Anda di halaman 1dari 4

PENANGANAN BENCANA LONGSOR DI BANJARNEGARA

BENY HARJADI
Peneliti Utama (IV ) bidang Pedologi dan Penginderaan Jauh di BP2TPDAS Solo
d

Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai,


Balitek DAS-Solo, Balitbang dan Inovasi, Kementerian LHK
Jl. Ahmad Yani Pabelan Po. Box. 295, Solo
Telp. 0271-716759 e-mail :adbsolo@yahoo.com
Pada saat musim hujan pada daerah yang berpotensi longsor akan terjadi
bencana longsor yaitu ditunjukkan adanya korban jiwa dan material. Jika longsor
tidak sampai menimbulkan korban jiwa maka termasuk pada daerah rawan longsor.
Begitu juga pemberitaan di media masa dari elektronik sampai majalah dan Koran akan
gencar jika ada kerugian jiwa dan harta benda. Pada bulan Desember 2014 telah
terjadi longsor di Banjarnegara tepatnya di Dusun Jemblung Desa Sampang, Kecamatan
Karang Kobar, Banjarnegara, Jawa Tengah. Korban jiwa yang meninggal ada 95 orang
yang ditemukan dan rumah yang rusak ada 105 rumah, dan masih ada 1 rumah tersisa.
Selanjutnya pada tanggal 26-27 Maret 2016 terjadi longsor di Desa Clapar, Kec.
Madukara yang menyebabkan 258 jiwa mengungsi. Terakhir pada tanggal 25
September 2016 terjadi longsor lagi di Desa Sidengok, Kec. Pejawaran yang memakan
korban 9 orang meninggal dunia (Gamabr 1).

Gambar 1. Beberapa Kecamatan di Banjarnegara yang Berpotensi Longsor


Beberapa faktor yang mempengaruhi tanah longsor, adalah: 1) topografi, 2)
tanah dan batuan penyusun, 3) tingkat curah hujan, 4) vegetasi/hutan, dan 5) gempa
bumi (Mardiatno et al., 2001). Tanah longsor akan terjadi jika terpenuhi tiga keadaan,
yaitu: 1) lereng cukup curam, 2) terdapat bidang peluncur (batuan) di bawah
permukaan tanah yang kedap air, dan 3) terdapat cukup air (hujan) yang masuk ke
dalam pori-pori tanah di atas lapisan batuan kedap sehingga tekanan tanah terhadap
lereng meningkat (Brook et al., 1991). Max Suter (2004) menyebutkan bahwa longsor
akan terjadi pada daerah yang memiliki sesar yang masih aktif, dan dapat dipantau
dengan seismografi. Begitu juga longsor akan semakin meningkat pada daerah dengan
landskap pegunungan yang terjal dan banyak tanaman hutan yang ditebang
(Montgomery et al., 2000). Pada tanaman hutan yang sudah tua dan dilakukan
pemanenan untuk memenuhi kebutuhan industri kayu dapat meningkatkan potensi
terjadinya longsor (Schmidt et al., 2001.

Sebaliknya beberapa daerah yang dikatakan aman dari longsor dicirikan oleh :
a). Kemiringan Lereng, tidak terlalu miring artinya daerah yang memiliki kemiringan
lereng kurang dari 15%, atau kalau orang berjalan tidak perlu membungkuk; b). Tidak
ada sesar atau tanah stabil, artinya sama sekali tidak ada tanda-tanda tanah bergerak
atau mengalami retakan tanah; c). Kedalaman regolit tanah atau kedalaman tanah
sampai pada lapisan bahan induk (batuan lunak) tidak lebih dari 2 m; d). Tidak adanya
mineral Montmorillonit tipe 2:1 dan Kaolinit tipe 1:1 yang biasa dicirikan adanya tekstur
tanah liat dengan warna merah/hitam (lengket dan kembang kerut); dan e). Tidak ada
lapisan kedap air sebagai bidang luncur akibat adanya batuan metamorf yang padu dan
berlapis-lapis.

Beberapa tindakan pencegahan sebelum longsor maupun sesudah longsor


harus segera dilakukan untuk mencegah terjadi bencana longsor yang berlangsung
terus menerus seperti di Banjarnegara. Pertama mengenal ciri-ciri daerah berpotensi
longsor dan jenis atau tipe longsor yang ada di daerah tersebut (Gambar 2). Setelah
mengetahui tingkat longsor dan jenis longsor pada suatu daerah selanjutnya dilakukan
tindakan konservasi tanah dan air (Tabel 1 dan 2).
Jenis Longsor yang kebanyaka ada di setiap kecamatan di banjarnegara dengan
berbagai tipe longsor antara lain : (1).Jatuhan (Falls) > JF, (2).Longsor (Slide) > LS,
(3).Aliran (Flows) > AF, (4).Rayapan (Creep) > RC, dan (4).Bandang (Debris) > BD.

RC
LS
AF

BD
JF
Gambar 2. Beberapa Tipe atau Jenis Longsor di Banjarnegara

Tabel 1. Macam Longsor dan Rekomendasi Konservasi Tanah yang Disarankan

No Kecamatan Jenis Tingkat Kepadata Penggunaa Rekomendas


. (Luas) Longso Kerawana n n Lahan i
r n Penduduk
1. Batur LS, AF Sangat 784 Kebun sayur- M8, V4, K3
4.717,56 ha Rawan sayuran
2. Pejawaran AF Sangat 793 Sayuran dan M3, V5, K2
5.224,97 ha Rawan Hutan Rakyat
3. Wanayasa AF Rawan 543 Hutan Rakyat V2, K2/K3
8.201,13 ha
4. Karangkobar RC, AF Sangat 709 Pekaranagan M6, V2, K2/K3
3.906,94 ha Rawan Sayuran
5. Pagentan RC Sangat 771 Pemukiman M3, V3, K3
4.618,98 ha Rawan Tegalan
6. Madukoro RC Agak Rawan 843 Pekarangan M6, V3, K3
4.820,15 ha
7. Banjarmang JF, LS Rawan 851 Hutan Rakyat M7, V5, K3
u
4.635,61 ha
Keterangan : Jenis Longsor : LS (Longsor/Slide), Rekomendasi : M8 (Mekanik dengan konservasi air mekanis)

Tabel 2. Rekomendasi RLKT (Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah)

Mekanis (M) Vegetatif (V) Kimiawi (K)

1. Dam Pengendali 1. Tanaman semusim 1. Pupuk Kimia


2. Dam Penahan 2. Tanaman perdu 2. Pupuk Kompos
3. Pengendali Jurang 3. Tanaman penguat teras 3. Pupuk Kandang
4. SPA/Drop Struktur 4. Tanaman tepi sungai
5. Teras Saluran/Rorak 5. Tanaman kakisu (kanan
6. Bangunan Terasering kiri sungai)
7. Stream bank protection
8. Konservasi air mekanis

DAFTAR PUSTAKA

Brook, K.N., Folliott, P. F., Gregersen, H.M., & Thames, J.K. (1991). Hy-drology and the
management of wa-tersheds. Ames, USA: Iowa State University Press.
Mardiatno, D., Woro, S., Sulaswono, B., Budiani, S.R., & MarfaI, M.A. (2001).
Penelitian daerah rawan longsor dan sistem penanggu-langannya di Kabupaten
Gunung Kidul. Prosiding Hasil-hasil Pene-litian Fakultas Geografi, UGM (pp. 36-
42).
Max Suter. (2004). A neotectonic-geo-morphologic investigation of the prehistoric rock
avalanche dam-ming laguna de metztitln (Hidalgo State, east-central Mexico).
Revista Mexicana de Ciencias Geolgicas, 21(3), 397-411.
Montgomery, D.R., Schmidt, K.M., Greenberg, H.M., & Dietrich, W.E. (2000). Forest
clearing and regional landsliding. Geology, 28(4), 311-314.
Schmidt K.M., Roering, J.J., Stock, J.D., Dietrich, W.E., Montgomery, D.R., & Schaub,
T. (2001). The varia-bility of root cohesion as an influ-ence on shallow landslide
suscep-tibility in the Oregon Coast Range. Can. Geotech. J. 38, 995-1024.