Anda di halaman 1dari 6

Kode: diisi panitia

PERHITUNGAN EROSI USLE (Universal Soil Loss Equation)


DI DTW (Daerah Tangkapan Waduk) KEDUNG OMBO

CALCULATION OF EROSION USLE (Universal Soil Loss Equation)


IN DTW (Catchment Reservoir) KEDUNG OMBO
Oleh :
Beny Harjadi
Peneliti Utama/IVd pada Balitek DAS (BP2TPDAS)
Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Jl. Ahmad Yani - Pabelan, Po.Box.295, Solo, Jawa Tengah.
Telepon/Fax.: (+62) 0271-716709, o8122686657
Email: adbsolo@yahoo.com

Abstract : Daerah Tangkapan Waduk (DTW) Kedung Ombo dengan luas 5.898 hektar dan luas
genangan waduk 46 km2 memberikan konstribusi yang cukup besar dalam
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, baik secara ekonomi, sosial, dan aspek
lainnya, sehingga keberadaannya perlu dilestarikan. DTW Kedung Ombo meliputi 4
Sub DAS sebagai pemasok air yaitu dari Sub DAS Karangboyo, Gading, Laban, dan
Uter. Permasalahannya ketersediaan air waduk Kedung Ombo dari tahun ke tahun
cenderung semakin menurun akibat pendangkalan sedimentasi. Tujuan penelitian ini
untuk menghitung besarnya erosi yang menyebabkan sedimentasi pendangkalan
waduk dengan metode USLE menggunakan citra satelit dengan analisis raster.
Penelitian ini dilakukan di Waduk Kedung Ombo dengan luas genangannya sebesar
4.600 ha yang wilayahnya meliputi Kab. Sragen, Grobogan dan Boyolali. Penelitian
mulai dilakukan pada tahun 2010 dan diperbarui datanya oleh kegiatan penelitian
mahasiswa S1 dan S2 dari UGM pada tahun 2014. Secara geografi Waduk Kedung
Ombo terletak di bagian selatan Jawa Tengah pada posisi 11045'-11110' BT (Bujur
Timur) dan 715'-730' LS (Lintang Selatan), tepatnya terletak di Ds. Rambat, Kec.
Geyer + 29 Km kearah selatan kota Purwodadi. Metode perhitungan erosi dengan
USLE yaitu A= R.K.LS.C.P dikombinasikan dengan data analisis citra satelit sistem
raster. Dari hasil analisis erosi dengan citra satelit dengan raster dilakukan
pengkelasan erosi menjadi 5 kelas : (1) Sangat Rendah < 5 ton/ha/th, (2) Rendah =
5-10, (3) Sedang = 10-25, (4) Tinggi = 25-50, dan (5) Sangat Tinggi > 50 ton/ha/th.
Dari perhitungan tersebut diperoleh hasil kelas erosi di DTW Kedung Ombo sebagai
berikut : sangat rendah = 4.812 ha, rendah = 207 ha, sedang = 489 ha, tinggi = 197
ha dan sangat tinggi = 192 ha. Meskipun erosinya di dominasi erosi kelas sangat
rendah 82% namun sebaiknya dari awal sudah dilakukan tindakan konservasi tanah
secara terpadu yaitu dengan mekanik sipil teknis (teras, SPA=Saluran Pembuangan
Air) , teknik vegetatif, dan biologis (pupuk organik).
Kata Kunci: Analisis Raster, Citra Satelit, Erosi USLE, Kedung Ombo, Waduk

A. PENDAHULUAN yang cukup besar dalam meningkatkan


Waduk Kedung Ombo merupakan waduk kesejahteraan masyarakat, baik secara sosial,
buatan yang terletak di perbatasan Kabupaten ekonomi, budaya maupun aspek lainnya,
Grobogan, Sragen, dan Boyolali. Daerah sehingga keberadaannya perlu dilestarikan.
Tangkapan Waduk (DTW) Kedung Ombo Menurut Dardah (2005) bahwa untuk
memiliki luas 5.898 hektar dengan genangan menetapkan kehidupan masyarakat yang
46 km2 . Waduk Kedung Ombo sebagai waduk berkelanjutan dapat dilakukan pemanfaatan
multi fungsi, telah memberikan konstribusi lahan dengan berbasis tata ruang.

Seminar Nasional III - S2 PKLH FKIP UNS 1


Harjadi B., Perhitungan Erosi USLE di DTW Kedung Ombo

B. METODE PENELITIAN
Ketersediaan air waduk Kedung Ombo dari 1. Waktu dan Lokasi Penelitian
tahun ke tahun cenderung semakin menurun.
Penelitian dilakukan pada tahun 2010 dan
Menurut Azdan dan Candra (2008) hal ini
data diperbaharui pada tahun 2014 di DTW (Daerah
berbanding terbalik dengan permintaan air
Tangkapan Waduk) Kedung Ombo terletak di
yang semakin meningkat sebagai akibat
bagian selatan Jawa Tengah. Secara geografi
peningkatan jumlah penduduk, beragamnya
Kedung Ombo terletak pada posisi 11045'-11110' BT
pemanfaatan air, berkembangnya
(Bujur Timur) dan 715'-730' LS (Lintang Selatan),
pembangunan, serta kecenderungan
tepatnya terletak di Ds. Rambat, Kec. Geyer +29 Km
menurunnya kualitas air akibat pencemaran
kearah selatan kota Purwodadi. Daerah waduk
oleh berbagai kegiatan. Berdasarkan data
mempunyai iklim tropis dan temperatur sedang
Kementerian Lingkungan Hidup waduk
dengan curah hujan rata-rata dibawah 3.000
Kedung Ombo mengalami penyusutan air
mm/tahun dan hari hujan dengan rata-rata dibawah
42.67 % dari volume air normal (723.16 juta m3),
150 hari/tahun. DTW Kedung Ombo meliputi 4 Sub
(Qahar, 2002). Data dari Departemen
DAS sebagai pemasok air yaitu dari Sub DAS
Pekerjaan Umum per Februari 2007
Karangboyo, Gading, Laban, dan Uter (Gambar 1).
menyebutkan, volume ketersediaan air di
DTW Waduk Kedung Ombo memiliki kemiringan
Waduk Kedungombo hanya setengah dari
dari datar sampai miring. Relief relatif atau
yang direncanakan.
topografi wilayahnya beraneka ragam, ada daerah
pegunungan kapur yang membentang dari timur ke
Kondisi memburuk dengan keberadaan
barat terletak di sebelah utara Bengawan Solo dan
penurunan fungsi waduk Kedung Ombo ini
dataran rendah yang tersebar. Tinggi tempat rata-
diindikasikan oleh adanya deforestasi dan
rata 109 m dari permukaan laut dengan deviasi 50
konversi untuk lahan pertanian pada daerah
m. DTW terbagi menjadi 3 kelompok : 1) Daerah hilir
tangkanan waduk (DTW). Menurut Ayres dkk
berada pada ketinggian sampai dengan 50 mdpl,
(2009) bahwa kerusakan hutan dan lahan akan
dengan kelerengan 0 - 8%, 2) Daerah tengah berada
menyebabkan terjadinya sedimentasi pada
pada ketinggian antara 50 -100 mdpl, dengan
sungai dan waduk yang berasal dari erosi
kelerengan 8 - 45%, 3) Daerah hulu berada pada
tanah. Faktor penyebab terjadinya erosi dan
ketinggian antara 100 - 500 mdpl, dengan
sedimentasi sangat kompleks (Lestari dkk.,
kelerengan >45%. Menurut ketinggian tempat di
2007) dan dipengaruhi oleh berbagai faktor,
DTW Kedung Ombo terdiri dari : (a) dataran rendah,
baik berupa faktor alami maupun gangguan
(b) kaki bukit, (c) punggung bukit, (d) dataran
manusia (anthropogenik). Dalam hal ini
tinggi, dan (e) puncak bukit.
dengan kejadian erosi ini dapat
Wilayah Waduk Kedung Ombo terdiri dari
mempengaruhi produktivitas lahan pada DAS
beberapa jenis tanah antara lain: 1) Aluvial (Entisols)
bagian hulu dan dapat memberikan dampak
dengan bahan induknya endapan liat dan pasir, 2)
negatif pada DAS bagian hilir (sekitar muara
Asosiasi Litosol (Entisols), Mediteran kuning
sungai).
(Ultisols) dan Renzina (Rendoll) dengan bahan
induknya batu kapur dan napal lunak, 3) Komplek
Dalam upaya meningkatkan kesinambungan
Regosol kelabu (Entisols) dan Grumosol kelabu tua
fungsi waduk Kedung Ombo agar lebih lama
(Vertisols) dengan bahan induknya batu kapur dan
berfungsi maka diperlukan sistem pengelolaan
napal, 4) Grumosol dengan bahan induk endapan
yang terpadu dan sinergi. Informasi mengenai
liat, 5) Grumosol dengan bahan induk batu kapur
sumber erosi dan sedimentasi di waduk
dan napal, 6) Asosiasi Grumosol tua coklat dengan
Kedung Ombo masih sangat minim, sehingga
bahan induk napal lunak, 7) Asosiasi Mediteran
perlu dilakukan kajian tentang erosi dan
merah kekuningan dan Mediteran coklat
sedimentasi. Pengukuran erosi biasanya sulit
kekuningan dengan bahan induk batu liat lunak.
(Benyamini, 2004) sehingga menurut Berrios
Tipe dasar adalah lempung berpasir. Fisiografi
(2004) untuk mendapatkan informasi dengan
batuan secara umum berupa bukit lipatan, tekstur
akurasi tinggi pada areal yang luas, maka
batu kapur, dengan struktur padat hingga remah.
dapat memanfaatkan analisis melalui citra
satelit dan sistem informasi geografis (SIG).
Dengan mengetahui sumber erosi dan
sedimentasi, diharapkan dapat menjadi arahan
dalam pengelolaan daerah yang teridentifikasi
mengalami kerusakan degradasi lahan. Tujuan
penelitian ini untuk menghitung besarnya
erosi yang menyebabkan sedimentasi
pendangkalan waduk dengan metode USLE
menggunakan citra satelit dengan analisis
raster.
Gambar 1.DTW Kedung Ombo dipasok dari 4 Sub DAS
: Karangboyo, Gading, Laban, dan Uter
2 Pemanfaatan Informasi Geospasial Untuk Peningkatan Sinergi
Pengelolaan Lingkungan Hidup
Harjadi B., Perhitungan Erosi USLE di DTW Kedung Ombo

2. Bahan dan Alat Penelitian C. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Erosi di DTW Kedung Ombo di dominasi erosi
Bahan penelitian yang diperlukan meliputi peta sangat rendah (kurang dari 5 ton/ha/th) yaitu
peta dasar, antara lain : Peta RBI skala 1 : 25.000 seluas 4.812 ha (81,6%). Kondisi ini sangat baik
(Peta kontur dan Penutupan Lahan) dan Peta untuk menjaga umur waduk lebih panjang,
Landsystem Peta situasi dan administrasi. Citra
sehingga sedimentasi yang terjadi bukan
Landast perekaman tahun 2010 dan citra radar
SRTM (Shuttle Radar Topography Mission). disebabkan oleh erosi permukaan dari lahan
Alat penelitian meliputi Loop untuk tetapi lebih banyak disebabkan erosi tebing
pengamatan visual. Peralatan survei lapangan sungai atau longsor. Dari Gambar 2 dapat dilihat
antara lain Phi band, Haga, tambang, plastik bahwa erosi sangat tinggi (lebih dari 50
spesimen, Kompas, Abney level, pH stik, Blanko ton/ha/th) di DTW Kedung Ombo tidak terlalu
survei, Kamera digital dan GPS. Peralatan untuk luas yaitu hanya seluas 192,3 ha (3,3%).
pengolahan data digital dan SIG, antara lain:
Perangkat keras (hard ware) berupa komputer.
Perangkat lunak (soft ware) untuk analisis citra
yaitu Ilwis 3.31, Erdas-Imagine versi 8.7 dan PC
Arc/Info versi 3.4D plus dan ArcView 3.3. untuk
analisa SIG. Untuk tabulasi diperlukan Excel,
Microsoft word dan DBASE IIIPlus.

3. Metode Penelitian

Metode perhitungan erosi USLE (Universal


Soil Loss Equation) dengan analisis raster
menggunakan citra satelit dan citra radar SRTM
(Shuttle Radar Thopography Mission). Dengan
menggunakan citra satelit dan citra radar SRTM Gambar 2. Luasan Area Kelas Erosi di DTW
terbaru setelah dilakukan koreksi Geometri dan Kedung Ombo
Radiometri selanjutnya dilakukan analisis untuk
mendapatkan Peta R, Peta K, Peta LS, Peta C dan
Peta P. Masing-masing dilakukan pembuatan peta : Dari Gambar 3 Peta Kelas Erosi USLE di
erosivitas hujan (R), erodibilitas lahan (K), panjang Kedung Ombo dapat dilihat bahwa sebaran
dan kemiringan lereng (LS), faktor penutupan lahan erosi di dominasi erosi kelas sangat rendah
(C), dan faktor konservasi tanah (P) tersebut (kurang dari 5 ton/ha/th) dan juga sedikit yang
dengan menggunakan formula yang sudah tertulis tersebar untuk kelas erosi rendah (3,5%) dan
pada Gambar 4. Erodibilitas lahan (K) dipengaruhi sedang (8,3%). Sedangkan erosi pada tingkat
oleh gradasi ukuran (tekstur), persentase bahan kelas tinggi dan sangat tinggi banyak terdapat
organik, dan struktur tanah (MDE, 2011). partikel pada daerah hilir yang mendekati masuk ke
tanahMenurut Danoedoro (2003) klasifikasi
waduk Kedung Ombo.
penutupan lahan dapat menggunakan citra
Landsat. Sedangkan untuk memantau perubahan
penutupan sawah dapat menggunakan juga
penginderaan jauh (Sitorus dkk., 2006).
Setelah diperoleh kelima peta tersebut
diatas, selanjutnya dimasukkan formula erosi USLE
yaitu A=R.K.LS.C.P sehinnga akan diperoleh nilai
erosi permukaan dengan satuan ton/ha/th. Erosi
permukaan yang disebabkan oleh air akan
berdampak pada kualitas lingkungan dan
kesehatan masyarkat (Toby OGeen, 2006) serta
paling serius (Pimentel, 2006). Menurut Nyakatawa
dkk (2007) erosi tanah akan mengancam
keberlanjutan ekonomi dan lingkungan global. Peta
hasil analisis akhir yaitu Peta Kelas Erosi kuantitatif Gambar 3. Peta Sebaran Kelas Erosi di DTW
dengan menggunakan metode USLE. Masing- Kedung Ombo
masing dikelaskan sesuai tingkatan erosi yaitu dari :
1). Sangat rendah < 5 ton/ha/th, 2) rendah = 5-10
ton/ha/th, 3) sedang =10-25 ton/ha/th, 4) tinggi = 25-
50 ton/ha/th dan sangat tinggi > 50 ton/ha/th.

Seminar Nasional III - S2 PKLH FKIP UNS 3


Harjadi B., Perhitungan Erosi USLE di DTW Kedung Ombo

Gambar 4. Analisis Raster Perhitungan Erosi USLE dengan Citra Satelit


Harjadi B., Perhitungan Erosi USLE di DTW Kedung Ombo

D. KESIMPULAN DAN SARAN Berrios, P.H., 2004. Spatial Analysis of The


1. Dari analisis raster citra satelit dan citra Differences Between Forest Land Use and
Forest Cover Using GIS and RS. A case study in
radar SRTM diperoleh kelas erosi di DTW Telake Watershed, Pasir district, East
Kedung Ombo didominasi kelas sangat Kalimantan. MSc Thesis. ITC The Netherlands.
rendah, artinya sedimentasi yang
berdampak pada pendangkalan waduk Danoedoro P., 2003. Multisource Classification For
Landuse Mapping Based On Spectral, Textural
sangat rendah. and Terrain Information Using Landsat
2. Secara berurutan luasan area dari kelas Thematic Mapper. Indonesian Journal Of
erosi sangat rendah sampai sangat tinggi di Geography Gadjah Mada University.
DTW Kedung Ombo sebagai berikut : Yogyakarta.
sangat rendah = 4.812 ha, rendah = 207 ha, Dardah, Hernanto. 2005. Pemanfaatan Lahan
sedang = 489 ha, tinggi = 197 ha dan sangat Berbasis Rencana Tata Ruang sebagai Upaya
tinggi = 192 ha sangat rendah = 4.812 ha, Perwujudan Ruang Hidup yang Nyaman,
rendah = 207 ha, sedang = 489 ha, tinggi = Produktif dan Berkelanjutan. Fakultas
Pertanian Institut Pertanian Bogor. Institut
197 ha dan sangat tinggi = 192 ha. Pertanian Bogor. Bogor.
3. Walaupun pendangkalan waduk sangat
rendah akibat tingakt erosi yang sangat Lestari S., Bambang Agus K., Rachmad J., 2007.
rendah, namun upaya tindakan konservasi Kajian Perubahan Erosi Permukaan Akibat
Pembangunan Hutan Tanaman Industri di
tanah secara sipil teknis maupun vegetatif Areal Pencadangan HTI Kab. Ketapang,
tetap harus dilakukan pada daerah yang Propinsi Kalimantan Barat. Forum Teknik Sipil
miring. No. XVII/2-Mei 2007. P:486-500.
4. Analisis raster dengan citra satelit dapat
MDE., 2011. Standards and Specifications for Soil
membantu mempercepat proses Erosion and Sediment Control. Water
perhitungan erosi secara kuantitatif pada Management Administration in association
areal yang cukup luas seperti di DTW with Natural Resources Conservation Service
and Maryland Association of Soil Conservation
Kedung Ombo. Districts. Washington. MDE (Maryland
5. Dalam rangka meningkatkan akurasi hasil Department of the Environment) P I.1.
perhitungan erosi dengan citra satelit
maka perlu dilakukan pada Sub DAS yang Nyakatawa E.Z., Jakkula V., Reddy K.C., Lemunyon
J.L., Norris B.E.Jr., 2007. Soil erosion
memiliki variasi topografi dan bentuk lahan estimation in conservation tillage systems
(land form) maupun bentang lahan (land with poultry litter application using RUSLE 2.0
scape) yang beragam. model. Soil and Tillage Research 94. Elsevier.
www.elsevier.com/locate/still. p:410-419.

E. DAFTAR PUSTAKA Pimentel, D., 2006. Soil erosion : a Food and


Environmental Threat. Environmnet,
Development and Sustainability (2006) 8:119-
Ayres, Matthew, David Karnosky and Ian Thompson.
137. DOI 10.1007/s10668-005-1262-8.
2009. Forest Responses and Vulnerabilities to
Recent Climate Change dalam Adaptation of
Qahar, Abdul. 2002. Prediksi Umur Layanan Waduk
Forests and People to Climate Change (Risto
Kedung Ombo Akibat Sedimen. Tugas Akhir.
Seppala, Alexander Buck, Pia Katila, editor).
Fakultas Tekhnik. Universitas Gajah Mada.
IUFRO World Series Volume 22.
Yogyakarta.
Azdan, D & S. Candra. 2008. Kritisnya Kondisi
Sitorus, J., Purwandari, Darwini, L.E., Widyastuti, R.,
Bendungan di Indonesia. Makalah. Komite
Suharno. 2006. Kajian Model Deteksi
Nasional Indonesia untuk bendungan Besar
Perubahan Penutupan Lahan Menggunakan
(KNI-BB) atau Indonesian National Committee
Data Inderaja untuk Aplikasi Perubahan Lahan
on Large Dams (INACOLD)
Sawah. Didang Pengembangan Pemanfaatan
Inderaja Pusbangja. LAPAN. Jakarta.
Benyamini Y., 2004. Measuring and monitoring soil
erosion for soil conservation and soil
Toby OGeen, A., 2006. Understanding Soil Erosion
protection in Israel. Ministry of Agriculture
in Irrigated Agriculture. University of
(SERS), Israel / University of Amsterdam,
California, Agriculture and Natural Resources,
Netherlands. p: 147-155.
Harjadi B., Perhitungan Erosi USLE di DTW Kedung Ombo

Communication Services, 6701 San Pablo


Avenue, 2nd Floor, Oakland, California 94608- Lampiran Tabel 3. Luasan Tekstur Tanah
1239. Publication 8196. p:1-5.

F. Ucapan terima kasih


Ucapan terimakasih disampaikan kepada DIKTI
(Pendidikan Tinggi) yang telah menandai
Penelitian di DTW Kedung Ombo ini. Begitu juga
dari Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup
Pemda Sragen dan Boyolali yang telah
memberikan informasi kondisi lahan dan
tanamannya. Serta para Peneliti dan Teknisi dari
kantor Balitek DAS Solo.

G. Lampiran

Lampiran Tabel 1. Luasan Arah Lereng

Lampiran Tabel 2. Luas Kemiringan Lereng

6 Pemanfaatan Informasi Geospasial Untuk Peningkatan Sinergi


Pengelolaan Lingkungan Hidup