Anda di halaman 1dari 37

HASIL PENELITIAN

KEDUDUKAN HARTA DAN PENGELOLAANNYA


MENURUT PERSPEKTIF AL-QURAN: TINJAUAN TAFSIR SURAH
AL-KAHFI AYAT 46

Disusun Oleh:

Nashr Akbar, M.Ec

SEKOLAH TINGGI EKONOMI ISLAM TAZKIA


BOGOR
1437 H/2017 M
Abstraksi

Harta menjadi isu pokok bahasan dalam kajian ekonomi. Perbedaan


pemahaman antara kapitalisme dan sosialisme juga bermuara kepada
perbedaan pandangan tentang kepemilikan harta. Ekonomi Islam mesti memiliki
pandangan yang berbeda dengan kedua paham ekonomi tersebut lantaran
perbedaan landasan nilai yang menjadi pondasi dalam paham ekonomi.
Penelitian ini bertujuan mendapatkan pemahaman yang tepat tentang
kedudukan harta dan pengelolaannya dalam perspektif Islam. Metode yang
digunakan adalah pendekatan tafsir tahlili, tepatnya tafsir ilmi (ekononomi)
terhadap surah al-Kahfi ayat 46. Hasilnya menunjukkan bahw kedudukan harta
dalam Islam adalah sebagai perhiasan dunia. Dalam pengelolaannya, harta
mesti ditransformasikan menjadi baqiyat shalihat, karena hal itu adalah yang
lebih baik di sisi Allah. Oleh karena itu, pengelolaan harta Islami mesti
melibatkan lima proses: 1) wealth creation, 2) wealth Consumption, 3) wealth
Purification, 4) wealth Distribution, 5) Wealth Protection.

Kata Kunci: Harta, Islam, tafsir


BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Harta menjadi isu pokok bahasan dalam kajian ekonomi. Pembahasan tentang harta
meliputi status kepemilikan harta, cara mendapatkan harta dan cara mendistribusikan harta.
Pembahasan harta menjadi sangat sentral, lantaran ia sering kali menjadi sumber konflik
dalam hubungan antar manusia. Di tingkat keluarga, harta warisan senantiasa menjadi hal
yang diperebutkan. Atas dasar ini pula, Allah SWT memberikan solusi yang tegas terkait
pembagian harta waris yang tercantum di beberapa ayat al-Quran. Di tingkat negara,
perebutan kekuasaan pun tak terlepaskan dari perebutan harta. Penjajahan juga seringkali
dipicu oleh keinginan untuk menguasai sumber daya alam yang terdapat di negara lain.

Dalam kajian ilmu ekonomi, dikenal dua paham ekonomi yang saling bertentangan,
yakni kapitalisme dan sosialisme. Perseteruan di antara keduanya masih berlanjut hingga saat
ini. Pembahasan mendasar dari kedua ideologi di atas adalah terkait pandangannya tentang
harta. Bagi kapitalisme, harta adalah milik setiap individu masyarakat. Harta didapatkan atas
hasil kerja kerasnya, sehingga dia berhak sepenuhnya atas pembelanjaan harta yang dimiliki.
Kaya dan miskin bergantung usahanya dalam mencari harta. Berbeda hal nya dengan
sosialisme, mereka berpandangan bahwa harta harusnya dimiliki bersama oleh semua negara.
Dalam hal ini, negara bertindak sebagai wakil dari masyarakat untuk mengelola harta
tersebut. Harta akan didistribusikan secara merata kepada masyarakat.

Kepemilikan harta pun berdampak kepada status sosial. Mereka yang memiliki harta
berlimpah (baca: kaya) akan mendapatkan strata sosial yang lebih tinggi dari mereka yang
kekurangan harta (baca: miskin). Misalnya, Di Eropa pada abad pertengahan dikenal sistem
feodal, dimana para bangsawan adalah mereka yang memilihi lahan pertanian yang luas atau
disebut tuan tanah, sedangkan mereka yang bekerja di lahan tersebut adalah para buruh tani
atau budak yang dikenal dengan sebutan vassal.

Munculnya perbedaan strata sosial ini dapat menimbulkan konflik yang lebih serius,
terutama ketika kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin semakin melebar. Hal ini
yang menjadi titik awal kritik dari paham sosialime kepada paham kapitalisme. Salah satu
kritik mendasar dari sosialisme adalah pandangannya tentang dialektika materialime. Dalam
teori ini dijelaskan bahwasanya eksploitasi yang dilakukan oleh kaum pemodal terhadap para
buruh akan menyebabkan akumulasi kapital yang semakin besar di tangan para pemodal,
sedangkan daya beli para buruh akan semakin rendah. Terkonsentrasinya kekayaan pada
orang kaya dan semakin melaratnya kaum proletar mendorong terjadinya revolusi sosial. Hal
ini akan berdampak kepada hancurnya kapitalisme itu sendiri.1

Meski demikian, pandangan kapitalisme dan sosialisme memiliki kesamaan yang


perlu dikritisi. Kedua paham tersebut meletakkan harta sebagai tujuan utama. Keduanya
sama-sama materealistis atau disebut dengan paham materialisme. Segala sesuatu dijelaskan
dengan proses-proses materiil. Perasaan manusia dan nilai-nilai diangggap sebagai sebuah
ilusi yang tidak dapat dibuktikan oleh fakta. Semua kegiatan ekonomi difokuskan untuk
mendapatkan penguasaan harta yang lebih besar. Kedua paham di atas tidak berasaskan
kepada nilai-nilai agama (value-free). Mereka memisahkan antara agama dan urusan ekoomi
(sekularisme).2

Hal ini tentunya berbeda dengan ekonomi Islam, dimana Islam memiliki sejumlah
nilai dalam menyikapi harta. Nilai-nilai yang didasarkan kepada al-Quran dan Sunnah.
Sementara paham sosialisme dan kapitalisme adalah hasil pemikiran manusia yang bebas
nilai. Karl Max sendiri menyatakan bahwa agama adalah ciptaan dari manusia baik secara
sadar maupun tidak sadar. Agama adalah candu bagi masyarakat. Ia adalah ekspresi
penderitaan manusia ataupun protes terhadap penderitaannya.3

Pembahasan tentang harta dalam perspektif Islam telah banyak dilakukan oleh para
cendekiawan, diantaranya adalah penelitian Wahid (2014), Ismail, et al (2015), Salleh (2012),
Farooq (2014), Islam (1999), serta Kamri dan Daud (2011). Satu hal yang membedakan
antara penelitian ini dengan penelitian sebelumnya, yakni pendekatan yang digunakan.
Penelitian terdahulu pada umumnya, membahas harta dalam rangka kritik terhadap
kapitalisme dan soialisme ataupun mengkaji harta dengan survei literatur Islam. Selain itu,
penelitian yang dilakukan oleh Wahid (2014) adalah kajian harta berdasarkan tafsir tematik.
Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggali salah satu ayat al-
Quran yang berbicara tentang harta kemudian dijabarkan dengan memperhatikan pendapat-
pendapat para ahli tafsir. Ayat al-Quran yang akan diteliti adalah surah al-Kahfi ayat 46.
Ayat ini memiliki makna yang komprehensif dalam menjelaskan fungsi harta, kedudukannya
dan juga pengelolaannya.

1
Deliarnov 2009), Perkembangan Pemikiran Ekonomi, Jakarta: Rajawali Pers, p. 81
2
Lihat chapra, M. Umer (2000), Islam dan Tantangan Ekonomi, Gema Insani Press
3
Marx, karl (1843), a contribution to the critique of Hegels Philosophy of Right. www.marxists.org
1.2 Rumusan Masalah

Berlandaskan permasealahan di atas, ada beberapa rumusan masalah dalam penelitian ini:

1) Apakah pandangan surah al-Kahfi ayat 46 tentang kedudukan harta?


2) Apakah pandangan surah al-Kahfi ayat 46 tentang pengelolaan harta?

1.3 Tujuan Penelitian


1) Mengetahui pandangan surah al-Kahfi ayat 46 tentang kedudukan harta
2) Mengetahui pandangan surah al-Kahfi ayat 46 tentang pengelolaan harta

1.4 Kontribusi Penelitian

Penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam memahami harta
yang merupakan hal paling esensial dalam kajian ekonomi. Kajian tafsir atas ayat tertentu
dapat menghasilkan pandangan yang original ekonomi Islam tentang harta, yakni tidak
mengikuti kerangka berpikir paham konvensional. Lebih lanjut, hasil kajian dapat
memperkuat posisi ilmu ekonomi Islam sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Harta

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, definisi harta dijelaskan dengan dua
pengertian: 1) barang (uang dan sebagainya) yang menjadi kekayaan; barang milik seseorang,
2) kekayaan berwujud dan tidak berwujud yang bernilai dan yang menurut hukum dimiliki
perusahaan.

Dalam bahasa arab harta diungkapkan dengan istilah al-Maal. Kata al-maal
bermakna apapun yang engkau miliki dari segala sesuatu. Bentuk plural dari maal adalah
amwal. Menurut Ibnu Atsir pada awalnya harta adalah sesuatu yang dimiliki berupa emas dan
perak, kemudian pengertian ini diperluas kepada berbagai barang yang dimiliki. Bagi
masyarakat Arab kata harta umumnya merujuk kepada unta karena ia adalah harta yang
paling banyak dimiliki oleh bangsa Arab.4

Di dalam al-Quran, kata maal/al-maal (bentuk singular) disebutkan sebanyak 23 kali,


sedangkan kata amwal/al-amwal (bentuk plural) disebutkan sebanyak 56 kali, dan satu kali
dalam bentuk yang lain (maaliyah).5. Selain itu, masih ada beberapa kata di dalam al-Qruan
yang bermakna harta, seperti fadl dan khoir.

2.2 Definisi Tafsir

Menurut Ayyub, tafsr secara etimologi berarti penjelasan. Salah satu ayat Al-Qurn
yang menjelaskan kata tafsr yang bermakna menjelaskan atau penjelasan sebagaimana
disebutkan di atas adalah firman Allah Swt: 6

Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil,
melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.
(QS. al-Furqn: 33)

4
Lisanul arab vol. 11 hal . 635
5
Lihat al-Hasani, Fathurrahman li thaalibi aayaatil Quran, maktabah Dahlan.
6
Hasan Ayyub, Ulm al-Qurn wa al-Hadts (Kairo: Dr As-Salm, 2004), hal. 13
Pengertian tafsr secara terminologi menurut Yunus adalah ilmu yang mempelajari
tentang penjelasan makna-makna yang terkandung dalam al-Qurn serta menggali hukum,
hikmah, mauizhah (nasehat) serta pelajaran yang terpendam di dalamnya.7 Definisi yang
lebih sederhana dikemukakan oleh Az- Zarqni:

Tafsr adalah sebuah ilmu yang membahas tentang al-Qurn dari segi
petunjuknya terhadap apa yang dikehendaki oleh Allah dari al-Qurn tersebut
sesuai dengan kemampuan manusia

Dalam definisi yang dikemukakan oleh Az-Zarqni di atas disebutkan bahwa manusia
bisa menafsirkan al-Qurn sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Oleh karena
itulah menurut dia, seorang mufassir (ahli tafsir) tidak dituntut untuk mengetahui arti dari
ayat-ayat mutasybiht. Begitu pula seorang mufassir tidak dituntut untuk mengetahui apa
yang sebenarnya dikehendaki oleh Allah dari al-Qurn tersebut. Hal ini mengingat hanya
Allah-lah yang mengetahui apa yang sebenarnya Allah kehendaki dari ayat-ayat al-Qurn
tersebut.8

Pada dasarnya, tafsr dan tawl merupakan dua kata yang sinonim dalam segi bahasa, di
mana keduanya memiliki arti yang sama yaitu menjelaskan atau penjelasan. Namun, dalam
teminologi ilmu tafsir, ulama berbeda pendapat tentang masalah tafsr dan tawl tersebut.
Menurut sebagian ulama, tafsr dan tawl merupakan kata yang sinonim (muraadif). Di
antara ulama yang mengatakan hal ini adalah Abu Ubaid dan Ath-Thabari, sedangkan
menurut sebagian yang lain tafsr berbeda dengan tawl. Pendapat yang terakhir ini juga
mengalami ketidaksamaan tentang letak perbedaan antara tafsr dan tawl tersebut. Salah
satunya, bahwa tafsr menjelaskan maksud yang dikehendaki dari sebuah lafazh, sedangkan
tawl menjelaskan hakikat dari maksud yang dikehendaki tersebut. Salah satu contohnya
adalah firman Allah Swt



Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi (Qs. Al- Fajr: 14)

Kata al-mirshad dalam ayat tersebut berasal dari kata ar-rashd yang memiliki arti ar-
raqabah yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan dengan pengawasan. Dengan
demikian, tafsr dari ayat tersebut adalah bahwasanya Allah adalah Dzat Yang Maha

7
Muhammad kabir Yunus, Dirst fi Ushl At-Tafsr (Tharablusy: Kuliyyah Ad- Dawah al-Islmiyyah, 2002),
hal. 12
8
Az-Zarqni, Manhil al-Irfn fi Ulm al-Qurn (Libanon: Dr al-Fikri, 1996), vol. 2, hal. 4-5
Mengawasi. Penjelasan tafsr ayat diatas berbeda dengan penjelasan tawl yang
menerangkan bahwasanya ayat di atas memperingatkan agar tidak meremehkan urusan Allah,
serta melupakan persiapan untuk menghadap kepada-Nya. Namun, menurut mayoritas ulama
tafsir, tafsr dan tawl merupakan hal yang sama (sinonim).9 Pendapat mayoritas ulama inilah
yang menjadi pilihan penulis.

2.3 Penelitian Terdahulu

Wahid melakukan kajian tafsir tematik tentang al-mal. Ia menyimpulkan bahwa


pemanfaatan harta akan menentukan akibat bagi pemiliknya di dunia dan di akhirat.
Pengalihan harta mesti dilakukan dengan cara yang saling menguntungkan. Oleh karenanya,
harta mesti dikelola dengan manajemen yang baik dan jelas sehingga tidak mengakibatkan
persoalan lenyapnya harta maupun perpindahan harta ke pihak yang tidak berhak.10

Misno meneliti tentang eksistensi harta dalam perspektif al-Quran. Hasilnya


menunjukkan bahwa harta tidak hanya sekedar berfungsi sebagai alat pemuas kebutuhan
hidup. Ia adalah perantara (wasilah) yang diciptakan oleh Allah yang dapat menjadi nikmat
atau laknat bagi para hambaNya. Ia adalah sarana berbuat kebaikan termasuk sarana untuk
berjihad di jalan Allah. Ia adalah perhiasan dunia bagi manusia. Namun, ia juga fitnah (ujian)
bagi manusia.11

Ismail, et al menjelaskan bahwa manajemen harta Islami memiliki landasan filosofis


yang komprehensif (ontologi, epistomogi dan aksiologi). Konsep pengelolaan harta secara
Islami memiliki konsepsi yang berbeda dengan konsepsi Barat, dimana tauhid menjadi aspek
sentral dalam pengelolaan. Tujuan dari pengelolaan harta adalah untuk mewujudkan keadilan
dan kesejahteraan dalam upaya mencapai falah.12 Farooq mengkaji keunggulan dari
Manajemen harta Islami. Ia menyimpulkan bahwa Islam melarang adanya konsentrasi harta
pada segelintir orang.13

Salleh menjelaskan bahwa manajemen harta Islami sangatlah berbeda dengan


manajemen harta konvensional. Ada dua hal yang menjadikannya berbeda: 1) unit analisis

9
Az-Zarqni, Manhil al-Irfn fi Ulm al-Qurn (Libanon: Dr al-Fikri, 1996), vol. 2, hal. 6
10
Wahid, Abdul (2014). Tafsir Tematik Tentang al-Mal. Al-Muashirah Vol. 11, No. 2
11
Misno, Abdurrahman (.. ). Eksistensi Harta Perspektif Al-Quran. Al-Hidayah
12
Ismail, Nurizal., Fauzi, Unang & Heryahya, Andang (2015), Rethinking The Concept Of Wealth Management
From Qur'anic And Sunnah Framework, Kemenag
13
Farooq, M. Omar (2014), Islamic Wealth Management and the Pursuit of Positive-Sum Solutions Islamic
Economic Studies Vol. 22, No. 2, Nov, 2014 (99-124),
penilaian; paradigma dan filosofi yang berbeda, 2) perbedaan filosofis dan paradigma
berdampak kepada perbedaan operasional secara menyeluruh. Lebih lanjut, ia menjelaskan
bahwa manajemen harta Islami tidak hanya fokus kepada pengelolaan harta, tapi juga perlu
meredefinisi harta dalam perspektif Islam dan juga memperhatikan pengelola harta dan
berbagai aktor yang terlibat. Selain itu, ia juga menegaskan bahwa tidak semua orang harus
menjadi orang kaya ataupun harus menjadi miskin. Hal tersebut bergantung kepada potensi
kontribusinya bagi dirinya, keluarganya, masyarakatnya dan agamanya. Oleh karenanya,
diperlukan sebuah metode yang bisa mengidentifikasi siapa yang harus kaya dan siapa yang
harus miskin.14

Wohidul Islam menerangkan bahwa harta merupakan pokok bahasan dalam


kepemilikan. Harta juga menjadi objek berbagai macam transaksi, seperti jual beli, sewa dan
lain-lain. Dengan demikian harta adalah element yang sangat penting dalam kehidupan umat
manusia.15 Kamri dan Daud menyampaikan beberapa nilai yang harus dijalankan guna
mewujudkan managament harta Islami yang baik: 1) bersyukur, 2) rasa amanah, 3) kehati-
hatian, 4) keadilan; antara kebutuhan keluarga dan masyarakat, antara manfaat duniawi dan
ukhrawi, keadilan bagi pemberi amanah. 5) futuristik (visioner; memperhatikan masa depan),
6) produktif (menghasilkan berbagai manfaat), 7) kebijaksanaan (rusyd). Harmonisasi nilai-
nilai di atas dapat mewujudkan pengelolaan harta yang efektif dan efisien.16

Dari beberapa penelitian yang disebutkan di atas, kajian mengenai harta dalam
perspektif al-Quran masih bersifat tematik. Penulis belum mendapati kajian tafsir tahlili
dengan memilih salah satu ayat, terutama surah al-Kahfi ayat 46. Selain itu, penelitian
lainnya masih berkisar di kajian filosofis tentang perbedaan pengelolaan harta dalam Islam
dengan konvensional.

14
Salleh, M. Syukri (2012), Rethinking Wealth Management: An Islamic Preliminary View, International
Journal of Business and Social Science Vol. 3 No. 13
15
Wohidul Islam, Muhammad (1999). "Al-Mal: The Concept of Property in Islamic Legal Thought". Arab Law
Quarterly, 14 (4). pp. 361-368
16
Kamri, Nor 'Azzah, Daud, Mohd Zaidi. (2011). "Islamic Wealth Management: A Review on the Dimension of
Values". Jurnal Syariah, 19 (1). pp. 187-212
BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode tafsir dalam menjelaskan konsep harta dalam
pandangan surah al-Kahfi ayat 49. Ayat ini dipilih karena dinilai lebih komprehensif dalam
menjelaskan pandangan al-Quran tentang harta. Tekhnik penelitian diawali dengan survei
literatur tafsir, kemudian diperdalam dengan literatur ekonomi, lalu dibuat model konsep
harta dalam pandangan ayat ini.

3.1 Metode tafsir

Menurut Shihab dalam Misno, ada dua bentuk metode penafsiran al-Quran: Pertama
metode tahlili atau tajizi-i dan kedua metode maudhui (tematik) atau tauhidi (kesatuan).
Metode maudhui , walaupun benihnya telah dikenal sejak masa Rasul SAW., namun ia baru
berkembang jauh sesudah masa beliau. Metode tahlili lahir jauh sebelum metode maudhui.
Metode tahlili dikenal sejak tafsir Al-Farra (W.206 H), atau Ibnu Majah (w. 273 H), atau
paling lambat Ath-Thabari (w 310 H).

Said Agil Husin Al-Munawwar dan Nashruddin Baidan dalam Misno, membagi
metode tafsir dalam:

1. Tafsir Tahlili (analitis), yang terbagi dalam;


a. Tafsir bi al-matsur
b. Tafsir bi al-rayi
c. Tafsir shufi
d. Tafsir falsafi
e. Tafsir ilmi
f. Tafsir adabi
2. Tafsir ijmali (global)
3. Tafsir muqarran (perbandingan), dan
4. Tafsir Maudhui (tematik)
Dilihat dari sumber penafsirannya, ada tiga macam metode tafsr yang selama ini
digunakan oleh para mufassir berdasarkan sumber, yaitu:17

A) Tafsr bi Ar-Riwyah atau bi al-Matsr

Yang dimaksud dengan tafsr bi ar-riwayah adalah menafsirkan al-Qurn dengan al-
Qurn sendiri, hadts atau perkataan para sahabat. Ulama tidak ada yang meragukan sama
sekali mengenai menafsirkan al-Qurn dengan al-Qurn karena memang Allah lah yang
lebih mengetahui tentang apa yang dimaksud oleh-Nya dari sebuah ayat dalam al-Qurn.
Begitu pula dengan menafsirkan al-Qurn dengan al-Hadts karena salah satu tugas
Rasulullah adalah menjelaskan apa yang dimaksud dari al-Qurn.

Bagaimana halnya dengan menafsirkan Al-Qurn dengan pendapat para shahabat.


Mengapa pendapat shahabat dapat dikategorikan sebagai tafsr bi al-matsr? Menurut al-
Hkim, pendapat shahabat dapat diterima dalam menafsirkan al- Qurn dikarenakan mereka
melihat langsung turunnya wahyu beserta asbb an-nuzl-nya. Selain itu, mereka juga
memiliki tingkat kefasihan dalam memahami al-Qurn.18

B) Tafsr bi Al-Diryah atau bi Al-Rayi

Secara sederhana, tafsr bi ar-rayi dapat diartikan dengan menafsirkan al-Qurn


dengan pemikiran (rayu) dari seorang mufassir. Namun menurut az-Zarqni, yang dimaksud
dengan ar-Rayu (pemikiran dan logika) di sini adalah Ijtihad. Oleh karena itulah ketika
ijtihad dalam melakukan tafsr bi ar- rayi tersebut telah sesuai dengan prinsip dasar ijtihad,
maka penafsiran tersebut dapat diterima dan terpuji. Berbeda dengan penafsiran yang hanya
mengandalkan logika yang tidak didasari oleh prinsip dasar ijtihad yang benar, maka
dianggap tercela dan bisa menyesatkan.

Berkenaan tentang prinsip dasar yang harus dipenuhi dalam tafsr bi ar-rayi, as-
Suyti dalam kitabnya al-Itqn menyebutkan empat syarat utama yang harus menjadi
pegangan bagi orang yang ingin menafsirkan al-Qurn, yaitu:19

1. Menukil dari Rasulullah Saw dengan tetap menghindari hadts yang dhaf dan
maudh.
2. Mengambil pendapat para shahabat.

17
Hasan Ayyub, Ulm al-Qurn wa al-Hadts (Kairo: Dr Al-Salm, 2004), hal. 136- 161
18
Az-Zarqni, Manhil al-Irfn fi Ulm al-Qurn (Libanon: Dr al-Fikri, 1996), vol. 2, hal. 11
19
As-Suyuthi, al-Itqn fi Ulm al-Qurn (Bairut: Al-Maktabah Al-Ashriyyah, 1988), vol. 2, hal. 472
3. Memahami tata bahasa Arab serta mampu meneliti susunannya dengan sangat baik.
Hal ini dikarenakan al-Qurn diturunkan dalam bahasa Arab, sehingga dalam
memahaminya juga harus sesuai dengan kaedah dasar bahasa Arab. Allah Swt
berfirman:

Dan sesungguhnya al-Qurn ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta


alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Rh al-Amn (Jibril). Ke dalam hatimu (Muhammad)
agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.
Dengan bahasa Arab yang jelas. (QS. asy-Syuar: 192-195)

4. Mengetahui beberapa kaedaah dasar syariah (al-Usl asy- Syariyyah).

C) Tafsr bi al-Isyrah atau Tafsr al-Isyri

Yaitu penafsiran yang dilakukan oleh orang-orang tasawuf yang berusaha menggali
arti yang samar serta kandungan hikmah dari al-Qurn. Namun bukan berarti mereka tidak
menerima arti secara zhahir dari al-Qurn, melainkan mereka menggabungkan di antara
keduanya. Az-Zarkasyi sebagaimana yang dikutp oleh as-Suythi memberikan contoh dari
bentuk penafsiran ini, yaitu:

"Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu
itu. (QS. Al-Taubah: 123)

Sebagian orang tasawuf menafsirkan ayat di atas dengan nafsu. Sehingga menurut
mereka ayat ini juga berbicara tentang kewajiban memerangi hawa nafsu. Pendapat mereka
ini didasarkan kepada illah (alasan) dari perintah memerangi orang yang ada di sekitar kita
adalah karena dekat. Sedangkan yang paling dekat dengan diri manusia adalah hawa
nafsunya. Ulama berbeda pendapat mengenai jenis tafsr ini. Sebagian ada yang
memperbolehkan dan sebagian ada yang menganggapnya sesat. Adapun kitab-kitab tafsr
yang tergolong tafsr al-isyri adalah tafsr an-Naisburi dan Rh al-Mani karya al-Alsi,
serta kitab Tafsr Muhyiddn Ibnu Arabi.

3.2 Tafsr Al-Qurn dengan Ilmu Modern

Menurut Muhammad Ismail Ibrahim dalam kitabnya al- Qurn wa Ijzuhu al-Ilmi,
penafsiran al-Qurn dengan ilmu pengetahuan modern merupakan sebuah metode dan usaha
baru dalam menafsirkan al-Qurn. Namun hal ini bukan berarti kita diperbolehkan
menganggap para mufassir terdahulu adalah bodoh karena tidak bisa menafsirkan dengan
ilmu pengetahuan modern.20

Penafsiran al-Qurn dengan menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan modern


dapat kita kategorikan sebagai bentuk tafsr bi ar-rayi. Di mana ilmu pengetahuan modern di
sini mencakup ilmu astronomi, kedokteran, serta ekonomi yang menjadi pembahasan buku
ini ke depan. Penafsiran seperti ini menuai banyak kontroversi di kalangan para ulama ahli
tafsr. Ada yang memperbolehkan dan ada yang melarang. Di antara ulama yang melarang
penafsiran seperti ini adalah Syaikh Mahmud Syaltut, Sayyid Quthb dan asy-Syathibi.21
Syaikh Mahmud Syaltut sangat mengecam sekolompok cendekiawan yang menguasai ilmu
pengetahuan kontemporer atau mengadopsi teori-teori ilmiah, filsafat dan lainnya yang
dengan bekal pengetahuan tersebut mereka menafsirkan ayat al-Qurn dengan kerangka
pengetahuan yang mereka kuasai. Menurut beliau, hal tersebut dianggap salah karena mereka
menghadapkan al-Qurn kepada berbagai ilmu di setiap tempat dan masa. Sedangkan ilmu
pengetahuan tidak mengenal konstansi, kemutlakan, dan pendapat final. Boleh jadi hari ini
benar, namun keesokan harinya dianggap salah. Kalau ini terjadi maka kita telah menjadikan
al-Qurn menjadi tidak konstan dan tidak mutlak kebenarannya.22

Adapun ulama yang memperbolehkan penggunaan ilmu pengetahuan dalam


menafsirkan al-Qurn sebagaimana dikemukakan oleh al-Qardhwi adalah Imam al-Ghazali
dan as-Suyuthi. Menurut al-Ghazali, secara global semua ilmu pengetahuan termasuk dalam
perbuatan dan sifat Allah. Sedangkan al-Qurn menerangkan dzat, perbuatan dan sifat Allah.
Adapun ilmu pengetahuan ini tidak bersifat final. Dalam al-Qurn, hanya terdapat sinyal
secara global terhadap ilmu tersebut. Lebih lanjut, Al-Ghazali menjelaskan bahwa semua
ilmu pengetahuan itu terkumpul dalam satu lautan di antara beberapa lautan pengetahuan
Allah, yaitu lautan perbuatan.23 Mengacu kepada beberapa pendapat yang saling bertolak
belakang di atas, al-Qardhwi memilih jalan tengah dalam masalah penafsiran al-Qurn
dengan ilmu pengetahuan modern. Beliau memilih sikap moderat di antara dua pendapat
yang ekstrim. Pendapat ekstrim pertama adalah yang menolak mentah mentah memasukkan
ilmu pengetahuan modern dalam bidang tafsr, dengan tujuan menjauhkan al-Qurn dari
terjadinya trial and error yang selama ini menjadi sifat ilmu pengetahuan yang kesimpulannya

20
Ibrahim, al-Qurn wa Ijzuhu al-Ilmi (Mauqi Yasub, tanpa tahun), vol. 1, hal. 44
21
Pembahasan masalah ini, sebagianya penulis sarikan dari Fatwa-Fatwa Kontemporer: Jilid 3 karya Syaikh
Yusuf al-Qardhawi hal. 37-54
22
Qardhwi, Fatwa-Fatwa Kontemporer: Jilid 3 (Jakarta: Gema Insani Press , 2002), hal. 45-46
23
Qardhwi, Fatwa-Fatwa Kontemporer: Jilid 3 (Jakarta: Gema Insani Press , 2002), hal. 43
selalu berubah-ubah. Sedangkan pendapat ekstrim yang kedua adalah terlalu berlebihan
dalam menggunakan ilmu pengetahuan umum dalam menafsirkan al-Qurn. Mereka terlalu
memaksakan diri dalam menginterpretasikan al-Qurn, sehingga memaksa al-Qurn agar
tampak all in mencakup semua ilmu pengetahuan yang telah tersusun teorinya dan telah
ditemukan faktanya. Qardhwi menyampaikan beberapa syarat bagi siapa saja yang ingin
menggunakan ilmu pengetahuan alam dalam menafsirkan al-Qurn. Syarat-syarat tersebut
adalah:24

1. Berpegang pada fakta ilmiah bukan hipotesis.


2. Menjauhi pemaksaan diri dalam memahami nash Dalam hal ini kita dilarang
memaksakan sebuah nash Al- Qurn dengan makna yang ingin kita simpulkan. Akan
tetapi kita hendaknya harus mengambil beberapa makna yang sesuai dengan bahasa dan
sesuai dengan alur redaksi nash yang ada.
3. Menghindari menuduh umat seluruhnya bodoh. Ketika kita menafsirkan al-Qurn
dengan ilmu pengetahuan, maka jangan pernah menganggap umat Islam atau bahkan
ulama terdahulu adalah bodoh karena tidak mampu menafsirkan seperti yang kita
tafsirkan.

3.3 Pendekatan Penelitian

Dalam menggali beberapa teori ekonomi atau hikmah yang terkandung dalam sebuah
ayat, penulis terlebih dahulu mengeksplorasi beberapa pendapat para mufassir mengenai
maksud dari ayat tersebut. Dalam hal ini penulis menggunakan berbagai macam literatur
tafsir terkemuka yang memiliki penjelasan yang komprehenshif baik dalam segi riwayat,
bahasa, serta hikmah-hikmah yang terkandung dalam sebuah ayat. Selain itu, kitab-kitab
tersebut merupakan kitab-kitab tafsir yang selama ini banyak dijadikan rujukan oleh para
pihak yang ingin mendalami al-Quran, sehingga penjelasan yang ada di dalamnya bisa
dipertanggung-jawabkan. Adapun beberapa literatur tafsir tersebut adalah:

a. Tafsir bi al-Matsr

Kitab Tanwr al-Miqyas min Tafsr Ibni Abbas karya Ibnu Abbas, Tafsir Al-Quran Al-
Azhim karya Ismail bin Umar Ibnu Katsir, ad-Durr al-Mantsr fi at-Tawl bi al-Matsr
karya Jall ad-Dn as-Suythi, Maalim at- Tanzil karya al-Baghawi, Ibnu Masud, dan Jmi
al-Bayn fi Tawl al- Qurn karya Muhammad bin Jarr Al-Thabari.

24
Qardhwi, Fatwa-Fatwa Kontemporer: Jilid 3 (Jakarta: Gema Insani Press , 2002), hal. 53-54
b. Tafsir bi ar-Rayi

Kitab Rh al-Mani fi Tafsr al-Qurn al-Azm wa al-Sab al-Mani karya Syihb al-Dn
Mahmd al-Alsi, Mafth al-Ghaib karya Fakhr ad-Dn ar-Rzi, al-Jmi li Ahkm al-
Qurn karya Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad Al-Qurtubi, al-Kasysyf an Haqiq at-
Tanzl wa Uyn al-Aqwl fi Wujh at-Tawl karya Abu al- Qsim Mahmd az-
Zamakhsyari, Anwr at-Tanzl wa Asrr at-Tawl karya Abdullah bin Umar al-Baidhwi,
Al-Nukat wa al-Uyn karya Abu al-Hasan al-Mawardi, Lubb at-Tawil fi Mani at-Tanzl
karya al-Khzin, Ahkm al-Qurn li Ibn al-Arabi karya Ibn al-Arabi, Tafsir Asy-Syarawi
karya Muhammad Mutawalli asy-Syarawi, serta Al-Mufradt fi Gharb al-Quran karya
Raghib Al-Ashfahani.

c. Tafsir Kontemporer

Kitab Tafsr al-Munr fi al-Aqdah wa Asy-Syarah wa al-Manhaj karya Dr. Wahbah az-
Zuhaili, at-Tafsr Al-Wasth karya Muhammad Sayyid Thanthawi, Tafsr al-Marghi karya
Ahmad Mushthafa al-Marghi, Fi Zhill al-Qurn karya Sayyid Quthb, Adhwa al-Bayn
karya as-Syinqithi, dan Aysar at-Tafsir karya Abu Bakar Al-Jaziri.

Bagaimanapun, penulis berusaha untuk tidak memaksakan nash al-Qurn terhadap


teori ekonomi modern yang ada. Justru, teori modernlah yang harus menyesuaikan dengan
maksud yang terkandung dalam ayat tersbut. Ketika teori modern yang berkembang tersebut
bertentangan dengan kandungan ayat, maka teori modern tersebut harus ditinggalkan dan
digantikan dengan teori baru yang sesuai dengan kandungan ayat Al-Qurn. Hal ini
dilakukan mengingat ajaran yang terkandung dalam Al-Quran merupakan kebenaran mutlak
yang harus kita percayai dan kita laksanakan.
BAB IV

PEMBAHASAN

Penafsiran ayat ini akan terbagi ke dalam beberapa bagian, mulai dari overview
hingga bagaimana menjadikan harta sebagai al-baaqiyaat ash-shaalihat.

4.1 Overview Surah al-Kahfi Ayat 46

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan
yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih
baik untuk menjadi harapan (Q.S al-Kahfi: 46)

4.2 Penafsiran lafadz al-Maal dan al-Banun

Di dalam al-Quran, kata maal/al-maal (bentuk singular) disebutkan sebanyak 23 kali,


sedangkan kata amwal/al-amwal (bentuk plural) disebutkan sebanyak 56 kali, dan satu kali
dalam bentuk yang lain (maaliyah).25 Secara bahasa, Al-maal (kekayaan) adalah nama
untuk segala macam kekayaan yang dimiliki manusia seperti uang, ladang dan ternak.26
Dengan demikian, al-maal (baca: harta) memiliki pengertian yang sangat luas, yakni semua
hal yang bernilai ekonomis yang dimiliki oleh manusia.

Dalam pembahasan fiqih, terdapat perbedaan di antara para fuqaha dalam


mendefinisikan harta. Secara garis besar, ada dua pandangan yang berbeda terkait definisi
harta, yakni pandangan Hanafiyah dan pandangan jumhur. Menurut Hanafiyah apa yang
disebut dengan harta adalah segala hal yang manusia condong kepadanya dan dapat disimpan
untuk hari yang akan datang. Sementara jumhur ulama berpandangan bahwa harta adalah
sesuatu yang bernilai yang memungkinkan untuk diperjualbelikan dan mengharuskan kepada
sesiapa yang merusaknya untuk bertanggungjawab mengganti kerusakan tersebut.27

25
Lihat al-Hasani, Fathurrahman li thaalibi aayaatil Quran, maktabah Dahlan.
26
Al-Wasith
27
Wahbah Zuhayli, Financial transaction in Islamic Jurisprudence (terjemahan), vol. 2 hal 442
Setidaknya ada dua konsekuensi dari pandangan ini:28

1. Madzhab Hanafiyah tidak menjadikan tinjauan syariat atas kebolehan penggunaan


barang tersebut sebagai suatu syarat untuk mengkategorikan hal tersebut sebagai
harta. Sementara dalam pandangan Jumhur, sesuatu yang tidak diperbolehkan
penggunaannya oleh syariat, maka tidak tergolong kepada harta. Sebagai contoh,
minuman keras dapat dikategorikan sebagai harta menurut Hanafiyah, sedangkan
Jumhur tidak memandangnya sebagai harta. Meski demikian, dalam pandangan
Hanafiyah, harta terbagi menjadi dua, yakni mutaqawwim (harta yang boleh diambil
manfaatnya oleh syara) dan qhayru mutaqawwim (yang tidak boleh diambil
manfaatnya oleh syara).
2. Sesuatu yang tidak dapat dimiliki atau tidak dapat disimpan bukanlah harta dalam
kacamata Hanafiyah. Oleh karenanya, manfaat dikatakan bukan harta karena tidak
dapat disimpan, demikian juga dengan utang karena sifatnya yang tidak dapat dimiliki
secara nyata oleh orang yang memberikan utang.

Mengacu kepada pengertian jumhur, maka definisi harta adalah sebagaimana berikut:

- Sesuatu yang memiliki nilai berdasarkan kepada adat/kebiasaan yang berlaku. Sesuatu
ini dapat berupa fisik barang dan dapat juga dalam bentuk manfaat, seperti halnya
tabung oksigen, pulsa dan lain-lain. Lebih lanjut, sesuatu mungkin memiliki nilai di
suatu wilayah atau di suatu masa tetapi tidak memiliki nilai di wilayah lain ataupun di
masa lainnya. Oleh karena itu, pengukuran nilai didasarkan pada sebuah kebiasaan
atau adat yang berlaku.
- Diperbolehkan penggunaannya menurut syariat di saat normat, bukan dalam keadaan
darurat. Misalnya bangkai dan darah. Keduanya adalah haram untuk dikonsumsi. Bila
keadaan darurat, maka keduanya boleh dikonsumsi secukupnya saja. Kedua hal
tersebut bukanlah sesuatu yang dapat digolongkan sebagai harta.

Untuk menjelaskan harta, al-Quran juga menggunakan kata lainnya, seperti khair.
Lafadz khair dengan arti kata harta dapat dilihat pada firman Allah SWT surah al-Baqarah
ayat 180:29

28
Majallah al-buhuts al-Islamiyah, vol 73, h. 179
29
Lisanul Arab Vol 4, 265





Diwajibkan atas kamu, apabila maut hendak menjemput seseorang


di antara kamu, jika dia meninggalkan harta, berwasiat untuk kedua orang
tua dan karib kerabat dengan cara yang baik, (sebagai) kewajiban bagi
orang-orang yang bertakwa.

Ibnu Abbas dengan tegas menjelaskan makna khairan dalam ayat ini adalah harta.
Lafadz khair dengan arti harta juga dapat dilihat di firman Allah SWT surah al-Adiyat
ayat 8:

Dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan

Ibnu katsir menjelaskan adanya dua pandangan tentang ayat ini: pertama, sangat
mencintai harta, kedua, sangat bakhil lantaran cintanya terhadap harta. Kedua pengertian
tersebut adalah benar. Keduanya menunjukkan fitrah manusia yang gemar terhadap harta.
Adalah naluri manusia untuk mencintai harta. Bukankah Rasulullah saw menjelaskan dalam
hadits nya bahwa manusia senantiasa tidak merasa puas terhadap harta meskipun telah
bertumpuk setinggi gunung. Ia akan mencari dan mengejar harta sampai mencapai tupukan
gunung yang kedua dan ketiga dan seterusnya.

Mengapa harta disebut dengan khair yang bermakna kebaikan? Shihab memberikan
penjelasan tentang hal ini. Ia menuturkan bahwa harta adalah sesuatu yang dinilai baik, maka
ia harus diperoleh dan digunakan untuk hal yang baik pula.30

Lafadz dengan pengertian yang lebih umum, al-quran menggunakan lafadz fadhl dan
juga rizqi. Kata fadhl bermakna karunia. Tentu saja harta adalah bagian dari sebuah karunia
yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya. Al-mal adalah karunia dan rizqi dari Allah yang
bersifat materi.

Adapun kata al-banun merupakan bentuk jamak dari kata ibnun yang berarti
keturunan.31 Penyebutan harta yang lebih dulu daripada al-banun dikarenakan harta dirasakan

30
Shihab, Quraisy (1996). Al-Quran: Tafsir Maudhui atas Pelbagai Persoalan Umat. Mizan, cet. Ke-13. Hal. 398
31
Al-Wasith
lebih penting keberadaannya, lebih berisiko, dan yang paling dapat memenuhi kebutuhan,
keinginan dan hawa. Bukankah memiliki keturunan tanpa disertai dengan kecukupan harta
dapat membuat kesengsaraan.32

Al-Alusi menjelaskan bahwa bagi kebanyakan orang kekayaan lebih berharga


daripada keturunan, karena kekayaan tetap menjadi perhiasan kapanpun dan dalam keadaan
apapun meski tanpa adanya keturunan. Sebaliknya. orang yang memiliki keturunan tanpa
kekayaan akan berada dalam kondisi yang sulit. Harta merupakan pra syarat bagi
keberlangsungan individu manusia, berbeda dengan keturunan yang menjadi pra syarat bagi
keberlangsungan umat manusia. Dalam hal ini, orang akan cenderung mempertahankan
keberlangsungan dirinya terlebih dahulu.33

4.3 Kedudukan Harta: Ziinatul Hayaatid Dunya

kata ziinah dalam firman Allah, al-malu wa al-banuna zinatul hayati ad-dunya
boleh berbentuk Zinata (tatsniyyah). Ia merupakan khobar mubtada dalam bentuk mufrad
(singular) maupun tatsniyyah (jami li ahkamil quran).

Bentuk kata ziinah adalah mashdar yang disini berarti keindahan-keindahan yang
disenangi manusia. Keindahan yang diinginkan oleh seganap manusia. Artinya, kekayaan dan
keturunan merupakan perhiasan manusia di dunia yang dapat dibangga-banggakan pada
orang lain. Hal demikian karena harta, sebagaimana dikatakan al-Qurtubi34, mengandung
keindahan dan manfaat, sedangkan keturunan mengandung kekuatan dan ketahanan.

Harta dan keturunan merupakan perhiasan dunia karena dalam harta terdapat
keindahan dan manfaat sementara dalam keturunan terdapat kekuatan, maka keduanya
menjadi perhiasan dunia. Namun demikian ada pertalian sifat pada kata al-mal dan al-banin.
Sebab makna ayat tersebut adalah: kekayaan dan keturunan merupakan perhiasan dunia yang
hina maka janganlah nafsu kalian mengikutinya. Ini merupakan bantahan pada Uyainah bin
Hashn dan yang sepertinya ketika mereka membanggakan kekayaan harta dan kemuliaan.

Allah mengabarkan bahwa perhiasan dunia adalah tipu daya yang akan hilang dan
tidak kekal, sebagaimana daun-daun kering yang dihempaskan angin. Yang abadi adalah
bekal kubur dan persiapan akhirat. Dikatakan bahwa: jangan biarkan hatimu terikat dengan

32
Zuhaili, Wahbah, 1998, Tafsr al-Munr fi al-Aqdah wa asy-Syarah wa al-Manhaj, Bairut: Dr al-Fikr
33
Al-Alusi, Rh al-Mani f Tafsr al-Qurn al-Azhim wa as-Sabi al-Masni (Mauqi Al-Tafsr, tanpa tahun),
34
Qurthubi, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad, 2003, al-Jmi li Ahkm al-Qurn, Riyadh: Dr lam al-
Kutub
kekayaan karena ia merupakan fayun (rampasan/baying-bayang/masa) yang akan hilang.
Jangan biarkan hatimu tertawan pada wanita karena hari ini ia bersamamu namun esok ia
bersama yang lain. Jangan biarkan hatimu terikat pada raja karena hari ini ia baik padamu
namun esok ia baik pada yang lain. Cukuplah jadi peringatan firman Allah dalam surat at-
Taghabun ayat 15 dan 14.35

Hal senada juga disampaikan oleh ar-Razi, bahwa sifat harta sebagai perhiasan
cenderung bersifat tetap meskipun tanpa kehadiran keturunan. Sebaliknya, memiliki
keturunan namun harta tidak berkecukupan, maka keberadaan keturunan tidak menjadi
perhiasan yang indah, bahkan justru menyulitkan hidupnya. Meski demikian, beliau
mengingatkan bahwa kekayaan dan keturunan akan lenyap dengan cepat, maka tidaklah
diperkenankan untuk membanggakan diri kepada hal-hal yang bersifat fana. Lebih lanjut,
zuhayli menjelaskan bahwa ayat ini memberikan sindiran kepada orang kafir yang terlalu
membangga-banggakan harta dan keturunanannya. Padahal keduanya bersifat fana.
Sesungguhnya umat Islam yang miskin hartanya masih jauh lebih baik dari kaum musyrikin
yang kaya raya. Hal ini karena kaum Muslimin memiliki amal shaleh yang dapat menjadi
bekal di akherat kelak.36

Zuhayli memberikan ibarat yang menarik tentang dunia. Beliau menjelaskan bahwa
dunia ibarat tumbuhan. Ia tumbuh menghijau, segar dan indah namun atas kehendak Allah, ia
menjadi layu dan mongering sehingga hilanglah segala keindahan dan kesegarannya.

Dan buatkanlah untuk mereka (manusia) perumpamaan kehidupan dunia ini, ibarat air
(hujan) yang Kami turunkan dari langit, sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan di bumi,
kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Allah
Mahakuasa atas segala sesuatu. (Q.S. Al-Kahfi: 45)

Dunia memang terasa indah, namun Allah Maha Kuasa untuk menumbuhkan dan
melayukan, menghijaukan dan memusnahkan. Oleh karenanya, bagi orang yang pandai
akalnya, hendaknya tidak terpedaya oleh kehidupan dunia, bahkan membanggakannya.

35
Al-Jami Li Ahkam Al-Quran
36
Ar-Razi, Maftih al-Ghaib (Mauqi At-Tafsr, tanpa tahun
Ali bin Abi Thalib ra. Menuturkan bahwa kekayaan dan keturunan adalah ladang
dunia, sementara amal shalih adalah ladang akhirat. Maka seyogyanya orang yang berlogika
tidak terperdaya oleh dunia atau berbangga dengan dunia atau sebab dunia.

Penggunaan kata az-zinah dalam ayat tersebut mengandung penjelasan yang dalam
akan hakikat harta dan keturunan. Keduanya merupakan perhiasan yang tidak punya nilai.
Maka tidak sah menjadikan keduanya sebagai ukuran dalam menilai seseorang. Mestinya
seseorang dinilai berdasarkan kadar iman dan amal salihnya, sebagaimana firman Allah inna
akramakum indallahi atqakum.

Lebih lanjut, dikarenakan harta adalah sebuah perhiasan yang diberikan oleh Allah
kepada hamba-Nya, maka tidak seyogyanya pula manusia untuk mengharamkan dirinya
terhadap harta. Justru, dengan harta tersebut, ia semestinya senantiasa bersyukur kepada-Nya.
Allah SWT berfirman dalam surah al-Araf ayat 32:









Katakanlah (Muhammad), Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah
disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezei yang baik-baik? Katakanlah, Semua itu
untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusu (untuk mereka saja)
pada hari kiamat. Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat ini untuk orang-orang yang
mengetahui. (Q.S. al-Araf: 32)

Ayat ini merupakan teguran yang diberikan oleh Allah kepada mereka yang berlebih-
lebihan dalam bersifat zuhud terhadap dunia. Ibnu katsir menjelaskan bahwa ayat ini
disampaikan kepada nabi Muhammad Saw berkaitan dengan tingkah laku kaum musyrik
yang mengharamkan segala sesuatu berdasarkan akal rusak mereka semata. Padahal harta
diciptakan oleh Allah bagi hamba-Nya yang beriman kepada Allah dan beribadah kepada-
Nya. Di kehidupan dunia, perhiasan ini juga dinikmati oleh kaum kafir dan musyrik, tetapi
perhiasan ini akan menjadi khusus buat orang-orang yang beriman di akherat kelak.

4.4 Makna al-Baqiyat ash-Shalihat


Ada tiga makna dari al-Baqiyat ash-shalihat sebagaimana yang diungkap oleh Ibnu
Katsir, yakni:

1. Bermakna shalat lima waktu. Hal ini merupakan pendapat dari Ibnu Abbas37, Said
bin Jubair dan ulama salaf lainnya38.
2. Bermakna bacaan dzikir atau : Subhanallah wa al-hamdulillah, wa la ilaha illa
Allah, wa Allahu Akbar39, sedangkan Utsman menambahkan wa la haula wa la
quwwata illa billah dan tidak menyebutkan laa ilaaha illa Allah. Bila merujuk
pendapat lainnya, memang disebutkan ada lima bacaan zikir yang menjadi baqiyat
shalihat sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Ajlan meriwayatkan
dari Imarah ia berkata: Said bin Musayyab bertanya padaku tentang al-baqiyat ash-
shalihat, maka aku menjawab: Salat dan puasa. Lalu dia berkata: salah. Lalu ku
jawab: Zakat dan haji. Lantas dia berkata: salah, yang benar adalah al-kalimat al-
khams yaitu: la ilaha illa Allah, wa Allahu Akbar, wa subhanallah wa al-hamdulillah
wa la haula wa la quwwata illa billah.
Diriwayatkan dari ath-Thabrani dan ibnu mardawiya dari Abi Darda bahwasanya
Rasulullah saw bersabda:




Subhanallah, dan al-hamdu lillah, dan laa ilaaha illallah, dan Allahu akbar, serta
laa hawla wa laa quwwata illa billah, semuanya adalah baqiyat shalihat, mereka
menghapuskan dosa-dosa sebagaimana pohon yang menggugurkan dedaunannya.
Semuanya adalah tabungan surga kelak."
Pendapat ini diperkuat oleh pendapat Imam Malik yang meriwayatkan dari
Imarah bin Abdillah bin Shayyad dari Said bin Musayyab.40
3. Bermakna anak perempuan. Pendapat ini diungkapkan oleh Abdullah bin Umair.
Sebab anak perempuan yang baik merupakan sebaik-baik pahala bagi orang tuanya
dan sebaik-baik pengharapan bagi orang yang berbuat baik padanya di akhirat nanti.

37
Ibnu Abbas, Tanwr al-Miqyas Min Tafsri ibni Abbas, Mauqi Al-Tafsr, Vol. 1, hal. 248
38
Lihat Al-Qurthubi, tanpa tahun, Syams ad-Dn, Al-Jmi li Ahkm al-Quran, Mauqiut Tafsr, Vol 10, hal. 414
39
Ini pendapat dari Atha bin Rabah dan Said bin Jubair meriwayatkan dari Ibnu Abbas
40
Lihat Al-Qurthubi, tanpa tahun, Syams ad-Dn, Al-Jmi li Ahkm al-Quran, Mauqiut Tafsr, Vol 10, hal. 414-
415
Pendapat ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah tentang perempuan
miskin yang mendatanginya. Dan Nabi pernah bersabda: aku melihat seorang lelaki
dari umatku yang hendak dimasukkan ke dalam neraka kemudian anak perempuannya
menghalanginya seraya berteriak meminta pertolongan dan berkata: wahai tuhanku
sesungguhnya dia telah berbuat baik padaku semasa di dunia maka Allah pun
mengampuni lelaki tersebut sebab putrinya.41
4. Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas bahwa maksudnya adalah setiap amal saleh,
berupa ucapan ataupun perbuatan yang menyelamatkan akhiratnya. Hal serupa juga
dikatakan oleh Ibnu Zaid dan diunggulkan oleh ath-Thabari. Insyaallah inilah
pendapat yang benar. Ali r.a. berkata: ada dua jenis keuntungan. Keuntungan dunia
adalah kekayaan dan keturunan, sedangkan keuntungan akhirat adalah pahala-pahala
yang abadi (al-baqiyat ash-shalihat). Dan terkadang Allah memberikan keduanya
pada beberapa orang.42 Pendapat ini juga didukung oleh tafsir al-kasyssyaf43 dan tafsir
maraghi44. Dalam aysar tafasir disebutkan bahwa makna baqiyat shalihat adalah amal
shaleh baik yang berupa ibadah atau upaya yang mendekatkan kepada Allah.45
Contoh dari amal baik adalah shalat, sadaqah, jihad fi sabilillah, membantu fakir
miskin dan dzikir

Penyebutan al-baqiyat shalihat setelah penjelasan tentang kedudukan harta dan


keturunan, adalah untuk menunjukkan kepada hamba-Nya bahwa harta kekayaan dan
keturunan hendaknya tidak menjadikan manusia lalai. Ditegaskan oleh Allah swt,
bahwasanya baqiyat shalihat adalah lebih baik di sisi Allah swt dari sisi nilai pahalanya,
sehingga baqiyat shalihat hendaknya menjadi ladang yang diharapkan dapat dipetik hasilnya
di akherat kelak.

Dijelaskan juga bahwa baqiyat shalihat adalah khoiru amalan, yakni suatu kebaikan
yang diangankan dan diharapkan oleh manusia, sehingga mereka senang atau bersemangat
untuk mewujudkannya.46 Setiap perbuatan yang ditujukan untuk mengharap ridha Allah
maka tidak diragukan lagi bahwa pahala dan harapan yang digantungkan padanya itu lebih

41
Lihat Al-Qurthubi, op.cit. hal. 415
42
Lihat Al-Qurthubi, op.cit. hal. 415
43
Az-Zamahsyari, Abu al-Qsim Mahmd, 1983, al-Kasysyf an Haqiq at-Tanzl wa Uyn al-Aqwl fi Wujh
at-Tawl, Beirut: Dr al-Fikr, Vol 2, hal. 725
44
Al-Marghi, Ahmad Mushthafa, 1998, Tafsr al-Maraghi, Mesir: Syirkat Maktabah wa Mathbaah al-Halaby,
vol. 15, hal. 153
45
Abu Bakar Al-Jaziri, Aysar at-Tafsir (Mauqi at-Tafsr, tanpa tahun), Vol. 3, Hal. 260
46
Abu Bakar Al-Jaziri, op.cit, Vol. 3, Hal. 261
baik dan lebih utama. Sebab orang yang melakukan kebaikan tersebut ketika di dunia
berharap balasan dari Allah kelak di akhirat.47

Berdasarkan penjelasan di atas, maka harta dapat berfungsi sebagai baqiyat shalihat
manakala digunakan untuk ketaatan dan mendekatkan diri kepada-Nya. Pembahasan
mengenai bagaimana mentransformasi harta menjadi baqiyat shalihat akan dijelaskan pada
sub-bab berikutnya.

4.5 Pengelolaan harta: upaya mentransformasi harta menjadi Baqiyat Shalihat

Agar harta dapat berfungsi sebagai baqiyat shalihat, maka harta mesti dikelola dengan
baik. Dalam pengelolaan harta, maka ada dua sisi yang mesti diperhatikan: 1) bagaimana
mendapatkan harta, 2) bagaimana mengalokasikan harta. Hal ini berangkat dari hadits
Rasulullah saw bersabda:

Tidak akan tergelincir kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, hingga ia ditanya
tentang empat perkara: 1) tentang pemanfaatan umurnya, 2) tentang pemanfaatan masa
mudanya, 3) tentang hartanya: darimana didapatkan dan kemana dibelanjakan, 4) tentang
apa yang ia perbuat dengan ilmunya. (H.R. Muadz bin Jabal)48

Dengan demikian keberkahan dalam harta, mesti memperhatikan darimana harta


didapat dan kemana dibelanjakan. Dalam hal ini, beberapa penelitian terkait dengan
manajemen pengelolaan harta telah memperluas cakupan dari kedua sisi tersebut. Di teori
konvensional, dikenal ada empat jenis pengelolaan harta: 1) wealth creation/accumulation, 2)
wealth enhancement/accumulation, 3) wealth protection, 4) wealth distribution. Adapun
beberapa tokoh ekonom muslim mencoba menambahkan satu jenis lagi pengelolaan harta,
yakni wealth purification. Hal ini mengingat bahwa kewajiban berzakat sebagai sarana untuk
mensucikan harta adalah sebuah karakteristik unik yang dimiliki oleh agama Islam.

Meski demikian, penulis mencoba untuk kembali mengeksplorasi lebih dalam dengan
membagi model pengelolaan harta ke dalam lima tahapan yang berbeda:

47
Ar-Razi, Maftih al-Ghaib (Mauqi at-Tafsr, tanpa tahun), Vol. 21, hal. 468
48
sanadnya shahih
1) Wealth creation/accumulation atau penciptaan harta, yakni bagaimana seorang
Muslim memperoleh harta. Halal hartanya dan halal cara mendapatkannya.
2) Wealth Consumption atau konsumsi harta, yakni bagaimana seorang Muslim
mengkonsumsi sebagian dari hartanya.
3) Wealth Purification atau pensucian harta, yakni bagaimana seroang Muslim
mensucikan harta yang telah dimiliki.
4) Wealth Distribution atau distribusi harta, bagaimana seorang Muslim
mendistribusikan hartanya.
5) Wealth Protection atau perlindungan hartaSaving for future event: biar dirinya atau
keluarganya tidak meminta-minta. (Wealth Saving/Protection)

4.5.1 Wealth Creation/Accumulation

Untuk mendapatkan harta, Islam memberikan arahan bahwa ia mesti bersumber dari
penghasilan yang halal. Bagi seorang pekerja, maka sumber penghasilannya adalah upah dari
pekerjaaan yang halal. Bagi seorang pebisnis, maka sumber penghasilannya adalah
keuntungan dari bisnis yang halal. Mencari sumber yang halal adalah sebuah amal shaleh
yang senantiasa digaungkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Perintah untuk mencari rezeki dapat ditemukan dalam firman Allah swt di surah al-
Jumuah ayat 10 sebagaimana berikut:

Apabila shalat telah dilaksanakan, maka berterbaranlah kamu di bumi; carilah karunia
Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung. (Q.S. Al-Jumuah: 10)49

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman:



......
)20 :(....

49
Dalam konteks ayat ini, sebagian ulama menegaskan perintah ini bersifat wajib, namun sebagian yang lain
menjelaskan bahwa perintah setelah adanya larangan menunjukkan kebolehan (mubah)
.. Dia (Allah) mengetahui bahwa aka nada di antara kamu orang-orang yang sakit, dan
yang lain berjalan di bumi mencari sebagian karunia Allah, dan yang lain berperang di jalan
Allah, maka baalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Quran (Q.S al-Muzzammil: 20)

Penyebutan mereka yang mencari rezeki bersama dengan mereka yang berjuang di
jalan Allah, menunjukkan adanya derajat yang sama antara mereka yang mencari rezeki
dengan mereka yang berjihad di jalan Allah.50 Diriwayatkan dari Ibrahim dari Ilqimah
berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:

Tidaklah seseorang yang mengambil makanan (mencari penghasilan) dari satu Negara ke
Negara lainnya, kemudian ia menjualnya dengan harga pada hari tersebut, melainkan
kedudukannya di sisi Allah adalah sebagaimana kedudukan para syuhada. Kemudian
Rasulullah saw membaca ayat dan yang lain berjalan di bumi mencari sebagian karunia
Allah, dan yang lain berperang di jalan Allah ...

Perintah mencari rezeki juga didasarkan pada beberapa hadits dari Rasulullah saw,
diantaranya:

1. Bekerja adalah sebuah kewajiban sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh


Abdullah ibnu Masud, Rasulullah saw bersabda

usaha mencara rezeki yang halal adalah kewajiban di atas kewajiban

Redaksi lain diriwayatkan oleh Anas bin Malik




mencari rezeki yang halal adalah kewajiban atas setiap Muslim.51

50
Al-Qinnawji (1992). Fathul bayan fi maqasidil quran. Beirut: al-maktabah al-mishriyyah lit thibaah wan
nasyr. Vol 14, 396-397. Dan Wahbah Zuhayli (1418 H). at-tafsir al-munir fi al-aqidah wa asy-syariah wa al-
manhaj. Beirut: Dar al-Fikr al-Muashir, vol. 29, p. 213
51
Targhib wa at-tarhib 546
2. Bekerja untuk mendapatkan rezeki akan mendapatkan pahala dan juga ampunan dari
Allah swt.

52

Barangsiapa yang lelah di sore hare karena bekerja dengan jerih payahnya sendiri,
maka pada sore hari tersebut, dosanya diampuni.

3. Bekerja adalah bagian dari fi sabilillah sebagaimana sabda Rasulullah saw:

Barang siapa yang keluar berusaha mencari rezeki untuk mencukupi kebutuhan
dirinya dan kebutuhan keluarganya, maka sesungguhnya ia berada di jalan Allah

Dalam mencari rezeki ini, maka cara-cara yang digunkan haruslah dengan cara yang
baik dan benar, bukan dengan cara licik yang dapat mendzalimi orang lain seperti riba,
maysir dan gharar. Allah SWT berfirman:

Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah)
kamu menyuap dengan harti itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat
memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.
(Q.S. Al-Baqarah: 188)

Sejumlah teori perencanaan keuangan, dijelaskan bahwa istilah wealth accumulation


terpisah dengan wealth creation, bahwasanya wealth creation berkaitan dengan bagaimana
seorang muslim atau kepala keluarga mencari nafkah, mendapatkan penghasilan atau
menjemput rezeki, sedangkan wealth accumulation adalah proses di mana sebuah keluarga
mengoptimalkan harta yang didapatkan untuk diakumulasikan untuk kebutuhan jangka
panjang.53 Namun, penulis melihat bahwa esensi dari keduanya adalah sama. Hal ini juga

52
Suyuthi jaami shaghir
53
Suryomurti, wiku (2016). Konsep Islamic Wealth Management; Merencanakan dan Mengelola Harta Sesuai
Syariah. Majalah Gontor edisi September 2016
sejalan dengan Othman dan Subramaniam (2013). Wealth accumulation mungkin akan
banyak membantu bagi mereka yang bekerja sebagai karywawan, bagaimana menghasilkan
lebih banyak dari gaji yang diterima. Namun, bagi pengusaha, investasi di sektor keuangan
atau property adalah sebagai diversivikasi sumber pendapatan, karena mereka dapat memilih
pendapatannya untuk diinvestasikan kembali ke bisnisnya (ekspansi binsis).

4.5.2 Wealth consumption

Pembelanjaan utama dari harta yang telah didapatkan adalah untuk memenuhi
kebutuhan diri dan keluarga.

Allah swt berfirman:


... ...

Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut
(Q.S. Al-Baqarah: 233)

Kewajiban memberi nafkah sebagai prioritas pembelanjaan harta juga disampaikan


oleh Rasulullah saw dalam dua hadits berikut:

1. Jawaban Rasul atas pertanyaan seseorang tentang apa yang mesti ia perbuat dengan dinar
yang dimilikinya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah:

: : ." " :
:

: : ." " : : ."
"
." "

Seseorang berkata: wahai Rasulullah saya memiliki memiliki satu dinar? Rasulullah
pun menjawab: belanjakan untuk dirimu, kemudian ia berkata kembali: saya punya
dinar lainnya, Rasulullah kembali menjawab: belanjakan untuk keluargamu. Lelaki
tersebut pun kembali berkata: saya punya (dinar) yang lain lagi? lantas Rasulullah
menjawab: belanjakan untuk anakmu. Ia berkata: saya punya lainnya, Rasul
menjawab: kamu lebih mengetahui (kemana harus dibelanjakan) (H.R. Muslim)

2. Nasehat Rasulullah saw kepada seseorang. Dari Jabir ra bahwasanya Rasulullah saw
berkata kepada seseorang:


"

"

Mulailah bersedekah untuk dirimu, jika berlebih maka untuk keluargamu, jika masih
berlebih maka untuk kerabat dekatmu, jika masih berlebh maka begini dan begini.
(H.R. Muslim)

4.5.3 Wealth purification

Sejatinya, di dalam harta yang dimiliki oleh manusia terdapat hak orang lain yang
mesti ditunaikan. Allah SWT berfirman:


)25( ) 24(

Dan orang-orang yang dalam hartanya disiapkan bagian tertentu#bagi orang (miskin)
yang meminta dan yang tidak meminta (Q.S. al-Maarij: 24)

Ibnu Abbas menjelaskan ini adalah hak harta selain zakat, sedangkan zuhayli
menegaskan bahwa ini yang dimaksud adalah zakat karena didahului dengan shalat dan
sifatnya yang sudah jelas (ketentuan bagiannya).

Perintah zakat ini ditegaskan dalam banyak ayat al-Quran dan seringkali beriringan
dengan shalat. Hal ini menunjukkan pentingnya menunaikan kewajiban berzakat. Selain
menggunakan kata zakat, beberapa ayat juga menunjukkan kewajiban zakat dengan lafadz
shadaqah.

Zakat dikatakan sebagai wealth purification yang artinya adalah pensucian harta
didasarkan pada firman Allah SWT:

Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan
berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi
mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Q.S. At-Tawbah: 103)

Dengan membayar zakat, maka harta akan menjadi suci dan bersih.
Berkaitan dengan urutan, apakah wealth purification terlebih dahulu atau wealth
consumption. Dalam hal ini, mesti dilihat jenis harta yang dizakatkan. Bila mengikuti zakat
pertanian, maka harta mesti dizakatkan sebelum digunakan untuk konsumsi. Demikian juga
bila zakat profesi diqiyaskan ke zakat pertanian, maka gaji yang diterima setiap bulannya
mesti langsung dipotong dengan zakat sebelum dipergunakan untuk belanja kebutuhan
pokok. Namun, untuk zakat emas dan perak, maka zakat yang dibayarkan adalah harta yang
melebihi dari kebutuhan. Dengan demikian, urutannya bisa berbeda-beda bergantung jenis
zakatnya yang juga bergantung kepada sumber penghasilan seseorang tersebut.

4.5.4 Wealth distribution

Setelah menyelesaikan kewajiban nafkah untuk diri dan keluarga serta menunaikan
zakat, maka hal berikutnya adalah mendistribusikan harta kepada orang lain. Allah SWT
berfirman:

Dan mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan.
Katakanlah, Kelebihan (dari apa yang diperlukan). Demikianlah Allah menerangkan ayat-
ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan. (Q.S. Al-Baqarah: 219)

Zuhayli menjelaskan bahwa ayat ini diturunkan berkaitan dengan adanya perintah
untuk berinfaq di jalan Allah, lalu seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw tentang
apa yang mesti mereka sedekahkan. Dikatakan bahwa yang bertanya adalah kaum mumin
dan dikatakan juga bahwa yang bertanya adalah Amru bin Jumuh. Ada tiga pendapat terkait
dengan makna infaq disini: 1) jihad, 2) zakat, 3) shadaqah sunnah. Pendapat ketiga adalah
pendapat ulama jumhur. Adapun yang dimaksuda dengan alafwu adalah sesuatu yang
melebihi dari kebutuhan dirinya dan kebutuhan keluarganya. Tidak ada rasa keberatan untuk
mengeluarkannya.54

Di antara bentuk distributsi harta adalah:

1. Sedekah. Ini diberikan kepada mereka yang membutuhkan dan juga untuk keperluan
perjuangan di jalan Allah SWT. Allah SWT berfirman:

54
Zuhayli. Op.cit. vol. 2, hal. 270 dan 272





....



Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi
kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir,
malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya
kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan
(musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, . (Q.S. Al-
Baqarah: 177).

Zuhayli menjelaskan bahwa pemberian harta ini bukanlah zakat melainkan


sedekah sunnah. Ayat di atas memberikan urutan siapa saja yang mesti didahulukan
dalam pemberian harta. Hal ini pun ditegaskan oleh Rasulullah saw. Dalam sebuah
hadits yang telah dijelaskan di sebelumnya bahwa mulailah bersedekah untuk dirimu,
jika berlebih maka untuk keluargamu, jika masih berlebih maka untuk kerabat
dekatmu, jika masih berlebih maka begini dan begini.

Dalam hadits lainnya, Rasulullah saw bersabda:

."


"

Sebaik-baik sedekah adalah yang lebih dari kebutuhan, dan tangan di atas adalah
lebih baik dari tangan di bawah, mulailah dari yang paling dekat denganmu. (H.R.
Muslim)55

Adapun sedekah atau infaq di jalan Allah swt adalah sebagaimana firman Allah SWT.




Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri
sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh,
Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al-Baqarah: 195)

55
Shahih Muslim. Vol. 2. 717
2. Hibah. Pemberian sukarela kepada seseorang. Dalam lisanul Arab (hal. 803) dijelaskan
bahwa yang dimaksud dengan hibah adalah pemberian tanpa mengharapkan sesuatu
sebagai imbalan dan tanpa ada maksud apapun. Rasulullah saw bersabda:


Saling lah memberi (hibah), maka kalian akan saling mencintai.56
3. Wakaf. Sabiq57 menjelaskan bahwa apa yang dimaksud dengan wakaf adalah menahan
pokok harta dan membelanjakan manfaat yang dihasilkan di jalan Allah. Lebih lanjut,
ia menegaskan bahwa konsep wakaf tidaklah dikenal pada masa jahiliyah. Bentuk amal
ini merupakan hasil ijtihad dari Rasulullah SAW dan beliau senantiasa mengajak umat
Islam untuk gemar melakukan wakaf karena terdapat kebaikan di dalamnya.
Terdapat beberapa contoh aplikasi wakaf pada masa Rasulullah SAW. Di
antaranya: pendirian masjid nabawi di Madinah tatkalah Rasulullah saw hijrah ke
Madinah, pembuatan sumur oleh Utsman bin Affan (dalam riwayat lain bahwa Utsman
membelinya dari seseorang dari bani Ghaffar), wakaf kebun yang indah (bayraha) oleh
Abu Thalhah, wakaf tanah khaibar oleh Umar dan lain sebagainya.58
4. Wasiat. Bagi orang tua juga dapat menuliskan wasiat sebelum meninggal terkait dengan
pembagian harta kepada orang lain bila mereka meninggal. Wasiat tidak diperkenankan
kepada ahli waris. Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah saw:

Sesungguhnya Allah telah memberi setiap orang akan hak nya masing-masing, maka

Tidaklah ada wasiat bagi ahli waris.59

5. Harta waris. Pembagian harta yang ditinggalkan oleh si mayit. Harta waris ini
senantiasa menjadi sumber perpecahan keluarga. Mereka berebut untuk mendapatkan
harta yang ditinggalkan oleh salah satu anggota keluarganya. Oleh karenanya, Allah
telah memberikan aturan yang jelas terkait pembagian harta waris, sebagaimana

56
ibnu Hajar al-Asqalani (2014). Bulughul Maram Min Adillati Al-Ahkam. Riyadh: Dar al-Qabas li an-nasr wa at-
tawzi, hal. 361. Menurutnya hadits ini memiliki sanad yang hasan.
57
Sabiq, S. (1995). Fiqh al-sunnah, III. Kairo: Dar al-Fath.
58
Ibid.
59
Ibnu Majah. Sunan Ibnu Majah. Muhaqqiq: M. Fuad Abdul Bagi. Dar ihya al-Kutub al-Arabiyah. Vol. 2, hal.
906, hadits nomor 2714. Menurut al-Albani hadits ini shahih
dijelaskan dalam surah an-Nisa ayat 11-13 dan ayat 176. Dalam hal ini, orang tua
diharapkan untuk dapat menyiapkan sejumlah aset yang dapat didistribusikan kepada
ahli waris.

4.5.5 Wealth protection

Suryomurti menjelaskan bahwa wealth protection adalah proses bagaimana


melindungi harta keluarga dengan mekanisme tertentu. Hal ini mencakup perlindungan
terhadap masa depan anak. Mekanisme proteksi yang dapat digunakan adalah
mempersiapkan sejumlah asset yang dapat menghasilkan aliran arus kas atau aset yang dapat
dicairkan saat dibutuhkan. Selain itu juga dapat menggunakan konsep takaful atau asuransi
syariah.60

Penelitian ini berbeda dengan Suryomurti dalam urutan wealth protection, di mana ia
meletakkannya setelah wealth accumulation atau sebelum wealth purification. Peneliti
berpandangan bahwa wealth protection berada di urutan terakhir setelah wealth distribution.
Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa wealth protection adalah tabungan dunia, sedangkan
wealth distribution adalah tabungan akherat. Allah SWT berfirman:

Dan sungguh yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan. (Q.S. Adh-
Dhuha: 4)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa maksud dari ayat ini adalah bahwasanya kehidupan akhirat
itu lebih baik baik dari kehidupan dunia.61

Dengan demikian, tabungan untuk kepentingan hendaknya menjadi prioritas


dibandingkan dengan tabungan dunia. Meski demikian, hal ini bukan berarti semua harta
dialokasikan untuk wealth distribution tanpa menyisakan untuk wealth protection. Seorang
Muslim juga harus memiliki sejumlah tabungan dunia untuk mempersiapkan hari-hari esok.

60
Suryomurti, Wiku. Op.cit.
61
Ibnu Katsr, Ismail bin Umar (1999), Tafsr al-Qurn al-Azhim, Dar Thaybah li an-Nasyr wa Al-Tawz, Vol. 8,
hal. 425
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan kajian tafsir secara mendalam terhadap surah al-Kahfi ayat 46, didapati
bahwa kedudukan harta adalah perhiasan dunia yang kilaunya lebih diharapkan dibandingkan
keturunan. Oleh karenanya, Allah mengingatkan hamba-Nya bahwa al-baqiyat ash-shalihat
adalah lebih baik dari perhiasan dunia tersebut. Pengertian yang kuat tentang al-Baqiyat ash-
shalihat adalah segala amal shaleh, termasuk di dalamnya adalah amal shaleh dengan
memanfaatkan harta. Dengan demikian, diperlukan adanya pengelolaan harta secara optimal
agar harta dapat menjadi al-baqiyat ash-shalihat.

Berkaitan dengan pengelolaan harta, maka aspek sumber harta dan aspek
pembelanjaan harta mesti diperhatikan. Ada lima tahapan/proses pengelolaan harta agar
menjadi amal shaleh: 1) Wealth creation/accumulation, 2) wealth Consumption, 3) wealth
Purification, 4) wealth distribution, 5) wealth protection.

5.2 Rekomendasi

Ada beberapa rekomendasi yang dapat disampaikan:

1) Kajian mengenai pengelolaan harta perlu dipertajam kembali mengingat masih


terbatasnya literature yang mengangkat isu ini.
2) Masih banyak ayat al-Quran yang perlu dikaji lebih dalam yang berkaitan dengan
ekonomi, sehingga originalitas perkembangan ekonomi Islam dapat semakin terlihat.
DAFTAR PUSTAKA

Abu Bakar Al-Jaziri, Aysar at-Tafsir (Mauqi at-Tafsr, tanpa tahun), Vol. 3.
Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asyats (t.t), Sunan Abi Dawud, Bairut:Dr al-Kitb al-Arabi
dalam al-Maktabah al-Syamilah 3.2

Agil Husin Al-Munawwar, Masykur Hakim, Ijaz Al-Quran dan Metodologi Tafsir, Dina
Utama, Semarang,1994, Hlm. 36-39.
Ahmad (t.t), Musnad Ahmad, Mauqi al-Islam dalam al-Maktabah al-Syamilah 3.2

Al-Alusi, Rh al-Mani f Tafsr al-Qurn al-Azhim wa as-Sabi al-Masni (Mauqi Al-


Tafsr, tanpa tahun),
Al-Baihaqi, Ahmad bin al-Husain, 2003, Syuab al-Imn, Riydh: Maktabah ar-Rusyd li al-
Nasyr wa at-Tawzi

Al-Hakim (t.t), al-Mustadrak ala ash-Shahhain, Mauqi Jmi al-Hadts dalam al-Maktabah
asy-Syamilah 3.2

Al-Hasani, Fathurrahman li Thaalibi Aayaatil Quran, maktabah Dahlan.

Al-Marghi, Ahmad Mushthafa, 1998, Tafsr al-Maraghi, Mesir: Syirkat Maktabah wa


Mathbaah al-Halaby, vol. 15, hal. 153
Al-Mishri, Ibnu Mandzr al-Afrqi (t.t), Lisn al-Arab: vol. 11, Beirut: Dr ash-Shdir

Al-Nawawi, Yahya bin Syaraf, Riydh ash-Shlihn min Kalm Sayyid al-Mursaln dalam al-
Maktabah Al-Syamilah 3.2

Al-Qinnawji (1992). Fathul bayan fi maqasidil quran. Beirut: al-maktabah al-mishriyyah lit
thibaah wan nasyr. Vol 14, 396-397.
Al-Qurthubi, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad, 2003, al-Jmi li Ahkm al-Qurn,
Riyadh: Dr lam al-Kutub
An-Nasai (t.t), Sunan al-Kubra, mauqi Yasub dalam al-Maktabah al-Syamilah 3.2

Ar-Razi, Maftih al-Ghaib (Mauqi at-Tafsr, tanpa tahun), Vol. 21


As-Suythi, Jalluddn, 1988, Al-Itqn fi Ulm al-Qurn, Bairut: al-Maktabah al-
Ashriyyah

At-Turmudzi, Muhammad bin Isa (t.t), al-Jmi ash-Shahh Sunan at-Turmudzi, Bairut: Dr
Ihy at-Turts al-Arabi dalam al-Maktabah asy-Syamilah 3.2
Ayyub, Hasan (2004) al-Hadts fi Ulm al-Qurn wa al-Hadts, Kairo: Dr as-Salm

Az-Zamahsyari, Abu al-Qsim Mahmd, 1983, al-Kasysyf an Haqiq at-Tanzl wa Uyn


al-Aqwl fi Wujh at-Tawl, Beirut: Dr al-Fikr, Vol 2, hal. 725
Az-Zarqni, Muhammad Abdul Adzm (1996), Manhil al-Irfn fi Ulm al-Qurn,
Libanon: Dr al-Fikri

Chapra, M. Umer (2000), Islam dan Tantangan Ekonomi, Gema Insani Press
Deliarnov (2009), Perkembangan Pemikiran Ekonomi, Jakarta: Rajawali Pers

Farooq, M. Omar (2014), Islamic Wealth Management and the Pursuit of Positive-Sum
Solutions, Islamic Economic Studies Vol. 22, No. 2, Nov, 2014 (99-124)

Hasan Ayyub, Ulm al-Qurn wa al-Hadts (Kairo: Dr As-Salm, 2004)


Ibnu Abbas, Tanwr al-Miqyas Min Tafsri ibni Abbas, Mauqi Al-Tafsr, Vol. 1
ibnu Hajar al-Asqalani (2014). Bulughul Maram Min Adillati Al-Ahkam. Riyadh: Dar al-
Qabas li an-nasr wa at-tawzi.
Ibnu Katsr, Ismail bin Umar (1999), Tafsr al-Qurn al-Azhim, Dar Thaybah li an-Nasyr
wa Al-Tawz, Vol. 8
Ibnu Majah. Sunan Ibnu Majah. Muhaqqiq: M. Fuad Abdul Bagi. Dar ihya al-Kutub al-
Arabiyah. Vol. 2
Ibrahim, al-Qurn wa Ijzuhu al-Ilmi (Mauqi Yasub (t.t)), vol. 1

Ismail, Nurizal., Fauzi, Unang & Heryahya, Andang (2015), Rethinking The Concept Of
Wealth Management From Qur'anic And Sunnah Framework, Kementrian Agama

Kamri, Nor 'Azzah, Daud, Mohd Zaidi. (2011). "Islamic Wealth Management: A Review on
the Dimension of Values", Jurnal Syariah, 19 (1). pp. 187-212

Majallah al-buhuts al-Islamiyah, vol 73, h. 179


Marx, karl (1843), a contribution to the critique of Hegels Philosophy of Right.
www.marxists.org

Misno, Abdurrahman (.. ). Eksistensi Harta Perspektif Al-Quran. Al-Hidayah


Muslim, Abu al-Husain, tanpa tahun, Shahih Muslim, Beirut: Dr al-Jiyal dalam al-Maktabah
asy-Syamilah 3.2
Nashruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Al-Quran, Pustaka Pelajar, 1998.
Qardhwi, Yusuf (2002), Fatwa-Fatwa Kontemporer: Jilid 3, Jakarta: Gema Insani Press

Sabiq, S. (1995). Fiqh al-sunnah, III. Kairo: Dar al-Fath.


Salleh, M. Syukri (2012), Rethinking Wealth Management: An Islamic Preliminary View,
International Journal of Business and Social Science Vol. 3 No. 13

Shihab, Quraish. 1996. Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhui Atas Pelbagai Persoalan
Umat, Mizan
Suryomurti, wiku (2016). Konsep Islamic Wealth Management; Merencanakan dan
Mengelola Harta Sesuai Syariah. Majalah Gontor edisi September 2016
Targhib wa at-tarhib
Thanthwi, Muhammad Sayyid, tanpa tahun, At-Tafsr Al-Wasth, Mauqi at-Tafsr Al-
Wasith
Wahid, Abdul (2014). Tafsir Tematik Tentang al-Mal. Al-Muashirah Vol. 11, No. 2
Wohidul Islam, Muhammad (1999). "Al-Mal: The Concept of Property in Islamic Legal
Thought". Arab Law Quarterly, 14 (4). pp. 361-368

Yunus, Muhammad Kabir (2002) Dirst fi Ushl at-Tafsr, Tharablusy: Kuliyyah ad-
Dawah al-Islamiyyah

Zuhaili, Wahbah, 1998, Tafsr al-Munr fi al-Aqdah wa asy-Syarah wa al-Manhaj, Bairut:


Dr al-Fikr
Zuhayli, Wahbah. Financial transaction in Islamic Jurisprudence (terjemahan), vol. 2 hal 442