Anda di halaman 1dari 12

Perancangan Buku Tentang Batik Mojokerto

Fransisca Luciana Santoso1, Bramantya2, Ryan Pratama Sutanto3


1, 3
Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain, Universitas Kristen Petra
Siwalankerto 121-131, Surabaya 60236.
2
Program Studi Seni Rupa, STK Wilwatikta
Klampis Anom VII/01, Surabaya 60117
Email: lucy_whiteangel@ymail.com

Abstrak
Batik Mojokerto merupakan batik khas kota Mojokerto. Batik Mojokerto ini memiliki motif unik yang berasal
dari penggalian tradisi Kerajaan Majapahit, salah satu Kerajaan Hindu-Buddha terbesar di wilayah nusantara.
Batik Mojokerto memiliki dua karakteristik warna, yaitu sogan, dominan berwarna cokelat (klasik) dan
berwarna-warni (dinamis). Perlu diapresiasi bahwa batik Mojokerto saat ini mulai berkembang dengan sederet
nama motif yang unik dan khas mulai berkembang seperti Mrico Bolong, Sisik Gringsing, Pring Sedapur, Surya
Majapahit, dan masih banyak lagi. Namun demikian, batik Mojokerto belum begitu dikenal oleh masyarakat,
oleh karena itu perancangan buku ini dibuat agar batik Mojokerto dapat dikenal oleh masyarakat luas. Dengan
demikian diharapkan masyarakat akan mulai mengenal, mencintai, dan ikut melestarikan budaya dan kesenian
yang dimiliki bangsa kita, Indonesia.

Kata kunci: Buku, Mojokerto, Batik Mojokerto, Desain Grafis, Layout.

Abstract
The Design of Mojokerto Batik Book

Mojokerto Batik is a authentic batik in Mojokerto. Mojokerto Batik has a unique motif which is derived from
cultural tradition of Majapahit Kingdom, one of the biggest Hindu-Buddha Kingdom in the Indonesian
archipelago. Mojokerto Batik has two color characteristic, which is sogan color that dominant with brown color
(classic) and colorful color (dynamic). It should be appreciated that Mojokerto Batik is developed with a list of
unique and distinctive names of a motif such as Mrico Bolong, Sisik Gringsing, Pring Sedapur, Surya Majapahit,
and much more, however Mojokerto Batik is not well known by the public. Therefore, the design of this book is
made so that Mojokerto Batik can be known by the public. It is expected that public will begin to know, to love,
and to preserve the art and culture of our nation possessed, Indonesia.

Keywords: Book, Mojokerto, Mojokerto Batik, Graphic Design, Layout.

Pendahuluan
Batik merupakan ekspresi budaya yang memiliki
Indonesia adalah sebuah negara yang terkenal karena makna simbolis yang unik dan nilai estetika yang
keanekaragaman yang dimilikinya. Mulai dari tinggi bagi masyarakat Indonesia ("Menelusuri
keanekaragaman adat istiadat, bahasa, suku, budaya, Sejarah Batik Indonesia", par. 4). Dari timur sampai
maupun keseniannya. Salah satu kesenian yang ke barat, pulau-pulau di Indonesia memiliki corak
dimiliki oleh Indonesia adalah seni batik. Sebagai batik yang menjadi ciri khas masing-masing daerah.
bangsa Indonesia, patut berbangga diri karena Di Pulau Jawa sendiri, banyak daerah yang telah
memiliki batik yang merupakan salah satu menjadi daerah penghasil batik seperti Jogja, Solo,
kebudayaan bangsa Indonesia yang telah diakui Cirebon, Tegal, Banten, Indramayu, Pekalongan,
sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan Tulungagung, Sidoarjo, Madura, dan masih banyak
dan Non-Bendawi (Masterpieces of the Oral and lagi. Salah satunya adalah Mojokerto.
Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO
sejak Oktober 2009 (Musman & Arini 1) dan tanggal Mojokerto merupakan salah satu kota di provinsi
2 Oktober telah ditetapkan sebagai Hari Batik Jawa Timur yang terletak 50 km arah barat daya dari
Nasional. Surabaya. Mojokerto merupakan kota yang istimewa

1
2

dalam sejarah Indonesia karena kota ini dulunya akan ornamen dan sudah dimodifikasi untuk
merupakan ibukota dari Kerajaan Majapahit, yang menghilangkan kesan kaku berbeda dengan motif
merupakan salah satu kerajaan Hindu-Buddha Pring Sedapur Magetan yang masih menggambarkan
terbesar di Indonesia. Kerajaan Majapahit bentukan motif menyerupai bentuk aslinya.
meninggalkan banyak peninggalan bersejarah, salah
satunya adalah seni membatik.

Batik Mojokerto adalah batik khas dari Kota


Mojokerto yang memiliki keunikan yaitu memiliki
motif yang digali dari tradisi kebudayaan Kerajaan
Majapahit, mengadaptasi elemen-elemen yang ada
dalam Kerajaan Majapahit diantaranya adalah Surya
Majapahit, bunga Teratai, buah Maja, dan masih
banyak lagi. Selain itu, motif dari batik ini mengambil
tema dari kehidupan sekitar Kota Mojokerto
(Ernawati, Wawancara, 14 November 2013). Sangat
disayangkan keberadaan batik Mojokerto kurang atau Gambar 2. Motif Pring Sedapur Batik Mojokerto
bahkan tidak diketahui oleh masyarakat sekitar baik Sumber: Kurniawan "Eksistensi Batik Mojokerto"
yang berasal dari Kota Mojokerto maupun luar Kota (2013,36)
Mojokerto. Hanya sebagian orang yang mengetahui
keberadaan dari batik ini dan menyebarkannya dari
mulut ke mulut.

Batik Mojokerto sempat dipamerkan di Australia pada


tahun 2007 dan mulai berkembang dengan sederet
nama motif yang unik dan khas seperti Mrico Bolong,
Sisik Gringsing, Pring Sedapur, Surya Majapahit, dan
masih banyak lagi ("Batik Mojokerto", par. 1-3).
Batik ini memiliki potensi untuk digunakan sebagai
identitas atau ciri khas dari Kota Mojokerto selain
makanan dan tempat bersejarahnya.
Gambar 3. Motif Pring Sedapur Batik Magetan
Sumber: Anshori & Kusrianto (2011, 181)

Kondisi yang memprihatinkan adalah Pemerintah


kurang memperhatikan perkembangan dari batik ini
sehingga banyak pengrajin batik yang beralih profesi
menjadi buruh sehingga jumlah pengrajin batik
semakin berkurang. Saat ini Pemerintah mulai
memperhatikan keberadaan batik ini dan mulai
mengenalkan batik ini kepada masyarakat sekitar
melalui pengadaan pelajaran membatik dan pelatihan
membatik untuk anak-anak dan ibu rumah tangga.
Gambar 1. Motif Mrico Bolong
Sumber: Anshori & Kusrianto (2011, 201) Dari permasalahan tersebut, muncul sebuah ide untuk
merancang sebuah media untuk mengenalkan
Beberapa nama motif batik Mojokerto memiliki mengenai batik Mojokerto kepada masyarakat luas
kesamaan nama motif dengan batik yang berasal dari dan media buku dipilih sebagai media yang paling
daerah lain seperti motif Pring Sedapur ditemukan efektif dan tepat. Media buku dipilih dengan alasan
juga pada batik Solo, Yogya, Banyumas, Kebumen, media buku mampu memberikan informasi dalam
Juwono maupun Magetan (Anshori & Kusrianto 196). jangka panjang dan dapat bertahan lama sampai
Namun terdapat perbedaan antara motif Pring beberapa turunan, buku selalu dicari dan dijadikan
Sedapur dari daerah Mojokerto dengan motif Pring sumber kajian pustaka karena buku dapat memberikan
Sedapur dari daerah Magetan. Dari warna dasarnya, informasi yang akurat dan dapat dipercaya, dan buku
untuk motif Pring Sedapur Mojokerto menggunakan tidak memiliki periode waktu terbit sehingga
warna dasar putih dan dominasi warna cokelat pada masyarakat tidak perlu takut akan ketinggalan
motifnya sehingga memiliki kesan klasik sedangkan informasi.
pada motif Pring Sedapur Magetan memiliki warna
dasar jingga dengan dominasi warna hitam pada
motifnya. Selain itu, dalam setiap bentukan motif
yang ada pada motif Pring Sedapur Mojokerto kaya
3

Metode Penelitian Pembahasan


Dalam mengumpulkan data, data yang dibutuhkan Pengertian Batik
adalah data primer dan data sekunder. Data primer Batik berdasarkan etimologi dan terminologinya,
diperoleh melalui proses observasi, wawancara, dan merupakan rangkaian kata mbat dan tik. Mbat dalam
dokumentasi di mana data yang diperoleh berkaitan bahasa Jawa diartikan sebagai ngembat atau
dengan sejarah mengenai batik Mojokerto, proses melempar berkali-kali, sedangkan tik berasal dari kata
pembuatan batik Mojokerto, perkembangan batik titik. Jadi, membatik berarti melempar titik-titik
Mojokerto, motif-motif dari batik Mojokerto beserta berkali-kali pada kain. Selain itu, ada juga yang
ciri khas yang membedakan batik Mojokerto dari berpendapat bahwa batik berasal dari gabungan dua
batik yang berasal dari daerah lain. kata bahasa Jawa amba yang bermakna menulis dan
tik yang bermakna titik (Musman & Arini 1).
Observasi dilakukan untuk mengetahui keadaan dari
sasaran perancangan dan membantu dalam Batik selalu mengacu pada dua hal. Pertama adalah
menentukan konsep, gaya desain, dan pemilihan teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam
media yang menunjang perancangan buku tentang untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain.
batik Mojokerto. Observasi dilakukan kepada Teknik ini disebut wax-resist dyeing. Kedua, batik
masyarakat dengan usia 20-35 tahun untuk adalah kain atau busana yang menggunakan motif-
mengetahui karakteristik pembaca. Wawancara motif tertentu yang memiliki kekhasan (Musman &
dilakukan untuk memperoleh informasi yang lebih Arini 2).
detail mengenai batik Mojokerto kepada pengrajin
batik Mojokerto. Dokumentasi dilakukan untuk Ada juga yang berpendapat bahwa batik secara
menunjang proses observasi dan wawancara dengan hipotesis berasal dari akar kata Proto-Austronesian,
menampilkan dan memberikan gambaran nyata yaitu becik yang berarti melakukan tato. Kata ini
mengenai keadaaan yang ada di lapangan. sendiri kemudian tercatat pertama kali secara resmi
dalam bahasa Inggris di Encyclopedia Britannica
Data sekunder diperoleh melalui buku-buku, artikel, pada 1880, dengan tulisan battik ("Menelusuri
jurnal, dan sebagainya untuk memperkuat landasan Sejarah Batik Indonesia", par. 3).
teoritis sehingga mampu menunjang data primer yang
telah dikumpulkan. Data sekunder yang dibutuhkan Kota Mojokerto
dalam perancangan ini antara lain adalah teori
mengenai batik, layout, buku, fotografi, dan gaya
desain.

Data yang sudah dikumpulkan kemudian dianalisis


secara deskriptif kualitatif di mana semua data yang
telah dikumpulkan akan ditarik kesimpulan untuk
menentukan konsep dan gaya desain yang digunakan
dalam perancangan buku ini agar sesuai dengan
sasaran perancangan.

Narasumber Gambar 4. Lambang Kota Mojokerto


Sumber: http://mojokertokota.go.id
Ernawati, ibu dari dua orang anak ini merupakan
salah satu pengrajin batik di Mojokerto. Ernawati
Mojokerto adalah nama salah satu kota di provinsi
belajar membatik secara turun temurun dari ibunya Jawa Timur yang terletak 50 km arah barat daya dari
yang dahulu bekerja sebagai buruh batik. Ernawati Surabaya. Kota Mojokerto berada diantara 733' LS
mulai belajar membatik sejak bersekolah di tingkat dan 12228' BT. Mojokerto terdiri atas daerah kota
SD dan kini batik yang ditekuninya sejak lama itu dan kabupaten yang masing-masing terbagi atas
menjadi bagian dari mata pencahariannya. Tempat sejumlah kecamatan. Untuk daerah Kota Mojokerto
tinggalnya di Jalan Surodinawan Gg. 2 No. 26 terdiri dari dua kecamatan yaitu kecamatan Magersari
Kecamatan Prajurit Kulon sekaligus sebagai dan kecamatan Prajurit Kulon, sedangkan daerah
membuka usaha di bidang batik. kabupaten Mojokerto terbagi atas 18 kecamatan yang
diantaranya adalah kecamatan Sooko, kecamatan Puri,
Banyak penghargaan yang telah diterimanya. Salah kecamatan Mojoanyar, kecamatan Bangsal,
satu harapannya adalah batik Mojokerto dapat dikenal kecamatan Mojosari, kecamatan Pungging, kecamatan
masyarakat secara luas dan bahkan menjadi salah satu Delanggu, kecamatan Pacet, kecamatan Trawas,
buah tangan yang menjadi ciri khas dari Kota kecamatan Ngoro, kecamatan Jetis, kecamatan
Mojokerto seperti batik yang berada dari daerah lain. Kemlagi, kecamatan Trowulan, kecamatan Jatirejo,
4

kecamatan Dawar Blandong, kecamatan Gedeg, motif yang berkembang dan populer di situ. Masalah
kecamatan Gondang, dan kecamatan Kutorejo. ini bukan hanya terjadi di Mojokerto saja, tetapi juga
merupakan kendala yang dihadapi di daerah lain
Sejarah pembentukan Pemerintah Kota Mojokerto (Anshori & Kusrianto 195).
melalui suatu proses kesejahteraan yang diawali
melalui status sebagai staadsgemente, berdasarkan Namun demikian yang patut diapresiasi kalangan
keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda Nomor Batik Mojokerto saat ini sedang berkembang sederet
324 Tahun 1918 tanggal 20 Juni 1918. Pada masa nama motif batik seperti Gedheg Rubuh, Mrico
Pemerintahan Penduduk Jepang berstatus sedang Bolong, Gringsing, Surya Majapahit, Alas Majapahit,
diperintah oleh seorang Si Ku Cho dari 8 Mei 1942 Lerek Kali, Bunga Matahari (kadang hanya disebut
sampai dengan 15 Agustus 1945. Pada zaman revolusi Matahari), Koro Kenteng, Rawan Inggek, Bunga
1945 - 1950, Pemerintah Kota Mojokerto di dalam Sepatu, Kawung Cemprot, dan Pring Sedapur
pelaksanaan pemerintah menjadi bagian dari (Anshori & Kusrianto 196).
Pemerintah kabupaten Mojokerto dan diperintah oleh
seorang wakil walikota di samping Komite Nasional Ciri Khas Batik Mojokerto
Daerah ("Sejarah Kota Mojokerto" par. 1-3). Menurut Ernawati, salah satu pengrajin batik
Mojokerto, motif batik Mojokerto mengambil corak
Daerah Otonomi kota kecil Mojokerto berdiri atau motif dari alam sekitar kehidupan manusia yang
berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1950, mampu memberikan gambaran mengenai ciri daerah
tanggal 14 Agustus 1950 kemudian berubah status Mojokerto. Beberapa corak atau motif yang
sebagai Kota Praja menurut Undang-Undang Nomor 1 digunakan antara lain motif berbentuk bunga teratai
Tahun 1957. Setelah dikeluarkan Undang-Undang yang merupakan lambang Kerajaan Majapahit, motif
Nomor 18 Tahun 1965 berubah menjadi Kotamadya berbentuk Surya Majapahit yang merupakan logo atau
Mojokerto. Selanjutnya berubah menjadi Kotamadya lambang dari Kerajaan Majapahit, motif berbentuk
Daerah Tingkat II Mojokerto berdasarkan Undang- buah maja yang merupakan buah khas Majapahit yang
Undang Nomor 5 Tahun 1974. Selanjutnya dengan menjadi asal kata Majapahit sendiri, tempat duduk
adanya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, sembilan dewa pada saat bersemedi, tempat duduk
tentang Pemerintahan Daerah, Kotamadya Daerah dewa-dewi saat turun ke bumi, dan masih banyak lagi.
Tingkat II Mojokerto seperti daerah-daerah yang lain Untuk ciri khas motifnya adalah motif Sisik Gringsing
berubah Nomenklatur menjadi Pemerintah Kota dan motif Mrico Bolong. Dalam satu motif batik
Mojokerto ("Sejarah Kota Mojokerto" par. 4-5). Mojokerto, isen-isen yang biasa digunakan adalah
cecek, sawutan, kembang pacar, kembang suruh, dan
Batik Mojokerto ukel (Ernawati, Wawancara, 14 September 2013).
Salah satu batik Indonesia, yang konon terlahir di
Majapahit, awalnya adalah batik keraton. Namun Motif Batik Mojokerto
seiring runtuhnya kerajaan Hindu ini, batik keraton a. Motif Mrico Bolong
Majapahit menyingkir dari wilayah pusat kerajaan Motif ini diberi nama Mrico Bolong karena memiliki
terbesar di Nusantara ini. Mojokerto sendiri yang latar berupa bulatan-bulatan kecil seperti merica yang
merupakan petilasan Majapahit, ditinggalkan oleh tampak berlubang. Yang menjadi motif utama adalah
para nenek moyang mereka para empu batik (Anshori burung dan bunga sedangkan motif pelengkapnya
& Kusrianto 195). adalah kupu-kupu. Motif ini diberi warna sogan
(dominan berwarna cokelat) sehingga menimbulkan
Belakangan seni membatik mulai muncul lagi di kesan klasik.
Mojokerto yang dihidupkan oleh generasi baru. Dari
literatur lama diperoleh catatan bahwa pada tahun b. Motif Sisik Gringsing
1920-an di daerah Mojowarno, ada seorang Nyonya Motif ini diberi nama Sisik Gringsing karena memiliki
berkebangsaan Belanda (tertulis sebagai Mevrouw latar berbentuk seperti sisik ikan. Yang menjadi motif
Kats) yang membuka kursus batik cap di kalangan utama adalah burung dan bunga sedangkan motif
masyarakat setempat. Namun batik cap ini setelah pelengkapnya adalah kupu-kupu. Motif ini memiliki
ditelusuri hingga kini berkembangnya justru ke arah kesamaan dengan motif Mrico Bolong dari segi motif
Jombang (Anshori & Kusrianto 195). utama dan motif pelengkapnya namun yang
membedakan keduanya adalah latar dari kedua motif
Munculnya kembali seni membatik di Mojokerto ini. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat)
justru berangkat dari berkembangnya seni kerajinan sehingga menimbulkan kesan klasik.
(craft) di wilayah ini. Pembatik Mojokerto sendiri
banyak yang tidak tahu apakah batik yang mereka c. Motif Pring Sedapur
kerjakan itu adalah asli digali dari Mojokerto atau Motif ini diberi nama Pring Sedapur yang diambil
justru motif-motif yang mereka kerjakan berdasarkan dari rumpun bambu yang menjadi motif utama
pesanan konsumen sejak bertahun-tahun yang lalu. sedangkan motif pelengkapnya adalah burung merak
Oleh karenanya sulit untuk mengetahui asal usul yang bertengger di rumpun bambu tersebut. Latar
5

dalam motif ini dibuat dengan cara meremukkan didominasi oleh isen-isen kembang pacar dan cecek
malam yang digunakan untuk menutup latar kain dengan warna biru.
sehingga warna lain bisa dimasukkan dan
menimbulkan kesan retak-retak. Motif ini diberi j. Motif Koro Renteng
warna sogan (dominan cokelat) sehingga Motif ini diberi nama Koro Renteng karena motif
menimbulkan kesan klasik. utamanya adalah buah koro yang ditunjukkan oleh
bulatan-bulatan kecil bewarna cokelat yang di
d. Motif Rawan Inggek dalamnya terdapat isen-isen cecek sebanyak tiga
Motif ini diberi nama Rawan Inggek karena memiliki cecek sedangkan renteng menunjuk pada daun yang
latar berupa garis yang berkelok-kelok. Garis yang di-renteng (disusun berjajar). Motif ini memiliki latar
berkelok-kelok ini disebut rawan, yang berasal dari polos bewarna putih yang terlihat seperti didominasi
kata "rawa" yang mendapat imbuhan "an". Yang oleh isen-isen sawutan yang terdapat pada tepian
menjadi motif utama adalah burung dan bunga setiap bentukan motif.
sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu dan
surya majapahit. k. Motif Rantai Kapal Kandas
Motif ini diberi nama Rantai Kapal Kandas karena
e. Motif Kawung Rambutan motif utamanya adalah rantai dan motif pelengkapnya
Motif ini diberi nama Kawung Rambutan sesuai berupa bagian-bagian kapal yang sudah hancur
dengan latarnya, kawung cenderung berbentuk kotak (kandas). Motif ini memiliki latar polos dengan warna
dengan ujung yang agak membulat. Kawung tampak putih tanpa adanya isen-isen.
pada motif garis-garis berbentuk kotak yang terdapat
bulatan dengan srungut-srungut. Dengan adanya l. Motif Daun Talas
srungut-srungut itu maka diberi nama Kawung Motif ini diberi nama Daun Talas karena motif
Rambutan. Yang menjadi motif utama adalah utamanya berupa daun talas. Daun talas sendiri
rangkaian bunga beserta daun-daunnya sedangkan merupakan daun dari tanaman umbi-umbian yang
motif pelengkapnya adalah kupu-kupu. berdaun lebar yang sering dijumpai di Kota
Mojokerto. Motif pelengkap dari motif ini adalah
f. Motif Teratai Surya Majapahit buah talas. Untuk latarnya menggunakan warna biru
Motif ini diberi nama Teratai Surya Majapahit karena dengan isen-isen cecek.
menampilkan elemen-elemen yang merupakan
lambang dari Kerajaan Majapahit yang didominasi m. Motif Gerbang Mahkota Raja
oleh bunga teratai dan surya majapahit. Yang menjadi Motif ini diberi nama Gerbang Mahkota Raja karena
motif utamanya adalah ayam bekisar, bunga teratai, terdapat bentukan gerbang dan mahkota raja yang
tempat duduk dewa-dewi serta surya majapahit menjadi motif utama sedangkan motif pelengkapnya
sedangkan motif pelengkapnya adalah buah maja. adalah bunga teratai, buah maja, ayam bekisar, dan
Motif ini menggunakan isen-isen cecek pada latarnya. kupu-kupu. Gerbang disini merupakan pintu masuk ke
Kerajaan Majapahit yang di dalamnya terdapat
g. Motif Kembang Dilem beragam budaya, mahkota raja sebagai tanda
Motif ini diberi nama Kembang Dilem karena kebesaran yang dipakai oleh raja-raja Majapahit.
terinspirasi dari tanaman dilem, berupa daun dan tidak Bentukan motif yang ada di dalam kain batik ini
berbunga, yang digunakan untuk pewangi pada batik merupakan elemen-elemen dari Kerajaan Majapahit.
sedangkan kembang berasal dari bunga-bunga kecil Untuk latarnya didominasi oleh isen-isen kembang
yang tampak dari motif ini. Bunga-bunga kecil itu pacar dan cecek.
merupakan motif pelengkap dan motif utamanya
adalah daun dilem. n. Motif Surya Majapahit
Motif ini diberi nama Surya Majapahit karena motif
h. Motif Matahari utamanya berupa surya majapahit yang merupakan
Motif ini diberi nama Matahari karena didominasi lambang dari Kerajaan Majapahit yang sering
oleh motif berbentuk bunga matahari. Motif bunga dijumpai pada candi-candi peninggalan Kerajaan
matahari itu merupakan motif utama sedangkan kupu- Majapahit. Surya Majapahit berbentuk cakra segi
kupu di sini menjadi motif pelengkap saja. Untuk delapan ini merupakan gambaran dari 9 dewa yang
latarnya berupa warna hitam polos tanpa adanya isen- dipuja oleh penduduk Majapahit. Untuk motif
isen. pelengkapnya berupa buah maja. Latar dari motif ini
berwarna hitam polos tanpa adanya isen-isen.
i. Motif Merak Ngigel
Motif ini diberi nama Merak Ngigel karena motif o. Motif Rawan Klasa
utamanya adalah burung merak yang saling berhadap- Motif ini diberi nama Rawan Klasa karena latarnya
hadapan. Untuk motif pelengkapnya berupa kupu- berbentuk menyerupai anyaman tikar (klasa). Yang
kupu dan bunga-bunga. Latar dari motif ini menjadi motif utama adalah sepasang sawat yang
menyerupai sayap burung garuda yang memberi kesan
6

gagah sedangkan motif pelengkapnya berupa daun v. Motif Kembang Maja


dan bunga-bunga kecil di sekitarnya. Motif ini diberi Motif ini diberi nama Kembang Maja karena motif
warna sogan (dominan cokelat) sehingga utamanya adalah kembang yang diwakili oleh bunga
menimbulkan kesan klasik. matahari (bunga yang tidak diberi warna) dan buah
maja yang merupakan buah yang menjadi asal nama
p. Motif Alas Majapahit Majapahit.
Motif ini diberi nama Alas Majapahit karena
menggambarkan keadaan atau suasana hutan (alas) di Perkembangan Buku Batik di Indonesia
mana di dalam hutan terdapat berbagai hewan dan Perkembangan buku literatur tentang batik di
tumbuhan. Yang menjadi motif utama adalah motif Indonesia mengalami pasang surut. Pada tahun 1920-
yang berbentuk hewan dan bunga sedangkan motif an, penerbitan buku modern di Indonesia sempat
pelengkapnya adalah buah maja, kupu-kupu kecil, dan dibanjiri buku batik yang berisi tentang pengenalan
bunga-bunga kecil. Motif ini memiliki latar dengan asal kain Indonesia ini. Pada tahun 1970, muncul
isen-isen cecek. buku batik yang membahas mengenai teknik
membatik dan kreasi tentang batik yang cenderung
q. Motif Bin Pecah keluar dari jalur tradisional. Setelah itu, buku batik
Motif ini diberi nama Bin Pecah karena memiliki latar sempat sepi, dan 20 tahun kemudian muncul kembali
dengan bentukan seperti ubin dalam keadaan pecah buku batik yang sudah ada sebelumnya namun
(berbentuk seperti segitiga). Yang menjadi motif memiliki kemasan yang lebih menarik ("Inilah Buku-
utama adalah rangkaian daun kelapa, burung, dan Buku Batik di Indonesia", par. 1-2).
bunga teratai sedangkan motif pelengkapnya adalah
kupu-kupu. Motif ini diberi warna sogan (dominan Memasuki tahun 2000, buku-buku tentang batik mulai
cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik. bertebaran, dengan berfokus pada pola dan corak
batik, ditambah dengan penggalian informasi
r. Motif Merak Gelatik mengenai sisi sejarah dan sisi budayanya. Buku-buku
Motif ini diberi nama Merak Gelatik karena motif batik yang sekarang muncul di pasaran dalam
utama berbentuk burung gelatik yang kecil namun beberapa tahun ini dipengaruhi oleh kegairahan dalam
memiliki ekor panjang seperti burung merak. Motif berbusana batik. Buku batik, didominasi oleh buku
pelengkapnya adalah bunga-bunga dan daun-daun. mode, yang membahas tentang trik padu-padan dan
Latar motif ini berwarna putih polos tanpa adanya tips memilih model rancangan baju batik yang modis
isen-isen. Motif ini diberi warna sogan (dominan dan modern ("Inilah Buku-Buku Batik di Indonesia",
cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik. par. 3-4).

s. Motif Kembang Suruh Salah satu buku batik yang beredar di Indonesia:
Motif ini diberi nama Kembang Suruh karena motif
ini memiliki latar yang didominasi oleh isen-isen Batik, A Play of Light and Shades
kembang suruh. Motif utamanya adalah bunga dan Buku batik dengan pengarang Iwan Tirta ini
daun-daun sedangkan motif pelengkapnya adalah diterbitkan dalam dua versi, Bahasa Inggris dan
kupu-kupu. Motif ini diberi warna sogan (dominan Bahasa Indonesia. Namun kedua versi buku ini
cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik. memiliki perbedaan pada desain cover bukunya.
Dalam versi Bahasa Inggris, desain cover bukunya
t. Motif Ukel Cambah cenderung sederhana, terkesan kuna, dan mirip
Motif ini diberi nama Ukel Cambah karena motif ini dengan cover ensiklopedia. Cover buku itu
didominasi oleh latar dengan isen-isen ukel yang didominasi background dengan warna cokelat, dengan
menyerupai bentuk kecambah. Motif ini hampir judul buku di bagian atas dan nama pengarang di
serupa dengan motif Kembang Suruh, hanya terdapat bagian bawah pada posisi center. Pada bagian tengah
perbedaan pada isen-isen yang mendominasi latarnya. dari cover terdapat ilustrasi gambar wayang dalam
Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sebuah bentukan segi empat sedangkan dalam versi
sehingga menimbulkan kesan klasik. Bahasa Indonesianya, buku ini mengalami perubahan
desain cover menjadi lebih modern dan menarik
u. Motif Sekar Jagad Mojokerto dengan menonjolkan teknik fotografi dan digital
Motif ini diberi nama Sekar Jagad Mojokerto karena imaging. Cover buku yang didominasi warna cokelat,
motif utamanya berupa bunga teratai, buah maja, dan dengan kombinasi warna kuning keemasan dan merah
surya majapahit yang kesemuanya merupakan elemen membuat buku ini tampak menarik. Adanya unsur
dari Kota Mojokerto. Motif pelengkapnya adalah kain batik pada ilustrasi cover buku mencerminkan isi
motif di luar dari elemen-elemen Kota Mojokerto dari buku.
yang sudah ada. Motif ini terkesan padat dan ramai
seperti kondisi alam semesta (jagad raya). Dari segi isi buku, berisi tentang pergaulan hidup
Iwan dengan batik. Yang diawali dengan penjelasan
panjang lebar mengenai sejarah batik. Dari buku ini
7

bisa dipelajari soal kain simbut dari Jawa Barat yang - Isi buku
menurut Iwan merupakan cikal-bakal kain batik. Iwan Pembaca cenderung menyukai buku yang
juga membahas corak batik pedalaman seperti batik menyajikan informasi bukan hanya secara verbal
Yogyakarta dan Solo, batik pesisir seperti batik melainkan visual.
Pekalongan, serta pengaruh masuknya pengusaha - Gaya bahasa
batik Indonesia dan Perang Dunia II terhadap desain Pembaca menyukai buku yang menggunakan bahasa
kain batik. Amat disayangkan, dalam versi terbarunya yang sederhana sehingga mudah untuk dipahami.
ini tidak disertakan 60 corak batik yang sebetulnya - Layout
salah satu dokumentasi terlengkap yang dibukukan Pembaca menyukai layout yang bervariasi sehingga
("Inilah Buku-Buku Batik di Indonesia", par. 6-7). tidak mudah jenuh ketika membaca buku tersebut.
- Pemilihan huruf
Pembaca menyukai jenis huruf yang membuat mata
tidak cepat lelah ketika membaca buku tersebut
dengan ukuran yang disesuaikan dengan usia
sasaran perancangan.

Analisis Kelemahan dan Kelebihan


- Kelemahan
Jika buku yang dibuat menggunakan ukuran yang
besar dan menggunakan banyak halaman yang
berwarna (full color), maka biaya produksi buku
menjadi tinggi sehingga memungkinkan
meningkatkan harga jual buku yang akan dirancang
Gambar 5. Batik, A Play of Light and Shades sedangkan buku yang ada di pasaran pada umumnya
Sumber: http://www.ipelanggan.com/index.php/ menggunakan ukuran buku yang relatif kecil, tidak
books/pcgfp13438.html terlalu besar dan tidak terlalu banyak menggunakan
halaman yang bewarna (full color) sehingga biaya
produksi buku pesaing lebih murah.

- Kelebihan
Di pasaran, buku batik yang beredar membahas secara
keseluruhan mengenai batik-batik yang ada di
Indonesia khususnya batik-batik yang berasal dari
Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, buku batik yang
beredar di pasaran cenderung membahas mengenai
trend fashion busana batik menggunakan batik-batik
yang berasal dari daerah tertentu. Untuk buku batik
yang membahas mengenai batik yang berasal dari satu
daerah tertentu terutama untuk batik yang berasal dari
Provinsi Jawa Timur sangat jarang dijumpai. Oleh
karena itu, dengan adanya buku batik mengenai batik
Gambar 6. Batik Sebuah Lakon Mojokerto ini mampu memberikan informasi dan
Sumber: http://www.ipelanggan.com/index.php/ pengetahuan mengenai batik Mojokerto ini.
books/pcgfp13440.html
Analisis Prediksi Dampak Positif
Analisa Profil Pembaca Perancangan Buku Tentang Batik Mojokerto ini
Pembaca utama yang menjadi sasaran perancangan diharapkan mampu memberikan informasi dan
dari buku yang akan dirancang ini berusia 20-35 pengetahuan mengenai batik Mojokerto untuk
tahun. Sasaran perancangan cenderung memiliki menjembatani keterbatasan informasi mengenai nilai
kegemaran membaca dikarenakan hobi maupun sejarah yang terkandung dalam batik tersebut. Dengan
tuntutan pekerjaan dan gemar mengoleksi buku adanya perancangan buku ini diharapkan dapat
terutama buku-buku yang berhubungan dengan menjadi media untuk memenuhi dan menjawab
kebudayaan dan kesenian sehingga memiliki rasa kebutuhan masyarakat khususnya pecinta batik dalam
ingin tahu yang tinggi terhadap kebudayaan dan rangka mengenal, memperluas wawasan mengenai
kesenian yang belum diketahui sebelumnya. Berikut batik ini, dan melestarikan batik ini.
adalah beberapa karakteristik buku yang diharapkan
oleh sasaran perancangan :
8

Konsep Perancangan ketertarikan dengan seni dan budaya khususnya batik,


memiliki kecintaan terhadap batik, serta mempunyai
Tujuan Kreatif hobi atau kegemaran membaca buku terutama buku-
Tujuan kreatif dari perancangan buku ini adalah buku mengenai batik.
menghasilkan sebuah buku yang bersifat edukatif dan
informatif yang berisi informasi mengenai batik Judul Buku
Mojokerto sehingga batik ini dapat dikenal luas oleh Judul buku yang digunakan adalah "Batik Majapahit"
para pecinta batik dan masyarakat. Berdasarkan hasil dengan tagline "Sehelai Kain Sebuah Tradisi". Judul
pengamatan dan penelitian, ditemukan fakta bahwa buku ini dipilih karena batik Mojokerto sendiri lahir
hanya sebagian masyarakat yang pernah mendengar dan berkembang di Kerajaan Majapahit dan menjadi
bahkan mengetahui keberadaan dari batik Mojokerto. bagian dari kebudayaan dan kesenian kerajaan
Hal tersebut dikarenakan jumlah pengrajin batik yang tersebut. Tagline Sehelai Kain Sebuah Tradisi
semakin berkurang karena penjualan batik Mojokerto dipilih dengan alasan bahwa batik Mojokerto ini
tidak dapat berkembang pesat seperti batik yang adalah sehelai kain yang merupakan hasil ekspresi
berasal dari daerah lain. tradisi kuno dari Kerajaan Majapahit yang diwariskan
secara turun temurun dan patut untuk dijaga
Strategi Kreatif kelestariannya.
Strategi kreatif perancangan ini adalah menggunakan
media buku untuk mengenalkan dan memberikan Sub-Sub Judul Buku
informasi mengenai batik Mojokerto. Media buku Dalam buku ini terdapat empat sub judul buku, di
merupakan media yang tepat dan efektif dengan mana masing-masing sub judul buku memiliki pokok
pertimbangan buku merupakan media yang bahasan yang berbeda namun saling berhubungan.
menyampaikan informasi secara detail dengan adanya Sub-sub judul dalam buku ini antara lain, Kota Raya
elemen verbal dan visual, buku tidak memiliki periode di Tepian Brantas (membahas tentang sejarah
waktu terbit sehingga pembaca tidak perlu takut akan Kerajaan Majapahit dan lahirnya Kota Mojokerto),
ketinggalan informasi, buku memiliki sifat long Batik Majapahit (membahas tentang pengertian batik,
lasting, serta dapat dibawa ke mana saja dan dibaca jenis-jenis batik, sejarah mengenai batik Mojokerto
kapan saja. sampai ke proses pembuatan batik Mojokerto), Makna
Dibalik Sehelai Kain (membahas tentang motif-motif
Sasaran Perancangan batik Mojokerto mulai dari asal usul penamaan, ciri
a. Demografis khas motif, dan isen-isen), dan Tips Seputar Batik
Sasaran perancangan utama dari perancangan buku (membahas tentang tips seputar perawatan batik serta
tentang batik Mojokerto ini adalah para pecinta batik tips lain yang masih berhubungan dengan batik).
dengan spesifikasi sebagai berikut:
Usia : 20-35 tahun Ukuran Buku
Jenis kelamin : Pria dan wanita Ukuran buku yang digunakan adalah 21 cm x 26 cm
Status ekonomi : Menengah-menengah ke dengan jumlah halaman 104 halaman. Pemilihan
atas ukuran buku didasarkan pada pertimbangan agar buku
ini dapat menarik perhatian pembaca dengan
Tingkat pendidikan : Minimal SMA
pengemasan buku yang menarik dan menampilkan
Tingkat pekerjaan : Semua profesi pekerjaan
dokumentasi foto-foto tentang batik Mojokerto
terutama yang terkait
dengan jelas dan detail. Dari segi teknis pemilihan
dengan batik
ukuran buku ini dipilih untuk menampilkan kesan
kokoh dan elegan, memperhatikan efisiensi kertas,
b. Geografis
kejelasan gambar serta informasi yang disampaikan.
Dari segi geografis, sasaran perancangan buku ini
Selain itu, pemilihan ukuran ini juga memperhatikan
mengacu pada masyarakat yang bertempat tinggal di
sisi kenyamanan pembaca pada saat memegang dan
dalam dan luar kota Mojokerto terutama yang
membaca buku ini.
bertempat tinggal di daerah perkotaan.
Isi Buku
c. Psikografis
Secara keseluruhan, isi dari buku Batik Majapahit ini
Dari segi psikografis, sasaran perancangan buku ini
mengulas tentang sejarah dari kerajaan Majapahit,
mengacu pada masyarakat yang memiliki kepedulian
kota Mojokerto, batik Mojokerto, alat dan bahan serta
terhadap kesenian dan kebudayaan khususnya batik
proses pembuatan batik Mojokerto, motif-motif dari
dan memiliki rasa ingin tahu tinggi terutama tentang
batik Mojokerto, dan tips seputar batik.
batik, baik dikarenakan hobi maupun tuntutan
pekerjaan.
Gaya Desain
Gaya desain yang digunakan adalah gaya desain yang
d. Behavioral
mampu menampilkan kesan kontemporer atau
Dari segi behavioral, sasaran perancangan buku ini
kekinian. Gaya desain ini terinspirasi dari majalah
mengacu pada pria dan wanita yang memiliki
9

yang memiliki banyak variasi layout, warna, serta Cover buku menggunakan teknik die cut sehingga
memiliki karakter yang dinamis dan modern. mampu menampilkan kesan elegan dan eksklusif yang
disesuaikan dengan sasaran perancangan. Selain itu,
Teknik Visualisasi terdapat slip cover yang melindungi buku sehingga
Teknik visualisasi yang digunakan adalah fotografi. buku akan terlihat kokoh, tidak mudah kusut, dan
Penggunaan teknik fotografi ini dirasa lebih cocok tahan lama.
karena foto dapat memperlihatkan fakta yang ada
secara nyata, mampu memperlihatkan sesuatu secara Cover Buku dan Slip Cover
detail.

Gaya Penulisan Naskah


Gaya penulisan naskah yang digunakan adalah gaya
bahasa yang sederhana, akrab, dan menggunakan
bahasa yang baik dan benar sehingga memudahkan
pembaca untuk menangkap dan memahami isi dan
pesan yang ingin disampaikan melalui buku ini.

Gaya Layout
Gaya layout yang digunakan dalam buku ini
menggunakan prinsip manuscript grid dan column
grid untuk menampilkan kesan kontemporer, dinamis,
dan modern.

Tone Warna
Tone warna yang digunakan dalam buku ini
didominasi oleh warna merah dan hijau tosca karena
kedua warna ini merupakan warna yang sering
muncul dalam warna batik Mojokerto. Warna yang Gambar 7. Cover Buku Depan
digunakan dalam buku ini memiliki karakter warna
pastel yang disesuaikan dengan gaya desain
kontemporer yang dinamis dan modern.

Tipografi
Pemilihan tipografi dalam buku ini disesuaikan
dengan gaya desain kontemporer yang menampilkan
kesan dinamis namun masih ada sedikit kesan
tradisional. Untuk font judul buku menggunakan font
buatan sendiri yang mengadaptasi dari font
Kemasyuran Jawa sedangkan untuk sub-judul
digunakan perpaduan font Bebas Neue, Dense, dan
Parisienne. Untuk isi buku digunakan font jenis sans
serif yaitu Calibri. Pemilihan tipografi ini didasarkan
pada tingkat keterbacaan sehingga tidak menyusahkan
pembaca dan penikmat buku.

Cover Buku
Cover depan buku tentang batik Mojokerto ini
Gambar 8. Cover Buku Belakang
menggunakan teknik die cut pada judul buku sehingga
dapat memperlihatkan pattern dari batik Mojokerto
pada halaman dalam buku. Pada bagian punggung
buku dicantumkan judul buku dan nama penulis dan
cover belakang buku menampilkan sinopsis isi buku
sehingga pembaca dapat mengetahui secara singkat
mengenai apa yang diulas dalam di dalam buku
tersebut. Selain itu, pada cover belakang buku juga
dicantumkan logo penerbit.

Finishing
Proses finishing buku ini menggunakan soft cover
dengan teknik jilid jahit agar buku lebih tahan lama.
10

Gambar 12. Halaman 28-29

Gambar 9. Buku dan Slip Cover

Layout Buku

Gambar 13. Halaman 38-39

Gambar 10. Halaman 2-3

Gambar 14. Halaman 54-55

Gambar 11. Halaman 6-7

Gambar 15. Halaman 66-67


11

Gambar 16. Halaman 86-87

Media Pendukung

Gambar 18. Postcard

Gambar 17. Pembatas Buku

Gambar 19. Poster


12

dan berkembang lagi di Mojokerto yang diawali oleh


generasi baru yang mewarisi tradisi turun temurun
dari generasi sebelumnya. Namun sayangnya,
keberadaan batik Mojokerto ini hanya diketahui oleh
sedikit orang dan bahkan jumlah pengrajinnya mulai
berkurang karena banyak yang beralih profesi.
Sebagai tradisi yang dimiliki oleh Mojokerto ini patut
untuk dijaga kelestariannya sehingga kelak batik ini
lebih dikenal oleh masyarakat luas.

Hadirnya buku ini adalah wacana baru untuk


mengenalkan batik Mojokerto kepada masyarakat
secara luas khususnya para pecinta batik. Dengan
adanya buku ini diharapkan mampu menarik perhatian
sasaran perancangan sehingga mereka mengenal dan
ikut melestarikan batik Mojokerto. Buku ini
merupakan sebuah langkah awal untuk mengajak
masyarakat untuk mengenal, mencintai, dan
melestarikan tradisi yang dimiliki oleh bangsa kita.

Daftar Pustaka
Anshori, Yusak & Adi Kusrianto. (2011). Keeksotisan
Batik Jawa Timur: Memahami Motif dan
Keunikannya. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

"Batik Mojokerto". (1 November 2011). Diunduh 28


September 2013 dari http://jawatimuran.wordpress.
com/2011/11/01//-batik-mojokerto/

Ernawati. Pengrajin Batik Tulis Mojokerto.


Wawancara. 14 September 2013.

"Inilah Buku-Buku Batik di Indonesia". (13


September 2009). Diunduh 19 Februari 2014 dari
http://radiobuku.com/2009/09/inilah-buku-buku-
batik-di-indonesia/

Kurniawan, Sofan. (13 Oktober 2013). "Eksistensi


Batik Mojokerto". Radar Mojokerto: 36.
Gambar 20. X-Banner
"Menelusuri Sejarah Batik Indonesia". (2 Oktober
2012). Diunduh 18 September 2013 dari
Kesimpulan
http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/355975-
menelusuri-sejarah-batik-nusantara
Batik sudah dikenal lama sekali di Indonesia, namun
sayangnya sangat sulit untuk mencari jejaknya di
Musman, Asti & Ambar B. Arini. (2011). Batik
manapun. Yang pasti masyarakat di wilayah tanah
Warisan Adiluhung Nusantara. Yogyakarta: G-Media.
Jawa dan sekitar Madura mengenal batik dan batik
berkembang sebagai salah satu bentuk kesenian besar
"Sejarah Kota Mojokerto". (n.d.). Diunduh 19
di Asia. Batik di Indonesia telah tersebar dan dapat
Februari 2014 dari http://mojokertokota.go.id/media.
ditemukan mulai dari ujung timur sampai barat
php/profil/sejarah
wilayah Indonesia. Di Pulau Jawa sendiri, batik
ditemukan di daerah Jogja, Solo, Cirebon, Tegal,
Banten, Indramayu, Pekalongan, Tulungagung,
Sidoarjo, Madura, dan masih banyak lagi.

Batik Mojokerto konon telah ada sejak zaman


Kerajaan Majapahit, namu seiring runtuhnya kerajaan
ini, keberadaan batik Mojokerto mulai tersingkir
keberadaannya. Belakangan seni membatik muncul