Anda di halaman 1dari 6

PERAN PENGAWAS MINUM OBAT (PMO) DALAM KEBERHASILAN

PENGOBATAN TUBERCULOSIS PARU DI MASYARAKAT


(The Role of Direct Observed Treatment in Tuberculosis Treatment Successful at
Community)

*Nursalam, *Makhfudli, **Dominikus Rato

ABSTRACT

Introduction : The succeeded of the tuberculosis treatment depends on the obedience of the patient
in taking the tuberculosiss medication assisted by the direct observed treatment shortcourse
(DOTS) to refrain resistancy and dropping out of the program. The aimed of this study was to
analyze the correlation between DOTSs role with the successfullness of lungs tuberculosis
treatment program at Bajawa city. Method : A cross sectional simple random sampling design was
used in this study. Population were all the Direct Observed Treatment Supervisors and patients
who have had finished their treatment of tuberculosis. Sample were 43 respondents. The
independent variables in this study were the role of the DOTSs, education level, family support,
motivation and the DOTSs attitude. The dependent variables were the patients obedience in taking
medication and the evaluation of the acid fast bacterias in their sputum. Data were collected by
using questionnaire and observation sputum the to evaluate acid fast bacteria. Data were analyzed
by using Spearman Rho with significance level with <0.05.Result : The result showed that role of
the DOTSs had significance correlation with the succeeding program of tuberculosis (=0.023),
education level had significance correlation (=0.043), family support as the DOTS had
significance correlation (=0.021), motivation (=0.032) and attitude (=0.014). Analysis : It can
be concluded that the role of the DOTS has correlation with succesing tuberculosis treatment.
Discussion : The role of PMO cause the succesfully of Tb treatment for the community in Bajawa
City, Ngada NTT.

Keywords: DOTSs role, family support, motivation, attitude, medication successfulness.

*Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Kampus C Mulyorejo Surabaya. Telp/Fax: (031)


5913257 E-mail : nursalam_psik@yahoo.com
** RSUD Bajawa Kab. Ngada Flores NTT

PENDAHULUAN dari 18 Kabupaten Kota di Nusa Tenggara


Timur yang mencapai keberhasilan
Salah satu penyakit penyebab pengobatan TB (Dinkes Propinsi NTT,
kematian utama yang disebabkan oleh infeksi 2008).
adalah Tuberkulosis (TB). Pada tahun 2004 Puskesmas Kota Bajawa di
bertambah penderita baru sebanyak Kabupaten Ngada merupakan salah satu
seperempat juta orang dan sekitar 140.000 Puskesmas yang melayani dan menangani
kematian setiap tahunnya. Sebagian besar kasus TB dengan rerata usia 18-65 tahun.
penderita TB adalah penduduk yang berusia Jumlah penderita di Puskesmas Kota Bajawa
produktif antara 15-55 tahun. Penyakit ini dari bulan Januari-Mei 2008 yang sudah
merupakan penyebab kematian nomor tiga melakukan pengobatan berjumlah 48 orang
setelah penyakit jantung dan penyakit yang terdiri dari 30 laki-laki, 18 perempuan.
pernafasan akut pada seluruh kalangan usia Hasil pengobatan 45 penderita sembuh
(Depkes RI, 2003). Nusa Tenggara Timur (BTA negatif), 3 pengobatan lengkap (BTA
merupakan salah satu Propinsi dengan positif), 0 meninggal, 0 gagal, 0 default
keberhasilan pengobatan hanya mencapai (drop out) dan 0 pindah pengobatan (Dinkes
72% dibawah standar nasional (95%). Kabupaten Ngada, 2008). Keberhasilan
Kabupaten Ngada menduduki urutan ke 4 pengobatan TB tidak lepas dari keteraturan

62
Jurnal Ners Vol.4 No.1 April 2009: 62-67

penderita TB Paru dalam minum obat. kita harus waspada sejak dini dan
Keteraturan minum obat dapat dicapai mendapatkan informasi lengkap tentang
dengan adanya pengawas minum obat OAT penyakit TB. Apabila hal ini tidak mendapat
(PMO) yang dipilih dari orang dekat perhatian dan penanganan yang tepat, cepat,
(keluarga) dan harus disegani oleh penderita segera dan intensif, maka prevalensi penyakit
(Depkes RI, 2003). Di Puskesmas Kota ini akan terus meningkat serta risiko
Bajawa semua PMO diambil dari keluarga penularan pun semakin tinggi. Penyakit TB
penderita sendiri yang berjumlah 48 orang paru menyerang sebagian besar kelompok
(sesuai jumlah penderita TB Paru) kerja produktif, penderita TB paru
berdasarkan kesepakatan yang dibuat kebanyakan dari kelompok sosial ekonomi
bersama oleh pengelola TB Paru Kabupaten rendah. Hal ini disebabkan oleh pengetahuan
Ngada dengan seluruh Puskesmas yang yang rendah tentang penyakit dan bagaimana
berada di wilayah kerja Dinas Kesehatan cara merawat penderita TB Paru dengan baik.
Kabupaten Ngada (Dinkes Kabupaten Ngada, Berbagai upaya telah dilakukan oleh
2007). pemerintah untuk mengurangi virulensi dan
Penanggulangan TB paru merupakan menekan jumlah penderita tuberkulosis,
suatu gerakan yang bukan saja menjadi diantaranya dengan dicanangkannya Gerakan
tanggung jawab pemerintah, swasta namun Terpadu Nasional (Gardunas TB) oleh
juga masyarakat. Salah satu kegiatan dalam Menkes RI pada tanggal 24 Maret 1999.
gerakan terpadu nasional (Gardunas) TB Pemerintah melalui Program Nasional
adalah pelaksanaan Strategi Directly Pengendalian TB telah melakukan berbagai
Observed Treatment Shortcourse (DOTS) upaya untuk menanggulangi TB, yakni
dengan tujuan untuk menjamin dan dengan strategi DOTS. World Health
mencegah resistensi, keteraturan pengobatan Organization (WHO) merekomendasikan 5
dan mencegah drop out penderita TB dengan komponen strategi DOTS, antara lain dengan
cara melakukan pengawasan dan pengawasan langsung Pengawas Minum
pengendalian pengobatan penderita Obat (PMO). Pelaksanaan strategi DOTS
tuberkulosis. Target program sudah dilaksanakan tetapi sampai saat ini
penanggulangan TB adalah tercapainya penderita tuberkulosis di Indonesia masih
penemuan penderita baru TB dengan BTA tinggi. Perlu dilakukan suatu modifikasi
positif paling sedikit 70% dari perkiraan dan strategi untuk meningkatkan keteraturan
menyembuhkan 85% dari semua penderita minum OAT bagi penderita TB. Penderita
tersebut serta mempertahankannya. Target TB perlu pengawasan langsung agar
ini diharapkan dapat menurunkan tingkat meminum obat secara teratur sampai sembuh
prevalensi dan kematian akibat TB hingga (Depkes RI, 2003). Orang yang mengawasi
separuhnya pada tahun 2010 dibanding tahun dikenal dengan istilah PMO (Pengawas
1990 dan mencapai tujuan millenium Minum Obat). PMO sebaiknya orang yang
development goals (MDGs) pada tahun 2015. dekat dan disegani oleh penderita TBC,
Indonesia memang telah banyak mencapai misalnya keluarga, tetangga, atau kader
kemajuan, yakni penemuan kasus baru 51,6% kesehatan. PMO bertanggung jawab untuk
dari target global 70% dan penyediaan obat memastikan penderita TB meminum obat
anti TB yang mencukupi kebutuhan sesuai anjuran petugas Puskesmas/UPK (Unit
perkiraan kasus di seluruh Indonesia, namun Pelayanan Kesehatan). Penderita TB
TB belum dapat diberantas, bahkan mungkin saja merasa malu atau kesakitan
diperkirakan jumlah penderita TB terus karena mengidap TB, maka PMO harus bisa
meningkat (Depkes RI, 2003). menjadi sahabat yang siap mendengarkan
Pada tahun 1999 WHO Global keluhan penderita dan bisa membuat
Surveillance memperkirakan di Indonesia penderita merasa nyaman (Bachti, 2008).
terdapat 583.000 penderita TB baru pertahun Berdasarkan permasalahan di atas,
dengan 262.000 BTA positif atau insidens peneliti ingin mengetahui tentang hubungan
rate kira-kira 130 per 100.000 penduduk. peran Pengawas Minum Obat (PMO), faktor
Kematian akibat TB diperkirakan menimpa eksternal dan internal seperti tingkat
140.000 penduduk tiap tahun (Depkes RI, pendidikan PMO, dukungan keluarga sebagai
2003). Kenyataan mengenai penyakit TB di PMO, usia, motivasi serta sikap dari PMO
Indonesia begitu mengkhawatirkan, sehingga

63
Peran Pengawas Minum Obat (Nursalam)

dengan keberhasilan pengobatan TB paru di HASIL PENELITIAN


Puskesmas Kota Bajawa Kabupaten Ngada.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
BAHAN DAN METODE PENELITIAN 76% (33 responden) peran PMO dalam
kategori baik (gambar 1), sebesar 45 % (20
Desain penelitian yang digunakan responden) mempunyai tingkat pendidikan
dalam penelitian ini adalah crosssectional SMP. Sebesar 81% (35 responden) dukungan
simple random sampling design. Populasi keluarga sebagai PMO dalam kategori baik,
pada penelitian ini adalah PMO dan penderita 90% (39 responden) motivasi PMO dalam
TB Paru yang telah menyelesaikan kategori baik., 93,0 % (40 responden) sikap
pengobatan OAT kategori satu di Puskesmas PMO dalam kategori positif.
Kota Bajawa Kabupaten Ngada yang Hasil pemeriksaan dahak/sputum
berjumlah 48 orang. Sampel yang digunakan awal di mana 100% (43 responden) dalam
dalam penelitian ini adalah PMO dan kategori positif. Sembilan puluh tiga persen
Penderita Tuberkulosis Paru yang telah (40 responden) pada pemeriksaan
menyelesaikan pengobatan di Puskesmas dahak/sputum ulangan (follow up)
Kota Bajawa Kabupaten Ngada, dengan menunjukkan kategori BTA negatif (gambar
kriteria inklusi untuk PMO: 1) merupakan 2). Hasil lain yang diperoleh yaitu 100% (43
PMO dari penderita TB paru di Puskesmas responden) memperoleh pengobatan kategori
Kota Bajawa Kabupaten Ngada, 2) usia PMO satu, mengkonsumsi obat anti tuberkulosis
>18 tahun dan 3) bersedia menjadi (OAT) selama 2-6 dan 93% (40 responden)
responden. Adapun kriteria inklusi untuk minum OAT secara teratur (gambar 3).
penderita TB paru sebagai berikut: 1) Sebagian besar (95%) orang yang berperan
mendapatkan pengobatan selama 6 bulan dan sebagai PMO adalah mempunyai hubungan
2) telah menyelesaikan pengobatan OAT keluarga dengan penderita TB paru.
kategori 1 yaitu 2RHZS(E). Penelitian ini Berdasarkan hasil analisis statistik
dilakukan selama Januari 2009. Corelations Spearman Rho menunjukkan
Variabel independen dalam bahwa terdapat hubungan bermakna antara
penelitian ini adalah peran PMO dan faktor keberhasilan pengobatan penderita TB paru
internal seperti tingkat pendidikan, umur, di Puskesmas Kota Bajawa dengan 1) peran
motivasi dan sikap dari PMO serta faktor PMO (p=0,023), 2) tingkat pendidikan PMO
eksternal yaitu dukungan keluarga sebagai (p=0,043), 3) dukungan keluarga (p=0,021),
PMO. Variabel dependen adalah 4) motivasi PMO (p=0,032) dan 5) sikap
keberhasilan pengobatan penderita TB paru. PMO (p=0,014).
Instrumen yang digunakan dalam penelitian
ini adalah closed ended questionnare yang 12%
disusun oleh peneliti berdasarkan pada 12%
76%
berbagai teori antara lain untuk data peran
pengawas minum obat (Depkes RI, 2005),
dukungan keluarga sebagai PMO (Suprajitno,
2004), motivasi (Handoko, 1995) dan sikap
(Notoadmojo, 2003) yang kemudian
dimodifikasi dengan mempertimbangkan Baik
kebutuhan data. Data yang diperoleh Cukup
Kurang
ditabulasi kemudian dianalisis dengan
menggunakan uji statistik Corelations
Spearman Rho dengan derajat kemaknaan Gambar 1. Distribusi Peran PMO dalam
<0,05. Interpretasi nilai sebagai berikut Keberhasilan Pengobatan Tb Paru di
0,80-1,00: tinggi; 0,60-0,80: cukup; 0,40- Puskesmas Kota Bajawa, Januari
0,60: agak rendah; 0,20-0,40: rendah dan 2009.
0,00-0,20: sangat rendah (tidak berkorelasi)
(Arikunto, 2006).

64
Jurnal Ners Vol.4 No.1 April 2009: 62-67

waktu pengobatan yang ditentukan yakni 6


7% bulan.
Terdapat hubungan bermakna antara
tingkat pendidikan PMO dengan keberhasilan
pengobatan penderita TB Paru di Puskesmas
Kota Bajawa. Menurut Notoadmojo (2000)
93% Positif
tingkat pendidikan dapat mempengaruhi
Negatif peran seseorang dalam melaksanakan tugas
dan fungsi sosial di masyarakat. Pendidikan
Gambar 2. Distribusi Hasil Pemeriksaan yang baik dan cukup dapat meningkatkan
Dahak/Sputum Ulangan (Follow Up) pengetahuan seseorang untuk bertindak dan
pada Program Pengobatan Tb Paru di berperan dalam bidang kesehatan
Puskesmas Kota Bajawa, Januari (Swamburg, 2000). Pernyataan ini secara
2009. tidak langsung mendukung hubungan yang
positif antara pendidikan dan motivasi.
Petugas kesehatan/pengelola program TB
7% paru di Puskesmas harus memberikan
pembekalan berupa pendidikan kesehatan
kepada PMO dan penderita sebelum di
mulainya program pengobatan tentang
penyakit TB paru, cara pencegahan,
pengobatan, serta peran dan fungsi dari PMO
93% dalam bertugas mengawasi dan mendampingi
Teratur
penderita minum OAT secara benar dan
Tidak Teratur teratur. Hal tersebut dapat memberikan
tambahan pengetahuan bagi PMO dan bagi
penderita TB mampu melakukan pencegahan
Gambar 3. Distribusi Keteraturan Minum kekambuhan dan drop out.
Oat Pada Penderita Tb Paru di Terdapat hubungan bermakna antara
Puskesmas Kota Bajawa, dukungan keluarga sebagai PMO dengan
Januari 2009. keberhasilan pengobatan penderita TB paru
di Puskesmas Kota Bajawa. Menurut
PEMBAHASAN Friedman (1998) fungsi keluarga dalam
bidang kesehatan adalah mengenal masalah
Terdapat hubungan yang bermakna kesehatan, membuat keputusan yang tepat,
antara peran PMO dengan keberhasilan memberi perawatan kepada anggota keluarga
pengobatan penderita TB Paru di Puskesmas yang sakit, mempertahankan dan
Kota Bajawa. Menurut Depkes RI (2005) menciptakan suasana yang sehat dengan
peran seorang PMO dipengaruhi oleh faktor mempertahankan hubungan dengan petugas
external berupa dukungan keluarga sebagai dan fasilitas kesehatan yang ada di
PMO dan faktor internal yang berupa tingkat masyarakat. Notoadmojo (2003) menyatakan
pendidikan PMO, serta motivasi dan sikap persepsi keluarga terhadap keadaan sehat dan
dari PMO. Dalam penelitian ini terbukti sakit erat hubungannya dengan perilaku
peran seorang PMO dalam kategori baik mencari pengobatan. Kedua pokok pikiran
karena hal tersebut ditunjang oleh tingkat tersebut akan mempengaruhi atas dipakai
pendidikan dari PMO yang cukup sehingga atau tidaknya fasilitas yang tersedia.
dalam menjalankan peran, PMO memiliki Penderita TB paru/keluarga memanfaatkan
pengetahuan yang cukup memadai dalam fasilitas kesehatan dalam usaha pengobatan
mendampingi dan mengawasi penderita serta mau mematuhi aturan minum OAT
minum OAT. PMO termotivasi untuk sesuai dengan anjuran petugas kesehatan
berperan membantu anggota keluarga yang maka besar kemungkinan penderita dapat
sakit sesuai tugas dan fungsi kelurga serta disembuhkan sehingga tidak terjadi
dalam pendampingannya PMO selalu kekambuhan atau resistensi. Dukungan yang
bersikap positif. Hal ini mendorong pasien baik dari PMO harus diberikan kepada
untuk minum OAT secara rutin sesuai jangka penderita secara terus menerus dan

65
Peran Pengawas Minum Obat (Nursalam)

berkesinambungan mengingat jangka berperilaku dalam perannya. Sikap


pengobatan bagi penderita cukup lama yaitu merupakan kegiatan atau kesediaan
6 bulan. Hal ini sangat bermafaat dalam seseorang untuk bertindak dalam melakukan
mencegah terjadinya kegagalan pengobatan pengawasan dan pendampingan yang
dan menurunkan angka kematian akibat bersahabat utuk membantu seorang penderita
penyakit tuberkulosis paru. TB paru minum OAT sesuai jangka waktu
Terdapat hubungan bermakna antara pengobatan yang ditentukan (Notoadmojo,
motivasi PMO dengan keberhasilan 2003).
pengobatan penderita TB paru di Puskesmas Sikap yang paling tinggi tingkatnya
Kota Bajawa. Menurut Handoko (1995) adalah tanggung jawab (responsible)
motivasi adalah keadaan pribadi seseorang terhadap apa yang diyakini dan diterima
yang mendorong keinginan individu di sebagai suatu tugas untuk diperankan. Dalam
masyarakat dalam melaksanakan kegiatan menjalankan peran sebagai PMO harus bisa
atau peran dalam mencapai suatu tujuan. Ini menjadi sahabat yang siap mendengarkan
berarti bahwa sebagian besar PMO memiliki keluhan penderita serta bisa membuat pasien
motivasi yang baik dalam mendampingi dan TB paru merasa nyaman. Hasil penelitian ini
mengawasi penderita TB paru minum OAT menunjukkan sikap yang baik (positif) yang
secara tepat dan teratur. Motivasi itu timbul ditunjang oleh motivasi yang baik dari PMO
karena adanya suatu keinginan atau terbukti dapat menunjang keberhasilan
kebutuhan yang harus dipenuhi serta pengobatan TB paru di Puskesmas Kota
motivasi itu dapat timbul akibat kombinasi Bajawa.
dari dalam diri orang itu sendiri dan Mengingat sikap tidak dibawa sejak
lingkungan sosial terdekat misal keluarga. lahir tetapi terbentuk pada masa
Motivasi itu diwujudkan dalam bentuk perkembangan individu seseorang maka
tindakan atau perilaku dalam peran kepada petugas kesehatan/pengelola program
(Sarwono, 1997). TB paru untuk secara terus menerus
Nugroho (2000) menyatakan bahwa mempelajari sikap seseorang yang akan
ada hubungan yang positif antara kelompok direkrut menjadi PMO. Sikap yang baik
umur dengan motivasi seseorang. Orang (positif) juga harus ditunjukkan oleh petugas
dewasa memiliki motivasi yang sangat kuat kesehatan yang terlibat dalam pelayanan
dalam menjalankan peran di masyarakat dan kesehatan yang berhubungan kepada
motivasi itu akan melemah apabila seseorang penderita dan PMO. Hal tersebut dapat
itu memasuki usia lanjut. Peningkatan menjadi penentu pencapaian keberhasilan.
motivasi seorang PMO dapat dilakukan
dengan cara petugas kesehatan/pengelola SIMPULAN DAN SARAN
program TB paru selalu melibatkan PMO
dalam pengambilan keputusan berkaitan Simpulan
dengan program pengobatan TB paru, dengan
demikian kerjasama yang baik akan selalu Peran PMO dalam keberhasilan
terjaga. PMO akan merasa dihargai dan terus pengobatan TB paru mayoritas dalam
termotivasi serta siap bekerja sama kategori baik. Hal ini dipengaruhi oleh
membantu mendampingi dan mengawasi tingkat pendidikan PMO yang mayoritas
selama masa pengobatan penderita TB paru. SMP, dukungan keluarga sebagai PMO yang
Terdapat hubungan bermakna antara baik, dan motivasi dari PMO yang baik serta
sikap PMO dengan keberhasilan pengobatan sikap yang positif dari PMO dalam
penderita TB paru di Puskesmas Kota mendampingi dan mengawasi penderita TB
Bajawa. Seorang ahli psikologi menyatakan paru.
bahwa sikap itu mengandung faktor perasaan
dan motivasi. Hal ini berarti bahwa sikap Saran
terhadap suatu obyek atau peran tertentu akan
selalu diikuti oleh perasaan yang Dari hasil penelitian ini, peneliti
positif/menyenangkan dan negatif/tidak menyarankan agar: 1) adanya penghargaan
menyenangkan sedangkan sikap yang kepada PMO atas partisipasi dalam
mengandung motivasi berarti bahwa sikap itu keberhasilan pengobatan penderita TB paru,
memiliki daya dorong bagi individu untuk 2) petugas kesehatan perlu memberikan

66
Jurnal Ners Vol.4 No.1 April 2009: 62-67

penyuluhan dan pembagian brosur (leaflet) Dinkes Kabupaten Ngada, 2007. Nota
kepada PMO dan penderita TB paru tentang Kesepakatan Bersama (pengelola TB
peran dan fungsi PMO, penyakit, pengobatan Paru Kabupaten Ngada dengan
dan cara pencegahan TB paru, 3) adanya seluruh Puskesmas yang berada di
pembekalan kepada petugas kesehatan wilayah kerja Dinas Kesehatan
(pengelola program TB paru) dalam bentuk Kabupaten Ngada.
latihan dan seminar untuk meningkatkan Dinkes Kabupaten Ngada, 2008. Jumlah
kualitas pelayanan kesehatan dan 4) evaluasi penderita di Puskesmas Kota Bajawa
perlu dilakukan minimal setiap 1 bulan sekali dari bulan Januari-Mei 2008.
untuk mengetahui kekurangan dan hasil Dinkes Propinsi NTT, 2008. Data
pencapaian sebagai bahan acuan pelaksanaan Pencapaian Keberhasilan Pengobatan
program pengobatan TB paru selanjutnya. TB Seluruh Kabupaten Kota di Nusa
Tenggara Timur.
KEPUSTAKAAN Friedman, 1998. Keperawatan Keluarga,
Teori dan Praktek, Jakarta: EGC, hlm.
Arikunto, S., 2006. Prosedur Penelitian. 24-26.
Jakarta: PT Rineka Cipta, hlm. 71-81. Handoko, 1995. Motivasi Penggerak Tingkah
Azwar, 1995. Sikap Manusia Teori dan Laku, Jogyakarta: Kanisius, hlm. 4-8.
Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Notoadmojo, 2003. Pendidikan Dan Perilaku
Pelajar, hlm. 25-27. Kesehatan Edisi 3. Jakarta: Penerbit
Bachti, 2008. TBC Sembuh Total Dengan Rineka Cipta, hlm. 45-47.
Pelayanan DOTS, (online) Notoadmojo, 2000. Pengantar Pendidikan
(http://www.pikiranrakyat.com.net.id, Kesehatan dan Ilmu Perilaku
diakses tanggal 15 November 2008, Kesehatan. Yogyakarta: Andi Offset,
Jam 20.15 WIB). hlm. 21-27.
Depkes RI, 2003. Pedoman Penanggulangan Swamburg, 2001. Kepemimpinan Dalam
Penyakit TB Paru. Jakarta: Dirjen Manajemen Keperawatan. Jakarta:
PPM dan PLP, Hlm.8-16. EGC, hlm. 23-25.
Depkes RI, 2005. Pedoman Penanggulangan Suprajitno, 2004. Asuhan Keperawatan
Tuberkulosis Paru. Jakarta: Dirjen Keluarga: Aplikasi dalam Praktek.
PPM dan PLP, hlm. 14-20. Jakarta: EGC, hlm. 43.
Depkes RI, 2007. Pedoman Penanggulangan
Tuberkulosis. Jakarta: Dirjen PPM dan
PPL, hlm. 6-23.

67