Anda di halaman 1dari 52

ASUHAN KEPERAWATAN PADA By.

A
DENGAN MASALAH BERAT BADAN LAHIR SANGAT RENDAH (BBLSR)
RUANG PICU-NICU DI RSUD LOEKMONO HADI KUDUS

Disusun Oleh :
1. Oktaviani Kolo Suri
2. Rulita Hayuningtyas
3. Rina Zamrotul
4. Siti Listiyowati
5. Syifa Yulia

PROGRAM PENDIDIKAN NERS VII


STIKES WIDYA HUSADA SEMARANG
TAHUN AJARAN 2016/2017

1
LEMBAR PENGESAHAN

TUGAS SEMINAR
ASUHAN KEPERAWATAN PADA By. A DENGAN MASALAH UTAMA
BERAT BADAN LAHIR SANGAT RENDAH
RUANG PICU-NICU DI RSUD. LOEKMONO HADI KUDUS

Kudus, Desember 2016

Mengetahui,
CI Ruang Picu-Nicu Pembimbing Akademik
.. ..

2
DAFTAR ISI

Halaman Judul .............................................................................................................. i


Daftar Isi ...................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................1
A. Latar Belakang ..................................................................................................1
B. Tujuan ...............................................................................................................2
C. Rumusan dan batasan masalah..........................................................................3
D. Manfaat .............................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN ..............................................................................................4
1. Pengertian ..........................................................................................................4
2. Klasifikasi .........................................................................................................4
3. Etiologi ..............................................................................................................5
4. Tanda dan gejala ...............................................................................................5
5. Pathway .............................................................................................................6
6. Pemeriksaan penunjang.....................................................................................8
7. Komplikasi ........................................................................................................8
8. Penatalaksanaan ..............................................................................................11
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN ......................................................................13
A. Pengkajian .......................................................................................................13
B. Diagnosa..........................................................................................................14
C. Intervensi .........................................................................................................15
TINJAUAN KASUS ..................................................................................................27
A. Pengkajian .......................................................................................................27
B. Analisa Data ....................................................................................................35
C. Diagnosa .........................................................................................................36
D. Intervensi.........................................................................................................37
E. Implementasi ...................................................................................................38
F. Catatan Perkembangan....................................................................................39

3
BAB IV PEMBAHASAN...........................................................................................45
BAB III PENUTUP ....................................................................................................47
A. Kesimpulan .....................................................................................................47
B. Saran ...............................................................................................................47
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................46

4
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram dan
merupakan penyumbang tertinggi angka kematian perinatal dan neonatal.Kematian neonatus
merupakan komponen utama penyebab angka kematian bayi atau infant mortality rate, yaitu
angka yang dipakai sebagai indikator kemajuan kesehatan suatu negara. Menurunkan angka
kematian bayi dari 34 per 1000 kelahiran hidup menjadi 23 per 1000 kelahiran hidup
merupakan salah satu sasaran utama Rencana Pembangunan Jangka Menengah tahun 2010-
2014 Negara Republik Indonesia.
Berdasarkan data dari WHO (2010), bayi dengan berat lahir rendah berkontribusi
sebanyak 60 hingga 80% dari seluruh kematian neonatus dan memiliki resiko kematian 20
kali lebih besar dari bayi dengan berat normal sampai usia satu tahun sehingga bayi dengan
berat badan lahir sangat rendah dan berat lahir rendah memiliki kemungkinan morbiditas
dan mortalitas yang lebih besar.
Berdasarkan hasil Riskesdas 2010 ditemukan bahwa daerah Sumut kejadian berat
bayi lahir rendah sebanyak 8,2 %. Berdasarkan profil Puskesmas Kecamatan Medan
Tuntungan tahun 2011 ditemukan kejadian BBLR 1,5% dari setiap persalinan pertahun.
Prevalensi kematian neonatus di Indonesia pada tahun 2011 sebanyak 66.000
kelahiran atau 15 orang per 1000 kelahiran hidup. Jumlah neonatus yang meninggal yang
disebabkan oleh berat lahir rendah sebanyak 32.342 kelahiran atau sebanyak 29% dari
jumlah seluruh kematian neonatus.Insidensi BBLR di rumah sakit di Indonesia berkisar
20%. Distribusi penyebab kematian bayi karena BBLR di Indonesia meningkat dari 24%
pada tahun 2009 menjadi 25% pada tahun 2010 (Depkes, 2011).
Bayi yang lahir dengan berat badan rendah memiliki fungsi sistem organ yang
belum teratur sehingga dapat mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan
(Rahayu, 2010).Permasalahan yang dialami bayi dengan berat lahir rendah meliputi asfiksia
atau gagal bernafas secara sepontan dan teratur sesaat atau beberapa menit setelah lahir,
hipotermia atau gangguan termoregulasi, gangguan nutrisi dan resiko infeksi.Masalah pada
bayi dengan berat lahir rendah juga meliputi permasalahan pada sistem pernafasan, susunan

1
syaraf pusat, kardiovaskuler, hematologi, gastrointestinal, ginjal dan termoregulasi
(Maryunani, 2009).
Penatalaksanaan untuk bayi BBLSR maupun BBLR biasanya mencakup bantuan
pernapasan, mengupayakan suhu lingkungan yang netral, pencegahan infeksi, pemenuhan
kebutuhan cairan dan nutrisi, penghematan energi bayi agar energi yang dimiliki bayi dapat
digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi, perawatan kulit untuk melindungi
dan mencegah terjadinya kerusakan integritas kulit karena kondisi kulit bayi yang belum
matang, pemberian obat-obatan serta perlu adanya pemantauan data fisiologis (Rahayu,
2010).
Penanganan yang tepat dan terencana merupakan kunci keberhasilan penanganan
bayi dengan berat lahir sangat rendah di rumah sakit.Konsep pelayanan perinatologi yang
berkualitas tinggi memerlukan organisasi yang komprehensif dan melibatkan seluruh
profesional di bidang kesehatan termasuk pelayanan keperawatan.
Asuhan keperawatan yang berkualitas pada bayi dengan berat lahir sangat rendah
sangat menentukan tingkat mortalitas dan morbiditas bayi pada periode kehidupan
pertamanya serta pertumbuhan dan perkembangan untuk periode kehidupan
selanjutnya.Asuhan keperawatan pada bayi dengan berat lahir rendah yang berkualitas dapat
terus ditingkatkan dengan melakukan evaluasi yang berkesinambungan dari asuhan
keperawatan yang diberikan pada bayi dengan berat lahir sangat rendah maupun berat lahir
rendah.

B. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dalam penulisan makalah ini adalah :
Mahasiswa memahami tentang masalah Berat Badan Lahir Sangat Rendah dan
bagaimana memberikan asuhan keperawatan pada bayi dengan Berat Badan Lahir
Sangat Rendah.

2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dalam penulisan makalah ini adalah :

2
a. Pengertian BBLSR
b. Klasifikasi Berat Badan Lahir
c. Etiologi BBLSR
d. Tanda dan Gejala Klinis
e. Pathway BBLSR
f. Pemeriksaan diagnostic BBLSR
g. Komplikasi BBLSR
h. Penatalaksaan bayi BBLSR
i. Diagnosis keperawatan yang muncul
j. Bagaimana penatalaksanaannya BBLSR
k. Asuhan keperawatan pada bayi BBLSR mulai dari pengkajian sampai evaluasi.

C. MANFAAT
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah untuk :
1. Tenaga Kesehatan
Bisa menambah pengetahuan tentang masalah berat badan lahir sangat rendah dan
asuhan keperawatannya, serta bisa memberikan Health Education (HE) kepada ibu-ibu
hamil di masyarakat.
2. Bagi Mahasiswa
Bisa menambah pengetahuan, referensi tentang masalah bayi dengan berat badan lahir
sangat rendah dan konsep asuhan keperawatannya.
3. Bagi Masyarakat
Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang apa itu berat badan lahir rendah, dan
bagaimana cara pencegahan, perawatan di rumah dan pentingnya nutrisi.

3
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. PENGERTIAN
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat
lahir kurang dari 2500 gram (sampai dengan 2499 gram) (Prawiroharjo, 2010).
Sejak tahun 1961 WHO telah mengganti istilah prematurits dengan Bayi Berat
Lahir Rendah (BBLR).Hal ini dilakukan karena tidak semua bayi yang berat kurang dari
2500 gram pada waktu lahir bayi prematur (Rustam 1998).
Berkaitan dengan penanganan dan harapan hidupnya, bayi berat lahir rendah
dibedakan dalam:
1. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), berat lahir 1500 2500 gram
2. Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR), berat lahir < 1500 gram
3. Bayi Berat Lahir Ekstrim Rendah (BBLER) berat lahir < 1000 gram

B. KLASIFIKASI
Klasifikasi bayi menurut Sylviati (2008) berdasarkan umur kehamilan dibagi dalam 3
kelompok yaitu:
1. Bayi kurang bulan adalah bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu (259
hari)
2. Bayi cukup bulan adalah bayi dengan masa kehamilan dari 37 minggu sampai dengan
9 42 minggu (259 -293 hari)
3. Bayi lebih bulan adalah bayi dengan masa kehamilan mulai 42 minggu atau lebih. Dari
pengertian di atas maka bayi dengan BBLR/BBLSR dapat dibagi menjadi 2 golongan,
yaitu :
1. Bayi kurang bulan (Prematur Murni) Bayi yang dilahirkan dengan umur kehamilan
kurang dari 37 minggu, dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk
masa kehamilan, atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan.

4
2. Bayi kecil masa kehamilan (KMK) Bayi yang dilahirkan dengan berat badan lahir
kurang dari presentil 10 kurva pertumbuhan janin. Sedangkan bayi dengan berat lahir
kurang dari 1500 gram disebut bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR).

C. ETIOLOGI
Menurut Arief dan Weni (2009) bayi dengan berat badan lahir sangat rendah (BBLSR)
disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :
1. Penyakit ibu
a. Penyakit
Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan, misalnya toxemia
gravidarum, perdarahan antepartum, trauma fisik dan psikologis. Selain itu penyakit
lain seperti nefritis akut, infeksi akut, dll.
b. Usia ibu
Angka kejadian tertinggi pada bayi BBLSR adalah umur ibu dibawah kurang dari
20 tahun atau lebih dari 35 tahun, multigravida dengan jarak kehamilan terlalu
dekat.
c. Keadaan sosial
Keadaan ini sangat berperan sekali terhadap timbulnya BBLSR.Hal ini disebabkan
oleh gizi yang kurang baik dan antenatal care yang kurang.
2. Faktor Janin
Hidramnion, gameli, kelainan kromosom dan Syphilis termasuk juga infeksi kronis.
3. Faktor lingkungan
Radiasi, tinggal di daratan tinggi, zat racun

D. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Huda dan Hardhi (2013) tanda dan gejala dari bayi berat badan rendah adalah :
1. Sebelum lahir
a. Pembesaran uterus tidak sesuai dengan usia kehamilan.
b. Pergerakan janin lebih lambat.
c. Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai yang seharusnya.
2. Setelah bayi lahir

5
a. Bayi dengan retadasi pertumbuhan intra uterin.
b. Bayi premature yang alhir sebelum kehamilan 37 minggu.
c. Bayi small for date sama dengan bayi retradasi pertumbuhan intra uterine.
d. Bayi premature kurang sempurna pertumbuhan alat-alat dalam tubuhnya.
Selain itu ada gambaran klinis BBLR secara umum adalah :
a. Berat badan dari 2500 gram.
b. Panjang kurang dari 45 cm.
c. LD < 30 cm.
d. LK < 33 cm.
e. Umur kehamilan < 37 minggu
f. Kulit tipis, transparan, rambut lanugo banyak, lemak kurang.
g. Otot hipotonik lemah.
h. Pernapasan tidak teratur dapat terjadi apnea.
i. Ekstremitas : paha abduks, sendi lutut atau kaki fleksi-lurus.

6
E. PATHWAY

Prematuris Dismaturis

Factor ibu : umur <20 th, Factor plasenta: F.Janin : kelainan F. gangguan :
infertilitas, riw. Peny. Vaskuler, kromosom, TORCH, Pertukaran z
Kehamilan abnormal kehamilan kehamilan ganda Kulit
ganda, tumor
halus
at
antara ibu dan
Dinding otot rahim Retardasi pertumbuhan
janin
bag.bawah lemah intra uteri

BB < 2500 gram

Bayi Lahir Prematur


BBLSR/BBLR

Fungsi organ2 belum baik Prematuritas

daya tahan tubuh kulit


Ginjal Hati Paru Otak Usus
Resiko infeksi
Imaturitas f.ginjal Fungsi hati belum Imaturitas Imaturitas Peristaltic
normal paru sis. syaraf blm
smpurna Jar. Kulit
Filtrasi Lemak halus
Konjugasi Pembentu Reflek subkutan
bilirubin blm baik kan menelan tipis
Kemampuan surfaktan blm Pengoson Mudah
mengabsorbsi urin blm smpurna gan lecet
trbentuk lmbung
Hiperbilirubin Kehilangan
blm baik
G3an keseimbangan panas mllui
Intake in Resiko
cairan dan elektrolit kulit
Ikterik Inadekuat adekuat masuknya
surfaktan virus
hipotermi
takipnea usaha nafas
Kolaps alveoli Nutrisi < Resiko infeksi
Pola nafas in efektif dari
Ventilasi kebutuhan
Pembentukan Cedera paru
membrane hialin

Mngendap G3n prtukaran gas


di alveoli
7
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Pantiawati (2010) Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain :
1. Pemeriksaan skor ballard merupakan penilaian yang menggambarkan reflek dan
maturitas fisik untuk menilai reflek pada bayi tersebut untuk mengetahui apakah bayi itu
prematuritas atau maturitas
2. Tes kocok (shake test), dianjurkan untuk bayi kurang bulan merupakan tes pada ibu
yang melahirkan bayi dengan berat kurang yang lupa mens terakhirnya.
3. Darah rutin, glokosa darah kalau perlu dan tersedia fasilitas diperiksa kadar elektrolit
dan analisa gas darah.
4. Foto dada ataupun babygram merupakan foto rontgen untuk melihat bayi lahir
tersebut diperlukan pada bayi lahir dengan umur kehamilan kurang bulan dimulai pada
umur 8 jam atau dapat / diperkirakan akan terjadi sindrom gawat nafas.

G. KOMPLIKASI
Menurut (Hanifa, 2006), komplikasi dari BBLR/ BBLSR seebagai berikut :
1. Hipotermia
Dalam kandungan, bayi berada dalam suhu lingkungan yang normal dan stabil yaitu
36,5C sampai dengan 37,5 C. Segera setelah lahir bayi dihadapkan pada suhu
lingkungan yang umumnya lebih rendah. Perbedaan suhu ini memberi pengaruh pada
kehilangan panas tubuh bayi. Selain itu, Hiportermia dapat terjadi karena kemampuan
untuk mempertahankan panas dan kesanggupan menambah produksi panas sangat
terbatas karena pertumbuhan otot-otot yang belum cukup memadai, lemak subkutan
yang sedikit, belum matangnya sistem syaraf yang mengatur suhu tubuh relatif lebih
besar dibandingkan dengan berat badan sehingga mudah kehilangan panas. Tanda
klinis hipotermia:
a. Suhu tubuh di bawah normal (36,5-37,50 c)
b. Kulit dingin
c. Akral dingin
d. Sianosis (muka dan ekstremitas).

8
2. Hipoglikemia
Penyelidikan kadar gula darah pada 12 jam pertama menunjukkan bahwa Hipoglikemia
dapat terjadi sebanyak 50% pada bayi matur. Glukosa merupakan sumber utama energi
selama masa janin. Kecepatan glukosa yang diambil janin tergantung dari kadar gula
darah 16 ibu karena terputusnya hubungan plasenta dan janin menyebabkan terhentinya
pemberian glukosa. Bayi aterm dapat mempertahankan kadar gula darah 50-60 mg/dL
selama 72 jam pertama, sedangkan bayi berat badan lahir rendah dalam kadar 40
mg/dL. Hal ini disebabkan cadangan glikogen yang belum mencukupi. Hipoglikemia
bila kadar gula darah sama dengan atau kurang dari 20 mg/dL.
Tanda klinis hipoglikemia :
a. Gemetar atau tremor
b. Sianosis (muka dan ektremitas)
c. Apatis
d. Kejang
e. Apnea intermiten
f. Tangisan melemah atau melengking
g. Kelumpuhan atau letargi
h. Kesulitan minum
i. Terdapat gerakan putar mata
j. Keringat dingin
k. Hipotermia
l. Gagal jantung dan henti jantung (sering berbagai gejala muncul bersama-sama)
(Hanifa, 2006)

3. Perdarahan Intrakranial
Perdarahan intrakranial dapat terjadi karena trauma lahir, disseminated intravascular
coagulopathy atau trombositopenia idiopatik. Matriks 17 germinal epidimal yang kaya
pembuluh darah merupakan wilayah yang sangat rentan terhadap perdarahan selama
minggu pertama kehidupan.
Tanda klinis perdarahan intrakranial :
a. Kegagalan umum untuk bergerak normal
b. Refleks moro menurun atau tidak ada

9
c. Tonus otot menurun
d. Letargi
e. Pucat dan sianosis
f. Apnea
g. Kegagalan menetek dengan baik
h. Muntah yang kuat
i. Tangisan bernada tinggi dan tajam
j. Kejang
k. Kelumpuhan
l. Fontanella mayor mungkin tegang dan cembung
m. Pada sebagian kecil penderita mungkin tidak ditemukan manifestasi klinik satu
pun.
(Hanifa, 2006)

4. Asfiksia
Suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera
setelah lahir, sehingga dapat menurunkan O2 dan meningkatkan CO2.
Tanda dan gejalanya antara lain :
a. Pernafasan megap-megap dan dalam
b. Denyut jantung terus menerus
c. Bayi terlihat lemas
(Hanifa, 2006)

5. Hiperbilirubinemia
Produksi berlebihan atau penurunan eksresi bilirubin pada bayi baru lahir.Penurunan
bilirubin dapat terjadi akibat dari kesalahan metabolisme bawaan, hipotiroidisme,
ikterus ASI, prematuritas (Hanifa, 2006).

6. Infeksi atau sepsis


Infeksi prenatal adalah infeksi pada neonatus yang terjadi pada masa antenatal,
intranatal, dan postnatal.
Gejala infeksi yang umumnya terjadi pada bayi antara lain :
a. Bayi malas minum

10
b. Gelisah mungkin juga terjadi letargi
c. Berat badan menurun
d. Pergerakan kurang
e. Muntah
f. Diare
g. Kejang
(Hanifa, 2006)

7. Gangguan Pernafasan
a. Defisiensi surfaktan paru yang mengarah ke sindrom gawat nafas/RDS
b. Resiko aspirasi akibat belum terkoordiansinya reflek batuk, reflek menghisap dan
reflek menelan.
c. Thoraks yang lunak dan otot respirasi yang lemah
d. Pemafasan tidak teratur
(Hanifa, 2006)
H. PENATALAKSANAAN
Menurut Pantiawati (2010), pelaksanaan pada bayi berat lahir rendah adalah:
1. Hal utama yang perlu dilakukan adalah mempertahankan suhu tubuh normal:
- Membersihkan jalan napas
- Memotong tali pusat dan perawatan tali pusat
- Membersihkan badan bayi dengan kapas baby oil
- Memberikan obat mata
- Membungkus bayi dengan kain hangat
- Pengkajian keadaan kesehatan pada bayi dengan berat badan lahir rendah

2. Medikamentosa
Pemberian vitamin K1 :
- Injeksi 1 mg IM sekali pemberian, atau
- Per oral 2 mg sekali pemberian atau 1 mg 3 kali pemberian (saat lahir, umur 3-10,
dan umur 4-6)
3. Diatetik

11
Pemberian nutrisi yang adekuat :
- Apabila daya isap belum baik, bayi dicoba untuk menetek sedikit demi sedikit.
- Apabila bayi belum bisa meneteki pemberian ASI.
- Apabila bayi belum ada reflek mengisap dan menelan harus dipasang siang
penduga/sonde fooding
Bayi prematur atau Bayi Baru Lahir Sangat Rendah mempunyai masalah
menyusui karena refleks menghisapnya masih lemah. Untuk bayi demikian
sebaiknya ASI dikeluarkan dengan pompa atau diperas dan diberikan pada bayi
dengan pipa lambung atau pipet. Dengan memegang kepala dan menahan bawah
dagu, bayi dapat dilatih untuk menghisap sementara ASI yang telah dikeluarkan
yang diberikan dengan pipet atau selang kecil yang menempel pada puting.
ASI merupakan pilihan utama :
a) Apabila bayi mendapatkan ASI, pastikan bayi menerima jumlah yang cukup
dengan cukup dengan cara apapun, perhatikan cara pemberian ASI dan nilai
kemampuan bayi menghisap paling kurang sehari sekali
b) Apabila bayi sudah tidak mendapatkan cairan IV dan beratnya naik 20 g/hari
selama 3 hari berturut-turut, timbang bayi 2 kali seminggu.
4. Suportif
a) Mempertahankan suhu tubuh bayi dengan cara :
- Membungkus bayi dengan menggunakan selimut bayi yang dihangatkan terlebih
dahulu.
- Menidurkan bayi didalam incubator buatan yaitu dapat dibuat dari keranjang
yang pinggirnya diberi penghangat dari buli-buli panas atau botol yang diisi air
panas. Buli-buli panas atau botol-botol ini disimpan dalam keadaan berdiri
tutupnya ada di sebelah atas agar tidak tumpah dan tidak mengakibatkan luka
bakar pada bayi. Buli-buli panas aatau botol ini pun harus dalam keadaan
terbungkus, dapat menggunakan handuk atau kain yang tebal. Bila air panasnya
sudah dingin ganti airnya dengan air panas kembali.
b) Suhu lingkungan bayi harus dijaga :
- Kamar dapat masuk sinar matahari.

12
- Jendela dan pintu dalam keadaan tertutup untuk mengurangi hilangnya panas dari
tubuh bayi melalui proses radiasi dan konveksi.
c) Badan bayi harus dalam keadaan kering.
d) Gunakan salah satu cara menghangatkan dan mempertahankan suhu tubuh bayi,
seperti kontak kulit ke kulit, kangaroo mother care, pemancar panas, inkubator atau
ruangan hangat yang tersedia di tempat fasilitas kesehatan setempat sesuai petunjuk.
e) Jangan memandikan atau menyentuh bayi dengan tangan dingin.
f) Ukur suhu tubuh dengan berkala.
g) Yang juga harus diperhatikan untuk penatalaksanaan suportif ini adalah :
- Jaga dan pantau patensi jalan nafas.
- Pantau kecukupan nutrisi, cairan dan elektrolit.
h) Bila terjadi penyulit, harus dikoreksi dengan segera (contoh; hipotermi, kejang,
gangguan nafas, hiperbilirubinemia).
i) Berikan dukungan emosional pada ibu dan anggota keluarga lainnya.
j) Anjurkan ibu untuk tetap bersama bayi. Bila tidak memungkinkan, biarkan ibu
berkunjungan setiap saat dan siapkan kamar untuk menyusui.
5. Pemantauan (Monitoring)
a. Pemantauan saat dirawat
1) Terapi
- Bila diperlukan terapi untuk penyulit tetap diberikan.
- Preparat besi sebagai suplemen mulai diberikan pada usia 2 minggu.
2) Tumbuh Kembang
- Pantau berat badan bayi secara periodic.
- Bayi akan kehilangan berat badan selama 7-10 hari pertama (sampai 10%
untuk bayi dengan berat lahir <1500).
- Bila bayi sudah mendapatkan ASI secara penuh (pada semua kategori berat
lahir) dan telah berusia lebih dari 7 hari.
Pantiawati (2010)

13
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Biodata klien : nama,tempat lahir, jenis kelamin.
2. Orang tua : nama ayah/ibu, umur, agama, suku atau kebangsaan, pendidikan dan
alamat.
3. Riwayat kesehatan :
a. Riwayat antenatal :
- Keadaan ibu selama hamil dengan anemia, HT,gizi buruk,merokok,
ketergantungan obat-obatan, DM, penyakit kardiovaskuler dan paru.
- Kehamilan dengan resiko persalinan preterm misalnya kelahiran multiple,kelainan
congenital.
- Riwayat komplikasi persalinan juga mempunyai kaitan yang sangat erat dengat
permasalahan pada bayi baru lahir.
- Kala I : perdarahan antepartumbaik solusio plasenta maupun plasenta previa.
- Kala II :persalinan dengan tindakan pembedahan, karena pemakaian obat
penenang (narkose) yang dapat menekan system pusat pernafasan.
b. Riwayat post natal :
- Apgar score bayi baru lahir 1 menit pertama dan 5 menit kedua (0-3), asfiksia
berat (4-6), asfiksia sedang (7-10) asfiksia ringan.
- Berat badan lahir : preterm atau BBLR < 2500 gram, untuk aterm 2500
gram, LK kurang atau lebih dari normal (34-36)
- Pola nutrisi yang perlu dikaji pada bayi dengan BBLSR gangguan absorbsi
gastrointestinal, muntah, aspirasi, kelemahan menghisap sehingga perlu diberikan
cairan parenteral atau personde sesuai dengan kondisi bayi untuk mencukupi
kebutuhan elektrolit, cairan, kalori dan juga untuk mengoreksi dehidrasi, asidosis
metabolik, hipoglikemi disamping untuk pemberian obat intravena.
- Pola eliminasi yang perlu dikaji pada neonatus adalah BAB:
frekuensi,jumlah,konsisten. BAK : frekuensi dan jumlah.

14
- Latar belakang sosial budaya kebudayaan yang berpengaruh terhadap BBLSR
kebiasaan ibu merokok, obat-obatan jenis psikotropika, kebiasaan ibu
mengkonsumsi minuman beralkohol, dan kebiasaan ibu melakukan diet ketat atau
pantangan makanan tertentu.
- Reflex : pada neonates preterm post asfiksia berat reflek moro dan sucking lemah.
Reflek moro dapat memberi keterangan mengenai keadaan susunan syaraf pusat
atau adanya patah tulang.
- Pemeriksaan Head to Toe

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa yang bisa ditegakkan oleh seorang perawat pada bayi dengan BBLSR yaitu:
1. Ketidak efektifan pola nafas b.d imaturitas pusat pernapasan
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d faktor biologis (reflek
menelan lemah, imaturitas)
3. Resiko kekurangan volume cairan b.d berat badan ekstrem dan factor yang
mempengaruhi kebutuhan cairan
4. Resiko infeksi b.d prematuritas

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
DIAGNOSA NOC NIC RASIONAL
(00031) Setelah 1. Kaji frekuensi dan 1. Membantu dalam
Ketidak efektifan dilakukan pola pernapasan, membedakan periode
tindakan
pola nafas b.d perhatikan adanya perputaran pernapasan
keperawatan
apnea dan normal dari serangan
imaturitas pusat selama proses
perubahan apnetik sejati, terutama
pernapasan keperawatan
diharapkan pola frekwensi jantung. sering terjadi pada gestasi
nafas menjadi minggu ke-30
efektif.
KH : 2. Hisap jalan napas 2. Menghilangkan mukus
- Neonatus sesuai kebutuhan yang neyumbat jalan napas
akan
mempertaha
nkan pola 3. Posisikan bayi 3. Posisi ini memudahkan

15
pernapasan pada abdomen atau pernapasan dan
periodic posisi telentang menurunkan episode
- Membran dengan gulungan apnea, khususnya bila
mukosa popok dibawah ditemukan adanya
merah muda. bahu untuk hipoksia, asidosis
menghasilkan metabolik atau
hiperekstensi hiperkapnea

4. Tinjau ulang 4. Magnesium sulfat dan


riwayat ibu narkotik menekan pusat
terhadap obat- pernapasan dan aktifitas
obatan yang akan SSP
memperberat
depresi pernapasan
pada bayi

5. Pantau 5. Hipoksia, asidosis


pemeriksaan netabolik, hiperkapnea,
laboratorium hipoglikemia,
sesuai indikasi hipokalsemia dan sepsis
memperberat serangan
apnetik

6. Berikan oksigen 6. Perbaikan kadar oksigen


sesuai indikasi dan karbondioksida dapat
meningkatkan fungsi
pernapasan

7. Berikan obat- 7. Memperbaiki pola nafas


obatan yang sesuai
indikasi

16
(00002) Setelah 1. Kaji adanya alergi 1. Pemberian nutrisi yang
Ketidakseimbangan dilakukan makanan tepat
tindakan
nutrisi kurang dari
keperawatan
kebutuhan tubuh b.d selama 2. Kolaborasi dengan 2. Sesuai dengan kebutuhan
faktor biologis proses ahli gizi untuk pasien
keperawatan menentukan
(reflek menelan
diharapkan
lemah, imaturitas) nutrisi pasien jumlah kalori dan
terpenuhi nutrisi yang
sesuai dibutuhkan pasien.
kebutuhan
Dengan KH :
3. Anjurkan pasien 3. Mempertahan nutrisi
- Bayi
mendapatkan untuk pasien
kalori dan meningkatkan
nutrienesensi intake Fe
al yang
adekuat
4. Yakinkan diet 4. Makanan berserat
- Peningkatan
BB dalam yang dimakan mencegah konstipasi
kurva normal mengandung
dengan
tinggi serat untuk
penambahan
berat badan mencegah
tetap, konstipasi
sedikitnya
20-30 5. Berikan makanan 5. Agar tepat dalam
gram/hari.
yang terpilih ( pemberian.
sudah
dikonsultasikan
dengan ahli gizi)

6. Berikan makanan 6. Makanan sedikit tapi


sedikit tapi sering sering mudah ditoleransi
oleh lambung

17
(00028) Setelah 1. Bandingkan Pengeluaran harus 1-3
Resiko kekurangan dilakukan masukan dan ml/kg/jam. sementara
volume cairan b.d tindakan pengeluaran urin kebutuhan terapi cairan kira-
berat badan ekstrem keperawatan setiap shif dan kira 80-100 ml/kg/hari pada
dan factor yang selama proses keseimbangan hari pertama, meningkat
mempengaruhi keperawatan kumulatif setiap sampai 120-140 ml/kg/hari
kebutuhan cairan diharapkan periodic 24 jam pada hari ketiga post partum.
cairan terpenuhi Pengambilan darah untuk tes
KH : menyebabkan penurunan
- Bebas dari kadar Hb/Ht
tanda-tanda
dehidrasi 2. Pantau berat jenis Meskipun imaturitas ginjal
- Menunjukkan urin setiap selesai dan ketidaknyamanan untuk
peningkatan berkemihatau setiap mengonsentrasikan urine
BB 20-30 2-4 jam dengan biasanya mengakibatkan
gram/hari menginspirasi urin berat jenis yang rendah pada
dari popok bayi bila bayi preterm (rentang normal
bayi tidak tahan 1.006-1.013)
dengan kantong Kadar yang rendah
penampung urine menandakan volume cairan
berlebihan dan kadar
lebihbesar dari 1.013
menandakan
ketidakmampuan masukan
cairan dan dehidrasi.

3. Evaluasi turgor
Kehilangan atau perpindahan
kulit, membrane
cairan yang minimal dapat
mukosa dan
dengan cepat menimbulkan
keadaan fontanel
dehidrasi, terlihat oleh turgor
anterior
kulit yang buruk, membrane

18
mukosa kering, fontanel
cekung

4. Pantau tekanan
Kehilangan 25% volume
darah, nadi dan
darah mengakibatkan syok
tekanan arterial
dengan TAR <25 mmHg
rata-rata (TAR)
menandakan hipotensi
Dehidrasi meningkatkan
kadar Ht diatas normal 45-
53% kalium serum

5. Pantau pemeriksaan
Hipoglikemia dapat terjadi
laboraturium sesuai
karena kehilangan melalui
dengan indikasi HT
selang nasogastrik diare atau
muntah
(00004) Setelah 1. Kaji adanya tanda 1. Untuk mengetahui lebih
Resiko infeksi b.d dilakukan tanda infeksi dini adanya tanda-tanda
prematuritas tindakan terjadinya infeksi
keperawatan 2. Lakukan isolasi 2. Tindakan yang dilakukan
diharapkan bayi lain yang untuk meminimalkan
pasien tidak menderita infeksi terjadinya infeksi yang
mengalami sesuai kebijakan lebih luas
tanda-tanda insitusi
infeksi
3. Sebelum dan 3. Untuk mencegah
Kh :
setelah menangani terjadinya infeksi
- Suhu tubuh
bayi, lakukan
dalam batas
pencucian tangan
normal
- Tidak ada
4. Yakinkan semua 4. Untuk mencegah
tanda-tanda
peralatan yang terjadinya infeksi
infeksi

19
- Leukosit kontak dengan bayi
000-10.000 bersih dan steril

5. Cegah personal
5. Untuk mencegah
yang mengalami
terjadinya infeksi yang
infeksi menular
berlanjut pada bayi
untuk tidak kontak
langsung dengan
bayi.

20
BAB III
TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN
1. Identitas Data
a. Identitas pasien
Nama : By. A
TTL : Kudus, 14 -11-2016
Usia : 21 hari
Jenis kelamin : Laki-laki
Pendidikan :-
Alamat : Papringan 02/04 Kaliwungu Kudus
Agama : Islam
b. Identitas penanggung jawab
Nama : Tn. A
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan : SMA
Agama : Islam
Alamat : Papringan 02/04 Kaliwungu Kudus
Suku/bangsa : Jawa/Indonesia
Hubungan dengan klien :Ayah klien

2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama
Bayi berat lahir sangat rendah dengan BB 1150 gram
b. Riwayat kesehatan sekarang
Pasien baru pindahan dari IGD rujukan dari RSI tanggal 20 November 2016 jam
19.05 WIB dengan jenis kelamin laki laki, BBL 1090 gram dan BB sekarang 1150
gram , PB : 27 cm, apgar skor 3-4-5, tonus otot lemah. Hasil TTV : Nadi : 105 x/m,
RR : 44x/m, S : 37,9oC.

21
c. Riwayat masa lalu
1) Prenatal
Selama hamil, ibu klien sering mual, muntah dan kepala pusing, nutrisi
cukup terpenuhi dengan kehamilan premature, kesehatan saat hamil ibu klien
sering mengeluh pusing dan kadang meminum obat pereda pusing dari resep
dokter dan meminum vitamin.
2) Natal
Bayi lahir spontan atau normal di RSI Kudus dengan usia kehamilan 28 minggu.
3) Postnatal
Kondisi kesehatan lahir dengan bblsr atau berat badan lahir sangat rendah
dengan berat 1090 gram dan saat pengkajian BB 1150 gram, nilai APGAR skor
3-4-5 tidak ada kelainan kongenital.
4) Klien pernah dirawat di RSI dengan keluhan yang sama
5) Klien tidak pernah diberi obat selain dari resep dokter
6) Klien tidak mempunyai alergi
7) Klien sudah mendapatkan imunisasi Hb0

d. Riwayat keluarga
Tn. A mengatakan didalam keluarganya tidak ada yang memiliki riwayat penyakit
seperti yang dialami oleh klien saat ini.Keluarga juga tidak memiliki riwayat
penyakit seperti stroke, DM, TBC, hipertensi dan penyakit lainnya yang
membahayakan.

22
Genogram :

KETERANGAN:
: Laki-laki : garis pernikahan

: perempuan : garis keturunan

: ibu pasien : pasien

: ayah pasien : tinggal satu rumah

e. Riwayat sosial
Yang mengasuh by A adalah orangtuanya, by A refleks hisap sangat lemah,
lingkungan rumah aman dilengkapi dengan ventilasi disetiap ruangan
f. Keadaan kesehatan saat ini
By.A dengan diagnosa medis BBLSR, tidak ada tindakan operasi, saat
pengkajian pasien dalam inkubator, terpasang NCPAP, terpasang OGT, tidak
terpasang infus.
g. Obat-obatan
Tanggal 5 Desember 2016
- Similac : 2 x bungkus (200 gram)
- Prolacta : 1 x 100 mg
- Amoxsan (Drop) : 3 x 0,2 mg
- Kandistatin (Drop) : 3 x 0,5 mg
h. Diit
-ASI/PASI 22 cc/ 2 jam

23
i. Hasil Laboraturium
Tanggal : 28 November 2016
PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI SATUAN
HEMATOLOGI
Hema Rutin 5 Diff
Hemogloblin L 13.0 g/dl 13.4 - 19.8
Eritrosit 4.09 jt/ul 3.9 5.9
Hematokrit L 35.0 % 41 - 65
Trombosit H 453 103/ul 150 - 400
Lekosit 19.7 103/ul 1.0 21.0
Netrofil 57.6 % 50 - 70
Limfosit 25.3 % 25 - 40
Monosit 7.9 % 2-8
Eosinofil 3.9 % 2-4
Basofil 0.2 % 0-1
MCH H 31.8 Pg 27.0 31.0
MCHC H 37.1 g/dl 33.0 - 37.0
MCV 85.6 fL 79.0 99.0
RDW H 15.7 % 10.0 15.0
MPV H 11.5 fL 6.5 - 11.0
PDW 12.9 fL 10.0 - 18.0

3. Pengkajian pola fungsional menurut gordon


a. Persepsi kesehatan dan pola manajemen kesehatan
Status kesehatan anak sejak lahir dengan kondisi BBLSR

b. Nutrisi pola metabolic


Berat badan by. A lahir 1090 gr sekarang 1150 gr, pemberian makanan
mendapatkan susu formula sebagai tambahan dan makanan pokoknya ASI
sebanyak 22 cc/ 2 jam. Keaadaan kulit baik tidak ada rash dan lesi.
Status nutrisi keluarga baik dengan makan minum cukup, makan 3 kali sehari di
sertai menu nasi sayur dan lauk.

24
c. Pola Eliminasi
Pola eliminasi klien dengan BAB 1 kali sehari warna kehijauan ada
ampasnya dan bau yang khas, klien BAK ganti popok 2 kali sehari dengan
jumlah urin sebanyak 30 cc warna kekuningan dan bau yang khas.
Pola eliminasi orang tua baik dengan BAB 1-2 x/ hari dan BAK 3-4 x/
hari dengan warna dan bau yang khas serta tidak ada masalah.

d. Aktivitas-pola latihan
Klien mandi dengan di sibin setiap pagi hari , kebersihan klien dijaga
dengan mengganti popok dan pakaian secara rutin.

e. Pola istirahat / tidur


Pola istirahat tidur klien cukup baik dengan posisi tidur telentang,
gerakan tubuh klien aktif.Sedangkan pola istirahat tidur orang tua cukup
baik dengan tidur 7-8 jam.

f. Pola kognitif / persepsi


Responsive secara umum klien baik, kemampuan klien untuk
mengidentifikasi kebutuhan lapar, haus, nyeri dan rasa tidak nyaman dengan
menangis.
Orang tua klien tidak ada masalah dalam penglihatan, pendengaran,
sentuhan, pengecapan dan penciuman.

g. Pola persepsi diri - konsep diri


Klien sering menangis dalam keadaan haus, nyeri dan juga rasa
ketidaknyamanan.

h. Pola peran hubungan


Strukur keluarga merupkan keluarga inti yang terdiri dari ayah ibu dan anak,
tidak ada stresor keluarga.Klien merupakan anak pertama di keluarga tersebut.

25
i. Sexualitas
By.A berjenis kelamin laki-laki, alat kelamin bersih, tidak ada
kelainan.

j. Koping pola toleransi stres


Klien sering menangis diatasi dengan pemberian ASI.

k. Nilai pola keyakinan


Ibu klien mengatakan semua keluarganya adalah muslim, semua
mendoakan agar By.A cepat sembuh dan cepat berkumpil dengan
keluarganya kembali

4. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum klien lemah,kesadaran apatis (E 4,M 5, V 4 ), postur tubuh kurus
dengan BB saat lahir 1090 gr, BB saat ini 1150 gr.
b. Tanda vital, nadi 137x/menit, suhu 37,9oC, RR 44x/menit, SPO2 95 %
c. PB = 37 cm, BB = 1150 gr,
WAZ = 1,15-3,3/ 0.40 = -5,5. Berat badan sangat rendah
HAZ = 37-50,5/2.30 = - 5,9 Sangat pendek
Hasil interpretasi data = berat badan sangat rendah, dan sangat pendek
d. Lingkar kepala :27 cm
e. Lingkar lengan atas : 6 cm
f. Lingkar dada :28 cm
g. Kepala
Bentuk mesocepale,rambut hitam, ubun-ubun belum menutup, tidak ada lesi
di kulit kepala.
h. Mata
Bentuk kedua mata simetris, pada pupil terjadi miosis saat diberikan cahaya,
reflek berkedip tapi lemah, warna sklera bersih, gerakan bola mata normal.
i. Hidung
Bentuk hidung simetris,tidak didapatkan adanya pernafasan cuping hidung.

26
j. Mulut
Bentuk mulut simetris,mukosa bibir lembab, tidak ada stomatitis.
k. Telinga
Bentuk daun telinga simetris kanan dan kiri, tidak ada serumen.
l. Leher
Leher bayi normal, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, reflek menelan
masih lemah.
m. Dada
Dada kanan dan kiri simetris,pada dada ditemukan pernafasan yang regular
dan frekwensi pernafasan 44 x/menit.
n. Jantung
I = ictus cordis tidak tampak
Pa = ictus cordis teraba di intercosta 5 pada linex midclavicula sinistra
Pe = suara jantung redup
A = bunyi jantung s1 dan s2 reguler.
o. Paru-paru
I = penggunaan nafas perut
Pa = pengembangan paru kanan dan kiri sama
Pe = sonor
A = Vesikuler
p. Perut
I = simetris, tidak acites
A = peristaltik usus 16x/ menit
Pe = tympani
Pa = tidak ada pembesaran organ lain ( hati dan ginjal )
q. Punggung
Bentuk punggung simetris
r. Genitalia dan anus
Genitalia tampak bersih, tidak ada kelainan, warna kulit gelap dari warna
kulit sekitar, anus bersih.

27
s. Ekstremitas
Ekstremitas atas tidak tampak kelainan tulang, akral hangat,tidak terpasang
infus.
Ekstremitas bawah tidak tampak kelainan tulang, akral hangat,tidak terdapat
odema.
t. Kulit
Agak kering, warna sudah kemerahan, tidak ada bekas luka, terdapat lanugo,
tidak ada kelainan, tidak terdapat tanda lahir, CRT < 3 detik.

5. Pemeriksaan perkembangan
a. Blinking (+)
Bayi akan menutup kedua matanya ketika terkena Kilatan cahaya atau hembusan
udara
b. Darwinian (+)
Jari-jari mengatup, membentuk genggaman saat telapak tangan disentuh
c. Rooting (+)
Mulut akan langsung membuka dan melakukan gerakan seperti orang
mengisap (mengenyot) ketika disentuh pipi atau ujung mulutnya
d. Sucking (+)
Bayi langsung melakukan gerakan seperti mengisap bila ada objek
disentuhkan atau dimasukkan ke mulut
e. Reflek Morrow (+)
Kaget bila dikejutkan (tangan menggenggam).

28
B. ANALISA DATA
No DATA FOKUS PROBLEM ETIOLOGI

1 DS : Ibu pasien mengatakanASI Perubahan Tidak adekuatnya


saya keluar sedikit nutrisi persediaan zat
DO : kurang dari besi, kalsium,
A : BBL sebelum masuk 1090 gr kebutuhan metabolisme yang
BB sekarang 1150 gr tubuh tinggi dan intake
LK : 27 cm LILA : 6 cm yang kurang
LD : 28 cm PB : 37 cm adekuat
B : HB: 13,0 g/dL
Hematokrit : 35,0 %
C : Kulit tipis, warna kulit
kemerahan.
D : Intake Diit PASI 22cc/2 jam
Output 20 cc
Mukosa bibir kering
Terpasang OGT
2 DS : - Pola nafas Imaturitas Pusat
DO : tidak efektif pernafasan,
- RR : 44x/menit ketertebatasan
- SPO2 95% perkembangan
- Klien tampak sesak otot, penurunan
- Terpasang NCPAP FiO2 otot atau
35% kelemahan dan
- Adanya retraksi otot dada, ketidakseimbangan
metabolik.
3 DS : - Resiko Imaturitas fungsi
DO : tinggi termoregulasi atau
- Suhu : 37,9C hipertermi perubahan suhu
- Akral hangat lingkungan
- By. A berada dalam inkubator

29
C. DAFTAR MASALAH BERDASARKAN PRIORITAS DIAGNOSA
KEPERAWATAN
DIAGNOSA TANGGAL TANGGAL TTD
NO
KEPERAWATAN DITEMUKAN TERATASI
1 Perubahan nutrisi kurang dari 5 Des 2016 Belum
kebutuhan tubuh b/d tidak teratasi
adekuatnya persediaan zat
besi, kalsium, metabolisme
yang tinggi dan intake yang
kurang adekuat

2 Pola nafas tidak efektif b/d 5 Des 2016 Belum


Imaturitas Pusat pernafasan, teratasi
ketertebatasan perkembangan
otot, penurunan otot atau
kelemahan dan
ketidakseimbangan metabolik.

3 Resiko tinggi hipertermi b/d 5 Des 2016 7 Des 2016


Imaturitas fungsi
termoregulasi atau perubahan
suhu lingkungan

D. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

TUJUAN DAN
N TT
Dx KEP KRITERIA INTERVENSI RASIONAL
O D
HASIL
1 Nutrisi kurang Setelah 1. Berikan 1. Untuk
dari dilakukan ASI/PASI dengan memenuhi
kebutuhan tindakan metode yang kebutuhan
tubuh b/d keperawatan tepat nutrisi bayi
tidak selama 3x24 jam
adekuatnya diharapkan 2. Observasi dan 2. Melihat
persediaan zat nutrisi adekuat catat toleransi perkembangan
besi, kalsium, dengan kh : minum bayi untuk
metabolisme 1. Berat badan naik minum
yang tinggi 10-30 gram /

30
dan intake hari 3. Timbang berat 3. Melihat
yang kurang 2. Tidak ada edema badan setiap hari perkembangan
adekuat 3. Protein dan berat badan
albumin darah bayi
dalam batas 4. Catat intake dan 4. Untuk
normal output mengetahui
pemasukan
dan
pengeluaran

5. Kolaborasi dalam 5. Untuk


pemberian obat menambah
berat badan

2 Pola nafas Setelah 1. Berikan posisi 1. Membuka


tidak efektif dilakukan kepala sedikit jalan nafas
tindakan ekstensi
b/d Imaturitas
keperawatan
Pusat selama 3x24 jam 2. Berikan oksigen 2. Membantu
pernafasan, diharapkan pola dengan metode memenuhi
nafas efektif yang sesuai kebutuhan O2
ketertebatasan
dengan kH :
perkembangan 1. Kebutuhan O2
otot, tercukupi 3. Observasi irama, 3. Mengetahui
2. Nafas spontan, kedalaman dan perkembangan
penurunan
adekuat frekuensi paru bayi
otot atau 3. Tidak sesak. pernafasan
kelemahan 4. Tidak ada
retraksi 4. Tinjau ulang
dan 4. Obatan-obatan
riwayat ibu
ketidakseimba terhadap obat- yang seperti
ngan obatan magnesium
dan narkotik
metabolik. dapat menekan
sistem saraf
pusat

5. Kolaborasi dalam
5. Memperbaiki

31
pemberian obat pola nafas

3 Resiko tinggi Setelah 1. Rawat bayi 1. Untuk


hipertermi b/d dilakukan dengan suhu menghindari
Imaturitas tindakan lingkungan sesuai hipotermi/hipe
fungsi keperawatan rtermi
termoregulasi selama 3x24 jam 2. Hindarkan bayi 2. Untuk
atau diharapkan kontak langsung menghindari
perubahan hipotermi/hipert dengan benda hipotermi/hipe
suhu ermi tidak terjadi sebagai sumber rtermi
lingkungan dengan kh : dingin/panas
0
1. Suhu 36,5 C - 3. Ukur suhu bayi 3. Untuk
37,2 0C setiap 3 jam mengetahui
2. Akral hangat suhu bayi

4. Ganti popok bila 4. Mencegah


basah terjadinya
hipotermi

5. Kolaborasi 5. Untuk
dalam mempercepat
pemberian
penyembuhan
obat

E. PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

N NO
TGL/JAM TINDAKAN RESPON TTD
O DX.KEP
1 5/12/16 1 1. Memberikan 1. S : -
Jam 08.00 ASI/PASI O :By.A diberikan
dengan metode diit ASI/PASI
yang tepat 22cc/2jam

Jam 08.15 2. Mengobservasi 2. S : -


dan catat O : By. A minum
toleransi minum diberikan lewat
OGT
Jam 09.00 3. Menimbang 3. S : -
berat badan O : BB 1150 gram

32
setiap hari
Jam 09.30 4. Mencatat intake 4. S : -
dan output O : Intake 22cc/2
jam, Output 20 cc
Jam 12.00
5. Memberikan 5. S : -
obat O:Obat masuk
Similac
Prolacta
1x100mg/oral

2 Jam 09.00 2 1. Memberikan 1. S :


posisi kepala O : Posisi kepala
sedikit ekstensi bayi sedikit
ekstensi

Jam 09.10 2. Memberikan 2. S : -


oksigen dengan O : By. A
metode yang terpasang NCPAP
sesuai
3. Mengobservasi 3. S : -
Jam 10.00 O : By.A tampak
irama,
kedalaman dan sesak, RR
frekuensi 44x/m,adanya
pernafasan retraksi otot dada

Jam 14.00 4. Tinjau ulang 4. S : Ibu klien


riwayat ibu mengatakan
terhadap obat- tidak pernah
obatan minum obat
obatan(magnisium
dan narkotika)
O:-

Jam 12.00 5. Memberikan 5. S : -


obat O : Obat masuk
Amoxan
3x0,2mg/oral
3 Jam 10.15 3 1. merawat bayi 1. S : -
dengan suhu O : By. A berada

33
lingkungan sesuai dalam inkubator
dengan suhu
32,5C
Jam 10.20
2. menghindarkan 2. S : -
bayi kontak O : Bayi berada
langsung dengan dalam inkubator
benda sebagai yang hangat
sumber
dingin/panas
Jam 10.30 3. mengukur suhu 3. S : -
bayi setiap 3 jam O : Suhu bayi
atau kalau perlu 37,9C
Jam 12.00
4. mengganti popok 4. S : -
bila basah O : Popok sudah
diganti
Jam 12.05 5. memberikan obat 5. S : -
pamol 1x1 tts/oral O : Obat masuk

N NO
TGL/JAM TINDAKAN RESPON
O DX.KEP
1 6/12/16 1 1. Memberikan 1. S : -
Jam 08.00 ASI/PASI dengan O :By.A diberikan
metode yang tepat diit ASI/PASI
22cc/2jam

Jam 08.15 2. Mengobservasi 2. S : -


dan catat toleransi O : By. A minum
minum diberikan lewat
OGT

3. Menimbang berat 3. S : -
Jam 08.20
badan setiap hari O : BB 1150 gram

Jam 09.30 4. Mencatat intake 4. S : -


dan output O : Intake 22cc/2
jam, Output 20 cc

Jam 12.00 5. Memberikan obat 5. S : -


Similac O:Obat masuk

34
Prolacta
1x100mg/oral

Jam 09.00 2 1. Memberikan 1. S :


posisi kepala O : Posisi kepala
sedikit ekstensi bayi sedikit ekstensi
Jam 09.10
2. Memberikan 2. S : -
oksigen dengan O : By. A terpasang
metode yang NCPAP
sesuai
Jam 10.00 3. Mengobservasi 3. S : -
irama, kedalaman O : By.A tampak
dan frekuensi sesak, RR
pernafasan 44x/m,adanya
retraksi dada

Jam 14.00 4. Memberikan obat 4. S : -


Amoxan O : Obat masuk
3x0,2mg/oral

Jam 10.15 3 1. merawat bayi dengan 1.


S:-
suhu lingkungan O : By. A berada
sesuai dalam inkubator
dengan suhu 32,5C
Jam 10.20 2. menghindarkan bayi 2. S : -
kontak langsung O : Bayi berada
dengan benda dalam inkubator
sebagai sumber yang hangat
dingin/panas
3. mengukur suhu bayi 3. S : -
Jam 10.30
setiap 3 jam atau O : Suhu bayi
kalau perlu 37,9C

Jam 12.00 4. mengganti popok 4. S : -

35
bila basah O : Popok sudah
diganti
Jam 12.05 5. memberikan obat 5. S : -
pamol 1x1 tts/oral O : Obat masuk

N TGL/JAM NO TINDAKAN RESPON


O DX.KEP
1 7/12/16 1 1. Memberikan 1. S : -
Jam 08.00 ASI/PASI dengan O :By.A diberikan
metode yang tepat diit ASI/PASI
22cc/2jam
Jam 08.15 2. Mengobservasi 2. S : -
dan catat toleransi O : By. A minum
minum diberikan lewat
OGT

Jam 08.20 3. Menimbang berat 3. S : -


badan setiap hari O : BB 1150 gram

Jam 09.30 4. Mencatat intake 4. S : -


dan output O : Intake 22cc/2
jam, Output 20 cc
Jam 12.00 5. Memberikan obat 5. S : -
Similac O:Obat masuk
Prolacta
1x100mg/oral

2 Jam 09.00 2 1. Memberikan 1. S :


posisi kepala O : Posisi kepala
sedikit ekstensi bayi sedikit ekstensi

Jam 09.10 2. Memberikan 2. S : -


oksigen dengan O : By. A terpasang
metode yang NCPAP
sesuai
Jam 10.00 3. Mengobservasi 3. S : -
irama, kedalaman O : By.A tampak
dan frekuensi sesak, RR
pernafasan 44x/m,adanya
retraksi dada

36
Jam 14.00 4. Memberikan obat 4. S : -
Amoxan O : Obat masuk
3x0,2mg/oral

3 Jam 10.15 3 1. merawat bayi 1. S : -


dengan suhu O : By. A berada
lingkungan sesuai dalam inkubator
dengan suhu 32,5C
Jam 10.20 2. menghindarkan bayi 2. S : -
kontak langsung O : Bayi berada
dengan benda dalam inkubator
sebagai sumber yang hangat
dingin/panas
Jam 10.30 3. mengukur suhu bayi 3. S : -
setiap 3 jam atau O : Suhu bayi
kalau perlu 37,9C

Jam 12.00 4. mengganti popok 4. S : -


bila basah O : Popok sudah
diganti
5. memberikan obat 5. S : -
Jam 12.05
pamol 1x1 tts/oral O : Obat masuk

F. CATATAN PERKEMBANGAN

NO
NO TGL/JAM EVALUASI TTD
DX.KEP
1 5 Desember 1 S:
2016 Ibu pasien mengatakanASI
saya masih keluar sedikit
Jam 14.00
O:
A : BBL sebelum masuk
1090 gr
BBL sekarang 1150
gr
LK : 27 cm LILA : 6
cm
LD : 28 cm PB : 37

37
cm
B : HB: 13,0 g/dL
Hematokrit : 35,0 %
C : Kulit tipis, warna kulit
kemerahan.
D : Intake Diit PASI 22cc/2
jam
Output 20 cc
- Mukosa bibir kering
Terpasang OGT
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Tetap berikan ASI/PASI
dengan metode yang tepat
2. observasi dan catat
toleransi minum
3. Timbang berat badan
setiap hari
4. Catat intake dan output
5. Kolaborasi dalam
pemberian obat

38
Tanggal 2 S:-
5/12/16 O:
Jam 14.05 - RR : 40x/menit
- SPO2 95%
- FiO2 35%
- Klien tampak sesak
- Terpasang NCPAP
- FiO2 35%
- Adanya retraksi otot dada
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. pertahankan posisi kepala
sedikit ekstensi
2. lanjutkan pemberian
oksigen dengan metode
yang sesuai
3. observasi irama,
kedalaman dan frekuensi
pernafasan
4. kolaborasi dalam
pemberian obat

Tanggal 3 S:-
5/12/16 O:
Jam 14.10 - Suhu : 37,9C
- Akral masih hangat
- By. A masih berada dalam
inkubator
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Rawat bayi dengan
suhu lingkungan sesuai
2. Hindarkan bayi kontak
langsung dengan benda
sebagai sumber
dingin/panas
3. Ukur suhu bayi setiap
3 jam

39
4. Ganti popok bila basah
5. Kolaborasi dalam
pemberian obat

2 6 Desember 1 S: Ibu pasien mengatakanASI


2016
saya masih keluar sedikit
Jam 14.00
O:
A : BBL sebelum masuk
1090 gr
BBL sekarang 1150
gr
LK : 27 cm LILA :
6 cm LD : 28 cm
PB : 37 cm
B : HB: 13,0 g/dL
Hematokrit : 35,0 %
C : Kulit tipis, warna kulit
kemerahan.
D : Intake Diit PASI 22cc/2 jam
Output 30 cc/7 jam
- Mukosa bibir kering
- Terpasang OGT
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Tetap berikan ASI/PASI
dengan metode yang tepat
2. observasi dan catat
toleransi minum
3. Timbang berat badan
setiap hari
4. Catat intake dan output
5. Kolaborasi dalam

40
pemberian obat
Tanggal 2 S:-
6/12/16
O:
Jam 14.05
- RR : 39x/menit
- SPO2 90%
- FiO2 35%
- Terpasang NCPAP FiO2
35%
- Adanya retraksi otot dada,
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. pertahankan posisi kepala
sedikit ekstensi
2. lanjutkan pemberian
oksigen dengan metode
yang sesuai
3. observasi irama,
kedalaman dan frekuensi
pernafasan
4. kolaborasi dalam
pemberian obat

Tanggal 3 S:-
6/12/16
O:
Jam 14.10
- Suhu : 37,4C
- Akral masih hangat
- By. A masih berada dalam
inkubator
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi

41
1. Ukur suhu bayi setiap 3
jam atau kalau perlu
2. Ganti popok bila basah
3. Kolaborasi dalam
pemberian obat

3 7 Desember 1 S:
2016
Ibu pasien
Jam 14.00
mengatakanASI saya
masih keluar sedikit
O:
A : BBL sebelum masuk
1090 gr
BBL sekarang 1150 gr
LK : 27 cm LILA :
6 cm
LD : 28 cm PB : 37
cm
B : HB: 13,0 g/dL
Hematokrit : 35,0 %
C : Kulit tipis, warna kulit
kemerahan.
D : Intake Diit PASI 22cc/2
jam
Output 20 cc /7 jam
- Mukosa bibir kering
Terpasang OGT
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Tetap berikan ASI/PASI
dengan metode yang tepat

42
2. observasi dan catat
toleransi minum
3. Timbang berat badan
setiap hari
4. Catat intake dan output
5. Kolaborasi dalam
pemberian obat

Tanggal 2 S:-
7/12/16
O:
Jam 14.10
- RR : 38x/menit
- SPO2 95%
- Sudah tidak terpasang
NCPAP
- Terpasang nasal kanula
liter
- FiO2 30%
A : Masalah belum teratasi
P : Pertahankan intervensi
1. pertahankan posisi kepala
sedikit ekstensi
2. lanjutkan pemberian
oksigen dengan metode
yang sesuai
3. observasi irama,
kedalaman dan frekuensi
pernafasan
4. kolaborasi dalam
pemberian obat
3 S:-
O:
- Suhu : 36,8C
- Akral masih hangat

43
- By. A masih berada dalam
inkubator
A : Masalah teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Rawat bayi dengan
suhu lingkungan sesuai
2. Hindarkan bayi kontak
langsung dengan benda
sebagai sumber
dingin/panas
3. Ukur suhu bayi setiap 3
jam atau kalau perlu
4. Ganti popok bila basah
5. Kolaborasi dalam
pemberian obat

44
BAB IV
PEMBAHASAN

Sejak tahun 1961 WHO telah mengganti istilah prematurits dengan Bayi Berat Lahir
Rendah (BBLR) hal ini dilakukan karena tidak semua bayi yang berat kurang dari 2500 gram
pada waktu lahir bayi prematur (Rustam 1998). Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR)
adalah bayi lahir dengan berat lahir < 1500 gram.
Pada asuhan keperawatan yang kami buat antara tinjauan teori dengan tinjauan kasus tidak
terjadi kesenjangan. By A usia 21 hari mengalami berat badan lahir sangat rendah yaitu 1150
gram yang mana pada tinjauan teori kategori BBLSR yaitu adalah bayi lahir dengan berat lahir <
1500 gram.
By A lahir pada usia kehamilan 28 minggu,dimana pada masa prenatal ibu sering mual,
muntah dan kepala pusing, nutrisi cukup terpenuhi dengan kehamilan prematur.bayi lahir
spontan dengan kondisi BBLSR aatau berat badan lahir sangat rendah dengan berat 1090 gram
dan nilai APGAR SCORE 3-4-5, tidak ada kelainan kongenital. By.A dengan diagnosa medis
BBLSR tidak ada tindakan operasi, By. A berada dalam inkubator, terpasang NCPAP, OGT dan
tidak terpasang infus. By. A mendapat terapi obat Similac 2 x bungkus (200 gram),Prolacta 1
x 100 mg, Amoxsan (Drop)3 x 0,2 mg, Kandistatin (Drop) 3 x 0,5 mg. By. A mendapat diit
ASI/PASI 22 cc/ 2 jam.
Berdasarkan study kasus BBLSR pada By. A di ruang PICU NICU RSUD dr
LOEKMONO HADI Kudus, di temukan beberapa masalah keperawatan yaitu:
1. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d tidak adekuatnya persediaan zat besi, kalsium,
metabolisme yang tinggi dan intake yang kurang adekuat
2. Pola nafas tidak efektif b/d Imaturitas Pusat pernafasan, ketertebatasan perkembangan otot,
penurunan otot atau kelemahan dan ketidakseimbangan metabolik.
3. Resiko tinggi hipertermi b/d Imaturitas fungsi termoregulasi atau perubahan suhu lingkungan.
Sedangkan masalah keperawatan pada teori :
1. Pola nafas yang tidak efektif berhubungan dengan imaturitas pusat pernapasan, keterbatasan
perkembangan otot penurunan otot atau kelemahan, dan ketidakseimbangan metabolic
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan penurunan
simpanan nutrisi, imaturitas produksi enzim, otot abdominal lemah, dan refleks lemah.

45
3. Resiko infeksi yang berhubungan dengan pertahanan imunologis yang tidak efektif
4. Resiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan usia dan berat ekstrem,
kehilangan cairan berlebihan (kulit tipis), kurang lapisan lemak, ginjal imatur/ kegagalan
Dari beberapa diagnosa yang di temukan, ada beberapa diagnosa yang tidak muncul pada
teori diantaranya yaitu:
1. Gangguan thermoregulasi : hipertermi berhubungan dengan cairan yang yang di peroleh
atau sediaan cairan dalam tubuh bayi.
Pada implementasi tanggal 5-7 Desember 2016 telah dilakukan tindakan keperawatan
sesuai dengan diagnosa 1 yaitu berikan ASI/PASI dengan metode yang tepat, observasi dan catat
toleransi minum, timbang berat badan setiap hari, catat intake dan output, kolaborasi dalam
pemberian obat. Tindakan keperawatan pada diagnosa 2 yaitu berikan posisi kepala sedikit
ekstensi, berikan oksigen dengan metode yang sesuai, observasi irama, kedalaman dan frekuensi
pernafasan, tinjau ulang riwayat ibu terhadap obat-obatan, kolaborasi dalam pemberian obat.
Tindakan keperawatan pada diagnosa 3 yaitu rawat bayi dengan suhu lingkungan sesuai,
hindarkan bayi kontak langsung dengan benda sebagai sumber dingin/panas, ukur suhu bayi
setiap 3 jam, ganti popok bila basah, kolaborasi dalam pemberian obat. Tindakan keperawatan
tersebut dilakukan selama 24 jam dalam 3 hari sesuai dengan jadwal shift masing-masing
anggota kelompok 4 di ruang PICU NICU RSUD dr LOEKMONO HADI Kudus. Evaluasi
dilakukan selama 3 hari pada tanggal 5-7 Desember 2016. Pada tanggal 5/12/2016 masalah
keperawatan pada diagnosa 1-3 belum teratasi dan dilanjutkan intervensi. Pada tanggal
6/12/2016 masalah keperawatan pada diagnosa 1-3 belum teratasi dan dilanjutkan intervensi.
Pada tanggal 7/12/2016 masalah keperawatan pada diagnosa 1dan 2 belum teratasi dan di
lanjutkan intervensi, sedangkan pada diagnosa 3 sudah teratasi dan pertahankan intervensi.

46
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kelompok melakukan asuhan keperawatan pada By A dari tanggal 5-7 Desember
2016, kelompok mendapatkan :
Pengumpulan data yang akurat akan mempermudah dalam pemberian asuhan
keperawatan.
Dalam memberikan asuhan keperawatan diperlukan ketelitian agar bisa menekan
kemungkinan resiko akan terjadi BBLSR.
Dalam memberikan asuhan keperawatan harus menjalin hubungan baik dengan
keluarga dan ibu bayi agar tercipta suasana yang harmonis dan saling percaya.

B. Saran
1. Bagi rumah sakit
Diharapkan kepada pihak Rumah Sakit agar dapat membantu membantu
penerapan atau penatalaksanaan bayi dengan BBLSR dan menurunkan angka
kematian perinatal.
2. Bagi Tenaga Kesehatan
Diharapkan bagi tenaga kesehatan agar dapat menambah wawasan dalam upaya
preventif pada kasus bayi dengan berat badan lahir sangat rendah
3. Bagi Mahasiswa
Diharapkan dapat menerapkan ilmu yang diperoleh dari asuhan keperawatan pada
BBLSR dalam praktek klinik
4. Bagi Keluarga
Agar segera membawa bayi ke pelayanan kesehatan apabila terdapat keluhan serta
kelainan yang dirasakan
Dalam anamnesa pasien mampu memberikan data yang sebenarnya

47
DAFTAR PUSTAKA

Arief dan Kristyanasari, Weni. 2009. Neonatus & Asuhan Keperawatan Anak. Yogyakarta :
Nuha Medika

Bulechek, dkk.2016.Nursing Interventions Classification (NIC).Edisi ke-6.Mosby : Elsevier.

Departemen Kesehatan RI. (2010). Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) dan Laporan Nasional
2010. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Hanifa. 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.

Maryunani, Anik. 2009. Asuhan Pada Ibu Dalam Masa Nifas (PostPartum). Jakarta: TIM

Moorhead, dkk. 2016. Nursing Outcomes Classification (NOC).edisi ke 5. Mosby : Elsevier.

Nanda Internasional. 2015. Diagnosis Keperawatan 2015-2017. EGC. Jakarta

Nurarif, Amin Huda & Kusuma, Hardi. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & NANDA NIC NOC Jilid 2.Jakarta:EGC

Pantiawati dkk.2010.Asuhan Kebidanan 1.Jakarta:Nuha Medika

Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo

Rahayu, Sri Dedeh. 2010. Asuhan Keperawatan Anak dan neonatus.Jakarta: Salemba Medika.

Sylviati M, 2008. Klasifikasi Bayi Menurut Berat Lahir dan Masa Gestasi. In: Sholeh Kosim,
dkk. Buku Ajar Neonatologi. Jakarta: Badan Penerbit IDAI, 11-30.