Anda di halaman 1dari 9

3.2.

Perencanaan Geometri Jalan Angkut Tambang

3.2.1. Alinyemen Horizontal

Aliyenmen horizontal adalah proyeksi sumbu jalan pada bidang horizontal.

Aliyenment horizontal terdiri dari garis-garis lurus yang dihubungkan dengan garis-

garis lengkung. Garis lengkung tersebut dapat terdiri dari busur lingkaran ditambah

busur lingkaran.

A. Trase Jalan Tambang

Trase jalan adalah alur jalan dari dimulainya titik awal pengamatan hingga

titik akhir dilakukannya pengamatan. Trase jalan untuk memudahkan dalam

perencanaan dan pelaksanaan dibuat stasion-stasion disepanjang trase jalan.

Penempatan stasion pada gambar maupun pelaksanaannya dilapangan

tergantuk pada kondisi topografi suatu daerah. Penomoran stasion dimulai dari awal

perencanaan jalan hingga sampai pada ujung atau akhir dari jalan yang

direncanakan.

Adapun cara penomoran stasion untuk penempatan patok-patok penomoran

adalah sebagai berikut:

1. Untuk daerah datar, jarak antara patok adalah 100 meter.

2. Untuk daerah berbukit, jarak antara patok adalah 50 meter.

3. Untuk daerah pegunungan, jarak antara patok adalah 25 meter

B. Lebar Jalan Angkut Tambang

Perhitungan lebar jalan harus mempertimbangkan jumlah lajur, yaitu lajur tunggal

untuk jalan satu arah atau lakur ganda untuk jalan dua arah. Dalam kenyataannya, semakin

lebar jalan angkut maka akan semakin baik dimana lalulintas pengangkutan semakin lancer.
Sebaliknya, semakin lebar jalan angkut maka biaya yang dibutuhkan untuk pembuatan dan

perawatannya juga akan semakin besar.

Lebar Jalan Angkut Pada Kondisi Lurus

Lebar jalan minimum pada jalan lurus dengan lajur ganda atau lebih,

menurut The American Association of State Highway and Transportation Officials

(AASHTO) Manual Rural High Way Design 1973, harus di tambah dengan

setengah lebar alat angkut pada bagian tepi kiri dan kanan. Dari ketentuan tersebut

dapat digunakan cara sederhana untuk menentukan lebar jalan angkut minimum,

yaitu menggunakan rule of thumb atau angka perkiraan seperti pada tabel berikut,

dengan pengertian bahwa lebar alat angkut sama dengan lebar lajur.

Tabel 3.1. Lebar Jalan Angkut Minimum

Jumlah lajur truck Perhitungan Lebar jalan angkut minimum


1 1+(2 x ) 2,00
2 2+(2 x ) 3,50
3 3+(2 x ) 5,00
4 4+(2 x ) 6,50
(Sumber: AASHTO)

Seandainya lebar kendaraan dan jumlah lajur yang direncanakan

masing-masing adalah Wt. dan n, maka lebar jalan angkut pada jalan lurus dapat

dirumuskan sebagai berikut:

L min = n.Wt + (n+1) (. Wt.) ........................................................... (1)

Dimana:

L : Lebar jalan angkut minimum (m)

n : Jumlah Lajur

Wt : Lebar Alat Angkut


(Sumber: Diklat Perencanaan Jalan Tambang UNISBA)

Lebar Jalan Pada Tikungan

Lebar jalan angkut pada tikungan selalu dibuat lebih besar dari jalan

lurus. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi adanya peyimpangan lebar alat

angkut yang disebabkan oleh sudut yang dibentuk oleh roda depan dengan badan

truck saat melintasi tikungan. Untuk lajur ganda, lebar jalan minimum pada

tikungan dihitung berdasarkan pada; lebar jejak roda, lebar juntai (overhang) alat

angkut bagian depan dan belakang pada saat merbelok, jarak alat angkut saat

bersimpangan, dan jarak alat angkut terhadap tepi jalan.

Adapun persamaan yang digunakan untuk menghitung lebar jalan

angkut pada tikungan adalah sebagai berikut:

Wmin = n (U + Fa + Fb + Z) + C (2)

Untuk mendapatkan nilai jarak penyimpangan alat angkut saat bertemu

(C) digunakan persamaan berikut:

C = Z = (U + Fa + Fb) . (3)

Dimana:

Wmin : Lebar jalan angkut minimum pada belokan (m)


n : jumlah lajur

U : Lebar jejak roda (center to center tires) (m)

Fa : Lebar juntai (overhang) depan (m)

Fb : Lebar juntai belakang (m)

Z : Lebar bagian tepi jalan (m)

C : Jarak antar kendaraan/alat angkut saat bersimpangan (total lateral

clearance) (m)

(Sumber: Diklat Perencanaan Jalan Tambang UNISBA)

C. Jari-Jari Tikungan

Jari-jari atau radius tikungan jalan angkut berhubungan dengan konstruksi alat

angkut yang digunakan, khususnya jarak horizontal antara poros roda depan dan

belakang. memperlihatkan jari-jari lingkaran yang dijalani oleh roda belakang dan

roda depan berpotongan di pusat C dengan besar sudut sama dengan sudut

penyimpangan roda depan. Dengan demikian jari-jari belokan dapat dihitung

dengan rumus sebagai berikut:



= sin .. (4)

Dimana:
R : jari-jari belokan jalan angkut (m)

W : jarak poros roda depan dan belakang (m)

: sudut penyimpangan roda depan ()

(Sumber: Diklat Perencanaan Jalan Tambang UNISBA)

Alat angkut yang melalui belokan atau tikungan akan mengalami gaya

sentrifugal akibat kombinasi antara berat dan kecepatan alat, seperti terlihat pada

gambar dibawah ini.

(Sumber: Diktat Perencanaan Jalan Tambang)

Agar terhindar dari kemungkinan kecelakaan, maka untuk kecepatan tertentu

dapat dihitung jari-jari minimum (Rmin) untuk superelevasi maksimum (emax) dan

koefisien gesek maksimum (fmax), menggunakan rumus:


V2
R = 127 (e )
(5)
max + fmax

Dimana:

R : jari-jari tikungan minimum (m)

V : kecepatan alat angku (km/jam)

e : superelevasi (%)

f : koefisien gesek maksimum (0.14-0.24)

Untuk pertimbangan perencanaan, digunakan emax = 10%. Dengan persamaan

diatas dapat dihitung jari-jari tikungan minimal (Rmin) untuk variasi Vr dengan

konstanta eemax = 10% seharga harga fmax.

D. Superelevasi

Pada jalan yang membelok, badan jalan dimiringkan ke arah titik pusat belokan

yang disebut superelevasi. Superelevasi adalah kemiringan melintang pada

tikungan jalan yang berfungsi untuk memperoleh komponen berat kendaraan guna

mengimbangi gaya sentrifugal yang diberi kendaraan saat berjalan/melaju

ditikungan. Superelevasi berhubungan erat dengan jari-jari belokan, kecepatan

kendaraan dan perubahan kecepatan. Superelevasi dicapai secara bertahap dari

kemiringan normal pada bagian jalan yang lurus sampai ke kemiringan penuh

(superelevasi) pada bagian jalan yang lengkung.


(Sumber: Diktat Perencanaan Jalan Tambang)

AASHTO menganjurkan pemakaian beberapa nilai superelevasi maksimum

yaitu: 0.04; 0.06; 0.08; 0.10; dan 0.12. Dengan tujuan untuk meminimalkan

terjadinya pengaruh yang buruk oleh air permukaan jalan angkut tambang selama

hujan atau pada kondisi basah dan untuk mengimbangi gaya sentrifugal dari

kendaraan pada saat kendaraan memasuki tikungan.

Besarya superelevasi pada belokan jalan ditentukan menggunakan persamaan

dasar:

1 . 2
e+f= .. (1.6)
127 .

Dimana:

e : Superelevasi (m/mm)

f : koefisien gesekan melintang maksimum

V : kecepatan alat (km/jam)

R : radius belokan (m)

Tabel 3.2. Nilai Superelevasi yang diijinkan (m/m)

Radius Tikungan Kecepatan kendaraan (km/jam)


(m) 16 24 32 40 48 56
15 0,04 0,04
30 0,04 0,04 0,04
46 0,04 0,04 0,04 0,05
76 0,04 0,04 0,04 0,04 0,06
91 0,04 0,04 0,04 0,04 0,05 0,06
183 0,04 0,04 0,04 0,04 0,04 0,05
305 0,04 0,04 0,04 0,04 0,04 0,04
(Sumber: Pemindahan Tanah Mekanis, Ir. Yanto Indonesianto, M.Sc, 2011)

E. Lengkung Peralihan

Perubahan arah, yang harus diikuti oleh suatu kendaraan yang melintas bagian

lurus menuju suatu lengkungan berupa busur lingkaran, secara teoritis harus

dilakukan dengan mendadak, yaitu dari R tidak berhingga menuju R tertentu.

Secara praktis hal ini tidak mungkin dilakukan oleh ban kendaraan, karena harus

membuat sudut belokan tertentu pengemudi memerlukan jangka waktu tertentu,

berarti perlu jarak mendadak yang akan membahayakan pengemudi. Oleh sebab itu

agar kendaraan tidak menyimpang dari lajurnya, dibuatkan lengkung dimana

lengkung tersebut merupakan peralihan dari R = ~ ke R = Rc , yang disebut

lengkung peralihan.

Bentuk lengkung peralihan yang memberikan bentuk yang sama dengan jejak

kendaraan ketika beralih dari jalan lurus ke tikungan berbentuk lingkaran dan

sebaliknya, dipengaruhi oleh sifat pengemudi, kecepatan kendaraan, radius

lengkung dan kemiringan jalan melintang.

Keuntungan dari penggunaan lengkung peralihan pada jalan tambang adalah :

1. Pengemudi dapat dengan mudah mengikuti lajur yang telah disediakan

untuknya, tanpa melintasi lajur lain yang berdampingan.

2. Dapat melakukan perubahan dari lereng jalan normal ke kemiringan sebesar

superelevasi secara berangsur-angsur sesuai dengan gaya sentrifugal yang

terjadi.
3. Mengadakan peralihan pada pelebaran perkerasan yang diperlukan, dari

jalan yang lurus menuju ke kebutuhan lebar perkerasan pada tikungan-

tikungan yang tajam.

4. Menambah keamanan dan kenyamanan bagi pengemudi, karena sedikit

kemungkinan pengemudi keluar dari lajur.

5. Menambah keindahan bentuk dari jalan tersebut, menghindari kesan

patahnya jalan pada batasan bagian lurus dan lengkung dari busur lingkaran.

Panjang lengkung peralihan ditetapkan mulai dari penampang melintang

berbentuk mahkota (crown), sampai dengan kemiringan sebesar superelevasi.

(Sumber: Diktat Perencanaan Jalan Tambang)

F. Jarak Pandangan

Keamanan dan kenyamanan pengemudi kendaraan untuk dapat melihat dengan jelas

dan menyadari situasinya pada saat mengemudi, sangat tergantung pada jarak yang dapat

dilihat dari tempat kedudukannya. Panjang jalan di depan kendaraan yang masih dapat

dilihat dengan jelas diukur dari titik kedudukan pengemudi, disebut jarak pandangan.