan
directional preponderance ialah jika abnormalitas ditemukan
pada arah nistagmus yang sama di masing-masing telinga.
Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labarin atau n.VIII,
sedangkan directional preponderance menunjukkan lesi sentral.
c. Elektronistagmogram
Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit, dengan tujuan
untuk merekam gerakan mata pada nistagmus, dengan
demikian nistagmus tersebut dapat dianalisis secara kuantitatif.

2. Fungsi Pendengaran
a. Tes Garpu Tala
Tes ini digunakan untuk membedakan tuli konduktif dan tuli
perseptif, dengan tes-tes Rinne, Weber dan Schwabach. Pada
tuli konduktif, tes Rinne negatif, Weber lateralisasi ke yang
tuli dan schwabach memendek.
b. Audiometri
Ada beberapa macam pemeriiksaan audiometri seperti Ludness
Balance Test, SISI, Bekesy Audiometry, Tone Decay.
Pemeriksaan saraf-saraf otak lain meliputi: acies visus, kampus
visus, okulomotor, sensorik wajah, otot wajah, pendengaran dan
15

fungsi menelan. Juga fungsi motorik (kelumpuhan ekstremitas),


fungsi sensorik (hipestesi, parestesi) dan serebelar (tremor,
gangguan cara berjalan).
3. Pemeriksaan Kepala dan Leher
Pemeriksaan kepala dan leher meliputi :
a. Pemeriksaan membrane timpani untuk menemukan vesikel
(misalnya herpes zoster auticus (Ramsay Hunt Syndrome)) atau
kolesteaatoma.
b. Hennebert sign (vertigo atau nistagmus yangterjadi ketika
mendorong tragus dan meatus akustikus eksternus pada siis yang
bermasalah) mengindikasikan fistula perikimfatik .
c. Valsava maneuver (exhalasi dengan mulut dan hidung ditutup
untuk meningkat tekanan melawan tuba eusthacius dan telinga
dalam) dapat menyebabkan vertigo pada pasien dengan fistula
perilimfatik atau dehiscence kanalis semisirkularis anterior. Namun
nilai diagnostic berdasarkan klinis ini masih terbatas.
d. Head impulses test
Pasien duduk tegak dengan mata terfiksasi pada objek sejauh 3 m
dan diinstruksikan untuk tetap melihat objek ketika pemeriksa
menolehkan kepala pasien. Dimulai dengan pemeriksa menolehkan
kepala pasien ke salah satu sisi pelan-pelan setelah itu pemeriksa
o
menolehkan kepala pasien sisi lainnya horizontal 20 dengan
cepat. Pada orang yang normal tidak ada saccades
mengindikasikan pandangan mereka terfiksasi di objek. Jika ada
sakade setelahnya maka mengindikasikan bahwa terdapat lesi pada
vestibular perifer pada sisi itu.
16

Gambar 7. Head impulses test

5. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium rutin atas darah dan urin, dan
pemeriksaan lain sesuai indikasi.
2. Foto Rontgen tengkorak, leher, Stenvers (pada neurinoma
akustik).
3. Neurofisiologi Elektroensefalografi (EEG), Elektromiografi
(EMG).
4. Brainstem Auditory Evoked Potential (BAEP).
5. Pencitraan CT-scan, arteriografi, magnetic resonance imaging
(MRI).

2.5. Tatalaksana Vertigo Vestibular Perifer


Penatalaksanaan vertigo bergantung pada lama keluhan dan
ketidaknyamanan akibat gejala yang timbul serta patologi yang
mendasarinya. Pada vertigo, beberapa tindakan spesifik dapat dianjurkan
untuk mengurangi keluhan vertigo. Pada penyakit Meniere, misalnya
pengurangan asupan garam dan penggunaan diuretik disarankan untuk
17

mengurangi tekanan endolimfatik. Untuk BPPV (benign paroxysmal


positional vertigo), dapat dicoba dengan beberapa manuever Canalith
Repositioning Treatment (CRT) seperti manuver Epley, manuver Semont,
manuver Lampert Roll, dan manuver Brandt Daroff.
1. Manuver Epley
Dilakukan setelah test Dix Hallpike abnormal. Caranya:
a. Dimulai dengan posisi Dix Hallpike. Jika kanal telinga yang
terganggu sebelah kanan, maka CRT juga kanan dan sebaliknya.
b. Pertahankan posisi saat berbaring dengan kepala yang menggantung
di tepi meja periksa sekitar 1-2 menit.
c. Kemudian kepala diputar perlahan ke kiri (450) dan pertahankan
beberapa saat.
d. Selanjutnya badan pasien dimiringkan sehingga pasien menghadap
ke lantai.
e. Terakhir pasien kembali ke posisi duduk dengan kepala menghadap
ke depan. Hindarkan kepala menunduk, berbaring, dan
membungkukkan badan selama sehari.

Gambar 8. Manuver Epley


18

2. Manuver Semont
Test ini dilakukan sesuai dengan kanal yang terlibat. Misalnya kanal
posterior kanan, maka test juga dilakukan ke arah kanan dengan posisi
kepala diputar menghadap ke kiri dan sebaiknya.
a. Pasien duduk di meja periksa dengan kepala diputar menghadap ke
kiri 450.
b. Kemudian secara cepat pasien dibaringkan ke sisi kanan dengan
kepala menggantung.
c. Setelah 1 menit, pasien kembali ke posisi duduk awal secara cepat
dan kemudian ke posisi side lying kiri (posisi baring ke sisi kiri)
dengan posisi kepala menoleh 450 ke kiri. Pertahankan selama 1
menit.
d. Terakhir kembali ke posisi duduk awal secara perlahan.
Catatan : jika yang terlibat kanal anterior kanan: test dilakukan ke arah
kanan dengan posisi kepala diputar menghadap ke kanan, begitu juga
sebaliknya.

Gambar 9. Manuver Semont


19

3. Manuver Brandt Daroff


Latihan ini dapat dilakukan pasien di rumah tanpa bantuan therapist.
Caranya :
a. Pasien dalam posisi duduk kepala menoleh ke arah berlawanan dari
posisi pencetus vertigo (misalnya kepala menoleh ke kanan). Tahan
selama 30 detik.
b. Kemudian berbaring dengan cepat ke sisi berlawanan (sisi kiri).
Tahan selama 30 detik.
c. Secara cepat duduk kembali.
d. Selanjutnya posisi kepala menoleh ke sisi sebelahnya (ke kiri).
Tahan selama 30 detik.
e. Berbaring ke sisi berlawanan (kanan) selama 30 detik dan kembali
duduk seperti semula.
Latihan ini dilakukan secara rutin 10-20 kali, 3 kali sehari minimal 2
hari.sampai vertigo menghilang.

Gambar 10. Manuver Brandt Daroff


20

Terapi Farmakologi
Secara umum, penatalaksanaan medika- mentosa mempunyai
tujuan utama: (i) mengeliminasi keluhan vertigo, (ii) memperbaiki
proses-proses kompensasi vestibuler, dan (iii) mengurangi gejala-gejala
neurovegetatif ataupun psikoafektif. Beberapa golongan obat yang dapat
digunakan untuk penanganan vertigo di antaranya adalah:
a. Antikolinergik
Antikolinergik merupakan obat pertama yang digunakan untuk
penanganan vertigo, yang paling banyak dipakai adalah skopolamin
dan homatropin. Kedua preparat tersebut dapat juga dikombinasikan
dalam satu sediaan antivertigo. Antikolinergik berperan sebagai
supresan vestibuler melalui reseptor muskarinik. Pemberian
antikolinergik per oral memberikan efek rata-rata 4 jam, sedangkan gejala
efek samping yang timbul terutama berupa gejala-gejala penghambatan
reseptor muskarinik sentral, seperti gangguan memori dan kebingungan
(terutama pada populasi lanjut usia), ataupun gejala-gejala
penghambatan muskarinik perifer, seperti gangguan visual, mulut
kering, konstipasi, dan gangguan berkemih.
b. Antihistamin
Penghambat reseptor histamin-1 (H-1 blocker) saat ini merupakan
antivertigo yang paling banyak diresepkan untuk kasus vertigo,dan
termasuk di antaranya adalah difenhidramin, siklizin, dimenhidrinat,
meklozin, dan pro- metazin. Mekanisme antihistamin sebagai supresan
vestibuler tidak banyak diketahui, tetapi diperkirakan juga mempunyai
efek ter- hadap reseptor histamin sentral. Antihistamin mungkin juga
mempunyai potensi dalam mencegah dan memperbaiki motion
sickness. Efek sedasi merupakan efek samping utama dari pemberian
penghambat histamin-1. Obat ini biasanya diberikan per oral, dengan
lama kerja bervariasi mulai dari 4 jam (misalnya, sikl- izin) sampai 12 jam
(misalnya, meklozin).
21

c. Histaminergik
Obat kelas ini diwakili oleh betahistin yang digunakan sebagai
antivertigo di beberapa negara Eropa, tetapi tidak di Amerika. Betahistin
sendiri merupakan prekrusor histamin. Efek antivertigo betahistin
diperkirakan berasal dari efek vasodilatasi, perbaikan aliran darah pada
mikrosirkulasi di daerah telinga tengah dan sistem vestibuler. Pada
pemberian per oral, betahistin diserap dengan baik, dengan kadar puncak
tercapai dalam waktu sekitar 4 jam. Efek samping relatif jarang,
termasuk di antaranya keluhan nyeri kepala dan mual.
d. Antidopaminergik
Antidopaminergik biasanya digunakan untuk mengontrol keluhan
mual pada pasien dengan gejala mirip-vertigo. Sebagian besar
antidopaminergik merupakan neuroleptik. Efek antidopaminergik pada
vestibuler tidak diketahui dengan pasti, tetapi diperkirakan bahwa
antikolinergik dan antihistaminik (H1) berpengaruh pada sistem
vestibuler perifer. Lama kerja neuroleptik ini bervariasi mulai dari 4
sampai 12 jam. Beberapa antagonis dopamin digunakan sebagai
antiemetik, seperti domperidon dan metoklopramid. Efek samping dari
antagonis dopamin ini terutama adalah hipotensi ortostatik, somnolen,
serta beberapa keluhan yang berhubungan dengan gejala ekstrapiramidal,
seperti diskinesia tardif, parkinsonisme, distonia akut, dan sebagainya.
e. Benzodiazepin
Benzodiazepin merupakan modulator GABA, yang akan
berikatan di tempat khusus pada reseptor GABA. Efek sebagai
supresan vestibuler diperkirakan terjadi melalui mekanisme sentral.
Namun, seperti halnya obat-obat sedatif, akan memengaruhi
kompensasi vestibuler. Efek farmakologis utama dari benzo- diazepin
adalah sedasi, hipnosis, penurunan kecemasan, relaksasi otot, amnesia
anterograd, serta antikonvulsan. Beberapa obat golongan ini yang sering
digunakan adalah lorazepam, diazepam, dan klonazepam.
22

f. Antagonis kalsium
Obat-obat golongan ini bekerja dengan menghambat kanal
kalsium di dalam sistem vestibuler, sehingga akan mengurangi jumlah
ion kalsium intrasel. Penghambat kanal kalsium ini berfungsi sebagai
supresan vestibuler. Flunarizin dan sinarizin merupakan penghambat
kanal kalsium yang diindikasi- kan untuk penatalaksanaan vertigo;
kedua obat ini juga digunakan sebagai obat migren. Selain sebagai
penghambat kanal kalsium, ternyata funarizin dan sinarizin mempunyai
efek sedatif, antidopaminergik, serta antihistamin-1. Flunarizin dan
sinarizin dikonsumsi per oral. Flunarizin mempunyai waktu paruh yang
panjang, dengan kadar mantap tercapai setelah 2 bulan, tetapi kadar obat
dalam darah masih dapat terdeteksi dalam waktu 2-4 bulan setelah
pengobatan dihentikan. Efek samping jangka pendek dari penggunaan obat
ini teru- tama adalah efek sedasi dan peningkatan berat badan. Efek
jangka panjang yang pernah dilaporkan ialah depresi dan gejala
parkinsonisme, tetapi efek samping ini lebih banyak terjadi pada
populasi lanjut usia.
g. Simpatomimetik
Simpatomimetik, termasuk efedrin dan amfetamin, harus digunakan
secara hati-hati karena adanya efek adiksi.
h. Asetilleusin
Obat ini banyak digunakan di Prancis, mekanisme kerja obat ini
sebagai antivertigo tidak diketahui dengan pasti, tetapi diperkirakan
bekerja sebagai prekrusor neuromediator yang memengaruhi aktivasi
vestibuler aferen, serta diperkirakan mempunyai efek sebagai
antikalsium pada neurotransmisi. Beberapa efek samping penggunaan
asetilleusin ini di antaranya adalah gastritis (terutama pada dosis tinggi)
dan nyeri di tempat injeksi.
23

i. Lain-lain
Beberapa preparat ataupun bahan yang diperkirakan mempunyai
efek antivertigo di antaranya adalah ginkgo biloba, piribedil (agonis
dopaminergik), dan ondansetron.
BAB III
KESIMPULAN

Vertigo adalah perasaan seolah-olah penderita bergerak atau berputar, atau


seolah-olah benda di sekitar penderita bergerak atau berputar, yang biasanya
disertai dengan mual dan kehilangan keseimbangan. Vertigo bisa berlangsung
hanya beberapa saat atau bisa berlanjut sampai beberapa jam bahkan hari.
Penderita kadang merasa lebih baik jika berbaring diam, tetapi vertigo bisa terus
berlanjut meskipun penderita tidak bergerak sama sekali. Vertigo diklasifikasikan
menjadi dua kategori berdasarkan saluran vestibular yang mengalami kerusakan,
yaitu vertigo periferal dan vertigo sentral. Vertigo periferal terjadi jika terdapat
gangguan di saluran yang disebut kanalis semisirkularis, yaitu telinga bagian
dalam yang bertugas mengontrol keseimbangan.
Gangguan kesehatan yang berhubungan dengan vertigo periferal antara lain
penyakit-penyakit seperti BPPV atau benign paroxysmal positional vertigo
(gangguan akibat kesalahan pengiriman pesan), penyakit meniere (gangguan
keseimbangan yang sering kali menyebabkan hilang pendengaran), vestibular
neuritis (peradangan pada sel-sel saraf keseimbangan), dan labyrinthitis (radang di
bagian dalam pendengaran). Sedangkan vertigo sentral terjadi jika ada sesuatu
yang tidak normal di dalam otak, khususnya di bagian saraf keseimbangan, yaitu
daerah percabangan otak dan serebelum (otak kecil).

24
25

DAFTAR PUSTAKA

Baehr M, Frotscher M. Diagnosis Topis Neurologi DUUS: Anatomi, Fisiologi,


Tanda, Gejala 4ed. Suwono WJ, editor. Jakarta: Buku Kedokteran EGC;
2007.
Bashiruddin J, Hadjar E, Alviandi W. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala & Leher. Soepardi Ea, Iskandar N, Bashiruddin J,
Restuti RD, editors. Jakarta: Badan Penerbit FK UI; 2012.
Gnerre, P., C. Casati, M. Frualdo, M. Cavalleri, and S. Guizzetti. 2015.
Management of Vertigo; From Evidence to Clinical Practice. Italian
Journal of Medicine. 9:180-192.
Guyton, A.C., & H.J. E.. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran (Edisi ke-11).
Terjemahan oleh : Irawati, dkk. EGC, Jakarta, Indonesia.
Hillier S, McDonnell M. Vestibular Rehabilitation for Unilateral Peripheral
Vestibular Dysfunction The Cochrane Collaboration. 2011(2).
Lee, A.T.H. 2012. Diagnosing the Cause of Vertigo: A Practical Approach. Hong
Kong Med J. 18 (4).(http://www.hkmj.org/system/files/hkm1208p327.pdf,
diakses 18 April 2017)
Lumbantobing S. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. Utama H,
editor. Jakarta: Badan Penerbit FK UI; 2014.
Lumbantobing S. Vertigo Tujuh Keliling. Tjokronegoro A, editor. Jakarta: Balai
Penerbit FK UI; 2013.
Mardjono M, Sidharta P. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta Dian Rakyat; 2010.
Snell, Richard S. 2012. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran (edisi ke-
6). Terjemahan oleh : Sugiharto, Liliana. EGC, Jakarta, Indonesia
Thompson, T.L., and R. Amedee. 2009. Vertigo: A Review of Common
Peripheral and Central Vestibular Disorders. The Ochsner Journal. 9(1).
Wahyudi, K.T. 2012. Vertigo. CDK-198. 39 (10).
(http://www.kalbemed.com/Portals/6/06_198Vertigo.pdf, diakses 18 April
2017)