Anda di halaman 1dari 23

PRESENTASI REFRAT

LASERASI PALPEBRA

Disusun Oleh:
Aghny Ratnasari
G4A016069

Pembimbing: dr. Teguh Anamani, Sp.M

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
SMF ILMU KESEHATAN MATA
RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO

2017
LEMBAR PENGESAHAN

PRESENTASI REFERAT

LASERASI PALPEBRA

Disusun Oleh :
Aghny Ratnasari
G4A016069

Diajukan untuk memenuhi syarat mengikuti Kepaniteraan Klinik di


bagian Ilmu Penyakit Mata RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo

Telah disetujui dan dipresentasikan


Pada tanggal : Mei 2017

Dokter Pembimbing,

dr. Teguh Anamani, Sp. M


BAB I

PENDAHULUAN

Laserasi palpebra adalah terpotongnya jaringan pada palpebra. Penyebab


laserasi palpebra dapat berupa sayatan benda tajam, trauma tumpul (kecelakaan
lalu lintas atau olahraga), gigitan hewan, perkelahian dan luka bakar (IDI, 2014;
Hendriati, 2006). Laserasi tidak hanya melibatkan kulit, tapi dapat juga mengenai
otot palpebra, margo palpebra dan sistim lakrimal. Laserasi pada bagian medial
palpebra dapat menyebabkan robekan pada kanalis lakrimalis inferior, kanalis
lakrimalis superior dan sakus lakrimalis. Hal ini menimbulkan gangguan sistim
eksresi lakrimal yang meyebabkan epifora, sehingga memungkinkan berkembang-
nya abses di dalam sakus lakrimal dan terjadinya dakriosistitis (Tann, 2002).
Cedera yang melibatkan palpebra dan daerah periorbital umumnya terjadi
setelah trauma tumpul atau penetrasi pada wajah. Luka tersebut dapat bervariasi
dari lecet kulit sederhana sampai kasus yang lebih kompleks yang menyebabkan
kehilangan jaringan yang luas serta fraktur tulang-tulang wajah. Rontgen foto
orbita atau CT scan harus dilakukan jika di duga suatu fraktur atau terdapatnya
benda asing di dalam intra okuler atau intra orbita. Pada saat awal pemeriksaan
yang menjadi prioritas utama adalah memperhatikan faktor yang mengancam jiwa
secara sistemik. Setelah kondisi yang dapat mengancam jiwa stabil, perhatian
dapat diarahkan ke luka yang spesifik pada adnexa okular.
Untuk meminimalisasi risiko timbulnya sikatrik dan epitelisasi pada luka
dengan epifora, kanalisasi harus dilakukan paling lama dalam dua hari setelah
luka. Idealnya stent inert, lembut dan lentur yang bertujuan untuk mengurangi
iritasi okuler atau erosi jaringan dan cukup stabil ditempatkan pada
perikanalikular untuk menurunkan reaksi inflamasi (Ani, 2008).
Pada laserasi palpebra proses pengembalian struktur dan fungsi harus tetap
mengarah pada prinsip-prinsip estetika, agar fungsi dan kosmetik kelopak dapat
dipertahankan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI
1. Palpebra
Kelopak mata atau palpebra mempunyai fungsi melindungi bola
mata, serta mengeluarkan sekresi kelenjarnya membentuk film air mata
di depan kornea. Palpebra merupakan alat menutup mata yang berguna
untuk melindungi bola mata terhadap trauma, trauma sinar, dan
pengeringan bola mata (Ilyas dan Yulianti, 2015).
Palpebra superior sangat tipis sedangkan palpebra inferior sedikit
lebih tebal. Muskulus orbicularis berfungsi sebagai sfingter pada kelopak
mata. Muskulus ini diinervasi oleh cabang temporal dan zygomatic dari
syaraf wajah. Otot ini dibagi menjadi tiga bagian: pretarsal, preseptal,
dan preorbital.

Gambar 1. Palpebra potongan sagital


Septum orbita merupakan lembaran tipis yang merupakan jaringan
ikat pada kedua kelopak mata atas dan bawah. Bagian ini berasal dari
periosteum dari orbital rims. Pada palpebra superior, septum meluas ke
inferior mencapai aponeurosis levator tepat di atas perbatasan tarsal
superior. Pada palpebra inferior, septum meluas ke superior untuk sampai
ke perbatasan tarsal inferior. Septum berfungsi sebagai penghalang antara
orbita dan kulit kelopak mata. Bagian anterior orbital fat terletak di
profundus dari septum orbital. Pada palpebra superior, lemak
preaponeurotic terletak antara septum dan aponeurosis levator.
Aponeurosis levator pada palpebra superior merupakan tendon dari
muskulus levator palpebrae superior. Levator ini berasal dari periorbita
yang merupakan bagian posterior dari orbita dan berjalan di anterior
superior dari muskulus rektus superior. Muskulus ini berubah menjadi
tendon sekitar 15 mm di atas tarsal plate superior kemuadian serat dari
muskulus ini berhubungan dengan serat dari orbicularis oculi membentuk
lipatan palpebra superior. Serat juga meluas ke tarsus inferior untuk
memungkinkan elevasi palpebra. Muller's sympathetic muscle muncul
dari serat-serat levator dan masuk ke dalam perbatasan tarsal superior.
Fascia capsulopalpebral pada palpebra inferior analog dengan
aponeurosis levator pada palpebra superior. Bagian ini berasal dari
muskulus rektus inferior dan menempel ke perbatasan tarsal inferior.
Muskulus tarsal inferior palpebra inferior sama dengan muskulus Muller
pada palpebra superior. Fascia capsulopalpebral dan muskulus tarsal
inferior disebut sebagai retraktor palpebra inferior. Berfungsi untuk
menarik palpebra lebih ke inferior dan posterior dengan melirik ke
bawah.
Tarsal plate terbuat dari jaringan berserat padat yang membentuk
struktur dari kelopak mata. Ukuran tebalnya sekitar 1mm dan panjang
horisontalnya 25mm. Secara vertikal, tarsus superior berukuran sekitar
10mm sedangkan tarsus inferior biasanya berukuran 5mm. Setiap tarsus
mengandung sekitar 30 kelenjar Meibo. Konjungtiva palpebral adalah
selaput lendir tipis transparan yang melapisi permukaan belakang
masing-masing kelopak mata. Konjungtiva palpebral melekat pada
Tarsal plate dan tidak memerlukan penjahitan jika tarsus tersebut
diperbaiki.
Margo palpebra dibagi menjadi bagian ciliary dan bagian lakrimal.
Bagian ciliary merupakan bagian bantalan yang memanjang dari sudut
kantus lateral ke punctum lakrimal. Bagian lakrimal meluas dari punctum
ke sudut kantus medial. Di bagian ciliary, bulu mata menonjol dari tepi
anterior margin. Margo palpebra (dari depan ke belakang) terdiri dari: (1)
Anterior Lid Margin; (2) Cilia; (3) Intermarginal space; (4) Gray line =
peralihan antara kulit dan mukosa (penting untuk insisi); (5) Muara
Glandula Meibom; (6) Posterior Lid Margin.
2. Apparatus Lacrimalis
Apparatus lacrimalis terdiri dari dua bagian, yaitu struktur yang
mensekresi air mata dan struktur yang memfasilitasi drainase air mata.
Sistem Sekresi Apparatus Lacrimalis
Glandula lacrimalis berukuran sebesar kacang walnut yang terletak
di superotemporal tulang orbita pada fossa lacrimalis os. frontalis, tidak
tampak dan tidak dapat diraba. Glandula lacrimalis yang dapat diraba
biasanya tanda perubahan patologis seperti dacryoadenitis. Tendon
muskulus levator palpebra membagi glandula lacrimalis menjadi pars
orbitalis yang lebih besar (dua pertiga) dan pars palpebralis yang lebih
kecil (sepertiga). Beberapa glandula lacrimalis asesorius kecil (Krause
and Wolfrings glands) berlokasi di fornix superior dan mensekresi air
mata serosa tambahan (Lang, 2006).
Glandula lacrimalus menerima rangsangan sensoris melalui nervus
lacrimalis. Inervasi nervus parasimpatis sekretomotorius-nya berasal dari
nervus intermedius. Serabut simpatis-nya berasal dari ganglion simpatis
cervicalis superior dan mengikuti aliran pembuluh darah menuju
kelenjar.
Lapisan air mata yang membasahi konjunctiva dan cornea terdiri
dari 3 lapisan, yaitu sebagai berikut : (Lang, 2006).
a. Lapisan lipid (ketebalan sekitar 0.1m), terletak paling luar,
diproduksi oleh glandula Meibom, kelenjar sebaceous, dan kelenjar
keringat yang berada di margo palpebralis. Fungsi utama lapisan ini
yaitu untuk menstabilkan lapisan air mata. Dengan sifat hidrofobik-
nya, lapisan ini mencegah evaporasi terjadi lebih cepat seperti halnya
lapisan lilin.
b. Lapisan aquos (ketebalan sekitar 8m), terletak di tengah, diproduksi
oleh glandula lacrimalis dan glandula lacrimalis asesorius (Krause and
Wolfrings glands). Lapisan ini bertugas untuk membersihkan
permukaan cornea dan memudahkan mobilitas konjunctiva palpebralis
di atas cornea dan melapisi permukaan cornea untuk gambaran optik
dengan kualitas yang tinggi.
c. Lapisan mucin (ketebalan sekitar 0.8m), terletak paling dalam,
disekresi olah sel-sel Goblet konjunctiva dan glandula lacrimalis. Sifat
hidrofilik yang dimilikinya berlekatan langsung dengan microvili
epitel cornea, yang juga membantu stabilisasi lapisan air mata.
Lapisan ini mencegah lapisan aquos membentuk lapisan yang tidak
rata pada cornea dan memastikan lapisan aquos membasahi seluruh
permukaan cornea dan konjunctiva.

Gambar 2. Sistem Sekresi Apparatus Lacrimalis

Lysozyme, beta-lysin, lactoferrin, dan gamma globulin (IgA)


merupakan protein spesifik air mata yang memberikan sifat antimikroba
pada air mata.
Sistem Ekskresi Apparatus Lacrimalis
Susunan serabut muskulus orbicularis oculi menyebabkan mata
menutup secara progresif dari lateral ke medial termasuk palpebra yang
menutup secara simultan. Gerakan windshield wiper menggerakkan air
mata ke medial sepanjang mata menuju canthus medialis (Lang, 2006).

Gambar 3. Fungsi Kombinasi Muskulus Orbicularis Oculi dengan Apparatus Lacrimalis

Punctum lacrimalis superior et inferior mengumpulkan air mata


dan mengalirkannya ke dalam canaliculus lacrimalis superior et inferior
kemudian menuju canaliculus lacrimalis communis lalu ke saccus
lacrimalis. Dari saccus lacrimalis, air mata dialirkan ke ductus
nasolacrimalis yang kemudian bermuara di meatus nasi medius di bawah
concha nasalis inferior. Sebuah flap dari membrane mukosa, valvula
Hasner, mencegah reflux retrograde dari isi cavum nasi dan seringnya
imperforate saat lahir, yang menyebabkan terjadinya epiphora.

Gambar 4. Sistem Eksresi Apparatus Lacrimalis


B. ETIOPATOGENESIS
Trauma palpebra dapat terjadi pada setiap trauma wajah. Berikut
merupakan daftar kondisi yang memerlukan perhatian khusus yaitu: (Lang,
2006)
a) Laserasi palpebra dengan keterlibatan margo palpebralis
b) Avulsi palpebra pada canthus medialis disertai avulsi canaliculus
lacrimalis.
Laserasi sistem canalicular merupakan hasil dari trauma langsung atau
tidak langsung. Trauma langsung termasuk memisahkan bagian lacrimal dari
palpebra dengan benda, seperti kaca, penggantu baju, pisau, gigitan anjing,
cakaran kucing, kuku jari, atau benda tajam lainnya. Trauma tidak langsung
timbul akibat trauma tumpul pada adnexa oculi dari beberapa mekanisme
seperti pukulan pada wajah, peluru, atau jatuh menimpa benda tumpul.
Disebabkan karena lokasi yang superficial pada medial palpebra, sistem
canalicular rentan terhadap trauma. Perluasan canaliculus ke medial
memotong lengan posterior ligamentum canthus medialis. Ligamentum ini
sering terputus akibat trauma dan harus diperbaiki untuk mengembalikan
posisi anatomis dan fungsi palpebra.
Laserasi dan kerusakan canthus medialis (seperti gigitan anjing atau
serpihan kaca) dapat memisahkan ductus lacrimalis. Obliterasi punctum dan
canaliculus lacrimalis biasanya disebabkan oleh luka bakar dan kimia.
Trauma pada saccus lacrimalis atau glandula lacrimalis biasanya terjadi
sehubungan dengan trauma craniofacial yang berat (seperti tendangan kuda
atau kecelakaan lalu lintas). Dacryocystitis merupakan sequele yang umum
terjadi, yang hanya dapat ditangani dengan operasi (dacryocystorhinostomy).

C. Epidemiologi
Laserasi palpebra dapat terjadi pada setiap usia dan juga pada bayi baru
lahir setelah proses kelahiran melalui operasi cesarean. Dari sebuah studi di
Iran, laki-laki lebih sering mengalami trauma pada mata akibat benda yang
mengenai mata dan kebanyakan berumur sekitar 29 tahun. Meskipun tidak
ada kebutaan yang terjadi akibat laserasi palpebra, outcome visual
berhubungan dengan derajat insidensi trauma berdasarkan adanya open globe
injuries (Tabatabaei, 2013).
Pada penelitian Hendriati (2006) di RSUP Dr. M. Djamil padang
sebagian kasus yang mengalami laserasi lakrimal terdapat pada kanalis
lakrimalis inferior (62.07%), kemudian kanalis lakrimalis superior dan inferior
(17.24%) dan kanalis lakrimalis superior (13.79%). Penyebab terbanyak adalah
akibat trauma benda tumpul (86.21%)

D. Diagnosis
1. Hasil Anamnesis
a) Terdapat rasa nyeri periorbita
b) Perdarahan dan bengkak pada kelopak
c) Mata berair
d) Tidak terdapat penurunan tajam penglihatan bila cedera tidak
melibatkan bola mata
e) Faktor Risiko : Terdapat riwayat trauma tajam maupun tumpul
2. Pemeriksaan Fisik
a) Pemeriksaan refleks pupil dan tajam penglihatan
b) Pemeriksaan mata dengan lup dan senter untuk mengidentifikasi:
i. Luas dan dalamnya laserasi pada kelopak, termasuk identifikasi
keterlibatan tepi kelopak, kantus medial atau kantus lateral.
Pemeriksa dapat menggunakan lidi kapas selama pemeriksaan.
ii. Adanya benda asing
iii. Keterlibatan bola mata
3. Pemeriksaan Penunjang
Tidak diperlukan

E. Penatalaksanaan
1. Medikamentosa (IDI, 2014)
a) Bersihkan luka apabila diyakini bola mata intak
b) Pertimbangkan pemberian profilaksis tetanus
c) Berikan antibiotik sistemik
d) Segera rujuk ke dokter spesialis mata untuk mendapatkan penanganan
secepatnya
2. Non medikamentosa
a) Memberitahu pasien bahwa luka pada kelopak perlu menjalani
pembedahan (menutup luka)
b) Menggunakan alat / kacamata pelindung pada saat bekerja atau
berkendara.
c) Anjurkan pasien untuk kontrol bila keluhan bertambah berat setelah
dilakukan tindakan, seperti mata bertambah merah, bengkak atau
disertai dg penurunan visus.

Penatalaksanaan berdasarkan penyebab


1. Trauma Tumpul
Echimosis dan edema termasuk dalam manifestasi klinis trauma
tumpul. Pasien membutuhkan evaluasi biomikroskopik dan pemeriksaan
fundus dengan pupil yang dilebarkan untuk menyingkirkan permasalahan
yang terkain kelainan intraokular. CT scan di perlukan untuk mengetahui
adanya fraktur.

Gambar 5. Echimosis dan edema akibat trauma tumpul


2. Trauma Benda Tajam
Pengetahuan yang mendetail tentang anatomi palpebra membantu
dokter ahli bedah untuk memperbaiki trauma tajam palpebra. Secara umum,
penanganan trauma tajam palpebra tergantung kedalaman dan lokasi cedera.

3. Laserasi Yang Tidak Melibatkan Margo Palpebra


Laserasi pada palpebra superficial hanya terdapat pada kulit dan otot
orbicularis biasanya hanya memerlukan jahitan pada kulitnya saja. Untuk
menghindari sikatrik yang tidak di kehendaki, harus mengikuti prinsip dasar
tindakan bedah plastik. Hal ini termasuk debridemant luka yang sifatnya
konservatif, menggunakan benang dengan ukuran yang kecil. Menyatukan
tepi luka sesegera mungkin dan melakukan pengangkatan jahitan. Adanya
lemak orbita di dalam luka menyatakan bahwa septum orbita telah terkena.
Bila terdapat benda asing di daerah superfisial harus dicari sebelum laserasi
pada palbebra di jahit. Melakukan irigasi untuk menghilangkan kontaminasi
material di dalam luka. Prolaps lemak orbita pada palpebra superior
merupakan indikasi untuk melakukan eksplorasi, laserasi pada otot levator
atau aponeurosis harus dengan hati-hati melakukan perbaikan untuk
menghindari ptosis post operasi.

Gambar 6. Laserasi palpebra tanpa melibatkan margo palpebra


4. Laserasi Pada Margo Palpebra
Laserasi pada margo palpebra memerlukan jahitan untuk menghindari
tepi luka yang tidak baik. Banyak teknik teknik sudah diperkenalkan tapi
pada prinsip pentingnya adalah aproksimasi tarsal harus dibuat dalam garis
lurus.

Gambar 7. Laserasi pada margo palpebra

5. Trauma Pada Jaringan Lunak Kantus


Trauma pada medial atau lateral kantus pada umumnya disebabkan oleh
adanya tarikan horizontal pada palpebra menyebabkan avulsi dari palpebra pada
titik lemah medius atau lateral dari tendon kantus. Avulsi dari tendon kantus
medial harus dicurigai bila terjadi di sekitar medial tendon kantus dan
telekantus. Harus diperhatikan juga posterior dari tendon sampai dengan
posterior kelenjar lakrimalis. Penanganan avulsi dari tendon medial kantus
tergantung pada jenis avulsinya. Jika pada bagian atas atau bagian bawah terjadi
avulsi tetapi pada bagian posterior masih intake avulsi dapat di jahit. Jika
terdapat avulsi pada posterior tetapi tidak ada fracture pada nasoorbital tendon
yang mengalami avulsi harus di lakukan wirering melalui lubang kecil di dalam
kelenjar lakrimal ipisi lateral posterior. Jika avulsi tendon disertai dengan
fraktur nasoorbital, wirering transnasal atau platting diperlukan setelah reduksi
dari fraktur.

6. Gigitan Anjing dan Manusia


Robekan dan trauma remuk terjadi sekunder dari gigitan anjing atau
manusia. Laserasi palpebra pada sebagian kulit luar dan kulit secara
menyeluruh, avulsi kantus, laserasi kanalikulus paling sering terjadi. Trauma
pada wajah dan intracranial mungkin dapat terjadi terutama pada bayi.
Irigasi dan penutupan luka secara dini harus segera dilakukan dan
kemungkinan terjadinya tetanus dan rabies harus dipikirkan serta memerlukan
observasi, direkomendasikan untuk pemberian antibiotik.

Gambar 8. Laserasi akibat gigitan anjing

7. Luka Bakar Pada Palpebra


Pada umumnya luka bakar pada palpebra terjadi pada pasien-pasien yang
mengalami luka bakar yang luas. Sering terjadi pada pasien dengan keadaan
setengah sadar atau di bawah pengaruh sedatif yang berat dan memerlukan
perlindungan pada mata untuk mencegah ekspose kornea, ulserasi dan infeksi.
Pemberian antibiotik tetes dan salep serta pelembab. Evaluasi secara rutin pada
palpebra merupakan penanganan dini pada pasien-pasien tersebut.
F. Teknik Rekonstruksi Palpebra
Teknik-teknik rekonstruksi palpebra dan orbital setelah trauma sangat
banyak dan beragam, yang digunakan sangat tergantung pada sejauh mana
cedera dan struktur adnexal spesifik yang terlibat. Pendekatan yang umum
adalah untuk mengatasi setiap struktur anatomi secara independen dan
menghormati prioritas yang tepat, pertama sebagai pelindung mata, kemudian
fungsinya, dan akhirnya kosmetik. Dalam banyak kasus, sejumlah teknik
rekonstruksi digabungkan untuk mencapai hasil yang maksimal.
Beberapa metode dapat dipergunakan untuk melakukan rekontruksi
defek palpebra pilihan ahli bedah tergantung pada umur pasien,karakter
palpebra, ukuran dan posisi defek serta pengalaman ahli bedah.
Prioritas pada rekontruksi palpebra adalah :
Pekembangan tepi palpebra yang stabil
Lebar palpebra secara vertical yang adekuat
Penutupan palpebra yang adekuat
Halus dan terjadi epitelisasi pada permukaan internal palpebra
Baik secara kosmetik dan simetris
Prinsip prinsip rekonstruksi palpebra :
Rekonstruksi anterior atau posterior lamella palpebra dengan graft.
Tegangan yang maksimum secara horizontal dan ketegangan yang
minimum secara vertical.
Mempertahankan bentuk anatomi dari kantus kemiripan jaringan defek
yang sempit.
Memilh teknik yang simple pada saat rekonstruksi.
Jangan membuat defek bila tidak dapat di tutup.
Mintalah konsultasi pada sub spesialis bila diperlukan.
Penatalaksanaan trauma palpebra termasuk :
Menggali riwayat
Mencatat ketajaman penglihatan
Mengevaluasi bola mata
Mengetahui secara detail tentang palpebra & anatomi mata.
Memastikan posisi yang terbaik dalam penanganan
1. Partial-Thickness Eyelid Injuries
Partial-thickness eyelid injuries, laserasi kelopak mata dangkal yang
tidak melibatkan margin palpebra dan yang sejajar dengan garis kulit dapat
distabilkan dengan skin tape. Laserasi yang lebih besar dan tegak lurus
dengan garis kulit memerlukan pendekatan yang lebih hati-hati dan eversi
ke tepi kulit. Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan benang ukuran 6-0
atau 7-0 yang absorbable atau nonabsorbable. Jika ketebalan penuh dari otot
orbicularis terlibat, harus diperbaiki secara terpisah. Penetrasi ke septum
orbital dengan cedera pada aponeurosis levator, luka tersebut harus
diperbaiki.
2. Eyelid Margin Lacerations
Jenis trauma adnexa membutuhkan pendekatan kelopak mata yang
paling teliti, yang harus tepat untuk menghindari notching kelopak mata dan
malposisi margin palpebra. Semua bagian tarsal yang iregular di tepi luka
harus dibuang untuk memungkinkan pendekatan tarsal-ke-tarsal yang lebih
baik pada margin palpebra yang diperbaiki. Hal ini dilakukan sepanjang
ketinggian vertikal seluruh tarsus untuk mencegah tarsal buckling,
meskipun laserasi primer mungkin hanya melibatkan tarsus marginal.
Perbaikan dimulai dengan penempatan benang 6-0 pada bidang kelenjar
meibom di margin palpebra, kira-kira 2mm dari tepi luka dan dengan
kedalaman 2mm. Dulunya, sering dilakukan penjahitan margin
menggunakan benang nonabsorbable. Namun, Jeffrey P, George C dan
Robert AG telah secara rutin menggunakan jahitan dengan menggunakan
benang absorbable dan belum mengalami komplikasi dari penyerapan
jahitan yang prematur.
Gambar 9. Teknik penjahitan pada laserasi yang melibatkan margin palpebra

Pentupan margo palpebra dapat dilakukan dengan 2 atau 3 jahitan


untuk mensejajarkan tepi luka. Untuk menghindari kerusakan pada epitel
kornea jahitan tarsal tidak boleh meluas sampai dipermukaan konjungtiva,
terutama pada palpebra superior. Penutupan tepi palpebra harus
menghasilkan tepi luka yang baik.

A. Tepi dari palpebra, jahit dengan jahitan matras vertikal, benang


melewati orificium kelenjar meibom.
B. Jahitan plat tarsal dengan 2 atau 3 jahitan terputus.
C. Jahitan pada tepi palpebra dengan matras vertical.
D. Pentupan kulit
3. Eyelid Injuries with Tissue Loss
Luka kelopak mata yang mengakibatkan kehilangan jaringan
memberikan tantangan rekonstruksi yang lebih sulit. Ini adalah kewajiban
bagi ahli bedah untuk mengevaluasi pasien dengan trauma kelopak mata,
untuk menentukan tidak hanya apakah dan berapa banyak dari kelopak mata
yang hilang tetapi juga lapisan kelopak mata tidak ada. Dalam evaluasi
pasien, sangat penting untuk mempertimbangkan kelopak mata sebagai
struktur yang memiliki lamela anterior dan posterior, kulit dan muskulus
orbicularis akan menjadi lamela anterior, sedangkan tarsus dan konjungtiva
menjadi lamela posterior. Jika full-thickness loss of eyelid tissue mengarah
ke lagophthalmos dan eksposur kornea, pelumasan agresif dengan salep
antibiotik harus diberikan atau dilakukan tarsorrhaphy sementara sampai
perbaikan pasti dapat dicapai.
4. Full-Thickness Eyelid Lacerations
Full-thickness lacerations yang tidak melibatkan margin kelopak mata
mungkin terkait dengan kerusakan internal yang signifikan dari struktur
palpebra dan perforasi bola mata. Pada penanganan cedera ini memerlukan
pemeriksaan lapis demi lapis pada luka untuk menilai integritas dari septum
orbita, otot levator dan aponeurosis levator, konjungtiva, otot rektus, dan
bola mata.
Jika lamela posterior kelopak mata terlibat dalam full-thickness eyelid
injury tetapi dapat direapproximat tanpa menimbulakan ketegangan kulit
yang tidak semestinya, maka langsung dapat diperbaiki. Tarsal alignment
dapat dicapai melalui jahitan dalam. Jeffrey P, George C dan Robert AG
lebih suka melakukan penjahitan menggunakan polyglactin (Vicryl) ukuran
6-0 atau 7-0, namun, Dexon, silk, dan kromik dapat pula digunakan untuk
penutupan tarsal.
5. Cedera pada Sistem Lakrimalis
a. Kanalikulus Superior
Cedera pada daerah ini jarang menimbulkan gejala bila fungsi
kanalikuli inferior masih normal. Oleh karena itu cedera daerah ini tidak
memerlukan metode khusus apapun untuk memperbaiki kanalikuli superior,
karena potensi drainasinya lebih rendah jika dibandingkan dengan kanalikuli
inferior.
b. Kanalikulus Inferior
Perbaikan cedera pada kanalikulus inferior masih dalam perdebatan.
Bukan suatu hal yang sulit untuk menyatukan kembali dua sisi kanalikulus
yang terputus, namun tidak mudah untuk memastikan patensi anastomosis
kanalikulus ini setelah beberapa bulan kemudian. Berbagai jenis stent telah
digunakan, namun pengunaan stent itu sendiri merangsang timbulnya
fibrosis.

Gambar 10. Larerasi pada kanaliculus inferior

Gambar 11. Pemasangan stent dengan menggunakan silicone stent

Selama operasi sebuah silicone tube halus (stent) diletakkan di


saluran lakrimalis untuk menjaga bukaan pada sistem drainase air mata.
Stent ini kemudian akan dilepas. Jika operasi ini tidak sepenuhnya berhasil
gejala dapat diselesaikan dengan menggunakan sebuah tabung Jones Lester.
Gambar 11. Penggunaan Lester Jones Tube
c. Common Canaliculus
Jika terjadi cedera pada common canaliculus, maka harus
dilakukan perbaikan atau dibuka sampai sakus lakrimalis, lakukan
intubasi kanalikulus dan dakriosistorinostomi.
d. Sakus Lakrimais
Jika terjadi cedera pada sakus lakrimalis, maka
dakriosistorinostomi harus dilakukan.

G. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi adalah kerusakan pada sistem lakrimal (IDI
2014). Berikut adalah beberapa komplikasi laserasi palpebra (Sharma, 2006):
1. Akibat kegagalan dalam memperbaiki laserasi khususnya jika melibatkan
margin palpebra, dapat berupa:
a) Epifora kronis
b) Konjungtivitis kronis, konjungtivitis bakterial
c) Exposure keratitis
d) Abrasi kornea berulang
e) Entropion/ ektropion sikatrikal
2. Akibat teknik pembedahan yang buruk, terutama dalam hal akurasi
penutupan luka, dapat berupa:
a) Jaringan parut
b) Fibrosis
c) Deformitas palpebra sikatrikal
3. Keadaan luka yang memburuk akibat adanya infeksi atau karena
penutupan luka yang tertunda.
4. Laserasi dekat canthus medial dapat merusak sistem nasolacrimal.

PROGNOSIS
Prognosis sangat tergantung pada luasnya laserasi atau kerusakan palpebra serta
lokasi dan ketebalan jaringan yang rusak.
Prognosis
1. Ad vitam : Bonam
2. Ad functionam : dubia ad bonam
3. Ad sanationam : dubia ad bonam
BAB III
KESIMPULAN

Laserasi kelopak mata merupakan rudapaksa pada kelopak mata


akibat benda tajam yang mengakibatkan luka robek/laserasi. Hal ini dapat
disebabkan oleh trauma benda tumpul, trauma benda tajam, gigitan hewan
atau manusia, luka bakar.

Berdasarkan areanya laserasi terbagi menjadi laserasi yang tidak


melibatkan margo palpebra, laserasi yang melibatkan margo palpebra,
laserasi yang melibatkan jaringan lunak kantus.

Dalam penatalaksanaannya harus diobservasi secara menyeluruh, dan


diberikan profilaksis antibiotik pada kasus gigitan hewan ataupun manusia.
Teknik rekonstruksi yang digunakan disesuaikan berdasarkan area laserasi.
Kehati-hatian dalam melakukan rekonstruksi harus diperhatikan untuk
mencegah berbagai macam komplikasi yang terjadi setelah operasi. Prognosis
ditentukan oleh berbagai macam faktor.
DAFTAR PUSTAKA

Ehlers JP, Shah CP, editors. 2008. The Wills Eye Manual-office and emergency
room diagnosis and treatment of eye disease. 5th edition. Philadelphia:
Lippincott Williams and Wilkins.

Hendriati. 2010. Laserasi Kanalis Lakrimalis Pada Luka Robek Palpebra di RS


Dr. M Djamil Padang. Majalah Kedokteran Andalas. Juli-Desember. Vol
34. No 2. Hal 114-120.

Ikatan Dokter Indonesia. 2014. Panduan Praktik Klinik Bagi Dokter di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Primer. Jakarta: hal 199

Karesh JW. 2006. The evaluation and management of eyelid trauma. Dalam :
Duanes Clinical Ophthalmology, Volume 5. Philadelphia: Lippincott
Williams and Wilkins.

Lang, GK. Ophthalmology, A Pocket Textbook Atlas, 2nd edition. New York:
Thieme; 2006. p17-9, 507-9.

Sharma V., Benger R., Martin P.A. 2006. Techniques of periocular


reconstruction. Indian: J Ophthalmol ; p.149-158.

Sidarta, Ilyas. 2015. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
Tabatabaei, A., Kasaei, A., Nikdel, M., Shoar, S., Esmaeili, S., Mafi, M., et al.
2013. Clinical Characteristics and Causality of Eye Lid Laceration in
Iran. Oman Medical Journal;28(2):97-101.