Anda di halaman 1dari 9

MITIGASI DAERAH BERPOTENSI LONGSOR PADA DAERAH

PERBUKITAN DAN PEGUNUNGAN


Beny Harjadi1
Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
(BPTKPDAS SOLO-Balitbang Kehutanan)
Email : adbsolo@yahoo.com

Abstrak

Kondisi bentuk lahan perbukitan dan pegunungan perlu diwaspadai, hal ini akibat daerah
tersebut berpotensi terjadinya longsor. Terutama pada daerah yang memiliki kemiringan
lereng > 45%, dengan tekstur tanah liat ringan - berat dan dilewati sesar geologi,
kedalaman regolit > 2 m, kepadatan penduduk > 5000 jiwa/km2, dan curah hujan > 300
mm berturut-turut selama 3 hari. Berkenaan dengan hal tersebut perlu ada penelitian
pada daerah-daerah yang berpotensi longsor baik yang berakibat terjadinya bahaya
dalam bentuk bencana dan resiko korban yang akan ditimbulkan. Metode yang dilakukan
dengan mengamati gerakan tanah secara manual dengan rentang sling dan bandul atau
dengan alat gerak tanah otomatis (extensometer). Disamping itu juga diamati kondisi
biofisik lahan dengan mengumpulkan data sifat fisik tanah, iklim, dan kepadatan
penduduk. Dari ketiga lokasi perbukitan di Jawa Tengah yang berpotensi longsor
berurutan dari yang paling tinggi adalah Banjarnegara (3,8=agak tinggi), Purworejo
(3,6=agak tinggi), dan Karanganyar (3,3=sedang). Namun ketiga lokasi ada juga
kesamaan antara lain kemiringan lereng yang curam dan kandungan liat tinggi, dan
dilewati sesar.

Kata Kunci : Lereng, Sesar, Longsor, Bahaya, Resiko

Abstrak

Conditions land forms of the hilly and mountainous need to be aware, this is due to the
potential landslide areas. Especially in areas with slope> 45%, with a clay texture light -
weight and skipped the fault geology, depth regolit> 2 m, population density> 5000
jiwa/km2, and rainfall> 300 mm for 3 consecutive days. In this regard there should be
research on areas prone to landslide hazard resulting either in the form of disaster victims
and the risk they pose. The method is done by observing the movement of the ground
manually with a range of slings and pendulum or by means of automatic ground motion
(extensometer). Besides, it was also observed biophysical conditions by collecting data on
the physical properties of soil, climate, and population density. Three of the locations in the
hills of Central Java is prone to landslide sequentially from the highest is Banjarnegara (3.8
= a little high), Purworejo (3.6 = a little high), and Karanganyar (3.3 = moderate). But
there are also similarities third location such as a steep slope and a high clay content, and
skipped fault.

Keywords : Fault, Avalanche, Hazard, Risk

1
Peneliti Bidang Pedologi dan Penginderaan Jauh di BPTKPDAS-SOLO
PENDAHULUAN

Mitigasi bencana merupakan serangkaian tindakan dalam rangka mengurangi risiko


bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran masyarakat setempat dan
peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana yang mengancam harta dan jiwa.
Mitigasi bencana tanah longsor yang biasa terjadi pada daerah perbukitan dan pegunungan
dapat dikenali dari beberapa kondisi biofisik lahan, kondisi iklim dan kepadatan penduduk
(Paimin, Soekresno, Pramono, 2009). Faktor penting di dalam menentukan tipe-tipe gerakan
tanah (Pramumijoyo dan Karnawati, 2006), yaitu: kecepatan gerakannya dan kandungan air di
dalam materi yang mengalami gerakan tanah. Ciri-ciri tanah longsor menurut Hirmawan (1994)
dikelompokkan atas pengaruh: batuan/tanah, tektonik/kegempaan, morfologi, dan hujan/musim.
Karena tanah longsor adalah sebuah phenomena alam dimana masa tanah berada diatas lapisan
kedap (seperti liat), tanda gerakan yang lambat disebabkan karena adanya pengaruh peningkatan
kandungan air tanah. Tanah longsor akan terjadi jika dipenuhi 3 keadaan, yaitu: 1) lereng
cukup curam, 2) terdapat bidang peluncur (batuan) di bawah permukaan tanah yang kedap
air, dan 3) terdapat cukup air (hujan) yang masuk ke dalam pori-pori tanah di atas lapisan
batuan kedap sehingga tekanan tanah terhadap lereng meningkat (Brook et. al.., 1991).
Bencana tanah longsor seperti yang terjadi di Desa Kemanukan, Kecamatan Bagelen,
Kabupaten Purworejo pada tanggal 5 Oktober 2000 menewaskan 22 orang; di Desa
Sijeruk, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara pada tanggal 4 Januari 2006
menewaskan 28 orang. Korban jiwa dan harta banyak berjatuhan karena penanganan tanah
longsor sulit dilakukan hal ini disebabkan untuk mengetahui suatu lereng akan longsor atau
tidak itu tidaklah mudah (Tjojudo, 1994). Berkenaan dengan permasalahan diatas maka
dalam penelitian ini bertujuan untuk mitigasi longsor dengan menganalisis daerah yang
berpotensi terjadinya longsor dengan mencatat kondisi biofisik lahan dan iklim.

METODA

Penelitian ini dilakukan di 3 kabupaten yang masuk pada 3 Sub DAS berbeda yaitu di
kabupaten Banjarnegara (Sub DAS Merawu), Karanganyar (Sub DAS Mungkung dan
Grompol), dan Purworejo (Sub DAS Gesing).
Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian Mitigasi Longsor di Purworejo, Banjarnegara, dan
Karanganyar di Propinsi Jawa Tengah

Masing-masing di ketiga lokasi dilakukan pengumpulan ISDL (Inventarisasi Sumber Daya


Lahan) untuk mengetahui kondisi biofisik lahan, dan juga diamati gerakan tanah dengan
sling dan bandul juga dengan alat gerakan tanah otomatis (extensometer). Pengamatan
curah hujan dengan ombrometer (MRR= Manual Rainfall Recorder) dan pengamatan suhu
dengan kelembaban udara dengan Thermohygro, untuk melengkapi beberapa data daerah
berpotensi longsor (Gambar 2).

Gambar 2. Faktor Penyebab Lahan Berpotensi Longsor


HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi biofisik di Banjarnegara antara lain : Bentuk lahan Mountain (Pegunugan,


M), kemiringan lereng >85%, relief pegunungan, batuan induk batuan beku lunak (Iw)
pelapukan lanjut warna coklat, agak masam (pH=6,4). Erosi alur dan jurang tingkat berat.
Kedalaman solum sangat dalam (>90 cm) dan regolit dalam (100-200 cm). Tanah
Inceptisols, KPL (Kemampan Penggunaan Lahan) VIIIe, infiltrasi baik (cepat),
permeabilitas sedang (20-65 mm/jam), drainase agak baik. Pori mikro banyak, konsistensi
basah plastis, kondisi lembab gembur dan kering agak keras. Tekstur lempung liat berpasir
(SCL) struktur granuler kasar lemah, warna tanah coklat kehitaman. Bahan organik rendah
(<1%), nilai toleransi erosi (T) tinggi (>25 ton/ha/th) dan nilai erodibilitas tanah (K) sangat
peka (>0,56).
Kondisi biofisik di Karanganyar antara lain : Bentuk lahan Hilly (Perbukitan, H),
kemiringan lereng >38%, relief bukit kecil, batuan induk batuan beku lunak (Iw)
pelapukan lanjut warna coklat, agak masam (pH=5,8). Erosi alur dan jurang tingkat berat.
Kedalaman solum sangat dalam (>90 cm) dan regolit (>200 cm). Tanah Ultisols, KPL IVe,
infiltrasi baik (cepat), permeabilitas sedang (20-65 mm/jam), drainase agak baik. Pori
mikro banyak, konsistensi basah plastis, kondisi lembab gembur dan kering agak keras.
Tekstur lempung liat berdebu (SiCL) struktur blocky sedang lemah, warna tanah coklat
kemerahan. Bahan organik rendah (<1%), nilai toleransi erosi tinggi (>25 ton/ha/th) dan
nilai K sangat peka (>0,56).
Kondisi biofisik di Purworejo antara lain : Bentuk lahan Hilly (Perbukitan, H),
kemiringan lereng >36%, relief perbukitan, batuan induk batuan beku lunak (Iw)
pelapukan lanjut warna coklat, agak masam (pH=6,1). Erosi alur dan longsor (landslide)
tingkat berat. Kedalaman solum sangat dalam (>90 cm) dan regolit (>200 cm). Tanah
Ultisols, KPL VIe, infiltrasi baik (cepat), permeabilitas agak cepat (65-125 mm/jam),
drainase agak baik. Pori mikro banyak, konsistensi basah lekat, kondisi lembab gembur
dan kering agak keras. Tekstur lempung liat berdebu (SiCL) struktur angular blocky halus
sedang, warna tanah coklat kemerahan. Bahan organik rendah (<1%), nilai toleransi erosi
agak tinggi (20-25 ton/ha/th) dan nilai K sangat peka (>0,56).
Dari kondisi biofisik di tiga lokasi diatas juga ditunjang oleh adanya curah hujan,
yaitu dengan semakin tinggi intensitas curah hujan maka semakin berpotensi terjadinya
longsor (Gambar 3).
Gambar 3. Curah Hujan Bulanan dan Total Tahunan di Karanganyar, Banjarnegara dan
Purworejo Tahun 2012

Pengelolaan lahan yang berpotensi longsor dengan pemilihan jenis tanaman yang
sesuai dikembangkan pada daerah berpotensi longsor atau telah terjadi longsor agar tidak
terjadi longsor antara lain dipilih tanaman yang tidak membebani tanah dan perakaran
banyak, sebagai contoh tanaman salak dan kapulogo yang dikembangkan di Banjarnegara.
Upaya untuk perbaikan kondisi tanah antara lain dikurangi dengan meningkatkan pori
makro agar aerasi dan drainase lancar serta tekstur tanah tidak terlalu halus seprti liat.
Untuk kemantapan agregat dapat ditambahkan pupuk organik dengan pupuk kandang atau
dengan menambah penguat agregat sintetis. Pemantapan agregat juga didukung oleh
adanya populasi tanaman bawah untuk membantu penyerapan air dan pasangan batu
kosong pada tampingan atau tebing terjal.
Pada daerah yang sering basah atau lembab maka perlu ada perbaikan drainase
dengan membuat saluran agar air cepat teratuskan, sebab jika kondisi tanah jenuh maka
lahan yang berpotensi longsor akan mudah bergerak. Kondisi tingkat longsor untuk 3
lokasi berurutan dari yang tertinggi Banjarnegara (3,8), Purworejo (3,6) dan Karanganyar
(3,1), yaitu dua lokasi mendekati agak tinggi (4) dan satu lokasi di Karnganyar termasuk
sedang (Tabel 1). Ketiga lokasi termasuk daerah dengan formasi geologi sama dan sama-
sama dilewati garis sesar, sehingga faktor yang berpengaruh terhadap tingkat longsor
antara lain : curah hujan dan kemiringan lereng serta penggunaan lahan. Penggunaan lahan
sebagian besar di tegal dan hanya satu lokasi di pemukiman.
Tabel 1. Kondisi tingkat longsor di Banjanegara (B), Purworejo (P) dan Karanganyar (K)
CH KL GEO Sesar REG PL IS KP TL
B1 3 3 3 5 4 4 1 1 3.0
B2 3 4 3 5 4 4 1 1 3.1
B3 3 3 3 5 4 5 5 2 3.8
P1 4 3 3 5 3 4 5 2 3.6
P2 4 2 3 5 3 4 5 2 3.5
P3 4 2 3 5 3 4 5 2 3.5
K1 3 3 3 5 5 4 1 2 3.3
K2 3 2 3 5 5 4 1 2 3.1
Keterangan : CH:Curah Hujan, KL:Kemiringan Lereng, GEO:Geologi, REG:Regolit, PL:Penggunaan
Lahan, IS:Infrastruktur, KP:Kepadatan Penduduk, TL:Tingkat Longsor dengan nilai dari
1 (sangat tahan) sampai 5 (sangat rentan) longsor.

KESIMPULAN

Dari ketiga lokasi yang berpotensi longsor berurutan dari yang paling berpotensi adalah
Banjarnegara (3,8=agak tinggi), Purworejo (3,6=agak tinggi), dan Karanganyar
(3,3=sedang). Namun ketiga lokasi ada juga kesamaan antara lain kemiringan lereng yang
curam dan kandungan liat tinggi, dan dilewati sesar. Beberapa faktor yang berpengaruh
dalam upaya mitigasi daerah berpotensi longsor dalam suatu DAS dan peringatan dini jika
terjadi longsor, antara lain : hujan 3 hari berturut-turut >300 mm, fluktuasi iklim
(kelembaban, suhu udara dan suhu tanah), lereng >45%, daerah perbukitan batuan keras,
ada sesar, regolit > 2m, lahan tegal, lereng terpotong jalan, dan kepadatan penduduk >
5000 orang/km2. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap longsor antara lain : kondisi
tanah, kemiringan lereng, arah lereng, tekstur tanah, bobot isi, kemasaman tanah,
kesuburan tanah, sesar, struktur, solum, regolith, permeabilitas dan faktor luar terutama
hujan dan gempa bumi. Faktor-faktor yang berpengaruh untuk mitigasi daerah berpotensi
longsor disuatu DAS antara lain : Metode dan teknik rehabilitasi lahan terdegradasi pada
lahan berpotensi longsor yang efektif dengan penanaman jenis tanaman yang memiliki
perakaran kuat dan lebat serta memiliki akar tunjang. Pada lahan dengan regolit yang
dalam > 2 m pada lahan miring dengan dominasi tekstur liat dan kadar lengas tanah yang
tinggi diperlukan tanaman yang tidak berkayu dan membebani tanah seperti tanaman
kapulogo, empon-empon dan rumput gajah.

UCAPAN TERIMAKASIH

Ucapan terimakasih disampaikan kepada teman-teman Peneliti dan Teknisi dari


BPTKPDAS yang telah membantu pengumpulan data di lapangan antara lain : Drs. Agus
Wuryanta, MSc, Johanes Gunawan, Edi Sulasmiko, Agus Sugianto. Begitu juga
terimakasih disampaikan kepada semua pihak yang telah banyak membantu baik dari
tingkat Kabupaten (BPBD= Badan Penanggulangan Bencana Daerah), aparat Tingkat
Kecamatan, aparat Tingkat Desa, dan masyarakat setempat di Desa Sijeruk Banjarnegara,
Desa Kemanukan Purworejo, dan Desa Nglegok Karanganayar.
DAFTAR PUSTAKA

Brook, K.N., P. F. Ffolliott, H.M. Gregersen, and J.K. Thames. 1991. Hydrology and The
Management of Watersheds. Iowa State University Press, Ames, USA.

Paimin, Soekresno, Pramono, I.B., 2009. Teknik Mitigasi Banjir dan Tanah Longsor. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Badan Penelitian dan
Pengembangan Kehutananan, dan diterbitkan oleh Tropenbos International Indonesia
Programme. Balikpapan.

Tjojudo, S. 1994. Teknik Penentuan Bidang Longsoran. Makalah Penunjang No. 13


Simposium Nasional Mitigasi Bencana Alam. Kerjasama F-Geografi UGM-Bakornas
Penanggulangan Bencana, Yogyakarta.

Hirmawan, F. 1994. Pemahaman Sistem Dinamis Kestabilan Lereng untuk Mitigasi


Kebencanaan Longsor. Makalah Penunjang No. 17 Simposium Nasional Mitigasi Bencana
Alam. Kerjasama F-Geografi UGM-Bakornas Penanggulangan Bencana, Yogyakarta.

Pramumijoyo S., dan Karnawati, D., 2006. Pemantauan dan Mitigasi Bencana Alam
Banjir dan Longsor, Seminar Nasional Pemantauan dan Mitigasi Bencana Alam Banjir,
Tanah Longsor, dan Kekeringan, Departemen Kehutanan, Badan Penelitian dan
Pengembangan Kehutanan, Balai Penelitian dan Pengembangan, Surakarta, August 29th
2006

.
FORMULIR PENDAFTARAN PEMAKALAH
SEMINAR NASIONAL PENGELOLAAN
SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN 2013

Nama : Beny Harjadi

Gelar akademik : Ir., MSc.

Afiliasi/Pekerjaan : Peneliti Madya bidang Pedologi dan Penghinderaan Jauh

Alamat Kantor : BPTKPDAS (Balai Penelitian Teknologi Pengelolaan Daerah


Aliran Sungai), Jl. Ahmad Yani-Pabelan, Po.Box:295 Surakarta.
57102.

Telp/Fax : 0271-716709, 716959

HP : 078122686657

Email : adbsolo@yahoo.com

website :

Facebook : Beny Harjadi (adbsolo@yahoo.com)

Nama Penulis lain :-

Surat Undangan ke : Perlu


instansi
BIODATA
Data Diri :
Nama : Ir. Beny Harjadi, MSc.
Tempat/Tanggal Lahir: Surakarta, 17 Maret 1961
NIP/Karpeg : 19610317.199002.1.001/ E.896711
Pangkat/Golongan : Pembina Utama Muda / IVc
Jabatan : Peneliti Madya

Riwayat Pendidikan :
TK : TK Aisyiyah Premulung, Surakarta (1967)
SD : SD Negeri 94 Premulung, Surakarta (1973)
SMP : SMP Negeri IX Jegon Pajang, Surakarta (1976)
SMA : SMA Muhammadiyah I, Surakarta (1980)
S1 : IPB (Institut Pertanian Bogor), Jurusan Tanah/ Fakultas Pertanian (1987)
Kursus LRI (Land Resources Inventory) kerjasama dengan New Zealand selama 9 bulan
untuk Inventarisasi Sumber Daya Lahan (1992).
S2 : ENGREF (cole Nationale du Gnie Rural, des Eaux et des Forst), Jururan
Penginderaan Jauh Satelit/ Fak.Kehutanan, Montpellier, Perancis (1996)
PGD : Post Graduate Diplome Penginderaan Jauh, di IIRS (Indian Institute of Remote
Sensing) di danai dari CSSTEAP (Centre for Space Science & Technology
Education in Asia and The Pasific) Affiliated to the United Nations (UN/PBB :
Perserikatan Bangsa-Bangsa), (2005).
Riwayat Pekerjaan :
1. Staf Balai Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Surakarta (1989).
2. Ajun Peneliti Madya Bidang Konservasi Tanah dan Air pada BTPDAS-WIB
(Balai Teknologi Pengelolaan DAS Wilayah Indonesia Bagian Barat), 1998.
3. Peneliti Muda Bidang Konservasi Tanah dan Air pada BTPDAS-WIB (Balai
Teknologi Pengelolaan DAS Wilayah Indonesia Bagian Barat), 2001.
4. Peneliti Madya Bidang Konservasi Tanah dan Air pada BP2TPDAS-IBB (Balai
Litbang Teknologi Pengelolaan DAS - Indonesia Bagian Barat), 2005.
5. Peneliti Madya Bidang Pedologi dan Penginderaan Jauh pada BPK (Balai
Penelitian Kehutanan) Solo, 2006
6. Peneliti Madya Bidang Pedologi dan Penginderaan Jauh pada Balai Penelitian
Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPTKPDAS), 2011
Riwayat Organisasi :
1. Menwa Mahawarman, Jawa Barat (1980 1985)
2. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), (1980 1983)
3. Ketua ROHIS BP2TPDAS-IBB, 2 periode (2000-2006)
Penghargaan :
1. Satya Lancana Karya Satya 10 tahun, No. 064/TK/Tahun 2004
Alamat Penulis :
1. Kantor : BPTKPDAS, d/a Jl.Ahmad Yani Pabelan, Po.Box.295, Surakarta. Jawa
Tengah, 57102. Telp/Fax : 0271716709, 715969.Email:adbsolo@yahoo.com
2. Rumah : Perumahan Joho Baru, Jl.Gemak II, Blok T.10, Rt 04/ Rw VIII, Kel.Joho,
Sukoharjo, Jawa Tengah. Telp : 0271- 591268. HP : 081.22686657