Anda di halaman 1dari 5

Tugas Besar Hukum & Etika Bisnis

Studi Kasus :
PANAMA PAPERS

Oleh :

Raka Ayuda R. (2813 100 001)

Kevin Rezananta P. (2813 100 004)

Michael Candriawan (2813 100 005)

Safirah Mazaya A. (2813 100 031)

Bobby Heri P. (2813 100 032)

Jurusan Manajemen Bisnis

Fakultas Teknologi Industri

Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

2015/2016
Latar Belakang

Panama Papers adalah kumpulan 11,5 juta dokumen rahasia yang dibuat oleh penyedia jasa
perusahaan asal Panama, Mossack Fonseca. Dokumen ini berisi informasi rinci mengenai
lebih dari 214.000 perusahaan luar negeri, termasuk identitas pemegang saham dan
direkturnya. Dokumen tersebut mencantumkan nama pemimpin lima negara (Argentina,
Islandia, Arab Saudi, Ukraina, dan Uni Emirat Arab) serta pejabat pemerintahan, kerabat
dekat, dan teman dekat sejumlah kepala pemerintahan 40 negara lainnya, termasuk Brasil,
Cina, Perancis, India, Malaysia, Meksiko, Malta, Pakistan, Rusia, Afrika Selatan, Spanyol,
Suriah, dan Britania Raya.

Panama Papers pertama kali diterima oleh jurnalis investigasi asal Jerman, Bastian
Obermayer setahun lalu tepatnya bulan Agustus 2015 lalu. Data tersebut terangkum dalam
hasil investigasi sebuah organisasi wartawan global, International Consortium of
Investigative Journalists (ICIJ), sebuah koran dari Jerman, Sddeutsche Zeitung, dan lebih
dari 100 organisasi pers dari seluruh dunia. Namun data itu tidak lantas diberikan begitu saja.
John Doe (narasumber data ini) mengajukan syarat, bahwa data dirinya harus sangat
dirahasiakan. Dia juga menolak untuk bertatap muka, jadi semua komunikasi dilakukan
melalui kata sandi yang hanya diketahui oleh mereka berdua (John Doe dan Bastian
Obermayer).

Obermayer pun semakin tertarik. Sebab hanya orang-orang yang merasa terancam
keselamatannya yang selalu meminta jati dirinya sebagai narasumber untuk disembunyikan .
Namun ia merasa perlu tahu maksud dan tujuan John Doe melakukan hal tersebut,karena
tujuan dari panama papers ini menjadikannya kejahatan publik di dunia yang berbahaya.

Hal yang tidak pernah disangka oleh Obermayer kemudian adalah besarnya data yang
dimiliki John Doe. Bocoran ini terdiri dari 11,5 juta dokumen yang penting dari semua
Negara di dunia. Tentu data yang dimiliki John Doe ini sangat besar dan melibatkan rahasia
terdalam orang-orang penting. Ukuran dokumen yang dibocorkan ini mengalahkan Wikileaks
Cablegate (1,7 GB), Offshore Leaks (260 GB), Lux Leaks (4 GB), dan Swiss Leaks (3,3 GB).
Oleh karena itu Panama papers merupakan kebocoran dokumen terbesar di dunia. Tidak ada
yang tahu dari mana datangnya semua dokumentasi kepemilikan dan aliran dana yang diduga
dirahasiakan untuk korupsi atau skema pencucian uang tersebut. Bahkan Obermayer pun
tidak diberitahu.

Data bocoran ini terdiri dari surat elektronik, berkas PDF, foto, dan berkas pangkalan data
internal Mossack Fonseca. Semua data diterbitkan mulai tahun 1970-an sampai musim semi
2016. Panama Papers mencantumkan nama 214.000 perusahaan. Terdapat folder untuk setiap
perusahaan cangkang (shell company) yang berisi surel, kontrak, transkrip, dan dokumen
pindaian. Bocoran ini terdiri dari 4.804.618 surel, 3.047.306 berkas format pangkalan data,
2.154.264 PDF, 1.117.026 foto, 320.166 berkas teks, dan 2.242 berkas berformat lain.

Kumpulan dokumen tersebut tidak sepenuhnya mengindikasikan aktivitas ilegal.


Namun, faktanya memang para perusahaan bodong dan akun fiktif tersebut dapat menjadi
topeng untuk menyembunyikan transaksi dan kepemilikan finansial tertentu. Bocoran rahasia
terkait juga menyebut beberapa nama dan perusahaan yang masuk daftar hitam di Eropa dan
Amerika Serikat (AS) akibat keterlibatan pada perdagangan narkoba, terorisme,korupsi dan
lain-lain.

Profil Perusahaan Mossack Fonseca

Mossack Fonseca adalah badan hukum dan penyedia jasa perusahaan asal Panama yang
didirikan tahun 1977 oleh Jrgen Mossack dan Ramn Fonseca. Perusahaan ini menyediakan
jasa pembentukan perusahaan di negara lain, pengelolaan perusahaan luar negeri, dan
manajemen aset. Perusahaan ini memiliki lebih dari 500 karyawan di 40 negara. Badan ini
beroperasi atas nama lebih dari 300.000 perusahaan yang kebanyakan terdaftar di Britania
Raya atau surga pajak milik Britania.

Mossack Fonseca bekerja sama dengan lembaga-lembaga keuangan terbesar di dunia seperti
Deutsche Bank, HSBC, Socit Gnrale, Credit Suisse, UBS, dan Commerzbank. Badan ini
kadang membantu nasabah bank tersebut membangun struktur yang rumit sehingga kolektor
pajak dan penyidik sulit melacak arus uang dari satu tempat ke tempat lain. Sebelum
kebocoran Panama Papers, majalah The Economist menyebut Mossack Fonseca sebagai
pemimpin industri keuangan luar negeri penuh rahasia.

Mossack Fonseca mengelola banyak perusahaan selama bertahun-tahun. Jumlah perusahaan


aktif yang dikelola mencapai puncaknya, 80.000 perusahaan, pada tahun 2009. Lebih dari
210.000 perusahaan di 21 negara muncul di Panama Papers. Lebih dari separuhnya didirikan
di Kepulauan Virgin Britania Raya dan sisanya di Panama, Bahama, Seychelles, Niue, dan
Samoa. Selama sekian tahun, Mossack Fonseca menangani klien di lebih dari 100 negara;
sebagian besar perusahaan berasal dari Hong Kong, Swiss, Britania Raya, Luksemburg,
Panama, dan Siprus. Mossack Fonseca bekerja sama dengan lebih dari 14.000 bank, badan
hukum, notaris, dan pihak lainnya untuk mendirikan perusahaan, yayasan, dan trust sesuai
pesanan klien. Lebih dari 500 bank mendaftarkan hampir 15.600 perusahaan cangkang
bersama Mossack Fonseca. HSBC dan rekan-rekannya mendirikan lebih dari 2.300
perusahaan cangkang. Dexia (Luksemburg), J. Safra Sarasin (Luksemburg), Credit Suisse
(Kepulauan Channel), dan UBS (Swiss) masing-masing mengajukan pendirian kurang lebih
500 shell company untuk kliennya, sedangkan Nordea (Luksemburg) mengajukan pendirian
400 perusahaan.

Analisis dan Diskusi

Dampak dari Panama papers ini adalah bisa menginspirasi system pajak Internasional yang
lebih kuat dan adil berdasarkan system pajak,lembaga yang baik,dan berintegrasi.Ada upaya
dan forum Internasional lainnya untuk mendorong reformasi pajak yang solid dan
mempromosikan kerjasama Internasional yang mengikat. Bagi Indonesia sendiri,Panama
papers menimbulkan dampak yang begitu luas,karena dari data yang bocor tersebut
memunculkan sejumlah nama pengusaha terkenal di Indonesia yang berjumlah ribuan
pengusaha dan menciptakan dampak positif jika dihubungkan dengan kebijakan pemerintah
yang berusaha meningkatkan basis pajak dan penerimaan dengan menambah wajib pajak
baru.Panama papers berfungsi sebagai referensi bagi kebijakan perpajakan nasional di masa
yang akan datang dan sejatinya menjadi peluang yang baik untuk mendeteksi para
pengemplang pajak.

Baru-baru ini beberapa negara seperti Brazil , Amerika dan Italy menandatangani perjanjian
peraturan global tentang Tax Justice, dan juga perjanjian untuk membagi informasi pajak
antar negara. Tetapi berdasarkan peneliti, itu tidak akan bertahan lama. Leonard Seabrooke
dam Duncan Wigan dari Copenhagen Business School mengatakan lemahnya kekuatan dan
sumberdaya dalam penindakan pajak dalam memberikan informasi tetap menjadi masalah yg
paling utama, apabila hal tersebut tidak dijadikan topik utama, walaupu ada regulasy sharing
system of tax, informasi tersebut akan tersebar sangat lama.

Menurut Zucman ( asisten professor di jurusan ekonomi di universitas California


Barkeley dan penulis buku The Hidden Wealth of Nations: The Scourge of Tax Havens),
solusi yang dapat di lakukan adalah membuat Global Financial Registry , dimana setiap
assets antar negara dapat di lacak oleh pihak pajak di negara yang berbeda, dan sanksi bila
melawan hukum tersebut adalah mutlak, (juga merupakan saran dari UK setelah Panama
Paper rilis).

Indonesia juga melakukan gerakan untuk menangani kasus panama paper , dengan dibuatnya
RUU Tax Amnesty yang berpotensi menyandera RAPBN-P 2016 yang akan dibahas bulan ini
sampai Juni 2016. Namun beberapa pihak menolak RUU tersebut, seperti halnya Forum
Indonesia untuk Transparansi Indonesia (FITRA) yang menilai kebijakan tax amnesty justru
hanya memberi jalan ke penggelap pajak.

Jika kita melihat kasus ini tindakan yang dilakukan oleh John Doe bisa dikatakan ada baiknya
dan juga tidak. Sisi baiknya kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh pengusaha-pengusaha
maupun tokoh-tokoh yang melakukan penggelapan pajak bisa terungkap ke media. Tetapi
jika dilihat dari tindakannya, hal ini salah dan ini melanggar etika dalam dunia bisnis.

Yang terjadi pada kasus Panama Papers sendiri bisa dibilang sebagai tanda bahwa kemajuan
teknologi saat ini juga berubah ke arah yang negatif dimana kita dengan mudahnya
mendapatkan info dari pihak2 khusus tanpa sepengerahuan mereka. Cyber crime yang marak
terjadi saat ini dapat dikatakan sebagai mengganggu privasi. Karena apa yang dilakukan oleh
pihak yang membocorkan pasti membuat rugi pihak yang terbongkar, meskipun pada kasus
ini dapat mengetahui pihak-pihak terselubung yang menjauhkan diri dari pajak. Namun bisa
jadi dikemudian hari pembongkaran seperti ini terjadi terhadap warga sipil dan informasi-
informasi yang sebenarnya tidak layak dipublikasikan.

Dalam kasus Panama Papers ini bisa diambil kesimpulan bahwa terdapat dua hal yang
didapatkan dari kasus tersebut. Yang pertama adalah Mossack Fonseca telah menjadi pihak
yang membantu perusahaan-perusahaan untuk menggelapkan pajak, mungkin secara hukum
apa yang dilakukan oleh Mossack Foncesa legal, namun tidak etis untuk dilakukan karena
kerugian yang disebabkan oleh pencucian uang itu telah besar nominalnya. Dan yang kedua,
keahlian dalam membocorkan informasi pribadi bukan lagi hal yang sulit untuk dilakukan.
Kedepannya bisa jadi pembocoran informasi pribadi disalahgunakan untuk kepentingan
oknum tertentu.

Setelah kami mendiskusikan hal ini, saran yang dapat digunakan adalah seperti yang
diungkap oleh Zucman, yaitu membuat peraturan internasional dan menshare info pajak antar
negara sehingga setiap negara dapat mengetahui info transaksi ataupun pemindahan asset
oleh perusahaan ataupun perseorangan. Namun hal ini juga memunculkan resiko lain dimana
semakin mudahnya data-data tersebut dicuri untuk digunakan negara lain dalam
memanipulasi data, oleh karena itu perlunya kesadaran ataupun sanksi yang tegas untuk
menyelesaikan masalah ini, sehingga ketika salah satu negara memanipulasi data maka
dampak yang besar akan menimpa negara tersebut sehingga kedepannya tidak ada lagi
penggelapan pajak ataupun pemindahan asset yang berbahaya.

Sumber :

Marbun, Robert.(2016, April 5).Apa itu Panama Papers?.


http://www.robertmarbun.com/apa-itu-panama-papers.html

Syahwier,Coki Ahmad.(2016,April 9).Pengampunan Pajak & Panama Papers.Retreived


from Pengampunan Pajak & Panama Papers: http://www.pikiran-
rakyat.com/opini/2016/04/09/pengampunan-pajak-%E2%80%9Cpanama-
papers%E2%80%9D-366265

Theatlantic.com

liputan6.com

nytimes.com