Anda di halaman 1dari 9

Seminar Nasional Restorasi DAS :

Mencari Keterpaduan di Tengah Isu Perubahan Iklim

TANAMAN TANGGUL ANGIN DI PANTAI BERPASIR UNTUK


PENANGGULANGAN EROSI ANGIN
Oleh:
Beny Harjadi
Peneliti Utama/IVd pada Balitek DAS (BPTKPDAS)
Jl. Ahmad Yani - Pabelan, Po.Box.295, Solo, Jawa Tengah.
Telepon/Fax.: (+62) 0271-716709, o8122686657
Email: adbsolo@yahoo.com

ABSTRAK

Permasalahan lahan pantai berpasir antara lain uap air bergaram, abrasi
pantai, tsunami, unsur hara rendah, kecepatan angin tinggi. Kecepatan
angin yang tinggi menyebabkan terkikisnya partikel tanah permukaan
sehingga tanah mengalami degradasi. Dalam rangka mengatasi
permasalahan lahan pantai, diadakan penelitian di Pantai berpasir
Karanggadung, Kec.Petanahan, Kab.Kebumen, Jawa Tengah. Kondisi
Geologi berupa endapan alluvium pasiran dan jenis tanah yang
terbentuk, adalah jenis tanah regosol yang berasal dari endapan berpasir
dengan topografi umumnya berombak. Tujuan penelitian untuk melihat
efektifitas tanggul angin Cemara Laut (Casuarina equisetifolia sp)
sebagai pengendali erosi angin. Metode yang digunakan adalah
Rancangan Acak Kelompok (RAK) pada empat kondisi yaitu di Pantai,
Cemara, Gisik dan Tanaman Semusim. Pengamatan erosi angin
dilakukan dengan stik pralon yang tersebar dari Selatan (Pantai) sampai
Utara (Semusim) dan membentang dari sebelah Barat, Tengah dan
sebelah Timur. Hasil erosi angin tertinggi pada lahan Semusim dan
sebaliknya deposit atau sedimentasi tertinggi pada Gisik. Akibatnya
gundukan pasir (Gisik) akan semakin tinggi dan daerah dataran
tanaman semusim yang jauh dari pantai justru mengalami erosi angin
yang tertinggi. Besarnya erosi (pengikisan) tertinggi pada lahan
semusim sebesar 376 ton/ha/th dan sedimentasi (deposit) tertinggi
pada Gisik sebesar 616 ton/ha/th. Dengan semakin tingginya erosi angin
maka lahan akan mengalami degradasi (erosi/-). Sebaliknya pada daerah
gisik (gundukan pasir) akan mengalami penimbunan pasir (deposit/+).
Akibatnya, dengan adanya erosi (pengikisan) dan penumpukan pasir
(deposit) besar-besaran akan menyebabkan kondisi lahan pantai
berpasir sangat dinamis dan berubah secara drastis. Sehingga
penanaman tanaman tanggul angin Cemara laut di pantai berpasir
sangat diperlukan untuk mencegah perubahan yang sangat drastis
akibat erosi angin.

Kata Kunci: Erosi angin, Pantai berpasir, Gisik, Kebumen.

1
Seminar Nasional Restorasi DAS :
Mencari Keterpaduan di Tengah Isu Perubahan Iklim

I. PENDAHULUAN

Bentuk lahan (landform) wilayah pantai secara umum


dikelompokkan atas wilayah pantai berlumpur (muddy shores), pantai
berpasir (sandy shores), dan pantai berbatu karang atau andesit
(Bloom, A. L., 1979). Pada wilayah pantai berpasir (bergisik), pola
penggunaan lahan yang umum merupakan pola berulang cekungan
antara marsh (swale) dan beting pantai wave-swept (beach ridge) yang
berupa lahan kosong (tanpa tanaman), bertekstur tanah kasar (pasir),
atau diusahakan untuk tegalan (Tim UGM, 1992).
Potensi kerusakan di wilayah pesisir terutama abrasi
disamping juga erosi, menyebabkan berkurangnya daratan
(Prawiradisastra, S., 2003). Begitu juga tanah yang mengalami
kerusakan baik kerusakan karena sifat fisik, kimia dan maupun biologi
memiliki pengaruh terhadap penurunan produksi (Rusdi, Alibasyah,
Karim, 2013). Menurut Sihite (2001) bahwa kombinasi penggunaan
lahan dan agroteknologi sebaiknya dipilih yang memberikan dampak
erosi, sedimentasi dan bermanfaat besar secaraekonomi.
Wilayah pantai yang bersifat dinamis terdapat hubungan
antara pasokan butir-butir pasir dari hasil abrasi pantai oleh ombak
menuju pantai dan dari gisik yang merupakan hasil erosi angin kearah
daratan, sehingga pasokan pasir terjadi terus-menerus. Peristiwa
tersebut menyebabkan lahan pantai berpasir menjadi semakin marjinal,
baik untuk wilayah itu sendiri maupun wilayah dibelakangnya. Hasil
penelitian Kakisina, TJ., (2009) diperoleh alternatif bangunan pelindung
pantai berupa groin (pelindung pantai dari angin dan uap air bergaram)
cukup efektif dalam mengatasi erosi pantai utara teluk Baguala Ambon.
Penggunaan breakwater menurut Wibowo, SA., (2011) cukup efektif
yaitu mampu terjadinya pengendapan di sebelah sisi belakang atau arah
menuju pantai. Begitu juga menurut Taofiqurohman, A., (2014) Hutan
Mangrove pun mampu mencegah erosi dan abrasi di wilayah pesisir.
Kondisi lahan yang marjinal tersebut disebabkan tidak hanya
oleh faktor biofisik semata yang secara alami kurang mendukung untuk
dilakukannya tindakan budidaya. Pada lahan pantai berpasir upaya
penanganan yang ada masih belum optimal, sehingga perlu segera
ditangani agar dampak negatif yang akan terjadi tidak semakin meluas.
Kelompok Kerja erosi dan sedimentasi (2001) menyatakan bahwa laju

2
Seminar Nasional Restorasi DAS :
Mencari Keterpaduan di Tengah Isu Perubahan Iklim

erosi tanah dan hasil sedimen yang terjadi dapat mengancam terhadap
percepatan pendangkalan dan kehidupan ekosistem perairan.
Bertitik tolak dari permasalahan pantai berpasir diatas, maka
penelitian ini bertujuan untuk mengamati efektifitas tanaman Cemara
laut sebagai tanggul angin terhadap penanggulangan erosi angin yang
terjadi.

II. BAHAN DAN METODE

A. Waktu dan Lokasi Penelitian


Penelitian pengamatan erosi angin dipantai berpasir di lakukan pada
tahun 2014 dari bulan Januari sampai Desember. Lokasi penelitian di
pantai berpasir desa Karanggadung, Kec.Petanahan, Kab.Kebumen.
Secara geografi berdasarkan peta topografi skala 1 : 25.000 terletak
pada 109o 35 20 BT , 07o 44 45 LS sampai 109o 36 00 BT , 07o 45
15 LS. Kondisi Geologi berupa endapan alluvium pasiran dan jenis
tanah yang terbentuk adalah jenis tanah regosol yang berasal dari
endapan pasiran dengan topografi umumnya berombak.

B. Bahan dan Alat Penelitian


Bahan penelitian pada lahan pantai berpasir meliputi
tanaman semusim dengan tanaman tanggul angin Cemara laut
(Casuarina equisetifolia sp). Peralatan yang diperlukan berupa stik erosi
dari peralon sebanyak 36 pralon yang tersebar di 12 titik pengamatan.
Mistar penggaris untuk mengukur perubahan tinggi stik akibat
penimbunan (deposit +) maupun penggerusan (erosi -).

C. Metode Penelitian

Metode penelitian dengan memasang stik pralon pada 4 lokasi yaitu:


1. Pantai berpasir dekat dengan laut (P)
2. Dekat dengan cemara laut sebagai tanggul angin (D)
3. Gisik atau gundukan pasir yang terdeposit (G)
4. Jauh dari tanaman cemara laut, berupa tanaman semusim (J).

Masing-masing dalam satu garis lokasi diatas diulangi 3 kali yaitu:


1. Pada sisi Barat pantai berpasir (B)

3
Seminar Nasional Restorasi DAS :
Mencari Keterpaduan di Tengah Isu Perubahan Iklim

2. Pada sisi Pusat atau Tengah (P)


3. Pada sisi Timur pantai berpasir (T)
Dari 12 titik lokasi, selanjutnya masing-masing diulang sebanyak 3 x,
sehingga jumlah pralon ada = 12x3 = 36 stik pralon (Gambar 1). Pada
saat pengamatan, karena setiap stik pralon memiliki 4 sisi mata angin
dan kadang terjadi erosi (-) dan kadang terjadi deposit (+) sehingga
pengamatan erosi angin dilakukan pada empat penjuru: Utara (U),
Timut (T), Selatan (S), dan Barat (B). Analisis statistik dengan
menggunakan RAK (Rancangan Acak Kelompok). Jumlah kelompok 4,
pada 3 sisi, dan pengamatan erosi di 4 penjuru.

Gambar 1. Tata letak stik erosi pada Lahan Pantai Berpasir

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


Akibat adanya angin yang kencang baik dari lautan maupun
juga dari daratan menyebabkan erosi lahan pantai mengalami
perubahan yang sangat dinamis. Pada satu titik stik pengamatan
erosi dari arah lain mengalami erosi (-) dan sebaliknya pada arah lain
mengalami deposit (+). Data erosi (-) dan deposit (+) lahan pantai
berpasir disajikan pada Tabel 1.

4
Seminar Nasional Restorasi DAS :
Mencari Keterpaduan di Tengah Isu Perubahan Iklim

Tabel 1. Besarnya Erosi Angin (-) dan Deposit Pasir (+) di Pantai

Erosi -/Deposit + U T S B
(Ton/Ha/Th) Utara Timur Selatan Barat
PANTAI
BERPASIR
PT=Pantai Timur -92 -136 -148 -100
PP=Pantai Pusat 36 -196 -176 -92
PB=Pantai Barat -232 -88 -32 -56
DEKAT CEMARA
DT=Dekat Timur -132 -120 -88 -64
DP=Dekat Pusat 0 8 24 56
DB=Dekat Barat -104 -112 -84 -36
GISIK PASIR
GUNDUKAN
GT=Gisik Timur 16 -228 -20 4
GP=Gisik Pusat 428 476 344 400
GB=Gisik Barat 616 560 516 572
JAUH CEMARA
TAN.SEMUSIM
JT=Jauh Timur -324 -240 -376 -328
JP=Jauh Pusat 208 168 176 200
JB=Jauh Barat -136 -72 -140 -344

Dari Tabel 1 menunjukkan bahwa erosi angin yang terjadi


cukup tinggi, begitu juga penimbunan pasir atau deposit. Erosi
tertinggi pada lahan tanaman semusim sebesar 376 ton/ha/th dan
sebaliknya penimbunan pasir tertinggi pada gisik 616 ton/ha/th. Hal
tersebut menunjukkan bahwa lahan semusim masih perlu tanaman
tanggul angin yang lebih rapat agar tidak mengalami erosi angin
yang menyebabkan penurunan produktivitas lahan. Begitu juga
dapat disimpulkan bahwa tanaman cemara laut tidak merusak gisik
atau gundukan pasir yang menjadi ciri khas pantai selatan Jawa. Hal
tersebut terbukti bahwa pada lahan gisik (gundukan pasir) tetap
mengalami deposit pasir terus menerus.

Dari analisis rancangan acak kelompok pada Tabel 2 dapat


dilihat baik kelompok maupun perlakuan tempat sangat berbeda

5
Seminar Nasional Restorasi DAS :
Mencari Keterpaduan di Tengah Isu Perubahan Iklim

nyata dengan taraf beda 1%. Hal ini mengandung arti bahwa pada
kelompok lokasi di Pantai, Dekat Cemara, di Gisik dan di Jauh dari
cemara atau pada tanaman semusim terjadi erosi angin yang sangat
berbeda.

Tabel 2. Analisis Rancangan Acak Kelompok (RAK) Erosi Angin Pantai

SK Db JK KT F-hitung
Sumber Derajat Jumlah Kuadrat Sangat
Keragaman bebas Kwadrat Tengah nyata 1%
0,04
FK 0,07
A 3 15,84 5,28 5,24 **
B 2 15,28 7,64 7,58 **
C 3 65,94 21,98 21,81 **
AC 9 162,94 18,10 17,97 **
BC 6 216,94 36,16 35,88 **
ABC 18 18,14 1,01
Keterangan:
A = Lokasi (Pantai-P, Dekat Cemara-D, Gisik-G, dan Jauh dari Cemara-J)
B = Sisi penempatan Stik (Timur-T, Tengah/Pusat-P, Barat-B)
C = Pengukuran stik dari sisi (Timur-T, Selatan-S, Barat-B, Timur-T)

Penjelasan lebih lanjut kondisi erosi (-) atau deposit (+) pada
lahan pantai berpasir akibat erosi angin dapat dilihat pada Gambar
2. Pada daerah pantai semua mengalami erosi angin, dan hanya ada
satu stik dari sisi utara yang mengalami deposit 3 cm.

6
Seminar Nasional Restorasi DAS :
Mencari Keterpaduan di Tengah Isu Perubahan Iklim

Gambar 2. Grafik Erosi Angin (-) dan Deposit (+) Lahan Pantai Berpasir

Pada lahan di belakang Cemara laut hampir semuanya


mengalami erosi angin, kecuali pada daerah pusat atau tengah yang
mengalami deposit karena di tengah tanaman Cemara laut cukup
lebat/tebal. Sebaliknya pada lahan gundukan pasir (Gisik) sebagian
besar mengalami deposit atau penimbunan pasir karena sifat bukit
pasir yang menjadi penghalang erosi angin. Sehingga angin yang
membawa partikel pasir dari bawah/lembah akan tertahan oleh Gisik
atau bukit berpasir. Sebaliknya pada tanaman semusim berimbang
antara lahan yang mengalami penggerusan (erosi) dengan lahan
yang mengalami penimbunan (deposit). Lahan yang mengalami
deposit hanya pada daerah tengah (pusat) saja.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

Lahan pantai berpasir terjadi erosi angin (-) dan deposit pasir (+)
menyebar merata di sepanjang pantai. Erosi angin yang terjadi dapat
dicegah dengan tanaman tanggul angin Cemara laut (Casuarina
equisetifolia). Fungsi Cemara laut disamping untuk mencegah erosi juga
untuk menahan uap air garam-garaman yang akan membakar tanaman
dan juga menciptakan iklim mikro yang sejuk dan nyaman.

7
Seminar Nasional Restorasi DAS :
Mencari Keterpaduan di Tengah Isu Perubahan Iklim

Erosi angin terbesar pada lahan tanaman semusim dengan erosi


sebesar 376 ton/ha/th. Sebaliknya deposit pasir tertinggi terjadi pada
lahan Gisik atau bukit berpasir sebesar 616 ton/ha/th.

Selanjutnya untuk meningkatkan produktivitas lahan semusim


maka dilakukan pencegahan erosi angin dengan cara merapatkan
tanaman tanggul angin atau dilakukan konservasi vegetatif lain dengan
tanaman Gamal (Gliricideae), Pandan Berduri dan tanaman pantai
lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Bloom, A. L., 1979. Geomorphology: A Systematic Analysis of Late


Cenozoic Landforms. Prentice-Hall of India, ND 110001.

Kakisina, TJ., 2009. Estimasi Efektifitas Penggunaan Groin untuk


Mengatasi Erosi pada Kawasan Pesisir Pantai Utara Teluk
Baguala ambon. Jurnal TEKNOLOGI, Volume 6 Nomor 2, 2009;
703 - 7.

Kelompok Kerja erosi dan sedimentasi, 2001. Kajian Erosi dan


Sidemnetasi pada DAS Teluk Balikpapan kalimantan Timur.
Laporan Teknis Proyek Pesisir, TE-02/13-I, CRC/URI, Jakarta, 38
halaman.

Petchprayoon, P., P.D. Blanker, C. Ekkawatparit, and K. Hussein.2010.


Hydrological impact of landuse/landcover change in a large river
in Central-Northern Thailand. Int. J. of Climatology 30: 1919-1930.

Prawiradisastra, S., 2003. Permasalahan abrasi di Wilayah Pesisir


Kabupaten Indramayu. Alami, Vol. 8 Nomor 2, Tahun 2003. BPTP,
Jakarta.

Rusdi, Alibasyah MR., Karim, A., 2013. Evaluasi Degradasi Lahan


Diakibatkan Erosi pada Areal Pertanian di Kecamatan Lembah
Seulawah Kabupaten Aceh Besar. Jurnal Konservasi Sumber
Daya Lahan ISSN 2302-013X Pascasarjana Universitas Syiah Kuala
16 Pages pp. 24- 39.

Sihite, JHS., 2001. EVALUASI DAMPAK EROSI TANAH. Model


Pendekatan Ekonomi Lingkungan dalam Perlindungan DAS :

8
Seminar Nasional Restorasi DAS :
Mencari Keterpaduan di Tengah Isu Perubahan Iklim

Kasus Sub-DAS Besai DAS Tulang Bawang, Lampung.


Pascasarjana-S3, IPB, Bogor.

Taofiqurohman, A., 2014. Pemodelan Tinggi Gelombang Akibat


Keberadaan Hutan Mangrove di Desa Mayangan, Kabupaten
subang. Jurnal Akuatika, Vol.V No.1/Maret 2014 (1-7). ISSN. 0853-
2532.

Tim UGM. 1992. Rencana Pengembangan Wilayah Pantai Jawa Tengah.


F. Geografi UGM Yogyakarta-BRLKT Wilayah V, Ditjen RRL,
Dephut, Semarang.

Wibowo, SA., 2011. Studi Erosi Pantai Batu Beriga Pulau Bangka. Jurusan
Magister Pengelolaan Sumber Daya Air, Fakultas Teknik Sipil dan
Lingkungan, Institut Teknologi Bandung Jalan Ganesha No. 10.
ITB Bandung 40132.