Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PENDAHULUAN

HIPERHIDROSIS

1. Definisi

Hiperhidrosis atau sekresi keringat berlebihan, merupakan peningkatan sekresi kelenjar


eksokrin yang masif, ini merupakan suatu kondisi medis di mana seseorang berkeringat
berlebihan dan tak terduga. Orang dengan hiperhidrosis mungkin berkeringat bahkan saat
suhu dingin atau ketika mereka beristirahat.

Peningkatan sekresi atau pengeluaran kelenjar keringat ini pada sebagian orang tidak
menimbulkan keluhan yang berarti, sehingga tidak memerlukan pengobatan. Pada individu
tertentu dapat menimbulkan masalah sosial, mengganggu pekerjaan, misalnya pada jenis
pekerjaan yang berhubungan dengan uang, kertas, alat-alat listrik dan dapat pula
mempercepat kerusakan pakaian dan sepatu.

Hiperhidrosis dapat mengenai pria maupun wanita, pria lebih banyak menderita hiperhidrosis
aksilaris, tetapi umumnya yang datang berobat adalah wanita. Dapat timbul pada masa kanak-
kanak, tetapi lebih menonjol pada usia pubertas yang mungkin erat hubungannya dengan
faktor emosional. Umumnya dapat mengalami remisi spontan pada usia dewasa atau pada
dekade ke tiga.

2. Etiologi

Berkeringat membantu tubuh tetap dingin. Dalam kebanyakan kasus, itu adalah wajar.
Penderita dengan hiperhidrosis tampaknya memiliki kelenjar keringat yang terlalu aktif.
Berkeringat tak terkendali dapat menyebabkan ketidaknyamanan yang signifikan, baik secara
fisik dan emosional.

Ketika keringat berlebihan mempengaruhi tangan, kaki, dan ketiak, ini disebut hiperhidrosis
primer atau fokus. Hiperhidrosis primer berarti memang kelenjar keringat pada daerah-daerah
yang mempunyai kelenjar keringat itulah yang sangat aktif bekerja. Pada kebanyakan kasus
hiperhidrosis primer, penyebabnya tidak dapat ditemukan. Tampaknya berjalan dalam
keluarga atau secara genetis. Hiperhidrosis primer merupakan gangguan yang paling sering
dijumpai, penyebabnya tidak diketahui.

Jika berkeringat terjadi sebagai akibat dari kondisi medis lain misalnya penyakit sistemik, hal
itu disebut hiperhidrosis sekunder. Berkeringat mungkin seluruh tubuh, atau mungkin di satu
daerah. Kondisi yang menyebabkan hiperhidrosis sekunder meliputi:

Acromegaly adalah gangguan hormonal yang berkembang saat kelenjar pituitary


memproduksi terlalu banyak hormon pertumbuhan selama masa dewasa.
Kondisi kecemasan
Cancer
Sindrom karsinoid
Obat-obat tertentu dan penyalahgunaan zat
Gangguan kontrol glukosa
Penyakit jantung
Hipertiroidisme adalah suatu kondisi yang ditandai dengan kelebihan produksi
hormon tiroid. Hipertiroidisme biasanya disebabkan oleh kondisi yang mendasarinya,
seperti penyakit Graves, radang tiroid, pertumbuhan jinak pada kelenjar tiroid dan
berlebihan yodium. Gejala yang paling umum dari hipertiroid termasuk keringat
berlebihan
Penyakit paru-paru
Menopause
Penyakit Parkinson
Pheochromocytoma. Pheochromocytoma adalah tumor yang berkembang di inti dari
salah satu kelenjar adrenal. Tumor ini menyebabkan kelenjar adrenal untuk
menghasilkan jumlah kelebihan hormon, yang berbahaya dapat meningkatkan tekanan
darah dan detak jantung. Gejala pheochromocytoma yang termasuk keringat
berlebihan
Cedera tulang belakang
Stroke
Tuberkulosis atau infeksi lainnya
3. Fatofisiologi
Organ-organ yang berperan dalam patofisiologi hiperhidrosis ialah kelenjar keringat dan
susunan saraf otonom. Kelenjar keringat terdiri atas kelenjar ekrin yang terutama terdapat
pada telapak tangan, telapak kaki dan puncak aksila, dan kelenjar apokrin yang terdapat pada
aksila, perineum dan areola mammae. Sekresi kelenjar ekrin ini berjumlah banyak, berbentuk
cair, tidak berbau, mengandung urea dan asam laktat. Kelenjar ini diaktivasi oleh saraf
kolinergik dan dihambat oleh atropin, serta mempunyai peranan dalam termoregulasi. Sekret
kelenjar apokrin biasanya kental, berbau tajam dan tidak berperanan dalam termoregulasi.
Susunan saraf otonom dibagi atas bagian pusat dan perifer. Bagian pusat mencakup susunan
limbik dan hipotalamus, sedangkan perifer dikenal sebagai ganglion paravertebralis. Bagian
perifer ini secara fisiologik dibedakan dalam komponen simpatik dan parasimpatik
berdasarkan macam zat pcnghantar impuls (neurotransmitter), yaitu asetilkolin dan
norepinefrin. Semua serabut preganglionik saraf simpatis mengeluarkan norepinefrin, kecuali
yang mempersarafi kelenjar keringat menghasilkan asetilkolin.

Peningkatan sekresi kelenjar keringat banyak dipengaruhi olch faktor emosi, panas dan
rangsangan dari luar lainnya. Stimuli ini akan mcrangsang hipotalamus dan kemudian
diteruskan ke perifer, mengaktivasi simpatetik dan menyebabkan kelenjar ekrin bersekresi.
Banyaknya sekresi kelenjar keringat ini bervariasi pada tiap individu, dan bila sekresi ini
sangat berlebihan, dapat dianggap scbagai manifestasi gangguan kescimbangan antara saraf
simpatik dan parasimpatik.
4. Pemeriksaan Penunjang

1. Tes urine dan darah


Sampel urine serta darah merupakan langkah berikutnya yang dilakukan seorang
dokter untuk mendiagnosa hiperhidrosis. Sampel urin dan darah tersebutakan diteliti
di laboratorium agar dapat mengetahui kondisinya yang sebenarnya

2. Tes keringat
Pada kondisi hiperhidrosis dimana kasus ini berfokus pada masalah keringat, tes
keringat ini juga dapat dilakukan. Terdapat sejumlah metode untuk pemeriksaan pada
pasien yang harus dilakukan supaya dokter dapat menentukan tingkat keparahan dari
kondisi hiperhidrosis pasien. Tes yang dimaksud yaitu tes thermoregulatory sweat, tes
konduksi kulit serta tes iodine-starch.

3. Endoskopi simpatektomi dada


Metode endoskopi simpatektomi dada merupakan suatu tindakan medis yang berupa
pembedahan. Tujuan dilakuakn metode ini adalah supaya saraf sebagai pengendali
produksi keringat dapat dipotong ataupun dihambat.

4. Pengangkatan kelenjar keringat


Metode pengangkatan kelenjar keringatbisa ditempuh seorang pasien hiperhidrosis
tujuannyaagar keringat yang di produksi berlebihan khususnya di bagian ketiak
ataupun bawah lengan bisa ditangani.

5. Manisfestasi klinis

Berdasarkan gambaran kiinis, dibagi atas hiperhidrosis lokalisata dan generalisata.

Hiperhidrosis lokalisata
Kelainan ini dijumpai pada telapak tangan, telapak kaki dan daerah intertriginosa
seperti aksila, inguinal dan perineal. Penyebab utama kelainan ini ialah gangguan
emosional dan suhu yang panas. Bentuk lain yang jarang ialah ephidrosis, yaitu
hiperhidrosis pada suatu daerah tertentu, selain telapak tangan, telapak kaki dan dahi.
Galdstein (1967) melaporkan sebuah kasus hiperhidrosis pada lengan bawah kanan
seorang anak perempuan berusia 12 tahun, yang juga dipengaruhi oleh gangguan
emosional dan suhu yang panas.

Hiperhidrosis gustatorik, merupakan hiperhidrosis lokalisata yang terjadi oleh karena


rangsangan makanan yang pedas atau panas pada papil pengecap. Dapat
menimbulkan keringat yang berlebihan pada dahi, hidung, bagian atas bibir dan leher
belakang.

Pada pasca parotidektomi atau pasca simpatektomi dapat timbul hiperhidrosis


gustatorik walaupun dengan rangsangan minimal, tetapi mekanismenya belum
diketahui dengan jelas.

Hiperhidrosis kompensatorik dapat terjadi pada suatu daerah, setelah kelenjar keringat
daerah lain mengalami inaktivasi atau anhidrosis. Pasca simpatektomi juga dapat
menimbulkan hiperhidrosis kompensatorik, sedangkan pada hemiparesis dapat
dijumpai hiperhidrosis pada sisi anggota badan yang lumpuh

Hiperhidrosis generalisata

Pada umumnya hiperhidrosis generalisata yaitu sebagian besar tubuh seolah-olah


mengalami Hiperhidrosis disebabkan oleh penyakit sistemik seperti hipertiroid,
diabetes melitus, feokhromositom, tuberkulosis, limfoma, brusellosis dan lain-lain.
Gangguan emosional seperti ketakutan atau kecemasan yang berlebihan juga dapat
menimbulkan hiperhidrosis generalisata.

Hurley membagi hiperhidrosis menjadi 2 bagian yaitu tipe neural dan non neural.

Hiperhidrosis tipe neural dapat terjadi path :


Korteks serebri : berupa gangguan emosional.
Hipotalamus : berupa gangguan termoregulator, metabolisme, nerologik, infeksi.
Medulla serebri : hiperhidrosis gustatorik fisiologik.
Medulla spinalis : trauma, siringomielia, tabes dorsalis.
Refleks akson : obat-obatan (asetilkolin, nikotin), perilesi.

Hiperhidrosis tipe non neural dapat berupa :

Panas lokal.
Obat-obatan : kolinergik, adrenergik, penghambat asetilkolin esterase.
Gangguan aliran darah atau kelen jar keringat : nevus sudorifems, sindrom Maffucci,
sindrom KlippelTrenaunay, tumor glomus.

DAFTAR PUSTAKA

Coge GW, Sato K, Schachman H. Eccrine glands. In: Fitzpatrick (ed) Dermatology in
General Medicine, 3rd ed. New York: McGrawHill Book Co, 1987 : 6968.

Hurley HJ. The eccrine sweat glands. In: Moschella S, (ed) Dermatology, 2nd ed.
Philadelphia: WB Saunders Co, 1985: 134352.

James WD, Schoemaker EB, Rodman COG. Emotional eccrine sweating. Arch
Dermatol 1987; 123 : 9259.

Dobson RL Treatment of hyperhidrosis. Arch Dennatol 1987;123: 8835.

Ellis H. Axillary hyperhidrosis. Br Med J 1977; ii : 3012.

Greenhald RM, Rosengarten DS, Martin P. Role of sympathectomy for hyperhidrosis.


Br Med J 1971; 3324.

Harahap M. Hyperhidrosis axillaris. In: Skin Surgery. St Louis : Warren H