Anda di halaman 1dari 35

BAB V

NEONATOLOGI

A. ASFIKSIA
1. Pengertian
Asfiksia merupakan suatu keadaan dimana bayi tidak dapat bernapas secara
spontan dan teratur segera setelah lahir, keadaan tersebut dapat disertai dengan
adanya hipoksia, hiperkapnea dan sampai ke asidosis (Hidayat, 2012).
2. Etiologi
Penyebab asfiksia menurut Mochtar (1989) adalah :
a. Asfiksia dalam kehamilan
1) Penyakit infeksi akut
2) Penyakit infeksi kronik
3) Keracunan oleh obat-obat bius
4) Uraemia dan toksemia gravidarum
5) Anemia berat
6) Cacat bawaan
7) Trauma
b. Asfiksia dalam persalinan
1) Kekurangan O2.
2) Partus lama (CPD, rigid serviks dan atonia/ insersi uteri)
3) Ruptur uteri yang memberat, kontraksi uterus yang terus-menerus
mengganggu sirkulasi darah ke uri.
4) Tekanan terlalu kuat dari kepala anak pada plasenta.
5) rolaps fenikuli tali pusat akan tertekan antara kepala dan panggul.
6) Pemberian obat bius terlalu banyak dan tidak tepat pada waktunya.
7) Perdarahan banyak : plasenta previa dan solutio plasenta.
8) Kalau plasenta sudah tua : postmaturitas (serotinus), disfungsi uteri.
9) Paralisis pusat pernafasan
10) Trauma dari luar seperti oleh tindakan forceps
11) Trauma dari dalam : akibat obat bius.
c. Faktor ibu
1) Hipoksia ibu
2) Dapat terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetik atau
anestesi dalam, dan kondisi ini akan menimbulkan hipoksia janin dengan
segala akibatnya.
3) Gangguan aliran darah uterus
4) Berkurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan berkurangnya
aliran oksigen ke plasenta dan juga ke janin, kondisi ini sering ditemukan
pada gangguan kontraksi uterus, hipotensi mendadak pada ibu karena
perdarahan, hipertensi pada penyakit eklamsi.
d. Faktor plasenta
Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta,
asfiksis janin dapat terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta,
misalnya perdarahan plasenta, solusio plasenta.
e. Faktor fetus
Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam
pembuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin.
Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada keadaan tali pusat menumbung,
melilit leher, kompresi tali pusat antara jalan lahir dan janin.
f. Faktor neonatus
Depresi pusat pernapasan pada bayi baru lahir dapat terjadi karena beberapa hal
yaitu pemakaian obat anestesi yang berlebihan pada ibu, trauma yang terjadi saat
persalinan misalnya perdarahan intra kranial, kelainan kongenital pada bayi
misalnya hernia diafragmatika, atresia atau stenosis saluran pernapasan,
hipoplasia paru.
Hipoksia ibu,ganggun aliran darah uterus,faktor plasenta,faktor
fetus,faktor tali pusat

ASFIKSIA

Janin kekurangan O2 dan


kadar CO2

Nafas cepat Suplai O2 dalam


darah

dipsneu
Suplai O2 di
perifer
Pola nafas tidak
efektif
3. Web of Causation Perfusi jaringan
Gangguan
termoregulasi

Gangguan perfusi
jaringan

Alveoli terisi cairan

Gangguan pertukaran
gas
hipotermi

4. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Tujuan Dan
Intervensi
Keperawatan Kriteria Hasil
Pola Nafas tidak efektif b.d Setelah dilakukan 1. Posisikan pasien
- Depresi pusat pernafasan tindakan kepala semi ekstensi
- Kelemahan otot pernafasan keperawatan selama 2. Auskultasi suara
- Imaturas neurologis d.d: jam pasien nafas, catat adanya
menunjukkan suara tambahan
DS: keefektifan pola 3. Monitor pola nafas
- Dyspnoe nafas, dibuktikan 4. Monitor vital sign/ 2
- Ortopnoe dengan kriteria hasil: jam
DO: Retraksi dinding 5. Pertahankan jalan
Diagnosa Tujuan Dan
Intervensi
Keperawatan Kriteria Hasil
- Penggunaan alat bantu dada tidak ada nafas yang paten
nafas CRT< 2 detik 6. Kolaborasi :
- Fase ekspirasi memanjang Cyanosis tidak - Pemberian 02
- Pola nafas abnormal ada sesuai saturasi
(takipnoe, bradipnoe, Nafas cuping advis DPJP
hiperventilasi, kusmaul) hidung tidak ada - Pemasangan
- Diameter torak anterior dan Tanda Tanda vital CPAP jika perlu
posterior meningkat dalam rentang - Pemberian therapi
- Ventilasi segmenit normal (tekanan injeksi
menurun darah, nadi,
- Pernafasan cuping hidung pernafasan)
- Kapasitas vital menurun Suhu : 36.5C-
- Tekanan ekspirasi 37.5C
menurun Nadi : 140-
- Tekanan inspirasi menurun 160x/mnt
RR : 40-60
x/mnt

Gangguan Pertukaran gas Setelah dilakukan 1. Monitor TTV/ 2 jam


B.d : tindakan 2. Monitor respirasi dan
-ketidakseimbangan perfusi keperawatan selama status O2
ventilasi jam Gangguan 3. Monitor jalan nafas :
-perubahan membran kapiler- pertukaran pasien bradipena, takipenia,
alveolar teratasi dengan kussmaul,
dd: kriteria hasi: hiperventilasi
DS: Tanda tanda vital 4. Auskultasi suara
- Dispnoe dalam rentang nafas, catat area
normal penurunan / tidak
DO: Suhu : 36.5C- adanya ventilasi dan
- Hiperkapnia/hiperkarbia 37.5C suara tambahan
- Hipoksemia Nadi : 140- 5. Auskultasi bunyi
- Takikardi 160x/mnt jantung, jumlah, irama
- Kadar Co2 tidak normal RR : 40-60 dan denyut jantung
- Ph arteri tidak normal x/mnt 6. Catat pergerakan
- Bunyi nafas tambahan AGD dalam batas dada,amati
- Sianosis normal kesimetrisan,
- Diaporesis Ph :7.35-7,45 penggunaan otot
- Gelisah PCO2 : 35-45 tambahan, retraksi
- Pernafasan cuping hidung mmHg otot supraclavicular
- Pola nafas abnormal PO2 : 80- dan intercostal
- Sianosis atau pucat 100mmHg 7. Observasi sianosis
TCO2: 23- khususnya membran
27mmol/L mukosa
Saturasi O2: 95 % 8. Jelaskan pada
HCO3: 22- keluarga tentang
26mEq/L persiapan tindakan
CRT < 2 detik dan tujuan
penggunaan alat
tambahan (O2,
Suction, Inhalasi)
9. Kolaborasi dengan
DPJP:
- Pemeriksaan AGD,
Diagnosa Tujuan Dan
Intervensi
Keperawatan Kriteria Hasil
elektrolit
- Pemeriksaan
rontgen
- Pemberian therapi
injeksi

Hipotermi Setelah dilakukan 1. Hangatkan bayi dalam


Berhubungan dengan : tindakan incubator
keperawatan selama 2. Monitor tanda-tanda
- Kerusakan hipotalamus 2x 24 jampasien vital setiap 2 jam
- Berat badan ekstrim menunjukkan : 3. Monitoring suhu
- Kekurangan lemak Suhu tubuh dalam inkubator
subcutan batas normal dengan 4. Monitor gejala
- Terpapar suhu lingkungan kreiteria hasil: hipotermi
rendah suhu aksila 36.5 (lemah,apatis, warna
o
C 37.5 oC kulit )
DS : warna kulit 5. Pertahankan pakaian
- merah muda bayi tetap kering,
DO Tidak ada ganti pakaian dan
- Kulit teraba dingin distres respirasi linen yang basah
- Menggigil Tidak menggigil segera mungkin
- Suhu tubuh <36,5C Bayi tidak 6. Ajarkan OT untuk
- Akrosianosis gelisah PMK (prlekatan
- Bradikardi Bayi tidak letargi metode kanguru)
- Dasar kuku sianotik Kadar glukosa
- Hipoglikemi darah dalam
- Hipoksia batas normal
- CRT >3 detik >60mg/dl
- Konsumsi O2 meningkat
- Laju metabolisme
meningkat
- Kadar gula darah menurun

B. LABIOPALATOSKIZIS
1. Pengertian
Labiopalatoskizis/Bibir sumbing adalah malformasi yang disebabkan oleh
gagalnya propsuesus nasal median dan maksilaris untuk menyatu selama
perkembangan embriotik. (Wong, Donna L. 2012).
2. Etiologi
Faktor genetik atau keturunan
Kegagalan fase embrio yang penyebabnya belum diketahui.
Kekurangan nutrisi contohnya defisiensi Zn dan B6, vitamin C pada waktu hamil,
kekurangan asam folat.
Akibat gagalnya prosessus maksilaris dan prosessus medialis menyatu
Beberapa obat (korison, anti konsulfan, klorsiklizin).
Mutasi genetic atau teratogen (agen/faktor yang menimbulkan cacat pada
embrio).
Infeksi pada ibu yang dapat mempengaruhi janin, contohnya seperti infeksi
Rubella dan Sifilis, toxoplasmosis dan klamidia
Radiasi
Stress emosional
C. Web of Casation

Defisit Nutrisi

Resiko aspirasi
4. Diagnosa keperawatan

Diagnosa Tujuan Dan


Intervensi
Keperawatan Kriteria Hasil
Defisit nutrisi DD: Setelah dilakukan 1. Observasi TTV setiap
- Ketidak mampuan tindakan keperawatan 2 jam
menelan makanan selama jam nutrisi 2. Monitor adanya
- Ketidak mampuan kurang teratasi dengan penurunan BB
mencerna indikator: 3. Timbang BB setiap hari
makanan Adanya peningkatan 4. Monitor pucat,
- Ketidak mampuan berat badan sesuai kemerahan, dan
mengabsorbsi dengan tujuan kekeringan jaringan
nutrisi Berat badan meningkat konjungtiva
- Peningkatan 20% dari BB 5. Berikan minum asi/pasi
kebutuhan sebelumnya tiap 2-3 jam
metabolism d.d : Tidak ada tanda tanda 6. Ajarkan ibu cara
malnutrisi (Hb: menyusui yang benar
DS: >12mg/dl, tonus otot 7. Kolaborasi dengan
- normal, membran dokter tentang
mukosa tidak pucat kebutuhan suplemen
DO: Menunjukkan makanan seperti NGT/
peningkatan fungsi TPN sehingga intake
- Nutrisi diberikan melalui pengecapan dari cairan yang adekuat
OGT menelan dapat dipertahankan.
- Bising usus berlebih 8. Pertahankan terapi IV
- Konjungtiva pucat line
- Denyut nadi lemah
- Adanya penurunan
berat badan
- Labio/palato/gnato
skizis

Risiko Aspirasi Setelah dilakukan 1. Monitor tingkat


dd tindakan keperawatan kesadaran, reflek batuk
- Labio/palato skizis selama 2x 24 jam pasien dan kemampuan menelan
- Terpasang selang tidak mengalami aspirasi 2. Monitor j jalan nafas
nasogastrik dengan kriteria: 3. Lakukan suction jika
Klien dapat bernafas diperlukan
DS: dengan mudah, 4. Cek nasogastrik/
- frekuensi pernafasan OGTsebelum pemberian
normal (40-6x/menit) makan (Hindari makan
DO: Pasien mampu kalau residu masih
- Bibir mengalami menelan, mengunyah banyak)
distorsi, palatum tanpa terjadi aspirasi 5. posisikan kepala bayi
terbelah Batuk efektif semiekstensi setelah
- Bayi terpasang Tidak ada muntah makan
OGT Tidak ada residu pada 6. Lakukan oral Hygien
- Peningkatan lambung
tekanan dalam
lambung
C. GASTROENTERITIS
1. Pengertian
Gastroenteritis adalah keadaan dimana frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali
pada bayi dan lebih 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat
berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah/lendir saja (Sudaryat
Suraatmaja.2005).
2. Etiologi
Faktor infeksi
- Infeksi enteral
Merupakan penyebab utama diare pada anak, yang meliputi: infeksi
bakteri, infeksi virus (enteovirus, polimyelitis, virus echo coxsackie).
Adeno virus, rota virus, astrovirus, dll) dan infeksi parasit : cacing
(ascaris, trichuris, oxyuris, strongxloides) protozoa (entamoeba histolytica,
giardia lamblia, trichomonas homunis) jamur (canida albicous).
- Infeksi parenteral ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti otitis
media akut (OMA) tonsilitis/tonsilofaringits, bronkopeneumonia, ensefalitis
dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur
dibawah dua (2) tahun.
Faktor malaborsi
Malaborsi karbohidrat, lemak dan protein.
Faktor makanan
Faktor psikologis
3. Web of Causation
Diare

Tubuh kehilangan Output >>


Defikasi sering
cairan dan elektrolit

Volume cairan ekstra Iritasi kulit Absorpsi <<


sel menurun

Risiko Gangguan
Volume cairan Defisit Nutrisi
Integritas Kulit
4. Diagnosamenurun
interstisial Keperawatan
Diagnosa Tujuan Dan
Keperawatan Intervensi
Kriteria Hasil
Hipovolemia
Hipovolemiab.d Setelah dilakukan 1. Monitor vital sign setiap
- Kehilangan cairan aktif tindakan keperawatan 2 jam
- Kegagalan mekanisme selama ....... jam defisit 2. Monitor status hidrasi
regulasi volume cairan teratasi (kelembaban membran
- Peningkatan permeabilitas dengan kriteria hasil: mukosa, nadi adekuat,
kapiler Mempertahankan tekanan darah
- Kekurangan intake cairan urine output sesuai ortostatik), jika
- Evaporasi d.d: dengan usia dan BB, diperlukan
BJ urine normal, 3. Pertahankan catatan
DS : nadi, suhu tubuh intake dan output yang
- dalam batas normal akurat
Suhu : 36.5C- 4. Kolaborasi pemberian
DO: 37.5C cairan IV
- Frekuensi nadi meningkat Nadi : 140-160x/mnt 5. Kolaborasi
- Nadi teraba lemah RR : 40-60 x/mnt kemungkinan tranfusi
- Tekanan darah menurun Tidak ada tanda tanda dan Persiapan untuk
- Turgor kulit menurun dehidrasi, Elastisitas tranfusi
- Membran mukosa kering turgor kulit baik,
- Volume urin menurun membran mukosa
- Hematokrit meningkat lembab, tidak ada
- Suhu tubuh meningkat rasa haus yang
- Konsentrasi urin meningkat berlebihan
- Berat badan turun tiba-tiba
Defisit nurtisi b.d: Setelah dilakukan 1. Observasi TTV setiap 2
- Ketidakmampuan untuk tindakan keperawatan jam
menelan makanan selama . jam nutrisi 2. Monitor adanya
- Ketidak mampuan untuk kurang teratasi dengan penurunan BB
indikator: 3. Timbang BB setiap hari
mencerna makanan
Adanya peningkatan 4. Monitor pucat,
- Ketidak mampuan untuk
berat badan sesuai kemerahan, dan
mencerna nutrisi d.d: dengan tujuan kekeringan jaringan
DS: Berat badan konjungtiva
- Cepat kenyang setelah meningkat 20% dari 5. Berikan minum asi/pasi
makan BB sebelumnya tiap 2-3 jam
- Nafsu makan menurun Tidak ada tanda 6. Ajarkan ibu cara
tanda malnutrisi (Hb: menyusui yang benar
Diagnosa Tujuan Dan
Keperawatan Intervensi
Kriteria Hasil
DO: >12mg/dl, tonus otot 7. Kolaborasi dengan
- Berat badan menurun normal, membran dokter tentang
minimal 10% dibawah mukosa tidak pucat kebutuhan suplemen
Menunjukkan makanan seperti NGT/
rentang ideal
peningkatan fungsi TPN sehingga intake
- Bisingusus hiperaktif
pengecapan dari cairan yang adekuat
- otot menelan lemah
menelan dapat dipertahankan.
- membran mukosa pucat
8. Pertahankan terapi IV
- sariawan
line
- serum albumin turun
- diare

Risiko gangguan integritas kulit Setelah dilakukan 1. Jaga kebersihan kulit


b.d: tindakan asuhan agar tetap bersih dan
- Perubahan sirkulasi keperwatan selama kering
- Perubahan status nutrisi . jam diharapkan 2. Ubah posisi pasien)
(kekurangan/kelebihan) integritas kulit tidak setiap dua jam sekali
- Kekurangan/kelebihan terjadi, ditandai dengan 3. Monitor kulit akan
volume cairann kriteria hasil: adanya kemerahan
- Bahan kimia iritatif Integritas kulit yang 4. Oleskan lotion atau
- Kelembaban d.d : baik bisa minyak/baby oil pada
dipertahankan derah yang tertekan
Ds : (sensasi, elastisitas, 5. Monitor status nutrisi
Do : temperatur, hidrasi, pasien
- Warna kemerahan pada pigmentasi) 6. Memandikan pasien
anus Tidak ada luka/lesi dengan sabun dan air
- Kerusakan jaringan/ lesi pada kulit hangat
disekitar anus Perfusi jaringan baik
- Nyeri
- Hematom

D. ATRESIA ANI
1. Pengertian
Atresia ani/anus imperforata adalah malformasi congenital dimana rectum tidak
mempunyai lubang keluar (Walley,2012)
Menurut Ladd dan Gross (2010) anus imperforata dalam 4 golongan, yaitu:
a. Stenosis rektum yang lebih rendah atau pada anus
b. Membran anus yang menetap
c. Anus imperforata dan ujung rektum yang buntu terletak pada bermacam-
macam jarak dari peritoneum
d. Lubang anus yang terpisah dengan ujung
2. Etiologi
Secara pasti belum diketahui
Merupakan anomali gastrointestinal dan genitourinary
Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur, sehingga bayi
lahir tanpa lubang dubur
Gangguan pertumbuhan, fusi, dan pembentukan anus dari tonjolan
embriogenik
Kelainan bawaan

3. Web Of Cusation

Atresia Ani

Tidak ada pembukaan Hubungan abnormal


Usus besar melalui rectum dan vagina
anus
Kebocoran isi anus
Feses tidak bisa keluar

Feses masuk ke
uretra
Feses
Konstipasi
menumpuk

Mikroorganisme masuk
Tekanan intra abdomen ke saluran kemih

Infeksi saluran kemih


Mual dan muntah

Nafsu makan > Gangguan eliminasi


urin
Defisist Nutrisi

4. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa Tujuan Dan


Intervensi
Keperawatan Kriteria Hasil
Defisit nutrisi b.d: Setelah dilakukan 1. Kaji bising
tindakan keperawatan usus dan abdomen
DS: - selama ...... jam setiap 4 jam
DO: gangguan eliminasi 2. Ukur lingkar
- Feses / meconium teratasi dengan kriteria abdomen/ 24 jam
tidak keluar hasil: 3. Dilatasikan
- Distensi abdomen Penurunan distensi anal sesuai program.
- Bising usus (scorsing/huknah tiap
abdomen. pagi dan sore)
hipo/hiperaktif
- Teraba massa Meningkatnya 4. Pertahankan
abdomen atau rektal kenyamanan puasa dan berikan
- Perkusi tumpul Cairan dan serat terapi hidrasi IV sampai
- Muntah adekuat fungsi usus normal
Hidrasi adekuat
Konstipasi b.d Setelah dilakukan 1. Monitor tanda-tanda vital
Kelemahan otot tindakan keperawatan 2. Monitor tanda dan gejala
abdomen selama ...... jam diare, konstipasi, atau
Ketidakteraturan gangguan eliminasi pengerasan tinja
kebiasaan defekasi teratasi dengan kriteria 3. Monitor gerakan isi
hasil: usus, termasuk
Ketidakadekuatan
Mudah mengeluarkan frekuensi, konsistensi,
toileting d.d : tinja bentuk, volume, dan
DS : - warna, jika perlu
Ada bising usus
DO : 4. Monitor bising usus
Ada kekuatan otot
Feses keras 5. Monitor tanda dan gejala
untuk mengeluarkan
Mengejan saat ruptur bowel dan/atau
tinja
defekasi Mengeluarkan tinja peritonitis
Distensi abdomen tanpa bantuan 6. Evaluasi efek samping
Teraba masa pada - irigasi larutan, atau
abdomen atau rectal pengobatan oral pada
Bising usus gastrointestinal
hipo/hiperaktif 7. Evaluasi pencatatan
intake gizi

8. Timbang berat badan
secara teratur
9. Evaluasi inkontinensia
fekal
10.Kolaborasi dengan tim
medis

Gangguan eliminasi Tidak terjadi perubahan 1. Monitor eliminasi urin


urine b.d Iritasi kandung pola eliminasi BAK termasuk frekuensi,
kemih.d.d:
Diagnosa Tujuan Dan
Intervensi
Keperawatan Kriteria Hasil
DS: - setelah dilakukan konsistensi, bau, volume
DO:
tindakan keperawatan dan warna
Distensi kandung
kemih dengan KH: 2. Awasi intake dan output
Volume residu urinePasien dapat BAK dengan 3. Observasi hasil
banyak ( >Normal)
normal laboratorium
idak ada perubahan pada 4. Jaga kebersihan tangan
jumlah urine sebelum, selama dan
setelah tindakan
5. Bersihkan kulit sekitar
area genetalia secara
teratur
6. Kolaborasi dengan tim
medis

E. HYPERBILIRUBINEMIA
1. Pengertian
Hiperbilirubinemia merupakan salah satu fenomena klinis tersering ditemukan pada
bayi baru lahir, dapat disebabkan oleh proses fisiologis, atau patologis, atau
kombinasi keduanya.Ikterus neonatorum adalah suatu keadaan pada bayi baru lahir
dimana kadar bilirubin serum total lebih dari 10 mg% pada minggu pertama dengan
ditandai adanya ikterus yang bersifat patologis (lubis, 2013)
2. Etiologi
Polychetemia (Peningkatan jumlah sel darah merah) akibat dari diabetes millitus
pemerahan tali pusat, transfuse maternal-fetal, dan hipoksia janin.
Isoimmun Hemolytic Disease (kehamilan dan kelahiran resiko tinggi,
inkompatibilitas ABO atau RH, defisiensi G6PD, sepsis)
Kelainan struktur dan enzim sel darah merah
Ekskresi bilirubin yang terganggu
Defek metabolisme sel darah merah: defek enzim sel drah merah menggangu
fungsi erytrosit dan mempepedek entang hidup sel darah merah (misal:
defisiensi G6PD, defisiensi vyrupat kinase, defisensi heksokinase, serta porfiria
eritropoetik congenital)
Abnormalitas struktur sel daah merah: erytrosit berbentuk abnormal tak dapat
bersikulasi dengan baik dan dianggap asing oleh limpa yang mengakibatkan
peningkatan destruksi, misal: Sferositosis Infantile.
Keracunan obat (hemolisis kimia; salisilat, kortikosteroid, kloramfenikol)

a. Gangguan Resirkulasi dan ekskresi


1) Obstruksi usus, kelambatan penyaluran feses, struktural (stenosis atu
atresia) atau mekanisme (sumbatan ileus atu mekonium, stenosi pylorus,
Hirscpung dan fibosis kistikkehidupan.
2) Ikterus ASI terjadi setelah hari kelima kehidupan memuncak pada 3
minggu. Diakibatkan peningkatan sirkulasi enterohepatik bilirubin tak
tekonjugasi sekunde akibat faktor asi yang belum diketahui.

3. Web of Causation

HIPERBILIRUBIN

Sirkulasi
Gangguan
enterohepatik
fungsi hati

Pemecahan
Bilirubin lethargi bilirubin
Indirek

Malas minum Pengeluaran


(refleks hisap cairan empedu
Warna kulit
lemah) di usus
kuning

Menyusui Peristaltic
tidak efektif usus

Diare
Radiasi Fototerapi

Pengeluaran
volume cairan
Risiko
dan intake
kerusakan Perubahan Pemisahan
integritas suhu bayi dg orang
kulit lingkungan tua

Saraf Aferen Hipovolemia


Gangguan
peran orang
tua
Hipotalamus
Perubahan
vasokonstriksi Peran Orang
Tua

Penguapan

Risiko
Hipertermi

4. Diagnosa keperawatan
Diagnosa Tujuan Dan
Intervensi
Keperawatan Kriteria Hasil
Hipovolemia b.d Setelah dilakukan 1. Monitor vital sign
- Kehilangan cairan aktif tindakan keperawatan setiap 15menit 1-2
- Kehilangan selama..... jam defisit jam
mekanisme regulasi volume cairan teratasi 2. Monitor status
- Kekurangan intake dengan kriteria hasil: hidrasi (kelembaban
cairan Mempertahankan membran mukosa,
- Peningkatan urine output sesuai nadi adekuat,
permeabilitas kapiler dengan usia dan BB, tekanan darah
Evaporasi d.d : BJ urine normal, ortostatik ), jika
nadi, suhu tubuh diperlukan
DS : - dalam batas normal 3. Pertahankan catatan
DO: Suhu : 36.5C- 37.5C intake dan output
1. Penurunan turgor Nadi : 140-160x/mnt yang akurat
kulit/lidah RR : 40-60 x/mnt 4. Beri minum asi/ tiap
2. Membran mukosa/kulit Tidak ada tanda tanda 2-3 jam
kering dehidrasi, Elastisitas 5. Kolaborasi :
3. Peningkatan denyut nadi, turgor kulit baik, kemungkinan
4. Konsentrasi urine membran mukosa tranfusi
meningkat lembab, tidak ada rasa 6. Kolaborasi dengan
5. Temperatur tubuh
haus yang berlebihan DPJP
meningkat
Dalam pemberian
6. Kehilangan berat badan
IV line
secara tiba-tiba
7. Perubahan status mental

Risiko Hipertermia dd: Setelah dilakukan 1. Hangatkan bayi dalam


-Dehidrasi tindakan keperawatan incubator
-terpapar lingkungan panas selama . Jam pasien 2. Monitor tanda-tanda
menunjukkan : vital setiap 2 jam
-Peningkatan laju
Suhu tubuh dalam batas 3. Monitoring suhu
Diagnosa Tujuan Dan
Intervensi
Keperawatan Kriteria Hasil
metabolisme normal dengan kreiteria inkubator
-penggunaan fototerapi hasil: 4. Monitor gejala
suhu aksila 36.5 oC hipotermi
37.5 oC (lemah,apatis, warna
DS:- warna kulit merah kulit )
DO: muda 5. Pertahankan pakaian
Tidak ada distres bayi tetap kering, ganti
kenaikan suhu tubuh respirasi pakaian dan linen
diatas rentang normal Tidak menggigil yang basah segera
serangan atau konvulsi Bayi tidak gelisah mungkin
(kejang) Bayi tidak letargi 6. Ajarkan OT untuk
kulit kemerahan Kadar glukosa darah PMK (prlekatan
pertambahan RR dalam batas normal metode kanguru)
(>60x/menit) >60mg/dl
takikardi
Kulit teraba panas/
hangat.

Risiko integritas kulit d.d: Setelah dilakukan 1. Monitor kulit akan


- perubahan sirkulasi tindakan keperawatan adanya kemerahan
- perubahan status selama jam 2. Jaga kebersihan kulit
nutrisi(kelebihan/kekuran kerusakan integritas kulit agar tetap bersih dan
gan) pasien teratasi dengan kering
- kekurangan/kelebihan kriteria hasil: 3. Ajarkan keluarga
volume cairan Tidak ada luka/lesi untuk menjaga
- Terapi pada kulit kebersihan tangan
radiasi(fototerapi) Mampu melindungi 4. Mobilisasi pasien
- Kelembaban d.d : kulit dan (ubah posisi pasien)
DS: - mempertahankan setiap dua jam sekali
DO: kelembaban kulit 5. Kolaborasi
Kerusakan jaringan dan/ dan perawatan alami pemberian terapi
lapisan kulit topikal
Nyeri
Perdarahan
Kemerahan
Hematom

F. Berat Badan Lahir Rendah (Bblr)


1. Pengertian
Berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir dengan berat
badan pada saat kelahiran kurang dari 2500 gr atau lebih rendah (WHO, 2013).
2. Etiologi
a. Komplikasi obstetrik
1) Multipel gestation
2) Incompetence
3) Pro ( premature rupture of membran ) dan kirionitis
4) Pregnancy induce hypertention ( PIH )
5) Plasenta previa
6) Ada riwayat kelahiran premature
b. Komplikasi medis
1) Diabetes maternal
2) Hipertensi kronis

c. Faktor ibu
1) Penyaki
2) Usia ibu
3) Keadaan sosial ekonomi
4) Kondisi ibu saat hamil
3. Web of causation
Faktor Ibu Faktor plasenta Faktor Janin

BBLR

Prematuritas Fungsi organ-organ


Permukaan tubuh Jaringan lemak
belum baik
relative luas subkutan lebih
tipis

Penguapan Pemaparan
berlebih Kehilangan Kekurangan Penurunan Paru Otak kulit
dgn suhu Reflek menelan
luar panas melalui cadangan daya tahan
belum sempurna
kulit energi
Kehilangan Kehilangan Vaskuler Imaturitas Ginjal
cairan panas Paru imatur sentrum2 vital
Resiko
Malnutrisi
Infeksi mata
Dehidrasi Hipovolemia Insufisiensi
pernafasan
Hipoglikemi usus

Penyakit Defisit hati


membrane hialin Nutrisi

Pola nafas
tidak efektif
4. Diagnosa keperawatan

Diagnosa Tujuan Dan


Intervensi
Keperawatan Kriteria Hasil
Pola nafas tidak efektif Setelah dilakukan 1 Posisikan pasien kepala
b.d: tindakan keperawatan semi ekstensi
- Depresi pusat selama .. jam pasien 2 Auskultasi suara nafas,
pernafasan menunjukkan keefektifan catat adanya suara
- Kelemahan otot pola nafas, dibuktikan tambahan
pernafasan dengan kriteria hasil: 3 Monitor pola nafas
- hambatan upaya Retraksi dinding dada 4 Monitor vital sign/ 2 jam
nafas(kelemahan tidak ada 5 Pertahankan jalan nafas
otot pernafasan) CRT< 2 detik yang paten
- sindrome Cyanosis tidak ada 6 Kolaborasi :
hipoventilasi d.d: Nafas cuping hidung - Pemberian 02 sesuai
tidak ada saturasi advis DPJP
DS:- Tanda Tanda vital - Pemasangan CPAP jika
- Dispnea dalam rentang normal perlu
- Ortopnea (tekanan darah, nadi, - Pemberian therapi
pernafasan) injeksi
DO: Suhu : 36.5C-
- Penggunaan otot 37.5C
bantu nafas Nadi : 140-160x/mnt
- Fase ekspirasi RR : 40-60 x/mnt
memanjang
- Pola nafas abnormal
(takipnu, bradipnu,
hiperventilasi,
kusmaul)
- Diameter thorak
anterior posterior
meningkat
- Ventilasi menurun
- Pernafasan cuping
hidung
- Tekanan ekspirasi dan
inspirasi menurun

Hipotermi b.d: Setelah dilakukan 1. Hangatkan bayi dalam


- Kerusakan tindakan keperawatan incubator
hipotalamus selama .. jampasien 2. Monitor tanda-tanda vital
- Berat badan ekstrim menunjukkan : setiap 2 jam
- Kekurangan lemak Suhu tubuh dalam batas 3. Monitoring suhu
normal dengan kreiteria inkubator
subkutan
hasil: 4. Monitor gejala hipotermi
- Terpapar suhu
suhu aksila 36.5 oC (lemah,apatis, warna kulit
lingkungan rendah 37.5 oC )
- Penurunan laju warna kulit merah 5. Pertahankan pakaian
metabolisme muda bayi tetap kering, ganti
- Prematuritas Tidak ada distres pakaian dan linen yang
- Berat badan lahir respirasi basah segera mungkin
rendah Tidak menggigil 6. Ajarkan OT untuk PMK
DS : Bayi tidak gelisah (prlekatan metode
- Bayi tidak letargi kanguru)
Diagnosa Tujuan Dan
Intervensi
Keperawatan Kriteria Hasil
DO Kadar glukosa darah
- Kulit teraba dalam batas normal
dingin >60mg/dl
- Menggigil
- Suhu tubuh
dibawah normal
(36,5C)
- Akrosianosis
- Bradikardi
- Dasar kuku
sianosis
- Hipertensi
- Hipoglikemi
- Hipoksia
- CRT >3 detik
- Konsumsi O2
meningkat
- Kutis marmorata
Defisit nutrisi b.d: Setelah dilakukan 1. Kaji bising
tindakan keperawatan usus dan abdomen setiap
DS: - selama ...... jam 4 jam
DO: gangguan eliminasi 2. Ukur lingkar
- Feses / meconium teratasi dengan kriteria abdomen/ 24 jam
tidak keluar hasil: 3. Dilatasikan
- Distensi abdomen Penurunan distensi anal sesuai program.
- Bising usus (scorsing/huknah tiap pagi
abdomen. dan sore)
hipo/hiperaktif
- Teraba massa Meningkatnya 4. Pertahankan
abdomen atau rektal kenyamanan puasa dan berikan terapi
- Perkusi tumpul Cairan dan serat hidrasi IV sampai fungsi
- Muntah adekuat usus normal
Hidrasi adekuat

G. HYALINE MEMBRAN DISEASE (HMD)/SINDROM GAWAT NAFAS


1. Pengertian
HMD (Hyaline Membran Disease) merupakan suatu penyakit paru-paru akut
pada neonatus yang disebabkan karena kekurangan surfactant, terutama bayi
premature dimana suatu membrane yang tersusun atas protein dan sel-sel mati
melapisi alveoli sehingga membuat kesulitan untuk terjadinya pertukaran gas.
(Anik. 2009)
2. Etiologi
Prematuritas dengan paru-paru yang imatur (gestasi dibawah 32 minggu)
dan defisiensi surfactan
Bayi premature dengan operasi caesar
Penurunan suplay oksigen saat janin atau saat kelahiran pada bayi matur
atau prematur.
3. Web Of causation

Bayi lahir premature


Ketidakadekuatan Lapisam lemak
surfaktan belum terbentuk
pada kulit

Alveolus kolaps
Hipotermia

Ventilasi berkurang Hipoksia

Usaha nafas Cedera Pembentukan


paru membrane hialin

Takipneu
edema

Pola Nafas tidak Gangguan Mengendap di


efektif pertukaran alveoli
gas

Reflek hisap Penguapan

Ketidakadekuatan Risiko
intake Hipovolemia

Defsit Nutrisi

4. Diagnosa keperawatan
Diagnosa Tujuan Dan
Intervensi
Keperawatan Kriteria Hasil
Pola Nafas tidak efektif b.d : Setelah dilakukan 1 Posisikan pasien
- Depresi pusat tindakan kepala semi
pernafasan keperawatan ekstensi
- Kelemahan otot selama . jam 2 Auskultasi suara
pernafasan pasien nafas, catat adanya
- Imaturitas neurologis menunjukkan suara tambahan
- Penurunan energi keefektifan pola 3 Monitor pola nafas
- Sindrom hipoventilasi
nafas, dibuktikan 4 Monitor vital sign/ 2
dd:
dengan kriteria jam
DS:
hasil: 5 Pertahankan jalan
- Dispnea
Retraksi dinding nafas yang paten
- ortopnea
dada tidak ada 6 Kolaborasi :
DO:
CRT< 2 detik - Pemberian 02
- penggunaan otot bantu nafas
Cyanosis tidak sesuai saturasi
- fase ekspirasi memanjang
ada advis DPJP
- pola nafas abnormal (takipnu,
Nafas cuping - Pemasangan
bradipnu, hiperventilasi,
hidung tidak ada CPAP jika perlu
kusmaul)
Tanda Tanda - Pemberian
- diameter torak anterior
vital dalam therapi injeksi
posterior meningkat
rentang normal
- ventilasi segmenit menurun
(tekanan darah,
- pernafasan cuping hidung
nadi,
- tekanan ekspirasi dan
pernafasan)
inspirasi menurun
Suhu : 36.5C-
37.5C
Nadi : 140-
160x/mnt
RR : 40-60
x/mnt
Gangguan Pertukaran gas b.d : Setelah dilakukan 1. Monitor TTV/ 2 jam
- ketidakseimbangan perfusi tindakan 2. Monitor respirasi
ventilasi keperawatan dan status O2
- perubahan membran selama .. jam 3. Monitor jalan
kapiler-alveolar d.d : Gangguan nafas :
DS: pertukaran pasien bradipena,
- dispnoe teratasi dengan takipenia,
kriteria hasi: kussmaul,
DO: Tanda tanda hiperventilasi
- hiperkapni/hiperkarbi vital dalam 4. Auskultasi suara
- hipoksemi rentang normal nafas, catat area
- takikardi Suhu : 36.5C- penurunan / tidak
- kadar karbondioksida
37.5C adanya ventilasi
abnormal
Nadi : 140- dan suara
- pH arteri abnormal
- bunyi nafas tambahan 160x/mnt tambahan
- sianosis RR : 40-60 5. Auskultasi bunyi
- diaforesis x/mnt jantung, jumlah,
Diagnosa Tujuan Dan
Intervensi
Keperawatan Kriteria Hasil
- gelisah AGD dalam irama dan denyut
- pernafasan cuping batas normal jantung
hidung Ph :7.35-7,45 6. Catat pergerakan
- pola nafas abnormal PCO2 : 35-45 dada,amati
mmHg kesimetrisan,
PO2 : 80- penggunaan otot
100mmHg tambahan, retraksi
TCO2: 23- otot supraclavicular
27mmol/L dan intercostal
Saturasi O2: 95 7. Observasi sianosis
% khususnya
HCO3: 22- membran mukosa
26mEq/L 8. Jelaskan pada
CRT < 2 detik keluarga tentang
persiapan tindakan
dan tujuan
penggunaan alat
tambahan (O2,
Suction, Inhalasi)
9. Kolaborasi dengan
DPJP:
- Pemeriksaan
AGD, elektrolit
- Pemeriksaan
rontgen
- Pemberian
therapi injeksi

Hipotermi b.d Setelah dilakukan 1. Hangatkan bayi


- Kerusakan hipotalamus tindakan dalam incubator
- Berat badan ekstrim keperawatan 2. Monitor tanda-tanda
- Kekurangan lemak selama 2x 24 jam vital setiap 2 jam
subkutan pasien 3. Monitoring suhu
- Terpapar suhu menunjukkan : inkubator
lingkungan rendah Suhu tubuh dalam 4. Monitor gejala
- Penurunan laju batas normal hipotermi
metabolisme d.d : dengan kreiteria (lemah,apatis, warna
DS : hasil: kulit )
- suhu aksila 5. Pertahankan
DO 36.5 oC 37.5 pakaian bayi
o
- Kulit teraba dingin C tetap kering, ganti
- Menggigil warna kulit pakaian dan linen
- Suhu tubuh dibawah merah muda yang basah segera
35,5C Tidak ada mungkin
- Akrosianosis distres 6. Ajarkan OT untuk
- Bradikardi respirasi PMK (pelekatan
- Dasar kuku sianotik Tidak metode kanguru)
- Hipoksia menggigil
Bayi tidak
Diagnosa Tujuan Dan
Intervensi
Keperawatan Kriteria Hasil
- Hipoglikemi gelisah
- CRT > 3 detik Bayi tidak
- Konsumsi O2 meningkat letargi
- Laju metabolik Kadar glukosa
meningkat darah dalam
- Kadar gula darah batas normal
menurun >60mg/dl
- Vasokontriksi periver
- Kutis marmorata

H. SEPSIS

1. Pengertian

Sepsis neonatorum adalah semua infeksi pada bayi pada 28 hari pertama sejak
dilahirkan. Infeksi dapat menyebar secara nenyeluruh atau terlokasi hanya pada satu
orga saja (seperti paru-paru dengan pneumonia). Infeksi pada sepsis bisa
didapatkan pada saat sebelum persalinan (intrauterine sepsis) atau setelah
persalinan (extrauterine sepsis) dan dapat disebabkan karena virus (herpes, rubella),
bakteri (streptococcus B), dan fungi atau jamur (candida) meskipun jarang ditemui.
(John Mersch, MD, FAAP, 2009)
2. Etiologi
Bakteri escherichia Coli
Streptococus group B
Stophylococus aureus
Enterococus
Listeria monocytogenes
Klepsiella
Entererobacter sp
Pseudemonas aeruginosa
Proteus sp
Organisme anaerobic

3. Web of caution

Sepsis Neonatorum

. Infeksi sistemik
mll peredaran
darah
Instabilitas Saluran Saluran Sistem
termoregulasi napas cerna kardiovaskuler

Hipotermi Perubahan ambilan Hipotensi,kulit


Mual,muntah,
dan penggunaan anoreksia lembab,pucat,
oksigen sianosis

Dispnea,takipnea Defisit Nutrisi


,apnea

pola napas
tidak efektif

4. Diagnosa keperawatan

Diagnosa Tujuan Dan


Intervensi
Keperawatan Kriteria Hasil
Pola Nafas tidak efektif Setelah dilakukan 1. Posisikan pasien
b.d : tindakan keperawatan kepala semi
- Depresi pusat selama 3x 24 jam pasien ekstensi
pernafasan menunjukkan keefektifan 2. Auskultasi suara nafas,
- Kelemahan otot pola nafas, dibuktikan catat adanya suara
pernafasan dengan kriteria hasil: tambahan
- Imaturitas neurologis Retraksi dinding dada 3. Monitor pola nafas
- Penurunan energi tidak ada 4. Monitor vital sign/ 2
- Sindrom hipoventilasi CRT< 2 detik jam
dd: Cyanosis tidak ada 5. Pertahankan jalan
DS: Nafas cuping hidung nafas yang paten
- Dispnea tidak ada 2. Kolaborasi :
- ortopnea Tanda Tanda vital - Pemberian 02 sesuai
DO: dalam rentang normal saturasi advis DPJP
- penggunaan otot bantu (tekanan darah, nadi, - Pemasangan CPAP
nafas pernafasan) jika perlu
- fase ekspirasi Suhu : 36.5C- 37.5C - Pemberian therapi
memanjang Nadi : 140-160x/mnt injeksi
- pola nafas abnormal RR : 40-60 x/mnt
(takipnu, bradipnu,
hiperventilasi, kusmaul)
- diameter torak anterior
posterior meningkat
- ventilasi segmenit
menurun
- pernafasan cuping
Diagnosa Tujuan Dan
Intervensi
Keperawatan Kriteria Hasil
hidung
- tekanan ekspirasi dan
inspirasi menurun
Hipotermi b.d: Setelah dilakukan 7. Hangatkan bayi
- Kerusakan hipotalamus tindakan keperawatan dalam incubator
- Berat badan ekstrim selama .. jampasien 8. Monitor tanda-tanda
- Kekurangan lemak menunjukkan : vital setiap 2 jam
subkutan Suhu tubuh dalam batas 9. Monitoring suhu
- Terpapar suhu normal dengan kreiteria inkubator
lingkungan rendah hasil: 10. Monitor gejala
- Penurunan laju
suhu aksila 36.5 oC hipotermi
metabolisme
37.5 oC (lemah,apatis, warna
- Prematuritas
- Berat badan lahir warna kulit merah kulit )
rendah muda 11. Pertahankan pakaian
DS : Tidak ada distres bayi tetap kering,
- respirasi ganti pakaian dan
DO Tidak menggigil linen yang basah
- Kulit teraba dingin Bayi tidak gelisah segera mungkin
- Menggigil Bayi tidak letargi 12. Ajarkan OT untuk
- Suhu tubuh Kadar glukosa darah PMK (prlekatan
dibawah normal dalam batas normal metode kanguru)
(36,5C) >60mg/dl
- Akrosianosis
- Bradikardi
- Dasar kuku
sianosis
- Hipertensi
- Hipoglikemi
- Hipoksia
- CRT >3 detik
- Konsumsi O2
meningkat
- Kutis marmorata
Defisit nutrisi b.d: Setelah dilakukan 1. Kaji bising
tindakan keperawatan usus dan abdomen
DS: - selama ...... jam gangguan setiap 4 jam
DO: eliminasi teratasi dengan 2. Ukur
- Feses / meconium tidak kriteria hasil: lingkar abdomen/ 24
keluar Penurunan distensi jam
- Distensi abdomen 3. Dilatasikan
- Bising usus abdomen. anal sesuai program.
hipo/hiperaktif Meningkatnya (scorsing/huknah tiap
- Teraba massa abdomen kenyamanan pagi dan sore)
atau rektal Cairan dan serat 4. Pertahanka
- Perkusi tumpul adekuat n puasa dan berikan
- Muntah Hidrasi adekuat terapi hidrasi IV
sampai fungsi usus
normal
I. HIRSCHPRUNG
1. Pengertian
Hirschsprung (megakolon/aganglionic congenital) adalah anomali kongenital yang
mengakibatkan obstruksi mekanik karena ketidakadekuatan motilitas sebagian usus
(Wong, 2014).
2. Etiologi
Penyebab tidak diketahui, tetapi ada hubungan dengan kondisi genetic
Mutasi pada Ret proto-onkogen telah dikaitkan dengan neoplasia endokrin 2A
atau 2B pada penyakit Hirschsprung familiar
Gen lain yang berhubungan dengan penyakit Hirschsprung termasuk sel
neurotrofik glial yang diturunkan dari factor gen, dari factor gen endhotelin-B,
dan gen endothelin
Penyakit Hirschprung juga terkait dengan Down syndrome, sekitar 5-15% dari
pasien dengan penyakit Hirschprung juga memiliki trisomi 21

HIRSCHSPRUNG

Absorbsi air Respons Obstruksi Mual, muntah,


tidak normal psikologis Kolon distal kembung,
5. Web of Causation
misinterpretasi anoreksia
perawatan dan
Penurunan pengobatan Konstipasi Distensi
intake cairan abdomen
Intake nutrisi
Obstruksi tidak adekuat,
Nyeri
Risiko Kurangnya kolon kehilangan
akut
hipovolemia pengetahuan proksimal cairan dan
elektrolit
Intervensi Kongesti,
Intake cairan pembedahan edema
dinding
usus Defisit
Pasca Nutrisi
operasi
Risiko Syok
Iskemia
hipovolemia
nekrosis
Kerusakan
Port de entre dinding
jaringan
luka
pasca bedah
pembedahan

Risiko Infeksi Nyeri Risiko Injuri


akut
4. Diagnosa keperawatan

Diagnosa Tujuan Dan


Intervensi
Keperawatan Kriteria Hasil
Nyeri Akut b.d agen Setelah dilakukan 1. Lakukan pengkajian nyeri
pencedera fisiologis d.d asuhan keperawatan secara komprehensif
DS: - selama .. jam termasuk lokasi,
DO: karakteristik, durasi,
diharapkan nyeri
Tampak meringis frekuensi, kualitas dan
dapat teratasi dengan faktor presipitasi
Bersikap protektif
kriteria hasil: 2. Observasi reaksi
(mis.waspada, posisi
Tanda vital dalam nonverbal dari
menghindari nyeri)
rentang normal ketidaknyamanan
Gelisah
Frekuensi nadi 3. Kaji kultur yang
meningkat mempengaruhi respon
nyeri
Sulit tidur
4. Kontrol lingkungan yang
TD meningkat
dapat mempengaruhi
Pola napas berubah nyeri seperti suhu
Nafsu makan berubah ruangan, pencahayaan
Proses berpikir dan kebisingan
terganggu 5. Kurangi faktor presipitasi
Menarik diri nyeri
Berfokus pada diri 6. Pilih dan lakukan
sendiri penanganan nyeri
Diaforesis (farmakologi, non
farmakologi)
7. Kaji tipe dan sumber
nyeri untuk menentukan
intervensi
8. Evaluasi keefektifan
kontrol nyeri
9. Tingkatkan istirahat
10. Kolaborasikan pemberian
analgesik
Defisit nutrisi b.d: Setelah dilakukan 1. Kaji bising usus
tindakan keperawatan dan abdomen setiap 4 jam
DS: - selama ...... jam 2. Ukur lingkar
DO: gangguan eliminasi abdomen/ 24 jam
- Feses / meconium tidak teratasi dengan 3. Dilatasikan
keluar kriteria hasil: anal sesuai program.
Diagnosa Tujuan Dan
Intervensi
Keperawatan Kriteria Hasil
- Distensi abdomen Penurunan distensi (scorsing/huknah tiap pagi
- Bising usus dan sore)
hipo/hiperaktif abdomen. 4. Pertahankan
- Teraba massa abdomen Meningkatnya puasa dan berikan terapi
atau rektal kenyamanan hidrasi IV sampai fungsi
- Perkusi tumpul Cairan dan serat usus normal
- Muntah adekuat
Hidrasi adekuat
Hipovolemia b.d Setelah dilakukan 7. Monitor vital sign setiap
- Kehilangan cairan aktif tindakan keperawatan 15menit 1-2 jam
- Kehilangan selama..... jam defisit 8. Monitor status hidrasi
mekanisme regulasi volume cairan teratasi (kelembaban membran
- Kekurangan intake dengan kriteria hasil: mukosa, nadi adekuat,
cairan Mempertahankan tekanan darah ortostatik ),
- Peningkatan urine output sesuai jika diperlukan
permeabilitas kapiler dengan usia dan 9. Pertahankan catatan
Evaporasi d.d : BB, BJ urine intake dan output yang
normal, akurat
DS : - nadi, suhu tubuh 10. Beri minum asi/ tiap 2-3
DO: dalam batas jam
2. Penurunan turgor normal 11. Kolaborasi : kemungkinan
kulit/lidah Suhu : 36.5C- tranfusi
3. Membran mukosa/kulit 37.5C 12. Kolaborasi dengan DPJP
kering Nadi : 140- Dalam pemberian IV line
4. Peningkatan denyut 160x/mnt
nadi, RR : 40-60 x/mnt
5. Konsentrasi urine Tidak ada tanda
meningkat tanda dehidrasi,
6. Temperatur tubuh
Elastisitas turgor
meningkat
kulit baik, membran
7. Kehilangan berat
mukosa lembab,
badan secara tiba-tiba
8. Perubahan status tidak ada rasa haus
mental yang berlebihan

J. TRANSIENT TACHYPNEA OF THE NEWBRON


1. Pengertian
Transient tachypnea of the newborn (TTN) adalah keadaan bayi baru lahir
(newborn)
mengalami pernapasan yang cepat dan butuh usaha tambahan dari normal karena
kondisi di paru-paru. Sekitar 1% dari bayi baru lahir mengalami hal ini
dan umumnya menghilang setelah beberapa hari dengan tatalaksana yang optimal.
(Stefano, 2015).
2. Etiologi
Bayi premature (paru-paru bayi premature belum cukup matang)
Penyerapan cairan paru janin terganggu disebabkan oleh gangguan penyerapan
cairan paru janin dari sistem limfatik paru dan gangguan mekanik misal bayi lahir
dengan caesar
Pulmonary immature atau Tidak adanya phosphatidylglycerol pada cairan amnion
(pematangan paru)
Kekurangan surfaktan ringan
3. Web Of Causation

Transient Tachypnea Of
The Newbron

Inflasi Paru

Peningkatan tekanan
hidrolik

Cairan pindah ke interstisial

Perbedaan cairan
interstisial di lumen Volume darah dan
paru paru meningkat
Perbedaan
kandungan
Perbedaan tekanan protein
osmotik Sesak

Aborbsi
protein kurang
Tekanan intrathorakal Pola nafas tidak
efektif

Refleks hisap menurun

Defisit
nutrisi

4. Diagnosa Keperawatan

Tujuan Dan
Diagnosa Keperawatan Intervensi
Kriteria Hasil
Pola Nafas tidak efektif Setelah dilakukan 1. Posisikan
berhubungan dengan : tindakan keperawatan pasien kepala semi
- Depresi pusat selama 3x 24 jam pasien ekstensi
pernafasan menunjukkan keefektifan 2. Auskultasi
- Kelemahan otot pola nafas, dibuktikan suara nafas, catat
pernafasan dengan kriteria hasil: adanya suara
- Imaturitas neurologis Retraksi dinding dada tambahan
- Penurunan energi tidak ada 3. Monitor
- Sindrom hipoventilasi CRT< 2 detik pola nafas
dd: Cyanosis tidak ada 4. Monitor
DS: Nafas cuping hidung vital sign/ 2 jam
- Dispnea tidak ada 4. Pertahanka
- ortopnea Tanda Tanda vital n jalan nafas yang
DO: dalam rentang normal paten
- penggunaan otot bantu (tekanan darah, nadi, 5. Kolaborasi :
nafas pernafasan) - Pemberian 02 sesuai
- fase ekspirasi Suhu : 36.5C- 37.5C saturasi advis DPJP
memanjang Nadi : 140-160x/mnt - Pemasangan CPAP
- pola nafas abnormal RR : 40-60 x/mnt jika perlu
(takipnu, bradipnu, - Pemberian therapi
hiperventilasi, kusmaul) injeksi
- diameter torak anterior
posterior meningkat
- ventilasi segmenit
menurun
- pernafasan cuping
hidung
- tekanan ekspirasi dan
inspirasi menurun
Defisit nutrisi DD Setelah dilakukan 1. Kaji bising
- Ketidak mampuan tindakan keperawatan usus dan abdomen
menelan makanan selama 1x24 jam setiap 4 jam
- Ketidak mampuan gangguan eliminasi 2. Ukur lingkar
mencerna makanan teratasi dengan kriteria abdomen/ 24 jam
- Ketidak mampuan hasil: 3. Dilatasikan
mengabsorbsi nutrisi Penurunan distensi anal sesuai program.
d.d: (scorsing/huknah tiap
abdomen. pagi dan sore)
DS:
DO: Meningkatnya 4. Pertahanka
- Distensi abdomen kenyamanan n puasa dan berikan
- Bising usus Cairan dan serat terapi hidrasi IV
hipo/hiperaktif adekuat sampai fungsi usus
- Teraba massa abdomen Hidrasi adekuat normal
atau rektal
- Perkusi tumpul
- Muntah
-
DAFTAR PUSTAKA

Alimul, Hidayat A. 2011. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak I. Jakarta: Salemba medika.

Anonim I, Five Common Cause of Neonatal Lung Disease, Learnin Radiology, 2015.

Anonim II, Imaging in Transient Tachypnea of the Newborn. Medicine.medscape.com.


articel/ 2015.

Bulecheck, Gloria M., Butcher, Howard K., Dochterman, J. McCloskey. 2012.Nursing


Interventions Classification (NIC). Fifth Edition.Iowa : Mosby Elsavier.
Donna, L. Wong. 2012. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Edisi 4.EGC : Jakarta.

Herdman, T. Heather. 2015. Nanda international Inc. Diagnosa keperawatan:Definisi &


klasifikasi. EGC: Jakarta

http://medicastore.com/penyakit/903/Penyakit_Hirschprung.html. di download pada hari rabu


04 Agustus mei 2016 jam 05.40.

Jhonson,Marion. 2012. Iowa Outcomes Project Nursing Classification (NOC). St. Louis
,Missouri ; Mosby.

Moorhead sue, Jhonson Marion, L maas meridean, Swanson Elizabeth. 2016. Nursing
Outcome Classification (NOC). Edisi 5 Elsevier: United Kingdom

Moorhead sue, Jhonson Marion, L maas meridean, Swanson Elizabeth. 2016. Nursing
Income Classification (NIC). Edisi 6 Elsevier: United Kingdom

Mutaqin, Arif dan Kumala Sari .2011. Gangguan Gastrointestinal, Aplikasi Asuhan
Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta : Salemba Medika.

NANDA International. 2012. Nursing Diagnoses : Definitions & Classifications 2012-2014.

Ngastiah.2011. Perawatan Anak Sakit. EGC. Jakarta

Price, S. A. Wilson, L. M. 2012. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit


(terjemahan).Edisi 4.EGC : Jakarta. Nugroho,

Taufan. 2011. Asuhan Keperawatan Maternitas Anak, Bedah dan Penyakit Dalam.
Yogyakarta : Nuha Medika.

Sodikin.2011. Asuhan Keperawatan Anak, Gangguan Sistem Gastronintestinal dan


Hepatobilier. Jakarta : Salemba Medika.