Anda di halaman 1dari 10

Judul : Penerapan Pola Budidaya Intensif Pada Tambak Udang

Vannamei di BUMDES Patimban Kabupaten Subang


Jawa Barat
Pemrasaran / NIM : Sri Rahmawati Khairunnisa / J3J214238
Pembahas 1 / NIM :
Pembahas 2 / NIM :
Hari, Tanggal :
Waktu :
Ruangan :
Dosen Pembimbing : Dr Ir Wawan Oktariza, Msi
Menyetujui

Dr Ir Wawan Oktariza, Msi

1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Udang Vannamei merupakan salah satu komoditas andalan Indonesia.


Budidaya jenis udang ini sangat gencar dikembangkan oleh pemerintah karena
sifatnya yang tahan terhadap penyakit (Sudrajat 2015).
Budidaya Udang Vannamei memiliki beragam pola budidaya salah
satunya yaitu menggunakan pola budidaya intensif. Budidaya Udang Vannamei
pola budidaya intensif adalah budidaya udang yang padat modal dan teknologi
tinggi, pertumbuhan udang yang dipelihara sepenuhnya mengandalkan pakan
buatan, serta tingginya upaya untuk pengendalian kualitas air.
Budidaya Udang Vannamei dengan penerapan pola budidaya intensif
sangat menguntungkan karena dapat menggunakan padat tebar yang tinggi,
sehingga dapat meningkatkan produksi Udang Vannamei.
Dibandingkan dengan teknologi tradisional, budidaya Udang Vannamei
secara intensif lebih menguntungkan karena tidak tergantung pada kondisi alam,
sedangkan apabila dibandingkan dengan pola budidaya Udang Vannamei secara
semi-intensif, pola budidaya Udang Vannamei secara intensif memiliki padat
tebar yang lebih tinggi dan hasil panen yang lebih menguntungkan.
Pembesaran Udang Vannamei di BUMDES Patimban sebagian masih
menggunakan pola budidaya tradisional dan semi-intensif. Penerapan pola
budidaya Udang Vannamei secara intensif pada tambak BUMDES Patimban
diharapkan dapat memberikan profit yang lebih besar dibanding dengan
penerapan pola tradisional dan semi-intensif.
1.2 Tujuan

Tujuan dari penulisan kajian pengembangan bisnis ini adalah :


1. Merumuskan ide rencana pengembangan bisnis pada BUMDES Patimban.
2. Mengkaji kelayakan rencana pengembangan bisnis pada BUMDES
Patimban.

2 KERAGAAN PERUSAHAN

2.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan

Desa Patimban adalah desa yang terletak di pantai utara dengan pantai dan
lahan tambak yang berpotensi untuk dikembangkan. Patimban termasuk dalam
administrasi Kecamatan Pusakanagara, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat.
Potensi wisata pantai Kelapaan yang setiap tahunnya menyerap wisata domestik
sampai 100.000 orang pengunjung terutama pada hari raya keagamaan dan tahun
baru. Setiap musim wisata pemerintah desa Patimban selalu membentuk
kepanitian pengelola wisata. Berlatar belakang ini kepala desa Patimban
memberikan gagasan untuk mendirikan BUMDES (Badan Usaha Milik Desa)
untuk mengelola wisata dan tambak. BUMDES Patimban berdiri pada tanggal 23
Mei 2013, dipimpin oleh kepala desa Patimban. Setelah BUMDES Patimban
berkembang, dilakukan perombakan susunan kepengurusan dengan menggunakan
sistem organisasi masyarakat. Saat ini BUMDES Patimban dipimpin oleh Moch.
Fahrudin.
Perkembangan BUMDES Patimban mulai berkonsentrasi pada tambak
udang setelah petani-petani banyak menyerahkan perlengkapan tambak Udang
Vannamei kepada BUMDES Patimban dengan harapan dapat bermitra dengan
pihak swasta yang pengawasanya berada pada BUMDES Patimban.
Saat ini BUMDES Patimban memiliki 2 lahan tambak udang, yakni Naga
Windu dan Laksana. Naga Windu merupakan tambak budidaya Udang Vannamei
yang telah sepenuhnya menggunakan metode intensif, sedangkan tambak udang
Laksana merupakan tambak yang 50% dari besar lahannya di sewakan kepada
petani, 25% digunakan untuk budidaya Udang Vannamei dengan pola budidaya
tradisional, dan 25% lahan sisanya digunakan untuk budidaya Udang Vannamei
dengan pola budidaya semi-intensif.
2.2 Aspek Manajemen dan organisasi

BUMDES Patimban memiliki 8 pengurus diluar pekerja tambak. Pekerja


tambak terdiri dari teknisi berjumlah 6 orang dan harian lepas sebanyak 12 orang.
Struktur organisasi BUMDES Patimban dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar 1: Struktur organisasi pengurus BUMDES Patimban
2.3 Aspek Sumberdaya Perusahaan

2.3.1 Sumberdaya Fisik


Sumberdaya fisik yang dimiliki oleh BUMDES Patimban adalah tambak
seluas 37 ha, bangunan, gudang, kincir, instalasi listrik, jaring, ember, timbangan
pakan, pompa air, center line, HDPE, pipa, jembatan anco, schneider disc, selang,
pH meter, refracto meter.
2.3.2 Sumberdaya Manusia
Sumberdaya manusia yang dimiliki adalah 11 orang pengurus, 6 orang
teknisi ahli, dan 12 orang harian lepas yang disewa selama satu siklus. Tenaga
kerja tambak tidak memiliki kriteria pendidikan kecuali teknisi ahli, dibutuhkan
orang yang berpengalaman di bidang tambak udang.
2.3.3 Sumberdaya Keuangan
Modal berasal dari uang sewa lahan dengan luas 12,5 ha sebesar Rp.
16.000.000 untuk satu siklus (120 hari) . Selain itu, Dinas Perikanan dan Kelautan
memberikan bantuan berupa tenaga ahli untuk mengontrol kualitas air dan udang
di tambak.

3 HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Rumusan Ide Pengembangan Bisnis

Perencanaan pengembangan bisnis pada BUMDES Patimban berdasarkan


analisis SWOT strategi W (weakness) O (opportunities). Peluang yang dimiliki
BUMDES Patimban adalah tingkat permintaan yang tinggi terhadap Udang
Vannamei dan didukung oleh harga jual udang yang stabil dam kompetitif,
sedangkan kelemahannya yaitu pola budidaya udang yang berbeda-beda sehingga
harga hasil panen berbeda pula. (Lampiran 2)

Perencanaan penenerapan budidaya Udang Vannamei dengan pola intensif


tetap memiliki resiko gagal panen dikarenakan kemungkinan terjangkitnya wabah
penyakit dan virus, maka dibutuhkan pengendalian hama dan penyakit sebelum
benur ditebar. Kegagalan panen ini dapat dihindari dengan menjaga kualitas air,
melakukan kontroling air secara rutin, memilih benur yang sehat, dan
dilakukannya panen parsial saat udang masih dalam keadaan sehat atau mulai
terlihat adanya tanda-tanda terjangkitnya penyakit.

3.2 Perencanaan Produk

Produk yang akan direncakan dalam pengembangan bisnis di BUMDES


Patimban adalah udang vannamaei segar dengan berat 12,5 gram/ekor (size 78)
hingga 30 gram/ekor (size 32). Pengembangan bisnis Udang Vannamei yang akan
dilakukan adalah pembesaran Udang Vannamei dengan pola budidaya intensif
dengan lama pemeliharaan selama 110 hari. Padat tebar 80 ekor/m2 . Panen yang
akan dilakukan adalah dengan metode parsial sebanyak 4 kali pada saat .
3.3 Pengembangan Bisnis
3.3.1 Perencanaan Pasar dan Pemasaran
Aspek pasar dan pemasaran dalam usaha budidaya Udang Vannamei
dengan pola budidaya intensif adalah sebagai berikut :
Tabel 1 Strategi dan bauran pemasaran budidaya Udang Vannamei pola intensif

Strategi Uraian

Segmentation Berdasarkan wilayah adalah daerah jawa barat dan jawa


tengah.

Targeting Pengepul udang di pulau Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Positioning Udang Vannamei segar dengan size 78 Hingga 32

Product Produk akhir berupa Udang Vannamei segar dengan size 78


hingga size 32

Price Harga ditentukan melalui lelang. Harga awal di tentukan


berdasarkan harga pasar.

Place Penyaluran produk langsung melalui pengepul udang atau


langsung ke konsumen (konsumen mengikuti proses
pelelangan atau melalui perjanjian harga sebelum panen)

Promotion Personal Selling

3.3.2 Perencanaan Produksi

1. Persiapan Kolam
Tahap persiapan adalah tahap awal dari kegiatan budidaya udang. Persiapan
kolam dilakukan sebelum kolam diisi air. Persiapan kolam meliputi pengeringan
lahan, pengangkatan lumpur, pembersihan kolam dari sisa pakan.

2. Persiapan Tandon
Satu blok tambak terdiri dari 40% luas blok. Tandon dioperasionakan secara
terpisah antar petak. Sebelum air mengisi kolam budidaya, air terlebih dahulu di-
treatment di kolam tandon. Tandon terlebih dahulu di steril menggunakan klorin
dengan dosis 20 ppm selama 24 hingga 96 jam.

3. Pengendalian Hama dan Penyakit


Penyakit terutama virus dan bakteri, merupakan jenis penyakit yang sangat
berbahaya bagi udang. Karena itu, cara terbaik adalah dilakukan pencegahan.
Setelah dilakukan pengeringan kemudian tambak di steril menggunakan
larutan HCL lalu dibilas menggunakan air. Pemberian HCL bertujuan untuk
membunuh plankton, alga, dan bakteri yang merugikan udang. Selanjutnya
tambak diberi kaporit dan penebaran hidrogen peroksida (H2O2) setelah
diendapkan selama 2 hari.

4. Pemasangan Kincir
Kincir berfungsi pada kolam budidaya sebagai penyuplai oksigen terlarut
dalam air serta mengarahkan kotoran pada central drain. Kincir yang digunakan
adalah kincir dengan daya 1 HP dan 2 HP.
Setting kincir dilakukan dengan menarik garis diagonal kolam untuk
mendapatkan titik tengah kolam, kemudian kincir 1 diukur 8-10 m dari titik
tengah kolam sebagai acuan kincir selanjutnya, posisi kincir terluar berjarak 5 m
dari dasar tanggul. Jarak antar kincir menyesuaikan luas kolam. Jarak antar kincir
maksimal 25 m dengan mengatur arah kincir dengan posisi yang sama untuk
mengumpulkan lumpur di sentral dan meminimalisir dead zone.

5. Pengisian Air
Pengisian air meliputi kegiatan; pengisian air, sterilisasi air, bioassay, dan
siphon. Pengisian air dilakuan untuk membersihkan tambak dari sisa tiram,
kaporit, dan kotoran yang mengendap di tambak. Kemudian di keringkan lalu air
diisi kembali sebanyak 75% dari ketinggian tambak.
Sterilisasi bertujuan untuk mensterilkan tambak dari bibit penyakit
menggunakan bahan kimia. Sterilisasi seluruh kolam dilakukan secara bersamaan.
Selanjutnya dilakukan bioassay, yaitu kegiatan untuk menguji apakan air tambak
sudah netral dari residu dan bahan sterilisasi dan aman untuk penebaran benur.
Kegiatan selanjutnya adalah siphon, yaitu membersihkan dasar dari sisa-sisa
bahan organik dan lumpur saat sterilisasi dan persiapan air.

6. Penebaran Benur
Benur didatangkan oleh PT Central Proteina Prima (PT CP Prima). Benur
telah dilengkapi oleh hasil tes pemeriksaan bahwa benur terbebas dari berbagai
penyakit. Benur ditebar setelah dilakukan pengecekan kualitas air kantong benur,
perhitungan sample benur, lalu dilakukan aklimatisasi.

7. Pemeliharaan
Pakan yang diberikan adalah pakan buatan bertekstur crumble dan pellet
menyesuaikan umur udang. Pakan yang digunakan adalah merek Irawan yang
memiliki sifat tenggelam. Pakan diberikan 5 kali dalam 1 hari pada pukul 7.00,
11.00, 15.00, 19.00, dan 23.00.
Setiap hari dilakukan pengecekaan anco dengan tujuan untuk mengetahui
perkembangan udang, pergerakan udang, dan keseragaman udang.
8. Panen
Panen yang dilakukan adalah panen parsial. Dilakukan sebanyak 3 kali,
lalu dilakukan panen total pada udang dengan umur 110 hari.

3.3.3 Perencanaan Organisasi dan Manajemen


Perencanaan organisasi dan manajemen pada perencanaan penerapan pola
budidaya intensif pada tambak Udang Vannamei ini menggunakan struktur
organisasi yang telah berjalan dan tidak mengalami perubahan.
Pada pengembangan bisnis ini, akan dilakukan penambahan pekerja
sebanyak 2 orang tenaga ahli dan 9 orang pekerja pakan.

3.3.4 Perencanaan Kolaborasi


Perencanaan Kolaborasi masih sama seperti yang telah berjalan. BUMDES
Patimban telah melakukan kerjasama dengan PT CP Prima sebagai pemasok input
seperti pakan, benur, obat, dan feed addictive. Kerjasama juga dilakukan dengan
Dinas Perikanan dan Kelautan sebagai penyedia sarana laboratorium untuk
pengecekan kualitas air dan benur.

3.3.5 Perencanaan Finansial


Komponen finansial yang akan dilakukan di BUMDES Patimban menggunakan
asumsi dasar yang disesuaikan dengan kondisi perusahaan saat ini. Sebagai
berikut:
a. Modal yang digunakan berasal dari modal sendiri.
b. Umur bisnis selama 5 tahun sesuai dengan umur HDPE.
c. Komponen investasi yang digunakan secara keseluruhan dimiliki oleh
perusahaan.
d. Kolam yang digunakan untuk budidaya yaitu sebanyak 30 kolam dan
kolam tandon sebanyak 5 kolam.
e. Discount rate yang digunakan adalah sebesar 6,4% mengikuti bunga
deposito dari bank BRI bulan Mei 2017.
f. Benih didatangkan oleh PT CP Prima dengan jumlah 5 000 000 ekor
dengan harga per satu ekor sebesar Rp 45.
g. Harga jual merupakan harga lelang dengan batas minimal dan batas
maksimal dari harga pasar.

1. Perencanaan Biaya
Perencanaan biaya menunjukkan biaya yang dikeluarkan pada pengembangan bisnis. Meliputi biaya
investasi dan operasional. Biaya investasi tahun pertama adalah Rp 5 221 650 000. Biaya operasional tahun
pertama dan tahun kedua berbeda yaitu; Rp 3 166 115 400 dan Rp 4 044 730 800. Biaya operasional tahun ke
dua hingga tahun berikutnya sama. Total outflow tahun pertama adalah Rp 8 432 137 157 dan tahun kedua
hingga tahun berikutnya sama, yaitu sebesar Rp 4 789 538 362.

2. Perencanaan Penerimaan (inflow)


Inflow dimasukkan setiap komponen yang merupakan pemasukan dalam
perusahaan. Penerimaan pada pengembangan bisnis pembesaran Udang
Vannamei dengan pola budidaya instensif adalah penjualan Udang
Vannamei segar. Harga jual merupakan harga lelang berdasarkan harga
pasar yaitu Rp 50 000/kg untuk size 78, RP 65 000 kg untuk size 59, Rp
80 000 untuk size 43, dan Rp 100 000 untuk size 32.

3. Arus kas (Cashflow)


Pada arus kas dilakukan analisis kelayakan bisnis menggunakan analisis
kriteria investasi. Dapat dilihat pada Lampiran 1.
Tabel 2: Hasil analisis kriteria investasi pengembangan bisnis

No. Kriteria Investasi Satuan Syarat Hasil

1 NPV Rp >0 Rp 9 359 229 911

2 Net B/C >1 5,52

3 IRR % > DR (6,4%) 94,13%

4 Payback Period Tahun < umur bisnis (5) 2,12

4. Analisis Switching Value


Analisis Switching Value yang dihitung apabila jika terjadi penurunan
produksi serta kenaikan harga pakan. Hasil analsis dapat dilihat pada
lampiran.
.
4 SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Simpulan

Rumusan ide pengembangna bisnis pada Kajian Pengembangan Bisnis adalah


analisis kelayakan usaha pembesaran Udang Vannamei dengan pola budidaya
intensif di tambak BUMDES Patimban, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Rumusan
ini terbentuk dari strategi kombinasi kekuatan dan peluang atau strategi W-O
(weaknesses and opportunity) setelah dilakukan analisis SWOT.
Perencanaan bisnis ini layak untuk dijalankan berdasarkan perencanaan
finansial karena memenuhi kriteria kelayakan finansial suatu bisnis yaitu NPV > 0
sebesar Rp 9 359 229 911, Net B/C > 1 sebesar 5.52, IRR > DR yaitu sebesar
94,13%, dan payback period < umur bisnis sebesar 2 tahun 1 bulan.

4.2 Saran

Berdasarkan hasil pengembangan usaha tambak Udang Vannamei di


BUMDES Patimban dengan pola budidaya intensif telah memenuhi syarat
kelayakan secara finansial, namun perlu diketahui bahwa usaha tambak udang
memiliki resiko tinggi terhadap gagal panen karena adanya kemungkinan udang
terjangkit penyakit atau virus. Maka dari itu perlu dilakukan pencegahan dan
penanggulangan hama dan virus yang lebih baik. Keuntungan yang diterima dapat
disisihkan untuk pembuatan bio security dan pelatihan aturan SOP tambak bagi
pekerja tambak, sehingga kemungkinan terjangkitnya virus dan kemungkinan
masuknya hama dapat diminimalisir.

5 DAFTAR PUSTAKA

Effendi, I. & Oktariza, W. 2006. Manajemen Agribisnis Perikanan. Jakarta (ID):


Penebar Swadaya.
Rangkuti, F. 2011. SWOT Balanced Scorecard. Jakarta (ID): PT Gramedia
Pustaka Utama.
Sudrajat, A. & Wedjatmiko. 2002. Budidaya Udang di Sawah dan Tambak.
Depok (ID): Penebar Swadaya.
LAMPIRAN
LAMPIRAN