Anda di halaman 1dari 73

TUGAS BESAR PERENCANAAN PROYEK INSTALASI

LISTRIK SUTM/ SUTR untuk SUPPLY LISTRIK PABRIK


PERAK dan PERUMAHAN DINAS PT. MAJU MAKMUR

MAKALAH
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Instalasi Tegangan Menengah
Yang dibina oleh Heri Sungkowo ST,. MT

Oleh:
RETNO SELISTIYONINGSIH : 1531120028

PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
TAHUN 2016/2017
Soal :
DATA PERUMDIN
1. Daya rumah 900 VA = 20 Rumah
2. Daya Rumah 1300 VA = 25 Rumah
3. Daya Rumah 2200 VA = 15 Rumah
4. Lapangan Sepak Bola dan Atlektik 120 x 70 meter
DATA SURVEI LAPANGAN
1. Jarak SUTM yang ada terhadap GTT yang akan dibangun 100 meter.
2. Jarak GTT yang ada terdahap SUTR yang akan dibangun 75 meter.
3. Data pabrik pada LV MDP
Kelompok 1 = 500 kVA
Kelompok 2 = 200 kVA
Kelompok 3 = 150 kVA
Kelompok 4 = 100 kVA
Jarak pabrik terhadap SUTM yang ada sebesar 150 meter

TUGAS
1. Buat Single Line Diagram
2. Buat RAB SUTM
3. Buat RAB GTT
PERENCANAAN INSTALASI
PABRIK PERAK

PT. MAJU MAKMUR


PERENCANAAN TRAFO PABRIK
PERAK

PT. MAJU MAKMUR


DAYA YANG DIGUNAKAN
SINGLE LINE

3 4

Keterangan Gambar:
Beban 1 = 500 kVA
Beban 2 = 200 kVA
Beban 3 = 150 kVA
Beban 4 = 100 kVA
Total Daya Beban PT Maju Makmur = 950 kVA
TUJUAN :
Perencanaan daya terpasang bertujuan untuk penghematan atau
menghindari kontrak langganan daya dari PLN yang berlebihan, dan juga
merencanakan besar daya yang mungkin di pakai, sebab pada kenyataannya
tidak mungkin semua beban pada system di pakai semua secara bersamaan
Dalam memasang instalasi tenaga listrik harus menentukan daya
terpasang terlebih dahulu. Dalam menentukan besarnya daya terpasang ini
adalah menentukan besarnya kemampuan nilai daya trafo yang akan
digunakan untuk pelanggan Instalasi TM/TM/TR. Dalam penentuan besar
daya terpasang maka harus diperhatikan ketentuan ketentuan diantaranya
adalah :

Definisi

TM/TM/TR adalah pelanggan TM (20 kV), pengukuran TM (20 kV),


pemakaian TR (380 V).Menurut SPLN No. D3.002-1:2007, pelanggan diatas
(20 kVA) trafo sama dengan milik pelanggan dan ditempatkan pada Gardu
Distribusi. Penyediaan trafo ditanggung pelanggan dan rugi rugi (kVARh)
pada jaringan ditanggung oleh pelanggan.

A. Menghitung Kapasitas Trafo

1. Total Daya yang digunakan PT.Maju Makmur = 950 kVA


2. Menentukan factor kebutuhan sesuai fungsi bangunan
Diambil Fk 0,7 sesuai dengan table Faktor kebutuhan
3. Menentukan Kebutuhan maksimum Beban
= Daya yang digunakan x Fk
= 950 kVA x 0,7
= 665 kVA
4. Kapasitas Daya yang Terpasanng, (Min + Cadangan)
= Daya kebutuhan Beban maksimum x ( Min + Cadangan)
= 665 kVA x ( 100 + 20) %
= 595 kVA x 120 %
= 798 kVA
5. Jika factor pengali beban 0,81
= Daya yang terpasang x Faktor pengali Beban
81
= 798 kVA x 100
= 985,2 kVA
Sesuai Dengan Tabel Golongan Tarif Pabrik perak Masuk pada Golongan
Tarif ( I-3)
Sesuai Tabel Standarisasi Daya Pelanggan TM dengan Pembatas dan
Pelebur TM
Daya yang tersambung dari PLN = 1110 kVA dengan arus TM 32
Ampere

Hal hal yang perlu diperhatikan untuk pelanggan I-3:

a. Pelanggan tersebut adalah pelanggan TM/TM/TR


b. Pelanggan adalah pelanggan TM (20 kV). Penguuran pada sisi TM (20
kV) da pemakaian pada sisi TR (380 V)
c. Menurut SPLN No. D3. 002 1 : 2007, Pelanggan diatas 200 Kva
1trafonya adalah milik sendiri atau milik planggan, dan ditempatkan pada
suatu tempat yaitu gardu distribusi. Penyediaan trafo ditanggung oleh
pelanggan,. Jika pelangan menggunakan trafo yang disewakan PLN, maka
biaya sewa unit trafo PN yang dioperasikan sepenuhnya oleh pelanggan.
d. Pelanggan termasuk pelanggan tarif I-3/TM (200 Kva keatas), tarif I-3
yaitu tarif untuk keperluan industri besar menengah (TM).
e. Biaya yang dibebankan kepada pelanggan adalah
f. Biaya beban yaitu biaya tetap yang ditagihkan kepada pelanggan berkaitan
dengan jumlah daya kVA yang di sediakan PLN.
g. Biaya pemakaian :
a) Blok WBP : waktu beban puncak antara jam 17.00 22.00 WIB.
Tarif blok WBP= k x Rp 1.115
k = faktor perbandingan antara harga WBP dan LWBP sesuai
dengan karakteristik beban sistem kelistrikan setempat (1,4
k 2). Ditetapkan oleh perusahaan perseroan (persero) PT
PLN.

b) Blok LWBP : luar waktu beban puncak. Tarif LWBP = Rp. 1.115
c) Biaya kelebihan kVARh adalah biaya yang dikenakan karena
kelebihan pemakaian daya reaktif (kVARh) dikenakan dalam hal
faktor daya rata rata setiap bulan kurang dari 0,85. tarif kVARh =
Rp. 1200/kVARh.
h. Tarif dasar listrik untuk keperluan penjualan curah / bulk pada tegangan
menengah dengan daya diatas 200 kVA diperuntukkan bagi pemegang izin
usaha penyediaan tenaga listrik.
i. Bagi pelanggan tenaga listrik TM yang memakai transformator PLN
dikenakan biaya pemakaian transformator distribusi (TM/TR) sebesar Rp.
2450 untuk setiap kVA daya tersambung tiap bulan(golongan TDL :
keputusan menteri energi dan sumber daya mineral N0. 12 mei juli 2001
hal 58).
6. Menentukan Daya Trafo yang digunakan
Berdasarkan IEC 60354 Menggunakan Distribution Transformer
denganpendinginan ONAN suhu 40 C diperkirakaniklim di Indonesia
tertinggi 40 C ( tropis ). K24 = 0,81 = 81 % ( LOAD FACTOR )
Daya trafo = Daya tersambung x Faktor pengali
= 1110 kVA x 0,81
= 899,1 kVA
7. Menentukan Trafo yang digunakan
Spesifikasi Trafo yang dipilih ( Sesuai Katalog Trafindo)
Merk : Trafindo
Capacity : 1000 kVA
Impedansi : 4,00 %
No load Loses : 2300 Watt
Load Loses : 12100 Watt
Total Loses : 14100 Watt
Hal hal yang perlu diperhatikan dalam pemesanan transformator menurut
SPLN 50 : 1997 yaitu :

o Suhu rata rata tahunan disesuaikan dengan kondisi iklim di


Indonesia yaitu 300
o Rugi rugi transformator harus di standarisasi.
o Standart rugi rugi transformator baru harus 2.0 %
o Redaksional diuraikan lebih jelas
o Spesifikasi umum :
1. Daya pengenal
2. Tegangan pengenal (input dan output) dan tegangan
penyadapan.
3. Kelompok vektor
4. Tingkat isolasi dasar dan Karakteristik Elektris
PERENCANAAN PENGHANTAR,
BUSBAR, MOR BAUT DAN DROP
TEGANGAN PABRIK PERAK

PT. MAJU MAKMUR


A. PENGHANTAR
I. Kabel yang digunakan pada sisi Primer (MV)

In = KHA = 125 % x In
3
1000
= = 125 % x 28,87 A
3 20

= 28,87A = 37 A

Sesuai dengan (Buku 4 PLN tentang Standar Konstruksi Gardu


Distribusi dan Gardu Hubung Tenaga Listrik hal 9 Edisi 1 Tahun
2010)

Berdasarkan Katalog kabel Merk Supreme dipilih 3 x ( 1 x 35 mm2)


Dengan KHA Kabel = 3 x (1 x 199 A)
= 579 A ( Dengan suhu keliling 300 C)
Jenis kabel N2XSY MV CABLE

II. Kabel pada sisi Sekunder Trafo



In = KHA = 125 % x In
3
1000
= = 125 % x 1443,4 A
3 400

= 1443,4 A = 1804,25A
Sesuai dengan (Buku 4 PLN tentang Standar Konstruksi Gardu
Distribusi dan Gardu Hubung Tenaga Listrik hal 9 Edisi 1 Tahun
2010)
Berdasarkan Katalog kabel Merk Supreme dipilih ( 1 x 70 mm2)
Dengan KHA Kabel = (8 x 240 A)
= 1920 A ( Dengan suhu keliling 300 C)
Jenis kabel NYY LV CABLE

Berdasarkan Tabel Kabel Merk Supreme Tabel Derating Factors


1. Variation In ground temperatures ( In 500 C)
In Total A = fk x KHA kabel
= 0,71 x1194 A
= 847,74 A
2. Variation in thermal resistivity of soil (100 0C.cm/watt)
In Total B = fk x In Total A
= 1,0 x 1194 A
= 847,74 A
3. Variation in depth of lyaing (100 cm)
In Total C = fk x In Total B
= 0,99 x 847,74 A
= 839,3 A
4. Grouping of multicore cables (5 group)
In Total D = fk x In Total C
= 0,64 x 839,3 A
= 537,152 A
III. Kabel yang digunakan pada sisi (LV)
Kabel pada Beban 1 dengan Kapasitas 500 kVA

In = KHA = 125 % x In
3
500
= = 125 % x 760 A
3 380

= 760 A = 950 A
Sesuai dengan (Buku 4 PLN tentang Standar Konstruksi Gardu
Distribusi dan Gardu Hubung Tenaga Listrik hal 9 Edisi 1 Tahun
2010)

Berdasarkan Katalog kabel Merk Supreme dipilih ( 3 x 120 mm2)


Dengan KHA Kabel = 3 x 329 A
= 987 A ( Dengan suhu keliling 300 C)
Jenis kabel NYY

Berdasarkan Tabel Kabel Merk Supreme Tabel Derating Factors


1. Variation In ground temperatures ( In 500 C)
In Total A = fk x KHA kabel
= 0,71 x 950 A
= 674,5 A
2. Variation in thermal resistivity of soil (100 0C.cm/watt)
In Total B = fk x In Total A
= 1,0 x 674,5 A
= 674,5 A
3. Variation in depth of lyaing (100 cm)
In Total C = fk x In Total B
= 0,99 x 674,5 A
= 667,755 A
4. Grouping of multicore cables (5 group)
In Total D = fk x In Total C
= 0,64 x 667,755A
= 427,36 A

Kabel pada Beban 2 dengan Kapasitas 200 kVA



In = KHA = 125 % x In
3
200
= = 125 % x 304 A
3 380

= 304 A = 380 A
Sesuai dengan (Buku 4 PLN tentang Standar Konstruksi Gardu
Distribusi dan Gardu Hubung Tenaga Listrik hal 9 Edisi 1 Tahun
2010)

Berdasarkan Katalog kabel Merk Supreme dipilih ( 4 x 10 mm2)


Dengan KHA Kabel = 4 x 107 A
= 428 A ( Dengan suhu keliling 300 C)
Jenis kabel NYY

Berdasarkan Tabel Kabel Merk Supreme Tabel Derating Factors


1. Variation In ground temperatures ( In 500 C)
In Total A = fk x KHA kabel
= 0,71 x 404 A
= 286,84 A
2. Variation in thermal resistivity of soil (100 0C.cm/watt)
In Total B = fk x In Total A
= 1,0 x 286,84 A
= 286,84 A
3. Variation in depth of lyaing (100 cm)
In Total C = fk x In Total B
= 0,99 x 286,84 A
= 284 A
4. Grouping of multicore cables (5 group)
In Total D = fk x In Total C
= 0,64 x 284 A
= 181,76 A
Kabel pada Beban 3 dengan Kapasitas 150 kVA

In = KHA = 125 % x In
3
150
= = 125 % x 228 A
3 380

= 228 A = 285 A
Sesuai dengan (Buku 4 PLN tentang Standar Konstruksi Gardu
Distribusi dan Gardu Hubung Tenaga Listrik hal 9 Edisi 1 Tahun
2010)

Berdasarkan Katalog kabel Merk Supreme dipilih ( 2 x 35 mm2)

Dengan KHA Kabel = 2 x 185 A


= 370 A ( Dengan suhu keliling 300 C)
Jenis kabel NYY

Berdasarkan Tabel Kabel Merk Supreme Tabel Derating Factors


1. Variation In ground temperatures ( In 500 C)
In Total A = fk x KHA kabel
= 0,71 x 316 A
= 225 A
2. Variation in thermal resistivity of soil (100 0C.cm/watt)
In Total B = fk x In Total A
= 1,0 x 225 A
= 225 A
3. Variation in depth of lyaing (100 cm)
In Total C = fk x In Total B
= 0,99 x 225 A
= 223 A
4. Grouping of multicore cables (5 group)
In Total D = fk x In Total C
= 0,64 x 223 A
= 143 A

Kabel pada Beban 4 dengan Kapasitas 100 kVA



In = KHA = 125 % x In
3
100
= = 125 % x 152 A
3 380

= 152A = 190 A
Sesuai dengan (Buku 4 PLN tentang Standar Konstruksi Gardu
Distribusi dan Gardu Hubung Tenaga Listrik hal 9 Edisi 1 Tahun
2010)

Berdasarkan Katalog kabel Merk Supreme dipilih ( 1 x 70 mm2)

Dengan KHA Kabel = 1 x 240 A


= 240 A ( Dengan suhu keliling 300 C)
Jenis kabel NYY

Berdasarkan Tabel Kabel Merk Supreme Tabel Derating Factors


1. Variation In ground temperatures ( In 500 C)
In Total A = fk x KHA kabel
= 0,71 x 228 A
= 162 A
2. Variation in thermal resistivity of soil (100 0C.cm/watt)
In Total B = fk x In Total A
= 1,0 x 162 A
= 162 A
3. Variation in depth of lyaing (100 cm)
In Total C = fk x In Total B
= 0,99 x 162 A
= 160,4 A

4. Grouping of multicore cables (5 group)


In Total D = fk x In Total C
= 0,64 x 160,4 A
= 102,7 A
B. Menghitung Drop Tegangan
Drop Tegangan pada sisi Primer Trafo (MV)

L = 10 m, In = 28,87 A
3 28,87
% Regulasi =

3 10 18,2
=

= 0,25 V
Tidak lebih 8 % dari tegangan sumber 3 fasa 380V
= 0,08 x 380V
= 30,4 V

Drop Tegangan pada sisi sekunder Trafo

L = 15 m, In = 1443,4 A
3
% Regulasi =

3 15 1443,4
=

= 1,2V
Tidak lebih 8 % dari tegangan sumber 3 fasa 380V
= 0,08 x 380V
= 30,4 V
Drop Tegangan pada sisi LV ( Panel)

a) Pada sisi LV Kabel Beban 1

L = 50 m, In = 760 A
3
% Regulasi =

3 50 760
=

= 9,8 V
Tidak lebih 8 % dari tegangan sumber 3 fasa 380V
= 0,08 x 380V
= 30,4 V
b) Pada sisi LV Kabel Beban 2

L = 75 m, In = 304 A
3
% Regulasi =

3 75 304
=

= 6,98 V
Tidak lebih 8 % dari tegangan sumber 3 fasa 380V
= 0,08 x 380V
= 30,4 V

c) Pada sisi LV Kabel Beban 3

L = 100 m, In = 228 A
3
% Regulasi =

3 100 228
=

= 20,15 V
Tidak lebih 8 % dari tegangan sumber 3 fasa 380V
= 0,08 x 380V
= 30,4 V
d) Pada sisi LV Kabel Beban 4

L = 125 m, In = 152 A
3
% Regulasi =

3 125 152
=

= 8,4V
Tidak lebih 8 % dari tegangan sumber 3 fasa 380V
= 0,08 x 380V
= 30,4 V
C. Menentukan Busbar
Dipilih Arus Terbesar sebagai referensi
In Beban 1 = 760 A
KHA = 125 % x In
= 125 % x 760 A
= 950 A
Dipilih Busbar Sesifikasi
Merk : ISO FLEX
Dimension* : 10 x 32 x 1
Cross Section : 320 mm2
Length = 2000 mm
Weigth = 5.70 kg

D. Menentukan Mor Baut pada Trafo


Dengan arus nominal yang telah ada pada trafo maka dapat di tentukan
berapa ukuran Mor Baut pada trafo 0,14 Hole dan 13,5 Mor Baut
PERENCANAAN PENGAMAN
UTAMA DAN PENGAMAN MASING
MASING CABANG PABRIK
PERAK

PT. MAJU MAKMUR


PERHITUNGAN DAN PEMILIHAN PENGAMAN UTAMA DAN MASING
MASING CABANG ( BREAKING CAPACITY )

Hubung singkat pada suatu penyulang dapat terjadi pada sisi atas trafo,
kabel, rel dan pemutusan sirkit. Dalam hal ini perhitungan digunakan untuk
menentukan besarnya arus hubung singkat pada suatu titik dan breaking capacity
pengaman, sehingga pengaman tersebut dapat mengamankan sirkit tanpa merusak
pengaman tersebut pada hubung singkat.

Untuk perhitungan arus hubung singkat pada LV maka diperlukan data daya
hubung singkat pada sisi LV, panjang dari pada penghantardan jenis penghantar
tersebut.

Untuk penentuan tersebut daya hubung singkat dapat diketahui melalui tiga
cara, yaitu :

1) Melihat data pada gardu induk


2) Melihat MVA peralatan
3) Dengan cara permisalan

Pada perhitungan ini dilakukan dengan cara ketiga yaitu dimisalkan dan
data yang diketahui adalah sebagai berikut :

Daya hubung singkat 500 810 MVA


S = 1000 kVA
V0 = 400 V
In = 1443 A
Isc = 28 kA
Vsc = 5%
A. PERHITUNGAN ARUS HUBUNG SINGKAT

ARUS HUBUNG SINGKAT (Isc)


Bagian bagian Resistansi (m ) Reaktansi (m )
Jaringan sisi a. Jaringan Sisi Atas
atas = 0,93
2 4002
(TM) 1 = = = 320 1 = 1. . 103
500 = 320 . 0,93 . 103
Psc = 500 MVA
S = 1000 KVA Cos = 0,15 = 0,297
In = 1443,4 A 1 = 1. . 103
Vsc = 6%
= 320 . 0,15 . 103
= 0,048
2
b. Transformator Vsc V0
Z2 x
100 S
202 103
R2 = 6 400 2
2
2300 4002 103
Z2 x
= 100 1000
10002
= 0,368 = 9,6 m
X 2 Z 22 R22
(9,6) 2 (0,368 ) 2
9,6m
c. Kabel trafo menuju MDP
3 =
X 3 0,12 x L

22,5 15 X 3 0,12 x 12
= 1,44
8 (1 70 2 )
= 0,603
d. Pemutus Isc 1
4 = 0 4 = 0

e. Busbar X5= 0,15


= 0,15 10
5 =

22,5 10 = 1,5
=
3 (10 32 2 )
= 0,25
Menurut buku Schneider Electric - Electrical installation guide 2016
Terdapat beberapa ketentuan yang ada

1. Arus Hubung Singkat Pengaman Utama


Rt = R1 + R2 + R3 + R5
= 0,048 + 0,368 + 0,603 + 0,25
= 1,269 m
Xt = X1 + X2 + X3+ X5
= 0,297 + 9,6 +1,44+ 1,5
= 12,837 m
V0
I SC1 kA
3. Rt 2 Xt 2

400

3. 1,269 2 12,837 2
17,9 kA

Perbedaan MCB, MCCB dan ACB

MCCB (Moulded case Circuit breaker)


a) Dipakai pada tegangan rendah 0 - 1000V.
b) Dilengkapidengan solid state proteksimaupun overload
condition. Makanyaadajenis MCCB thermal and magnetic
danada yang magnetik only.
c) MCCBs adalah pemutus sirkuit yang digunakan untuk
beban listrik yang lebih tinggi.
d) MCCBs cocok untuk digunakan dalam aplikasi komersial
dan industri.
e) MCCBs dapat membawa arus dinilai hingga 2500 ampere.
f) Rating MCCB dapat diseting/disesuaikan
g) Ada matras,pembuatan cetak

ACB (air circuit breaker)


a) ACB (Air Circuit Breaker) merupakan jenis circuit breaker
dengan sarana pemadam busur api berupa udara
b) ACBdapat digunakan pada tegangan rendah dan tegangan
menengah
c) Pada tekanan ruangan atmosfer digunakan sebagai peredam
busur api yang timbul akibat proses switching maupun
gangguan
d) Batas arus pengenalnya 1600A keatas
e) ACB dipasang pada Incoming LVMDB
f) ACB dilengkapi proteksi arus lebih dan arus bocor
g) Untuk pengoperasian bisa manual danautomatis, jika
automatis dipasang beberapa push button di pintu panel
sebagai tombol open dan close untuk ACB trsebut.
h) ACB dilengkapidengan motor operated spring charge (ada
juga spring charge manual) yang digunakan untuk closed dan
tripped

MCB (Miniature Circuit Breakers)


a) MCBs pemutus sirkuit yang digunakan untuk beban listrik
yang lebih kecil
b) MCBs cocok untuk digunakan dalam rumah tangga
sementara
c) MCBs dapat membawa arus pengenal sampai dengan 100
ampere
d) Rating MCB tidak dapat diseting/disesuaikan
2. Penentuan Pengaman
PUIL 3.24.3.2 koordinasi antarapenghantar dan gawai proteksi
karakteristik operasi suatu gawai yang memproteksi kabel terhadap
beban lebih arus memenuhi 2 kondisi yaitu :

Ib In Iz

Ib = arus yang mendasari desain sirkit


Inominal pada cabang / group
In = Arus nominal gawai proteksi
I pada MCB / proteksi yang disetel
Iz = Kemampuan hantar arus (KHA) kontinu dari kabel

a. Pengaman Sisi Sekunder Trafo


S
In =
3 x V
1000.000
=
3 x 400
= 1443,4 A

KHA = 125 % x In
= 1,25 x 14434 A
= 1804,25 A
IMCB = F.Keb x In
= 0,85 x 1443,4 A
= 1226,89 A
Maka, mengunakan MCCB = 1600 A
Maks = 250 % x In
= 2,5 x 1443,4 A
= 3608,5 A
INOMINAL IPENGAMAN IKHA
1443,4 A 1600 A 1804,25 A

Dipilih MCCB Merk SCHNEIDER Jenis Compact N1600b /


1600H N/H/L Electrically Operated

b. Masing-masing LV MDP
GRUP 1 (500 kVA)
S
In =
3 x V
500.000
=
3 x 380
= 760 A

KHA = 125 % x In
= 1,25 x 760 A
= 950 A
IMCB = F.Keb x In
= 0,85 x 950 A
= 807,5 A
Maka, mengunakan MCCB = 800 A
Maks = 250 % x In
= 2,5 x 760
= 1900 A
INOMINAL IPENGAMAN IKHA
760 A 800 A 950 A

Dipilih MCCB Merk SCHNEIDER Jenis Compact NS800b /


1600H N/H/L Electrically Operated

GRUP 2 (200 kVA)


S
In =
3 x V
200.000
=
3 x 380
= 304 A
KHA = 125 % x In
= 1,25 x 304 A
= 380 A
IMCB = F.Keb x In
= 0,85 x 304 A
= 258,4 A
Maka, mengunakan MCCB = 315 A
Maks = 250 % x In
= 2,5 x 304
= 760 A
INOMINAL IPENGAMAN IKHA
304 A 315 A 380 A

Dipilih MCCB Merk PROTEK Jenis MC3P315 There Pole

GRUP 3 (150 kVA)


S
In =
3 x V
150.000
=
3 x 380
= 228 A
KHA = 125 % x In
= 1,25 x 228 A
= 285 A
IMCB = F.Keb x In
= 0,85 x 228 A
= 193,8 A
Maka, mengunakan MCCB = 250 A
Maks = 250 % x In
= 2,5 x 228
= 570 A
INOMINAL IPENGAMAN IKHA
228 A 250 A 285 A

Dipilih MCCB Merk SCNEIDER Jenis Compact NSX250


F/N//H/S There Pole

GRUP 4 (100 kVA)


S
In =
3 x V
100.000
=
3 x 380
= 152 A
KHA = 125 % x In
= 1,25 x 152 A
= 190 A
IMCB = F.Keb x In
= 0,85 x 152 A
= 129,2 A
Maka, mengunakan MCCB = 160 A
Maks = 250 % x In
= 2,5 x 152
= 380 A
INOMINAL IPENGAMAN IKHA
152 A 160 A 190 A

Dipilih MCCB Merk SCNEIDER Jenis Compact NSX160


F/N//H/S There Pole
PERENCANAAN KUBICAL PABRIK
PERAK

PT. MAJU MAKMUR


Pemilihan Perangkat atau Peralatan Pada Kubikel
Kubikel 20 kV adalah komponen peralatan untuk memutuskan dan
menghubungkan, pengukuran, tegangan, arus maupun daya, peralatan proteksi
dan control. Didalam perencanaan ini, pelanggan memesan daya kepada PLN
sebesar 10000 kVA, pelanggan ini termasuk pelanggan TM / TM / TR sehinga
trafo milik pelanggan, rugi-rugi di tanggung pelanggan, pengukuran di sisi TM
dan trafo ditempatkan di gardu distribusi.

Kubikel terdiri dari dua unit. Pertama adalah milik PLN (yang bersegel)
dan kubikel milik pelanggan (hak pelanggan sepenuhnya). Setiap kubikel terdiri
dari incoming, metering dan outgoing. Pada perencanaan ini, kubikel pelanggan
dan PLN disamakan spesifikasinya, karena selain PLN, pelanggan juga perlu
memonitoring metering milik pelanggan itu sendiri. Spesifikasi kubikel ialah:

1. Incoming : IMC
2. Metering : CM2
3. Outgoing : DM1-A
Dari Schneider

1. INCOMING (IMC)
Terdiri atas LBS (load break switch), coupling kapasitor dan CT

- LBS
Ialah pemutus dan penyambung tegangan dalam keadaan berbeban,
komponen berbeban terdiri atas beberapa fungsi yaitu:

1. Earth Switch
2. Disconnect Switch
3. Load Break Switch
Untuk meng-energized, proses harus berurutan (1-2-3) dan
memutus beban harus dengan urutan kebalikan (3-2-1).

- Coupling Capasitor
Dalam penandaan kubikel membutuhkan lampu tanda dengan
tegangan kerja 400 kV. Karena pada kubikel mempunyai tegangan kerja
20 kV, maka tegangan tersebut harus diturunkan hingga 400 V
menggunakan coupling capasitor dengan 5 cincin yang menghasilkan
output tegangan

= 20 kV/5

= 400 V

- Current Transformator (CT)


Trafo yang digunakan adalah trafo dengan daya 2500 kVA.
Sehingga arus nominalnya ialah:


=
3
1000
=
3 20
= 28,9

meter yang digunakan hanya mampu menerima arus sampai 5


A.Sehingga dibutuhkan trafo arus (CT) dengan spesifikasi:

1. Transformer ARJP2/N2F
2. Single Primary Winding
3. Double Secondary Winding Untuk Pengukuran dan Pengaman
4. Arus rating : 400 A / 5
5. Burden : 7,5 VA
6. Class : 0,5
NB: Keterangan lebih lengkap bisa dilihat katalog kubikel

2. METERING (CM2)
Terdiri atas LBS type CS, busbar 3 phasa, LV circuit isolation
switch, LV fuse, 3 fuse type UTE atau DIN 6.3 A, heater 150 W (karena
daerah dengan tingkat kelembaban tinggi).

- Load Break Switch type CS


Dioperasikan dengan pengungkit yang terdiri atas :

1. Earth switch
2. Disconnect switch
- Auxiliary kontak untuk CM2 yaitu 10 + 2c

- Voltage transformator

- Fuse
Fuse yang digunakan pada kubikel metering tergantung dari
tegangan kerja dan transformator yang digunakan. Setelah melihat tabel
seleksi fuse (katalog kubikel),

Pemilihan Fuse

Fuse = 400% x In

= 4 x 28,9

= 1156 A

- Heater 150 W
Heater digunakan sebagai pemanas dalam kubikel. Sumber listrik
heater ini berdiri sendiri 220 V-AC. Difungsikan untuk menghindari flash
over akibat embun yang ditimbulkan oleh kelembaban di sekitar kubikel.

3. OUTGOING (DM1-A)
Terdiri atas:

SF1 atau SF set circuit breaker (CB with SFG gas)


Pemutus dari earth switch
Three phase busbar
Circuit breaker operating mechanism
Dissconector operating mechanism CS
Voltage indicator
Three ct for SF1 CB
Aux- contact on CB
Connections pads for ary-type cables
Downstream earhting switch.
Dengan aksesori tambahan:
Aux contact pada disconnector
Additional enclosure or connection enclosure for cabling from above
Proteksi menggunakan stafimax relay atau sepam progamable
electronic unit for SF1 CB.
Key type interlock
150 W heating element
Stands footing
Surge arrester
CB dioperasikan dengan motor mekanis.
Lihat katalog kubikel
PERHITUNGAN KOMPONEN KUBIKEL

1) Pemilihan Disconnecting Switch (DS).


Disconnecting switch merupakan peralatan pemutus yang dalam
kerjanya (menutup dan membuka) dilakukan dalam keadaan tidak berbeban,
karena alat ini hanya difungsikan sebagai pemisah bukan pemutus.

Jika DS dioperasikan pada saat keadaan berbeban maka akan terjadi


flash over atau percikan-percikan api yang dapat merusak alat itu sendiri.

Fungsi lain dari disconnecting switch adalah difungsikan sebagai


pemisah tegangan pada waktu pemeliharaan dan perbaikan, sehingga
dperlukan saklar pembumian agar tidak ada muatan sisa.

Karena DS dioperasikan sebagai saklar maka perhitungannya adalah :

KVA(trafo)
I 1,15
3 20kV

1000kV
I 1,15
3 20kV

= 33,2 A

Sehingga dipilih DS dengan type SF 6 with earthing switch.

2) Pemilihan Load Break Switch.


Kemampuan pemutus ini harus disesuaikan dengan rating nominal
dari tegangan kerja, namun LBS juga harus mampu beroperasi saat arus
besar ( Ics ) tanpa mengalami kerusakan.

Cara pengoperasian LBS bisa secara manual yaitu digerakkan melalui


penggerak mekanis yang dibantu oleh sisitem pegas dan
pneumatic.pemilihan LBS ditentukan berdasarkan dengan Rating arus
nominal dan tegangan kerjannya :

KVA(trafo)
I 1,15
3 20kV
1000kVA
I 1,15
3 20kV

= 33,2 A

Saklar Disconnector dan Saklar Pentanahan

Tabung Udara
Tiga kontak putar ditempatkan dalam satu enclosure dengan tekanan
gas relative 0,4 bar

Operasi Keamanan
Saklar memiliki tiga posisi, yaitu:

- Tertutup
- Terbuka
- Ditanahkan
Dengan system operasi interlock, mencegah terjadinya kesalahan
pengoperasian.
PERENCANAAN GENSET PABRIK
PERAK

PT. MAJU MAKMUR


PEMILIHAN GENSET
Genset harus dapat memenuhi beban sebagai berikut :

Kelengkapan penggerak yang menggunakan tenaga listrik dan


perlengkapan pengasut yang memerlukan pengisian.
Lift keadaan darurat dengan anggapan pada suatu kumpulan lift hanya satu
lift yang bekerja.
Daya yang digunakan untuk menurunkan lift.
Kipas untuk penghisap asap.
Pompa air untuk sistem pemadaman.
Pemanfaatan listrik pada saat kebakaran.
Penerangan darurat.
Beban tambahan.

(Puil 2000 : 8.21.3.1)

BEBAN

Kelompok Daya (kVA) Fk Beban


beban maksimum
(kVA)

Kelompok 1 500 0.7 350

Kelompok 2 200 0.7 140

Kelompok 3 150 0.7 105

Kelompok 4 100 0.7 70

Total Beban Maksimum 665

Daya terpasang dan pertambahan 798


beban (VA) (x 120%)
Genset dipilih yaitu tidak mampu dibebani 100% daya yang
dibutuhkan. Maka saat pemilihan genset, genset harus lebih besar
kapasitasnya dari total daya yang dibutuhkan yaiut dikalikan 120% dari
kebutuhan

Daya genset = 120% x 665 kVA

= 798 kVA

Nilai 1000 kVA adalah daya genset yang beroperasi maksimum

Sehingga dipilih genset yang memiliki daya standby 1000 Kva

Spesfikasi digunakan genset :

Model = CAT C32 ATAAC DIESEL ENGINE

Merk = CATERPILLAR bordes

Rating kVA` = 1000kVA

Rating kW = 800 eKW

Power factor = 0.8

Vout = 400 V

1. Menentukan KHA, kabel dan pengaman genset :


1000
= = 1443,37
3400

* Untuk lebih lengkap lihat keterangan pada lampiran

Menentukan KHA, kabel dan pengaman genset :

KHA = 1,25% x In genset

= 1,25% x 1443,37 A

= 1804,21 A

Jika penghantar disusun di atas penyangga kabel yang tertutup (di


dalam bordes) dengan faktor koreksi : 0,92 (direncanakan
menggunakan 4 penyangga dengan 1 sistem)

=
2525,87
=
490 0.92
= 5.60
FaktorKoreksi = 490 x 0,92 x 5
= 2254
Sehingga jumlah penghantar yang digunakan adalah 5
Dipilih penghantar NYY 5 (1 x 185 mm2) per fasa dengan KHA
490 A
Untuk R S T dibutuhkan NYY 15 (1 x 185 mm2)
Untuk Netral dibutuhkan 3 (1 x 185 mm2)/phasa

Spesifikasi Penghantar:
Supreme NYY size (1 x 185 mm2/rm)
0.6/1 (1,2 kV)
SPLN 43-1/IEC 60502-1
1. Busbar Genset
Dengan melihat arus nominal pada genset, maka untuk busbar
dipilih :
Cu 3 x (8 x 100 mm) per fasa *)
RST dibutuhkan 9 x (8 x 100 mm)
Netral dibutuhkan 2 x (8 x 100 mm)
PE dibutuhkan 2 x (8 x 100 mm)

Spesifikasi busbar:
Iso flex busbar
(8 x 100 mm)
Copper bsbar
*) menurut catalog bus baris flex dengan suhu kerja 65C dan suhu
lingkungan 35C

2. Tipe pengaman genset

In = 2020,7 A

Maka dipilih pengaman menggunakan ACB

Merek = ABB

Type = ACB EMAX E3N

Ihs = 65 Ka

Frekuensi 50 Hx

Tegangan 400 Volt


1000
= = 1443,37
3 400

* Untuk lebih lengkap lihat keterangan pada lampiran

Menentukan KHA, kabel dan pengaman genset :

KHA = 1,25% x In genset

= 1,25% x 1443,37 A

= 1804,21 A

Maka menggunakan kabel NYY dengan luas penampang 5 (1 x


120 mm2) dengan KHA = 375 Merk Supreme

Busbar menggunakan tembaga ukuran 3 x 35 x 1 ( 105 mm2 )


dengan KHA = 497 A. Dengan jumlah 3 buah Merk isoflex

Untuk penghantar PE, karena luas penampang penghantar fasa


lebih dari 35mm2,maka penghantar PE yang dipilih setengah dari
penghantar fasa ( PUIL bab 3 hal. 77 ), dan dipilih kabel BCC
dengan spesifikasinya sebagai berikut ;
KABELINDO, 5 x(1x150 mm2) type BCC-H
PERENCANAAN AMF PABRIK
PERAK

PT. MAJU MAKMUR


P
PERENCANAAN DESAIN
SANGKAR FARADAY PABRIK
PERAK
PERHITUNGAN, PERENCANAAN, DAN DESAIN SANGKAR FARADAY

Medan listrik berpengaruh dan berbahaya bagi pekerja yang bekerja pada
atau dekat sekali dengan bagian dari jaringan yang bertegangan. Pekerja dapat
mempergunakan perlindungan untuk hal tersebut seperti sangkar faraday dimana
kuat medan listrik didalam pelindung konduktor ini merupakan fungsi dari derajat
perlindungannya.
Sangkar pelindung terbuat dari bahan konduktor dan beberapa tahun yang
lalu Faraday telah menunjukkan bahwa kuat medan listrik didalam sangkar adalah
nol (0) bila sangkar berbentuk kotak penuh. Namun jika sangkar tersebut
berbentuk kotak penuh sehingga pekerja didalamnya bebas terhadap medan
listrik, maka hal ini tidak dapat dipakai untuk bekerja. Perlindungan terhadap
medan ini hanya dilakukan oleh sangkar yang hanya berbentuk setengah kotak
atau sangkar yang tidak berbentuk kotak penuh, tergantung pada derajat
perlindungan yang kita inginkan.
Untuk menentukan dimensi sangkar Faraday, perlu diperhatikan
sistem Pengaman dari sisi TT dan TR trafo. Dalam hal ini juga harus
memperhatikan dimensi dari trafo itu sendiri dan juga jarak aman baik sisi TT
maupun TR trafo.
Jarak aman minimum trafo dengan manusia jika tegangan kerja 20 KV
adalah 75 cm ( PUIL hal : 448 ).
Tegangan U ( antara fasa dan bumi ) Jarak aman minimum
kV cm
1 50
12 60
20 75
36 100

Dengan perkiraan panjang tangan manusia kurang lebih 750 mm, dari
perkiraaan tersebut dapat dimasukkan kedalam perhitungan untuk menentukan
dimensi sangkar faraday yang sesuai.
Dalam perhitungan ini yang perlu diperhatikan adalah system pengaman
dari sisi TR maupun TT pada trafo. Sesuai dengan catalog yang ada jarak aman
sisi tegangan tinggi adalah = 750 mmdengan perkiraan panjang tangan manusia
sekitar kurang lebih 750 mm.sehingga dapat terhitung sangkar faraday sesuai
dengan dimensi trafo yang digunakan.
Dimensi trafo yang digunakan dengan data sebagai berikut :
Data Dimensi Trafo :
Panjang (L) = 1860 mm
Lebar (W) = 1110 mm
Tinggi (H) = 1715 mm

Sehingga diperoleh dimensi sangkar faraday terpasang sebagai berikut :


Panjang : (jarak aman trafo+panjang tangan manusia) x 2 + panjang trafo
: (( 300 + 750 ) x 2) + 1860 mm
: 3960 mm.
Lebar : (jarak aman trafo+panjang tangan manusia) x 2 + lebar trafo
: (( 300 + 750 )) x 2 + 1110 mm
: 3210 mm
Tinggi : (jarak aman trafo dengan atap) + tinggi trafo
: (( 300 + 750 ) x2) + 1715 mm
: 3815 mm
Dari perhitungan diatas maka didapat ukuran sangkar faraday yang dibutuhkan
adalah 3960 mm x 3210 mm x 3815 mm.
PERENCANAAN CELAH UDARA
PADA RUANG KONTROL PABRIK
PERAK
PERHITUNGAN, PERENCANAAN, DAN DESAINCELAH UDARA
PADA GARDU INDUK
Dalam kerjanya transformator tidak lepas dari kerugian salah satunya adalah
panas, panas yang berlebihan pada trafo dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak
diinginkan antara lain :

1) Drop tegangan.
2) Pemanasan pada minyak trafo yang berlebihan, sehingga
menyebabkan turunnya kualitas minyak trafo yang dapat
mengakibatkan tegangan tembus minyak trafo turun.
Sehingga dalam kerjanya trafo menuntut sistem pendinginan yang baik,
oleh karena itu sistem pendinginannya harus mempunyai kinerja yang baik, dari
berbagai macam faktor yang mempengaruhi pendinginan salah satunya adalah
sirkulasi udara, karena dalam perencanaan ini trafo yang digunakan diletakkan
dalam ruangan (indoor).Untuk itu kita harus menghitung seberapa besar celah
ventilasi yang dibutuhkan agar sirkulasi udara dapat berjalan dengan baik.

Celah ventilasi pada trafo dihitung pada saat load losses pada suhu 75oC
dengan losses sebesar 14400 Watt = 14400 kW hal tersebut dapat dilihat pada
data trafo.

Data lain yang diketahui adalah sebagai berikut:

1) Temperatur udara masuk(t1) 20oC


2) Temperatur udara keluar (t2) 35oC
1
3) Koefisiensi muai udara ( )
273
4) Tinggi ruangan = 5 meter.
Dengan data diatas dapat dicari volume udara yang dibutuhkan untuk
mensirkulasi panas adalah sebagai berikut:

860 Pv
V x(1 t1 )
1116 (t 2 t1 )

dimana:

Pv = rugi trafo (Kw) / no load losses + load losses = 2,3 + 12,1 = 14,4 kW

t1 = temperatur udara masuk (oC)


t2 = temperatur udara keluar (oC)

= koefisien muai udara

H = ketinggian ruangan (m)

sehingga:

12384
V x(1 0,07326)
16740

V = 0,68

V 0,68 m3 s

Kemampuan pemanasan udara yang mengalir disepanjang tangki trafo


adalah

H
v

dimana:

H=ketinggian (m)

= koefisien tahanan aliran udara

Koefisien tahanan aliran udara berbeda-beda tergantung pada kondisi


daripada tempat diletakkannya trafo itu sendiri.

Kondisi tempat
Sederhana 4.....6
Sedang 7.....9
Baik 9.....10 (jaringan konsen)>20

Apabila kondisi tempat dimisalkan adalah sedang maka = 7.


Sehingga:

5
v
7

v 0,71

Maka dapat kita hitung celah ventilasi sebagai berikut:

V
qc (penampang celah udara yang masuk) :
v

0,68m 3 s
qc = = 0,965 m 2
0,71

Karena udara yang keluar memiliki temperatur yang lebih tinggi daripada
udara yang masuk yang diakibatkan proses pendinginan trafo dalam ruangan
sehingga terjadi pemuaian maka ventilasi udara keluar yang dibutuhkan harus
lebih besar daripada celah ventilasi udara masuk, dengan kata lain:

q A qC

Sehingga:

q A 1,1. qC

q A 1,1 x 0,96

q A 1,062 m 2

Nilai perhitungan diatas adalah nilai minimum, sehingga pemakaian


ventilasi udara bisa memakai ukuran yang lebih besar dari ukuran perhitungan
diatas.

Menurut PUIL 2000, celah udara ventilasi yang diijinkan pada


Gardu Induk adalah sebesar 20 cm2/kVA. Maka dari itu, perhitungan luas celah
udara untuk ventilasi pada GI adalah sebagai berikut :

Daya trafo = 1000 kVA

Celah udara total = 1000 x 20


= 20000 cm2

Celah udara seluas 20000 cm2 ini dibagi 4 celah ventilasi, 2 celah
ventilasi terdapat di dinding sisi bawah sebagai tempat masuknya udara, dan 2
celah ventilasi terdapat sisi atas dinding sebagai tempat keluarnya udara.

Celah udara sisi bawah :


Ventilasi udara sisi bawah adalah qc =0,965 m 2 /9650cm2. ~
10000 cm2
Berdimensi 100 cm x 100 cm.
Perancangan celah ventilasi sisi bawah ini didisain agak miring
dan dipasang kassa yang terbuat dari bahan stainless steel agar
benda-benda atau hewan dari luar tidak dapat masuk ke
ruangan transformator.
Luas total ventilasi udara sisi bawah adalah 10000 cm2.
Celah udara sisi atas :
Ventilasi udara sisi atas adalah q A 1,062m 2 /10620 cm2
~10700
Berdimensi 170 cm x 100 cm.
Perancangan celah ventilasi sisi atas ini didisain lebih luas dari
ventilasi sisi bawah karena udara yang memuai akibat
pemanasan trafo memiliki volume yang lebih besar daripada
udara yang masuk. Selain itu, dipasang besi-besi teralis agar
benda-benda atau hewan dari luar tidak dapat masuk ke
ruangan transformator.
Total ventilasi udara sisi atas adalah 10700 cm2.
Luas total ventilasi sebesar 20700 cm2. Celah ventilasi pada perancangan
ini sudah memenuhi persyaratan PUIL 2000.
PERENCANAAN ARESTER DAN
CUT OUT PABRIK PERAK
ARRESTER DAN FUSE CUT OUT

1. ARESTER
Arrester dipakai sebagai alat proteksi utama dari tegangan
lebih.Karena kepekaan arrester terhadap tegangan, maka pemakainya
harus disesuikan dengan tegangan sistem. Pemilihan lightning arrester
dimaksudkan untuk mendapatkan tingkat isolasi dasar yang sesuai
dengan Basic Insulation Level (BIL) peralatan yang dilindungi,
sehingga didapatkan perlindungan yang baik. Pada pemilihan arrester
ini dimisalkan tegangan impuls petir yang datang berkekuatan 100
KV dalam waktu 0,1s, jarak titik penyambaran dengan transformator
5 Km.

Tegangan dasar arrester


Pada jaringan tegangan menengah arrester ditempatkan pada sisi
tegangan tinggi (primer) yaitu 20 KV. Tegangan dasar yang
dipakai adalah 20 KV sama seperti tegangan pada sistem. Hal ini
dimaksudkan agar pada tegangan 20 KV arrester tersebut masih
tetap mampu memutuskan arus ikutan dari sistem yang effektif.
Tegangan sistem tertinggi umumnya diambil harga 110% dari
harga tegangan nominal sistem. Pada arrester yang dipakai PLN
adalah :
Vmaks = 110% x 20 KV

= 22 KV, dipilih arrester dengan tegangan teraan 28 KV.

Koefisien Pentanahan
Didefinisikan sebagai perbandingan antara tegangan rms fasa sehat
ke tanah dalam keadaan gangguan pada tempat dimana penangkal
petir. Untuk menetukan tegangan puncak (Vrms) antar fasa dengan
ground digunakan persamaan :

Vm
Vrms =
2
22
= = 15,5 KV
2

Dari persamaan di atas maka diperoleh persamaan untuk tegangan


phasa dengan ground pada sistem 3 phasa didapatkan

Vrms 2
persamaan:Vm(L - G) =
3

15,5 2
=
3

= 12,6 KV

12,6 KV
Koefisien pentanahan =
15,5 KV
= 0,82

Keterangan :

Vm = Tegangan puncak antara phasa dengan ground (KV)

Vrms = Tegangan nominal sistem (KV)

Tegangan pelepasan arrester


Tegangan kerja penangkap petir akan naik dengan naiknya arus
pelepasan, tetapi kenaikan ini sangat dibatasi oleh tahanan linier
dari penangkap petir.Tegangan yang sampai pada arrester :

e
E =
K .e.x

400KV
E =
0,0006 5Km

= 133,3 KV

Keterangan :

I = arus pelepasan arrester (A)


E = tegangan surja yang datang (KV)

Eo = tegangan pelepasan arrester (KV)

Z = impedansi surja saluran ()

R = tahanan arrester ()

Harga puncak surja petir yang masuk ke pembangkit datang dari


saluran yang dibatasi oleh BIL saluran. Dengan mengingat variasi
tegangan flashover dan probabilitas tembus isolator, maka 20%
untuk faktor keamanannya, sehingga harga e adalah :

e =1,2 BIL saluran

Keterangan :

e = tegangan surja yang datang (KV)

BIL = tingkat isolasi dasar transformator (KV)

Arus pelepasan nominal (Nominal Discharge Current)

2e Eo
I = Z+R

Z adalah impedansi saluran yang dianggap diabaikan karena jarak


perambatan sambaran tidak melebihi 10 Km dalam arti jarak antara
GTT yang satu dengan yang GTT yang lain berjarak antara 8 KM
sampai 10 KM. ( SPLN 52-3,1983 : 11 )

tegangan kejut impuls 100%


R =
arus pemuat
105KV
= = 42
2,5KA

I = 2 x 400 KV 133,3
0 42

= 15,8 kA

Keterangan :

E = tegangan pelepasan arester (KV)


e = puncak tegangan surja yang datang

K = konsatanta redaman (0,0006)

x = jarak perambatan

Jatuh tegangan pada arrester dapat dihitung dengan menggunakan


persamaan :

V =IxR

Sehingga tegangan pelepasan arrester didapatkan sesuai persamaan


: ea = Eo + (I x R)

Keterangan :

I = arus pelepasan arrester (KA)

Eo = tegangan arrester pada saat arus nol (KV)

Eo = tegangan pelepasan arrester (KV)

Z = impedansi surja ()

R = tahanan arrester ()

Pemilihan tingkat isolasi dasar (BIL)


Basic Impuls Insulation Level (BIL) level yang dinyatakan dalam
impulse crest voltage (tegangan puncak impuls) dengan standart
suatu gelombang 1,5 x 40 s. Sehingga isolasi dari peralatan-
peralatan listrik harus mempunyai karakteristik ketahanan impuls
sama atau lebih tinggi dari BIL tersebut.

Pemilihan tingkat isolasi dasar (BIL)


Harga puncak surja petir yang masuk ke pembangkit datang dari
saluran yang dibatasi oleh BIL saluran. Dengan mengingat variasi
tegangan flasover dan probabilitas tembus isolator, maka 20%
untuk faktor keamanannya, sehingga harga E adalah :
e =1,2 BIL saluran

e = 1,2 x 125 KV

e = 150 KV

Basic Impuls Insulation Level (BIL) level yang dinyatakan dalam


impulse crest voltage (tegangan puncak impuls) dengan standart
suatu gelombang 1,2/50 s. Sehingga isolasi dari peralatan-
peralatan listrik harus mempunyai karakteristik ketahanan impuls
sama atau lebih tinggi dari BIL tersebut. Sehingga dipilih BIL
arrester yang sama dengan BIL transformator yaitu 125 KV

Margin Perlindungan Arrester

Untuk mengitung dari margin perlindungan dapat dihitung dengan


rumus sebagai berikut :

MP = (BIL / KIA-1) x 100%

MP = (125 KV/ 133,3 1) x 100%

= 94,5 %

Keterangan :

MP = margin perlindungan (%)


KIA = tegangan pelepasan arrester (KV)

BIL = tingkat isolasi dasar (KV)

Berdasarkan rumus di atas ditentukan tingkat perlindungan untuk


tafo daya. Kriteria yang berlaku untuk MP > 20% dianggap cukup
untuk melindungi transformator .

Jarak penempatan Arrester dengan Peralatan


Penempatan arrester yang baik adalah menempatkan arrester
sedekat mungkin dengan peralatan yang dilindungi. Jarak arrester
dengan peralatan Yang dilindungi digunakan persamaan sebagai
berikut :

Ep = ea + 2 A x
v

2 4000 KV / s x
= 133,3 KV+
300m / s

8,3 = 26,6x

x = 0,31 m

jadi jarak arrester sejauh 31 cm dari transformator yang dilindungi.

Perhitungan jarak penempatan arrester di atas digunakan untuk


transformator tiang. Namun di wilayah Malang juga terdapat
penempatan transformator di permukaan tanah dengan
menggunakan kabel tanah. Transformator diletakkan di atas tanah
dan terhubung dengan arrester yang tetap diletakkan di atas tiang
melalui kabel tanah.

Tabel Batas Aman Arrester


Berdasarkan keterangan diatas maka pemilihan BIL arrester harus
mempunyai kemampuan yang sama atau diatas tegangan BIL petir
(150 kV), sedangkan untuk BIL trafo dapat menggunakan BIL
yang lebih rendah yaitu 125 KV

Pemilihan Arrester
Dalam hal ini pemilihan arrester yang digunakan untuk sistem
tegangan menengah yaitu arrester katup. Arrester ini terdiri dari
atas beberapa sela percik yang dihubungkan seri dengan resistor
tak-linier. Resistor tak linier mempunyai tahanan yang rendah bila
dialiri arus besar dan mempunyai tahanan yang besar saat dialiri
arus kecil. Resistor tak-linier umumnya digunakan untuk arrester
yang terbuat dari bahan silikon karbid. Kerja arrester ini tidak
dipengaruhi keadaan udara sekitar karena sela percik dan resistor
tak-linier keduanya ditempatkan dalam tabung isolasi tertutup.
2. CUT OUT
Karakteristik utama suatu cut-out adalah sehubungan dengan
kebutuhan antara waktu dan arus. Hubungan antara minimum melting
dan maksimim clearing time, ditentukan dari test data yang
menghasilkan karakteristik waktu da arus. Kurva minimum melting
time dan maksimum clearing time adalah petunjuk yang penting dalam
penggunaan fuse link pada system yang dikoordinasikan.
Melting time adalah interval waktu antara permulaan arus gangguan
dan pembusuran awal. Interval selama dalam masa pembusuran
berakhir adalah arching time. clearing time adalah melting time
ditambah dengan arching time.

Factor-faktor dalam pemilihan fuse cut-out


Cut Out berfungsi untuk mengamankan transformator dari arus lebih.
Cut out dipasang pada sisi primer transformator, dalam menentukan
cut-out hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah:
Arus nominal beban untuk pemilihan rating arus kontinyu cut-out
Tegangan sistem untuk pemilihan rating tegangan
Penggunaan CO tergantung pada arus beban, tegangan sistem, type
sistem, dan arus gangguan yang mungkin terjadi.
Ketiga factor diatas ditentukan dari tiga buah rating cut-out, yaitu :
arus kontinyu, tegangan dan kapasitas pemutusan.
a. Pemilihan rating arus kontinyu
Rating arus kontinyu dari fuse besarnya akan sama dengan atau
lebih besar arus arus beban kontinyu maksimum yang diinginkan
akan ditanggung. Dalam menentukan arus beban dari saluran,
pertimbangan arus diberikan pada kondisi normal dan kondisi arus
beban lebih ( over load ).Pada umumnya outgoing feeder 20 kV
dari GI dijatim mampu menanggung arus beban maksimum 630 A,
maka arus beban sebesar 100 A. Di Jawa timur rating arus tertinggi
cut-out adalah 100A.
b. Pemilihan rating tegangan
Rating tegangan ditentukan dari karakteristik sebagai berikut:
Tegangan system fasa atau fasa ke tanah maksimum
System pentanahan
Rangkaian satu atau tiga fasa

Sesuai dengan tegangan system dijatim maka rated tegagan


cut out dipilih sebesar 20 kV dan masuk ke BIL 150.

c. Pemilihan rating Pemutusan


aa. Transformator kering
Setiap transformator kering harus diproteksi dengan
proteksi arus lebih tersendiri pada sambungan primernya
dengan tidak lebih dari 125% dari arus primer pengenal
transformator, kecuali bila proteksi arus lebih dari sirkit
primer telah memberikan proteksi seperti diuraikan di bb.

bb. Transformator kering yang mempunyai gawai proteksi arus


lebih pada sambungan sekunder, dengan kemampuan atau
setelan tidak lebih dari 125 % dari arus sekunder pengenal
transformator, tidak perlu mempunyai gawai proteksi arus
lebih tersendiri pada sambungan primer, asal gawai proteksi
arus lebih dari saluran primer mempunyai kemampuan atau
setelan untuk membuka pada suatu harga arus tidak lebih
dari 250 % dari arus pengenal transformator. Sebuah
transformator kering yang oleh pembuatnya dilengkapi
dengan gawai proteksi beban lebih termik yang
dikoordinasikan dan diatur untuk menghentikan arus
primer, tidak perlu mempunyai gawai proteksi arus lebih
tersendiri pada saluran primer, asal gawai proteksi arus
lebih dari saluran primer mempunyai kemampuan atau
setelan untuk membuka harga arus sebagai berikut:
1. tidak lebih dari 6 kali arus pengenal transformator untuk
transformator dengan impedans tidak lebih dari 6 %.
2. tidak lebih dari 4 kali arus pengenal transformator untuk
transformator untuktransformator dengan impedans
antara 6 sampai 10 %.
Dalam pemilihan Cut Out,tergantung dari pemakaian trafo
apakah minyak atau trafo kering , Didalam PUIL 2000
Hal.190 apabila menggunakan trafo kering In CO dikalikan
125 % ( nilai maksimal ) . Sehingga nilai maksimum dari
CO diperoleh :

KVA(trafo)
I co 125%
3 20kV

1000kVA
I co 125%
3 20kV

= 36,08 A

Nilai tersebut adalah nilai maksimum sedangkan dalam


perencanaan ini digunakan CO dengan perhitungan 120%
dikalikan dengan arus pengenal transformator pada sisi
primer , yaitu 86,592 A, dengan 20% diambil dari
pertimbangan factor pengembangan.Rating arus kontinu
dari fuse besarnya dianggap sama atau lebih besar dari
beban kontinu maksimal yang diinginkan atau ditanggung.
Oleh karena itu dipilih FCO dengan arus sebesar 100A
yang mempunyai spesifikasi sebagai berikut:

Merk / Type : ABB / ( NCX 27Kv/100A )

Style Number : 279C601A17MP

Current Cont. Amps : 100A

BIL kV : 125kV
PERENCANAAN PENTANAHAN
PABRIK PERAK
Pentanahan TM dan Fungsinya
Sistem - sistem distribusi TM mempunyai arus pengisian (changing
current) lebih besar dari 5,5 amper harus ditanahkan, pentanahan
tersebut fungsinya untuk mencegah terjadinya tegangan lebih peralihan
yang besar yang disebabkan oleh busur listrik (Arching grounds).
Dengan pentanahan tersebut diperoleh arus gangguan tanah yang
besarnya tergantung impedansi pentanahan, sedemikian rupa sehingga
alat-alat pengaman dapat bekerja selektif tetapi tidak merusak
peralatan di titik gangguan. Bagiang yang di tanahkan adalah titik
netral sisi. TIM trafo ulama / GI (pentanah bertabanan) dan kawat
netral sepanjang jaringan TM (pentanahan langsung).

PENTANAHAN BODY TRAFO, SANGKAR FARADAY, BODY


CUBICLE
Pada pentanahan body trafo, sangkar faraday,body cubicle harus
mempunyai tahanan maksimum 5 ohm. Dalam pentanahan ini menggunakan
sistem pentanahan elektroda batang tunggal dengan catatan:
Elektroda ditanam pada tanah ladang dengan tahanan jenis ( ): 100 ohm/m
Luas penampang elektroda adalah 5/8Cu telanjang
r = 7,94 mm
Menggunakan sistem pentanahan elektroda batang tunggal
Panjang elektroda = 3 meter
Elektroda ditanam sedalam panjang elektroda
4L
R pentanahan = ln 1
2. .L a

100 4 x3
ln 1
2. .3 0,00794

= 33,5 Tidak memenuhi syarat karena lebih dari 5


Menggunakan konfigurasi DOUBLE STRAIGHT
l 3
k In In 5,9
r 0,00794

1 L 1 3
x 1,33
L 3
In.x In.1,33
m 0,048
k 5,9
1 2m 1 20,048
Factor pengali konfigurasi =0,548
2 2

Rpt x factor pengali konfigurasi
2L

100
x0,548 2,9 memenuhi persyaratan karena Rpt<5
2x3

Jadi, tahanan pentanahan yang diperoleh dengan pentanahan elektroda batang


tunggal sistem double straight adalah sebesar 2,9 . Sehingga memenuhi
syarat PUIL.

PENTANAHAN ARESTER DAN KABEL NA2XSGBY


(KAWAT BRAID/GB PENTANAHAN)
Agar bahaya sambaran petir tidak masuk ke dalam siatem maka
arrester harus di tanahkan. Dalam pentanahan ini menggunakan sistem pentanahan
elektroda batang tunggal dengan catatan:
Elektroda ditanam pada tanah ladang dengan tahanan jenis ( ): 100 ohm/m
Luas penampang elektroda adalah 5/8Cu telanjang
r = 7,94 mm
Menggunakan sistem pentanahan elektroda batang tunggal
Panjang elektroda = 3 meter
Elektroda ditanam sedalam panjang elektroda
4L
R pentanahan = ln 1
2. .L a

100 4 x3
ln 1
2. .3 0,00794

= 33,5 Tidak memenuhi syarat karena lebih dari 5


Menggunakan konfigurasi DOUBLE STRAIGHT
l 3
k In In 5,9
r 0,00794

1 L 1 3
x 1,33
L 3
In.x In.1,33
m 0,048
k 5,9
1 2m 1 20,048
Factor pengali konfigurasi =0,548
2 2


Rpt x factor pengali konfigurasi
2L
100
x0,548 2,9
2x3

memenuhi persyaratan karena Rpt<5


Jadi, tahanan pentanahan yang diperoleh dengan pentanahan elektroda batang
tunggal sistem double straight adalah sebesar 2,9 .
Sehinggamemenuhisyarat PUIL.
PERENCANAAN KAPASTOR BANK
PABRIK PERAK
PERHITUNGAN KAPASITOR

1. PEMASANGAN KAPASITOR

Untuk memaksimalkan penggunaan daya pada pabrik maka direncanakan


pemasangan kapasitor. Beberapa keuntungan pemasangan kapasitor adalah :

Menurunkan pemakaian kVA total


Mengoptimalkan daya trafo
Menurunkan rugi tegangan
Dll

Diketahui data pabrik sebagai berikut :

Harmonisa 30%
Power factor 0.70
Power factor yang diinginkan 0.95
Daya aktif 700.000 W

Perhitungan menggunakan metode 1 ( tabel cos phi ). Melihat tabel cos phi
menunjukkan factor pengali sebesar 0,691. Maka daya reaktif yang diperlukan
:

0,371 x 700.000 W = 259,7 kVAr

Melihat kebutuhan daya reaktif sebesar 259,7 kVAr, nilai perubahan


power factor ( fluktuasi ) yang tinggi dan harmonisa yang tinggi maka dipilih
kapasitor bank produk ABB series 700 dengan spesifikasi umum sebagai
berikut :

Max kVAr : 500kVAr


Tegangan : 480 V
steps : 5

NB: Keterangan lebih lengkap dapat dilihat pada lampiran katalog


2. Kabel ke panel capasitor bank
Sin : 0,3
Daya Reaktif : 500 kVAr
Daya Semu :1000 kVA

1000
= = 1,5
3400

KHA = In x 125%
= 2414,5 x 1,5
= 3018 A
Karena di pasaran tidak ada kabel yang KHA nya sampai 3018 A, maka
jumlah kabel ditambah dengan luas penampangnya yang di pilih.

Di pilih kabel NYY 0,6/1 (1,2) KV SPLN 43-1/ IEC 60502-1 dengan luas
penampang 300 mm2 dengan KHA 680 A di suhu 300C di udara (merk
supreme)

NB: keterangan lebih lengkap ada pada lampiran katalog

3018
= = 4,4 = 4 ()
680

Faktor Penempatan = 0,96 ( Laid on the racks in flat formation, number of


system 3 and number of racks 1)

Faktor suhu = 0,93 ( PVC insulation 350C)

KHA = jumlah kabel x KHA kabel x faktor penempatan x faktor suhu

KHA = 5 x 680 x 0,96 x 0,93 = 3035,5 A

Maka kabel yang di gunakan sudah memenuhi syarat.

Jadi - kabel Perfasa 5(1 x 300 mm2)


- Kabel netral 5(1 x 150 mm2)
- Kabel PE 5(1 x 150 mm2)