Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Berkembangnya dunia usaha yang semakin pesat saat ini, membuat pelaku bisnis
meningkatkan kinerja perusahaan untuk mempertahankan dalam persaingan usaha yang terjadi.
Untuk mempertahankan eksistensi didunia usaha, perusahaan dapat membuat suatu laporan
keuangan yang dapat digunakan sebagai informasi kepada pengguna laporan. Laporan keuangan
yang dikeluarkan tersebut harus sesuai dengan Satandar Akuntansi Keuangan yang telah diatur
oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Banyak perusahaan yang kurang memperhatikan terhadap
laporan keuangan tersebut apakah sudah sesuai atau kurang sesuai dengan Standar Akuntansi yang
berlaku di Indonesia. Untuk itu, perusahaan dapat menggunakan jasa audit yang dianggap
independen dalam memeriksa laporan keuangan tersebut, jasa audit yang dimaksud adalah dengan
menggunakan jasa auditor eksternal yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik.
Akuntansi dengan standar yang berlaku, adalah alat yang digunakan manajemen (dengan
bantuan akuntan) untuk menyajikan laporan keuangan. Praktek akuntansi tentunya tidak terlepas
dari kebijakan manajemen dalam memilih metode yang sesuai dan diperbolehkan. Kebijakan dan
metode yang dipilih dipengaruhi oleh kemampuan interpretasi standar akuntansi, dan kepentingan
manajemen sendiri. Standar akuntansi mengharuskan adanya pengungkapan (dislosure) atas
praktek dan kebijakan akuntansi yang dipilih, dan diterapkan. Dalam proses penyajian laporan
keuangan, potensial sekali terjadinya asimetri informasi atau aliran informasi yang tidak
seimbang antara penyaji (manajemen) dan penerima informasi (investor dan kreditor). Dalam hal
ini yang memiliki informasi lebih banyak (manajemen) diduga potensial memanfaatkannya
informasi yang dimiliki untuk mengambil keuntungan maksimal.
Pelaku creative accounting sering juga dipandang sebagai opportunis. Dalam teori
keagenan (agency theory) dijelaskan, adanya kontrak antara pemegang saham (principal) dengan
manajer sebagai pengelola perusahaan (agent), dimana manajer bertanggung jawab
memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham, namun disisi lain manajer juga mempunyai
kepentingan pribadi mengoptimalkan kesejahteraan mereka sendiri melalui tercapainya bonus
yang dijanjikan pemegang saham.
Berdasarkan hal tersebut Menurut Velasques (2002) salah satu karakteristik utama standar
moral untuk menentukan etis atau tidaknya suatu perbuatan adalah perbuatan tersebut tidak
merugikan orang lain. Cara pandang seseorang dan pengalaman hidup seseoranglah yang akan
berpengaruh terhadap etis tidaknya suatu perbuatan. Sehingga acuan terbaik dari creative
accounting atau earning management adalah standar moral dan etika. Pengungkapan atau
discolusre yang memadai adalah sebuah media yang diharuskan standar akuntansi, agar
manajemen dapat menjelaskan kebijakan dan praktek akuntansi yang dipilih.
Salah satu contoh kasus manipulasi laporan keuangan adalah yang dialami oleh PT. Kereta
Api Indonesia (PT. KAI). Kasus ini menunjukkan bagaimana proses tata kelola yang dijalankan
dalam suatu perusahaan dan bagaimana peran dari tiap-tiap organ pengawas dalam memastikan
penyajian laporan keuangan tidak salah saji dan mampu menggambarkan keadaan keuangan
perusahaan yang sebenarnya. Kasus PT. KAI berawal dari perbedaan pandangan antara
Manajemen dan Komisaris, khususnya Ketua Komite Audit dimana Komisaris menolak
menyetujui dan menandatangani laporan keuangan yang telah diaudit oleh Auditor Eksternal.
Komisaris meminta untuk dilakukan audit ulang agar laporan keuangan dapat disajikan secara
transparan dan sesuai dengan fakta yang ada. Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kasus
PT. KAI adalah rumitnya laporan keuangan.
Adanya ketidakyakinan manajemen akan laporan keuangan yang telah disusun, ketika
komite audit mempertanyakan laporan tersebut, manajemen merasa tidak yakin sehingga pihak
manajemen menggunakan jasa auditor ekternal. Manfaat dari jasa audit adalah memberikan
informasi yang akurat dan dapat dipercaya untuk pengambilan keputusan. Laporan keuangan yang
telah diaudit oleh akuntan publik kewajarannya lebih dapat dipercaya.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang diatas dapat dibuat rumusan masalah yakni:
1. Apa yang dimaksud dengan etika?
2. Bagaimana etika dalam dunia bisnis?
3. Bagaimana etika seorang akuntan manajemen?
4. Bagaimana etika seorang akuntan public?
5. Apa sebaiknya yang dilakukan perusahaan untuk mengatasi dan mencegah kecurangan seperti
kasus PT KAI?
1.3 TUJUAN
1. Mengetahui arti etika.
2. Mengetahui arti etika dalam dunia bisnis.
3. Mengetahui bagaimana etika seorang akuntan manajemen.
4. Mengetahui bagaimana etika seorang akuntan public.
5. Mengetahui apa sebaiknya dilakukan perusahaan untuk mengatasi dan mencegah kecurangan
seperti kasus PT KAI.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 ETIKA DALAM BISNIS DAN PROFESI


Secara etimologi Etika berasal dari bahasa Yunani Ethos, yang berarti watak kesusilaan
atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan erat dengan Moral yang merupakan istilah
dari bahasa Latin, yaitu Mos dan dalam bentuk jamaknya Mores, yang berarti juga adat
kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan
menghindari hal-hal tindakan yang buruk. Etika dan moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi
dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian
perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang
berlaku.
Etika adalah perilaku yang baik yang telah melekat pada diri manusia itu sendiri sebagai
pedoman hidup, baik dilakukan dalam kehidupan pribadi maupun sosial dimasyarakat.

2.2 AKUNTANSI MANAJEMEN


Akuntasi manajemen adalah penyatuan bagian manajemen yang mencakup, penyajian dan
penafsiran informasi yang digunakan untuk perumusan strategi, aktivitas perencanaan dan
pengendalian, pembuatan keputusan, optimalisasi penggunaan sumber daya, pengungkapan
kepada pemilik dan pihak luar, pengungkapan kepada pekerja, pengamanan asset. Chartered
Institute of Management Accountant (1994:30).
Akuntansi Manajemen berhubungan dengan informasi mengenai perusahaan untuk
memberikan manfaat bagi para pemakai laporan keuangan yang berada dalam perusahaan
(manajemen) sebagai bahan pertimbangan yang mendukung dalam pengambilan keputusan.
Lingkup informasi pada Akuntansi Manajemen cenderung lebih sempit, tidak lagi berfokus
pada perusahaan sebagai satu entitas melainkan lebih detil karena lingkup informasi bertujuan
untuk melaporkan bagian-bagian tertentu dari perusahaan, seperti bagian produksi, bagian
pemasaran dan lainnya. Namun kompleksitas lingkup informasi keuangan yang dihasilkan oleh
Akuntansi Manajemen ini nantinya akan sejalan dengan tingkat-tingkat manajemen yang terlibat
dalam membuat keputusan.
Dalam fokus informasi, Akuntansi Manajemen cenderung berorientasi pada masa yang akan
datang, karena pengambilan keputusan selalu menyangkut tentang hal-hal yang berhubungan
dengan kebijakan perusahaan di masa yang akan datang, namun untuk sumber informasi yang akan
diolah bisa bervariasi, mulai dari biaya-biaya di masa lalu (historical cost), biaya
sekarang (current cost) atau biaya masa datang (future cost).
Kriteria bagi informasi Akuntansi Manajemen tidak dibatasi oleh prinsip-prinsip akuntansi
yang berterima umum, selama itu memberi manfaat bagi pihak manajemen perusahaan, baik itu
dalam hal pengukuran, ataupun perhitungan. Dalam Akuntansi manajemen, praktik-praktik yang
telah terbukti berhasil dan bermanfaat pada suatu perusahaan kebanyakan akan ditiru oleh
perusahaan-perusahaan lain yang kemudian akan menyebar luas dalam dunia industri..
Akuntansi Manajemen menghasilkan informasi yang akan membantu manajemen untuk
mengambil keputusan yang berhubungan dengan kebijakan perusahaan, baik untuk perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian, pengambilan keputusan yang berhubungan
dengan kebijakan dalam perusahaan selalu menyangkut masa yang akan datang. Akuntansi
Manajemen sering mengumpulkan informasi-informasi yang relevan dengan pengambilan
keputusan dan bersifat taksiran karena pengambilan keputusan selalu menyangkut tentang masa
yang akan datang.
Akuntansi manajemen berperan dalam pemberian informasi historis dan prospektif untuk
memfasilitasi perencanaan. Informasi akuntansi diperlukan untuk membuat prediksi-prediksi dan
estimasi mengenai kejadian ekonomi yang akan datang dikaitkan dengan kedaan ekonomi dan
politik saat ini.
Secara umum tujuan dari sistem akuntansi manajemen adalah :
Memberikan informasi yang dibutuhkan untuk penghitungan harga pokok jasa, produk, dan tujuan
lain yang diinginkan manajemen
Memberikan informasi yang dibutuhkan untuk perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan
perbaikan berkelanjutan
Memberikan informasi untuk pengambilan keputusan
Tahap perencanaan dan pengendalian manajerial yaitu :
Perencanaan tujuan
Perencanaan operasional
Penganggaran
Pengendalian
Pelaporan
Permasalahan dalam akuntansi manajemen antara lain :
Efisiensi biaya
Kualitas produk
Pelayanan

2.2.1 KODE ETIK AKUNTANSI MANAJEMEN


Kode Etik merupakan suatu pedoman bagi seseorang dalam menjalankan profesinya secara
profesional. Kode etik mengatur seseorang dalam besikap dan berperilaku secara etis didalam
suatu organisasi profesi tersebut. Perilaku etis melibatkan pemilihan tindakan-tindakan yang benar
dan sesuai serta tepat. Tingkah laku kita mungkin benar atau salah; sesuai atau menyimpang; dan
keputusan yang kita buat dapat adil atau berat sebelah. Orang sering berbeda pandangan terhadap
arti istilah etis; tatapi tampaknya terdapat suatu prinsip umum yang mendasari semua sistem etika.
Prinsip ini diekspresikan oleh keyakinan bahwa setiap anggota kelompok mempunyai tanggung
jawab untuk kebaikan anggota lainnya. Keinginan untuk berkorban demi kebaikan kelompoknya
merupakan inti dari tindakan yang etis.
Ada sepuluh nilai inti yang diidentifikasi menghasilkan prinsip-prinsip yang melukiskan
benar dan salah dalam kerangka umum. Sepuluh nilai tersebut adalah :
1. Kejujuran (honesty)
2. Integritas (integrity)
3. Memegang janji (promise keeping)
4. Kesetiaan (fidelity)
5. Keadilan (fairness)
6. Kepedulian terhadap sesama (caring for others)
7. Penghargaan kepada orang lain (respect for others)
8. Kewarganegaraan yang bertanggung jawab (responsible citizenship)
9. Pencapaian kesempurnaan (pursuit of excellence)
10. Akuntabilitas (accountibility)
Standar etika akuntan manajemen, yaitu :
1. Competence (kompetensi)
Artinya dia harus memelihara pengetahuan dan keahlian yang sepantasnya, mengikuti hukum,
peraturan dan standar teknis, dan membuat laporan yang jelas dan lengkap berdasarkan informasi
yang dapat dipercaya dan relevan. Auditor harus menjaga kemampuan dan pengetahuan profesional
mereka pada tingkatan yang cukup tinggi dan tekun dalam mengaplikasikannya ketika memberikan
jasanya, diantaranya menjaga tingkat kompetensi profesional, melaksanakan tugas profesional yang
sesuai dengan hukum dan menyediakan laporan yang lengkap dan transparan.
2. Confidentiality (kerahasiaan)
Kerahasian harus terdefinisi dengan baik, dan prosedur untuk menjaga kerahasiaan informasi harus
diterapkan secara berhati-hati, khususnya untuk komputer yang bersifat standalone atau tidak
terhubung ke jaringan. Aspek penting dari kerahasiaan adalah pengidentifikasian atau otentikasi
terhadap user. Identifikasi positif dari setiap user sangat penting untuk memastikan efektivitas dari
kebijakan yang menentukan siapa saja yang berhak untuk mengakses data tertentu.
Auditor harus dapat menghormati dan menghargai kerahasiaan informasi yang diperoleh dari
pekerjaan dan hubungan profesionalnya, diantaranya meliputi menahan diri supaya tidak
menyingkap informasi rahasia, menginformasikan pada bawahan (subordinat) dengan
memperhatikan kerahasiaan informasi, menahan diri dari penggunaan informasi rahasia yang
diperoleh.
3. Integrity (integritas)
Integritas (integrity) adalah perlindungan terhadap sistem dari perubahan yang tidak terotorisasi,
baik secara sengaja maupun secara tidak sengaja.
Auditor harus jujur dan bersikap adil serta dapat dipercaya dalam hubungan profesionalnya.
Meliputi menghindari konflik kepentingan yang tersirat maupun tersurat, menahan diri dari
aktivitas yang akan menghambat kemampuan, menolak hadiah, bantuan, atau keramahan yang
akan mempengaruhi segala macam tindakan dalam pekerjaan, mengetahui dan
mengkomunikasikan batas-batas profesionalitas, mengkomunikasikan informasi yang baik
maupun tidak baik, menghindarkan diri dalam keikutsertaan atau membantu kegiatan yang akan
mencemarkan nama baik profesi.
4. Objective of Management Accountant (Tujuan dari Akuntansi Manajemen)
Tujuan dari Akuntansi Manajemen adalah profesi yang melibatkan bermitra dalam keputusan
manajemen membuat, merancang perencanaan dan kinerja sistem manajemen, dan menyediakan
keahlian dalam melalui laporan keuangan dan kontrol untuk membantu manajemen dalam
perumusan dan implementasi strategi organisasi.
Auditor tidak boleh berkompromi mengenai penilaian profesionalnya karenadisebabkan
prasangka, konflik kepentingan dan terpengaruh orang lain, seperti memberitahukan informasi
dengan wajar dan objektif dan mengungkapkan sepenuhnya informasi relevan.
5. Whistle blowing
Merupakan Tindakan yang dilakukan seorang atau beberapa karyawan untuk membocorkan
kecurangan perusahaan kepada pihak lain. Motivasi utamanya adalah moral. Whistle blowing
sering disamakan begitu saja dengan membuka rahasia perusahaan.
6. Creative Accounting (Akuntansi kreatif)
Creative Accounting adalah praktek akuntansi yang mengikuti peraturan dan undang-undang
yang diperlukan, tetapi menyimpang dari standar apa yang mereka berniat untuk menyelesaikan.
Akuntansi kreatif memanfaatkan pada celah di standar akuntansi untuk memerankan palsu citra
yang lebih baik perusahaan. Semua proses dimana beberapa pihak menggunakan kemampuan
pemahaman pengetahuan akuntansi (termasuk di dalamnya standar, teknik, dll) dan
menggunakannya untuk memanipulasi pelaporan keuangan.
Creative accounting melibatkan begitu banyak manipulasi, penipuan, penyajian laporan
keuangan yang tidak benar, seperti permainan pembukuan (memilih penggunaan metode alokasi,
mempercepat atan menunda pengakuan atas suatu transasksi dalam suatu periode ke periode yang
lain).
7. Fraud (kecurangan)
Kecurangan (Fraud) sebagai suatu tindak kesengajaan untuk menggunakan sumber daya
perusahaan secara tidak wajar dan salah menyajikan fakta untuk memperoleh keuntungan pribadi.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, fraud adalah penipuan yang disengaja. Hal ini termasuk
berbohong, menipu, menggelapkan dan mencuri. Yang dimaksud dengan penggelapan disini
adalah merubah asset/kekayaan perusahaan yang dipercayakan kepadanya secara tidak wajar
untuk kepentingan dirinya. Fraud dapat dilakukan oleh seseorang dari dalam maupun dari luar
perusahaan. Fraud umumnya dilakukan oleh orang dalam perusahaan (internal fraud) yang
mengetahui kebijakan dan prosedur perusahaan.
8. Fraud auditing (kecurangan auditor)
Fraud Auditing (Audit Kecurangan) yang merupakan salah satu bidang tugas Auditor.
Perkembangan teknologi informasi, e-commerce dsb yang berpengaruh secara langsung atau tidak
langsung dalam operasional perusahaan telah membuka celah baru bagi munculnya praktek-
praktek fraud yang berakibat fatal bagi perusahaan. Mengantisipasi hal itu maka Auditor Internal
sudah seyogianya meningkatkan kemampuan dalam mendeteksi dan mencegah timbulnya
kecurangan tersebut serta mencari solusi terbaik agar hal itu tidak terjadi.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Kasus
Manipulasi laporan keuangan PT KAI
Diduga terjadi manipulasi data dalam laporan keuangan PT KAI tahun 2005, perusahaan
BUMN itu dicatat meraih keutungan sebesar Rp 6,9 Miliar. Padahal apabila diteliti dan dikaji lebih
rinci, perusahaan seharusnya menderita kerugian sebesar Rp 63 Miliar. Komisaris PT. KAI,
Hekinus Manao yang juga sebagai Direktur Informasi dan Akuntansi Direktorat Jenderal
Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan mengatakan, laporan keuangan itu telah diaudit
oleh Kantor Akuntan Publik S. Manan. Audit terhadap laporan keuangan PT. KAI untuk tahun
2003 dan tahun-tahun sebelumnya dilakukan oleh Badan Pemeriksan Keuangan (BPK), untuk
tahun 2004 diaudit oleh BPK dan akuntan publik.
Hasil audit tersebut kemudian diserahkan direksi PT. KAI untuk disetujui sebelum
disampaikan dalam rapat umum pemegang saham, dan komisaris PT. KAI yaitu Hekinus Manao
menolak menyetujui laporan keuangan PT. KAI tahun 2005 yang telah diaudit oleh akuntan publik.
Setelah hasil audit diteliti dengan seksama, ditemukan adanya kejanggalan dari laporan keuangan
PT. KAI tahun 2005.
Pajak pihak ketiga sudah tiga tahun tidak pernah ditagih, tetapi dalam laporan keuangan itu
dimasukkan sebagai pendapatan PT KAI selama tahun 2005. Kewajiban PT. KAI untuk membayar
surat ketetapan pajak (SKP) pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar Rp 95,2 Miliar yang
diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak pada akhir tahun 2003 disajikan dalam laporan
keuangan sebagai piutang atau tagihan kepada beberapa pelanggan yang seharusnya menanggung
beban pajak itu. Padahal berdasarkan Standart Akuntansi, pajak pihak ketiga yang tidak pernah
ditagih itu tidak bisa dimasukkan sebagai aset. Di PT. KAI ada kekeliruan direksi dalam mencatat
penerimaan perusahaan selama tahun 2005.
Penurunan nilai persediaan suku cadang dan perlengkapan sebesar Rp 24 Miliar yang
diketahui pada saat dilakukan inventarisasi tahun 2002 diakui manajemen PT KAI sebagai
kerugian secara bertahap selama lima tahun. Pada akhir tahun 2005 masih tersisa saldo penurunan
nilai yang belum dibebankan sebagai kerugian sebesar Rp 6 Miliar, yang seharusnya dibebankan
seluruhnya dalam tahun 2005.
Bantuan pemerintah yang belum ditentukan statusnya dengan modal total nilai komulatif
sebesar Rp 674,5 Miliar dan penyertaan modal negara sebesar Rp 70 Miliar oleh manajemen PT
KAI disajikan dalam neraca per 31 Desember 2005 sebagai bagian dari hutang. Akan tetapi
menurut Hekinus bantuan pemerintah dan penyertaan modal harus disajikan sebagai bagian dari
modal perseroan.
Manajemen PT. KAI tidak melakukan pencadangan kerugian terhadap kemungkinan tidak
tertagihnya kewajiban pajak yang seharusnya telah dibebankan kepada pelanggan pada saat jasa
angkutannya diberikan PT KAI tahun 1998 sampai 2003.
Perbedaan pendapat terhadap laporan keuangan antara komisaris dan auditor akuntan publik
terjadi karena PT. KAI tidak memiliki tata kelola perusahaan yang baik. Ketiadaan tata kelola yang
baik itu juga membuat komite audit (komisaris) PT. KAI baru bisa dibuka akses terhadap laporan
keuangan setelah diaudit akuntan publik. Akuntan publik yang telah mengaudit laporan keuangan
PT KAI tahun 2005 segera diperiksa oleh Badan Peradilan Profesi Akuntan Publik. Jika terbukti
bersalah, akuntan publik itu diberi sanksi teguran atau pencabutan izin praktek.

3.2 Pembahasan Kasus


Tujuan dibuatnya laporan keuangan adalah selain untuk alat pertanggungjawaban
manajemen juga sebagai bahan pertimbangan yang mendukung dalam pengambilan keputusan,
tetapi dalam kasus ini manajemen telah memanipulasi laporan keuangan, sehingga laporan
keuangan yang dihasilkan tidak menunjukkan kinerja perusahaan yang sesungguhnya.
Dalam kasus di atas, terdapat banyak kejanggalan yang ada pada laporan keuangan yang
menjadi hasil pekerjaan akuntan public tersebut. Kasus PT. KAI bermuara pada perbedaan
pandangan antara Manajemen dan Komisaris, khususnya Komisaris yang merangkap sebagai
Ketua Komite Audit dimana Komisaris tersebut menolak menyetujui dan menandatangani laporan
keuangan yang telah diaudit oleh Auditor Eksternal. Dan komisaris meminta untuk dilakukan audit
ulang agar laporan keuangan dapat disajikan secara transparan dan sesuai dengan fakta yang ada.
Dari kasus diatas, jika dikaitkan dengan teori etika ada beberapaa teori yang sudah dilanggar
yaitu :
1. Egoisme etis. Manajemen melakukan manipulasi terhadap laporan keuangan perusahaan demi
memajukan dirinya sendiri agar dilihat bahwa dia telah sukses mengatur perusahaan. Manajemen
telah menyalah gunakan kekuasaan yang diberikan kepadanya. Tindakannya tersebut tidak hanya
merugikan dirinya sendiri yang mungkin saja ia akan dipecat dari perusahaan tapi juga bagi
perusahaan dan orang lain. Bagi perusahaan berdampak pada menurunnya kepercayaan para
investor dan calon investor serta merusak citra perusahaan. Sehingga akibatnya perusahaan
kekurangan modal karena menurunnya jumlah invetor yang mau menanamkan modal ke
perusahaan tersebut.
2. Utilitarianisme. Tujuan dari laporan keuangan tidak hanya sebagai alat pertanggung jawaban
manajemen tapi juga sebagai alat untuk pengambilan keputusan. Dengan dimanipulasinya laporan
keuangan oleh manajemen maka keputusan yang diambil pun akan tidak tepat dan bisa merugikan
orang banyak (orang yang berkepentingan).
3. Deontologi. Manajemen tidak menjalankan kewajibannya sebagai manajemen perusahaan dengan
semestinya. Seharusnya seorang manajer yang memiliki kedudukan tinggi diperusahaan
memberikan contoh yang baik kepada bawahaan agar menjalankan kewajibannya diperusahaan
sesuai dengan etika-etika yang diberlakukan.
4. Hak. Teori etika ini berkaitan dengan teori deontologi. Dalam prinsip-prinsip etika profesi
seseorang dituntut untuk profesional dalam profesinya. Dalam kasus ini manajemen telah
merugikan hak dan kepentingan orang lain seperti karyawan dan para investor. Yakni seperti para
karyawan dan para investor mempunyai hak untuk mengetahui informasi-informasi mengenai
kinerja perusahaan
5. Keutamaan. Sikap keutamaan yang diperlukan dalam dunia bisnis yakni seperti kejujuran. Pada
kasus ini manajemen tidak bersikap jujur dalam menyusun laporan keungan. Manajemen
melakukan beberapa manipulasi seperti data mengenai pendapatan, utang dan cadangan kerugian
piutang. Padahal seorang manajer harus mempunyai sikap jujur karena, kejujuran merupakan etika
yang harus dimiliki oleh seorang manajer.
Sedangkan prinsip etika profesi yang dilanggar yakni:
1. Prinsip Otonomi
PT KAI yang memiliki kebebasan dan kewenangan untuk mengambil keputusan yang
dianggap baik hanya untuk PT KAI sendiri tetapi tidak bertanggung jawab terhadap pemerintah.
Hal tersebut ditunjukkan dari tindakan PT KAI yang mengakui PPN terutang pihak ketiga sebagai
piutang yang tidak sesuai dengan regulasi.
Dari pihak KAP sendiri tidak bertanggung jawab dalam menjalankan kebebasannya. KAP
S. Manao tidak menunjukkan dan menyatakan adanya kesalahan material pada laporan keuangan
PT KAI.
2. Prinsip Keadilan
Terjadi pelanggaran prinsip keadilan oleh PT KAI karena mengistimewakan beberapa pihak
yang berhubungan dengan PT KAI dengan tidak segera menarik PPN. mengistimewakan beberapa
pihak yang berhubungan dengan PT KAI dengan tidak segera menarik PPN.
Di dalam standar kode etik Akuntan Manajemen, ada beberapa yang dilanggar oleh
manajemen yakni:
1. Competensi. Akuntan manajemen tidak kompetensi karena tidak memelihara pengetahuan dan
keahlian yang dimilikinya dengan sepantasnya, selain itu tidak mengikuti hukum, peraturan dan
standar teknis, dan tidak membuat laporan yang jelas dan lengkap berdasarkan informasi yang
dapat dipercaya dan relevan melainkan dengan memanipulasi data.
2. Creative Accounting. Akuntan manajemen telah menyimpang dari praktek akuntansi yang
mengikuti peraturan dan undang-undang. Manajemen perusahaan melakukan banyak maanipulasi
dalam menyajikan laporan keuangan.
3. Fraud. Manajemen telah sengaja melakukan kecurangan dengan menyajikan laporan keuangan
tidak dengan data yang sebenarnya

Dalam hal kecurangan yang dilakukan oleh akuntan publik yang mengaudit laporan
keuangan perusahaan ada beberapa kemungkinan yang dapat menyebabkan terjadinya kesalahan
pada hasil laporan keuangan PT. KAI yaitu pada saat proses lelang, Komite
Audit seharusnya ikut untuk melihat apakah auditor eksternal layak dipilih dan
melihat keadilan proses pemilihan. Pada kenyataannya, komite audit tidak ikut dalam proses
penunjukan auditor sehingga tidak terlibat dalam proses audit. Kesalahan tersebut mengakibatkan
terjadinya kesalahan yang lain, yaitu tidak adanya atau sangat minimnya komunikasi antara pihak
Komite Audit dengan Auditor Eksternal (akuntan publik). Karena Komite Audit tidak menunjuk
auditor yang akan diberi penugasan, maka komunikasi yang terjadi antara komite audit dengan
auditor bisa diperkirakan sangat sedikit bahkan tidak efektif.
Akibat komunikasi yang kurang intens, maka tugas komite audit untuk melaksanakan
kewajibannya untuk mengajak auditor untuk mendiskusikan masalah audit saat audit berlangsung
tidak dipenuhi dengan baik. Kesalahan ini menimbulkan kesalahan berikutnya, yaitu Komite
Audit tidak mereview laporan keuangan dan laporan auditor dengan auditor eksternal menjelang
selesainya penugasan audit.Dalam kasus ini, Komite Audit justru tidak mau menandatangani
laporan keuangan yang telah diaudit, setelah laporan audit diterbitkan. Padahal seharusnya Komite
Audit melakukan review bersama dengan auditor eksternal menjelang selesainya penugasan audit,
yang artinya sebelum laporan auditor diterbitkan, sehingga laporan keuangan tersebutlangsung
bisa dilakukan audit investigasi dan koreksi apabila terjadi kesalahan pencatatan. Komite
Audit juga tidak perlu berbicara kepada publik. Karena komunikasi yang buruk antara Komite
Audit dengan auditor, maka hal seperti itu bisa terjadi.
Selain auditor eksternal dan komite audit yang melakukan kesalahan dalam hal pencatatan
laporan keuangan, akuntan internal (manajemen) di PT. KAI juga belum sepenuhnya menerapkan
8 prisip etika akuntan. Dari kedelapan prinsip akuntan yaitu tanggung jawab profesi, kepentingan
publik, integritas, objektifitas, kompetensi dan kehati-hatian profesional, kerahasiaan, perilaku
profesional, dan standar teknis, prinsip-prinsip etika akuntan yang dilanggar antara lain :
1. Tanggung jawab profesi, dimana seorang akuntan harus bertanggung jawab secara professional
terhadap semua kegiatan yang dilakukannya. Akuntan Internal PT. KAI kurang bertanggung jawab
karena dia tidak menelusuri kekeliruan dalam pencatatan dan memperbaiki kesalahan tersebut
sehingga laporan keuangan yang dilaporkan merupakan keadaan dari posisi keuangan perusahaan
yang sebenarnya.
2. Kepentingan Publik, dimana akuntan harus bekerja demi kepentingan publik atau mereka yang
berhubungan dengan perusahaan seperti kreditur, investor, dan lain-lain. Dalam kasus ini akuntan
PT. KAI diduga tidak bekerja demi kepentingan publik karena diduga sengaja memanipulasi
laporan keuangan sehingga PT. KAI yang seharusnya menderita kerugian namun karena
manipulasi tersebut PT. KAI terlihat mengalami keuntungan. Hal ini tentu saja sangat berbahaya,
termasuk bagi PT. KAI. Karena, apabila kerugian tersebut semakin besar namun tidak dilaporkan,
maka PT. KAI bisa tidak sanggup menanggulangi kerugian tersebut.
3. Integritas, dimana akuntan harus bekerja dengan profesionalisme yang tinggi. Dalam kasus ini
akuntan PT. KAI tidak menjaga integritasnya, karena diduga telah melakukan manipulasi laporan
keuangan.
4. Objektifitas, dimana akuntan harus bertindak obyektif dan bersikap independen atau tidak
memihak siapapun. Dalam kasus ini akuntan PT. KAI diduga tidak obyektif karena diduga telah
memanipulasi laporan keuangan sehingga hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu yang berada
di PT. KAI.
5. Kompetensi dan kehati-hatian professional, akuntan dituntut harus melaksanakan jasa
profesionalnya dengan penuh kehati-hatian, kompetensi, dan ketekunan, serta mempunyai
kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesionalnya pada tingkat
yang diperlukan. Dalam kasus ini, akuntan PT. KAI tidak melaksanakan kehati-hatian profesional
sehingga terjadi kesalahan pencatatan yang mengakibatkan PT. KAI yang seharusnya menderita
kerugian namun dalam laporan keuangan mengalami keuntungan.
6. Perilaku profesional, akuntan sebagai seorang profesional dituntut untuk berperilaku konsisten
selaras dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan
profesinya. Dalam kasus ini akuntan PT. KAI diduga tidak berperilaku profesional yang
menyebabkan kekeliruan dalam melakukan pencatatan laporan keuangan, dan hal ini dapat
mendiskreditkan (mencoreng nama baik) profesinya.
7. Standar teknis: akuntan dalam menjalankan tugas profesionalnya harus mengacu dan mematuhi
standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan
berhati-hati, akuntan mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa
selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektifitas. Dalam kasus ini
akuntan tidak melaksanakan prinsip standar teknis karena tidak malaporkan laporan keuangan
sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Contohnya, pada saat PT Kereta Api Indonesia telah
tiga tahun tidak dapat menagih pajak pihak ketiga. Tetapi, dalam laporan keuangan itu, pajak pihak
ketiga dinyatakan sebagai pendapatan. Padahal, berdasarkan standar akuntansi keuangan tidak
dapat dikelompokkan dalam bentuk pendapatan atau asset.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan perusahaan agar kecurangan seperti ini bisa
diantisipasi yakni
1. Menerapkan Good Corporate goernance (GCG). Dalam Surat Keputusan Menteri BUMN No.
Kep-117/M-MBU/2002 tanggal 1 Agustus 2002. Pada surat tersebut BUMN dituntut untuk
menerapkan GCG tujuannya untuk mendorog pengelolaan BUMN secara profesional, efisien dan
efektif. Selain itu juga mendorong agar perusahaan menjalankan tindakan dengan dilandasi nilai
moral yang tinggi dan patuh terhadap peraturan dan perundang-undangan. Dengan diterapkannya
GCG maka para pelaku dunia usaha dituntut untuk bertanggung jawab, akuntabilitas, adil dan
transparan.
2. Harus ada upaya untuk membenarkan kesalahan tahun-tahun lalu, karena konsistensi yang salah
tidak boleh dipertahankan. Kesalahan-kesalahan sudah terakumulasi dari tahun-tahun sebelumnya
sehingga terdapat dua alternatif, yaitu di restatement atau dikoreksi. Keputusan mengenai opsi
yang dipilih sepenuhnya tergantung dari Badan Peradilan Profesi Akuntan Publik (BP2AP), karena
kasus PT. Kereta Api sedang diproses disana.
3. Komite Audit tidak berbicara kepada publik, karena esensinya Komite Audit adalah organ Dewan
Komisaris sehingga pendapat dan masukan Komite Audit harus disampaikan kepada Dewan
Komisaris. Apabila Dewan Komisaris tidak setuju dengan Komite Audit namun Komite Audit
tetap pada pendiriannya, Komite Audit dapat mencantumkan pendapatnya pada laporan komite
audit yang terdapat dalam laporan tahunan perusahaan.
4. Komite Audit berperan aktif dalam mengkoordinasikan seluruh tahapan proses auditing, mulai
dari penunjukan, pembuatan program, mengevaluasi dan memberikan hasil evaluasi kepada
Dewan Komisaris, yang akan mengkomunikasikannya kepada Direksi.
5. Manajemen menyusun laporan keuangan secara tepat waktu, akurat dan full disclosure.
6. Memperbaiki komunikasi antara auditor dengan pihak-pihak yang berinteraksi, yaitu manajemen,
Komite Audit, dan auditor intern. Dengan komunikasi yang efektif, maka data dan bukti yang
terkumpul akan semakin akurat dan memadai, juga menghindari perselisihan dengan Komite
Audit.
7. Membangun pengawasan yang efektif di tubuh perusahaan.
8. Perbaikan sistem akuntansi dan konsistensi penerapan Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum di
perusahaan.
9. Memilih auditor yang benar-benar kompeten dan profesional.
BAB IV
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Tujuan dibuatnya laporan keuangan adalah selain untuk alat pertanggungjawaban
manajemen juga sebagai bahan pertimbangan yang mendukung dalam pengambilan keputusan,
tetapi dalam kasus ini manajemen telah memanipulasi laporan keuangan, sehingga laporan
keuangan yang dihasilkan tidak menunjukkan kinerja perusahaan yang sesungguhnya.
Pentingnya kejujuran dalam membuat laporan keuangan. Hal tersebut bukan hanya penting
sebagai tanggung jawab perusahaan terhadap publik maupun investor. Akan tetapi hal tersebut
juga penting bagi perusahaan sendiri karena dari laporan keuangan biasanya perusahaan
menganalisis bagaimana perkiraan tahun mendatang dan menjadi dasar pengambilan keputusan.
Apabila laporan keuangan yang menjadi dasar hal tersebut sudah tidak layak, tentu hasil akan jauh
dari yang diharapkan dan bahkan bisa berimbas pada perusahaan.
Auditor eksternal yang dipercayai harus benar-benar memiliki integritas serta prosesnya
harus terlaksana berdasarkan kaidah-kaidah yang telah diakui validitasnya. Selain itu, sebagai
auditor eksternal wajib melakukan komunikasi secara baik dan benar dengan komite audit yang
ada pada PT Kereta Api Indonesia untuk membangun kesepahaman (understanding) diantara
seluruh unsur lembaga. Kemudian, hubungan antar lembaga diharapkan tercipta dengan baik,
sehingga mempermudah penerapan sistem pengendalian manajemen yang ada di dalamnya. Secara
tidak langsung, upaya ini menunjang perwujudan tanggung jawab sosial perusahaan kepada
masyarakat luas sebagai salah satu pengampu kepentingan.