Anda di halaman 1dari 47

PERHITUNGAN HALUAN DAN JAUH

PENDAHULUAN
Bila kapal berlayar untuk sesuatu waktu dengan suatu haluan
sejati yang tetap, maka lintasan kapal dipermukaan bumi berupa
sebuah garis lengkung yang memotong semua derajah dengan sudut-
sudut yang sama. Garis ini dinamakan LOXODROM.
Walaupun jarak terpendek antara dua tempat dibumi itu melalui
lingkaran besar, biasanya yang dipakai pada jarak yang tidak terlalu
besar antara tempat tolak dan tempat tiba ialah melalui loxodrom.
Pada lingkaran besar, kita harus selalu menghitung haluan yang
baru, karena lingkaran besar antara lain membuat sudut-sudut yang
tidak sama besar dengan derajah-derajah yang berikutnya. Sedangkan
dengan loxodrom adalah haluan yang sejati selalu sama.
Titik-titik pada loxodrom pada umumnya tidaklah terletak
semuanya pada suatu bidang datar, secara ilmu pasti dapatlah
dikatakan, bahwa loxodrom itu adalah suatu garis yang dobel
lengkungnya. Suatu loxodrom yang sembarang tidak dapat melalui
kutub-kutub, ia akan selalu mengitari kutub-kutub dengan putaran-
putaran yang mendekat, dengan tidak sama sekali mencapai kutub.
Karena bilamana loxodrom akan mencapai kutub-kutub, maka haluan
tertentu Utara atau Selatan. Karena loxodrom itu membuat sudut yang
sama besar dengan derajah-derajah yang berikutnya, maka loxodrom
itu akan mencapai kutub-kutub, hanya apabila haluan adalah Utara
atau Selatan. Loxodrom tadi jatuh sama dengan derajah dan terletak
juga pada suatu bidang datar.
Lintasan yang ditempuh kapal, bila berlayar dengan suatu haluan
sejadi tertentu itu, diwujudkan dalam satuan-satuan mil laut,
dinamakan JAUH.
Perhitungan Haluan dan jauh meliputi dua macam perhitungan
tanpa mempergunakan peta, yaitu :
a. Menghitung lintang dan bujur tempat tiba, bila tempat tolak, haluan
dan jauh melalui loxodrom ditentukan.
b. Menghitung haluan dan jauh sepanjang loxodrom, bila ditentukan
tempat tolak dan tempat tiba.

1. HALUAN UTARA DAN SELATAN


Kapal yang berlayar dengan haluan sejati Utara atau Selatan
(000 atau 180), berlayar sepanjang derajah. Tiap kali ia menempuh
jauh 1 mil, tiap kali ia pindah lintang 1 menit, sebab 1 menit
derajah sama dengan 1 menit lingkaran besar, sama dengan 1 mil
laut.
Dengan demikian, maka jauh sama dengan selisih antara
tempat tolak dan tempat tiba, yang kita namakan Delta Lintang

ditulis : lt.

Contoh-contoh :
a. Dari 16o 10 U/25o 26 B, kapal berlayar dengan haluan sejati
Selatan sejauh 314 mil. Ditanyakan tempat tiba.
b. Dari 07o 13 S/167o 14 T, kapal berlayar dengan haluan sejati
Utara sejauh 517 mil. Ditanyakan tempat tiba.
Jawaban :
a. Haluan Selatan, jauh 314 mil.
lt = 314 = 5o 14 Selatan
Tempat tolak 16o 10 U/ 25o 26 B
lt 5o 14 Selatan
--------------------------
Tempa tiba 10o 56 U/ 25o 26 B
=============

b. Haluan Utara, jauh 517 mil


lt = 5171 = 8o 37 Utara
Tempat tolak 07o 13 S / 167o 14 T
lt 8o 37 U
--------------------------
Tempa tiba 01o 24 U/ 167o 14 T
=============

(Perhatian : Karena lt itu Utara dan lebih besar dari lintang


Selatannya tempat tolak, maka kita tiba disebelah
Utara dari katulistiwa)

2. HALUAN TIMUR DAN BARAT


Dengan memakai haluan Timur atau Barat, kapal berlayar
melalui jajar atau katulistiwa. Lintang jadi tidaklah berubah.

Gambar 29
Dalam gambar 29 diatas itu, kapal berlayar dari A ke B.

Perubahan bujur (atau bj) adalah jumlah menit dari busur FG dari
pada katulistiwa. Oleh karena katulistiwa adalah suatu lingkaran

besar, maka bj adalah juga jumlah mil dari busur FG.


Busur AB adalah busur jajar, dimana sudut titik-pusat ANB
termasuk didalamnya, sedangkan busur FG adalah busur dari
katulistiwa dengan sudut titik-pusat yang sama besar, ialah FPG.
Panjang dari pada busur-busur ini saling berbanding sebagai
jari-jari dari pada lingkaran-lingkaran dimana busur-busur tadi
terletak. Maka menurut dalil Planemetri :

Dua busur dari dua lingkaran yang mempunyai sudut


pusat sama, berbanding sebagai jari-jari lingkaran itu

Lingkaran-lingkaran jajar itu semakin jauh dari katulistiwa


adalah semakin kecil, sehingga tempat tolak dan tempat tiba yang
terletak pada jajar yang sama, dan yang satu letak pada derajah KF
dan yang lainnya pada derajah KG, seperti yang tertera digambar

atas, walaupun bj-nya akan sama dengan bilangan kita berlayar


sepanjang katulistiwa dari F ke G, jauh pada jajar itu yang
dinamakan simpang, akan lebih pendek dari jauh sepanjang
katulistiwa itu.
Jadi juga simpang antara dua tempat pada dua jajar yang
sama, besarnya tergantung dari selisih bujur kedua tempat itu dan
bergantung pula pada lintang diatas mana jajar itu berdiri
Hubungan antara bj, simpang dan lintang, dapat
diperoleh menurut dalil tadi dan sebagai berikut :

AB : FG = jari-jari jajar : jari-jari katulistiwa.

Karena sudut SPI = sudut NSP, adalah litang dari pada semua
titik yang terletak pada jajar itu, maka NS : PI = NS : PS = jari-jari
jajar : jari-jari katulistiwa = cos lintang (cos lt).

Jadi AB : FG = cos lt : 1, atau AB = FC cos lt, atau juga :

FG = AB sec lt
Pada haluan Timur atau Barat, jauh AB dinamakan
Simpang, jadi :

bj = simpang sec lt

Untuk menentukan bj dari formula ini, dapatlah

perbanyakan dengan sec lt dihindari dengan mempergunakan


DAFTAR PELAYARAN II. Daftar ini memberikan pada berbagai
lintang, perubahan bujur untuk 1, 2, 3 dst sampai 9 mil simpang,
dimana nilai diberikan dalam 3 persepuluhan.

Umpananya : Untuk mengetahui bj-nya simpang 239 mil dari


suatu lintang tertentu, kita ambil 100 x harga dari
kolom untuk 2 mil dari lintang itu, selanjutnya 10 x
harga dari kolom untuk 3 mil dan kemudian harga

dari kolom untuk 9 mil. Jumlah ini semua, adalah bj


dari simpang 239 mil.
Contoh soal :
Dari 43o 14 U/007o 14 B, kapal berlayar dengan haluan Barat 92
mil. Ditanyakan tempat tiba kapal itu.

Penjelasan :
Haluan Barat 92 mil, jadi simpang = 92 mil Barat.
Di Daftar II :

Untuk lt 43o 10, simpang 90 mil = bj 123, 39


simpang 2 mil = bj 2, 74
------------------------------------------- +
o
Untuk lt 43 10, simpang 92 mil = bj 126, 13 = 2o 6, 1 B
Tempat tolak 43o 14 U 007o 14 B
lt 0o bj 2o 6,1 B
---------------------------------------------- +
Tempat tiba 43o 14 U 009o 20, 1 B
=======================

Bila mempergunakan perhitungan dengan memperbanyakkan :


Untuk lt 43o 10, Secans = 1, 371
43o 20, = 1, 375
o
43 14, = 1, 373
bj = 92 x 1,373 = 126,3 = 2o 6,3
======

Contoh soal lain:


Dari 56o 12 U/012o 14 B, kapal berlayar dengan haluan Barat,
sejauh 364 mil, ditanyakan tempat tiba kapal.

Penyelesaian:
Haluan Barat, jauh 364 mil, jadi simpang = 364 mil Barat.
Di Daftar II :

Untuk lt 56o 10, simpang 300 = bj 538, 8


simpang 60 = bj 107,76
simpang 4 = bj 7,18
------------------------------------------- +
Untuk lt 56o 10, simpang 364 = bj 653, 7

Untuk lt 56o 15, simpang 300 = bj 540, 0


simpang 60 = bj 108, 0
simpang 4 = bj 7,2
------------------------------------------- +
Untuk lt 56o 15, simpang 364 = bj 655, 2

Jadi untuk 56o 12, simpang 364 = bj 654,3 = 10o, 54, 3 B


=========

(Perhatian : Karena simpang lebih besar dari 100, interpolasi


untuk lintang, perlu sekali).

Tempat tolak 56o 12 U 012o 14,0 B


lt 0o bj 10o 54,3 B
------------------------------------
Tempat tiba 56o 12 U 023o 08,3 B
==================

Bila mempergunakan cara penyelesaian lain :


Untuk 56o 10, secans = 1,796
56o 15, = 1,800
56o 12, = 1,798
bj = 365 x 1,798 = 654,5
-----------
3. HALUAN SERONG (HALUAN SEMBARANG)
Kecuali haluan menurut derajah (Selatan atau Utara) dan
menurut katulistiwa atau menurut jajar (Timur atau Barat), masih
terdapat lagi haluan yang bukan U-S-T-B, yaitu Haluan Serong.

Kita jadi berlayar sepanjang loxodrom dan dalam hal ini


teranglah, bahwa terjadi perubahan pada lintang dan bujur pada
tempat tolak.

Gambar 30a

Gambar 30b Gambar 30c

Kapal berlayar dari C ke D menurut loxodrom

lt disini ialah busur BF, bj ialah busur ab dari katulistiwa,


jauhnya ialah loxodrom CD dan haluannya ialah sudut GCD. Untuk

menyelidiki bagaimana hubungan antara lt dan bj terhadap


jauh dan haluan, maka kita anggap loxodrom CD dibagi dalam
bagian-bagian kecil yang sama. Dilukiskannya derajah-derajah dan
jajar yang selaras dengan bagian loxodrom-loxodrom tersebut.
Dengan cara begini, maka terdapat segitiga-segitiga kecil, yang
karena kecilnya bolehlah dianggapnya sebagai segitiga datar
(seperti dalam gambar 30b dan 30c). dengan sendirinya rumus-
rumus bagi pengukuran segitiga bola tidaklah berlaku. Malahan
kesalahan akan lebih kecil lagi, kalau bagian-bagian itu lebih
diperbanyak.
Jadi segitiga cde, afg, ghi adalah sama-bangun, semuanya
kesalahan siku-siku dan mempunyai sudut haluan yang sama pula,
sedangkan ce, eg, gi dan sebagainya adalah sama panjang.
Kesimpulannya adalah, adanya rumus :

A. bj = jauh cos h (aluan)

Sebab, tadi busur CG dibagi dalam bagian yang sama besar


oleh jajar yang melalui c, g, l, oleh karena cd = ef = gh, dan
seterusnya. Bilamana jarak cc, juga cd dibagi dalam n bagian yang

sama, maka ce = 1/n jauh dan juga cd = 1/n lt.


Dari segitiga cde ternyata, bahwa cd = ce cos dce, jadi 1/n lt
= 1/n jauh cos h (haluan).
Bilamana kedua bagian itu dibagi dengan n, terdapatlah rumus
seperti tersebut diatas tadi.
Busur de, fg, hi, disebut simpang, masing-masing termasuk
pada jauh cc, eg dan gi. Jumlah dari pada ce, gh dan ih disebut
jumlah simpang atau disingkat simpang.
Dalam gambar terangkah, bahwa jumlah simpang lebih pendek
dari pada busur CH, tetapi lebih panjang dari busur GD. Dalam
segitiga bola cde, ternyata bahwa de = ca sin haluan, lalu
terdapatlah rumus kedua :

B. Simpang = jauh sin h (haluan)

Sebab : de = ce sin h = 1/n simpang, dan ce = 1/n jauh. Bila


bagian-bagian de (1/n simpang) dan co (1/n jauh) dikalikan dengan
n, terdapatlah rumus kedua tersebut diatas.

Dengan cara memberi rumus-rumus yang telah kita dapatkan


tadi, ialah :
Simpang jauh sin haluan
---------- = --------------------- , maka terdapatlah
lt jauh cos haluan

Rumus :

smpang
C. tg h (haluan) = ----------
lt

Dikarenakan simpang, selisih bujur ( bj) antara c dan d

belumlah jelas. Selisih bujur ini dinyatakan dengan menit, adalah


sama dengan jarak ab dinyatakan dengan mil.

Jadi bj = aj + jk + kl + + nb.
Untuk mendapatkan aj, jk, kl, nb, haruslah diketahui lintang
dari pada jajar, diatas mana d, f, h itu terletak. Andaikata lt. 0 (nol)
adalah lintangnya C, dan lt.1 adalah lintangnya D, dan untuk
mempermudahkan pembagian CD diatur sedemikian rupa, agar Cd,
ef, gh, dan seterusnya adalah sama dengan 1 ml, maka lintang d, f,
h, dan selanjutnya, adalah berurutan lt.0 + 1, lt.0 + 2, lt.0 + 3,

dan seterusnya.., dan jadilah lt.1 lt.0 = lt = x menit (1 menit


= 1 mil laut).
Ketiga rumus ini adalah dasar penyusunan daftar I.
Dari ketentuan-ketentuan pada haluan Timur dan Barat,

bj = simpang secans lintang, diketahuilah bahwa :


aj = ed secans (lt.0 + 1)
jk = gf secans (lt.0 + 2), dst, atau juga

aj = 1/x simpang secans (lt.0 + 1)


jk = 1/x simpang secans (lt.0 + 2)
kl = 1/x simpang secans (lt.0 + 3)

nb = 1/x simpang secans (lt.0 + x) 1/n-simpang sec lt.1.


Bila kesemuanya ini dijumlahkan, terdapatlah :

bd = 1/x simpang [secans (lt.0 + 1) + secans (lt.0 + 2 +


secans (lt.0 + 3) + + secans lt.1]

Simpang
Karena ternyata -------------- = tg haluan, maka
lt

1/x simpang = 1/x lt, tg haluan. Dan oleh karena lt = x, maka


1/x lt = 1, sehingga :

bj = tg haluan x [secans (lt.0 + 1) + secans (lt.0 + 2) + secans


(lt.0 + 3) + + secans lt.1] x 1
Bentuk [ ] dapatlah dianggap selisih dari pada dua deret
antara lain dari :
1. Secans 1 + secans 2 + secans 3 + hingga secans lt.1
2. Secans 1 + secans 2 + secans 3 + hingga secans lt.0

Harga dari pada [secans 1 + secans 2 + secans 3 + .. + secans


lt.1] x 1, adalah : Lintang bertumbuh dari lt.1, ditulis
pendek : ltb (lt.1) atau ltb.1

Begitu pula [secans 1 + secans + 2 + secans + 3 + + secans


lt.0] x 1, adalah lintang bertumbuh dari lt.0, ditulis pendek
ltb (lt.0) atau ltb.0

Mengenai lintang bertumbuh ini dapatlah dikatakan demikian :

Jumlah menit dari pada lintang bertubuh untuk jajar dengan


lintang lt., adalah sama dengan jumlah dari pada secan-secan dari
menit ke menit, dimulai dari secans 1 sampai dengan secan lt.

Apabila pernyataan lintang bertumbuh disesuaikan dengna formula

bj, maka akan terdapatlah rumus-rumus :


bj = tg haluan (ltb.1 ltb.0)
atau

bj = tg haluan x ltb
Bilamana tempat tolak dan tempat tiba terletak pada bagian
yang berbeda dari katulistiwa (berlainan lintang), maka untuk

mendapatkan bj, haruslah diambil jumlah dari ltb dari pada


tempat tolak dan tempat tiba. Dalam hal ini, rumusnya adalah :

bj = tg haluan (ltb.1 + ltb.0)

Pada ketentuan-ketentuan tersebut diatas, ternyata bahwa


titik-titik bagi dari loxodrom selalu mempunyai selisih lintang dari 1.

Kalau selisih lintang tadi tidak 1, tetapi 1/x lt, dapatlah di tulis
untuk selisih ltb :
lt lt 2 lt
------ secans (lt.0 + ---------) + secans (lt.0 + ---------) +
X X X

3 lt
secans (lt.0 + ---------) + + secans lt.1
x

Tetapi bilamana x diambil selalu lebih besar, maka nilai dari


bentuk ini akan mendekat batas nilai, yang menunjukkan nilai

sebenarnya dari ltb.

Sebagai ganti dari formula yang lebih teliti dari bj =


tg haluan x ltb, seringkali dipakai formula yang mendekat.
Tadi sudah ternyata, bahwa simpang adalah lebih besar dari pada
busur GD pada jajar AB, tetapi lebih kecil dari busur CH dari jajar
EF.
Disuatu tempat antara AB dan EF, terdapatlah suatu jajar, dimana
derajah-derajah KU.C dan KU.D memotong sebagian dari X.X1,
yang justru adalah sama dengan simpang seluruhnya.

Gambar 31

Sekarang bj = simpang x secans dari pada lintang jajar


X.X1. Sebagai ancar-ancar kita pergunakan untuk lintang itu,
tengah-tengah daripada tempat tolak dan tempat tiba (mendekat).
Litang tengah-tengah ini dinamakan lintang-menengah (ltt).

Untuk perhitungan yang mendekat, kita pergunakan formula:

bj = simpang secans ltt

Untuk mendapatkan suatu gambaran tentang formula diatas


itu, dikerjakan demikian :
bj 1/n simpang [secans (lt.0 + 1,) + secans (lt.0 + 2,) +
secans (lt.0 + 3) + + sec lt.1.]

Bentuk antara [ ] mengandung secan-secan sejumlah n

1/n [sec (lt.0 + 1) + sec (lt.0 + 2) + sec (lt.0 + 3) + + sec lt.1]


adalah harga rata-rata dari pada secans-secans antara lt.0 dan lt.1.

Untuk mendekatkan kita ambil untuk itu, secan-secan yang


termasuk pada lintang, yang adalah tengah rata-rata dari pada
tempat tolak dan tempat tiba, jadi secans dari pada lintang

menengah. Maka diambilan bj = simpang sec ltt.

Ini tidaklah teliti. Secan-secan selalu menjadi lebih besar pada


sudut-sudut yang makin besar. Secan-secan dari pada lintang-
lintang yang terletak di atas lintang-menengah, berbeda sedikit
demi sedikit lebih besar dengan secan lintang-menengah, dari pada
bentuk lintang-lintang yang terletak pada jarak-jarak sama jauh
dibawah lintang-menegah itu.

Tengah rata-rata antara (secan 1o secans 0o) dan (scan 2o


secans 1o) adalah tidak berarti. Tetapi antara (secans 61o) secans
60o) dan (secans 61o - secans 59o) adalah berarti sekali. Lebih-lebih
pada lintang-lintang yang tinggi, formula mendekat ini akan
membuat kesalahan yang menjolok. Atas penelitian yang sempurna
ternyata, bahwa sampai pada lintang-menengah 70o pun dan jauh
sampai 400 mil, kesalahan untuk praktek adalah tidak berarti.
Pada lintang yang makin tinggi dan jauh yang makin besar,
kesalahan akan bertambah. Sebagai kebiasaan, kita pergunakan
untuk kerjaan sehari-hari, formula :

bj = simpang sec ltt

Bilamana kita pakai pada bj = simpang sec lt.x dimana lt.x


adalah lintang yang sementara tidak kita ketahui, dan bilamana kita
pakai formula ini supaya memberi nilai sama seperti pada formula

yang sebenarnya bj = tg haluan x ltb, maka haruslah simpang x


sec lt.x = tg haluan x ltb.
Dengan simpang = lt tg haluan, maka ini akan berarti :
lt sec lt.x = ltb
Atau

ltb
Sec ltx = -----------
ltx

Jelasnya demikian ini : bj = simpang sec lt.x


= tg hauan x ltb
Jadi simpang sec lt.x = tg haluan x ltb, karena simpang lt
tg haluan. Maka lt tg haluan secans lt.x = tg haluan x ltb, jadi :
lt sec lt.x = ltb, atau

ltb
Sec lt.x = -----------
lt.
Untuk tempat tolak dan tempat tiba kita, jadinya akan dapat
menentukan lintang mana yang akan diambil dari pada lintang-
menengah, supaya dengan bj = simpang sec lt, kita dapat
menentukan atau menemukan perubahan bujur yang sebenarnya.
Pada umpamanya tempat tolak 52o U, dan tempat tiba 58o U (lt =
6o = 360), maka sec lt.x = (ltb 58o ltb 52o) : 360 = 1,7475, dimana lt.x
= 55o-05,5 jadi 5,5 lebih tinggi dari lintang-menengah (ltt) dari lintasan
yang diumpamakan tadi.
Karena sec 55o=1,743, maka bj = simpang sec ltt, dalam hal ini
kesalahan ada % dari pada bj yang dihitung.
Formula bj = tg haluan x ltb, adalah menurut Ilmu Pasti
sempurna kebenarannya. Pada haluan-haluan 090 dan 270, formula
ini tidaklah dapat dipergunakan, karena lb = 0, dan tg haluan = .
Dalam hal ini formula bj = simpang sec lt adalah benar. Untuk
haluan dekat-dekat Timur atau Barat, adalah tidak sepatutnya memakai
formula bj = tg haluan x lbt.
Bila kita tentukan lt dan selanjutnya ltb, dari Daftar-daftar
Pelayaran, maka kita bekerja dengan nilai-nilai yang dibulatkan. Pada
ltb, mungkin juga terjadi kesalahan pembulatan. Pada haluan-haluan
dekat Timur atau Barat, tg haluan mempunyai harga besar.
Harga yang diperoleh dari formula bj = tg haluan x ltb, karena
harga besar dari pada tg haluan, mendapat kesalahan yang besar sekali.
Dalam hal ini formula yang mendekat bj = simpang sec ltt,
memberikan jawaban yang lebih teliti, sampai pada jauh-jauh yang besar,
karena selisih lintang adalah kecil.

4. CARA PENYELESAIAN PERHITUNGAN HALUAN DAN JAUH


Soal-soal tentang perhitungan haluan dan jauh ini dibagi dalam
dua macam, ialah :
Macam I :
Diketahui tempat tolak, haluan dan jauh. Ditanyakan tempat
tiba. Cara penyelesaiannya ada dua cara ialah dengan
mempergunakan :
1. Lintang-bertumbuh (ltb)
2. Lintang-menengah (ltt)
1. Dengan Lintang Bertumbuh

Untuk mencari lt, dipergunakan formula.

A. lt = jauh cos haluan


Ini dapat dicari di DAFTAR I. Kemudian untuk mencari bj, dengan
menggunakan formula.

B. bj = ltb tg haluan
Mencari tg haluan di DAFTAR I. Serta mencari ltb di DAFTAR XVII.

2. Dengan Lintang Menengah


Utuk mendapatkan lt, dipergunakan formula.

A. lt = jauh cos haluan


Ini dapat dicari di DAFTAR I. selanjutya untuk mencari Simpang,
dengan memakai formula.

B. Simpang = jauh sin haluan

Ini juga dapat dicari di DAFTAR I. Untuk mendapatkan bj-nya


sekarang, kita pakai formula.

C. bj = simpang sec ltt


Ini dapat dicari di DAFTAR II.

Macam II :
Diketahui tempat tolak dan tempat tiba.
Ditanyakan haluan dan jauh
Cara penyelesaiannya ada dua cara ialah dengan menggunakan :
1. Lintang-bertumbuh (ltb)
2. Lintang-menengah (ltt)
1. Dengan Lintang-Bertumbuh
Untuk mencari haluan, dipergunakan formula.

bj
A. tg haluan = ---------------
ltb
Perhitungan ini memakai logarithma untuk mencari mantis-mantis
dari logarithma-logaritma angka-angka dari 1000 sampai 10.000,
dapat dicari di DAFTAR X. Serta untuk mencari log.perbandingan-
perbandingan goniometri, ada di DAFTAR VIII.
Kemudian untuk mendapatkan jauh, dapat dipergunakan formula.

B. jauh = lt sec haluan


Juga ini dapat dicari di DAFTAR X dan VIII.

2. Dengan Lintang-Menengah
dari bj yang telah kita ketahui, dapatlah dicari simpang dengan
menggunakan formula.

A. Simpang = bj cos ltt


Ini dapat dicari di DAFTAR III. Kemudian haluan dapat dicari dengan
menggunakan formula.

simpang
B. tg haluan = ------------------
lt
Ini dapat dikerjakan dengan memakai logarithma-logarithma,
tetapi juga dapat dicari dengan perhitungan-perhitungan biasa.
Bila dengan memakai log., pergunakan DAFTAR VIII dan X, tetapi bila
dengan perhitungan biasa, sudah dapat dikemukan tg haluannya,
carilah haluan di DAFTAR I.
Selanjutnya, karena haluan sudah dapat dicari, kita tinggal mencari
jauh, dengan menggunakan salah satu dari formula-formula dibawah
ini.

C1. Jauh = lt sec haluan


C2. Jauh = simpang cosec haluan
Mencari jauh dari lt atau dari simpang tersebut diatas, itu tergantung
dari pada nilai yang terbesar dari pada kedua argumen itu. Jadi jika
simpangya yang lebih besar dari lt, maka mencari jauh dpergunakan
argumen simpang. Kesemuanya ini dapat dipergunakan DAFTAR I.

Sedikit penjelasan tentang cara menggunakan DAFTAR I.


Daftar ini memberikan untuk berbagai haluan, dengan jauh
sebagai argumen, nilai-nilai dari pada lt dan simpang.
Angka-angka yang terdapat di tengah-tengah sebelah atas dan
bawah itu, menunjukkan nilai-nilai dari pada haluan, lebih kecil
dari 90o.
Sebelah atas dan bawah paling kanan, tertulis haluan-haluan
dimana akan memberikan lt dan simpang pada jauh yang sama
seperti yang diberikan pada haluan-haluan yang lebih kecil dari 90o.
Cara dari pada penempatan haluan-haluan itu, akan menunjukkan,
apakah lt itu Utara atau Selatan, dan apakah simpangannya itu
Timur atau Barat.
Berhubung nilai-nilai mutlak dari pada umpama sin 36o sama
dengan cos 54o, cos 126o, cos 234o dan cos 306o, maka simpang pada
haluan 036 akan sama dengan lt pada haluan 054, 126, 234 dan
306. Demikian pula lt pada haluan 036, akan sama dengan simpang
pada haluan-haluan 054, 126, 234 dan 306. Pada halaman untuk
haluan 036, dapatlah juga dicari nilai dari lt dan simpang untuk
haluan-haluan 054, 126, 234 dan 306.
Haluan-haluan itu dapat ditemukan di bagian bawah. Dalam
mencari lt dan simpang untuk haluan-haluan yang tertera dibawah,
janganlah dicari dari ketentuannya di kolom-kolom diatas, tetapi dari
kolom-kolom dibawah.
Kecuali jumlah derajat-derajat, ditiap halaman tertulis
disebelahnya, nilai-nilai mutlak dari tangan dan secans dari pada
haluan.
Kembali untuk cara menempatkan haluan-haluan, untuk
mengetahui apakah lt itu Utara atau Selatan, serta simpang itu
Timur atau Barat, dapat dilihat di skema dibawah ini.

( lt =U) ( lt =U)
324 36
(simpang = B ) (simpang = T )

( lt =S) ( lt =S)
216 144
(simpang = B ) (simpang = T )

Bila haluan-haluan tidak disebut dalam derajat-derajat, tetapi


dalam mata-surat, dapatlah dicari disuatu daftar di Daftar Pelayaran
pada halaman dua, dengan berapa derajat mata-mata surat itu akan
sesuai. Kita mencari lt dan simpang, pada haluan-haluan yang telah
dibulatkan penuh dalam derajat-derajat.

CONTOH-CONTOH :
a. Haluan 216, jauh 213 mil
Untuk haluan 216, DAFTAR I memberikan nilai : jauh 213 mil lt =
172,3, dan simpang = 125,2 dalam skema seperti diatas, tahukan
kita, bahwa lt = Selatan, sedang simpangnya = Barat.
b. Haluan 103, jauh 817 mil
Untuk haluan 103,
Jauh 800 mil lt = 180,0 simpang = 779,5
17 = 3,8 = 16,6
----------------------------------------------------------------------- +
Jauh 817 mil lt = 183,8 simpang = 796,1

lt = Selatan, dan simpang = Timur


Bilamana ditemukan lt, dapatlah kita mencari lt dari tempat
tiba, dengan perantaraan lt dari tempat tolak.
Tetapi untuk menemukan bj dengan formula bj = ltb tg
haluan, dapatlah dicari tg haluan pada DAFTAR I, sedangkan nilai
dari pada lintang-bertumbuh pada DAFTAR XVII. Selanjutnya untuk
mencari bj dengan formula bj = simpang x sec ltt pada
DAFTAR II.

CONTOH SOAL-SOAL MACAM I


1. Dari 54o 16 U/008o 14B, kapal berlayar dengan haluan 234o sejauh
415 mil. Dimana tempat tibanya ?
a) Penyelesaian dengan lintang-bertumbuh (ltb)
Haluan 234o, jauh 415 mil - lt = 243,9 S = 4o 3,9 S
tg haluan = 1,376
234o ada di kwadrant S.B., jadi lt = S, simpang dan bj = Barat.
Tempat tolak = 54o 16,0
lt = 4o 3,9
----------------------
Tempat tiba = 50o 12,1 U
===========

Ltb 1 = 3891,95 (XVII)


Ltb 2 = 3493,34 (XVII)
-----------------
ltb = 398,61 (ltb 1 ltb 2)
tg haluan = 1,376
----------------- X
bj = 548,5 (5485) 008o 14,0 B
o
= 9 8,5 <------------ 9o 8,5 B
------------------
017o 22,5 B
b) Penyelesaian dengan lintang-menengah
Haluan 234o, jauh 415 mil - lt = 243,9 S
= 4o 3,9 S
- simpang = 335,7 B
008o 14,0 B
9o 15,1 B
========
017o 22,1 B
Tempat tolak = 54o 16,0 U
lt = 4o 3,9 S
----------------------
Tempat tiba = 50o 12,1 U
===========

Lintang-menengah = 52o 14

DAFTAR II, untuk 52o 10 simpang 415 - bj = 547,3


52o 20 simpang 415 - bj = 549,3
52o 14 simpang 415 - bj = 548,1
= 9o 9,1

2. Dari 04o 13 U/176o 10 T, kapal berlayar dengan haluan 157o sejauh


785 mil. Dimana tempat tibanya ?
Perhitungan :
a) Dengan lintang-bertumbuh
Haluan 157o, jauh 785 mil - lt = 722,6 S = 12o 2,6 S
- tg haluan = 0,424

157 ada di kwadrant S.T., jadi lt = Selatan, dan simpang serta


bj = Timur.
Tempat tolak = 04o 13,0 U 176o 10,0 T
lt = 12o 2,6 S 5o 7,1 T
--------------------- ------------------
Tempat tiba = 07o 49,6 S 181o 17,1 T
========== 178o 42,9 B
=========

Ltb 1 = 253,23
Ltb 2 = 471,07
--------------- +
= 724,30
Karena kedua tempat tersebut terletak pada sisi yang berlainan
dari khatulistiwa, maka haruslah ltb 1 + ltb 2.
bj = tg haluan x ltb
bj = 0,424 x 724,30
bj = 307,1 = 5o 7,1 (T)

b) dengan lintang-menengah
Haluan 157o, jauh 785 mil - lt = 722,6 S = 12o 2, 6 S
- simpang = 306,7

Tempat tolak 04o 13,0 U 176o 10,9 T


lt 12o 2,6 S 5o 6,9 T
---------------- -------------------
Tempat tiba 07o 49,6 S 181o 16,9 T
========== 178o 43,1 B
==========

Lintang-menengah = 1o 48

DAFTAR II, untuk lt 2o - bj = 306,9


= 5o 6,9 (T)

CONTOH SOAL-SOAL MACAM II


Soal-soal macam II ini ialah soal-soal untuk menentukan haluan dan jauh
antara dua titik (tempat) yang ditentukan.
1. Berapa haluan dan jauh pelayaran, bila kapal bertolak dari 49o
16 U / 043o 14 B, ke tempat tiba 54o 15 U / 036o 18 B.
Perhitungan :
a) dengan lintang-bertumbuh (dihitung dengan log)
T.tolak 49o 16 U 43o 14 B ltb = 3406,54
T.tiba 54o 15 U 36o 18 B ltb = 3890,23
--------------- --------------- ---------------
lt = 4o 59 U bj = 6o 59 T ltb = 483,69
lt = 299 U bj = 416 T

bj
tg haluan = ---------------
ltb
log bj = 2,61909 (X)
log ltb = 2,68457 (X)
-------------- -
log tg hal = 9,93452 - 10
haluan = 40o 41,8 (VIII)

jauh = lt lt sec haluan

log sec haluan = 10,12023 - 10 (VIII)


log lt = 2,47567
------------------------------- +
log jauh = 2,59590
jauh = 394,36 = 394,4
Jadi : haluan = U-40o,7 T atau 041o, jauh 394,4 mil
===============

b) dengan lintang-menengah
Tempat tolak 49o 16 U 43o 14 B
Tempat tiba 54o 15 U 36o 18 B
--------------- --------------
lt 4o 59 U 6o 56 T ( bd )
299 U 416 T

Lintang-menengah = 51o 45,5

DAFTAR III,
Untuk lt 51o 40, bj 416, simpang = 258,0
Untuk lt 51o 50, bj 416, simpang = 257,1
Untuk lt 51o 45, bj 416, simpang = 257,5

simpang
tg haluan = ---------------
lt

257,5
= ------------ = 0,861
299

DAFTAR I : untuk 40o tg haluan = 0,839


untuk 41o tg haluan = 0,869
dibulatkan, haluan = 41o
Pada haluan, 41o, lt = 299, jauh = 396 (I)
Jadi, haluan = U 41o T atau 041o, jauh = 396 mil
===============
2. Ditanyakan haluan dan jauh, bila kapal berlayar dari 53o 10 U / 016o
12 B, ke 52o 46 U / 025o 18 B ?

Dengan lintang-bertumbuh

Tempat tolak 53o 10 U 16o 12 B ltb = 3780,41


o
Tempat tiba 52 46 U 25o 18 B ltb = 3740,56
------------- ----------------- --------------------
lt = 0o 24 S bj = 9o 06 B ltb = 39,85
= 24 S = 546 B

bj
tg haluan = ---------------
ltb

log bj = 2,73719
log ltb = 1,60043
-------------- -
log tg hal = 11,13676 - 10
haluan = 85o 49,5

Bilamana haluan dekat dengan 90o, maka untuk haluan perlu


dihitung sangat teliti dengan di-interpolir, agar supaya untuk log
secans haluan, ditemukan nilai yang sebenarnya.
Dalam pada itu, dapatlah dari : jauh = simpang cosec hal,
dan simpang = lt tg hal

Ditulis : Jauh = lt tg haluan cosec haluan

Log cosec haluan dapat dicari di daftar dengan tidak perlu


diadakan interpolasi.
Jauh = lt tg haluan cosec haluan
log tg hal = log tg 85o 49,5 = 11,13676 - 10
log cosec hal = log cosec 85o 49,5 = 10,00115 - 10
log lt = log 24 = 1,38021
------------------------------ +
log jauh = 2,51812
jauh = 329,7

Jadi haluan S 85o,8 B atau 265o,8, jauh = 329,7 mil


===================
Bilamana kita meninjau kembali contoh-contoh soal macam II ini,
pada soal no. 1, dengan perhitungan lintang-bertumbuh, kita
mendapatkan jauh = 394,6 mil, sedangkan dengan perhitungan memakai
lintang-menengah, jauhnya = 396 mil. Perbedaan ini didapatkan, karena
haluan dengan lintang-menengah dibulatkan penuh. Jika dihitung betul-
betul memakai logarithma, akan ketemu, bahwa haluan = 40o 40, jauh
394, 6 mil.
Dari pada menentukan jauh dari formula : jauh = lt sec haluan,
dapat juga dikerjakan dengan : jauh = simpang cosec haluan.
Bilamana nilai dari pada haluan itu teliti menentukanya, maka
tidaklah dipandang penting yang mana yang dipergunakannya dari
formula-formula tersebut, karena pembulatan tadi terjadi kesalahan
dalam haluan.

B C E
Bila AB = lt ,

D BC = AG = simpang, maka sudut


F
H BAC adalah haluan yang
sebenarnya, dan AC nilai dari
pada jauh yang sebenarnya pula.
A G
Gambar 32

Umpamakanlah, bahwa sudut BAE = H = haluan, ialah nilai yang


telah dibulatkan. Dari formula : jauh = lt sec haluan, dimana AB =
lt, maka kita akan mendapatkan, bahwa titik dari garis haluan AFE, yang
mana dengan A mempunyai selisih lintang AB adalah titik E. Disini jauh
AE = AB sec H (aluan).
Lingkarkan AC pada AE, supaya AD = AC, maka DE adalah
kesalahan yang terdapat pada jauh yang ditemukan. Karena sudut CAE
adalah kecil, dapatlah diterima, bahwa busur CD adalah merupakan garis
tegak lurus pada AE. Jadi segitiga CDE adalah segitiga siku-siku dengan
sudut D = 90o, sudut E 180o sudut B (90o) sudut BAE (haluan = H)
= 90o H, serta dengan sendirinya sudut C = H (180o 90o sudut E =
H) jadi sudut ECD disini sama dengan H.

Kesalahan pada jauh adalah DE = CD tg H. Bila jauh dihitung


dengan jauh = simpang cosec H, dimana AG = simpang, maka akan
didapat :

AF = AG cosec H sebagai jauh (AFG = BAE).


Jadi kesalahan pada jauh adalah sekarang :
FD = CD tg FCD = CD tg (90o ECD)
= CD tg (90o H)
= CD cotg H

Bilamana H < 45o, maka tg H < cotg H, jadi DE < FD, yang mana
juga lt > simpang. Jika H > 45o, maka DE > FD, juga lt < simpang.
Maka carilah jauh dengan ambil salah satu nilai yang terbesar antara lt
dan simpang.
Contoh soal no. 2 dari soal-soal macam II tersebut diatas, dapat
juga dicari dengan memakai cara lintang-menengah, untuk menunjukkan
cara memilih salah satu dari nilai terbesar dari lt dan simpang seperti
yang telah diuraikan diatas.

Tempat tolak 53o 10 U 16o 12 B


Tempat tiba 52o 46 U 25o 18 B
-------------- ------------
lt = 24 S bj = 9o 6 B = 546 B
Lintang-menengah = 52o 58

DAFTAR III,
Pada ltt 52o 58, dan bj 546, simpang = 328,7
Simpang 328,7
tg haluan -------------- = ------------ = 13,70
lt 24

Dengan DAFTAR I, tidak pakai interpolasi, Haluan = 86o. Karena disini


simpang = lt, jauh dapat dicari dengan simpang 328,7, yang
memberikan jauh 329,5. Jadi haluan = S 86o B, atau 266o, jauh = 329,5
mil.
Ingat : dengan ltb, haluan = 265o,8 dan jauh = 329,7 mil.
Mengulangi contoh-contoh soal yang telah diberikan semula, disini akan
diberikan beberapa contoh soal-soal lagi.
1. Ditanyakan haluan dan jauh dari 07o,18 U / 024o16B ke 10o 42 U /
024o16 B.
Penyelesaian :

Tempat tolak 07o 18 U 24o 16 B

Tempat tiba 10o 42 U 24o 16 B


-------------- ------------
lt = 3o 24 U bj = 0o
= 204 U

Karena bj = 0, maka haluan = Utara dan lt = jauh, maka :


Haluan 000, jauh 204 mil.

2. Ditanyakan haluan dan jauh dari 48o,16 S / 004o16T ke 48o 16 S /


003o12 B.
Penyelesaian :
Tempat tolak 48o 16 S 004o 16 T

Tempat tiba 48o 16 S 003o 16 B


-------------- ---------------
lt = 0o bj = 7o 28 B
= 448 B
Karena lt = 0, maka haluan = disini Barat, serta simpang = jauh.

DAFTAR III
Pada lt 48o 10 dengan bj = 448, simpang = 297,8
48o 20 dengan bj = 448, simpang = 298,8
Jadi pada lt 48o 16, dengan bj = 448, simpang = 298,4
Haluan 270o, jauh 298,4 mil.
==================
5. HALUAN - RANGKAI
Bilamana kita berturut-turut mengemudikan beberapa macam
haluan, jadi kita sering merubah haluan kapal kita, sehingga lintasan kita
itu terdiri dari jauh-jauh yang pendek-pendek dengan haluan-
haluannya masing-masing, dapat juga kita menghitung tempat tiba kita
dengan beberapa cara. Biasanya perhitungan ini ditulis dalam skema
(iktisar), perhitungan mana dinamakan merangkai haluan.
Setelah menghitung tempat tiba, adalah merupakan suatu
kebiasaan menghitung juga haluan umum dan jauh umum dari
pada rangkaian haluan tadi. Disini kita katakan, haluan dan jauh umum
dari tempat tolak ke tempat duga.
Mengapa kita sebut tempat tiba duga, ialah karena dengan
perhitungan haluan dan jauh itu, walaupun dalam keadaan yang sebaik-
baiknya, seperti : kesalahan pedoman diketahui dengan teliti, tidak ada
arus maupun angin, log menunjukkan keadaan yang sebenarnya,
namun kita masih akan tiba pada tempat tiba duga juga.
Haluan dan jauh sebagai bahan perhitungan dapat dicari dalam
Buku Jurnal Kapal. Haluan disebut dengan arah sejati. Dalam
praktek dapatlah kita pakai formula mendekat untuk bj, seperti biasanya
pada jauh-jauh yang ditetapkan.
Contoh soal :
Dari 46o10 U/023o15 B, kita berlayar dengan haluan-haluan sejati :
245o sejauh 40 mil, 265o sejauh 89 mil, 270o sejauh 109 mil, dan 280o
sejauh 75 mil. Dimana tempat tibanya? juga berapa haluan umum dan
jauh umum?
Penyelesaian (menurut bulatan) :
lt Simpang Lintang lt
Haluan Jauh Tolak
U S T B 46o10U T B
245 40 - 16,9 - 36,3 45o53,1 U - 52,3
265 89 - 7,8 - 83,7 45o45,3 U - 127,3
270 109 - - - 109,0 45o45,3 U - 156,2
280 75 13,0 - - 73,9 45o58,3 U - 106,1
13,0 24,7 307,9 B 0 441,9
13,0
Jumlah lt 11,7 S Jumlah bj 441,9
Tempat tolak 46o10 U 004o16 T
o
lt 11,7 S bj 7 21,9 B
------------------------ ------------------------------
Tempat tiba 45o58 U 030o36 B
======== ==========

Lintang-menengah (ltd) = 46o04

DAFTAR III, dengan bj 441,9, simpang = 307

simpang 307
tg haluan = ---------------- = ---------- = 26,24.
lt 11,7

Haluan = 88o (dengan tidak diinterpolasi, DAFTAR I).


DAFTAR I, dengan simpang 307, haluan 88o, jauh = 307,2
Jadi : Haluan Umum = S 88o B atau 268o, jauh umum = 307 mil.
==== ======

Cara perhitungan diatas, dimana untuk tiap haluan ditentukan bj


tersendiri dan selanjutnya dengan penjumlahan, dapat dicari jumlah bj,
adalah didalam praktek diganti dengan cara lain, ialah dengan :
Jumlahkan lt, serta juga simpang, dan tentukan dengan jumlah
lt itu, lintang tempat tiba. Dengan lintang-menengah yang dihitung
dari tempat tolak dan tempat tiba, dapatlah dihitung bj dari jumlah
simpang-simpang (Daftar II).
Cara dimana untuk semua haluan ditentukan bj sendiri-sendiri,
dinamakan merangkai menutut bulatan, sedangkan bila bj
dihitung dari jumlah simpang-simpang, dinamakan: merangkai
menurut datar
Pada merangkai menurut haluan umum ditentukan dari :
jumah simpang
tg haluan = ---------------------
jumlah lt

dimana dengan pertolongan DAFTAR PELAYARAN I, dengan nilai yang


terbesar dari lt atau simpang, dihitung jauh umum.
Contoh hitungan tadi dengan rangkaian menurut datar

Haluan Jauh
lt Simpang
U S T B
245 40 - 16,5 - 36,3
265 89 - 7,8 - 83,7
270 109 - - - 109,0
280 75 13,0 - - 73,9
13,0 24,7 0 307,9
13,0
11,7

lt = 11,7 S, Simpang = 307,9 B


Tempat tolak 46o 10,0 U 023o 15,0 B
lt 11,7 S bj 7o 23,7 B
--------------------- - ---------------------
Tempat tiba 45o 58,3 U 030o 38,7 B

Lintang-menengah = 46o 04

DAFTAR II, dengan simpang 307,9, bj = 443,7 (B) = 7o 23,7


Simpang 307,9
tg haluan = ------------- = --------- = 26,3
lt 11,7
Haluan = 88o

DAFTAR I, dengan simpang 88o, simpang 307,9, jauh =308,1, Jadi


haluam umum = S 88o B, atau 268o, jauh umum = 308 mil.
Pemakaian formula bj = simpang sec ltt, mengakibatkan telah terjadi
suatu kesalahan untuk satu haluan tunggal, yang tergantung dari pada
nilai dari lintang-menengah dan selisih lintang. Pada merangkai menurut
datar, juga beberapa simpang masih dijadikan bj dengan lintang, yang
sesuai dengan lintang-menengah dari haluan, dimana simpang ini
termasuk.
Umpamanya, kita merangkai haluan Utara 100 mil, Timur 100 mil,
maka 100 mil yang penghabisan ini dijadikan bj dengan lintang yang
berselisih 50 dengan lintang, dimana perubahan bujur yang terjadi
sebenarnya.
Bila kita merangkai haluan Utara 100 mil, Timur 100 mil, Selatan
100 mil dan Barat 100 mil, maka dengan cara menurut datar, jumlah dari
lt dan jumlah dari simpang adalah 0, atau dengan perkataan lain, kita
kembali ketempat semula. Padahal jauh T 100 mil sebenarnya
memberikan perubahan lintang yang lain dari pada jauh B 100 mil
(kecuali bila mereka masing-masing terletak 0o 50 U, dan 0o 50 S).
Jadi merangkai menurut datar tidak dapat dipergunakan dalam
segala keadaan, tetapi adalah sukar untuk memberikan suatu cara
tertentu yang memperbolehkan mempergunakan cara itu. Untuk
menghindari keragu-raguan, maka cara datar ini dapat dipergunakan
dengan cukup saksama sampai maksimum lintang 60o.

6. POSISI DUGA, SALAH DUGA, HASIL PELAYARAN


Tempat dimana kapal ada pada suatu ketika, dinamakan posisi
kapal atau disingkat posisi. Dalam ilmu pelayaran, posisi ini ditentukan
oleh koordinat-koordinat lintang dan bujur. Jadi ini merupakan oleh suatu
titik di peta laut.
Posisi yang diperoleh dari perhitungan haluan dan jauh atau
penyangkaan laju (kecepatan kapal dalam mil per jam) sepanjang garis
haluan, dinamakan posisi duga. Sedangkan posisi sejati ialah posisi
kapal yang tepat, dan ini diperolehnya dari baringan titik-titik didaratan,
atau bila tak tampak daratan dilaut bebas, dengan cara
menghitungkannya dari pengamatan benda-benda angkasa. Posisi duga
dan posisi sejati pada umumnya tidak pernah bertepatan menjadi satu.
Hasil pelayaran ialah, haluan yang dituju kapal dan lintasannya
yang ditempuh dalam mil laut dengan haluan itu. Dengan adanya posisi
duga dan posisi sejati, kita beda-bedakan adanya hasil pelayaran duga
dan hasil pelayaran sejati, bergantung apakah hasil pelayaran itu
dihitung dari tempat tolak ke posisi duga atau ke posisi sejati.
Haluan dan jauh dari posisi duga ke posisi sejati dinamakan salah-
duga.

Gambar 33

A - = tempat tolak
B = tempat tiba duga (posisi duga)
S = tempat tiba sejati (posisi sejati)
Diperoleh dari baringan atas benda-benda didaratan M dan N.
AB = hasil pelayaran duga = perolehan duga
AS = hasil pelayaran sejati = perolehan sejati
BS = salah duga = luput duga

Kesalahan ini semuanya disebabkan oleh arus. Karena jika ada


suatu gerakan sendiri diair, jadi ada arus, tempat tiba yang telah kita
perhitungkan itu, tidaklah sama letaknya dengan tempat dimana kapal itu
sebetulnya berada. Jika arus itu dimana-mana dan selalu kita ketahui,
perolehan-perolehan yang terjadi karenanya, dapatlah dengan mudah
kita adakan perhitungan-perhitungannya. Jadi dengan singkat, arus tidak
boleh kita abaikan begitu saja, yang kadang-kadang terdapat kuat itu.
Jadi pada waktu menghitung haluan dan jauh, arus harus kadang-
kadang dimasukkan dalam perhitungan, dengan ketentuan, arah dan
kekuatannya sebagai argumen yang kita ketahui. Pada umumnya arah
disebut dalam derajat, jadi seperti halnya dengan haluan, sedang
kekuatannya disebut dalam mil per jam atau per hari.
Biasanya arah arus ialah arah kemana air mengalir, sedang
yang disebut arah angin ialah arah dari mana angin mengembus.
Dalam perhitungan haluan dan jauh ini didalam memperhitungkan serta
arah dan kekuatan arus, kita anggap bahwa arah diumpamakan sebagai
haluan dan kekuatan per jam sebagai jauh.
Bilamana kekuatan dan arah arus serta kecepatan kapal diketahui,
dapatlah kita mencari haluan berapa yang harus dikemudikan, dan
berapa mil yang harus ditempuhnya, supaya dapat mencapai tempat tiba
melalui jalan yang terpendek. Jika bagian dari permukaan bumi yang kita
maksud kita anggap sebagai muka yang datar, maka soal ini dapat
diselesaikan seperti berikut :

Gbr. 34
A = tempat tolak
B = tempat tiba

Arah dan kekuatan arus gambaran sebagai AS. Resultants dari kecepatan
kapal dan arah arus haruslah jatuh pada AB.

Untuk menentukan haluan, kita tarik dari S, dengan SD (kejepatan)


sebagai jari-jari, suatu busur lingkar, yang memotong AB pada D.

Bila AC ditarik sejajar dengna SD, maka sudut UAC ialah haluan yang
diperlukan. (ACDS = suatu jajaran-genjang, didapat dari AC, yang sama
dengan kecepatan kapal, AS = kekuatan arus, sehingga hingga berlayar
satu jam dengan tiada arus, kapal akan sampai di C, tetapi oleh arus
dibawa dari C ke D).
Busur lingkaran dapat memotong AB dalam 2 titik, dimana
persoalan ini dapat diselesaikan dengan 2 perhitungan. Dengan
menggunakan perhitungan kedua, akan lebih lama kita melalui jalan AB.
Hanya kapal layar sajalah yang dapat memilih mengambil haluan dengan
memakai perhitungan kedua ini, dikarenakan arah angin, dari pada
memilih perhitungan pertama.
Jumlah jam, dimana kapal melalui AB, ditentukan dengan
menjangka berapa kali AD akan jatuh pada AB. Bilamana BE ditarik
sejajar dengan AS, maka AE adalah jauh yang harus ditempuh kapal,
sedangkan EB adalah jarak dimana kapal dihanyutkan oleh arus dalam
waktu itu.
Bila sudut UAB = h, sudut UAS = a, maka sudut EAB = x, dapat
dihitung dari :
Sin EAB : sin ADC = CD : AC,
Atau
Sin x : sin (a-h) = kekuatan arus : kecepatan kapal.
Bila dari itu tadi dapat dihitung X, maka sudut UAE adalah jelas bagi
kita. Di segitiga ABE, sudut ABE = a h, hingga juga sudut E adalah jelas
pula.
Untuk mendapatkan AE, dipakailah :
AE : AB = sin B : sin E
= sin (a-h) : sin E.
Contoh dari perhitungan haluan dan jauh, untuk mencari hasil pelayaran
duga, hasil pelayaran sejati dan salah duga.
Soal: Dari 15o 20,0 S/068o 42,2 T, kita berlayar dengan haluan-haluan-
haluan : 036 sejauh 48 mil, 115 sejauh 12 mil, 056 sejauh 34 mil,
263 sejauh 17 mil, 076 sejauh 176 mil, dan 029 sejauh 145 mil.
Kemudian dengan pertolongan baringan-baringan, ditemukan
posisi sejati 11o 20,0 S/ 073o 07, 0T.
Ditanyakan : a. hasil pelayaran duga
b. salah duga
c. hasil pelayaran sejati
Penyelesaian :

Haluan Jauh
lt Simpang
U S T B
036 48 38,8 - 28,2 -
115 12 - 5,1 10,9 -
056 34 19,0 - 28,2 -
263 17 - 2,1 - 16,9
076 176 42,6 - 170,8 -
029 145 126,8 - 70,3 -
227,2 7,2 308,4 16,9
7,2 16,9
220,0 291,5

lt = 220,0 U = 03o 40,0 U


Simpang = 291,5 T

Tempat tolak 15o 20,0 S 068o 42,2 T


lt 03o 40,0 U bj 4o 59,8 T
--------------------- -----------------------
Tempat tiba 11o 40,0 S 073o 42,0 T

lintang-menengah = 13o 30 dan simpang = 291,5 T

Untuk lt 13o 30, dengan simpang 200,0 : bj = 205,7


90,0 : = 92,56
1,0 : = 1,028
0,5 : = 0,514
---------------------------------- +
Untuk lt 13o 30, dengan simpang 291,5 : bj = 299, 8022 T
= 4o, 59.8 T

a. Untuk hasil pelayaran duga :


Simpang 291,9
tg haluan = --------------- = ------------- = 1,325
lt 220,0

Haluan = 53o
Pada haluan 53o, dengan simpang 291, 5, jauh = 365
Jadi : HASIL PELAYARAN DUGA = U 53o T atau 053o, 365 mil.
=========
Posisi duga 11o 40,0 S 073o 42,0 T

Posisi sejati 11o 20,0 S bj 073o 07,0 T


----------------------- ---------------------
Salah duga 20,0 U 35,0 B

Lintang-mengah : 11o 30
bj (salah duga) : 35 B

Untuk lt 11o 30, dengan bj 30, simpang = 29,40


5, = 4,900
-------------------------------------------- +
Untuk lt 11o 30, dengan bj 35, simpang = 34,3 B

b. Untuk salah duga

Simpang 34,3
tg haluan = --------------- = ----------- = 1,715
lt 20,0

Haluan = 60o
Pada haluan 60o, dengan simpang 34,3, jauh = 40
Jadi : SALAH DUGA = U 60o B atau 300o, 40 mil.
=========

Tempat tolak 15o 20,0 S 068o 42,0 T


Posisi sejati 11o 20,0 S o
073 07,0 T
------------------------- ---------------------------
lt 4o U bj 4o,24, 8 T
= 240 U = 264, 8 T

Lintang-mengah = 13o 20
bj = 264,8 T

Untuk lt 13o 20, dengan bj 200,0 : simpang = 194,6


60,0 : simpang = 58,38
4,0 : simpang = 3,892
0,8 : simpang = 0,7784
--------------------------------------- +
Untuk lt 13o 20, dengan bj 264,8 : simpang = 257,6504
c. Untuk hasil pelayaran sejati
Simpang 257,7
tg haluan = --------------- = ----------- = 1,072
lt 240,0

Haluan = 47o
Pada haluan 47o, dengan simpang 257,7 jauh = 352,5
Jadi : HASIL PELAYARAN SEJATI =
U 47o T, atau 047o, 352 mil.
==================

7. ARUS
Memasukkan arus dalam perhitungan haluan dan jauh, disebut:
menandingkan arus. Pada waktu mengadakan perhitungan haluan
dan jauh, kita mengadakan perhitungan-perhitungan dengan
mempergunakan haluan-haluan dan jauh-jauh, yang kita dapat ketahui
dengan perantaraan pedoman dan topdal. Hal ini menunjukkan
pemindahan tempat dari kapal terhadap air.
Apabila kapal tersebut berada dalam suatu arus, maka kapal itu
biasanya tidak akan berlayar menurut haluan yang ditentukan oleh
pedoman; akan tetapi terhadap tanah, akan bergrak menurut arah yang
menyimpang dari haluan yang ditentukan oleh pedoman. Arah ini disebut
: haluan tanah.
Kecepatan dan arah dari pada gerakan air tersebut disebut :
kekuatan dan arah. Kekuatan dinyatakan dengan mil per jam, atau per
hari, sedangkan yang dimaksud arah arus ialah arah, kemana air itu
mengalir.
Dalam pada itu, arah dianggap sebagai haluan dan kekuatan per
jam dianggap sebagai kecepatan. Keterangan tetang kekuatan dan arah
arus dapat kita peroleh dari :
1. Piringan Arus
2. Daftar Arus Kepulauan Indonesia
3. Keterangan umum mengenai arus didalam Buku Kepandaian
Bahari
Jadi pada waktu kita mengadakan perhitungan haluan dan jauh,
apabila disalah satu daerah lautan yang dilayari terdapat keterangan-
keterangan tentang kekuatan dan arah arus, maka ini semua harus
dimasukkan dalam perhitungan tadi.
Dalam keadaan istimewa, apabila kita berlayar dengan atau
berlawanan arus, pengaruhnya, hanya pada kecepatan bergeraknya
kapal terhadap tanah saja, haluannya sendiri tidak akan berubah, oleh
karena arah pergerakan kapal dan arus adalah sama atau berlawanan.
Misalnya, sebuah kapal berlayar dengan haluan Timur dengan keceatan 8
mil per jam. Pada waktu itu terdapat arus yang arahnya Timur serta
kekuatannya 1,5 mil per jam, maka kapal tersebut terhadap tanah
bukannya berlayar dengan kecepatan 8 mil, akan tetapi (8 + 1,5 ) mil =
9,5 mil. Pada arus yang berlawanan, kapal tersebut pada haluan yang
sama dengan diatas akan berlayar dengan kecepatan (8 1,5 ) mil = 6,5
mil per jam terhadap tanah.
Apabila arah arus tersebut tidak sama atau tidak berlawanan
dengan haluan kapal, maka pengaruhnya terhadap haluan akan
berlainan. Akhirnya timbullah pengertian seperti apa yang telah
diterangkan pada paragram 6, ialah pengertian sebagai berikut :
a. Hasil pelayaran duga, ialah haluan dan jauh antara tempat tolak
dan tempat tiba duga.
b. Hasil pelayaran sejati, ialah haluan dan jauh antara tempat tolak
dan tempat tiba sejati (tempat yang diperoleh dengan penilikan
benda-angkasa dan baringan benda-benda di daratan).
c. Salah duga, ialah arah dan jarak dari tempat tiba duga ke tempat
tiba sejati.
Sebetulnya salah duga itu tidak hanya disebabkan oleh arus saja.
Cara mengemudi yang tidak teliti, penunjukkan topdal yang tidak tepat,
tidak mengetahui kesalahan pedoman dengan teliti, juga memberi
pengaruh terhadap salah duga tersebut.
Gambar 35

Sudut UAC = haluan tanah


Sudut UAB = haluan pedoman
BC = arus
Sudut UAB dan jarak AB = hasil pelayaran duga
Sudut UAC dan jarak AC = hasil pelayaran sejati
Arah CB dan jarak dari C ke
BC = salah duga
A = tempat tolak
B = tempat tiba duga
C = tempat tiba sejati bila didapatkan dari penilikan dan
baringan-baringan.

Dibawah ini akan diberikan contoh-contoh cara penyelesaian


membetulkan cara mengemudi kapal, bilamana menjumpai arus.
1. Berapa haluan yang harus dikemudikan, bilamana dengan kecepatan
12 knots, kapal sebenarnya akan berhaluan 090, tetapi ada arus yang
kira-kira kearah 040 dengan kecepatan 3 knot ?
Gambar 36

Tariklah garis haluan yang sebenarnya yang akan dikemudikan oleh


kapal (AB). Dari A tariklah garis yang menunjukkan arah arus 040 (AC).
Pada AC ambilah ukuran kecepatan arus, ialah 3 mil (AD). Kecepatan arus
ada 3 knots.
Dengan titik-pusat D, potonglah AB pada E, yang mana DE adalah
jarak yang sama dengan kecepatan kapal atau jarak yang ditempuh kapal
dalam waktu yang sama (12 mil) dan pada skala yang sama pula.
DE adalah haluan yang harus dikemudikan. Jarak AE adalah jarak
yang sebenarnya, dengan haluan 090 dalam waktu 1 jam (diberi tanda 2
ujund panah).

2. Haluan apa yang harus dikemudikan kapal, dan dengan kecepatan


berapa, kalau akan berlayar dari tempat tolak A ke tempat labuh
jangkar B dalam waktu 1 jam, bilamana ada arus dengan arah
150 dengan kecepatan 3 knots? (B terletak pada jarak 15 mil
dengan baringan 090 dari A).
Gambar 37

Hubungan AB seperti dalam gambar diatas. Ini menunjukkan


haluan dan jarak yang harus ditempuh kapal dalam waktu 1,5 jam
ialah 090o, 15 mil.
Dari A tariklah garis yang menunjukkan arah dari arus, 150o
dan ukurkan jaraknya dalam waktu 1,5 jam (AC = 4,5 mil)
Hubungan C dengan B.
Selanjutnya CB adalah haluan yang harus dikemudikan, 073
dan jarak yang harus ditempuh kapal dalam waktu 1,5 jam adalah
13,4 mil. Kecepatan kapal jadinya haruslah 8,9 knots.

3. Sebuah kapal yang pada jam 01.00 ada di A, berhaluan 110,


dengan kecepatan 10 knots. Pada jam 03.00 kapal berada di B
seperti dalam gambar. Berapa haluan dan kecepatan dari arus mulai
jam 01.00 sampai jam 03.00 ?

Gambar 38
Tariklah dari A, haluan kapal 110 dengan jarak 20 mil. Beda
antara tempat tiba duga dan tempat tiba sejati pada jam 03.00
(antara C dan B) adalah haluan atau arah dari pada arus (025) dan
jarak yang telah menghanyutkan kapal dalam waktu 2 jam adalah 7
mil.
Jadi arah arus = 025o, dan kecepatan 3,5 knots.

4. Sebuah kapal di A, seperti dalam gambar 39, berhaluan sedemikian


rupa hingga menghindari menara api pada jarak 5 mil. Arus
mengarah 140. Kapan menara api akan dilintangi oleh kapal.
(dilintangi = bila kapal membaring suatu benda 90o relatip
dilambung kanan atau lambung kiri).

Gambar 39
Dari menara api M, lingkarkan suatu busur lingkaran dengan
jari-jari 5 mil. Dari tempat kapal sekarang (A) tariklah garis
singgung ke busur lingkaran tadi. Inilah haluan yang sebenarnya
harus dikemudikan oleh kapal, bila tak ada arus.
Carilah haluan yang harus dikemudikan seperti pada persoalan
no. 2. Menara api M adalah melintang bila menara api dibaring 90o
dari haluan yang dikemudikan kapal. Ini berarti, bahwa bila kapal
ada di E, dan bukan kalau kapal ada di D (tempat kapal, bila melalui
menara api dengan jarak yang terpendek).
Waktu yang dipergunakan untuk menempuh jarak AE, ialah
berapa kali jarak AE itu akan diukur dari jarak AC (kecepatan yang
seharusnya).

8. RIMBAN
Apabila angin tidak tepat datang dari muka atau belakang, maka
kekuatan angin tersebut mengakibatkan juga hanyutnya kapal ke
pinggir. Sudut yang dibentuk oleh air-alur dengan garis lunas kapal
dinamakan Rimban.
Apabila kapal dihanyutkan ke lambung kanan, maka tanda rimban
adalah positip (+), tetapi bilamana kapal dihanyutkan ke lambung kiri,
tandanya adalah negatip (-).

Gambar 40a Gambar 40b

Rimban Positip : Rimban Negatif :


Kapal dihanyutkan Kapal dihanyutkan
ke lambung kanan ke lambung kiri.

Apabila kita harus melakukan perhitungan dari haluan pedoman ke


haluan tanah sejati, maka kita perhitungkan rimban ini seperti dengan
variasi atau deviasi.

Haluan sejati = Haluan pedoman + sembir + rimban


Rimban ini jadi praktisnya adalah sudut antara arah dari air-alur
dengan garis lunas kapal. Besar dari sudut ini biasanya ditaksir. Ini
dikerjakan demikian : diburitan kapal, dilemparkan suatu papan dari
kayu, yang diikat pada tali, dan talinya kita ulurkan. Sudut yang dibuat
oleh arah dari pada tali ini dengan garis lunas kapal adalah rimban.
Tetapi kita harus memperhatikan juga kemungkinan adanya pengaruh
angin terhadap tali untuk juga diperhitungkan.

Contoh soal perhitungan tentang rimban dan arus.


Umpamakan, bahwa posisi kapal pada jam 09.00 ada di lintang 57 o 45
U bujur 001o 40 B, serta haluan yang dikemudikan 290o dan kecepatan
10 knots. Arus ke arah 260o dengan kecepatan 2,5 knots angin TL,
kekuatan 8 menurut Skala BEAUFORT.

Penyelesaian:
Pertama-tama gambarkan haluan yang dikemudikan serta
kecepatan dari kapal dalam melintasi air, dari kedudukannya di A (posisi
: 57o 45 U 001o 40 B).
Antara A dan B ada jarak 10 mil, antara jam 09.00 dan jam 10.00
gambarkan juga dari B arah dari arus ke 260, dengan jarak,
kecepatannya per jam, ialah 2,5 mil. Dari C ke D, arah angin 220,
dengan jarak 1,5 mil, ialah 1/50 dari kekuatan yang sebenarnya
(kekuatan angin menurut Skala Beaufort = 8, jadi kira-kira 70 mil per
jam).
AD adalah hasil pelayaran sejati. (lihat gambar 41).

Gambar 41
Rimban (Drift) ialah sudut yang dibentuk antara garis lunas kapal
dengan jurusan yang dituju oleh kapal tersebut, atau : sudut antara
arahnya gerakan kapal terhadap air dengan garis lunas kapal.

Hs = haluan sejati yang


dikemudikan kapal
= drift
= haluan yang dituju oleh
kapal.

Bila kapal didorong kekanan drift = prinsip (+)


Bila kapal didorong kekiri drift = negatif ()

Rumus : Haluan yang dituju kapal = Hs + drift


= Hp + V + + drift
Contoh : Hp = 70o
d = + 2o
V = 5o
Drift = + 10o
----------------------- +
Hal yang dituju = 77o