Anda di halaman 1dari 3

Resensi Buku Gara-Gara Indonesia

Belajar Dari Sejarah Yang Hilang

Judul : Gara-Gara Indonesia

Penulis : Agung Pribadi

Penerbit : Asma Nadia Publishing House

Cetakan : I, Desember 2013

Halaman : 210 hlm.

Pelajaran sejarah atau IPS, bukanlah mata pelajaran favorit dan kesukaan saya. Semenjak saya
masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga SMA/MA. Beruntunglah dulu saya
melanjutkan sekolah menengah di Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK). Jadi, hanya pada tahun
pertama saja saya mendapatkan mata pelajaran IPS.

Kala itu, IPS bukan mata pelajaran menyenangkan menurut saya. Karena di sana kita hanya
dipertemukan dengan beragam bilangan yang terdiri dari empat satuan angka dan urutan-urutan
peristiwa yang mudah terlupakan. Selain itu, dibutuhkan waktu berulang kali untuk memahami
apa yang tertulis dalam buku itu. Bahkan, buku IPS yang saya miliki hampir tidak berwujud
seperti buku panduan belajar. Sebab di sana sini ditemui coretan-coretan kecil, huruf yang
berubah warnanya menjadi merah, hijau, atau biru. Kemudian juga lipatan-lipatan besar dan
kecil dalam buku itu, hanya untuk menandai bahwa pada tanggal itu Indonesia mengalami atau
menyelenggarakan ini dan itu. Dan lucunya lagi, hampir setengah halaman buku IPS itu juga
dipenuhi dengan hasil karya saya yang menghitamkan kepala atau perut-perut huruf tersebut
(seperti huruf A, B, D, O, P, Q, R, a, b, d, e, g, o, p, q). Hal itu saya lakukan karena saya merasa
bosan membaca dan mempelajarinya.

Kemudian pada tahun 2014 ini, buku sejarah Indonesia yang menjadi panduan belajar di sekolah-
sekolah ternyata tidak jauh berbeda seperti dulu. Proses kedatangan bangsa Barat di tanah
Indonesia, kekuasaan dan kebijakan kolonial di bumi pertiwi, hingga perlawanan kerajaan-
kerajaan dan rakyat pribumi menentang kolonial Barat di berbagai daerah, dijelaskan dalam buku
sejarah Indonesia itu. Bahkan lengkap pula dengan tahun-tahunnya. Namun, kebanyakan dari
buku-buku sejarah tentang Indonesia itu hanya ditulis sekadar untuk informasi. Buku-buku
sejarah itu masih minim ruh perjuangan dan motivasi untuk membangkitkan kembali Indonesia
Raya.

Berbeda halnya dengan buku Gara-Gara Indonesia karya Agung Pribadi ini. Buku ini adalah
buku sejarah yang sangat istimewa. Sebab dalam buku ini bukan tentang proses kedatangan
bangsa Barat atau kolonial yang dijelaskan. Bukan tentang kekuasaan dan kebijakan kolonial,
serta pengaruhnya terhadap kehidupan ekonomi rakyat Indonesia. Bukan pula tentang urutan
peristiwa dan nama-nama yang tidak memiliki kekuatan apa-apa. Namun, lebih dari itu. Agung
Pribadi berhasil meramu sejarah Indonesia yang pernah kita tahu dengan sejarah Indonesia yang
hilang. Bahkan ia juga mengungkapkan fakta mengejutkan yang membuat kita semakin bangga
menjadi bagian dari bangsa Indonesia.

Buku Gara-Gara Indonesia ini juga merupakan satu-satunya buku sejarah yang bermuatan
motivasi. Penulisnya pun dinobatkan sebagai The 1st Historivator (Historian Motivator) in
Indonesia. Sejarawan lulusan Universitas Indonesia ini juga berhasil membuat para pembacanya
semakin penasaran dengan setiap kalimat yang ditulisnya. Di samping karena fakta-fakta
mengejutkan yang ia ungkapkan, ia juga menuliskan sejarah Indonesia ini dengan bahasa
sederhana, sehingga buku sejarah ini asyik untuk dibaca dan bisa dinikmati oleh semua kalangan.

Buku sejarah memang harusnya ditulis seperti buku Gara-Gara Indonesia ini. Sebab dengan
membacanya kita tidak hanya mengetahui tentang masa lalu, tapi juga bisa menemukan arah
untuk melangkah menjadi lebih baik di masa kini dan masa depan. Tidak hanya sekadar tahu tapi
juga menumbuhkan semangat untuk berbuat lebih baik bagi bangsanya, bahkan menjayakannya
kembali. Inilah buku sejarah yang harusnya menjadi bacaan wajib bagi semua rakyat Indonesia.
Jika perlu, buku ini juga bisa dijadikan sebagai bacaan wajib bagi siswa-siswi sekolah.

Dari buku ini kita akan mengetahui bahwa ternyata cukup banyak sejarah Indonesia yang hilang.
Dan dari sejarah yang hilang ini pula, kita juga akan mengetahui bahwa sebenarnya kita adalah
bangsa yang besar dan berpengaruh di dunia.
* Tulisan resensi ini juga dimuat di
Koran Harian Kedaulatan Rakyat edisi
Minggu, 16 Februari 2014