Anda di halaman 1dari 4

MAKASSAR (4 Mei 2015; 08.36 WIB http://news.okezone.

com )

Judul : Pegawai RS Haji Pemprov Sulsel


Mogok Kerja
MAKASSAR (4 Mei 2015; 08.36 WIB http://news.okezone.com ) Ratusan pegawai, tenaga
medis, tenaga administrasi Rumah Sakit (RS) Haji PemproV Sulawesi Selatan di Jalan Daeng
Ngeppe, Kota Makassar, mogok kerja. Mereka menuntut Direktur RS Haji, Nurhasana
Palinrungi, bersama sejumlah jajarannya mundur.

Nurhasanah dan sejumlah bawahannya dituding korupsi hingga miliaran rupiah. Selain itu ia
dinilai tidak mampu menyejahterahkan pegawainya. Bahkan Nurhasana dituding tidak adil
dalam menerapkan aturan pembagian uang layanan jasa, antara para tenaga lapangan dan pejabat
RS Haji.

"Uang pelayanan jasa sangat jomplang. Direktur dan kepala-kepala bidangnya menerima hingga
Rp32 juta sementara perawat hanya Rp1,3 juta hingga Rp2,1 juta," ujar seorang perawat RS Haji
Sulsel Syarifuddin, Senin (4/5/2015).

Selain itu, Nurhasanah diduga menggelapkan sejumlah uang yang harusnya digunakan untuk
pembangunan dan rehabilitasi kelangkapan rumah sakit. Pada tahun 2013-2014, pelayanan jasa
surplus mencapai Rp5,5 miliar.

"Namun nyatanya, bangunan banyak rusak, padahal baru setahun beroperasi. Tempat tidur rusak
dan plafon runtuh. Mesin Anastesi untuk memonitor stabil tidaknya kondisi pasien, juga sudah
rusak padahal baru tiga bulan digunakan," terangnya.

Aksi para pekerja rumah sakit membuat pelayanan terganggu. Pasalnya, mereka hanya melayani
pasien yang sudah dirawat. Imbas lainnya, pasien yang sudah diperbolehkan pulang tidak bisa
meninggalkan rumah sakit karena tidak ada pegawai yang melayani proses administrasi.

"Seharusnya saya sudah pulang tapi masih tertahan," tutur Sodik (39), pasien kecelakaan lalu
lintas yang dirawat di ruang bedah Ar Rahman, lantai 2 RS Haji.

Komen :
Bagaimanapun perawat merupakan pelayan bagi masyarakat yang mengayomi masyarakat. Adapun
perawat memiliki hak, kewajiban, etika, dll yang harus mereka pertanggungjawabkan. Tidak hanya
membelakangi kewajiban ketika hak sedang diperjuangkan.
Heidjrachman, Ranupandojo Suad Husnan, (2000). Manajemen Personalia, Edisi
Keempat, Cetakan Pertama, BPFE UGM, Yogyakarta.

Hasibuan, Melayu SP. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Revisi : Bumi Aksara
http://sashaannisa18.blogspot.com/2015/03/makalah-kepuasan-kerja.html
Ivancevich. 2005. Perilaku dan Manajemen Organisasi. Jakarta : Erlangga.
Jewel, L.N, dan Siegel Marc. 1998. Psikologi Industri/Organisasi Modern, Penerjemah, A
Hadyana Pudjaatmaka dan Maetasari. Jakarta: Penerbit Archan.
Keith, Davis, Jhon W. Newstrom. 1995. Perilaku Dalam Organisasi, Edisi Ketujuh. Jakarta:
Erlangga.
Manullang, M. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Moch. Asad, 1995. Psikologi Industri. Jakarta: Liberty.
Robbins, Stephans. 1996. Organization Bahaviour, Seventh Edition, A Simon & Schuster
Company. Englewood Cliffs, New Jersey 07632.
Susilo Martoyo, 1992. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : BPFE.
Thoha, Miftah. 2001.Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.

Poin-poin tersebutlah yang menyebabkan terganggunya pelayanan rumah sakit sehingga


menyulitkan pasien dalam proses rawat inap dan rawat jalan. Hal pertama yang akan dibahas
adalah apa yang menyebabkan mogok kerja perawat yang telah dijelaskan dalam poin-poin di
atas. Jika dihubungkan terhadap pribadi masing-masing perawat hal ini menjurus pada motivasi
seorang karyawan. Seperti yang dibahas pada paparan teori, para perawat di rumah sakit ini
dapat dikatakan motivasinya sudah sangat menurun. Dimana hubungan antara perilaku pekerja
dengan hasilnya sudah tidak serasi. Dapat juga dikatakan bahwa berdasarkan teori-teori motivasi
yang ada, para perawat sudah tidak lagi memiliki dampak positif dalam hal motivasi.

Pada teori keadilan (equity theory) jika karyawan merasa diperlakukan secara adil maka
motivasi mereka akan terpelihara karena didasarkan pada seimbang atau tidaknya input dan
outcomes.kasus keadilan yang mana memotivasi karyawan karena keadilan pada instansi
menampakkan transparansi baik itu dari segi gaji, tunjangan dan lain-lain. Namun pada kasus ini
para karyawan (perawat) tidak mendapatkan keadilan tersebut karena tidak adilnya dalam
pembagian uang layanan jasa bagi masing-masing perawat. Selain menimbulkan kekesalan
perawat hal ini juga berdampak pada lingkungan sosial karyawan yang mana ada kesenjangan
antara para pekerja sebab ketidak adilan dalam pembagian uang layanan jasa tersebut. Jika
kesenjangan terus berlanjut maka karyawan akan merasa tidak nyaman dengan rekan lainnya dan
saling merendahkan sehingga perasaan iri bergejolak dan nantinya akan berakibat fatal. Selain
itu nantinya ketidak adilan dalam hal uang ini mengakibatkan karyawan mengundurkan diri
karena pekerjaannya yang disebabkan oleh lingkungan di tempat kerja yang tidak mendukung.
Berdasarkan teori Herzberg, bahwa seseorang akan termotivasi (motivator factors) jika
pekerjaan itu sendiri dapat menyenangkan pekerja dan jika pekerja mendapat pengakuan dari
pekerjaannya. Bagaimana mereka mendapat pengakuan jika saja mereka tidak diberikan
kebebasan dalam hal mengetahui transparansi keuangan instansi dan hal-hal yang mereka
seharusnya ketahui. Jika seseorang tersebut tidak merasa termotivasi dalam pekerjaannya
bagaimana ia bisa mengaktualisasikan dirinya dengan kreativitas terhadap kemampuan yang
dimilikinya. Mereka tentu akan ragu-ragu mengeksplorasi dirinya jika lingkungan ia bekerja
tidak mengutamakan perkembangan dari para karyawannya (perawat).

Rendahnya motivasi para perawat di rumah sakit menandakan ketidakpuasan dari mereka
akan system yang ada di rumah sakit. Sesuai dengan factor yang mempengaruhi kepuasan kerja
diantaranya kondisi kerja, dimana lingkungan tempat kerja di rumah sakit sudah tidak nyaman
lagi karena banyak dari kebutuhan para pekerja tidak terpenuhi. Kedua yaitu peraturan, peraturan
di rumah tidaklah jelas atau ngambang dilihat dari transparansi instansinya sehingga perawat
merasa tidak puas dan tidak termotivasi lagi akibat tidak adanya aturan baku mengenai system
penggajian dan lainnya. Ketiga yaitu kompensasi, para perawat tidak mendapatkan kompensasi
yang seimbang karena direktur rumah sakit tidak memiliki dasar dalam membedakan jumlah
pembayaran kompensasi bagi para karyawannya.

Setelah menimbang apa saja yang menyebabkan mogok kerja bagi masing-masing
perawat. Maka kita juga perlu memperhatikan dampak dari mogoknya perawat di rumah sakit.
Terlebih dahulu kita harus mengetahui apa saja hak dan kewajiban dari seorang perawat. Adapun
hak dan kewajiban perawat yang sesuai dengan kasus adalah :
HAK
1. Diperlakukan adil dan jujur oleh rumah sakit maupun klien/pasien dan atau keluarganya.
2. Diikutsertakan dalam penyusunan/penetapan kebijakan pelayanan kesehatan di rumah
sakit.

KEWAJIBAN
1. Perawat wajib menghormati hak-hak pasien

Hak dari perawat sudah dijelaskan sebelumnya bahwa harus adanya keadilan di rumah
sakit dari direktur kepada perawat. Rumah sakit akan transparan apabila melibatkan
perawat dalam menyusun/menetapkan kebijakan mengenai pelayanan masyarakat
sehingga tidak ada kesalahpahaman dari pekerja.

Pada kasus mogoknya perawat, telah keluar dari kaedah seorang perawat yaitu memiliki
kewajiban menghormati hak-hak pasien. Seperti pasien yang ingin mengurus urusan
administrasinya. Jadi, mogok yang dilakukan para perawat ini sudah tidak lagi sesuai
dengan ketetapan yang telah ada. Alangkah baiknya jika mogoknya para perawat tidak
berimbas pada pasien sehingga disini pasien juga menjadi korban. Sedangkan yang
berkasus hanya direktur beserta jajarannya dengan perawat. Berhubung banyaknya
perawat yang ada di rumah sakit dan perawat sebagai pelayan masyarakat harus
mengemban amanah sebaik-baiknya.