Anda di halaman 1dari 5

KOMPLIKASI INFEKSI PADA TRANSFUSI DARAH

Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (IMLTD) adalah masalah utama yang terkait

dengan transfusi darah. Estimasi yang akurat tentang risiko IMLTD sangat penting untuk

memantau keamanan suplai darah dan mengevaluasi efektivitas dari prosedur skrining saat ini

yang dikerjakan. IMLTD ini menjadi kekhawatiran yang besar untuk menjamin keamanan

pasien. Prevalensi terjadinya IMLTD bervariasi dari satu negara dengan negara lain, tergantung

pada jumlah kasus IMLTD dalam populasi tertentu dari mana unit darah yang diperoleh

misalnya dari donor sukarela, donor komersial maupun dari donor keluarga atau pengganti.

Masalah ini sebenarnya disebabkan oleh prevalensi pembawa asimtomatik dalam masyarakat,

serta mendonorkan darah selama window period , yaitu periode segera setelah infeksi dimana

darah donor sudah infeksius tetapi hasil skrining masih negatif (Kiswari, 2014).

Transfusi darah membawa risiko IMLTD, termasuk HIV, Hepatitis, Sifilis, Malaria,

Toksoplasmosis, Brucellosis dan beberapa infeksi virus lainnya seperti CMV, EBV dan

Herpes. Di antara semua infeksi HIV, Virus Hepatitis B (HBV), Virus Hepatitis B (HCV),

Sifilis adalah virus yang paling sering skrining atau diuji saring di layanan transfusi sesuai

dengan standard WHO. Risiko infeksi dapat dihindari jika dilakukan skrining dengan cara yang

baik dan berfokus pada kualitasnya. Semua donor sebaiknya dilakukan skrining pada minimal

satu marker serologis yang cocok untuk masing-masing empat infeksi ini dan skrining untuk

marker tambahan bisa dipertimbangkan, tergantung pada risiko residual, logistik dan tingkat

sumber daya yang tersedia. Setiap negara harus memenuhi syarat dalam pengumpulan darah

dan juga komponen darah untuk memastikan bahwa suplei darah bebas dari HIV, virus

hepatitis dan infeksi lain yang mengancam jiwa orang yang dapat ditularkan melalui transfusi

yang tidak aman. Keamanan darah adalah bagian integral dari rencana WHO HIV/AIDS untuk

pencegahan infeksi HIV bersamaan mencapai Millenium Development Goals (MDGs) yang

berhubungan dengan kesehatan untuk mengurangi angka kematian anak, meningkatkan


kesehatan ibu, memerangi HIV dan mengembangkan kerjasama global bagi pembangunan

(WHO, 2010).

a. Hepatitis Karena Transfusi

Penularan infeksi hepatitis virus A sangat jarang terjadi dibandingkan dengan

hepatitis virus B dan hepatitis virus C. keadaan ini bisa terjadi karena viremia virus

hepatitis A sangat pendek dan tidak menyebabkan karier. Diperkirakan kejadian infeksi

hepatitis virus B pasca transfusi sekitar 1 dari 300.000 kali transfusi, sedangkan

penularan hepatitis C pasca transfusi diperkirakan lebih besar dari perkiraan penularan

hepatitis B pasca transfusi. Penularan pasca transfusi hepatitis C sering menyebabkan

fibrosis bahkan dapat menyebabkan karsinoma hepatik. Penularan hepatitis pasca

transfusi ini dapat dicegah atau diminimalkan dengan seleksi donor yang baik dan ketat

serta penapisan virus B dan C (IDAI, 2008).

b. Virus HIV tipe 1 dan 2

Infeksi HIV pasca transfusi jarang terjadi. Di Amerika serikat 1,9% kasus infeksi

HIV melalui transfusi darah dan komponen darah. Saat ini dengan seleksi donor yang

baikterhadap HIV-1 kejadian diperkirakan hanya 1 dari 500.000 kali transfusi dan HIV-

2 hanya 1 dari 10.000.000 kali transfusi (IDAI, 2008).

c. Virus Human T Lymphotropic I dan II

Pada transfusi penularan lewat komponen sel darah, tapi tidak dari komponen

plasma yang diinginkan. Limfoma sel T dewasa muncul pada usia 40-60,

menggambarkan adanya masa infeksi laten yang lama sebelumserangan klinisnya

muncul. Dalam waktu beberapa bulan atau tahun pasca transfusi (PAPDI, 2010)

d. Virus Cytomegalo

Infeksi hanya terjadi padatransfusi komponen darah seluler, sedangkan penderita

yang mendapat transfusi plasma beku segar dan kriopresipitat tidak terjadi transmisi
virus ini. Risiko transmisi dari komponen darah yang sero-positif berkisar 8-25%

dimana, risiko ini akan berkurang menjadi kkira-kira 4% bila darah yang diberikan

adalah komponen darah rendah leukosit dengan virus sitomegalo sero-negatif (IDAI,

2008).

e. Virus Epstein Barr

Sembilan puluh persen darah donor mempunyai antiboditerhadap virus epsteiin-

barr, karena infeksi berhubungan dengan leukosit maka nampaknya akan aman dengan

menggunakan darah yang leukositnya dikurangi (PAPDI, 2010).

f. Infeksi yang disebarkan Arthropoda

Malaria merupakan penyakit infeksi global namun di AS penularan secara

transfusi jarang.Donor yang melewati daerah endemik, setahun tidak boleh menjadi

donor. 3 tahun bila pernah tinggal di daerah endemik (Kiswari, 2014).

Babesiosis, infeksi yang disebabkan protozoa, menginfeksi eritrosit, disebarkan

oleh kutu, keluhan mulai dari tidak ada keluhan sampai yang ringan seperti influenza

ataumalaria, dengan anemia hemolitik, diobati dengan kinin atau klindamisin. Infeksi

ini jarang yang fatal (Kiswari, 2014).

Penyakit Lyme, disebabkan oleh Borrelia burgdorferi, tidak ada catatan tentang

penyakit ini pada penularan karena transfusi (Kiswari, 2014).

g. Kontaminasi Bakteri

Kontaminasi merupakan penyebab mayor fatalitas pada transfusi.Sumber

kontaminasi ini, kantong, donor bacteremia asimptomatik, pembersihan kulit tidak

adekuat. Transfusi trombosit yang disimpan pada suhu kamar lebih sering menimbulkan

febris dibanding eritrosit yang didinginkan (Kiswari, 2014).

Organisme yang sering menimbulkan kontaminasi pada transfusi eritrosit antara

lain Yersinia, pseudomonas, enterobakter, dan seratia, pada trombosit lebih bervariasi
termasuk stafilokokus, streptokokus, klebsila, dan salmonella. Keluhan dapat berupa

seperti febris non hemolitik sampai sepsis akut dengan panas, hipotensi dan kematian.

Keluhan yang berat dihubungkan dengan mikroorganisme dengan endotoksin.

Pengobatan sama seperti pada sepsis karena organisme lain yang sesuai (Kiswari, 2014).

h. Infeksi Lainnya

Seiring dengan pengujian yang disebutkan di atas, semua darah sebelum

transfusi diuji untuk mengetahui apakah beresiko terhadap penularan sifilis, HTLV-I

dan HTLV-II (virus terkait dengan T-cell leukemia / limfoma manusia). Sejak tahun

2003, darah yang disumbangkan juga diuji untuk mengetahui virus West Nile, yang

terbaru adalah pengujian atas penyakit Chagas (penyakit umum di Amerika Selatan dan

Tengah). Penyakit yang disebabkan oleh bakteri tertentu, virus, dan parasit, seperti

Babesiosis, malaria, penyakit Lyme, dan lain-lain juga dapat ditularkan melalui

transfusi darah. Tapi karena donor potensial disaring dengan pertanyaan tentang status

kesehatan dan perjalanan mereka, maka kasus-kasus penularan penyakit akibat tranfusi

seperti di atas semakin jarang terjadi (Kiswari, 2014).


DAFTAR PUSTAKA

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Buku Ajar Neonatologi Ed.1. Cetakan ke-1. Badan
penerbit IDAI. Jakarta. 2008
Kiswari Rukman, dr. Hematologi & Transfusi. Penerbit Erlangga. Jakarta. 2014.
Staf Pengajar Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 2 Ed.IV. Badan
Penerbit Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta. 2010
WHO. Transfusi Darah. 2010 (diaskes pada tanggal 14 Agustus 2017).