Anda di halaman 1dari 23

KAITAN PANCASILA DENGAN IMPLEMENTASI HAM DI

INDONESIA

DI SUSUN OLEH

AYU LESTARI
5535161031

Pendidikan Tata rias


Fakultas Teknik
2016

1|
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan hak-hak yang dimiliki manusia sejak ia
lahir yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat siapapun.Hak Asasi
merupakan sebuah bentuk anugrah yang diturunkan oleh Tuhan sebagai sesuatu karunia
yang paling mendasar dalam hidup manusia yang paling berharga. Hak Asasi dilandasi
dengan sebuah kebebasan setiap individu dalam menentukan jalan hidupnya, tentunya Hak
asasi juga tidak lepas dari kontrol bentuk norma-norma yang ada. Hak-hak ini berisi
tentang kesamaan atau keselarasan tanpa membeda-bedakan suku, golongan, keturunanan,
jabatan, agama dan lain sebagainya antara setiap manusia yang hakikatnya adalah sama-
sama makhluk ciptaan Tuhan.
Terkait tentang hakikat hak asasi manusia, maka sangat penting sebagai makhluk
ciptaan Tuhan harus saling menjaga dan menghormati hak asasi masing-masing individu.
Namun pada kenyataannya, kita melihat perkembangan HAM di Negara ini masih banyak
bentuk pelanggaran HAM yang sering kita temui.
HAM juga mempunyai keterkaitan dengan pancasila, baik sebagai dasar Negara
maupun sebagai ideologi bangsa banyak mendapat sorotan. Pada tatanan faktual misalnya
selalu digeneralisasi bahwa adanya penyimpangan-penyimpangan dalam penyelenggaraan
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, pelanggaran HAM dan bentuk lainnya
seperti KKN, dianggap sebagai bukti ketidakberdayaan ideology Pancasila dalam
mengatasi berbagai masalah bangsa yang timbul dalam era reformasi sekarang dan
pengaruh kehidupan global. Pancasila juga mendapat sorotan dari para penulis dari
berbagai disiplin ilmu. Meskipun demikian, pada dasarnya semua menyadari bahwa
Pancasila memuat sejumlah nilai dasar (sistem nilai universal) yang melandasi HAM dan
tidak dapat dipisahkan dari cita rakyat Indonesia. Pancasila tidak dapat dipisahkan dengan
UUD 1945 sebagai landasan konstitusional. Masalah HAM adalah sesuatu hal yang sering
kali dibicarakan dan dibahas terutama dalam era reformasi ini. Dalam pemenuhan tentang
HAM ini, kita harus ingat bahwa kita sebagai makhluk sosial tidak dapat menghindari
untuk bersentuhan atau bersinggungan dengan kepentingan orang lain. Jangan sampai

2|
untuk memenuhi HAM pribadi masing masing, orang sampai melakukan pelanggaran
terhadap HAM orang lain.

1.2 Permasalahan
1. Apa yang di maksud dengan Hak Asasi Manusia (HAM)?
2. Bagaimanakah implementasi HAM dalam Pancasila?
3. Bagaimanakah prinsip HAM dalam sila-sila dari Pancasila?
4. Bagaimana upaya penegakkan HAM di Indonesia?

3|
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pengertian HAM


Hak asasi manusia adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh setiap manusia sebagai
anugerah Tuhan yang dibawa sejak lahir. Menurut UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak
Asasi Manusia dinyatakan bahwa HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat
dan keberadaan manusia sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang wajib dihormati,
dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh Negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi
kehormatannya, serta perlindungan harkat dan martabat manusia.
Menurut pendapat Jan Materson (dari komisi HAM PBB), dalam Teaching Human
Rights, United Nations sebagaimana dikutip Baharuddin Lopa menegaskan bahwa HAM
adalah hak-hak yang melekat pada setiap manusia, yang tanpanya manusia mustahil dapat
hidup sebagai manusia.
John Locke menyatakan bahwa HAM adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan
Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati. (Mansyur Effendi, 1994).
Dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM disebutkan
bahwa Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan
keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-
Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum,
pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat
manusia
Selain pandangan Internasional terhadap hak asasi manusia, bangsa Indonesia juga
mempunyai pandangan bahwa hak asasi manusia harus dijunjung tinggi sesuai dengan
Pancasila. Dalam perjalanan sejarah, bangsa Indonesia mengalami berbagai kesengsaraan
dan penderitaan yang disebabkan oleh penjajahan. Oleh karena itu pandangan mengenai
hak asasi manusia yang dianut oleh bangsa Indonesia bersumber dari ajaran agama, nilai
moral universal, dan nilai luhur budaya bangsa, serta berdasarkan pada Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945.
HAM memiliki beberapa ciri khusus, yaitu sebagai berikut:
Hakiki (ada pada setiap diri manusia sebagai makhluk Tuhan).

4|
Universal, artinya hak itu berlaku untuk semua orang.
Permanen dan tidak dapat dicabut.
Tak dapat dibagi, artinya semua orang berhak mendapatkan semua hak.
Perkembangan tuntutan HAM berdasar tingkat kemajuan peradaban budaya dapat dibagi
secara garis besar meliputi bidang sebagai berikut.
Hak asasi pribadi (personal rights) Hak asasi di bidang politik (politic rights)
Hak asasi di bidang ekonomi (economic and property rights)
Hak asasi di bidang sosial budaya (social and cultural rights)
Hak untuk memajukan ilmu dan teknologi
Hak asasi untuk mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan
(procedural rights)
Hak asasi di bidang HANKAM (defense and security rights)

2.2 Implementasi HAM dalam Pancasila


HAM merupakan salah satu contoh dari penerapan pancasila sila kedua.
Maksudnya disini adalah bagaimana HAM benar-benar dilaksanakan dan dijunjung tinggi
dengan tetap berpegang pada pernyataan pancasila yang berbunyi Kemanusiaan yang adil
dan beradab. Di dalam kehidupan bangsa, manusia mempunyai kedudukan sebagai warga
masyarakat dan warga negara. Oleh karena itu, mereka berhak untuk memiliki suatu
kedudukan (harkat, martabat, dan drajat) yang sama. Sila kedua pancasila ini mengandung
nilai-nilai kemanusiaan yang mengakui adanya harkat dan martabat manusia, mengakui
bahwa semua manusia adalah bersaudara, mengakui bahwa setiap manusia berhak
diperlakukan secara adil, dan pengakuan bahwa setiap manusia wajib mengembangkan
kehidupan bersama yang semakin berbudaya (beradab).
Atas dasar tersebut, sila kemanusiaan tidak akan membedakan manusia dalam
memperlakukan dan mengakui harkat dan martabatnya baik karena perbedaan kulit, suku,
jenis kelamin, agama, dan lain-lain. Setiap warga negara diberi kebebasan yang sama, tidak
ada perbedaan apapun misalnya kebebasan memeluk agama. Dalam melaksanakan perintah
agama, diwajibkan saling menghormati. Kita tidak boleh melecehkan agama dan
keyakinan orang lain.
Peraturan pelaksanaan hak asasi manusia berbentuk peraturan perundang-undangan
yang bersumber pada pancasila. Dalam pelaksanaannya, hak asasi perlu dilindungi dengan
pelaksanaan kewajibannya. Setiap orang mempunyai hak asasi. Sesuai dengan ajaran hak

5|
asasi dalam berbagai peraturan yang berlaku, hak asasi manusia tidak dapat dilaksanakan
secara mutlak sebab kalau dilaksanakan secara mutlak maka akan melanggar hak asasi
orang lain. Jadi batas pelaksanaan hak asasi adalah hak milik orang lain.
Mertoprawiro (dalam Margono, dkk, 2002: 60) menyatakan bahwa pelaksanaan hak
asasi manusia dalam pancasila harus selalu ada keserasian atau keseimbangan antara hak
dan kewajiban itu sesuai dengan hakikat kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan
dengan masyarakatnya. Kedua saling membutuhkan dan mempengaruhi. Keseimbangan
tersebut harus dicapai sehingga dapat memberikan ketenangan dan keberhasilan setiap
manusia.
Oleh karena itu, upaya pemajuan dan perlindungan Hak-hak Asasi Manusia di
Indonesia dilakukan berdasarkan prinsip keseimbangan. Prinsip keseimbangan
mengandung pengertian bahwa diantara Hak-hak Asasi Manusia perorangan dan kolektif
serta tanggung jawab perorangan terhadap masyarakat dan bangsa memerlukan
keseimbangan dan keselarasan. Keseimbangan dan keselarasan antara kebebasan dan
tanggung jawab merupakan faktor penting dalam pemajuan dan perlindungan Hak-hak
Asasi Manusia. Di dalam era globalisasai sekarang ini, tidak ada negara yang bisa menutup
dirinya dari masyarakat internasional, mengucilkan diri dari komunitas internasional, dan
sebaliknya kalau ingin menjalin hubungan dengan banyak negara, pemerintah yang
berkuasa tidak bisa berbuat sewenang-wenang, sehingga kehilangan kelayakan sebagai
suatu pemerintah. Demikian pula dengan warga negara juga tidak bisa melanggar hukum
dan Hak Asasi Manusia.
Semua pihak, yakni pemerintah, organisasi-organisasi sosial politik dan
kemasyarakatan, maupun berbagai lembaga-lembaga swadaya masyarakat, serta semua
kalangan dan lapisan masyarakat dan warga negara perlu terlibat dalam penegakan Hak
Asasi Manusia di Indonesia. Upaya-upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam
rangka menegakan Hak Asasi Manusia di antaranya melalui pembentukan Komisi Nasional
Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan pengadilan HAM, serta Komisi Kebenaran dan
Rekonsiliasi.
Pemerintah juga memberlakukan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang
Hak Asasi Manusia. Undang-undang ini merupakan payung dari seluruh peraturan
perundang-undangan tentang Hak Asasi Manusia. Pembentukan Undang-Undang tersebut

6|
merupakan perwujudan tanggung jawab bangsa Indonesia sebagai anggota PBB dalam
menjunjung tinggi dan melaksanakan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Ternyata
penegakan Hak Asasi Manusia masih jauh dari harapan masyarakat. Banyak hambatan dan
tantangan dalam penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia. Sejarah Indonesia hingga
kini mencatat berbagai penderitaan, kesengsaran, dan kesenjangan sosial. Hal tersebut
disebabkan oleh perilaku tidak adil dan diskriminatif atas dasar etnik, ras, warna kulit,
budaya, bahasa, agama, golongan, jenis kelamin, dan status sosial lainnya. Kenyataan
memang menunjukan bahwa pelaksanaan penghormatan, perlindungan, atau pengakuan
Hak Asasi Manusia masih jauh dari memuaskan.
Hal tersebut tercermin dari kejadian berupa penangkapan yang tidak sah,
penculikan, penganiayaan, pemerkosaan, penghilangan paksa, bahkan pembunuhan,
pembakaran rumah tinggal dan tempat ibadah, penyerangan pemuka agama beserta
kelurganya dan sebagainya. Selain itu, terjadi pula penyalahgunaan kekuasaan oleh oknum
pejabat publik dan aparat negara. Mereka yang seharusnya menjadi penegak hukum,
pemelihara keamanan, dan pelindung rakyat, kadang kala justru mengintimidasi,
menganiaya atau bahkan menghilangkan nyawa rakyat. Adapun hak hak asasi manusia
dapat dibedakan menjadi: (1) hak-hak asasi pribadi meliputi kebebasan menyatakan
pendapat, memeluk agama, bergerak, dan sebagainya; (2) hak-hak asasi ekonomi yaitu hak
untuk memiliki sesuatu, membeli, dan menjual serta memanfaatkannya; (3) hak-hak asasi
politik yaitu hak untuk ikut serta dalam pemerintahan, hak pilih, hak untuk mendirikan
partai politik dan sebagainya; dan (4) hak-hak asasi untuk mendapatkan perlakuan yang
sama dalam hukum dan pemerintahan.
Implementasi HAM dapat dipahami secara benar maka perlu dilakukan upaya
untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya HAM dalam kehidupan sosial maupun
kehidupan individu yang tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari, upaya tersebut
harus diupayakan secara terus menerus ke setiap orang sedini mungkin melalui pendidikan
HAM baik pendidikan formal maupun non formal. Implementasi HAM tidak hanya
disadari dengan pikiran tetapi harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh agar tercipta
keseimbangan hidup di dalam masyarakat.

2.3 Prinsip HAM dalam Sila-sila dari Pancasila

7|
The founding fathers setelah melakukan perenungan yang dalam dan panjang
akhirnya menyepakati, menetapkan serta mengesahkan Pancasila sebagai pandangan hidup
bangsa, dasar dan ideologi Negara pada 18 Agustus 1945. sumber bahan dan nilai
Pancasila digali dari diri bangsa Indonesia sendiri.
Nilai yang terkandung dalam lima sila Pancasila, menurut Hamid Attamimi (BP-7
Pusat, 1993:69) memiliki fungsi konstruktif dan regulatif. Fungsi konstruktif mengandung
arti bahwa Pancasilalah yang menentukan apakah tata hukum Indonesia merupahan tata
hukum yang benar. Pancasila di sini merupakan dasar suatu tata hukum, yang tanpa itu
suatu tata hukum kehilangan arti dan makna sebagai hukum. Pancasila juga memiliki
fungsi regulatif yang menentukan apakah hukum positif yang berlaku di Indonesia
merupakan hukum yang adil atau tidak. Bila mengacu kepada fungsi konstruktif dan
regulatif dari Pancasila, maka menjadi catatan kita bersama bahwa setiap proses
perumusan perundang-undangan (termasuk di dalamnya UU tentang HAM), para perumus
harus selalu menjadikan nilai-nilai universal dan bahkan nilai lokal yang terkandung dalam
Pancasila sebagai acuannya.
Sistem nilai universal dari Pancasila yang melandasi HAM adalah
a) Nilai religius atau ketuhanan
Nilai religius (ketuhanan) yang diamanatkan dalam sila pertama, dapat dikatakan
merupakan suatu keunikan dalam penyelenggaraan Negara RI dibandingkan dengan
Negara-negara Barat misalnya, yang tentunya berangkat dari kondisi masyarakat
Indonesia sendiri. Ide tentang HAM bagi bangsa Indonesia adalah HAM yang tidak
bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan. Karena HAM bersumber dari nilai-nilai
ketuhanan sehingga HAM yang dikembangkan tidak menyalahi aturan yang
ditetapkan Tuhan.
Manusia dengan menempatkan dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha
Kuasa, maka pada dasarnya manusia itu, termasuk manusia yang menyelenggarakan
kekuasaan tidak akan berarti apapun dalam kehidupannya tanpa kekuasaanNya, sebab
di depan Tuhan semua manusia sama. Harkristuti Harkrisnowo (2002: 5), merinci
kerangka pikiran utama yang dapat ditarik dari sila pertama Pancasila dalam kaitannya
dengan HAM (termasuk kaitannya dengan hukum) adalah:

8|
Negara berkewajiban untuk menjamin hak dan kebebasan dasar pada setiap
individu untuk beragama secara bebas.
Ketentuan perundang-undangan harus selalu mengacu pada nilai-nilai ke-Tuhan-
an yang universal
Semua individu dalam Negara memiliki hak yang asasi untuk memilih dan
menjalankan ibadahnya sesuai dengan apa yang ia percaya, dan tiada apapun
yang dapat memaksanya untuk memilih dan menjalankan ibadahnya tersebut.
Derivasi dari asas di atas telah secara tegas dirumuskan dalam pasal 2 UU No. 39
tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, yang menyebutkan bahwa Negara Republik
Indonesia mengakui dan menjunjung tinggi hak dan kebebasan dasar manusia sebagai
hak yang secara kodrati melekat pada dan tak terpisahkan dari manusia, yang harus
dilindungi, dihormati, dan ditegakkan demi peningkatan martabat kemanusiaan,
kesejahteraan, kebahagiaan, dan kecerdasan serta keadilan (Sinar Grafika, 1999; 4).
Pemahaman nilai ini di tingkat praksis juga Nampak belum bulat. Hal ini dapat dilihat
dari berbagai tingkat dan bentuk konflik yang terjadi di beberapa daerah yang masih
dilandasi oleh hal-hal yang primordial.
b) Nilai kemanusiaan
Kemanusaiaan yang adil dan beradab sebagai sila kedua Pancasila mengandung
nilai kemanusiaan, yaitu pengakuan terhadap adanya martabat manusia dengan segala
hal asasinya yang harus dihormati oleh siapapun, dan perlakuan yang adil terhadap
sesama manusia. Pengertian manusia beradab adalah manusia yang memiliki daya
cipta, rasa, karsa dan iman, sehingga nyatalah bedanya dengan makhluk lain (Suhadi,
2003: 42). Nilai-nilai kemanusiaan ini merupakan sumber nilai bagi HAM. Tanpa nilai
kemanusiaan, HAM akan mengakibatkan manusia ke luar dari jatidirinya sebagai
manusia. Untuk itu, kemanusiaan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia adalah
berkeadilan dan berkeadaban. Karena itu perwujudan HAM harus meningkatkan
keadilan dan peradaban manusia. Sila kedua Pancasila inilah yang melandasi sejumlah
hak dan kebebasan mendasar bagi seluruh individu yang berada dalam wilayah
Indonesia.
Prinsip yang terkandung dalam sila kedua Pancasila menjadi landasan untuk
berperilaku terhadap sesama (Harkristuti Harkrisnowo, 2002:8), yang pada dasarnya
antara lain adalah:
9|
Setiap individu memiliki kebebasan mendasar yang dijamin Negara dan hanya
dibatasi oleh kebebasan orang lain.
Setiap individu harus diberlakukan sama oleh Negara tanpa melihat asal-usul
biologis maupun sosialnya.
Hak atas hidup yang berkualitas, hak atas rasa aman dari ancaman, serangan atau
derita apapun dimiliki oleh setiap individu.
Setiap individu harus dilindungi dan berhak untuk tidak disiksa secara psikis
maupun psikologis dan pejabat publik.
c) Nilai persatuan
Sila ketiga pancasila yakni persatuan Indonesia mengandung nilai-nilai persatuan
bangsa. Nilai persatuan yang ada disesuaikan dengan nilai-nilai ke-Indonesia-an. Nilai
persatuan yang dimaksud adalah kondisi dinamis untuk mewujudkan persatuan dan
kesatuan secara terus menerus dari bangsa Indonesia yang sangat heterogen, baik dari
segi ras, suku, agama, tingkat ekonomi maupun keyakinan politik. Sila ketiga
Pancasila inilah yang membuahkan kerangka pikir, misalnya penghormatan kepada
setiap perbedaan yang ada, penghormatan pada hukum dan masyarakat adat, harmoni
dan keseimbangan.
d) Nilai kerakyatan
Kerakyatan yang dipimpin olah hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
/perwakilan, sebagai sila keempat pancasila, merupakan asas yang menghasilkan
seperangkat nilai yang menjadi landasan kehidupan sebagai warga Negara dalam
pemerintahan, yang dirumuskan dalam hak untuk turut serta dalam pemerintahan.
Manusia Indonesia sebagai warga Negara dan warga masyarakat mempuyai
kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama. Di dalam menyelesaikan masalah bersama
diutamakan musyawarah dengan melibatkan seluruh komponen ikut berpartisipasi
dalam masalah tersebut. Pada dasarnya asas yang dianut dalam sila keempat Pancasila
adalah mengutamakan partisipasi publik yang merupakan salah satu unsur dalam
kerangka Good Governance. Implikasinya adalah bahwa dalam proses pengambilan
keputusan, publik harus dilibatkan untuk menyuarakan aspirasi mereka.
e) Nilai keadilan.
Sila kelima pancasila di dalamnya terkandung nilai nilai keadilan sosial, antara lain
berupa

10 |
perwujudan keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat meliputi seluruh
rakyat Indonesia,
keadilan dalam kehidupan social terutama meliputi bidang ideologi, politik,
ekonomi, sosial, kebudayaan, serta pertahanan keamanan, dan
cita-cita masyarakat adil makmur material dan spiritual secara merata bagi
seluruh rakyat Indonesia,
adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta menghormati hak-hak
orang lain, dan
cinta akan kemajuan dan pembangunan.
Nilai keadilan harus menjadi dasar dalam pembangunan HAM karena tanpa keadilan
HAM akan menjadi manusia kehilangan jati dirinya sebagai manusia. Menjadilah ia
bertindak sewenang-wenang dan melanggar HAM manusia lainnya. Sila keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia mengandung elemen keadilan yang sebenarnya
lebih dari sekedar keadilan menurut hukum (legal justice).
Sila kelima Pancasila ini menurut Harkristuti Harkrisnowo (2002:10), membawa ke
depan sejumlah landasan pikir bagi semua komponen yang menyangkut antara lain:
Hak atas pendidikan, pekerjaan, perumahan yang layak bagi setiap insan
Hak atas keadilan hukum yang didasarkan pada asas persamaan di muka
hukum.
Adannya mekanisme hukum yang memastikan bahwa keadilan diberikan pada
setiap insan.

2.4 Upaya Penegakan HAM


Untuk menjaga penegakkan HAM, maka dibutuhkan suatu lembaga yang
memantau proses penegakkan HAM. Di dalam PBB sendiri terdapat beberapa badan yang
mengatur tentang penegakkan HAM secara internasional. Hal ini membuat Indonesia
membangun suatu mekanisme penegakkan HAM untuk mengawasi proses penegakkan
HAM di Indonesia. Berikut ini adalah lembaga lembaga ( internasional dan nasional )
yang mengawasi proses penegakkan HAM di dunia internasional :
1. Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights
Agen PBB yang bekerja untuk mempromosikan dan melindungi hak asasi manusia
yang dijamin di bawah hukum internasional dan ditetapkan dalam Deklarasi Universal
Hak Asasi Manusia 1948
11 |
United Nations Security Council
Salah satu organ utama Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bertugas memelihara
perdamaian dan keamanan internasional. Kekuasaannya, yang diatur dalam Piagam
Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk pembentukan operasi penjaga perdamaian ,
pembentukan sanksi internasional, dan memiliki otorisasi tindakan militer. Kekuasaan
tersebut telah ditinjau melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB Resolusi.
2. United Nations Human Rights Council
Badan antar-pemerintah dalam Sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa. Bertindak sebagai
penghubung ke Komisi PBB tentang Hak Asasi Manusia dan sebagai bagian dari
Majelis Umum PBB. Dalam menjalankan pekerjaannya badan ini bekerja sama
dengan Kantor Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia dan melibatkan Perserikatan
Bangsa-Bangsa
International Criminal Court
Pengadilan yang berfungsi untuk menuntut individu-individu yang melakukan
tindakan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, dan agresi.
3. OSCE Representative on Freedom of the Media
Pengawas dalam bidang perkembangan media di 56 negara anggota yang
berpartisipasi di OSCE ( Organization for Security and Cooperation in Europe ).
Perwakilan akan memberikan peringatan dini apabila terjadi pelanggaran kebebasan
berekspresi dan akan melanjutkan ke perwakilan OSCE sesuai dengan prinsip-prinsip
dan komitmen tentang kebebasan berekspresi dan kebebasan pers.
4. UNESCO
Sebuah badan khusus PBB yang didirikan pada tanggal 16 November 1945. Bada ini
memiliki tujuan untuk memberikan kontribusi pada perdamaian dan keamanan
internasional dengan mempromosikan melalui kolaborasi pendidikan, ilmu
pengetahuan, dan budaya dalam rangka mensosialisasikan hormat kepada keadilan,
aturan hukum, dan hak asasi manusia dan kebebasan mendasar seperti yang
dinyatakan dalam Piagam PBB. Badan ini merupakan perwujudan dari Liga Bangsa-
Bangsa pada bagian Komisi Kerjasama dalam bidang Intelektual.
Dalam lingkup nasional juga terdapat beberapa lembaga yang mengawasi proses
penegakkan HAM, diantaranya:

12 |
1. Mahkamah Konstitusi Lembaga tinggi negara ini dalam sistem ketatanegaraan
Indonesia merupakan pemegang kekuasaan kehakiman bersama-sama dengan
Mahkamah Agung. Menurut Undang Undang Mahkamah Konstitusi memiliki tugas
sebagai berikut :
a. Berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya
bersifat final untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar,
memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan
oleh UUD 1945, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan
tentang hasil Pemilihan Umum
b. Wajib memberi putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai
dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut UUD 1945.
Perkembangan pengaturan hak asasi manusia di Indonesia telah dipengaruhi oleh
perubahan politik setelah turunnya Presiden Soeharto tahun 1998. Sidang Istimewa
MPR bulan November 1998, misalnya, menghasilkan Ketetapan No. XVII/MPR/1998
tentang Hak Asasi Manusia dan disusul dengan penerbitan Undang-Undang Nomor 39
Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Ketentuan lebih ekstensif tentang hak asasi
manusia dicantumkan pula dalam Perubahan Ketiga Undang-undang Dasar 1945
(tahun 2000), meskipun terdapat kemiripan rumusan antara hasil amandemen
konstitusi dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 dan Ketetapan No.
XVII/MPR/1998.
Menurut Pasal 28I ayat (4) Undang-Undang Dasar 1945, negara berkewajiban
untuk melindungi, memajukan, menegakkan dan memenuhi hak asasi manusia
(rumusan yang dalam instrumen interasional dirumuskan sebagai kewajiban to protect,
to promote, to implement or enforce and to fulfill human rights). Bagaimana hak asasi
manusia ditegakkan di hadapan ancaman-ancaman kekuasaan yang tak perlu dan
berlebihan, apa lagi yang bersalah-guna (corrupt)? Dalam kaitan ini penting pula untuk
memeriksa mekanisme penyampaian keluhan publik (public complaints procedure),
peradilan administrasi/tata-usaha negara, peradilan di bawah Mahkamah Agung (MA),
peradilan hak asasi manusia, komisi kebenaran dan rekonsiliasi (KKR), maupun
pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945 oleh Mahkamah
Konstitusi (MK).
Pada dasarnya, secara strict wewenang Mahkamah Konstitusi menguji undang-
undang terhadap konstitusi merupakan uji konstitusionalitas sehingga dikenal sebagai
13 |
constitutional review. Dalam pelaksanaannya di Indonesia, dan berbagai negara, uji
konstitusionalitas itu disandarkan kepada suatu alas hak (legal standing) bahwa
undang-undang yang diuji telah merugikan hak dan/atau wewenang konstitusional
pemohon constitutional review. Rumusan ini perlu sedikit dijelaskan. Pertama,
dirumuskan sebagai hak dan atau wewenang. Wewenang konstitusional lebih terkait
dengan kewenangan lembaga negara yang berhak pula untuk memohon constitutional
review terhadap undang-undang dalam hal suatu undang-undang dinilai bertentangan
dengan konstitusi (dalam hal ini menyangkut kewenangan lembaga negara pemohon
pengujian). Kedua, hak konstitusional lebih dekat dengan jaminan perlindungan hak
asasi manusia bagi warga negara.
Secara kategoris, jaminan hak asasi manusia dalam Undang-Undang Dasar 1945
mencakup hak-hak sosial-politik, hak-hak kultural dan ekonomi, hak-hak kolektif, hak
atas pembangunan dan lain-lain. Jaminan hak asasi manusia dalam UUD RI tersebar
dalam sejumlah pasal antara lain 18B (2), 26, 27-28, 28A-28J (Bab XA), 29 (Bab
Agama), 31-32 (Bab Pendidikan dan Kebudayaan), 33-34 (Bab Ekonomi dan
Kesejahteraan Sosial), 30 (Bab Pertahanan dan Keamanan). Jadi, pengaturan
konstitusional mengenai hak asasi manusia tidak terbatas pada Bab XA tentang HAM.
Di sini perlu diberikan catatan tentang perumusan hak asasi manusia dalam Undang-
Undang Dasar 1945.
Pertama, pada umumnya hak tersebut dirumuskan sebagai hak setiap orang atau
individual rights. Hanya beberapa hak saja yang dirumuskan sebagai hak warga
negara, misalnya tentang kesempatan yang sama dalam pemerintahan, hak dalam
usaha pertahanan dan keamanan negara, dan hak memperoleh pendidikan (berturut-
turut lihat Pasal 28D ayat (3), Pasal 30 ayat (1) dan Pasal 31 ayat (1) UUD 1945).
Kedua, perbedaan perumusan ini membawa implikasi. Perumusan hak asasi
manusia sebagai hak perseorangan (individual) berarti memberi peluang untuk dijamin
dalam sistem hukum manapun (berdasarkan prinsip universalitas hak asasi manusia),
meskipun peluang ini dapat terhalang oleh ketentuan prosedural hukum acara yang
hanya memberi akses peradilan nasional kepada warga negara. Di sisi lain, perumusan
hak-hak konstitusional sebagai hak warga negara hanya terbatas bagi warga negara
yang bersangkutan (bukan sebagai hak semua orang).
Ketiga, meskipun dirumuskan sebagai hak asasi manusia tetapi pelaksanaan hak
konstitusional tertentu memang terkait dengan hubungan konstitusional (constitutional
14 |
and political relations) pemegang hak yang bersangkutan dengan konstitusi dan
negara. Ini mencakup, misalnya, hak untuk memperoleh kesempatan yang sama (equal
opprtunity and treatment) di muka pemerintahan. Sebagai hak asasi manusia, hak
seperti ini hanya dapat dipenuhi kepada warga negara. Begitu pula, hak
konstitusional untuk menikmati kewajiban negara dalam menyediakan anggaran
pendidikan sebesar 20 persen dalam APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara) maupun APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah), merupakan hak
warga negara (perhatikan bahwa besaran anggaran merupakan pilihan politik dan
hanya beberapa negara yang menentukan besaran tersebut).
Dalam konteks pemahaman di atas, beberapa hak telah secara meyakinkan
ditegakkan (dalam arti dikabulkan) melalui Putusan Mahkamah Konstitusi dalam
pengujian undang-undang. Beberapa contoh dikemukakan di sini.
Pertama, hak politik eks-PKI dan tahanan politik untuk menyalonkan diri sebagai
anggota legislatif dalam Putusan No. 11-017/PUU-I/2003 (pengujian UU No. 12
Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD).
Kedua, hak sipil berupa larangan penerapan Undang-Undang Anti Terorisme 2001
secara retroaktif dalam Putusan No. 013/PUU-I/2003 (pengujian UU No. 16 Tahun
2003 tentang Penetapan Perpu No. 2 Tahun 2002 tentang Pemberlakuan Perpu No. 1
Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme untuk kasus Bom Bali).
Hak yang ditegakkan melalui putusan merupakan hak yang secara konstitusional
termasuk kategori tak dapat dikurangi oleh siapapun dan dalam keadaan apapun.
Ketiga, dalam kaitan ini perlu disebut Putusan Mahkamah Konstitusi No.
006/PUU-IV/2006 (pengujian UU No. 27 Tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan
Rekonsiliasi). Dua hal yang kontradiktif perlu dicermati dari putusan ini. Pembatalan
ketentuan pemberian amnesti terhadap pelanggaran berat hak asasi manusia (gross
violation of human rights), yang terdapat dalam UU KKR 2004, memang sesuai
dengan rezim hak asasi manusia internasional. Tetapi, di sisi lain, keberadaan
ketentuan tersebut tidak dengan cukup menjadi dasar untuk menihilkan keseluruhan
UU KKR 2004 maupun makna KKR dalam penyelesaian pelanggaran hak asasi
manusia di Indonesia.
Keempat, hak sipil dan politik tentang kebebasan berpendapat dalam kaitan dengan
penghinaan terhadap kepala negara di dalam Putusan No. 013-022/PUUIV/2006
(pengujian Pasal 134, Pasal 136 bis, dan Pasal 137 KUHP).
15 |
Kelima, hak sosial-kultural dalam Putusan No. 011/PUU-III/2005 (pengujian UU
No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Putusan ini membatalkan
penjelasan UU Sisdiknas 2003 yang menentukan bahwa anggaran pendidikan sebesar
20 persen dalam APBN dan APBD dipenuhi secara bertahap. Tidak semua putusan
yang dicontohkan di atas berdampak langsung dalam kenyataan sosiologis, meskipun
putusan Mahkamah Konstitusi bersifat final dan mengikat. Legal efficacy putusan
sering ditentukan dalam putusan yang bersangkutan, misalnya hak eks-PKI dan tapol
tidak berlaku meskipun putusan dijatuhkan sebelum Pemilu 2004, dan terutama karena
terdapat ketentuan bahwa undang-undang yang diuji tetap berlaku sebelum dibatalkan
dan dipandang sebagai prinsip bahwa putusan Mahkamah Konstitusi tidak bersifat
retroaktif.
Sebagai lembaga yang diamanatkan oleh Perubahan Ketiga UUD 1945 (tahun
2001) dan baru bekerja sejak akhir tahun 2003, mekanisme nasional penegakan hak
asasi manusia oleh Mahkamah Konstitusi masih harus ditunggu kecenderungannya.
Selain itu, pengujian undang-undang pun belum merupakan tradisi yang mapan dan
kehidupan konstitusional yang baru, pascaamandemen konstitusi, masih dalam tahap
pembentukan.

2. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Komnas HAM dibentuk melalui Keppres No. 5
Tahun 1993 pada tanggal 7 Juni 1993. Enam tahun kemudian, atau dua tahun setelah
pemerintahan Soeharto jatuh, dasar hukum dirubah dengan peraturan perundang-
undangan yang lebih kuat, yaitu Undang Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak
Asasi Manusia. Undang-Undang ini juga memberi wewenang yang lebih kuat pada
lembaga tersebut. Sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 75 Undang Undang Nomor
39 Tahun 1999, Komnas HAM memiliki mandat untuk :
Mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan hak asasi manusia,
baik yang ada dalam perangkat hukum nasional maupun Deklarasi Universal
Hak Asasi Manusia dan Piagam PBB,
Meningkatkan perlindungan dan penegakan hak asasi manusia guna
berkembangnya pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan kemampuannya
berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan
Untuk mencapai tujuan tersebut, Komnas HAM melakukan empat (4) fungsi pokok,
yaitu:
16 |
1. Pemantauan,
2. Penelitian/pengkajian,
3. Mediasi,
4. Pendidikan
Sejak itu pelaksanaan empat fungsi tersebut dibagi dalam 4 sub komisi yaitu:
1. Sub Komisi Pemantauan
2. Sub Komisi Penyuluhan
3. Sub Komisi Pengkajian/Penelitian
4. Sub Komisi Mediasi
Dalam hubungan keluar Komnas HAM bertindak sebagai satu kesatuan dan anggota
sub komisi dapat bertugas di sub komisi yang lain.

3. Pengadilan Hak Asasi Manusia


Pengadian Hak Asasi Manusia dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 26
Tahun 2000 tentang Pengadilan hak asasi manusia,Pengadilan Hak Asasi Manusia
merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan Pengadilan umum dan
berkedudukan di daerah Kabupaten atau Kota.Pengadilan HAM adalah pengadilan
khusus terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Pengadilan HAM bertugas
dan berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran Hak Asasi Manusia
yang berat.
Pengadilan HAM juga berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran
HAM yang berat yang dilakukan di luar batas territorial wilayah Negara Republik
Indonesia oleh warga Negara Indonesia.
4. Pengadilan HAM Ad Hoc
Pengadilan Hak Asasi Manusia Ad Hoc dibentuk atas usul dari DPR berdasarkan
peristiwa tertentu dengan Keputusan Presiden untuk memeriksa dan memutuskan
perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang terjadi sebelum
diundangkannya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak
Asasi Manusia
5. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 memberikan alternative bahwa
penyelesaian pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat dapat dilakukan di luar
Pengadilan Hak Asasi Manusia, yaitu melalui Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi
yang dibentuk berdasarkan undang-undang.
6. Komisi Perlindungan Anak Indonesia
17 |
Lembaga independen yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dalam rangka meningkatkan efektifitas
penyelenggaraan perlindungan anak. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (yang
selanjutnya akan disebut dengan KPAI) dibentuk untuk merespon berbagai laporan
tentang adanya kekerasan, penelantaran dan belum terpenuhinya hak-hak dasar anak di
Indonesia. Keputusan politik untuk membentuk KPAI juga tidak dapat dilepaskan dari
dorongan dunia internasional. Komunitas internasional menyampikan keprihatinan
mendalam atas kondisi anak di Indonesia. Banyaknya kasus pekerja anak, anak dalam
area konflik, pelibatan anak dalam konflik senjata (childs soldier) seperti yang terjadi
di Aceh, tingginya angka putus sekolah, busung lapar, perkawinan di bawah umur,
trafficking, dan lain sebagainya telah memantik perhatian komunitas internasional
untuk menekan pemerintah Indonesia agar membuat lembaga khusus yang bertugas
memantau kondisi perlindungan anak di Indonesia. KPAI memiliki tugas sebagai
berikut :
Melakukan sosialisasi seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berkaitan dengan perlindungan anak, mengumpulkan data dan informasi,
menerima pengaduan masyarakat, melakukan penelaahan, pemantauan, evaluasi,
dan pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan anak,
Memberikan laporan, saran, masukan, dan pertimbangan kepada presiden dalam
rangka perlindungan anak.
KPAI terdiri dari 9 orang berupa 1 orang ketua, 2 wakil ketua, 1 sekretaris, dan 5
anggota yang terdiri dari unsur pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi
sosial, organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat,
dunia usaha dan kelompok masyarakat yang peduli terhadap perlindungan anak.
7. Komisi Nasional Perempuan
Institusi hak asasi manusia yang dibentuk oleh negara untuk merespon isu hak-hak
perempuan sebagai hak asasi manusia, khususnya isu kekerasan terhadap perempuan.
Komnas Perempuan didirikan pada tahun 1998 berdasarkan Keputusan Presiden No.
181 tahun 1998, sebagai jawaban pemerintah atas desakan kelompok perempuan
terkait dengan peristiwa yang dikenal sebagai tragedi Mei 1998--di mana terjadi
perkosaan massal terhadap perempuan etnis Tionghoa di beberapa daerah di Indonesia.
Pada saat itu, negara dianggap telah gagal memberi perlindungan kepada perempuan

18 |
korban kekerasan. Oleh karena itu, negara, dalam hal ini pemerintah yang diwakili
oleh Presiden RI, Habibie, menganggap bahwa negara harus bertanggung jawab
kepada korban dan kemudian melakukan upaya yang sistematis untuk mengatasi
kekerasan terhadap perempuan. Berdasarkan Keputusan Presiden No. 181 tahun 1998
yang diperbaharui dalam Peraturan Presiden (PerPres) No. 65 tahun 2005, maka
keberadaan Komnas Perempuan bertujuan untuk:
Mengembangkan kondisi yang kondusif bagi penghapusan segala bentuk
kekerasan terhadap perempuan dan penegakan hak-hak asasi perempuan di
Indonesia,
Meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan segala bentuk kekerasan
terhadap perempuan di Indonesia.
Dalam mencapai tujuan tersebut, Perpres No. 65 tahun 2005 meletakkan 5 tugas
yang harus dijalankan oleh Komnas Perempuan, yang meliputi penyebarluasan
pemahaman, kajian dan penelitian, pemantauan, rekomendasi dan kerjasama regional
dan internasional dengan penjabaran sebagai berikut:
a. Menyebarluaskan pemahaman atas segala bentuk kekerasan terhadap perempuan
(KTP) Indonesia dan upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan serta
penghapusan segala bentuk KTP,
b. Melakukan Kajian dan penelitian terhadap berbagai peraturan
perundangundangan yang berlaku serta berbagai instrumen internasional yang
berlaku serta instrumen internasional yang relevan bagi perlindungan hak asasi
manusia perempuan,
c. Melaksanakan pemantauan termasuk pencarian fakta dan pendokumentasian
tentang segala bentuk KTP dan pelanggaran hak asasi manusia perempuan serta
penyebarluasan hasil pemantauan kepada publik dan pengambilan langkah
langkah yang mendorong pertanggungjawaban dan penanganan,
d. Memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah, lembaga legislatif dan
yudikatif serta organisasi-organisasi masyarakat guna mendorong penyusunan
dan pengesahan kerangka hukum dan kebijakan yang mendukung upaya upaya
pencegahan dan penanggulangan segala bentuk KTP Indonesia serta
perlindungan, penegakan dan pemajuan hak asasi manusia perempuan,

19 |
e. Mengembangkan kerjasama regional dan internasional guna meningkatkan upaya
upaya pencegahan dan penanggulangan segala bentuk KTP Indonesia serta
perlindungan, penegakan dan pemajuan hak asasi manusia perempuan.
8. Komisi Ombudsman Nasional
Terbentuknya Komisi Ombudsman Nasional tidak didasari secara khusus oleh
semangat untuk melindungi, menegakkan dan memenuhi hak-hak asasi warga negara
Indonesia. Kemunculan Komisi Ombudsman Nasional lebih didasari oleh semangat
reformasi yang bertujuan menata kembali perikehidupan berbangsa dan bernegara
serta dalam rangka melakukan reformasi birokrasi yang telah mandeg selama puluhan
tahun. Semangat untuk melakukan reformasi birokrasi inilah yang sangat terasa dan
pada saat dimunculkannya Komisi Ombudsman Nasional sedang menjadi pembicaraan
meluas di kalangan masyrakat. Walaupun tidak serta merta tujuan perlindungan hak
asasi manusia tidak ada, namun secara formal dibentuknya Komisi Ombudsman
Nasional lebih dikarenakan tuntutan reformasi birokrasi.
Dilihat dari mekanisme pertanggung jawabannya, ombudsman dapat dibedakan
menjadi:
Ombudsman Parlementer, yaitu Ombudsman yang dipilih pleh parlemen dan
bertanggungjawab (laporan) kepada Parlemen.
Ombudsman Eksekutif, yaitu Ombudsman yang dipilih oleh Presiden, Perdana
Menteri atau Kepala Daerah, dan bertanggungjawab (laporan) kepada Presiden,
Perdana Manteri atau Kepala Daerah.
Komisi Ombudsman, memiliki tujuan:
Membantu menciptakan dan/atau mengembangkan kondisi yang kondusif dalam
melaksanakan pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
meningkatkan perlindungan hak-hak masyarakat agar memperoleh pelayanan
umum, keadilan dan kesejahteraan secara lebih baik.
Tujuan tersebut diharapkan akan tercapai dengan cara:
Melakukan sosialisasi dan diseminasi pemahaman mengenai lembaga
Ombudsman kepada masyarakat luas,
Melakukan koordinasi dan/atau kerjasama dengan Instansi Pemerintah,
Perguruan Tinggi, lembaga Swadaya Masyarakat, Para Ahli, Praktisi, Organisasi
Profesi dan lain-lain,

20 |
Melakukan langkah untuk menindaklanjuti laporan atau informasi mengenai
terjadinya penyimpangan oleh penyelenggaraan negara dalam melaksanakan
tugasnya maupun dalam memberikan pelayanan umum,
Mempersiapkan konsep Rancangan Undang-Undang tentang Ombudsman
Nasional.

21 |
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Hak asasi manusia adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh setiap manusia sebagai
anugerah Tuhan yang dibawa sejak lahir. Menurut UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak
Asasi Manusia dinyatakan bahwa HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat
dan keberadaan manusia sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang wajib dihormati,
dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh Negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi
kehormatannya, serta perlindungan harkat dan martabat manusia.
Oleh karena itu, upaya pemajuan dan perlindungan Hak-hak Asasi Manusia di
Indonesia dilakukan berdasarkan prinsip keseimbangan. Prinsip keseimbangan
mengandung pengertian bahwa diantara Hak-hak Asasi Manusia perorangan dan kolektif
serta tanggung jawab perorangan terhadap masyarakat dan bangsa memerlukan
keseimbangan dan keselarasan. Keseimbangan dan keselarasan antara kebebasan dan
tanggung jawab merupakan faktor penting dalam pemajuan dan perlindungan Hak-hak
Asasi Manusia. Di dalam era globalisasai sekarang ini, tidak ada negara yang bisa menutup
dirinya dari masyarakat internasional, mengucilkan diri dari komunitas internasional, dan
sebaliknya kalau ingin menjalin hubungan dengan banyak negara, pemerintah yang
berkuasa tidak bisa berbuat sewenang-wenang, sehingga kehilangan kelayakan sebagai
suatu pemerintah. Demikian pula dengan warga negara juga tidak bisa melanggar hukum
dan Hak Asasi Manusia.

22 |
Daftar Pustaka
Hidayat, komaruddin. 2008. Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education),
Jakarta: KENCANA PERDANA MEDIA GROUP
Widjaja, 2000. Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dan Hak Asasi Manusia di
Indonesia, Jakarta: RINEKA CIPTA

23 |