Anda di halaman 1dari 14

Oksigen Terlarut

Disusun Oleh :

1. Denny Anggriawan 230110120137


2. Yuni Arisya 230110120138
3. Hanan Hanifah 230110120139

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Universitas Padjadjaran

2013
Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Oksigen Terlarut

Oksigen terlarut (DO) adalah jumlah oksigen terlarut dalam air yang berasal dari fotosintesa
dan absorbsi atmosfer/udara. Oksigen terlarut di suatu perairan sangat berperan dalam proses
penyerapan makanan oleh mahkluk hidup dalam air. Untuk mengetahui kualitas air dalam suatu
perairan, dapat dilakukan dengan mengamati beberapa parameter kimia seperti oksigen terlarut
(DO). Semakin banyak jumlah DO (dissolved oxygen) maka kualitas air semakin baik, jika kadar
oksigen terlarut yang terlalu rendah akan menimbulkan bau yang tidak sedap akibat degradasi
anaerobik yang mungkin saja terjadi. Satuan DO dinyatakan dalam persentase saturasi. Oksigen
terlarut dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme atau
pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan
pembiakan. Disamping itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan bahan organik dan
anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal dari suatu
proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan
tersebut (SALMIN. 2000).

Oksigen memegang peranan penting sebagai indikator kualitas perairan, karena oksigen
terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik dan anorganik. Selain itu,
oksigen juga menentukan biologik yang dilakukan oleh organisme aerobik dan anaerobik. Dalam
kondisi aerobik, peranan oksigen adalah untuk mengoksidasi bahan organik dan anorganik
dengan hasil akhirnya adalah nutrien yang ada pada akhirnya dapat memberikan kesuburan
perairan. Dalam kondisi anaerobik oksigen yang dihasilkan akan mereduksi senyawa senyawa
kimia menjadi lebih sederhana dalam bentuk nutrien dan gas. Karena proses oksidasi dan reduksi
inilah maka peranan oksigen terlarut sangat penting untuk membantu mengurangi beban
pencemaran pada perairan secara alami maupun secara perlakuan aerobik yang ditujukan untuk
memurnikan air buangan industri dan rumah tangga.

2. Pengaruh tekanan udara terhadap oksigen terlarut

Sumber DO di perairan adalah difusi langsung dari atmosfer dan hasil fotosintesis
organisme autotrof (Welch 1952). Menurut Henderson-Sellers & Markland (1987), sumber
utama oksigen terlarut di perairan adalah difusi dari udara. Laju transfer oksigen tergantung pada
konsentrasi oksigen terlarut di lapisan permukaan, konsentrasi saturasi oksigen, dan bervariasi
sesuai kecepatan angin.

Difusi oksigen dari atmosfer ke air bisa terjadi secara langsung pada kondisi air diam
(stagnan) atau adanya pergolakan massa air akibat arus atau angin. Pada kondisi air diam, difusi
terjadi apabila tekanan parsial udara lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan parsial
permukaan perairan. Pada kondisi pergolakan massa air, terjadi peningkatan peluang bagi
molekul air untuk bersentuhan dengan atmosfer (Wetzel 2001). Penyerapan oksigen dari
atmosfer ke dalam air terjadi dalam dua cara: (a) difusi langsung di permukaan perairan dan (b)
melalui berbagai bentuk agitasi pada permukaan air, seperti gelombang, air terjun, dan
turbulensi. Namun, difusi langsung dari udara melalui lapisan permukaan ke dalam perairan
terjadi sangat lambat dan relatif tidak efektif dalam menyediakan oksigen ke perairan walaupun
dapat berlangsung selama 24 jam (Welch 1952).

Misalnya, Tanaman yang ada di dalam air, dengan bantuan sinar matahari, melakukan
fotosintesis yang menghasilkan oksigen. Oksigen yang dihasilkan dari fotosintesis ini akan larut
di dalam air. Selain dari itu, oksigen yang ada di udara dapat juga masuk ke dalam air melalui
proses difusi yag secara lambat menembus permukaan air. Konsentrasi oksigen yang terlarut di
dalam air tergantung pada tingkat kejenuhan air itu sendiri. Kejenuhan air dapat disebabkan oleh
koloidal yang melayang di dalam air oleh jumlah larutan limbah yang terlarut di dalam air.
Selain dari itu suhu air juga mempengaruhi konsentrasi oksigen yang terlarut di dalam air.
Tekanan udara dapat pula mempengaruhi kelarutan oksigen di dalam air. Tekanan udara dapat
pula mempengaruhi kelarutan oksigen di dalam air karena tekanan udara mempengaruhi
kecepatan difusi oksigen dari udara ke dalam air.

Atmosfer bumi mengandung oksigen sekitar 210 ml/liter. Oksigen merupakan salah satu gas
yang terlarut dalam perairan. Kadar oksigen yang terlarut diperairan alami bervariasi, tergantung
pada suhu, salinitas, turblensi air, dan tekanan atmosfer. Semakin besar suhu dan ketinggian
(altitude) serta semakin kecil tekanan atmosfer, kadar oksigen terlarut semakin kecil (Jeffries dan
Mills, 1996)

Semakin tinggi suatu tempat dari permukaan laut, tekanan atmosfer semakin rendah. Setiap
peningkatan ketinggian suatu tempat sebesar 100 m diikuti dengan penurunan tekanan hingga 8
mm Hg 9 mm Hg. Pada kolom air , setinggi peningkatan kedalaman sebesar 10 m disertai
dengan penigkatan tekanan sekitar 1 atmosfer (Cole, 1988).

Kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman, tergantung
pada pencampuran (mixing) dan pergerakan (turbulence) massa air, aktifitas fotosintesis,
respirasi, dan limbah (effluent) yang masuk ke badan air.

Peningkatan suhu sebesar 1C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10% (Brown,
1987). Dekomposisi bahan organic dan oksidasi bahan anorganik dapat mengurangi kadar
oksigen terlarut hingga mencapai nol (anaerob). Hubungan antara kadar oksigen terlarut jenuh
dan suhu ditunjukkan dalam table yang menggambarkan bahwa semakin tinggi suhu, kelarutan
oksigen semakin berkurang. Kelarutan oksigen dan gas-gas lain juga berkurang dengan
meningkatnya salinitas sehingga kadar oksigen dilaut cenderung lebih rendah daripada kadar
oksigen diperairan tawar.

Tabel Hubungan Antara Kadar Oksigen Jenuh dan Suhu pada tekanan Udara 760
mm Hg

Suhu ( C) Kadar Oksigen Suhu ( C) Kadar Oksigen Suhu Kadar


Terlarut (mg/liter) Terlarut (mg/liter) ( C) Oksigen
Terlarut (mg/liter)

0 14,62 14 10,31 28 7,83

1 14,22 15 10,08 29 7,69

2 13,83 16 9,87 30 7,56

3 13,46 17 9,66 31 7,43

4 13,11 18 9,47 32 7,30

Sumber : Cole,1983
Tabel Hubungan Antara Kadar Oksigen Terlarut Jenuh dan Salinitas pada Tekanan
Udara 760 mm Hg

Salinitas ( )

Suhu
( C)
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45

20 8,9 8,6 8,4 8,1 7,9 7,7 7,4 7,2 6,9 6,8

22 8,6 8,4 8,1 7,9 7,6 7,4 7,2 6,9 6,7 6,6

24 8,3 7,1 7,8 7,6 7,4 7,2 6,9 6,7 6,5 6,4

Kadar oksigen jenuh akan tercapai jika kadar oksigen yang terlarut diperairan sama dengan
sama dengan kadar oksigen yang terlarut secara teoritis. Kadar oksigen tidak jenuh terjadi jika
kadar oksigen yang terlarut lebih kecil dari pada kadar oksigen secara teoritis. Kadar oksigen
yang melebihi nilai jenuh disebut lewat jenuh (super saturasi( Kejenuhan oksigen diperairan
dinyatakan dengan persen saturasi (Jeffries dan Mills, 1996).

3. Pengaruh ketinggian terhadap kadar oksigen terlarut

Menurut Sudaryati (1991), menyatakan bahwa di perairan alam konsentrasi oksigen terlarut
dalam fungsi dari proses biologi seperti proses fotosintesa dan respirasi dan proses fisika seperti
pergerakan air dan suhu. Di permukaan air konsentrasi oksigen rendah, dikedalaman tertentu di
daerah fotik mencapai maksimum, dan di dasar perairan konsentrasinya menurun lagi, selama
stratifikasi panas, konsentrasi oksigen terlarut di dasar perairan rendah karena pengambilan oleh
mikroba untuk respirasi.
4. Pengaruh keberadaan ikan terhadap kadar oksigen terlarut

5. Yang mempengaruhi kadar oksigen terlarut dalam perairan

Kelarutan oksigen dalam air dapat dipengaruhi oleh suhu, tekanan parsial gas-gas yang ada di
udara maupun yang ada di air, salinitas serta persenyawaan unsur-unsur mudah teroksidasi di
dalam air. Kelarutan tersebut akan menurun apabila suhu dan salinitas meningkat, oksigen
terlarut dalam suatu perairan juga akan menurun akibat pembusukan-pembusukan dan respirasi
dari hewan dan tumbuhan yang kemudian diikuti dengan meningkatnya CO2 bebas serta
menurunnya pH (Nybakken, 1992).

Oksigen (O2) dalam suatu perairan tidak lepas dari pengaruh parameter lain seperti
karbondioksida, alkalinitas, suhu, pH, dan sebagainya. Di mana semakin tinggi kadar oksigen
yang dibutuhkan, maka karbondioksida yang dilepaskan sedikit. Hubungan antara kadar oksigen
terlarut dengan suhu ditunjukkan bahwa semakin tinggi suhu, kelarutan oksigen semakin
berkurang (Efendi, 2003).

Kadar oksigen (O2) dalam perairan tawar akan bertambah dengan semakin rendahnya
suhu dan berkurangnya kadar alkalinitas. Pada lapisan permukaan, kadar oksigen akan lebih
tinggi karena adanya proses difusi antara air dengan udara bebas serta adanya proses fotosintesis.
Dengan bertambahnya kedalaman akan mengakibatkan terjadinya penurunan kadar oksigen
terlarut dalam perairan

Oksigen (O2) terlarut dalam air secara ilmiah terjadi secara kesinambungan. Organisme yang
ada dalam air pertumbuhannya membutuhkan sumber energi seperti unsur carbon (C) yang
diperoleh dari bahan organik yang berasal dari ganggang yang mati maupun oksigen dari udara.
Dan apabila bahan organik dalam air menjadi berlebih sebagai akibat masuknya limbah aktivitas
(seperti limbah organik dari industri), yang berarti suplai karbon (C) melimpah, menyebabkan
kecepatan pertumbuhan organisme akan berlipat ganda (Putranto, 2009).

6. Pengaruh kadar oksigen terlarut terhadap kualitas perairan

Berdasarkan kandungan (oksigen terlarut), maka pengelompokan kualitas perairan air


laut dapat dibagi menjadi empat macam yaitu tidak tercemar (> 6,5 mgr/l ), tercemar ringan
(4,5 6,5 mgr/l), tercemar sedang (2,0 4,4 mgr/l) dan tercemar berat (< 2,0 mgr/l) (Odum,
1971).

Limbah bahan organik biasanya dibuang di sungai secara sembarangan. Akibat dari
perbuatan manusia itu sendiri yang melakukan Pembuangan limbah organik ke dalam sungai
menimbulkan perubahan kondisi yang ditengarai oleh fluktuasi oksigen dan jenis organisme
yang hidup di lokasi tersebut

Sebelum titik pembuangan limbah, oksigen terlarut dapat menyangga populasi normal
dalam kondisi air bersih (zona bersih). Langsung dibawah sumber pencemaran, kadar
oksigen mulai menurun karena bakteri banyak melakukan dekomposisi limbah. Beberapa
jenis ikan pemakan dekomposer masih dapat bertahan pada zona ini (zona dekomposisi).
Lebih jauh ke hilir, oksigen makin menipis, dan mungkin terjadi kondisi yang anaerobik
(tanpa oksigen), sehingga hanya mikroorganisme dan invertebrata yang paling resisten saja
yang dapat bertahan hidup (zona septik). Semakin lama semua materi organik akan habis
terdekomposisi, jumlah dekomposer menurun, dan kadar oksigen kembali meningkat (zona
perbaikan). Semakin ke hilir, keadaan akan bertambah baik sehingga akan terjadi
keseimbangan baru suatu komunitas perairan bersih (zona bersih). Panjang pendeknya setiap
zona tergantung pada volume limbah, suhu air, dan kuatnya arus air.
7. Metode yang dapat digunakan dalam menentukan kadar oksigen terlarut dalam
perairan

Metoda titrasi dengan cara winkler

Prinsipnya dengan menggunakan titrasi iodometri. Sampel yang akan dianalisis terlebih
dahulu ditambahkan larutan MnCl2 den Na0H - KI, sehingga akan terjadi endapan Mn02. Dengan
menambahkan H2SO4 atan HCl maka endapan yang terjadi akan larut kembali dan juga
akanmembebaskan molekul iodium (I2) yang ekivalen dengan oksigen terlarut. Iodium
yang dibebaskan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan standar natrium tiosulfat (Na2S203) dan
menggunakan indikator larutan amilum (kanji). Reaksi kimia yang terjadi dapat dirumuskan :

MnCI2 + NaOH ==> Mn(OH)2 + 2 NaCI

2 Mn(OH)2 + O2 ==> 2 MnO2 + 2 H20

MnO2 + 2 KI + 2 H2O ==> Mn(OH)2 + I2 + 2 KOH

I2 + 2 Na2S2O3 ==> Na2S4O6 + 2 NaI

Metoda elektrokimia

Cara penentuan oksigen terlarut dengan metoda elektrokimia adalah cara langsung untuk
menentukan oksigen terlarut dengan alat DO meter. Prinsip kerjanya adalah menggunakan probe
oksigen yang terdiri dari katoda dan anoda yang direndam dalam larutan elektrolit. Pada alat DO
meter, probe ini biasanya menggunakan katoda perak (Ag) dan anoda timbal (Pb). Secara
keseluruhan, elektroda ini dilapisi dengan membran plastik yang bersifat semi permeable
terhadap oksigen. Reaksi kimia yang akan terjadi adalah

Katoda : O2 + 2 H2O + 4e ==> 4 HO-

Anoda : Pb + 2 HO- ==> PbO + H20 + 2e

8. Reaksi yang terjadi dengan Metode Winkler

MnCI2 + NaOH ==> Mn(OH)2 + 2 NaCI

Mn(OH)2 + O2 ==> 2 MnO2 + 2 H20

MnO2 + 2 KI + 2 H2O ==> Mn(OH)2 + I2 + 2 KOH


I2 + 2 Na2S2O3 ==> Na2S4O6 + 2 NaI

9. Kelebihan dan kelemahan metode yang digunakan dalam praktikum

Kelebihan Metode Winkler dalam menganalisis oksigen terlarut (DO) adalah dimana dengan
cara titrasi berdasarkan Metoda Winkler lebih analitis, teliti dan akurat apabila dibandingkan
dengan cara alat DO meter. Hal yang perlu diperhatikan dala titrasi iodometri ialah penentuan
titik akhir titrasinya, standarisasi larutan tio dan penambahan indikator amilumnya. Dengan
mengikuti prosedur yang tepat dan standarisasi tio secara analitis, akan diperoleh hasil penentuan
oksigen terlarut yang lebih akurat. Sedangkan cara DO meter, harus diperhatikan suhu dan
salinitas sampel yang akan diperiksa. Peranan suhu dan salinitas ini sangat vital terhadap akurasi
penentuan oksigen terlarut dengan cara DO meter. Disamping itu, sebagaimana lazimnya alat
yang digital, peranan kalibrasi alat sangat menentukan akurasinya hasil penentuan. Berdasarkan
pengalaman di lapangan, penentuan oksigen terlarut dengan cara titrasi lebih dianjurkan untuk
mendapatkan hasil yang lebih akurat. Alat DO meter masih dianjurkan jika sifat penentuannya
hanya bersifat kisaran.

Kelemahan Metode Winkler dalam menganalisis oksigen terlarut (DO) adalah


dimana dengan cara winkler penambahan indikator amylum harus dilakukan pada saat mendekati
titik akhir titrasi agar amilum tidak membungkus iod karena akan menyebabkan amilum sukar
bereaksi untuk kembali ke senyawa semula. Proses titrasi harus dilakukan sesegera mungkin, hal
ini disebabkan karena I2 mudah menguap. Dan ada yang harus diperhatikan dari titrasi iodometri
yang biasa dapat menjadi kesalahan pada titrasi iodometri yaitu penguapan I2, oksidasi udara dan
adsorpsi I2 oleh endapan.
Prosedur Kerja
Alat yang digunakan :

1. Botol winkler
2. Erlenmeyer
3. Gelas ukur
4. Pipet tetes

Bahan yang digunakan


1. Larutan indicator Amylum 1%
2. Larutan MnSO4 50 %
3. Larutan pereaksi O2 (O2 reagent)
4. Larutan Na2SO3 0,01 N (larutan thiosulfate)
5. Larutan H2SO4pekat

1. Ambil contoh air menggunakan botol winkler hingga penuh (luber) secara hati-hati
karena jangan sampai terjadi gelembung udara, lalu tutup botol
2. Buka kembali tutup botol, lalu tambahkan 1ml larutan MnSO4 50% dan 1ml larutan O2
reagent, lalu tutup mulut botol dan kocok, biarkan hingga endapan mengendap sempurna.
Jika endapan warna putih, pengukuran tidak dilanjutkan karena kandungan oksigen 0,0.
3. Jika endapan coklat sudah sempurna, buka tutup botol, lalu tambahkan 2 ml larutan
H2SO4 pekat dengan hati-hati, kemudian tutup kembali botol winkler dan kocok, biarkan
endapan larut sempurna hingga larutan dalam botol winkler menjadi bening berwarna
orange atau kuning.
4. Masukkan 50ml sampel pada point ke 3 ke dalam gelas Erlenmeyer, tambahkan 3 tetes
larutan amylum 1%, kemudian titrasi dengan larutan thiosulfate (Na2S2O3) 0,01 N hingga
larutan berubah warna dari biru menjadi jernih. Catat larutan thiosulfate yang terpakai.

Perhitungan :
8000 2 3 2 3
Mg/l O2 = (2)
50

8000 = Berat molekul O2 dalam 1000ml
50 = Banyaknya contoh air yang dititrasi
V = Volume botol winkler yang digunakan
2 = Banyaknya air yang terbuang saat ditutup/ equal dengan banyaknya penambahan 2ml larutan
H2SO4

Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan di tiga sampel yaitu Inlet, Kolam ada ikan,
dan kolam tidak ada ikan, didapat hasil nilai kadar DO sebagai berikut :

Inlet
8000 2 3 2 3
Mg/l O2 = (2)
50

8000 1,55 0,02


= (3002)
50
300

= 4,99 mg/l O2

Kolam ada ikan


8000 2 3 2 3
Mg/l O2 = (2)
50

8000 0,76 0,02


= (3002)
50
300

= 2,45 mg/l O2

Kolam tidak ada ikan


8000 2 3 2 3
Mg/l O2 = (2)
50

8000 1,09 0,02


= (3002)
50
300

= 3,52 mg/l O2
Dari ketiga sampel didapat 3 nilai yang berbeda karena terdapat perbedaan aktivitas,
suhu, dan tekanan. Semakin tinggi tekanan udara nilai DO makin tinggi. Ketiga sampel memiliki
ketinggian yang berbeda namun tidak begitu jauh. Pada inlet nilai DO nya lebih tinggi karena
selain memiliki ketinggian paling tinggi diantara 2 sampel lainnya, pada inlet tidak ada/sedikit
makhluk hidup yang menggunakan oksigen. Pada inlet yang ada hanyalah beberapa fitoplankton
yang melakukan fotosintesis, sehingga menghasilkan oksigen terlarut terus tanpa ada yang
memakainya. Selain itu tingkat pencemarannya tergolong rendah karena oksigennya tidak
dipakai bakteri untuk menguraikan bahan organik.

Pada kolam ada ikan memiliki nilai DO paling rendah yaitu 2,45 mg/l O2. Hal ini
disebabkan karena pada kolam ini proses respirasi lebih besar dibandingkan dengan proses difusi
atau proses fotosintesisnya. Di kolam ini terjadi aktivitas ikan, dimana ikan mengambil oksigen
untuk bernafas dan proses metabolismenya. Selain itu terdapat kemungkinan pencemaran bahan
organic karena kadar DO cukup rendah. Seharusnya untuk perikanan kadar DO seharusnya tidak
kurang dari 4 mg/l O2 karena kurang menguntungkan untuk organisme akuatik namun masih
ikan dapat bertahan karena kadar DO masih diatas 2 mg/l O2 wala aktvitasnya terganggu seperti
nafsu makan menjadi turun, pertumbuhan menjadi lambat, dll.

Waktu pengambilan sampel mempengaruhi nilai DO yang didapat. Hal itu terbukti pada
kelompok yang mengambil sampel saat siang hari berikut hasil perhitungan mereka :

1. Sampel Inlet

8000 1,4 0,02


mg/l O2= 3002
50
300

224
= = 4.51 mg/l O2
49,67

2. Sampel Kolam (ada ikan)


8000 1,6 0,02
mg/l O2= 3002
50
300

256
= 49,67 = 5.15 mg/l O2
Untuk inlet didapat nilai terdapat perbedaan yang tidak begitu jauh, berbeda dengan
kolam yang ada ikan, terdapat perbedaan nilai yang cukup jauh, yaitu 2,7 mg/l O2. Hal itu
disebabkan karena kelompok siang mengambil sampel saat hujan, sehingga suhu perairan lebih
rendah dan semakin rendah suhu nilai DO akan semakin tinggi. Pada kelompok kami sampel
diambil pada saat pagi menjelang siang yaitu sekitar pukul 10:00, dimana matahari cukup hangat
untuk menyinari perairan. Selain itu, terdapat factor human error. Ketidak telitian saat penentuan
titik akhir titrasi mempengaruhi nilai yang didapat.

Berdasarkan teoritis kadar DO pada suhu 27oC adalah 7,97 mg/l O2. Maka dari itu persen
saturasi kadar DO yang didapat dari praktikum adalah
4,99
Inlet = 7,97 x 100% = 62,61 % (tidak jenuh)

2,45
Kolam ada ikan = 7,97 x 100% = 30,74 % (tidak jenuh)

3,52
Kolam tidak ada ikan = 7,97 x 100% = 44,16 % (tidak jenuh)

Ketidak jenuhan kadar DO menandakan masih berlangsungnya difusi air dari atmosfer
kedalam air dan proses fotosintesis masih berlangsung sehingga masih dapat berlangsungnya
pernafasan dan oksidasi bahan-bahan organic dan anorganik.

Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kadar DO yang didapat
tidak jenuh. Terdapat perbedaan hasil pada ketiga sampel karena perbedaan tekanan, suhu, dan
ketinggian.

Inlet memiliki kadar DO paling tinggi diantara dua tempat lainnya karena sedikitnya
aktivitas pada inlet. Pada kolam ada ikan kadar DO cukup rendah yaitu 2,45 mg/l O2. Hal itu
menandakan perairan tersebut kurang baik untuk perikanan karena kurang dari 4 mg/l O2, tetapi
pada umumnya ikan masih bisa bertahan hidup walau aktiivitasnya terganggu. Dengan kadar DO
sebesar 2,45 mg/l O2 perairan tesebut tergolong tercemar ringan, namun untuk budidaya ikan
masih dapat dilakukan.
Faktor human error pun mempengaruhi hasil kadar DO seperti perbedaan penentuan titik
akhir titrasi karena ketidaktelitian yang melakukan titrasi.

Sebaiknya melakukan pengukuran secara in situ agar kisaran nilai kualitas air yang
diperoleh tidak berubah akibat factor lingkungan lainnya serta factor waktu pengukuran.

Daftar Pustaka
http://teknologikimiaindustri.blogspot.com/2011/02/oksigen-terlarut-ot-dissolved-oxygen-do.html
diakses pada tanggal 06 Juni 2013 pukul 12:13

http://animsirus.blogspot.com/2013/02/5-tingkat-pengukuran-oksigen-terhadap.html diakses
pada tanggal 06 Juni 2013 pukul 13:09

http://destririzkiarifelia.blogspot.com/2012/09/laporan-dissolve-oksigen-po.html diakses pada


tanggal 06 Juni 2013 pukul 15:43

Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air, Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan.
Yogyakarta : Kanisius.