Anda di halaman 1dari 31

Dialog Sessi III

Ahmad Muhsin Kamaludiningrat:


Bagaimana menyikapi budaya dalam kaitannya dengan
syariah Islam, surat al-Maidah ayat 48 menegaskan bahwa Allah
menurunkan kitab suci al-Qur'an untuk mendukung, membenarkan
kitab yang lalu, tetapi Allah juga mengingatkan kepada Nabi
Muhammad untuk tidak mengikuti keinginan mereka untuk
menyimpang dari kebenaran al-Qur'an. Dan dalam ayat itu juga
Allah menjelaskan bahwa masing-masing umat ini diberikan syir'ah
w a minhaj. Syir'ah adalah jalan menuju kebenaran dan minhaj
adalah metode untuk melaksanakan jalan itu atau untuk mencapai
tujuan itu. Di sini juga ditegaskan kalau Allah dapat saja menjadikan
umat manusia itu satu, namun Dia tidak menghendaki demikian
dengan tujuan untuk menguji pelaksanaan minhaj dan syir'ah
masing-masing umat itu. Oleh karena itu, Allah menggarisbawahi
pentingnya fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan.
Dengan demikian, Islam merespon keragaman dengan sangat baik
dan mengakomodasi perbedaan jalan dan cara meraih tujuan hidup.
Sessi ini akan didahului oleh prasaran dari Fathurahman Djamil dan
Samsu Rizal Panggabean (keduanya menyampaikan makalah).

lsmail Thaib:
Islam itu mula-mula datang dalam keadaan asing, kemudian
jadi biasa dan tidak asing lagi. Namun pada akhimya Islam akan
menjadi asing keinbali. Kapan Islam menjadi asing lagi belum
diketahui, hanya Nabi pernah katakan, "alangkah baiknya orang-
orang yang asing itu tadi". Istilah asing sekarang ini mungkin
wujudnya adalah fundamentalisme dan semacamnya. Mereka
memperbaiki apa yang dirusak oleh manusia atas nama dinamisme.
Menurut saya, syariat Islam itu tidak dinamis, statis. Misalnya, shalat
itu tidak dinamis, karenanya syariat tidak berkembang, apa adanya
kita laksanakan sampai kiamat. Tapi memang ada tempat-tempat
bisa dipanggang dinamis, yakni bidang-bidang muamalah. Akan
tetapi moral bukan termasuk wilayah dinamis, ia absolut dan tidak
berubah. Orang jujur kapanpun itu bagus, memang ada waktu
tertentu yang dibenarkan oleh agama untuk berbohong, misalnya
waktu berperang. Jika kita memahami syariah itu dinamis, nanti
berubah semua syariah. Ada yang namanya ta'abud, itu tidak
berobah. Ada ibadah khas dan 'am itu, dimana dalam ibadah 'am
hanya diatur prinsip-prinsipnya saja.
Dalarn persoalan agama, ad-din itu satu adanya. Sejak Nabi
Nuh sampai Nabi Musa tidak pernah berubah, itu yang diwasiatkan
betul kepada Nabi Muhammad, mungkin kaifiyahnya yang berubah-
ubah, tapi syariahnya tidak tetap. Misalnya, kurban pada masa Nabi
Ibrahim dengan roti, namun oleh beliau diganti karnbing, sekarang
kita mengikuti contoh itu. Apa yang dilakukan Umar bin Khattab
sebenarnya tidak mengubah apapun, tapi dengan mempertimbang-
kan situasi budaya ia melakukan perubahan dalam penerapan
syariah, tatbiqunnas. Ketika Umar tidak memberi zakat kepada orang
muallaf, itu bukan mengubah nash tapi konteksnya, karena pada
waktu itu orang muallaf tidak ada lagi, yang muallaf tidak ada lagi
sifat muallafnya. Demikian juga dalam hal ghanimah.
Syariah memang normatif tapi juga memiliki etik, sebagaimana
hukum memiliki moral. Ayat-ayat hukum memang sedikit, karena
ia menyangkut soal-soal yang ta'abudi, sod-sod pokok yang dirinci
oleh al-Qur'an. Tidak semua ayat hukum ada sabab nuzulnya. Kalau
kita cenderung pada pikiran Ibnu Taimiyah, maka sabab nuzul itu
hanya sekedar untuk memahami ayat kalau diperlukan, kalau tidak
perlu maka kita kembali pada teks. Memang betul jalan pikiran al-
ibrah bi 'umumil lafdhi dan itu lebih singkat jalannya itu, walaupun
memang ini persoalan besar. Firman qul ya ayyuhal kafirun, menurut
kaidah ini kafirun tidak semata orang-orang kafir yang hidup pada
masa Nabi, seperti Abu Lahab, Abu Jahal, dan sebagainya, namun
juga termasuk semua orang kafir hingga sekarang.
Apakah at-ta'addud fil 'ibadah dibolehkan? Keberagaman
dalam ibadah boleh tidak? Muhammadiyah sudah memiliki kaidah
at-tanawwu' fil 'ibadah, asal punya argumentasi tidak hanya asal-
asalan.

Abdurrahim:
Saya menilai uraian Fathurrahman Djamil terlalu menukik
kepada syariahnya sehingga permasalahan bagaimana Islam itu
menghadapi multikulturalisme kurang disentuh. Oleh sebab itu,
sebaiknya kita jadikan Islam itu sebagai satu prinsip, keseluruhan-
nya dijadikan pedoman dalam hidup bermasyarakat. Multikultural
itu memang ada dalam masyarakat, dan melekat di dalamnya.
Menurut Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah disebutkan bahwa
manusia itu menurut tabiatnya, menurut kodratnya memang sudah
madani, budayawan, termasuk orang Islam itu madani. Fungsi
wahyu adalah kontrol atas fenomena yang terjadi dalam masyarakat.
Kalau dilihat dari segi tekstual rasa-rasanya sulit untuk menemukan,
tetapi kalau kita menggunakan pendekatan kontekstual atau
falsafah, sejarah, dan fenomenologi, kita akan temukan kontrol itu.
Islam pada waktu datang, kehidupan manusia berprinsip pada adat
istiadat, adat yang dijadikan ukuran. Jadi dikatakan umpamanya
dalam al-Qur'an: "mengapa anak laki-laki itu kamu sandarkan
kepada Tuhan sedangkan anak-anak perempuan tidak, itu karena
kamu senang kepada anak laki-laki".Adat istiadat saat itu membuat
orang malu punya anak perempuan, tidak keluar beberapa hari.
Punya anak perempuan itu hanya bikin masalah. Islam memberikan
suatu pedoman bahwa adat semacam itu tidak benar. Salah hanya
mengikuti apa yang sudah tejadi pada nenek moyang. What was
good enough for my father was good enough for me, apa yang
ditinggalkan oleh nenek moyang sudah cukup untuk kami. Seperti
juga dialami oleh Muhammadiyah ketika menghadapi masyarakat
pada waktu berdiri. Karena itu ungkapan di atas diganti dengan
"what was good enough for my father was not good enough for
me." Jadi, meskipun sekarang ada multikulturalisme dan sebagai-
nya, jangan hanya diambil polos-polos, kita kasih bungkus, kita isi,
kita suntik kalau perlu supaya dinamis dan dapat dipakai bersama-
sama dengan masyarakat.
Kedua, dalam masyarakat yang terus berkembang yang tidak
baik hams diganti, yang baik diteruskan sehingga terjadilah apa
DIALOG
SESSI Ill

yang diqaulkan para ulama al-muhafadlah ala al-qadim al-shalih


wal akhdz bi al-jadid al-ashlah, prinsip mengubah apa yang tidak
baik, dan mengambil yang terbaik. Misalnya, usturah atau cerita
dari mulut ke mulut, legenda, kadang-kadang mengalpakan
manusia. Di dalam al-Qur'an disebutkan tilka asatirul awwalin, yang
disebut dengan asatirul awwalin adalah bahwa pada saat itu yang
dijadikan dasar oleh orang Arab adalah keyakinan bahwa Tuhan
itu mempunyai istri dan anak-anak perempuan, lalu Tuhan kawin
dengan Malaikat dan mempunyai anak-anak yang disebut Latta,
Uzza, dan Manat. "Apakah kamu tidak melihat Latta, Uzza, dan
Manat sebagai simbol-simbol Tuhan". Nah, ini kan budaya. Inilah
yang dimusyrikan oleh Islam. Segala sesuatu yang bersifat syirik
meskipun itu sudah turun temurun di masyarakat dan sudah menjadi
sesuatu yang merasuk dalam pikiran perlu dihindarkan. Sebagai
gantinya al-Qur'an menyuruh kita memperhatikan ayat-ayat
kauniyah, w a qul undzuru m a d z a fis sama'i w a m a fil ardl. Coba
lihat bintang-bintang di malam hari, berapa galon minyak dibutuh-
kan untuk mengganti bintang-bintang dalam satu malam saja. Itu
merupakan satu ayat bagi kamu kalau kamu mau berpikir. Jadi untuk
mendapatkan kebenaran kita perlu mengadakan penelitian-peneliti-
an di mana saja. Untuk menemukan prinsip-prinsip kehidupan
dalam pluralitas, pengalaman periode Mekkah dapat dijadikan
landasan untuk menyusun prinsip-prinsip hidup bersama, prinsip-
prinsip untuk mengendalikan pluralisme dalam budaya. Dalam
periode Madinah pun dapat dijumpai peristiwa-peristiwa yang bisa
diambil hikmahnya tentang masalah ini, seperti fa 'fu anhum w a
sawirhum fil amri: prinsip "pengampunan" dan musyawarah. Maka,
orang berijtihad itu tidak boleh dihukum fa ashaba falahu ajrani fa
akhtha'a falahu ajrun wahid. Nah, inilah prinsip demokrasi yang
hams menjadi dasar kehidupan bermasyarakat.
Allah memberitahukan bahwa manusia itu sudah diberi
hidayah, atau empat potensi yang dapat dikembangkan untuk meng-
hadapi multikulturalisme. Pertama, hidayah fitriyah yang diberikan
secara umum kepada manusia, seperti bayi lapar menangis, air susu
ibu dihisap. Manusia kalau menggunakan ini dapat menyelamatkan
komunitasnya di tengah-tengah kehidupan komunitas yang lain.
Kedua, hidayah hissiyah, visible guidance dalam bahasa Inggrisnya.
Disini manusia diberi kemampuan untuk mengamati apa yang di
luar dengan panca indera. Ketiga, intellectual guidance, hidayah
aqliyah. Semua yang dilihat oleh mata itu dinilai oleh akal. Orang
mencelupkan batang kayu ke air kelihatannya bengkok, menurut
akal itu pembiasan. Jadi, kalau kita melihat sesuatu jangan percaya
dulu, perlu dipikir dulu. Terakhir adalah hidayah diniyah, yaitu
kemampuan seseorang untuk menganalisis firman-firman Allah. Lha
ini penunggu gawangnya.

Maryadi:
Fathurrahman Djamil di muka menyebutkan bahwa agama itu
hakekatnya satu, yang berbeda adalah syariahnya. Kemudian
disebutkan juga bahwa syariah itu dipengaruhi oleh kondisi objektif
budaya. Katakanlah, syariahnya Rasulullah berada dalam konteks
budaya Arab, apakah itu berarti syariah Islam dipenuhi oleh budaya-
budaya Arab, atau dibalik budaya-budaya Arab itu sudah diislam-
kan. Akhirnya ada orang-orang diantara kita yang Islam belum tahu
pasti sebetulnya yang disebut Islam itu seperti apa. Misalnya,
apakah yang dimaksudkan pakaian islam itu adalah jubah yang
dikenakan oleh orang-orang Arab yang beriman dan juga kafir
seperti Abu Jahal, Abu Lahab? Oleh orang Islam jubah digunakan
sebagai simbol keislamannya, ketika shalat hams pakai jubah, apa
itu juga Islam? Apa bukan Arab? Contoh lain, berbuka dengan
kurma, apa semacam itu Islam atau budaya? Makan dengan tiga
jari, tidak pakai sendok, apakah itu budaya atau Islam? Nah, ha1
semacam mi terjadi di lingkungan Solo. Ada kelompok-kelompok,
kalau makan harus pakai tangan saja tidak pakai sendok. W u k a h
kita pernilahan apa yang normatif, yang agama, yang syariah, dari
yang budaya? Apakah kita bisa bicara demikian, karena ada yang
mengatakan begini bahwa sebetulnya semua perilaku nabi dan apa
saja yang dikatakan adalah wahyu. Sementara, sebagian orang
membatasi bahwa nabi benar dalam semua masalah keagamaan,
tapi kalau sudah bicara masalah keduniaan dia tidak maksum
sehingga nabi bisa salah menasehati orang menanam kurma.
Akhirnya nabi mengatakan antum ailamu bi umur dunyakum.
Pertanyaan kedua, apakah budaya Islam semasa nabi itu juga
sudah diislamkan semua, termasuk budaya arab yang sekarang ini?
Apakah kita disarankan untuk memproses budaya lokal ditempat
kita hidup ini dengan syariah, pokoknya yang bukan model Islam
ditolak, atau kita biarkan saja? Ini terkait dengan kasus yang
disampaikan oleh Samsu Rizal Panggabean di muka bahwa pada
hakekatnya kita melihat budaya itu memang plural baik internal
maupun ekstemal. Apakah dengan adanya budaya yang multi itu
sekedar kita ketahui secara kognitif, atau harus ada usaha-usaha
untuk mengelola budaya itu?

Mujiono Abdillah:
Saya sependapat dengan Samsu Rizal Panggabean, bahwa
multikultural itu adalah objective reality Pada saat yang sama saya
merasa senang d a n bahagia ketika Abdurrahim s u d a h mulai
menampakkan wawasan multikulturalnya, secara kognitif beliau tadi
sangat enjoy ketika menjelaskan bahwa multikultural merupakan
suatu keniscayaan termasuk internal Islam. Persoalannya adalah
bagaimana wawasan multikultural individu dapat dibahasakan
secara institusional. Ini tentu saja memerlukan perangkat yang bisa
menampung multikulturalisme dalam kehidupan imperium ke-
muhammadiyahan. Nah, yang saya maksud adalah kita perlu pe-
rangkat lunak berupa manhaj berbasis multikultural. Langkah
strategis baik secara konseptual maupun praktis dibutuhkan secara
bersama-sama agar Muhammadiyah tidak gamang. Kenyataan
lapangan memang masih muncul konspirasi-konspirasi untuk
menentang atau menghalangi kalau ada perbedaan.
Saya berpendapat bahwa ketika kita menangkap Islam, baik
itu hukum ataupun ajaran, ada yang menggunakan pendekatan
yuris-legis dan ada yang menganut pendekatan yuris-empiris.
Selama ini yang berkembang dan populer itu adalah pendekatan
pertama, yang selalu berpikiran nomatif, konseptual ideal tetapi
mengesampingkan kenyataan empirisnya di lapangan. Sekarang
memang ada trend baru, yaitu pendekatan yuris-empiris. Ketika kita
hendak menggagas syariah multikultural, metodologi apa yang
digunakan? Usul saya adalah bahwa perangkat metodologisnya
adalah menggunakan usul fikih modem bahwa "perubahan sosial
menuntut hukum Islam wajib berubah". Misalnya, undang-undang
nomor 1 tahun 1974 tentang hukum perkawinan, menurut saya
belum multikultural, karena di Indonesia hidup juga paham-paham
RElNVENSl
S
I LAMMUCIKUC[UML

semacam Syiah yang belum diwadahi sehingga kawin kontrak


menjadi satu hal yang tabu. Apakah mungkin kita merevisi undang-
undang nomor 1 tahun 1974 bahwa ragam perkawinan mencakup
rumah tangga yang abadi dan rumah tangga relatif. Ini contoh
syariah berbasis multikultural.

Wawan:
Menurut Sarnsu Rizal Panggabean, termasuk dalam semangat
multikulturalisme apabila kita mempunyai satu sikap eksklusif
terhadap keberagamaan kita. Saya sangat setuju dengan pemyataan
itu. Sesungguhnya Rasulullah Muhammad Saw adalah model
manusia multlkulturalis. Kita bisa melihat ketika beliau diberi label
sebagai huluqun 'adzim, bagaimana kita memilah nabi sebagai se-
orang manusia Arab dan nabi sebagai seorang manusia yang mere-
presentasikan rahmatan lil alamin. Saya ingin menyampaikan ha1
ini karena ada kesulitan yang bisa jadi genting di lingkungan
Muhammadiyah sendiri. Misalnya, dalam pengajian ranting
Muhammadiyah di Kalasan, saya melihat orang Muhammadiyah
menganggap bahwa mandi Jumat itu wajib berdasarkan Himpunan
Putusan Tarjih. Yang ingin saya katakan, kalau kita membaca hadis
nabi berdasarkan pembacaan literal memang benar, cuma kita kan
bisa membaca lebih dalam. Dengan pembacaan lain, mandi Jumat
adalah wajib dalam konteks kultur Arab karena saat itu memang
orang Arab jarang mandi. Rasulullah seolah ingin mengatakan
kepada masyarakat Arab jahiliyah yang transisi ke Islam, "anda
sekali seminggu mandilah". Dan mandinya dilakukan pada waktu
tertentu, yaitu sayyidul ayyam, pada hari jumat. Man arada
ahadukum an ya'tiyal jum'ata falyaghsil, dengan merujuk pada
paham dzahiriyah, lam amar cendemng wajib, padahal sesungguh-
nya pendapat jumhur tidak dernikian. Nah, kalau kita baca secara
multikultural, dengan semangat usul fikih multikultural, maka akan
muncul satu pemaharnan bisa jadi mandi Jumat itu tidak sunnah,
karena kita orang Indonesia sudah terbiasa mandi sehari 2 kali.
Ketika orang Arab tahu bahwa kita mandi sehari 2 kali bahkan 3
kali, mereka terkejut seraya bilang, "al-indonesiunkassamak", orang
Indonesia itu ikan, pulang pergi ke air. Ketika air sekarang sudah
ada pun orang Arab tetap mandi satu kali. Maka jangan heran kalau
di sana minyak wangi sangat laku. Jadi, pakai minyak wangi pun
perlu dibaca dalam konteks semacam itu. &ta menganggap pakai
minyak wangi itu sunnah, karena nabi mengatakannya, padahal
minyak wangi itu kamuflase karena jarang mandi. Kita menjumpai
ha1 seperti itu dalam teks-teks keagamaan dan perlu kita pilah. Maka
saya sepakat dengan Samsu Rizal, kita memang perlu membaca
HPT tapi dalam implementasi ke bawah harus disadari banyak orang
Muhammadiyah yang bacaannya juga beragam, luas, di sinilah
muncul keragaman ber-Muhammadiyah.
Isteri saya semula berpaham keagamaan Persatuan Islam
(PERSIS). Sampai sekarang jika tasyahud dalam shalat digerakkan
telunjuknya. Namun ia berorganisasi Aisyiyah, politiknya PKS,
ibadahnya PERSIS. Saya tidak bisa menentang karena dia punya
pendapat itu. Kami lebaran 2 kali. Bagi kebanyakan orang itu aneh
termasuk mertua saya sendiri. Untuk mempraktekkan ha1 seperti
itu dibutuhkan semangat multikultural dalam diri kita. Hanya yang
saya ingin sampaikan adalah ketika masalah ini dibaca oleh kaum
awam, termasuk dalam Muhammadiyah, memang tidak mudah.
Saya melihat ada proses penyadaran yang tidak mudah terhadap
mereka.
Tadi secara berulang-ulang dikutip dari pendapat asy-Syatibi,
s a y a ingin menyampaikan b a h w a kalau tidak salah pernah
mengatakan bahwa syariah yang muncul di Mekkah itu adalah syari-
ah yang universal, bahasa yang digunakannya adalah ushuliyah,
as-suwar wa ayyatul Makkiyah ushuliyah, wa qath'iyah. Sementara
hukum atau syariah yang muncul di Madinah adalah partikular,
juz'iyah. Nah, kalau kita berangkat dari semangat itu, saya kira kita
akan bisa menempatkannya dalam kontek kekinian di Indonesia,
bahwa memang dari awal praktek-praktek hukum yang di Madinah
itu adalah sebagai praktek hukum yang bisa dan sangat mungkin
kontekstual, apalagi kalau dibawa dalam konteks keindonesian.
Persoalannya adalah ketika itu dibawa dalam konteks keindonesiaan
dan saya berangkat dari semangat bahwa kita harus eksklusif dalam
beberapa ha1 sebagai bagian dari multikulturalisme, berarti kita juga
boleh menawarkan satu semangat Islam yang kontekstual di dalam
bahasa hukum nasional. Dengan demikian, kita sudah memasuki
wilayah politik hukum sehingga ada warna Islam di dalam hukum
positif kita. Kuntowijoyo pernah menawarkan strategi objektivikasi.
RElNVENSl
ISLAM MULTIKULTURAL

Dahwan:
Pertama kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-
tingginya kepada pemrasaran berdua atas makalah yang ditulis
secara baik sehingga saya mengatakan enak dan perlu dibaca.
Demikian pula penyampaiannya perlu dan enak untuk disimak. Dalam
rangka mencari format syariah multikultural, sesungguhnya yang
diupayakan itu "mencari format" ataukah "memformat kembali"?
Menurut saya, karena ada perubahan-perubahan sosial, perubahan-
perubahan kultur, ini mengharuskan kita sekarang untuk mernformat
kembali. Namun dalam konteks ini pula saya agak gelisah dengan
sebuah adagium yang mengatakan bahwa al-hukmu taghayyur bi
at-taghayyur al-azminah wal amkinah wal a w a ' i d (hukum itu
berubah seiring berubahnya zaman dan tempat), karena ia seolah-
olah akan memposisikan syariah hanya sebagai dependent variable.
Dan budayalah yang punya pengaruh dominan dalam penetapan-
penetapan hukum syariah. Namun setelah diuraikan secara lisan
oleh Fathurrahman Djamil, bahwa ada juga posisi syariah itu sebagai
independent variable, maka kegelisahan ini menjadi semakin hilang.
Karena memang, kalau kita baca dalam kitab Asais Tarikh Fiqh al-
Islami a t a u d a l a m kitab lain N a s h ' a t al-Fiqh al-Ijtihadi w a
Tathawwuruhu, salah satu penetapan hukum Islam itu adalah untuk
mengubah perilaku sosial. Jadi, saya sepakat dengan dua macam
variable di atas. Cuma persoalan yang akan muncul adalah dimana-
kah letak batas dua variabel ini? Menurut saya, ada persamaan
antara keduanya, yakni bemuatan dan mewujudkan kemaslahatan.
Namun ketika kita akan mencoba menginterpretasikan kemaslaha-
tan yang cocok bagi masing-masing tampaknya di sinilah kita perlu
untuk berdiskusi lebih cermat sehingga jelas ciri-ciri maslahah yang
hams menjadikan syariah sebagai independent variable dan ciri-
ciri maslahah yang menjadikan syariah itu sebagai dependent
variable. Apakah seperti yang dikatakan oleh asy-Syatibi dengan
membedakan antara al-'ibadah w a al- 'adah, atau mungkin mem-
bedakan antara ta 'abbudi w a ta 'aqquli, atau membedakan antara
qath'i dan zhanny. Misalnya, shalat dikatakan sebagai ta 'abbudi,
namun tidak berarti tidak ada unsur-unsur yang masuk wilayah
ta 'aqquli di dalam shalat. Ketika orang menutup aurat dalarn shalat,
tentu kita akan bisa menerima orang Solo menggunakan beskap,
orang Jogja menggunakan surjan, orang Melayu menggunakan
kerudung dan sejenisnya. Sehingga dalam masalah t a ' a b b u d i
sekalipun ada unsur-unsur yang memungkinkan bercampur kuat
dengan unsur-unsur budaya.
Sebagian besar negeri-negeri Muslim sekarang ini telah
menjadi negara bangsa. Yang ingin kami tanyakan adalah apakah
dasar dari kebangsaan ini, apakah kesukuan, ras, atau kekauman
atau yang sejenis dengan ini, ataukah keagamaan seperti Islam
misalnya. Namun saya percaya bahwa apapun dasar kebangsaan,
pada tahap implikasinya tetap akan majemuk dan bervariasi.
Demikian pula Islam, Islam itu majemuk, ada Sunni dan Syi'i, dan
seterusnya.

M. Jandra:
Dalam rangka menemukan syariah untuk masyarakat
multikultural, perlu ditegaskan fungsi pokok dari syariah, dimana
letaknya al-Our'an sebagai h u d a n atau petunjuk dan pedoman.
Karena di dalam masalah ini kita tidak hanya bicara apa yang
senyatanya tapi juga berbicara tentang apa yang semestinya yang
dapat memberikan tuntunan kepada masyarakat awam terutama.
Keanekaragaman p a s t i membawa kepada perbedaan, d a n
perbedaan dapat membawa konflik, dan konflik bisa membawa
kepada kekerasan. Tetapi perlu dicatat bahwa tidak semua konflik
adalah kekerasan, karena perbedaan biasa saja merupakan konflik
juga. Posisi syariah perlu dijelaskan di sini agar tidak seperti gerbong
yang bisa ditarik-tarik oleh zaman dan budaya. Syariah harus
menyesuaikan dengan budaya baik dengan pendekatan antro-
pologis maupun sosiologis. Syariah seyogyanya memberikan
tuntunan atau menjadi lokomotif bagi perubahan masyarakat dari
yang biadab kepada yang beradab atau adat istiadat lama diganti
dengan adat istiadat yang baik. Syariah perlu dipilah antara syariah
yang tetap dan syariah yang berubah, ta'aqquli dan ta'abbudi. Jadi
dalam hal ini, saya ingin mengetahui dari pengertian syariah yang
lebih tegas agar dapat menyikapi kehidupan multikultural tanpa
hams t ejebak pada sikap toleran terhadap percampuran ritual, adat
dan perayaan agama. Karena dalam al-Qur'an ada ayat-ayat yang
mengatakan kita tidak boleh mengikuti adat istiadat orang-orang
terdahulu
RElNVENSl
ISLAM MLILTIKULTUML

kehidupan multikultural bisa membawa konflik. Bagaimana


solusi untuk mengelola ketegangan. Tadi disebut-sebut sistem millet,
sebagai rejim multikultural untuk suatu negara kesatuan. Dengan
multikulturalisme internal atau eksternal kita tetap berbeda tetapi
dengan satu sistem tertentu kita bisa bersatu. Mungkin kita bisa
arnbil contoh Pancasila. Pancasila adalah alat pemersatu bagi orang
yang berbeda agama, suku dan paham. Walaupun dengan sistem
itu ada satu pemaksaan untuk orang bersatu, seperti indoktrinasi
P4 selama Orde Baru, sekarang Pancasila masih tetap menjadi dasar
negara. Terhadap praktek-praktek di kalangan internal kita sendiri,
perlu penafsiran-penafsiran dalam berpakaian, dalam makan dan
segala macam. Nah, di sinilah kita perlu dialog untuk menemukan
titik temu.

Yunahar Ilyas:
Seperti telah dijelaskan di muka bahwa syariah itu ada yang
universal, substantif dan kultural, lokal, dan regional. Kalau di dalam
kitab-kitab fikih klasik kita tentu saja tidak bisa menemukan
pemilahan-pemilahan itu, padahal sekarang yang jadi pegangan
masyarakat adalah kitab-kitab fikih itu. Oleh karena itu, mungkin
kerja ke depan tidak hanya pada dataran yang paradigmatis tapi
harus ada contoh. Kita mulai dari kitab fikih - tentang berbagai
persoalan dari thaharoh, shalat, zakat, puasa, haji, perkawinan,
warisan, harta benda, pidana, kenegaraan, dan lain-lain - manakah
yang dapat dikatakan universal substantif dan mana yang di-
pengaruhi oleh kultur lokal, regional, mana yang tetap dan mana
yang berubah. Sebab dari makalah-makalah yang disampaikan
umumnya miskin dengan contoh-contoh padahal kita perlu
menerapkan teori itu dalam contoh. Misalnya, Paramadina sudah
membuat fik~hlintas agama terlepas dari setuju atau tidak setuju.
Nah, mungkin bisa juga dibuat contoh oleh Majelis Tarjih ini
semacam fikih multikultural. Mulai dari shalat misalnya. Perlu
dijelaskan di sana mana unsur shalat yang universal dan mana yang
kultural. Waktu shalat 5 kali sehari semalam adalah universal,
kaifiyahnya anggaplah bagian dari yang tetap, tapi pakaian dalam
sholat, bangunan masjid, pengeras suara, bentuk mirnbar, sajadah
itu adalah kultural, lokal dan regional. Mungkin bagi bapak-bapak
yang mendalami fikih sangat mudah untuk membedakannya, tapi
di lapangan terjadi problem demikian. Ada sebagian kelompok
masyarakat menganggap jubah itu universal substantif, jadi kalau
tidak pakai jubah berarti sudah melanggar. Jadi jubah tidak diakui
sebagai bagian dari kultur orang Arab. Bahkan di Amerika sendiri
orang-orang Arab di suatu negara bagian Dallas, bertengkar
masalah karpet yang diberi garis untuk meluruskan shaf. Pada
zaman nabi tidak ada garis-garis seperti itu. Nah akhirnya yang
menang adalah yang tidak membolehkan pakai garis, lalu mereka
yang bemazhab pakai garis keluar dari masjid itu dan membangun
masjid baru yang memakai garis. Nah, perbedaan ini telah
memperbanyak jumlah mesjid, jadi ada juga sisi positifnya, semakin
berbeda semakin banyak masjid di Amerika.
Pakaian misalnya, mana yang substantif dan mana yang
kultural. Kalau bagi Fazlur Rahman yang substantif dari pakaian
wanita adalah menjaga kehormatan seorang perempuan. Terserah
menurut kultur masing-masing mendefisinikan m a n a yang
terhormat, kalau suatu masyarakat memandang rok mini yang
terhormat, maka rok mini itu islami; kalau pakai cadar dianggap
yang terhormat maka cadar itulah pakaian yang islami. Tapi
pendapat yang lain mengatakan tidak demikian. Istilah "menjaga
kehormatan" itu sangat relatif, tetapi menutup aurat itu konkret.
Jadi, yang universal adalah menutup aurat, sedangkan model dan
bahan bagian dari kultur. Dalam menyusun fikih multikultural itu
seperti yang disampaikan oleh beberapa orang tadi, membutuhkan
acuan. Tentu saja al-Qur'an dan sunnah, melalui penafsiran yang
dianut. Perlu juga dijelaskan metode dalam merumuskannya,
memilah-milah mana yang universal dan mana yang kultural. Kalau
pertanyaannya sekedar makan dengan tiga jari itu terlalu mudah
untuk dijawab, a d a masalah-masalah yang lebih rumit lagi
menyangkut harta benda, kenegaraan, bunga dan sebagainya.
Apakah larangan bunga yang paling substantif itu adalah la
tazhlimun wala tuzhlamun atau ziadahnya. Kalau ziadah 1%pun
haram, tapi kalau la tazhlimun wala tuzhlamun itu relatif. Jadi
tantangan adalah uji coba membuat eksperimen satu bab saja,
tentang fikih yang multikultural.
Samsu Rizal Panggabean telah mengungkapkan bagaimana
mengelola multikulturalisme internal dan eksternal itu sehingga
RElNVENSl
ISLAM MULTIKULTURAL

tidak menimbulkan konflik. Pertanyaannya adalah siapa berhak yang


mengatur, otoritas itu diberikan kepada siapa? Paris dan Jerman
melarang jilbab, sementara Iran mewajibkan jilbab. Indonesia mem-
persilahkan sesuai pilihan mau jilbab atau tidak. Amerika melarang
memakai jilbab didalam kelas sekolah pemerintah, kalau sekolah
swasta dibolehkan. Dapatkah organisasi sosial seperti Muharnrnad-
iyah atau masyarakat memperoleh mandat untuk mengelola
multikulturalisme? Saya yakin kalau otoritas ini diserahkan kepada
organisasi sosial, tentu hanya efektif untuk anggota organisasi itu
semata.

Fathurrahman Djamil:
Ada banyak ha1 yang memungkinkan berbeda diantara kita
dalam memahami satu masalah dengan pendekatan yang berbeda
bahkan juga analisis dan spesifikasi metodologi yang mungkin
berbeda pula. Berkaitan dengan klasifikasi tentang ibadah dengan
muamalah, atau ibadah mahdlah dengan ghairu mahdlah, saya
melihat bahwa didalam aspek ibadah mahdlah pun ada aspek-aspek
yang memerlukan perhatian khusus dalam kaitan dengan multi-
kulturalisme ini. Sebagai contoh, tentang u s w a h kepada rasul.
Bagaimana cara membedakan rasul dalam kapasitas sebagai orang
Arab dengan posisinya sebagai rahmatan lil alamin. Saya ingin
membuat ilustrasi. Saya pernah membaca buku usul fikih ditulis
oleh seorang Mu'tazilah Abu Husein al-Basri al-Mu'tazili. Dia mem-
beri contoh ketika membahas at-ta'asi, cara-cara beruswah kepada
rasul. Ilustrasinya begini: sahabat pernah shalat bersama nabi di
suatu tempat yang tidak memakai atap, tentu di situ ada pasir begitu
cukup panas, maka mereka biasa menggunakan sendal atau sepatu
atau terompah, walaupun menurut sebagian yang lain katanya tidak
boleh pakai sepatu. Ketika nabi di pertengahan shalat, diceritakan
bahwa beliau mencopot sandalnya, sahabat di belakang otomatis
ikut mencopot sandalnya, karena ada dalil idza raka'a farka'u (jika
rukuk maka rukuklah mereka) demikian seterusnya semua harus
mengikuti nabi. Ketika rasul mencopot sandal maka jamaah di
belakang juga mencopot sandal. Kemudian nabi merasa kok sahabat
saya ikut-ikutan. Selesai shalat langsung nabi menghadap kepada
sahabat, "Kalian ngerjain apa tadi?". Kata sahabat, "Kami mengikuti
engkau karena engkau mencopot sandal maka karnipun mencopot
sandal". Apa kata rasul, "Saya dibisiki Malaikat Jibril, "dalam sandal
saya ada kotoran". Nabi berkata, "bagaimana dengan sandal kalian,
apa ada kotoran atau tidak?" "Tidak", jawab mereka. "Kalau begitu
jangan h t - h t a n , " kata nabi. Ini sebagai ilustrasi betapa rasional-
nya visi dari teks tadi, dan ingin menggambarkan bahwa tidak semua
yang disarnpaikan oleh nabi, dan dilakukan oleh nabi itu ternyata
harus diikuti.
Abu Hanifah tidak mensyariatkan duduk istirahah ketika
berdiri dari sujud. Tapi Abu Hanifah mengatakan itu tidak masyru',
mengapa? Karena menurut analisis rasional beliau bahwa yang
dimaksud duduk istirahah adalah semata-mata dilakukan nabi ketika
berumur sudah diatas 50-an tahun. Jadi harus ancang-ancang, dari
bawah harus duduk dulu baru berdiri. Dengan analisis semacam
ini sangat mungkin dalam bidang ibadah mahdlahpun banyak hal
yang perlu kita lihat kembali. Dan ini tentu saja berimplikasi pada
masalah bid'ah dan sunnah. Konon kabarnya Muhammadiyah
generasi sekarang sudah tidak terlalu risau dengan bid'ah. Jadi,
kalau memang ini t erjadi, saya kira ini merupakan pekerjaan rumah.
Barangkali perlu ada semacam upaya untuk merumuskan ulang
tentang bagaimana posisi sunnah dan kaitannya dengan aspek-
aspek yang hams ditekuni.
Kedua, ada teori tasharrufaturrasul. Teori ini beranggapan
bahwa apa yang dilakukan oleh Muhammad itu bisa multidimensi,
multifungsi, baik dalam kapasitas sebagai rasul, sebagai manusia
biasa, atau sebagai imam, sebagai kadi dan seterusnya. Saya kira
pertanyaan yang pokok adalah bagairnana cara membedakannya?
Ada teori lanjutannya yang mengatakan bahwa kalau perbuatan
rasul dikukuhkan dengan qaul atau ucapan, itu pasti dalam kapasitas
sebagai rasul, d a n itu harus sami'na wa atha'na, tidak boleh
menyirnpang sedikitpun. Tapi kalau perbuatan beliau tidak dikukuh-
kan dengan pemyataan lisan maka itu dimungkinkan untuk berbeda
dan itu hanya sekedar irsyadat atau petunjuk. Kita ambil contoh
dalam shalat. Dalam sholat memang rasul mengatakan, setelah
melaksanakan shalat beliau mengatakan shallu kama roaitumuni
ushalli. Begitu juga haji, khudz 'anni manasikakum. Tapi berbicara
tentang cara makan dan minurn, berpakaian, alhamdulillah sampai
saat ini saya belum menemukan hadis yang berbunyi kulu kama
akaltu misalnya, makanlah kalian sebagaimana aku makan.
Bersyukurlah karena rasul memiliki visi multikultural, beliau temyata
tidak ikut campus dalam masalah seperti itu. Nah, dalam aspek
moralnya, sebelum makan membaca basmallah saya kira bersifat
universal karena setiap agama apapun menganjurkan demikian. Tapi
yang aneh justru kita jumpai orang Kristen Maluku misalnya,
mungkin lebih sering berdoa sebelum makan daripada umat Islam,
padahal Islam memberikan petunjuk yang jelas tentang masalah
doa dan seterusnya.
Oleh karena itu, menurut saya teori tasharrufaturrasul dengan
segala kelebihan dan kekurangannya mungkin bisa dipertimbang-
kan, baik berkaitan dengan persoalan sekarang, atau mungkin kaitan
dengan syariah di Mekkah dan Madinah.
Benar bahwa asy-Syatibi mengatakan ayat-ayat makkiyah itu
universal, ushuliyah dan kulliyah, sedangkan ayat-ayat Madinah
bersifat juz'iyah. Pendapat ini kemudian diadopsi dan diintrodusir
lagi oleh para pemikir Muslim kontemporer yang mengatakan
bahwa kalau umat Islam berhadapan dengan masyarakat yang
beragam maka barangkali aspek Makkiyah yang hams dimunculkan
ketimbang aspek Madaniyah. Tetapi sekali lagi tidak berarti bahwa
kita tidak punya standar, standar yang saya tawarkan tadi itu
kaitannya dengan al-kulliyatul khams, kemudian bagaimana cita
moral dan cita etik yang ada di dalam al-Qur'an dan sunnah. Hanya
saja kalau ditanya bagaimana metodologi yang perlu dikernbangkan,
saya secara pribadi memandang manhaj tarjih sudah cukup.
Misalnya, bayani yang selama ini dipakai oleh Majelis Tarjih,
sekarang sudah mulai dilengkapi dengan burhani bahkan 'irfani.
Bayangan saya, yang burhani itu adalah analisis seperti sosiologis,
fenomenologis dan seterusnya. Dan karena itu tidak menutup
kemungkinan penyelesaian masalah dengan manhaj tarjih yang ada,
tinggal kita pikirkan implementasinya lebih jauh. Sekali lagi, secara
metodologi saya kira kita sudah punya ushul fikih yang khas,
walaupun mungkin belum begitu sempurna. Pandangan asy- Syatibi
yang saya sebutkan tadi bisa juga dijadikan sebagai salah satu titik
tolak untuk melihat persoalan-persoalannya secara lebih arif, dengan
t e t a p punya konsistensi. Asy-Syatibi betapapun dia terkesan
bermazhab substantif, saya kira ketika beliau menulis al-l'tisham ,
masih mengklasifikasikan bid'ah dan sunnah secara ketat juga. Saya
kira ini menunjukkan bahwa beliau sendiri ingin membedakan
bahwa dalam bidang ibadah mahdlah kita masih bisa jumpai bid'ah,
sementara diluar ibadah mahdlah tidak ada bid'ah karena masuk
katagori maslahah. Namun demikian bagaimana kita bisa menerima
pandangan itu, saya kira kita tidak perlu ragu-ragu meski harus
selektif dalam melihat persoalan ini sehingga kita mempunyai
rumusan yang jelas.
Pada dasarnya fungsi al-Our'an dan sunnah adalah sebagai
hudan dan orientasi rahmatan lil alaminnya akan tetap berlaku.
Karena kalau tidak, a d a semacam guilty feeling di kalangan
masyarakat Muslim seolah-olah ini melanggar syariah normatif,
padahal sangat mungkin banyak nuansa syariah historis dalam
kehidupan beragama. Dulu kita mernbedakan antara fikih dengan
syariah. Tetapi lebih dari itu kalau kita menggunakan pendekatan
asy-Syatibi, syariah itu sendiri bisa dibedakan antara Madaniyah
dan Makkiyah. Darinya kita mulai bisa melihat mana yang universal
dan berlaku umum, dan mana yang regional atau lokal. Pada saat
yang sama masih mungkin kita memberikan spesifikasi masing-
masing sehingga ketika kita beramal dengan mengamalkan syariah
yang normatif, tidak kehilangan identitas atau aspek-aspek yang
sifatnya regional dan lokal.
Mengenai ad-din wahid wa syarai' mukhtalifah, saya kira ini
bukan hadis, tetapi adagium yang pada dasarnya secara umum bisa
diterima. Kita tahu bahwa agama samawi memiliki misi sama, tauhid.
Bahwa masing-masing agama dan masing-masing nabi mempunyai
syariat itu sebuah keniscayaan dan kenyataan. Pada masa nabi
Adam kita tahu tidak ada syariat yang mengharamkan saudara
menikahi atau menikahkan saudaranya yang lain. Tapi syariat nabi
Muhammad dalam surat an-Nisa ayat 23 jelas tindakan itu haram.
Oleh karena itu, menurut hemat saya ini mungkin kita perlu l ~ h a t
lagi apakah, misalnya, sabab nuzul itu menjadi bagian dari proses
pemahaman. Ibnu Taimiyah mengatakan sabab nuzul memang
hanya sekedar membantu. Tapi apa tidak lebih baik bila kita coba
renungkan kembali bahwa sabab nuzul itu juga bisa difungsikan
untuk memahami setting sosial dan historis pada saat itu. Apalagi
kalau pakai metode double movementnya Fazlur Rahman, akan
semakin terlihat relasi antara sabab nuzul dengan kondisi sekarang
sehingga konklusinya menyatakan Islam bisa diaplikasikan
RElNVENSl
ISLAM MULTIKULTURAL

walaupun mungkin berbeda dengan masyarakat yang ada pada


ketika al-Our'an turun. Tapi sekali lagi ini memang perlu ada
kesepakat an-kesepakat an walaupun mungkin akhirnya kita sepakat
untuk tidak sepakat. Jadi, inilah ciri dari Muhammadiyah, kalau
sepakat semua saya kira kurang pas. Oleh karena itu, saya setuju
perlu ada ketegasan tentang masalah syariah yang bagaimana, dan
aplikasinya dan kalau perlu Majelis Tarjih sudah mulai melihat
persoalan ini secara lebih jernih termasuk perkawinan antaragama.
Kalau baca fikih lintas agama, sudah mulai ada gambaran bahwa
perkawinan semacam ini tidak lagi dilarang. Kita jangan apriori dan
perlu mengkaji bagaimana posisinya, apakah larangan itu semata-
mata larangan yang berdasarkan zatnya atau larangan karena
saddudz dzari'ah misalnya. Ini perlu ada pemikiran yang seksama,
termasuk dalam masalah bunga bank. Kalau memakai format yang
saya gambarkan di muka, kecenderungan pelarangan bunga bank
bukan pada ziadahnya tapi zhulmnya. Walaupun mungkin ini juga
bisa diperdebatkan. Dan warga muhammadiyah mungkin juga bisa
berbeda dalam masalah ini, namun demikian sekali lagi kita bisa
mencoba melihat ini sebagai tahap awal untuk merumuskan posisi
Muhammadiyah dalam konteks sekarang ini, termasuk merurnuskan
manhaj yang multikultural.

Samsu Rizal Panggabean:


Menyikapi multikulturalisme internal dan eksternal kita
mungkin perlu kembali kepada dasar-dasar yang sifatnya etis atau
filosofis, dan ini memang pembicaraan yang agak rumit tetapi sangat
jelas implikasi praktisnya. Pada tingkat etis dan filosofis kita masih
harus terus galakkan pembicaraan mengenai bagaimana kita
menyikapi keanekaragaman, apakah dengan pandangan absolutis,
hanya ada satu kebenaran dan kebenaran itu ada di kita. Pandangan
absolutis bisa saja dijumpai di Muhamrnadiyah, seperti kalau ada
yang bertentangan dengan kita, misalnya cara istri kita shalat
berbeda, kita pasti merasa terganggu baik secara sikap maupun
secara emosi. "Oh, saya hams ubah cara istri saya shalat yang tidak
benar, ngapain itu jari kok diputar-putar". Bagi penganut absolutis-
me, hanya a d a satu kebenaran dimana kita lahir, dibesarkan,
disosialisasikan, diajari, Islam misalnya dan lebih spesifik lagi
Muhammadiyah. Itu kebenaran yang akrab dengan kita, cocok, dan
melekat. Sebaliknya, bagi pluralis orang lain juga punya kebenaran,
namun bukan kebenaran milik saya karena saya tidak disosialisasi-
kan di sana. Saya menganggap bahwa mereka absah dan benar,
mereka bisa hidup, berhak hidup d a n berhak menjalankan
kebenarannya. Nah, posisi etis kita berada diantara yang absolutis
dan yang pluralis, yaitu toleran. Jadi sikap toleran seringkali
dianggap sebagai etika antara, antara absolutisme dan pluralisme,
yaitu bahwa sebenamya bagi saya yang benar itu Muhamrnadiyah
atau Islam, namun saya tetap mentolerir Kristen dan NU, membiar-
kan mereka. Mungkin saya bisa berkenalan dengan mereka, bisa
berjualan dengan mereka, bisa membuat perusahaan atau pacaran
atau apa dengan mereka tetapi sebenarnya itu hanya mentolerir
mereka. Nah, kita masih hams perlu membicarakan masalah ini.
Majelis Tarjih masih perlu membicarakan secara serius apakah
secara etis sebenamya sikap kita terhadap perbedaan - absolutis,
pluraliskah atau toleran. Kalau sikap absolutis yang diambil, sejauh
manakah sikap absolut tersebut dapat ditolerir, apakah hanya
menyangkut masalah-masalah ushul, sementara dalam masalah
furu'iyah kita sangat pluralis misalnya. Nah, itu masih harus
dibicarakan dan saya tidak berhak mendiktekan jawaban apa yang
tepat untuk itu. Jadi kemungkinan-kemungkinan tetap ada dan itu
harus dibicarakan. Karena kehidupan nyata sangat mendesak
jawaban konkret. Seperti kasus natalan di Ambon, kalau orang
Kristen merayakan natalan, panitia natalnya adalah orang Muslim.
Mereka ini secara kultural sudah embedded didalam budaya Ambon
termasuk hubungan antar umat beragamanya. Apakah harus
seragam seperti itu? Mungkin untuk konteks komunitas Islam di
Ambon hal seperti di atas mungkin dilakukan, namun tidak mungkin
dilakukan di Jawa. Apa yang pantas di sana namun tidak pantas di
sini. Jadi, seberapa jauh kita dapat memberi keleluasaan kepada
perbedaan dalam praktek kehidupan. Nah, bagi mereka yang
terbiasa natal bersama, mereka tidak merasa bersalah apalagi
menganggap dirinya akan masuk neraka. Bahkan ada inovasi baru
dalam hubungan antarumat beragama di Ambon, ada takbiran
bersama antara Kristen dan Muslim. Jadi, sebenarnya pada tingkat
ini sikap etis yang dikehendaki seperti apa? Saya tidak mau mem-
berikan jawaban karena mungkin jawaban saya tidak relevan, tapi
yang jelas kita hams mernikirkannya untuk mencapai kesepakatan,
RElNVENSl
ISLAM MULTIKULTURAL

setelah itu baru didakwahkan, bagaimana mendakwahkannya


kepada orang awam. Mungkinkah ini masuk kedalam kurikulum
kemuhammadiyahan misalnya, dari TK hingga universitas.
Persoalan kedua adalah bagaimana menyikapi keragaman
pada tingkat sosiologis. Ada beberapa hasil riset yang menarik, salah
satunya mengatakan bahwa pada tingkat sosial bagus sekali kalau
kemajemukan, kelompok-kelompok multikultural dapat dijembatani
oleh berbagai pola interaksi yang formal dan informal. Yang formal
itu berupa assosiasi-assosiasi atau organisasi-organisasi yang
anggotanya berasal dari kalangan multikultural. Sanagat bagu jika
anggota partai, club-club masyarakat di bidang olahraga, di bidang
bisnis, d i bidang kegiatan-kegiatan sosial, bersumber dari
keanekaragaman, karena kemungkinan untuk cross cutting, saling
bertemu dan berjumpa, saling berbicara satu sama lain, dan kontak
menjadi lebih besar. Pada tingkat sosiologis juga penting sekali apa
yang disebut dengan interaksi-interaksi yang informal, seperti di
pasar orang Batak tidak peduli paa siapa mereka membeli barang,
kadang-kadang beli di toko Cina, kadang-kadang di toko Jawa, dan
seterusnya. Pada tingkat masyarakat juga harus ada kemungkinan
mendefinisikan pola-pola interaksi yang formal melalui assosiasi,
organisasi, partai politik, karena banyak sekali partai politik
membatasi multikulturalisme eksternal, bahkan internal. Pada
tingkat ini cross cutting juga perlu sebab tidak bagus kalau misalnya
saya sebagai orang Muhamrnadiyah, sekolah di sekolah Muhammad-
iyah, belanja di warung atau tokonya orang Muhammadiyah,
beristrikan orang Muhammadiyah, dan seterusnya. Kapan saya
bertemu dengan orang yang bukan Muhammadiyah? Apa yang
mereka pelajari dan bagaimana sikap mereka terhadap kemajemuk-
an atau multikulturalisme internal dan eksternal itu harus kita
bicarakan. Pendidikan multikultural perlu didiskusikan pada tingkat
negara.
Sejarah negara-negara modern, dulu mereka menyebutnya
negara bangsa sampai sekarang, asumsinya adalah satu bangsa,
satu kultur punya satu negara. Jerman adalah negara, sekaligus
bangsa. Perancis adalah negara dan bangsa. Sekarang mereka repot,
di Inggris banyak sekali warga negara yang bukan Anglo Saxon
tetapi orang India, Pakistan, Bangladesh dan mereka ini macam-
macam, seperti kita juga, ada yang sekolah, terdidik, pencopet, tapi
ada juga yang pintar sekali, kaya, politisi dan seterusnya. Mereka
hams mendefinisikan kebangsaan Inggris itu apakah berdasarkan
ras Anglo Saxon semata, atau juga meliputi orang-orang keturunan
Asia Selatan. Apakah mereka yang non Anglo Saxon berhak disebut
english? Sekarang diakui bahwa mereka juga termasuk english. Jadi,
ada transformasi ketika kebangsaan itu meluas dari basis nation
atau kultur menjadi citizenship. Perkembangan selanjutnya memang
mengarah agar sebaiknya kebangsaan itu adalah citizenship basis-
nya, kewarganegaraan, tidak peduli warna kulit, agama, suku, dan
sebagainya. Mereka yang warga negara berhak diperlakukan sama
oleh negara. Tetapi dengan munculnya multikulturalisme, kalau
semua warganegara diperlakukan secara sama padahal senyatanya
mereka tidak sama, persoalan ini menjadi rumit. Misalnya, di Inggris
ada beberapa kasus mengenai shalat pada saat hari Jumat. Orang
Muslim hanya diperkenankan istirahat selama 1 jam, sementara
mereka harus shalat jumatan, dan makan siang, belum lagi jika
khutbahnya panjang. Dalam konteks ini, mungkin negara harus lebih
bersikapi multikultural juga, harus ada perlindungan terhadap yang
minoritas. Kalau kita menganggap orang Indonesia itu hanya orang
Islam, lalu dikemanakan orang lain agama? Saya pernah ke Bima
itu, pesawat saya mendarat jam 12. Saya sebelumnya di SMS oleh
teman, pak nanti kami baru bisa menjemput bapak jam 2 karena di
Bima sekarang, berdasarkan surat edaran dari bupati, bahwa pada
hari Jumat antara jam 10 sampai jam 2 siang mobil tidak boleh ber-
keliaran karena shalat Jumat. Padahal bandara di sana tidak memiliki
free shops, tidak ada tempat minum kopi yang enak, tidak ada tempat
lukisan untuk dilihat-lihat. J a d i kita memang perlu hati-hati,
bagaimana dengan orang yang sedang musafir, wong agama kita
memiliki ketentuan untuk yang musafir. Orang Hindu juga begitu,
mereka tiru-tiru, kalau hari nyepi maka tidak boleh ada pesawat
yang mendarat di Ngurah Rai, baik untuk connecting flight bahkan
mengisi bahan bakar sekalipun. "Kalau nyepi, ya hams sepi", kata
orang Hindu. Lalu bagaimana kalau orang Muhammadiyah di Bali,
atau orang Islam mau jalan-jalan, ya tetap tidak boleh karena ada
perda yang melarangnya. Sebagian orang Islam ingin kalau orang
mencuri dipotong tangannya, kalau tidak Jumatan 3 kali dicambuk.
Seperti dalam rancangan qanun Aceh, ketika masih draf rancangan
disebutkan bahwa cambuknya berdiameter 1centimeter, dari rotan,
RElNVENSl
ISLAM MUISIKLILTURAL

meniru Kelantan dan Trengganu. Tapi ketika menjadi qanun atau


perda, ketentuan diameter cambuk berkurang menjadi 0,75 cm.
Bagaimana kalau ada orang Muhammadiyah dan NU tidak mau
dicambuk? Boleh tidak bersikap seperti itu? Dalam multikluturalisme
mestinya ha1 itu hams dibolehkan sehingga orang-orang yang ingin
menerapkan syariah juga plkir-pikir karena, dalam bayangan saya,
mereka sebenarnya ingin menerapkan syariat itu dalam pengertian
mereka ingin mengambil alih perangkat-perangkat negara untuk
mendesakkan pandangan-pandangan sektoral atau pandangan-
pandangan eksklusif mereka. Ini tentu saja bisa mengganggu
multikulturalisme.
lndeks

absolutisme 31, 64, 250 badui 28


acceptance 189 bahsul Masail 114
agama Barat 61 baku Bae 173
agama cinta 16 bayani 105, 112, 315
agama egalitarian 37 bhinneka tunggal ika 75, 164, 243
agama general 22 budaya dialog 252
agama Jawa 286 budaya hinduisme-jawaisme 263
agama kemarahan 16 budaya Jawa 70
agama lokal 287 budaya konsumen 88, 97
agama monoteisme 44 budaya lokal 145, 167, 263
agama murni 287 budaya media 89
agama otentik 284 budaya priyayi 70
agama progress 282, 284 bughot 110
agama progresif-populer 281, 283 burhani 105, 315
agama resmi 284
agama sintesis 237
agama universal 22
chauvinisme 246
agree in disagreement 67, 238
chauvinisme rasial 34
ah1Dzimmah 162, 163
civil religion 241
Ahrnadiyah 223
civil society 7, 247
Aisyiyah 179
clash of civilization 103
aktivisme sosial 108
community development 273
akulturasi 144
consociation 237
al-asma al-husna 122
counter-hegemony 8
amarma'ruf nahi munkar 263, 276
cultural struggle 9
anarki sosial 71
anti-kekerasan 41, 46
antropologi agama 141
asimilasi 144, 227 dakwah kultural 167,129, 138,
Asya'irah 12 168, 261, 262, 264, 277
'Asy'ariyyah 159 dar al-barb 163
dekonsentrasi tafsir Islam 283
dernitologisasi 272
demohasi 202, 210, 239 etika Islam 101
demohasi sosial 247 etika lintas budaya 163, 165
depolitisasi 76 etika multikultural 197
desentralisasi fikih 113 etika sosial 108, 148, 162, 188
determinasi historis 107 etika sosial baru 108
determinasi kultural 107 etika sosial lama 108
determinisme kultural 109 etnisitas 241, 243
dhamma 60, 62 etno-phobia 243
diakonia 232 etnosentrisme 36, 165
dialog 100 evolusi historis 235
dialog agama 251 evolusi kebudayaan 21, 26
dialog antaragama 77, 78, 82, 235
dialog antarbudaya 224
dialog koeksistensial 257
fanatisme 31
dialog kultural 103
fenomenologi agama 13
dialog seremonial 179
feodalisme 194, 246
dialog sosial 79
fikih angkasa luar 113
dialogue of civilization 103
Nuh demokrasi 113
DIAN Interfidei 78
fikih gender 114
differance 6
fikihHAM 113
dinamika sosial 254
f i k h internet 113
disintegritas sosial 233
fikihKKN 113
distributive justice 247
filuh lingkungan hidup 113
doa antariman 80
fikihlintas agama 311, 317
dunia multikultural 25
fikihmultikultural 311, 312
dzimmi 222
fikih perburuhan 114
E fikih pertanahan 114
fMh pluralisme 196
egalitarianisme 202, 246 fikih struktural 113
egosentrisme 180 fikih strukturalistik 113
ekosistem 38 formalisasi syariah 269
eksklusifisme 17, 100 freedulent misrepresentation 92
eksklusifisme absolut 234 fulfillment 189
elan vital 87 fundamentalis 146
emansipasi sosial 127 fundamentalisme 165, 244
emosi nasionalisme 241 furu'iyyah 159
episteme 31
epistemologi posmodernisme 252
equal treatment 285
gerakan sosial 281
eros 14
gerakan transformatif 276
esoterisme Islam 13
ghetto kultural 222
etatisme 110
globaliasi 99
etatisme agarna 111 globalisasi 21, 232, 266
RElNVENSl
ISLAM MULTIKULTUUL

globalitas Islam 100, 104 islam Pluralis 201


gnomologis 203 islam populer 287, 288
gnotisme 58 islam priyayi 286
Islam progresif 281, 282
H islam resmi 287, 288
halaqah shalawat 169 islam santri 286
harmoni 42 islam tradisionalis 3
harmonisasi sosial 172 islam transformatif 7, 8, 123, 124,
hedonisme 87 128
hegemoni 27 islarnic left 104
hermeneutika 188 islamisasi 218, 224
hermeneutika dialektik 132 islamisasi kebudayaan 22
hermeneutika dialektika sosial 125 istihsan 164
hermeneutika teks 125 istislahi 164
heterofobia 160, 168
hijra council 236
hizbut tahrir 160 jalal 14, 15
human agency 124 jalaliyah 15, 117, 135
humanism 117 Jamaah Islamiyah 161
humanisme 178, 205, 206 jamal 14
hyleomorfis 212 jamaliyah 15, 117, 135
jihad 110
I JIL 160
ibadah ritual 167
K
ibadah sosial 167
ideologi membenci 39 kalimah sawa' 25, 26
imanensi 121 kapitalisme global 123, 125,
imperium multinasional 225 130, 133
indeterminisme kultural 108 karma 59
indikator iman 118 karma-samsara 60
inklusivisme 100, 175, 201, 202 keadilan gender 179
inklusivisme hegemonistik 234 keadilan restoratif 43, 44
interpersonal trust 35 keadilan retributif 47
'irfani 105, 128, 132, 315 keadilan sosial 7, 239
islam abangan 286 kebijakan anti SARA 75
islam altematif 3 kebudayaan global 270
islam garis keras 164 kejahatan hudud 219
islam Inklusif 3, 6 kejahatan qisas 219
islam jawa 159, 286, 287 kejahatan ta'zir 219
islam liberal 160 kejawen 236
islam modemis 264 kekerasan 40
islam multikultural 23 kekerasan langsung 39
islam mumi 168 kekerasan tak langsung 39
kemusrikan sosial 123, 130 ma'rifah 117
kerukunan antarumat beragama 77 Mantis lama 238
kesadaran imajinatif 281 maslahah 164
kesadaran kolektif 272 masyarakat bojuis 266
kesadaran kolektif 281 melting-pot 9
kesalehan sosial 105 millet 162, 225, 311
kesatuan objektif 248 minoritas non-Muslim 223
kesatuan primer 248 minority rights 227
kesatuan subjektif 248 miskin kultural 111
kiai internet 106 miskin struktural 111
ko-eksistensi 31 missi 77
koeksistensi damai 256 mitologi 272
koeksistensi religius 237 Mocopat Syafaat 106
kohesi sosial 38, 254 modal sosial 34
kolonialisme 236 modernisasi 6
KOMNAS Perempuan 78 modernisme 99, 244
komunitas basis 273 moksa 60
konflik agama 71 monokultural 178
konflik politik vertikal 292 monolog syariah 22 1
konlik rasial anti Cina 74 monopoli kepercayaan 88
konflik sosial 243 moralitaskomunal 109
konsosiasionalisme 226 moralitas personal 109
konsultasi antaragama 77 moralitas publik 109
kulturalisasi Islam 104 Muhammadiyah 35, 37, 158, 160,
167, 179
multikulturalis 30, 32, 38, 41, 59
legal normatif 146 multikulturalisme 5, 7, 17, 125,
158
legal substantif 146
multikulturalisme eksternal 221,
local knowledge 126
local wisdom 9, 126 222, 319
multikulturalisme internal 217, 319
Logos 59
multikulturalisme revolusioner 175
lokalisasi akidah 112, 113
multipartisme 216
lokalisasi Islam 104
Muslim bemawasan multikultural
172
Muslim lokal 286
MADLA 78, 79 Muslim modem 104
Madia Sin 95 Muslim multikulturalis 37
mahabbah 117 Muslim tradisional 104
Majelis Mujahidin Indonesia 160 mutakallirnin 159
Majelis'hqih 114, 119, 130, 134 Mu'tazilah 13, 159
Malino 72 mutual respect 29
manajemen multikulturalilsme 226 mutual trust 33
manhaj tarjih 315 mutual understanding 29
RElNVENSl
S
I LAMMULTIKULTUML

mutualisme 189 perempuan antariman 81


mysterium fascinocum 13 pe jumpaan multikultural 27
mysterium tremendum 13 Persetujuan Addis Ababa 223
pertelingkahan 89
Piagam Madinah 246, 253
Naqsyabadiyyah 160 pluralisasi 232
nasionalisme 239 pluralisme 5, 99, 125, 252
natal bersama 173 pluralisme agama 233, 250, 253,
negara dua bangsa 226 255, 256
negara multinasional 226 pluralisme baru 244
negara tiga bangsa 226 pluralisme budaya 162
negosiasi kultural 287 pluralisme indifferent 100
neo-liberalisme 7 pluralisme keagamaan 59, 61, 64
new social movement 8, 9 pluralisme kepartaian 217
nirkekerasan 23, 26 pluralisme kritis 100
normatifitas 31 pluralisme posmodern 31
N U 35, 37, 160 pluralisme realistik 235
pluralisme regulatif 235
pola pikir egosentris 26
pola pikir monolog 26
orthodox marxism 8 politik multikulturalisme 165, 168
otonomi keberagamaan 107 politik pengakuan 188
otoritarianisme negara 284 politik polietnis 165
otoritas agama 274 pornografi 109, 167
POS-Islam283
posmodemis 6, 7
Padhang Bulan 106 posmodemisme 7, 8, 99, 125,
Pancasila 243 174, 252
paradigma multikultural 288 Possosialisme 7
paraji 70 posstrukturalisme 6, 125
Paramadina 79 pranata sosial 142
Parlemen Agama-agama Dunia prasangka 33
235, 236 pribumisasi Islam 22, 107
parlementarisme 217 primordialisme 31
pasivisme 250 privatisasi 232
patrimonialisme 34 privatisasi Islam 107, 109
pemaafan 47 priyayi 191, 194
pernbunuhan antaragama 81 progresivitas 281
pengalaman antarkultural 25 propaganda iklan 90
pengampunan 47, 48, 50, 51 provokasi irnan 126
penjajahan kultural 129 purifikasi 159
penyadaran kolektif 277
peran subversif 193
perang salib 231 quick fix 221
social security 247, 248
solidaritas sosial 38
radikalisme 31 spiral kekerasan 47
raja-sentris 34 spiritual laundry 124
Ratu Adil 271, 272 spiritualisme 99
reaktualisasi makna agama 244 Spiritualitas 96
reality-centredness 30 strict separations 285
reconception 237 Suara Ibu Peduli 80
redistribusi sosial 9 sufisme 63
rejim multikultural 225, 226, 311 sulh pribadi 43, 44
rekonsiliasi 26, 42, 44, 46 syariah demokratik 276
relativisme 64, 252 syariah historis 146, 316
relativisme absolut 234 syariah lokal 144, 145
relativisme internal 252 syariah Madinah 148
relativitas fikih 147 syariah Modem 163
repetisi televisi 96 syariah multikultural 309
replacement 188 syariahnormatif 146, 147, 316
Republik Islam Indonesia 172
resiprositas 163
resolusi konflik 42, 44
t a ' a n f 32
revivalisme Islam 224
tabayyun 33
revolusi kesadaran 272, 273
tahajjud call 107
revolusi Perancis 233
tahlilan 104
risk society 265, 266
tajdid 167
rukun iman sosial 131
takbiran bersama 173
Ryobu Shinto 62
tasawuf pembebasan 19
tauhid horisontal 131
tauhid keberpihakan 168
sakralisasi kekerasan 41 tauhidsosial 4, 5,115, 117, 119,
san chiao 62 123, 124, 125, 130
SARA 168, 179 tele-dialog 212
sektarianisme 165 teologi 121
seMarisme 233, 244 teologi al-Asma al-Husna 117
self-centredness 30 teologi antroposentris 263
sensibilitas ekurnene 23 teologi cinta 17
separatisme 164 teologi dogmatis 27
Seruan Perempuan Antariman 80 teologi feminisme 176
shalawatan 104 teologi Islam tradisional 111
simbol-simbolagama 95 teologi kerakyatan 131
sinkretisme 101, 236, 286 teologi minoritas 227
sistem budaya 141 teologi Muharnmadiyah 123
sistem kredo 97 teologi multikultural 196
skripturalis 30 teologi multikulturalis 24
SMU Rekonsiliasi 173
RElNVENSl
ISLAM MUCllKULTURAL

teologi pernbebasan 19 universalitas syariah 142


teologi pluralis 3 1, 201 usul fikih multikultural 307
teologi pluralisme 196 utopian social 4
teologi su'uzhan 36
toleransi 202, 207
toleransi eukumenik 252
visi multikultural 3 15
tradisi Arab 144
tradisi lokal 101
tradisi perdamaian 41
tradisi Victorian 194 Wadah Musawarah Antarumat
tradisionalis 146 Beragama 77
tradisionalisme 13 wahyu progresif 25, 284
trafficking 130 westemisasi 263
transformasi sosial 128, 167, 238, Wulang Reh 193
281
transformasi teologis 201
transrnisi global 232 yasinan 104
tribal society 102 Yudaisme 58

Anda mungkin juga menyukai