Anda di halaman 1dari 8

MENETAPKAN BENTUK, UKURAN DAN PERKEMBANGAN STRUKTUR

TANAH SECARA MUDAH DAN CEPAT DI LAPANGAN

Sruktur tanah merupakan gumpalan-gumpalan agregasi kecil dari butiran-butiran tanah


yang mempunyai bentuk, ukuran dan perkembangan tertentu. Gumpalan ini terjadi karena butir-
butir pasir, debu dan liat terikat satu sama lain oleh perekat seperti : bahan organic, kapur, oksida
besi dll (Anwar, 2009). Pada daerah dengan curah hujan yang tinggi umumnya ditemukan
struktur tanah remah atau gramuler dipermukaan dan dan semakin menggumpal pada horison
bawah. Struktur tanah ini dalam perkembangannya terbentuk melalui agregasi berbagai partikel
tanah yang menghasilkan bentuk dan susunan tertentu pada tanah (McCarty, 2001). Agregasi
struktur tanah juga menentukan ukuran dan jumlah rongga antar partikel tanah yang
mempengaruhi pergerakan aerasi air, udara, akar tumbuhan,dan organisme tanah. Beberapa
bentuk struktur tanah ada yang kecil (granular, lepas), sedang (kubus, kubus tajam, dan baji) dan
besar (prismatic dan kolumnar).Tanah yang dikatakan tidak berstruktur bila butir-butir tanah
tidak melekat satu sama lain disebut lepas, pada tanah pasir atau yang saling melekat menjadi
satu satuan yang padu dan kompak disebut dengan massive atau pejal ((USDA, 2010).

Tanah yang berstruktur baik mempunyai tata udara yang baik, unsur-unsur hara lebih
mudah tersedia dan mudah diolah. Struktur tanah yang baik di lapangan biasanya bentuknya
membulat sehingga tidak dapat saling bersinggungan dengan rapat dan bukan dari tekstur tanah
liat (clay). Akibat struktur tanah yang baik maka keberadaan pori-pori tanah banyak yang
terbentuk, di samping itu tanah tidak mudah rusak sehingga pori-pori tanah tidak cepat tertutup
bila terjadi hujan (Neri, Schaefer, Souza, Ferreira-Junior, & Meira-Neto, 2013).

Manfaat yang diperoleh dengan diketahuinya bentuk, ukuran dan perkembangan


struktur tanah, misalnya untuk struktur tanah yang berukuran besar seperti kubus atau kolumnar,
akan berakibat (Sallata, 2016): (a) infiltrasi semakin lambat, (b). permeabilitas semakin lambat,
(c) perkolasi semakin lambat, (d) kadar air semakin tinggi, (e) porositas semakin rendah, (f)
aerasi semakin rendah, dan (g) pengolahan tanah semakin berat atau sulit.

A. BENTUK STRUKTUR
Sembilan bentuk struktur tanah yang ada di lapangan, yaitu meliputi struktur tanah yang
kecil, sedang, besar dan tidak berstruktur, antara lain (lihat Gambar 1) :
1. GR. Struktur tanah Kersai/Granular : bidangnya banyak tidak beraturan, tidak
membentuk permukaan sekeliling ped. menyerupai biskuit remah dan biasanya
kurang dari 0,5 cm diameter. umumnya ditemukan di lapisan permukaan di mana akar
tumbuh
2. KA. Struktur tanah Gumpal/Kubus/Angular Blocky : berbidang banyak, bidang muka
saling berpotongan membentuk sudut lancip
3. KM. Struktur tanah Kubus Membulat/Blocky : berbidang banyak, bidang muka saling
berpotongan membentuk sudut membulat. balok tidak teratur yang biasanya 1,5-5 cm
4. LP. Struktur tanah Lempeng/Platy : rata dan plat horizontal. Tipis, seperti tanah piring
datar yang terletak horizontals. biasanya ditemukan di tanah yang mengalami
pemadatan.
5. PP. Struktur tanah Prisma/Prismatic : panjang vertical dengan bagian atas rata. kolom
vertikal memanjang yang panjangnya beberapa cm. biasanya ditemukan di lapisan
yang lebih rendah
6. TC. Struktur tanah Tiang/Columnar : panjang vertical dengan bagian atas membulat,
bagian atas dan bawah sama besar. kolom vertikal memanjang yang memiliki topi
bergaram di atas. ditemukan pada tanah beriklim kering
7. BW. Struktur tanah Baji/Wedge : lonjong seperti mata kampak, ujungnya membentuk
ujung tajam
8. BS. Struktur tanah Butiran tunggal/Single grain : tidak berstruktur, seluruhnya tidak
padu sepeti pasir lepas. Tanah terpecah menjadi partikel individu yang tidak saling
menempel. Selalu disertai konsistensi lepas. umumnya ditemukan di tanah berpasir.
9. PM. Struktur tanah Pejal/Massive : tidak berstruktur, materi berupa satu kesatuan
pedon yang padu dan tidak selalu tersementasi. Struktur bebatuan berbutir dari
kondisi asal yang beku dan mengganggu, ditandai dengan susunan acak mineral
pembentuk batuan. Batu dengan tekstur masif dikontraskan dengan batu kelabu dan
berlapis.
KM.Kubus (Blocky) GR. Butiran/Kersai TC. Tiang/Kolumnar
(Granulare) (Columnar)
//// /////////////////

LP. Lempeng (Platy) PP.Prismatik (Prismatic) BS. Butir Tunggal/Lepas


(Remah)
////

BW. Baji/Mata Kampak KA. Kubus tajam (Angular) PM.Pejal (Massive)


(Wedge)
Gambar 1. Bentuk Struktur Tanah di Lapangan

B. PERKEMBANGAN STRUKTUR
Dengan semakin sering diolah dan diberikan pupuk kandang maka semakin lama
agregasi tanah perkembangan struktur semakin menguat. Pada lahan yang terlantar atau bero
sehingga tanah menajdi marginal maka perkembangan struktur sangat lemah. Untuk mengetahui
perkembangan struktur tanah dapat dilakukan dengan cara meremas dengan tanah, jika tanah
mudah hancur berarti perkembangan struktur lemah dan sebaliknya jika saat diremas tanah tetap
utuh bahkan sulit untuk dihancurkan maka perkembangan struktur kuat (lihat Tabel 1).
Tabel 1. Tingkat Perkembangan Agregasi Struktur Tanah
Perkembangan Kode KRITERIA PERKEMBANGAN STRUKTUR
Struktur Tanah
Tak berstruktur 0 Tampak tidak berbentuk ketika diatas tanah
Lemah (Weak) 1 Terbentuk jika diletakkan pada tanah tetapi mudah hancur
ketika diremas
Sedang (Medium) 2 Tampak jelas strukturnya sebagian masih utuh ketika
diremas
Kuat (Strong) 3 Kemantapan cukup kuat, masih utuh ketika diremas

C. UKURAN STRUKTUR

Dari bentuk dan perkembangan agregasi struktur tanah, maka akan berakibat ukuran
struktur tanah di lapangan berbeda-beda (Tabel 2), yaitu : a). sangat halus (VF), b). halus (FN),
c). sedang (MD), d). kasar (KC), e). sangat kasar (VC), dan f) ekstrim kasar (EC).

Tabel 2. Variasi Ukuran Struktur Tanah di Lapangan


Ukuran Struktur Kode KELOMPOK KELAS STRUKTUR
Struktur (cm)
Kecil : Sedang : Besar :
GR, LP KA, KM, PP, TC,
BW
Sangat halus (Very Fine) VF <1 < 10 <5
Halus (Fine) FN 12 10 20 5 - 10
Sedang (Medium) MD 25 20 50 10 - 20
Kasar (Coarse) KC 5 10 50 -100 20 - 50
Sangat Kasar (Very Coarse) VC >10 100 - 500 >50
Ekstrim Kasar (Extreem Coarse) EC >500
Sumber : (USDA, 2010)

D. PENETAPAN STRUKTUR
Penetapan struktur tanah hanya dapat dilakukan di lapangan dan tidak bisa ditetapkan di
laboratorium karena jika dibawa ke laboratorium maka bongkahan tanah mengalami kerusakan
selama dalam perjalanan. Sebenarnya penetapan struktur di lapangan dapat dilakukan secara
mudah dan cepat, hanya dengan 3 langkah yaitu :
1. Ambil bongkahan tanah satu cangkulan yang besar.
2. Jatuhkan bongkahan tanah tadi setinggi dada
3. Lihat bentuk yang dominan dari pecahan bongkahan tanah yang dijatuhkan
Selanjutnya ambil bongkahan tanah yang paling dominan dan amati dengan seksama, maka akan
terlihat apakah berbentuk butiran granular, bongkahan besar kubus, atau lempengan lembaran.

E. KETERKAITAN STRUKTUR DAN TEKSTUR

Bentuk struktur tanah sangat dipengaruhi oleh komposisi jenis tekstur tanah yang ada di
lapangan. Tekstur tanah yang kasar seperti pasir (sand) maka bentuk struktur cenderung kecil
seperti ramah atau lepas, sebaliknya jika struktur tanah lebih banyak mengandung lait (clay)
maka bentuk struktur tanah cenderung besar seperti kubus atau kolumnar (lihat Tabel 3).

Tabel 3. Keterkaitan Tekstur Tanah dan Struktur Tanah di Lapangan


SIMBOL TEKSTUR UKURAN TEKSTUR STRUKTUR TANAH
1 S Sand Sangat Kasar Remah
2 LS Loamy Sand
3 SL Sandy Loam Kasar Granular
4 SiL Silty Loam
5 L Loam
6 Si Silty Sedang Granular kasar
7 SCL Sandy Clay Loam Halus Kubus kecil
8 SiCL Silty Clay Loam Tiang kecil
9 CL Clay Loam Sub angular
10 SC Sandy Clay Sangat Halus Kubus bongkah
11 SiC Silty Clay Kolumnar besar
12 C Clay Pejal, Lempeng
Sumber : (United States Department of Agriculture, 1987) (Soils.usda.gov, 2011)
F. HUBUNGAN STRUKTUR DENGAN ORDO TANAH
Struktur tanah membantu dalam penetapan nama tanah di lapangan, karena struktur
tanah yang ada mencerminkan sifat biofisik sebagai penciri dari ordo tanah. Berikut beberapa
bentuk struktur tanah yang terkati dengan nama ordo tanah :
- Struktur massif/pejal terdapat pada ordo tanah Gelisols, Entisols
- Struktur remah terdapat pada ordo tanah Andisols, Oxisols. Mollisols, Entisols,
Spodosols, Aridisols
- Struktur granular terdapat pada ordo tanah Entisols, Inceptisols, Alfisols, Ultisols,
Spodosols
- Struktur kubus terdapat pada ordo tanah Vertisol, Alfisols, Ultisols
- Struktur kolumnar terdapat pada ordo tanah Vertisol
- Tak berstruktur terdapat pada ordo tanah Histosols.
Berikut beberapa pengkodean contoh struktur tanah pada berbagai jenis ordo tanah yang
ditemui di lapangan (Gambar 2) :

1. PP1FN adalah stuktur tanah prismatic (PP) dengan tingkat perkembangan lemah (1) dan
ukuran struktur tanah halus (FN) berkisar 5-10 cm.
2. PP3KC adalah struktur tanah prismatic (PP) dengan tingkat perkembangan kuat (3) dan
ukuran struktur tanah kasar berkisar 20-50 cm
3. GR1VF adalah struktur tanah granular (GR) dengan tingkat perkembangan lemah (1) dan
ukuran struktur tanah sangat halus < 1 cm
4. BS adalah struktur tanah butir tunggal lepas (BS).
PP1FN. Struktur granular besar sampai kubus PP3KC.Struktur kubus sampai kolumnar tanah
tanah Ultisols di Sijemblung, Banajrnegara Vertisols di Wuryantoro, Wonogiri

GR1VF.Struktur Granular sangat halus tanah BS.Struktur lepas (loose) tanah Entisols di
Inceptisols di Lahan Pekarangan di Dieng, pantai berpasir di Karanggadung, Kebumen
Wonosobo
Gambar 2. Contoh Struktur Tanah pada Berbagai Ordo Tanah di Lapangan

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, E. K. (2009). Efektivitas Cacing Tanah Pheretima hupiensis , Edrellus sp . dan
Lumbricus sp . dalam Proses Dekomposisi Bahan Organik. J. Tanah Trop., 14(2), 149158.
McCarty, J. P. (2001). Ecological Consequences of Recent Climate Change. Conservation
Biology, 15(2), 320331. https://doi.org/10.1046/j.1523-1739.2001.015002320.x
Neri, A. V., Schaefer, C. E. G. R., Souza, A. L., Ferreira-Junior, W. G., & Meira-Neto, J. A. A.
(2013). Pedology and plant physiognomies in the cerrado, Brazil. Anais Da Academia
Brasileira de Ciencias, 85(1), 87102. https://doi.org/10.1590/S0001-37652013000100007
Sallata, M. K. (2016). PARTISIPASI PETANI PADA PENERAPAN TEKNIK REHABILITASI
LAHAN DAN KONSERVASI TANAH DI WILAYAH DAS MIKRO (Farmers Particiption
on Application of Land Rehabilitation and Soil Conservation Engineering on Micro
Watershed). Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 5 No.2, Agustus 2016: 171-184,
5(November 2013), 171184.
Soils.usda.gov. (2011). Exploring Soil Texture. UW-CMN: For-CLIMATE Fall 2011 Course, 5,
710. Retrieved from http://soils.usda.gov/education/resources/lessons/texture/
United States Department of Agriculture. (1987). USDA Textural Soil Classification. Soil
Mechanics Level I Module 3 - USDA Textural Soil Classification.
USDA, S. S. S. (2010). Keys to Soil Taxonomy, 2010. Keys to Soil Taxonomy. United States
Department of Agriculture (USDA) (Eleventh E). United States Department of Agriculture
Natural Resources Conservation Service.