Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bayi prematur adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan kurang
dari 37 minggu. Diperkirakan sekitar 15 juta bayi lahir prematur di
dunia setiap tahunnya dan jumlah ini semakin meningkat. Dari 184
negara di dunia, prevalensi kelahiran premature berkisar dari 5%-18%
dari seluruh bayi yang lahir.1 bayi prematur membutuhkan asupan nutrisi
yang cukup untuk proses tumbuh kejar yang lebih cepat. Pemberian
nutrisi adekuat bagi bayi premature diharapkan dapat mencapai tahapan
tumbuh kembang yang optimal seperti bayi cukup bulan sehingga akan
diperoleh kualitas hidup yang juga optimal. Bayi prematur mempunyai
kemampuan penyediaan nutrisi yang terbatas, metabolisme yang belum
matur, jalur penyerapan yang belum sempurna, dan beberapa
permasalahan yang berkaitan dengan belum matangnya proses
perkembangan fungsi oromotor sehingga berisiko terjadi kekurangan gizi.
Indonesia merupakan negara kelima tertinggi di dunia dengan jumlah
kelahiran bayi prematur sekitar 675.700 per tahun.2 Kejadian hambatan
pertumbuhan pascakelahiran bayi prematur masih cukup tinggi. Oleh
karena itu, manajemen nutrisi pada bayi prematur dan bayi berat lahir
rendah (BBLR) atau bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) sangat penting
untuk mencegah terjadinya gagal tumbuh pada bayi prematur. Menurut
Riskesdas tahun 2013, jumlah kelahiran BBLR tahun 2013 adalah 10,2%,
mengalami penurunan sedikit dibanding tahun 2010 sebesar 11,1%.3,4
Bayi prematur mempunyai risiko yang lebih tinggi mengalami luaran
neurodevelopmental yang buruk. Pertumbuhan dan nutrisi yang adekuat
memegang peranan penting dalam memperbaiki luaran jangka
panjang.5Pemberian nutrisi optimal akan mempengaruhi perkembangan
otak selama kehidupan fetal dan bulan-bulan pertama setelah lahir. Pada
dekade terakhir, perhatian terfokus pada intervensi nutrisi yang dapat
memperbaiki pertumbuhan dan perkembangan bayi prematur.
Sebanyak 8% kegagalan pertumbuhan pascanatal bayi prematur yang
BBLSR terjadi pada periode antara 40 minggu sampai 4 bulan, 28% terjadi
pada periode 4-8 bulan, dan 12% terjadi >8-20 bulan serta menyebabkan
fungsi motorik yang buruk pada usia 20 bulan.6 Hambatan pertumbuhan
ekstrauteri (berat badan, BB) berdasarkan umur gestasi dibawah persentil
10) dijumpai pada 75% bayi prematur pada usia 28 hari.7 Bayi prematur
secara umum memiliki risiko untuk terjadi poor feeding, defisiensi nutrisi.

1.2 Tujuan Penulisan


- Melengkapi syarat Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di
Rumah Sakit Achmad Moehtar Bukittinggi tahun 2017.
- Untuk memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik Senior (KKS)
Departemen Anak di Rumah Sakit Achmad Moehtar
Bukittinggi tahun 2016.
DAFTAR PUSTAKA

1. Bannister B, Gillespie S, Jones J. Infection: microbiology and management. 3rd ed.


Massachusetts: Blackwell Publishing Ltd; 2006.
2. Departemen Kesehatan RI. Buku Saku Petugas Kesehatan: Lintas Diare. Direktorat
Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen
Kesehatan RI 2011 ; 1 18.

3
3. Palupi R, Soenarto Y. Update of rotavirus vaccines. Dalam: Oswari H, Hadinegoro
SR, Trihono PP, sekartini R, penyunting 2nd national symposium on
immunization;2010 Nov 19 21; Jakarta : Badan penerbit IDAI:2010
4. Pudjiadi AH, Hegar B, Hendrayastuti S, Idris NS, Gandaputra EP, Harmoniati ED,
Yuliarti K. Diare Akut. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Jilid II. Jakarta:Badan Penerbit IDAI.2011;76 98
5. Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI. Situasi Diare di Indonesia. Dalam : Buletin
Jendela Data dan Informasi Kesehatan: Situasi Diare di Indonesia Vol. II (2)
Jakarta : Pusdatin Kemenkes RI.2011 ; 1 18
6. Pickering LK and Snyder JD. Gastroenteritis in Nelson Textbook of
Pediatric,17Edition. 2003. page1272-1276
7. Staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK UI. Gastroenterologi. Bagian Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.1998. hal 283-
293.
8. Subagyo B, Santoao NB.Diare akut. Dalam: Juffrie M, Soenarto SSY, Oswari H,
Arief H, Rosalina I,dkk, penyuntinh, Buku Ajar Gastroenterology Hepatologi
Jilid I.Jakarta :Badan penerbit IDAI;2010. Hal. 87 120

4
5