Anda di halaman 1dari 7

http://tinz08.wordpress.

com/2009/05/02/asidimetri-alkalimetri/

august_tynz poenyaa
Asidimetri & Alkalimetri
May 2, 2009 at 8:31 am (Landasan Teori)

ANALISIS KUANTITATIF : ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI

Titrasi adalah proses penentuan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang
diketahui dan diperlukan untuk bereaksi secara lengkap dengan sejumlah contoh
tertentu yang akan di analisis. Contoh yang akan dianalisis dirujuk sebagai (tak
diketahui, unknown). Prosedur analitis yang melibatkan titrasi dengan larutan-larutan
yang konsentrasinya diketahui disebut analisis volumetri. Dalam analisis larutan asam
dan basa, titrasi melibatkan pengukuran yang seksama, volume-volume suatu asam
dan suatu basa yang tepat saling menetralkan (Keenan, 1998: 422-423).

Pada proses titrasi ini digunakan suatu indikator yaitu suatu zat yang ditambahkan
sampai seluruh reaksi selesai yang dinyatakan dengan perubahan warna. Perubahan
warna menandakan telah tercapainya titik akhir titrasi (Brady, 1999 : 217-218).

Larutan basa yang akan diteteskan (titran) dimasukkan ke dalam buret (pipa panjang
berskala) dan jumlah yang terpakai dapat diketahui dari tinggi sebelum dan sesudah
titrasi. Larutan asam yang dititrasi dimasukkan kedalam gelas kimia (erlenmeyer)
dengan mengukur volumenya terlebih dahulu denga memekai pipet gondok. Untuk
mengamati titik ekivalen, dipakai indikator yang warnanya disekitar titik ekivalen.
Dala titrasi yang diamati adalah titik akhir bukan titik ekivalen (syukri, 1999 : 428).

Suatu proses didalam laboratorium untuk mengukur jumlah suatu reaktan yang
bereaksi sempurna dengan sejumlah reaktan lainnya, dimana reaktan pertama
ditambahkan secara kontinu ke dalam reaktan kedua disebut titrasi. Reaktan yang
ditambahkan tadi disebut sebagai titrant dan reaktan yang ditambahkan titrant
kedalamnya disebut titree. Didalam beberapa titrasi, titik ekivalen adalah titik selama
proses titrasi dimana tepatnya titrat telah cukup ditambahkan untuk bereaksi dengan
titree. Salah satu masalah tekhnis dalam titrasi adalah titik dimana suatu perubahan
dapat diamati, terjadi yang untuk mengindikasikan pendekatan yang paling baik ke
titik ekivalen. Secara ideal, titik akhir dan titik ekivalen seharusnya identik, tetapi
dalam prakteknya jarang sekali ada orang yang mampu membuat kedua titik tersebut
tepat sama, meskipun ada beberapa hal dimana perbedaan antara kedua hal tersebut
dapat diabaikan (Snyder, 1996 : 597-599).
Kadang-kadang kita perlu mengetahui tidak hanya atau sekedar pH, akan tetapi perlu
kita ketahui juga berapa banyak asam atau basayang terdapat didalam sampel. Sebagai
contoh, seorang ahli kimia lingkungan mempelajari suatu danau dimana ikan-ikannya
mati. Dia harus mengetahui secara pasti seberapa banyak asam yang terkandung
dalam suatu sampel air danau tersebut. Titrasi melibatkan suatu proses penambahan
suatu larutan yang disebut tirant dari buret ke suatu flask yang berisi sampel dan
disebut analit. Berhasilnya titrasi asam-basa tergantung pada seberapa akurat kita
dapat mendeteksi titik stoikiometri. Pada titik tersebut, jumlah mol dari H 3O+ dan OH-
yang ditambahkan sebagai titrant adlah sama dengan jumlah mol dari OH- atau
H3O+ yang terdapat dalam analit. Pada titik stoikiometri, larutan terdiri dari garam
dan air. Larutan tersebut adalah asam apabila ion asam yang terkandung didalamnya,
dan basa apabila ion basa yang terkandung didalamnya (Atkins, 1997 : 550).

Seperti yang telah diketahui sebelumnya, dalam stoikiometri titrasi, titik ekivalen dari
reaksi netralisasi adalah titik pada reaksi dimana asam dan basa keduanya setara, yaitu
dimana keduanya tidak ada yang berlebihan. Dalam titrasi, suatu larutan yang akan
dinetralkan, misal asam, ditempatkan di dalam flask bersamaan dengan beberapa tetes
indikator asam basa. Kemudian larutan lainnya (misal basa) yang terdapat didalam
buret, ditambahkan ke asam. Pertama-tama ditambahkan cukup banyak, kemudian
dengan tetesan hingga titik ekivalen. Titik ekivalen terjadi pada saat terjadinya
perubahan warna indikator. Titik pada titrasi dimana indikator warnanya berubah
disebut titik akhir (Petrucci, 1997 : 636).

Misalkan kita ingin menentukan molaritas dari suatu larutan HCl yang tidak diketahui
konsentrasinya. Kita bisa menentukan konsentrasi HCl tersebut melalui suatu
prosedur yang disebut titrasi, dimana kita menetralisasi suatu asam dengan suatu basa
yang telah diketahui konsentrasinya. Pada titrasi, pertama-tama kita menempatkan
suatu asam yang volumenya telah ditentukan ke dalam suatu flask. Dan tambahkan
beberapa tetes indikator seperti penolftalein, kedalam larutan asam. Dalam larutan
asam, penolftalein tidak berwarna. Kemudian, buret kita isi dengan larutan NaOH
yang konsentrasinya telah diketahui. dan dengan hati-hati NaOH ditambahkan ke
asam pada flask. Kita bisa mengetahui bahwa netralisasi telah berlangsung ketika
penolftalein dalam larutan berubah warna menjadi merah muda. Ini disebut titik akhir
netralisasi. Dari volume yang ditambahkan dan molar NaOH, kita dapat menentukan
konsentrasi asam (Timberlake, 2004 : 354-355).

DAFTAR PUSTAKA

Atkins, Peter and Jones Lorette. 1997. Chemistry Molecules and Canges, 3rd Ed. New

York: W. H. Freeman and Company.


Brady, James E. 1999. Kimia Universutas Asas dan Struktur. Jakarta: Binarupa

Aksara

Keenan, C. W, dkk. 1998. Kimia untuk Universitas. Jakarta: Erlangga.

Petrucci, Ralph H and Willias S. Harwood. 1997. General Chemistry. New Jersey:

Prentice Hall.

Snyder, Milton K. 1996. Chemistry Structure and Reaction. New York: Holt, Rinehart

And winston. Inc.

Syukri. 1999. Kimia Dasar 2. Bandung ITB.

Timberlake, Karen C. 2004. General, Organic and Biological Chemistry Structure Of

Life. San Fransisco: Pearson Benjamin Cummings.


Teknik Volumetri dan Gravimetri menjadi alternatif metoda analisis yang mempunyai
ketertelusuran tertinggi, karena metoda tersebut mempunyai ketertelusuran yang
terdekat ke standar nasional maupun standar internasional. Untuk dapat melakukan
analisis secara volumetri dan gravimetri yang baikdan benar diperlukan pengetahuan
yang cukup, karena metoda ini dapat menjadi metoda acuan untk metoda
pengukuran lainnya (http://www.kimia-lipi.net/index).

Metode pengukuran konsentrasi larutan menggunakan metode titrasi (titrasi asam-


basa) yaitu suatu penambahan indikator warna pada larutan yang diuji, kemudian
ditetesi dengan larutan yang merupakan kebalikan asam-basanya. Jadi apabila
larutan tersebut merupakan larutan asam maka harus diberikan basa sebagai larutan
ujinya, begitu pula sebaliknya. Pemilihan metode ini dipakai karena merupakan
metode yang sederhana dan sudah banyak digunakan dalam laboratorium maupun
industri (riset dan pengembangan). Pada pengukuran konsentrasi larutan dengan
menggunakan metode titrasi asam-basa, biasanya cara umum yang sering dilakukan
adalah dengan menetesi larutan yang diuji, yang sebelumnya telah diberi larutan
indikator, dengan larutan uji. Ditetesi hingga terjadi perubahan warna dari larutan
indikator, apabila terjadi perubahan warna yang disebut titik akhir maka penetesan
larutan uji dihentikan (http://chem-is-try.org).

Kemudian nilai konsentrasi larutan yang diuji dihitung berdasarkan cara yang telah
ditetapkan dalam metode titrasi. Pada metode ini mata manusia memegang peranan
penting dalam pengamatan terjadinya perubahan warna, juga dalam pengendalian
proses yang berlangsung,dan penentuan nilai konsentrasi larutan, perhitungannya
dilakukan secara manual. Dengan menggunakan cara ini terdapat beberapa
kelemahan antara lain kesalahan paralaksi dan memerlukan waktu yang relatif lama
untuk perhitungan atau penentuan nilai konsentrasi larutan. Karena setiap individu
dengan individu yang lainnya relatif berbeda, dalam pengamatan dan
penghitungannya tergantung pada ketelitian masing-masing individu
(http://www.elektroindonesia.com)
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-kesehatan/pemisahan-kimia-dan-analisis/analisis-
kuantitatif/
Analisis kuantitatif secara volumetri
Kata Kunci: analisis kuantitatif, volumetri
Ditulis oleh Riana Septyaningrum pada 14-03-2009

Pada zaman yang serba modern ini banyak alat dan cara analisis yang dapat
mengetahui kadar suatu analat dengan cepat , tepat, dan mudah. Tetapi analisis
kuantitatif secara volumetri masih tetap digunakan. Dalam titrimetri, analat
direaksikan dengan suatu bahan lain yang diketahui/dapat diketahui jumlah molnya
dengan tepat. Bila bahan tersebut berupa larutan ,maka konsentrasinya harus diketahui
dengan teliti dan larutan tersebut dinamakan larutan baku.

Tidak semua pereaksi dapat digunakan sebagai titran. Untuk itu pereaksi harus
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

Berlangsung sempurna, tunggal, dan menurut persamaan yang jelas (dasar


teoritis).
Cepat dan irreversible .
Ada petunjuk akhir titrasi ( indicator).
Larutan baku yang direaksikan dengan analat harus mudah didapat dan
sederhana menggunakannya, juga harus stabil sehingga konsentrasinya tidak
mudah berubah bila disimpan.

Berdasarkan reaksinya suatu titrasi digolongkan menjadi 2 yaitu :

1) Reaksi Metatetik (titrasi berdasarkan pertukaran ion).

Meliputi :

1. Netralisasi (asidimetri dan alkalimetri).


2. Presipitimetri ( berdasarkan terbentuknya endapan).
3. Kompleksometri (berdasarkan pembentukan persenyawaan kompleks yaitu
ion kompleks atau garam yang sukar mengion).

2) Reaksi Redoks (titrasi berdasarkan perpindahan electron)

Meliputi :

1. Permangganatometri, Dikhromatometri , Seriometri (berdasarkan penggunaan


oksidator kuat).
2. Iodometri dan Iodimetri (Titrasi yang menyangkut reaksi)
I2 + 2e- 2I-

Karena metoda iodimetri masih jarang digunakan dalam analisis di laboratorium maka
kami dari kelompok IV mencoba untuk memberikan penjelasan tentang metoda
tersebut.
ANALISIS KUANTITATIF, ASIDIMETRI

dikirim oleh : BUDI SANTOSA


Titrasi adalah proses penentuan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang diketahui dan diperlukan untuk
bereaksi secara lengkap dengan sejumlah contoh tertentu yang akan di analisis. Contoh yang akan dianalisis dirujuk
sebagai (tak diketahui, unknown). Prosedur analitis yang melibatkan titrasi dengan larutan-larutan yang konsentrasinya
diketahui disebut analisis volumetri. Dalam analisis larutan asam dan basa, titrasi melibatkan pengukuran yang seksama,
volume-volume suatu asam dan suatu basa yang tepat saling menetralkan (Keenan, 1998: 422-423).

Pada proses titrasi ini digunakan suatu indikator yaitu suatu zat yang ditambahkan sampai seluruh reaksi selesai yang
dinyatakan dengan perubahan warna. Perubahan warna menandakan telah tercapainya titik akhir titrasi (Brady, 1999 : 217-
218).
Larutan basa yang akan diteteskan (titran) dimasukkan ke dalam buret (pipa panjang berskala) dan jumlah yang terpakai
dapat diketahui dari tinggi sebelum dan sesudah titrasi. Larutan asam yang dititrasi dimasukkan kedalam gelas kimia
(erlenmeyer) dengan mengukur volumenya terlebih dahulu denga memekai pipet gondok. Untuk mengamati titik ekivalen,
dipakai indikator yang warnanya disekitar titik ekivalen. Dala titrasi yang diamati adalah titik akhir bukan titik ekivalen (syukri,
1999 : 428).

Suatu proses didalam laboratorium untuk mengukur jumlah suatu reaktan yang bereaksi sempurna dengan sejumlah reaktan
lainnya, dimana reaktan pertama ditambahkan secara kontinu ke dalam reaktan kedua disebut titrasi. Reaktan yang
ditambahkan tadi disebut sebagai titrant dan reaktan yang ditambahkan titrant kedalamnya disebut titree. Didalam beberapa
titrasi, titik ekivalen adalah titik selama proses titrasi dimana tepatnya titrat telah cukup ditambahkan untuk bereaksi dengan
titree. Salah satu masalah tekhnis dalam titrasi adalah titik dimana suatu perubahan dapat diamati, terjadi yang untuk
mengindikasikan pendekatan yang paling baik ke titik ekivalen. Secara ideal, titik akhir dan titik ekivalen seharusnya identik,
tetapi dalam prakteknya jarang sekali ada orang yang mampu membuat kedua titik tersebut tepat sama, meskipun ada
beberapa hal dimana perbedaan antara kedua hal tersebut dapat diabaikan (Snyder, 1996 : 597-599).

Kadang-kadang kita perlu mengetahui tidak hanya atau sekedar pH, akan tetapi perlu kita ketahui juga berapa banyak asam
atau basayang terdapat didalam sampel. Sebagai contoh, seorang ahli kimia lingkungan mempelajari suatu danau dimana ikan-
ikannya mati. Dia harus mengetahui secara pasti seberapa banyak asam yang terkandung dalam suatu sampel air danau
tersebut. Titrasi melibatkan suatu proses penambahan suatu larutan yang disebut tirant dari buret ke suatu flask yang berisi
sampel dan disebut analit. Berhasilnya titrasi asam-basa tergantung pada seberapa akurat kita dapat mendeteksi titik
stoikiometri. Pada titik tersebut, jumlah mol dari H3O+ dan OH- yang ditambahkan sebagai titrant adlah sama dengan jumlah
mol dari OH- atau H3O+ yang terdapat dalam analit. Pada titik stoikiometri, larutan terdiri dari garam dan air. Larutan tersebut
adalah asam apabila ion asam yang terkandung didalamnya, dan basa apabila ion basa yang terkandung didalamnya (Atkins,
1997 : 550).
Seperti yang telah diketahui sebelumnya, dalam stoikiometri titrasi, titik ekivalen dari reaksi netralisasi adalah titik pada reaksi
dimana asam dan basa keduanya setara, yaitu dimana keduanya tidak ada yang berlebihan. Dalam titrasi, suatu larutan yang
akan dinetralkan, misal asam, ditempatkan di dalam flask bersamaan dengan beberapa tetes indikator asam basa. Kemudian
larutan lainnya (misal basa) yang terdapat didalam buret, ditambahkan ke asam. Pertama-tama ditambahkan cukup banyak,
kemudian dengan tetesan hingga titik ekivalen. Titik ekivalen terjadi pada saat terjadinya perubahan warna indikator. Titik pada
titrasi dimana indikator warnanya berubah disebut titik akhir (Petrucci, 1997 : 636).

Misalkan kita ingin menentukan molaritas dari suatu larutan HCl yang tidak diketahui konsentrasinya. Kita bisa menentukan
konsentrasi HCl tersebut melalui suatu prosedur yang disebut titrasi, dimana kita menetralisasi suatu asam dengan suatu basa
yang telah diketahui konsentrasinya.
Pada titrasi, pertama-tama kita menempatkan suatu asam yang volumenya telah ditentukan ke dalam suatu flask. Dan
tambahkan beberapa tetes indikator seperti penolftalein, kedalam larutan asam. Dalam larutan asam, penolftalein tidak
berwarna. Kemudian, buret kita isi dengan larutan NaOH yang konsentrasinya telah diketahui. dan dengan hati-hati NaOH
ditambahkan ke asam pada flask. Kita bisa mengetahui bahwa netralisasi telah berlangsung ketika penolftalein dalam larutan
berubah warna menjadi merah muda. Ini disebut titik akhir netralisasi. Dari volume yang ditambahkan dan molar NaOH, kita
dapat menentukan konsentrasi asam (Timberlake, 2004 : 354-355).

DAFTAR PUSTAKA

1. Atkins, Peter and Jones Lorette. 1997. Chemistry Molecules and Canges, 3rd Ed. New York: W. H. Freeman and
Company.
2. Brady, James E. 1999. Kimia Universutas Asas dan Struktur. Jakarta: Binarupa Aksara
3. Keenan, C. W, dkk. 1998. Kimia untuk Universitas. Jakarta: Erlangga.
4. Petrucci, Ralph H and Willias S. Harwood. 1997. General Chemistry. New Jersey: Prentice Hall.
5. Snyder, Milton K. 1996. Chemistry Structure and Reaction. New York: Holt, Rinehart And winston. Inc.
6. Syukri. 1999. Kimia Dasar 2. Bandung ITB. Timberlake,
1. Karen C. 2004. General, Organic and Biological Chemistry Structure Of Life. San Fransisco: Pearson Benjamin
Cummings.

http://forumborneo.net/modules.php?name=News&file=article&sid=14

http://file.upi.edu/Direktori/D%20-%20FPMIPA/JUR.%20PEND.%20KIMIA/195912291991012%20-
%20ZACKIYAH/Titrasi%20redoks.pdf