Anda di halaman 1dari 11

SEMINAR NASIONAL GEOGRAFI UMS 2015

Beny Harjadi; Pengelolaan Lahan Marjinal Menjadi Lahan Potensial


Bagi Peningkatan Hasil Finansial Masyarakat

PENGELOLAAN LAHAN MARJINAL MENJADI LAHAN POTENSIAL


BAGI PENINGKATAN HASIL FINANSIAL MASYARAKAT

Oleh :
Beny Harjadi, Peneliti Utama bidang Pedologi dan Penginderaan Jauh di BPTKPDAS,
(Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai), Surakarta
adbsolo@yahoo.com, HP :08122686657

ABSTRAK
Lahan pantai sejak dulu merupakan lahan dengan tekstur pasir dan unsur hara yang rendah
sehingga tidak memliki tingkat produktivitas yang tinggi. Disamping itu juga ditambah adanya
faktor lingkungan yang buruk antara lain adanya angin yang kencang, evaporasi tinggi, suhu
udara tinggi, kelembaban rendah, dan uap air garam-garaman tinggi menyebabkan tanaman
semusim sulit untuk bisa tumbuh. Kondisi lahan yang marjinal berakibat masyarakat tidak ada
yang mau mengelola lahan pantai berpasir karena biaya produksi jauh lebih besar dari pada
hasilnya (tidak menguntungkan sama sekali). Dengan mengupayakan tanaman tanggul angin
(TA) cemara laut (Casuarina equisetifolia) sejak tahun 2006 di pantai Karanggadung,
Kebumen maka diharapkan apa yang menjadi permasalahan diatas dapat dikurangi, sehingga
hasil pertanian meningkat dari minus/rugi menjadi untung > 100 juta/ha/th, pendapatan
kunjungan wisata meningkat 150 juta (2010) menjadi 350 juta (2014), dan pendapatan
masyarakat secara finansial meningkat.

KATA KUNCI : Lahan Marjinal, Cemara laut, Tanaman Semusim, Wisata Pantai.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari pulau-pulau dan di kelilingi
lautan. Luas daratan 1.922.570 kilometer persegi dan luas perairan laut mencapai 3.257.483
kilometer persegi (belum termasuk perairan ZEE). Jika digabung dengan ZEE, maka luas
perairan Indonesia sekitar 7,9 juta kilometer persegi atau 81 persen dari luas keseluruhan. Garis
pantai Indonesia sangat panjang, tercatat terpanjang keempat di dunia setelah Rusia, urutan
Pertama di duduki Amerika Serikat dan urutan kedua diduduki Kanada. Garis pantai di Indonesia
menurut Sekretaris Dewan Kelautan Indonesia, Rizald Max Rompas, menyebutkan bahwa
panjang garis pantai Indonesia, 95.181 kilometer persegi (KKP, 2014). Sebagian besar wilayah
pantai berpasir di Indonesia yang sangat luas dan panjang terjadi erosi angin yang terjadi secara
terus menerus, sehingga menyebabkan wilayah pantai kondisinya marjinal dan tidak pernah
dikelola dengan serius. Peristiwa tersebut menjadikan lahan pantai berpasir menjadi semakin
marjinal dan rusak, baik untuk wilayah itu sendiri maupun wilayah dibelakangnya. Dampak
peristiwa erosi pasir yang nyata antara lain: 1) tanah pada lahan pantai bertekstur kasar dan
bersifat lepas sehingga sangat peka terhadap erosi angin, 2) hasil erosi berupa endapan pasir
(sand dune) dapat menutup wilayah budidaya dan pemukiman yang berada di belakangnya, dan
3) butiran pasir bergaram yang dibawa dari proses erosi angin dapat merusak dan menurunkan
produktivitas tanaman budidaya. Kondisi tersebut disebabkan tidak hanya oleh faktor biofisik
semata yang secara alami telah kritis tetapi juga upaya penanganan yang ada masih belum

537
SEMINAR NASIONAL GEOGRAFI UMS 2015
Beny Harjadi; Pengelolaan Lahan Marjinal Menjadi Lahan Potensial
Bagi Peningkatan Hasil Finansial Masyarakat

optimal, sehingga bila tidak segera ditangani, dampak negatif yang terjadi akan semakin luas
(Harjadi dan Octavia, 2008).

Tulisan ini menyajikan kondisi pantai berpasir di desa Karanggadung, Kecamatan


Petanahan Kabupaten Kebumen sejak tahun 2009 sampai 2014, walaupun pelaksanaan
penelitian mulai tahun 2006. Pada awal kegiatan penelitian masyarakat Karanggadung kurang
berminat untuk mengembangkan cemara laut (Casuarina equisetifolia) sebagai wind break
(tanggul angin) untuk memperbaiki kondisi iklim mikro dan lahan. Setelah diadakan penyuluhan,
studi banding dan langsung melakukan demo langsung pada lahan berpasir di pantai, maka yang
dulunya lahan diabaikan sekarang menjadi ajang rebutan dan mau menyewa tanahnya.

Berdasarkan UU 27/ 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau


Kecil, dimana, wilayah pesisir dan kolom-kolom perairan Indonesia secara resmi
dikomersialkan. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10/Men/2002 tentang
pedoman umum perencanaan pengelolaan pesisir terpadu; dan UU No.5 Tahun 1990 tentang
Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Sehingga penelitian bertujuan
untuk pemanfaatan lahan pantai berpasir dilakukan secara baik dan benar dan dapat berfungsi
ganda, yaitu untuk mengendalikan erosi (angin) dan untuk meningkatkan pendapatan
masyarakat melalui usaha budidaya tanaman semusim dan cemara laut yang sesuai dan bernilai
ekonomis.

METODE
Rancangan Kegiatan
Rancangan kegiatan untuk mengelola lahan marjinal pantai berpasir dengan
pengembangan tanaman Tanggul angin (TA) cemara laut dan pengembangan tanaman lainnya
sekitar wisata yang diusahakan oleh masyarakat. Pengumpulan data iklim meliputi : curah hujan,
arah angin dan kecepatan angin, suhu ruang, suhu udara, dan suhu tanah, kelembaban ruang
dan udara (Gambar 1).

Gambar 1. Kegiatan Pengembangan RLKT Pantai Berpasir di Kebumen

538
SEMINAR NASIONAL GEOGRAFI UMS 2015
Beny Harjadi; Pengelolaan Lahan Marjinal Menjadi Lahan Potensial
Bagi Peningkatan Hasil Finansial Masyarakat

Prosedur Kerja
1. Pengumpulan Data Tanaman
Data tanaman yang dikumpulkan meliputi Cemara laut (Cemara udang) dan tanaman
semusim di sekitar pantai berpasir. Khusus untuk tanaman cemara laut dicatat prosentase
tumbuh dari bibit cemara laut dan pertumbuhan cemara yaitu tinggi dan diameter batang.

2. Pengumpulan data Biofisik Lapangan


Pengumpulan data biofisik lapangan dimaksudkan untuk memantau perubahan kondisi
lingkungan yang terjadi selama ada kegiatan pengembangan tanaman. Data biofisik lapangan
meliputi sifat fisik dan kimia tanah, degradasi dan erosi angin. Kegiatan yang akan dilakukan di
lapangan berkaitan dengan pengumpulan data untuk mengetahui fakta permasalahan yang
sebenarnya di lahan kering dan pantai berpasir, meliputi unsur hara rendah, kadar garam tinggi,
erosi angin dan abrasi, dan iklim mikro yang buruk. Berkenaan dengan hal tersebut diatas
diperlukan pengelolaan lahan, air dan tanaman dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.

3. Pengumpulan Data Kunjungan Wisata


Pengumpulan data kunjungan wisata dimaksudkan untuk memantau fluktuasi
kunjungan para wisatawan dan perubahan peningkatan akibat perubahan kondisi iklim mikro dan
kenyaman lingkungan sekitar obyek wisata. Beberapa data yang dikumpulkan untuk memantau
perkembangan wisata antara lain : jumlah pengunjung, jumlah parkir (Bis/Truk, Mobil,Motor, dan
Sepeda), sewa jasa pedagang (Warung tetap, Temporal dan Asongan), sewa lahan, dan
asuransi (Gambar 2).

Gambar 2. Layout Lokasi Wisata Petanahan dan Tanaman Tanggul Angin Cemara Laut

Bahan dan Peralatan


Bahan dan peralatan kegiatan dalam penelitian tentang Rehabilitasi Lahan dan
Konservasi Tanah dan Air pada Pantai Berpasir antara lain :
1. Bahan :
a. Tanaman tanggul angin : tanaman cemara laut (Casuarina equisetifolia)
b. Tanaman tahunan : jarak, nyamplung, gmelina, kelapa, dll

539
SEMINAR NASIONAL GEOGRAFI UMS 2015
Beny Harjadi; Pengelolaan Lahan Marjinal Menjadi Lahan Potensial
Bagi Peningkatan Hasil Finansial Masyarakat

c. Tanaman semusim : semangka, jagung, cabe, dll


d. Pupuk kandang, kompos, dan komposit NPK
e. Perawatan HPT (Hama Penyakit Tanaman ) : Insektisida, Fungisida, dll

2. Peralatan :
a. Pengamatan arah dan kecepatan angin (Anemometer)
b. Pengamatan hujan (Ombrometer)
c. Pengamatan suhu dan kelembaban (Thermohydro)
d. Pengamtan suhu tanah (Termometer)
e. Pengamatan erosi angin (Stik pralon)
f. Peralatan survai : kompas, GPS (Global Positioning System), Abney Level, Haga, Peta
g. Peralatan pengukuran : meteran, kaliper (milimeter), phi-band
h. Peralatan pertanian : saprotan (sarana produksi pertanian)
i. Peralatan lapangan : Plang lokasi, Plang sekretariat kelompok tani, Plang penunjuk
arah ke lokasi, Plang peringatan, Patok batas lokasi, dll.

Lokasi Kegiatan
Lokasi pengembangan adalah pada lahan pantai berpasir yang secara administratif
terletak di Desa Petanahan, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa
Tengah. Secara geografi berdasarkan peta topografi skala 1 : 25.000 terletak pada 109o 35 20
BT , 07 o 44 45 LS sampai 109 o 36 00 BT , 07 o 45 15 LS. Kondisi Geologi berupa endapan
alluvium pasiran dan jenis tanah yang terbentuk adalah jenis tanah regosol yang berasal dari
endapan pasiran dengan topografi umumnya berombak. Puncak hujan pada bulan Oktober dan
November dengan curah hujan rata-rata 3378 mm, bulan basah 8.3 bulan dan bulan kering
(hujan < 50 mm/bl) selama 3 bulan. Bulan kering pada bulan Agustus dan September, bulan
lembab Juni dan Juli, bulan lainnya adalah bulan basah mulai dari Oktober. Untuk kegiatan
pengembangan dipilih pantai berpasir yang letaknya berdekatan dengan garis pantai pada areal
seluas 11 hektar (Gambar 3).

Panjang = 741 m
Lebar = 158 m
Luas Lokasi = 11,71 km
Jarak puncak pasang tertinggi = 55 m

Gambar 3. Luas Lokasi Penanaman Tanaman Tanggul Angin Cemara Laut

540
SEMINAR NASIONAL GEOGRAFI UMS 2015
Beny Harjadi; Pengelolaan Lahan Marjinal Menjadi Lahan Potensial
Bagi Peningkatan Hasil Finansial Masyarakat

Analisis Data
Dari data lapangan yang telah dikumpulkan dilakukan analisis secara deskriptif dengan
melihat perubahan yang terjadi dari pertumbuhan tanaman cemara laut dan tanaman semusim
yang ada di belakangnya. Disamping itu juga analisis data iklim yang sangat berpengaruh
terhadap pertumbuhan tanaman dan kesejukan lingkungan wisata akibat perubahan iklim mikro.
Analisis iklim antara lain perubahan yang terjadi suhu ruang, suhu udara dan suhu tanah pada
kedalaman 30, 90, dan 150 cm pada pagi dan siang hari. Kondisi iklim untuk perubahan
kelembaban ruang dan udara pada siang dan malam hari, perubahan curah hujan yang diamati
setiap pagi sehabis hujan.

HASIL
Kondisi Tanaman

Pertumbuhan tanaman cemara laut (cemara udang) yang berumur setahun tinggi
1,13 m dengan diameter 1,02 cm, dan yang paling tua umur 8 tahun tinggi 13,34 m dan
diameter 17,74 cm. Secara visual dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Perkembangan Tanaman Tanggul Angin Cemara Laut Sejak 2005-2014

Biofisik Lapangan
Biofisik yang disajikan disini hanya yang utama saja yaitu : curah hujan, suhu udara
dan kelembaban udara (Gambar 5 sampai 7). Curah hujan tertinggi pada tahun 2010 yaitu
pada saat ada tsunami di pantai selatan Jawa, setelah tsunami Aceh tahun 2004. Semakin
kesini curah hujan semakin merata, artinya walaupun hujan sedikit tetapi jumlah hari hujan
meningkat atau bulan basahnya bertambah dari 6 bulan menjadi 10 bulan (hamper setiap
bulan ada hujan). Suhu udara tahun 2009 pagi dan siang tinggi dan tidak berbeda jauh (33,1
o
C) tetapi tahun 2014 turun menjadi 24,4 oC pagi dan 22,7 oC siang hari. Kelembaban udara
yang dulunya tahun 2009 kering 51,2 pagi dan 43,4% siang berubah menjadi 75,9% (pagi)
dan 72,3% (siang).

541
SEMINAR NASIONAL GEOGRAFI UMS 2015
Beny Harjadi; Pengelolaan Lahan Marjinal Menjadi Lahan Potensial
Bagi Peningkatan Hasil Finansial Masyarakat

Gambar 5. Data Hujan Bulanan di Karanggadung dari Tahun 2009-2014

Gambar 6. Suhu Udara Pagi dan Siang Hari di Karanggadung Tahun 2009-2014

542
SEMINAR NASIONAL GEOGRAFI UMS 2015
Beny Harjadi; Pengelolaan Lahan Marjinal Menjadi Lahan Potensial
Bagi Peningkatan Hasil Finansial Masyarakat

Gambar 7. Kelembaban Udara Pagi dan Siang Hari di Karanggadung Tahun 2009-2014

Kunjungan Wisata

Kunjungan wisata sejak tahun 2010 mengalami peningkatan pengunjung yang


berakibat pada peningkatan pendapatan wisata yaitu dari 150 juta (2010) sampai 350 (2013),
dan pada tahun 2014 mengalami penurunan kembali (Gambar 8). Namun puncak kunjungan
yang biasanya hanya terjadi pada saat Idul Fitri dan Tahun Baru saja (75%), maka pada tahun
2014 sudah hampir merata, walaupun puncaknya masih pada saat Idul Fitri di bulan Juli dan
Agustus 2014.

Gambar 8. Pendapatan Wisata Petanahan di Karanggadung Tahun 2010-2014

543
SEMINAR NASIONAL GEOGRAFI UMS 2015
Beny Harjadi; Pengelolaan Lahan Marjinal Menjadi Lahan Potensial
Bagi Peningkatan Hasil Finansial Masyarakat

PEMBAHASAN
Daerah pantai berpasir dengan permasalahan yang kompleks hampir tidak ada
masyarakat yang mau mengelola lahan karena beberapa permasalahan lahan pantai antar
lain : unsur hara rendah, kadar garam yang tinggi, erosi angin dan iklim mikro yang buruk
(Harjadi dkk, 2007). Dengan pengembangan cemara laut/cemara udang (Casuarina
equisetifolia) sebagai tanggul angin di pantai berpasir berdampak positif pada lingkungan
terutama lahan dapat berubah dari tidak produktif menjadi lahan produktif 3 kali lipat dari lahan
mineral biasa. Seperti hasil tanaman bawah merah yang dikembangkan oleh Ambarwati dan
Purwanti (2002) di pantai berpasir hasilnya meningkat setelah diberi beberapa perlakuan
perbaikan lahan dan lingkungan. Paket perlakuan para petani, khususnya petani bawang
merah adalah dengan menambahkan tanah mineral (ameliorat) dan pupuk kandang sebanyak
masing-masing sekitar 0,75-1,0 m3 untuk ditebarkan di lahan seluas 100 m2 pada setiap
penyiapan lahan menjelang tanam bawang merah. Mereka telah mengetahui bahwa kendala
tanah di lahan pasir pantai adalah kesuburan dan daya menyimpan air rendah, dengan
demikian penambahan tanah liat (clay) dan pupuk kandang telah menjadi perlakuan penting
untuk memperbaiki tanah agar mampu mendukung kehidupan tanaman budidaya (Partoyo,
2005).
Hasil tanaman semusim yang dikembangkan oleh anggota KT. Pasir Makmur di
pantai Karanggadung, Kec. Petanahan di belakang tanaman cemara laut menunjukkan
peningkatan hasil. Pada tahun 2014 hasil per hektar tertinggi dicapai oleh Pak Wasdi yang
bisa mencapai 160 juta/ha dengan komoditi campuran yaitu kacang panjang, terong dan
kacang tanah (Gambar 9). Hampir sebagian anggota kelompok tani yang menanam di
belakang cemara laut merasa untung, yang sebelum ada cemara laut selalu merugi.

Gambar 9. Hasil Panen Musim Tanam (MT) I dan MT-II Tahun 2014

Dengan adanya kegiatan penanaman cemara laut di pantai berpasir dan diikuti
dengan perbaikan lahan pantai berpasir dan penanaman tanaman semusim, maka hasil
produktivitas lahan meningkat, pendapatan obyek wisata meningkat dan secara finansial
pendapatan masyarakat meningkat. Peningkatan tersebut tidak hanya dari hasil tanaman
semusim tetapi juga dari dampak peningkatan pengunjung wisata antara lain : perpakiran,
sewa MCK, warung, dan penjualan jasa dan barang lainnya. Perbedaan kondisi sebelum
adanya cemara laut dengan sesudah adanya cemara laut dapat dilihat pada Tabel 1.

544
SEMINAR NASIONAL GEOGRAFI UMS 2015
Beny Harjadi; Pengelolaan Lahan Marjinal Menjadi Lahan Potensial
Bagi Peningkatan Hasil Finansial Masyarakat

Tabel 1. Kondisi Sebelum dan Sesudah Ada Cemara Laut di Pantai Berpasir
SEBELUM DIKELOLA SESUDAH DIKELOLA

a. Aparat dan instansi terkait dari Pemda a. Aparat dan instansi terkait dari Pemda
Kabupaten, Kecamatan sampai Desa lewat Dinas Kehutanan Kebumen
tidak perduli dengan keberadaan pantai bekerja sama dengan BPDAS dan UGM
yang gersang, termasuk juga dari Polsek mengembangkan Cemara laut, dan
tidak peduli dengan keamanan di laut. Polsek menempatkan aparatnya.
b. Masyarakat kurang tertarik dengan b. Masyarakat mulai berebut lahan untuk
lahan pantai yang gersang, sehingga mengkapling lahan pantai walau diminta
waktu diminta untuk mengelola lahan untuk sewa tahunan pada kantor wisata,
tidak ada yang mau walaupun diberi dan wisata mulai memetakan persil para
lahan secara gratis. peserta magersari (pengelola lahan).
c. Kebiasaan buruk masyarakat pesisir c. Kebiasaan buruk masyarakat pesisir
yang suka mabuk dan menjadi preman berangsur-angsur berkurang, dan
dengan meminta uang keamanan bagi sebagian sudah mau bercocok tanam
para pengunjung dan meminta hasil warga yang sebelumnya memiliki
pertanian sangat mengganggu kebiasaan buruk (pemabuk, pemalak,
perkembangan ekonomi dan pertanian di pencopet dll) atau mengganggu hasil
pantai, sehingga pengunjung takut. pertanian pada saat panen
d. Kelompok Tani yang dulunya hanya d. Kelompok Tani sudah mantap karena
jadi-jadian atau nama saja sehingga ada pendampingan dengan pertemuan
setiap ada bantuan dari Pemerintah setiap awal bulan malam kamis,
seperti sapi dan perahu nelayan maka sehingga bantuan terus mengalir seperti
selalu cepat dijual kembali untuk sapi kepada KTT Bhakti Usaha dan
dijadikan uang dan segera dapat perahu nelayan, sehingga
dimanfaatkan untuk mabuk dan judi. kesejahteraan warga meningkat.
e. Obyek Wisata hanya untuk kunjungan e. Obyek Wisata menjadi bersih, nyaman
nyepi karena ada Punden PANDAN dan sejuk dan pengunjung semakin
KUNING bagi pengalap berkah dan banyak berdatangan, sehingga dengan
untuk perbuatan mesum, sehingga perlahan-lahan kegiatan yang mengarah
semakin menambah gelap suasana negatif semakin berkurang atau hampir
pantai dan seram serta menakutkan. menghilang dan jadi menyenangkan
f. Pengelolaan lahan Pantai Berpasir tidak f. Pengelolaan Lahan Pantai Berpasir dari
ada yang berminat dan tidak mau karena perpakiran, penempatan warung,
tahu bahwa lahan pantai yang gersang sampai pada pengelolaan lahan
dan panas tidak bisa menghasilkan semakin bergairah dan bersaing dengan
apapun. Seandainya diolah pun akan para pendatang dari luar, sehingga di
membutuhkan input yang sangat besar musim liburan rumah-rumah penduduk
dan hasilnya tidak seberapa, karena laris disewakan untuk menginap para
kondisi iklim yang ekstrim, unsur hara pengunjung atau pedagang musiman
yang rendah, kesuburan tanah yang dari tempat lain untuk beradu meraup
miskin, dan adanya uap garam-garaman keuntungan besar-besaran.
g. Rumah penduduk yang paling dekat g. Rumah penduduk sejak tahun 2010
sekitar 2 km dari garis pantai untuk sudah mulai banyak yang didirikan
berjaga-jaga kalau air pasang (tsunami) dengan jarak kurang 1 km dari garis
dan mencegah angin kencang yang pantai walaupun belum permanen (dari
mengandung uap garam-garaman yang bambu dan papan). Tapi mulai tahun ini
akan merusak perabot atau barang- sudah mulai membangun rumah

545
SEMINAR NASIONAL GEOGRAFI UMS 2015
Beny Harjadi; Pengelolaan Lahan Marjinal Menjadi Lahan Potensial
Bagi Peningkatan Hasil Finansial Masyarakat

barang yang dari logam karena mudah permanen dari tembok, sehingga akan
karatan atau keropos/hancur meningkatkan harga tanah di pantai
h. Para pengunjung atau pedagang h. Saat mendatang pengunjung atau
musiman jika mau menginap pedagang musiman akan menginap
menggunakan rumah-rumah penduduk bisa di Losmen atau Home Stay yang
yang boleh disewa atau ditempati mulai akan didirikan, seperti yang sudah
sementara selama liburan. ada di pantai selatan Jawa di Glagah.

KESIMPULAN
Dampak adanya cemara laut di pantai berpasir Petanahan antara lain iklim semakin
sejuk yaitu suhu udara dari 23 oC sampai 28 oC, dan kelembaban semakin meningkat yaitu
tertinggi sampai 76%, sehingga lingkungan wisata akan semakin nyaman dan sejuk. Dengan
meningkatnya kenyamanan wisata berdampak pada peningkatan pengunjung dan
pendapatan wisata sampai 56,37% dari tahun 2010 sampai 2014. Disamping itu yang dulu
kunjungan wisata terkonsentrasi pada hari besar Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru, maka
sekarang sudah mulai relatif tersebar merata pada bulan-bulan lainnya. Pada tahun 2014 Idul
Fitri jatuh pada akhir Juli sehingga puncak kunjungan wisata pada bulan Juli dan Agustus
2014.
Dengan adanya tanggul angin cemara laut dengan melibatkan masyarakat, anak-
anak sekolah dan anggota Kelompok Tani Pasir Makmur maka cemara laut dapat terjaga
dengan baik. Manfaat yang dapat dipetik dengan adanya cemara laut maka lahan dibelakang
dapat dibudidayakan untuk tanaman semusim atau tanaman hortikultura dan hasilnya jauh
lebih baik karena sedikit hama dan aerasi baik. Dengan adanya cemara laut maka iklim mikro
semakin baik yaitu angin berkurang, uap garam-garaman terhalang, suhu rendah, tempat
rindang sehingga nyaman untuk berteduh para pengunjung wisata. Peningkatan kenyaman
dan keindahan lingkungan berdampak pada peningkatan pengunjung wisata. Peningkatan
pengunjung wisata dan ditambah dengan produktivitas lahan yang membaik akan
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani Karanggadung.
Dengan semakin rapatnya wind break dari cemara laut berdampak pada tanaman di
belakangnya tidak terganggu oleh adanya erosi angin, uap garam-garaman, dan uap air yang
tinggi, sebaliknya berubahnya lahan menjadi lebih subur karena kelembaban meningkat dan
suhu menurun serta pengaruh humus dan pupuk kandang. Hasil yang diperoleh dari petani
hortikultura jauh lebih menguntungkan pada lahan berpasir dibandingkan tanah mineral biasa,
karena pengaruh porositas tanaman yang tinggi akan meningkatkan aerasi dan pengolahan
tanah yang mudah karena tesktur tanah yang ringan (sand).
Plot penelitian tersebut dapat dipakai sebagai laboratorium pada para Pelajar atau
Mahaisswa dan sebagai tempat studi banding bagi para petani yang ada di daerah pesisir dan
kurang yakin bahwa lahan marjinal seperti pantai berpasir dapat dibudidayakan untuk
tanaman hortikultura dan hasilnya bisa lebih baik dibandingkan tanah mineral biasa. Dalam
rangka pengembangan cemara laut anggota KT.Pasir Makmur sudah ada yang memulai
melakukan pembibitan dengan biji, setelah studi banding dari Pemalang.

546
SEMINAR NASIONAL GEOGRAFI UMS 2015
Beny Harjadi; Pengelolaan Lahan Marjinal Menjadi Lahan Potensial
Bagi Peningkatan Hasil Finansial Masyarakat

PENGHARGAAN (acknowledgement)
Ucapan terimakasih disampaikan kepada teman-teman Peneliti dan Teknisi di BPTKPDAS
yang telah banyak membantu sehingga penelitian Reboisasi Lahan dan Konservasi Tanah (RLKT) di
Pantai Berpasir dapat berjalan dengan lancar. Terimakasih khususnya kepada Ketua RPI :
Prof.Ris.DR.Pratiwi, para peneliti : Dona Octavia, S.Hut, MS, Ir. Purwanto, MS., Arina Miardini, S.Hut,
Agung Wahyu Nugroho, S.Hut, MS., Susi Abdiyani, S.Hut, MSc. Terimakasih juga pada para Teknisi :
Gunawan, Siswo, Arif Priyanto, Aris Budiono, Asep Hermawan, Juga terimakasih kepada para
pengamat di lapangan : Pak Prayim dan Pak Heru serta anggota Kelompok Tani Pasir Makmur.

REFERENSI
Ambarwati, E. & S. Purwanti. 2002. Keragaan Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Varietas Bawang
Merah di Lahan Pasir Pantai. Agrivet. 6(2):107-118
Harjadi B, Cahyono S.A., Octavia D., Gunawan, Priyanto A., dan Siswo, 2007. Laporan Hasil Proyek
(LHP) Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir. DepHut,
Balitbanghut, BPK Solo.
Harjadi, B., dan Octavia, D., 2008. Penerapan teknik konservasi tanah di pantai berpasir untuk
agrowisata, Info Hutan Vol. V, No. 2, Tahun 2208. Dephut., Balitbanghut, Puslitbang Hutan
dan Konservasi Alam (P3HKA). Bogor.
KKP, 2014. Indonesia Memiliki Garis Pantai Terpanjang Keempat di Dunia. http://www.kkp.go.id/
index.php/arsip/c/1048/Garis-Pantai-Indonesia-Terpanjang-Keempat-di-Dunia/?category_id.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). 14 Maret 2014.
Partoyo, 2005. Analisis Indeks Kualitas Tanah Pertanian di Lahan Pasir Pantai Samas, Yogyakarta. Ilmu
Pertanian, Vol.12 No.2, 2005 : 140-151. Jurusan Ilmu Tanah UPN Veteran Yogyakarta

547