Anda di halaman 1dari 3

FUNGSI PENGEMASAN PRODUK HASIL OLAHAN PERTANIAN

Komoditi pertanian pada dasarnya memang sudah memiliki daya simpan yang pendek,
sehingga menyebabkan rendahnya nilai jual karena rentang waktu penjualan yang terbatas. Dalam
upaya untuk meningkatkan keawetan atau umur simpan, diperlukan penanganan khusus pada saat
pasca panen. Ada berbagai macam cara untuk mengawetkan produk hasil pertanian salah satu
diantaranya adalah dengan melakukan pengemasan menggunakan modifikasi atmosphere.

Pengemasan merupakan suatu pembungkusan yang dilakukan terhadap produk dengan tujuan
agar produk tidak mudah rusak dan memiliki nilai sensoris yang baik. Salah satu bentuk perlakuan
dari pengemasan yaitu pengemasan dengan udara termodifikasi. Penyimpanan dengan udara
termodifikasi merupakan pembaruan yang paling penting dalam penyimpanan buah-buahan dan
sayur-sayuran, atmosfer yang mengelilingi produk sebagai atmosfer terkontrol di mana keadaan gas
terus-menerus dikendalikan dan disesuaikan pada konsentrasi yang optimal.

Maka dari itu, pada produk pertanian khususnya agroindustri yang meliputi buah-buahan dan
sayuran sangatlah penting untuk mendapatkan perlakuan penyimpanan udara termodifkasi demi
menghambat terjadinya resiprasi, sehingga nantinya akan memperpanjang umur simpan dari produk.

Ada beberapa istilah penyebutan pengemasan dalam bahasa sehari-hari, seperti


pembungkusan, pewadahan atau pengepakan, dan sama-sama merupakan salah satu cara
pengawetan bahan hasil pertanian karena dapat memperpanjang umur simpan bahan. Pengemasan
adalah wadah atau pembungkus yang dapat membantu mencegah atau mengurangi terjadinya
kerusakan-kerusakan pada bahan yang dikemas atau dibungkusnya.

Sebelum dibuat oleh manusia, alam juga telah menyediakan kemasan untuk bahan pangan,
seperti jagung dengan kelobotnya, buah-buahan dengan kulitnya, buah kelapa dengan sabut dan
tempurung, polong-polongan dengan kulit polong dan lain-lain. Manusia juga menggunakan
kemasan untuk pelindung tubuh dari gangguan cuaca, serta agar tampak anggun dan menarik.

Dalam dunia modern seperti sekarang ini, masalah kemasan menjadi bagian kehidupan
masyarakat sehari-hari, terutama dalam hubungannya dengan produk pangan. Sejalan dengan itu,
pengemasan telah berkembang dengan pesat menjadi bidang ilmu dan teknologi yang makin
canggih.

Keunggulan Jenis-Jenis Kemasan Produk Agroindustri

1. Plastik, merupakan jenis kemasan yang sangat umum digunakan, selain karena harganya
murah plastik juga kuat dan ringan sehingga menjadi pilihan utama pengemasan produk.

2. Kertas, kertas bisa digunakan untuk mengemas bahan tertentu yang bersifat kering.

3. Gelas, gelas menjadi pilihan bahan kemasan yang mengandung sifat konsentrasi asam dan
tahan lama, namun jenis kemasan gelas ini tergolong mahal dan sulit didaur ulang ataupun diuraikan
tanah.

4. Kemasan logam, yang terdiri dari alumunium foil dan juga tetra pack.

Perbedaan kemasan jenis tinplate dan alumunium foil salah satunya yaitu dari fungsi kemasan
terhadap bahan yang dikemas. Kaleng tinplate banyak digunakan dalam industri makanan dan
komponen utama untuk tutup botol atau jars. Kaleng alumunium banyak digunakan dalam industri
minuman. Alumunium foil banyak digunakan sebagai bagian dari kemasan bentuk kantong bersama-
sama/dilaminasi dengan berbagai jenis plastik, dan banyak digunakan oleh industri makanan ringan,
susu bubuk dan sebagainya.

Dalam hubungan kemasan dan produk yang dikemas kemasan akan mempengaruhi produk
yang dikemas baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung kemasan akan
memberikan daya tahan dan perlindungan terhadap produk yang dikemas, berbeda-beda tergantung
bahan kemasan dan produk yang dikemas. Secara tidak langsug kemasan akan mempengaruhi minat
konsumen untuk membeli barang atau produk yang berada di dalam kemasan ketika tertarik dengan
bentuk,warna, atau tulisan yang diberikan pada kemasan, Maka dari itu fungsi kemasan disini
sangatlah penting bagi suatu produk, dan keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat dan
saling berkaitan satu-sama lain.

Jadi, jika kita ingin produk kita bisa diterima konsumen lebih baik, salah satu faktor penting
yang harus diperhatikan yaitu proses pengemasan dan jenis kemasannya, saya sendiri pernah
membaca sebuah riset jika mayoritas konsumen atau pembeli akan memilih produk yang memiliki
tampilan kemasan lebih menarik daripada produk sejenis lainnya.

Produk hortikultura merupakan produk yang sangat mudah rusak sehingga dalam penanganan
pasca panennya perlu adanya pengaturan agar produk tetap segar apabila dikirim kepada distributor.
Secara umum, menyimpan produk sayuran yang paling sederhana adalah dengan menempatkan
bahan di tempat yang bersih, kering, dan kelembaban lingkungan yang sama dengan kelembaban
bahan. Cara ini ditempuh untuk menghindari kehilangan kandungan air bahan secara berlebihan.
Untuk menghindari proses pembusukan pada sayuran dan buah, bahan disimpan dalam keadaan
permukaan kulitnya kering. Kering disini artinya permukaan kulit bebas dari air permukaaan yang
menempel. Cara mengeringkan cukup dianginanginkan. Menjaga kesegaran dan menghindari
pembusukan bahan merupakan dua sasaran utama dalam usaha penyimpanan bahan segar. Bahan
yang keadaannya lembab dan kotor akan mendorong timbulnya pembusukan yang lebih cepat.
Proses pembusukan bahan diawali dengan semakin meningkatnya suhu bahan dalam tempat
penyimpanan. Meningkatnya suhu dan timbulnya bau pengap merupakan tanda terjadinya awal
proses pembusukan, yang mudah dikenali. Dalam keadaan basah dan hangat, cendawan dan bakteri
pembusuk akan cepat berkembang dan aktif merusak sehingga bahan akan menjadi cepat rusak
(Dwiari, dkk, 2008).

Selain penyimpanan dengan menggunakan metode pengemasan dengan plastik dan dengan
cara sederhana dalam usaha memperpanjang daya simpan produk dapat dilakukan dengan cara
penyimpanan hipobarik. Penyimpanan hipobarik ini dilakukan didalam ruang vakum yang
berhubungan dengan udara yang mengandung air jenuh sehingga bermanfaat dalam
mempertahankan tingkat oksigen dalam buah dan kehilangan air pada buah karena hal ini dapat
menurunkan tekanan parsial pada oksigen dan pada buah yang lain dapat menekan produksi gas
etilen (Hawa, La Choviya, 2006). Dengan memanfaatkan berbagai teknolgi yang ada akan
memerlukan biaya yang cukup mahal tetapi bagi petani yang tidak memiliki biaya cukup dalam
proses penyimpanan dapat menerapkan cara yang sederhana agar menekan biaya produksi produk.

Pengemasan yang sering dilakukan dalam produk hortikultura adalah teknologi penyimpanan
dengan controlled atmosfer (CA) dan modifikasi atmosfer packing (MAP) yang bertujuan dalam
menekan laju respirasi pada buah sehingga buah lebih segar dalam proses pengirimannya. Dalam
metode MAP biasanya digunakan plastik polietilen dalam setiap kemasan produk hortikultura karena
dapat menekan CO2 dan O2 didalam kemasan tetapi meskipun plastik polietilen ini memiliki
permeabilitas yang cukup tinggi tetapi tidak cocok pada kemasan yang tertutup (Rosalina, Yessy,
2011). Penggunaan berbagai sistem penyimpanan dapat menghambat dalam proses percepatan
pembusukan sehingga buah yang dipetik dapat bertahan lama ketika disimpan.

Ketika buah disimpan pada suhu rendah maka buah akan terlihat lebih pucat karena buah
mengalami kesetimbangan akibat kekurangan O2 sehingga terjadi perubahan proses kimi yaitu
fermentasi yang menyebabkan buah mengeluarkan air dalam tubuhnya sehingga cahaya memantul
karena adanya lapisan air pada permukaan buah. Selain perubahan secara visual buah akan berubah
warna akibat perlakuan suhu rendah (Sugiarto, dkk, 2005). Dalam melakukan penyimpanan penting
mengetahui karakteristik buah yang akan disimpan sehingga komposisi atmosfer tepat dan tida
berdampak buruk bagi buah dan memiliki daya simpan yang lebih lama daripada buah yang tidak
diperlakukan dengan kondisi tersebut.