Anda di halaman 1dari 29

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Seluruh air di bumi ini termasuk yang ada di atmosfir akan mengalami

siklus hidrologi. Siklus hidrologi tersebut terdiri atas presipitasi, intersepsi dan

transpirasi pada vegetasi, aliran permukaan, infiltrasi, perkolasi, air tanah, aliran

bawah, evaporasi, kondensasi dan kembali presipitasi. Yang semua tahapan ini

berkaitan satu sama lainnya. Jika terjadi gangguan pada salah satu tahapannya

maka secara keseluruhan siklus hidrologi akan terganggu.

Air merupakan komponen utama yang dibutuhkan tanaman selain

unsurhara, cahaya dan udara. Peranan air bagi tanaman sangatlah banyak.

Sehingga, airini bisa dikatakan sebagai salah satu faktor penting dalam tanah.

Pada dasarnyakebutuhan tanaman akan air itu berbeda-beda berdasarkan

perbedaan unsur-unsuryang mempengaruhi evapotranspirasi tanaman. Kebutuhan

air tanaman yangditanam pada tanah yang airnya tersedia dengan cukup, akan

lebih besar jikadibandingkan dengan tanaman yang ditanam pada tanah dengan

tingkatketeserdiaan airnya rendah. Tanaman yang berumur lebih panjang akan

lebihbanyak membutuhkan air dibandingkan dengan tanaman yang berumur

lebihpendek. Dari hal tersebut, maka diperlukan adanya teknologi

untuk mengefisienkan kebutuhan air, oleh karena itu diterapkanlah sistem irigasi.

Irigasibertujuan untuk menambahkan air ke dalam tanah untuk menyediakan

cairan yangdiperlukan untuk pertumbuhan tanaman.

Evaporasi (penguapan) terjadi Ketika air dipanaskan oleh sinar matahari,

permukaan molekul-molekul air memiliki cukup energi untuk melepaskan ikatan

molekul air tersebut dan kemudian terlepas dan mengembang sebagai uap air yang

1
2

tidak terlihat di atmosfir. Pemanasan air oleh sinar matahari merupakan kunci

proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara kontinu. Air berevaporasi

kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan batu, hujan es

dan salju (sleet), hujan gerimis atau kabut.Pada perjalanan menuju bumi beberapa

presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang kemudian

diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus

hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga cara yang berbeda.

Salah satu alat yang digunakan untuk mengukur air irigasi yang

diperlukanoleh tanaman adalah lisimeter. Lisimeter adalah alat untuk

mengukurkeseimbangan air alamiah di dalam tanah pada sebidang tanah yang

ditumbuhitanaman, dikitari suatu penahan sehingga tidak terjadi hubungan

hidrologisdengan lingkungan sekitarnya, bagian bawahnya dilengkapi lubang

penyaluransehingga air yang merembes dari tanah dapat ditampung, perubahan

dulukelembapan bidang tanah tersebut dapat dihitung dari jumlah air yang

hilangkarena penguapan dan yang lenyap karena transpirasi.

Tujuan Praktikum

Adapun tujuan praktikum ialah untuk menghitung besarnya

evapotranspirasi yang terjadi pada suatu DAS berdasarkan analisis iklim

berdasarkan metode radiasi.


3
TINJAUAN PUSTAKA

Siklus hidrologi air tergantung pada proses evaporasi dan presipitasi. Air

yang terdapat di permukaan bumi berubah menjadi uap air di lapisan atmosfer

melalui proses evaporasi (penguapan) air sungai, danau dan laut; serta proses

evapotranspirasi atau penguapan air oleh tanaman. Laju evaporasi pada

permukaan daun akan menyita jumlah air yang terdapat dalam tubuh tanaman.

(Harjanto dan surip , 2007). Uap air bergerak keatas hingga membentuk awan

yang dapat berpindah karena tiupan angin . Ruang udara yang mendapat

akumulasi uap air secara kontinu akan menjadi jenuh. Oleh pengaruh udara dingin

pada lapisan atmosfer, uap air tersebut mengalami sublimasi sehingga butiran-

butiran uap air membesar dan akhirnya jatuh sebagai hujan (Effendi, 2003).

Evaporasi merupakan konversi air kedalam uap air. Proses ini berjalan

terus hampir tanpa berhenti disiang hari dan kerap kali dimalam hari, perubahan

dari keadaan cair menjadi gas ini memerlukan energi berupa panas laten untuk

evaporasi, proses tersebut akan sangat aktif jika ada penyinaran matahari

langsung, awan merupakan penghalangan radiasi matahari dan penghambat

proses evaporasi. Jika uap air menguap ke atmosfer maka lapisan batas antara

permukaan tanah dan udara menjadi jenuh oleh uap air sehingga proses

penguapan berhenti, agar proses tersebut berjalan terus, lapisan jenuh harus

diganti dengan udara kering, pergantian itu hanya mungkin jika ada angin,yang

akan menggeser komponen uap air,kecepatan angina memegang peranan penting

dalam proses evaporasi (Wahyuningsih, 2004).

Evaporasi yang terus menerus memerlukan pemindahan uap air dari

permukaan sedikit ke atas,tanpa memindahkan udara dekat bumi, udara itu akan

4
5

jenuh dengan uap air dan evaporasi akan berhenti. Molekul air terus menerus

bergerak melewati permukaan air ke atmosfer bumi. Bila jumlah molekul-molekul

yang keluar dari permukaan lebih besar dari pada jumlah yang kembali ke

permukaan air maka terjadi evaporasi. Pergantian secara netto hanya merupakan

sebagian kecil dari jumlahnya (AAK, 1997).

Evapotranspirasi standar didefinisikan sebagai laju evapotranspirasi dari

permukaan yang luas, rapat ditumbuhi rumput hijau dengan ketinggian yang

seragam antara 8-15 cm dan dalam kondisi tidak kekurangan air. Untuk menduga

nilainya beberapa metode diturunkan berdasarkan proses fisik yang mengatur laju

evapotranspirasi, tetapi kebanyakan didasarkan pada hasil empiris yang

didasarkan pada hubungan statistik antara evapotranspirasi dan satu atau lebih

variabel iklim. Pendugaan laju evapotranspirasi banyak dikembangkan dalam 30

tahun terakhir ini seperti yang berdasarkan suhu udara (Hargraeves and Sumani,

1985), yang berdasarkan radiasi matahari (Priestly and Taylor, 1972) dan yang

berdasarkan kombinasi antara neraca radiasi dan perpindahan uap air secara

aerodinamik (Penman, 1948). Pendekatan dengan metode Penman juga

mengalami beberapa perkembangan seperti metode Penman yang dimodifikasi

oleh Monteith dikenal sebagai metode Penman-Monteith (Monteith, 1965),

pendekatan versi FAO 24 (Doorenbos and Pruitt, 1977) dan FAO 56 (Allen, 1998)

dan terakhir ada pendekatan Matt-Shuttleworth, 2009 (Manik, dkk., 2012).

Metode radiasi membutuhkan data metereologi berupa suhu udara dan panjang

hari, persamaan yang digunakan adalah :


6

Eto = c ( W x Rs), dimana Rs = [0,25 + (0,50 x n/N)] x Ra

Keterangan :

ETo = Evapotranspirasi potensial (mm/hari), c adalah faktor koreksi yang

bergantung pada kelembaban relatif dan kecepatan angin, W adalah faktor

tertimbang yang bergantung pada suhu udara dan altitude, Rs adalah radiasi

gelombang pendek yang diterima bumi(mm/hari), n adalah lama penyinaran

actual, N adalah lama penyinaran maksimum (Tabel 3 dalam FAO 24) dan Ra

adalah radiasi teresterial (Tabel 2 dalam FAO 24) (Prijono, 2002).

Radiasi matahari langsung dan faktor lingkungan yang mempengaruhi

suhu udara merupakan sumber energi. Gaya penggerak untuk memindahkan uap

air dari permukaan penguapan adalah perbedaan tekanan antara uap air di

permukaan penguapan dan tekanan udara atmosfer. Selama berlangsungya proses,

udara sekitar menjadi jenuh secara perlahan dan selanjutnya proses akan

melambat dan kemungkinan akan berhenti jika udara basah tidan dipindahkan ke

atmosfer. Pergantian udara jenuh dengan udara kering sangat tergantung pada

kecepatan angin. Oleh karena itu, radiasi surya, temperature udara, kelembaban

udara dan kecepatan angin merupakan parameter iklim yang dipertimbangkan

dalam penentuan proses evaporasi (Sutanto, 2005).

Jika permukaan penguapan adalah permukaan tanah, maka tingkat

penutupan tanaman pelindung (crop canopy) dan jumlah air tersedia pada

permukaan penguapan juga menjadi faktor yang mempengaruhi proses evaporasi.

Kejadian hujan, irigasi dan gerakan vertikal air dalam tanah dari muka air tanah

dangkal merupakan sumber pembasahan permukaan tanah. Jika tanah dapat


7

menyuplai air dengan cepat yang memenuhi kebutuhan evaporasi, maka evaporasi

dari tanah ditentukan hanya oleh kondisi meteorologi. Akan tetapi, bila interval

antara hujan dan irigasi cukup lama dan kemampuan tanah mnegalirkan lengas ke

dekat permukaan tanah kecil, maka kandungan air di lapisan topsoil meturun dan

menyebabkan permukaan tanah menjadi kering (Handoko, 1994).

Evaporasi adalah salah satu komponen siklus hidrologi, yaitu peristiwa

menguapnya air dari permukaan air, tanah,dan bentuk permukaan bukan dari vegetasi

lainnya.Evaporasi merupakan proses penguapan air yang berasal dari permukaan

bentangan air atau dari bahan padat yang mengandung air (Lakitan, 1994). Sedangkan

menurut Manan dan Suhardianto (1999), evaporasi (penguapan) adalah perubahan air

menjadi uap air. Air yang ada di bumi bila terjadi proses evaporasi akan hilang ke

atmosfer menjadi uap air. Evaporasi dapat terjadi dari permukaan air bebas seperti

bejana berisi air, kolam, waduk, sungai ataupun laut. Proses evaporasi dapat terjadi

pada benda yang mengandung air, lahan yang gundul atau pasir yang basah. Pada

lahan yang basah, evaporasi mengakibatkan tanah menjadi kering dan dapat

memengaruhi tanaman yang berada di tanah itu. Mengetahui banyaknya air yang

dievaporasi dari tanah adalah penting dalam usaha mencegah tanaman mengalami

kekeringan dengan mengembalikan sejumlah air yang hilang karena evaporasi

(Lakitan, 1994).

Faktor meteorologi yang memengaruhi evaporasi adalah radiasi matahari,

suhu udara, kelembaban udara dan angin. Tempat-tempat dengan radiasi matahari

tinggi mengakibatkan evaporasi tinggi karena evaporasi memerlukan energi.

Umumnya radiasi matahari tinggi diikuti suhu udara tinggi dan kelembaban udara

rendah. Kedua hal ini dapat memacu terjadinya evaporasi. Angin yang kencang

membuat kelembaban udara rendah, hal inipun memacu evaporasi (Manan dan
8

Suhardianto, 1999). Laju evaporasi sangat tergantung pada masukan energi yang

diterima. Semakin besar jumlah energi yang diterima, maka akan semakin banyak

molekul air yang diuapkan. Sumber energi utama untuk evaporasi adalah radiasi

matahari. Oleh sebab itu, laju evaporasi yang tinggi tercapai pada waktu sekitar

tengah hari (solar noon). Selain masukan energi, laju evaporasi juga dipengaruhi oleh

kelembaban udara di atasnya. Laju evaporasi akan semakin terpacu jika udara

diatasnya kering (kelembaban rendah), sebaliknya akan terhambat jika kelembaban

udaranya tinggi (Lakitan, 1994). Evaporasi sangat bergantung kepada karakteristik

lokasi sehingga faktor-faktor meteorologi yang berperan dalam proses evaporasi

dapat berbeda dari tempat ke tempat lainnya (Manan dan Suhardianto, 1999).

Radiasi matahari di suatu lokasi bervariasi sepanjang tahun, yang tergantung

pada letak lokasi (garis lintang) dan deklinasi matahari. Pada bulan Desember

kedudukan matahari berada paling jauh di selatan, sementara pada bulan Juni

kedudukan matahari berada palng jauh di utara. daerah yang berada di belahan bumi

selatan menerima radiasi maksimum matahari pada bulan Desember, sementara

radiasi terkecil pada bulan Juni, begitu pula sebaliknya. Radiasi matahari yang sampai

ke permukaan bumi juga dipengaruhi oleh penutupan awan. Penutupan oleh awan

dinyatakan dalam persentase dari lama penyinaran matahari nyata terhadap lama

penyinaran matahari yang mungkin terjadi ( Yusmin, 2008).

Irigasi merupakan bangunan air yang berupa dan berfungsi menyalurkan

air dari bendung ke petak secara periodik, guna mencukupi kebutuhan air bagi

tanaman di petak sawah. Tujuan irigasi secara langsung adalah membasahi tanah

agar dicapai suatu kondisi tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman dalam

hubungannya presentase kandungan air dan udara diantara butir-butir tanah.

Pemberian air dapat juga mempunyai tujuan sebagai pengangkut bahan-bahan


9

pupuk untuk perbaikan tanah. Untuk penentuan tahun atau periode dasar bagi

rancangan irigasi harus dikumpulkan data curah hujan dengan waktu sepanjang

mungkin, curah hujan efektif, banyaknya hari-hari kering untuk periode irigasi

dan lain-lain. Disamping data curah hujan, penyelidikan evapotranspirasi,

kecepatan angin, arah angin, suhu udara, jumlah jam penyinaran matahari,

kelembaban dan lain-lain. Data curah hujan dan evapotransiprasi harus dihitung

sebagai data lima hari, sepuluh hari, sebulan atau satu periode irigasi sesuai

dengan tujuan dan kebutuhan. Jika tidak terdapat data curah hujan yang cukup

didalam daerah yang akan direncanakan, maka harus dikumpulkan data dari tiga

atau lebih tempat-tempat pengukuran di sekeliling daerah yang akan direncanakan

(Kurniawan, 2001).
BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Praktikum

Adapun Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 21 Maret

2016, dimulai pukul 15.00 WIB sampai dengan selesai di

Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara.

Bahan dan Alat Praktikum

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah berupa

beberapa lampiran mengenai data yang akan digunakan dalam perhitungan laju

evapotranspirasi dengan metode radiasi, seperti lampiran mengenai suhu rataan

bulanan (1987-2002) pada stasiun klimatologi Sampali Medan, lampiran

mengenai kecepatan angin rataan bulanan (1987-2002) pada stasiun klimatologi

Sampali Medan, lampiran mengenai kelembaban relatif rataan (1987-2002) pada

stasiun klimatologi Sampali Medan, lampiran mengenai lama penyinaran matahari

bulanan (1990-2003) pada stasiun klimatologi Sampali Medan. Tabel data Ra

(radiasi teresterial) dan tabel data (w) yang akan digunakan dalam proses

perhitungan laju evapotranspirasi, grafik Eto yang digunakan untuk mengetahui

besarnya laju evapotranspirasi yang terjadi, serta kertas double polio yang

digunakan untuk menulis data.

Adapun alat yang digunakan yaitu kalkulator yang digunakan untuk

menghitung data-data yang diperoleh dari beberapa lampiran untuk menghitung

laju evapotranspirasi yang terjadi, pulpen yang digunakan untuk mencatat data,

stabilo atau pulpen tinta warna serta penggaris yang digunakan untuk membantu

10
11

dalam penarikan garis pada grafik Eto agar mempermudah dalam proses

pembacaan.

Prosedur Praktikum

- Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum


- Dicatat data utama (soal) yang diberikan oleh abang dan kakak asisten
- Dihitung suhu rataan bulanan dengan menggunakan rumus

- Ditentukan besar kecepatan angin rataan bulanan seperti yang telah tertera

di dalam lampiran
- Ditentukan nilai kelembaban relatif rataan bulanan seperti yang telah

tertera di dalam lampiran


- Ditentukan lama penyinaran matahari bulanan seperti yang telah tertera di

dalam lampiran
- Ditentukan besarnya nilai radiasi teresterial berdasarkan letak lintangnya
- Dihitung besarnya nilai radiasi maksimum dengan rumus

- Ditentukan faktor pemberat (w) berdasarkan data suhu yang telah

didapatkan dan ketinggian lokasi yang ditinjau laju evapotranspirasinya


- Dihitung nilai Eto dengan rumus Eto = W x Rs
- Ditentukan besarnya laju evapotranspirasi dengan menggunakan grafik

Eto berdasarkan nilai Eto dan Rs yang telah didapatkan


12
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Suatu DAS terletak diantara 4 53 21 LU. Berada di ketinggian 150

mdpl. Hitunglah Eto (evapotranspirasi potensial) di wilayah DAS A bedasarkan

data-data yang telah diketahui (bulan April dan bulan Oktober).

Evapotranspirasi bulan April

Radiasi x ( mm/hari ) intepolasi

4 15,5

4,147 x

6 15,4

13
Radiasi x ( mm/hari )

Radiasi x ( mm/hari ) = 15,407 mm / hari

Lama penyinaran maksimum ( N ) intepolasi

0 12,1

4,147 x

5 12,2

Lama penyinaran maksimum ( N )

14
15

Lama penyinaran maksimum ( N ) = 12,08

Faktor Pemberat (W) bedasarkan: T ( suhu ) = 26,9

Ketinggian = 150 mdpl

W interpolasi antara ( 26 28) C dan ( 0 500 ) mdpl

26 26,5 28

0 mdpl 0,75 x 0,77

150 mdpl

500 mdpl 0,76 y 0,78


16

Eto = W x Rs

= 0,761 x 9,393

= 7,14

Bedasarkan grafik Eto, maka laju evapotranspirasi yang didapatkan adalah

5,2 mm / hari

Evapotranspirasi bulan Oktober


17

Radiasi x ( mm/hari ) intepolasi

4 15,1

4,147 x

6 15,0

Radiasi x ( mm/hari )

Radiasi x ( mm/hari ) = 15,0 mm / hari

Lama penyinaran maksimum ( N ) intepolasi

0 12,1

4,147 x

5 12,0

Lama penyinaran maksimum ( N )

Lama penyinaran maksimum ( N ) = 12,08

Faktor Pemberat (W) bedasarkan: T ( suhu ) = 26,3C

Ketinggian = 150 mdpl

W interpolasi antara ( 26 28) C dan ( 0 500 ) mdpl

26 26,3 28

0 mdpl 0,75 x 0,77


18

150 mdpl

500 mdpl 0,76 y 0,78

Eto = W x Rs

= 0,756 x 7,917

= 5,98
19

Bedasarkan grafik Eto, maka laju evapotranspirasi yang didapatkan adalah

adalah 4,8 mm / hari


20

Pembahasan

Evaporasi dan transpirasi adalah salah satu tahapan di dalam siklus

hidrologi, yang dapat mempengaruhi keberlanjutan siklus hidrologi itu sendiri.

Evaporasi adalah jumlah air yang berasal dari badan air, permukaan tanah atau

permukaan benda mati dan teruapkan oleh secara alami oleh panas yang berasal

dari cahaya matahari. Evaporasi dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari,

lamanya penyinaran, suhu, angin, dan kelembaban udara. Sedangkan transpirasi

adalah uap air yang berasal dari tanaman yang melalui proses fotosintesi dan

metabolism tanaman, dan dipengaruhi oleh intensitas cahaya, suhu, kelembaban

udara, angin, jumlah daun, orientasi gradient daun dan lain-lain. Hal ini sesuai

dengan literatur Wahyuningsih (2004) yang menyatakan bahwa evaporasi

merupakan konversi air kedalam uap air. Proses ini berjalan terus hampir tanpa

berhenti disiang hari dan kerap kali dimalam hari, perubahan dari keadaan cair

menjadi gas ini memerlukan energi berupa panas laten untuk evaporasi, proses

tersebut akan sangat aktif jika ada penyinaran matahari langsung, awan

merupakan penghalangan radiasi matahari dan penghambat proses evaporasi.

Siklus hidrologi terjadi secara global, jadi air yang teruapkan baik

evaporasi dan atau tranpirasi tidak selalu terpresipitasi pada daerah tersebut, hal

ini disebabkan oleh uap air dapat bergerak dengan perantara angin. Semakin besar

kecepatan angin, maka evaporasi dan transpirasi akan semakin tinggi. Hal ini

sesuai dengan literatur Efendi (2003) yang menyatakan bahwa siklus hidrologi air

tergantung pada proses evaporasi dan presipitasi. Air yang terdapat di permukaan

bumi berubah menjadi uap air di lapisan atmosfer melalui proses evaporasi
21

(penguapan) air sungai, danau dan laut; serta proses evapotranspirasi atau

penguapan air oleh tanaman. Laju evaporasi pada permukaan daun akan menyita

jumlah air yang terdapat dalam tubuh tanaman.

Siklus hidrologi adalah suatu siklus yang menggambarkan bagaimana

proses peredaran air secara umum dari muka bumi dan tanaman yang ada di muka

bumi ke atmosfer melaui proses penguapan (evapotranspirasi) akibat adanya

perbedaan tekanan antara tekanan di permukaan bumi dengan di atmosfer, dimana

hasil evapotranspirasi tersebut pada ketinggian tertentu akan mengalami

kondensasi membentuk awan, dimana awan-awan ini nantinya akan terus

berkondensasi hingga mencapai titik jenuhnya dan akan mengalami presipitasi,

dimana presipitasi ini terjadi karena awan jenuh tersebut dibawa oleh angin ke

tempat yang bertekanan lebih tinggi. Lalu nantinya setelah terjadi proses

presipitasi sebagian air akan tertinggal di daun-daun tanaman dan nantinya akan

langsung menguap ke atmosfer (intersepsi), lalu ada juga air yang turun dari

dahan dan ranting (trough fall) dan turun melalui batang (stem flow), nanti air

yang jatuh akan sampai ke permukaan tanah akan mengalami infiltrasi dan ada

yang mengalir di permukaan tanah (surface run off) lalu setelah proses infiltrasi

air akan mengalir ke tempat yang lebih jenuh lagi (perkolasi) lalu akan masuk ke

water table dan keluar kembali sebagai mata air dan proses ini akan berlangsung

secara terus-menerus. Hal ini sesuai dengan literatur Efendi (2003) yang

menyatakan bahwa uap air bergerak keatas hingga membentuk awan yang dapat

berpindah karena tiupan angin . Ruang udara yang mendapat akumulasi uap air

secara kontinu akan menjadi jenuh. Oleh pengaruh udara dingin pada lapisan
22

atmosfer, uap air tersebut mengalami sublimasi sehingga butiran- butiran uap air

membesar dan akhirnya jatuh sebagai hujan

Faktor-faktor yang mempengaruhi laju evapotranspirasi diantaranya

adalah ketersediaan air yang ada di permukaan bumi, air dievaporasikan pada

permukaan tanah pada laju yang sama dengan permukaan air bebas selama tanah

basah dan tidak dinaungi tanaman. Sedangkan untuk air tanah yang dinaungi

tanaman kontribusi evaporasi tanah terhadap total evapotranspirasi menurun

sejalan dengan meningkatnya vegetasi yang tumbuh di atas permukaan tanah

tersebut. Selain itu untuk proses transpirasi, tahanan dalam tanaman diatur oleh

tahanan stomata dan tahanan stomata dipengaruhi oleh suhu daun, cahaya, potensi

air dan perbedaan tekanan uap. Semakin lebar daunnya maka lebih banyak

mentranspirasikan air daripada daun jarum, semakin besar ukuran daunnya maka

akan lebih banyak mentranspirasikan air daripada daun berukuran sempit. Selain

itu, ada beberapa faktor lainnya yang turut mempengaruhi cepat lambatnya proses

evapotranspirasi tersebut berlangsung, yaitu kondisi cuaca dimana kondisi cuaca

ini sangat menentukan cepat lambatnya laju evapotranspirasi, hal ini dikarenakan

jumlah terbesar dari energi yang digunakan pada evapotranspirasi disediakan

hampir seluruhnya dari dua sumber yaitu energi radiasi dan energi dari udara yang

lebih panas daripada permukaan tanaman. Angin yang memindahkan uap air ke

udara yang lebih kering menyebabkan laju penguapan menjadi cepat. Kelembaban

udara, kalau udara jenuh (penuh dengan uap) evaporasi tidak akan terjadi. Laju

evaporasi akan meningkat jika ada perbedaan kelembaban yang besar antara

permukaan tanaman dan udara. Hal ini sesuai dengan literatur Wahyuningsih

(2004) yang menyatakan bahwa jika uap air menguap ke atmosfer maka lapisan
23

batas antara permukaan tanah dan udara menjadi jenuh oleh uap air sehingga

proses penguapan berhenti, agar proses tersebut berjalan terus, lapisan jenuh harus

diganti dengan udara kering, pergantian itu hanya mungkin jika ada angin,yang

akan menggeser komponen uap air,kecepatan angina memegang peranan penting

dalam proses evaporasi.

Ada beberapa cara atau metode yang dapat digunakan untuk melakukan

pendugaan laju evapotranspirasi, diantaranya berdasarkan suhu udara, radiasi

matahari dan juga ada yang berdasarkan kombinasi antara neraca radiasi dan

perpindahan uap air secara aerodinamik. Hal ini sesuai dengan literatur

Manik, dkk (2012) yang menyatakan bahwa pendugaan laju evapotranspirasi

banyak dikembangkan dalam 30 tahun terakhir ini seperti yang berdasarkan suhu

udara (Hargraeves and Sumani, 1985), yang berdasarkan radiasi matahari (Priestly

and Taylor, 1972) dan yang berdasarkan kombinasi antara neraca radiasi dan

perpindahan uap air secara aerodinamik (Penman, 1948).

Dalam praktikum ini digunakan metode pendugaan laju evapotranspirasi

dengan metode radiasi, dimana metode ini dalam perhitungannya membutuhkan

data metereologi berupa suhu udara dan panjang hari, lalu didalam

perhitungannya terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi besar kecilnya nilai

dari evapotranspirasi itu sendiri, yaitu faktor koreksi (c) dimana faktor koreksi ini

bergantung pada kelembaban relatif dan kecepatan angin, faktor tertimbang yang

nilainya bergantung pada suhu udara dan altitude, radiasi gelombang pendek yang

diterima bumi (mm/hari), lama penyinaran aktual, lama penyinaran maksimum

dan radiasi teresterial. Karena banyaknya data yang harus dihitung atau

dikalkulasikan, pendugaan laju evapotranspirasi dengan metode ini dibutuhkan


24

ketelitian yang cukup tinggi karena apabila salah satu point saja, nantinya akan

berpengaruh terhadap point-point lainnya. Sedangkan kelebihan pendugaan

dengan metode ini adalah didapatkan hasil akhir yang mempunyai nilai

keakuratan yang cukup tinggi (sesuai dengan yang terjadi di lapangan). Hal ini

sesuai dengan literatur Prijono (2002) yang menyatakan bahwa metode radiasi

membutuhkan data metereologi berupa suhu udara dan panjang hari, persamaan

yang digunakan adalah Eto = c (W x Rs), dimana Rs = [0,25 + (0,50 x n/N)] x Ra.

Aplikasi pendugaan laju evapotranspirasi ini banyak digunakan dalam

dunia pertanian yaitu dalam pembuatan saluran irigasi maupun drainase. Selain

itu, juga dalam proses pemeliharaan tanaman pertanian maupun perkebunan

contohnya yaitu untuk mengetahui waktu yang tepat dalam penyiraman ataupun

pemberian air pada tanaman agar tanaman dapat tumbuh dengan subur sehingga

hasil produksi yang dicapai akan maksimal. Hal ini sesuai dengan literatur

Kurniawan (2001) yang menyatakan bahwa irigasi merupakan bangunan air yang

berfungsi menyalurkan air dari bendung ke petak secara periodik, guna

mencukupi kebutuhan air bagi tanaman di petak sawah. Untuk penentuan tahun

atau periode dasar bagi rancangan irigasi harus dikumpulkan data curah hujan

dengan waktu sepanjang mungkin, curah hujan efektif, banyaknya hari-hari kering

untuk periode irigasi dan lain-lain. Disamping data curah hujan, penyelidikan

evapotranspirasi, kecepatan angin, arah angin, suhu udara, jumlah jam penyinaran

matahari, kelembaban dan lain-lain.

Dari praktikum yang telah dilakukan di dapatkan hasil evapotranspirasi

pada bulan April bedasarkan grafik Eto, yaitu 5,2 mm / hari dengan data suhu

yang didapatkan adalah 27,2oC, kecepatan angin , kelembaban relatif


25

, radiasi teresterial sebesar , radiasi gelombang pendek yang diterima

bumi sebesar 8,53 mm/hari, dengan lama penyinaran maksimum yang didapatkan

12,18 dan faktor Pemberat (W) sebesar . Sedangkan untuk bulan Oktober

didapatkan laju evapotranspirasi berdasarkan grafik Eto adalah 4,8 mm/hari

dengan data berupa suhu 36,3 oC, kecepatan angin , kelembaban relatif

, radiasi teresterial , radiasi gelombang pendek yang diterima bumi

sebesar mm/hari, dengan lama penyinaran maksimum 12,08 dan faktor

pemberat (W) sebesar . Maka dapat dikatakan bahwa laju evapotranspirasi

pada bulan April lebih cepat dibandingkan laju evapotrasnpirasi pada bulan

Oktober.
26
KESIMPULAN

1. Siklus hidrologi adalah suatu siklus yang menggambarkan bagaimana

proses peredaran air secara umum dari muka bumi dan tanaman yang ada di

muka bumi ke atmosfer melaui proses penguapan (evapotranspirasi) akibat

adanya perbedaan tekanan.


2. Evaporasi adalah proses penguapan air berasal dari permukaan tanah seperti

danau, sungai, laut, lahan pertanian dan lain-lain.


3. Transpirasi adalah proses penguapan air tanah ke atmosfer melalui vegetasi

terutama di ruang antar sel daun dan selanjutnya melalui stomata uap air

akan dilepas ke atmosfer.


4. Evapotranspirasi adalah keseluruhan jumlah air yang berasal dari

permukaan tanah, air dan vegetasi yang diuapkan kembali ke atmosfer oleh

adanya pengaruh faktorfaktor iklim dan fisiologi vegetasi.


5. Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi cepat lambatnya laju

evapotranspirasi, yaitu radiasi matahari, temperatur, kelembaban relatif dan

kecepatan angin.
6. Faktor-faktor tanaman yang mempengaruhi cepat lambatnya laju

evapotranspirasi, yaitu penutupan stomata, jumlah dan ukuran stomata,

jumlah daun, penggulungan atau pelipatan daun, kedalaman dan proliferasi

akar.
7. Ada beberapa cara atau metode yang dapat digunakan untuk melakukan

pendugaan laju evapotranspirasi, diantaranya berdasarkan suhu udara,

27
28

radiasi matahari dan juga ada yang berdasarkan kombinasi antara neraca

radiasi dan perpindahan uap air secara aerodinamik


8. Dalam perhitungannya metode radiasi ini membutuhkan data metereologi

berupa suhu udara dan panjang hari, lalu didalam perhitungannya terdapat

beberapa faktor yang mempengaruhi besar kecilnya nilai dari

evapotranspirasi itu sendiri, yaitu faktor koreksi, faktor tertimbang, radiasi

gelombang pendek yang diterima bumi (mm/hari), lama penyinaran aktual,

lama penyinaran maksimum dan radiasi teresterial.


9. Kekurangan metode ini adalah karena banyaknya data yang harus dihitung

atau dikalkulasikan, pendugaan laju evapotranspirasi dengan metode ini

dibutuhkan ketelitian yang cukup tinggi karena apabila salah satu point saja,

nantinya akan berpengaruh terhadap point-point lainnya.


10. Kelebihan pendugaan dengan metode ini adalah didapatkan hasil akhir yang

mempunyai nilai keakuratan yang cukup tinggi (sesuai dengan yang terjadi

di lapangan).
11. Aplikasi pendugaan laju evapotranspirasi ini banyak digunakan dalam dunia

pertanian yaitu dalam perancangan saluran irigasi maupun drainase dan

dalam proses pemeliharaan tanaman pertanian maupun perkebunan (untuk

mengetahui waktu yang tepat dalam penyiraman ataupun pemberian air

pada tanaman).
12. Laju evapotranspirasi pada bulan April berdasarkan grafik Eto

(5,2 mm/hari) lebih cepat dibandingkan laju evapotrasnpirasi pada bulan

September (4,8 mm/hari).


DAFTAR PUSTAKA

AAK. 2003. Dasar-Dasar Bercocok Tanam. PT Kanisius. Yogyakarta.

Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius : Yogyakarta

Hasil Pertanian di Sulawesi Tenggara. Laporan Penelitian. Pusat Penelitan Tanah


dan Agroklimat. Bogor.

Kurniawan, A., 2001. Irigasi. Diakses melalui http://www.thesis.umy.ac.id [28


Oktober 2016].

Lakitan, B., 1994. Dasar Dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada,
Jakarta.

Manan dan Suhardianto, 1999. Penelitian Agroklimat dan Pengembangan


Database Sumberdaya Iklim untuk meningkatkan Yusmin, 2008. Kajian
Indeks Stabilitas Udara Model KMA.
Manik, T. K., R. B. Rosadi dan A. Karyanto, 2012. Evaluasi Metode Penman
Monteith dalam Menduga Laju Evapotranspirasi Standar (ET0) di
Dataran Rendah Propinsi Lampung, Indonesia. Diakses melalui
http://www.portalgaruda.org [28 Maret 2016].

Prijono, S., 2002. Neraca Air. Diakses melalui http://www.lecture.ub.ac.id [28


Maret 2016].

Sutanto, Rachman. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Kanisius : Yogyakarta

Utami,Wahyuningsih. 2004. Geografi. Pabelan. Jakarta.

29