Anda di halaman 1dari 28

TUGAS BESAR PERENCANAAN PROYEK INSTALASI

LISTRIK SUTM/ SUTR untuk SUPPLY LISTRIK PABRIK


PERAK dan PERUMAHAN DINAS PT. MAJU MAKMUR

MAKALAH
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Instalasi Tegangan Menengah
Yang dibina oleh Heri Sungkowo ST,. MT

Oleh:
RETNO SELISTIYONINGSIH : 1531120028

PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
TAHUN 2016/2017
Soal :
DATA PERUMDIN
1. Daya rumah 900 VA = 20 Rumah
2. Daya Rumah 1300 VA = 25 Rumah
3. Daya Rumah 2200 VA = 15 Rumah
4. Lapangan Sepak Bola dan Atlektik 120 x 70 meter
DATA SURVEI LAPANGAN
1. Jarak SUTM yang ada terhadap GTT yang akan dibangun 100 meter.
2. Jarak GTT yang ada terdahap SUTR yang akan dibangun 75 meter.
3. Data pabrik pada LV MDP
Kelompok 1 = 500 kVA
Kelompok 2 = 200 kVA
Kelompok 3 = 150 kVA
Kelompok 4 = 100 kVA
Jarak pabrik terhadap SUTM yang ada sebesar 150 meter

TUGAS
1. Buat Single Line Diagram
2. Buat RAB SUTM
3. Buat RAB GTT
PERENCANAAN DESAIN
INSTALASI LAPANGAN DAN
ATLEKTIK

STADION JAYA WIJAYA


PERENCANAAN LAMPU
LAPANGAN DAN ATLEKTIK

STADION JAYA WIJAYA


PERENCANAAN DESAIN INSTALASI LAMPU STADION
LAPANGAN DAN ATLEKTIK

8m
110 m

70 m
Gambar1. Luas Lapangan Stadion

Keteragan:

Panjang = 120 m

Lebar = 70 m

Untuk merencanakan instalasi penerangan pada Stadion kita harus


mengacu pada standarisasi FIFA sebagai induk organisasi sepak bola
dunia yang memiliki tingkatan sesuai dengan kegunaannya.

Untuk penerangan yang baik tentunya mempunyai mempunyai


standar tertentu, maka dari itu FIFA sebagai badan federasi tertinggi sepak
bola memberikan 5 kelas untuk penerangan stadion.

Untuk kelas I= 200 Lx


Untuk kelas II = 500 Lx
Untuk kelas III = 750 Lx
Untuk kelas IV = (iluminasi vertical 1400 Lx dan 2000 Lx untuk kamera
yang dapat diubah-ubah) juga iluminasi horizontal 2500 Lx
Untuk kelas V = iluminasi vertical 1800 Lx dan 2400 Lx (untuk kamera
yang dapat diubah-ubah) juga iluminasi horizontal 3500 Lx. Kelas I
digunakan untuk latihan dan rekreasi, kelas II klub dan liga, kelas III
pertandingan nasional, kelas IV pertandingan nasional, kelas V
pertandingan internasional.
Perencanaan Titik Lampu Pada Lapangan

Perencanaan Titik Tengah Pondasi Manara

Standar FIFA tentang peletakan titik tengah pondasi adalah 15 di


belakang titik tengah gawang dan 20 dari sisi lapangan. Dapat dilihat
pada gambar di bawah ini

20 15

Gambar 2.Perencanaan titik tengah pondasi tiang

Warna menandakan area yang tidak boleh ada lampu sorot

Peletakan tiang lampu diletakkan di sudut-sudut dekat dengan


tribun di mana peletakan tiang-tiang lampu tidak mengganggu
kenyamanan penglihatan penonton.

Sehingga ditentukan jarak tiang lampu penerangan dari titik tengah


lapangan 94,5 meter dengan menggunakan standar FIFA dan tidak
mengganggu kenyamanan penglihatan penonton.
Perhitungan Tinggi Menara

69
,5
m

Gambar 3.Perencanaan tiang Lampu Stadion

Contoh penentuan tinggi tiang pada tiang lampu 1 :

Tinggi tiang lampu 1 = tan 25 . jarak titik tengah lapangan ke tiang

= 0,47 x 69,5

= 32,66 m ~> 33 m

33 m

69,5 m 25

Gambar 4.Perencanaan jarak tinggi dan jarak titik tengah ke tiang


Perencanaan Pemilihan Armature Lampu Sorot

Menggunakan armature polar dengan tipe arena Vision MVF 403 C

Gambar 5 Armature polar tipe arena Vision MVF 403 C

Pemilihan Lampu

Menggunakan lampu tipe MHN-SA 2000 watt,bila di pasang pada


armature polar tipe arena Vision MVF 403C akan menghasilkan flux 200000
lumen.

Gambar 6 Lampu tipe MHN-SA 2000 watt


Perhitungan Titik Lampu Stadion

Perhitungan titik lampu stadion menggunakan rumus :

E A
n
F Kd
Keterangan :

N = Jumlah armature yang diperlukan

E = Kuat penerangan ( Lux )

A = luas area ( m2 )

= Faktor pemeliharaan

F = Kuat pencahayaan dari lampu ( Lumen )

Kd = Faktor depresi

Data lampu MHN-SA 2000 watt

F=200000 lm

= 0,5 ( efisiensi total lampu dan arneture )

Data umum :

E= 1400 lux ( yang direncanakan pada kelas IV )

A= 120 m x 70 m

Kd= 0,8 ( pada umumnya )

Sehingga jumlah armature yang digunakan adalah :

E A
n
F Kd
1400 120 70

0.5 200.000 0,8
147 Lampu
147
Jumlah lampu per tiang = = 36,5 ~ 37 unit lampu
4

Untuk menghilangkan efek stroboskopik jumlah lampu ditambah


1 yaitu menjadi 38 unit.

Perhitungan Sudut Lampu Sorot

Jumlah lampu yang telah dihitung dapat berlanjut ke penentuan sudut


lampu-lampu tersebut. Perhitungan sudut lampu-lampu sorot didapatkan dari titik
lampu yang telah ditentukan.

X (m) = 70 m

Y (m) = 120 m

C = 120 2 70 2 69,5m

h = 69,5 m

Sudut masing masing lampu sorot:

Lampu sorot 1 = 32,6

Lampu sorot 2 = 40

Lampu sorot 3 = 47,47

Lampu sorot 4 = 47,47

Lampu sorot 5 = 50,66

Lampu sorot 6 = 55,22

Lampu sorot 7 = 57,67


Lampu sorot 8 = 59,1

Lampu sorot 9 = 60,94

Sehingga dipilih lampu dengan sudut lampu sorot

Perencanaan Penghantar Dan Pengaman


1. Perencanaan Penghantar

In = cos KHA = 125 % x In
2000
= = 125 % x 11,50 A
220 0,79

= 11,50A = 14,4 A

Sesuai dengan (Buku 4 PLN tentang Standar Konstruksi


Gardu Distribusi dan Gardu Hubung Tenaga Listrik hal 9
Edisi 1 Tahun 2010)

Berdasarkan Tabel Kabel Merk Supreme Tabel Derating Factors


1. Variation In Air temperatures ( In 550 C)
In Total A = fk x KHA
= 0,76 x14,4 A
= 10,95 A
2. Single core cables in three phase system 1
In Total B = fk x In Total A
= 0,9 x 10,95 A
= 9,855 A
2
2.Berdasarkan Katalog kabel Merk Supreme dipilih 3 x ( 1 x 35 mm )
3.Dengan KHA Kabel = 3 x (1 x 199 A)
4. = 579 A ( Dengan suhu keliling 300 C)
5.Jenis kabel N2XSY MV CABLE

Pemilihan kabel PE
Karena luas penampang penghantar fasa kurang dari 16 maka
penghantar PE yang dipilih 6 (PUIL bab 3 hal 77) dan dipilih kabel
BCC dengan spesifikasi sebagai berikut :
Kabelindo, (6 ) type BCC-H SPLN 41-5, SNI 04-384

Dari perhitungan di atas maka dipilih kabel NYY fasa 1x6 mm2
dengan KHA sebesar 58 A, merk Spreme

V yang rencanakan = 6% dari tegangan sumber

= 6% x 380 V

= 22,8 V

L = 150 m (diambil sampel yang terjauh)

X = 56 m/mm2 (tembaga)

3 L I
V =
XA

3 150 11,5
=
56 6

= 8,9 V
8,89
V = x100% 4,04%
220

Penentuan besar luas penampang penghantar dari SDP 1 (*contoh) ke


Tiang lampu arena ditentukan dengan rumus :

2000 x 35 = 70000 Watt

Arus yang mengalir ke satu tiang lampu penerangan stadion adalah :

P 70000
In = = = 134,62 A
3 V cos 3 380 0,79

KHA = 1,25 x In

= 1,25 x 134,62 A

= 168,3 A

Dengan memperhatikan derating factor pada kabel yaitu :

6. Variation in air temperature dengan nilai 0,76


Sehingga = 0,76 x 170

= 129,2 A

7. Single core cables in three phasa system dengan flat information air
circulation is restriciedsebesar 0,90
Sehingga = 0,90 X 130
= 117 A (diatas KHA kabel)
Pemilihan kabel PE
Karena luas penampang penghantar fasa lebih dari 35 maka
penghantar PE yang dipilih 35 (PUIL bab 3 hal 77) dan dipilih kabel
BCC dengan spesifikasi sebagai berikut :
Supreme, (16 ) type BCC-H SPLN 41-5, SNI 04-384

Sehingga penghantar yang digunakan adalah NYY 1 x 95 mm2 Merk


Eterna, yang mempunyai KHA di dalam pipa sebesar 250 A.
Perhitungan Pengaman
MCB

Satu MCB digunakan untuk mengamankan 6 buah lampu sorot,


dengan 1 daya lampu sorot 2000 watt

Sehingga arus nominal :

P 2000 6
=
3 V cos 3 380 0,79

In = 23,08 A

Rating pengaman MCB = 250% x 23,08 A = 57,7 A

Dan dipilih MCB dengan rating arus 63 A, 3 Pole.

MCCB

Untuk menentukan besar rating arus MCCB juga digunakan rumus


yang sama seperti pada penentuan rating arus MCB, dalam hal ini
akan dicontohkan penghitungan besar rating arus MCCB pada SDP 1.

A. Total beban lampu sorot pada SDP 1 adalah 44 lampu.

Sehingga arus nominal :

P 2000 44
In = = = 157,29 A
3 V cos 3 380 0,85

Rating pengaman MCCB = 250% x 157,29 A = 393,24 A

Dan dipilih pengaman tipe EZ400N 250A, 3 Pole, Merk


Schneider Electric.

B. Total beban lampu sorot pada SDP 2 adalah 44 lampu.

Sehingga arus nominal :

P 2000 44
In = = = 157,29 A
3 V cos 3 380 0,85

Rating pengaman MCCB = 250% x 157,29 A = 393,24 A


Dan dipilih pengaman tipe EZ400N 250A, 3 Pole, Merk Schneider
Electric.

C. Total beban lampu sorot pada SDP 3 adalah 44 lampu.

Sehingga arus nominal :

P 2000 44
In = = = 157,29 A
3 V cos 3 380 0,85

Rating pengaman MCCB = 250% x 157,29 A = 393,24 A

Dan dipilih pengaman tipe EZ400N 250A, 3 Pole, Merk Schneider


Electric.

D. Total beban lampu sorot pada SDP 4 adalah 44 lampu.

Sehingga arus nominal :

P 2000 44
In = = = 157,29 A
3 V cos 3 380 0,85

Rating pengaman MCCB = 250% x 157,29 A = 393,24 A

Dan dipilih pengaman tipe EZ400N 250A, 3 Pole, Merk Schneider


Electric.

Berat Total Per Tiang

Data tiang armature lampu sorot

Berat 1 unit lampu + armature polar = 0,9 Kg + 13,8 Kg =14,7 Kg


Total beban dalam satu tiang = 14,7 Kg
Tiang
Dengan tinggi tiang 69,5m, maka dipilih tiang dengan merk

Perancanaan Pembumian Pada Tiang Lampu Sorot

Data elektroda batang tembaga, yaitu :

Jenis elektroda : ground rod (tembaga)


Diameter : 16 mm
Jari-jari (r) : 8 mm
Panjang elektroda (l) : 2,4 m
Jarak antar elektroda (L) : 2,4 m
Tahanan jenis (tanah sawah) : 30 m (PUIL 2000)
.K
R( ) x faktorpengalikonfigurasi
2 l

K = faktor pengali elektroda batang tunggal

l 2 .4
= = 300
r 0.008

K 5,3 (*lihat tabel)

Sehingga resistansi yang didapat dengan menggunakan elektroda


batang tunggal :

.K
R( )
2 l

30 5,3
R( ) = 10,55
2 3,14 2,4

Karena menurut standar PUIL 2000 tahanan pentanahan yang


standar harus di bawah 5 maka pentanahan elektroda batang
tunggal tidak dipakai dan menggunakan pentanahan konfigurasi.

Sehingga perencanaan ini menggunakan konfigurasi triple straight


agar mendapatkan tahanan pentanahan di bawah 5 .
2. konfigurasi triple straight

L L
D = 16mm

Gambar 4.14 Elektroda

1 L
x=
L

1 2.4
x= 1.4167
2.4

m = ln ( x)
l
ln ( )
r

m = ln (1.4167)
2.4
ln ( )
0.008

ln (1.4167)
m=
ln (300)

0.3483
m=
5.703

m = 0.061

n = ln Y
l
ln ( )
r

1 2 L
Y=
2L

1 2 x 2 .4
Y=
2 x 2 .4

5 .8
Y=
4 .8

Y = 1.2084
n= 1.2084
2.4
ln ( )
0.008

1.2084
n=
ln (300)

1.2084
n=
5.7037

n = 0.2118

1 2m 2 n
faktor pengali =
3 4m n

1 2 (0.061) 2 0.2118
faktor pengali =
3 4 (0,061) 0.2118

1.2118 0.007442
faktor pengali =
3.2118 0.244

1.204358
faktor pengali =
2.9678

faktor pengali = 0.4059

Bessarnya tahanan pentanahan :

30 5,3
R( ) x 0.4059
2 3,14 2,4

R 4,28

Jadi untuk mencapai nilai pembumian sebesar 4,28 ohm pada tiang penerangan ini
diperlukan 3 buah elektroda batang tembaga dengan konfigurasi triple straight.

Untuk perencanaan pentanahan yang lain menggunakan cara yang sama.


PERENCANAAN TRAFO
LAPANGAN DAN ATLEKTIK

LAPANGAN JAYA WIJAYA


DAYA YANG DIGUNAKAN
SINGLE LINE

3 4

Keterangan Gambar:

Beban 1 = 2640 VA

Beban 2 = 2640 VA

Beban 3 = 2640 VA

Beban 4 = 2640 VA

Total Daya Beban PT Maju Makmur = 10560 VA


TUJUAN :
Perencanaan daya terpasang bertujuan untuk penghematan atau
menghindari kontrak langganan daya dari PLN yang berlebihan, dan juga
merencanakan besar daya yang mungkin di pakai, sebab pada kenyataannya
tidak mungkin semua beban pada system di pakai semua secara bersamaan
Dalam memasang instalasi tenaga listrik harus menentukan daya
terpasang terlebih dahulu. Dalam menentukan besarnya daya terpasang ini
adalah menentukan besarnya kemampuan nilai daya trafo yang akan
digunakan untuk pelanggan Instalasi TM/TM/TR. Dalam penentuan besar
daya terpasang maka harus diperhatikan ketentuan ketentuan diantaranya
adalah :

Definisi

TM/TM/TR adalah pelanggan TM (20 kV), pengukuran TM (20 kV),


pemakaian TR (380 V).Menurut SPLN No. D3.002-1:2007, pelanggan diatas
(20 kVA) trafo sama dengan milik pelanggan dan ditempatkan pada Gardu
Distribusi. Penyediaan trafo ditanggung pelanggan dan rugi rugi (kVARh)
pada jaringan ditanggung oleh pelanggan.

A. Menghitung Kapasitas Trafo

1. Total Daya yang digunakan Lapangan Jaya Wijaya = 10560 VA


2. Menentukan factor kebutuhan sesuai fungsi bangunan
3. Kapasitas Daya yang Terpasanng, (Min + Cadangan)
= Daya kebutuhan Beban maksimum x ( Min + Cadangan)
= 10.560 VA x ( 100 + 20) %
= 10.560 VA x 120 %
= 12.672 VA
4. Jika factor pengali beban 0,81
= Daya yang terpasang x Faktor pengali Beban
81
= 12.672VA x 100

= 15.644 VA
5. Menentukan Daya Trafo yang digunakan
Berdasarkan IEC 60354 Menggunakan Distribution Transformer
denganpendinginan ONAN suhu 40 C diperkirakaniklim di Indonesia
tertinggi 40 C ( tropis ). K24 = 0,81 = 81 % ( LOAD FACTOR )
Daya trafo = Daya tersambung x Faktor pengali
= 15644 VA x 0,81
= 12671,64 VA
6. Menentukan Trafo yang digunakan
Spesifikasi Trafo yang dipilih ( Sesuai Katalog Trafindo)
Merk : Trafindo
Capacity : 25 kVA
Impedansi : 4,00 %
No load Loses :75 Watt
Load Loses : 425 Watt
Total Loses : 500 Watt

Hal hal yang perlu diperhatikan dalam pemesanan transformator menurut


SPLN 50 : 1997 yaitu :

o Suhu rata rata tahunan disesuaikan dengan kondisi iklim di


Indonesia yaitu 300
o Rugi rugi transformator harus di standarisasi.
o Standart rugi rugi transformator baru harus 2.0 %
o Redaksional diuraikan lebih jelas
o Spesifikasi umum :
1. Daya pengenal
2. Tegangan pengenal (input dan output) dan tegangan
penyadapan.
3. Kelompok vektor
4. Tingkat isolasi dasar dan Karakteristik Elektris
PERENCANAAN
PENGHANTAR, BUSBAR, MOR
BAUT DAN DROP TEGANGAN
LAPANGAN DAN ATLEKTIK

LAPANGAN JAYA WIJAYA


A. PENGHANTAR
I. Kabel pada sisi Sekunder Trafo

In = KHA = 125 % x In
3
25
= = 125 % x 36,08 A
3 400

= 36,08 A = 45,1 A
Sesuai dengan (Buku 4 PLN tentang Standar Konstruksi Gardu
Distribusi dan Gardu Hubung Tenaga Listrik hal 9 Edisi 1 Tahun
2010)

Berdasarkan Katalog kabel Merk Supreme dipilih ( 1 x 10 mm2)


Dengan KHA Kabel = (4 x 80 A)
= 320 A ( Dengan suhu keliling 300 C)
Jenis kabel NYY LV CABLE

Berdasarkan Tabel Kabel Merk Supreme Tabel Derating Factors


1. Variation In Air temperatures ( In 550 C)
In Total A = fk x KHA
= 0,76 x14,4 A
= 10,95 A
2. Single core cables in three phase system 1
In Total B = fk x In Total A
= 0,9 x 10,95 A
= 9,855 A
B. Menghitung Drop Tegangan
Drop Tegangan pada sisi Sekunder Trafo (LV)

L = 10 m, In = 36,08 A
3
% Regulasi =

3 10 36,08
=

= 1,1 V
Tidak lebih 8 % dari tegangan sumber 3 fasa 380V
= 0,08 x 380V
= 30,4 V
C. Menentukan Busbar
Dipilih Arus Terbesar sebagai referensi
In Beban 1 = 760 A
KHA = 125 % x In
= 125 % x 760 A
= 950 A
Dipilih Busbar Sesifikasi
Merk : ISO FLEX
Dimension* : 10 x 32 x 1
Cross Section : 320 mm2
Length = 2000 mm
Weigth = 5.70 kg

D. Menentukan Mor Baut pada Trafo


Dengan arus nominal yang telah ada pada trafo maka dapat di tentukan
berapa ukuran Mor Baut pada trafo 0,14 Hole dan 13,5 Mor Baut

1. Penentuan Pengaman
PUIL 3.24.3.2 koordinasi antarapenghantar dan gawai proteksi
karakteristik operasi suatu gawai yang memproteksi kabel terhadap
beban lebih arus memenuhi 2 kondisi yaitu :

Ib In Iz

Ib = arus yang mendasari desain sirkit


Inominal pada cabang / group
In = Arus nominal gawai proteksi
I pada MCB / proteksi yang disetel
Iz = Kemampuan hantar arus (KHA) kontinu dari kabel

a. Pengaman Sisi Sekunder Trafo


S
In =
3 x V
25.000
=
3 x 400
= 36 A

KHA = 125 % x In
= 1,25 x 36 A
= 45 A
IMCB = F.Keb x In
= 0,85 x 36 A
= 30, 6 A
Maka, mengunakan MCCB = 40 A
Maks = 250 % x In
= 2,5 x 36 A
= 90 A
INOMINAL IPENGAMAN IKHA
36 A 40 A 45 A

Dipilih MCCB Merk PROTEK Jenis MC3P40