Anda di halaman 1dari 8

Analisis Sebaran Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan (KPL) di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru ................................

(Harjadi)

ANALISIS SEBARAN KELAS KEMAMPUAN PENGGUNAAN LAHAN DI


TAMAN NASIONAL BROMO-TENGGER-SEMERU
(Distribution Analysis of Landuse Capability in Bromo Tengger Semeru National Park)

Beny Harjadi
Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Jl. Ahmad Yani - Pabelan, Po.Box.295, Solo, Jawa Tengah, Indonesia
E-mail: adbsolo@yahoo.com

ABSTRAK
Kawasan hutan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN.BTS) ini berfungsi sebagai hutan lindung
dan hutan produksi. Bentangan barat-timurnya sekitar 20-30 kilometer dan utara-selatannya sekitar 40 km
ditetapkan sejak tahun 1982 seluas 50.273,30 ha. Kawasan ini terdapat kaldera lautan pasir yang luasnya
6.290 ha. Batas kaldera lautan pasir berupa dinding terjal, yang ketinggiannya antara 200-700 meter.
Secara administratif TN.BTS masuk wilayah Kabupaten Pasuruan, Probolinggo, Lumajang dan Malang,
Propinsi Dati I Jawa Timur. Permasalahan yang terjadi yaitu penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan
Kelas Kemampuan Penggunaan Lahannya (Kelas KPL), atau ada upaya untuk mengeksploitasi lahan
sehingga terjadi degradasi dan tingkat kesuburan lahan semakin menurun. Tujuan penelitian ini akan
menganalisis distribusi kelas kemampuan lahan yang ideal di TN.BTS. Metode yang digunakan yaitu dengan
menganalisis parameter yang menjadi faktor utama kelas KPL antara lain: ketinggian tempat, kemiringan
lereng dan arah lereng. Masing-masing dibuat peta raster dari citra satelit Landsat TM dan citra radar SRTM
(Shuttle Radar Topography Massion). Hasil yang diperoleh untuk ketinggian tempat lebih menonjol daerah
berbukit (28.550 ha) untuk kemiringan lereng di dominasi lereng sangat curam (45-65%) seluas 10.683 ha
dan untuk arah lereng didominasi lereng yang menghadap ke selatan (9.465 ha). Dari ketiga parameter
tersebut diatas akhirnya didapatkan bahwa di TN.BTS di dominasi KPL VI yang diperuntukkan untuk Hutan
Produksi seluas 17.313 ha dan yang paling sempit yaitu KPL III untuk tegal dan pekarangan seluas hanya 98
ha. Taman nasional sebagai cagar alam sesuai dengan kelas KPL nya maka sebaiknya lebih banyak
diperuntukkan untuk kawasan hutan produksi sampai hutan lindung.

Kata kunci: degradasi lahan, kawasan hutan, KPL, taman nasional, wisata alam

ABSTRACT
The forest area Bromo Tengger Semeru National Park (TN.BTS) function as protection forests and
production forests. Western-eastern extends of about 20-30 kilometers and a north-south about 40 km set
in 1982, covering an area of 50.273.30 hectares. This area there caldera sea of sand which covers 6,290
ha. Restricted caldera sea of sand in the form of steep walls, the height between 200-700 meters.
Administratively TN.BTS include the district of Pasuruan, Probolinggo, Lumajang and Malang regency of East
Java Province. The problems that occur are inappropriate landuse in accordance with Class of The Landuse
Capabilities (LUC Class), or there is an attempt to exploit the land, causing land degradation and declining
fertility rates. The purpose of this study will analyze the distribution of landuse capability (LUC) class ideal in
TN.BTS. The method used is by analyzing the parameters that a major factor in the LUC class include:
altitude, slope and aspect. Each made up of raster maps from Landsat TM satellite imagery and radar
imagery SRTM (Shuttle Radar Topography Mission). The results obtained for altitude more prominent hilly
area (28.550 ha) for slope in the dominance of very steep slopes (45-65%) covering an area of 10.683 ha
and for aspect dominated south-facing slopes (9.465 ha). Of the three parameters mentioned above finally
got that in TN.BTS dominated LUC VI earmarked for production forest area of 17.313 ha and the narrowest
namely the LUC III to dryland and village area of only 98 hectares. The national park as a nature reserve in
accordance with its LUC class it should be mostly reserved for the production forest to protected forest.

Keywords: Land Degradation, Forest Areas, LUC, National Parks, Natural tourism

PENDAHULUAN
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN.BTS) merupakan salah satu diantara beberapa
taman nasional yang ada di Propinsi Jawa Timur yang memiliki peranan penting dalam menjaga
fungsi keseimbangan ekosistem kawasan yang ada di daerah sekitar Jawa Timur. Keberadaan

197
Seminar Nasional Peran Geospasial dalam Membingkai NKRI 2016: 197-204

TN.BTS memberikan fungsi bagi wisata alam dan manfaat bagi masyarakat pada Desa enclave
maupun Desa-Desa lainnya di sekitar kawasan (Astriyantika, 2014). Interaksi antara masyarakat
dengan kawasan TN.BTS tidak dapat dihindari dengan tinggalnya masyarakat Desa enclave di
dalam kawasan TN.BTS. Ketergantungan yang tinggi terhadap kawasan, tingkat pendapatan yang
rendah, dan kecenderungan memilih pekerjaan yang dapat menghasilkan keuntungan dalam
waktu singkat mendorong masyarakat melakukan interaksi yang dapat mengancam kelestarian
kawasan, seperti perambahan lahan.
Dengan semakin banyaknya masyarakat yang merambah lahan pada kawasan hutan maka
lama kelamaan lahan hutan semakin menyempit dan lahan enclave milik masyarakat semakin
meningkat. Sementara lahan milik masyarakat yang ditanami sayur-sayuran dan untuk tegalan
atau agroforestry seharusnya lebih sesuai untuk tanaman kehutanan kalau dilihat dari kelas
Kemampuan Penggunaan Lahannya (KPL). Menurut Notohadiprawiro (2007) bahwa KPL
dimaksudkan untuk mencegah degradasi lahan karena eksploitasi lahan. Tindakan eksploitasi
dengan memaksakan lahan kawasan hutan untuk tanaman semusim atau hortikultura
menyebabkan lahan mengalami degradasi atau erosi besar-besaran dan berakibat pada
pendangkalan sungai dan waduk. Kondisi lahan sayur pada daerah yang miring sampai curam
dengan terasering gulud sejajar dengan arah lereng menyebabkan partikel tanah banyak yang
mudah terlarut ke bawah bersamaan dengan aliran permukaan. Penggunaan lahan yang tidak
sesuai dan tanpa memperhatikan kaidah konservasi tanah seperti ini akan merusak lahan dan juga
akan mengganggu lingkungan karena ada pencemaran pupuk dan sedimentasi. Sehingga evaluasi
lahan dengan menggunakan klasifikasi kemampuan lahan sebagai petunjuk evaluasi sangat
dianjurkan (Sinclair dan Dobos, 2007).
Bertitik tolak dari permasalahan lahan di taman nasional maka tujuan penelitian ini adalah
untuk menganalisis distribusi kelas kemampuan lahan yang ideal di TN.BTS.

METODE
Lokasi penelitian di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur disajikan pada
Gambar 1. Secara geografis terletak pada koordinat UTM 690000 m; 9131000 m - 740000 m;
9090000 m. Secara administratif pemerintahan termasuk Kabupaten Pasuruan, Probolinggo,
Lumajang dan Malang, Propinsi Dati I Jawa Timur. Kawasan TNBTS memiliki luas 50.273,30 ha.
Keadaan topografi bervariasi dari bergelombang dengan lereng yang landai sampai berbukit
bahkan bergunung dengan derajat kemiringan yang tegak. Ketinggian tempat antara 750 - 3.676
m dpl. Dengan puncak tertinggi G. Semeru 3.676 m dpl. (merupakan gunung tertinggi di P. Jawa).
Suhu udara berkisar antara 3 s/d 20 derajat Celcius, curah hujan rata-rata 6.604 mm/tahun.

Sumber: Peta Atlas


Gambar 2. Peta Lokasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

198
Analisis Sebaran Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan (KPL) di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru ................................ (Harjadi)

Bahan yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini antara lain: Peta dasar, Peta RBI skala
1:25.000 (Peta kontur dan Penutupan Lahan) dan Peta Landsystem, Peta situasi dan administrasi.
Citra Landast perekaman tahun 1972, 1989, 2001 dan Alos 2008 dan SRTM. Diagram alir untuk
analisis kelas kemampuan penggunaan lahan disajikan pada Gambar 2.

Peta Batas Citra Radar


Citra Landsat Taman Nasional SRTM
TM -7 Bromo Tengger Semeru

Tumpang Susun
Peta Batas dengan Citra Satelit
dan Citra Radar SRTM

Peta Altitude Peta Slope Peta Aspect


Ketinggian Tempat Kemiringan Lereng Arah Lereng

Peta Kelas KPL Peta Kelas KPL Peta Kelas KPL


Ketinggian Tempat Kemiringan Lereng Arah Lereng

Peta Kelas KPL


Kemampuan Penggunaan Lahan
Landuse Capability (LUC)

REKOMENDASI
PENGGUNAAN LAHAN

Gambar 3. Diagram Alir untuk Analisis Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan.

Alat yang digunakan dalam penulisan ini antara lain: alat tulis pensil, balpoint dan alat tulis
untuk penafsiran citra yaitu OHP fine full color, selotip dan plastik astralon. Kertas plotter, kertas
printer dan tinta warna (cartridge) untuk warna hitam, kuning, magenta dan cyan. Sedangkan
peralatan yang diperlukan survai lapangan meliputi: Peralatan untuk interpretasi citra satelit secara
visual (Loop, stereoskop cermin/saku, Komputer), Peralatan survei lapangan (Phi band, Haga,
tambang, plastik spesimen, Kompas, Abney level, pH stik, Blanko survei, Kamera digital dan GPS).
Pengolahan data digital dan SIG, menggunakan perangkat keras (hardware) berupa
komputer. Perangkat lunak (software) untuk analisis citra yaitu Erdas-Imagine versi 8.7, Ilwis 3.3.,

199
Seminar Nasional Peran Geospasial dalam Membingkai NKRI 2016: 197-204

dan PC Arc/Info versi 3.4D plus dan ArcView 3.3. untuk analisa SIG. Untuk tabulasi diperlukan
Excel, Microsoft word dan DBASE III Plus.
Analisa data diawali dengan tumpang susun batas TN.BTS dengan citra Landsat TM-7 dan
dengan citra radar SRTM, sehingga diperoleh batas yang sama untuk kedua cita satelit tersebut.
Selanjutnya dianalisis untuk membuat 3 peta utama yang menjadi faktor utama untuk menentukan
kelas KPL yaitu: Peta Altitude (Ketinggian Tempat), Peta Slope (Kemiringan Lereng), dan Peta
Aspect (Peta Arah Lereng). Menurut Harjadi (2007) bahwa KPL dapat dihitung dengan
mempertimbangkan faktor tanah, lereng dan erosi. Dari ketiga peta tersebut selanjutnya
dikelaskan untuk mendapatkan kelas KPL masing-masing yaitu: (a) Kelas KPL dari peta altitude,
(b) Kelas KPL dari peta slope, dan (c) Kelas KPL dari peta aspect. Selanjutnya dari ketiga kelas KPL
dijumlahkan dan dibagi 3, sehingga didapatkan kelas KPL final. Setelah mendapatkan distribusi
kelas KPL final pada peta, selanjutnya diberikan rekomendasi penggunaan lahan yang ideal sesuai
dengan kaidah konservasi tanah. Seperti apa yang telah disampaikan oleh Eyles (2012) bahwa KPL
didefinisikan sebagai pengaturan sistematis dari berbagai jenis tanah sesuai dengan tingkat
kemampuannya yang menentukan kapasitas produksi jangka panjang yang berkelanjutan.
Selanjutnya menurut (Weingat, 2008) bahwa Penggunaan Peta zona kemampuan lahan sebagai
salah satu dari serangkaian peta kemampuan dan mengidentifikasi daerah atas dengan zona
daerah lain dibawahnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN


KPL dari Ketinggian Tempat

Bentuk Lahan (Land Form) di TN.BTS terdiri dari Alluvial-Colluvial, Kaki bukit, Puncak bukit,
Kaki gunung dan Puncak Gunung disajikan pada Tabel 1. Dari total luas TN.BTS seluas 50.273 ha
didomiansi bentuk lahan kaki bukit seluas 28.550 ha (57%). Kaki bukit ini sebagai daerah alluvial
atau endapan sedimentasi dari daerah atasnya (Azdan an Candra, 2008).

Tabel 2. Luas Areal Kelas KPL dan Bentuk Lahan di TN.BTS.


KELAS LUAS AREAL LAND FORM LUAS AREAL
KPL BENTUK LAHAN
% hektar % hektar
IV 1,4 700,5 Alluvial-Colluvial 1 700
V 30,5 15.333,4 Kaki Bukit 57 28.550
VI 26,3 13.224,1 Puncak Bukit 33 16.615
VII 33,1 16.644,9 Kaki Gunung 9 4.334
VIII 8,7 4.370,4 Puncak Gunung 0 74
100 50.273,3 100 50.273,3

Dari bentuk lahan yang didominasi kaki bukit di TN.BTS maka kelas Kemampuan Penggunan
Lahan (KPL) atas dasar bentuk lahan didominasi kelas KPL VII seluas 16.644,9 ha atau sekitar
33,1%. Kondisi seperti ini memaksa di TN.BTS sesuai dengan kelas KPL VII maka sebaiknya
banyak ditanami tanaman kayu-kayuan yang berfungsi sebagai hutan produksi terbatas. Sehingga
jika kondisi riil di lapangan banyak didominasi tanaman hortikultura atau sayur-sayuran yang
seharusnya untuk kelas KPL kurang dari IV, maka sangat membahayakan bagi kondisi lahan di
TN.BTS.

KPL dari Kemiringan Lereng

Kemiringan lereng di TN.BTS sangat bervariasi dari yang datar (0-4%) sampai ekstrim curam
(>65%) semuanya ada, namun kebanyakan memiliki kelas kemiringan lereng dari kelas D sangat
miring (15-25%) sampai kelas G sangat curam (45-65%). Kondisi lereng di TN.BTS didominasi
kelas kemiringan lereng sangat curam seluas 10.683 ha (21,3%). Menurut MDE (2011) semakin

200
Analisis Sebaran Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan (KPL) di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru ................................ (Harjadi)

miring suatu lahan maka akan berpotensi terjadinya erosi dan sedimentasi yang lebih banyak.
Luas areal kelas kpl dan kemiringan lereng di TN.BTS disajikan pada Tabel 2.

Tabel 3. Luas Areal Kelas KPL dan Kemiringan Lereng di TN.BTS.


KELAS LUAS AREAL KEMIRINGAN KELAS LUAS AREAL
KPL % Hektar LERENG LERENG(%) % Hektar
I 0 0 A (Datar) 04 3,5 1.769
II 4,9 2.444 B (Agak Miring) 48 3,4 1.705
III 5,9 2.946 C (Miring) 8 15 9,9 4.998
IV 17,1 8.611 D (Sangat Miring) 15 25 20,3 10.213
V 20,2 10.171 E (Agak Curam) 25 35 17,5 8.773
VI 18,1 9.105 F (Curam) 35 45 14,4 7.219
VII 20,6 10.340 G (Sangat Curam) 45 65 21,3 10.683
VIII 13,2 6.656 H (Ekstrim Curam) >65 9,8 4.913
100,0 50.273 100 50.273,3

Dari kondisi kelas kemiringan lereng yang sebagian besar dari sangat miring sampai sangat
curam, maka kelas KPL yang ada di TN.BTS didominasi KPL VII seluas 10.340 ha (20,6%). Kondisi
kelas KPL ini memaksa lahan di TN.BTS sebaiknya diupayakan untuk tanaman keras atau tahunan
sebagai hutan produksi terbatas. Sedangkan untuk tanaman semusim atau hortikultura sebaiknya
pada kelas KPL II yaitu hanya seluas 2.444 ha (4,9%).

KPL dari Arah Lereng

Arah lereng (aspect) di TN.BTS merata sesuai arah mata air dari Utara, Timur laut, Timur,
Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat dan Barat laut. Kondisi di TN.BTS didominasi lahan dengan
lereng mengarah ke selatan seluas 9.465 ha (18,8%). Pada lahan miring yang mengarah ke
selatan paling berpotensi terjadinya erosi sampai longsor. Hal tersebut karena lereng yang
mengarah ke selatan yang terkena sinar matahari dan dari sebelah selatan sering menghasilkan
hujan. Hantaman panas matahari dikombinasikan dengan curah hujan tinggi akan membuat lahan
mudah lapuk, sehingga mudah terjadi erosi. Luas areal kelas kpl dan arah lereng di TN.BTS
disajikan pada Tabel 3.

Tabel 4. Luas Areal Kelas KPL dan Arah Lereng di TN.BTS.


KELAS ASPEK
LUAS AREA LUAS AREA
KPL Arah Lereng
% hektar % hektar
I 9,3 4.690,3 Utara 4,9 2.476
II 10,2 5.138,7 Timur Laut 10,7 5.388
III 12,9 6.472,1 Timur 13,5 6.787
IV 16,4 8.239,3 Tenggara 17,2 8.640
V 18,0 9.026,4 Selatan 18,8 9.465
VI 13,9 7.012,1 Barat Daya 14,6 7.353
VII 9,7 4.867,8 Barat 10,2 5.104
VIII 9,6 4.826,6 Barat Laut 10,1 5.061
100 50.273,3 100 50.273

Kondisi lahan yang sebagian besar mengarah selatan akan menyebabkan lahan tandus karena
banyak batu di permukaan dan batu singkapan. Kondisi areal yang didominasi kearah selatan,
maka berdampak didominasi kelas KPL V seluas 9.026,4 ha (18%). Lahan kelas KPL V biasanya
banyak batu-batuan dengan solum dangkal sehingga biasa ditanami tanaman kayu-kayuan.

Kelas KPL Final

Kelas KPL final yang merupakan rata-rata dari kelas KPL ketinggian tempat, kemiringan lereng
dan arah lereng merupakan cermin kondisi KPL sebenarnya yang ada di TN.BTS. Kelas KPL rendah

201
Seminar Nasional Peran Geospasial dalam Membingkai NKRI 2016: 197-204

dari kelas KPL I sampai IV diperuntukkan untuk tanaman semusim atau hortikultura, sedangkan
kelas KPL V sampai VIII diperuntukkan bagi tanaman tahunan atau kayu-kayuan. Kondisi kelas kpl
dari ketiga faktor altitude, lereng dan aspek disajikan pada Gambar 3.

Gambar 4. Kondisi Kelas KPL dari Ketiga Faktor Altitude, Lereng dan Aspek.

Dari Gambar 3 dapat dilihat bahwa kelas KPL di TN.BTS didominasi kelas KPL VI seluas
17.313 ha (34%) dan yang paling sedikit untuk kelas KPL III seluas 98 ha (0,2%). Kelas KPL VI
biasanya diperuntukkan untuk tanaman kayu-kayuan atau tanaman tahunan pada kawasan hutan
produksi, sedangkan kelas KPL VIII seluas 2.182 ha (4,3%) diperuntukkan untuk hutan lindung.
Pada kawasan hutan produksi maka kayu-kayuan dapat ditebang saat tanaman sudah masuk
masa tebang, sedangkan untuk kawasan hutan lindung maka tidak diperbolehkan untuk ditebang.
Pada kawasan hutan lindung boleh diambil hasilnya untuk produksinya yang sifatnya non kayu
seperti lebah madu, rotan, buah-buahan dan lain-lain. Peta kelas kemampuan penggunaan lahan
(KPL) di TN.BTS disajikan pada Gambar 4.

Gambar 5. Peta Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan (KPL) di TN.BTS.

Pada Gambar 4 dapat dilihat bahwa sebaran untuk hutan produksi (warana biru muda)
menyebar pada daerah selatan TN.BTS sedangkan untuk hutan lindung (warana hitam) terdapat
pada puncak gunung Semeru. Sedangkan untuk tanaman semusim pada kelas KPL IV (warna
merah) banyak terdapat pada daerah timur dekat dengan kota Malang sepanjang dari jalur utara
(Purbalingga) sampai ke arah selatan (Lumajang).

202
Analisis Sebaran Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan (KPL) di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru ................................ (Harjadi)

Rekomendasi Konservasi Tanah

Rekomendasi konservasi tanah untuk TN.BTS disamping tetap mempertahankan tanaman


endemik (asli setempat) juga memperhatikan aspek konservasi tanah sesuai kelas KPL.
Konservasi tanah meliputi tindakan secara mekanis teknik sipil, dapat juga dengan vegetatif
tanaman utama dan tanaman penguat teras, juga secara biologis dengan pupuk kandang. Menurut
Nyakatawa et.al., (2007) bahwa lahan yang tidak mengindahkan kaidah konservasi tanah akan
berpotensi terjadinya erosi. Pada Tabel 4 dapat dilihat dengan kondisi kelas KPL yang didominasi
kelas VI maka sesuai kaidah konservasi tanah sebaiknya untuk tanaman kayu-kayuan dan
sekaligus sebagai hutan produksi.

Tabel 5. Rekomendasi Penggunaan Lahan untuk Setiap KPL (Douglas et al., 2006).
KELAS Rekomendasi Penggunaan Lahan LUAS AREA
KPL Pertanian (I-IV) & Kehutanan (V-VIII)
% hektar
II Lahan yang subur atau tanah yang baik dengan keterbatasan sedikit untuk 0,0 0
penggunaan garapan. Biasanya untuk sawah dan kadang diselingi tanaman
palawija.
III Lahan subur dengan keterbatasan Sedang untuk penggunaan tanaman mampu 0,2 98
tumbuh pada lahan kering atau tegalan dan untuk pekarangan rumah dan
perkampungan tempat tinggal.
IV Lahan subur dengan keterbatasan parah untuk penggunaan budidaya, dan 8,9 4.480
membutuhkan perawatan, lebih cocok untuk padang rumput permanen dan
kehutanan. Lahan kering atau marginal untuk tanaman campuran semusim dan
agroforestry.
V Bukan lahan olahan, bukan tanaman semusim dan kondisi erosi diabaikan pada 32,7 16.420
bawah padang rumput dan kehutanan. Lahan dangkal karena banyak batuan di
permukaan atau batuan singkapan sehingga sedikit tanaman atau bero.
VI Lahan tidak subur. Lahan rumput-rumputan pada pegunungan, sedikit 34,4 17.313
keterbatasan sampai parah dan bahaya. Lahan miring dengan tanaman produksi
kayu tahunan.
VII Lahan tidak subur, keterbatasan sedang sampai sangat parah. Lahan 19,5 9.781
dipergunakan untuk produksi kayu terbatas dengan kondisi lahan kurang subur,
kemiringan lereng miring sampai terjal.
VIII Lahan sangat parah, keterbatasan ekstrim dan membutuhkan tutupan vegetasi 4,3 2.182
permanen sebagai perlindungan.
100,0 50.273,3

Di TN.BTS tidak ada kelas KPL I dan II, sehingga tidak ada lahan yang sesuai untuk tanaman
sawah yang bisa panen 3 x setahun atau tanaman sawah yang dikombinasikan dengan palawija.
Deteksi sebaran dan luas areal persawahan dapat menggunakan analisis inderaja (penginderaan
jauh) dari pengambilan citra satelit yang terbaru (Sitorus et al., 2006). Namun kenyataan di
lapangan yang masuk daerah enclave banyak tanaman sayur-sayuran pada daerah miring yang
seharusnya masuk kawasan hutan produksi (kelas KPL VI). Kondisi lahan yang dipaksakan seperti
ini akan berdampak buruk pada lingkungan yaitu akan terjadi sedimentasi akibat erosi pada lahan
sayur. Sedimentasi yang berlebih akan menyebabkan pendangkalan sungai yang akan
menyebabkan banjir dan juga berdampak pada umur waduk yang akan berkurang.

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian kelas kemampuan penggunaan lahan (KPL) di Taman Nasional Bromo
Tengger Semeru (TN.BTS) dapat disampaikan kesimpulan, bahwa penentuan kelas KPL dapat
dianalisis dengan menetapkan faktor utama yaitu: ketinggian tempat (altitude), kemiringan lereng
(slope), dan arah lereng (aspect). Analisis kalkulasi perhitungan kelas KPL dengan menyiapkan
ketiga peta raster dan selanjutnya diambil nilai rata-rata masing-masing KPL dan didapatkan nilai
kelas KPL final.
Ketinggian tempat di TN.BTS dari 750-3.676 m dpl (dari permukaan laut) didominasi bentuk
lahan kaki bukit seluas 28.550 ha sehingga nilai kelas KPL dari ketinggian dominan kelas KPL VII
seluas 16.644 ha. Kemiringan lereng di TN.BTS didominasi lereng sangat curam dengan
kemiringan berkisar 45-65% seluas 10.683 ha, sehingga kelas KPL atas dasar kemiringan lereng di

203
Seminar Nasional Peran Geospasial dalam Membingkai NKRI 2016: 197-204

dominasi kelas VII seluas 10.340 ha. Arah lereng di TN.BTS didominasi lereng yang mengarah ke
selatan seluas 9.465 ha, sehingga kelas KPL atas dasar arah lereng didominasi kelas V seluas
9.026 ha. Sehingga hasil akhir dari kelas Kemampuan Penggunaan Lahan (KPL) didominasi kelas
VI seluas 17.313 ha dan paling sempit untuk areal kelas KPL III seluas 98 ha.
Rekomendasi dari kondisi KPL di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN.BTS), yaitu
bahwa di TN.BTS sebaiknya lebih banyak diusahakan untuk tanaman produksi kehutanan pada
KPL VI dan tanaman hutan lindung pada kelas KPL VIII, dan tetap menggunakan kaidah
konservasi tanah pada daerah yang miring dengan teras gulud sampai teras bangku dan setiap
jarak bidang olah 50 m dibuat saluran pembuangan air (SPA), dan pemberian rumput pada
tampingan teras (riser).

UCAPAN TERIMA KASIH


Ucapan terima kasih disampaikan kepada para staf dan Kepala Balai Besar Taman Nasional
Bromo Tengger Semeru, para Peneliti dan para Teknisi di kantor Balitek DAS Solo, yang telah
membantu dalam pengumpulan data di lapangan dan analisis citra satelit di kantor.

DAFTAR PUSTAKA
Astriyantika, M., Arief, H., & Sunarminto, T. (2014). Studi Konservasi Sumberdaya Alam Hayati pada
Masyarakat Tengger di Resort Ranu Pani, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Azdan, M. D., & Samekto, C. R. (2008). Kritisnya Kondisi Bendungan di Indonesia. Makalah. Komite
Nasional Indonesia untuk bendungan Besar (KNI-BB) atau Indonesian National Committee on Large
Dams (INACOLD).
Douglas, G., Harmsworth, G., and McIvor, I., . (2006). Envirolink Project. Updating tha Land Use Capability
Handbook- A Scoping Report, Horizons Regional Council. New Zealands science. New Zealand. P:1-25.
Eyles G., 2012. Land Use Capability Survey Handbook. Handbook 3rd Edition. A New Zealand handbook for
the classification of land. Landcare Research New Zealand Ltds. p.:1-164.
Harjadi, B., 2007. Aplikasi Penginderaan Jauh dan SIG untuk Penetapan Tingkat Kemampuan Penggunaan
Lahan, Studi Kasus di DAS Nawagaon-Maskara, Saharanpur, India. Forum Geografi. Vol. 21, No. 1, Juli
2007: 69 77.
MDE., 2011. Standards and Specifications for Soil Erosion and Sediment Control. Water Management
Administration in association with Natural Resources Conservation Service and Maryland Association of
Soil Conservation Districts. Washington. MDE (Maryland Department of the Environment) P I.1.
Notohadiprawiro, T., .(2006). Kemampuan dan Kesesuaian: Pengertian dan Penetapannya. Repro. Ilmu
Tanah : Universitas Gadjah Mada. UGm, Jogya. P: 1-9.
Nyakatawa, E. Z., Jakkula, V., Reddy, K. C., Lemunyon, J. L., & Norris, B. E. (2007). Soil Erosion Estimation
in Conservation Tillage Systems with Poultry Litter Application using RUSLE 2.0 model. Soil and Tillage
Research, 94(2), 410-419.
Sinclair, Jr.H.R. and Dobos, R.R.,. (2007). Use of Land Capability Classification System in The Surface Mining
Control and Reclamation, presented at the 7th International Conference on Acid Rock Drainage
(ICARD), March 26-30, 2006, St. Louis MO. R.I. Barnhisel (ed.) Published by the American Society of
Mining and Reclamation (ASMR), 3134 Montavesta Road, Lexington, KY 40502. p:2032-2043.
Sitorus, J., Purwandari, Darwini, L.E., Widyastuti, R., Suharno. (2006). Kajian Model Deteksi Perubahan
Penutupan Lahan Menggunakan Data Inderaja untuk Aplikasi Perubahan Lahan Sawah . Didang
Pengembangan Pemanfaatan Inderaja Pusbangja. LAPAN. Jakarta.
Weingat, J., Schrier J., and Cogger W., .(2008). Highlands Land Use Capability Zone Map Technical Report.
Prepared by State of New Jersey Highlands Water Protection and Planning Council in Support of the
Highlands Regional Master Plan.

204