Anda di halaman 1dari 2

METODE

Penelitian ini menggunakan metode penelitian double-blind randomized controlled trial


yang dilakukan di Rumah Sakit Shariati, satu-satunya rumah sakit pendidikan obstetri dan
ginekologi di Bandar Abbas. Bandar Abbas adalah ibu kota dan kota utama provinsi Hormozgan,
yang terletak di selatan Iran. Penelitian ini disetujui oleh Komite Riset Universitas Ilmu
Kedokteran Hormozgan (HUMS) dan terdaftar di ClinicalTrials.gov. Informed consent tertulis
sudah diperoleh dari semua pasien.
Jumlah sampel penelitian yang dibutuhkan yaitu minimal 175 pasien untuk masing-
masing kelompok studi, dengan mempertimbangkan standar deviasi 100 gram untuk pendarahan
pada masing-masing kelompok untuk mendeteksi perbedaan 30 gram antara dua kelompok ( =
0,05; = 0,20).
Kriteria inklusi adalah wanita dengan kehamilan tunggal dengan presentasi kepala yang
menjalani persalinan per vaginam spontan atau induksi. Kriteria eksklusi adalah plasenta previa
(berdasarkan ultrasonografi pada trimester ketiga), abrupsio plasenta, masalah koagulasi, riwayat
sectio caesaria sebelumnya, makrosomia (didefinisikan sebagai perkiraan berat janin di atas
4000 gr berdasarkan ultrasonografi), polihidramnion (didefinisikan sebagai indeks cairan
amniotik lebih dari 24 cm), dan asma yang tidak terkontrol.
Sampel penelitian secara acak dimasukkan ke salah satu dari dua kelompok dengan
alokasi 1: 1 menggunakan pengacakan sederhana dengan computerized random numbers.
Kelompok pertama yaitu kelompok yang diberikan 20 IU oksitosin dalam larutan Ringer 1000
ml pada kecepatan 600 ml/ jam ditambah tablet misoprostol plasebo (kelompok 1: manajemen
rutin untuk pencegahan PPH). Kelompok kedua yaitu kelompok yang diberikan 400 g tablet
oral misoprostol sebagai alternatif manajemen aktif kala tiga persalinan ditambah plasebo
oksitosin dalam larutan Ringer 1000 ml dengan kecepatan 600 ml/ jam untuk pencegahan PPH.
Larutan dan tablet obat yang akan diberikan pada dua kelompok farmakologis disiapkan
oleh bagian farmasi dan disimpan di lemari es sampai dibutuhkan. Sampel darah diperoleh
sebelum persalinan dan 24 jam setelah persalinan. Selain itu, jumlah perdarahan dihitung dengan
menimbang pembalut yang digunakan setelah persalinan per vaginam. Pembalut yang digunakan
setelah persalinan ditimbang sebelum digunakan dan setelah penggunaan (setelah darah
terabsorbsi). Dengan metode ini kita memperoleh jumlah kehilangan darah dalam satuan gram.
Juga, tanda-tanda vital dan efek samping obat dicatat menggunakan standard checklist.
Data utama yang diamati penelitian ini adalah perdarahan (kehilangan darah yang terukur)
dalam waktu satu jam setelah melahirkan. Data sekunder adalah nilai hematokrit (HCT) dan
hemoglobin (Hb) 24 jam setelah melahirkan, ketidakstabilan hemodinamik dalam waktu 24 jam
setelah persalinan, dan efek samping obat, termasuk demam (38 C), menggigil (berdasarkan
laporan pasien), diare, mual, muntah, dan hipotensi. Setiap kebutuhan tambahan untuk oksitosin
atau transfusi darah harus dicatat. Data dianalisis dengan menggunakan software SPSS 16 dan
chi-square dan independent sample t-test analysis. Hasil data disajikan dalam mean dan standar
deviasi dan datanya terdistribusikan secara normal.

KESIMPULAN

Studi ini menunjukkan bahwa penggunaan misoprostol lebih efektif untuk mengurangi jumlah
perdarahan sehingga dapat menghindari kejadian PPH, dan terkait dengan minimalnya efek
samping yang dapat hilang dengan sendirinya. Harga misoprostol yang terjangkau dan mudah
cara pemberiannya dapat dipertimbangkan untuk digunakan di daerah dengan sumber daya
rendah bila oksitosin tidak tersedia.