Anda di halaman 1dari 35

3. Kardiotokografi (CTG).

a. Pengertian
1) Secara khusus
CTG adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur DJJ pada saat kontraksi maupun
tidak.

2) Secara umum

CTG merupakan suatu alat untuk mengetahui kesejahteraan janin di dalam rahim, dengan
merekam pola denyut jantung janin dan hubungannya dengan gerakan janin atau kontraksi
rahim.

Jadi bila doppler hanya menghasilkan DJJ maka pada CTG kontraksi ibu juga terekam dan
kemudian dilihat perubahan DJJ pada saat kontraksi dan diluar kontraksi. Bila terdapat
perlambatan maka itu menandakan adanya gawat janin akibat fungsi plasenta yang sudah tidak
baik
.
Cara pengukuran CTG hampir sama dengan doppler hanya pada CTG yang ditempelkan 2 alat
yang satu untuk mendeteksi DJJ yang satu untuk mendeteksi kontraksi, alat ini ditempelkan
selama kurang lebih 10-15 menit

b. Indikasi Pemeriksaan CTG

1) Kehamilan dengan komplikasi (darah tinggi, kencing manis, tiroid, penyakit infeksi kronis,
dll)
2) Kehamilan dengan berat badan janin rendah (Intra Uterine Growth Retriction)
3) Oligohidramnion (air ketuban sedikit sekali)
4) Polihidramnion (air ketuban berlebih)

c. Pemeriksaan CTG

1) Sebaiknya dilakukan 2 jam setelah makan.


2) Waktu pemeriksaan selama 20 menit,
3) Selama pemeriksaan posisi ibu berbaring nyaman dan tak menyakitkan ibu maupun bayi.
4) Bila ditemukan kelainan maka pemantauan dilanjutkan dan dapat segera diberikan
pertolongan yang sesuai.
5) Konsultasi langsung dengan dokter kandungan
Alat untuk Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan Darah
Bentuk pemeriksaan
1) Jenis/golongan darah
2) HB
3) Gula darah
4) Malaria
5) Filaria dll
Persiapan alat
1) Lanset darah atau jarum khusus
2) Kapas alkohol
3) Kapas kering
4) Alat pengukur Hb/kaca objek/botol pemeriksaan, tergantung macam pemeriksaan
5) Bengkok
6) Hand scoon
7) Perlak dan pengalas

Pemeriksaan Urine
Jenis pemeriksaan
1) Urine sewaktu
Urine yang dikeluarkan sewaktu-waktu bilamana diperlukan pemeriksaan.
2) Urine pagi
Urine yang pertama dikeluarkan sewaktu pasien bangun tidur.
3) Urine pasca prandial
Urine yang pertama kali dikeluarkan setelah pasien makan (1,5-3 jam sesudah makan)
4) Urine 24 jam
Urine yang dikumpulkan dalam waktu 24 jam
Persiapan alat
1) Formulir khusus untuk pemeriksaan urine
2) Wadah urine dengan tutupnya
3) Hand scoon
4) Kertas etiket
5) Bengkok
6) Buku ekspedisi untuk pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan Faeces
Persiapan alat
1) Hand scoon bersih
2) Vasseline
3) Botol bersih dengan penutup
4) Lidi dengan kapas lembab dalam tempatnya
5) Bengkok
6) Perlak pengalas
7) Tissue
8) Tempat bahan pemeriksaan
9) Sampiran

Pengambilan sputum
Sputum atau dahak adalah bahan yang keluar dari bronchi atau trakhea, bukan ludah atau lendir
yang keluar dari mulut, hidung atau tenggorokan.
Persiapan alat
1) Sputum pot (tempat ludah) yang bertutup
2) Botol bersih dengan penutup
3) Hand scoon
4) Formulir dan etiket
5) Perlak pengalas
6) Bengkok
7) Tissue

Pengambilan spesimen cairan vagina/hapusan genetalia


Persiapan alat
1) Kapas lidi steril
2) Objek gelas
3) Bengkok
4) Sarung tangan
5) Spekulum
6) Kain kassa, kapas sublimat
7) Bengkok
8) Perlak
Persiapan Penderita

1. Puasa. Dua jam setelah makan sebanyak kira-kira 800 kalori akan mengakibatkan
peningkatan volume plasma, sebaliknya setelah berolahraga volume plasma akan
berkurang. Perubahan volume plasma akan mengakibatkan perubahan susunan
kandungan bahan dalam plasma dan jumlah sel darah.
2. Obat. Penggunaan obat dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan hematologi misalnya :
asam folat, Fe, vitamin B12 dll. Pada pemberian kortikosteroid akan menurunkan jumlah
eosinofil, sedang adrenalin akan meningkatkan jumlah leukosit dan trombosit. Pemberian
transfusi darah akan mempengaruhi komposisi darah sehingga menyulitkan pembacaan
morfologi sediaan apus darah tepi maupun penilaian hemostasis. Antikoagulan oral atau
heparin mempengaruhi hasil pemeriksaan hemostasis.
3. Waktu Pengambilan. Umumnya bahan pemeriksaan laboratorium diambil pada pagi hari
terutama pada pasien rawat inap. Kadar beberapa zat terlarut dalam urin akan menjadi
lebih pekat pada pagi hari sehingga lebih mudah diperiksa bila kadarnya rendah. Kecuali
ada instruksi dan indikasi khusus atas perintah dokter. Selain itu juga ada pemeriksaan
yang tidak melihat waktu berhubung dengan tingkat kegawatan pasien dan memerlukan
penanganan segera disebut pemeriksaan sito. Beberapa parameter hematologi seperti
jumlah eosinofil dan kadar besi serum menunjukkan variasi diurnal, hasil yang dapat
dipengaruhi oleh waktu pengambilan. Kadar besi serum lebih tinggi pada pagi hari dan
lebih rendah pada sore hari dengan selisih 40-100 g/dl. Jumlah eosinofil akan lebih
tinggi antara jam 10 pagi sampai malam hari dan lebih rendah dari tengah malam sampai
pagi.
4. Posisi pengambilan, Posisi berbaring kemudian berdiri mengurangi volume plasma 10 %
demikian pula sebaliknya. Hal lain yang penting pada persiapan penderita adalah
menenangkan dan memberitahu apa yang akan dikerjakan sebagai sopan santun atau
etika sehingga membuat penderita atau keluarganya tidak merasa asing atau menjadi
obyek.

3. Persiapan Alat yang Akan Dipakai

1. Persiapan Alat. Dalam mempersiapkan alat yang akan digunakan selalu diperhatikan
instruksi dokter sehingga tidak salah persiapan dan berkesan profesional dalam bekerja.
2. Pengambilan Darah. Yang harus dipersiapkan antara lain, kapas alkohol 70 %, karet
pembendung (torniket), spuit sekali pakai umumnya 2.5 ml atau 5 ml, penampung kering
bertutup dan berlabel. Penampung dapat tanpa anti koagulan atau mengandung anti
koagulan tergantung pemeriksaan yang diminta oleh dokter. Kadang-kadang diperlukan
pula tabung kapiler polos atau mengandung antikoagulan.
3. Penampungan Urine. Digunakan botol penampung urin yang bermulut lebar, berlabel,
kering, bersih, bertutup rapat dapat steril (untuk biakan) atau tidak steril. Untuk urin
kumpulan dipakai botol besar kira-kira 2 liter dengan memakai pengawet urin.
4. Penampung khusus. Biasanya diperlukan pada pemeriksaan mikrobiologi atau
pemeriksaan khusus yang lain. Yang penting diingat adalah label harus ditulis lengkap
identitas penderita seperti pada formulir termasuk jenis pemeriksaan sehingga tidak
tertukar.
4. Cara pengambilan sampel
Pada tahap ini perhatikan ulang apa yang harus dikerjakan, lakukan pendekatan dengan pasien
atau keluarganya sebagai etika dan sopan santun, beritahukan apa yang akan dikerjakan. Selalu
tanyakan identitas pasien sebelum bekerja sehingga tidak tertukar pasien yang akan diambil
bahan dengan pasien lain. Karena kepanikan pasien akan mempersulit pengambilan darah karena
vena akan konstriksi. Darah dapat diambil dari vena, arteri atau kapiler. Syarat mutlak lokasi
pengambilan darah adalah tidak ada kelainan kulit di daerah tersebut, tidak pucat dan tidak
sianosis. Lokasi pengambilan darah vena : umumnya di daerah fossa cubiti yaitu vena cubiti atau
di daerah dekat pergelangan tangan. Selain itu salah satu yang harus diperhatikan adalah vena
yang dipilih tidak di daerah infus yang terpasang/sepihak harus kontra lateral. Darah arteri
dilakukan di daerah lipat paha (arteri femoralis) atau daerah pergelangan tangan (arteri radialis).
Untuk kapiler umumnya diambil pada ujung jari tangan yaitu telunjuk, jari tengah atau jari manis
dan anak daun telinga. Khusus pada bayi dapat diambil pada ibu jari kaki atau sisi lateral tumit
kaki.

5. Penanganan Awal Sampel dan Transportasi


Pada tahap ini sangat penting diperhatikan karena sering terjadi sumber kesalahan ada disini.
Yang harus dilakukan :

1. Catat dalam buku ekspedisi dan cocokan sampel dengan label dan formulir. Kalau
sistemnya memungkinkan dapat dilihat apakah sudah terhitung biayanya (lunas).
2. Jangan lupa melakukan homogenisasi pada bahan yang mengandung antikoagulan
3. Segera tutup penampung yang ada sehingga tidak tumpah
4. Segera dikirim ke laboratorium karena tidak baik melakukan penundaan
5. Perhatikan persyaratan khusus untuk bahan tertentu seperti darah arteri untuk analisa gas
darah, harus menggunakan suhu 4-8C dalam air es bukan es batu sehingga tidak terjadi
hemolisis. Harus segera sampai ke laboratorium dalam waktu sekitar 15-30 menit.
Perubahan akibat tertundanya pengiriman sampel sangat mempengaruhi hasil
laboratorium. Sebagai contoh penundaan pengiriman darah akan mengakibatkan
penurunan kadar glukosa, peningkatan kadar kalium. Hal ini dapat mengakibatkan salah
pengobatan pasien. Pada urin yang ditunda akan terjadi pembusukan akibat bakteri yang
berkembang biak serta penguapan bahan terlarut misalnya keton. Selain itu nilai
pemeriksaan hematologi juga berubah sesuai dengan waktu.

D. PERSIAPAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM/SPESIMEN

A. DARAH
Pemeriksaan darah merupakan pemeriksaan yang menggunakan bahan atau spesimen darah.
Antara lain :
1. Darah Rutin :

Hemoglobin/HB : Untuk mendeteksi adanya penyakit anemia dan ginjal


Hematokrit/HT : Mengukur konsentrasi sel darah merah dalam darah
Trombosit : Mendeteksi adanya trombositopenia dan trombositosis

2. Darah Kimia :

SGPT (serum glumatik piruvik transaminase) :Pemeriksaan SGPT digunakan untuk


mendeteksi adanya kerusakan hepatoseluler.
Albumin : Pemeriksaan albumin dilakukan untuk mendeteksi kemampuan albumin yang
disintesis oleh hepar, yang bertujuan untuk menentukan adanya gangguan hepar seperti
luka bakar, gangguan ginjal.
Asam Urat : Pemeriksaan asam urat dilakukan untuk mendeteksi penyakit pada ginjal,
luka bakar dan kehamilan.
Bilirubin : Pemeriksaan bilirubin dilakukan untuk mendeteksi kadar bilirubin. Bilirubin
direct dilakukan untuk mendeteksi adanya ikterik obstruktif oleh batu/ neoplasma,
hepatitis. Bilirubin indirect dilakukan untuk mendeteksi adanya anemia, malaria.
Ekstrogen : Pemeriksaan ekstrogen dilakukan untuk mendeteksi disfungsi ovarium, gejala
menopause dan pasca menopause.
Gas Darah Arteri : Pemeriksaan gas darah arteri dilakukan untuk mendeteksi gangguan
keseimbangan asam basa yang disebabkan oleh gangguan respiratorik/ gangguan
metabolik.
Gula Darah Puasa : Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi adanaya diabetes.
Gula Darah Postprandial: Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi adanya diabetes,
pemeriksaan dilakukan setelah makan.
Gonadotropin Korionik Manusia (HCG). Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi
kehamilan.

B. URINE
a. Pemeriksaan urine merupakan pemeriksaan yang menggunakan bahan atau spesimen urine.
Antara lain :

Asam urat : Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi berbagai kelainan pada
penyakit ginjal, eklampsia, keracunan timah hitam dan leukemia.
Bilirubin : Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi penyakit obstruktif saluran
empedu, penyakit hepar dan kanker hepar.
Human Chorionic Gonadotropin ( HCG ) : Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi
adanya kehamilan

b. Jenis urine

1. Urine sewaktu. Urine yang dikeluarkan seawaktu- waktu bila diperlukan pemeriksaan
2. Urine pagi. Urine yang pertama dikeluarkan sewaktu pasien bangun tidur
3. Urine pasca prandial. Urine yang pertama kali dikeluarkan setelah pasien makan
4. Urine 24 jam : urine yang dikumpulkan selama 24 jam Pemeriksaan lain yang
menggunakan spesimen urine antara lain, pemeriksaan urilinogen untuk menentukan
kadar kerusakan hepar, penyakit hemolisis dan infeksi berat. Pemeriksaan urinealisasi
digunakan untuk menentukan berat jenis kadar glukosa dan pemeriksaan lainnya.
C. FESES
Pemeriksaan dengan bahan feses dilakukan untuk mendeteksi adanya kuman seperti, salmonella,
shigella, escherichiacoli, staphylococcus dll.
Persiapan dan Pelaksanaan :

1. Tampung bahan dengan menggunakan spatel steril


2. Tempatkan feses dalam wadah steril dan ditutup
3. Feses jangan dicampur dengan urine
4. Jangan berikan Barium atau minyak mineral yang dapat menghambat pertumbuhan
bakteri.
5. berikan label nama dan tanggal pengambilan bahan pemeriksaan

D. SPUTUM
Pemeriksaan dengan bahan sekret atau sputum dilakukan untuk mendeteksi adanya kuman.
Persiapan dan Pelaksanaan :

1. Siapkan wadah dalam keadaan steril


2. Dapatkan sputum pada pagi hari sebelum makan
3. Anjurkan pasien untuk batuk agar mengeluarkan sputum
4. Pertahankan wadah dalam keadaan tertutup
5. Bila kultur untuk pemeriksaan BTA (Bakteri Tahan Asam) ikut instruksi yang ada pada
botol penampung. Biasanya diperlukan 5-10 cc sputum yang dilakukan selama 3 hari
berturut turut

PERSIAPAN PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK


1. Ultrasonografi ( USG )
USG merupakan suatu prosedur diagnosis yang dilakukan di atas permukaan kulit/ di rongga
tubuh menghasilkan suatu ultrasound di dalam jaringan. Pemeriksaan ini digunakan untuk
melihat struktur jaringan tubuh, untuk mendeteksi berbagai kelainan pada abdomen, otak,
jantung dan ginjal.
Persiapan dan Pelaksanaan :

1. Lakukan informed consent


2. Anjurkan pasien untuk berpuasa makan dan minum 8-12 jam sebelum pemeriksaan USG
aorta abdomen, kantung empedu, hepar, limpa dan pankreas.
3. Oleskan Jelly konduktif pada permukaan kulit yang akan dilakukan USG
4. Transduser dipegang dengan tangan dan gerakan ke depan dan ke belakang diatas
permukaan kulit.
5. Lakukan antara 10-30 menit
6. Premedikasi jarang dilakukan, hanya bila pasien dalam keadaan gelisah
7. Pasien tidak boleh merokok sebelum pemeriksaan untuk mencegah masuknya udara.
8. Pada pemeriksan obstruktif ( Trimester pertama & kedua ) pelvis dan ginjal pasien ketiga,
pemeriksaan dilakukan pada saat kandung kemih kosong.
9. Bila pemeriksaan pada jantungn anjurkan untuk bernafas secara perlahan- lahan
10. Bila pemeriksaan pada otak, lepaskan semua perhiasan dari leher dan jepit rambut dari
kepala.

2. RONTGEN
Rontgen atau dikenal dengan sinar x merupakan pemeriksaan yang memanfaatkan peran sinar x
untuk melakukan skrining dan mendeteksi kelainan pada berbagai organ diantaranya jantung,
abdomen, ginjal, ureter, kandung kemih, tenggorokan dan rangka.
Persiapan dan Pelaksanaan :

1. Lakukan informed consent


2. Tidak ada pembatasan makanan / cairan
3. Pada dada pelaksanaan foto dengan posisi PA (Posterior Anterior) dapat dilakukan
dengan posisi berdiri dan PA lateral dapat juga dilakukan.
4. Anjurkan pasien untuk tarik nafas dan menahan nafas pada wakru pengambilan foto sinar
x.
5. Pada jantung, foto PA dan lateral kiri dapat diindikasikan untuk mengevaluasi ukuran dan
bentuk jantung.
6. Pada abdomen, baju harus dilepaskan dan gunakan baju kain, pasien tidur terlentang
dengan tangan menjauh dari tubuh serta testis harus dilindungi.
7. Pada tengkorak, penjepit rambut, kacamata dan gigi palsu harus dlepaskan sebelum
pelaksanaan foto.
8. Pada rangka, bila dicurigai terdapat fraktur maka anjurkan puasa dan immobilisasi pada
daerah fraktur.

3. PAP SMEAR (Papanicolaou Smear)


Pap smear merupakan pemeriksaan sitologi yang digunakan untuk mendeteksi adanya kanker
serviks atau sel prakanker, mengkaji efek pemberian hormon seks serta mengkaji respons
terhadap kemoterapi dan radiasi.
Persiapan dan pelaksanaan :

1. Lakukan informed consent


2. Tidak ada pembatasan makanan dan cairan
3. Anjurkan pasien untuk tidak melakukan irigasi vagina ( pembersihan vagina dengan zat
lain ) memasukan obat melalui vagina atau melakukan hubungan seks sekurang-
kurangnya 24 jam
4. Spekulum yang sudah dilumasi dengan air dengan air megalir dimasukan ke vagina .
5. Pap stick digunakan untuk mengusap serviks kemudian pindahkan ke kaca mikroskop
dan dibenamkan ke dalam cairan fiksasi.
6. Berikan label nama dan tanggal pemeriksaan
4. MAMMOGRAFI
Merupakan pemeriksaan dengan bantuan sinar x yang dilakukan pada bagian payudara untuk
mendeteksi adanya kista / tumor dan menilai payudara secara periodik.
Persiapan dan Pelaksanaan :

1. Lakukan informed consent


2. Tidak ada pembatasan cairan dan makanan
3. Baju dilepas sampai pinggang dan perhiasan pada leher
4. Gunakan pakaian kertas / gaun bagian depan terbuka
5. Anjurkan pasien untuk duduk dan letakan payudara satu per satu diatas meja kaset sinar
x.
6. Lalu lakukan pemeriksaan

5. ENDOSKOPI
Pemeriksaan yang dilakukan pada saluran cerna untuk mendeteksi adanya kelainan pada saluran
cerna. Contoh : varises, esophagus, neoplasma, peptic ulcer

6. KOLONOSKOPI
Pemeriksaan dilakukan pada saluran colon dan sigmoid untuk mendeteksi adanya kelainan pada
saluran colon.
Contoh : varises, hemoroid, neoplasma dll

7. CT. Scaning
Pemeriksaan spesifik/khusus untuk melihat organ yang lebih dalam dan terlokalisir serta khusus.
Contoh : organ dalam tengkorak dan organ dalam abdomen

8. EEG
Pemeriksaan dilakukan untuk melihat hantaran listrik pada otak (melihat kelainan pada gel.
Otak) Indikasi : epilepsy, trauma capitis Dengan memasangkan elektroda pada bagian kepal
klien.

9. EKG
Pemeriksaan dilakukan untuk melihat sistem hantaran/konduksi dari jantung indikasi : MCI,
Angina fektoris, gagal jantung

Sumber
Nursalam.2008. Proses dan Dokumentasi Keperawatan Konsep dan Praktik.Jakarta : Salemba
Medika Ambarwati, E R, dkk. 2009. KDPK Kebidanan Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Nuha
Medika Eko, Nurul, dkk. 2010. KDPK (Keterampilan Dasar Praktik Klinik)
Kebidanan.Yogyakarta: Pustaka Rihamna Uliyah, Musrifatul, dkk. 2008. Keterampilan Dasar
Praktik Klinik untuk Kebidanan. Jakarta:
BAB II

PEMBAHASAN

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
A.PENGERTIAN

Pemeriksaan diagnostic adalah penilaian klinis tentang respon individu,keluarga,dan komunikan


terhadap suatu masalah kesehatan dan proses kehidupan actual maupun potensial.

A. PERSIAPAN PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Hasil suatu pemeriksaan laboratorium sangat penting dalam membantu diagnosa, memantau
perjalanan penyakit serta menentukan prognosa. Karena itu perlu diketahui faktor yang
mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium.

Terdapat 3 faktor utama yang dapat mengakibatkan kesalahan hasil laboratorium yaitu :
1. Pra instrumentasi

Pada tahap ini sangat penting diperlukan kerjasama antara petugas, pasien dan dokter. Hal ini
karena tanpa kerja sama yang baik akan mengganggu/mempengaruhi hasil pemeriksaan
laboratorium. Yang termasuk dalam tahapan pra instrumentasi meliputi :

a. Pemahaman instruksi dan pengisian formulir

Pada tahap ini perlu diperhatikan benar apa yang diperintahkan oleh dokter dan dipindahkan ke
dalam formulir. Hal ini penting untuk menghindari pengulangan pemeriksaan yang tidak penting,
membantu persiapan pasien sehingga tidak merugikan pasien dan menyakiti pasien. Pengisian
formulir dilakukan secara lengkap meliputi identitas pasien : nama, alamat/ruangan, umur, jenis
kelamin, data klinis/diagnosa, dokter pengirim, tanggal dan kalau diperlukan pengobatan yang
sedang diberikan. Hal ini penting untuk menghindari tertukarnya hasil ataupun dapat membantu
intepretasi hasil terutama pada pasien yang mendapat pengobatan khusus dan jangka panjang.
b. Persiapan penderita
1) Puasa

Dua jam setelah makan sebanyak kira2 800 kalori akan mengakibatkan peningkatan volume
plasma, sebaliknya setelah berolahraga volume plasma akan berkurang. Perubahan volume
plasma akan mengakibatkan perubahan susunan kandungan bahan dalam plasma dan jumlah sel
darah.

2) Obat

Penggunaan obat dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan hematologi misalnya : asam folat, Fe,
vitamin B12 dll. Pada pemberian kortikosteroid akan menurunkan jumlah eosinofil, sedang
adrenalin akan meningkatkan jumlah leukosit dan trombosit. Pemberian transfusi darah akan
mempengaruhi komposisi darah sehingga menyulitkan pembacaan morfologi sediaan apus darah
tepi maupun penilaian hemostasis. Antikoagulan oral atau heparin mempengaruhi hasil
pemeriksaan hemostasis.

3) Waktu pengambilan

Umumnya bahan pemeriksaan laboratorium diambil pada pagi hari tertutama pada pasien rawat
inap. Kadar beberapa zat terlarut dalam urin akan menjadi lebih pekat pada pagi hari sehingga
lebih mudah diperiksa bila kadarnya rendah. Kecuali ada instruksi dan indikasi khusus atas
perintah dokter. Selain itu juga ada pemeriksaan yang tidak melihat waktu berhubung dengan
tingkat kegawatan pasien dan memerlukan penanganan segera disebut pemeriksaan sito.
Beberapa parameter hematologi seperti jumlah eosinofil dan kadar besi serum menunjukkan
variasi diurnal, hasil yang dapat dipengaruhi oleh waktu pengambilan. Kadar besi serum lebih
tinggi pada pagi hari dan lebih rendah pada sore hari dengan selisih 40-100 ug/dl. Jumlah
eosinofil akan lebih tinggi antara jam 10 pagi sampai malam hari dan lebih rendah dari tengah
malam sampai pagi.
4) Posisi pengambilan

Posisi berbaring kemudian berdiri mengurangi volume plasma 10% demikian pula sebaliknya.
Hal lain yang penting pada persiapan penderita adalah menenangkan dan memberitahu apa yang
akan dikerjakan sebagai sopan santun atau etika sehingga membuat penderita atau keluarganya
tidak merasa asing atau menjadi obyek.

a) Persiapan alat

Dalam mempersiapkan alat yang akan digunakan selalu diperhatikan instruksi dokter sehingga
tidak salah persiapan dan berkesan profesional dalam bekerja.

b) Pengambilan darah

Yang harus dipersiapkan antara lain : - kapas alkohol 70 %, karet pembendung (torniket) semprit
sekali pakai umumnya 2.5 ml atau 5 ml, penampung kering bertutup dan berlabel. Penampung
dapat tanpa anti koagulan atau mengandung anti koagulan tergantung pemeriksaan yang diminta
oleh dokter. Kadang-kadang diperlukan pula tabung kapiler polos atau mengandung
antikoagulan.

c) Penampungan urin

Digunakan botol penampung urin yang bermulut lebar, berlabel, kering, bersih, bertutup rapat
dapat steril (untuk biakan) atau tidak steril. Untuk urin kumpulan dipakai botol besar kira-kira 2
liter dengan memakai pengawet urin.
d) Penampung khusus

Biasanya diperlukan pada pemeriksaan mikrobiologi atau pemeriksaan khusus yang lain. Yang
penting diingat adalah label harus ditulis lengkap identitas penderita seperti pada formulir
termasuk jenis pemeriksaan sehingga tidak tertukar.

c. Cara pengambilan sampel

Pada tahap ini perhatikan ulang apa yang harus dikerjakan, lakukan pendekatan dengan pasien
atau keluarganya sebagai etika dan sopan santun, beritahukan apa yang akan dikerjakan. Selalu
tanyakan identitas pasien sebelum bekerja sehingga tidak tertukar pasien yang akan diambil
bahan dengan pasien lain. Karena kepanikan pasien akan mempersulit pengambilan darah karena
venaakankonstriksi.

Darah dapat diambil dari vena, arteri atau kapiler. Syarat mutlak lokasi pengambilan darah
adalah tidak ada kelainan kulit di daerah tersebut, tidak pucat dan tidak sianosis. Lokasi
pengambilan darah vena : umumnya di daerah fossa cubiti yaitu vena cubiti atau di daerah dekat
pergelangan tangan. Selain itu salah satu yang harus diperhatikan adalah vena yang dipilih tidak
di daerah infus yang terpasang/sepihak harus kontra lateral. Darah arteri dilakukan di daerah lipat
paha (arteri femoralis) atau daerah pergelangan tangan (arteri radialis). Untuk kapiler umumnya
diambil pada ujung jari tangan yaitu telunjuk, jari tengah atau jari manis dan anak daun telinga.
Khusus pada bayi dapat diambil pada ibu jari kaki atau sisi lateral tumit kaki.

d. Penanganan awal sampel dan transportasi

Pada tahap ini sangat penting diperhatikan karena sering terjadi sumber kesalahan ada disini.
Yang harus dilakukan :
1) Catat dalam buku expedisi dan cocokan sampel dengan label dan formulir. Kalau sistemnya
memungkinkan dapat dilihat apakah sudah terhitung biayanya (lunas)

2) Jangan lupa melakukan homogenisasi pada bahan yang mengandung antikoagulan

3) Segera tutup penampung yang ada sehingga tidak tumpah

4) Segera dikirim ke laboratorium karena tidak baik melakukan penundaan

5) Perhatikan persyaratan khusus untuk bahan tertentu seperti darah arteri untuk analisa gas
darah, harus menggunakan suhu 4-8 C dalam air es bukan es batu sehingga tidak terjadi
hemolisis. Harus segera sampai ke laboratorium dalam waktu sekitar 15-30 menit.

Perubahan akibat tertundanya pengiriman sampel sangat mempengaruhi hasil laboratorium.


Sebagai contoh penundaan pengiriman darah akan mengakibatkan penurunan kadar glukosa,
peningkatan kadar kalium. Hal ini dapat mengakibatkan salah pengobatan pasien. Pada urin yang
ditunda akan terjadi pembusukan akibat bakteri yang berkembang biak serta penguapan bahan
terlarut misalnya keton. Selain itu nilai pemeriksaan hematologi juga berubah sesuai dengan
waktu

B. PERSIAPAN DAN PENGAMBILAN SPESIMEN

1) Pemeriksaan Darah
a. Tempat pengambilan darah untuk berbagai macam pemeriksaan laboratorium.
1) Perifer (pembuluh darah tepi)
2) Vena
3) Arteri
4) Pada orang dewasa diambil pada ujung jari atau daun telinga bagian bawah
5) Pada bayi dan anak kecil dapat diambil pada ibu jari kaki atau tumit
b. Bentuk pemeriksaan
1) Jenis/golongan darah
2) HB
3) Gula darah
4) Malaria
5) Filaria dll

c. Persiapan alat
1) Lanset darah atau jarum khusus
2) Kapas alkohol
3) Kapas kering
4) Alat pengukur Hb/kaca objek/botol pemeriksaan, tergantung macam pemeriksaan
5) Bengkok
6) Hand scoon
7) Perlak dan pengalas

d. Prosedur kerja
1) Mendekatkan alat
2) Memberitahu klien dan menyampaikan tujuan serta langkah prosedur
3) Memasang perlak dan pengalas
4) Memakai hand scoon
5) Mempersiapkan bagian yang akan ditusuk, tergantung jenis pemeriksaan
6) Kulit dihapushamakan dengan kapas alkohol
7) Bekas tusukan ditekan dengan kapas alkohol
8) Merapikan alat
9) Melepaskan hand scoon

2) Pemeriksaan Urine
a. Kegunaan
1) Menafsirkan proses-proses metabolisme
2) Mengetahui kadar gula pada tiap-tiap waktu makan (pada pasien DM)

b. Jenis pemeriksaan
1) Urine sewaktu
Urine yang dikeluarkan sewaktu-waktu bilamana diperlukan pemeriksaan.
2) Urine pagi
Urine yang pertama dikeluarkan sewaktu pasien bangun tidur.
3) Urine pasca prandial
Urine yang pertama kali dikeluarkan setelah pasien makan (1,5-3 jam sesudah makan)
4) Urine 24 jam
Urine yang dikumpulkan dalam waktu 24 jam.

c. Persiapan alat
1) Formulir khusus untuk pemeriksaan urine
2) Wadah urine dengan tutupnya
3) Hand scoon
4) Kertas etiket
5) Bengkok
6) Buku ekspedisi untuk pemeriksaan laboratorium

d. Prosedur tindakan
1) Mencuci tangan
2) Mengisi formulir
3) Memberi etiket pada wadah
4) Memakai hand scoon
5) Menuangkan 100 cc urine dari bengkok ke dalam wadah kemudian ditutup rapat.
6) Menyesuaikan data formulir dengan data pada etiket
7) Menuliskan data dari formulir ke dalam buku ekspedisi
8) Meletakkan wadah ke dalam bengkok atau tempat khusus bertutup.
9) Membereskan dan merapikan alat
10) Melepas hand scoon

11) Mencuci tangan

3) Pemeriksaan Faeces

a. Pengertian

Menyiapkan feses untuk pemeriksaan laboratorium dengan cara pengambilan yang tertentu.

b. Tujuan
Untuk menegakkan diagnosa

c. Pemeriksaan tinja untuk pasien dewasa

Untuk pemeriksaan lengkap meliputi warna, bau, konsistensi, lendir, darah, dan telur cacing.
Tinja yang diambil adalah tinja segar.

d. Persiapan alat
1) Hand scoon bersih
2) Vasseline
3) Botol bersih dengan penutup
4) Lidi dengan kapas lembab dalam tempatnya
5) Bengkok
6) Perlak pengalas
7) Tissue
8) Tempat bahan pemeriksaan
9) Sampiran

e. Prosedur tindakan
1) Mendekatkan alat
2) Memberitahu pasien
3) Mencuci tangan
4) Memasang perlak pengalas dan sampiran
5) Melepas pakaian bawah pasien
6) Mengatur posisi dorsal recumbent
7) Memakan hand scoon
8) Telunjuk diberi vaselin lalu dimasukkan ke dalam anus dengan arah keatas kemudian
diputar kekiri dan kekanan sampai teraba tinja
9) Setelah dapat , dikeluarkan perlahan lahan lalu dimasukkan ke dalam tempatnya.
10) Anus dibersihkan dengan kapas lembab dan keringkan dengan tissue.
11) Melepas hand scoon
12) Merapikan pasien
13) Mencuci tangan

Untuk pemeriksaan kultur (pembiakan) pengambilan tinja dengan cara steril. Caranya
sama dengan cara thoucer, tetapi alat-alat yang digunakan dalam keadaan steril.

4) Pengambilan sputum
a. Pengertian
Sputum atau dahak adalah bahan yang keluar dari bronchi atau trakhea, bukan ludah atau
lendir yang keluar dari mulut, hidung atau tenggorokan.
b. Tujuan
Untuk mengetahui basil tahan asam dan mikroorganisme yang ada dalam tubuh pasien
sehingga diagnosa dapat ditegakkan.
c. Indikasi
Pasien yang mengalami infeksi/peradangan saluran pernafasan (apabila diperlukan).
d. Persiapan alat
1) Sputum pot (tempat ludah) yang bertutup
2) Botol bersih dengan penutup
3) Hand scoon
4) Formulir dan etiket
5) Perlak pengalas
6) Bengkok
7) Tissue
e. Prosedur tindakan
1) Menyiapkan alat
2) Memberitahu pasien
3) Mencuci tangan
4) Mengatur posisi duduk
5) Memasang perlak pengalas dibawah dagu dan menyiapkan bengkok.
6) Memakai hand scoon
7) Meminta pasien membatukkan dahaknya ke dalam tempat yang sudah disiapkan

(sputum pot)
8) Mengambil 5cc bahan, lalu masukkan ke dalam botol
9) Membersihkan mulut pasien
10) Merapikan pasien dan alat
11) Melepas hand scoon
12) Mencuci tangan

5) Pengambilan spesimen cairan vagina/hapusan genetalia


a. Persiapan alat
1) Kapas lidi steril
2) Objek gelas
3) Bengkok
4) Sarung tangan
5) Spekulum
6) Kain kassa, kapas sublimat
7) BengkoK
8) Perlak
a. Prosedur
1) Memberitahu dan memberi penjelasan pada klien tentang tindakan yang akan
dilakukan
2) Mendekatkan alat
3) Memasang sampiran
4) Membuka dan menganjurkan klien untuk menanggalkan pakaian bagian bawah
(jaga privacy pasien)
5) Memasang pengalas dibawah bokong pasien
6) Mengatur posisi pasien dengan kaki ditekuk (dorsal recumbent)
7) Mencuci tangan
8) Memakai sarung tangan
9) Membuka labia mayora dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan yang tidak
dominan
10) Mengambil sekret vagina dengan kapas lidi dengan tangan yang dominan sesuai
kebutuhan
11) Menghapus sekret vagina pada objek gelas yang disediakan
12) Membuang kapas lidi pada bengkok
13) Memasukkan objek gelas ke dalam piring petri atau ke dalam tabung kimia dan
ditutup
14) Memberi label dan mengisi formulir pengiriman spesimen untuk dikirim ke
laboratorium
15) Membereskan alat
16) Melepas sarung tangan
17) Mencuci tangan
18) Melakukan dokumentasi tindakan

C. PERSIAPAN UNTUK PEMERIKSAAN


1. Pemeriksaan USG

Perkembangan Ultrasonografi (USG) sudah dimulai sejak kira-kira tahun 1960, dirintis oleh
Profesor Ian Donald. Sejak itu, sejalan dengan kemajuan teknologi bidang komputer, maka
perkembangan ultrasonografi juga maju dengan sangat pesat, sehingga saat ini sudah dihasilkan
USG 3 Dimensi dan Live 3D (ada yang menyebut sebagai USG 4D).

a.Indikasi

1). Dalam bidang obstetri, indikasi yang dianut adalah melakukan pemeriksaan USG dilakukan
begitu diketahui hamil, penapisan USG pada trimester pertama (kehamilan 10 14 minggu),
penapisan USG pada kehamilan trimester kedua (18 20 minggu), dan pemeriksaan tambahan
yang diperlukan untuk memantau tumbuh kembang janin.

2). Dalam bidang ginekologi onkologi pemeriksaannya diindikasikan bila ditemukan kelainan
secara fisik atau dicurigai ada kelainan tetapi pada pemeriksaan fisik tidak jelas adanya kelainan
tersebut.

3). Dalam bidang endokrinologi reproduksi pemeriksaan USG diperlukan untuk mencari kausa
gangguan hormon, pemantauan folikel dan terapi infertilitas, dan pemeriksaan pada pasien
dengan gangguan haid.

4). Sedangkan indikasi non obstetrik bila kelainan yang dicurigai berasal dari disiplin ilmu lain,
misalnya dari bagian pediatri, rujukan pasien dengan kecurigaan metastasis dari organ ginekologi
dll.

b. Cara Pemeriksaan
Pemeriksaan USG dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
1) Pervaginam
a) Memasukkan probe USG transvaginal/seperti melakukan pemeriksaan dalam.
b) Dilakukan pada kehamilan di bawah 8 minggu.
c) Lebih mudah dan ibu tidak perlu menahan kencing.
d) Lebih jelas karena bisa lebih dekat pada rahim.
e) Daya tembusnya 8-10 cm dengan resolusi tinggi.
f) Tidak menyebabkan keguguran.
2) Perabdominan
a) Probe USG di atas perut.
b) Biasa dilakukan pada kehamilan lebih dari 12 minggu.
c) Karena dari atas perut maka daya tembusnya akan melewati otot perut, lemak baru
menembus rahim.

c. Jenis Pemeriksaan USG


1) USG 2 Dimensi

Menampilkan gambar dua bidang (memanjang dan melintang). Kualitas gambar yang baik
sebagian besar keadaan janin dapat ditampilkan.

2). USG 3 Dimensi

Dengan alat USG ini maka ada tambahan 1 bidang gambar lagi yang disebut koronal. Gambar
yang tampil mirip seperti aslinya. Permukaan suatu benda (dalam hal ini tubuh janin) dapat
dilihat dengan jelas. Begitupun keadaan janin dari posisi yang berbeda. Ini dimungkinkan karena
gambarnya dapat diputar (bukan janinnya yang diputar).

3). USG 4 Dimensi

Sebetulnya USG 4 Dimensi ini hanya istilah untuk USG 3 dimensi yang dapat bergerak (live
3D). Kalau gambar yang diambil dari USG 3 Dimensi statis, sementara pada USG 4 Dimensi,
gambar janinnya dapat bergerak. Jadi pasien dapat melihat lebih jelas dan membayangkan
keadaan janin di dalam rahim.

4).USG Doppler
Pemeriksaan USG yang mengutamakan pengukuran aliran darah terutama aliran tali pusat. Alat
ini digunakan untuk menilai keadaan/kesejahteraan janin. Penilaian kesejahteraan janin ini
meliputi: Gerak napas janin (minimal 2x/10 menit), Tonus (gerak janin), Indeks cairan ketuban
(normalnya 10-20 cm), Doppler arteri umbilikalis, Reaktivitas denyut jantung janin.

2. Pemeriksaan Rontgen

Teknologi rontgen sudah digunakan lebih dari satu abad yang lalu. Tepatnya sejak 8 November
1890 ketika fisikawan terkemuka berkebangsaan Jerman, Conrad Roentgen, menemukan sinar
yang tidak dikenalinya, yang kemudian diberi label sinar X. Sinar ini mampu menembus bagian
tubuh manusia, sehingga dapat dimanfaatkan untuk memotret bagian-bagian dalam tubuh. Berkat
jasanya bagi dunia kedokteran, banyak nyawa bisa diselamatkan, hingga ia mendapat
penghargaan Nobel di tahun 1901.
Pada prinsipnya sinar yang menembus tubuh ini perlu dipindahkan ke format film agar bisa
dilihat hasilnya. Seiring dengan kemajuan teknologi, kini foto rontgen juga sudah bisa diproses
secara digital tanpa film. Sementara hasilnya bisa disimpan dalam bentuk CD atau bahkan
dikirim ke berbagai belahan dunia menggunakan teknologi e-mail.

a.Persiapan pemeriksaan

1)Radiografi konvensional tanpa persiapan.


Maksudnya, saat anak datang bisa langsung difoto. Biasanya ini untuk pemeriksaan
tulang atau toraks.

2) Radiografi konvensional dengan persiapan.

Pemeriksaan radiografi konvensional yang memerlukan persiapan di antaranya untuk foto


rontgen perut. Sebelum pelaksanaan, anak diminta untuk puasa beberapa jam atau hanya makan
bubur kecap. Dengan begitu ususnya bersih dan hasil fotonya pun dapat dengan jelas
memperlihatkan kelainan yang dideritanya.
3) Pemeriksaan dengan kontras

Sebelum dirontgen, kontras dimasukkan ke dalam tubuh dengan cara diminum, atau
dimasukkan lewat anus, atau disuntikkan ke pembuluh vena.

b. Indikasi pemeriksaan
1) Sesak napas pada bayi.
Untuk memastikan ada tidaknya kelainan di toraksnya (rongga dada), dokter membutuhkan foto
rontgen agar penanganannya tepat.

2) Bayi muntah hijau terus-menerus.


Bila dokter mencurigai muntahnya disebabkan sumbatan di saluran cerna, maka pengambilan
foto rontgen pun akan dilakukan. Pertimbangan dokter untuk melakukan tindakan ini tidak
semata-mata berdasarkan usia, melainkan lebih pada risk and benefit alias risiko dan manfaatnya.

3) Deteksi masalah pada tulang, paru-paru, usus, dan organ dalam lainnya.

Bagi balita sampai kalangan dewasa, foto rontgen lazimnya dimanfaatkan untuk mendeteksi
masalah pada tulang, paru-paru, usus, dan organ dalam lainnya.

3. Kardiotokografi (CTG).
a. Pengertian
1) Secara khusus

CTG adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur DJJ pada saat kontraksi maupun
tidak.

2) Secara umum

CTG merupakan suatu alat untuk mengetahui kesejahteraan janin di dalam rahim, dengan
merekam pola denyut jantung janin dan hubungannya dengan gerakan janin atau kontraksi
rahim.

Jadi bila doppler hanya menghasilkan DJJ maka pada CTG kontraksi ibu juga terekam dan
kemudian dilihat perubahan DJJ pada saat kontraksi dan diluar kontraksi. Bila terdapat
perlambatan maka itu menandakan adanya gawat janin akibat fungsi plasenta yang sudah tidak
baik

.
Cara pengukuran CTG hampir sama dengan doppler hanya pada CTG yang ditempelkan 2 alat
yang satu untuk mendeteksi DJJ yang satu untuk mendeteksi kontraksi, alat ini ditempelkan
selama kurang lebih 10-15 menit

b. Indikasi Pemeriksaan CTG

1) Kehamilan dengan komplikasi (darah tinggi, kencing manis, tiroid, penyakit infeksi kronis,
dll)
2) Kehamilan dengan berat badan janin rendah (Intra Uterine Growth Retriction)
3) Oligohidramnion (air ketuban sedikit sekali)
4) Polihidramnion (air ketuban berlebih)

c. Pemeriksaan CTG

1) Sebaiknya dilakukan 2 jam setelah makan.


2) Waktu pemeriksaan selama 20 menit,
3) Selama pemeriksaan posisi ibu berbaring nyaman dan tak menyakitkan ibu maupun bayi.
4) Bila ditemukan kelainan maka pemantauan dilanjutkan dan dapat segera diberikan
pertolongan yang sesuai.
5) Konsultasi langsung dengan dokter kandungan
Jenis-Jenis Pemeriksaan Diagnostik Yang Berhubungan Dengan SIH

a. Pemriksaan Fisik
Inspeksi
Adalah metode observasi yang digunakan saat pemeriksaan fisik. Teknik ini mengguanakan
penglihatan, penciuman dan pendengaran untuk mengetahui kondisi normal atau adanya deviasi
dari bagian tubuh yang diperiksa. Metode ini adalah langkah pertama dalam pemeriksaan fisik.

Dalam pengkajian fisik, lakukan pemeriksaan dengan melihat penampilan umum. Perhatikan
penampilan umum, setelah penampiilan ini lanjutkan pemeriksaan dengan pengkajian yang
sistematis selanjutnya. Ketika melakukan pemeriksaan ini, pastikan bahwa penerangan dan sinar
cahaya cukup untuk melakukan pemeriksaan.

Palpasi
Merupakan metode untuk merasakan dengan tangan saat pemeriksaan fisik. Dengan
pemeriksaan ini anda dapat menentukan:

Tekstur (kasar/halus)

Suhu (hangat / panas / dingin)

Kelembaban (kering, basah atau lembab)

Gerakan (diam atau tremor otot)

Konsistensi jaringan (padat atau berair)

A. Pemeriksaan fisik pada system imun


1. Pengkajian pada system imun
Penilaian fungsi imun dimulai dari hasil anamnesis riwayat kesehatan pasien dan pemeriksaan
fisik. Riwayat kesehatan pasien harus mengandung informasi yang rinci mengenai factor factor
dimasa lalu serta sekarang dan berbagai kejadian yang menunjukan status system imun
disamping factor factor dan kejadian yang dapat mengetahui fungsi sistem imun. Faktor
faktor dan kejadian ini mencakup infeksi, kelainan alergi, kelainan autonium, penyakit
neoplasma, keadaan sakit yang kronis, riwayat pembedahan, imunisasi, dan penggunaan obat
obatan, transfuse darah, faktor faktor lain yang mempengaruhi fungsi imun dan hasil
pemeriksaan laboratorium serta tes diagnostic lainnya. Pengkajian fisik pasien palpasi nodus
limfatikus dan pemeriksaan kulit, membrane mukosa dan sistem respiratorius, gastrointestinal,
urogenital, kardiovaskuler serta neurosensorik.
Pada pemeriksaan jasmani,kondisi kulit dan membrane mukosa pasien harus di nilai untuk
menemukan lesi,dermatitis,purpura(pendarahan sub kutan),urtikaria,inflamasi,ataupun
pengeluaran secret. Selain itu, tanda-tanda infeksi perlu di perhatikan. Suhu tubuh pasien di catat
dan observasi di lakukan untuk mengamati gejala mengigil serta perspirasi.kelenjar limpe
servikal anterior serta posterior,aksilaris dan ingminalis harus di palpasi untuk menemukan
pembesaran;jika kelenjar limpe atau nodus limpatikus teraba, maka lokasi,ukuran,konsistensi,dan
keluhan nyeri tekan saat palpasi harus di catat. Pemeriksaan sendi-sendi di lakukan untuk menilai
nyeri tekan serta pembengkakan dan keterbatasan kisaran gerak. Status respiratorius pasien di
evaluasi dengan memantau frekuensi pernapasan dan menilai adanya gejala
batuk(kering/produktif) serta setiap suara paru yang abnormal(mengi,krepitasi,ronchi). Pasien
juga di kaji untuk menemukan rhinitis,hiperventilasi dan bronkospasme.

Status kardiovaskuler

Sensitivitas Bagian Tangan

Bagian tangan yang dipakai Hal Yang Dapat Dirasakan

Jari-jari (ujung jari) Adanya gerakan halus jaringan atau pulsasi

Permukaan tangan Getaran yang mungkin terjadi (i.e., thrills, fremitus)

Punggung tangan Suhu kulit

Palpasi

Jenis Tujuan Teknik

Palpasi Ringan Digunakan untuk ada tidaknya Tekan kulit hingga inci dengan
abnomalitas permukaan (contoh, ujung jari
tekstur, suhu, kelembaban,
elastisitas, pulsasi, organ-oran
superfisial, dll)

Palpasi Dalam Digunakan untuk meraba organ Tekan kulit sedalam 1 hingga 2
dalam dan masa untuk melihat inci dengan tekanan yang mantap.
ukuran, bentuk, simetris atau Mungkin diperlukan juga tangan
mobiltasnya lainnya untuk membantu penekanan

Palpasi Bimanual Digunakan untuk mengkaji organ Gunakan dua tangan, satu tangan

(gunakan teknik ini dalam di rongga abdomen. pada sisi masing-masing bagian

dengan hati-hati tubuh atau organ yang diperiksa

karena mungkin Tangan yang di bagian atas


akan merangsang digunakan untuk memberikan
nyeri atau tekanan ketika tangan yang di
mengganggu organ bawah digunakan untuk memeriksa
internal tubuh) jaringan yang dalam

Gunakan satu tangan untuk


menekan secara dalam dinding
perut abdominal untuk
menggerakkan jaringan dalam arah
tangan yang lainnya, dan gunakan
tangan tersebut untuk merasakan
jaringan yang diperiksa

B. Pemeriksaan Labolatorium
Untuk memastikan diagnosis harus ditunjang dengan pemeriksaan labolatorium dan pemeriksaan
spesifik. Pemeriksan yang dapat dilakukan ialah :

1. Pemeriksaan darah rutin feses dan kemih, serta kimia dara


2. Pemeriksaan sediaan apus basah seperti pemeriksaan terhadap hiva ( dengan KOH 10% )
trikomonas ( NaCI 0,9% )
3. Periksaan sekret/ bahan-bahan dari kulit dengan pewarnaan kusus, seperti gram ( untuk bakteri ),
Ziehl Nielsen untuk hasil tahan asam, gentian violet untuk virus, microscop lapangan gelap
untuk spiroketa, pemeriksaan cairan gelembung( untuk menghitung eosinofil ) dan pemriksaan
sel tzanck.
4. Pemeriksaan serologik untuk sefilis, frambusia.
5. Pemeriksaan dengan sinar wood terhadap infeksi jamur kulit.
6. Pemeriksaan terhadap alergi: uji gores, tetes, tempel, tusuk, dan uji suntik
7. Pemeriksaan Lab yang berhubungan dengan hematologi adalah sebagai berikut :
Pemeriksaan Hemaglobin, Jumlah Leokosit, Eritrosit, Trombosit, Hemaorit, Retikulosit,
Fibrinogen, Gol. Darah dan Rh-faktor.
8. Pemeriksaan Lab yang berhubungan dengan imunolgi adalah sebagai berikut :
Widal, ASTO, Rheumatoid, C-Reactive Protein, Seramoeba, V.D.R.L, T.P.H.A, R.P.R, Anti-
HIV, HbsAG, Anti-HbeAG, Anti-HBc totall, IgM Anti-HBc dan IgM Anti-HAV.

C. Diagnostik pada penyakit AIDS.


Kriteria diagnostiknya mencakup penurunan berat yang tidak dikehendakiyang melampaui 10%
dari berat badan dasar, diare yang kronis selama lebih 30 hari atau kelemahan yang kronis, dan
demam yang kambuhan atau menetap tanpa adanya penyakit lain yang menjelaskan gejala ini.
Malnutrisi protein energy yang terjadi bersifat multifactor pada sebagian keadaan sakit yang
berkaitan dengan AIDS, pesiennya akan mengalami keadaan hipermetabolik dimana terjadi
pembakaran kalori yang berlebihan dan kehilangan leanbodymass keadaan ini serupa dengan
keadaan stress seperti sepsis serta trauma dan dapat menimbulkan kegagalan organ. Pembedaan
anatra keadaan kakeksia ( pelisutan) adan malnutrisi atau antara kakeksia dan penurunan berat
badan yang biasa terjadi sangat penting mengingat ganaguan metabolik pada sindrom pelisutan
tidak dapat diubah dengan dukungan nutrisi saja.

D. Evaluasi diagnostic
1. Tes laboratorium.
Sejak ditemukannya HIV pada tahun 1983, para ilmuan telah belajar banyak tentang
karakteristik dan patogenisita virus tersebut. Berdasarkan pengetahuan ini telah dikembangakan
sejumlah tes diagnostik yang sebagian masih bersifat penelitian tes atau pemeriksaan
laboratorium kini digunakan untuk mengdiagnostik HIV dan memantau perkembangan penyakit
serta responnya terhadap terapi pada orang terinfeksi HIV.
2. Tes antibody HIV.
Kalau seseorang terinfeksi virus HIV, system imunnya akan beraksi dengan memproduksi
antibody terhadap virus. Antibody umumnya terbentuk dalam waktu 3-12 minggu setelah terkena
infeksi,kendati pembentukan antibody ini dapat memerlukan waktu sampai 6-14 bulan;
kenyataan ini menjelaskan mengapa seseorang dapat terinfeksi tetapi pada mulanya tidak
memperlihatkan hasil test yang positif. Sayangnya, antibody untuk hiv tidak efektif dan tidak
dapat menghentikan perkembangan infeksi hiv. Kemampuan untuk mendeteksi antibody hiv
dalam darah telah memungkinkan pemeriksaan skring produk darah dan memudahkan evaluasi
diagnostic pada pasien-pasien terinfeksi hiv. Pada 1985, food and drug administration(fda)
mengeluarkan lisensi untuk uji kadar antibody hiv bagi semua pendonoran darah dan plasma.
Ada 3 buah test untuk memastikan danya antibody terhadap hiv dan membantu mendiagnostik
infeksi hiv.
1. Test enzyme linket immunosorbent assay(elisa) mengidentifikasi antibody secara spesifik yang
di tujukan pada virus hiv.
Pemeriksaan westernblot assay : merupakan test yg dapat mengenali antibody hiv dan digunakan
untuk memastikan seropositifitas seperti yang teridentifikasi lewat prosedur elisa.
2. Indirect immonofluorescene assay (IFA) yang saat ini sering digunakan dokter sebagai
pengganti pemeriksaan western blot untuk seropositifitas.
3. Radioimmunoprecipitation assay (RIFA) tes ini lebih mendeteksi protein HIV ketimbang
antibbodi.

B. Pemeriksaan diagnostic pada system hematologi


1. Pemeriksaan Fungsi Hemostasis
Kelainan hemostasis dengan perdarahan abnormal dapat merupakan kelainan pembuluh darah,
trombositopenia atau gangguan fungsi trombosit, dan kelainan koagulasi. Sejumlah pemeriksaan
sederhana dapat dikerjakan untuk menilai fungsi trombosit, pembuluh darah, serta komponen
koagulasi dalam hemostasis.
Pemeriksaan penyaring ini meliputi pemeriksaan darah lengkap (Complete Blood Count/CBC),
evaluasi darah apus, waktu perdarahan (Bleeding Time/ BT), waktu protrombin (Prothrombin
Time/PT), activated partial thromboplastin time (aPTT), dan agregasi trombosit.
CBC dan evaluasi darah apus. Pasien dengan kelainan perdarahan pertama kali harus
menjalani pemeriksaan CBC dan pemeriksaan apusan darah perifer. Selain memastikan adanya
trombositopenia, dari darah apus dapat menunjukkan kemungkinan penyebab yang jelas seperti
misalnya leukemia.
Pemeriksaan penyaring sistem koagulasi. Meliputi penilaian jalur intrinsik dan ekstrinsik dari
sistem koagulasi dan perubahan dari fibrinogen menjadi fibrin. PT (Prothrombin Time)
mengukur faktor VII, X, V, protrombin, dan fibrinogen. aPTT (activated Partial Prothrombin
Time) mengukur faktor VIII, IX, XI, dan XII. TT (Thrombin Time) cukup sensitif untuk menilai
defisiensi fibrinogen atau hambatan terhadap trombin.
Pemeriksaan faktor koagulasi khusus. Pemeriksaan fibrinogen, faktor vW, dan faktor VIII.
Waktu perdarahan (Bleeding Time/BT). Memeriksa fungsi trombosit abrnormal misalnya pada
defisiensi faktor Von Willebrand (VWf). Pada trombositopenia, waktu perdarahan juga akan
memanjang, namun pada perdarahan abnormal akibat kelainan pembuluh darah, waktu
perdarahan biasanya normal.
Pemeriksaan fungsi trombosit. Tes agregasi trombosit mengukur penurunan penyerapan sinar
pada plasma kaya trombosit sebagai agregat trombosit.
Pemeriksaan fibrinolisis. Peningkatan aktivator plasminogen dalam sirkulasi dapat dideteksi
dengan memendeknya euglobulin clot lysis time. (Suharti, 2007).

2. Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP)


ITP adalah kelainan akibat trombositopenia yang tidak diketahui penyebabnya (idiopatik), tetapi
ternyata diketahui bahwa sebagian besar kelainan ini disebabkan oleh proses imun, karena itu
disebut juga autoimmune thrombocytopenic purpura.
Pada ITP jumlah trombosit menurun disebabkan oleh trombosit diikat oleh antibodi, terutama
IgG. Antibodi terutama ditujukan untuk reseptor GP IIb/IIIa pada trombosit. Trombosit yang
diselimuti antibodi kemudian difagositir oleh makrofag dalam RES terutama lien, akibatnya
terjadi trombositopenia.
Gambaran klinik ITP, yaitu
1) onset pelan dengan perdarahan melalui kulit atau mukosa berupa peteki, ekimosis, easy
bruising, menorrhagia, epistaksis atau perdarahan gusi;
2) perdarahan SSP jarang, tetapi fatal; dan
3) splenomegali, terjadi pada 10% kasus.
Pada ITP kelainan laboratorium yang terjadi:
1) darah tepi: trombosit paling sering antara 10.000-50.000/mm3;
2) sumsum tulang: megakariosit meningkat, multinuklear, disertai lobulasi; dan
3) imunologi: adanya antiplatelet IgG pada permukaan trombosit atau dalam serum. Yang lebih
spesifik adalah antibodi terhadap gp IIb/IIIa atau gp Ib.
Diagnosis ITP ditegakkan bila dijumpai:
1) gambaran klinik berupa perdarahan kulit atau mukosa;
2) trombositopenia;
3) sumsum tulang: megakariosit normal atau meningkat;
4) antibodi antiplatelet (IgG) positif, tetapi tidak harus demikian; dan
5) tidak ada penyebab trombositopenia sekunder (Bakta, 2006).
a. Penatalaksanaan ITP
1. Terapi untuk mengurangi proses imun sehingga mengurangi perusakan trombosit.

a) Terapi kortikosteroid menekan aktivitas makrofag, mengurangi pengikatan IgG oleh


trombosit, dan untuk menekan sintesis antibodi.
b) Jika dalam 3 bulan tidak memberi respon pada kortikosteroid (trombosit <30109/l) atau perlu
dosis pemeliharaan yang tinggi maka diperlukan splenektomi, atau obat-obatan immunosupresif
lain seperi vincristine, cyclophospamide, atau azathiprim.
2. Terapi suportif , terapi untuk mengurangi pengaruh trombositopenia.
a) Pemberian androgen (danazol).
b) Pemberian high dose immunoglobulin untuk menekan fungsi makrofag.

b.Pemeriksaan laboratorium lanjutan.


Untuk memastikan diagnosis ITP, maka perlu pemeriksaan apusan darah tepi, pemeriksaan
sumsum tulang, dan pemeriksaan imunologi.
Sebaiknya pasien diberi terapi kortikosteroid untuk mengurangi proses imun sehingga
mengurangi perusakan trombosit. Apabila kortikosteroid tidak menghasilkan respon, maka
dilakukan splenektomi atau pemberian obat-obat immunosupresif lain. Selain itu, juga dapat
dilakukan terapi suportif untuk mengurangi pengaruh trombositopenia, seperti pemberian
androgen, pemberian high dose immunoglobulin, dan transfusi konsentrat trombosit.
3. Pemeriksaan dan Diagnosis Leukemia

Hematologi rutin dan Hitung darah lengkap digunakan untuk mengetahui kadar Hb-
eritrosit, leukosit, dan trombosit.
Apus darah tepi digunakan untuk mengetahui morfologi sel darah, berupa bentuk, ukuran,
maupun warna sel-sel darah, yang dapat menunjukkan kelainan hematologi.
Aspirasi dan biopsi sumsum tulang digunakan untuk mengetahui kondisi sumsum tulang,
apakah terdapat kelainan atau tidak.
Karyotipik digunakan untuk mengetahui keadaan kromosom dengan metode FISH
(Flurosescent In Situ Hybridization).
Immunophenotyping mengidentifikasi jenis sel dan tingkat maturitasnya dengan antibodi
yang spesifik terhadap antigen yang terdapat pada permukaan membran sel.
Sitokimia merupakan metode pewarnaan tertentu sehingga hasilnya lebih spesifik
daripada hanya menggunakan morfologi sel blas pada apus darah tepi atau sumsum
tulang.
Analisis sitogenetik digunakan untuk mengetahui kelainan sitogenetik tertentu, yang pada
leukemia dibagi menjadi 2: kelainan yang menyebabkan hilang atau bertambahnya materi
kromosom dan kelainan yang menyebabkan perubahan yang seimbang tanpa
menyebabkan hilang atau bertambahnya materi kromosom.

1. Penatalaksanaan Leukemia
Pengobatan utama untuk keganasan hematologi selama beberapa dekade adalah pembedahan,
kemoterapi, dan terapi radiasi (Baldy, 2006). Saat ini, pengobatan yang lain tersedia terbatas
tetapi penggunaannya meningkat, dengan kemajuan dalam uji klinis, yang dikenal sebagai
Biological. Kelompok obat ini adalah zat alami yang diambil dari sumber alami atau disintesis
dalam laboratorium untuk menyerang target biologi tertentu (Finley, 2000). Biological dianggap
menjaga sel induk hematopoietik dan oleh karena itu kurang toksik dan bersifat kuratif (Baldy,
2006).
Kemoterapi atau Terapi Obat Sitotoksik. Obat sitotoksik merusak kapasitas sel untuk
reproduksi. Tujuan terapi sitotoksik mula-mula menginduksi remisi dan selanjutnya mengurangi
populasi sel leukemik yang tersembunyi, dan memulihkan sumsum tulang dengan kombinasi
siklik dua, tiga atau empat obat. Pemulihan ini tergantung pada pola pertumbuhan kembali
(differential regrowth pattern) sel hemopoietik normal dan sel leukemik.
Transplantasi Sumsum Tulang. Transplantasi sumsum tulang dilakukan untuk memulihkan
sistem hemopoietik pasien setelah penyinaran seluruh tubuh dan kemoterapi intensif diberikan
dalam usaha membunuh semua leukemmik yang tinggal (Hoffbrand and Petit, 1996).
Terapi ALL dibagi menjadi:
Induksi remisi
Terapi ini biasanya terdiri dari prednisone, vinkristin, antrasiklin dan L-asparaginase.
Intensifikasi atau konsolidasi
Berbagai dosis mielosupresi dari obat yang berbeda diberikan tergantung protocol yang dipakai.
Profilaksis SSP
Terdiri dari kombinasi kemoterapi intratekal, radiasi cranial, dan pemberian sistemik obat yang
mempunyai bioavailabilitas yang tinggi seperti metotreksat dosis tinggi dan sitarabin dosis
tinggi.
Pemeliharaan jangka panjang
Terapi ini terdiri dari 6-merkaptopurin tiap hari dan metotreksat seminggu sekali selama 2 tahun
(Fianza, 2007).

Daftar Pustaka

Bobak, K. Jensen, 2005, Perawatan Maternitas. Jakarta. EGC

Elly, Nurrachmah, 2001, Nutrisi dalam keperawatan, CV Sagung Seto, Jakarta.


Depkes RI. 2000. Keperawatan Dasar Ruangan Jakarta.

Engenderhealt. 2000. Infection Prevention, New York.

JHPIEGO, 2003. Panduan Pengajaran Asuhan Kebidanan, Buku 5 Asuhan Bayi Baru Lahir
Jakarta. Pusdiknakes.

JNPK_KR.2004. Panduan Pencegahan Infeksi Untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dengan


Sumber Daya Terbatas. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

Johnson, Ruth, Taylor. 2005. Buku Ajar Praktek Kebidanan. Jakarta. EGC.

Kozier, Barbara, 2000, Fundamental of Nursing : Concepts, Prosess and Practice : Sixth edition,
Menlo Park, Calofornia.

Potter, 2000, Perry Guide to Basic Skill and Prosedur Dasar, Edisi III, Alih bahasa Ester Monica,
Penerbit buku kedokteran EGC.
PENGERTIAN Laparoscopy adalah suatu tindakan memasukkan laparoscope kedalam rongga
peritoneal untuk mendiagnosis penyakit dan seagai terapi pada klien dengan gangguan
gastrointestinal. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan jarum kecil pada dinding abdomen
dengan menggunakan fiberoptic laparoscope khusus. Selanjutnya gas (carbon dioxide)
dimasukkan dalam rongga abdomen untuk mepermudah visualisasi. Insisi dilakukan dibawah
umbilikus untuk memvisualisasikan struktur rongga abdomen. TUJUAN PEMERIKSAAN
Untuk mempermudah identifikasi organ dan struktur organ dalam abdomen. Biopsy dapat
dilakukan bila perlu. Keuntungan dari prosedur ini bila masalah NO TINDAKAN BOBOT
NILAI BOBOT X NILAI KETERANGAN I PENGKAJIAN 2 1. Mengkaji program/instruksi
medik tentang rencana laparoscopy dan persiapannya. 2. Mengkaji tanda-tanda vital. 3. Mengkaji
adanya pemeriksaan laboratorium : hemoglobin, hematokrit, dan masa pembekuan darah. II
INTERVENSI 3 A. Persiapan Alat : 1. Surat ijin tindakan (informed concent). 2. Obat laxantia
atau alat untuk huknah/enema (sesuai program medik). 3. Pemeriksaan diagnostik sebelumnya,
satus atau kartu opname klien. 4. Alat pemeriksaan tanda-tanda vital. B. Persiapan Klien : 1.
Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang tujuan dan prosedur pemeriksaan yang akan
dilakukan. 2. Menjelaskan jenis anesthesi yang akan dilakukan. 3. Meminta tanda tangan
persetujuan tindakan (informed concent). 4. Menjelaskan kepada klien kemungkinan adanya rasa
nyeri sesudah pemeriksaan. III IMPLEMENTASI 3 1. Menginstruksikan kepada klien untuk
puasa 6 8 jam sebelum tindakan. 2. Memberikan obat laxantia (bila klien sudah buang air besar
maka obat tidak perlu diberikan). 3. Menganjurkan klien untuk buang air kecil. a. Menjelaskan
kepada klien mengenai prosedur tindakan : b. Akan dilakukan insisi 2 cm dibawah umbilicus,
alat laparoscope dimasukkan kedalam rongga abdomen lalu dimasukkan gas CO2 (carbon
dioxide) kedalam abdomen. c. Setelah pemeriksaan gas CO2 akan dikeluarkan. d. Luka insisi
akan dijahit. 4. Mengantar klien untuk pemeriksaan dengan membawa rekam medik dan hasil
pemruiksaan diagnostik sebelumnya. IV EVALUASI 1 1. Mengevaluasi respon serta toleransi
klien sebelum, selama, dan sesudah prosedur. 2. Mengevaluasi adanya keluhan nyeri. 3.
Mengobservasi tanda-tanda vital pasca prosedur secara periodik. 4. Mengobservasi adanya
tanda-tanda perdarahan dan kondisi balutan. V DOKUMENTASI 1 1. Mencatat respon serta
toleransi klien sebelum, selama, dan sesudah prosedur. 2. Mencatat adanya tanda-perdarahan,
hematoma pada klien. 3. Mencatat hasil pemeriksaan tanda-tanda vital. VI SIKAP 1. Sistematis.
2. Hati-hati. 3. Berkomunikasi. 4. Mandiri. 5. Teliti. 6. Tanggap terhadap respon klien. 7. Rapih.
8. Menjaga privacy. 9. Sopan. Copy the BEST Traders and Make Money : http://ow.ly/KNICZ
Copy the BEST Traders and Make Money : http://ow.ly/KNICZ

Copy the BEST Traders and Make Money : http://ow.ly/KNICZ