Anda di halaman 1dari 16

PROSIDING

Seminar Nasional ke-2


Pengelolaan Pesisir
dan Daerah Aliran Sungai

Pengelolaan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai


PROSIDING SEMINAR NASIONAL KE-2
Diselenggarakan oleh Editor
Djati Mardiatno
Dyah R. Hizbaron
MPPDAS Badan Informasi
Estuning T.W. Mei
Ikatan Geograf
Indonesia Fakultas Geografi Geospasial Fiyya K. Shafarani
UGM
Faizal Rachman
Yanuar Sulistiyaningrum
Widiyana Riasasi

ISBN 978-979-8786-61-7
BADAN PENERBIT FAKULTAS GEOGRAFI
Universitas Gadjah Mada
PROSIDING
SEMINAR NASIONAL PENGELOLAAN PESISIR
DAN DAERAH ALIRAN SUNGAI KE-2

Editor:

Djati Mardiatno
Dyah R. Hizbaron
Estuning T. W. Mei
Fiyya K. Shafarani
Faizal Rachman
Yanuar Sulistiyaningrum
Widiyana Riasasi

BADAN PENERBIT FAKULTAS GEOGRAFI


UNIVERSITAS GADJAH MADA, YOGYAKARTA

i
PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGELOLAAN PESISIR DAN
DAERAH ALIRAN SUNGAI KE-2

ISBN: 978-979-8786-61-7
2016 Badan Penerbit Fakultas Geografi

Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan


sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, secara elektronis maupun
mekanis tanpa izin tertulis dari editor. Permohonan perbanyakan dan pencetakan
ulang dapat menghubungi Dyah R. Hizbaron, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah
Mada, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 atau melalui email ke semnas-
mppdas@geo.ugm.ac.id

Hak kekayaan intelektual tiap makalah dalam prosiding ini merupakan milik para
penulis yang tercantum pada tiap makalahnya.

Tanggal terbit:
20 Juli 2016

Dipublikasikan oleh:
Badan Penerbit Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada
Sekip Utara, Jalan Kaliurang, Bulaksumur, Yogyakarta 55281
Telp:+62 274 649 2340, +62 274 589 595
Email: geografi@geo.ugm.ac.id
Website: www.geo.ugm.ac.id

Desain sampul:
Widiyana Riasasi

ii
KATA PENGANTAR

Seminar Nasional Pengelolaan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai ke-2 dilaksanakan di
Auditorium Merapi, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada tanggal
12 Mei 2016. Seminar ini diselenggarakan oleh Program Magister Perencanaan
Pengelolaan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai (MPPDAS) yang merupakan minat dari
Program Studi S2 Geografi. Salah satu tujuan utama seminar ini adalah untuk mendiskusikan
perkembangan dan tren penelitian pengelolaan di wilayah pesisir dan daerah aliran sungai.
Sebanyak 70 makalah yang telah direview dari tim editor ditampilkan dalam prosiding ini.
Tema dari prosiding ini dibagi menjadi tiga, antara lain
1. Ekosistem, tata ruang, dan manajemen bencana di kawasan pesisir dan daerah aliran
sungai
2. Teknologi geospasial dalam pengelolaan pesisir dan daerah aliran sungai
3. Sosial, politik, ekonomi, budaya, kependudukan, pendidikan dan kebijakan dalam
pengelolaan pesisir dan daerah aliran sungai

Hasil dari seminar ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan mengenai kepadu-
padanan pengelolaan pesisir dan DAS yang meliputi aspek fisik, lingkungan, regulasi, tata
ruang, pemanfaatan ruang dan sumber daya. Semoga prosiding ini dapat bermanfaat untuk
acuan peneliti maupun praktisi pada bidang yang terkait.

Terima Kasih

Ketua Panitia Kegiatan

Prof. Dr. rer.nat. Muh Aris Marfai, M.Sc.

iii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................................. iii


DAFTAR ISI ........................................................................................................................................... iv

Pembicara Utama
PERAN DATA DAN INFORMASI GEOSPASIAL DALAM PENGELOLAAN PESISIR DAN
DAERAH ALIRAN SUNGAI ................................................................................................................. 1
PERAN DAN FUNGSI EKOSISTEM BENTANGLAHAN KEPESISIRAN DALAM
PENGELOLAAN PESISIR DAN DAERAH ALIRAN SUNGAI ........................................................ 11
TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH UNTUK PENGELOLAAN PESISIR DAN DAERAH
ALIRAN SUNGAI ................................................................................................................................. 18
HOLOCENE SEA-LEVEL VARIABILITY IN INDONESIA .............................................................. 51

Tema 1: Ekosistem, tata ruang, dan manajemen bencana di kawasan pesisir dan daerah aliran
sungai
PEMANFAATAN METODE GALDIT DALAM PENENTUAN KERENTANAN AIRTANAH
TERHADAP INTRUSI AIR LAUT DI PESISIR KOTA CILACAP .................................................... 58
IDENTIFIKASI KUALITAS AIR SUNGAI DENGAN PURWARUPA ARDUINO UNTUK
MONITORING SAMPEL AIR OTOMATIS ........................................................................................ 68
PENDUGAAN KEBERADAAN AIRTANAH ASIN DI SEBAGIAN KABUPATEN
BANJARNEGARA, JAWA TENGAH .................................................................................................. 79
ANALISIS PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR DOMESTIK DENGAN AIRTANAH DI DAERAH
ALIRAN SUNGAI KAYANGAN KABUPATEN KULONPROGO .................................................... 86
UJI AKURASI APLIKASI ELECTROMAGNETIC VERY LOW FREQUENCY (EM VLF) UNTUK
ANALISIS POTENSI AIRTANAH DI PULAU SANGAT KECIL ...................................................... 96
KAJIAN KARAKTERISTIK HIDROLOGI BEBERAPA SUB DAS DENGAN FORMASI GEOLOGI
PEGUNUNGAN SELATAN(Studi di Sub DAS Keduang, Temon, Wuryantoro, dan Alang) ............ 106
RESPON HIDROLOGI SEBAGAI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM DI KAWASAN DANAU
KASKADE MAHAKAM..................................................................................................................... 117
EMBUNG SEBAGAI SARANA PENYEDIAAN AIR BAKU DI PESISIR TARAKAN TIMUR .... 129
ANALISIS SPASIAL DAN TEMPORAL B-VALUE SEBAGAI IDENTIFIKASI POTENSI
GEMPABUMI TSUNAMI DI PULAU JAWA ................................................................................... 140
ANCAMAN BAHAYA PENGUATAN REFRAKSI GELOMBANG TSUNAMI AKIBAT JEBAKAN
STRUKTUR GEOMETRI TELUK SUNGAI SERUT UNTUK MITIGASI PENDUDUK DESA
RAWA MAKMUR KOTA BENGKULU ............................................................................................ 148
BAHAYA PENGUATAN GELOMBANG TSUNAMI AKIBAT CEKUNGAN TELUK SUNGAI
SERUT UNTUK MITIGASI PENDUDUK KELURAHAN PASAR BENGKULU DAN PONDOK
BESI, KOTA BENGKULU ................................................................................................................. 159
FENOMENA BANJIR BANDANG DAN PERENCANAAN TATA RUANG WILAYAH ............. 167
KONSEP TATA RUANG UNTUK MENDUKUNG PENGELOLAAN PARIWISATA TERPADU DI
WILAYAH PESISIR PULAU BANGGAI, PROVINSI SULAWESI TENGAH ............................... 177
ANALISIS MULTI KRITERIA UNTUK ARAHAN FUNGSI KAWASAN DI KABUPATEN
MALANG BAGIAN SELATAN ......................................................................................................... 187
ZONASI EKOSISTEM ZONA NERITIK UNTUK MENDUKUNG PENGELOLAAN
BERKELANJUTAN DI PULAU KECIL STUDI KASUS PULAU PARI, KEPULAUAN SERIBU 199

iv
EFEKTIVITAS CEMARA LAUT DALAM RANGKA PENCEGAHAN EROSI ANGIN DI PANTAI
KEBUMEN .......................................................................................................................................... 204
DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP KEANEKARAGAMAN HAYATI DI RESERVAT
BATU BUMBUN DAS MAHAKAM ................................................................................................. 212
INDIKATOR KEANEKARAGAMAN HAYATI DALAM MENDUKUNG PENGELOLAAN DAS
BERKELANJUTAN (Studi Kasus Daya Dukung Lingkungan Pemanfaatan Alur Sungai Kedang
Kepala untuk Transportasi Tongkang Batubara) .................................................................................. 223
ANALISIS KETERKAITAN EKOSISTEM DI SUNGAI CODE PENGGAL JETISHARJO,
YOGYAKARTA .................................................................................................................................. 233
PERAMALAN LUAS HUTAN PENUTUP LAHAN PADA KAWASAN HUTAN KONSERVASI DI
INDONESIA TAHUN 2015 ................................................................................................................ 242
INVESTASI DAERAH DALAM PENGURANGAN RISIKO BENCANA TSUNAMI UNTUK
KETANGGUHAN (Tingkat Kesiapan Pembangunan Sosial di Wilayah Pesisir Kulonprogo) ........... 251
PEMETAAN GEOMORFOLOGI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) BLUKAR, JAWA TENGAH
.............................................................................................................................................................. 263
ARAHAN PEMANFAATAN RUANG BERBASIS UPAYA PENCEGAHAN BENCANA
KEKERINGAN DI KAWASAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) BINANGA LUMBUA
KABUPATEN JENEPONTO PROVINSI SULAWESI SELATAN ................................................... 270
ARAHAN PEMANFAATAN RUANG KEPULAUAN TANAH KEKE KECAMATAN
MAPAKASUNGGU KABUPATEN TAKALAR PROVINSI SULAWESI SELATAN .................... 280
PEMETAAN DAERAH RAWAN BENCANA BANJIR UNTUK PENENTUAN LOKASI
PERMUKIMAN DI KECAMATAN PANDAWAN KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH
KALIMANTAN SELATAN ................................................................................................................ 290
EVALUASI PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP RENCANA TATA RUANG WILAYAH
SEBAGAI UPAYA PENGENDALIAN LIMPASAN DI SUB DAS NGALE .................................... 299
ANALISIS POLA PERUBAHAN PENUTUPAN LAHAN DAN NILAI KOEFISIEN LIMPASAN
DENGAN MENGGUNAKAN DATA PENGINDERAAN JAUH UNTUK MENDUKUNG
PROGRAM PEMULIHAN DAS MENTAYA, PROVINSI KALIMANTAN TENGAH ................... 309
MONITORING PERUBAHAN MORFOLOGI HULU SUNGAI SENOWO TAHUN 2012-2014
DENGAN PEMANFAATAN DATA LiDAR DAN UAV .................................................................. 323
KAJIAN PENGELOLAAN LIMBAH RUMAH TANGGA PINGGIR SUNGAI/PARIT DI
KECAMATAN TEMBILAHAN KABUPATEN INDRAGIRI HILIR ............................................... 330

Tema 2: Teknologi geospasial dalam pengelolaan pesisir dan daerah aliran sungai
VARIASI BULANAN DAERAH PREDIKSI PENANGKAPAN IKAN DI WILAYAH
PENGELOLAAN PERIKANAN RI 711 ............................................................................................. 338
STRATEGI PEMETAAN DAERAH PASANG SURUT DENGAN CITRA SATELIT YANG
DIREKAM PADA PASUT EKSTRIM ................................................................................................ 347
ANALISIS LINGKUNGAN GIANT SEA WALL DI TELUK JAKARTA BERDASARKAN
PENDEKATAN SPASIAL .................................................................................................................. 355
KAJIAN ANALISA PENGARUH PERUBAHAN LAHAN TERHADAP LUAS DAN
KEDALAMAN GENANGAN DI SUB DAS BANG MALANG DENGAN PEMODELAN HEC
GEORAS .............................................................................................................................................. 367
PEMANFAATAN TEKNOLOGI SINGLEBEAM ECHOSOUNDER (SBES) DAN SIDE SCAN
SONAR (SSS) UNTUK PEMETAAN KEDALAMAN PERAIRAN ................................................. 380
ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN WILAYAH KAWASAN SAGARA
ANAKAN, KABUPATEN CILACAP BERDASARKAN PENDEKATAN ANALISIS LANDSKAP
.............................................................................................................................................................. 386

v
PENGELOLAAN KAWASAN KARST MELALUI PENDEKATAN KARAKTER BIOFISIK (Studi
di Sub DAS Alang Kabupaten Wonogiri) ............................................................................................ 397
ANALISIS KEMAMPUANLAHAN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI PENTUNG,
KECAMATANPATUK, GUNUNGKIDUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA ................... 408
MITIGASI BENCANA GERAKAN TANAH PADA DAS SERAYU HULU, BANJARNEGARA . 421
PENYUSUNAN BASIS DATA PETA DESA UNTUK OPTIMALISASI PERKEMBANGAN
WILAYAH KEPESISIRAN: STUDI KASUS DESA PARANGTRITIS KECAMATAN KRETEK
KABUPATEN BANTUL ..................................................................................................................... 433
ATURAN TOPOLOGI UNTUK UNSUR PERAIRAN DALAM SKEMA BASIS DATA SPASIAL
RUPABUMI INDONESIA .................................................................................................................. 444
DAMPAK PEMANASAN GLOBAL TERHADAP LINGKUNGAN ATMOSFER DAN PANTAI DI
WILAYAH PESISIR PAMEUNGPEUK GARUT .............................................................................. 454

Tema 3: Sosial, politik, ekonomi, budaya, kependudukan, pendidikan dan kebijakan dalam
pengelolaan pesisir dan daerah aliran sungai
KAJIAN KESESUAIAN KAWASAN PERMUKIMAN KUMUH DI KOTA YOGYAKARTA
TERHADAP RENCANA DETAIL TATA RUANG KOTA (Kasus di Bantaran Sungai Code) 464
URGENSI KONSERVASI PASIR VULKAN DI PESISIR SELATAN DAERAH ISTIMEWA
YOGYAKARTA .................................................................................................................................. 476
LUBUK LARANGAN UJUNG TANJUNG DESA GUGUK: UPAYA PELESTARIAN
LINGKUNGAN DAN SUMBERDAYA PERIKANAN PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI TIPE
TRANSPORTING SYSTEM .................................................................................................................. 487
KONDISI KUALITAS AIR SUNGAI, AKTIVITAS PENANGKAPAN, DAN PEMANGKU
KEPENTINGAN (STAKEHOLDERS) PADA PERIKANAN SIDAT DI DAS CIMANDIRI, JAWA
BARAT ................................................................................................................................................ 497
PENDEKATAN SOSIO-KULTURAL DALAM PEMASANGAN TETENGER ZONA INTI
SEBAGAI UPAYA RESTORASI GUMUK PASIR BARKHAN ....................................................... 507
KLASIFIKASI LIMBAH HASIL BUDIDAYA PEMANFAATAN LAHAN PESISIR DI DESA
PATUTREJO PURWOREJO ............................................................................................................... 519
KAJIAN PEMANFAATAN LAHAN BEKAS TAMBANG PASIR BESI SEBAGAI UPAYA
OPTIMALISASI SUMBER DAYA ALAM TERBARUKAN DALAM KAITANNYA DENGAN
PENGELOLAAN PESISIR KABUPATEN PURWOREJO ................................................................ 528
WTP UNTUK KONSERVASI AIR DI KAWASAN RESAPAN SLEMAN, YOGYAKARTA ........ 534
PEMANFAATAN DELTA BARITO SEBAGAI LAHAN PERTANIAN RAWA POTENSIAL
DENGAN SISTEM BANJAR .............................................................................................................. 547
ANALISIS POTENSI SUMBERDAYA WILAYAH PESISIR PULAU GILI KETAPANG DENGAN
MENGGUNAKAN ANALISA SWOT ............................................................................................... 557
PENGEMBANGAN EKOWISATA BAHARI PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL BERBASIS
MASYARAKAT DI KABUPATEN MALUKU TENGGARA, MALUKU ....................................... 564
OPTIMALISASI PELESTARIAN EKOWISATA MANGROVE BERBASIS LOCAL WISDOM DI
BEDUL BANYUWANGI .................................................................................................................... 582
PROSPEK DAN TANTANGAN PENGEMBANGAN PANTAI DITINJAU DARI PENDEKATAN
KELINGKUNGAN DI KABUPATEN BLITAR, JAWA TIMUR ...................................................... 592
STRATEGI PENGHIDUPAN NELAYAN DALAM PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT
DI PANTAI DEPOK ............................................................................................................................ 603
PERAN PARIWISATA UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT WILAYAH KEPESISIRAN
TANJUNGSARI DAN TEPUS, KABUPATEN GUNUNGKIDUL ................................................... 610

vi
DAS SEBAGAI BASIS PENILAIAN MANFAAT LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG
SUMBERDAYA HUTAN ................................................................................................................... 618
ASPEK MORFOMETRI SEBAGAI DASAR PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI STUDI
KASUS DAS CITANDUY .................................................................................................................. 629
PELUANG DAN TANTANGAN REVITALISASI DAS LIMBOTO, SEBUAH PENDEKATAN
HASIL PROSES ................................................................................................................................... 638
KONFLIK SPASIAL PEMANFAATAN LAHAN
DALAM MANAGEMENT DAERAH ALIRAN SUNGAI CIDANAU PROVINSI BANTEN ....... 652
KONDISI PEMBANGUNAN DESA-DESA PESISIR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA .... 661
KONFLIK KEPENTINGAN DALAM PEMANFAATAN RUANG DI KAWASAN PESISIR
CANGGU, BALI .................................................................................................................................. 672
PENINGKATAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN KAWASAN PESISIR
UTARA JAWA (Studi Kasus: Kota Semarang dan Kota Tegal) ......................................................... 689
EFEKTIFITAS TRANSPORTASI AIR ANTAR PULAU DI KABUPATEN KEPULAUAN
MERANTI ............................................................................................................................................ 703
KEHARMONISAN PEMANFAATAN RUANG PESISIR BERDASARKAN SUDUT PANDANG
LINGKUNGAN DAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DI DESA PUTUTREJO, KECAMATAN
GRABAG, KABUPATEN PURWOREJO .......................................................................................... 716
PENGELOLAAN PESISIR SELATAN SEBAGIAN KULON PROGO DAN PURWOREJO
BERDASARKAN KONDISI BANGUNAN FISIK ............................................................................ 725
STRATEGI PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR BERKELANJUTAN BERBASIS ANALISIS
SWOT PASKA KEGIATAN TAMBANG PASIR BESI KABUPATEN PURWOREJO, JAWA
TENGAH.............................................................................................................................................. 735
PELAJARAN BERHARGA DARI KEGIATAN TAMBANG PASIR PANTAI DI DESA SELOK
AWAR-AWAR KECAMATAN PASIRIAN - LUMAJANG.............................................................. 746
KAJIAN KOMPARATIF FAKTOR PENYEBAB PERKAWINAN ANAK DI PERKOTAAN DAN
PERDESAAN DI KABUPATEN GROBOGAN (Analisis Survei Pernikahan Dini Tahun 2011) ...... 756
KECENDERUNGAN AKSEPTOR MEMAKAI NON METODE KONTRASEPSI JANGKA
PANJANG DI KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
.............................................................................................................................................................. 765

vii
EFEKTIVITAS CEMARA LAUT DALAM RANGKA
PENCEGAHAN EROSI ANGIN DI PANTAI KEBUMEN
Beny Harjadi
Peneliti Utama/IVd pada Balitek DAS (BPTKPDAS)
Jl. Ahmad Yani - Pabelan, Po.Box.295, Solo, Jawa Tengah.
Telepon/Fax.: (+62) 0271-716709, 08122686657
Email: adbsolo@yahoo.com

Abstrak

Permasalahan pantai berpasir di pantai selatan Jawa yaitu adanya abrasi, tsunami dan adanya
erosi angin serta gundukan pasir (gisik). Pencegahan terjadinya kerusakan lahan yang sudah marjinal
karena kondisi tanah yang berpasir, dengan suhu ekstrim panas dan adanya angin yang kencang di
pantai selatan dilakukan penanaman tanggul angin berupa cemara laut atau cemara udang (Casuarina
equisetifolia sp). Tujuan penelitian kali ini untuk melihat efektifitas cemara laut dalam rangka
pencegahan erosi angin di pantai berpasir. Metode penelitian dengan mengamati erosi angin
menggunakan stik pralon berisi semen dari tahun 2009 sampai 2014. Stik erosi di letakkan pada 3 garis
berbeda yaitu Dekat cemara (D), Gisik (G) dan Jauh dari cemara dengan tanaman semusim (J).
Masing-masing jalur diatas diulangi 3 kali pada sisi Barat (B), Sentral (S), dan Timur (T). Sehingga
dengan analisis perhitungan Split-split Plot dengan jumlah perlakuan 6 tahun x 3 jalur x3 sisi = 54
buah. Hasil penelitian erosi angin yang dilakukan di Desa Karanggadung, Kecamatan Petanahan,
Kabupaten Kebumen, diperoleh kesimpulan bahwa Cemara laut (Cemara udang) tidak mengganggu
keberadaan Gisik pasir artinya pada gundukan pasir tetap terjadi penimbunan atau deposit. Pengaruh
Cemara laut juga efektif dapat mengurangi terjadinya erosi angin. Pada lahan terbuka seperti lahan dekat
pantai erosi angin terbesar yaitu sebesar -1076 ton/ha/th, sebaliknya lahan di belakang Cemara laut
justru terjadi deposit pasir tertinggi pada lahan tanaman semusim sebesar +566 ton/ha/th pada tahun
2014.

Keywords
Erosi; Deposit; Gisik; Cemara laut; Stik erosi

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Wilayah pantai secara umum dikelompokkan atas wilayah pantai berlumpur (muddy
shores), pantai berpasir (sandy shores), dan pantai berbatu karang atau andesit (Bloom, A. L.,
1979). Khusus pada wilayah pantai berpasir dengan gisik gundukan pasir (sand dune), pola
penggunaan lahannya merupakan pola berulang cekungan antara marsh (swale) dan beting
pantai (beach ridge) yang berupa lahan kosong (tanpa tanaman), bertekstur tanah kasar
(pasir), atau diusahakan untuk tegalan (Tim UGM, 1992). Dalam upaya menanggulangi
terjadinya sedimentasi partikel tekstur sand, silt, clay pada kawasan Pantai berpasir dapat
dilakukan dengan cara membangun groin atau membangun breakwater (Antonius, Asfari, dan
204
Kurniawan, 2013). Penggunaan breakwater menurut Wibowo, SA., (2011) cukup efektif yaitu
mampu terjadinya pengendapan di sebelah sisi belakang atau arah menuju pantai.
Pemanfaatan lahan sampai keluar batas tanggul penangkis seyogyanya juga diupayakan
sebagai sabuk hijau (green belt), (Wiryawan, Bengen, dan Dutton, 2001).
Wilayah pantai yang bersifat dinamis terdapat hubungan antara pasokan butir-butir
pasir dari hasil abrasi pantai oleh ombak menuju pantai dan dari gisik yang merupakan hasil
erosi angin kearah daratan, sehingga pasokan pasir terjadi terus-menerus. Peristiwa tersebut
menyebabkan lahan pantai berpasir menjadi semakin marjinal, baik untuk wilayah itu sendiri
maupun wilayah dibelakangnya. Hasil penelitian Kakisina, TJ., (2009) diperoleh alternatif
bangunan pelindung pantai berupa groin (pelindung pantai dari angin dan uap air bergaram)
cukup efektif dalam mengatasi erosi pantai utara teluk Baguala Ambon. Begitu juga menurut
Taofiqurohman, A., (2014) Hutan Mangrove pun mampu mencegah erosi dan abrasi di
wilayah pesisir. Bentuk morfologi garis pantai, variasi arah angin dan karakteristik
gelombang ditelaah sebagai faktor yang berperan dalam perubahan garis pantai (Purba dan
Jaya, 2004).
Potensi kerusakan di wilayah pesisir terutama abrasi disamping juga erosi, yang
menyebabkan berkurangnya luas daratan (Prawiradisastra, S., 2003). Pengurangan pantai
(abrasi) adalah sepanjang pantai, fenomena alam (arus dan gelombang yang besar) dan akibat
ulah manusia seperti menguruk pantai untuk dijadikan pemukiman maupun untuk
pertambakan dan pengambilan pasir (Tarigan, 2007). Kelompok Kerja erosi dan sedimentasi
(2002) menyatakan bahwa laju erosi tanah dan hasil sedimen yang terjadi dapat mengancam
terhadap percepatan pendangkalan dan kehidupan ekosistem perairan. Begitu juga terjadinya
kerusakan tanah baik kerusakan karena sifat fisik, kimia dan maupun biologi yang akan
berpengaruh terhadap penurunan produksi (Rusdi, Alibasyah, Karim, 2013). Berbagai
bencana yang menjadi penyebab terjadinya erosi seperti badai, angin puting beliung, banjir
dan tsunami seringkali menyebabkan erosi dalam skala besar (Hanley dkk, 2005). Dampak
utama terjadinya erosi angin antara lain : a. Penurunan produktivitas lahan; b. Gangguan
debu; dan c. Terjadinya endapan debu pada selokan, kanan kiri jalan, pagar dan bangunan-
bangunan. Untuk mengendalikan erosi dalam jangka yang lama digunakan tanaman tahunan
atau tanaman penutup tanah (cover crop), (Permen, 2011).
Sebagai pencegah bencana tersebut diatas menurut Sihite (2001) kombinasi
penggunaan lahan dan agroteknologi yang telah dipilih dengan baik akan mencegah dampak
erosi dan sedimentasi serta bermanfaat besar secara ekonomi. Teknik penanganan kerusakan
pantai dilakukan dengan perlindungan buatan berupa bangunan pantai, seperti revetment,
breakwater, groin maupun jetty. Sedangkan penanganan kerusakan pantai secara non teknis
dilakukan dengan memperbaiki sistem kebijakan dan perturan daerah (Fadilah, Suripin, dan
Sasongko, 2013). Pengendalian dan Pengelolaan Pantai secara benar, karena sering terjadi
bahwa pembangunan prasarana pantai menimbulkan permasalahan baru di daerah lainnya,
sehingga pengembangan kawasan Pantai seharusnya tidak berdampak negatif (Salamun,
2006).
Kondisi lahan yang marjinal tersebut disebabkan tidak hanya oleh faktor biofisik
semata yang secara alami kurang mendukung untuk dilakukannya tindakan budidaya. Pada
lahan pantai berpasir upaya penanganan yang ada masih belum optimal, sehingga perlu segera
ditangani agar dampak negatif yang akan terjadi tidak semakin meluas. Bertitik tolak dari
permasalahan pantai berpasir diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengamati
efektifitas tanaman Cemara laut dalam pencegahan erosi angin di Pantai Berpasir, Kebumen.

METODE
Waktu dan Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian di Pantai Desa Karnggadung, Kecamatan Petanahan, Kabupaten


Kebumen, Jawa Tengah. Dari ibukota Propinsi Jawa Tengah Semarang menuju ke arah Barat
Daya sejauh 179 km dengan waktu tempuh 4 jam 27 menit. Secara geografis terletak pada
205
Latitude 109o 35 01,9 BT - 109o 35 24,9 BT dan pada Longitude 07o 46 31,3 LS - 07o
46 39,1 LS (lihat Gambar 1). Pengamatan erosi angin dilakukan sejak tahun 2009 sampai
2014 di Pantai Berpasir pada beberapa penggunaan lahan yang berbeda.

Panjang 741 m
Lebar 158 m
Luas Lokasi = 11,71 ha
Jarak dengan pantai = 55 m

Gambar 1. Lokasi Penelitian di pantai Petanahan, Kebumen.

Bahan dan Alat Penelitian

Bahan yang digunakan untuk penelitian erosi angin pada lahan pantai berpasir
meliputi tanaman semusim dengan tanaman tanggul angin Cemara laut atau Cemara udang
(Casuarina equisetifolia sp). Adapun peralatan yang digunakan untuk memantau erosi angin
berupa stik erosi dari peralon berisi semen sebanyak 27 buah yang tersebar di 9 titik
pengamatan. Pengukuran dengan menggunakan alat mistar penggaris untuk mengamati
perubahan tinggi stik akibat penimbunan (deposit +) maupun penggerusan (erosi -).

206
Metode Penelitian

Metode penelitian dengan memasang stik pralon berisi semen pada 3 lokasi yaitu :
1. Dekat dengan cemara laut sebagai tanggul angin (D)
2. Gisik atau gundukan pasir (sand dune) terdeposit (G)
3. Jauh dari cemara laut, terdapat tanaman semusim (J).

Selanjutnya masing-masing dalam satu garis lokasi diatas diulangi 3 kali yaitu :
1. Pada sisi Barat pantai berpasir (B)
2. Pada sisi Pusat atau Tengah (P)
3. Pada sisi Timur pantai berpasir (T)
Dari 9 titik lokasi, selanjutnya masing-masing diulang sebanyak 3 x, sehingga jumlah pralon
ada = 9x3 = 27 stik pralon (Gambar 2). Analisis statistik dengan menggunakan Split-split
Plot (Rancangan Acak Kelompok). Jumlah kelompok 3, pada 3 sisi, dan pengamatan selama 6
tahun.

Gambar 2. Tata letak stik erosi pada Lahan Pantai Berpasir

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pergerakan angin kearah lautan pada malam hari dan kearah daratan pada siang hari
berakibat lahan pantai berpasir sangat fluktuatif karena faktor erosi angin. Kecepatan angin
yang kencang ini menyebabkan terjadinya erosi lahan pantai mengalami perubahan yang
sangat dinamis. Pada satu titik stik pengamatan erosi ada yang mengalami erosi (-) dan
sebaliknya area lain mengalami deposit (+). Data erosi (-) dan deposit (+) lahan pantai
berpasir disajikan pada Tabel 1.

207
Tabel 1. Besarnya Erosi (-) dan Deposit Pasir (+) di Pantai
Erosi -/Deposit +
(Ton/Ha/Th) 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Dekat Cemara
DB = Dekat-Barat 29 64 29 -6 -1076 -102
DP =Dekat-Pusat 59 92 59 -7 -163 -107
DT =Dekat-Timur -259 -256 -259 -8 -127 -119
Gisik pasir
GB = Gisik-Barat 79 32 79 39 -733 -84
GP = Gisik-Pusat 63 28 63 -102 -374 22
GT = Gisik-Timur 140 104 140 -25 287 -101
Jauh/Semusim
JB = Jauh-Barat 375 120 375 -5 -24 566
JP = Jauh-Pusat 38 72 38 -7 -395 412
JT = Jauh-Timur 51 84 51 -26 -198 -57

Dari pengamatan erosi angin sejak tahun 2009 sampai 2014, maka erosi tertinggi pada
tahun 2013 pada daerah dekat pantai (-1076 ton) dan terendah (-102) tahun 2012 pada daerah
Gisik (lihat Tabel 1). Dalam hal ini menunjukkan bahwa perkembangan Gisik tidak terganggu
dengan adanya cemara laut. Deposit penimbunan pasir tertinggi pada lahan semusim tahun
2014 (+566 ton) dan terendah pada Gisik tahun 2012 (+39 ton). Disini menunjukkan bahwa
Gisik dapat muncul pada daerah yang sudah diolah untuk tanaman semusim. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa tanaman cemara laut tidak merusak Gisik atau gundukan pasir yang
menjadi ciri khas pantai selatan di Kebumen. Hal tersebut terbukti bahwa pada lahan gisik
(gundukan pasir) tetap mengalami deposit pasir terus menerus.
Dari analisis rancangan split-split plot pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa kondisi
berbeda sangat nyata dengan taraf beda 1% pada dua interaksi. Interaksi tersebut adalah
antara Tahun pengamatan dengan Lokasi stik dan interaksi antara Lokasi stik pada posisi di
sebelah barat sampai timur.
Tabel 2. Analisis Rancangan Split-Split Plot, Erosi Angin Pantai dari Tahun 2009 sampai 2014
F-hitung
Sangat nyata
1%
SK Db JK KT
Sumber Derajat Jumlah Kuadrat F-hit Ftab
Keragaman bebas Kwadrat Tengah 1%
-0,16
FK 4,28
A 5 33,81 6,76 1,94 --4,20
B 2 13,75 6,87 1,97 --5,85
C 2 15,75 7,87 2,26 --5,85
AB 10 203,77 20,38 5,85 **3,37
AC 10 55,41 5,54 1,59 --3,37
BC 4 147,98 37,00 10,63 **4,43
ABC 20 69,61 3,48
Keterangan:
A = 5 Tahun pengamatan (2009, 2010, 2011, 2012, 2013, 2014)
B = 3 Lokasi (D=Dekat/Cemara, G=Gisik pasir, J=Jauh/Semusim)
C = 3 Posisi penempatan Stik (Timur-T, Tengah/Pusat-P, Barat-B)
208
Perbedaan erosi yang terjadi setiap tahunnya tidak berbeda nyata. Begitu juga tidak
berbeda nyata pada letak area antara pantai dengan yang jauh dan juga pada posisi mata
angina. Interaksi antara Tahun dengan letak lokasi sangat berbeda nyata, dimana. Interaksi
antara tahun dengan posisi mata angin tidak berbeda nyata. Kondisi erosi (-) atau deposit (+)
pada lahan pantai berpasir lebih lanjut akibat erosi angin dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 3. Tinggi Erosi Angin (-) dan Deposit (+) Lahan Pantai Berpasir Petanahan dari
Tahun 2009-2014.

Pada lahan Gisik (gundukan pasir) sebagian besar mengalami deposit atau penimbunan
pasir karena sifat bukit pasir yang menjadi penghalang erosi angin. Sehingga angin yang
membawa partikel pasir dari bawah/lembah akan tertahan oleh Gisik atau bukit berpasir.
Sebaliknya pada tanaman semusim berimbang antara lahan yang mengalami penggerusan
(erosi) dengan lahan yang mengalami penimbunan (deposit). Lahan yang mengalami deposit
hanya pada daerah tengah (pusat) saja. Ternyata pada daerah gisik tidak terganggu dengan
adanya penanaman cemara laut. Deposit pasir dari tahun ke tahun meningkat di daerah Gisik
sisi Barat (GB). Begitu juga dengan adanya cemara laut dapat menurunkan erosi Dekat
cemara pada sisi Timur (DT). Walaupun pada tanaman semusim erosi angina meningkat,
namun cemara laut dapat menahan uap garam-garaman, menurunkan evaporasi, dan
meningkatkan kenyamanan serta iklim mikro membaik. Erosi angin tergantunt ada tidaknya
tanaman semusim, yaitu pada daerah terbuka akan mengalami fluktuatif yang tinggi.
Misalnya untu umur tanaman cemara laut 5 tahun (KU 1 = Kelas Umur 1) sudah dapat
berpengaruh pada tanaman di belakangnya. Pada tahun 2009 hampir semuanya mengalami
deposit, dan tidak ada yang berbeda nyata, sehingga selama 5 tahun belum nampak. Erosi
angin hanya bergeser di tempat areal yang sama. Pada daerah Gisik gundukan pasir tetap
terjadi deposit pasir akibat angin. Sebaliknya pada lahan yang ada Cemara dam tanaman
semusim terjadi erosi, yaitu erosi angin yang terjadi pada tanaman semusim lebih tinggi.

KESIMPULAN
Cemara laut yang ada di pantai disamping untuk mencegah abrasi juga tidak
mengganggu perkembangan Gisik gundukan pasir pantai. Artinya pertumbuhan gisik semakin
meningkat dan erosi semakin menurun. Dinamisasi lahan pantai berpasir karena terjadinya
209
erosi angin (-) dan deposit pasir (+) menyebar merata di sepanjang pantai. Erosi angin yang
terjadi dapat dicegah dengan tanaman tanggul angin Cemara laut (Casuarina equisetifolia).
Fungsi Cemara laut disamping untuk mencegah erosi juga untuk menahan uap air garam-
garaman yang akan membakar tanaman dan juga menciptakan iklim mikro yang sejuk dan
nyaman. Dengan adanya cemara laut dari tahun ke tahun erosi angin di pantai berpasir dapat
ditekan atau mengalami penurunan, kecuali pada tahun 2013 erosi mengalami peningkatan.
Pengaruh Cemara udang dapat mengurangi terjadinya erosi angin. Pada lahan
terbuka seperti lahan dekat pantai erosi angin terbesar yaitu sebesar -1076 ton/ha/th,
sebaliknya lahan di belakang Cemara udang justru terjadi deposit pasir tertinggi pada
lahan tanaman semusim sebesar +566 ton/ha/th pada tahun 2014. Selanjutnya untuk
meningkatkan produktivitas lahan semusim maka dilakukan pencegahan erosi angin dengan
cara merapatkan tanaman tanggul angin atau dilakukan konservasi vegetatif lain dengan
tanaman Gamal (Gliricideae), Pandan Berduri dan tanaman pantai lainnya.

UCAPAN TERIMAKASIH (Acknowledgement)


Ucapan terimakasih kepada teman-teman Peneliti dan Teknisi anggota Tim Pantai
Berpasir Balitek DAS Solo. Teknisi Gunawan, Aris Budiyanto, Gunarti, Siswo dll.
Terimakasih juga dismapaikan pada teman-teman Peneliti : Ir. Purwanto, Agung Wahyu
Nugroho, S.Hut, MS, Dona Octavia, S.Hut, MSc., dll. Terimakasih juga disampiakan Kepala
Dinas Kehutanan Kebumen, Kepala Desa Karanggadung, dan Kelompok Tani Pasir Makmur.

REFERENSI
Antonius, Asfari, G.D., dan Kurniawan H., 2013. Analisis Transportasi Sedimen di Pantai Pasir
Kencana Pekalongan. Prosiding Teknik Sipil UNISSULA.

Bloom, A. L., 1979. Geomorphology: A Systematic Analysis of Late Cenozoic Landforms. Prentice-
Hall of India, ND 110001.

Fadilah, Suripin dan Sasongko, D.P., 2013. Identifikasi Kerusakan Pantai Kabupaten Bengkulu Tengah
Provinsi Bengkulu. Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Sumberdaya Alam dan
Lingkungan 2013 ISBN 978-602-17001-1-2.

Hanley R., Mamonto D., dan Broadhead J., 2005. Petunjuk Rehabilitasi Hutan Pantai untuk Wilayah
Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. FAO, Regional Office for Asia and the Pacific.

Kakisina, TJ., 2009. Estimasi Efektifitas Penggunaan Groin untuk Mengatasi Erosi pada Kawasan
Pesisir Pantai Utara Teluk Baguala ambon. Jurnal TEKNOLOGI, Volume 6 Nomor 2, 2009;
703 - 7.

Kelompok Kerja erosi dan sedimentasi, 2002. Kajian Erosi dan Sidemnetasi pada DAS Teluk
Balikpapan kalimantan Timur. Laporan Teknis Proyek Pesisir, TE-02/13-I, CRC/URI, Jakarta,
38 halaman.

Permen, 2011. Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : P.4/Menhut-II/2011 Tentang
Pedoman Reklamasi Hutan. Jakarta.

Prawiradisastra, S., 2003. Permasalahan abrasi di Wilayah Pesisir Kabupaten Indramayu. Alami, Vol. 8
Nomor 2, Tahun 2003. BPTP, Jakarta.

Purba, M. dan Jaya I., 2004. Analisis Perubahan Garis Pantai dan Penutupan Lahan Antara Way Penet
dan Way Sekampung, Kabupaten Lampung Utara. Jurnal Ilmu-ilmu Perairan dan Perikanan
Indonesia, Desember 2004, Jilid 11, Nomor 2: 109-121

210
Rusdi, Alibasyah MR., Karim, A., 2013. Evaluasi Degradasi Lahan Diakibatkan Erosi pada Areal
Pertanian di Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar. Jurnal Konservasi Sumber
Daya Lahan ISSN 2302-013X Pascasarjana Universitas Syiah Kuala 16 Pages pp. 24- 39.

Salamun, 2006. Penanganan Abrasi Pantai Mayang. Berkala Ilmiah Teknik Keairan No.1 Th. 13Juli
2006, ISSN 0854-4549 Akreditasi No. 23a/DIKTI/KEP/2004.

Sihite, JHS., 2001. Evaluasi Dampak Erosi Tanah. Model Pendekatan Ekonomi Lingkungan dalam
Perlindungan DAS : Kasus Sub-DAS Besai DAS Tulang Bawang, Lampung. Pascasarjana-S3,
IPB, Bogor.

Taofiqurohman, A., 2014. Pemodelan Tinggi Gelombang Akibat Keberadaan Hutan Mangrove di Desa
Mayangan, Kabupaten subang. Jurnal Akuatika, Vol.V No.1/Maret 2014 (1-7). ISSN. 0853-
2532.

Tarigan, M.S., 2007. Perubahan Garis Pantai di Wilayah Pesisir Perairan Cisadane, Provinsi Banten.
MAKARA, SAINS, VOL. 11, NO. 1, APRIL 2007: 49-55

Tim UGM. 1992. Rencana Pengembangan Wilayah Pantai Jawa Tengah. F. Geografi UGM
Yogyakarta-BRLKT Wilayah V, Ditjen RRL, Dephut, Semarang.

Wibowo, SA., 2011. Studi Erosi Pantai Batu Beriga Pulau Bangka. Jurusan Magister Pengelolaan
Sumber Daya Air, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung Jalan
Ganesha No. 10. ITB Bandung 40132.

Wiryawan B., Bengen, dan Dutton,. 2001. Profil Sumberdaya Wilayah Pesisir Desa Pematang Pasir,
Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan. Penerbitan Proyek Pesisir, Coastal Resources Center,
University of Rhode Island. Narraganset, Rhode Island. 40 pp.

211