Anda di halaman 1dari 86
STANDAR KOMPETENSI DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM INDONESIA Kolegium Ilmu Penyakit Dalam Perhimpunan Dokter Spesialis

STANDAR KOMPETENSI DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM INDONESIA

Kolegium Ilmu Penyakit Dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia

2014

KATA PENGANTAR

Kolegium Ilmu Penyakit Dalam merupakan organisasi yang bertanggung jawab dalam menjamin mutu pendidikan dokter spesialis dan subspesialis penyakit dalam di Indonesia. Tantangan strategis yang harus dihadapi oleh KIPD adalah mewujudkan kualitas lulusan dokter spesialis dan subspesialis penyakit dalam yang bertaraf internasional dan sesuai kebutuhan masyarakat. Agar dapat mewujudkan hal tersebut maka dibuatlah Standar Kompetensi Dokter Spesialis Penyakit Dalam (SKSPD) Indonesia. SKSPD ini merupakan standar minimal kompetensi lulusan yang digunakan sebagai acuan nasional oleh tiap Program Studi (Prodi) Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Penyakit di Indonesia untuk mengembangkan kurikulum dan buku rancangan pengajaran (BRP).

Standar kompetensi ini merupakan revisi pertama dari standar kompetensi yang diterbitkan tahun 2008. Upaya revisi ini dimulai tahun 2013 dalam beberapa pertemuan yang melibatkan tim penyusun dari kolegium, narasumber dari seluruh organisasi seminat di bawah lingkup Ilmu Penyakit Dalam, dan para ketua Program Studi Ilmu Penyakit Dalam dari 14 Fakultas Kedokteran di Indonesia. Sebagai suatu standar yang harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta sistem kesehatan yang berlaku, maka SKSPD ini akan mengalami revisi secara berkala. Berkenaan dengan hal tersebut kami mohon saran dan masukkan untuk perbaikan dan penyempurnaan standar ini.

Atas nama tim penyusun, kami mohon maaf bila selama proses penyusunan standar kompetensi ini terdapat hal-hal yang kurang berkenan. Semoga kerjasama selama ini, terus terjalin dan memberikan kemudahan dan manfaat bagi kita semua dalam mewujudkan pendidikan dokter sepsialis penyakit dalam yang berkualitas di masa mendatang.

Akhir kata, semoga Standar Kompetensi Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia ini mampu melengkapi kebutuhan Program Studi Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Penyakit Dalam untuk membentuk dokter spesialis penyakit dalam yang bertaraf internasional dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Tim Penyusun

TIM PENYUSUN

dr. Aulia Rizka, SpPD dr. Arif Mansjoer, SpPD, KIC dr. Rachmat Hamonangan, SpPD Prof. Dr. dr. Siti Setiati, SpPD, K-Ger, MEpid dr. Irsan Hasan, SpPD, K-GEH dr. Erni Juwita Nelwan, SpPD, K-PTI dr. Aida Lydia, PhD, SpPD, K-GH Dr. dr. Ria Bandiara, SpPD, K-GH

NARASUMBER

dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI dr. Alvina Widhani, SpPD dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD Prof.Dr.dr. Achmad Rudijanto, SpPD, K-EMD Prof.dr. Marcellus Simadibrata, PhD, SpPD, K-GEH dr. Irsan Hasan, SpPD, K-GEH dr. Ali Djumhana, SpPD, K-GEH dr. Purwita W. Laksmi, SpPD, K-Ger dr. Suka Aryana, SpPD, K-Ger dr. Maruhum Bonar Marbun, SpPD, K-GH Dr.dr. Zulkhair Ali, SpPD, K-GH dr. Sally A. Nasution, SpPD, K-KV Prof.dr. Ali Ghanie, SpPD, K-KV dr. Cosphiadi Irawan, SpPD, K-HOM dr. Mudjaddid, SpPD, K-Psi dr. Agus Siswanto, SpPD, K-Psi Prof.Dr.dr. Harry Isbagio, SpPD, K-R dr. Sumariyono, SpPD, K-R dr. Rudi Hidayat, SpPD, K-R dr. Khie Chen, SpPD, K-PTI dr. Erni Juwita Nelwan, SpPD, K-PTI dr. Ceva Wicaksono, SpPD, K-P, KIC Dr.dr. Zulkifli Amin, SpPD, K-P

KONTRIBUTOR

Ketua Program Studi Spesialis Penyakit Dalam FK UNAIR Ketua Program Studi Spesialis Penyakit Dalam FK UNAND Ketua Program Studi Spesialis Penyakit Dalam FK UNIBRAW Ketua Program Studi Spesialis Penyakit Dalam FK UNDIP Ketua Program Studi Spesialis Penyakit Dalam FK UGM Ketua Program Studi Spesialis Penyakit Dalam FK UNHAS Ketua Program Studi Spesialis Penyakit Dalam FK UI Ketua Program Studi Spesialis Penyakit Dalam FK UNPAD Ketua Program Studi Spesialis Penyakit Dalam FK UNSRAT Ketua Program Studi Spesialis Penyakit Dalam FK UNSRI Ketua Program Studi Spesialis Penyakit Dalam FK USU Ketua Program Studi Spesialis Penyakit Dalam FK UNUD Ketua Program Studi Spesialis Penyakit Dalam FK UNS Ketua Program Studi Spesialis Penyakit Dalam FK UNSYIAH

SAMBUTAN KETUA UMUM KOLEGIUM ILMU PENYAKIT DALAM

DAFTAR ISI

 

Halaman

PENGANTAR

2

TIM PENYUSUN

 

3

KONTRIBUTOR

4

SAMBUTAN KETUA UMUM KIPD

 

5

SK PENGESAHAN

6

DAFTAR ISI

8

DAFTAR TABEL

10

DAFTAR SKEMA

12

DAFTAR SINGKATAN

13

BAB I

: PENDAHULUAN

13

BAB II

: PROSES PENYUSUNAN STANDAR KOMPETENSI

15

BAB III

: AREA DAN KOMPONEN KOMPETENSI

3.1

Area Kompetensi

21

3.2

Komponen Kompetensi dan Learning Outcome

22

BAB IV

: KOMPETENSI SPESIALIS PENYAKIT DALAM

4.1 Kompetensi Umum

48

4.2 Kompetensi Bidang

 

4.2.1 Bidang Alergi dan Imunologi

51

4.2.2 Bidang Penyakit Endokrin, Diabetes dan Metabolisme

51

4.2.3 Bidang Hati dan Saluran Pencernaan

51

4.2.4 Bidang Ginjal dan Hipertensi

51

4.2.5 Bidang Hematologi dan Onkologi

51

4.2.6 Bidang Kardiovaskular

51

4.2.7

Bidang Tropik dan Infeksi

51

4.2.9 Bidang Penyakit Paru

51

4.2.10

BidangReumatologi

51

4.2.11

Bidang Geriatri

51

4.3

Kompetensi Populasi Khusus

93

4.3.1Bidang Kesehatan Remaja

51

4.3.2Bidang Kesehatan Perempuan

51

4.4

Kompetensi Keadaan Khusus

96

BABV

:TAHAP PENCAPAIAN KOMPETENSI

5.1

Kompetensi Penyakit

47

5.1.1

Pendidikan Tahap I (Dasar)

47

5.1.1.1

Diagnosis dan Tatalaksana Kasus Sederhana

47

5.1.2

Pendidikan Tahap II (Madya)

47

5.1.2.1

Diagnosis dan Tatalaksana Kasus Multi

47

5.1.3

Pendidikan Tahap III(Lanjut)

47

5.1.3.1

Diagnosis dan Tatalaksana Kasus Multi dan Konsultasi

47

5.2

Kompetensi Prosedur

47

5.2.1

Pendidikan Tahap I (Dasar)

47

5.2.1.1

Diagnosis dan Tatalaksana Kasus Sederhana

47

5.2.2

Pendidikan Tahap II (Madya) dan Tahap III

47

5.2.2.1

Diagnosis dan Tatalaksana Kasus Multi dan Konsultasi

47

BABVI

: PENUTUP

102

DAFTAR PUSTAKA

103

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1 Definisi Level Kompetensi

16

Tabel 2 Daftar Keterampilan Diagnostik Fisik

27

Tabel 3 AreaKompetensi Umum

48

Tabel 4 Standar Kompetensi bidang Alergi & Imunologi Klinik

51

Tabel 5 Standar Kompetensi bidang Penyakit Endokrin, Diabetes dan Metabolisme

52

Tabel 6 Standar Kompetensi bidang Hati dan Saluran Pencernaan

61

Tabel 7 Standar Kompetensi bidang Ginjal dan Hipertensi

66

Tabel 8 Standar Kompetensi bidang Hematologi dan Onkologi Medik

69

Tabel 9 Standar Kompetensi bidang Kardiovaskular

73

Tabel

Standar Kompetensi bidang Tropik dan Infeksi

77

Tabel Standar Kompetensibidang Psikosomatik

82

Tabel Standar Kompetensibidang Paru

83

Tabel Standar Kompetensi bidang Reumatologi

87

Tabel Standar Kompetensibidang Geriatri

91

Tabel Daftar Kompetensi populasi khusus : Remaja

94

Tabel Daftar Kompetensi populasi khusus:Kesehatan Wanita

95

Tabel Daftar Modul untuk Mencapai Kompetensi Kompetensi Klinik Konsultasi Medis

97

Tabel Daftar Modul untuk Mencapai Kompetensi Kompetensi Klinik Penatalaksanaan Keadaan Krisis

100

Tabel Daftar Modul untuk Mencapai Kompetensi Kompetensi Klinik Kedaruratan Medis

102

DAFTAR SKEMA

Halaman

Skema 1.

Penyusunan Standar Kompetensi

15

DAFTAR SINGKATAN

Program PPDS-PD

:

Program

Pendidikan

Profesi

Dokter

 

Spesialis Penyakit Dalam

Program PPDS-PDSubsp

:

Program

Pendidikan

Profesi

Dokter

 

Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis

IP Program PPDS-PD

:

Institusi

Penyelenggara

Program

 

Pendidikan Profesi

 

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

 

IP Program PPDS-PDSubsp

:

Institusi

Penyelenggara

Program

 

Pendidikan Profesi

 

Dokter

Spesialis

Penyakit

Dalam

Subspesialis

 

Prodi PPDS-PD

:

Program Studi Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Prodi PPDS-PDSubSp

:

Program Studi Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Penyakit Dalam SubSpesialis

KIPD

:

Kolegium Ilmu Penyakit Dalam

 

KPS

:

Ketua Program Studi

 

KKI

:

Konsil Kedokteran Indonesia

 

MKKI

:

Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia

MOU

:

Memorandum of Understanding

 

KSO

:

Kerja Sama Operasional

 

POKJA

:

Kelompok Kerja

SP Program PPDS-PD

:

Standar Pendidikan Program Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Penyakit Dalam

SP Program PPDS-PDSubsp

:

Standar

Pendidikan

Program

Pendidikan

 

Profesi

Dokter

Spesialis

Penyakit

Dalam

Subspesialis

SK-DSPD

:

Standar

Kompetensi

Dokter

Spesialis

 

Penyakit Dalam

 

SK DSPDSubsp

:

Standar

Kompetensi

Dokter

Spesialis

SpPD

:

Penyakit Dalam Subspesialis Spesialis Penyakit Dalam

WFME

:

World Federation for Medical Education

EHP

:

Evaluasi Hasil Pendidikan

EPP

:

Evaluasi Program Pendidikan

BRP

:

Buku Rancangan Pengajaran

BAB I PENDAHULUAN

Kompetensi adalah kelompok perilaku kompleks yang terbentuk berdasarkan komponen pengetahuan, keterampilan dan sikap. Ketiganya merupakan kebisaan (ability) seseorang dalam melaksanakan tugas. Karakteristik suatu kompetensi yaitu :

1. Mengintegrasikan tujuan kognitif, psikomotor dan afektif

2. Menggambarkan berbagai disiplin sesuai dengan praktik

3. Mempunyai kaitan yang erat dan relevan dengan tugas aktual

4. Menekankan kinerja lulusan agar sesuai nilai dan praktik profesional

5. Menentukan tingkat kebisaan yang dapat diobservasi

Dalam melaksanakan proses pendidikan, dibutuhkan peranan dari Kolegium, Program Studi dan Rumah Sakit Pendidikan. Kolegium Ilmu Penyakit Dalam sebagai badan otonom bertanggung jawab pada kualitas pendidikan dokter Spesialis Penyakit Dalam di Indonesia bertugas menyusun suatu daftar kompetensi minimal. Daftar kompetensi minimal yang harus dicapai selama pendidikan ini disebut Standar Kompetensi Nasional SpPD. Program Studi bertugas menyusun kurikulum yang mengacu pada Standar Kompetensi Nasional yang sudah dibuat oleh Kolegium, sedangkan Rumah Sakit Pendidikan sebagai institusi yang menyediakan lahan pendidikan.

Sebagai salah satu upaya penjaminan mutu pendidikan, kurikulum pendidikan secara makro harus selalu dievaluasi berkala, agar dapat dinilai kesesuaiannya dengan kebutuhan dan kondisi saat ini. Standar Kompetensi SpPD tahun 2014 ini disusun sebagai revisi Standar Kompetensi SpPD sebelumnya yaitu SK-SpPD tahun 2008. Selain menyesuaikan dengan analisis kebutuhan terbaru, standar ini juga menggunakan Standar

Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) yang telah disahkan KKI (Konsil Kedokteran Indonesia) tahun 2012 sebagai pertimbangan.

Dengan upaya menyelaraskan kompetensi dokter sesuai SKDI, kompetensi Dokter Spesialis dan kompetensi Dokter Subspesialis Penyakit Dalam diharapkan sistem rujukan berjenjang sebagai bagian penting dari jaminan Kesehatan Nasional yang mulai berlaku tahun 2014 dapat terlaksana dengan baik. Sistem Level of Achievement (LoA) yang digunakan pada standar kompetensi ini juga mengacu pada LoA pencapaian kompetensi pada SKDI, agar kesinambungannya dapat dipahami dengan mudah.

Beberapa perubahan yang dilakukan pada standar kompetensi tahun 2014 ini adalah sebagai berikut :

1. Definisi level kompetensi yang digunakan mengacu pada SKDI tahun

2012.

Level of Achievement (LoA) yang digunakan adalah tingkat 1 sampai 4 untuk kompetensi penyakit dan tindakan prosedur. Pada beberapa kompetensi, dimungkinkan pula pencapaian kompetensi 4B (mampu melakukan tatalaksana penyakit atau melakukan secara mandiri suatu prosedur setelah melalui pelatihan yang disertifikasi oleh KIPD).

2. Sistematika standar kompetensi.

Secara umum standar kompetensi ini dibagi menjadi 3 (tiga) bagian besar yaitu kompetensi umum, bidang, dan keadaan khusus.

3. Pada bagian akhir dari standar kompetensi ini, dipaparkan pula mengenai strategi pencapaian kompetensi yang dapat dilakukan oleh institusi pendidikan. Panduan proses pencapaian kompetensi ini diharapkan dapat mempermudah institusi pendidikan dan program studi dalam mengimplementasikan standar kompetensi ini.

Standar kompetensi ini adalah acuan bagi program studi dalam pembuatan kurikulum institusi dan diturunkan lagi dalam Buku Rancangan Pengajaran (BRP) untuk setiap modul pembelajaran. Konsekuensi dari penyusunan standar kompetensi adalah program studi harus menjamin proses pembelajaran yang terjadi, mengakomodasi pencapaian kompetensi

penyakit dan prosedur untuk level 3 dan 4 beserta evaluasinya. Secara nasional, standar kompetensi ini juga akan diturunkan menjadi cetak biru (blueprint) atau Kisi-kisi Ujian Kompetensi Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (UK-DSPDI).

Pada gambar berikut ini, dapat dilihat proses lanjutan implementasi standar kompetensi di IP dan Prodi.

Gambar 1. Proses Implementasi Standar Kompetensi

Standar Kompetensi

KIPD

Standar Kompetensi KIPD Kurikulum Institusi Buku Rancangan Pengajaran (BRP) Program Studi

Kurikulum

Institusi

Standar Kompetensi KIPD Kurikulum Institusi Buku Rancangan Pengajaran (BRP) Program Studi

Buku Rancangan

Pengajaran (BRP)

Program Studi

BAB II

PROSES PENYUSUNAN STANDAR KOMPETENSI

Program PPDS-PD merupakan suatu sistem pendidikan yang terdiri dari input, proses dan output. Komponen dalam input meliputi peserta didik, staf akademik, fasilitas dan sumber daya, sarana dan prasarana pendidikan. Proses pendidikan adalah interaksi dari semua komponen pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan outputnya adalah Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) yang akan melaksanakan tugas profesinya dalam berbagai peran, baik sebagai seorang profesional, manajer, komunikator, dan pendidik maupun pakar dalam Bidang IPD.

Berdasarkan peran Sp.PD di masyarakat, dapat dianalisis tugas yang akan diemban dalam menjalankan profesinya. Dengan mengacu pada peran dan tugas tersebut, Kolegium Ilmu Penyakit Dalam menetapkan kompetensi yang harus dikuasai selama mengikuti program pendidikan. Program PPDS- PD harus dapat mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan sebagai bekal untuk menjalankan perandan tugas bagi lulusannya.

Kompetensi yang harus dikuasai Peserta PPDS-PD diuraikan dalam area kompetensi yang mencakup semua kompetensi yang diperlukan oleh Sp.PD untuk menjalankan tugas profesinya di masyarakat. Area kompetensi bersifat umum dan perlu dijabarkan lebih rinci menjadi komponen kompetensi yang akan dijabarkan lebih lanjut menjadi tujuan pembelajaran (learning outcome/objectives).

Gambar 2 menggambarkan cara mengembangkan kompetensi berdasarkan peran dan tugas yang diperkirakan akan dilaksanakan peserta didik setelah menyelesaikan program pendidikan dokter spesialis.

ROLE JOB SITE FUNCTION PERFORMANCE COMPETENCY JOB UNIT DISCRIPTION COMPETENCIES COMPETENCIES PERFORMANCE
ROLE
JOB SITE
FUNCTION
PERFORMANCE
COMPETENCY
JOB
UNIT
DISCRIPTION
COMPETENCIES
COMPETENCIES
PERFORMANCE
INDICATORS
STANDARD
APPEARENCE
Knowledge
Skill
Attitude

Gambar 2. Penyusunan Standar Kompetensi

Daftar kompetensi disusun bersumber dari lampiran Daftar Penyakit SKDI 2012, Standar Kompetensi Sp I 2008 dan Standar Kompetensi Sp II 2008 yang kemudian direvisi berdasarkan hasil survei dan masukan dari para pemangku kepentingan. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dan divalidasi dengan metode focus group discussion (FGD) dan nominal group technique (NGT) bersama para dokter dan pakar yang mewakili pemangku kepentingan.

BAB III AREA DAN KOMPONEN KOMPETENSI

Program Pendidikan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Program PPDS-PD) bertujuan menghasilkan Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) yang mempunyai kompetensi yang dapat mendukung peran, tugas dan tanggung jawabnya setelah mereka lulus.

Agar seorang Sp.PD dapat melaksanakan semua peran dan tugas seperti apa yang diuraikan di atas, maka perlu ditetapkan area kompetensi. Berbagai referensi dapat digunakan untuk menetapkan area kompetensi dan PPDS- PD mengacu pada formulasi kompetensi umum seperti yang diajukan Accreditation Council of Graduate Medical Education (ACGME), 2007 dan ditambah dengan area kompetensi keterampilan melakukan penelitian.

Dengan demikian, terdapat 7 (tujuh) area kompetensi yang merupakan standar minimal kompetensi Sp.PD, yang meliputi :

1. Pengetahuan medik(medical knowledges).

2. Pelayanan pasien (patient care).

3. Keterampilan interpersonal dan komunikasi (interpersonal and communication skills)

4. Pembelajaran berbasis praktik dan perbaikan (practice-based learning and improvement)

5. Praktik berbasis sistem(system-basedpractice)

6. Profesionalisme (professionalism)

7. Keterampilan melakukan penelitian (clinical research skill)

Pengertian masing-masing area kompetensi akan diuraikan dan setiap area kompetensi akan dijabarkan menjadi beberapa komponen kompetensi dan learning outcome, yang harus dicapai oleh Peserta PPDS-PD.

1. Pengetahuan Medik

Kompetensi untuk mengintegrasikan ilmu biomedik, epidemiologi klinik, nutrisi, farmakologi klinik, ilmu sosial dan perilaku yang sudah established dan sedang berkembang, serta aplikasinya dalam pelayanan pasien.

1.1. Komponen kompetensi

dan pendekatan

a.

menunjukkan

penalaran analitik pada situasi klinik.

kemampuan

investigasi

b. mengetahui dan mempraktekkan ilmu pengetahuan dasar dan penunjang klinik (biomedik, epidemiologi klinik, nutrisi, farmakologi klinik, ilmu sosial dan perilaku) sesuai dengan cabang IPD.

1.2. Learning outcome

Learning outcome yang berkaitan dengan pengetahuan biomedik meliputi kemampuan :

a. Memahami struktur sel dan fungsi struktur sel

- Dinding sel

- Sitoplasma

- Inti

- Mitokondria

- Organele

b. Memahami komunikasi antar sel (cell communication) dan perannya dalam proses timbulnya dan penyembuhan penyakit

c. Memahami proses yang terjadi dalam sel dan kaitannya dengan proses timbulnya dan penyembuhan penyakit.

d. Memahami

genetika pada proses penyakit dan

peran

perannya dalam terapi misalnya :

- Prinsip-prinsip genetika manusia

- Kelainan kromosom

- Penyakit akibat kelainan mitokondria

- Skrining, konseling dan pencegahan kelainan genetik

- Terapi gene

e. Memahami peran proses imun terhadap timbulnya berbagai

penyakit dan pemanfaatannya dalam pencegahan dan terapi yang meliputi :

- dasar-dasar imunologi

- kelainan sistem imunologi

- kelainan yang timbul sebagai akibat proses imun

Learning outcome yang berkaitan dengan epidemiologi klinik meliputi kemampuan :

a. Memahami pengaruh bias dan probabilitas terhadap akurasi

pengamatan pada seorang pasien.

b. Menetapkan validitas suatu artikel asli hasil penelitian yang berkaitan dengan diagnosis, prognosis, terapi dan pencegahan

c. Mengetahui kekuatan dan kelemahan dari suatu penelitian kohort (retro dan prospektif), uji klinik secara random, penelitian kasus-kontrol dan metaanalisis.

d. Memahami arti, keterbatasan dan penerapan dari suatu model statistic yang dipergunakan dalam suatu penelitian. Memahami arti harga‘’p’’, confidence interval, risiko relatif, atributerisk, dan number needed to treat.

Learning outcome yang berkaitan dengan nutrisi klinik meliputi kemampuan :

a. Mengidentifikasi kemungkinan timbulnya malnutrisi berdasarkan anamnesis yang dilakukan, seperti pada pasien dengan sosial ekonomi rendah, asupan makanan yang kurang, penggunaan alkohol, penyakit kronis, pada proses keganasan dan penyakit saluran cerna.

b. Menguasai cara skrining melalui pemeriksaan fisik dan pemeriksaan khusus pada pasien yang diduga memiliki faktor risiko malnutrisi akibat gangguan makan.

c. Melakukan kajian ulang terhadap program diit yang diberlakukan pada keadaan obesitas, pasien dengan hipertensi, dislipidemia, DM, osteoporosis, gagal jantung kongestif dan gagal ginjal.

d. Menguasai pengetahuan tentang indikasi dan

nutrisi enteral dan

kontraindikasi, komposisi diit dari parenteral.

Learning outcome yang berkaitan dengan farmakologi klinik meliputi kemampuan :

a. Memahami dasar farmakokinetik obat, menerapkan pengetahuan monitoring dan penetapan serta penyesuaian dosis obat.

b. Menuliskan pendekatan farmakoterapi meliputi tujuan pengobatan, pemilihan obat dan penetapan dosis, parameter monitoring dan pengukuran hasil terapi.

c. Melakukan evaluasi efek terapi pada pasien melalui pengukuran kadar obat, efek farmakologik dan timbulnya reaksi yang tak diinginkan serta menentukan variabilitas masing-masing pasien terhadap metabolism obat.

d. Menyesuaikan

obat untuk menghindari risiko

dosis

pengobatan.

e. Mengetahui prinsip dasar reaksi obat yang tak diinginkan, alergi obat dan interaksi obat serta mengenal karakteristik tanda dan gejala yang mungkin terjadi.

f. Mengetahui prinsip farmakologis dan infromasi yang diberikan pusat kendali toksikologi dan over dosis obat.

g. Mengetahui kebijakan nasional dan Pemerintah setempat terkait penggunaan obat, termasuk diantaranya:

- regulasi Nasional

- etika dalam penulisan resep

- review obat baru yang dipasarkan

- terapi eksperimental

- daftar obat baru yang disetujui badan POMR

2. Pelayanan Pasien

Kompetensi untuk memberi pelayanan pasien yang memuaskan, tepat dan efektif untuk mengatasi masalah kesehatan dan promosi kesehatan di bidang IPD.

2.1 Komponen kompetensi

a. Berkomunikasi efektif, menunjukkan rasa hormat dan melayani ketika berinteraksi dengan pasien dan keluarganya.

b. Membuat diagnosis dan tatalaksana berdasar informasi dan pilihan pasien, bukti ilmiah terkini, dan pendapat klinik.

c. Mengembangkan dan melaksanakan rencana pengelolaan pasien.

d. Memberi nasehat dan mendidik pasien dan keluarganya.

e. Menggunakan teknologi informasi untuk menopang keputusan pelayanan dan pendidikan pasien.

f. Melakukan prosedur medik dan invasif yang penting untuk praktik dengan terampil.

g. Memenuhi pelayanan kesehatan dengan tujuan mencegah dan menyelesaika nmasalah kesehatan bekerja sama dengan profesi lain bidang pelayanan kesehatan, untuk memenuhi pelayanan pasien terfokus.

2.2 Learning outcome

a. Kemampuan berkomunikasi efektif dan menunjukkan rasa hormat danmelayani ketika berinteraksi dengan pasien dan keluarganya, untukperannya sebagai spesialis penyakit dalam.

b. Kemampuan memberikan nasehat dan mendidik pasien dankeluarganya untuk perannya sebagai spesialis penyakit dalam.

c. Kemampuan menggunakan teknologi informasi terkini untuk menopangkeputusan pelayanan dan pendidikan pasien untuk perannya sebagaispesialis penyakit dalam.

d. Kemampuan membuat keputusan diagnostik dan intervensi terapiberdasar informasi dan pilihan pasien, bukti ilmiah up-to date, dan pendapat klinik secara komprehensif, holistik dan paripurna untuk perannya sebagai spesialis penyakit dalam.

e. Kemampuan mengembangkan dan melaksanakan rencana pengelolaan pasien secara komprehensif, holistik dan paripurna untuk perannyas ebagai spesialis penyakit dalam.

f. Kemampuan mengembangkan dan melaksanakan rencana pengelolaan kasus sulit, berkomplikasi dan kasus jarang untuk perannya sebagai spesialis penyakit dalam.

g. Kemampuan menunjukkan ketrampilan prosedur medik dan invasive lanjut dalam praktik sebagai spesialis penyakit dalam.

h. Kemampuan memberikan expertise dan menjawab konsultasi untukperannya sebagai spesialis penyakit dalam.

i. Kemampuan bekerja sama dengan profesi pelayanan kesehatantermasuk diluar bidang IPD untuk perawatan bersama kasus sulit dankomplikasi untuk perannya sebagai spesialis penyakit dalam.

3.

Keterampilan Komunikasi dan Interpersonal

Kompetensi dalam melakukan komunikasi dan hubungan antar manusia yang menghasilkan komunikasi dan kerjasama tim yang efektif dalam tatalaksana pasien, dengan menyertakan pasien, keluarga,dan dokter keahlian lain dalam tim tersebut, serta membangun komunikasi yang baik antar sesame profesi.

3.1 Komponen kompetensi

a. Menciptakan dan mempertahankan hubungan terapeutik dokter pasien secara beretika.

b. Menggunakan keterampilan mendengarkan secara efektif, memberikan dan melengkapi informasi non-verbal yang efektif, bersifat menjelaskan, mempertanyakan dan keterampilan menulis.

c. Bekerja secara efektif dengan orang lain, baik sebagai anggota atau pimpinan tim pelayanan kesehatan atau kelompok professional lain.

3.2 Learning outcome

Learning outcome yang berkaitan dengan wawancara medis meliputi kemampuan :

a. Memahami bahwa wawancara medis memiliki beberapa tahap meliputi pembukaan, menggali karakteristik gejala dan latar belakangnya, menggali pola kehidupan beserta lingkungan keluarga, menyusun ringkasan dan penutup.

b. Memahami beberapa fungsi wawancara, data dan pengarahan data terhadap penegakan diagnosis.

c. Melakukan wawancara sesuai dengan karakteristik pasien dan penyakit yang diderita.

d. Menggali riwayat penyakit dalam konteks lingkungan keluarga, pekerjaan dan social yang terkait dengan munculnya gejala danpenyakit.

e. Menggunakan kuesioner standar.

f. Mengidentifikasi perilaku verbal dan non verbal pasien yang sering merupakan jalan untuk memperoleh gambaran penyakit.

g. Mengembangkan komunikasi verbal dan non verbal dalam memfasilitasi komunikasi, menangkap gambaran emosional wawancara dan memberikan kenyamanan pasien.

h. Mengetahui hambatan komunikasi termasuk yang muncul akibat perbedaan budaya atau gangguan mental dan fisik.

i. Melakukan wawancara untuk mengidentifikasi gangguan kognitif, ansietas, penyangkalan dan pembelaan diri.

j. Menggali riwayat dari hal-hal yang sensitif,seperti alkoholisme, ketergantungan obat, dan fungsi seksual.

k. Melibatkan pasien sebagai partner dalam rencana terapi.

Learning outcome yang berkaitan dengan pemeriksaan fisik meliputi kemampuan :

a. Menerapkan konsep karakteristik operasional (spesifitas, sensitifitas, rasio kemungkinan) terhada pinter pretasi hasil pemeriksaan fisik.

b. Memahami penjelasan patofisiologi hasil pemeriksaan fisik secara umum.

c. Mengetahui kapan harus mengabaikan pemeriksaan fisik karena bukti-bukti baru telah menunjukkan kurangnya validitas dan kapan harus mengambil penemuan baru yang terbukti bermanfaat secara klinik.

d. Memeriksa pasien secara efisien dan sistematis, memaksimalkan keakuratan dan kelengkapan, meyakinkan bahwa pasien nyaman.

e. Mempergunakan pemeriksaan fisik dalam kontek data klinis keseluruhan untuk mengevaluasi pasien secara efektif dan efesien.

f. Mengetahui pemeriksaan fisik penyaring yang sesuai untuk tiap usia, jenis kelamin pasien dan factor risiko tertentu.

g. Mempergunakan pemeriksaan fisik berulang, terfokus untuk mengikuti perjalanan penyakit pasien.

h. Mempergunakan pemeriksaan fisik untuk membuat keputusan dalam situasi yang tidak memungkinkan untuk tes diagnosis secara luas.

i.

Mempergunakan wawancara untuk mengidentifikasi gangguan kognitif, ansietas, penyangkalan, pembelaan diri, mampu menatalaksana selama wawancara.

4 Pembelajaran Berbasis Praktik dan Pengembangannya

Kompetensi untuk meneliti, menilai dan mengkritisi serta memperbaiki pengelolaan pasien dengan dasar bukti ilmiah (EBM).

4.1 Komponen kompetensi

a. Menganalisis pengalaman praktik dan menunjukkan perbaikan berbasis praktik dengan menggunakan metodologi ilmiah.

b. Menentukan, menilai dan mengasimilasi bukti dari penelitian ilmiah untuk penatalaksanaan masalah kesehatan pasien.

c. Mendapatkan dan menggunakan informasi yang berasal dari pasien dan populasi pasien yang lebih luas.

d. Menerapkan rancangan penelitian dengan metoda statistik secara benar untuk studi klinik dalam rangka efektifitas diagnostik dan terapeutik.

e. Menggunakan teknologi informasi untuk mengelola, mengakses informasi medik secara on-line untuk mendukung proses pendidikannya.

f. Memfasilitasi

mahasiswa dan profesi

pembelajaran

kesehatan lain.

4.2 Learning outcome

a. Kemampuan memahami tentang evidence based medicine.

b. Kemampuan memahami tentang harm dan penerapannya dalam klinik.

c. Kemampuan memahami dan menerapkan Clinical Guidelines.

d. Kemampuan melakukan meta-analysis.

e. Kemampuan

menilai

teknologi

kesehatan

(Health

TechnologyAssessment).

f. Kemampuan memahami tentang sensitivitas, spesifisitas dan keakuratan alat diagnosis.

g. Kemampuan mengerti tentang Cost-Benefit Analysis.

5 Praktik Berbasis Sistem

Kompetensi untuk bersikap peka dan tanggap terhadap epidemiologi penyakit dan masalah kesehatan, sistem kesehatan nasional maupun sistem pelayanan di pusat-pusat pelayanan kesehatan setempat.

5.1 Komponen kompetensi

a. Memahami bahwa pelayanan kesehatan dan praktik profesi memengaruhi pelayanan pelayanan kesehatan oleh profesi lain, organisasi dan masyarakat luas, dan sebaliknya, bagaimana elemen sistem tersebut memengaruhi praktiknya.

b. Mengetahui bahwa tipe praktik medik dan sistem pelayanan berbeda beda termasuk metoda control biaya pelayanan kesehatan dan alokasi sumber daya.

c. Melakukan praktik pelayanan kesehatan yang cost-effective dengan alokasi sumber daya yang terbatas tanpa mengurangi kualitas pelayanan.

d. Meningkatkan kualitas pelayanan pasien dan membantu pasien terhadap kompleksitas system.

e. Mengetahui bagaimana bekerjasama dengan pengelola dan pemberi pelayanan kesehatan untuk menilai, mengkoordinasi dan memerbaiki pelayanan kesehatan dan mengetahui aktivitas tersebut berpengaruh pada kinerja.

5.2 Learning outcome

Learning outcome yang berkaitan dengan metodologi riset meliputi kemampuan :

menyusun

a. Mengidentifikasi

masalah

penelitian

dan

pertanyaan penelitian.

b. Memahami secara benar filsafat ilmu dan etika penelitian.

c. Menguasai rancangan penelitian serta menyusun proporsal penelitian.

d. Mengetahui berbagai analisis statistik serta memahami pilihan metoda statistik terkait dengan rancangan penelitian yang dilakukan.

e. Menetapkan

penelitian.

kesimpulan

yang

tepat

terhadap

hasil

f. Berkomunikasi secara ilmiah.

Learning outcome yang berkaitan dengan proses klinis dan diagnosis meliputi kemampuan:

a. Mendemonstrasikan keterampilan membuat hipotesis awal pada wawancara dengan mengintegrasikan karakteristik demografik pasien, keluhan awal, penampakan pasien dan informasi lain menjadi pendapat diagnosis pendahuluan.

b. Mendapatkan data wawancara, pemeriksaan fisik dan tes diagnosis untuk menyokong atau menggagalkan hipotesis utama.

c. Mendeteksi penyakit-penyakit asimtomatik dan faktor- faktor risikonya, menerapkan panduan pencegahan penyakit berdasarkan bukti terhadap populasi pasien, preferensi, dan agenda personal.

d. Mendemonstrasikan strategi diagnosis yang berkaitan dengan data yang ambigus atau tidak lengkap dengan mengaplikasikan alasan probabilitas dan selalu waspada untuk tidak melakukan misdiagnosis.

e. Mempergunakan kepustakaan, pendapat ahli dan kolega-kolega untuk menyokong proses diagnosis.

f. Berfungsi sebagai manager kesehatan untuk mengorganisasi, merancang dan memonitor pelayanan kesehatan secara efektif, terutama jika pasien mempunyai penyakit kronik dengan komplikasi.

g. Memertahankan pencatatan medik secara akurat, mengkomunikasikan secara efektif dengan penyedia pelayanan kesehatan yang lain.

Learning outcome yang berkaitan dengan pencatatan POMR meliputi kemampuan :

a. Memahami peran POMR dalam penerapan SPSA pada pemecahan masalah kesehatan pasien.

b. Memahami pentingnya POMR untuk pemecahan masalah

kesehatan

aspek hukum.

pasien, pengembangan ilmu pengetahuan dan

c. Memahami makna dan arti struktur dan substansi POMR.

d. Melakukan pengisian POMR.

e. Memahami arti clue dan cue yang akan dimasukkan dalam POMR.

susunan

f. Menganalisis

dan

mensintesis

data

menjadi

masalah.

g. Menyusun langkah-langkah rencana diagnosis, terapi dan edukasi.

h. Menyusun langkah-langkah follow-up serta mampu menemukan data baru dan memasukkannya dalam data baru guna menyusun langkah lanjutan untuk diagnosis, maupun terapi.

Learning outcome yang berkaitan dengan psikoterapi meliputi keterampilan dan kemampuan :

a. Menciptakan hubungan terapeutik yang optimal antara dokter dengan pasien sehingga timbul rasa percaya dari pasien terhadap dokter (confidence and trust).

b. Memberi kesempatan pada pasien untuk mengutarakan konflik emosionalnya, mengeluarkan isi hatinya dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh sehingga pasien dapat merasa lebih puas, lega dan mengurangi ketegangannya (ventilasi).

c. Memberi keyakinan, pengertian tentang sebab-sebab penyakitnya dan memperbaiki, mengubah pendapat yang keliru atau kurang pada tempatnya (re-edukasi).

d. Meyakinkan kembali pasien untuk sanggup mengatasi masalah yang dihadapi (re-assurance) dan menanamkan kepercayaan bahwa gejalanya akan hilang (sugesti).

e. Melihat persoalan dan konflik emosional dari sudut pandang agama dengan memasukkan dan mengamalkan ajaran agama dalam penyelesaian konfliknya (spiritual approach).

f. Membantu memberi jalan keluar dengan saran-saran

dan pandangan-pandangan sesuai keadaan dan kemampuan pasien (bimbingan dan penyuluhan).

g. Meningkatkan kapasitas adaptasi (adaptive capacity) dan meningkatkan kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan.

h. Melakukan manipulasi lingkungan yang menjadi penyebab konfliknya.

i. Memulihkan fungsi pasien untuk berfikir secara rasional, memperbaiki konsentrasi dan daya ingat serta membedakan nilai-nilai moral dan etika mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dan tidak (memperbaiki kognisi).

j. Memulihkan perilaku yang mal adaptive akibat stresor psikososial yang dideritanya, sehingga pasien dapat beradaptasi dengan kondisi yang baru dan bisa berfungsi kembali secara wajar dalam kehidupan sehari- hari (memperbaiki perilaku / behaviour).

Learning outcome yang berkaitan dengan kedokteran pencegahan meliputi kemampuan :

a. Memahami cara penerapan strategi yang disusun dalam upaya meningkatkan perbaikan pelayanan kesehatan

b. Memahami program pencegahan penyakit yang dicanangkan pada Program Kesehatan Nasional

6

Profesionalisme

Kompetensi yang berkualitas, kepatuhan menjalankan tugas, integritas, kejujuran, menempatkan kepentingan pasien di atas kepentingan sendiri, kolegialitas, menghormati rasa kemanusiaan, berperilaku sesuai etika, keinginan untuk selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya.

6.1 Komponen kompetensi

a. Menunjukkan respek, rasa iba dan integritas; tanggap dan meletakkan kepentingan pasien dan masyarakat di atas kepentingan pribadi; ber tanggung jawab kepada pasien, masyarakat dan profesinya; dan berpegang

 

teguh

dalam

menjalankan

tugas

dan

pengembangan

profesionalnya.

 

b.

Menunjukkan

komitmen

terhadap

prinsip etika

berkenaan dengan tindakan yang mencegah atau menjauhkan pelayanan klinik, kerahasiaan pasien, informed consent, dan berbisnis praktik.

c.

Menunjukkan kepekaan

dan

tanggap

terhadap

budaya

pasien, usia, jenis kelamin dan kecacatan.

6.2 Learning outcome

Learning outcome yang berkaitan dengan humanisme meliputi kemampuan :

a. Menciptakan dan mempertahankan hubungan dokter-pasien untuk mencapai pemecahan masalah kesehatan yang terbaik demi kepentingan pasien dan kepuasan pribadi dokter.

b. Mengidentifikasi tipe hubungan dokter-pasien serta faktor yang dapat memperbaiki hubungan, melakukan pilihan yang tepat dengan segala keterbatasan.

c. Menunjukkan pengetahuan dan keterampilan memeroleh dan menginterpretasi data, serta menetapkan langkah lanjut penatalaksanaan pasien menjelang kematian dan mengupayakan perawatan yang menyenangkan termasuk mengelola rasa nyeri, kecemasan pasien dan kesedihan keluarga.

d. Mengenali dan mengelola secara tepat pasien sulit termasuk gangguan kepribadian dan pola perilaku yang menyimpang.

e. Memahami reaksi seseorang terhadap situasi sulit, memahami reaksi ini untuk menjelaskan suatu hipotesis dan mengetahui adanya hambatan potensial dalam berkomunikasi.

f. Memahami persepsi pasien tentang kesehatan dan penerapannya pada pasien dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda.

Learning outcome profesionalisme yang telah diidentifikasi meliputi :

a. terhadap

Komitmen

standar

mutu

dalam

praktik

kedokteran

dan

pengembangan

serta

penyebar

luasan

pengetahuan.

b. Komitmen untuk selalu berusaha mengetahui apa yang dibutuhkan pasien dan melindungi kepentingan pasien.

c. Komitmen untuk selalu tanggap terhadap kebutuhan masyarakat pada upaya pelayanan kesehatan.

Learning

outcome

yang berkaitan dengan profesionalisme

meliputi :

a. Kepekaan pribadi terhadap altruisme dengan secara konsisten mengutamakan kepentingan pasien.

b. Akuntabilitas terhadap pasien, masyarakat atau profesi dengan memenuhi kesepakatan baik tertulis maupun tidak.

c. Komitmen menjaga standar mutu pelayanan jangka panjang dengan terus menerus memperkaya pengetahuan dan membedakan pengetahuan yang didasarkan pada bukti berkualitas (evidence based) dengan pengetahuan tanpa bukti atau pengalaman pribadi.

d. Menjaga komitmen terhadap standar mutu pelayanan dengan kemungkinan menerima ketidaknyamanan dalam memenuhi keinginan pasien, memberikan saran dalam upaya pelayanan yang terbaik untuk tiap pasien, berperan aktif dalam organisasi profesi dan mengamalkan keterampilan dan pengetahuan untuk kesejahteraan pasien dan masyarakat.

e. Kejujuran d an i n t e gritas den g an menge n ali d a n me n ghind a ri konflik.

f. Kepentingan dalam hubungan dokter-pasien serta menolak untuk mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan pasien.

g.

yang

tinggi dan menghormati kolega, anggota tim kesehatan yang lain, pasien dan keluarganya.

Berperilaku

dengan benar, dengan

standar kinerja

meliputi

kemampuan :

a. Memberi informasi kepada pasien dan mendapatkan persetujuan secara sukarela dari pasien tentang rencana dasar pelayanan kesehatan dan tindakan diagnostik maupun terapi spesifik.

Learning

outcome

dalam

etika

kedokteran

b. Mengetahui apa yang harus dikerjakan ketika pasien menolak tindakan medis yang direkomendasikan baik pada situasi gawat darurat maupun bukan.

c. Mengetahui apa yang harus dikerjakan saat pasien meminta terapi yang membahayakan dan tidak efektif.

d. Menilai kapasitas pengambilan keputusan oleh pasien.

e. Memilih keputusan yang tepat bagi pasien, pada saat pasien tak mampu menetapkan keputusan sendiri.

f. Mengetahui prinsip penetapan keputusan pada saat pasien tidak mempunyai kemampuan menetapkan keputusan sendiri.

g. Mengetahui prinsip dasar penetapan keputusan bagi kepentingan pasien pada saat tidak ada keluarga pasien yang dapat membantu menetapkan keputusan.

h. Melakukan pendekatan pada pasien menjelang kematian dan mendiskusikan dengan pasien sejauh mana intervensi medis dapat dilakukan pada akhir kehidupan.

i. Memahami prinsip-prinsip etika yang mendasari hubungan dengan pasien.

j. Menyeimbangkan kepentingan pribadi.

k. Menyeimbangkan kepentingan social.

l. Mengetahui bagaimana berinteraksi pada keadaan adanya potensial konflik kepentingan.

m. Mengetahui kewajiban dokter ketika ia mengetahui bahwa praktisi medis lain terlibat dalam penyalahgunaan alkohol dan narkotika atau tidak kompeten secara professional.

dengan

dan

kewajiban

kewajiban

terhadap

terhadap

pasien

pasien

n. Mengetahui bagaimana mengenali dan memecahkan masalah etik yang muncul dalam riset klinis.

belajar seumur

hidup

Learning outcome

yang

berkaitan

dengan

meliputi kemampuan :

a. Menyusun program mandiri untuk menguasai kemajuan ilmu pengetahuan.

b. Berperan aktif pada proses pendidikan.

c. Menjaga secara konsisten sikap kritis.

d. Menganalisis dan menggunakan data yang ada secara tepat untuk proses diagnosis.

e. Melakukan

appraisal) terhadap

kajian

kritis

(critical

literatur medik.

f. Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan suatu artikel terkait dengan populasi pasien.

g. Melakukan

edukasi baik untuk pasien maupun

7

keluarganya.

Penelitian

Kompetensi untuk melakukan penelitian mandiri sesuai dengan bidang ilmu penyakit dalam.

7.1 Komponen kompetensi

a. Menerapkan rancangan penelitian dan metoda statistik untuk penelitian klinik dan penelitian lainnya.

b. Menggunakan teknologi informasi untuk mengelola, mengakses informasi medik secara on-line dan menopang pendidikannya.

7.2 Learning outcome

a. Kemampuan memahami secara benar filsafat ilmu dan etika penelitian.

b. Kemampuan

mengidentifikasi

masalah

penelitian

dan

menyusunpertanyaan penelitian.

 

c. Kemampuan

menguasai

rancangan

penelitian

serta

menyusunproporsal penelitian.

d.

Kemampuan mengetahui berbagai analisis statistik serta memahamipilihan metoda statistik terkait dengan rancangan penelitian yangdilakukan.

e. Kemampuan melaksanakan penelitian secara mandiri.

f. Kemampuan melakukan analisis hasil penelitian.

g. Kemampuan melakukan pembandingan hasil penelitian dengan hasil penelitian orang lain.

h. Kemampuan menetapkan kesimpulan yang tepat terhadap hasil penelitian.

i. Kemampuan berkomunikasi secara ilmiah.

j. Kemampuan menulis dan mempublikasikan hasil penelitian pada majalah kedokteran terakreditasi baik nasional maupun internasional.

k. Kemampuan memfasilitasi pembelajaran strata profesi kedokteran di bawahnya dan profesi kesehatan lain.

BAB IV KOMPETENSI SPESIALIS PENYAKIT DALAM

Kompetensi Spesialis Penyakit Dalam dibagi 2 (dua) yaitu kompetensi utama dan kompetensi tambahan. Kompetensi utama adalah kompetensi yang diajarkan selama menjalani pendidikan, sedangkan kompetensi tambahan adalah kompetensi yang didapatkan di luar masa pendidikannya dan melalui pelatihan yang tersertifikasi oleh KIPD.

Kompetensi utama dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu :

1. Kompetensi umum

2. Kompetensi bidang

3. Kompetensi keadaan khusus

Kompetensi bidang dibagi menjadi 2 (dua) yaitu

1. Kompetensi penyakit

2. Kompetensi keterampilan klinis

Kompetensi penyakit dan kompetensi keterampilan klinis terdiri dari 4 tingkat kompetensi yang disusun berdasarkan modifikasi piramida Miller (knows, knows how, shows, does). Pada gambar berikut ini disajikan tahapan pencapaian kompetensi sekaligus cara evaluasinya.

tahapan pencapaian kompetensi sekaligus cara evaluasinya . Gambar 3. Pembagian tingkat kemampuan menurut Piramida

Gambar 3. Pembagian tingkat kemampuan menurut Piramida Miller dan alternatif cara mengujinya pada peserta didik.

Tabel 1. Pembagian dan definisi tingkat kompetensi

Kompetensi Penyakit

Tingkat Kompetensi

 

Definisi

Tingkat Kemampuan 1 :

Mampu mengenali, menjelaskan, mengerti, memahami, menganalisis, merumuskan dan mengevaluasi penyakit dan tatalaksananya, gambaran klinik penyakit, dan mengetahui cara yang paling tepat untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai penyakit tersebut, selanjutnya menentukan rujukan yang paling tepat bagi pasien.

Mengenali dan

menjelaskan

Tingkat Kemampuan 2 :

Mampu membuat diagnosis klinik (diagnosis kerja) terhadap penyakit tersebut dan menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya.

Mendiagnosis dan merujuk

Dokter

spesialis

juga

mampu

menindaklanjuti

sesudah

kembali

dari

rujukan.

Tingkat Kemampuan 3 :

3A. Bukan gawat darurat

Mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan awal dan merujuk

Mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat

Mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya

 

Mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.

3B. Gawat darurat

Mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa atau mencegah keparahan dan/atau kecacatan pada pasien.

Mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya.

Mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan

Tingkat Kompetensi

Definisi

Tingkat Kemampuan 4A

 

:

Mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas

Mampu membuat diagnosis klinik dan melakukan penatalaksanaan penyakit tersebut secara mandiri dan tuntas, maupun rawat bersama.

Tingkat Kemampuan 4A* :

 

Mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas pada kasus yang lebih kompleks dari 4A

Mampu membuat diagnosis klinik dan melakukan penatalaksanaan penyakit tersebut secara mandiri dan tuntas, maupun rawat bersama.

Tingkat Kemampuan

 

4A**:

Mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas pada kasus yang lebih kompleks dari

Mampu membuat diagnosis klinik dan melakukan penatalaksanaan penyakit tersebut secara mandiri dan tuntas, maupun rawat bersama.

4A*

Tingkat Kemampuan 4B : (Mastery)

Kemahiran yang diperoleh setelah mendapatkan pelatihan yang tersertifikasi oleh kolegium

Kompetensi Keterampilan Klinis

Tingkat Kompetensi

Tingkat kemampuan 1 :

Mengetahui dan

menjelaskan

Definisi

Mampu menguasai pengetahuan teoritis termasuk aspek biomedik dan psikososial keterampilan tersebut sehingga dapat menjelaskan kepada pasien/klien dan keluarganya, teman sejawat, serta profesi lainnya tentang prinsip, indikasi, dan komplikasi yang mungkin timbul.

dan keluarganya, teman sejawat, serta profesi lainnya tentang prinsip, indikasi, dan komplikasi yang mungkin timbul.
dan keluarganya, teman sejawat, serta profesi lainnya tentang prinsip, indikasi, dan komplikasi yang mungkin timbul.

Tingkat Kompetensi

Definisi

Tingkat kemampuan 2 :

Menguasai pengetahuan teoritis dari keterampilan ini dengan penekanan pada clinical reasoning dan problem solving serta berkesempatan untuk melihat dan mengamati keterampilan tersebut dalam bentuk demonstrasi atau pelaksanaan langsung pada pasien/masyarakat.

Pernah melihat atau didemonstrasikan

Tingkat kemampuan 3 :

Menguasai pengetahuan teori keterampilan ini termasuk latar belakang biomedik dan dampak psikososial keterampilan tersebut, berkesempatan untuk melihat dan mengamati keterampilan tersebut dalam bentuk demonstrasi atau pelaksanaan langsung pada pasien/masyarakat, serta berlatih keterampilan tersebut pada alat peraga dan/atau standardized patient.

Pernah melakukan atau pernah menerapkan di bawah supervisi

Tingkat kemampuan 4A :

Mampu melakukan keterampilan klinis secara mandiri

Mampu melakukan secara mandiri

Merupakan kemahiran yang didapatkan setelah menyelesaikan pendidikan subspesialis

Tingkat Kemampuan 4B :

 

Mampu melakukan secara mandiri

Kemahiran yang diperoleh setelah mendapatkan pelatihan yang tersertifikasi oleh kolegium

Pembagian dan definisi tingkat kompetensi penyakit di Standar Kompetensi Dokter Spesialis Penyakit Dalam (SK DSPD) mengacu pada SKDI 2012, yaitu 1, 2, 3A, 3B, dan 4A. Untuk mengakomodasi kasus penyakit dalam yang lebih kompleks dari kasus level 4A di SKDI, maka dibuat tambahan definisi level kompetensi yang menggunakan tanda asterisk (*) sebagai pembeda tingkat kompetensi antara SpPD dan SpPD Subsp.

Penentuan LoA di SK DSPD ini tidaklah mudah. Salah satunya karena SKDI 2012 sudah menentukan level 4A pada beberapa penyakit tanpa mendefinisikan batasan “tuntas” atau “selesai” pada pengelolaan kasus tersebut. Misalnya kompetensi penyakit Demam Dengue. Pada SKDI 2012, seorang Dokter Umum memiliki LoA 4A untuk Demam Dengue dan 3B untuk kompetensi penyakit Dengue Shock Syndrome yang merupakan spektrum dari Demam Dengue. Berbeda halnya dengan Hipertensi, DM,

Tuberkulosis paru yang memiliki LoA 4A pada SKDI 2012 namun tidak disebutkan spektrum lain beserta LoAnya. Sehingga untuk membantu penentuan LoA kompetensi penyakit pada SK SpPD ini dibuat panduan penentuan LoA kompetensi pengelolaan Penyakit Dalam berdasarkan profesi, yaitu :

1.

Dokter Umum

Mengelola kasus rawat jalan yang memiliki tidak lebih dari 2 penyakit penyerta, kasus yang memiliki respon baik terhadap terapi dan kasus yang memerlukan tindakan sesuai kompetensi keterampilan klinisnya (SKDI 2012).

2.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Selain kompetensi sebagai Dokter Umum di atas, dia juga melakukan pengelolaan kasus rawat inap, kasus dengan 3 penyakit penyerta atau lebih, kasus kritis, kasus yang melibatkan departemen lain, kasus yang memiliki respon baik terhadap pengobatan dan kasus yang memerlukan tindakan sesuai dengan kompetensi keterampilan klinisnya (SK DSPD)

3.

Dokter Penyakit Dalam Subspesialis

Selain kompetensi sebagai SpPD di atas, dia juga mengelola kasus yang sulit (diagnosis dan tatalaksananya tidak dapat ditangani oleh SpPD), kasus yang kompleks dan kasus yang membutuhkan prosedur tindakan tingkat lanjut.

4.1

Kompetensi Utama

4.1.1 Kompetensi Umum

Seorang Dokter Spesialis Penyakit Dalam (SpPD) akan bekerja di masyarakat dengan kompetensi yang didapatkannya selama menjalani pendidikan. Oleh karena itu dalam penyusunan standar kompetensi minimal yang berlaku nasional harus senantiasa diperhatikan kebutuhan masyarakat terkait layanan kesehatan untuk kasus-kasus penyakit dalam level sekunder. Kajian mengenai kebutuhan tersebut dirumuskan dalam bentuk Indeks Situasi Klinik/Komunitas (Index Clinical/Community Situation, ICS).

ICS terdiri dari keterampilan dan pengetahuan berikut :

a. Keterampilan intelektual meliputi keterampilan pemecahan masalah dengan pendekatan ilmiah (scientific problem solving approach) dan menetapkan keputusan klinik (clinical decision making)

b. Keterampilan interpersonal terdiri atas keterampilan komunikasi, keterampilan wawancara medik, pemeriksaan fisik, melakukan dan menginterpretasikan hasil pemeriksaan penunjang (procedures)

c. Pengetahuan teknik meliputi ilmu dasar (biosciences) dan ilmu klinik (clinical sciences)

d. Pengetahuan terkait (contextual knowledge) meliputi epidemiologi klinik, organisasi pelayanan (organization services), aspek perilaku (behavioral aspects)

Semua aspek dalam penyusunan ICS tersebut kemudian dikembangkan menjadi daftar kompetensi umum spesialis penyakit dalam seperti yang diuraikan pada tabel 2 berikut. Kompetensi umum ini diajarkan secara terintegrasi selama keseluruhan proses pendidikan.

Tabel 2. Daftar Kompetensi Umum

1.

Evaluasi Pasien dengan Presentasi Klinis Tidak Khas

a.

Presentasi klinis umum dengan gejala tidak spesifik (misalnya demam, penurunan berat badan, kelelahan)

b.

Presentasi klinis nyeri (nyeri dada, nyeri perut, nyeri kepala, nyeri punggung dan nyeri sendi)

c.

Presentasi klinis sistem organ tertentu missal:

- Sistem pernapasan (sesak, batuk, efusi pleura)

- Gastrointestinal ( perdarahan saluran cerna, kelainan enzim hati, mual, muntah)

- Neurologis ( perubahan kesadaran, kelainan neurologis fokal sugestif stroke)

- Kardiovaskular (hipertensi, palpitasi, sinkop)

- Hematologi (anemia koagulopati)

- Onkologi (presentasi klinis penyakit keganasan)

- Rematologi (nyeri sendi monoartikular)

d.

Presentasi klinis terkait populasi spesifik

- Kesehatan perempuan (massa payudara, nyeri pinggul, perdarahan vagina abnormal, amenorea, galaktorea, discharge vagina)

- Kesehatan pria ( keluhan terkait penyakit prostat, disfungsi ereksi)

- Ketergantungan obat

2.

Layanan Kesehatan Preventif Dasar

a.

Rekomendasi uji penyaring keganasan

b.

Rekomendasi uji penyaring non keganasan (misalnya pemeriksaan densitometri tulang)

c.

Vaksinasi dewasa

d.

Upaya penurunan faktor risiko penyakit (misal upaya berhenti merokok dan minum alkohol, penurunan berat

badan)

e.

Kemoprevensi (penggunaan aspirin, kalsium dan vitamin

D)

e.

Menilai keberhasilan terapi dan tindak lanjutnya

f.

Membuat discharge planning

g.

Konsultasi perioperatif

3.

Interpretasi Uji Diagnostik Dasar dan Pencitraan

a.

Prinsip dasar probabilitas, karakteristik, akurasi, reliabilitas uji diagnostik

b.

Interpretasi hasil pemeriksaan darah

c.

Elektrokardiogram

d.

Pemeriksaan fungsi paru

e.

Analisis gas darah

f.

Analisis cairan tubuh (urin, cairan pleura, cairan asites, cairan sendi)

g.

Interpretasi pencitraan sederhana (radiografi

 

thoraks/radiografi sendi, abdomen, CT Scan)

h.

Interpretasi hasil pemeriksaan mikrobiologi

4.

Prinsip Dasar Farmakologi

a.

Penggunaan obat-obatan yang sering di bidang Ilmu Penyakit Dalam misalnya kortikosteroid, obat anti inflamasi non steroid (OAINS), antikoagulan, antibiotika, analgetik, terapi hormonal, obat hipoglikemik oral (OHO), insulin, anti hipertensi, anti dislipidemia, diuretik, anti kejang, anti aritmia, obat imunomodulator, bronkodilator, agen biologis, obat psikotropika sederhana, interaksi antar obat, interaksi obat dengan penyakit dan makanan, masalah polifarmasi.

5.

Pengetahuan dan Keterampilan Terkait Masalah Nutrisi

a.

Prinsip umum diagnosis masalah nutrisi dan tata laksana gangguan nutrisi termasuk kemampuan memberikan nutrisi melalui jalur oral, enteral dan parenteral

b.

Tata laksana nutrisi terkait penyakit tertentu (misal diabetes melitus, penyakit ginjal kronik, keganasan dan lain-lain) serta pada populasi khusus (misalnya pada usia lanjut)

6.

Pengetahuan dan Keterampilan Terkait dengan Topik Non- Klinik yang Relevan

a.

Prinsip keselamatan pasien (patient safety)

b.

Kedokteran berbasis bukti (evidence based medicine)

c.

Tata laksana paliatif dan akhir kehidupan (end of life care)

d.

Pertimbangan cost effectiveness dan budaya dalam memutuskan tindakan diagnostik dan terapi tertentu

e.

Interpretasi literatur dan penerapan informatika kedokteran

7.

Pengetahuan dan Keterampilan Terkait Pelayanan Pasien

a.

Mengumpulkan data melalui anamnesis terhadap pasien, keluarga, pelaku rawat, pengumpulan data melalui rekam medik pasien sebelumnya dan pemeriksaan yang telah dilakukan pasien sebelumnya

b.

Melakukan pemeriksaan fisik yang komprehensif

c.

Sintesis masalah

d.

Merencanakan diagnosis dan terapi yang sesuai, menentukan tujuan perawatan serta prognosis

8.

Keterampilan Komunikasi dan Hubungan Interpersonal

a.

Membangun hubungan komunikasi dokter-pasien yang efektif

b.

Negosiasi dan manajemen konflik

c.

Keterampilan komunikasi interprofesional (sejawat dari disiplin ilmu lain, perawat, tenaga kesehatan lain)

d.

Komunikasi dan kerja sama tim

e.

Kemampuan menilai dan refleksi diri

f.

Kemampuan mendidik

4.1.2 Kompetensi Bidang

Pada uraian berikut akan diuraikan kompetensi penyakit dan kompetensi keterampilan klinis berdasarkan bidang-bidang yang ada di Ilmu Penyakit Dalam.

4.1.2.1. Bidang Alergi dan Imunologi

Tabel 3. Daftar Kompetensi Bidang Alergi dan Imunologi

Kompetensi Penyakit

No

Daftar Kompetensi Penyakit

LoA

1

Reaksi anafilaksis

4A*

2

Alergi obat

4A

3

Asma bronkial

4A*

4

Asma akut berat

4A

5

Kejadian ikutan pasca imunisasi

4A

6

Alergi makanan

4A*

7

Pneumokoniosis

3A

8

Rhinitis alergika

4A*

9

Urtikaria akut

4A*

10

Urtikaria kronis

4A

11

Angioedema

4A

12

Dermatitis atopic

4A*

No

Daftar Kompetensi Penyakit

LoA

13

Dermatitis kontak alergika

4A

14

SLE ringan sedang

4A

15

SLE dengan keterlibatan organ vital atau keadaan khusus

3A

16

Sindrom Sjorgen

3A

17

Sindrom antifosfolipid (anti phospholipid/APS)

4A

18

Penyakit pembuluh darah kecil (Arteritis takayasu, arteritis temporal)

3A

19

Penyakit pembuluh darah sedang (Poliarteritis nodosa, penyakit Kawasaki)

3A

20

Penyakit pembuluh darah besar (Granulomatosis wagener, Sindrom Churg- Strauss, Poliarteritis mikroskopik, Henoch- Schonlein purpura, Vaskulitis krioglobulinemia esensial, Angiitis kutaneus leukositoklastik)

3A

21

Penyakit imunologi paru, ginjal dan mioprotein

3A

22

Graft Versus Host Response (GVHRs)

3A

23

Rejeksi allograft

3A

24

Histokompatibilitas antigen major dan minor

3A

25

Sindroma Hiper IgE

3A

26

Human Immunodeficiency Virus (HIV)

4A*

27

Manajemen perioperatif pada pasien dengan kelainan alergi-imunologi klinik

3A

Kompetensi Keterampilan Klinis

No

Daftar Kompetensi Keterampilan Klinis

LoA

1

Prick test

4A

2

Patch test

3

3

Skin test obat

4A

4

Tes provokasi obat

3

5

Tes provokasi makanan

3

6

Tes provokasi bronkus

3

7

Spirometri

4A

8

Vaksinasi Dewasa

4A

9

Imunoterapi (sublingual, subkutan)

2

4.1.2.2 Bidang Endokrin, Metabolik dan Diabetes

Tabel 4. Daftar Kompetensi Bidang Penyakit Endokrin, Diabetes dan Metabolisme

Kompetensi Penyakit

No

Daftar Kompetensi Penyakit

LoA

 

Kelainan Metabolisme Karbohidrat

 

1

DM tipe 1

4A*

2

DM tipe 2

4A*

3

DM gestasional

4A

4

DM tipe lain (intoleransi glukosa akibat penyakit lain atau obat-obatan)

4A

5

Hipoglikemia ringan

4A*

6

Hipoglikemia berat

4A

7

Ketoasidosis diabetikum

4A

8

Hiperglikemia hiperosmoler

4A

9

Peripheral Vascular Disease (PVD) pada DM

4A

 

Kelainan Hipotalamus dan Pituitari

 

11

Diabetes insipidus

4A

12

Prolaktinemia

3A

13

Akromegali

3A

14

Gigantisme

3A

15

Defisiensi hormon pertumbuhan

3A

16

Syndrome Of Inappropriate Antidiuretic Hormone (SIADH)

3A

17

Tumor pituitary/ Tumor Hipofisis

3A

 

Kelainan Tiroid dan Paratiroid

18

Hipotiroidisme kongenital

4A

19

Hipotiroidisme autoimun

4A

20

Hipotiroidisme lain

4A

21

Kretinisme

4A

22

Kelainan tiroid pada kehamilan

4A

23

Perioperatif pada kasus tiroid

4A

24

Hiper/hipo tiroid subklinikal

4A

25

Multinodular goiter

4A

26

Toxic Nodular Goiter

4A

27

Hipertiroid dan penyakit trophoblastik

4A

No

Daftar Kompetensi Penyakit

LoA

28

Penyakit Graves

4A

29

Krisis tiroid

4A

30

Tiroiditis akut

4A

31

Tiroiditis sub akut

4A

32

Tiroiditis Kronik

4A

33

Simple goiter

4A

34

Adenoma tiroid

3A

35

Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) complicated

4A

36

Karsinoma tiroid

3A

37

Hiperparatiroid

4A

38

Hipoparatiroid

4A

 

Kelainan Adrenal

39

Sindrom cushing (Cushing’s disease)

4A

40

Hiperaldosteronisme

4A

41

Defisiensi kortek adrenal primer (Addison’s disease)

4A

42

Defisiensi kortek adrenal sekunder

3A

43

Feokromositoma

3B

44

Krisis adrenal

4A

45

Kortikosteroid hormon

4A

46

Kelebihan hormon glukokortikoid

4A

47

Kekurangan hormon glukokortikoid

4A

 

Kelainan Reproduksi

48

Hipogonadisme

3A

49

Gangguan perkembangan seks

3A

50

Disfungsi seksual

3A

51

Pubertas prekoks

3A

52

Infertilitas

3A

53

Gangguan ereksi

3A

54

Gangguan ejakulasi

3A

 

Kelainan Metabolisme Mineral dan Tulang

55

Defisiensi Calcitonin

3A

56

Defisiensi vitamin D

4A

57

Hiperkalsemia

4A

58

Hipokalsemia

4A

59

Gangguan metabolisme fosfat

4A

60

Gangguan metabolisme magnesium

4A

No

Daftar Kompetensi Penyakit

LoA

61

Osteoporosis

4A

62

Mineral bone disorders – chronic kidney disease (MBD-CKD)

3A

63

Ricketsia, osteomalasia

4A

64

Paget’s Disease

3A

65

Osteogenesis imperfecta

3A

 

Kelainan Metabolism Lain

66

Obesitas

4A

67

Dislipidemia

4A*

68

Malnutrisi energi-protein

4A*

69

Defisiensi vitamin

4A*

70

Defisiensi mineral

4A*

71

Hiperurisemia

4A*

 

Kelainan Genetik

72

Turner sindrom

3A

73

Klinefelter sindrom

3A

74

Congenital adrenal hyperplasia (CAH) / hiperplasia adrenal kongenital

3A

75

Marfan sindrom

3A

76

Familial dyslipidemia

3A

77

Multiple endocrine neoplasia 1

3A

78

Multiple endocrine neoplasia 2

3A

79

Poly-autoimmune disease

3A

Kompetensi Keterampilan Klinis

 

No

Daftar Kompetensi Keterampilan Klinis

LoA

1

Pemeriksaan glukosa darah (Point Of Care Test/POCT)

4A

2

Pemberian insulin intravena kontinyu (insulin drip intravena)

4A

3

Monitoring gula darah selama pemberian insulin drip/kontinyu intravena (Glucose monitoring during intravenous insulin therapy)

4A

4

Vibratory sensation testing dengan garpu tala

4A

 

128Hz

5

Semmes-weinstein monofilament test 10gr

4A

No

Daftar Kompetensi Keterampilan Klinis

LoA

19

Perawatan luka kaki diabetes (debridement)

4A

 

Rehabilitasi awal perawatan kaki diabetes

4A

 

Pemilihan alas kaki diabetes

4A

20

Ankle Brachial Index (ABI)

4A

21

USG thyroid

3

22

Exoptalmometry in Grave’s disease

3

23

Aspirasi jarum halus untuk nodul tiroid

4A

24

Dexamethasone suppression test

4A

25

Interpretasi pemeriksaan densitas massa tulang /Interpretasi Bone Mineral Density (BMD) by dual energy x-ray absorptiometry (DXA)

4A

26

Pemeriksaan dengan orchidometer

4A

27

Pemeriksaan analisis komposisi tubuh / Body composition analysis (BCA)

4A

28

Aspirasi Kista Tiroid

4A

29

Injeksi Etanol Perkutan

3

30

Water deprivation test

2

31

Teknik injeksi insulin

4A

32

Tes pembebanan dengan insulin

2

33

Pompa insulin

2

4.1.2.3 Bidang Gastroenterohepatologi

Tabel 5. Daftar Kompetensi Bidang Hati dan Saluran Pencernaan

Kompetensi Penyakit

No

Daftar Kompetensi Penyakit

LoA

 

Esofagus

1

Akalasia esofagus

3A

2

Esofagitis refluks

4A

3

Barrett’s esophagus

4A*

4

Lesi korosif pada esofagus

4A

5

Varises gastroesofagus

4A

6

Neoplasma esophagus

3A

No

Daftar Kompetensi Penyakit

LoA

7

Infeksi jamur pada esofagus

4A

8

Infeksi virus pada esofagus

4A

9

Striktur esophagus

3A

 

Dinding, Rongga Abdomen

10

Hernia (diafragmatika, hiatus)

4A*

11

Tuberkulosis abdomen

3A

12

Perforasi usus

3B

13

Malrotasi traktus gastrointerstinal

3B

 

Gaster, Duodenum, Jejunum, Ileum

14

Gastritis

4A*

15

Gastroenteritis

4A*

16

Ulkus (gaster, duodenum)

4A

17

Stenosis pilorik

3B

18

Divertikulum meckel

3B

19

Apendisitis

3B

20

Perdarahan gastrointestinal

4A

21

Ileus obstruksi

3B

22

Ileus paralitik

4A

23

Malabsorbsi

4A

24

Maldigesti

4A

25

Intoleransi makanan

4A*

26

Botulisme

4A

27

Adenokarsinoma gaster

3A

28

Gastrointestinal stromal tumor (GIST)

3B

29

Gastric motility disorders

4A

30

 

Celiac disease

4A

31

Short Bowel Syndrome

4A

32

Trombosis arteri mesenterika

4A

33

Amiloidosis

3A

 

Hepar

34

Hepatitis A

4A*

35

Hepatitis B

4A

36

Hepatitis C

4A

37

Hepatitis autoimun

4A

38

Abses hepar

4A

39

Penyakit hati alkoholik

4A

40

Non-Alcoholic Fatty Liver Disease(NAFLD)

4A

No

Daftar Kompetensi Penyakit

LoA

41

Sirosis hati

4A

42

Hepatitis imbas obat

4A

43

Gagal hepar

4A

44

Neoplasma hepar

3A

45

Hemokromatosis hepar

4A

46

Alpha-1-antitrypsin deficiency

4A

47

Wilson disease

4A

48

Gangguan metabolisme bilirubin ( Gilbert syndrome, Crigler-Najjar syndrome type I and II,Dubin-Johnson and Rotor syndromes)

4A

49

Trombosis vena porta

4A

50

Penyakit hati pada kehamilan

4A

 

Kandung Empedu, Saluran Empedu, dan Pankreas

51

Kolesistitis

4A

52

Kolelitiasis

4A

53

Koledokolitiasis

4A

54

Kolangitis

4A

55

Kista duktus koledokus

3A

56

Pankreatitis

4A

57

Karsinoma pankreas

3A

58

Kista dan pseudokista pankreas

3B

59

Primary sclerosing cholangitis

3A

60

Primary biliary cirrhosis

3A

61

Kolangio karsinoma

3A

 

Kolon

62

Divertikulosis

4A

63

Kolitis infektif

4A

64

Sindroma disentri

4A*

65

Penyakit Crohn

4A

66

Kolitis ulseratif

4A

67

Irritabel Bowel Syndrome

4A

68

Polip / Adenoma

4A

69

Karsinoma kolorektal

3A

70

Enterokolitis nekrotik

4A

71

Proktitis

4A

72

Abses (peri) anal

4A

73

Hemoroid

4A

74

Sindroma konstipasi

4A

Kompetensi Keterampilan Klinis

No

Daftar Kompetensi Keterampilan Klinis

LoA

1

Pemasangan pipa Nasogastrik (NGT)

4A

2

Esofagogastroduodenoskopi (EGD) diagnostik

4B

3

Kolonoskopi dan proktoskopi diagnostik

4B

4

Endoskopi hemostasis

3

5

Endoscopic mucosal resection (EMR)

1

6

Endoscopic submucosal resection (ESR)

2

7

Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP)

2

8

Enteroskopi

2

9

Kapsul endoskopi

2

10

Endosonografi (EUS)

1

11

Biopsi hati

3

12

Drainase/aspirasi abses hati

3

13

Percutaneous ethanol injection therapy (PEIT)

1

14

Radio frequency ablation (RFA)

1

15

Transient elastography (Fibroscan)

2

16

Hepatic artery portal vein gradient (HPVG)

1

17

Percutaneous transhepatic biliary drainage (PTBD)

1

18

Drainase/Aspirasi kista hati

3

19

Manajemen perioperatif transplantasi hati

1

20

Parasentesis abdomen/Pungsi asites

4A

21

USG abdomen

4A

22

Peritoneoskopi

1

23

Pemasangan Sengstaken Blackmore Tube

2

24

Businasi

2

25

Skleroterapi dan ligasi varises esophagus

2

26

Skleroterapi hemoroid

2

27

Perkutaneus Cholecystostomy

2

28

Biopsi jarum halus pankreas

2

29

Biopsi jarum halus limpa

2

30

Kolangioscopy

2

4.1.2.4

Bidang Geriatri

Tabel 6. Daftar Kompetensi Bidang Geriatri

Kompetensi Penyakit

No

Daftar Kompetensi Penyakit

LoA

 

Daftar Kompetensi Penyakit pada Usia Lanjut

1

Sarkopenia

3A

2