Anda di halaman 1dari 40

BAB.

I Pengantar Geodesi Geometrik

Pokok Bahasan. 1
I. Waktu Pertemuan
Pertemuan ke : 1

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

II. Tujuan Instruksional


1. Umum
Setelah mengikuti mata kuliah ini (pada akhir semester), mahasiswa
mampu :
a. Memahami fungsi dan klasifikasi kerangka kontrol horisontal
dalam pemetaan
b. Mengetahui keberadaan jaring kerangka kontrol nasional yang
ada di Indonesia, sistem koordinatnya dan datum yang
digunakan.
c. Menyelenggarakan jaring kerangka kontrol horisontal secara
terestrik untuk kebutuhan pemetaan.
d. Mampu melakukan analisis ketelitian dan keterandalan suatu
jaring kerangka kontrol horisontal.

2. khusus
Setelah mengikuti kuliah ini (pada akhir pertemuan pertama),
mahasiswa mampu :
a. Mahasiswa memahami model pembelajaran yang diterapkan
pada matakuliah Kerangka Kontrol Horisontal (materi yang akan
diberikan, tata mengikuti perkuliahan, responsi, praktikum,
tugas-tugas, dan evaluasi penilaian).

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 1


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

b. Mahasiswa dapat menjelaskan definisi dari KKH, membedakan


klasifikasi KKH berdasarkan orde (order) dan kelas (class), serta
dapat menjelaskan fungsi dari KKH dalam pemetaan.
c. Mahasiswa dapat menceritakan kembali sejarah penyelenggaraan
JKHN di Indonesia, dimulai dari jaring utama triangulasi hingga
dengan Jaring Kontrol Geodesi Nasional (JKGN).
d. Mahasiswa dapat menjelaskan keberadaan jaring utama
triangulasi Jawa-Sumatra-Bali-Lombok, jaring utama triangulasi
Sulawesi, dan jaring utama triangulasi Kalimantan, serta
manfaatnya dalam pemetaan
e. Mahasiswa dapat menjelaskan keberadaan Jaring Kerangka
Kontrol Geodesi Nasional (JKGN) orde nol, dan orde satu, serta
dapat menjelaskan manfaatnya dalam pemetaan

III. Pokok Bahasan


Sub Pokok Bahasan
1. Model Matematik Bumi
2. Rumus-rumus pada permukaan Ellipsoid
3. Reduksi data ukuran ke Ellipsoid Referensi

IV. Referensi
1. Abidin, H.Z., Andrew Jones. & Joenil Kahar. (1995) SURVAI
DENGAN GPS, PT. Pradnya Paramita, Jakarta, ISBN 979-380-1.
2. Davis, R.E., Francis S. Foote., James M. Anderson., & Edward M.
Mikhail (1981) SURVEYING THEORY AND PRACTICE, McGraw-Hill,
Inc.

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 2


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

BAB I
PENGANTAR
GEODESI GEOMETRIK

Geodesi merupakan salah satu cabang ilmu matematika terpakai,


yang bermaksud dengan jalan melakukan pengukuran-pengukuran,
menentukan bentuk dan ukuran bumi, menentukan posisi/koordinat
titik-titik, panjang dan arah-arah garis pada permukaan bumi, juga
mempelajari medan gravitasi bumi.
Secara umum, ilmu geodesi dibagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu :
1. Geodesi geometris, yang menyangkut mengenai bentuk dan
ukuran bumi, penentuan posisi titik, panjang dan arah garis.
2. Geodesi fisis, yang menyangkut masalah medan gravitasi bumi,
dimana studi ini sangat berguna untuk menentukan bentuk bumi.

Sejarah penentuan bentuk bumi dimulai dari Pithagoras ( 495 SM ) adalah


orang pertama yang mengatakan bahwa bumi ini bulat. Aristoteles (340
SM ) dan Archimedes ( 250 SM ), menyetujui pernyataan Pithagoras,
dengan pembuktian hipotesa didasarkan atas fakta-fakta antara lain :
pada waktu terjadi gerhana dimana bayangan bumi di bulan
Nampak berbentuk lingkaran.
pada waktu kapal berlayar menuju pantai, oleh pengamat
mula-mula nampak cerobong asapnya kemudian nampak seluruh
badannya.
Pembuktian secara eksak, saat itu belum dapat dilakukan karena belum
adanya peralatan ukur seperti sekarang-sekarang ini.

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 3


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

Erastosthenes ( 250 SM ), seorang astronom yang juga menyatakan


bahwa bumi berbentuk bulat. Beliau tidak hanya mengemukakan bukti-
bukti, tetapi juga melakukan percobaan-percobaan untuk mendapatkan
ukuran/dimensi dari bumi. Percobaannya adalah sebagai berikut :

bayangan tongkat A

R
S
tongkat
A

S = jarak dari Syene Alexandria


= 5.000 stadia
R = jari-jari bumi R = S/A
A = sudut pusat = 7,2o

Lihat gambar di atas. Beliau membuat sumur dan mendirikan tongkat


masing-masing di Syene dan Alexandria. Jarak kedua tempat tersebut
adalah 5000 stadia ( menurut Yordan, 1 stadia = 185 meter ). Pada waktu
matahari berada tepat di atas sumur, diukur bayangan tongkat di
Alexandria. Dari tinggi dan bayangan tongkat diperoleh sudut A sebesar
7,20. Maka menurut beliau, keliling bumi adalah :

Keliling Bumi = 2R = 2 . S/A


= 250.000 stadia 46.250 km

Hasil percobaan beliau ternyata 16% lebih besar dari ukuran bumi saat ini,
yaitu 40.009 km.
Poseidonius ( 90 SM ), melakukan percobaan yang memperoleh
besar keliling bumi adalah 44.400 km. Abdullah Al Mamun ( 827 SM ),
memperoleh besar keliling bumi adalah 41.436 km. Jean Fernel ( tahun
1525 ), juga memperoleh besar keliling bumi adalah 40.044 km. Beliau
bertiga memperoleh besar keliling bumi yang berbeda karena masing-
masing melakukan percobaan dengan caranya masing-masing pula.

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 4


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

Cassini dan para pendukungnya ( sebelum abad 17 ) berpendapat


bahwa bumi mempunyai bentuk bulat seperti jeruk asam ( lemon ).
Huygens dan Newton, para ahli fisika ini membantahnya dengan
mengatakan dengan teori-teorinya bahwa bentuk bumi merupakan jeruk
manis ( oranye ).
Perbedaan pendapat ini berlangsung cukup lama, yang pada
akhirnya bentuk bumi seperti jeruk manis diperkuat dengan hasil
pengukuran busur meridian oleh para ahli yang tergabung dalam
Lembaga Ilmu Pengetahuan Perancis French Academy of Sciences.
Disimpulkan bahwa bumi berbentuk seperti ellips putar dengan sumbu
pendek sebagai sumbu putar. Teknik yang digunakan adalah teknik
Astro-Geodesi atau Geodesi Geometrik, yaitu kombinasi pengukuran
astronomi dan geodesi (teknik triangulasi).
Secara sederhana, teknik triangulasi untuk menentukan harga 1 o
busur meridian dapat dilihat di gambar di bawah ini.

utara
Q Teknik triangulasi
diperkenalkan pertama
5 kali oleh Schnellius (tahun
4
1615) untuk menghitung

S panjang 1o busur meridian.


3

1 0 = azimuth P ke 1
o do d0 = jarak P ke 1
2
S = jarak P ke Q
P

selatan

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 5


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

Titik-titik P dan Q yang kira-kira terletak satu meridian dihubungkan


melalui segitiga-segitiga yang semua sudut-sudutnya diukur. Kemudian
salah satu sisi (sisi P1) diukur jarak dan azimuthnya. Dengan
menggunakan sudut-sudut, jarak dan azimuth sisi P1 (sisi awal) maka
dapat digambarkan rangkaian segitiga yang dimulai dari titik P sampai
titik Q. Untuk menggambarkan rangkaian segitiga tadi, dapat pula
dihitung terlebih dulu koordinat titik-titik yang menghubungkan titik P
dan Q. Apabila kemudian di titik-titik P dan Q dilakukan pengukuran
lintang (dengan pengukuran astronomi), maka dari selisih lintang dan
jarak PQ dapat dihitung harga 10 busur meridiannya.
Triangulasi Schnellius (tahun 1615) ini diselenggarakan di negeri
Belanda, di kira-kira lintang rata-rata 52 0 sebelah utara ekuator,
menghasilkan harga 10 busur meridian di daerah tersebut adalah 107,7 km.
Triangulasi Picard (tahun 1669), yang diselenggarakan di Perancis,
memperoleh harga 1o busur meridian sebesar 111,211 km, pada lintang
rata-rata 48o utara. Bouger dan Godin Lacondamina (tahun 1735)
mendapatkan harga 1o busur meridian sebesar 110,6 km, dari triangulasi
di Peru, pada lintang rata-rata 10o utara.
Triangulasi Maupertius, Clairaut dan Celcius (tahun 1736)
mendapat harga 1o busur meridian sebesar 111,949 km, yang
diselenggarakan di Lapland, pada lintang rata-rata 660 utara.

1.1. Model Matematik Bumi


Yang dimaksud dengan bentuk dan ukuran bumi adalah bentuk
dan ukuran dari permukaan air laut rata-rata (geoid) ; bukan bentuk dan
ukuran bumi fisik yang sangat tidak teratur. Geoid ini mempunyai

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 6


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

bentuk mendekati suatu ellips putar (ellipsoida). Maka bentuk dan


ukuran ellipsoida inilah yang ditentukan.
Secara geometrik, ukuran dan bentuk ellipsoida dinyatakan oleh
besaran-besaran setengah sumbu panjan/jari-jari ekuator (a) dan
pegepengan f (flattening). Berikut adalah para ahli yang tercatat dalam
penentuan bentuk bumi, dimana model matematika buminya adalah
ellipsoida.

Nama Ahli tahun a 1/f Metode


Everest 1830 6.378.276 300,80 Astro Geodesi
Bessel 1841 6.378.397 299,15 Astro Geodesi
Clarke 1866 6.378.206 294,99 Astro Geodesi
Clarke 1878 6.378.199 293,15 Astro Geodesi
Hayford 1909 6.378.388 297,00 Astro Geodesi
Krassovsky 1948 6.378.206 298,30 Astro Geodesi
Hough 1956 6.378.270 297,00 Astro Geodesi
Fisher 1960 6.378.155 298,30 Astro Geodesi
Kaula 1961 6.378.165 298,30 Astro Geodesi
Fisher 1968 6.378.150 298,30 Astro Geodesi
Helmert 1915 296,70 Pengukuran Gravitasi
Heiskanen 1938 297,00 Pengukuran Gravitasi
Jeffreys 1948 297,10 Pengukuran Gravitasi
U.S. Army Map Service 1956 6.378.260 297,00 Astro Geodesi

Di samping cara Astro Geodesi dan Pengukuran gravitasi,


penentuan bentuk dan ukuran ellipsoida bumi juga dilakukan dengan
pengukuran medan gravitasi bumi dari orbit satelit buatan (artificial
satellite); dan masih terus dilakukan sampai saat ini.

1.1.1. Geoid dan Ellipsoid Referensi


KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 7
BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

Salah satu facet geodesi geometris adalah menentuan koordinat


titik-titik, menentukan jarak dan azimuth garis di muka bumi untuk
berbnagai keperluan praktis maupun ilmiah. Untuk maksud tersebut
diperlukan suatu bidang hitungan.
Permukaan bumi fisik merupakan permukaan yang sangat tidak
teratur. Makanya, permukaan bumi fisik tidak dapat digunakan sebagai
bidang hitungan geodesi. Agar dapat dilakukan perhitungan-perhitungan
geodesi, permaukaan bumi fisik tadi diganti dengan permukaan yang
teratur dimana permukaan tersebut harus mempunyai bentuk dan
ukuiran yang mendekati bumi, yaitu geoid (bidang nivo (level surface)
yang berada pada ketinggian permukaan air laut rata-rata dalam keadaan
tenang(undisturb)).
Geoid ini mempunyai bentuk sangat mendekati suatu ellips putar
(ellipsoida) dengan sumbu pendek sebagai sumbu putar dan berimpit
dengan sumbu putar bumi. Ellipsoida inilah yang digunakan sebagai
bidang untuk keperluan perhitungan-perhitungan geodesi, dan
dinamakan sebagai Ellipsoida Referensi (E.R).
Ellipsoida sebagai pengganti geoid merupakan permukaan fiktif
yang tidak berimpit dengan geoid maupun permukaan fisik bumi.

geoid
ellipsoida

Menurut para ahli


permukaan bumi fisik
berada 9 km di atas dan
11 km di bawah GEOID,
sedangkan ellipsoida ber-
ada beberapa meter sekitar
geoid.

Berikut adalah E.R yang digunakan oleh beberapa negara.

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 8


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

Nama Negara Ellipsoida Referensi


India & Malaysia Everest
Eropa Tengah Bessel
Australia Clarke
Rusia Krasovky
Amerika Hayford
Perancis Clarke
Inggris Airy
Belanda Bessel

Dengan beberapa pertimbangan, dimungkinkan negara-negara di atas


telah mengganti E.R yang digunakannya; misalnya Indonesia.

Tahun Ellipsoida Referensi a (meter) 1/f

Sebelum 1971 Bessel 1841 6.377.397 299,15


Tahun 1971 GRS-67 (S.N.I) 6.378.160 298,25

Sekarang GRS-80 6.378.137 298,25722101

Dari tabel di atas terlihat bahwa ukuran ellipsoida bumi berbeda


satu dengan yang lainnya, sehingga hasil hitungannya pun akan berbeda
pula. Hal ini tidak menjadi masalah, asalkan pada hasil hitungannya
dicantumkan ukuran dan bentuk ellipsoida yang digunakan.

1.1.2. Geometrik Ellipsoida


1.1.2.1. Parameter Ellips
Ellips merupakan tempat kedudukan titik-titik yang mempunyai
jumlah jarak dari 2 titik tetap adalah konstan dan lebih besar dari jarak
kedua titik tetap tadi. Kedua titik tetap tersebut disebut titik pusat/titik
fokus ellips.

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 9


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

Z
A
K1
A

a
a
b

F1 F2
X
O B
OA = a
= AB . sin
AB = (b/a).AB
= (b/a).a. sin
= b. sin
K2
OB = a. cos

Koordinat titik A(AB,OB) di ellips : AB = Z = b. sin ; OB = X = a. cos


, atau (Z/b) = sin ; (X/a) = cos . Bila kedua persamaan tersebut
dikuadratkan kemudian dijumlahkan, maka akan menghasilkan
persamaan ellips, yaitu :
(Z/b)2 = sin2
(X/a) 2 = cos2 +
2 2
Z X
1
b a

Bentuk dan ukuran suatu ellips ditentukan oleh besarnya


pegepengan (f) dan besarnya setengah sumbu panjang (a), dimana

ab b
masing-masing didefinisikan sebagai : f 1
a a
Besarnya a dan f untuk ellips bumi sekitar 6370 km dan 1 : 300.
Di samping a dan f, terdapat besaran-besaran ellips lainnya yang
sering digunakan, yaitu b, e, e. Dengan demikian, besaran a, b, f, e dan e
ini dinamakan parameter utama ellips (the principal parameters of ellips).

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 10


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

2
a 2 b2 b
e2 1 2f f 2
a2 a
2
a 2 b2 b
e' 2 1
b2 a

1.1.2.2. Posisi Titik pada Ellips


Letak titik pada suatu ellips dinyatakan dengan absis (X) dan
ordinat (Z).
garis normal
Z
A
K1
A
X
b
Z
N L
90-L 90+L
a
X
O B

Garis normal pada ellips di titik A


membentuk sudut L dengan sumbu X.
L = lintang geodetik/geografi.

K2 = lintang reduksi (reduced latitude)


= lintang geosentrik (geocentric
latitude)

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 11


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

Maka diperoleh koordinat titik A (X,Z) pada ellips yang dinyatakan


dengan lintang geodetik (L) adalah :

a cos L
X
1 - e 2 sin 2 L
a (1 e 2 ) sin L
Z
1 - e 2 sin 2 L

1.1.2.3. Lintang
Telah disinggung di atas, bahwa ada 3 macam lintang, yaitu lintang
geodetik (L), lintang reduksi () dan lintang geosentrik (). Di antara
ketiga macam lintang tersebut terdapat hubungan matematika, yaitu :
a
tg L tg
b
tg 1 e 2 .tg L
tg (1 - e 2 ) tg L

1.1.2.4. Jari-jari
Kelengkungan di setiap titik pada ellips tidak sama. Maka besarnya
jari-jari di setiap titiknya akan tidak sama pula.

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 12


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

garis normal
Z
a (1 e 2 )
M
3
1 - e 2 sin 2 L
A
X a
N
b 1 - e 2 sin 2 L
r Z
L N cos L
r
N cos
a
X R N.M
O B

K2

Terdapat 4 (empat) macam jari-jari, yaitu jari-jari lengkung


meridian (M), jari-jari lengkung normal (N), jari-jari geosentrik (r), dan
jari-jari lengkung rata-rata Gausz (R).
Masing-masing rumus jari-jari tersebut adalah di samping gambar
di atas. Apabila dibuktikan secara numerik, maka akan terjadi M = N di
saat L = 900.

1.1.2.5. Bola Pengganti


Untuk beberapa keperluan, kadang-kadang ellipsoida diganti
dengan sebuah bola dengan jari-jari tertentu. Berikut diberikan macam-
macam bola pengganti ellipsoida.
1. Bola dengan jari-jari Rt.
aab
Rt
3

2. Bola dengan jari-jari Rr (bola reduksi).


Rr a

3. Bola dengan jari-jari Re (bola ekuivalen), yang ditentukan


berdasarkan luas bola = luas ellipsoida.
KTG 226 : Geodesi 2 2 3 4 Jurusan
Geometrik 4 6 Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 13
R e b (1
2
e e e ...)
3 5 7
BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

4. Bola dengan jari-jari R (bola Gausz).

R N.M

5. Bola dengan jari-jari Rv, yang ditentukan berdasarkan isi bola = isi
ellipsoida.

R V a 2b

Catatan :
Bola reduksi digunakan oleh Bessel untuk memecahkan Soal
Pokok Geodesi (SPG).
Bola ekuivalen digunakan untuk membuat proyeksi peta
ekuivalen.
Bola Gausz digunakan untuk membuat proyeksi peta konform.
Bila bumi dianggap sebagai bola, ambil R = 6370,3 km.

1.2. Rumus-rumus pada Permukaan Ellipsoid


1.2.1. Irisan Normal Geodesik

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 14


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

KU
KK
UK
UU

II

B
BR
A
H

PP
Q
Q

KS

Lingkaran meridian / lingkaran bujur = lingkaran besar yang


melalui KU dan KS ; mempunyai bentuk seperti ellips.
Lingkaran paralel / lingkaran lintang = lingkaran yang tegak
lurus sumbu KU-KS.
Lingkaran ekuator = lingkaran paralel di saat L = 0.
Bidang H dan I = bidang-bidang normal pada ellipsoid melalui
garis normal A. Bidang-bidang normal tersebut akan memotong
permukaan ellipsoid dalam irisan normal yang berbentuk ellips
dengan ukuran tertentu. (Bila titik A berada di kutub, irisan
normalnya berbentuk ellips; bila titik A berada di ekuator, irisan
normal utamanya berbentuk lingkaran).
Bidang normal H memotong ellipsoid pada ellips APQRA.
Busur AP dan AB merupakan busur irisan normal bidang H dan
I.
Bila irisan normal AP membentuk sudut 90 0 dengan meridian A,
irisan normal tersebut dinamakan irisan normal utama.
Irisan normal AB membentuk sudut (azimuth) dengan
meridian A. [ = azimuth irisan normal AB di titik A].
KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 15
BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

Pada permukaan ellipsoid, terdapat unsur-unsur :


Titik
Garis meridian
Garis paralel
Garis irisan normal
kedua unsur ini sangat erat kaitannya dengan persoalan
Sudut
pokok geodesi.
Jarak

Sudut pada permukaan ellipsoid dapat merupakan :


Perpotongan garis meridian dengan garis paralel.
Perpotongan garis meridian dengan garis irisan normal.
Perpotongan garis-garis irisan normal.
Perpotongan antara garis-garis meridian
Perpotongan garis irisan normal dengan garis paralel.

Dari banyak sudut tersebut, yang paling penting adalah :


Sudut mendatar yang dibentuk oleh perpotongan bidang (garis)
meridian dengan bidang (irisan) normal, disebut asimut.
Sudut mendatar yang dibentuk oleh 2 bidang (irisan) normal,
dan
Sudut mendatar yang dibentuk oleh 2 bidang (lingkaran)
meridian, disebut selisih bujur.

Jarak antara 2 titik pada permukaan ellipsoid adalah jarak yang


dihitung sepanjang irisan normal melalui kedua titik tersebut.

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 16


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

B
A S1

S2

Dari gambar di atas, S1 dan S2 adalah garis-garis irisan normal dimana


kedua tidak saling berimpit. Maka, garis-garis irisan normal S 1 dan S2
diganti dengan suatu garis lengkung teoritis yang menghubungkan titik A
dan B, yang disebut sebagai garis geodetik/geodesik. Geodesik ini
merupakan jarak terkecil menghubungkan 2 titik di atas ellipsoid bumi.
Irisan normal S1 dan irisan normal S2 tidak berimpit. S1 dan S2
menyatakan jarak dari A ke B dan dari B ke A sepanjang irisan normal
masing-masing.
U

U

1 1 2 1
A S
1 1 11
S1
2
B1
S21

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 17


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

dari gambar di atas :


S1 = jarak dari A ke B sepanjang irisan normal
S2 = jarak dari B ke A sepanjang irisan normal
S = jarak dari A ke B sepanjang geodesik
1 = asimut S1 di titik A
1 = asimut S di titik A (azimuth geodesik)
2 = asimut S2 di titik B
2 = asimuh S di titik B (azimuth geodesik)

Secara teoritis : S1 S2 S , 1 1 , dan 2 2


Rumus perbedaan antara S1 dengan S, S2 dengan S, dan perbedaan
asimut di masing-masing titik adalah sebagai berikut :

14 14
S1 S1 S S 5
sin 2
,
1 cos 2
1 S 5 sin 2 2 1, ; 1 e' cos L1
90 N 14 360 N 14
42
S 2 S 2 S S 5 sin 2 2 ,2 ; 2 e' cos L 2
360 N 42
e' 2 S 2
1 1, 1 cos 2 L1 sin 2 1,
12 N 1
e' 2 S 2
2 ,2 2 cos 2 L 2 sin 2 ,2
12 N 2

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 18


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

PANJANG BUSUR MERIDIAN dan PARALEL


KU

Andaikan titik Q dekat sekali


dB
dengan titik P.
Jarak PQ = dS = elemen garis

(dapat dianggap sbg garis lurus)
Q
dS
1 L+dL = azimuth dS di titik P

dS1 = dS cos
dS
dS2 = dS sin

P dB = selisih bujur P dengan Q


dS
2
L dL = selisih lintang P dengan Q

Panjangnya elemen garis dS dapat dinyatakan oleh perubahan


koordinat dB dan dL. Perubahan ini didasarkan pada koordinat geodetik
titik P dan Q, koordinat dalam sistem koordinat siku ruang, ilmu ukur
diferensial diperoleh : dS2 = M2 dL2 + N2 cos2 L dB2
Bila titik Q terletak pada meridian A (berarti dB=0), maka :
dS2 = M2 dL2
dS1 = M dL =dS cos
(rumus dasar untuk menghitung panjang busur meridian antara 2titik)
Bila titik Q terletak pada paralel A (berarti dL=0), maka :
dS2 = N2 cos2 L dB2
dS2 = N cosL dB=dS sin
(rumus dasar untuk menghitung panjang busur paralel antara 2titik).

Dari gambar di atas, diperoleh pula :

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 19


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

dL cos

dS M
dB sin

dS N cos L

1.2.3. Konvergensi Meridian


KU

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 20


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

garis geodesik (irisan normal)

2 3 4
1
2 1 3 1
41
1
1

ekuator

KS

Dari gambar di atas, geodesik/irisan normal memotong meridian


di titik 1, 2, 3, dan 4. Asimutnya di masing-masing titik dinyatakan oleh
1, 2, 3, dan 4. Karena meridian di masing-masing titik konvergen ke

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 21


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

kutub (KU), maka 1 2 3 4 . Perbedaan ini dinamakan konvergensi


meridian.
Katakan konvergensi meridian di titik 2 terhadap meridian titik 1
adalah 2, dan konvergensi meridian di titik 3 terhadap meridian titik 1
adalah 3. Harga 2 dan 3 mempunyai arti :
2= 2 - 1 Perbedaan 3 dengan 2 disebut konvergensi
3= 3 - 1 meridian di titik 3 terhadap meridian di titik 2.

Bila 2 diketahui dan besarnya konvergensi meridian di titik 3 terhadap


meridian titik 2, maka 3 dapat dihitung, yaitu :
3= 2 +
Gambar berikut ini untuk mengetahui besarnya .

d = - adalah
perubahan azimuth di titik 2
adalah
p1 = jari-jari lingkaran
paralel titik 1
p2 = jari-jari lingkaran
paralel titik 2
Maka perubahannya :
-dp = -d(N cos L) = M sin L dL
Perubahan busur lingkaran
paralelnya :
M sin L dL dB

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 22


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

KU

dB
d


2
dS
1 L+dL

dS

1 22
dS L
2 22
B

Maka :
M sin L dL dB
d sin L . dB
M dL
tg L
d sin . dS
N
d tg L
sin
dS N

1.2.4. Busur Meridian

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 23


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

KU
22

G
G
L 11
M L

Gd
L

dLdL
L2
L1
OO ekuator

Andaikan dS1 (pada bahasan di atas) merupakan elemen busur


meridian dG, maka dG = dS1 = M dL. Dan karena M di setiap titik pada
meridian tidak sama besarnya, maka bila akan dihitung panjang busur
meridian antara L1 dan L2 maka G merupakan jumlah dari dG. Secara
matematika dituliskan sebagai berikut.
E4
G E 0 L E 2 (sin 2L 2 sin 2L1 ) (sin 4L 2 sin 4L1 )
4
L ( L 2 L 1 ) / o

dimana :
A 3 2 45 4 175 6 11025 8 43659 10
E 0 a (1 e 2 ) ; A 1 e e e e e ...
o 4 64 256 16384 65536
B 3 2 15 4 525 6 2205 8 72765 10
E2 - a (1 e 2 ) ;B e e e e e ...
2 4 16 512 2048 65536
C 15 4 105 6 2205 8 10395 10
E4 a (1 e 2 ) ;C e e e e ...
4 64 526 4096 16384
o 57, o 2957795

Bila L1 = 0 dan L2 = L, maka persamaan di atas menjadi :


KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 24
BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

KU
22

11

GM

L
OO N ekuator

G E 0 L E 2 sin 2L E 4 sin 4L ...

G = panjang busur meridian dari ekuator sampai L

G E2 E
L sin 2L 4 sin 4L ...
Eo Eo Eo

L = besarnya harga lintang yang dihitung dari G

1.2.5. Busur Paralel

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 25


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

KU Dari rumus dS = dS2 = N cosL dB,


maka panjang busur lingkaran
p 22
paralel antara bujur B1 dan B2
B
p
adalah : P
11
P N cos L (B 2 B1 )

ekuator
OO B2 B1

1.3. Reduksi Ukuran

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 26


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

Hitungan Kerangka Horisontal Geodesi untuk keperluan


pemetaan, baik terestris maupun fotogrametris, dilakukan pada bidang
datar atau pada permukaan Ellipsoida Referensi (ER). Sedangkan hasil
pengukuran, yaitu sudut horizontal jarak azimuth, lintang dan bujur
dilakukan di permukaan bumi.
Mengingat adanya perbedaan antara bidang pengukuran dan
bidang hitungan, maka juga berarti bahwa geometri unsur ukuran dengan
unsur yang bersangkutan pada bidang hitungan juga berbeda. Hal ini
berarti pula unsure yang diperoleh dari hasil ukuran tidak boleh begitu
saja digunakan dalam perhitungan. Apabila langsung digunakan, terlepas
dari kesalahan pengukuran dan perhitungan, akan memberikan hasil
koordinat yang kontradiktif.
Sebagai contoh : titik P akan ditentukan posisinya dari titik A dan
titik B. Dari titik A dilakukan pengukuran poligon ke titik P, dan dari titik
B juga dilakukan pengukuran poligon ke titik B. Apabila data ukuran
langsung digunakan, maka akan menghasilkan hitungan yang berbeda
dari titik A dan dari titik B terhadap titik P.
Oleh karena itu, untuk menghindari perbedaan perhitungan, maka
unsur-unsur hasil ukuran harus direduksi/dikoreksi terlebih dahulu
sehinggan menjadi unsur-unsur yang bersangkutan di bidang hitungan.
Reduksi/koreksi pada unsur-unsur ukuran sampai menjadi unsur-
unsur yang bersangkutan pada bidang hitungan, secara bertahap
meliputi:

unsur-unsur ukuran

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknikke


reduksi Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 27
BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

permukaan geoid

reduksi ke

permukaan Ellipsoida Referensi

reduksi ke

bidang datar/proyeksi

1). Reduksi ke Permukaan Geoid


Maksud reduksi ini bertujuan untuk menghilangkan kontradiksi
hasil ukuran akibat adanya perbedaan sistem referensi.
Contoh : pengukuran jarak mendatar dari A ke B akan berbeda
dengan jarak mendatar dari B ke A, apabila titik-titik A dan B tidak
sama tingginya dan cukup jauh jaraknya.
Dalam prakteknya, reduksi ini dilakukan ke permukaan air laut
rata-rata, dengan anggapan bahwa geoid berimpit dengan permukaan
air laut rata-rata tersebut.

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 28


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

Geoid global

Geoid merupakan bidang ekuipotensial gaya berat (bidang nivo)


yang terletak pada ketinggian permukaan air laut rata-rata dalam
keadaan tenang (undisturb).

2). Reduksi ke Permukaan Ellipsoida Referensi


Karena permukaan geoid tidak teratur, maka permukaannya
tidak dapat digunakan sebagai bidang hitungan. Oleh karena itu,
permukaan geoid diganti dengan permukaan matematika yang
mempunyai bentuk dan ukuran seperti geoid. Permukaan tersebut,
secara global, merupakan suatu permukaan ellips putar (ellipsoida /
sferoid).

geoid/muka laut rata-rata

permukaan bumi fisik

Ellipsoida Referensi

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 29


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

Apabila telah ditetapkan suatu ellipsoida dengan ukuran


tertentu sebagai pengganti geoid, bentuk geoid tidak akan sama benar
dengan ellipsoidnya, akan terdapat penyimpangan/undulasi di
berbagai arah. Hal ini disebabkan karena pola distribusi arah gaya
berat (arah vertikal) pada geoid tidak sama dengan pola distribusi
arah-arah garis normal pada ellipsoida.
Dengan adanya kenyataan ini, maka unsur-unsur di geoid
kemudian direduksi ke permukaan ellipsoida. Ellipsoida dengan
ukuran tertentu sebagai pengganti geoid, dimana pada
permukaannya dilakukan hitungan-hitungan geodesi, dinamakan
Ellipsoida Referensi ( ER ).

3). Reduksi ke Bidang Datar / Bidang Proyeksi / Bidang Hitungan


Apabila bidang datar akan digunakan sebagai bidang referensi
hitungan, maka unsur-unsur pada ER dipindahkan/ditransformasi-
kan ke bidang datar menggunakan rumus-rumus proyeksi peta.
Karena adanya pemindahan unsur-unsur dari ER ke bidang proyeksi,
maka perubahan-perubahan yang terjadi, baik itu perubahan besar
maupun kecil, perlu diketahui besarnya. Yang kemudian ikut
diperhitungkan perubahan yang terjadi tersebut di atas.

1.3.1. Reduksi Jurusan


Jurusan mendatar dari satu titik ke titik lain pada ER diartikan
sebagai jurusan dari garis geodesik yang melalui kedua titik tersebut.
Sedangkan pengertian jurusan mendatar pada bidang datar adalah
jurusan dari garis penghubung lurus yang melalui kedua titik tersebut.

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 30


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

2
l 12

Dari gambar di atas, apabila dari titik 1 (di muka bumi) diukur
sudut jurusan mendatar ke titik 2 (di muka bumi), maka jurusan ukuran
ini menyatakan jurusan irisan bidang vertikal yang dibentuk oleh garis
vertikal di titik 1 dan titik 2 dengan bidang nivo melalui titik 1.
Untuk memperoleh jurusan geodesik pada ER, maka jurusan
ukuran ini harus mendapat reduksi agar menjadi jurusan dari irisan
bidang normal yang dibentuk oleh garis normal di titik 1 (tegak lurus ER)
dan titik 2 dengan ER. Reduksi/koreksi ini timbul karena pada umumnya
garis vertikal di titik 1 tidak berimpit dengan garis normalnya. Koreksi ini
dinamakan koreksi penyimpangan vertikal (correction for vertical deviation).
Setelah itu, karena garis-garis normal pada ER di titik 1 dan 2 pada
umumnya bersilangan, maka jurusan yang telah mendapat koreksi
penyimpangan vertikal perlu mendapat koreksi agar menjadi jurusan
irisan bidang normal yang dibentuk oleh garis normal di titik 1 dan
proyeksi titik 2 pada ER dengan ER. Koreksi yang kedua ini dinamakan
koreksi karena bersialngnya garis-garis normal (correction for skew normal).
Karena pada umumnya irisan normal dan geodesik pada ER tidak
berimpit, maka jurusan irisan normal mendapat koreksi lagi agar menjadi

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 31


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

jurusan geodesik. Koreksi ketiga ini dinamakan koreksi jurusan geodesik


(correction for geodesics).
Dengan ketiga koreksi/rediksi di atas, maka diperoleh jurusan
geodesik pada ER. Apabila jurusan geodesik ditransformasikan ke bidang
datar, maka jurusan ini perlu mendapat koreksi kelengkungan busur (arc
to chord correction), karena proyeksi geodesik merupakan garis
melengkung (busur) sedangkan arti jurusan pada bidang datar adalah
jurusan garis penghubung lurus.
Hasil akhir yang diperoleh dari jurusan adalah jurusan
penghubung lurus pada bidang datar. Rumusnya adalah berikut ini.

l12 = l12 + A12 + K12 + 12 + ( t-T )12


dimana :
A = reduksi karena penyimpangan vertikal
K = reduksi karena bersilangnya garis normal
= reduksi karena tidak berimpitnya irisan normal dengan geodesik
( t-T ) = reduksi kelengkungan busur

1). Reduksi Penyimpangan Vertikal ( A )

A12 ( B1 1 ) sin L1 ( cos A12 sin A12 ) tg m12

dimana :
A12 = reduksi jurusan 12 karena penyimpangan vertikal
B1 = bujur geodetik di titik 1
1 = bujur astronomi di titik 1
L1 = lintang geodetik di titik 1
A12 = azimuth geodetik dari titik 1 ke titik 2
m12 = sudut miring dari titik 1 ke titik 2
1 = komponen penyimpangan vertikal pada arah siku-siku
KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 32
BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

meridian di titik 1
= ( 1 B1 ) cos L1
1 = komponen penyimpangan vertikal pada arah meridian di titik 1
= ( 1 L1 ) ; 1 = lintang astronomi di titik 1

Contoh Hitungan :
Soal :
Azimuth ukuran (astronomik) : A12a = 2240 23 44,51
Koordinat geodetik dan astronomik :
L1 = 070 37 11,43 Utara B1 = 070 12 32,21 Timur
1 = 070 37 09,65 Utara 1 = 070 12 42,86 Timur
m12 = 450
Penyelesaian :
1 = ( 1 L1 ) = - 1,78 ( B1 1 ) = - 10,65
( B1 1 ) sin L1 = - 1,41 1 = ( 1 B1 ) cos L1 = + 10,56
1 cos A12a = - 7,54 1 sin A12a = + 1,24
( 1 cos A12a - 1 sin A12a ) tg m12= - 8,78
A = - 1,41 - 8,78 = - 10,19

2). Reduksi Bersilangnya Garis Normal ( K )

e'2
K12 " sin (2.A12 ) cos 2 L1 .H 2
2.N1
dimana :
K12 = reduksi jurusan 12 karena bersilangnya garis normal
a
N1 = jari-jari lengkung normal di titik 1 ; N1
(1 e sin 2 L1 ) 0.5
2

a = setengah sumbu panjang ER


e = eksentrisitet pertama ; e2 = 2 f f2
e2 = ( a2 b2 )/a2 = e2 / ( 1 e2 )

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 33


( t - T)12
" (X X 1 )(
2
6 . r02
BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

= ( 180/ ) . 3600 = 206264,806247


L1 = lintang geodetik di titik 1
A12 = azimuth geodetik dari titik 1 ke titik 2
H2 = tinggi normal titik 2

3). Reduksi Jurusan Geodesik ( )

12 0,028" cos 2
L1 sin (2A

dimana :
12 = reduksi jurusan 12 karena irisan normal dan geodesik pada ER
tidak berimpit
S12 = jarak dari titik 1 ke titik 2, dalam kilometer (km)
L1 = lintang geodetik di titik 1
A12 = azimuth geodetik dari titik 1 ke titik 2

4). Reduksi karena kelengkungan busur ( t-T )

( t - T)12
Proyeksi Polyeder :

" (X X 1 )(
2
6 . r02

Proyeksi Mercator : "


( t - T)12 2
(X 2 X 1 )( 2Y1
6.r
(T - t)12
Proyeksi TM / UTM :

" (Y2 Y
2 2
6. r . K0
dimana :
X,Y = koordinat proyeksi
t = sudut lurusan tali busur
T = sudut lurusan busur

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 34


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

Ko = 0,9996
r02 ( N 0 . M 0 ) ; r 2 (N . M )

Arah Kelengkungan Busur


Proyeksi Mercator/Polyeder

Y
Y 2
(t-
)2 1 T )
-T
(t
23

2 (t-
T )
12
)

2
T

32
(t-

1 3
1 3 3
1
4
41
)

(t- (t-
(t-T

T) ) 43 T )
14 4 (t
-T 34

4
X
X
1 '1 (t T )12 (t T )14 3 '3 (t T )32 (t T )34

2 '2 (t T ) 21 (t T ) 23 4 '4 (t T ) 41 (t T ) 43

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 35


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

Proyeksi TM/UTM

Y
Y (T 2
(T
- t) 21

-t)
23

2 (T
-t)
2 32
12
-t)
(T

1 1 3 3 3
1
4
41
)

(T
(T-t

- t) (T
12 4 -t)
34
(T
-t 4
) 3

4
X
X

1 '1 (T t )12 (T t )14 3 '3 (T t ) 32 (T t ) 34

2 '2 (T t ) 21 (T t ) 23 4 '4 (T t ) 41 (T t ) 43

1.3.2. Reduksi Sudut


Sudut mendatar adalah selisih dari 2 (dua) jurusan/azimuth, yaitu
jurusan/azimuth kanan dikurangi jurusan/azimuth kiri.

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 36


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

2
l 12

1 213
l
13

3
l12u = jurusan ukuran di bumi fisik dari titik 1 ke titik 2
l13u = jurusan ukuran di bumi fisik dari titik 1 ke titik 3
l12 = jurusan ukuran di bidang proyeksi dari titik 1 ke titik 2
l13 = jurusan ukuran di bidang proyeksi dari titik 1 ke titik 2
Agar diperoleh sudut mendatar pada bidang datar, masing-masing
jurusan harus mendapat koreksi A, K, , dan ( t-T ).
u213 l13
u
l12
u
; 213 l13 l12

l12 l12
u
A12 K 12 12 ( t T)12
l13 l13
u
A13 K 13 13 ( t T )13
213 u213 (A13 A12 ) (K 13 K 12 ) (13 12 ) {( t T)13 ( t T)12 }

dimana :
A = reduksi karena penyimpangan vertikal
K = reduksi karena bersilangnya garis normal
= reduksi karena tidak berimpitnya irisan normal dengan geodesik
( t-T ) = reduksi kelengkungan busur

1.3.3. Reduksi Asimut


Asimut juga merupakan suatu jurusan. Urutan pemberian
reduksi/koreksi pada sudut jurusan ini adalah :

azimuth ukuran

A, K,
KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 37

azimuth pada ER
BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

( t-T ) , C1

azimuth pada bidang datar


( sudut jurusan )

Pengertian dari alur di atas adalah untuk memperoleh azimuth


pada ER juga diperlukan reduksi A, K, . Azimuth pada bidang datar
diperoleh setelah diberi reduksi ( t-T ) dan C. Untuk selanjutnya, azimuth
pada bidang datar disebut sudut jurusan. Hubungan antara reduksi dan
sudut jurusan tersebut adalah :

12 A12
a
A12 K12 12 ( t T)12 C1

dimana :
12 = sudut jurusan dari titik 1 ke titik 2
A12a = azimuth astronomis dari titik 1 ke titik 2
A12 = reduksi jurusan 12 karena penyimpangan vertikal
K12 = reduksi jurusan 12 karena bersilangnya garis normal
12 = reduksi jurusan 12 karena irisan normal dan geodesik pada ER tidak
berimpit
( t-T )12 = reduksi jurusan 12 karena kelengkungan busur
C1 = konvergensi meridian di titik 1

Besarnya konvergensi meridian ( C ) ini tergantung pada letak titik


yang bersangkutan terhadap meridian tengah dan sistem proyeksi yang
digunakan.

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 38


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

KU
C2
C1
12= A12 + C1
12 A12 21= A12 C2
2 21
A21
1

KS

Ci untuk proyeksi Polyeder

C i ( B i B 0 ) sin L 0 atau ;
"

C i Ci proyeksi Mercator
untuk Xi
N 0 ctg L 0
Ci = 0, karena meridian-meridian pada proyeksi Mercator sejajar
dengan sumbu Y.
Ci untuk proyeksi UTM
Dari koordinat geodetik :

C i [XII] p [XIII] p 3 [C.5] p 5

Dari koordinat proyeksi :


C i [XV ] q [XVI] q 3 [F.5] q 5

Catatan :
Konvergensi meridian dapat dihitung dari koordinat
proyeksi atau koordinat geodetik. Koordinat yang digunakan cukup
koordinat hasil hitungan sementara (pendekatan).
Ketentuan-ketentuan tanda C untuk proyeksi Polyeder dan
UTM adalah sama, yaitu :
o Untuk titik-titik di Utara ekuator :

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 39


BAB. I Pengantar Geodesi Geometrik

sebelah Timur meridian tengah : + C


sebelah Barat meridian tengah : - C
o Untuk titik-titik di Selatan ekuator :
sebelah Timur meridian tengah : - C
sebelah Barat meridian tengah :+C

Koefisien-koefisien [XII], [XIII], [C.5], [XV],


[XVI] dan [F.5] dihitung dengan argumen lintang titik yang akan
dihitung C-nya. Rumus matematika koefisien-koefisien tersebut
adalah :

[XII] sin L 10 4

sin L cos 2 L sin 2 1" (1 3e'2 cos 2 L 2


[XIII]
sin L cos 4 L sin 41" (2 3 tg 2 L) 10 20
[C5]
15
p ( Bi B0 ) . 0,0001"

tg L 106
[XV]
k 0 N sin 1"2 2 2 4 4 8
tg L (1 tg L - e' cos L - 2e' cos L)10
[XV] 3 3
23 k N 4sin 1" 30
tg L (2 5tg L 0 3tg L) 10
[F5]
15 k 50 N 5 sinmeter
q X . 0,000.001 1"

KTG 226 : Geodesi Geometrik Jurusan Teknik Geodesi FTSP-ITENAS, hal : I 40