Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
Apendisitis akut selama kehamilan adalah komplikasi penting yang patut
mendapat perhatian. Mungkin merupakan indikasi tersering untuk melakukan
laparotomi bagi lesi ekstra uterus . Berbagai perubahan anatomi dan fisiologi yang
terjadi selama kehamilan menyebabkan sulitnya menegakkan diagnosis pada kelainan
ini . Gejala dan tanda apendisitis akut selama kehamilan sama seperti yang ditemui pada
keadaan tidak hamil. Bab ini akan mengulang kembali dua aspek prinsip kondisi ini dan
membahas pokok-pokok yang mungkin berguna untuk diagnosis dini dan pengobatan .
Apendisitis akut pertama kali didiagnosis pada tahun 1886, dan sejauh ini
merupakan kedaruratan pembedahan ekstra uterine yang paling sering ditemukan selama
kehamilan. Etiologi dan pathogenesisnya tidak diketahui meskipun banyak teori telah
diajukan, termasuk obstruksi mekanik lumen apendisiel, rusaknya barrier mucosal
apendiks akibat invasi langsung pathogen, dan respon inflamasi yang dipicu oleh
pathogen atau stimuli lain.
Diagnosis dan penatalaksanaan apendisitis akut dalam kehamilan dapat menjadi
sebuah tantangan karena gambaran klinis tidak klasik dan komplikasi apendisitis perforasi
yang mengakibatkan tingginya angka kematian maternal dan janin. Dengan demikian
mencapai diagnosis yang akurat dan memulai pengobatan dini penting untuk mencegah
komplikasi. Artikel ini mengulas epidemiologi, diagnosis klinis, investigasi, komplikasi,
dan pengobatan apendisitis akut dalam kehamilan.

Appendicitis adalah peradangan pada organ appendix vermiformis atau yang


dikenal juga sebagai usus buntu. Berdasarkan onsetnya, appendicitis dibagi menjadi
beberapa macam, dari appendicitis akut hingga kronis. Appendicitis akut sendiri adalah
salah satu penyebab keadaan bedah emergensi terbanyak, yang ditandai dengan gejala
berupa nyeri perut pada ulu hati / epigastrium yang menjalar ke kuadran kanan bawah.
Hingga saat ini penyebab keadaan akut abdomen di negara negara (Negara berkembang
dan negara maju) terbanyak adalah appendicitis akut ini.

Peradangan pada appendix ini dapat ditemukan pada masyarakat dari berbagai
usia, dan juga dari berbagai kalangan yang berbeda pula. Terdapat sekitar 250.000 kasus
appendicitisyang terjadi di Amerika Serikat setiap tahunnya dan terutama terjadi pada
anak usia 6 10 tahun. Di Indonesia sendiri belum ada data pasti yang menyatakan jumlah

1
insiden appendicitis, namun insiden terbanyak terjadi pada usia 10 30 tahun, dengan
jumlah penderita pria lebih banyak daripada wanita. Walaupun appendicitis ini dapat
ditemukan pada berbagai usia, namun angka komplikasi tertinggi ada pada penderita pada
rentang usia muda (anak anak) dan usia tua, di mana angka komplikasi berupa perforasi
appendix diikuti dengan peritonitis generalisata cukup tinggi.

Sejalan dengan waktu, insiden appendicitis ini terus meningkat, hal ini diduga
berkaitan dengan pola makan yang semakin rendah serat, di mana menyebabkan
terbentuknya faeses yang keras dan kemudian menyebabkan sumbatan pada lumen
appendix sehingga terjadi peradangan.

Terapi definitif dari appendicitis, baik akut maupun kronis adalah dengan
melakukan pengangkatan appendix yang meradang. Tindakan ini dilakukan secara bedah,
dan dapat dilakukan dengan beberapa metode, baik laparotomy, laparoscopy, maupun
dengan simple appendectomy (insisi pada McBurney) sesuai dengan indikasinya.
Appendicitis akut yang tidak ditangani dengan adekuat / definitif maka akan dapat
menyebabkan perforasi diikuti dengan peritonitis yang dapat menyebabkan shock dan
akhirnya bisa menyebabkan kematian. Namun dengan penanganan segera dan cepat maka
prognosis dari appendicitis adalah sangat baik.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Appendix

Appendix vermicularis adalah divertikulum intestinal yang berukuran kurang


lebih 6 10 cm dan terletak pada caecum. Organ ini berbentuk tabung dengan lumen yang
sempit pada bagian proximal dan melebar pada bagian distal, kapasitas appendix sendiri
kurang lebih 0,1 ml. Organ ini tersusun dari jaringan limfoid dan merupakan bagian
integral dari GALT (Gut-Associated Lymphoid Tissue). Lokasi appendix terbanyak
berasal dari bagian posteromedial caecum, di bawah ileocaecal junction. Appendix sendiri
memiliki mesenterium yang mengelilinginya, yang disebut mesoappendix, yang berasal
dari bagian posterior mesenterium yang mengelilingi ileum terminalis. Posisi terbanyak
dari appendix sendiri adalah retrocaecal, namun demikian ada variasi dari lokasi
appendix ini, 65% dari posisi appendix terletak intraperitoneal sementara sisanya
retroperitoneal. Di sini variasi posisi appendix menentukan gejala yang akan muncul saat
terjadi peradangan. Beberapa variasi posisi appendix terhadap caecum adalah sebagai
berikut :

1. Retrocaecal (65%)
2. Pelvinal
3. Antecaecal
4. Preileal
5. Postileal

3
Gambar 1. Variasi Posisi Appendix

Posisi terbanyak adalah retrocaecal, namun demikian posisi appendix dapat ditemukan dengan
menelusuri ketiga taenia yang terdapat pada caecum (dan colon), yaitu taenia colica, taenia
libera, dan taenia omental.

Vaskularisasi appendix berasal dari arteri ileocolica yang merupakan cabang dari arteri
mesenterika superior. Cabang arteri ileokolika ini disebut arteri appendicularis, dengan aliran
venanya berasal dari vena ileocolica dan akan kembali ke vena mesenterika superior. A.
appendicularis ini tidak memiliki kolateral sehingga ketika terjadi oklusi apapun penyebabnya,
maka mudah terjadi iskemia dan gangren, hingga akhirnya perforasi. Persarafan parasimpatis
berasal dari cabang n. vagus yang mengikuti a. mesenterica superior dan a. appendicularis,
sedangkan persarafan simpatis berasal dari n. torakalis X. Oleh karena itu, nyeri visceral pada
appendicitis bermula di sekitar umbilicus.

B. Fisiologi Appendix

Appendix menghasilkan lendir / mucus setiap harinya sejumlah 1 2 cc per hari, di


mana kelebihan dari mucus akan mengalir dari lumen ke caecum. Adanya obstruksi pada jalur
inilah yang menyebabkan terjadinya peradangan pada appendix.

Salah satu hal lain yang dilakukan appendix adalah menghasilkan Immunoglobulin
sekretoar, yang dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid tissue) yang terdapat di
sepanjang saluran cerna termasuk appendix, yaitu IgA. Immunoglobulin berfungsi sebagai
pertahanan terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan appendix tidak mempengaruhi

4
sistem imun tubuh karena jumlah jaringan limfoid disini sangat sedikit jika dibandingkan
dengan jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh, sehingga hilangnya appendix tidak
menimbulkan perubahan yang bermakna.

C. Insiden & Epidemiologi Appendicitis Pada Kehamilan

Orang menganggap apendisitis terjadi lebih sering dalam kehamilan dibandingkan


dalam keadaan tidak hamil dikarenakan peningkatan kadar progesteron yang ditemui pada
kehamilan menyebabkan hipomotilitas usus. Kejadian penyakit ini ternyata sama saja pada
keadaan hamil maupun tidak hamil. Apendisitis akut terjadi lebih dari 70% pada wanita yang
berusia dibawah 35 tahun. Karena itulah penyakit ini lebih sering dijumpai pada wanita usia
reproduksi. Selama kehamilan apendisitis menempati 2/3 dari semua bedah saluran cerna,
kejadiannya rata rata 0,69 per 1000 kelahiran dan berkisar dari 1,2 per 1000 pada pusat
rujukan tertier ( 24 kasus dalam 19,187 persalinan ) hingga 0,87 per 1000 ( 29 kasus dalam
33,300 persalinan ) 067 per 1000 ( 503,000 kehamilan ) 5,5 per 1000 (25 kasus dalam 50,089
persalinan ) dalam sebuah penelitian pada kota Aberdeen dan Suburbs, dan 0,37 per 1000
perlu dicatat bahwa, berdasarkan pada hasil dua penelitian berskala besar, kejadian apendisitis
pada wanita hamil secara praktis sama pada semua trimester. Sebuah institusi dalam 7 tahun
terakhir, ditemukan 12 kasus apendisitis selama kehamilan diantara 22.000 persalinan,
insidensnya 0,55 per 1000

Apendisitis akut dapat terjadi kapan saja selama kehamilan, meski penyakit ini terjadi
paling sering selama trimester kedua (45%) dan 30% selama trimester pertama dan sisanya
25% pada trimester ketiga. Keseluruhan insiden 0,15 hingga 2,10 per 1000 kehamilan.

Penelitian yang dilakukan di Swedia menunjukan bahwa terdapat hubungan yang


bertolak belakang antara kehamilan dan apendisitis yang menunjukkan bahwa kehamilan
melindungi dari apendisitis, khususnya selama trimester ketiga.

Kematian maternal jarang dalam kasus apendisitis sederhana, tetapi meningkat hingga 2%
dengan perkembangan kehamilan dan apendisitis terperforasi sementara mortalitas janin
berentang dari 0-1,5% dalam kasus kasus apendisitis sederana hingga 20-35% dalam
apendisitis terperforasi.

5
D. Etiologi Appendicitis

Penyebab appendicitis yang terutama adalah infeksi bakteri yang didahului dengan
obstruksi pada lumen appendix. Obstruksi ini menyebabkan stasis cairan dan distensi dari
appendix sehingga menyebabkan pendarahan terganggu akibat vena dan arteri tertekan oleh
distensi dan edema yang terjadi. Akibatnya terjadi stasis mucus dan penurunan suplai darah
appendix yang memudahkan terjadinya infeksi sekunder oleh bakteri yang kemudian
menyebabkan terjadinya peradangan appendix. Penyebab obstruksi lumen appendix antara lain
adalah :

Fecalith
Parasit
Benda benda asing
Hiperplasia jaringan limfoid
Insidensi terjadinya appendicitis yang berhubungan dengan hyperplasia
jaringan limfoid biasanya disebabkan oleh reaksi limfatik baik lokal atau general,
misalnya akibat infeksi Yersinia, Salmonella, dan Shigella; atau akibat invasi parasit
seperti Entamoeba, Strongyloides, Enterobius vermicularis, Schistosoma, atau Ascaris.
Appendicitis juga dapat diakibatkan oleh infeksi virus enteric atau sistemik, seperti
measles, chicken pox, dan cytomegalovirus.

Tumor / Carcinoid tumor


Adalah neoplasma yang sering ditemui pada usus halus dan appendix, bila
carcinoid tumor ini mengobstruksi lumen appendix maka dapat terjadi appendicitis
juga.

Obstruksi dari hal hal ini menyebabkan terjadinya stasis dan penimbunan mukus pada
lumen appendix yang kemudian menyebabkan gejala gejala, di mana biasanya akan terjadi
infeksi sekunder oleh bakteri, bakteri yang sering dapat ditemukan antara lain adalah :

6
Tabel 1. Bakteri yang diisolasi / sering ditemui pada appendicitis

Bakteri aerob fakultatif Bakteri anaerob

Escherichia coli Bacteroides fragilis


Viridans streptococci Peptostreptococcus micros
Pseudomonas aeruginosa Bilophila species
Enterococcus Lactobacillus species
Jadi etiologi terbanyak dari appendicitis adalah obstruksi, namun bukan tidak mungkin
terjadi proses inflamasi yang tidak melibatkan obstruksi lumen terlebih dahulu, hal in dapat
terjadi jika memang ada penyebaran infeksi langsung ke appendix misalnya, baik virus maupun
bakteri.

E. Perubahan Anatomik Apendisitis Pada Kehamilan

Dalam keadaan tidak hamil, apendiks berada pada kuadran kanan bawah pada sekitar
65 %, dalam 30% kasus berada pada daerah pelvis, dan hanya 5 % berada retrosekal pada
posisi terakhir , atau ketika terpengaruh oleh perlekatan ,apendiks terfiksasi jauh didalam
pelvis. Pada keadaan hamil, karena pengaruh pembesaran uterus, akan menyebabkan
bergesernya basis apendiks keatas. Hal ini ditemukan oleh Baer dan kawan-kawan pada
tahun 1932. Penulis ini melacak pergeseran apendiks selama hamil pada wanita sehat
yang tidak mempunyai riwayat apendisitis sebelumnya dengan menggunakan barium,
populasi penelitian dievaluasi pada keadaan terlentang. Penulis melaporkan pergeseran letak
apendiks akibat pembesaran uterus, kearah atas dan luar, sebagai mana gerakan searah jarum
jam. Pergeseran kearah kuadran kanan atas, efek ini menjadi sangat jelas terutama pada dua
minggu terakhir kehamilan dimana apendiks akan berada di atas ginjal kanan. Perubahan
posisi seperti yang dijabarkan oleh Baer dan kawan-kawan mungkin akan terhalang dengan
adanya perlengketan, yang akan menghalangi apendiks untuk bergerak bebas. Apendiks
dalam letak retrosekal juga terbatas pergerakannya.

Uterus yang membesar mendorong peritoneum parietalis kearah luar dan omentum mayus
keatas, membuat apendiks sukar dijangkau sewaktu dalam keadaan meradang. Perubahan ini
menyebabkan meluasnya peritonitis jika apendisitis terjadi pada kehamilan lanjut. Kontraksi

7
uterus yang intermiten juga akan memudahkan penyebaran peradangan jika persalinan berada
pada fase aktif.

Gejala appendicitis sering dikacaukan dengan adanya gangguan yang gejalanya serupa
dengan appendicitis, yaitu mulai dari alat genital (proses ovulasi, menstruasi), radang panggul,
atau penyakit kandungan lainnya. Pada wanita hamil dengan usia kehamilan trimester, gejala
appendicitis berupa nyeri perut, mual, dan muntah, dikacaukan dengan gejala serupa yang biasa
timbul pada kehamilan usia ini. Sedangkan pada kehamilan lanjut, sekum dan appendix
terdorong ke kraniolateral, sehingga keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah tetapi
lebih ke regio lumbal kanan.

Gambar 4. Perubahan Posisi Appendix pada Wanita Hamil

8
Tabel 2. Gejala Appendicitis Akut

Frekuensi
Gejala Appendicitis Akut
(%)

Nyeri perut 100

Anorexia 100

Mual 90

Muntah 75

Nyeri berpindah 50

Gejala sisa klasik (nyeri periumbilikal kemudian anorexia/mual/muntah


kemudian nyeri berpindah ke RLQ kemudian demam yang tidak terlalu 50
tinggi)

*-- Onset gejala khas terdapat dalam 24-36 jam

F. Patofisiologi & Patogenesis Appendicitis

Pada dasarnya, obstruksi yang terjadi pada lumen appendix (apapun penyebabnya) akan
menyebabkan terjadinya distensi appendix, hal ini karena kapasitas appendix untuk
menampung mucus hanya sekitar 0.1 0.2 ml, sementara sekresi mucus perharinya mencapai
1 2 ml. Hal ini menyebabkan distensi lumen yang diikuti dengan penekanan pada drainase
limfe dan akhirnya terjadi stasis cairan pada appendix, biasanya akan terbentuk edema juga.
Hal ini yang disebut sebagai appendicitis akut fokal, di sini distensi dari appendix
menyebabkan adanya respon nyeri visceral yang tidak spesifik, sehingga biasanya gejala yang
dialami pasien adalah nyeri epigastrium yang sulit untuk dideskripsikan dan dilokalisasi.

Distensi yang terus terjadi akan menyebabkan tekanan intra-lumen terus meningkat, hal
ini akan diikuti dengan penekanan terhadap sistem vena appendicular sehingga drainase vena
terganggu, akibatnya terjadi translokasi dan proliferasi bakteri pada appendix, edema yang
sudah terbentuk juga mempermudah terjadinya proses infeksi, akibatnya terjadilah infeksi dan
inflamasi pada appendix, inflamasi pada appendix ini akan menyebabkan gejala nyeri perut

9
pada kuadran kanan bawah saat inflamasinya meluas dan mengenai peritoneum setempat.
Tahap ini disebut sebagai appendicitis akut supuratif.

Ketika obstruksi lumen terus berlanjut, maka tekanan intra lumen juga akan terus
meningkat, hal ini menyebabkan tidak hanya obstruksi vena yang terjadi akibat penekanan,
namun juga menyebabkan obstruksi arteri appendicular karena edema dan tekana intra lumen
yang terus meningkat mendesak dan menekan sistem arteri. Karena sistem arteri yang
mendarahi appendix tidak memiliki sistem kolateral, maka akan terjadi iskemia jaringan, yang
bila berlanjut akan menyebabkan terjadinya nekrosis jaringan dan gangren, hal ini dikenal
sebagai appendicitis gangrenous, di mana appendix yang sudah dalam keadaan seperti ini
sangat mudah mengalami perforasi yang dapat menyebabkan perluasan infeksi ke peritoneum
(akibatnya terjadilah peritonitis).

Sebenarnya tubuh juga melakukan usaha pertahanan untuk membatasi proses


peradangan ini. Caranya adalah dengan menutup appendix dengan omentum, dan usus halus,
sehingga terbentuk massa periappendikuler yang dikenal dengan istilah appendicitis infiltrat.
Di dalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi.
Namun, jika tidak terbentuk abses, appendicitis akan sembuh dan massa periappendikuler akan
menjadi tenang dan selanjutnya akan mengurai diri secara lambat. Pada anak-anak, dengan
omentum yang lebih pendek, appendix yang lebih panjang, dan dinding appendix yang lebih
tipis, serta daya tahan tubuh yang masih kurang, memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan
pada orang tua, perforasi mudah terjadi karena adanya gangguan pembuluh darah.

10
Gambar 2. Angka Perforasi Appendicitis berdasarkan Usia

Appendix yang pernah mengalami inflamasi tidak akan sembuh dengan


sempurna, tetapi akan membentuk jaringan parut. Jaringan ini menyebabkan terjadinya
perlekatan dengan jaringan sekitarnya. Perlekatan tersebut dapat kembali menimbulkan
keluhan pada perut kanan bawah. Pada suatu saat organ ini dapat mengalami
peradangan kembali dan dinyatakan mengalami eksaserbasi akut. Keadaan di mana
appendix telah mengalami fibrosis dan pembentukan jaringan parut ini disebut sebagai
appendicitis kronis, di mana biasanya hal ini ditandai dengan nyeri kanan bawah yang
hilang timbul, dan riwayat nyeri pertama kali yang tidak ditangani dengan terapi bedah,
di mana nyerinya kemudian berkurang dan menjadi hilang timbul. Pada pemeriksaan
USG juga akan nampak appendix yang mengalami penebalan dan fibrosis.

11
Gambar 3. Patofisiologi terjadinya Appendicitis

G. Manifestasi Klinik

Umumnya, diagnosis apendisitis akut dapat dilakukan secara klinis berdasarkan riwayat
menyeluruh dan pemeriksaan fisik. Namun, mungkin sulit untuk mendiagnosisnya pada wanita
hamil karena perubahan fisiologi dan anatomi yang terjadi selama kehamilan. Hal ini karena
gejala gejala seperti mual, muntah, anoreksia, dan ketidaknyamanan abdomen sama dengan
pada kehamilan itu sendiri.

Selain itu, apendiks berpindah ke superior dan lateral dengan adanya perbesaran uterus,
dengan demikian menekan apendiks menjauh dari titik Mc Burneys. Penelitian klinis telah
menunjukan bahwa 84% wanita hamil yang mengalami apendisitis mengalami nyeri pada

12
kuadran kanan bawah tetapi dilaporkan bahwa apendiks dapat pula berpinah ke kuadran kanan
atas.

Selain hal ini, nyeri tekan rebound dan tahanan pada dinding abdomen jarang tampak
selama pemeriksaan karena kelemahan otot dinding abdomen selama kehamilan; dimana tanda
tanda klasik seperti obturator, psoas, dan rovsing ditemukan positif tetapi pada kurang dari
sepertiga pasien. Demam, hipotensi, dan takikardia juga tidak dapat diandalkan dan mungkin
hadir selama kehamilan.

Pemeriksaan darah, khususnya hitung sel darah putih (WBC) biasanya dilakukan untuk
mengkonfirmasi atau mengeksklusi suspek apendisitis pada pasien dengan nyeri kuadran kanan
bawah. Namun, mungkin tidak membantu dan tidak dapat diandalkan pada wanita hamil karena
leukositosis (hitung WBS setinggi 16000/L) dan bandemia (WBC yang tidak matur)
merupakan gangguan fisiologis normal selama kehamilan. Selanjutnya, tidak semua wanita
hamil dengan apendisitis mengalami leukositosis. C reaktif protein (CRP) juga dapat
digunakan tetapi tidak dapat diandalkan.

Pencitraan diagnosis dapat dipertimbangkan dalam kasus kasus yang meragukan.


Ultrasonography (USG) telah digunakan untuk investigasi nyeri kuadran kanan bawah pada
pasien ginekologi selama beberapa decade. Juga dapat memvisualisasikan apendiks yang
inflamasi.

Beberapa gambaran yang ditemukan selama ultrasonografi antara lain: ukuran diameter
apendiks lebih dari 6 mm atau lebih, penebalan dinding apendiseal, dan adanya cairan
periependiseal atau faecolith. USG dengan demikian merupakan alat yang sangat berguna
untuk mendiagnosis apendisitis dalam kehamilan karena sensitivitasnya (75-90%) dan
spesifisitasnya (75-100%) yang tinggi, relatif murah, cepat dan non invasif.

Namun, ketika kehamilan berkembang, diagnosis menjadi makin sulit karena


perpindahan posisi apendiks. Di Barat, helical computed tomography scanning (CT scan)
semakin popular sebagai alat untuk mendiagnosis apendisitis karena akurasinya, tetapi sangat
dikontraindikasikan dalam kehamilan khususnya pada trimester pertama karena paparan
radiasinya.

Alat pencitraan lainnya yang berguna untuk mendiagnosis apendisitis adalah magnetic
resonance (MRI). Suatu laporan di Amerika serikan membuktikan diagnosis definitif

13
apendisitis perforata pada wanita hamil yang memasuki trimester kedua tetapi efek jangka
panjang ruang magnetic statis terhadap janin masih tidak diketahui.

H. Diagnosis Banding

Baik itu kondisi obstetrik atau ginekologis dan kondisi non obstetrical atau non ginekologis
mungkin hadir dengan nyeri abdomen dan dapat menyerupai apendisitis. Berikut merupakan
diagnosis banding yang mungkin:

Obstetrik dan ginekologis

kehamilan Ectopic

keguguran (usia gestasi awal)

Twisted ovarian cyst atau kista ovarium yang pecah

Pelvic infammatory disease

kelahiran preterm (usia gestasi yang lebih berkembang)

abruption Placenta

Degenerating uterine leiomyoma

Non-Obstetrical dan Ginekologis

Infeksi saluran kencing

cholecystitis akut

Gastroenteritis

ureteric colic kanan

pyelonephritis kanan

ulkus peptikum yang perforasi

Mesenteric adenitis

I. Tatalaksana

Segera setelah apendisitis akut terdiagnosis, intervensi pembedahan dini


direkomendasikan. Penelitian telah menunjukkan bahwa pembedahan dalam 24 jam secara
relatif memiliki angka perforasi apendiks yang lebih rendah. Setelah 36 jam onset gejala angka

14
perforasi antara 16% dan 36%. Juga diketahui bahwa resiko perforasi meningkat 5% untuk
setiap periode 12 jam berikutnya.

Dengan demikian, setelah diagnosis apendisitis akut dibuat, apendektomi seharusnya


dilakukan segera. Kebanyakan pasien diberikan antibiotik spectrum luas sebelum operasi, yang
mana terbukti menurunkan infeksi luka dan pembentukan abses pasca operasi.

Karena resiko potensial teratogenesisnya, sepalosporin generasi kedua biasanya digunakan


sebelum operasi. Selain sebagai profilaksis, juga dipergunakan dalam pengobatan perforasi,
peritonitis, dan apendiks ganggren.

Sepalosporin digunakan dalam kombinasi dengan metronidazole pada apendisitis perforata


terkomplikasi. Untuk melegakan gejala, analgesic dan agen tokolitik biasanya digunakan.
Seperti antibiotik, kekhawatiran dalam penggunaan analgesic adalah resiko teratogenesis.
Lebih jauh lagi, hal ini juga dapat menyamarkan gambaran klinis dan mengakibatkan diagnosis
yang salah. Agen tokolitik digunakan untuk mencegah iritasi uterus. Namun efektifitasnya
masih belum dibuktikan.

PEMBEDAHAN

Operasi terbuka dan laparoskopi merupakan teknik pembedahan yang digunakan dalam
mengobati apendisitis. Apendiks diakses melalui insisi Lanz terbuka, dimana biasanya dibuat
melalui titik McBurneys. Metode ini memiliki keuntungan utama yakni visualisasi peritoneum
yang lebih baik, waktu operasi yang lebih pendek, paparan janin terhadap karbon dioksida yang
lebih sedikit, resiko pneumoperitoneum yang lebih rendah dan biaya yang lebih rendah. Karena
paparan karbondioksida lebih rendah pada operasi terbuka dibandingkan pada laparoskopi dan
efek jangka panjang paparan terhadap gas tidak pasti, operasi terbuka dipercaya lebih baik dan
umumnya lebih dipilih daripada metode laparoskopi pada trimester kedua akhir dan ketiga.

Meskipun laparoskop awalnya dikontraindikasikan pada kehamilan, penelitian terkini


menunjukkan bahwa metode ini ditoleransi oleh ibu dan janin selama periode kehamilan.

Pertimbangan utama metode laparoskopi adalah penggunaan karbon dioksida untuk


membentuk pneumoperitoneum. Hal ini mempaparkan janin terhadap karbon dioksida,
meningkatkan tekanan intraabdomen, yang mana dapat mengakibatkan kelahiran preterm,
penurunan aliran darah uterus, dan mengakibatkan asidosis janin.

15
Penempatan masukan port primer atau jarum Veress dapat juga menciderai janin dan
menyebabkan pneumoamnion. Namun, karena kemajuan terkini teknik laparoskopik, terdapat
beberapa keuntungan laparoskopi dibandingkan operasi terbuka. Diantaranya adalah
penurunan insiden infeksi luka, nyeri pasca operasi yang berkurang, penggunaan narkotik yang
rendah dan resiko ileus yang lebih rendah.

Penelitian juga menunjukkan bahwa hal ini dihubungkan dengan waktu rawat inap yang
berkurang, mobilisasi dini, berkurangnya resiko tromboembolisme, berkurangnya resiko
hernia insisional, dan depresi janin yang lebih rendah akibat nyeri dan penggunaan narkotik.

J. KOMPLIKASI

Dalam apendisitis akut, komplikasi yang paling parah adalah perforasi apendisitis.
Dalam kehamilan, persentase apendiks perforata bisa jadi setinggi 43%, dibandingkan dengan
19% dalam populasi umum. Resiko perforasi juga meningkat dengan usia gestasional, dimana
insiden apendiks perforata lebih tinggi selama trimester ketiga. Perforasi apendiks
menyebabkan keluarnya isi apendiks ke dalam rongga abdomen. Hal ini dapat mengakibatkan
peritonitis, keguguran, persalinan preterm dan kematian janin atau maternal. Berdasarkan
berbagai penelitian apendiks perforata meningkatkan angka kontraksi preterm dan persalinan
preterm.

Namun, resiko persalinan preterm tertinggi pada minggu pertama setelah pembedahan
dan menunjukkan bahwa kontraksi preterm dapat diakibatkan oleh baik itu apendisitis sendiri
dan komplikasi pembedahan.

Untuk janin, apendisitis dihubungkan dengan resiko kehilangan janin 1,5% hingga 9%,
namun resiko meningkat hingga 35% setelah perforasi. Mortalitas maternal telah dilaporkan;
namun, angka kejadiannya jauh lebih rendah berentang dari 0 hingga 2%.

16
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Apendisitis akut merupakan penyebab umum abdomen akut pada pasien hamil. Akibat
dari bahaya potensial terhadap janin dan ibu, apendisitis harus dieksklusi pada wanita hamil
yang muncul dengan episode nyeri abdomen. Diagnosis apendisitis pada kehamilan terutama
dilakukan secara klinis.

Dengan demikian, dibutuhkan kecurigaan, kemampuan dan kemampuan yang tinggi.


Beberapa investigasi dapat membantu diagnosis. Diagnosis dan penatalaksanaan dini
seharusnya dibuat untuk menghindari komplikasi. Pembedahan masih merupakan pengobatan
utama pada apendisitis akut apapun pilihan teknik pembedahannya.

Apendisitis merupakan keadaan akut abdomen yang paling sering. Paling sering pada
decade kedua dan ketiga, sejajar dengan jumlah jaringan limfoid pada apendiks.

Gejala dan tanda klinis apendisitis adalah rasa mual, muntah, anoreksia, perut kembung,
dan nyeri di perutyang sering.

Kejadian appendicitis akut dalam kehamilan dan di luar kehamilan tidaklah berbeda.
Kejadian satu diantara 1000 sampai 2000 wanita hamil. Akan tetapi kejadian perforasi, lebih
sering pada kehamilan.

Pada daerah perut kanan bawah apabila ditekan akan terasa nyeri. Dan bila tekanan
dilepas juga akan terasa nyeri. Nyeri tekan perut kanan bawah merupakan kunci diagnosis dari
apendisitis.

Terapi selalu operatif Karen lumen yang terobstruksi tidak akan sembuh dengan
antibiotic saja. Apendisitis tanpa rupture diterapi dengan apendiktomi segera setalah evaluasi
media selesai.

Saran

Apabila seorang wanita sebelum hamil atau sesudah hamil menderita penyakit
apendisitis makan tindakan operatif dapat di pertimbangkan untuk menghindari komplikasi,

17
Antenatal care diperlukan oleh ibu hamil untuk memantau perkembangan janin guna
menghindari hal hal yang tidak diijinkan.

Merubah gaya hidup dengan lebih banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung
serat sehingga terhindar dari konstipasi sehingga mengurangi tekanan intruluminal sehingga
mencegah sumbatan apendiks.Selain itu makanana bergizi juga di perlukan untuk
perkembangan janin.

Sebaiknya menghindari makanan yang non hidrohenik seperti cabai. Bila sering makan
satu cabai, maka zat ini akan awet dalam tubuh sampai meninggal dunia, tidak keluar; kenyang
terus; sehingga tidak ada gantian zat. Tetapi bila cabai dibuat sambal dengan seluruh jenis cabai
merah, cabai hijau, cabai kuning; cabai hitam dan lain-lain, maka tidak berpengaruh terhadap
kesehatan tubuh.

Pasca operasi hindari makan makanan yang dapat menyebabkan alergi, konsumsi
makanan anti-oksidan (tomat, dll.) Hindari konsumsi makanan yang menstimulasi (kopi,
alkohol, rokok), dan minum air 6-8 gelas/hari

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham, F. Gary dkk. Obtetri Wiliams edisi 21 vol 1. Jakarta: EGC 2005. Hal 614
2. Cunningham, F. Gary dkk. Obtetri Wiliams edisi 21 vol 2. Jakarta: EGC 2005. Hal 1431
1433
3. Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan Edisi Keempat. PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta: 2010. Hal 823 - 824
4. Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kandungan Edisi Kedua. PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta: 2009. Hal 663 - 684
5. Sjamsuhidayat, R. dan Wim de jong. Buku ajar ilmu bedah edisi kedua. Jakarta Penerbit
Buku Kedokteran, EGC 2004. Hal 639 645
a. Schwartz shires, spencer. Intisari prinsip prinsip Ilmu Bedah, Jakarta;
Penerbit Buku Kedokteran, EGC 2004. Hal 437 432
6. Kumar, Vinay, Ramzi S. Cotran dan Stanley L. Robbins. Buku Ajar Patologi Robin
Edisi 7 vol 2. Jakarta: EGC 2007. Hal 660 - 661

19