Anda di halaman 1dari 35

Laporan Kunjungan Lapangan Balai Besar

Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara

Disusun oleh:

Nama : Noorma Paramitha

NIM : 4411413009

Prodi : Biologi

Mata kuliah : ichtiology

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berdasarkan SK Menteri Kelautan dan Perikanan tugas yang


dibebankan pada BBPBAP adalah melaksanakan pengembangan dan
penerapan teknik perbenihan, pembudidayaan, pengelolaan kesehatan
ikan dan pelestarian lingkungan budidaya. Visi BBPBAP Jepara adalah
mewujudkan balai sebagai instansi pemberi pelayanan prima dalam
pembangunan dan pengembangan sistem usaha budidaya air payau yang
berdaya saing, berkelanjutan dan berkeadilan.

Misi BBPBAP Jepara yaitu mengembangkan rekayasa teknologi


budidaya berbasis agribisnis dan melaksanakan alih teknologi kepada
dunia usaha, meningkatkan kapasitas kelembagaan, mengembangkan
sistem informasi IPTEK perikanan, mengembangkan jasa pelayanan dan
sertifikasi serta memfasilitasi upaya pelestarian sumberdaya ikan dan
lingkungannya.

Bangunan yang dimiliki BBPBAP Jepara adalah berupa gedung


perkantoran, laboratorium, bangsal perbenihan, ruang kuliah,
auditorium, garasi, asrama, guest home, rumah dinas, dan pos satpam.
Dalam Kunjungan Lapangan mata Kuliah ikhtiologi, Kami melakukan
kunjungan di beberapa laboratorium dan bangsal perbenihan di
BBPBAP Jepara antara lain bangsal perbenihan kepiting, MKHA,
laboratorium pakan buatan, laboratorium pakan alami, bangsal
pembesaran nila salin, dan bangsal pembenihan ikan bandeng.
Tujuan Kunjungan lapangan ke BBPBAP Jepara yaitu pengamatan
langsung kondisi lapangan budidaya di BBPBAP Jepara yang meliputi
perbenihan kepiting, MKHA, pakan alami dan buatan, pembesaran nila
salin dan pembenihan ikan bandeng. Laporan ini dibuat untuk
mendeskripsikan mengenai perbenihan kepiting beserta faktor-faktor
yang mempengaruhi, menganalisis komponen-komponen pakan alami
dan pakan buatan, mendeskripsikan pengujian mikrobiologi kesehatan
hewan akuatik, serta mendeskripsikan mengenai budidaya pembesaran
ikan nila salin.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaiamanakah Kondisi lingkungan dan pakan yang diperlukan
untuk budidaya pembenihan kepiting bakau?
2. Bagaimanakah tahapan-tahapan pembuatan serta komponen-
komponen utama pakan buatan hewan akuatik (udang, ikan, dan
kepiting)?
3. Mengapa Lumbricus rebellus dipilih sebagai komoditas pakan alami
di BBPBAP Jepara?
4. Bakteri apa sajakah yang menyebabkan penyakit pada hewan
akuatik di BBPBAP Jepara? Apakah bahaya bakteri tersebut
terhadap hewan akuatik di BBPBAP Jepara?
5. Bagaimanakah kondisi lingkungan yang diperlukan untuk
pembesaran ikan nila salin?

C. Tujuan Penelitian
1. Menganalisis kondisi lingkungan dan pakan yang diperlukan untuk
budidaya pembenihan kepiting bakau .
2. Menganalisis tahapan-tahapan pembuatan serta komponen-
komponen utama pakan buatan hewan akuatik (udang, ikan, dan
kepiting)
3. Meganalisis efektivitas Lumbriscus rubellus sebagai pakan alami
hewan akuatik di BBPBAP Jepara.
4. Mendeskripsikan bakteri parasit beserta bahaya yang ditimbulkan
pada hewan akuatik.
5. Menganalisis kondisi lingkungan yang diperlukan untuk pembesaran
ikan nila salin.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Profil BBPBAP Jepara


1. Sejarah Berdirinya BBPBAP Jepara

Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP)


Jepara dalam perkembangannya sejak didirikan mengalami beberapa
kali perubahan status dan hierarki. Pada awal berdirinya tahun 1971,
lembaga ini bernama Research Center Udang (RCU) dan secara hierarki
berada dibawah Badan Penelitian dan Pengembangan Perikanan
Departemen Pertanian. Pada tahun 1977, RCU diubah namanya menjadi
Balai Budidaya Air Payau (BBAP) sehubungan dengan perubahan
fungsi dari semula hanya pusat riset udang menjadi pusat riset banyak
komoditi budidaya laut, yang secara struktural resmi berada dibawah
Direktorat Jenderal Perikanan Departemen Pertanian.
Pada tahun 2000 setelah terbentuknya Departemen Ekplorasi Laut
dan Perikanan, keberadaan BBAP masih dibawah Direktorat Jenderal
Perikanan. Akhirnya pada bulan Mei 2001, status BBAP ditingkatkan
menjadi Eselon II dengan nama Balai Besar Pengembangan Budidaya
Air Payau (BBPBAP) dibawah Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya
Departemen Kelautan dan Perikanan.

2. Letak Geografis dan Keadaan Alam

Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP)


Jepara terletak di Desa Bulu, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara,
Propinsi Jawa Tengah. Letak geografis BBPBAP Jepara adalah 110 0 39
11 BT dan 60 33 LS.
BBPBAP Jepara terletak di Kelurahan Bulu dengan batas-batas
antara lain sebelah barat berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah timur
dan selatan berbatasan dengan Kelurahan Demaan dan sebelah utara
dengan Kelurahan Kauman. Mayoritas penduduknya bermata pencarian
sebagai petani dan nelayan, memiliki garis pantai sepanjang 3,67 km.
Luas kompleks BBPBAP Jepara kurang lebih 64,5472 ha yang
terdiri dari kompleks balai seluas sepuluh ha dan tambak seluas 54,5472
ha. Kompleks Balai terdiri dari perkantoran, perumahan, asrama, unit
pembenihan, unit pembesaran, lapangan olah raga, auditorium dan
laboratorium. BBPBAP Jepara dan sekitarnya merupakan daerah
beriklim tropis dengan hujan terjadi pada bulan November-Maret,
musim pancaroba terjadi pada bulan April-Juni dan musim kemarau
terjadi pada bulan Juli-Oktober.
3. Struktur Organisasi dan Tenaga Kerja
Berdasarkan SK Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : KEP.
26 C/MEN/2001 tanggal 1 Mei 2001 tentang organisasi dan tata kerja
BBPBAP Jepara yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) berada
dibawah dan bertanggung jawab kepada Direktorat Jenderal Perikanan
Budidaya Perairan. Didalam struktur organisasi tersebut terdapat
kelompok jabatan fungsional yang mempunyai tugas melaksanakan
kegiatan perekayasaan, pengujian, pembimbingan, penerapan standar
teknik alat dan mesin, sertifikasi pembenihan dan pembudidayaan,
penyuluhan hama dan penyakit, pengawasan benih dan kegiatan lain
yang sesuai dengan masing-masing jabatan fungsional berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kelompok jabatan
fungsional yang terdapat di BBPBAP Jepara yaitu, jabatan fungsional
Perekayasaan, jabatan fungsional Pustakawan serta jabatan Teknisi
Litkayasa.
Struktur Organisasi Balai Besar Pengembangan Budidaya Air
Payau (BBPBAP) Jepara, terdiri dari bidang pelayanan teknik, bidang
standarisasi dan informasi, bidang tata usaha dan kelompok jabatan
fungsional. Untuk mempermudah koordinasi dan memperlancar
pelaksanaan tugas pejabat fungsional dibentuk kelompok kegiatan
perekayasaan yang terdiri dari kelompok kegiatan kesehatan ikan dan
lingkungan, kelompok kegiatan pakan hidup dan buatan, kelompok
kegiatan national shrimp broodstock center (NSBC), kelompok kegiatan
perbenihan dan kelompok kegiatan pembesaran.
BBPBAP Jepara didukung sumberdaya manusia sebanyak 191
orang, terdiri dari 161 orang PNS, empat orang CPNS dan 26 orang
Tenaga Kontrak. Tingkat pendidikan pegawai di BBPBAP Jepara
bervariasi dari jenjang SD sampai tamatan S2. Namun demikian untuk
meningkatkan SDM dilingkungannya, BBPBAP Jepara juga melakukan
peningkatan kompetensi baik dengan pendidikan formal maupun non
formal kepada pegawainya agar perkembangan ilmu pengetahuan dan
keahlian terus meningkat.
4. Visi dan Misi BBPBAP Jepara
Visi BBPBAP Jepara adalah mewujudkan balai sebagai instansi
pemberi pelayanan prima dalam pembangunan dan pengembangan
sistem usaha budidaya air payau yang berdaya saing, berkelanjutan dan
berkeadilan.
Misinya yaitu mengembangkan rekayasa teknologi budidaya
berbasis agribisnis dan melaksanakan alih teknologi kepada dunia
usaha, meningkatkan kapasitas kelembagaan, mengembangkan sistem
informasi IPTEK perikanan, mengembangkan jasa pelayanan dan
sertifikasi serta memfasilitasi upaya pelestarian sumberdaya ikan dan
lingkungannya.
5. Sarana dan Prasarana BBPBAP Jepara

Untuk mendukung seluruh kegiatan, di BBPBAP Jepara


dilengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana.
Beberapa unit laboratorium telah dioperasionalkan guna
menunjang pencapaian produksi dan penerapan teknik budidaya
berwawasan lingkungan. Laboratorium tersebut meliputi :
a. Laboratorium pakan : 2 unit

b. Laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan : 2 unit


BBPBAP Jepara dilengkapi dengan sarana transportasi berupa 4
unit kendaraan roda dua, 2 unit kendaraan roda tiga, 9 unit kendaraan
roda empat dan 4 unit kendaraan roda enam guna mendukung
kelancaran tugas dan kegiatan balai.
Sumber energi utama di BBPBAP Jepara adalah listrik, karena
listrik merupakan sarana vital dan merupakan salah satu pendukung
utama kegiatan balai secara umum. Listrik diperlukan secara terus-
menerus selam 24 jam. Pembangkit tenaga listrik yang digunakan
berasal dari jaringan PLN dengan daya terpasang sebesar 147 KVA dan
197 KVA dengan panjang jaringan 5000m, 6 buah genset masing-
masing dengan daya 150 KVA (dua buah), 80 KVA (satu buah), 250
KVA (satu buah), 125 KVA (satu buah) yang digunakan untuk
menanggulangi sewaktu-waktu aliran listrik PLN mengalami gangguan
atau padam.
BBPBAP Jepara memiliki jaringan air tawar dalam komplek
perbenihan, perkantoran dan rumah tangga sepanjang 1.000 m dengan
tandon air dan pompa. Jaringan air laut digunakan untuk mensuplai
kebutuhan di perbenihan serta laboratorium dengan panjang jaringan
sepanjang 2.500 m yang dilengkapi dengan tandon, tower dan jaringan
aerasi.

Bangunan yang dimiliki BBPBAP Jepara adalah berupa gedung


perkantoran, laboratorium, bangsal perbenihan, ruang kuliah,
auditorium, garasi, asrama, guest home, rumah dinas, dan pos satpam.
Gedung perkantoran meliputi : gedung utama (2 lantai) yang digunakan
untuk perpustakaan, ruang rapat, ruang para pejabat struktural beserta
staf, serta 5 buah bangunan gedung lainnya digubakan untuk para
pejabat Struktural, Fungsional Perekayasa, Pengawas dan Litkayasa.

B. Bangsal Perbenihan Kepiting


1. Siklus Hidup Kepiting Bakau
Kasry (1996) menyatakan kepiting bakau dalam menjalani
hidupnya beruaya dari perairan pantai ke perairan laut, kemudian induk
dan anak-anaknya akan berusaha kembali ke perairan hutan bakau untuk
berlindung, mencari makan atau membesarkan diri. Kepiting bakau
melangsungkan perkawinan di perairan bakau, setelah selesai maka
secara perlahan-lahan sesuai dengan perkembangan telurnya yang betina
akan beruaya ke laut menjauhi pantai mencari perairan yang kondisinya
cocok untuk melakukan pemijahan. Kepiting jantan yang telah
melakukan perkawinan atau yang telah dewasa akan tetap berada di
perairan bakau, tambak, atau sekitar perairan pantai yang berlumpur dan
memiliki organisme makanan berlimpah.
Kepiting bakau dapat menghasilkan dua ribu sampai delapan ribu
telur tergantung dari ukuran dan umur dari kepiting betina yang
memijah. Pemijahan kepiting bakau umumnya berlangsung sepanjang
tahun, namun kegiatan bertelur pada setiap perairan tidak semua
pemijahan berlangsung pada dasar perairan yang dalam dan mengikuti
periode bulan, khususnya bulan-bulan yang baru dengan jarak ruaya
yang tidak lebih dari satu kilometer dari pantai.
Kepiting bakau memiliki daya toleransi hidup pada salinitas air
yang rendah (10 24 o/oo). Tingkat perkembangan kepiting bakau dapat
dibagi atas tiga fase yaitu fase telur (embrionik), fase larva dan fase
kepiting (Estampador, 1949 dalam Mulya, 2000). Tingkat
perkembangan tersebut antara lain tingkat zoea, tingkat megalova,
tingkat kepiting muda dan tingkat kepiting dewasa (Boer et al., 1993
dalam Rosmaniar, 2008). Setelah telur menetas maka muncul larva
tingkat I (zoea I) yang terus menerus berganti kulit (moulting) kemudian
terbawa arus ke perairan pantai sampai lima kali (zoea V),
membutuhkan waktu 18 hari selanjutnya akan berganti kulit menjadi
megalova yang bentuk tubuhnya sudah mirip dengan kepiting dewasa
kecuali masih memiliki bagian ekor yang panjang.
Tingkat megalova ke tingkat kepiting muda membutuhkan waktu
11 - 12 hari pada salinitas 29 33 o/oo sebelum berganti kulit menjadi
tingkat kepiting pertama. Kasry (1996) menyatakan apabila salinitas air
lebih rendah (21 27o/oo) pada tingkat megalova, kepiting muda
bergerak ke arah pantai memasuki perairan payau. Siahainenia (2000)
menyatakan dari tingkat megalova ke kepiting muda memerlukan waktu
15 menit. Kepiting muda akan bermigrasi kembali ke hulu estuaria,
kemudian berangsur-angsur memasuki hutan mangrove, hingga
berkembang menjadi kepiting dewasa.

GaaaaGambar 1. Siklus Hidup Kepiting Bakau (Kasry, 1991).

GaaaaGambar 2. Siklus Hidup Kepiting Portunidae

2. Hubungan Parameter Fisik Kimia Air dan Substrat Terhadap


Perkembangan Kepiting Bakau
a. Suhu

Suhu merupakan faktor yang banyak mendapat perhatian


dalam pengkajian kelautan. Apabila suhu di permukaan air
meningkat, kepiting akan lebih lama tinggal dalam lubang.
perairan yang mempunyai suhu tinggi cenderung menaikkan
angka pertumbuhan kepiting bakau dan waktu dewasa
menjadi singkat. Suhu air yang lebih rendah dari 20 oC dapat
mengakibatkan aktivitas dan nafsu makan kepiting bakau
turun secara drastis. Suhu yang optimal untuk pertumbuhan
kepiting yaitu antara 25 oC- 30 oC.
b. Kecerahan
Selama periode pasang surut maupun pasang naik
menunjukkan bahwa perbedaan waktu menyebabkan adanya
perbedaan kecerahan. Waktu pasang surut pengaruh daratan
lebih dominan sehingga tingkat kecerahannya lebih rendah
sedangkan pada waktu pasang naik laut memiliki kecerahan
lebih tinggi berpengaruh terhadap kondisi perairan, juga
dipengaruhi oleh adanya limbah yang menutupi permukaan
perairan sehingga dapat menghalangi penetrasi cahaya.
c. Salinitas Air
Salinitas disebut kadar garam atau kegaraman. Jumlah berat
semua garam yang terlarut dalam 1 liter air, biasanya
dinyatakan dengan satuan o/oo (permil, garam per mil).
Salinitas berpengaruh terhadap setiap fase kehidupan
kepiting bakau, terutama pada saat moulting. Kasry (1996)
menyatakan kepiting bakau dewasa kawin dan mematangkan
telurnya pada perairan yang mempunyai salinitas 15 o/oo
o
29 /oo walaupun belum diketahui pengaruh salinitas
terhadap pertumbuhannya. Kepiting bakau akan mengubah
konsentrasi cairan tubuhnya sesuai dengan lingkungannya
melalui kombinasi proses osmosis dan difusi. Kisaran
salinitas yang sesuai bagi kepiting adalah 10 30 o/oo atau
digolongkan ke dalam air payau.
d. Derajat Keasaman (pH)
Kehidupan organisme aquatik sangat dipengaruhi oleh
fluktuasi nilai pH. Kondisi perairan yang bersifat sangat
asam maupun sangat basa membahayakan kelangsungan
hidup organisme karena menyebabkan terjadinya gangguan
metabolisme dan respirasi. Soim (1999) menyatakan bahwa
pH yang sesuai untuk kepiting bakau berkisar antara 7,2 -
7,8. Sedangkan menurut Kasry (1996) pH yang baik untuk
kepiting adalah 7,0 - 8,0. Sehingga dapat disimpulkan, PH
air yang sesuai untuk kepiting bakau yaitu berkisar 7,0-8,0.
e. Kandungan Oksigen Terlarut atau Disolved Oxygen
(DO)
Disolved Oxygen (DO) merupakan banyaknya oksigen terlarut
dalam suatu perairan. Oksigen terlarut ini merupakan suatu
faktor yang sangat penting di dalam ekosistem perairan,
terutama dibutuhkan untuk respirasi bagi sebagian besar
organisme air. Oleh sebab itu kelarutan oksigen dalam air
sangat dipengaruhi suhu. Kepiting dapat hidup pada perairan
yang memiliki kandungan oksigen terlarut lebih dari 4 mg/liter.
3. Pakan Kepiting Bakau
Pakan untuk kepiting besar yaitu ikan segar diblender. Selain
itu juga diberi makanan tambahan berupa aritmia. Kepiting
mulai hari pertama diberi pakan berupa rotifer atau basulus
selain itu juga diberi vitamin.

Gambar 3. Artemia Gambar 4. Rotifer

C. Laboratorium Pakan Buatan


1. Peralatan di Laboratorium Pakan Buatan
Dalam laboratorium pakan buatan terdapat peralatan-
peralatan yang menunjang pembuatan pakan buatan antara
lain mesin penepung, mesin extruder, mesin pencampur,
mesin pencetak, blender, mesin pengering drum dryer, dan
oven.
a. Mesin Penepung
Mesin penepung digunakan untuk menghaluskan semua
bahan baku yang akan digunakan untuk membuat pakan
pelet terapung. Kehalusan dari keluaran bahan dapat
disesuaikan sesuai keinginan dengan cara mengganti
saringan output yang terdapat di dalam mesin. Berdasar
informasi dari BBPBAP, bahan yang akan digiling dengan
mesin ini harus dalam keadaan kering sehingga dapat halus
dengan sempurna dan membuat kerja mesin menjadi lebih
ringan, namun apabila bahan yang dimasukkan kurang
kering maka yang akan terjadi adalah bahan yang berada di
saluran output akan masih terasa kasar dan tidak bisa benar-
benar halus, serta dapat menyumbat saringan output,
sehingga dapat merusak mesin.
b. Mesin Extruder
Mesin Ekstruder berfungsi untuk mengaduk dan menekan
material, proses yang terjadi di mesin extruder juga
ditambahkan uap agar material yang keluar dapat
mengembang
c. Mesin Pencampur
Mesin pencampur yang digunakan di laboratorium pakan
buatan di BBPBAP Jepara adalah mixer seperti yang terdapat
pada perusahaan roti, menggunakan bahan stainless steel
sehingga lebih awet dan tidak mudah berkarat atau rusak.
Kelemahannya, harga dari alat ini relatif mahal dan
pengoperasiannya membutuhkan tenaga listrik yang relatif
besar, sehingga untuk pembuatan pakan dalam jumlah sedikit
penggunaan mesin ini tidak efektif, dan disarankan untuk
mencampur semua bahan pakan secara manual dengan
menggunakan tangan.
d. Mesin Pencetak
Mesin pencetak digunakan untuk mencetak pakan menjadi
pelet atau bentukan silindris yang padat dan kompak,
sehingga mudah dalam pengaplikasian pakan pada ikan atau
udang. Alat pencetak pelet di laboratorium pakan buatan
BBPBAP Jepara terdiri dari 2 jenis, yaitu yang menggunakan
sumber tenaga dari listrik dan diesel, masing masing 2
buah alat bertenaga listrik dan 1 buah alat bertenaga mesin
diesel. Kapasitas produksi maksimal sebesar 30 kg/jam.
Diameter keluaran dapat disesuaikan sesuai kebutuhan,
mulai dari 1 mm hingga 8 mm. Mesin diesel yang digunakan
di BBPBAP menggunakan merk TONGFENCO bertenaga
7,7 HP. Kapasitas lebih besar, karena terdiri dari double layer
dengan ukuran masing-masing layer yang lebih besar dari
pencetak elektrik, sehingga dapat menampung dan mencetak
bahan dengan kapasitas yang jauh lebih besar untuk waktu
yang sama, produksi hingga 75 kg/jam.
e. Blender
Blender digunakan untuk menghaluskan bahan pakan dalam
jumlah kecil, terdapat 2 buah blender di laboratorium pakan
buatan BBPBAP Jepara. Tenaga dari blender ini tidak dapat
diforsir terlalu tinggi dan terus menerus, karena blender ini
mudah mengalami overheat dan dapat mengalami kerusakan.
f. Mesin pengering drum dryer
Pakan yang baru saja keluar dari mesin pencetak serta masih
dalam keadaan basah dan hangat segera dimasukkan
kedalam mesin ini, fungsi dari mesin ini adalah untuk
membuat agregat pelet yang sudah terbentuk tersebut
menjadi lebih kompak serta untuk memperhalus permukaan
pelet. Cara kerja mesin ini adalah dengan memanaskan drum
dengan api dari kompor elpiji, lalu memutar drum tersebut
secara kontinyu sehingga pakan yang berada di dalamnya
akan terpanaskan dan kompak secara merata.
g. Oven
Oven digunakan untuk mengeringkan pakan maupun bahan
baku pakan yang akan diolah menjadi pakan pelet di
lingkungan BBPBAP Jepara. Oven berukuran tinggi dua
meter, lebar dua meter dan ketebalan satu meter. Di dalam
oven ini tersusun rak-rak yang digunakan sebagai tempat
untuk mengeringkan bahan. Oven ini mempunyai dua pintu,
dan jumlah rak ada lima buah di setiap pintu, sehingga total
terdapat sepuluh rak. Sumber panas oven menggunakan
energi dari dua buah lampu bohlam sepuluh watt pada setiap
rak, sehingga total terdapat 20 buah lampu. Lampu-lampu ini
terhubung secara paralel di setiap rak, sehingga rak yang
tidak digunakan dapat dimatikan lampunya untuk
menghemat energi.

2. Teknik Pembuatan Pakan Apung di BBPBAP Jepara


a. Persiapan bahan Baku
Bahan baku untuk pembuatan pakan buatan harus
memenuhi beberapa kriteria, antara lain bahan pakan harus
mempunyai nilai gizi tinggi, mudah diperoleh, mudah diolah,
tidak mengandung racun, harganya relatif murah, serta bukan
merupakan makanan pokok manusia sehingga tidak merupakan
saingan bagi manusia. Hal yang perlu diperhatikan dalam
pemilihan bahan baku di BBPBAP Jepara yang akan digunakan
untuk pembuatan pakan terapung antara lain adalah nilai gizi,
kandungan dalam bahan pakan serta ketersediaan.
Pengetahuan mengenai nilai gizi dalam bahan baku sangat
penting untuk menentukan formulasi bahan pakan di dalam
pakan buatan. Bahan pakan hendaknya mudah dicerna dan
bermanfaat bagi tubuh ikan. Kecernaan bahan pakan tergantung
pada masing-masing jenis ikan, misalnya ikan karnivora
hendaknya tidak diberikan pakan dengan bahan-bahan asal
tumbuhan karena ikan jenis ini tidak mempunyai enzim untuk
memecah selulosa.
Bahan baku pakan yang mudah diperoleh dengan harga
murah dalam proses pembuatan pakan ikan apung di BBPBAP
Jepara antara lain terigu untuk ternak serta kedelai dan tepung
ikan yang dibeli dari nelayan setempat sebagai sumber protein.
Bahan yang dipersiapkan untuk membuat pakan harus
dipastikan bisa tersedia secara terus-menerus agar apabila
pembuatan pakan ini dibuat secara massal akan berjalan secara
lancar dan tidak terhambat serta memiliki nilai protein yang
tinggi. Secara umum ikan memanfaatkan protein sebagai
sumber energi utama, sehingga komponen utama yang harus
tersedia saat membuat pakan ikan adalah protein. Namun
demikian, pakan ikan tidak hanya berfungsi sebagai penghasil
energi, sehingga ketersediaan komponen lain dalam pembuatan
pakan ikan juga sangat penting seperti karbohidrat, lemak, serta
vitamin. Pemilihan dan pensortiran bahan baku pembuatan
pakan dilakukan secara manual di BBPBAP Jepara, dengan
mayoritas sumber dari pasar atau penjual lokal di Jepara.
Racun adalah zat yang dapat menyebabkan sakit atau
kematian, mengganggu pertumbuhan, terakumulasi dalam
tubuh dan dapat merusak nilai gizi pakan buatan. Kemungkinan
adanya racun dalam bahan baku harus dideteksi sedini mungkin
agar tidak membahayakan ikan peliharaan. Penyimpanan yang
terlalu lama dapat menyebabkan bahan baku pakan mengalami
kerusakan fisik, kimia atau meningkat kandungan racunnya.
Perubahan ini dapat terjadi karena adanya aktivitas mikroba,
serangga atau karena adanya proses oksidasi pada bahan pakan.
b. Penyusunan Ransum
Penyusunan bahan pakan ikan biasanya didasarkan pada
kandungan protein dari setiap bahan untuk menentukan
prakiraan akhir kadar protein pakan. Di BBPBAP Jepara,
penyusunan ransum dilakukan dengan cara yang lebih modern
menggunakan software komputer Microsoft Excel untuk
penyusunan ransum pakan dengan hasil yang lebih cepat dan
akurat. Bahan-bahan utama yang digunakan dalam pembuatan
pakan ikan antara lain tepung ikan, kedelai, ragi, minyak ikan,
vitamin dan mineral, serta bahan perekat.
Tepung ikan, merupakan bahan utama dalam penyusunan
ransum ikan. Tepung ikan memiliki kandungan protein yang
tinggi yaitu 55. Mutu protein tepung ikan sangat dipengaruhi
oleh cara penanganan dan proses pengolahannya. Ciri-ciri
tepung ikan yang dipakai untuk bahan pembuat pakan antara
lain adalah: secara kasat mata terlihat bersih dan tidak
terkontaminasi oleh serangga atau kutu, berbau seperti ikan
kering, terasa kering dan tidak terasa lembab bila dipegang,
tidak tengik, tidak berbau apek maupun asam.
Kedelai yang dijadikan bahan baku pakan ikan dapat
berupa tepung atau bungkil. Kedelai merupakan sumber protein
nabati yang sangat baik dipakai dalam formulasi pakan ikan.
Keunggulan kedelai adalah mudah dicerna dan mengandung
asam amino esensial. Kedelai memiliki kandungan protein
kasar 42 50 %. Selain itu, kedelai memiliki harga yang
terjangkau dan mudah untuk didapatkan. Menurut Sutikno
(2011) selain kedelai, bahan baku nabati dapat berupa jagung
kuning (kadar proteinnya rendah (8,9%)), dedak halus
(kandungan protein kasar 13,5%), dan bungkil kacang tanah
(kandungan protein kasar 47,0%),
Di BBPBAP Jepara, minyak ikan digunakan sebagai
bahan sumber lemak yang rendah kolesterol, minyak ikan juga
mengandung vitamin A dan D dalam jumlah yang tinggi, kedua
vitamin ini merupakan dua macam vitamin yang larut dalam
lemak. Minyak ikan juga berfungsi sebagai bahan attractan
karena baunya yang khas membuat ikan lebih terangsang untuk
memakan pakan yang diberikan.
Yeast atau ragi adalah mikroorganisme yang berasal dari
spesies Saccharomyces cerevisiae yang dimanfaatkan dalam
pembuatan roti. Pada kondisi air yang cukup dan adanya
makanan bagi ragi, khususnya gula, maka yeast ini akan
tumbuh dan mengubah karbohidrat dan gula menjadi alkohol
dan karbondioksida (Mudjiman, 2004). Gas karbondioksida
yang terbentuk kemudian ditahan oleh bahan pakan sehingga
gas tersebut terperangkap di dalam pori pakan.
Bahan perekat digunakan untuk membuat pakan menjadi
kompak, tidak cepat hancur saat dimasukkan kedalam air dan
membuat pakan dapat tahan lebih lama didalam air. Beberapa
bahan yang berfungsi sebagai perekat antara lain adalah agar-
agar, gelatin, tepung kanji, terigu dan tepung sagu (Mudjiman
2004).
Penambahan vitamin dan mineral kedalam pakan
umumnya dilakukan dengan menggunakan premix atau vitamin
mix. Premix ini diformulasikan khusus untuk menyadiakan
vitamin atau menggantikan vitamin yang hilang selama proses
pembuatan pakan. Hingga sekarang belum ada vitamin mix
yang diperuntukkan khusus untuk ikan sehingga pembuatan
pakan ikan di BBPBAP Jepara menggunakan premix untuk
ayam ras dengan merk TOP MIX. Jumlah penggunaan premiks
vitamin dan mineral dalam ramuan pakan ikan cukup 1-2%
saja. Premiks untuk pakan udang jumlahnya dapat diperbanyak
hingga 10-15%. Hal ini disebabkan udang sering berganti kulit
sehingga membutuhkan banyak mineral.
c. Penepungan
Bahan baku yang akan digunakan dihancurkan sehingga
menjadi tepung dengan menggunakan alat berupa penggiling
tepung. Penepungan dilakukan menggunakan mesin penepung
jenis disc mill yang menggunakan tenaga motor listrik AC
sebagai penggerak dengan power sebesar 7,5 kW atau setara
dengan 10 HP. Tahapannya adalah, bahan yang telah kering
ditampung pada tempat penampungan dibagian atas mesin, lalu
bahan tersebut dikeluarkan atau diturunkan secara perlahan-
lahan kedalam bilik mesin penghancur, didalam bilik mesin ini
pakan akan dihancurkan dengan prinsip bahan dihancurkan
dengan pisau yang berputar cepat pada sebuah piringan, setelah
itu bahan yang telah hancur akan keluar melalui saringan
dengan lubang yang berukuran sekitar 80 mesh, namun bahan
yang ukurannya masih kasar tidak akan bisa masuk dan akan
dihaluskan lagi hingga ukurannya kecil dan bisa masuk ke
dalam saringan, bahan yang lolos melewati saringan ini secara
otomatis akan keluar dari mesin melalui lubang yang berada di
bagian bawah mesin. Pada lubang ini dipasang kantung kain
yang telah diikat di bagian ujungnya untuk menampung tepung
hasil dari bahan yang telah dihancurkan tersebut.
d. Pengayakan
Alat ini berfungsi untuk menyaring bahan yang digiling
dari alat disk mill sehingga ukuran bahan menjadi seragam dan
akan memudahkan pengolahan selanjutnya. Sebaiknya
menggunakan ukuran mash yang kecil sehingga bagian yang
masih kasar akan digiling kembali (Gunawan 2010).
Pengayakan difokuskan untuk bahan baku yang telah lama
disimpan dan tidak digiling langsung dengan mesin (tepung
yang telah tersedia), lalu diayak secara manual menggunakan
ayakan yang terbuat dari bahan anyaman kawat dengan
diameter output sebesar 90 mesh, proses ini juga ditujukan
untuk mencegah adanya kontaminan semisal kerikil dan bahan
lain seperti dari jenis serangga yang sering menyerang bahan
pakan yang sudah lama disimpan di dalam gudang.
e. Penimbangan
Masing-masing bahan yang akan dipakai untuk membuat
pakan dan telah berbentuk tepung kering lalu diambil dan
ditimbang satu persatu sesuai dengan formulasi yang telah
ditentukan. Penimbangan dilakukan menggunakan timbangan
analitik dengan sensitifitas sebesar 0,1 gram. Bahan-bahan yang
telah sesuai dengan takaran yang ditentukan lalu ditampung
kedalam ember atau plastik secara terpisah untuk selanjutnya
dilakukan pencampuran.
f. Pencampuran
Pencampuran dilakukan secara manual dengan tangan
dan bantuan sendok yang terbuat dari kayu, pencampuran
dimulai dari kuantitas bahan yang paling sedikit dilanjutkan
bertahap sampai pada bahan dengan kuantitas paling banyak,
proses pencampuran ini dilakukan sampai campuran semua
bahan benar-benar merata, homogen dan tidak ada yang
menggumpal, sehingga akan membuat pencetakan menjadi
lebih sempurna dan terhindar dari ketidakseragaman
kandungan dari setiap butiran pakan yang telah tercetak.
Vitamin dan mineral dicampur terpisah dengan sumber
lemak (minyak) dan selanjutnya dicampurkan terakhir ke
dalam campuran bahan kering.
Tahap terakhir adalah pencampuran binder dan air
kedalam campuran pakan, binder dicampurkan selagi masih
hangat-hangat kuku. Penambahan binder dilakukan sedikit
demi sedikit sampai jumlah binder dirasa sudah cukup,
apabila binder sudah habis dan dirasa masih kurang (adonan
masih terlalu kering) dapat ditambahkan air panas kedalam
adonan pakan (tanpa menambah formulasi binder), dan
dilakukan hingga bahan berbentuk seperti remah yang tidak
lengket satu sama lain, apabila dipadatkan dengan tangan
dapat dibentuk menjadi gumpalan yang mudah pecah. Binder
dibuat menggunakan bahan tepung tapioka dengan berat
kering sebanyak 5 persen dari berat total seluruh bahan
pakan dalam bentuk kering.
Pencampuran ini juga menentukan kualitas dari suatu
pakan, apabila pencampuran dilakukan dengan teliti maka akan
dihasilkan campuran bahan pakan yang homogen, sehingga
pada saat pakan sudah dicetak dan sudah kering tiap butirannya
mengandung kandungan yang sama.
g. Fermentasi
Proses fermentasi dilakukan dengan menggunakan
soda kue sebanyak 5 gram per kilogram bahan pakan.
Caranya adalah dengan mengaduk soda kue secara merata
pada bahan pakan yang telah tercampur homogen kedalam 1
ember plastik dan sedikit dipadatkan, lalu semua bahan tadi
ditutup rapat dan didiamkan selama 2 jam agar proses
fermentasi terjadi. Selanjutnya bahan siap dicetak dengan
menggunakan mesin pencetak pelet.
Soda kue adalah bahan yang terdiri dari natrium
bikarbonat murni, bahan ini biasa dugunakan untuk
mengembangkan adonan, membuat adonan pakan mengembang
karena membuat jutaan gelembung gas karbondioksida yang
masing-masing berukuran sangat kecil. Gelembung-gelembung
gas tersebut dilepas dalam adonan yang masih basah, yang
kemudian memuai karena panas dari mesin pencetak, dan
setelah adonan mengeras maka gelembung-gelembung itu
terperangkap di tempat masing-masing, akibatnya berat jenis
pakan akan menjadi ringan dan dapat mengapung di air.
h. Pencetakan
Pencetakan pakan di BBPBAP Jepara dilakukan
dengan menggunakan mesin pencetak pelet yang digerakkan
oleh tenaga listrik. Bahan-bahan yang telah tercampur dan
difermentasi lalu dimasukkan kedalam alat pencetak sedikit
demi sedikit hingga adonan pakan habis. Alat pencetak pelet
ini berbentuk silinder dengan motor di bagian belakang alat
sebagai tenaga penggerak. Bagian dalam alat terdapat ulir
pengepres bahan adonan pelet. Ulir pengepres ini mendorong
bahan adonan ke arah ujung silinder dan menekan plat
berlubang sebagi pencetak pelet. Lubang plat ini berdiameter
dua milimeter, sesuai dengan ukuran pelet yang dikehendaki,
pelet yang telah keluar dari lubang cetakan lalu ditampung di
dalam ember dan dipotong menggunakan tangan dengan
ukuran panjang 1 cm.
i. Pengeringan
Tahap pertama pengeringan adalah dengan
menggunakan mesin pengering drum dryer, yaitu alat
pengering awal dan untuk membuat pelet kasar yang baru
keluar dari mesin pencetak menjadi bentukan pelet yang
lebih kompak dan dengan permukaan yang halus.
Pengeringan dengan alat ini tidak boleh terlalu lama,
melainkan hanya 10 menit saja, karena suhunya yang tinggi
dapat merusak vitamin dan nutrisi lain di dalam pakan.
Tahap kedua adalah mengeluarkan pakan yang telah
setengah kering dari drum dryer, lalu menampung pakan
dengan nampan atau loyang, pakan diratakan pada nampan
dan lapisan pakan ini tidak boleh terlalu tebal agar pakan
cepat kering, selanjutnya nampan tersebut dimasukkan dan
disusun sedemikian rupa kedalam oven untuk membuat
pakan menjadi kering sempurna. Tahap ini dapat memakan
waktu hingga 48 jam untuk menghasilkan pakan yang benar-
benar kering dan siap untuk dikemas ataupun dapat langsung
digunakan.
Pakan dapat juga dikeringkan dengan cara diangin-
anginkan atau dijemur dibawah sinar matahari akan tetapi
cara ini tidak efektif dilakukan pada saat musim hujan.
j. Pengemasan
Pakan yang telah dikeringkan selama 24-48 jam di
dalam oven lalu dikeluarkan dan diangin-anginkan selama 30
menit didalam ruangan agar suhu pakan menjadi dingin dan
uap air pada pakan menghilang. Pakan yang telah kering
( 10-12% kadar air) lalu dikemas dalam kantong plastik
untuk menjaga kualitasnya serta agar tidak terkena serangan
jamur maupun serangga.
k. Penyimpanan
Penyimpanan dimaksudkan agar pakan tidak
mengalami kerusakan dan tetap terjaga mutunya, sehingga
penyimpanan dengan cara yang benar mutlak diperlukan
untuk menjaga mutu dan nutrisi dari pakan tersebut agar
tetap optimal pada saat pakan diberikan pada ikan.
Persyaratan umum di laboratorium pakan buatan BBPBAP
Jepara untuk menyimpan pakan pelet yang telah jadi antara
lain adalah pakan harus disimpan di tempat yang kering,
sejuk dan berventilasi agar sirkulasi udara lancar dan tidak
terjadi kelembaban yang berlebihan, pakan juga harus
disimpan di atas rak kayu/falet dan hindari penyimpanan
langsung di atas lantai agar kekeringan pakan terjaga
sehingga pakan tidak cepat rusak, sebaiknya hindari juga
kontak pakan dengan sinar matahari langsung agar tidak
mengurangi nilai nutrisi dan vitamin pakan.
Lama penyimpanan pakan buatan disesuaikan dengan
kondisi fisik dan kimia pakan tersebut, namun umumnya
pakan yang telah tersimpan terlalu lama akan terkontaminasi
serangga ataupun teroksidasi oleh mikroba sehingga bersifat
toksik. Pakan yang telah rusak jangan digunakan, karena
mutunya telah menurun dan tidak layak diberikan pada ikan.
Gambar 5. Pakan buatan Gambar 6. Kondisi bangsal
hewan akuatik di BBPBAP pakan buatan BBPBAP Jepara
Jepara.

D. Bangsal Pakan Alami


Pakan alami yang dijadikan komoditas BBPBAP Jepara yaitu
Lumbricus rubellus karena Lumbricus rubellus dijadikan sebagai asupan
pakan induk udang. Berdasarkan beberapa hasil penelitian menunjukkan
bahwa penggunaan cacing Lumbricus rubellus sebagai asupan pakan
induk pada udang menyebabkan kematangan gonad pada produksi
induk lebih tinggi. Jika biasanya telur yang dihasilkan 750.000/ekor
dengan pengkayaan nutrisi pakan berupa cacing Lumbricus rubellus
jumlah telur dapat meningkat hingga 1.500.000/ekor. Pakan Lumbricus
rubellus diberikan pada calon induk yang umurnya lebih dari delapan
bulan.
Menurut Tanake et al. (2013) cacing tanah merupakan pakan alami
yang mengandung protein sebesar 72%. Cacing tanah sangat mudah
dicerna dalam alat pencernaan dan mudah dipecah menjadi asam-asam
amino yang berguna untuk tubuh ikan. Peran cacing tanah pada pakan
adalah sebagai pengganti tepung ikan. Hal ini dikarenakan protein yang
terkandung dalam tubuh cacing tanah lebih tinggi dibandingkan dengan
tepung ikan. Dengan demikian, penggunaan cacing tanah dapat
digunakan sebagai sumber protein pada pakan. Hartono (2009),
menambahkan substitusi tepung ikan dengan silase tepung cacing tanah
berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan, efisiensi pakan serta
kelulushidupannya.
Lumbricus rubellus yang dibudidaya BBPBAP Jepara berasal dari
Wonosobo berusia remaja. Di BBPBAP diperkaya (enrichment) dengan
memberi pakan ampas tahu, spirulina, dan sayuran seperti kol.
Pemberian pakan pada Lumbricus rubellus berupa ampas tahu dan
spirulina diberikan sehari sekali. Sedangkan, pakan sayuran berupa kol
diberikan seminggu sekali. Berdasarkan hasil penelitian Soni et al.
(2011) cacing yang diberikan sebagai pakan induk diperkaya dengan
spirulina gell selama 3 hari berturut-turut. Pengkayaan spirulina
dilakukan melalui pakan yang dicampur dengan ampas tahu dengan
perbandingan ampas tahu: spirulina gel = 2:1 dengan dosis total pakan
sekitar 15% biomassa cacing/hari. Pengkayaan ini sangat sederhana
tetapi sangat efektif, terbukti seluruh pakan adonan yang diberikan habis
dimakan oleh cacing dalam semalam. Aplikasi L. rubellus yang
dikayakan spirullina sp. mampu meningkatkan produktivitas induk,
yaitu fekunditas meningkat sebesar 40% dan produksi induk meningkat
sebesar 17% jika dibanding dengan performen reproduksi induk matang
telur di alam.
Pada dasarnya jenis cacing yang paling disukai udang yaitu Nereis
atau cacing laut. Namun, Nereis lebih sulit dibudid ayakan sehingga
dipilih cacing Lumbricus rubellus sebagai komoditas pakan alami di
BBPBAP Jepara. Budidaya Nereis untuk digunakan sebagai pakan alami
sedang berada pada tahap uji coba.

Gambar 7. Spirulina sp. Gambar 8. Gambar


Tempat 9. cacing
Sebagai pakan budidaya Lumbriscus rubellus
Lumbriscus dengan pemberian ampas
tahu
E. Laboratorium Mikrobiologi Kesehatan Hewan Akuatik
(MKHA)

Laboratorium Mikrobiologi Kesehatan Hewan Akuatik (MKHA)


merupakan laboratorium yang menjadi bagian dari Laboratorium
Kesehatan Hewan Akuatik di BBPBAP Jepara. Peralatan yang terdapat
pada laboratorium MKHA secara umum sama dengan laboratorium
mikrobiologi pada umumnya. Peralatan yang terdapat di laboratorium
MKHA diantaranya peralatan gelas (cawan petri, Erlenmeyer, tabung
reaksi, gelas ukur, dsb), Laminar Air Flow, Oven, autoclave, Shaker,
dsb. Metode pengujian mikrobiologi meliputi: penentuan angka
lempeng total bakteri Vibrio sp., penentuan Coliform dan identifikasi
bakteri yaitu Vibrio harveyi, Vibrio alginolyticus, Vibrio Chloreae dan
Vibrio parahaemolycus. Pengujian mikrobiologi terhadap air dilakukan
seminggu sekali.

Air merupakan salah satu media pertumbuhan bakteri. Kualitas air


yang rendah dapat memacu pertumbuhan bakteri, sehingga menjadi
patogen dan dapat menimbulkan penyakit dan kematian pada udang
windu. Sebaliknya jika kualitas air tambak dapat dipertahankan,
keberadaan Vibrio sp tidak akan menimbulkan penyakit. keberadaan
Vibrio sp pada air dipengaruhi oleh limbah yang dapat mengakibatkan
menurunnya kualitas perairan tambak. Besamya pengaruh serangan
Vibrio sp. terhadap budidaya hewan akuatik menyebabkan identifikasi
terhadap bakteri Vibrio sp. perlu dilakukan.

Vibrio Menyebabkan beberapa penyakit pada udang diantaranya


penyakit udang menyala, Nekrosis, Septisemia, dan Penyakit Udang
Bengkok.
Penyakit udang menyala menyerang udang pada stadia larva
sampai dengan awal pasca larva, dengan ciri-ciri antara lain larva yang
terserang penyakit kelihatannya menyala apabila diamati pada kondisi
yang gelap, larva kelihatan lemah, tidak aktif berenang, nafsu makan
menurun, tampak bercak merah (red discoloration). Penyakit yang
menyerang adalah bakteri Vibrio sp. Penyakit ini terjadi pada saat
musim hujan dimana salinitas menurun. Selain itu perubahan temperatur
yang menyolok antara siang dan malam. Hal ini mengakibatkan
perubahan lingkungan yang derastis yang berakibat larva udang
mengalami stres yang kemudian penyakit masuk kedalam tubuh larva.

Nekrosis; Penyebab nekrosis ini adalah bakteri dari genus Vibrio


yang merupakan infeksi sekunder dari infeksi pertama yang disebabkan
oleh luka, erosi bahan kimia atau lainnya. Gejala yang terjadi pada
udang antara lain muncul beberapa nekrosis (berwarna kecoklatan) di
beberapa tempat (multilokal), yaitu pada antena, uropod, pleopod, dan
beberapa alat tambahan lainnya, usus udang kosong, karena tidak ada
nafsu makan.

Septisemia; Penyebab sepsemia adalah bakteri Vibrio


alginolyticus,. Penyakit ini menyerang melalui infeksi sekunder dari
infeksi pertama yang disebabkan defisiensi vitamin C, toxin, luka dan
karena stres yang berat. Gejala yang terjadi dari udang windu antara lain
menyerang larva dan post larva terdapat sel-sel bakteri yang aktif dalam
haemolymph (sistem darah udang).

Penyakit udang bengkok; penyakit ini adalah jenis bakteri Vibrio


sp. Ciri-ciri larva udang yang terserang penyakit ini antara lain badan
larva tampak bengkok, gerakan kurang aktif, tubuh, molting tidak
sempurna dan antena berwarna merah. Usaha untuk mencegah penyakit
ini adalah dengan mengawasi kestabilan kualitas air baik suhu dan
salinitas, mengadakan desinfeksi terhadap bak-bak pemeliharaan,
pemberian pakan dengan nilai nutrisi yang tinggi dan menambahkan
kalsium serta mineral lain kedalam makanan.

Gambar 10. Peralatan di Gambar 10. Peralatan gelas di


Laboratorium MKHA. Laboratorium MKHA.

F. Pembesaran Ikan Nila Salin

Ikan Nila Salin merupakan jenis ikan unggul yang dihasilkan oleh
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Disebut Nila Salin,
karena nila jenis ini tahan hidup pada air salinitas tinggi hingga 20
promil sehingga jenis ikan nila ini layak dibudidayakan di tambak.
Perekayasa Biologi dan Budidaya Ikan BPPT Husni Amarullah
menuturkan, seleksi awal untuk menemukan Nila Salin ini memang
melalui uji tantang, yakni mengganti air tawar dengan air laut secara
bertahap. Ikan nila yang diuji tersebut merupakan hasil dari proses
seleksi persilangan (dialling crossing) dari delapan varietas ikan nila
yang dimulai pada tahun 2009.
Kolam penampungan induk ikan nila di BBPBAP Jepara
sekaligus dapat digunakan untuk kolam pemijahan. Jumlah kolam
pemijahan ikan nila salin di BBPBAP jepara sejumlah 10 kolam, dengan
luas kolam 4 m2. Ketinggian air pada kolam pemijahan tersebut yaitu 70
cm. Kepadatan induk pada tiap kolam sebanyak 1 - 3 ekor/m 2. Kolam
pemijahan yang digunakan berupa kolam berbentuk persegi yang
dilengkapi saluran inlet dan outlet. Pada saluran inlet jarang digunakan,
karena pasokan air untuk proses pemijahan berupa air tawar. Kolam
pemijahan ini berbahan dasar semen yang dibentuk cekung menuju
saluran oulet.
Induk yang akan dipijahkan harus memiliki kriteria tertentu.
Adapun kriteria indukan yang siap dipijahkan yaitu; gerakannya lincah,
warna tubuh cerah, kondisi ikan sehat, bagian tubuh tidak cacat, pada
ikan jantan apabila diurut bagian perut mengeluarkan cairan berwarna
putih kental sedangkan pada ikan betina pada alat kelaminnya berwarna
kemerahan dan mengeluarkan telur jika diurut. Indukan yang siap
memijah biasanya berumur 5 - 6 bulan, dengan panjang lebih dari 11
cm. Bobot tubuh untuk ikan betina 100 g, sedangkan untuk ikan jantan
200 g. Ikan jantan cenderung lebih besar dibanding ikan betina. Induk
yang biasa dipijahkan pada BBPBAP jepara ini berasal dari BBAT
seperti Janti dan Sukabumi.
Beberapa faktor penting yang harus diperhatikan dalam budidaya
ikan nila salin yaitu pemilihan benih, persiapan kolam, pemberian
pakan, hingga penanganan penyakit.
1. Memilih benih ikan nila
Pemilihan benih merupakan faktor penting yang menentukan tingkat
keberhasilan budidaya ikan nila. Untuk hasil maksimal sebaiknya
gunakan benih ikan berjenis kelamin jantan. Karena pertumbuhan ikan
nila jantan 40% lebih cepat dari pada ikan nila betina. Budidaya ikan
nila secara monosex (berkelamin semua) lebih produktif dibanding
campuran. Karena ikan nila mempunyai sifat gampang memijah
(melakukan perkawinan). Sehingga bila budidaya dilakukan secara
campuran, energi ikan akan habis untuk memijah dan pertumbuhan
bobot ikan sedikit terhambat.
2. Persiapan kolam budidaya
Budidaya ikan nila bisa menggunakan berbagai jenis kolam, mulai dari
kolam tanah, kolam semen, kolam terpal, jaring terapung hingga tambak
air payau. Dari sekian jenis kolam tersebut, kolam tanah paling banyak
digunakan karena cara membuatnya cukup mudah dan biaya
konstruksinya murah.
3. Pemeliharaan budidaya ikan nila
Setelah semua persiapan selesai dilakukan dan benih sudah ditebarkan
ke dalam kolam, langkah selanjutnya adalah merawat ikan hingga usia
panen. Tiga hal yang paling penting dalam pemeliharaan budidaya ikan
nila adalah pengelolaan air, pemberian pakan dan pengendalian hama
penyakit.
a. Pengelolaan air
Agar pertumbuhan budidaya ikan nila maksimal, pantau kualitas air
kolam. Parameter penentu kualitas air adalah kandungan oksigen dan
pH air. Bisa juga dilakukan pemantauan kadar CO 2, NH3 dan H2S bila
memungkinkan.
Bila kandungan oksigen dalam kolam menurun, perderas sirkulasi air
dengan memperbesar aliran debit air. Bila kolam sudah banyak
mengandung NH3 dan H2S yang ditandai dengan bau busuk, segera
lakukan penggantian air. Caranya dengan mengeluarkan air kotor
sebesar nya, kemudian menambahkan air baru. Dalam keadaan
normal,pada kolam seluas 100 m2 atur debit air sebesar 1 liter/detik.
b. Pemberian pakan
Pengelolaan pakan sangat penting dalam budidaya ikan nila. Biaya
pakan merupakan komponen biaya paling besar dalam budidaya ikan
nila. Berikan pakan berupa pelet dengan kadar protein 20-30%.
Ikan nila membutuhkan pakan sebanyak 3% dari bobot tubuhnya setiap
hari. Pemberian pakan bisa dilakukan pada pagi dan sore hari. Setiap
dua minggu sekali, ambil sampel ikan nila secara acak kemudian
timbang bobotnya. Lalu sesuaikan jumlah pakan yang harus diberikan.
Perhitungan dosis pakan budidaya ikan nila:
Dalam satu kolam terdapat 1500 ekor ikan nila berukuran 10-20
gram/ekor.
Rata-rata bobot ikan (10+20)/2 = 15 gram/ekor.
Perhitungan pakannya 15 x 1500 x 3% = 675 gram = 6,75 kg per
hari
Mengecek bobot ikan setiap dua minggu untuk menyesuaikan jumlah
pakan.
c. Pengendalian hama dan penyakit
Seperti telah disebutkan sebelumnya, ikan nila merupakan ikan yang
tahan banting. Pada situasi normal, penyakit ikan nila tidak banyak
mengkhawatirkan. Namun bila budidaya ikan nila sudah dilakukan
secara intensif dan massal, resiko serangan penyakit harus diwaspadai.
Penyebaran penyakit ikan sangat cepat, khususnya untuk jenis penyakit
infeksi yang menular. Media penularan biasanya melewati air. Jadi bisa
menjangkau satu atau lebih kawasan kolam. Untuk penjelasan lebih jauh
silahkan baca hama dan penyakit ikan nila.

BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

1. Kondisi lingkungan yang diperlukan kepiting bakau


meliputi suhu, kecerahan, salinitas air, PH, Kandungan
Oksigen Terlarut atau Disolved Oxygen (DO). Suhu
optimal untuk pertumbuhan kepiting yaitu antara 25 oC-
30 oC. Kecerahan dipengaruhi oleh adanya limbah yang
menutupi permukaan perairan sehingga dapat
menghalangi penetrasi cahaya. Kisaran salinitas yang
sesuai bagi kepiting adalah 10 30 o/oo atau digolongkan
ke dalam air payau. PH air yang sesuai untuk kepiting
bakau yaitu berkisar 7,0-8,0. Serta, Kepiting dapat hidup
pada perairan yang memiliki kandungan oksigen terlarut
lebih dari 4 mg/liter. Pakan untuk kepiting besar yaitu
ikan segar diblender. Selain itu juga diberi makanan
tambahan berupa aritmia. Kepiting mulai hari pertama
diberi pakan berupa rotifer atau basulus selain itu juga
diberi vitamin.
2. Tahapan-tahapan pembuatan pakan buatan hewan akuatik
di BBPBAP Jepara meliputi persiapan bahan baku,
penyusunan ransum, penepungan, pengayakan,
penimbangan, pencampuran, fermentasi, pencetakan,
pengeringan, pengemasan, dan penyimpanan. Bahan-
bahan utama yang digunakan dalam pembuatan pakan
ikan antara lain tepung ikan, kedelai, ragi, minyak ikan,
vitamin dan mineral, serta bahan perekat.
3. Penggunaan cacing Lumbricus rubellus sebagai asupan
pakan induk pada udang menyebabkan kematangan
gonad pada produksi induk lebih tinggi. Di BBPBAP
diperkaya (enrichment) dengan memberi pakan ampas
tahu, spirulina, dan sayuran seperti kol.
4. Bakteri parasit pada hewan akuatik di BBPBAP Jepara
yaitu genus Vibrio. Spesies Vibrio yang diidentifikasi
pada uji mikrobiologi di BBPBAP Jepara yaitu Vibrio
harveyi, Vibrio alginolyticus, Vibrio Chloreae dan Vibrio
parahaemolycus.Vibrio menyebabkan beberapa penyakit
pada udang diantaranya penyakit udang menyala,
Nekrosis, Septisemia, dan Penyakit Udang Bengkok.
5. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap budidaya ikan
nila salin yaitu pemilihan benih, persiapan kolam,
pemberian pakan, hingga penanganan penyakit.

Daftar Pustaka

Gunawan, D. 2010. Pedoman Pembangunan Pabrik Pakan Skala Kecil


dan Proses Pengolahan Pakan. Jakarta: Direktorat Jenderal
Peternakan.
Kasry, A.1996. Budidaya Kepiting Bakau dan Biologi Ringkas. Medan:
PT. Bhratara Niaga.
Soni,A.F.M., J. Sumarwan & A. Gunarso. 2011. Enrichment Spirulina
(Spirulina platensis) Melalui Cacing (Lumbricus rubellus)
terhadap performance Kematangan Gonad Induk Udang Windu
(P. monodon).Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur.
Jepara: BBPBAP Jepara.
Sutikno, Erik. 2011. Pembuatan Pakan Buatan Ikan Bandeng. Jepara:
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Balai Besar
Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara.
Tanake,G.T., D. Rachmawati & Subandiyono.2013.Pengaruh Substitusi
Tepung Ikan dengan Silase Cacing Tanah (Lumbricus rubellus)
dalam Pakan Buatan terhadap Pemanfaatan Pakan Dan
Pertumbuhan Juvenil Kerapu Macan (Epinephelus
fuscogutattus).Journal of Aquaculture Management and
Technology. 2(3): 20-26.