Anda di halaman 1dari 24

PERAN IBU DALAM PENDIDIKAN

SEKSUALITAS PADA REMAJA

PENDAHULUAN

Masa remaja merupakan salah satu periode terpenting dalam kehidupan


manusia. Salah satu sebabnya karena masa remaja merupakan masa transisi
yang menghubungkan masa kanak-kanak dan masa dewasa yang mencakup
perubahan biologis, kognitif dan sosial emosional. Memahami arti remaja adalah
hal yang penting karena remaja adalah masa depan setiap masyarakat.
Beberapa tahapan yang terjadi pada masa remaja akan menjadikan mereka
mengalami kematangan alat-alat seksual dan tercapainya kemampuan
bereproduksi yang disertai dengan perubahan-perubahan dalam pertumbuhan
somatis dan perspektif psikologis atau dengan kata lain remaja berkembang dari
makhluk aseksual menjadi makhluk seksual (Santrock, 2010; Hurlock, 2009).
Penduduk remaja dunia yang berusia 10-19 tahun terus meningkat. Jumlah
remaja menurut National Adolescent Health Information Center (NAHIC) tahun
2003, diperkirakan meningkat dari 18,5% di tahun 1980 menjadi 45% pada tahun
2025 (Hurlock, 2009; Knopf,2005). Sedangkan berdasarkan hasil Sensus
Penduduk Indonesia tahun 2010 sebesar 26,8% atau 63 juta jiwa dari total
jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah 233 juta jiwa adalah remaja dengan
rentang usia 10-24 tahun. Tingginya jumlah remaja tentunya akan diikuti dengan
adanya masalah-masalah yang berhubungan erat dengan remaja (BPS, 2010).

Salah satu masalah remaja yang krusial adalah adanya perilaku menyimpang
yang semakin marak dilakukan oleh remaja. Data survei Kesehatan Reproduksi
Remaja (15-19 tahun) tahun 2009 oleh Badan Pusat Statistik (BPS, 2010)
tentang perilaku remaja terhadap kesehatan reproduksi didapatkan fakta yang
mencengangkan sekaligus memilukan. Data tersebut menyebutkan bahwa dari
10.833 remaja laki-laki yang disurvei, 72 persen mengaku telah berpacaran,
diantaranya yaitu 10.2 persen mengaku telah berhubungan seks dan 62 persen
mengaku telah melakukan petting. Sedangkan dari hasil survey terhadap 8.340
remaja putri diperoleh 77 persen mengaku sudah berpacaran, 6.3 persen
mengaku telah melakukan seks dan 63 persen mengaku telah melakukan
petting. Data menurut UNAIDS tahun 2008 pada Global Report on the AIDS
Epidemic bahwa 45% dari kasus baru infeksi HIV adalah remaja yang berusia
2

15-24 tahun (BPS, 2008).

Fenomena Nasional tersebut mencerminkan beberapa daerah di Indonesia


seperti Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Seperti dikemukakan
dalam penelitian oleh Suryoputro dkk (2006) bahwa di Jawa Tengah sebanyak
5% mahasiswa mengaku telah berhubungan seks sebelum menikah. Demikian
juga dengan para remaja di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasar data
dan survei yang dilakukan Pusat Studi Seksualitas (PSS) Perkumpulan Keluarga
Berencana Indonesia (PKBI) tahun 2006 sebanyak 15% remaja telah melakukan
hubungan seksual sebelum menikah. Sebanyak 85% dilakukan pertama pada
usia 13-15 tahun. Hubungan seksual pada remaja dilakukan oleh 12,1% pelajar
SMA dan 4,8% pelajar SMP di Yogyakarta(PKBI, 2010).

Meskipun persentase remaja yang melakukan hubungan seksual pranikah masih


lebih rendah dibandingkan dengan beberapa negara tetangga, akan tetapi hal
tersebut tetap perlu untuk mendapat perhatian yang serius. Mengingat remaja
yang aktif secara seksual mempunyai risiko untuk hamil dan tertular infeksi
menular seksual (IMS). Enam puluh persen remaja yang pernah mengalami
kehamilan berakhir dengan aborsi. Hampir 20 juta dari 46 juta adalah unsafe
abortions dan 13% berakhir dengan kematian. Berbagai hal tersebut
mengakibatkan peningkatan kerentanan remaja terhadap berbagai macam
penyakit, terutama yang berhubungan dengan kesehatan seksual dan
reproduksi, termasuk ancaman yang meningkat terhadap HIV/AIDS. Akumulasi
kasus HIV/AIDS di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 1993 s.d. 2008 nampak
bahwa 12.54% adalah golongan usia 20-24 tahun dan sebanyak 37.31% berusia
25-29 yang mana merupakan golongan umur remaja dan dewasa
muda.(Suryoputro, 2006) Bukti lain dari maraknya perilaku seksual remaja
berisiko adalah data dari Kantor Kementerian Agama yang menyatakan bahwa
adanya peningkatan tajam pernikahan di bawah umur yaitu usia untuk laki-laki
kurang dari 19 tahun dan untuk perempuan kurang dari 16 tahun yang mayoritas
terjadi karena kehamilan yang tidak diinginkan (KTD).

Efek dari perubahan sosio ekonomi, modernisasi dan globalisasi telah


mengakibatkan lebih banyak kebebasan dan otonomi bagi remaja, dan banyak
yang menjadi semakin liberal dalam ide-ide, sikap dan perilaku seks dan
3

seksualitas. Kurangnya informasi mengenai kesehatan reproduksi yang


komprehensif, pendidikan dan layanan yang tidak tersedia bagi remaja, sehingga
mereka lebih memilih untuk mencari jawaban atas pertanyaan mereka dari
sumber-sumber yang justru menimbulkan berbagai pengaruh, termasuk media
massa. Penyebab lain yang ditengarai sebagai penyebab timbulnya perilaku
seks pranikah pada remaja antara lain karena rendahnya pengetahuan tentang
kesehatan reproduksi, kurangnya penghargaan diri dan rasa percaya diri dari
para remaja.(Noor, 2004).

Sangat sedikit remaja yang mendapatkan informasi berkaitan dengan kesiapan


fisik dan psikologis menghadapi masa remaja khususnya dalam hal menghindari
risiko, penyalahgunaan dan eksploitasi dari kehamilan tidak diinginkan serta
infeksi menular seksual termasuk HIV. Dari beberapa penelitian di dunia yang
diakomodir oleh UNAIDS tahun 2008 hanya 40% remaja berusia 15-24 tahun
yang memiliki pengetahuan baik mengenai HIV dan penularannya. Padahal
diketahui bahwa pengetahuan tentang seksualitas sangat perlu dimiliki oleh
remaja dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi perubahan baik fisik
maupun psikologis pada masa remaja. Remaja sangat membutuhkan informasi
mengenai seksualitas. Akan tetapi secara spesifik remaja tidak mendapatkan
informasi mengenai seksualitas dari sekolah. Padahal pendidikan seksualitas
merupakan salah satu dari hak remaja seperti tertuang dalam beberapa
kesepatan internasional yang mengandung banyak manfaat. Beberapa manfaat
pendidikan seksualitas adalah mengurangi informasi yang keliru, meningkatkan
pengetahuan yang tepat, menguatkan nilai dan sikap positif, meningkatkan
keterampilan dalam mengambil keputusan, mempengaruhi persepsi dalam
hubungan sebaya dan norma sosial, meningkatkan komunikasi dengan orang tua
sehingga pada akhirnya diharapkan akan menghindarkan remaja atau menunda
hubungan seksual, menurunkan frekuensi dari aktivitas seksual yang tidak aman,
mengurangi jumlah pasangan dalam aktivitas seksual, meningkatkan proteksi
akan kehamilan yang tidak diinginkan dan infeksi menular seksual. Oleh karena
itu, peran orang tua perlu dioptimalkan mengingat beberapa hal di atas.
(Sitomurang, 2003)

Masalah yang ada dalam pendidikan seksualitas selain hal di atas juga karena
hal ini masih merupakan sesuatu yang kontroversial. Beberapa pihak
4

menakutkan pendidikan seksualitas justru akan membuat remaja menjadi


permisif terhadap seks bebas. Oleh karena itu, pemerintah membuat pendekatan
pendidikan seksualitas melalui pendekatan moralitas dibandingkan dengan
pendekatan kesehatan. Salah satunya adalah pendidikan seksualitas melalui
keluarga. Seperti yang tertuang dalam Adolescent health and development in the
context of the Convention on the Rights of the Child dalam United Nation Comitte
on the Rights of the child pada 1 Juli 2003 yang menyebutkan dalam comment 4
poin b bahwa dalam orang tua harus memberikan dukungan dalam
perkembangan diri remaja termasuk menamankan rasa percaya dan
kepercayaan diri dalam hal seksualitas dan menurunkan gaya hidup yang
berisiko dengan dapat memfasilitasi diskusi secara terbuka dan dapat
memberikan solusi yang terbaik (BKKBN, 2008; Unesco, 2009; Sitomurang,
2003).

.
PENDIDIKAN SEKSUALITAS

Seks dan Seksualitas


Manusia adalah makhluk seksual. Seksualitas adalah semua yang berhubungan
dengan manusia sebagai makhluk seksual yaitu secara fisik, emosi, kepribadian,
sikap dan lain-lain. Seksualitas berasal dari kata seks yang memiliki beberapa
arti, yaitu antara lain : jenis kelamin, reproduksi, organ reproduksi, rangsangan
atau gairah seksual, hubungan seks, orientasi seksual (Sprecher, 1995).

Seks adalah perbedaan badani atau biologis perempuan dan laki-laki, yang
sering disebut jenis kelamin, berbeda dengan gender yang berarti pembedaan
jenis kelamin berdasarkan peran yang dibentuk oleh masyarakat/ budaya
tertentu. Seksualitas menyangkut berbagai dimensi yang sangat luas, yaitu
dimensi biologis, sosial, perilaku dan kultural.

Seksualitas dari dimensi biologis berkaitan dengan organ reproduksi dan alat
kelamin, termasuk bagaimana menjaga kesehatan dan memfungsikan secara
optimal organ reproduksi dan dorongan seksual. Seksualitas dari dimensi
psikologis erat kaitannya dengan bagaimana menjalankan fungsi sebagai mahluk
seksual, identitas peran atau jenis peran. Dimensi sosial melihat pada
5

bagaimana seksualitas muncul dalam hubungan antar manusia, bagaimana


pengaruh lingkungan dalam membentuk pandangan tentang seksualitas yang
akhirnya membentuk perilaku seks, sedangkan dimensi perilaku menerjemahkan
seksualitas menjadi perilaku seksual, yaitu perilaku yang muncul berkaitan
dengan dorongan atau hasrat seksual. Dimensi kultural menunjukan perilaku
seks menjadi bagian dari budaya yang ada di masyarakat (BKKBN, 2010).

Seksualitas merupakan aspek fundamental dari kehidupan seseorang yang


meliputi dimensi fisik, psikologis, spiritual, sosial, ekonomi, politik dan dimensi
budaya. Saat ini masih sangat sedikit remaja yang menerima informasi dan hal
lain yang berkaitan dengan kesiapan untuk menhadapi kehidupan seksual
mereka.

Pendidikan Seksualitas
Pendidikan seksualitas adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas
manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan,
kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan
aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan. Masalah pendidikan
seksual yang diberikan sepatutnya berkaitan dengan norma-norma yang berlaku
di masyarakat, apa yang dilarang, apa yang dilazimkan dan bagaimana
melakukannya tanpa melanggar aturan-aturan yang berlaku di masyarakat
(Sarlito, 2011).

Pendidikan seksualitas merupakan cara pengajaran atau pendidikan yang dapat


menolong remaja untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada
dorongan seksual. Pendidikan seksual selain menerangkan tentang aspek-aspek
anatomis dan biologis juga menerangkan tentang aspek-aspek psikologis dan
moral. Pendidikan seksual yang benar harus memasukkan unsur-unsur hak asasi
manusia. Juga nilai-nilai kultur dan agama diikutsertakan sehingga akan
merupakan pendidikan akhlak dan moral juga.(Sarlito, 2011).

Pendidikan seksualitas yang efektif dapat memberikan sesuatu kepada remaja


sesuai dengan kebutuhan mereka berupa informasi-informasi yang tepat. Melalui
pendidikan seksualitas remaja dapat menggali sikap dan nilai-nilai yang mereka
yakini dan kemudian mempraktikkan bagaimana cara membuat keputusan dan
6

keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan untuk membuat


sebuah keputusan atau informed choice dalam kehidupan seksual mereka.
Pendidikan seksualitas yang efektif merupakan sebuah bagian yang vital dari
pencegahan HIV/AIDS (Unesco, 2009).
Remaja memiliki hak untuk mendapatkan informasi yang benar dan akurat
mengenai seksualitas. Hal tersebut telah dituangkan dalam beberapa
kesepakatan Internasional antara lain(Unesco, 2009) :
1. United Nations Commitee on the Rights of the Child (CRC/GC/2003/4, 1 Juli
2003) paragraf 26.
Remaja memiliki hak untuk mendapatkan informasi yang adekuat dan penting
untuk kesehatan dan perkembangannya sehingga mereka akan mampu
berpartisipasi secara penuh di masyarakat. Penyediaan informasi ini baik di
sekolah maupun luar sekolah yang meliputi informasi mengenai penggunaan
dan penyalahgunaan tembakau dan alkohol atau obat-obatan lain, perilaku
seksual yang aman dan diterima masyarakat, pengaturan makan dan
aktivitas psikologis lainnya.(7)
2. International Conference on Population and Development (ICPD) dalam POA
paragraf 7.
dukungan kepada remaja seharusnya diberikan secara menyatu antara
pendidikan seksualitas dan pelayanan kesehatan untuk remaja dengan orang
tuanya memberikan dukungan serta bimbingan kepada anak remajanya.
Remaja sangat membutuhkan pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan,
penularan HIV/AIDS dan infeksi menular seksual yang lain, prevalensi
penggunaan NAPZA dan hal-hal yang berhubungan dengan perilaku
seksual.(7)
3. United Nation Fourth World Conference on Women (FWCW) : Platform for
Action (PFA) di paragraf 107.
Mengakui kebutuhan khusus para remaja dan mengimplementasi program
yang sesuai seperti pendidikan dan informasi mengenai seksualitas dan isu-
isu mengenai kesehatan reproduksi seperti mengenai infeksi menular seksual
termasuk didalamnya informasi mengenai HIV/AIDS adalah merupakan hak
anak dan merupakan kewajiban atau tugas dari orang tua.

Tujuan dan Manfaat Pendidikan Seksualitas


Pendidikan seksualitas yang efektif merupakan bagian yang terpenting dari
7

program pencegahan HIV dan peningkatan derajat kesehatan reproduksi para


remaja termasuk didalamnya menghidari risiko infeksi menular seksual,
kehamilan tidak diinginkan, pelecehan dan kekerasan seksual, dan risiko-risiko
lain yang mengancam kesehatan reproduksi remaja (Unesco, 2009).

Pendidikan seksualitas yang efektif dapat memberi manfaat sebagai berikut :


Mengurangi misinformasi yang dimiliki remaja.
1. Meningkatkan pengetahuan yang benar.
2. Mengklarifikasi dan menguatkan nilai-nilai positif dalam bersikap.
3. Meningkatkan keterampilan remaja untuk membuat keputusan dan bertindak.
4. Memperkuat persepsi mengenai bagaimana berperilaku dalam lingkungan
kelompok sebaya dan norma-norma sosial.
5. Meningkatkan komunikasi dengan orang tua dan orang dewasa lain yang
dipercaya.
Oleh karena itu diharapkan pendidikan seksual dapat mencapai tujuannya
sebagai berikut :
1. Penundaan dalam aktivitas seksual.
2. Menurunkan frekuensi aktivitas seksual yang tidak aman.
3. Menurunkan jumlah pasangan seksual.
4. Meningkatkan proteksi diri dari kehamilan yang tidak diinginkan dan infeksi
menular seksual.
5. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman yang benar mengenai
seksualitas.
6. Membentuk perasaan, nilai-nilai dan sikap yang benar dalam bertindak.
7. Membangun dan memperkuat keterampilan-keterampilan.
8. Usaha promosi kesehatan untuk menurunkan risiko perilaku seksual
menyimpang.

Materi Pendidikan Seksualitas


Topik pendidikan seksualitas dibagi menurut kebutuhan si anak dan remaja.
Menurut International Technical Guidance on Sexuality Education yang disusun
oleh UNESCO (2009) bahwa tahapan pemberian materi dalam pendidikan
seksualitas dikelompokkan menjadi empat level, yaitu :
1. Level 1 untuk usia 5 s.d. 8 tahun
2. Level 2 untuk usia 9 s.d. 12 tahun
8

3. Level 3 untuk usia 12 s.d. 15 tahun


4. Level 4 untuk usia 15 s.d. 18 keatas

Menurut International Technical Guidance on Sexuality Education secara umum


materi yang harus disampaikan pada remaja awal sebagai berikut :
1. Key Concept 1: Relationship :
a. Families
b. Friendship, love and romantic relationship
c. Tolerance and Respect
d. Long term Commitment, Marriage and Parenting
2. Key Concept 2: Values, Attitude and Skills :
a. Values, attitudes and sources of sexual learning
b. Norms and peer influence on sexual behaviour
c. Decision making
d. Communication, refusal and negotiation skills
e. Finding help and support
3. Key Concept 3: Culture, Society and Human Rights :
a. Sexuality, culture and human rights
b. Sexuality and the media
c. The social construction of gender
d. Gender-based violence including sexual abuse, exploitation and harmfull
practices
4. Key Concept 4: Human Development :
a. Sexual and reproductive anatomy and physiology
b. Reproduction
c. Puberty
d. Body Image
e. Privacy and Body Integrity
5. Key Concept 5: Sexual Behaviour:
a. Sex, sexuality and the sexual life cycle
b. Sexual behaviour and sexual response
6. Key Concept 6: Sexual and reproductive health
a. Pregnancy prevention
b. Understanding, recognising and reducing the risk of STIs, including HIV
c. HIV and AIDS stigma, care, tratment and support

Bahan Pegangan Proses Belajar Aktif Kesehatan Reproduksi Remaja usia 10-14
tahun oleh PKBI, BKKBN dan digunakan di Indonesia berisi materi :
9

1. Diriku dan tubuhku


a. Bagian-bagian tubuhku.
b. Mengenal organ-organ reproduksi.
c. Pemeliharaan kebersihan organ-organ reproduksi.
2. Perubahan pada diriku.
a. Mengenali perubahan tubuh.
b. Mengenali perubahan emosi.
3. Kematangan seksual.
a. Haid/ menstruasi pada perempuan.
b. Mimpi basah pada laki-laki.
c. Proses pembuahan dan kehamilan.
4. Hubungan seksual dan akibat-akibatnya.
a. Apa yang disebut seks.
b. Akibat hubungan seksual terhadap masa remaja.
c. Kekerasan seksual.
5. Keterampilan hidup.
a. Bertanggungjawab.
b. Bagaimana menolak ajakan.
c. Mengembangkan kepercayaan diri.

Peran Orang Tua Dalam Pembinaan Anak Remaja


Mengasuh dan membesarkan anak remaja membutuhkan pengetahuan dan
keterampilan yang berbeda dibandingkan dengan membesarkan anak balita. Hal
ini dikarenakan adanya perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja
selain pertumbuhan fisik juga adanya kemampuan lain yang dimilki anak seperti
kemampuan berpikir, menganalisis, membandingkan, mengkritik, dan
sebagainya (Wahyudi, 2000).

World Health Organization (WHO) membagi peran orang tua dalam lima
dimensi, dimana masing-masing peran dapat memberikan pengaruh yang besar
pada kesehatan pada remaja, yaitu:
1. Hubungan kasih sayang (connection love)
Stabilitas emosional antara orang tua dan anak merupakan faktor yang
sangat penting dalam perkembangan anak dan remaja. Hubungan kasih
sayang ini berbentuk bahwa orang tua menyayangi dan menerima apa
10

adanya keadaan anak dan remaja. Bentuk nyata dari dimensi kasih sayang
ini adalah adanya hubungan antara orang tua kepada anaknya yang hangat,
penuh kepedulian dan kasih sayang, ada kenyamanan, perhatian dan
dukungan.
2. Mengontrol perilaku (behavioral control)
Kontrol perilaku ini bertujuan agar anak dapat selalu dalam keadaan aman
dan bertahan dari beberapa risiko yang dapat menyerang kesehatan mereka
dengan memberlakukan aturan dirumah dan diluar rumah, melakukan
monitoring terhadap aktivitas remaja termasuk didalamnya menjelaskan
tentang akibat-akibat dari perilaku menyimpang sehingga remaja dapat lebih
berhati-hati dalam membawa dirinya ke dalam lingkungan pergaulan.
3. Perhatian (respect for individuality)
Orang tua berkewajiban menanamkan nilai-nilai agar para remaja dapat
bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan
memperhatikan apa yang dikatakan oleh anak remaja dan memasukkan opini
anak remajanya ini kedalam aturan yang disepakati dalam keluarga tersebut.
4. Keteladanan (modelling of appropiate behaviour)
Dalam hidup bermasyarakat tentu ada norma-norma yang mengikat dalam
perilaku sehari-hari. Misalnya norma agama, sosial yang harus dilakukan
oleh semua orang. Demikian pula anak dan remaja. Dalam melakukan
norma-norma tersebut haruslah orang tua terlebih dahulu memberi teladan
kepada anak-anaknya sehingga norma tersebut dapat dilakukan pula oleh
anak dan remaja.
5. Tindakan pencegahan dan pembentengan (provision and protection)
Tindakan ini dapat berupa adanya ketersediaan sarana dan prasana yang
dibutuhkan oleh remaja seperti pemenuhan kebutuhan nutrisi, sandang,
papan dan fasilitas yang dibutuhkan para anak dan remaja untuk
mendapatkan tumbuh kembang yang optimal untuk menghindari dari
keadaan yang tidak sesuai dengan keadaan anak seharusnya.

Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya, oleh
karena itu dalam mengantarkan anak remajanya ke alam dewasa ada beberapa
peran yang harus dijalankan orang tua (Wahyudi,2000), yaitu:
1. Pendidik, sebagai pendidik orang tua wajib memberikan bimbingan dan
arahan kepada anak remajanya sebagai bekal dan benteng mereka untuk
11

menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi. Nilai-nilai agama yang


ditanamkan orang tua kepada anaknya sejak dini merupakan acuan dan
bekal agar kelak remaja dapat membentuk rencana hidup yang mandiri,
disiplin dan bertanggungjawab.
2. Panutan; anak dan remaja memerlukan model panutan di lingkungannya.
Orang tua merupakan model/panutan dan menjadi tokoh teladan bagi
remajanya. Pola tingkah lakunya, cara berekspresi, cara berbicara orang tua
yang pertama kali dilihat mereka, yang kemudian dijadikan panutan dalam
kehidupannya. Orang tua harus selalu memberi contoh dan keteladanan bagi
anak dan remajanya baik perkataan, sikap maupun perbuatan.
3. Pendamping; orang tua wajib mendampingi remaja agar mereka tidak
terjerumus ke dalam pergaulan yang membawanya ke dalam kenakalan
remaja dan tindakan yang merugikan diri sendiri. Namun demikian,
pendampingan hendaknya dilakukan secara bersahabat dan lemah lembut.
Sikap curiga dari orang tua justru akan menciptakan jarak antara anak dan
orang tua serta kehilangan kesempatan untuk melakukan dialog secara
terbuka dengan anak dan remaja.
4. Konselor; peran orang tua sangat penting dalam mendampingi remaja,
ketika mereka menghadapi masa-masa sulit dalam mengambil keputusan.
Sebagai konselor orang tua dituntut untuk tidak menghakimi, tetapi dengan
jiwa besar justru merangkul remaja bila sedang mengalami masalah dan
membantu menyelesaikan masalah tersebut.
5. Komunikator; hubungan yang baik antara orang tua dan anak remajanya
akan sangat membantu dalam pembinaan mereka. Apabila hubungan antara
orang tua dan anaknya terjalin dengan baik, maka satu sama lain akan
terbuka dan saling mempercayai. Segala kesulitan yang dihadapi anaknya
akan dapat teratasi, sehingga mereka tidak akan mencari teman atau orang
lain dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Remaja akan merasa
aman dan terlindungi bila orang tua dapat menjadi sumber informasi, serta
teman yang dapat diajak bicara tentang kesulitan atau masalah mereka.
Salah satu cara yang ideal untuk membina hubungan dengan anak dan
remajanya adalah menjadi sahabat atau teman.
6. Teman/ sahabat; sebagai teman/sahabat anak remaja akan lebih terbuka
dalam menyampaikan permasalahan yang dihadapinya. Sebagai orang tua
hendaknya mampu berperan seperti pohon yang kuat dan rindang, akarnya
12

menghujam ke dalam tanah sehingga bisa memberikan makan pada dahan


dan daun sehinggap pohon bisa menghasilkan buah yang segar dan tidak
busuk.

Penanaman Nilai Moral Kepada Anak Remaja


Moral dapat diartikan sebagai dorongan yang ada dalam diri manusia untuk
berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang baik. Moralitas anak dan remaja
ditentukan oleh nilai-nilai moral dalam bentuk sifat, sikap, tindakan dan perilaku
manusia yang mengarah pada kebaikan. Moral bersifat universal dan melekat
pada diri seseorang, karenanya setiap orang yang berperilaku tidak baik akan
dicap sebagai orang yang tidak bermoral. Atas dasar ini maka setiap orang, anak
dan remaja semestinya memiliki nilai-nilai moral yang baik. Nilai-nilai moral yang
perlu dimiliki anak remaja, diantaranya :
1. Keimanan dan ketaqwaan yaitu percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan
mengamalkan segala yang diperintahkan serta menghindari segala
laranganNya.
Dalam menanamkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada anak
remajanya, orang tua mengajarkannya dengan memberi teladan melalui
sikap dan perilaku sehari-hari seperti menjalankan ibadah, mengajak dialog
anak remaja terkait dengan masalah agama seperti penyalahgunaan
narkoba, perilaku seksual menyimpang, dan perbuatan lain yang melanggar
hukum, mengajarkan anak untuk tidak berburuk sangka pada orang lain yang
belum tentu berbuat jahat dan tidak iri hati terhadap keberhasilan orang lain.
2. Kerajinan dan keuletan, yaitu menyediakan waktu dan tenaga untuk
menyelesaikan tugasnya dan memiliki kemauan keras dalam mencapai
tujuan, cita-cita dan hasil yang terbaik.
Menanamkan sikap rajin dan ulet dalam kehidupan keluarga berkaitan
dengan kemampuan orang tua dan remaja untuk terus berusaha tanpa
mengenal lelah dalam meraih keberhasilan dan tidak menyerah dan putus
asa ketika mengalami kegagalan.
3. Kepedulian.
Menanamkan sikap peduli terhadap lingkungan siapa saja tanpa
membedakan suku, agama, gender yang akan menciptakan keseimbangan
hidup keberagaman. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajak anak
13

berkunjung ke panti asuhan untuk memberikan sesuatu, membantu saudara,


teman atau tetangga yang mengalami musibah.
4. Disiplin dan bertanggungjawab.
Disiplin dan tanggung jawab merupakan sikap yang harus tertanam dalam
pribadi seseorang karena disiplin dan tanggung jawab semua menjadi tertib
dan lancar. Orang tua seyogyanya menerapkan sikap disilpin dan tanggung
jawab dengan cara belajar menepati waktu dalam setiap tugas, menepati janji
sesuai kesepakatan bersama, berani bertanggung jawab atas segala
tindakan dan siap menerima risiko apapun atas segala perilakunya.
5. Sopan santun.
Orang tua perlu mananamkan sikap sopan santun sedini mungkin pada anak,
orang tua harus memperlihatkan melalui sikap dan perilakunya sehari-hari
seperti ketika pulang ke rumah mengucapkan salam, ketika berangkat
berpamitan, mengucapkan terima kasih saat mendapatkan bantuan,
mengucapkan maaf saat melakukan kesalahan dan lebih menghormati yang
lebih tua.
6. Kasih sayang.
Setiap agama mengajarkan kepada umatnya supaya memiliki rasa kasih
terhadap sesama. Setiap orang memerlukan kasih sayang yang tulus ikhlas.
Menanamkan rasa kasih sayang dalam kehidupan keluarga dapat dilakukan
dengan cara memberikan perhatian penuh secara tulus dan ikhlas, tidak
bersikap kasar, memberikan bantuan sesuai kebutuhan.
7. Percaya diri.
Percaya diri membuat seseorang merasa nyaman dengan diri sendiri,
meskipun merasa tidak terlalu pandai atau tidak sehebat orang lain. Percaya
diri seseorang merupakan sifat yang melekat pada dirinya tidak bisa datang
secara tiba-tiba melainkan harus ditanamkan oleh orang tua terhadap anak
remajanya.
8. Kebanggaan.
Sikap menghargai diri sendiri atas segala tugas atau pekerjaan yang telah
selesai dilaksanakan secara bijaksana sesuai prestasi yang telah dicapainya
sekecil apapun. Namun bangga disini tetap harus wajar, tidak berlebihan dan
menjurus kepada kesombongan.
9. Kreativitas.
Ungkapan yang perlu ditanamkan kepada anak dan remaja kita agar menjadi
14

orang kreatif, yaitu memiliki banyak ide/gagasan untuk melakukan sesuatu


yang menghasilkan karya-karya baru yang bermanfaat dan berguna bagi
dirinya maupun orang lain.
10. Kebersihan.
Bersih merupakan keadaan diri dan lingkungan yang bebas dari kotoran,
sampah dan polusi. Perilaku bersih merupakan tindakan terpuji. Perilaku
yang menunjukkan kebersihan antara lain membiasakan mandi dan gosok
gigi teratur, membereskan tempat tidur sendiri, membuang sampah pada
tempatnya, membersihkan lingkungan sekitar, mencuci baju dan piring
sendiri.

Komunikasi Efektif Orang Tua dan Anak Remaja


Dalam memberikan pendidikan seks diperlukan media yang paling penting, yaitu
komunikasi. Komunikasi merupakan proses pertukaran informasi, gagasan dan
perasaan. Proses ini meliputi informasi yang disampaikan baik secara lisan
maupun tertulis dengan kata-kata, atau yang disampaikan dengan bahasa
tubuh, gaya maupun penampilan diri, menggunakan alat bantu di sekeliling kita
sehingga sebuah pesan menjadi lebih kaya (Saifuddin, 2001).

Komunikasi mempunyai fungsi sebagai penyampaian atau penyebarluasan


informasi, fungsi pendidikan, memberikan instruksi, fungsi persuasi atau fungsi
mempengaruhi, dan fungsi menghibur. Komunikasi ibu dan anak akan mencakup
banyak fungsi selain dari fungsi pendidikan juga fungsi-fungsi lainnya sehingga
komunikasi ibu dan anak akan menjadi wahana pendidikan seks yang sangat
bermanfaat.(30) Komunikasi juga diartikan sebagai proses penyampaian pikiran
dan perasaan melalui bahasa, mendengar, berbicara, gerak tubuh dan ungkapan
perasaan. Dengan terciptanya komunikasi antara orang tua dan anak remaja
diharapkan dapat membuat remaja mau terbuka dan berbicara kepada orang tua
saat menghadapi berbagai masalah serta menciptakan hubungan harmonis
dengan remaja (Wahyudi, 2000).

Pada masa remaja umumnya mereka mengalami perubahan dalam hal


kepribadian yang secara tidak langsung berpengaruh pada hubungan dengan
anggota keluarga. Perbedaan dalam hal nilai dan standar perilaku yang dianut
orang tua dengan anak membuat orang tua terkadang dianggap kuno dan tidak
15

mengerti keinginan remaja. Jika orang tua tidak memiliki kemampuan untuk
berkomunikasi yang baik maka kesenjangan hubungan antara orang tua dengan
remaja semakin besar (Wahyudi, 2000). Menurut Saifuddin (2001) pemberian
informasi mengenai seks oleh ibu kepada remajanya dapat dikategorikan dalam
teknik komunikasi persuasif yang diartikan sebagai :
1. Kemauan yang disadari oleh komunikator untuk memodifikasi pikiran atau
tindakan komunikan melalui manipulasi motif dari komunikan agar komunikan
dapat berubah pikiran dan tindakan sebagaimana yang dikehendaki oleh
komunikator.
2. Seni yang digunakan oleh komunikator untuk mempengaruhi komunikan
3. Proses mengubah sikap, kepercayaan, pendapat dan bahkan perilaku
komunikan.

Dalam pendidikan seks ibu sebagai komunikator dan remaja sebagai komunikan
akan terlibat komunikasi persuasif yang bertujuan mempengaruhi pikiran, sikap
dan tingkah laku dan perilaku remaja. Pendidikan seks yang dilakukan ibu tidak
hanya akan memberikan pengetahuan bagi sang anak tetapi juga adanya
perubahan sikap, kepercayaan, pendapat dan pada akhirnya bahwa para remaja
awal akan siap menghadapi perubahan yang terjadi baik secara fisik maupun
psikologis pada masa pubertas dan masa-masa kehidupan yang selanjutnya.(30)
Beberapa sifat orang tua yang diinginkan anak remajanya antara lain : perhatian
orang tua dan dukungannya, mendengar dan perhatian, kasih sayang dan
perasaan positif, penerimaan dan menghargai, memberi kepercayaan pada
remaja (Wahyudi, 2000)

Beberapa hal yang harus dilakukan orang tua agar komunikasi antara anak dan
orang tua berjalan lancar dan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi para
remaja yaitu dengan:
1. Orang tua harus mengenal kemampuan dan kelebihan yang dimiliki.
2. Orang tua harus mengenal kelemahan dan kekurangan dalam dirinya.
3. Orang tua harus mampu meningkatkan kelebihan dan menutupi kekurangan
dirinya.
Dengan mengenali diri sendiri maka orang tua akan lebih percaya diri dalam
menyampaikan hal-hal yang penting kepada remaja dengan terbuka dan tanpa
kepura-puraan.
16

Dalam komunikasi banyak orang tua melakukan perilaku yang cenderung bersifat
agresif sehingga sulit menemukan titik temu dengan remajanya, diantaranya:
1. Lebih banyak bicara daripada mendengar
2. Merasa tahu lebih banyak daripada anak
3. Cenderung memberi arahan dan nasihat
4. Tidak berusaha untuk mendengar dulu apa yang sebenarnya terjadi dan
dialami anak
5. Tidak memberi kesempatan remaja untuk mengemukakan pendapat
6. Tidak mencoba menerima dahulu kenyataan yang dialami anak dan
memahaminya
7. Merasa putus ada dan marah-marah karena tidak tahu lagi apa yang harus
dilakukan terhadap remajanya.

Orang tua harus mau belajar dan merubah dalam cara berbicara dan
mendengar, dengan cara:
1. Mendengar supaya remaja mau berbicara
2. Menerima perasaan remaja
3. Bicara dengan remaja yang menyenangkan supaya bisa didengar
4. Bijaksana dan arif dalam mengambil keputusan

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua dalam berkomunikasi dengan
anak remajanya agar komunikasi dapat berjalan lancar yaitu sebagai berikut:
1. Pahami perasaan remaja
Untuk memahami perasaan remaja orang tua harus menerima dulu perasaan
dan ungkapan anak remahanya terutama ketika mereka sedang mengadapi
masalah agar ia merasa nyaman dan mau melanjutkan pembicaraan dengan
orang tua sehingga orang tua akan lebih mengerti apa yang sebenarnya
dirasakan remaja.
2. Membentuk suasana keterbukaan dan mendengar
Komunikasi tidak selamanya dengan suara atau berbicara. Mendengar
dengan telinga saja tidak cukup, karena kata-kata yang didengar sering tidak
dapat membuat kita mengerti perasaan remaja. Melalui bahasa tubuh dapat
menunjukkan bagaimana perasaan yang sebenarnya. Ungkapan wajah, mata
17

dan gerakan anggota badan dapat memberi isyarat yang banyak kepada
orang tua untuk memahami perasaan remaja.
3. Mendengar aktif
Mendengar aktif adalah cara mendengar dan menerima perasaan serta
memberi tanggapan yang bertujuan menunjukkan kepada remaja bahwa kita
sungguh-sungguh telah menangkap persan serta perasaan yang terkandung
didalamnya sehingga kita dapat memahami anak seperti yang mereka
rasakan bukan seperti apa yang kita lihat atau sangka. Sikap yang
dibutuhkan ketika orang tua mendengar aktif adalah: aktif dan
memperhatikan bahasa tubuh dengan sungguh-sungguh, membuka diri dan
siap mendengarkan, tidak berbicara ketika sedang berbicara, memahami apa
yang dirasakan, dipikirkan dan dimaksud anak sesuai dengan pandangan
anak. Dalam mendengar aktif orang tua seolah-olah berperan seperti cermin,
dengan memantulkan kembali, memahami perasaan, serta mengulangi inti
pesan yang diungkapkan remaja sehingga ia merasa didengar, dipahami dan
didukung. Secara teknis mendengar aktif adalah sebagai berikut:
a. Ketika remaja berbicara, tunggulah 10 detik sebelum membalas
pembicaraan. Gunakan waktu ini untuk berpikir, Apa yang sedang
dirasakan anak saya? dan Apa yang menyebabkan anak saya punya
perasaan seperti ini?.
b. Ada beberapa cara memantulkan perasaan kata-kata anak kita, misalnya
kamu kayaknya lagi....karena atau kamu kelihatannya.....karena ...
4. Mengenal gaya penghambat komunikasi
Dalam berkomunikasi hal yang sering dilakukan orang tua dan menjadi
penghambat komunikasi dengan remaja adalah sikap orang tua yang suka
memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, memberi cap
negatif, mengancam, membohongi, mengkritik, menyindir, buruk sangka dan
menuduh.
5. Kiat-kiat berbicara dengan anak remaja
a. Berikan kesan kepada anak bahwa kita terbuka membicarakan apa saja
yang berhubungan dengan permasalahan remaja
b. Bersikaplah tenang dalam berbicara kepada anak
c. Menambah wawasan dan pengetahuan baik dari buku, media maupun
yang lain agar dapat merespon apa yang sedang dibicarakan dengan
anak.
18

d. Bila perlu minta bantuan tenaga ahli seperti guru, tokoh masyarakat,
tokoh agama dan lainnya untuk melengkapi jawaban.
e. Mendengarkan dan memahami perasaan anak, ini akan membuat anak
merasa dirinya diterima dan membuat lebih mudah diajak berkomunikasi,
jangan memotong penjelasan yang diberikan anak.
f. Sebagai orang tua hendaknya mampu berperan seperti pohon yang kuat
dan rindang, akarnya menghujam ke dalam tanah sehingga kita bisa
memberikan makan pada dahan dan daun dan sang pohon dapat
menghasilkan buah yang segar dan sehat.

Dalam pendidikan seksualitas peran ibu lebih dominan dibandingkan peran ayah.
Hal ini disebabkan ibu biasanya memiliki waktu dan kedekatan yang lebih besar
kepada anak-anaknya. Ibu biasanya lebih aktif berkomunikasi dengan anak-
anaknya. Seperti tertuang dalam Survey Kesehatan Reproduksi Remaja
Indonesia pada tahun 2002-2003 remaja berusia 10-24 tahun yang pernah
mendiskusikan kesehatan reproduksi dengan ibunya sebanyak 46% dan dengan
ayah hanya 17% dan sisanya adalah dengan teman dan lainnya (BPS, 2010).
Ibu biasanya dijadikan nara sumber oleh anak remaja mengenai kesehatan,
keuangan dan hubungan antar orang tua dan anak sedangkan ayah dalam hal
pendidikan, karir dan pelajaran.(19) Dalam penelitian yang dilakukan oleh Farida
Ekasari tahun 2007 menyatakan bahwa anak-anak cenderung kurang dekat
dengan ayah karena ayah cepat marah, jarang ada waktu untuk mengobrol dan
jika berhubungan dengan ayah hanya apabila anak-anak memerlukan saja
(Ekasari, 2007; Maysaroh, 2004).

Kesehatan Reproduksi Remaja


Berdasarkan konferensi Internasional kependudukan dan pembangunan di Kairo
tahun 1994, kesehatan reproduksi adalah keadaan sehat yang menyeluruh,
meliputi aspek fisik, mental dan sosial, dan bukan sekedar tidak adanya penyakit
atau gangguan di segala hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, fungsinya
maupun proses reproduksi itu sendiri. Dengan demikian kesehatan reproduksi
menyiratkan bahwa setiap orang dapat menikmati kehidupan seks yang aman
dan menyenangkan, dan mereka memiliki kemampuan untuk bereproduksi, serta
memiliki kebebasan untuk menetapkan kapan dan seberapa sering mereka ingin
bereproduksi (Liliweri, 2008).
19

Dalam pendidikan seksualitas materi yang diberikan adalah mengenai kesehatan


reproduksi remaja dan hal-hal yang berkaitan dengan masalah tersebut. Secara
lebih rinci ada beberapa hal yang harus diketahui remaja adalah pengenalan
alat-alat reproduksi perempuan dan laki-laki, seks dan kehamilan, perilaku
seksual berisiko dan akibatnya.

Pendidikan Seksualitas Oleh Ibu Para Remaja


Terdapat banyak alasan mengapa orang tua tidak melakukan pendidikan
seksualitas kepada remajanya. Salah satunya adalah karena terbatasnya
pengetahuan yang dimiliki orang tua mengenai kesehatan reproduksi remaja.
Penyebab lain adalah seperti adanya rasa malu yang membuat para orang tua
enggan menyampaikan informasi mengenai kesehatan reproduksi remaja dan
masih banyaknya orang tua yang masih memegang norma-norma konservatif
sehingga membicarakan tentang seks dianggap sebagai suatu hal yang tabu.
Selain itu adalah adanya kesenjangan yang sering berkembang antara remaja
dengan orang tua sehingga menghalangi anak untuk bertanya mengenai
perubahan dalam tubuhnya (Prianto, 2002; Indrianingsrum, 2009).

Waktu pendidikan seksualitas yang biasa dilakukan orang tua kepada anak
remajanya adalah ketika mereka telah menunjukkan tanda-tanda pubertas dan
bahkan apabila sudah nampak adanya kematangan alat reproduksi yang ditandai
dengan menarche ataupun mimpi basah. Menarche dan mimpi basah
dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya pemenuhan gizi. Sehingga dengan
gizi yang baik maka diperkirakan menarche dan mimpi basah juga akan dialami
pada usia yang lebih muda.

Dari penjelasan di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pendidikan


seksualitas melalui keluarga adalah metode yang sangat tepat sesuai keadaan
bangsa Indonesia sangat sangat erat dengan budaya ketimuran maka sangat
perlu menggiatkan hal tersebut sebagai salah satu upaya promotif untuk
meningkatkan derajat kesehatan remaja saat ini dan di masa yang akan datang.
Karena pendidikan seksualitas melalui keluarga yaitu orang tua kepada
remajanya mempunyai banyak manfaat. Hal tersebut dikarenakan dalam
20

pendidikan seksualitas yang dilakukan oleh orang tua kepada anak remajanya
menggunakan media komunikasi bukan dengan metode formal seperti proses
belajar mengajar antara guru dan murid. Komunikasi orang tua terhadap anak
remajanya tentang seksualitas melibatkan perasaan yang dapat memberikan
banyak keuntungan dalam proses pendidikan seksualitas (Ekasari, 2007).

Mengenai peran orang tua dalam pendidikan seksualitas maka peran ibu akan
lebih dominan. Hal ini disebabkan ibu biasanya memiliki waktu dan kedekatan
yang lebih besar kepada anak-anaknya. Ibu biasanya lebih aktif berkomunikasi
dengan anak-anaknya. Pentingnya peran orang tua khususnya ibu dalam
mempersiapkan anak remajanya menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi
pada masa remaja khususnya mengenai pendidikan seksualitas maka perlu
dikembangkan informasikan lebih lanjut mengenai pendidikan seksualitas yang
telah dilakukan oleh ibu kepada remaja awal sebagai salah satu upaya promotif
menjauhkan remaja dari hal-hal yang mengancam kesehatan mereka khususnya
kesehatan reproduksi.

Ibu sebagian besar telah memberikan informasi/ pendidikan kepada remaja


tentang cara memelihara organ reproduksi remaja, bahaya dan cara menghindari
narkoba dan minuman keras, keterampilan hidup remaja yang meliputi nilai-nilai
moral, tanggung jawab, menolak ajakan teman dan menumbuhkan percaya diri
serta pemenuhan gizi. Cara penyampaiannya ibu masih belum terbuka mengenai
seksualitas, mereka masih menggunakan pengandaian untuk menyebut organ
reproduksi yang khas di daerah-daerah yang berbeda seperti burung untuk
penis, gembus, wuk-wuk, lolok atau memek untuk vagina.

Dalam komunikasi ibu dapat berhubungan baik dan bisa menjadi pendengar
apabila remajanya berkeluh kesah khususnya dalam hal seksualitas, namun
hambatannya sebagian besar anak remaja belum terbuka untuk bertanya
masalah seksualitas dan ibu juga belum bisa menyediakan waktu untuk
membicarakan masalah seksualitas. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya
pengetahuan orang tua tentang tentang organ reproduksi.

Beberapa hal yang dimungkinkan sebagai penghambat ibu dalam memberikan


pendidikan seksualitas, diantaranya : Hal tersebut tertuang dalam pernyataan
21

sikap ibu dimana mayoritas ibu menyatakan bahwa seksualitas adalah hal
alamiah yang akan diketahui anak dengan sendirinya sesuai usianya. Lebih dari
60% ibu juga menyatakan pada usia ini (10-14 tahun) masih belum saatnya
diberi informasi yang sejelas-jelasnya mengenai seksualitas. Dari hasil
wawancara didapatkan informasi responden berpendapat usia yang tepat adalah
setelah duduk di bangku SMA. Masih ada juga sekitar 30% ibu yang menyatakan
pendidikan seksualitas bertentangan dengan norma-norma, ibu yang merasa
malu untuk menyampaikan pendidikan seksualitas, serta adanya anggapan
bahwa seksualitas sudah diberikan disekolah sehingga ibu tidak perlu
memberikannya dirumah.
Perihal kesehatan reproduksi yang masih jarang disampaikan oleh para ibu
karena minimya pengetahuan ibu atau pertimbangan anak remajanya masih kecil
sehingga belum waktunya dan masih tabu adalah proses kehamilan, masa subur
dan aborsi, infeksi menular seksual dan HIV/AIDS. Hal ini tentunya tidak tepat
mengingat pada saat terjadi menarche berarti seorang remaja putri sudah
berisiko untuk terjadi kehamilan dan mereka seharusnya tahu bagaimana
kehamilan itu dapat terjadi, sehingga dapat lebih berhati-hati dalam bergaul
dalam rangka menyingkirkan risiko yang mungkin timbul yaitu hamil kehamilan
yang tidak dikehendaki (kehamilan pra nikah), IMS dan HIV/AIDS merupakan
salah satu risiko yang telah mengancam remaja pada dekade terakhir ini yang
juga perlu perhatian khusus. Oleh karena itu cara penyampaiannya lebih efektif
adalah melalui pembelajaran agama sehingga hal tersebut akan lebih mudah
diterima dan tidak menimbulkan rasa malu bagi ibu yang menyampaikannya.

Menurut Laurike Moeliono (2006) masih banyak anggapan orang tua mengenai
seksualitas yang kurang tepat yang menyatakan: kelak, mereka toh akan tahu
sendiri, namun faktanya sebelum mereka tahu sendiri berbagai risiko dan
bencana sudah mereka hadapi bahkan alami. Hal tersebut dibuktikan dengan
beberapa penelitian yang sudah disebutkan di awal tulisan ini bahwa kejadian
seks pranikah semakin tinggi, demikian dengan kejadian aborsi maupun
HIV/AIDS. Semua itu terjadi karena orang tua beranggapan bahwa seksualitas
akan diketahui dengan sendirinya sehingga orang tua terlambat mencegah
risiko-risiko yang dihadapi remaja. Oleh karena itu sangat penting orang tua
khususnya ibu sebagai orang tua yang biasanya lebih dekat dengan anak untuk
membekali anak dan remaja khususnya pada tahapan remaja awal ini dengan
22

berbagai informasi dan sikap mental yang dapat melindungi mereka dari
bencana, termasuk kesehatan reproduksi dan seksualitasnya (BKKBN, 2012).

Beberapa pemahaman dan pendapat yang keliru dan banyak diyakini oleh para
orang tua tentunya berpengaruh dalam sikap, persepsi kemampuan diri dan
perilaku ibu dalam memberikan pendidikan seksualitas. Oleh karena itu sangat
perlu dicari solusi mengingat pendidikan seksualitas oleh ibu kepada anak
remajanya khususnya pada remaja awal ini merupakan hal yang sangat penting.
Salah satunya adalah meluruskan pendapat tersebut melalui organisasi
kemasyarakatan atau menggunakan pendekatan agama guna penyampaian
fakta atau bukti empirik yang menyatakan pada remaja awal ini risiko sudah
menghadang para remaja, sehingga tidak ada alasan untuk menunda lagi
memberikan pendidikan seksualitas pada remaja awal.

Forum pertemuan ibu-ibu yang paling banyak diikuti para ibu adalah kegiatan
PKK. Di kegiatan PKK ini banyak sekali kegiatan dan informasi yang
disampaikan karena kegiatan ini lebih terstruktur termasuk juga sebagai
pelaksana program kesehatan, kelestarian lingkungan hidup dan perencanaan
sehat. Forum ini merupakan jembatan informasi yang disampaikan secara
informal sehingga ibu-ibu akan merasa lebih nyaman dalam bertanya maupun
berbicara sehingga ibu-ibu akan mendapat informasi yang cukup banyak dalam
kegiatan PKK termasuk dalam hal informasi mengenai kesehatan reproduksi
remaja.

PENUTUP
Beberapa hal yang dapat disampaikan dalam tulisan ini adalah banyaknya
hambatan dalam hal pendidikan kesehatan reproduksi remaja oleh orang tua
khususnya ibu diantaranya kurangnya pengetahuan tentang kesehatan
reproduksi remaja terutama bahaya seks bebas, NAPZA dan HIV/ AIDS, sikap
dan norma masyarakat. Akses informasi formal yang dapat
dipertanggungjawabkan untuk ibu merupakan hal yang esensial bagi
peningkatan pengetahuan untuk mengubah persepsi dan sikap ibu yang lebih
positif terhadap kesehatan reproduksi dapat ditempuh melalui forum pertemuan
kemasyarakatan diantaranya : PKK, pendidikan agama atau lembaga-lembaga
kemasyarakatan lainnya.
23

DAFTAR PUSTAKA

BKKBN. Modul Pembentukan Karakter Sejak Dini Melalui Bina Keluarga Remaja.
Semarang: BKKBN Provinsi Jawa Tengah; 2008.

BKKBN. Pengelolaan Bina Keluarga Anak dan Remaja. Semarang: BKKBN


Provinsi Jawa Tengah; 2010.

BKKBN. Rekapitulasi F1 Kec Baru Desember 2011. Jakarta:


www.bkkbn.go.id:5300; 2012 [cited 23 Januari 2012].

BPS. Sensus Penduduk Tahun 2010, 2010.

BPS B, Depkes & ORC Macro. Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Tahun
2007. Calverton Maryland, USA: Macro International; 2008.

Ekasari F. Pola Komunikasi dan Informasi Kesehatan Reproduksi antara Ayah


dan Remaja. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. 2007;Volume 2 Nomor
1 bulan Agustus:26-32.

Hurlock EB. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang


Kehidupan. Jakarta: Erlangga; 2009.

Indrianingrum M. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Praktik Ibu dalam


Pemberian Informasi Kesehatan Reproduksi Remaja di Kabupaten
Kebumen. Semarang: Universitas Diponegoro; 2009

Knopf DK. Maternal and Child Health: Program, Problems and Policies in Public
Health Kotch JB, editor. Baltimore: Jones and Bartlett Publising; 2005.

Liliweri A. Dasar-Dasar Komunikasi Kesehatan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar;


2008.

Maysaroh. Perbedaan Pengetahuan dan Sikap Ibu terhadap Pendidikan


Kesehatan Reproduksi Remaja menurut status Keikutsertaan Ibu dalam
Program Bina Keluarga Remaja di Kelurahan Siwalan Kecamatan
Gayamsari. Semarang: Universitas Diponegoro; 2004

Meilani N. Pengaruh Bimbingan Kelompok terhadap Tingkat Pengetahuan


Tentang Kesehatan Reproduksi pada siswa kelas VII SMP Muhammadiyah
Tanjung Muntilan. Yogyakarta: Universitas PGRI Yogyakarta; 2011

Moeliono L. Sexual Risk Behaviour of Out School Young Males in an Urban


Slum: A Case Study in Duri Utara, Jakarta 2006.

Noor S. Hubungan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi pada Remaja dengan


Kecenderungan Melakukan Hubungan Seksual (intercourse) Pranikah di
Indonesia: Analisis Data Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia
tahun 2002-2003. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada; 2004.
24

PKBI. Hasil survei PSS PKBI DIY: Pelajar sudah lakukan seks bebas.
Yogyakarta: <http://solusisehat. net/ berita.php?id=802>; 2006 [cited 10
Maret 2010].

Prianto J. Keterlibatan Orang Tua dalam Kesehatan Reproduksi Remaja.


Malang: Universitas Muhammadiyah Malang; 2002.

Saifuddin AB. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan


Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2001.

Santrock JW. Adolescent: Perkembangan Remaja. Jakarta: Erlangga; 2010.

Sarlito SW. Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers; 2011.

Shetty P. Attitude of Mother towards Sex Education of Adolescent Girls. Regional


Health Forum WHO South East Asia Region. 2000;Volume 3.

Situmorang A. Adolescent Reproductive Health in Indonesia. A Report Prepared


for STARH Program, Johns Hopkins University Center for Communication
Program2003.

Sprecher S. Sexuality. Newbury Park, London, New Delhi: Sage


Publications:International Educational dan Professional Publisher; 1995

Suryoputro A. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Remaja di


Jawa Tengah: Implikasinya Terhadap Kebijakan dan Layanan Kesehatan
Seksual dan Reproduksi. Makara Kesehatan. 2006;Volume 10 Juni 2006:29-
40.

UNESCO. International Technical Guidance on Sexuality Education (An


Evidence-informed approach for schools, teachers and health educators).
Paris, France: UNESCO; 2009.

Wahyudi. Kesehatan Reproduksi Remaja. Bandung: PKBI; 2000.

Weaver AD. Sexual Health Education at School and Home: Attitude and
Experience of New Bruncwick Parents. The Canadian Journal of Human
Sexuality 2002;Volume 11