Anda di halaman 1dari 32

PEDOMAN

PELAYANAN INSTALASI REHABILITASI MEDIK

RUMAH SAKIT PUSAT PERTAMINA


2 0 1 6
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pelayanan Instalasi Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Pusat Pertamina


(RSPP) merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan terhadap
gangguan fisik dan fungsi yang diakibatkan oleh keadaan atau kondisi sakit,
penyakit atau cidera melalui paduan intervensi medik, keterapian fisik atau
rehabilitatsi untuk mencapai kemampuan fungsi yang optimal. (Kepmenkes
No.378/Menkes/SK/IV/2008).

B. Tujuan Pedoman

Upaya rehabilitasi medik ditujukan untuk mempertahankan atau


meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan cara mencegah,
mengurangi impairment / kelainan, disability / ketidakmampuan dan
handicap / kecacatan, beserta dampaknya melalui peningkatan fungsi
semaksimal mungkin, sehingga dapat melakukan fungsinya di masyarakat

C. Ruang Lingkup

Pelayanan kesehatan dengan pendekatan rehabilitasi medik, yaitu


pendekatan kelainan, ketidakmampuan, kecacatan yang terjadi pada pasien.
Hal ini secara spesifik terlihat dari pendekatan peran dokter sebagai guru
dan fasilitator, peran aktif pasien dan pendekatan kerja secara rutin.
Pelayanan rehabilitasi medik tidak terlepas dari upaya kesehatan pada
umumnya, yaitu upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitative dalam
cakupan yang spesifik yaitu terhadap kecacatan. Jenis pelayanan di IRM
dapat dilihat di halaman 13 16

D. Batasan Operasional
Pelayanan Instalasi Rehabilitasi Medik RSPP diselenggarakan secara rutin.
Adapun waktu pelaksanaannya yaitu :
a. Senin Jumat : 08.00 19.00
b. Sabtu : 08.00 17.00

1
E. Landasan Hukum
a. UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran
b. UU No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat
c. UU No. 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan
d. UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
e. UU No. 6 Tahun 1974 tentang Kesejahteraan Sosial Penyandang cacat
f. Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 1987 Jo SKB
No.48/MENKES/II/98 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah
dalam Bidang Kesehatan kepada Pemerintah daerah
g. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1045 Tahun 2006 tentang Pedoman
Organisasi Rumah Sakit di Lingkungan Departemen Kesehatan
h. Peraturan Menteri Kesehatan No. 867 Tahun 2004 tentang Registrasi
dan Praktek Terapis Wicara
i. Peraturan Menteri Kesehatan RI No.104 Tahun 1999 tentang
Rehabilitasi Medik
j. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 585 Tahun 1989 tentang
Persetujuan Tindakan Medik
k. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 159b Tahun 1988 tentang Rumah
Sakit
l. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 749a Tahun 1988 tentang Rekam
Medis/Medical Record
m. Kepmenkes No. 1363 2001 tentang Registrasi dan Izin Praktik Fisioterapi
n. Kepmenkes No. 1333 Tahun 1999 tentang Standar Pelayanan Rumah
Sakit
o. Kepmenkes No. 983 Tahun tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit
p. Kepmenkes No.571/Menkes/SK/VI/2008 tentang Standar profesi
Okupasi Terapi

2
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. KualifikasiSumberDayaManusia

Kegiatan Instalasi Rehabilitasi Medik RSPP harus dilakukan oleh petugas yang
memiliki kualifikasi pendidikan dan pengalaman yang memadai serta
memperoleh/memiliki kewenangan untuk melaksanakan kegiatan di bidang
yang menjadi tugas atau tanggungjawabnya.

Adapun kualifikasi SDM Instalasi Rehabilitasi Medik RSPP adalah :

SPESIFIKASI Jumlahtenaga yang


adasaatini

Dokter Dokter Spesialis 5


Rehabilitasi Medik

Fisioterapis D3/D4/S1 Fisioterapi 10

Okupasi Terapis D3 Okupasi Terapi 2

Terapis Wicara D3 Terapi Wicara 1

Perawat D3 Keperawatan 1

Administrasi SMA 1

Kurir SMA 2

4
B. DistribusiKetenagaan
Distribusi ketenagaan disesuaikan dengan jumlah pasien yang dilayani di
Instalasi Rehabilitasi Medik.
Distribusi ketenagaan Instalasi Rehabilitasi Medik :

JABATAN JUMLAH (orang)


Dokter Rehabilitasi Medik
5
Terapis :
Fisioterapi 10
Okupasi Terapi 2
Terapi Wicara 1

Perawat 1

Penunjang Operasional 3
Instalasi Rehabilitasi
Medik

C. Pengaturasn Jadwal Layanan


Jadwal buka layanan : Senin Jumat : 08.00 19.00
Sabtu : 08.00 17.00
Pengaturan jadwal dokter Rehabiltasi medic dilakukan oleh kepala KSM
Rehabilitasi Medik diketahui oleh kepala Instalasi Rehabilitasi Medik
Pengaturan rotasi kerja fisioterapi dibuat oleh pengawas Rehabilitasi
Medik dan diketahui oleh kepala Instalasi Rehabilitasi Medik

5
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Daftar Fasilitas IRM

No. Jenis Fasilitas Keterangan

A Ruangan

01 Ruang Dokter +

02 Ruang Fisioterapi +

03 Ruang Okupasi Terapi +

04 Ruang Terapi Wicara +

05 Ruang Administrasi +

06 Ruang Gymnasium +

07 Ruang VIP +

08 Ruang Ganti Pakaian +

09 Ruang Tunggu +

10 Ruang Perawat +

11 Ruang Cuci dan WC +

B Listrik

Minimal Watt

C Mebel :

01 Meja kerja +

02 Meja tulis +

6
03 Lemari obat +

04 Lemari arsip +

D Peralatan kantor

01 Komputer +

02 Printer +

03 Papan Tulis +

04 Telepon +

05 Alat Tulis +

06 Televisi +

B. Daftar Alat Terapi IRM

No Nama

A Fisioterapi

1 Short Wave Diatermy

2 Microwave Diatermy

3 Ultrasonic Therapy

4 TENS(Transcutaneus Elektrical Nerve Stimulasi)

5 Infrared Radiation

7
6 Traction

7 Dyatermy

8 Nebulizer

9 Transmeter

10 Telting Table

11 Parafin Bath

12 Electrical stimulation

13 Ultraviolet Radiation

B Okupasi Terapi

1 Puzzel Donat

2 Cone Besar

3 Cone kecil

4 Stik

5 Hand Grip

6 Peg Board

7 Puzzel polisi dan montir

8
8 Skateboard

9 Tic Tac Toe

10 Bola Bilateral

11 Sling Elbow

12 Kettler

13 Asah otak

14 Ball Pool dan Bola

15 Thrampolin

16 Fleksi Dsik Swing

17 Boster swing

18 Plat Form Swing

19 Barrel

20 Balance Board

21 Climbing wall

22 Bean Beg

23 Box Tactile

9
24 Wedge

25 Play Thunnel

26 Standing Table

27 Chair CP

28 Balance Board

29 Motor Planning

30 Vercrow Screw Board

31 Kartu Buah

32 Kartu Huruf

33 Kartu Angka

34 Kartu Binatang

35 Biji2

36 Lake stroke (resling dan kancing)

37 Manik-manik (meronce)

C Rehabilitasi Medik

1 Treatmill

2 Laser

10
C. Denah Instalasi Rehabilitasi Medik
B. Denah IRM Lantai 2

Ruang
Pws.Rehab Tangga Darurat
Ruang

Terapi Wicara

Toilet
Adm VIP
Lift Pintu Masuk

Ruang
Ruang Dokter II
Traksi Ruang
Ruang Dokter I
OkupasiR
terapi T
R
p
T
p Toilet
Ruang Terapi 1 Pasien

Pasien
Ruang Gym/Terapi 4
R
T Ruang
Inhalasi
p

Ruang Terapi 2 Pasien

Ruang Terapi 3
R
T
p
Pantry

11
C. Denah IRM Lantai 3

RUANG VIP Tangga


Darurat

LIFT

PENTRY

TOILET PRIA

TOILET WANITA

MUSOLAH

AUDITORIUM

RUANG

OKUPASI TERAPI

12
BAB IV
KEBIJAKAN PELAYANAN IRM

1. Instalasi Rehabilitasi Medik melayani pasienRawat Jalan dan Rawat Inap

2. Pelayanan yang tersedia di Instalasi Rehabilitasi Medik antara lain


:Konsultasi dokter, Fisioterapi, Okupasi Terapi dan Terapi Wicara

3. Sebelum dilakukan pelayanan pasien dilakukan assessment oleh dokter


Rehabilitasi Medik

4. Pasien diberikan penjelasan tindakan yang akan dilakukan (lembar


edukasi pasien)

5. Petugas Terapis melakukan tindakan terapi sesuai dengan permintaan


dokter Rehabilitasi Medik

6. Selama pelaksanaan tindakan petugas/dokter melakukan evaluasi


pasien

7. Tindakan terapi dilakukan oleh petugas yang berkompeten dan sesuai


dengan Standar Prosedur Operasional ( SPO )

8. Setiap 1 paket terapi pasien dianjurkan untuk kembali ke dokter


(melakukan evaluasi )

9. Selama melakukan tindakan terapi petugas memperhatikan hak-hak


pasien dan sesuai dengan etika dokter.

10. Pelayanan Rehabilitasi Medik selalu mengutamakan keselamatan pasien


(Patient safety, hand hygiene)

11. Survey kepuasan pelanggan dilakukan setiap 1 bulan sekali

13
BAB V
TATA LAKSANA PELAYANAN

Instalasi Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Pusat Pertamina merupakan unit


kerja bagian dari unit unit kerja di RSPP, Rehabilitasi Medik atau Ilmu Kedokteran
Fisik Dan Rehabilitasi (IKFR) merupakan bidang kedokteran Spesialisasi yang
berhubungan dengan diagnosis evaluasi dan pengobatan serta pengelolaan
penderita dengan berbagai usia seperti kelainan (Impairment), Kecacatan
(Disability) serta Handycap fisik dan kognitif yang menggunakan pendekatan
Holistik dan menyeluruh serta bertujuan tercapainya kemampuan fungsional yang
maksimal, baik fisik, psikososial, sosial, okupasional dan vokasional.
Tim Rehabilitasi Medik (Dokter Rehabilitasi Medik, Fisioterapi, Okupasi
Terapi, Terapi Wicara) dalam melaksanakan kegiatan pelayanan terhadap pasien
berwenang untuk melakukan penulisan catatan perkembangan pasien dalam bentuk
SOAP.
S = Subjektif (informasi yang diperoleh langsung dari pasien / keluarga)
O = Objektif (observasi langsung terhadap pasien dan pemeriksaan)
A = Assesmen (berupa diagnosis, aset/limitasi pasien)
P = Planning (meliputi tujuan terapi jangka pendek dan tujuan terapi jangka
panjang)
Instalasi Rehabilitasi Medik dapat menangani beberapa kasus pediatri/anak
(gangguan perkembangan), muskuloskeletal (fraktur/patah tulang, pengapuran),
neuromuskular (saraf kejepit, stroke), kardiorespirasi (penyakit yang berhubungan
dengan pernafasan ; asma, banyak dahak, pemulihan pasca operasi jantung),
gangguan atensi konsentrasi, gangguan menelan-bahasa-bicara, serta kasus
geriatri dan lainnya.

Pelayanan IRM dibagi menjadi beberapa layanan :

A. Konsultasi/rujukan dokter Instalasi rehabilitasi Medik


Pelayanan rehabilitasi medik di RSPP dilaksanakan melalui pendekatan sistem
satu pintu (one gate system) dan harus dilakukan pemeriksaan atau penilaian
oleh dokter spesialis rehabilitasi medik untuk didiagnosis fungsional dan
menentukan terapi yang dibutuhkan.

14
B. Fisioterapi
Pelayanan kesehatan terhadap pasien sebagai individu maupun kelompok,
dalam memaksimalkan potensi gerak dan meminimalkan kesenjangan antar
gerak aktual dan gerak fungsi pada dimensi pelayanan pengembangan,
memelihara, memulihkan gerak dan fungsi sepanjang daur kehidupan.
Berdasarkan ruang lingkup pelayanan fisioterapi dan tuntutan kebutuhan
masyarakat maka pelayanan fisioterapi dikembangkan sesuai kebutuhan
masyarakat, yaitu :

No Jenis Layanan
1 SWD (Short Wave Diatermi)
2 MWD (Microwave Diatermi)
3 US (Ultrasound)
4 TENS (Transcutaneus Elektrical Nerve Stimulasi
5 ES (Elektrical Stimulasi)
6 IR (Infra Red)
7 UV (Ultraviolet)
8 Cervical Traction
9 Lumbal Traction
10 Paraffin Bath
11 Massage & Manipulation
12 General Exercise
13 Active / Pasive Exercise
14 Back / Neck Exercise
15 Shoulder Exercise
16 Knee Exercise
17 Walking Exercise / Gait training
18 Bledder Training
19 Chest Therapy
20 Vestibular Exercise
21 Pre / Post Op Exercise
22 Posture

15
C. Okupasi Terapi
Layanan kesehatan yang menangani pasien dengan gangguan fisik dan atau
mental yang bersifat sementara atau menetap.
Berdasarkan ruang lingkup pelayanan okupasi terapi dan tuntutan kebutuhan
masyarakat maka pelayanan okupasi terapi dikembangkan sesuai kebutuhan
masyarakat, yaitu :

No Jenis Layanan
1 Scaning / spatial neglect
2 Motor planning
3 Copy 2 dan 3 dimensi
4 Macam-macam Puzzel
5 Menggambar orang,rumah, mobil dll
6 Diskriminasi
7 Mengelompokkan warna dan bentuk
8 Propioceptive
10 Stereognosis
11 Memory
12 Orientasi orang, tempat dan waktu
13 Identifikasi bagian tubuh
14 Dexterity / pincing
15 Calculation
16 Latihan gerak fungsional
17 Latihan ADL (Activity Daily Living)
18 Behaviour Therapy
19 Sensori Integrasi

D. Terapi Wicara
Suatu profesi yang memberikan pelayanan pada gangguan komunikasi yang
berperan dalam mengidentifikasi, memeriksa, menangani dan mencegah
gangguan bahasa dan bicara baik secara reseptif dan ekspresif pada semua

16
modalitas (bicara, menulis, lambang dan gambar) memberikan pelayanan untuk
gangguan menelan.
Berdasarkan ruang lingkup pelayanan terapi wicara dan tuntutan kebutuhan
masyarakat maka pelayanan terapi wicara dikembangkan sesuai kebutuhan
masyarakat, yaitu :

No Jenis Layanan
1 Dysarthria (kelainan srtikulasi)
2 Dysglosia (sumbing)
3 Dyslalia (kesalahan lingkungan)
4 Aphasia (gangguan suara)
5 Dyslogia (retardasi mental)
6 Dysphonia (gangguan suara)
7 Dysphagia(gangguan menelan)
8 Aphonia (kelainan suara)
9 Stuttering (gagap)
10 Clattering (gangguan bicara)
11 Manipulation / Stimulation

Alur pelayanan rehabilitasi medik adalah sebagai berikut :


Pendaftaran Pasien Rawat Jalan.

Proses pendaftaran / penerimaan pasien Instalasi Rehabilitasi Medik berasal


dari :

A. Rawat Jalan
B. Rawat Inap

Alur pasien baru rawat jalan :

1. Pasien mendaftar kebagian pendaftaran utama dengan membawa kartu


berobat dan atau membawa surat rujukan (dari pendaftaran pasien
mendapatkan treser)

2. Pasien menyerahkan treser dan surat pengantar ke adminitrasi Instalasi


Rehabilitasi Medik

17
3. Petugas administrasi menyerahkan surat pengantar ke perawat Instalasi
Rehabilitasi Medik

4. Perawat Instalasi Rehabilitasi Medik memanggil pasien dan melakukan


pengkajian keperawatan

5. Perawat Instalasi Rehabilitasi Medik mengantrikan pasien ke dokter


Instalasi Rehabilitasi Medik

6. Dokter melakukan pengkajian awal pasien, memeriksa pasien dan membuat


instruksi tindakan terapi sesuai dengan kebutuhan pasien

7. Dokter meyerahkan dokumen pemeriksaan dan instruksi tindakan terapi ke


perawat

8. Perawat menyerahkan dokumen pemeriksaan dan instruksi terapi ke


adminitrasi

9. Petugas Administrasi mendistribusikan lembar instruksi ke Terapis terkait

10. Terapis (Fisioterapi, Okupasi Terapi dan Terapi Wicara) memanggil pasien
dan melakukan tindakan terapi

11. Terapis melaporkan tindakan terapi ke adminitrasi instalasi rehabilitasi medik

12. Setelah selesai terapi, terapis meminta pasien untuk ke adminitrasi


mengambil bukti pembayaran

13. Petugas adminitrasi mengentry data dan menyerahkan bukti pembayaran ke


pasien dan menginformasikan pembayaran di kasir

Alur pasien lanjutan rawat jalan :

1. Pasien mendaftar kebagian pendaftaran utama dengan membawa kartu


berobat

2. Pasien menyerahkan treser kepada petugas adminitrasi Instalasi


Rehabilitasi Medik

3. Petugas administrasi mengantrikan pasien ke petugas terapi

4. Petugas terapis memanggil pasien dan melakuakan tindakan terapi

5. Petugas terapi melaporkan tindakan terapi ke petugas administrasi

6. Selesai terapi terapis meminta pasien untuk ke bagian administrasi


mengambil bukti pembayaran

18
7. Petugas adminitrasi mengentry data dan menyerahkan bukti pembayaran ke
pasien dan menginformasikan pembayaran ke kasir

Alur pasien rawat inap baru :

1. Perawat lantai mendaftarkan pasien ke bagian dr. Rehabilitasi Medik


(melalui perawat Rehabilitasi Medik)

2. Dr. Rehabilitasi Medik memeriksa pasien (bisa dilakukan di ruang rawat inap
atau poliklinik)

3. Dr. Rehabilitasi Medik membuat instruksi tindakan terapi

4. Perawatan Instalasi Rehabilitasi Medik membuat instruksi tindakan terapi ke


administrasi

5. Petugas administrasi mendistribusikan ke bagian terapi terkait

6. Terapis melakukan tindakan terapi (diruang rawat inap / dipoliklinik )

7. Setelah selesai terapi, Terapis melaporkan ke administrasi untuk mengantry


data

Alur pasien lanjutan rawat inap :

1. Perawat ruangan menghubungi petugas administrasi atau perawat untuk


mendaftarkan pasien ke Instalasi Rehabilitasi Medik
2. Perawat/petugas mengantarkan pasien ke Instalasi Rehabilitasi Medik
3. Perawat/petugas mengisi daftar kunjungan rawat inap di Instalasi
Rehabilitasi Medik
4. Petugas Administrasi mengantrikan pasien ke bagian terapi terkait
5. Setelah selesai terapi terapis melaporkan ke administrasi (pasien telah
dilakukan tindakan dan melapokan tindakan yang dilakukan
6. Petugas administrasi mengentry data dan menghubungi perawat atau
petugas untuk mengantarkan pasien ke ruang rawat inap
7. Perawat atau petugas mengantarkan pasien ke ruang rawat inap

Alur Pasien terakhir dalam 1 paket terapi :

1. Setelah pasien selesai dilakukan terapi satu paket

2. Administrasi menyampaikan kepada pasien bahwa telah dilakukan terapi 1


paket dan pasien harus konsultasi dokter untuk dilakukan evaluasi

3. Administrasi mendaftarkan pasien ke perawat rehabilitasi medik

19
4. Perawat mendaftarkan pasien dokter dan memanggil pasien saat gilirannya
tiba

5. Dokter melakukan evaluasi dan menentukan rencana selanjutnya antara


lain: terapi dilanjutkan , terapi dihentikan atau dikembalikan ke dokter
pengirim

Penanganan Pasien

Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik :

1. Identifikasi pasien, komunikasi efektif (pasien menyebutkan identitas diri


(nama/tanggal lahir), melihat gelang pasien, ).

2. Melakukan assesment medis SOAP

3. Membuat rencana tindakan terapi serta menentukan dosis terapi

4. Melakukan evaluasi hasil tindakan terapi

5. re-evaluasi tindakan medis (dikembalikan ke dokter pengirim / terapi


dilanjutkan / terapi dihentikan )

Fisioterapi :

1. Identifikasi pasien, komunikasi efektif (pasien menyebutkan identitas diri


(nama/tanggal lahir), melihat gelang pasien, ).

2. Melaksanakan Assesment / Pemeriksaan Fisioterapi antara lain


pemeriksaan kekuatan otot, Lingkup Gerak Sendi, tingkatan nyeri

3. Melakukan tindakan terapi sesuai dengan instruksi dokter Spesialis


Rehabilitasi Medik dan mendokumentasikan tindakan terapi sesuai dengan
SOAP ke dalam catatan perkembangan pasien terintegrasi.

4. Memberikan edukasi dan home program kepada pasien.

5. Melaporkan pasien ke dokter Rehabilitasi Medik setelah 1 paket terapi

6. Memberikan pelayanan Fisioterapi Rawat Jalan & Rawat Inap

7. Membuat catatan kegiatan Fisioterapi dalam berkas / status rehabilitasi


medik

8. Melaporkan pelaksanaan kegiatan fisioterapi meliputi :

Kemajuan pasien

20
Kelainan penyakit yang menyertainya

Kendala-kendala yang ditemui saat dilakukan terapi kepada dokter


Rehabilitasi Medik dan keluarga pasien

Okupasi Terapi :

1. Identifikasi pasien, komunikasi efektif (pasien menyebutkan identitas diri


(nama/tanggal lahir, gelang pasien).

2. Melaksanakan Assesment / Pemeriksaan Okupasi Terapi

3. Melakukan tindakan terapi sesuai dengan instruksi dokter Spesialis


Rehabilitasi Medik dan mendokumentasikan tindakan terapi sesuai dengan
SOAP ke dalam catatan perkembangan pasien terintegrasi.

4. Memberikan edukasi dan home program kepada pasien.

5. Melaporkan ke dokter Rehabilitasi Medik setelah 1 paket terapi .

6. Memberikan pelayanan Okupasi Terapi Rawat Jalan & Rawat Inap

7. Melaporkan pelaksanaan kegiatan Okupasi Terapi meliputi :

Kemajuan pasien

Kelainan penyakit yang menyertainya

Kendala-kendala yang ditemui saat dilakukan terapi kepada dokter


Rehabilitasi Medik dan keluarga pasien

Terapi Wicara :

1. Identifikasi pasien, komunikasi efektif (pasien menyebutkan identitas diri


(nama, tanggal lahir), gelang pasien).

2. Melaksanakan Assesment / Pemeriksaan Terapi Wicara

3. Melakukan tindakan terapi sesuai dengan instruksi dokter Spesialis


Rehabilitasi Medik dan mendokumentasikan tindakan terapi sesuai dengan
SOAP ke dalam catatan perkembangan pasien terintegrasi.

4. Memberikan edukasi dan home program kepada pasien.

5. Melaporkan pasien ke dokter Rehabilitasi Medik setelah 1 paket terapi.

6. Memberikan pelayanan Terapi Wicara Rawat Jalan & Rawat Inap

21
7. Membuat catatan kegiatan Terapi Wicara dalam berkas / status Rehabilitasi
Medik

8. Melaporkan pelaksanaan kegiatan Terapi Wicara meliputi :

Kemajuan pasien

Kelainan penyakit yang menyertainya

Kendala-kendala yang ditemui saat dilakukan terapi kepada dokter


Rehabilitasi Medik dan keluarga pasien

Perawat Rehabilitasi Medik :

1. Menerima pasien baru atau terakhir yang akan konsultasi dokter

2. Identifikasi pasien, komunikasi efektif (pasien menyebutkan identitas diri


(nama, tanggal lahir), gelang pasien)

3. Melakukan pengkajian keperawatan

4. Memberikan informasi seputar rehabilitasi medik

5. Mengantry data

Kejadian tidak terduga misalnya pasien belum selesai 1 paket terapi ada
keluhan (sakitnya bertambah) maka pasien dapat konsultasi kedokter tanpa harus
menyelesaikan 1 paket terapi

Apabila terjadi kasus kegawatdaruratan pada pasien di Instalasi Rehabilitasi


Medik, maka pasien tersebut dirujuk ke IGD. Jika terjadi kasus blue code dilakukan
tindakan BLS ditempat sampai team blue code tiba ditempat.

22
BAB VI
LOGISTIK

Investasi

Guna mendukung kelancaran operasional di Instalasi Rehabilitasi


Medik, dibutuhkan hubungan kerja terkait dengan pengadaan alat-alat
kesehatan dan investasi peralatan IRM. Hal ini bertujuan sentralisasi proses
pengadaan barang dan jasa di IRM RSPP.

Proses pengadaan alat-alat dan investasi di IRM dilaksanakan melalui


proses usulan dari unit kerja IRM dengan pertimbangan kajian bisnis serta
kebutuhan layanan. Adapun mekanisme pengadaan akan dilaksanakan
apabila memenuhi pertimbangan bisnis dan kebutuhan pengembangan
layanan baru ataupun pengganti alat kesehatan yang tidak layak pakai.

Dari proses di atas apabila usulan ke manajeman RSPP di terima


maka akan di adakan tender terkait pengadaan barang yang di butuhkan
dengan melalui proses tender yang telah di atur dalam panduan pengadaan
barang dan jasa di lingkungan PERTAMEDIKA.

Dari keputusan proses tender akan di pilih distributor atau vendor


pemenang tender untuk mengadakan alat atau barang investasi yang di
perlukan.

Pada akhir proses pengadaan dilaksanakan sampai dengan


penerimaan barang akan di lakukan melibatkan semua pihak baik bagian
Logistik, Tehnik, dan User terkait untuk menjamin barang investasi tersebut
sesuai dengan barang yang di harapkan.

BaranghabisPakai (BHP)

Guna mendukung kelancaran operasional di Instalasi Rehabilitasi


Medik, dibutuhkan pengadaan barang habis pakai terkait layanan di IRM.
Barang habis pakai yang diperlukan antara lain: Bisolvon Solution 50 ML;
Combivent UDT 2,5 ML; Flixotide Nebules 0,5 MG/2ML; Iodine Povidon 60

23
ML SOL; Pulmicort Respules 0,5 MG/ML;Ventolin Nebules 2,5 MG; Burnazin
cream 35GRAM; Counterpain 30 GRAM CREAM; Transpulmin-BB Balsem
10 GR; Otsu NS 25 ML Ampul;.

Proses permintaan barang habis pakai di IRM dilakukan melalui proses


usulan unit kerja IRM disesuaikan dengan kebutuhan layanan. Adapun
mekanisme permintaan barang habis pakai dengan membuat MIV yang
ditujukan ke bagian layanan umum dan farmasi setelah MIV di distribusikan
ke bagian terkait pengambilan barang dilakukan pada hari yang telah
ditentukan kecuali untuk barang cito.

24
BAB VII

KESELAMATAN PASIEN

Pengertian

Keselamatan pasien/pasien safety di Instalasi Rehabilitasi Medik (IRM)


adalah suatu proses dalam memberikan pelayanan yang lebih aman.
Termasuk di dalamnya assesmen resiko, identifikasi dan manajemen resiko
terhadap pasien, pelaporan dan analisis insiden dan menerapkan solusi
untuk mengurangi serta meminimalisir timbulnya resiko.

Tata laksana Keselamatan Pasien Di Instalasi rehabilitasi Medik RSPP

Pelayanan Rehabilitasi Medik adalah pelayanan kesehatan terhadap


gangguan fisik dan fungsi yang di akibatkan oleh keadaan/kondisi
sakit/cedera melalui paduan intervensi medik, keterapian fisik dan atau
rehabilitative untuk mencapai kemampuan fungsi yang optimal.Yang
mengacu pada prinsip umum pelayanan kesehatan bahwa keselamatan
pasien adalah yang utama.Dapat di artikan bahwa kepentingan pasien selalu
menjadi pertimbangan utama.

1. Identifikasi pasien dengan benar

Pasien diidentifikasi dengan menggunakan nama pasien dan tanggal


lahir

Pasien diidentifikasi sebelum pemberian terapi

2. Meningkatkan Komunikasi Efektif dengan SBAR

S : Situasi

B : Background

A : Assesmen

R : Rekomendasi

25
3. Menurunkan risiko penularan infeksi pada pasien

Menggunakan APD (masker, handscoon) saat melakukan tindakan

4. Menurunkan risiko pasien dari cedera atau jatuh

Menerapkan ergonomic kerja (moving, lifting, proper body mechanic)

26
BAB VIII

KESELAMATAN KERJA

Keselamatan kerja di Instalasi Rehabilitasi Medik merupakan salah satu


aspek penting yang harus diperhatikan. Keselamatan kerja merupakan tanggung
jawab bersama yang melibatkan unsur manajemen, karyawan, kondisi dan
lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mencegah dan mengurangi
kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Tindakan yang dilakukan bila terjadi kecelakaan merupakan upaya untuk


menangani suatu keadaan yang tidak terencana dan tidak terkontrol yang
merupakan salah satu aksi dan reaksi dari obyek zat dan manusia yang dapat
merugikan sumber daya manusia, keuangan dan material.

Hal tersebut bertujuan untuk melindungi pekerja Instalasi Rehabilitasi Medik


dan meminimalkan kecelakaan, untuk mencapai produktivitas yang optimal.

Bahaya / kecelakaan Fisik.


a. Tertusuk jarum :
i. Bersihkan luka pada air mengalir dan berikan betadine
ii. Segera lapor ke Instalasi Gawat Darurat untuk perawatan lebih lanjut
iii. Lapor kepada Penanggung Jawab harian (Pengawas) dan mengisi formulir
kecelakaan kerja.

b. Kecelakaan karena arus listrik.


i. Matikan panel listrik sesegera mungkin atau penderita harus segera
dilepaskan hubungannya denga arus listrik, hati hati penolong sendiri
jangan sampai terkena arus listrik. Berdirilah di atas kain dan lepaskan
hubungan penderita dengan kawat listrik denga menggunakan tongkat
sapu.
ii. Pertolongan selanjutnya disesuaikan dengan keadaan penderita, bila
pingsan dilakukan Basic Life Support segera melapor pada tim blue code,
bila kondisi tidak pingsan dibawa ke IGD
iii. Lapor kepada penanggung jawab harian (Pengawas) dan membuat berita
acara

27
c. Kebakaran.
i. Di dalam jam kerja.
1. Kebakaran kecil
a) Penemu kebakaran :
1) Padamkan kebakaran dengan menggunakan APAR.
2) Lapor kepada penanggung jawab (komandan lantai)
b) Penanggung jawab (komandan lantai) :

1) Perintahkan regu pemadam lantai bantu pemadaman.


2) Hubungi posko sekuriti dan LK3
3) Siagakan regu evakuasi dan regu penyelamat lantai
4) Koordinir regu pemadaman.

c) Regu pemadam lantai :

1) Bantu lakukan pemadaman

d) Regu evakuasi :

1) Mempersiapkan evakuasi ke tempat berkumpul yang telah


ditentukan.

2) Melaksanakan system pencatatan / pendataan pekerja atau


penghuni yang ada di lantai yang bersangkutan.
3) Koordinasi dengan petugas/ fungsi terkait lainnya untuk
kelancaran pelaksanaan evakuasi.
4) Menyerahkan daftar pelaksanaan evakuasi pekerja / penghuni
lantai kepada penanggung jawab lantai.
5) Melaporkan kepada penanggung jawab lantai apabila melihat
gejala kerusakan/ hambatan pada jalan keluar yang ada di
lantai bersangkutan.

2. Kebakaran besar
Bilamana terjadi kebakaran besar dan membahayakan penghuni serta
asset perusahaan sehingga dinyatakan bencana oleh fire chief, maka
tindakan penanggulangan sebagai berikut :

28
a) Fire chief, para pejabat OPKD dan tim manajeen segera
mengambil posisi di lokasi kejadian untuk mengendalikan
penanggulangan bencana.
b) Sementara regu bantuan pemadam kebakaran belum tiba di lokasi
kejadian, usaha pemadaman, penyelamatan dan evakuasi tetap
dilaksanakan oleh petugas yang ada di lingkungan RSPP.
c) Pada saat bersamaan semua petugas pelaksana OPKD
melaksanakan upaya dan tindakan yang diperlukan sesuai tugas
dan tanggung jawabnya masing masing dengan pengawasan
dan pengendalian dari para pejabat OPKD terkait di lokasi
kejadian.

ii. Di luar jam kerja

1. Kebakaran kecil
a) Penemu kebakaran :
1) Padamkan kebakaran dengan menggunakan APAR.
2) Laporkan kepada posko.

2. Kebakaran besar

Petugas petugas jaga lainnya : teknik, medis dan pekerja pekerja


yang sedang melaksanakan kerja lembur, membantu kelancaran
pelaksanaan usaha penanggulangan kebakaran, setelah semua
pejabat/fungsi OPKD berada di lokasi kejadian, maka operasi
penanggulangan kebakaran dilaksanakn sesuai prsedur kebakaran
besar dalam jam kerja.

d. Gempa bumi

1. Tetap tenang dan jangan panik.


2. Sebelum ada perintah evakuasi dari komandan lantai, tetap tinggal di
tempat dan berlindung pada tempat yang aman dan terhindar dari
kemungkinan kejatuhan benda benda.
3. Bila gempa bumi berkelanjutan dan membahayakan, disaster chief
menyatakan bencana.

29
4. Komandan gedung akan menginstruksikan kepada para komandan lantai
untuk melaksanakan evakuasi penghuni lantai masing masing secara
berurutan dimulai dari lantai tertinggi hingga terendah.
5. Bagi orang yang berada di lift pada waktu terjadi gemap bumi harus
segera keluar pada lantai terdekat.
6. Apabila lift mati, tetap tenang dan tekan tombol Panggilan Darurat.
7. Setelah kejadian gempa bumi selesai, komandan gedung, LK3, komandan
operasi teknik dan komandan operasi sekuriti melakukan pengkajian
terhadap kondisi gedung dan hasilnya dilaporkan pada fire chief.
8. Bilamana dari hasil pemeriksaan kondisi gedung tidak terdapat hal hal
yang membahayakan, maka fire chief menyatakan aman (bencana
berakhir).

Bahaya / Kecelakaan Biologi.


1. Risiko terinfeksi atau tertularnya virus : hepatitis/HIV-AIDS, bakteri TBC.
Bahaya Ergonomi
1. Proper Body Mechanic yang tidak benar
2. Mendorong alat-alat terapi
3. Tempat tidur yang terlalu tinggi
Bahaya Psikososial
Bekerja dengan beban kerja yang tinggi

30
BAB IX

PENGENDALIAN MUTU

Pengendalian mutu adalah uji kelengkapan system layanan untuk


menentukan seberapa baik layanan IRM. Sistem pengendalian mutu dapat
diandalkan merupakan hal penting untuk menjadikan layanan IRM yang berkualitas.
Dengan tujuan meningkatkan mutu pelayanan IRM, mengidentifikasi masalah
kinerja yang tidak diketahui dari mekanisme internal.

Prosedur pengendalian mutu mencakup :

Validasi fungsi alat


Pemeriksaan secara berkala alat-alat di IRM sesuai dengan jadwal yang
telah ditentukan
Jadwal kalibrasi alat
Validasia alur proses layanan
Pelayanan rawat jalan dan rawat inap
Melakukan assessment dan re-assesment
Melakukan tindakan evaluasi dan reevaluasi
Dokumentasi
Validasi sarana dan prasarana penunjang
Kelengkapan ruangan yang memadai
Alat-alat penunjang layanan di IRM
Validasi program peningkatan mutu
Penilaian kinerja pegawai IRM
Kepuasan pelanggan (kuesioner dari management mutu)
Validasi sertifikasi pegawai dan standar prosedur operasional (SPO)
Kelengkapan STR (Surat Tanda Registrasi) dan SIP (Surat Izin Praktek)
SPO IRM

Pengendalian mutu IRM antara lain: kelengkapan alat di IRM, kesiapan


alur pelayanan pasien, kelengkapan formulir layanan, kelengkapan dan
kelayakan sarana dan prasarana IRM, pelaksanaan proses kegiatan IRM,
kelengkapan SPO yang ada, dokumentasi layanan, ketersediaan peralatan
untuk menunjang fungsi pelayanan, pemeliharaan dan kalibrasi peralatan,

31
laporan bulanan dan tahunan, kecepatan penanganan pasien IRM. Saat ini,
respon time pasien kita ukur untuk pasien rawat jalan dengan satu tindakan
terapi menggunakan treser.
Indikator Kinerja Unit IRM
Waktu Tunggu pelayanan di Instalasi Rehabilitasi Medik.85% pasien
mendapatkan pelayanan kurang dari 30 menit.Survey kepuasan pelanggan
dilakukan dengan random sampling dan dimonitor setiap bulan sekali.

Ditetapkandi : Jakarta

Pada tanggal : 01 September2016

RUMAH SAKIT PUSAT PERTAMINA

Direktur,

dr. WidyaSarkawi, Sp.S

32

Anda mungkin juga menyukai