Anda di halaman 1dari 260

Acy's blog

Home

ANAMNESA dan PEMERIKSAAN FISIK

ANAMNESA

Mengumpulkan data-data dalam anamnesis biasanya ialah hal yang pertama dan sering
merupakan hal yang terpenting dari interaksi dokter dengan pasien. Dokter mengumpulkan
banyak data yang menjadi dasar dari diagnosis, dokter belajar tentang pasien sebagai manusia
dan bagaimana mereka telah mengalami gejala-gejala dan penyakit, serta mulai membina suatu
hubungan saling percaya

Ada beberapa cara untuk mencapai sasaran ini. Cobalah untuk memberikan lingkungan yang
bersifat pribadi, tenang, dan bebas dari gangguan. Dokter berada pada tempat yang dapat
diterima oleh pasien, dan pastikan bahwa pasien dalam keadaan nyaman. Panggil pasien
dengan nama dan statusnya; mis., Ibu Lina, dan memperkenalkan diri

Dengan anamnesis yang baik dokter dapat memperkirakan penyakit yang diderita pasien.
Anamnesis yang baik harus lengkap, rinci (detail), dan akurat sehingga dokter bukan saja dapat
mengenali organ atau sistem apa yang terserang penyakit , tetapi juga kelainan yang terjadi dan
penyebabnya .

Anamnesis dilakukan dan dicatat secara sistematis. Ia harus mencakup semua hal yang
diperkirakan dapat membantu untuk menegakkan diagnosis.

Mulailah mengumpulkan anamnesis dengan pertanyaan terbuka: "Apa yang membawa anda ke
rumah sakit?... Ada hal lain?.. Coba ceritakan pada saya tentang hal tersebut.". Cara yang lain
untuk mendorong pasien mengungkapkan riwayat mereka termasuk:

Fasilitasi- postur, tindakan, atau kata-kata yang mengkomunikasikan minat, seperti

menjorokkan badan , membuat kontak mata, atau mengucapkan "Ya-ya" atau


"Teruskan".

Refleksi-pengulangan kata-kata atau frase yang pasien katakana.

Klarifikasi-menanyakan apa maksud dai kata-kata atau kalimat yang pasien


ucapkan.

Respons-Respons empati-mengenali melalui tindakan atau kata-kata tentang


perasaan pasien, seperti dengan mengucapkan "Saya mengerti" atau "Pastinya
hal tersebut menakutkan anda."

Menanyakan tentang perasaan yang berkenaan dengan gejala-gejala, peristiwa,


atau hal-hal lain yang dialami pasien.
Konfrontasi- menyebutkan sesuatu tentang perilaku atau perasaan pasien yang
tidak diungkapkan secara verbal atau terlihat tidak konsisten dengan cerita
pasien.

Interpretasi-mengungkapkan dengan kata-kata tentang apa yang anda terka


tentang perasaan-perasaan pasien atau tentang arti dari gejala-gejala, peristiwa,
atau hal lainnya bagi pasien.

Untuk mendapatkan detail yang khusus, sering dibutuhkan pertanyaan langsung.

Ucapkan dalam kata-kata yang dapat dipahami oleh pasien.

Ungkapkan dengan keadaan netral sehingga tidak menimbulkan bias bagi


pasien.

Tanyakan hanya satu hal pada waktu tertentu.

Berlanjut dari hal-hal yang bersifat umum ke hal-hal yang bersifat khusus.

Tanyakan sesuatu untuk menghasilkan respons-respons yang bertahap


ketimbang hanya ya atau tidak. Pertanyaan pilihan berganda juga kadang-
kadang digunakan.

Beberapa topik mungkin pada awalnya bisa sukar bagi praktisi untuk ditanyakan atau bagi
pasien untuk dibicarakan, tetapi sangat penting untuk tercakup dalam setiap anamnesis. Hal ini
mencakup penyiksaan dan penyalahgunaan, depresi dan pikiran bunuh diri, penggunaan
alkohol atau obat-obat terlarang, praktik seksual, dan penyakit hubungan kelamin.Ulaslah dan
latihlah pendekatan-pendekatan untuk topik-topik tersebut dengan efektif.

Adapun sistematika anamnesis terdiri dari:

Keluhan Utama

Keluhan utama yang dinyatakan oleh pasien merupakan dasar utama untuk memulai evaluasi
masalah pasien atau dapat disebut sebagai keluhan pasien yang mendorongnya untuk berobat.
Kebanyakan keluhan utama ditandai dengan nyeri, gangguan fungsi, perubahan dari keadaan
normal sebelumnya, atau observasi pasien. Bantulah pengungkapan keprihatinan utama pasien
dengan memakai pertanyaan-pertanyaan yang sederhana dan tidak terbatas dan membiarkan
pasien memakai kata-katanya sendiri. Kata-kata yang dipergunakan oleh pasien dicatat di
dalam rekam medis.

Mula-mula, jangan meminta penjelasan. Anjurkanlah pasien unutuk melanjutkan


keterangannya dengan isyarat-isyarat yang menunjukkan persetujuan dan membesarkan hati,
seperti mengangguk-anggukkan kepala atau instruksi-instruksi sederhana untuk melanjutkan
keterangannya. Anda dapat mengulangi pernyataan-pernyataan pasien, secara singkat dan
disertai dengan instruksi-instruksi yang agak terarah untuk melanjutkan keterangannya. Ini
akan sangat efektif selama bagian wawancara ini.

Bila pasien telah menyelesaikan pertanyaan pertamanya ini, buatlah ringkasan tentang apa
yang telah anda dengar dan beritahukanlah bagaimana anda akan melakukan wawancara
selanjutnya. Pernyataan ini kembali memperlihatkan perhatian anda terhadap persepsinya dan
perhatian yang anda berikan terhadapnya. Ia juga menunjukkan permulaan perubahan yang
dilakukan secara berangsur-angsur dalam gaya wawancara dimana anda akan menjadi lebih
terpusatkan

Yang dicatat dalam keluhan utama hanya 1 (satu) keluhan dan lama keluhan itu telah
dideritanya.

Riwayat Penyakit Sekarang

Penyakit yang sekarang diderita merupakan alasan untuk perawatan di rumah sakit atau
kunjungan pasien ke tempat praktek pribadi dokter. Perhatian anda mula-mula dipusatkan pada
persoalan-persoalan penting yang menyebabkan pasien datang kepada anda dan kemudian
kepada peristiwa-peristiwa sebelumnya yang berkaitan dengan keadaan pasien sekarang.
Susunan wawancara anda dan riwayat penyakit tertulis yang dibuat harus mencerminkan
prinsip ini dengan jelas. Kalau seorang pasien datang dengan komplikasi yang berkaitan
dengan masalah kronis, tekanlah kecenderungan anda untuk segera memusatkan perhatian
pada kejadian-kejadian di masa lalu. Mula-mula, tentukanlah perubahan-perubahan penting
pada keadaan pasien dewasa ini.

Penyakit yang sekarang diderita merupakan hal yang paling penting dalam pikiran pasien dan
mudah diselidiki. Pasien biasanya telah menyusun kata-kata yang akan diucapkan, dan mereka
harus mendapat kesempatan untuk mengungkapkan persepsi mereka. Kalau mungkin , riwayat
penyakit sekarang harus dapat menentukan suatu diagnosis. Ia hampir selalu menunjuk ke
bidang-bidang patologi dan mengarah kepada sejumlah kecil pertimbangan atau mekanisme
patofisiologi. Secara aktif, dengarkanlah pasien anda. Berikanlah perhatian pada sikap pasien
, petunjuk-petunjuk non-verbal, emosi, nada suara, dan faktor-faktor lain. Analisis riwayat
penyakit sekarang dimulai dari suatu dasar yang kuat, keluhan utama, dan kemudian menuju
pada tiap gejala. Wawancara hanya dipusatkan pada delapan ciri tiap gejala.

Dokter harus menginterpretasikan informasi dan merumuskan gagasan-gagasan ketika pasien


berbicara. Mula-mula, dengarkanlah dengan penuh perhatian dan pertimbangkanlah berbagai
macam kemungkinan sebagian serius atau jarang terjadi, sebagian lagi sepele dan sering
terjadi. Pilihlah faktor-faktor yang akan diberikan perhatian terbesar dan yang akan membantu
anda menyusun analisis tentang masalah tersebut secara paling efektif. Ada dua macam faktor
yang akan dapat membantu anda- faktor-faktor yang paling spesifik dan terjadi pada relatif
sedikit penyakit, dan faktor-faktor yang paling sensitif, yang sering terjadi terutama pada
penyakit-penyakit yang paling berat. Dalam evaluasi anda, berikanlah bobot tambahan pada
gejala-gejala yang menimbulkan perasaan tidak enak- baik secara fisik maupun emosional-
yang paling besar pada diri pasien. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak terbatas memungkinkan
pasien untuk berbicara sebanyak mungkin pada awal wawancara, Pemakaian bentuk
pertanyaan ini sangat penting, karena mempermudah identifikasi penemuan-penemuan penting
yang berkaitan yang kalau tidak mungkin luput dari perhatian kita.

Dokter membuat penafsiran yang tepat tentang kemungkinan penyakit spesifik yang mendasari
keluhan pasien bedasarkan pada delapan ciri gejala, dan kombinasi gejala dan tanda non-
spesifik. Jika anda menemukan bahwa anda tidak dapat membuat diagnosis dengan tepat,
kemungkinan besar anda tidak cermat dalam definisi anda tentang delapan ciri tiap gejala
penyakit.
Ciri pertama tiap gejala yang membantu anda mempersempit perhatian anda adalah
lokasi yang tepat. Nyeri, gangguan fungsi, dan observasi biasanya mengarah kepada suatu
daerah tertentu. Nyeri dada jelas menarik perhatian terhadap struktur-struktur di dada.
Perubahan dari keadaan stabil sebelumnya tidak mempunyai lokalisasi yang tepat. Demam,
rasa tidak enak badan, penurunan berat badan, atau labilitas emosional mungkin tidak
mempunyai lokalisasi anatomik. Kalau gambaran umumnya sudah jelas, mentalah pasien utnuk
sedapat mungkin menunjukkan lokasi gejala-gejala dan organ atau sistem organ yang terlibat.
Tanyakanlah kaitan antara gejala atau strukturnya atau fungsi normal organ yang dibicarakan
("Apakah rasa sakit tersebut paling hebat di bagian tengah dada anda atau pada bahu anda?")

Ciri berguna kedua ialah penilaian setiap gejala secara kualitatif dan kuantitatif.
Mintalah pasien anda unutk melukiskan kualitas dan kuantitas gejala dan tanda dalam suatu
referensi umum. Pastikanlah bahwa anda memahami dengan jelas apa yang disebutkan oleh
pasien tersebut. Anda harus menentukan keluhan dengan tepat. Mungkin penting sekali untuk
membimbing sumber informasi yang memberikan keterangan yang samar-samar dengan
pertanyaan-pertanyaan tertutup langsung yang memberikan ukuran spesifik tentang beratnya
gejala, frekuensi dan intensitasnya. ("Apakah nyeri tersebut berlangsung lebih dari satu jam,
lima belas menit, lima menit? Apakah nyeri tersebut bersifat tajam seperti ditusuk-tusuk, panas
seperti terbakar atau nyeri tumpul?")

Urutan kronologis setiap kejadian adalah sangat penting. Perjelaslah keluhan mana yang
timbul pertama kali dan urutan timbulnya keluhan lain. Hubungan waktu antara gejala-gejala
yang berkaitan juga sangat berguna. Terjadinya gejala-gejala yang sama hebatnya secara
serentak atau berkembangnya beberapa gejala ketika beberapa gejala lainnya berkurang
menyarankan mekanisme patofisiologi yang menunjukkan diagnosis spesifik tertentu.

Ciri berikutnya berkaitan dengan faktor-faktor dan keadaan-keadaan yang


memperburuk atau mengurangi gejala-gejala. Di sini, struktur dan fungsi organ atau sistem
organ mengarah kepada diagnosis. ("Bagaimana pengaruh makan terhadap nyeri lambung
anda?").

Hubungan waktu sangat berguna. Lama penyakit sekarang membedakan penyakit akut dan
kronis. Gejala-gejala yang berlangsung selama bertahun-tahun kemnungkinan besar tidak
disebabkan oleh keganasan atau infeksi. Perubahan gejala dengan berlalunya waktu membantu
menentukan kemajuan penyakit. Apakah gejala-gejala tersebut menetap, berulang, memburuk
, atau membaik? Jika berlangsung secara periodik, apakah panjang siklusnya berubah?

Pasien secara sukarela sering menyampaikan gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa yang


berkaitan. Ini harus selalu diperhatikan secara serius, walaupun hal tersebut kelihatannya
sangat aneh atau tidak fisiologis. Sikap anda menerima pengamatan pasien secara begitu saja
memperlihatkan penghargaan terhadap pasien sebagai seorang pengamat dan mungkin
bermanfaat dalam menemukan penyakit yang tersembunyi. Suatu kesalahan yang sering terjadi
pada pihak dokter ialah secara pematur menganggap bahwa mereka mengetahui diagnosisnya.
Mereka mengabaikan informasi yang berkaitan yang diberikan oleh pasien.

Jangan berharap bahwa pasien dapat menghubungkan semua hubungan yang mungkin. Di sini
kebebasan anda untuk mengikuti berbagai macam pertanyaan adalah berguna. Hindarilah
mengembangkan suatu bentuk hafalan yang sedemikian restriktifnya sehingga anda tidak dapat
mengikuti petunjuk-petunjuk yang timbul dalam pembicaraan dengan pasien. Pertanyaan-
pertanyaan terarah yang anda ajukan akan dipusatkan pada dan membantu memperjelas
keterangan rinci yang diberikan oleh pasien. Yang penting ajukanlah persoalan dan
pertanyaan tentang gejala-gejala yang belum disebutkan oleh pasien tetapi yang harus
dipertimbangkan dengan mengingat cerita pasien.

Ciri terakhir yang perlu ditanyakan ialah respons gejala terhadap intervensi terapeutik
pasien. Informasi ini membantu memperjelas diagnosis, memberitahukan sesuatu tentang
beratnya masalah, dan menyarankan kebutuhan teraupetik pasien.

Banyak pasien datang dengan gejala-gejala fisik dan memusatkan pembicaraan pada persoalan-
persoalan ini, padahal kebutuhan primer mereka berkaitan dengan penyakit psikologik atau
psikiatrik yang penting. Penyajian yang tidak langsung ini mencerminkan tekanan sosial dan
usaha pasien untuk mengatasi stress pribadi yang sulit. Kalau anda tidak memperluas
pertimbangan anda dengan mencakup faktor-faktor sosial dan psikologis, anda akan
kehilangan banyak faktor yang sangat mempengaruhi hasil perawatan kebanyakan pasien.
Selidikilah hubungan gejala-gejala penyakit dengan gaya hidup pasien dan aktivitas
pribadinya, termasuk hubungan pribadi dan antar perorangan, pekerjaan, kegiatan di
waktu senggang dan aktivitas sexual. Tanyakanlah tentang dampak emosional atau
psikologis suatu penyakit dengan menanyakan bagaimana reaksi pasien terhadap gejala
penyakit dan tentang ketakutan dan keprihatinannya terhadap penyebab gejala
tersebut.

Riwayat penyakit sekarang harus mencakup dua komponen tambahan. Wawancara anda harus
meneliti riwayat kejadian medis di masa lalu yang berkaitan dengan sistem organ yang
kelihatannya terutama berkaitan dengan keluhan pasien. Tanyakanlah gejala dan tanda
gangguan sistem organ yang terlibat sebelum anda menutup bagian wawancara ini.

Riwayat penyakit sekarang dapat dikatakan sebagai bagian anamnesis yang terpenting, karena
dapat memberikan gambaran jelas tentang penyakit yang diderita pasien. Hal ini secara ringkas
dapat diperoleh apabila mencakup secara rinci (detail) tentang:

Keadaan pasien sebelum menderita keluhan/penyakitnya sekarang

Keluhan yang timbul pertama kali dan keadaan pasien pada saat itu.

Perjalanan/perkembangan penyakit/keluhan pasien sejak keluhan itu timbul


sampai pasien datang berobat/ bertemu dengan dokter.

Keadaan keluhan saat pasien bertemu dengan dokter sekarang

Alasan mengapa pasien berobat sekarang

III. Riwayat Penyakit Dahulu

Ialah penyakit-penyakit yang jelas diagnosisnya bagi pasien maupun dokternya, yang pernah
diderita pasien dahulu.

Catat kapan penyakit itu diderita, bagaimana diobati ,siapa yang mengobati,bagaimana
keadaan penyakit itu sekarang.Catat penyakit masa kanak-kanak,penyakit-penyakit masa
dewasa, penyakit psikiatri, kecelakaan dan cedera,operasi,keracunan,alergi.
Penyakit-penyakit yang pernah diderita pasien dahulu yang dapat menyebabkan timbulnya
penyakit sekarang atau memperberat penyakit sekarang.

Periksalah riwayat penyakit dahulu secara kronologis.Pertanyaan tentang kejadian-kejadian


hidup yang berkaitan berguna sebagai pertanda dan membantu mengingat kembali. Pakailah
kejadian-kejadian penting dalam hidup ini untuk membantu pasien merekontruksi kejadian
medis secara kronologis dan tepat.Informasi prenatal,partus dan postnatal relevan untuk
meneliti penyakit congenital atau herediter.

Setelah menanyakan penyakit dengan urutan kronologis, tanyakanlah apakah pasien pernah
menderita dua atau tiga penyakit umum yang menyerang tiap system tubuh.Imunisasi, reaksi
terhadap tes tuberculin,alergi terhadap obat dan alergen lain, perawatan kesehatan dan catatan
kondisi fisik juga harus diperiksa dan dicatat.

Berusahalah untuk memperoleh rincian tentang alergi obat dan uraian khusus tentang gejala,
tanda, dan kronologi kejadian.Banyak pasien menganggap bahwa mereka alergi terhadap obat,
padahal sebenarnya mereka hanya menderita efek samping yang umum

Penyakit-penyakit masa lampau berjangka panjang yaitu :

Penyakit-penyakit yang menghilang dengan pengobatan atau dengan sendirinya, tetapi


mempunyai potensi untuk kambuh lagi atau menimbulkan sekuele.Tuberkulosis, keganasan-
keganasan tertentu (limfoma atau leukemia limfositik akut),hepatitis B,alkoholisme dan
depresi berat misalnya termasuk dalam kategori ini.

Tindakan-tindakan bedah yaitu :

Setiap pembedahan yang pernah dialami oleh penderita, termasuk tanggal pembedahan, gejala-
gejala yang diderita hingga memerlukan tindakan pembedahan tersebut ,sifat tindakan,
diagnosis akhir,adakah reaksi terhadap pembiusan yang tidak diinginkan( terutama jika ada
pembedahan tambahan dipertimbangkan), dan adanya sekuele akibat tindakan tersebut.

PerAwatan lainnya di rumah sakit, yaitu meliputi tanggal,alasan dan hasil dari perawatan di
rumah sakit.

Cedera berat yang sebelumnya tidak disebutkan yaitu :

Sifat dari cedera, pengobatan yang diberikan dan setiap kecacatan yang diakibatkannya.

Pengobatan yaitu semua obat-obatan yang dipergunakan saat ini atau pernah dipergunakan
secara teratur di masa lampau, termasuk obat bebas seperti laksatif, aspirin, antihistamin dan
vitamin, oleh karena penderita jaran menganggap obat-obatan yang tidak diresepkan ini
sebagai pengobatan" atau " obat" sehingga tidak menyebutkan pengunaannya

Alergi :
Alergi musiman, lingkungan atau makanan dengan manifestasi dan pengobatannya
didokumentasikan. Yang paling penting adalah adanya riwayat reaksi alergi obat-obatan.Jika
terdapat riwayat alergi terhadap obat atau unsur apapun yang dipergunakan dalam diagnosis
dan pengobatan, maka rincian tentang reaksi dan nama bahan yang bersangkutan harus
dipastikan.Adalah penting untuk membedakan reaksi alergi sesungguhnya (misalnya ruam
kulit,reaksi histamin seperti sembab muka dan mulut;nefritis interstitial alergika atau syok
anafilaktik) dengan efek sampingan yang bukan alergi seperti mual dan tinja encer.Oleh karena
tersebarnya derivat penisilin dan frekuensi alergi yang bermakna terhadap bahab-bahan
tersebut, adalah bijaksana untuk hkhusus menanyakan reaksi terhadap penisilin.Cara yang
paling ekonomis adalah dengan bertanya :" apakah anda pernah mengalami reaksi alergi
terhadap penisilin atau obat-obat lainnya?"

Penyakit masa kanak-kanak :

Informasi ini mengandung arti penting dalam riwayat penyakit seseorang yang lebih muda
dibandingkan dengan yang lebih tua. Jika dalam riwayat mengindikasikan, maka elemen yang
akan dicakup adalah infeksi-infeksi virus umumnya: Parotitis,rubela( German
measles),rubeola(campak biasa),varisela,dan penyakit demam reumatik.

Status imunisasi:

Data esensial berubah dengan perubahan umur penderita.Semua anak dan dewasa muda harus
mempunyai catatan imunisasi yang lengkap, termasuk imunisasi dari campak
(measles),parotitis,dan rubela(MMR),hepatitis B, polio, difteria, pertusis dan tetanus(DPT
pada kanak-kanak) dan Hemophilus influenzae tipe B (HiB).Orang-orang yang lebih tua dan
penderita-penderita dari semua golongan umur yang menderita penyakit menahun memerlukan
vaksin influenza setiap tahun dan imunisasi terhadap pneumokok setiap 6 tahun.Tanggal
suntikan tetanus yang terakhir harus dipastikan.

Riwayat kehamilan dan persalinan yaitu:

Menentukan jumlah kehamilan, lahir hidup, abortus spontan atau induksi, begitu pula dengan
dokumentasi tipe persalinan (melalui vagina atau seksio saesar) dan setiap komplikasi dari
kehamilan dan persalinan.

IV. Riwayat Penyakit Keluarga (RPK)

Ialah penyakit keturunan atau familier, yang terdapat dalam keluarga pasien (sedarah) atau
penyakit menular pada orang-orang yang amat dekat hidupnya atau berhubungan dengan
pasien (isteri/suami),karena pasien kemungkinan dapat menderita penyakit yang
sama.Penyakit keturunan dan penyakit-penyakit penting lainnya dalam keluarga antara lain
DM,hipertensi,penyakit jantung,batu ginjal/empedu,dsb.
Tanyakanlah tentang kesehatan atau penyebab kematian anggota keluarga yaitu orang tua,
kakek dan nenek dari pihak ibu dan ayah,paman dan bibi, saudara kandung, saudara sepupu.

Terdapat dua komponen dalam RPK : (1) sebuah genogram yang membentuk "pohon keluarga"
dari kesehatan dan penyakit, dan (2) pencarian terhadap pola familial rekuren yang
umum.Genogfram niasanya merupakan sebuah tabulasi tiga generasi.

Jelaskan bagian RPK dari riwayat medik sebelum memulai tabulasi.Jika penderita diberikan
instruksi yang memadai, dia biasanya akan mampu mengikuti pola dengan mudah."Saya ingin
mempelajari tentang kesehatan dan masalah kesehatan dari anggota keluarga anda yang
dekat.Mulailah dengan orang tua anda, ceritakan kepada saya tentang umurnya jika masih
hidup,umur kematian bila sudah meninggal, dan setiap masalah kesehatan besar yang mereka
alami."Setelah orang tua berikutnya adalah saudara kandung, sekali lagi tanyakan tentang
informasi yang sama.

Tingkatan yang ketiga adalah anak-anak penderita jika ada.Contohnya jika adanya kanker
payudara pada ibu atau saudara wanita,cek silang untuk melihat apakah penderita mengetahui
adanya kaanker payudara pada anak perempuan,bibi,atau nenek.Jika terlihat serangan jantung,
akan sangat menolong bila menanyakan penyakit jantung lainnya atau kematian mendadak
pada kakek-nenek,bibi dan paman.Jika penderita mempunyai potensi penyakit turunan,
tanyakan adanya anggota keluarga lainnya dengan masalah yang identik atau mirip.

V. Riwayat Hidup / Data Pribadi dan Kebiasaan kebiasaan ( RH )

Kita perlu mengetahui orang macam apakah penderia tersebut. Bagian riwayat hidup ini
berkesinambungan dengan berkembangnya pengetahuan kita tentang pasien. Kita memperoleh
sebagian kecil informasi riwayat hidup pasien selama saat saat pertama wawancara dengan
pasien, " profil pasien " . Sekarang kita memperluas pengertian kita dengan pertanyaan
pertanyaan tambahan. Tugas kita adalah untuk dapat mengerti penyakit pasien dalam konteks
kepribadian dan lingkungan rumahnya. Apakah pasien dapat sembuh dengan memuaskan di
rumah dan pada tahap mana. Apakah konsekuensi dari penyakitnya ? apakah
nasehat,,penjelasan, dan pertolongan diperlukan ?

Kita juga harus tau cara pasien bereaksi terhadap lingkungan hidupnya, latar belakang
pendidikan, keadaan keuangan, catatan pekerjaan, status perkawinan, tempat dalam keluarga,
dan kebiasaan sehari hari semuanya mencerminkan keadaan pasien dan lingkungannya.
Sebagian informasi ini kita peroleh selama " percakapan kecil " sepanjang kontak kita dengan
pasien. Pisahkanlah informasi ini agar mendapat perhatian khusus. Sebagian diantarannya
merupakan informasi yang sensitif untuk pasien dan mungkin memerlukan beberapa
wawancara untuk mendapatkan evaluasi yang lengkap.

Dalam sistem pencatatan, isi riwayat hidup di beri tempat yang menonjol. Informasi ini dapat
ditempakan dalam permulaan rekaman medis di bawah judul Profil Pasien atau digabungkan
dalam suatu bagian yang berjudul Riwayat Sosial. Buatlah catatan khusus tentang kebiasaan
kebiasaan : Jumlah dan lama merokok, minum alkohol, penyalahgunaan obat, dan pemaparan
terhadap toksin potensial.
Wawancara dengan keluarga atau teman mungkin akan sangat membantu.

Keluarga

" Apakah segala sesuatunya baik baik saja di rumah ? "

" Apakah anda mempunyai masalah keluarga ? "

Mungkin memadai dengan bertanya " Bagaimana dengan pernikahan anda ? Apakah tidak
terdapat masalah dalam seks ? "

Masalah ini mungkin ada karena alasan fisik atau emosi, dan pasien mungkin dapat menghargai
kesempatan untuk membicarakan kekuatirannya.

Tempat tinggal

" di mana anda tinggal ? "

" Apakah disana baik baik saja ?" " Apakah perumahan anda padat ?" " Bagaimana ventilasi
rumah anda? " "Penggunaan kamar mandi pribadi atau menggunakan kamar mandi umum ? "
" Apa rumah anda serih terkena banjir ?" " dekat pabrik dengan ?"

Pekerjaan

"Apakah pekerjaan anda ?"

" Dapatkah anda menjelaskan kepada saya dengan tepat apa yang anda kerjakan ?" , " Apakah
memuaskan anda ? " , " Apakah penyakit anda mempengaruhi pekerjaan anda ? "

Hobi

" Apakah yang anda lakukan dalam waktu luang ? "

" Apakah anda melakukan kegiatan sosial ? "

Alkohol

" Berapa banyak alkohol yang anda minum ? "

Pecandu alkohol biasanya meremehkan jumlah alkohol yang diminumnya tiap hari. Mungkin
membantu untuk melacaknya sepanjang hari. Bila terdapat kecurigaan terhadap masalah
minum, kita dapat menanyakan " Apakah anda pernah minum pada pagi hari ?" " Apakah anda
kuatir untuk membatasi keniasaan minum anda ? " Apakah akibatnya sampai mempengaruhi
pekerjaan, rumah tangga atau kehidupan sosial anda ? "

Merokok

" Apakah anda merokok ? "

" apakah anda pernah merokok ? "


" Mengapa anda berhenti merokok ? "

" Berapa batang rokok yang anda hisap tiap hari ? "

Hal hal ini terutama relevan untuk penyakit jantung dan paru. Tetapi bagaimanapun, harus
selalu ditanyakan.

Bila relevan, tanyakan tentang binatang peliharaan, bepergian ke luar negri pada waktu bekerja
berkontak dengan misalnya debu arang, asbetosis, dan lain lain, baik dahulu maupun
sekarang.

Obat obatan

" Obat apa saja yang anda minum sekarang ? "

" Apakah anda minum obat lain dalam beberapa bulan terakhir ?"

" apa anda minum Jamu ?"

Ini merupakan pertanyaan yang sangat penting. Daftar semua obat dan dosisnya yang lengkap
sebisa mungkin diketahui.

VI. Tinjauan Keluhan Menururt Sistem ( TS )

Tinjauan Keluhan Menururt Sistem ini dalah keluhan keluhan pasien yang lain, yang tidak
termasuk keluhan yang sekarang hendak diobati. Ini merupakan suatu daftar ( check list )
gejala yang belum disebutkan. Jangan menanyakan keluhan yang telah masuk dalam keluhan
sekarang, karena pemeriksaan sistem tubuh ini bertujun untuk menemukan gejala gejala yang
belum disadari sebagai gejala oleh pasien dan gejala gajala yang telah dilupakannya atau
dianggapnya tidak penting. Pertanyaan pertanyaan tersebut berkisar sekitar susunan dan
sistem yang diperiksa.

Untuk mengerti dan melakukan Tinjauan Sistem sering merupakan hal yang cukup
sulit.Pikirkan rangkaian pertanyaan - pertanyaan mulai dari kepala sampai jari kaki. Akan
sangat membantu untuk menyiapkan pasien denyan mengatakan " Pertanyaan paetanyaan
saya selanjutnya akan sangat banyak , namun itu sangat penting karena saya ingin memeriksa
anda secara keseluruhan dan teliti ". Kebanyakan pertanyaan pada tinjauan sistem ini
berdasarkan gejala , namun terkadang ada yang menanyakan penyakit, contohnya seperti
pneumonia atau tuberculosis.

Mulai dengan pertanyaan ringan dan umum tentang tiap sistem. Hal ini memfokoskan perhatian
pasien dan memudahan kita untuk memikirkan pertanyaan yang lebih spesifik terhadap sistem
yang ingin lebih kia perhatikan. Contoh untuk memulai pertanyaan adalah :

" Bagaimana pengelihatan dan pendengaran anda ?"

" Bagaimana paru paru dan pernafasan anda ? "


" Apa ada masalah dengan jantung anda ? "

" Bagaimana pencernaan anda ? "

" Bagaimana kencing anda ? "

Kita juga bisa menambahkan dan memfariasikan pertanyaan tergantung dari usia pasien,
keluhan pasien, keadaan umum pasien, dan diagnosa klinis sementara kita. Kita juga bisa
melakukan tinjauan sistem ini bersamaan saat fisik diagnostik, tanyakan tentang mata, telinga,
dan lainnya saat kita memeriksa. Bila pasien hanya mempunyai sedikit symptoms hal ini bisa
efektif. Namu bila ada banyak symptoms, jalannya anamnesa dan fisik diagnostik akan
terganggu dan hal hal yang penting menjadi tidak terdeteksi dan tercatat.

Bila pada waktu melakukan tinjauan sistem sistem ini didapatkan jawaban yang positif, hal
hal yang terinci harus juga diberikan Tanda (*) menunjukkan pertanyaan pertanyaan yang
hampir selalu ditanyakan.

Pertanyaan Umum

Tanyakan tentang gejala gejala berikut :

*Berat badan

" Berapa berat badan anda sebelum sakit ? "

" Apakah berat badan anda turun atau naik akhir akhir ini ? "

" Apakah baju anda lebih sempit atau lebih longgar dari sebelumya ?

*Nafsu makan

" Bagaimana nafsu makan anda ?

Perihal nafsu makan adalah hal yang penting. Tanyakan sejak kapan penurunan nafsu atau rasa
lapar terus muncul. Penurunan nafsu makan dan berat badan karena diet dan olah raga intensif
juga harus ditanyakan. Maka tanyakan kemudian tentang kesegarannya. Biasanya bila nafsu
makan baik, pederita juga akan merasa segar bergairah. Sebaliknya jika penderita sudah tidak
suka makan, maka kesegaran jasmani juga akan terasa menurun.

*Kesehatan umum / kesegaran

" Apakah anda merasa diri anda sehat ? "

Lelah

" Apakah anda merasa lebih atau kurang merasakan lelah dibandingkan sebelumnya ? "

Demam atau menggigil

" Apakah anda perhatikan adanya penyakit akhir akhir ini ? "
Berkeringat pada malam hari

" Apakah anda perhatikan adanya keringat pada malam hari atau pada waktu lain ? " namun
perlu ditanyakan perihal kondisi kamar tidur pasien. Karena makin tidak memenuhi syarat
kamar tidurnya maka pertanyaan keringat malam akan kehilangan maknannya .Sebaliknya bagi
pasien yang tidur di kamar dengan AC, mka keluhan keringat malam akan mempunyai makna
yang penting.

Ruam ( Rash )

Apakah anda pernah mengalami ruam kulit akhir akhir ini ?

Apakah gatal ?

Pembengkakan atau benjolan

Sistem Kardiovaskular dan Pernafasan

Tanyakan tentang gejala gejala berikut :

*Nyeri dada

" Apakah anda mengalami nyeri atau rasa tidak enak pada dada akhir akhir ini ? "

Penyebab paling sering dari nyeri dada adalah :

o Penyakit jantung iskemik : Nyeri dada hebat di tengah dada seperti diikat, menjalar ke leher
rahang dan lengan kiri,. Angina adalah nyeri yang dicetuskan oleh aktifitas fisisk atau emosi ;
hilang bila beristirahat. Pada infark miokard nyeri mungkin terjadi pada waktu istirahat, lebih
hebat dan dapat barlangsung berjam jam.

o Nyeri pleuritik : Nyeri seempat dan tajam, biasanya lateral ; memburuk pada waktu ispirasi
atau batk.

*Napas pendek

" Apakah anda selalu merasa sesak napas ? "

Ortopnoe

" Apakah anda mengalami sesak nafas bila berbaring ? "

" Berapa banyak bantal yang anda gunakan ? "

Dyspnoe nokturnal paroksismal

" Apakah anda terbangun malam hari karena menderita kesukaran bernafas ? "
Sesak nafas ( Dyspnoe ) dan nyeri dada harus dilukiskan dengan tepat dan derajat aktifitas fisik
yang menyebabkan timbulnya harus dicatat ( misalnya menaiki tangga, setelah berjalan 100
meter ).

Ortopnoe ( sesak nafas bila berbaring datar ) dan dyspnoe nocturnal paroksismal merupakan
gajala gagal jantung kiri.

*Pembengkakan pergelangan kaki.

Sering pada gagal jantung kongestif ( gagal jantung kanan )

Palpitasi

" Apakah anda merasakan debar jantung anda ? "

Palpitasi mungkin :

Denyut tunggal ( ektopik ?)

Lambat atau cepat

Teratur atau tidak

Minta pada pasirn untuk menunjukkan


tempatnya.

Takikardi paroksismal biasanya mulai dan berakhir secara mendadak.

*Batuk

" Apakah anda menderita batuk ? "

" Apakah batuk kering atau anda membatukkan dahak / lendir ?

" Kapan saja anda batuk ?

Sputum

" Apa warna dati dahak / lendir yang anda batukkan ?

Sputum berwarna hijau biasanya menunjukkan infeksi saluran napas akut. Sputum yang jernih
tiap hari pada waktu bulan bulan musim dingin menjurus ke bronkhitis kronik.

*Hemoptisis

" Apakah ada batuk darah ? "

Hemoptisis harus dianggap serius. Penyebabnya antara lain :

o Karsinoma bronkhus
o Emboli Paru

o Stenosis Mitral

o Tuberkulosis

o Bronkiektasis

Sinkop ( syncope )

" Pernahkah anda mengalami pendangan gelap ? " ( blackouts )

*Merokok

" apakah anda merokok ? "

" Berapa banyak / bungkus rokok yang anda hisap tiap hari ? "

"Sudah berapa lama anda merokok ? "

" Apa alasan anda berhenti merokok ?"

Sistem Gastrointestinal

Tanyakan tentang hal hal berkut :

Mual

" Apakah terjadi pada waktu anda merasa sakit ? "

" Apa munculnya setelah makan ? "

Muntah

" Apakah anda muntah ? "

" Seperti apa muntah tersebut ? "

Muntahan seperti bubuk kopi mungkin tercampur darah. Bila terlihat makanan yang lama,
terdapat stenosis pilorus. Bila darah dimntahkan, bagaimana warnanya galap atau merah terang
?

Dysfagia

" Apakah anda mengalami kesukaran menelan ? "

Untuk makanan padat : sering obstruksi organik

Untuk makanan cair : sering akibat kelainan neurologik atau psikologik


Indigesti

" Apakah anda merasa tidak enak dalam lambung setelah makan ? "

Nyeri Abdominal

" Dimanakah yang terasa nyeri ? "

" Apakah berhubungan dengan makanan atau buang air besar ? "

" Apakah yang menyembuhkan nyeri tersebut "

*Kebiasaan buang air besar

" Apakah buang air besar anda normal ? "

Bila terdapat kecurigaan terhadap diare, berapa kali buang air besar tiap hari dan sifatnya (
darah ? pus ? mukus ? ) harus ditanyakan. Kotoran mungkin pucat, banayk dan berbusa (
steatore ) atau hitam seperti ter dari darah yang tercerna ( melena ). Darah yang berada pada
permukaan kotoran mungkin dari hemoroid, sedangkan darah yang bercamur dalam kotoran
mungkin merupakan tanda tumor ganas atau penyakit inflamasi usus.

Ikterus

" Apakah urin anda berwarna gelap ? "

" Apakah kotoran anda pucat "

" Obat apa yang anda minum akhir akhir ini ? "

" Apakah anda pernah mendapat suntikan atau transfusi akhir akhir ini ? "

" Apakah akhir akhir ini anda pergi ke luar kota atau ke luar negri ? "

" Berapa banyak alkohol yang anda minum ? "

Ikterus mungkin bersifat obstruktif ( urin berwarna gelap, kotoran pucat ), berhubungan dengan
obat, transfusi ( hepatitis serum ), alohol, atau infeksi ( berpergian ke luar kota / keluar negri )

Sistem Genito urinarius

Tanyakan tentang hal hal berikut :

Nyeri pinggang

" Adakah nyeri pada punggung anda ? "

Nyeri pada pinggang menjurus pada pielonefritis

*Urin
" Apakah buang air kecil anda baik ? "

" Apakah anda banyak kencing di malam hari ? "

" Apakah anda mengalami kesulitan dalam berkemih ? "

" Apakah ada darah dalam kencing anda ? "

Poliuria dan nokturia terdapat pada diabetes

Prostatisme mengakibatkan urinasi yang lambat,aliran yang


buruk dan menetes

Seks

" Apakah terdapat masalah seksual ? "

*Menstruasi

" Apakah ada masalah dalam menstruasi anda ? "

" Apakah sangat banyak darah yang keluar ? "

" Apakah anda mengeluarkan darah diantara masa masa haid ? "

Perdarahan vagina diantara masa masa haid atau setelah menopause meningkatkan
kemungkinan tumor ganas serviks atau uterus.

Sekret vagina

Nyeri pada waktu bersetubuh ( dispareunia )

Sistem Saraf

Tanyakan tentang hal hal berikut :

*Sakit kepala

" Apakah anda menderita sakit kepala ? "

" Dimana sakitnya ? "

Sakit kepala sering merupakan akibat ketegangan dan terdapat di daerah frontal atau oksipital.
Sakit kepala oksipital terdapat pda waktu bangun tidur pagi pagi mungkin akibat tekanan
intrakranial meningkat ( misalnya karena tumor atau hipertensi maligna )

Penglihatan

" Apakah anda megalami penglihatan yang kabur atau kembar ? "
Pendengaran

Pusing

" Apakah anda mengalami pusing atau episode dimana dunia terasa berputar vertigo ? "

Pusing mungkin berasal dari kelainan jantung sehingga palpitasi harus selalu ditanyakan pada
keadaan seperti itu.

Cara berjalan yang tidak mantap

" Adakah kesulitan dalam nerjalan atau berlari ?

Lemah

Perasaan baal atau sensasi berlebihan

" Adakah daerah daerah yang dirasakan baal ( kebal ) ? "

Rasa sakit seperti tertusuk paku atau jarum

Gangguan Sfingter

" Adakah kesulitan menahan buang air kecil / besar ? "

*Depresi

" Bagaimana perasaan anda mood Apakah gembira atau sedih ?

" Bila mengalami depresi, seberapa dalam ? "

" Bagaimana perasaan anda tentang masa depan ? "

" Apakah seperti ini yang sering anda rasakan ? " " Sudah berapa lama ?" " Menurut anda
apakah penyebabnya ? "

Selidiki tentang perhatian interest , konsentrasi, iritabilitas, perasaan bersalah.

*Rasa kuatir dan anxietas

" Apakah anda cenderung kuatir ? "

" Adakah waktu tertentu dimana anda merasa galisah atau tegang ? "

" Adakah rasa kuatir dalam pekerjaan atau keluarga anda ? "

" Ada kekhawatiran dalam keuangan ? "

Tidur
" Adakah kesulitan tidur ? " " Apa anda bangun terlalu pagi ?" " apakah anda gelisah ketika
tidur atau sering terbangun di malam hari ?

Kesulitan tidur biasanya berkaitan dengan depresi atau anxietas.

Kejang atau pingsan

Hal hal terinci berikut harus dicari dari penderita atau orang yang mengetahui :

o Lamanya

o Frekuensi dan lama serangan

o Waktu serangan misalnya bila berdiri, pada malam hari

o Cara terjadi dan berakhirnya

o Tanda tanda sebelumnya atau aura

o Menggigit lidah, kontrol sfingter hilang, cedera dan lain lain

Epilepsi grand mal yang klasikmenunjukkan pingsan ( tidak sadar ) terjadi mendadak tanpa
danya peringatan dan pada waktu sadar kembali, penderita merasa pusing dengan sakit kepala,
lidah nyeri, dan tidak dapat menahan buang air.

Sistem Lokomotor

Tanyakan tentan nyeri, kekakuan, atau pembengkakan sendi. Terdapat banyak penyebab dari
atritis ( sendi membengkak, nyeri tekan dan sakit ) dan atralgia ( nyeri pada persendian ).

Osteoatritis merupakan sendi yang seolah " habis terpakai ", dan sering asimetris, menyerang
persendian persendian yang menyokong berat badan misalnya panggul atau lutut.

Atritis reumatoid merupaan penyakit autoimun umum dengan sendi sendi yang terserang
simetris. Pada tangan, pembengkakan sendi sendi interfalang hingga membentuk kumparan,
disertai pembengkakan sendi sendi meta karpo falangea.

Gout biasanya menyerang satu sendi, seperti sendi metatarsofalangea, pertama, tetapi
kemudian dapat berkembang menyerang tangan secara luas dengan benjolan asam urat (9 tophi
) pada beberapa sendi yang asimetris.
PEMERIKSAAN FISIK KEPALA

Bentuk:

Kepala normal : ukuran rata-rata dan bentuknya bulat.

Kepala abnormal :

a. Makrosefali pada : -Hydrocephalus (dengan sutura lebar, orbita seolah tenggelam, dan
tampak matanya menunjukkan "the setting sun sign").

- Penyakit Paget (disertai pembesaran pembuluh darah, deformitas).

- Syphilis congenital (dengan benjolan/ penebalan simetris pada dahi yang disebut Parrots
node).

- Rickets (berbentuk kotak).

b. Mikrosefali atau anencefali karena kelainan congenital.

c. Deformitas kepala dijumpai pada:

Penyakit pagetfrontal bossing: menonjolnya tulang-tulang frontal.

Kraniostosisbila suatu sutura menutup secara premature.

Tumor.

Trauma.

Pada waktu bayi tidur hanya pada satu sisi.

d. Nyeri ketuk: pada daerah sinus/ mastoid yang terkena pada sinusitis dan mastoiditis.

Wajah:

Periksa : ekspresi, warna, bentuk.

a. Ekspresi wajah dapat menunjukkan watak dan emosi atau keadaan sakit.

b. Warna muka :

Pucat : pada penderita AI.

Ikterik :
pada orang
yang
mempunya
i gangguan
pada hati
yang berat.

Kemerahan: pada orang yang menderita


penyakit katup mitral.

Sianosis :
nyata
ditemukan
pada orang
yang
mempunya
i cacat
jantung
bawaan
disertai
shunt dari
kanan ke
kiri,
PPOK,
payah
jantung,
keadaan
hipoksia
lainnya.

Merah seperti buah ceri : fase akut


keracunan CO atau CN.

c. Dehidrasi: "facies Hipocrates" hidung tajam, mata cekung, pelipis di sekitar dahi kasar,
teregang, mengering dan terasa panas, wajah penderita kelihatan berwarna hijau, hitam,
kebiruan atau kelihatan seperti warna timah.

lepra : "facies Leonina" (wajah seperti wajah seekor singa) alis mata rontok, cuping telinga
memanjang dan pengerutan wajah premature.

hipertrofi tonsil dan adenoid : "facies Adenoid" tampak seperti orang bodoh, lubang hidung
besar, mulut selalu terbuka.

Penyakit Parkinson: wajah seperti memakai topeng, tak bermimik, disertai alis mata meninggi
dan imobilitas wajah.

Pada hipertiroidisme: wajah hyperalert.

Pada myxedema: seperti mengantuk.

Sindroma Cushing : muka bulat seperti bulan purnama "moon face".


Paralisis N.VII satu sisi : asimetris, otot wajah pada sisi yang terkena mengalami kelumpuhan
dan penderita tidak mampu bersiul. Kalau diminta mengerutkan dahi maka sisi yang terkena
tetap licin dan kelopak mata pada sisi yang terkena tidak dapat di tutup.

Penderita penyakit berat : wajah toksik demam tifoid berat.

Rambut:

Periksa warna, kekeringan, alopesia, kelebatan, distribusi

Perubahan warna rambut terjadi pada:

malnutrisi atau kwarshiorkor menjadi pirang seperti rambut jagung, atau belang-belang seperti
bendera "flag sign"- kering, mudah rontok hingga menjadi tipis, tidak berkilat, bila tadinya
keriting menjadi lurus.

Uban yang timbul di usia muda mungkin karena keturunan, anemia perniciosa, penyakit
Simmond atau karena trauma emosionil yang berat.

Rambut yang mudah rontok pada DM, hipertiroidisme, syphilis tampak menjadi botak
terutama di bagian belakang seperti dimakan ngengat "moth eaten appearance", juga pada
demam tifoid, myxedema, atau karena jamur pada rambut atau kulit kepala.

Mata:

Periksa alis mata, kelopak mata, bola mata, conjungtiva, sclera, cornea, iris, pupil, lensa.

alis mata menipis terutama bagian sisi pada orang tua, myxedema. Pada lepra alis dan bulu
mata rontok sama sekali ("madarosis") Pada malnutrisi bulu mata panjang-panjang.

Kelopak mata ptosis pada kelumpuhan NIII, Myasthenia gravis, sindrom horner.

Xanthelasma yaitu bercak kekuningan, menonjol pada kelopak mata terutama di bagian medial
dihubungkan dengan kadar kolesterol darah yang tinggi.

Oedema kelopak mata pada orang yang habis menangis hebat, pilek hebat, sinusitis, radang
mata, glaucoma, penyakit cacing, alergi, pada hipertiroidisme (tanda dari Enroth) dan pada
trombosis sinus cavernosus
Pada glomerulonefritis, sindroma nefrotik, oedem kelopak mata terutama tampak pada saat
waktu bangun tidur pagi-pagi.

Pada fractura basis cranii timbul hematoma di sekitar mata hingga seolah memakai
kacamata(brill hematome).

Jarak yang jauh antara kedua bola mata disebut hypertelotrismus terdapat pada sindroma down.

Bola mata yang menonjol disebut exophtalmus atau proptosis; bila:

- unilateral : tumor, perdarahan, meningocele

- bilateral : kemungkinan trombosis sinus cavernosus atau penyakit basedow

i. Pada penyakit basedow selain


exophtalmus dan tanda enroth juga
dijumpai:

- tanda dalrympel : retraksi kelopak mata atas


- tanda Stellwag : mata jarang berkedip

- tanda von graefe : bila melirik ke bawah kelopak mata atas tertinggal

- tanda moebius : ketidakmampuan mata untuk


berkonvergens pada sebuah objek yang
diletakkan di depan

hid
ung

- tanda Joffroy : tidak ada kerutan dahi pada waktu melirik ke atas

- tanda Rosenbach : kelopak mata tidak dapat menutup dengan sempurna

- tanda Riesman : bila kelopak mata ditutup didengar dengan stetoskop terdengar arterial bruit

j. Bola mata :
tekanan dalam
bola mata
diperiksa dengan 2
jari pada bola mata
yang ditutup dan
melirik ke bawah

* tekanan tinggi
(terasa keras)
terdapat pada
glaucoma dan
hipoglikemi

* tekanan rendah (terasa lunak) terdapat pada hiperglikemi

k. conjunctiva palpebra inferior tampak pucat pada anemia, memerah dan berair pada radang.
Tampak petechie/ purpura pada endokarditis bakterialis.

Pada conjunctiva bulbi mungkin terdapat:

- pterygiuum (penebalan conjunctiva bulbi berbentuk segitiga yang puncaknya dapat mencakup
sampai pada cornea, biasanya terdapat pada bagian nasal)

- pannus (neovaskularisasi dan infiltrasi di conjungtiva bulbi, terdapat pada trachoma)

- phlycten (benjolan putih kekuningan dikelilingi zona merah, mungkin reaksi alergi terhadap
protein kuman Mycobacterium Tuberculosis atau cacingan)

Sclera, pada keadaan ikterus berwarna kuning merata. Pada orang tua, kekuningan akibat
hyperpigmentasi berupa bercak-bercak tidak merata.

Pada osteogenesis imperfecta sclera berwarna kebiru-biruan


Kornea, cincin atau setengah lingkaran berwarna putih keruh agak di sebelah medial daripada
limbus cornea disebut arcus senilis, sering terdapat pada orang tua terutama yang berkulit
warna. Bila annulus/ arcus senilis (pada limbus cornea) berwarna hijau kecoklatan atau merah
atau kuning kehijauan disebut cincin Kayser Fleischer yang dijumpai pada penderita penyakit
Wilson (degenerasi hepatolentikuler)

Pupil mata

- normal :
bentuknya
bulat,
regular
(tepinya
rata) dan
isokor
(diameter
pupil dan
kanan
sama)

- midriasis
: pupil
melebar
misalnya:
berada di
tempat
gelap, atau
diberi
atropine
atau pada
seorang
morfinis
(pinpoint
pupil)

- penyinaran pada pupil yang satu akan menyebabkan pupil satunya lagi akan ikut mengecil
reflex cahaya tidak langsung dan reflex konsensuil pupil juga akan mengecil bila mata
berkonvergensi dan berakomodasi tes dengan menyeluruh pasien melihat dengan kedua mata
ujung jari dokter pada jarak kira-kira setengah meter di depan hidung pasien kemudian
digerakkan perlahan lahan mendekati ujung hidung pasien

Lensa mata tampak keruh pada katarak misalnya pada orang tua (katarak senilis) atau pada
DM, hypoparatiroidisme, dapat juga terjadi sejak lahir karena saat di dalam kandungan ibunya
menderita Rubella atau karena mata sering terkena panas, sinar UV atau sinar x.

Telinga :

Periksa daun telinga, daerah sekitar telinga, liang telinga, membrane tympani

daun telinga seorang cretin relative besar


tophi : benjolan (nodul) keras, putih kekuningan merupakan deposit asam urat, biasanya pada
penderita gout

pada tetani, terdapat tanda Chvostek yaitu bila daerah pipi tepat di depan daun telinga diketuk
dengan satu jari, menyebabkan kontraksi/ spasme otot-otot muka sisi tersebut.
Hidung :

Periksa bentuk, ukuran, liang hidung dan mukosa

pada syphilis bentuk


hidung seperti pelana
"saddle nose"

cairan yang keluar dari


liang hidung bisa:

lendir: pada sinusitis


banyak, kental, berbau,
keruh, keruh, ada nyeri
tekan/ ketuk pada daerah
sinus

darah (epistaxis) mungkin


disebabkan peradangan,
neoplasma, trauma, benda
asing, penyakit
perdarahan, difteri, DHF,
hipertensi, lepra, demam
tifoid, dll

mukosa hidung merah,


bengkak pada peradangan,
pucat pada alergi.

Bibir :
Periksa bentuk, warna, kelainan

a. Labioschizis : bibir terbelah biasanya congenital.


a. bibir bengkak mungkin karena trauma, oedem angioneurotik, alergi

bibir kering pada dehidrasi, DM, demam

bibir pucat pada shock, anemia

sianotik pada decompensatio cordis, kelainan jantung congenital, pneumonia/


bronchopneumonia, asthma bronchiale berat, kedinginan.

Pada defisiensi vit B12 mungkin dijumpai cheilosis yaitu lecet-lecet pada sudut mulut, yang
bila meradang/ terkena infeksi misalnya oleh candida disebut perleche

Pada syphilis congenital pada sudut mulut mungkin terdapat raghades yaitu parut kecil-kecil,
linear seperti lipatan-lipatan

Bibir jarang menderita neoplasma

Gigi dan gusi:

Periksa kebersihan oral, jumlah dan kelainan gigi, warna mukosa dan pembengkakan gusi

pada DM, sering


terdapat pyorrhea
alveolaris (retraksi
gusi, pocket
dengan pus berbau
di dalamnya), gigi
longgar/goyang,
banyak caries
lubang, karang
gigi.

Pada
hypopituitarisme,
letak antara gigi
agak berjauhan
(gigi jarang)

Caries dentis
sering terdapat
pada orang yang
kekurangan unsur
fluor, pada orang
yang unsure
fluornya
berlebihan missal
dalam air
minumnya
(>1,5ppm) terjadi
mottled enamel
pada giginya
(bintik-bintik pada
gigi berwarna
kuning
kecoklatan)

Warna mukosa
gusi sehat adalah
merah jambu
(pink)

Gingivitis
menyebabkan
warnanya menjadi
merah disertai
pembengkakan,
mudah berdarah
dan terasa nyeri.

pada skorbut (def


vit C) gusi
bengkak, mudah
berdarah, nyeri
pada perabaan
serasa seperti
spon, gigi longgar

pada penderita
epilepsy yang
diberi pengobatan
dilantin
(diphenylhydantoi
n), gusi bengkak,
kenyal, karena
terjadi hyperplasia

pada leukemia,
gusi bengkak,
mudah luka,
nekrotis, mudah
berdarah

pada gusi mungkin


dijumpai tumor
(fibroma),
misalnya pada
wanita hamil.

Lidah:
Periksa ikuran, bentuk, warna dan kelainan

pada cretin, myxedema, akromegali, lidah relative besar hingga menonjol keluar, tanpa rasa
nyeri.

Pada dehidrasi lidah mengecil, kering, keriput

Pada DM lidah kering, merah, terasa seperti terbakar, sering disertai bercak keputihan seperti
bekas susu pada kandidiasis.

Selain DM bercak kandidiasis dapat ditemnukan pada leukemia dan AIDS.

Lidah kering, kotor umumnya pada penderita demam, atau yang bernafas melalui mulutnya.
Pada demam tifoid, lidah kering-kotor-putih-kelabu dengan pinggiran merah disebut coated
tongue.

Pada scarlet fever, lidah merah dengan papil besar-besar disebut raspberry atau strawberry
tongue.
Pada defisiensi vitamin B2 dan polycythemia rubra vera, warna lidah merah magenta.

Pada anemia perniciosa, lidah pucat, licin, berkilat.

Pada pellagra, lidah merah, bengkak, licin.

Pada neurosis, lidah seperti gambaran peta (geographical tongue).

Jika seperti kerut-kerut scrotum (scrotal tongue) mungkin menderita defisiensi vitamin B.

Pada penyakit Addison lidah kecil dengan bercak-bercak datar berbentuk bulat atau oval
berwarna coklat kehitaman pada sindrom peutz-jegher.

Pada AIDS bercak merah coklat kehitaman sedikit menonjol di permukaan (sarcoma Kaposi).

Lidah sianotik pada kelainan jantung misalnya decomp.kiri atau saluran penafasan (misalnya
PPOK) atau keracunan darah, misalnya metHb, sulfHB, CO, CN.

Sikatriks npada lidah mungkin dijumpai pada penderita epilepsy.

Tremor lidah pada penyakit Parkinson, hypertiroidisme, anxietas.

Pada kelumpuhan N XII lidah mencong ke sisi yang sakit bila dijulurkan.

Mukosa mulut dan palatum:

Periksa warna, bercak/eflorosensi, kelainan

normal
berwarna
pink, pucat
pada
anemia,
merah pada
radang,
sianotik
pada
kelainan
jantung,
dan saluran
nafas.

Bercak
koplik
(bercak
sebesar
ujung
jarum
pentul,
warna
putih
kelabu
dikelilingi
zona merah
di mukosa
bukal
berhadapa
n dengan
gigi molar
bawah,
tanda dini
morbili.

Noma
adalah
gangrene
progressif
destruktif
pada
mukosa
buccal
hingga
menyebab
kan
perforasi,
dijumpai
pada anak-
anak
malnutrisi
berat.

Ulkus atau
perforasi
pada
palatum
mungkin
disebabkan
syphilis

Uvula:

Periksa warna, ukuran, gerak/pilsasi

Pada
peradanga
n,
berwarna
merah dan
memanjan
g
Pada AI
tampak
pulsasi
yang
sunkron
dengan
denyut
jantung

Pharynx:

Periksa warna, kelainan

peradanga
n, merah
dengan
bercak-
bercak
kotoran
(detritus)

difteri,
seperti
membrane
putih
kelabu
yang
melekat
erat (sulit
dilepaskan
dari
dinding
pharynx
dan mudah
berdarah.

Tonsil:

Periksa: ukuran, warna, kelainan

normal:
T1-T1, bila
setelah
diangkat
T0-T0

Peradanga
n tonsil
membesar,
merah,
mungkin
ada detritus

Bau nafas:

pada
uremia :
bau seperti
urin /
amoniak

pada
asidosis
(DM tidak
terkontrol)
: bau
aseton

pada
kegagalan
hati :
berbau
busuk
(foetor
hepatikus)

pada
difteri,
berbau
tikus
(mousy
smell)

bau nafas
dapat
disebabkan
oleh
kelainan
pada gigi,
lidah, gusi,
hidung,
sinus, paru;
misal:
bronkiekta
sis,
lambung:C
A
lambung,
merokok.
PEMERIKSAAN FISIK LEHER

Pemeriksaan Fisik

Keluhan pasien yang menunjukkan kemungkinan adanya penemuan penting di leher adalah :
riwayat adanya massa atau benjolan , nyeri leher, pusing, sinkop, gangguan neurologis
sementara, dan gejala-gejala pernafasan berupa stridor atau suara serak. Apabila ada
tanda-tanda dan gejala-gejala sistemik yang mencerminkan efek hormon yang berasal dari
leher (tiroid dan paratiroid) dan penurunan berat badan, demam atau anoreksia (yang
memberi kesan tumor atau infeksi), maka perlu dievaluasi dengan teliti.

I. ANATOMI

Leher dibagi oleh muskulus sternokleidomastoideus menjadi trigonum anterior atau medial,
dan trigonum posterior atau lateral untuk pencatatan dan interpretasi penemuan. Muskulus
sternokleidomastoideus juga menutupi vagina karotis yang terletak lateral terhadap laring.
Sarung ini mengandung arteri karotis komunis, vena jugularis interna, dan nervus vagus.Garis
tengah dibatasi oleh incisura kartilago thyroidea dan incisura suprasternal. Trigonum anterior
terdiri dari kelenjar tiroid, laring, faring, kelenjar limfe, kelenjar submandibula, dan lemak.
Sedangkan trigonum posterior hanya berisi kelenjar limfe.

Kelenjar tiroid yang terdapat pada trigonum anterior, membungkus trakea bagian atas dan
terdiri dari dua lobus yang dihubungkan oleh isthmus. Kelenjar tiroid merupakan kelenjar
endokrin terbesar dalam tubuh. Fungsinya menghasilkan hormon tiroid sesuai kebutuhan
tubuh.
II. TINJAUAN GEJALA SPESIFIK

Massa leher

Pasien sering merasa bahwa benjolan atau massa di leher sebagai kanker sampai terbukti
sebaliknya. Oleh karena itu mereka sering gelisah. Riwayat perjalanan penyakit dan tanda-
tanda serta gejala yang berhubungan adalah penting. Suatu massa yang membesar lebih
bermakna kerimbang massa yang telah ada selama bertahun-tahun. Hubungan antara infeksi
saluran nafas bagian atas dengan benjolan pada leher biasanya menunjukkan bahwa kelenjar
limfe berfungsi normal. Suatu massa yang timbul setelah makan atau minum adalah khas untuk
kantong faringeal atau divertikulum esophagus letak tinggi. Letak massa dan sifat fisiknya
memberikan informasi diagnostik tambahan yang berguna. Jika benjolan di leher tersebur
disertai nyeri kemungkinan besar terdapat infeksi akut.

Umur pasien juga ada hubungannya dengan penilaian massa leher. Benjolan di leher seorang
pasien di bawah 20 tahun kemungkinan suatu pembesaran kelenjar getah bening tonsilar atau
massa kongenital. Jika massa itu terletak di garis tengah kemungkinan besar suetu kista
tiroglossus. Diantara umur 20-40 tahun, lebih umum penyakit tiroid, meskipun
dipertimbangkan juga kemungkinan limfoma. Diatas 40 tahun, massa leher harus dicurigai
ganas, sampai terbukti demikian.

Nyeri leher

Letak, sifat, dan keadaan nyeri leher memberi petunjuk yang berguna tentang kemungkinan
penyebabnya. Nyeri yang timbul pada gerakan kepala berasal dari struktur musculoskeletal.
Tiroiditis menyebabkan rasa nyeri pada bagian anterior leher yang bertambah berat bila daerah
tersebut, terjepit pakaian atau pada waktu menelan. Rasa nyeri yang disebabkan peradangan
faring dapat dialihkan ke daerah submandibularis dekat angulus mandibula. Nyeri yang berasal
dari jantung dapat dialihkan ke leher bagian depan tengah atau rahang.

Suara serak

Suara serak menujukkan adanya peradangan, tumor, atau gangguan neurologist pada pita suara
dan kotak suara. Jika suara serak tadi disertai dengan adanya benjolan tiroid, memberi kesan
adanya peralisis pita suara oleh penekanan nervus laringeus rekuren oleh tumor.

III. PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan leher:

Inspeksi

Kulit leher,
efloresensi

Sikap kepala,
spasme otot

Rentang gerakan
leher

Pembesaran
kelenjar (tiroid,
parotis, KGB)

Palpasi
Tra
kea

Tir
oid
dari
ant
erio
r
dan
pos
teri
or

KG
B
dan
arte
ri
kar
otis

Auskultasi

Jik
a
perl
u

Bru
it
(da
ri
tiro
id,
trak
ea
dan
arte
ri
kar
otis
)

Tes

Re
nta
ng
ger
aka
n

Pen
gisi
an
ven
a
(ten
tuk
an
nila
i
JV
P)

Inspeksi

Pada inspeksi leher tentukan adakah:

Asimetri karena pembengkakan, yang dapat disebabkan aneurisma arteri karotis.


Pembengkakan terdapat pada satu sisi dan dapat diraba pulsasi arteri pada daerah tersebut.

Pulsasi yang abnormal atau bendungan vena. Jika terdapat bendungan aliran darah ke vena
torakalis, vena-vena jugularis akan menonjol. Misalnya pada tumor intratorakal (sindrom vena
jugularis), gagal jantung kanan.

Terbatasnya gerakan leher yang dapat disebabkan adanya pembengkakan leher. Kekakuan pada
leher, misalnya kaku kuduk pada meningitis, tetanus.

Tortikolis, yang mana pada keadaan ini leher miring pada arah yang sakit dan sukar digerakkan
karena rasa nyeri. Misalnya pada tuberculosis vertebra servikalis.

Kelenjar limfe. Pembesaran kelenjar limfe dapat dijumpai pada tuberculosis kelenjar,
leukemia, limfoma malignum. Bila didapati, dituliskan besarnya, konsistensi, serta nyeri tekan.

Kelenjar tiroid (struma). Perhatikan ada tidaknya pembesaran, lalu perkirakan berapa besarnya.
Untuk memastikannya dilakukan palpasi.

Palpasi

Untuk memastikan keterangan yang telah diperoleh dari inspeksi, maka dilakukan palpasi.
Palpasilah suatu massa untuk menentukan letak, konsisstensi, ukuran dan mobilitasnya. Palpasi
dilakukan baik dari depan maupun dari belakang pasien. Dari depan, palpasi dapat dimulai dari
daerah oksipital, tangan pemeriksa digerakkan kea rah aurikularis posterior, yang terdapat
superficial terhadap prosesus mastoideus; ke bawah ke trigonum posterior untuk merba untai
servikalis posterior; sepanjang muskulus sternokleidomastoideus untuk meraba untai servikalis
superfisialis, melintasi muskulus sternokleidomastoideus untuk meraba rantai servikalis
profunda di sebelah dalam muskulus; ke dalam trigonum anterior; ke atas tepian rahang untuk
meraba kelompok tonsilaris; sepanjang rahang untuk meraba kelompok submaksilaris; ke
ujung rahang untuk kelenjar submentalis; dan keatas ke untai aurikularis anterior di depan
telinga.

Kelenjar limfe dapat terpisah atau menyatu, bisa seperti karet atau keras seperti batu, bisa bebas
atau melekat, tidak nyeri atau ada nyeri tekan. Pembesaran fisiologis kelenjar limfe sebagai
respon terhadap fungsi penyaring yang aktif, biasanya menyebabkan pembesaran yang
tersendiri, kenyal dan tidak melekat. Bila kelenjar mengandung limfosit polimorfonuklear
(limfadenitis), terdapat nyeri tekan. Penyakit metastasis memberi kesan keras seperti batu pada
jari yang meraba. Limfoma dan kadang-kadang karsinoma, menyebabkan kelenjar limfe
bersatu karena biasanya terjadi perluasan penyakit ke periskapular.

Kartilago tiroidea merupakan struktur yang paling menonjol di garis tengah, yang dapat
digerakkan bebas ke kanan dan ke kiri tapi tidak dapat ke atas dan ke bawah. Bila digerakkan
ke lateral teraba krepitasi sewaktu ia menggeser melewati bagian anterior vertebra servikalis.
Jika tidak ada krepitasi seperti itu mungkin menunjukkan adanya suatu massa pada ruang
retrofaringeal.

Kartilago hyoidea terletak di atas kartilago tiroidea. Pada orang tua, kornu lateral kartilago
hyoidea mungkin mengalami osifikasi dan teraba seperti kelenjar limfe yang keras seperti batu.

Selanjutnya palpasi arteri karotis. Letakkan tiga jari anda di sisi kartilago thyroidea. Dengan
hati-hati geserlah m.sternokleidomastoideus ke lateral dan kartilago thyroidea ke medial.
Periksalah kelenjar tiroid dari depan dan rabalah dari depan dan dari belakang. Mula-mula,
lakukanlah palpasi dengan jari menyilang trakea, kemudian tentukanlah garis bentuk lobus
lateral. Letakkan ujung jari anda pada pinggir lateral m.sternokleidomastoideus dan ujung jari
anda pada garis tengah tepat di atas incisura sternalis. Suruh pasien menelan. Bila kelenjar
tiroid membesar, waktu menelan akan teraba sebagai jaringan yang berjalan ke atas di bawah
jari anda. Bila tidak, kemungkinan tumor yang bukan berasal dari kelenjar tiroid. Tiroid normal
tidak mudah teraba.

Jika anda pindah ke belakang pasien, sekali lagi rabalah kelenjar tiroid yang membesar. Mula-
mula pasien diminta untuk sedikit fleksi leher, kemudian letakkan jari-jari anda medial
terhadap m.sternokleidomastoideus. dalam posisi ini, kedua tangan dapat melakukan palpasi
secara serentak.
C. Auskultasi

Auskultasi dilakukan pada tiroid yang membesar, untuk mengetahui adakah bruits pada
kelenjar tiroid tersebut, yang cenderung untuk suatu keadaan vaskularisasi yang bertambah
(misalnya pada suatu keganasan, tirotoksikosis), maupun suatu keadaan hipertiroid. Auskultasi
dilakukan dari arah depan.

Jika pasien berusia diatas 50 tahun, dengarkan di tiap sinus karotis kemungkinan adanya aliran
turbulen pada pembuluh darah atau bising karotis (carotid bruit). Pada arteri karotis sering
terjadi suatu proses aterosklerosis. Bahan ateromatosa yang menonjol ke lumen mengganggu
aliran lamellar dan menimbulkan arus yang turbulen yang terdengar sebagai bising sistolik.
Bising sistolik dan diastolic, yang ditemukan secara kebetulan karena dengung vena (venous
hum) dapat didengar pada dasar leher dan incisura suprasternalis.
D. Pengukuran Tekanan Vena Jugularis

Pemeriksaan dilakukan pada vena jugularis eksterna kanan karena ia merupakan hubungan
(sambungan) langsung dari vena kava superior. Pada gagal jantung kanan, bendungan di
ventrikel kanan diteruskan ke atrium kanan dan vena kava superior sehingga tekanan vena
jugularis meninggi. Pada gagal jantung kiri, bendungan di ventrikrl kiri diteruskan ke atrium
kiri dan vena pulmonalis dan kemudian tertampung di dalam paru.

Pasien berbaring dengan kepala pada tempat tidur yang dimiringkan 45 derajat. Periksalah vena
jugularis eksterna yang berjalan ke medial dari pertengahan klavikula, melewati
m.sternokleidomastoideus, menuju ke angulus mandibula. Hentikanlah aliran darah vena dari
kepala dengan jari anda. Dengan jari lainnya, kosongkan vena di bawah jari anda yang
menekan tersebut dan perhatikan pengisian vena jugularis dari bawah. Pakailah senter kecil
untuk menerangi leher dari sudut tangensial. Tindakan ini akan menimbulkan bayangan yang
akan membantu anda melihat fluktuasi dalam kolom darah pada vena jugularis.

IV. PENEMUAN-PENEMUAN YANG DIDAPATI PADA PEMERIKSAAN LEHER

Meningitis menyebabkan spasme leher dan nyeri. Fleksi kepala dengan menyentuhkan dagu
ke dada akan menimbulkan nyeri hebat. Gerakan leher dihambat oleh spasme hebat pada otot-
otot leher (kaku kuduk).

Kelenjar limfe yang nyeri tekan menandakan adanya peradangan.kelenjar limfe yang keras
seperti karang menandakan adanya tumor. Kelenjar limfe yang keras seperti karet melekat satu
sama lain menandakan adanya limfoma. Kelenjar limfe yang lunak, tidak nyeri dan teraba
menunjukkan adanya infeksi atau teraba secara kebetulan. Kelenjar yang teraba pada trigonum
servikalis anterior, menandakan kemungkinan adanya gangguan, faringitis dan tonsilitis yang
tersering. Biasa juga disebabkan oleh kanker laring, faring, atau tiroid. Benjolan di garis tengah
tidak pernah berasal dari kelenjar limfe.

Benjolan lateral yang bukan berasal dari kelenjar limfe mencakup aneurisma arteri karotis,
higroma kistik dan celah kista brankialis. Pada penyakit tiroid yang menyebabkan pembesaran
difus, lobus piramidalis yang terletak di garis tengah dapat diraba dengan mudah. Kelenjar
yang membesar disebut goiter.sifat yang membantu menentukan arti pembesaran adalah
tekstur, nodularitas, dan ukuran.

Bila anda meraba nodul tiroid, periksalah tiga sifatnya: limfadenpati yang berhubungan, nodul
multiple, dan tekstur. Limfadenopati kenyal yang berhubungan menandakan adanya tumor,
demikian pula kelenjar yang baru membesar, tunggal, dank eras. Nodul multiple menandakan
adanya goiter. Kelenjar yang membesar, keras seprti kayu menandakan adnya tiroiditis kronis,
sedangkan pembesaran kelenjar yang nyeri tekan menyarankan adanya tiroiditis akut. Goiter
atau pembesaran tiroid menandakan adanaya hiper atau hipoaktif dari kelenjar. Goiter ditandai
pada palpasi teksturnya difus (homogen) atau nodular (teraba massa multiple). Wajah pasien,
penampilan fisik (habitus) dan sifat lainnya dapat memberikan petunjuk khusus akan adanya
gangguan fungsi tiroid.
NERVI CRANIALIS
Saraf otak ada 12 pasang, dan biasanya dinyatakan dengan angka romawi I-XII. Memeriksa
saraf otak (I-XII) dapat membantu menentukan lokasi dan jenis penyakit. Lesi dapat terjadi
pada serabut saraf atau bagian perifer (infranuklir), pada inti (nuklir) atau hubungannya ke
sentral (supranuklir). Bila inti rusak akan diikuti oleh degenerasi saraf perifernya. Saraf I dan
II berfungsi mirip jaringan otak, sedangkan saraf otak lainnya (III-XII) mempunyai bangunan
dan fungsi mirip saraf spinal dan bereaksi mirip dengan saraf spinal terhadap proses penyakit.

A. Nervus Olfaktorius (N.I)

Nervus Olfaktorius merupakan saraf sensorik yang fungsinya hanya satu, yaitu mencium bau,
menghidu (penciuman, pembauan). Kerusakan saraf ini menyebabkan hilangnya penciuman
(anosmia), atau berkurangnya penciuman (hiposmia).
Pemeriksaan:

Tujuan: untuk mendeteksi adanya gangguan menghidu. Juga untuk mengetahui apakah
gangguan tersebut disebabkan oleh gangguan saraf atau penyakit hidung lokal.

Cara pemeriksaan: periksa lubang hidung apakah ada sumbatan atau kelainan setempat
misalnya polip. Zat pengetes yang digunakan sebaiknya zat yang dikenali sehari-hari misalnya
kopi, the, tembakau, jeruk. Jangan menggunakan zat yang dapat merangsang mukosa hidung
(N.V) seperti mentol, amoniak, alkohol, cuka. Dengan mata pasien tertutup, zat pengetes
didekatkan ke hidung pasien dan suruh menciumnya. Tiap lubang hidung diperiksa satu persatu
dengan jalan menutup lubang hidung yang lainnya dengan tangan.

B. Nervus Optikus (N.II)

Alat penangkap rangsang cahaya ialah sel batang dan kerucut yang terletak di retina. Impuls
kemudian dihantarkan melalui serabut saraf yang membentuk nervus optikus. Sebagian dari
serabut ini, yaitu serabut yang menghantarkan rangsang yang datang dari bagian medial retina,
menyilang ke sisi lainnya di khiasma optikus. Dari khiasma optikus, serabut melanjutkan diri
dengan membentuk traktus optikus ke korpus genikulatum lateral dan setelah bersinap disini
rangsang diteruskan melalui traktus genikulokalkarina ke korteks optik kemudian berakhir di
korteks yang disebut korteks striatum.

Pemeriksaan:

Tujuan: mengukur ketajaman penglihatan dan menentukan apakah kelainan pada visus
disebabkan kelainan okuler lokal atau oleh kelainan saraf.

Cara pemeriksaan: dilakukan dengan jalan membandingkan dengan kampus penglihatan


pemeriksa yaitu dengan metoda konfrontasi dari donder. Penderita disuruh berdiri atau duduk
berhadapan dengan pemeriksa dengan jarak kira-kira 1 meter. Jika hendak memeriksa mata
kanan pasien, maka mata kiri pasien harus ditutup dengan tangannya atau dengan kertas,
sedangkan pemeriksa harus menutup mata kanannya. Kemudian pasien disuruh melihat terus
(memfiksasi matanya) pada mata kiri pemeriksa dan pasien harus selalu melihat ke mata kanan
pemeiksa. Setelah itu pemeriksa menggerakkan jari tangannya dibidang pertengahan antara
pemeriksa dan pasien. Gerakan dilakukan dari arah luar ke dalam. Jika pasien mulai melihat
gerakan jari-jari pemeriksa,ia harus memberitahu dan hal ini dibandingkan dengan pemeriksa.
Jika ada gangguan kampus penglihatan, maka pemeriksa akan melihat gerakan tersebut lebih
dahulu.

C. Nervus Occulomotorius (N.III)

D. Nervus Trokhlearis (N.IV)

E. Nervus Abducens (N.VI)

Ketiga saraf otak ini diperiksa bersama-sama, karena kesatuan fungsinya yaitu mengurus otot-
otot ekstrinsik dan instrinsik bola mata.

Mucle Innervation Primary Secondary Tertiary


function function function
Superior rectus Occulomotor elevation intorsion adduction
(N.III)
Inferior rectus Occulomotor depression extorsion adduction
(N.III)
Lateral rectus Abducens abduction
(N.VI)
Medial rectus Occulomotor adduction
(N.III)
Superior Trochlear (N.IV) intorsion depression abduction
oblique
Inferior Occulomotor extorsion elevation abduction
oblique (N.III)

Pemeriksaan:

Cara pemeriksaan: selagi berwawancara dengan pasien perhatikan celah matanya, apakah ada
ptosis, eksoftalmus, dan apakah ada strabismus.

1. Ptosis

Kelumpuhan nervus III dapat menyebabkan terjadinya ptosis, yaitu klopak mata yang terjatuh,
mata tertutup, dan tidak dapat dibuka. Hal ini disebabkan kelumpuhan m. levator palpebra.

Untuk menilai tenaga m. levator palpebra pasien disuruh memejamkan matanya, kemudian ia
disuruh membukanya. Waktu ia membuka mata, kita tahan gerakan ini dengan jalan memegang
(menekan) kelopak mata.

2. Refleks pupil

Perhatikan besarnya pupilpada mata kiri dan kanan apakah sama (isokor) atau tidak sama
(anisokor). Juga perhatikan bentuk pupil apakah bundar dan tepinya rata (normal) atau tidak.
Otot polos yang mengecilkan pupil dipersarafi oleh saraf parasimpatis dan nervus III,
sedangkan yang melebarkan pupil disarafi serabut simpatis (torakolumbal). Besarnya pupil
dipengaruhi banyak faktor terutama intensitas cahaya.

Refleks pupil terdiri dari reaksi cahaya langsung dan tak langsung (konsensual). Mata pasien
difiksasi pada benda yang jauh letaknya, setelah itu mata di senter dan dlihat apakah ada reaksi
pada pupil. Pada keadaan normal pupil mengecil. Bila demikian disebut refleks cahaya
langsung positif. Perhatikan juga pupil mata yang tidak disinar, apakah ikut mengecil oleh
penyinaran mata yang lainnya. Bila demikian disebut refleks cahaya tidak langsung
(konsensual) positif.

3. Refleks akomodasi

Pasien disuruh melihat jauh kemudian ia disuruh melihat dekat, misalnya jari kita yang
ditempatkan dekat matanya. Positif bila terlihat pupil mengecil. Pada kelumpuhan nervus III
refleks ini negatif.

4. Kedudukan (posisi) bola mata

Perhatikan apakah bola mata menonjol (eksoftalmus) atau selah-olah masuk kedalam
(enoftalmus).

5. Gerakan bola mata

Pasien disuruh melihat mengikuti jari pemeriksa yang digerakkan ke arah lateral, medial, atas,
bawah dan ke arah miring yaitu atas lateral, bawah medial, atas medial, bawah lateral.
Perhatikan apakah mata pasien dapat mengikutinya dan bagaimana gerakan bola mata, apakah
lancar dan mulus atau kaku, tanyakan juga apakah telihat benda kembar (diplopia).

F. Nervus Trigeminus (N.V)

Terdiri dari dua bagian yaitu bagian sensorik (porsio mayor) dan bagian motorik (porsio
minor).
Bagian motorik mengurusi otot mengunyah.

Bagian sensorik mengurus sensibilitas dari muka melalui ketiga cabangnya yaitu;

Nervus
Oftalmikus

Nervus
Maksilaris

Nervus
Mandibula
ris

Pemeriksaan:

Cara pemeriksaan: untuk memeriksa bagian motoris, pasien disuruh merapatkan giginya sekuat
mungkin dan kemudian perhatikan besarnya tonus dan konturnya. Kemudian pasien disuruh
membuka mulut dan perhatikan apakah ada deviasi rahang bawah. Kekuatan otot dapat dinilai
dengan menyuruh pasien menggigit suatu benda. Untuk memeriksa bagian sensorik, dengan
menyelidiki rasa raba, rasa nyeri, suhu daerah-daerah yang disarafinya.

G. Nervus Fasialis (N.VII)

Nervus Fasialis merupakan saraf motorik yang menginervasi otot-otot ekspresi wajah (UMN
dan LMN). Juga membawa serabut parasimpatis ke kelenjar ludah dan lakrimalis. Termasuk
sensasi pengecapan 2/3 bagian anterior lidah.

Pemeriksaan:

1. Fungsi motorik

perhatikan muka pasien, simetris atau tidak, kerutan dahi, pejaman mata, plika nasolabialis,
dan sudut mulut. Bila asimetris wajah jelas, maka disebabkan oleh kelumpuhan jenis perifer
(LMN). Dalam hal ini kerutan dahi menghilang, mata kurang dipejamkan, plika nasolabialis
mendatar dan sudut mulut menjadi rendah. Pada kelumpuhan jenis sentral (UMN) muka dapat
simetris saat istirahat, baru nyata bila pasien melakukan gerkan misalnya menyeringai.

Cara pemeriksaan:

Menyuruh pasien
mengangkat alis
dan mengkerutkan
dahi

Kelumpuhan UMN sesisi, pasien dapat mengangkat alis dan mengkerutkan dahinya, sebab
mendapat persarafan bilateral. Pada kelumpuhan jenis LMN jelas adanya asimetris.

Menyruh pasien
memejamkan mata
Bila berat maka pasien tidak dapat memejamkan mata. Bila ringan maka tenaga pejaman
kurang kuat. Suruh pula pasien memejamkan mata satu persatu, bila tidak dapat memejamkan
mata berarti matanya pada sisi yang parese.

Menyuruh pasien
menyeringai
(menunjukkan gigi
geligi),
mencucurkan
bibir,
mengembungkan
pipi.

Perhatikan apakah asimetris sudut mulut, apakah dapat bersiul.

Fungsi
pengecapan

Kerusakan N.VII sebelum percabangan khorda timpani dapt menyebabkan ageusi (hilangnya
pengecapan) 2/3 bagian anterior lidah.

H. Nervus Vestibulokokhlearis (N.VIII)

Terdiri dari dua bagian yaitu saraf kokhlearis (pendengaran) dan saraf vestibularis
(keseimbangan).

Pemeriksaan saraf kokhlearis;

Tes Schwabach

Membandingkan pendengaran pasien dengan pendengaran pemeriksa. Garpu tala dibunyikan


kemudian ditempatkan didekat telinga pasien. Setelah pasien tidak mendengar lagi, garpu tala
didekatkan ke telinga pemeriksa. Bila masih tedengar oleh pemeriksa disebut tes schwabach
memendek.

Tes Rinne

Membandingkan konduksi tulang dan konduksi udara. Pada telinga normal konduksi udara
lebih baik dari pada konduksi tulang. Hal ini didaptkan pada tuli perseptif (tuli saraf). Pada tuli
konduktif, konduksi tulang lebih baik dari pada konduksi udara.

Tes Weber

Membandingkan pendengaran telinga kiri dan kanan (lateralisasi). Garpu tala dibunyikan
ditekankan pangkalnya pada dahi pasien tepat dipertengahan. Kemudian disuruh menentukan
pada telinga mana yang terdengar lebih keras.

Pemeriksaan saraf vestibularis


Tes romberg yang
dipertajam

Pada tes ini pasien berdiri dengan satu kaki yang satu didepan kaki lainnya, tumit yang satu
berada didepan jari-jari kaki yang lain. Lengan dilipat pada dada dan mata kemudian ditutup.
Tes ini berguna menilai adanya disfungsi sistem vestibular. Orang normal mampu berdiri
dalam sikap romberg yang dipertajam selama 30 detik atau lebih.

Salah tunjuk (past


pointing)

Pasien disuruh merentangkan tangannya dan telunjuknya menyentuh telunjuk pemeriksa.


Kemudian ia disuruh menutup mata, mengangkat lengannya tinggi-tinggi (sampai vertikal) dan
kemudian kembali ke posisi semula. Pada gangguan vestibular didapatkan salah tunjuk atau
deviasi, demikian juga dengan gangguan serebelar.

I. Nervus Glossopharingeus (N.IX)

J. Nervus Vagus (N.X)

Nervus IX dan X diperiksa bersamaan, karena kedua saraf ini berhubungan erat satu sama lain.

Pemeriksaan:

Fungsi motorik

Perhatikan kualitas suara pasien. Apakah normal, serak (disfoni), atoni. Untuk ini pasien
menyebutkan: aaaaaaa..

Fungsi
pengecapan

Nervus Glossopharingeus mengandung serabut aferen khusus untuk pengecapan, yaitu


pengecapan 1/3 bagian posterior lidah.

K. Nervus Aksesorius (N.XI)

Saraf XI menginervasi m. sternocleidomastoideus dan m. trapezius menyebabkan gerakan


menoleh (rotasi) pada kepala.

Pemeriksaan m. sternocleidomastoideus:

Perhatikan keadaan m. sternocleidomastoideus pada saat istirahat dan bergerak. Selain itu
pasien juga dapat disuruh menoleh ke kiri atau kanan, dan ditahan dengan tangan pemeriksa
diletakkan didagu. Untuk mengukur kekuatan otot dapat dilakukuan cara yaitu:

pasien disuruh
menggerakkan
bagian badan yang
digerakkan oleh
otot yang ingin
kita periksa dan
kita tahan gerakan
ini.

kita gerakkan
bagian badan
pasien dan disuruh
ia menahannya.

Pemeriksaan m. trapezius:

Perhatikan keadaan m. trapezius pada saat istirahat dan bergerak.

Tempatkan tangan kita di atas bahu pasien. Kemudian disuruh mengangkat bahunya dan kita
tahan.

L. Nervus Hypoglossus (N.XII)

Saraf ini mengandung serabut somato sensorik yang menginervasi otot intrinsik dan otot
ekstrinsik lidah.

Pemeriksaan:

Suruh pasien membuka mulut dan perhatikan lidah dalam keadaan istirahat dan bergerak.

Bila lidah digerakkan atau dijulurkan, perhatikan apakah julurannya mencong. Pada parese satu
sisi, lidah dijulurkan mencong ke sisi yang lumpuh
PEMERIKSAAN FISIK THORAX

A. Pemeriksaan Fisik Paru

Pemeriksaan fisik paru terdiri atas INSPEKSI, PALPASI, PERKUSI, dan AUSKULTASI.
Tapi sebelum melakukan keempat tahap di atas ada hal-hal yang perlu diperhatikan oleh
pemeriksa, yaitu :

Pemeriksaan
sebaiknya
dilakukan pada
tempat yang
tenang, terang, dan
usahakan ada di
ruang tertutup agar
pasien tidak
merasa malu serta
usahakan ada
pendamping.

Pemeriksa sabar
dan tenang, berdiri
di samping kanan
pasien.

Pasien sebaiknya
terbaring lurus
terlentang. Bila
tidak dapat
terbaring
terlentang bias
dilakukan sambil
duduk dengan kaki
tergantung ke
bawah di pinggir
bangku
pemeriksaan.

Pasien sebaiknya
telanjang pada
bagian atas dada
sampai batas
pinggang. Pada
pasien wanita
perlu diterangkan
untuk membuka
bagian dada
tersebut untuk
dapat memeriksa
jantung dan paru
secara jelas.

Pemeriksaan thorax ini perlu dilakukan secara berurutan dan untuk memudahkan kita
melokalisasi kelainan, pada dinding thorax ditetapkan garis-garis / linea-linea imajiner sebagai
berikut :

Garis-garis vertikal :

Di Depan ( ventral ) :

o Garis
midsternali
s

o Garis
sternalis
kanan dan
kiri

o Garis
midclavicu
laris kanan
dan kiri

o Garis
parasternal
is kanan
dan kiri

Di Sisi ( lateral ) :

o Garis
axillaris
anterior

o Garis
axillaris
media

o Garis
axillaris
posterior
Di Belakang ( dorsal ) :

o Garis
midspinali
s

o Garis
scapularis
kanan dan
kiri

o Garis
midscapula
ris kanan
dan kiri

Garis-garis horizontal :

Di Depan dan sisi adalah sela-sela iga

Di belakang adalah garis-garis horizontal setinggi vertebrae thorakal


Proyeksi permukaan struktur tulang thorax dan lobus pulmonary dengan tempat-tempat garis
thorax anterior.

Proyeksi permukaan lobus paru kanan terhadap garis thorax lateral


Proyeksi permukaan visera paru posterior terhadap garis thorax posterior

Urutan Pemeriksaan Dada (Bila pasien duduk selama pemeriksaan)

Posisi Pemeriksa Manuver


Berhadapan dengan pasien Inspeksi dinding dada anterior

Inspeksi dan palpasi posisi trakea


Menghadap punggung pasien Inspeksi gerakan pernafasan

Hitung pernafasan

Inspeksi dan palpasi vertebra torakalis

Perkusi angulus costo vertebralis

Palpasi gerakan pernafasan

Perkusi peranjakan diafragma

Perkusi paru (posterior)

Auskultasi paru (posterior)


Pada sisi kanan dan kiri pasien berurutan Inspeksi dinding dada lateral

Perkusi paru (lateral)

Auskultasi paru (lateral)


Berhadapan dengan pasien Auskultasi paru (anterior)

Perkusi paru (anterior)

I. INSPEKSI

Pada inspeksi terdapat hal-hal yang harus diperhatikan :

1. Perhatikan bentuk dada atau thoraks dalam keadaan tidak bergerak ( statis ), lihat apakah :

a. Normal

Simetris, potongan melintang bentuk elips, diameter anteroposterior : diameter lateral = 5 : 7,


sela iga tidak terlalu lebar / sempit, iga-iga tidak terlalu horizontal / vertical, angulus costae 70o
90o

b. Abnormal:

Dada paralitikum

o Dada kecil, gepeng, diameter anteroposterior pendek

o Sela iga sempit, iga lebih miring / vertical

o Angulus costae < 70o

o Scapula menonjol ke belakang

o Terdapat pada pasien malnutrisi tuberculosis

o Sinonim : Pthisic chest

Dada tong

o Dada mengembung, diameter anteroposterior besar

o Sela iga lebar, iga lebih horizontal

o Pada potongan melintang jadi membulat

o Tulang punggung melengkung ( kifosis )

o Angulus costae > 90 o

o Terdapat pada : bayi ( normal ), proses penuaan, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK),
emfisema.

o Sinonim : Barrel chest atau dada emfisematikus


Kifosis :

Melengkungnya ( lordosis ) kurvatura vertebra pada posisi anterior posterior secara berlebihan
dari normal. Jika berbentuk anguler ( sudut ) = gibbus, yang terdapat pada penderita spondilitis
TBC. Jika seperti busur ( arkuer ) kemungkinan karena osteoporosis. Kelainan ini terlihat pada
pemeriksaan dari samping.

Kifosis dorsalis ringan Kifosis dorsalis berat (gibbus)

Scoliosis :

Melengkungnya kurvatura vertebra ke lateral. Kemungkinan karena kebiasaan berposisi jelek


sejak kecil atau poliomyelitis. Kelainan ini jelas terlihat pada pemeriksaan dari belakang.

Lordosis :

Melengkungnya kurvatura vertebra ke anterior. Kemungkinan karena hamil tua, ascites, atau
tumor intra abdominal.

Pectus excavatum :
Dada dengan tulang sternum yang mencekung ke dalam. Perubahan letak ke arah posterior dari
sternum bawah. Kompresi pada jantung atau pembuluh darah yang besar dapat menyebabkan
murmur. Kelainan ini jelas terlihat pada pemeriksaan dari depan. Sinonim : Funnel - chest

Pectus carinatum :

Dada dengan tulang sternum menonjol ke depan. Perubahan letak ke arah anterior dari sternum.
Perbatasan kartilago kosta terhadap sternum relatif tertekan. Kelainan ini jelas terlihat pada
pemeriksaan dari depan. Sinonim : Pigeon chest atau dada burung.
Flail chest :

Gerakan pernafasan abnormal yang berkaitan dengan fraktur iga multiple. Area yang
mengalami cedera bergerak ke dalam selama inspirasi dan ke arah luar saat expirasi.

Rachitic rosary :

Hampir semua perlekatan iga dengan rawan iga di dada membentuk benjolan sehingga
menyerupai untaian biji tasbih. Terdapat pada penderita rachitis.

Scorbutic rosary :

Hampir semua perlekatan iga dengan tulang dada seolah menonjol karena tulang dada
mengalami depresi sehingga tampak juga seperti untaian biji tasbih. Terdapat pada penderita
skorbut ( defisiensi vit. C )

Kelainan lain pada dada yang sering ditemukan:


Kul
it :
war
na,
bint
ik-
bint
ik,
spi
der
nev
i
(sir
osis
hep
atic
),
tonj
ola
n
tum
or,
bek
as
jari
nga
n
par
ut,
luk
a
ope
rasi
.

Be
ndu
nga
n
ven
a

Em
fise
ma
sub
kuti
s

Gin
eko
ma
stia
(
pad
a
pria
)
ata
u
ma
mm
ae
atro
fi /
tum
or
P
eny
em
pita
n
sela
iga

P
ele
bar
an
sela
iga
saat
exp
iras
i
(ob
stu
ksi
me
kan
ism
e
pen
til
pad
a
bro
nku
s)

2. Dada dalam keadaan bergerak / dinamis :

Fre
kue
nsi
per
naf
asa
n:

Fre
kue
nsi
per
naf
asa
n
nor
mal
pad
a
pria
14-
18
x /
me
nit
sed
ang
kan
pad
a
wa
nita
ada
lah
16-
20
x /
me
nit,
dan
pad
a
bay
i
ada
lah
30-
50
x /
me
nit.

Bra
dip
noe
:
fre
kue
nsi
naf
as
<14
x /
me
nit,
mis
aln
ya
pad
a
pe
ma
kai
an
ove
rdo
sis
oba
t-
oba
t
nar
koti
k,
kel
ain
an
ser
ebr
al.

Tak
ipn
oe :
fre
kue
nsi
naf
as
>20
x /
me
nit,
mis
aln
ya
pad
a
dec
om
pen
sati
o
cor
dis,
pne
um
oni
a,
anx
ieta
s,
asi
dos
is.

Sifat pernafasan :
Pad
a
wa
nita
seh
at
um
um
nya
per
naf
asa
n
tho
rak
al
lebi
h
do
min
an
dan
dis
ebu
t
tho
rak
o-
abd
omi
no,
bila
terb
alik
mu
ngk
in
ada
kel
ain
an
pad
a
ron
gga
tho
rax
ata
u
din
din
gny
a.
Sed
ang
kan
pad
a
pria
seh
at,
per
naf
asa
n
abd
omi
nal
lebi
h
do
min
an
dan
dis
ebu
t
abd
omi
no-
tho
rak
al,
bila
terb
alik
ke
mu
ngk
ina
n
me
nde
rita
peri
toni
tis
ata
u
par
aly
sis
diaf
rag
ma.
Kel
ain
an
ini
dis
eba
bka
n
ben
tuk
ana
tom
i
dad
a
dan
per
ut
wa
nita
yan
g
ber
bed
a
dari
pria
.
Per
hati
kan
jug
a
apa
kah
terd
apa
t
pe
ma
kai
an
otot
-
otot
ban
tu
per
naf
asa
n,
mis
aln
ya
pad
a
pas
ien
TB
C
lanj
ut
ata
u
PP
OK
. Di
sa
mpi
ng
itu
ada
kah
terl
ihat
bag
ian
dad
a
yan
g
tert
ing
gal
dal
am
per
naf
asa
n.

Jenis pernafasan lain adalah :

Pernafasan dengan pursed lips, pernafasan seperti menghembus sesuatu lewat mulut, misalnya
pada pasien PPOK dan asma.

Pernafasan dengan mengambil nafas lewat mulut dan mengeluarkan lewat hidung, misalnya
pada pasien pneumonia.

Pernafasan cuping hidung ( lebih terlihat pada pasien anak kecil )

B. Irama pernafasan

i. Normal :

Dilakukan secara teratur dengan fase-fase inspirasi-ekspirasi yang teratur secara bergantian.

ii. Abnormal :

Pernafasan Cheyne Stokes : amplitudo pernafasan mulai dari kecil makin lama makin besar
sampai mencapai yang tertinggi, kemudian makin mengecil hingga apnoe ( tidak bernafas )
beberapa saat lalu mulai lagi dengan amplitude yang kecil, makin lama makin besar dan
kembali lagi seperti tadi dan seterusnya. Terdapat pada : decompensatio cordis kiri, tekanan
intracranial meninggi, keracunan opium, barbiturat, atau uremia, hypoxia kronik. Hal ini terjadi
karena terlambatnya respon reseptor klinis medulla otak terhadap pertukaran gas.

Pernafasan Biot : irama pernafasan yang sama sekali tidak teratur. Terdapat pada kerusakan
otak. Sinonim : pernafasan ataxic.

Pernafasan Kussmaul : pernafasan cepat dan dalam (takipnoe disertai hiperpnoe). Terdapat
pada asidosis ( misalnya pada DM tidak terkontrol dan gagal ginjal ).

Bentuk kelainan irama pernafasan tersebut kadang-kadang dapat ditemukan pada orang normal
tapi gemuk ( obesitas ) atau pada waktu tidur. Keadaan ini biasanya merupakan pertanda kurang
baik.

Di samping melihat keadaan-keadaan tersebut di atas, pemeriksa hendaknya juga mendengar


kelainan yang langsung dapat didengar tanpa bantuan alat pemeriksa :
Sua
ra
bat
uk (
keri
ng
dan
ber
dah
ak )
me
nun
juk
kan
ada
nya
gan
ggu
an
dal
am
sal
ura
n
bro
nku
s /
bro
nki
olu.

Sua
ra
me
ngi
(
wh
eez
ing
)
yait
u
sua
ra
naf
as
ber
bun
yi
ngi
kk
yan
g
terd
eng
ar
sela
ma
fas
e
ins
pira
si
dan
eks
pira
si
kar
ena
terj
adi
pen
ye
mpi
tan
jala
n
uda
ra.

Stri
dor
ada
lah
sua
ra
naf
as
ngo
rok
sec
ara
tera
tur.
Ter
jadi
kar
ena
ada
nya
pen
yu
mb
ata
n
dae
rah
lari
ng.
Stri
dor
dap
at
ber
upa
ins
pira
toir
(
gan
ggu
an
pad
a
sal
ura
n
naf
as
atas
)
dan
eks
pira
toir
(
gan
gua
n
pad
a
sal
ura
n
naf
as
ba
wa
h),
mis
aln
ya
pad
a
tum
or,
per
ada
nga
n
pad
a
trak
ea,
ata
u
ada
ben
da
asi
ng
di
trak
ea.

Sua
ra
ser
ak (
hoa
rse
nes
s )
yan
g
terj
adi
kar
ena
kel
um
puh
an
pad
a
sar
af
lari
ng
ata
u
per
ada
nga
n
pita
sua
ra.

Setelah memperhatikan hal-hal di atas, pemeriksa hendaknya juga memeriksa apakah ada
kelainan pada ekstremitas atas yang berhubungan dengan penyakit paru seperti :


Jari
tab
uh
(clu
bbi
ng),
pad
a
pen
yak
it
par
u
sup
pur
atif
dan
kan
ker
par
u


Sia
nos
is
peri
fer
pad
a
uju
ng-
uju
ng
kuk
u
jari
tan
gan
me
nun
juk
kan
hip
oks
emi
a

Kar
at
nik
otin
pad
a
per
oko
k
ber
at

Oto
t-
otot
tan
gan
dan
len
gan
yan
g
me
gec
il
kar
ena
pen
eka
nan
ner
vus
tho
raci
c I
elo
h
tum
or
par
u di
ape
ks
par
u (
Sin
dro
m
Pan
coa
st )

Kelainan kepala yang menunjukkan gangguan pada paru seperti :



mat
a
yan
g
me
nge
cil
pad
a
Sin
dro
ma
Hor
ner


s
ian
osis
pad
a
uju
ng
lida
h
pad
a
hip
oks
emi
a.
Hal lain yang perlu diperhatikan pada gangguan paru adalah sputum ( dahak ) :

sputum banyak dan purulen terdapat pada bronkiektasis

sputum warna merah muda dan berbusa ( pink frothy ) terdapat pada oedema paru (gagal
jantung)

sputum berdarah ( hemoptisis ) terdapat pada penyakit tuberculosis paru, kanker paru,
bronkiektasis.

II. PALPASI

1. Dalam keadaan statis :

Apakah ada kelenjar getah bening yang membesar di daerah supraklavikula, submandibula dan
kedua axilla. Bila membesar limfadenopati yang menunjukkan terdapatnya proses di daerah
paru seperti kanker paru.

Trakea, normalnya terletak di tengah. Bila trakea bergerak ke kiri atau ke kanan perhatikan
apakah karena pendorongan oleh tumor atau tertarik ke bagian yang sakit ( scwharte / fibrosis
apeks paru oleh tuberculosis )

Diraba apakah ada penonjolan pada dinding dada.

Angulus subcostae : dengan kedua telapak tangan pada masing-masing arcus costae, sudut yang
dibentuk oleh kedua ibu jari pemeriksa ditetapkan, normalnya 70o - 90o

2. Dalam keadaan dinamis :

o Gerak dinding thorax saat inspirasi dan ekspirasi. Tentukan amplitude gerak nafas
hemithorax kiri dan kanan serta bandingkan. Kedua telapak tangan pemeriksa diletakkan pada
tempat-tempat yang simetris. Normal amplitudonya sama. Bila tidak sama, kemungkinan
terdapat emfisema, efusi pleura, atau atelektasis, fibrosis pada satu sisi. Atau pada kedua sisi
terdapat kelainan yang tidak sama.

o Vocal fremitus

Pasien diminta untuk mengucapkan kata-kata apa saja, misal tujuh puluh tujuh berulang-
ulang dan getarannya pada kedua dinding thorax diraba oleh kedua telapak tangan yang
masing-masing diletakkan pada hemithorax secara simetris. Normal akan dirasakan sama
kuatnya.

Bila melemah pada salah satu sisi mungkin penyebabnya adalah efusi pleura, emfisema,
pneumothorax, atau atelektasis obstruktif.

Bila mengeras pada satu sisi kemungkinan ada infiltrat, konsolidasi, atelektasis kompresif, atau
tumor.
o Friction fremitus

Mungkin dapat teraba getaran pada dinding thorax akibat gesekan permukaan kedua pleura (
parietalis dan viseralis ) yang meradang / pleuritis. Sinkron saat gerak inspirasi-ekspirasi dan
teraba amat halus.

III. PERKUSI

Teknik perkusi dinding thorax dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :

Per
kus
i
lan
gsu
ng
ada
lah
pe
mer
iks
aan
dim
ana
din
din
g
dad
a
dik
etu
k
rin
gan
den
gan
uju
ng
jari
ten
gah
.

Per
kus
i
tida
k
lan
gsu
ng,
bag
ian
dist
al
jari
ten
gah
dan
telu
nju
kda
ri
tan
gan
yan
g
sat
u
kita
tem
pel
kan
den
gan
erat
pad
a
din
din
g
dad
a,
ke
mu
dia
n
jari
ten
gah
tan
gan
yan
g
lain
kita
gun
aka
n
unt
uk
me
nge
tuk
den
gab
n
kua
t
jari
yan
g
dite
mp
elk
an
pad
a
din
din
g
dad
a.

Tujuan perkusi adalah untuk memperlihatkan keadaan pekak pada tempat dimana seharusnya
ada resonansi.

Macam-macam bunyi perkusi :

Bu
nyi
per
kus
i
tym
pan
i
ada
lah
bun
yi
yan
g
am
at
nya
rin
g
sep
erti
me
nge
tuk
abd
om
en
yan
g
kos
ong
.
Mis
aln
ya
pad
a
per
kus
i
yan
g
dila
kuk
an
pad
a
pne
um
oth
ora
x.

Bu
nyi
per
kus
i
hip
ers
ono
r
ada
lah
bun
yi
per
kus
i
yan
g
kur
ang
nya
rin
g
dis
ban
din
g
den
gan
bun
yi
tim
pan
i.
Mis
aln
ya
pad
a
par
u
yan
g
me
nga
lam
i
emf
ise
ma.

Bu
nyi
per
kus
i
son
or
ada
lah
bun
yi
yan
g
kur
ang
nya
rin
g
dis
ban
din
g
bun
yi
hip
ers
ono
r.
Me
rup
aka
n
bun
yi
per
kus
i
din
din
g
tho
rax
yan
g
nor
mal
.

Bu
nyi
per
kus
i
red
up
ada
lah
bun
yi
per
kus
i
yan
g
kur
ang
nya
rin
g
dis
ban
din
g
den
gan
bun
yi
son
or.i
ni
tim
bul
pad
a
par
u
yan
g
terd
apa
t
infi
ltra
te
ata
u
kon
soli
das
i,
ata
u
par
u
nor
mal
den
gan
efu
si
ple
ura.

Bu
nyi
pek
ak
iala
h
bun
yi
per
kus
i
pad
a
tho
rax
bila
jari
nga
n
par
u
did
ala
mn
ya
tida
k
lagi
terd
apa
t
uda
ra.
Mis
aln
ya
pad
a
par
u
den
gan
tum
or
yan
g
bes
ar
ata
u
atel
ekt
asis
.

Pemeriksaan perkusi digunakan untuk :

Me
mer
iks
a
kea
daa
n
par
u
dan
cav
um
ple
ura.

Pad
a
ked
ua
he
mit
hor
ax
dila
kuk
an
sec
ara
sim
etri
s
dan
asi
met
ris.

Bu
nyi
per
kus
i
son
or
ber
arti
ked
ua
he
mi
tho
rax
ber
arti
ked
ua
par
u
dan
cav
um
ple
ura
dal
am
kea
daa
n
nor
mal
.

Bu
nyi
per
kus
i
red
up
mu
ngk
in
terd
apa
t
infi
ltra
te,
tum
or
ata
u
efu
si
ple
ura.

Bu
nyi
per
kus
i
pek
ak
mu
ngk
in
ada
nya
sua
tu
tum
or
yan
g
bes
ar.

Bu
nyi
per
kus
i
hip
ers
ono
r
mu
ngk
in
ada
nya
emf
ise
ma,
pne
um
oni
a
kec
il
ata
u
kav
itas
dal
am
par
u.

Bu
nyi
per
kus
i
tym
pan
i
mu
ngk
in
ada
nya
pne
um
oth
ora
x
yan
g
bes
ar.
Me
net
apk
an
bat
as
par
u
hep
ar

Per
kus
i
dari
atas
ke
ba
wa
h
gari
s
mid
cla
vik
ular
is
kan
an.

Nor
mal
,
bat
as
ant
ara
bun
yi
son
or
(pa
ru)
dan
red
up
(hat
i
yan
g
dili
puti
par
u)
ada
lah
pad
a
sela
iga
ke
IV,
dan
bat
as
red
up
ke
pek
ak
(hat
i
yan
g
tida
k
dili
puti
jari
nga
n
par
u)
pad
a
sela
iga
ke
VI.
Bil
a
pas
ien
dal
am
kea
daa
n
ins
pira
si
dal
m
ma
ka
bat
as
ini
nor
mal
nya
2
jari
lebi
h
ren
dah
. Ini
dis
ebu
t
per
anj
aka
n.

Me
net
apk
an
bat
as
par
u-
lam
bun
g

Per
kus
i
dari
atas
keb
aw
ah
pad
a
gari
s
axil
lari
es
ant
erio
r
kiri
den
gan
pas
isi
pas
ien
teg
ak,
dan
per
ut
kos
ong
.

Bat
as
ba
wa
h
par
u
dan
bat
as
atas
jant
ung
nor
5m
aln
ya
pad
a
sela
iga
ke
VII
I

IV. AUSKULTASI

Terdapat 2 cara untuk mendengarkan suara yang ditimbulkan oleh paru:


Au
nsk
ulta
si
lan
gsu
ng
terd
iri
dari
me
ne
mp
elk
an
teli
nga
lan
gsu
ng
pad
a
din
din
g
dad
a

Au
sku
ltas
i
tida
k
lan
gsu
ng
me
ngg
una
kan
stet
osk
op.

Stetoskop mempunyai 2 macam ujung yaitu :

Ujung bell digunakan untuk mendengar suara yang bernada rendah.


Ujung membrane digunakan agar dapat mendengar suara bernada tinggi.

Pemeriksaan ini digunakan untuk :

1. Suara nafas normal

Suara nafas trakeal

Suara inspirasi ekspirasi di trachea (didengar di daerah leher)

Fase inspirasi:ekspirasi 1:3

Suara nafas brnchial


Berasal dari bronchus besar, didengar pada dada bagian tengah.

Fase inspirasi:ekspirasi 1:2

Suara nafas vesikuler

Barasal dari bronchus kecil/bronchiolus.didengar di seluruh daerah perifer dada.

Fase inspirasi:ekspirasi 3:1

2. Suara nafas abnormal

Suara nafas trakeal, bronchial,vesikuler tidak pada tempatnya.

Keadaan ini mungkin disebabkan olehkarana bronkus/bronkiolus dan alveolus mengalami


infiltrasi/konsolidasi

Suara nafas vesikuler memanjang (fase ins:eks 3:2/3:3)

Terdengar bila bronkus kecil/bronkiolus mengalami penyempitan.

Suara nafas yang lemah

Pada empiema, efusi pleura, pneumo thorax, atau obstuksi bronkus.

Suara nafas yang mengeras

Pada keadaan infiltrasi/konsolidasi paru dan atelektasis

Suara nafas amforik

Seperti meniup kedalam botol kosong pada kavitas besar pada paru.

Pernapasan cog-wheel

Suara nafas tersendat-sendat pada pleuritis adhesive.

Suara nafas metamorphosing

Inspirasi yang berubah mendadak dari halus menjadi kasar pada sumbatan bronkus yang
mendadak lepas/hilang.

Suara nafas asmatik

Ekspirasi memanjang dengan wheezing pada penderita asma bronchial.

3. Suara tambahan

Ronkhi
Disebabkan adanya cairan di dalm lumen bronkus.

Ronkhi basah bila cairan bersifat encer dan kering bila cairannya agak kental tergantung
lumennya (bronkus besar/sedang/kecil_) ronkhi basah dapat bersifat kasar, sedang dan halus.

Krepitasi

Suara seperti menggesek rambut dekat telinga, karena adanya cairan pada alveolus.

Suara gesek pleura

Karena gesekan kedua permukaan pleura. Terjadi peda perangan pada pleura.

4. Vocal resonance

Sama seperti vocal fremitus hanya didengarkan dengan stetoskop.

Bila vocal resonance mengeras disebut aegophoni.

Bila vocal resonance mengeras disebut whispered pectoriloquy.


Tempat-tempat baik untuk perkusi dan auskultasi ditandai dengan lingkaran
B. Pemeriksaan Fisik Jantung

Sebelum memulai melakukan pemeriksaan fisik jantung, terlebih dahulu pemeriksa sudah
dapat memperkirakan/membayangkan proyeksi posisi jantung ke dinding toraks depan.
Sebagian besar jantung ( 2/3 bagian) terletak pada sebelah kiri sternum, dan hanya 1/3 terletak
di sebelah kanan sternum. Sebagian permukaan depan (anterior) jantung terdiri atas ventrikel
kanan dan arteri pulmonalis yang berdekatan langsung dengan dinding toraks depan.
Sedangkan ventrikel kiri yang terletak di kiri dan belakang ventrikel kanan hanya menempati
sebagian kecil permukaan jantung anterior, tetapi bagian ini sangat penting, karena bagian
depan ventrikel kiri inilah yang menimbulkan impuls apeks, merupakan denyut sistolik yang
singkat, yang terdapat di sela iga kelima sedikit medial dari garis midklavikula kiri, atau kira-
kira 7-9 cm dari garis midsternal.

Sisi kanan jantung berasal dari atrium kanan, sedangkan atrium kiri berada di bagian posterior,
dan tidak dapat dideteksi secara langsung.
Bagian atas jantung terdiri dari beberapa pembuluh darah besar aorta dan arteri pulmonalis.

Saat akan melakukan pemeriksaan fisik jantung, pemeriksa juga sudah dapat membayangkan
aliran darah di dalam keempat rongga jantung, kapan membuka dan menutupnya katup-katup
jantung tersebut. Pemeriksaan fisik jantung meliputi :

Ins
pek
si
pas
ien

Pen
guk
ura
n
tek
ana
n
dar
ah

Pe
mer
iks
aan
den
yut
arte
ri

Pe
mer
iks
aan
den
yut
ven
a
jug
ular
is

Per
kus
i
jant
ung
Pal
pas
i
jant
ung

Au
sku
ltas
i
jant
ung

Pe
mer
iks
aan
ede
ma
dep
end
en

Pasien harus berbaring terlentang, dengan pemeriksa berdiri di sisi kanan tempat tidur. Bagian
kepala tempat tidur dapat sedikit ditinggikan jika pasien merasa lebih nyaman dengan posisi
ini.

Inspeksi

Evaluasi Penampilan Umum

Inspeksi umum pasien sering memberikan petunjuk berharga untuk diagnosis penyakit jantung.
Apakah pasien berada dalam distres akut? Sepeti apa pernapasan pasien? Apakah ia bernapas
dengan susah payah? Apakah memakai obat pernapasan tambahan?

Inspeksi Kulit

Kulit dapat mengungkapkan banyak perubahan yang berkaitan dengan penyakit jantung.
Apakah ada sianosis? Jika ya, apakah sentral atau perifer?

Suhu dapat mencerminkan penyakit jantung. Anemia berat, beri-beri, dan tirotoksikosis
cenderung membuat kulit lebih hangat; klaudikasio intermiten berkaitan dengan rasa dingin
pada ekstremitas inferior jika dibandingkan dengan ekstremitas superior.

Apakah ada xantomata? Xantomata tendo adalah massa agak kekuningan sekeras batu yang
biasanya ditemukan melekat pada tendo ekstensor jari tangan adalah patognomonik untuk
hiperkolesterolemia familial. Tendo Achilles dan tendo plantar telapak kaki juga merupakan
lokasi umum untuk xantomata tendo. Pasien dengan konsentrasi kolesterol total di atas 450
mg/100 cc dengan xantomata tendo pada permukaan ekstensor jari tangannya diperlihatkan
dalam gambar IX C.
Apakah ada ruam kulit? Adanya eritema marginatum ( eritema dimana daerah kemerahan
berbentuk cakram dengan tepi yang menonjol ) pada pasien demam mengarah kepada demam
reumatik akut.

Inspeksi Kuku

Sering kali, spinter hemorrhage dapat terlihat sebagi garis kecil coklat-kemerahan di dasar
kuku. Perdarahan ini berjalan dari tepi bebas proksimal dan secara klasik dikaitkan dengan
endokarditis bacterial subakut. Tetapi penemuan ini tidak spesifik karena ditemukan pula pada
banyak keadaan lain, bahkan termasuk trauma setempat pada kuku. Jari tangan dengan splinter
hemorrhage pada pasien dengan endokarditis diperlihatkan pada Gambar IX D.

Inspeksi Wajah

Kelainan jantung dapat pula dikaitkan dengan kelainan pada wajah dan kepala. Stenosis aorta
supravalvula, suatu kelainan congenital, dijumpai bersama-sama dengan mata yang terletak
berjauhan, strabismus, telinga letak rendah, hidung yang menengadah, dan hipoplasia
mandibula. Wajah bulat seperti bulan dan mata yang terletak berjauhan mengarah kepada
stenosis pulmonal. Wajah tanpa ekspresi dengan kelopak mata bengkak dan hilangnya
sepertiga luas alis dijumpai pada hipotiroldisme. Individu-individu ini mungkin menderita
kardiomiopati. Lipatan daun telinga, atau tanda Lichstein, adalah lipatan melintang, seringkali
bilateral, sering dijumpai pada pasien diatas usia 50 tahun dengan penyakit arteri koronaria
yang bermakna. Meskupun ini merupakan tanda yang berguna, terlalu banyak hasil positif
palsu dan negatif palsu sehingga penemuan ini kurang dapat diandalkan.

Inspeksi Mata

Adanya plak kekuningan pada kelopak mata, yang disebut xantelasma, harus membagkitkan
kecurigaan akan hiperlipoproteinema, meskipun lesi ini kurang spesifik ketimbang xantoma.
Pasien dengan xantelasma dan hiperkolesterolemia diperlihatkan dalam gambar IX F.

Pemeriksaan mata dapat memperlihatkan arkus senilis. Arkus (lihat Gambar VI A) yang
dijumpai pada pasien di bawah 40 tahun harus membangkitkan kecurigaan terhadap
hiperkolesterolemia. Kekeruhan kornea mungkin dijumpai pada sarkoidosis yang mungkin
menjadi penyebab cor pulmonale atau gangguan miokard.

Pindahnya lensa mata sering dijumpai pada pasien dengan sindrom Marfan, suatu penyebab
penting regurgitasi aorta. Perdarahan konjungtiva lazim dijumpai pada endokarditis infektif.
Hipertelorisme, atau mata yang berjarak lebar, berkaitan dengan penyakit jantung kongenital,
terutama stemosis pulmonal dan stenosis aorta supravalvular. Pemeriksaan retina dapat
memberikan informasi yang berguna mengenai diabetes, hipertensi, dan aterosklerosis.

Inspeksi Mulut

Mintalah pasien untuk membuka mulutnya lebar-lebar. Inspeksi palatumnya. Apakah


palatumnya melengkung tinggi? Palatum yang melengkung tinggi mungkin berkaitan dengan
gangguan jantung kongenital seperti prolaps katup mitral.

Apakah ada petekiae pada palatum? Endokarditis bakterial subakut sering disertai dengan
petekia di palatum seperti terlihat pada pasien Gambar X A.
Inpeksi Leher

Pemeriksaan leher dapat memperlihatkan webbing. Webbing dijumpai pada orang dengan
sindrom Turner, yang mungkin mengalami koarktasio aorta, atau pula sindrom Noonan.
Stenosisi pulmonal merupakan kelainan jantung yang menyertai keadaan ini.

Inspeksi Konfigurasi Dada

Inspeksi dada seringkali mengungkapkan informasi mengenai jantung. Karena dada dan
jantung berkembang pada waktu yang hampir bersamaan selama embriogenesis, tidak
mengherankan bahawa segala sesuatu yang mengganggu perkembangan dada dapat
mengganggu perkembangan jantung pula. Pectus excavatum, atau da da cekung ke dalam,
dijumpai pada sindrom Marfan dan para prolaps katup mitral. Pectus carinatum, atau dada
burung, juga berkaitan dengan sindrom Marfan.

Apakah ada gerakan jantung yang dapat dilihat?

Inspeksi Ekstremitas

Sebagai kelainan kongenital jantung berkaitan dengan kelainan ekstremitas. Pasien dengan
defek septum atrium mungkin mempunyai falang ekstra, jari tangan ekstra, atau jari kaki ekstra.
Jari tangan yang panjang dan kurus mengarah kepada sindrom Marfan dan kemungkinan
regurgitasi aorta.

Pengukuran Tekanan Darah

Prinsip

Tekanan darah dapat diukur secara langsung dengan kateter intra-arterial atau secara tidak
langsung dengan sfigmomanometer. Sfigmomanometer terdiri dari kantong karet yang dapat
digembungkan di dalam suatu penutup kain, bola karet untuk memompa kantong, dan
manometer untuk mengukur tekanan di dalam kantong karet. Pengukuran darah secara tidak
langsung meliputi deteksi timbul dan hilangnya bunyi Korotkoff secara auskultatoris di atas
arteri yang ditekan.

Bunyi Korotkoff adalah bunyi bernada rendah yang berasal dari dalam pembuluh darah yang
berkaitan dengan turbulensi yang dihasilkan dengan menyumbat arteri secara parsial dengan
manset tekanan darah. Ada beberapa fase yang terjadi secara berurutan ketika tekanan
penyumbat turun. Fase 1 terjadi bila tekanan penyumbat turun sampai tekanan darah sistolik.
Suara mengetuknya jelas dan secara berangsur-angsur intensitasnya meningkat ketika tekanan
penyumbat turun. Fase 2 terjadi pada tekanan kira-kira 10-15 mmHg di bawah fase 1 dan terdiri
dari suara mengetuk yang diikuti dengan bising. Fase 3 terjadi bila tekanan penyumbat turun
cukup banyak sehingga sejumlah besar volume darah dapat mengalir melalui arteri yang
tersumbat sebagian. Bunyinya serupa dengan bunyi fase 2 kecuali bahwa hanya terdengar
bunyi ketukan. Fase 4 terjadi bila intensitas suara tiba-tiba melemah ketika tekanan mendekati
tekanan darah diastolik. Fase 5 terjadi bila bunyi sama sekali menghilang. Pembuluh darah
tidak tertekan lagi oleh manset penyumbat. Sekarang tidak ada lagi aliran turbulensi.

Tekanan darah normal untuk orang dewasa adalah sampai 140 mmHg untuk tekanan darah
sistolik dan sampai 95 mmHg untuk tekanan darah diastolik. Titik hilangnya bunyi Korotkoff
mungkin lebih cepat ketimbang titik meredupnya untuk penentuan tekanan darah diastolik
(London dan London, 1976).

Tetapi, jika titik hilangnya lebih dari 10 mmHg di bawah titik meredup, titik meredup mungkin
lebih akurat (Freis, 1968). Pencatatan titik meredup dan menghilangnya bunyi ini seringkali
membantu komunikasi. Tekanan darah dapat dicatat sebagai 125/75-67. Tekanan darah sistolik
adalah 125; titik meredup 75; titik menghilang 65 (tekanan darah diastolik).

Tekanan darah sebaiknya dicatat hanya pada 5 mmHg terdekat, karena ada batas ketepatan 3
mmHg bagi semua sfigmomanometer. Disamping itu perubahan tekanan darah normal terjadi
dari waktu ke waktu dan pengukuran sampai kurang dari 5 mmHg memberikan perasaan
ketepatan yang semu.

Ukuran manset penting untuk penentuan tekanan darah yang tepat. Manset ini harus
dilingkarkan dengan sempit disekeliling lengan dengan tepi bawah 1 inci di atas fosa
antekubiti. Manset ini sebaiknya 20% lebih lebar ketimbang diameter ekstremitas. Kantong
karet harus terletak di atas arteri. Pemakaian manset yang terlalu kecil untuk lengan berukuran
besar akan menghasilkan pengukuran tekanan darah yang lebih tinggi daripada sebenarnya.

Celah auskultasi adalah keadaaan hening yang disebabkan oleh lenyapnya bunyi korotkoff
setelah muncul untuk pertama kali dan timbulnya kembali bunyi pada tekanan yang lebih
rendah. Celah auskultasi ada sewaktu terjadi penurunan aliran darah ke ekstremitas, seperti
ditemukan pada hipertensi dan stenosis aorta. Kepentingan klinis hal ini adalah tekanan darah
sistolik dapat ditentukan secara keliru pada tingkat yang lebih rendah, yaitu titik timbulnya
bunyi Korotkoff.

Pengukuran Tekanan Darah dengan Palpasi

Pengukuran tekanan darah dilakukan dengan pasien berbaring dalam posisi supinasi dengan
nyaman. Kantong manset diletakkan di atas arteri brakialis kanan. Jika lengan terlalu gemuk,
pakelah manset paha. Lengan sedikit difleksikan, dan disokong kira-kira setinggi jantung.
Untuk menentukan tekanan darah sistolik secara memadai dan untuk menyingkirkan kesalahan
karena celah auskulasi, tekanan darah mula-mula diperiksa dengan palpasi.

Menurut prosedur ini, arteri brakialis atau radialis kanan dipalpasi sementara manset dipompa
di atas tekanan yang diperlukan untuk menghilangkan denyut nadi. Sekrup yang dapat diputar
dibuka perlahan-lahan untuk mengurangi tekanan di dalam kantong karet secara lambat.
Tekanan sistolik diketahui dengan timbulnya kembali denyut brakial. Segera setelah denyut
diraba, sekrup itu dibuka untuk mengurangi tekanan kantong karet dengan cepat. Ini adalah
tekanan darah sistolik. Prosedur ini diperlihatkan dalam Gambar 11-11.

Gambar 11-11. Teknik Pengukuran Tekanan Darah dengan Palpasi

Pengukuran Tekanan Darah dengan Auskultasi

Tekanan darah diukur secara auskultasi di lengan kanan dengan memompa manset kira-kira 20
mmHg di atas tekanan sistolik yang ditentukan dengan palpasi. Diafragma stetoskop harus
diletakkan di atas arteri sedekat mungkin dengan tepi manset, sebaiknya tepat di tepi bawah
manset itu. Mansetnya dikempiskan secara perlahan-lahan, sementara anda mengevaluasi
bunyi Korotkoff. Tekanan darah sistolik, titik meredup, dan titik menghilangnya bunyi
Korotkoff ditentukan. Tekanan darah sistolik adalah titik dimana terdengar bunyi mengetuk
pertama. Teknik menentukan tekanan darah secar auskultasi diperlihatkan dalam Gambar 11-
12. Jika tekanan darahnya tinggi, sebaiknya diperiksakan kembali pada akhir pemeriksaan
fisik, ketika pasien mungkin lebih tenang.
Gambar 11-12. Teknik Pengukuran Tekanan Darah dengan Auskultasi

Menyingkirkan Kemungkinan Hipotensi Ortostatik

Hipotensi ortostatik diperiksa dengan meminta pasien duduk sementara tekanan manset
ditinggikan. Kemudian tekanan darah diukur kembali untuk melihat adanya penurunan yang
berkaitan dengan posisi duduk. Penurunan tekanan darah sistolik sebesar 15 mmHg atau lebih
merupakan tanda hipotensi ortostatik, atau postural. Pada kebanyakan pasien juga terjadi
peningkatan denyut jantung ketika pasiennya duduk.

Menyingkirka Kemungkinan Stenosis Aorta Supravalvular

Jika hipertensi ditemukan dilengan kanan, lakukanlah pemeriksaan berikut ini: Pasang manset
pada lengan kiri, dan tentukan tekanan secara auskultasi saja. Anda tidak perlu mengukur
tekanan darah secara palpasi atau memeriksa terjadinya perubahan ortostatik. Pada stenosis
aorta supravalvular, terdapat perbedaan tekanan darah pada kedua lengan; hipertensi mungkin
ditemukan dilengan kanan sedangkan hipotensi ada dilengan kiri.

Menyingkirkan Kemungkinan Koarktasio Aorta

Jika tekanan darah meningkat dikedua lengan, penentuan tekanan darah pada ekstremitas
inferior penting untuk mrnyingkirkan kemungkinan koarktasio aorta. Pasien diminta berbaring
pada perutnya sementara manset paha, 6 cm lebih lebar dari manset lengan, diletakkan
mengelilingi aspek posterior bagian pertengahan paha. Stetoskop diletakkan diatas arteri di
fosa poplitea. Bunyi Korotkoff ditentukan seperti pada ekstremitas inferior dengan tepi bawah
tepat pada maleolus. Stetoskop diletakkan diatas arteri tibialis posterior atau dorsalis pedis, dan
lakukanlah pengukuran tekanan darah dengan auskultasi. Tekanan darah sistolik ditungkai
yang lebih rendah daripada di lengan mengarah kepada koarktasio aorta.

Menyingkirkan Kemungkinan Tamponade Jantung

Bila tekanan darah arteri yang rendah dan denyut nadi cepat dan lemah, kita perlu
menyingkirkan kemungkinan tamponade jantung. Tanda klinis yang berguna yang mengarah
kepada tamponade jantung adalah adanya denyut paradoks yang bermakna, yang ditandai
dengan penurunan tekanan sistolik selam inspirasi lebih besar daripada normal. Ada banyak
kekacauan mengenai defenisi denyut parodoks (dikenal pula sebagai pulsus paradoksus).
Denyut paradoks harus didefenisikan sebagai penurunan normal (kira-kira 5 mmHg) dalam
tekanan arteri sistolik selama inspirasi (Henkind et al, 1987). Besarnya penurunan tekanan
sistoliklah yang menentukan apakah pulsus paradoksus normal atau abnormal.
Teknik menentukan besarnya denyut paradoks adalah sebagai berikut: Mintalah pasien untuk
bernafas senormal mungkin. Pompa manset tekanan darah sampai tidak terdengar bunyi.
Secara berangsur-angsur kurangi tekanan di dalam manset sampai bunyi terdengar pada waktu
ekspirasi saja. Catat tekanan ini. Lanjutkan mengurangi tekanan di dalam manset secara
perlahan-lahan sampai bunyinya terdengar selama inspirasi. Catatlah tekanan ini. Jika
perbedaan di antara kedua tekanan ini melebihi 10 mmHg, dikatakan ada pulsus paradoksus
yang bermakna; yang mungkin disebabkan oleh tamponade jantung. Tamponade jantung
timbul bila ada peningkatan tekanan intraperikardial yang mengganggu pengisian diastolic
yang normal. Pulsus paradoksus yang berlebihan bukan merupakan fenomena spesifik untuk
tamponade jantung karena juga dijumpai

pada efusi perikardial yang besar; pada perikarditis konstriktif; dan pada keadaan yang
berkaitan peningkatan usaha ventilasi, seperti asma dan emfisema.

Denyut Arteri

Informasi berikut ini diperoleh dari palpasi denyut arteri:

Ke
cep
ata
n
dan
ira
ma
jant
ung

Ko
ntu
r
den
yut
itu

Am
plit
udo
den
yut

Penentuan Kecepatan Denyut Jantung

Kecepatan denyut jantung secara rutin ditentukan berdasarkan palpasi denyut radial. Pemeriksa
harus berdiri di depan pasien dan memegang kedua arteri radialis. Jari kedua, ketiga dan
keempat harus diletakkan di atas arteri radialis, seperti diperlihatkan pada Gambar 11-13.
Pemeriksa harus menghitung denyut selama 30 detik dan mengalikan jumlah denyut dengan
angka 2 untuk memperoleh jumlah denyut per menit. Metode ini tepat untuk kebanyakan irama
teratur. Jika pasien mempunyai irama yang tidak teratur, seperti pada fibrilasi atrium, mungkin
ada pulsus defisit Pada fibrilasi atrilim, banyak impuls membombardir nodus atrioventrikular
dan ventrikel. Karena lamanya periode pengisian diastolik berbeda-beda, sebagian kontraksi
mungkin sangat lemah dan tidak dapat menimbulkan gelombang denyut yang memadai
meskipun terjadi kontraksi ventrikel. Dengan demikian terjadi pulsus defisit, yaitu perbedaan
antara denyut apikal (prekordial) dengan denyut radial. Pada kasus seperti itu, hanya auskultasi
jantung - bukan denyut radial - yang akan memberikan hasil yang akurat untuk kecepatan
denyut jantung.

Gambar 11-13. Teknik memeriksa denyut arteri radialis

Penentuan Irama Jantung

Sewaktu mempalpasi denyut arteri radialis, pcriksalah dengan cermat iramanya. Makin lambat
kecepatannya, Anda harus mempalpasinya lebih lama. Jika iramanya tidak teratur, apakah ada
pola dalam ketidakteraturannya itu?

Irama jantung dapat dibagi menjadi teratur, tidak teratur secara teratur, atau tidak teratur
secara tidak teratur. Irama tidak teratur secara teratur adalah denyut yang tidak teratur dalam
pola tertentu. Denyut tidak teratur secara tidak teratur tidak mempunyai pola.
Elektrokardiogram sebenarnya merupakan cara terbaik untuk mendiagnosis irama jantung,
tetapi diagnosis fisik dapat memberikan sejumlah petunjuk. Denyut prematur mungkin dapat
dikenali dengan adanya denyut ekstra tersendiri selama suatu irama yang teratur. Bigeminus
adalah denyut yang timbul sccara berpasangan. Denyut pertama adalah denyut sinus, yang
diikuti dengan denyut prematur, biasanya ventrikular. Jika denyut prematurnya timbul sangat
dini selama periode diastolik, denyut arteri karena kontraksi jantung ini mungkin tidak
ditemukan jika pemeriksa memeriksa irama jantung berdasarkan palpasi saja. Irama yang
timbul secara sangat tidak teratur tanpa pola disebut "tidak teratur secara tidak teratur" dan
merupakan denyut yang dijumpai pada pasien dengan fibrilasi atrium.

Palpasi Arteri Karotis

Periksalah denyut arteri karotis dengan berdiri di sisi kanan pasien, dengan pasien dalam posisi
telentang. Letakkanlah jari telunjuk dan jari tengah anda pada kartilago tiroid dan geserkanlah
ke arah lateral di antara trakea dan muskulus sternokleidomastoideus. Anda harus dapat meraba
denyut karotis tepat di sebelah medial muskulus sternokleidomastoideus. Palpasi harus
dilakukan pada bagian bawah leher untuk menghindari penekanan pada sinus karotis, yang
akan menyebabkan refleks penurunan tekanan darah dan denyut jantung. Tiap arteri karotis
diperiksa secara tersendiri. Jangan menekan kedua karotis pada saat yang sama! Setelah
memeriksa karotis kanan, berdirilah dalam posisi yang sama dan letakkan jari-jari yang sama
pada trakea dan geserkanlah ke kiri untuk meraba arteri karotis sinistra. Teknik ini
diperlihatkan dalam Gambar 11-14.
Gambar 11-14. Teknik memeriksa pulsasi arteri karotis

Memeriksa Karakteristik Denyut Arteri Karotis

Arteri karotis dipakai untuk memeriksa kontur dan amplitudo denyut arteri. Kontur adalah
bentuk gelombang. Kontur seringkali dilukiskan sebagai kecepatan gelombang menarik,
gelombang menurun, dan lamanya gelombang itu. Pemeriksa harus meletakkan tangannya
dengan kuat pada arteri karotis sampai meraba kekuaten maksimal. Pada saat ini bentuk
gelombang seharusnya sudah dapat diketahui Denyutnya dapat dilukiskan sebagai norma,
berkurang, meningkat, atau berpuncak ganca. Gelombang denyut karotis yang normal adalah
halus, dengan kaki gelombang yang menaik lebib curam dan lebih cepat ketimbang kaki
gelombang yang menurun. Denyut yang berkurang adalab denyut yang kecil dan lemah. Jari
yang melakukan palpasi merasakan tekanan yang lemah dengan puncak yang jelas. Denyut
yang meningkat adalah denyut yang besar, kuat, hiperkinetik. Jari yang melakukan palpasi
merasakan bertambah besarnya kaki asendens dan ketukan yang kuat pada puncaknya. Denyut
berpuncak ganda mempunyai gelombang perkusi dan tidak yang menonjol, dengan atau tanpa
gelombang dikrotik. (Ringkasan kelainan denyut arteri dapat dilihat pada Gambar 11-29).

Denyut Vena Jugularis

Vena jugularis interna memberikan informasi mengenai bentuk gelombang dan tekanan atrium
kanan. Pulsasivena jugularis interna ditemukan di bawah muskulus sternokleidomastoideus
dan dapat dilihat ketika dibantarkan ke jaringan sekitarnya. Vena itu sendiri tidak terlibat.
Karena vena jugularis interna kanan lebih lurus daripada yang kiri, hanya vena jugularis intema
kanan yang diperiksa. Sistem jugularis eksterna, yang lebih mudah dilihat, kurang akurat dan
jangan dipakai.

Penentuan Bentuk Gelombang Jugular

Untuk menampakkan bentuk. gelombang jugular, Pasien barus berbaring telentang tanpa bantal
sehingga leher tidak fleksi dan mengganggu pulsasi. Kepala pasien kira-kira 250 dengan bidang
horizontal, Makin tinggi tekanan venanya, makin besar elevasi yang diperlukan; makin rendah
tekanannya, makin kecil elevasi yang dibutuhkan. Kepala pasien diputar sedikit ke kanan dan
agak ke bawah untuk merelaksasikan muskulus sternokleidomastoideus.

Dengan berdiri di sisi kanan pasien pemeriksa harus meletakkan tangan kanannya, yang
memegang lampu senter kecil, pada sterum pasien dan mengarahkan sinarnya ke sisi kanan
leher pasien. Bayangan pulsasi dapat ditangkap di atas kertas di belakang pasien. Sinar dan
bayangan itu berfungsi memperbesar bentuk gelombang. Teknik ini diperlihatkan dalam
Gambar 11-15.
Gambar 11-15. Teknik memriksa bentuk gelombang jugular

Jika tidak ada gelombang yang terlihat, sudut elevasi kepala tempat tidur harus dikurangi.
Untuk membantu mengenali bentuk-bentuk gelombang , pemeriksa dapat menentukan siklus
jantung dengan meraba impuls karocis kiri dengan tangan kirinya. Penurunannya, bukannnya
gelombang itu sendiri, cenderung lebih jelas terlihat. Jika vena-vena leher dapat terlihat pada
batas rahang ketika pasien sedang duduk, pemeriksa harus memperhatikan bentuk gelombang
pada angulus mandibula dengan pasien dalam posisi duduk tegak.

Denyut jangular harus dibedakan dari pulsasi arteri karotis. Tabel 11-16 memuat daftar
perbedaan penting antara kedua denyut tersebut.

Tabel 11-6. Perbedaan Bentuk Gelornbang Jugular dan Karotis

Denyut Jugularis
Internal Denyut Karotis
Palpasi Tidak dapat dipalpasi Dapat dipalpasi
Bentuk Multi formasi: 2 atau Tunggal
gelombang 3 komponen
Kualitas Halus berombak Kuat
Penekanan Bentuk gelombang Tidak ada efek
hilang
Inspirasi Tinggi gelombang Tidak ada efek
Denyut Jugularis
Internal Denyut Karotis

Duduk Tinggi gelombang Tidak ada efek

berkurang
Tindakan Tinggi gelombang Tidak ada efek
Valsava meninggi

Mengukur Tekanan Vena Jugularis

Untuk menilai tekanan dalam jantung kanan, kita perlu menentukan tingkat rujukan. Rujukan
standar adalah angulus manubriosternal. Pada setiap elevasi, posisi ini dipakai untuk mengukur
tekanan di dalam sistem jugularis interna. Mula-mula pemeriksa harus menentukan tingginya
distensi vena dengan memperhatikan puncak bentuk gelombang di dalam pulsasi vena jugularis
interna. Garis horizontal imaginer kemudian ditarik dari angulus sterna. Pemeriksa kemudian
mengukur jarak dari angulus sternal ke garis imaginer ini. Sudut elevasi kepala tempat tidur
juga dihitung. Kalimat pernyataannya dapat sebagai berikut: "pada elevasi 45 , denyut jangula
7 cm di atas angulus sternal dalam posisi telentang, tekanan vena biasanya normal.

Pada 45 , batas atas yang normal adalah 4-5 cm di atas annulus sternal; jika pasien pada 30 ,
batas atas yng normal adalah 6 cm. Bila tinggi kolom vena samam atau lebih rendah daripada
angulus sternal dalam posisi telentang, tekanan vena biasanya normal.

Usaha menentukan tekanan atrium kanan dengan manometer jungular memberikan hasil yang
sangat tidak tepat. Berkali-kali telah diperlihatkan bahwa sensitivitas dan spesifisitas
pemeriksaan ini rendah., sehigga membuat pemeriksaan ini menjadi tidak tepat dalam
meramalkan peninggian tekanan. Satu-satunya pernyataan tepat yang dapat dibuat adalah
bahwa tekanan atrium kanan meninggi bila terjadi distensi vena leher sampai tepi rahang ketika
pasien duduk 90 . Pada saat ini, tekanan atrium kanan biasanya melbihi 15 mmHg. Pasien
yang terlihat dalam Gambar X B mempunyai distensi vena lehersamapi angulus mandibula
ketika duduk tegak. Tekanan atrium kanannya adalah 21 mmHg.

Pemeriksaan Refluks Hepatojugular

Pemeriksaan yang berguna untuk menentukan tekanan vena jugularis yang tinggi adalah
refluks hepatojugular. Pemeriksaan ini dikenal pula sebagi kompresi abdominal. Dengan
menekan di atas hati, fungsi ventrikel kanan secara kasar dapat dinilai. Pasien dengan gagal
ventrikel kanan mempunyai hati dengan sinusoid yang berdilatasi. Penekanan pada hati
mendorong darah keluar dari sinusoid ini masuk ke dalam vena kava inferior dan jantung
kanan, menyebabkan bertambahnya distensi vena leher. Prosedur ini dilakukan dengan pasien
dalam posisi berbaring di tempat tidur, mulut terbuka, bernafas biasa; ini untuk mencegah
tindakan Valsava. Pemeriksa meletakkan tangan kananya di atas hati di kuadran kanan atas dan
melakukan tekanan yang progresif menguat. Penekanan dilakukan selama 20-30 detik.
Respons normalnya adalah bertambahnya distensi sementara dari vena jugularis interna dan
eksterna selama beberapa siklus jantung, yang diikuti dengan penurunan tingkat akhir selama
bagian penekanan. Pada gagal ventrikel kanan distensi vena leher tetap ada selama seluruh
periode penekaan, yang turun tiba-tiba kalau tangan yang menekan dilepas. Jika pemeriksaan
ini dilakukan secara tidak tepat yaitu dengan mulut pasien tertutup, akan terjadi tindakan
valsava yang akan memberikan hasil pemeriksaan refluks hepatojugular yang tidak tepat.

Beberapa peneliti merasa bahwa pemeriksaan refluks hapatojugular adalah teknik dengan
sensitivitas dan spesifitas rendah. Ini biasanya berkaitan dengan teknik yang tidak tepat. Jika
dilakukan dengan tepat seperti diuraikan di atas, angka ketepatannya seharusnya cukup baik.

Perkusi

Perkusi batas-batas jantung

Teknik perkusi telah diuraikan dalam bab terdahulu, perkusi dilakukan pada sela iga ketiga,
keempat dan kelima dari garis aksilaris anterior kiri ke garis aksilaris anterior kanan. Biasanya
ada perubahan dari perkusi dari sonor ke redup kira-kira 6 cm disebelah lateral kiri sternum.
Redup ini disebabkan adanya jantung.

Kebanyakan klinikus merasa bahwa perkusi untuk memperkirakan ukuran jantung hanya
sedikit membantu, karena sensitivitas ini rendah. Pada beberapa keadaan klinis, perkusi
mungkin berguna. Ini mencakup dekstrokardia dan tension pneumotoraks dada kiri. Pada
keadaan-keadaan ini dapat ditemukan redup pada sisi kanan sternum.

Palpasi

Palpasi dilakukan untuk mengevaluasi impuls apikal, gerakan ventrikel kanan, arteri
pulmonalis, dan ventrikel kiri. Ada tidaknya thrill juga ditentukan dengan palpasi.

Impuls apikal, atau titik impuls maksimum (PMI) melukiskan gerakan keluar apeks jantung
ketika berotasi berlawanan arah dengan jarum jam, ketika dilihat dari bawah, memukul dinding
dada anterior selama kontraksi isovolumetrik.

Palpasi Titik Impuls Maksimum

Pemeriksa harus berdiri di sisi kanan pasien, dengan tinggi tempat tidur disesuaikan dengan
kenyamanan pemeriksa. Palpasi titik impuls maksimum paling mudah dilakukan dengan pasien
dalam posisi duduk. Hanya ujung-ujung jari yang diletakkan di dada pada sela iga kelima, garis
midklavikular, karena ujung jari paling sensitif untuk menilai gerakan setempat. Titik impuls
maksimum harus dicatat. Teknik ini diperlihatkan dalam Gambar 11-16. Jika impuls apikal
tidak teraba, pemeriksa harus menggerakkan ujung jari tangannya di daerah apeks jantung.
Titik impuls maksimum biasanya dalam jarak 10 cm dari garis midsternal dan diameternya
tidak lebih dari 2-3 cm. Titik impuls maksimum yang pindah ke lateral atau teraba dalam 2 sela
iga selama fase respirasi yang sama mengarah kepada kardiornegali.
Gambar 11-16. Teknik memriksa titik impuls maksimum

Titik impuls maksimum teraba pada kira-kira 70% orang normal dalam posisi duduk. Jika titik
impuls maksimum tidak dapat diraba dalam posisi duduk, pasien harus diperiksa kembali
dalam posisi berbaring telentang dan posisi dekubitus lateral kiri. Posisi titik impuls maksimum
dalam posisi dekubitus lateral kiri harus dinilai dengan pemahaman bahwa impuls jantung
normal sekarang sedikit berpindah ke kiri. Jika pada posisi dekubitus lateral kiri titik impuls,
maksimurn tidak berpindah ke lateral, dapat diperkirakan bahwa pasien tidak menderita
kardiomegali. Jika impuls apikal pindah ke lateral, penilaian pasti tidak dapat dibuat.

Meskipun titik impuls maksimum biasanya sesuai dengan apeks ventrikel kiri, pada pasien
dengan pembesaran ventrikel kanan, jantung berotasi searah jarum jam, jika dilihat dari bawah,
dan titik impuls maksimum mungkin benar-benar dihasilkan oleh ventrikel kanan. Rotasi ini
memutar ventrikel kiri ke arah posterior dan membuatnya sulit untuk dipalpasi. Impuls apikal
yang disebabkan oleb ventrikel kanan lebih tersebar daripada yang dihasilkan oleh ventrikel
kiri, yang cenderung lebih terbatas tempatnya.

Pada pasien dengan penyakit paru-paru obstruktif kronis, pengembangan paru-paru yang
berlebihan memindahkan titik impuls maksimum ke bawah dan ke kanan. Titik impuls
maksimum pada pasien seperti itu teraba di daerah epigastrium, pada ujung bawah sternum.
Pada pasien dengan penyakit paru obstruktif menahun, titik impuls maksimum yang berada
pada lokasi normal mengarah kepada kardiomegali.
Palpasi Gerakan Setempat

Sekarang pasien disuruh berbaring sehingga palpasi keempat daerah jantung utama dapat
dilakukan. Pemeriksa memakai ujung-ujung jari untuk memeriksa adanya gerakan setempat.
Teknik ini diperlihatkan dalam Gambar 11-17.

Adanya impuls sistolik di sela iga kedua di sebelah kiri sternum mengarah kepada hipertensi
pulmonal. Impuls ini disebabkan oleh penutupan katup pulmonal dengan tekanan yang
meningkat. Adanya impuls ini mengarah kepada dilatasi arteri pulmonal, tetapi hal ini dapat
teraba pula pada orang tanpa hipertensi pulmonal.

Gambar 11-17. Teknik memeriksa gerakan jantung setempat

Palpasi Gerakan Umum

Setelah mempalpasi dada dengan ujung jari, pemeriksa memakai bagian proksimal tangannya
untuk meraba adanya gerakan ke luar yang terus menerus pada suatu daerah yang luas, yang
disebut heave atau lift. Pemeriksa kembali mempalpasi masing-masing dari empat daerah
jantung utama. Teknik pemeriksaan heave diperlihatkan dalam Gambar 11-18. Adanya RV
rock, yaitu impuls parasternal kiri yang terus-menerus yang disertai dengan retraksi lateral,
mengarah kepada ventrikel kanan yang besar.
Gambar 11-18. Teknik memeriksa gerakan jantung umum

Setiap keadaan yang memperbesar laju pengisian ventrikel selama fase awal diastol dapat
menimbulkan impuls yang dapat dipalpasi yang terjadi setelah impuls utama ventrikel kiri.
Impuls Kedua di daerah titik impuls maksimum ini biasanya teraba bersama-sama dengan S3.
Sering kali S3 lebih mudah diraba daripada didengar.
Pemakaian spatula lidah atau lidi kapas dapat membantu memperkuat secara visual apa yang
telah dipalpasi. Ujung lidi diletakkan tepat di atas daerah itu dan dipegang oleh jari pemeriksa.
Ini bekerja sebagai titik tumpu, dan gerakannya diperbesar oleh gerakan lidi kapas. Teknik ini
diperlihatkan pada Gambar 11-19.

Gambar 11-19. Teknik memperkuat gerakan jantung agar

lebih mudah terdeteksi

Palpasi Thrill

Thrill adalah sensasi getaran superfisial yang teraba pada kulit di atas daerah turbulensi.
Adanya thrill menunjukkan bising (murmur) yang kuat. Thrill paling baik diraba dengan
memakai kepala tulang metakarpal, bukannya dengan ujung jari, dan ditekankan dengan sangat
ringan pada kulit. Jika memakai tekanan yang terlalu besar, thrill tidak akan dapat diraba.
Palpasi thrill biasanya kurang penting karena auskultasi akan memperlihatkan adanya bising
kuat yang menimbulkan thrill tersebut. Oleh karena itu penemuan thrill hanya menambah
informasi sedikit untuk diagnosis, tetapi ini merupakan suatu tanda fisik yang menarik yang
harus membuat pemeriksa menjadi waspada akan apa yang akan didengar.

Auskultasi

Teknik
Auskultasi yang baik memerlukan ruangan yang tenang. Setiap usaha harus dilakukan untuk
menghilangkan bunyi tambahan dari radio, televisi, dan sebagainya. Bagian telinga stetoskop
diarahkan ke anterior, atau sejajar dengan arah kanan auditoris eksternal. Jika bagian telinganya
mengarah ke belakang, lubangnya akan mengenai dinding kanal eksternal dan menurunkan
intensitas bunyi jantung. Bagian telinga stetoskop harus cukup pas dengan ukuran telinga
pemeriksa sehingga masih dapat dipakai dengan nyaman, tetapi juga harus cukup ketat untuk
menyingkirkan bunyi eksternal.

Sering kali berguna jika Anda inenutup mata sementara mendengarkan bunyi jantung. Bunyi
yang lebih sulit didengar sebenarnya akan terdengar lebih kuat. Ini berkaitan dengan fakta
bahwa otak kita dibanjiri dengan berbagai macam masukan sensoris. Masukan daii mata kita
kelihatannya paling penting. Masukan sensoris terpenting berikutnya adalah masukan
auditoris, diikuti dengan masukan taktil. Jika Anda menghilangkan gangguan rangsangan
visual, konsentrasi otak akan lebib dicurahkan kepada masukan auditoris dan bunyi yang
terdengar akan menjadi lebih jelas.

Seperti dijelaskan dalam bab terdahulu, bel stetoskop harus diletakkan secara ringan pada kulit,
sedangkan diafragma, harus ditekan kuat-kuat pada kulit. Bunyi bernada tinggi, seperti
penutupan katup, kejadian sistolik, dan bising regurgitasi, lebib baik didengar dengan
diafragma. Bunyi bernada rendah, seperti irama gallop atau bising karenastenosis
atrioventrikular, lebib baik didengar dengan bel .stetoskop.

Jangan sekali-kali mendengarkan melalui pakaian apa saja!

Auskultasi Daerah-Daerah Jantung

Pemeriksa harus berada pada sisi kanan pasien sementara pasien berbaring telentang. Jika tidak
pada ketinggian yang tepat, tempat tidur harus disesuaikan sehingga pemeriksa berada pada
posisi yang nyaman. Pemeriksa harus mendengarkan di daerah aorta, pulmonal, trikuspid dan
mitral. Tetapi pemeriksa tidak boleh membatasi auskultasinya pada daerah-daerah ini saja.
Pemeriksa seharusnya mulai pada salah satu daerah dan menggerakkan stetoskopnya sedikit
demi sedikit dari satu daerah ke daerah lainnya di perikordium. Daerah-daerah ini telah
ditentukan untuk memberikan standarisasi.

Ketika mendengarkan pada apeks dan batas sternal bawah kiri dengan bel stetoskop, pemeriksa
harus menetukan apakah ada S3 dan S4.

Bising jantung dapat tersebar luas. Observasi yang penting adalah untuk menentukan tempat
dimana bunyi tersebut paling kuat atau paling jelas terdengar. Tidak ada dinding akustik di
dada. Bising yang khas terdengar di apeks dengan penyebaran ke aksila dapat terdengar di
leher, jika cukup kuat. Dalam contoh ini bising itu mungkin terdengar paling kuat di apeks dan
aksila.

Posisi Auskultasi Standar

Empat posisi standar untuk auskultasi diperlihatkan dalam Gambar 11-20, yaitu :

Telentang

Dekubitus lateral kiri


Duduk tegak lurus

Duduk, membungkuk ke depan

Semua daerah prekordial diperiksa ketika pasien telentang. Dengan memakai cara sistematis
pemeriksa mulai pada daerah aorta atau apeks dan dengan cermat mendengarkan bunyi jantung.
Setelah semua daerah diperik sa, pasien disuruh untuk berbaring pada sisi kiri tubuhnya.
Sekarang pemeriksa harus meletakkan stetoskopnya di apeks untuk mendengarkan adanya
bissng diastolik bernada rendah karena stenosis mitral, yang paling baik didengar dengan bel
stetoskop. Kemudian pasien diminta untuk duduk tegak dan semua daerah diperiksa dengan
diafragma stetoskop. Akhirnya pasien diminta untuk membungkuk ke depan. Pasien diminta
untuk mengeluarkan napas dan kemudian menahannya ketika pemeriksa dengan memakai
diafragma, mendengarkan bising diastolik bernada tinggi kerena regurgitasi aorta pada sela
iga kedua dan ketiga, kanan dan kiri.
Gambar 11-20. Posisi auskultasi. A. Posisi telentang, dipakah untuk mendengarkan semua
daerah. B. Posisi dekubitas lateral kiri, dipakai untuk mendengarkan dengan bel stetoskop di
daerah mitral. C. Posisi untuk uegak, dipakai untuk mendengarkan semua daerah. D. Posisi
duduk membungkuk ke depan, dipakai untuk mendengarakn dearah basis

Pengaruh Pernapasan

Pemeriksa harus memberikan perhatian khusus kepada intesitas bunyi jantung. Kebanyakan
bising atau bunyi jantung yang berasal dari jantung kanan akan menguat dengan inspirasi. Ini
berkaitan dengan meningkatnya aliran kembali darah yang terjadi dengan inspirasi yang
mangakibatkan meningkatnya keluaran ventrikel kanan. Di samping itu, S3 atau S4 yang berasal
dari jantung kanan juga akan menguat selama inspirasi .

Penentuan Waktu Peristiwa-Peristiwa Jantung

Untuk menafsirkan bunyi-bunyi jantung dengan tepat, pemeriksa harus dapat menetukan waktu
peristiwa-peristiwa dalam siklus jantung. Cara yang paling dapat diandalkan untuk mengenali
S1 dan S2 adalah menentukan waktu terjadinya bunyi itu dengan mempalpasi arteri karotis.
Sementara tangan kanan pemeriksa mengubah-ubah posisi stetoskop, tangan kiri diletakkan
pada arteri karotis pasien. Teknik ini diperlihatkan dalam Gambar 11-21. Bunyi yang
mendahului denyut karotis adalah S1. S2 terdengar setelah denyut tersebut. Yang paling penting
adalah anda harus memakai denyut karotis bukan denyut radial. Keterlambatan waktu dari S1
sampai denyut radial adalah bermakna, sehingga akan terjadi kesalahan dalam penentuan
waktu ini.

Pendekatan untuk Auskultasi yang Cermat

Sampai pemeriksa berpengalaman dalam pemeriksaan jantung, ia harus memeriksa bunyi-


bunyi jantung dengan cara yang diuraikan dalam Tabel 11-7. Pemeriksa harus mencurahkan
waktunya pada setiap daerah sebelum melanjutkan ke daerah selanjutnya. Ia harus
mendengarkan beberapa siklus jantung pada tiap posisi untuk membuatnya yakin mengenai
observasi yang dilakukan, yang mencakup efek pernapasan.

TABEL 11-7. Pendekatan Auskultasi Jantung


Posisi Evaluasi
Telentang S1 pada semua daerah
S2 pada semua daerah
Bising atau bunyi sistolik pada
semua daerah

Dekubitus lateral kiri Pristiwa-pristiwa diastolik pada


aspek dengan
memakai bel stetoskop
Duduk tegak S1 pada semua daerah
S2 pada semua daerah
Bising atau bunyi sistolik pada
semua daerah
Bising atau bunyi siastolik pada
semua daerah

Duduk tegak, bungkuk ke Pristiwa-pristiwa diastolik pada


depan basis jantung
Memakai diagram stetoskop

Uraian Mengenai Bising Jantung

Jika terdapat bising jantung, perhatian harus diarahkan kepada cirri-ciri berikut :
Waktu bising dipandang dari sudut sistol atau diastol adalah sangat penting: Apakah bising
sistolik mulai timbul bersama-sama dengan, atau setelah S1? Apakah ia berakhir sebelum,
bersama-sama dengan, atau setelah S2? Apakah bising itu menempati seluruh periode sistolik?
Bising terjadi sepanjang sistol disebut holosistolik atau pansistolik. Bising ini mulai timbul
bersama-sama dengan S1 dan berakhir setelah S2. Bising ejeksi sistolik mulai timbul setelah S1
dan berakhir setelah S2. Apakah bising itu hanya terjadi pada awal sistol, mid-sistole, atau
bagian akhir sistole? Apakah bisisng itu menetap sepanjang seluruh periode sistolik. Bising
seperti itu disebut holodiastolik.

Di daerah mana bising paling baik didengar?

Penyebaran bising dapat memberi petunjuk mengenai penyebabnya. Apakah bising itu
menyebar ke aksila? leher? punggung?

Intensitas bising digolongkan dari I sampai VI, berdasarkan kekuatan yang makin bertambah.
Sistem penggolongan berikut ini, meskipun kuno, berfungsi sebagai alat komunikasi dengan
orang lain mengenai intensitas bising

I
Inte
nsit
as
tere
nda
h,
seri
ng
tida
k
terd
eng
ar
ole
h
pe
mer
iks
a
yan
g
bel
um
ber
pen
gal
am
an.

II
Inte
nsit
as
ren
dah
,
bia
san
ya
dap
at
did
eng
ar
ole
h
pe
mer
iks
a
yan
g
bel
um
ber
pen
gal
am
an.

III
Inte
nsit
as
sed
ang
tan
pa
thri
ll

IV
Inte
nsit
as
sed
ang
den
gan
thri
ll

V
Bis
ing
terk
uat
yan
g
dap
at
did
eng
ar
bila
stet
osk
op
dile
tak
kan
di
dad
a.
Ber
kait
an
den
gan
thri
ll.
VI
Inte
nsit
as
terk
uat:
dap
at
did
eng
ar
sew
akt
u
stet
osk
op
dia
ngk
at
dari
dad
a.
Ber
kait
an
den
gan
thri
ll.

Bising dapat dilukiskan, misalnya, sebagai derajat "II/VI, "derajat IV/VI", "derajat II-III/VI".
Tiap bising yang berkaitan dengan thrill paling sedikit mempunyai derajat IV/VI. Perlu
diketahui bahwa bising derajat IV/VI lebih kuat daripada bising II/VI hanya karena ada
turbulensi yang lebih besar; kedua-duanya mungkin mempunyai makna klinis, mungkin pula
tidak. Penulisan "IV" dipakai karena ada sistem penggolongan lain yang kurang populer yang
memakai hanya empat kategori.

Kualitas bising dapat dilukiskan sebagai "bergemuruh" (rumbling), "meniup" (blowing),


"kasar", "musikal", "seperi bunyi mesin" (machinery), atau "kasar seperti manggarut"
(scratchy).

Uraian Mengenai Gesekan Perikardial

Gesekan friksi (friction rub) adalah bunyi ekstrakardial yang berlangsung singkat yang
mempunyai sifat khas seperti bunyi gesekan pada ampelas. Gesekan ini dapat disebabkan oleh
iritasi pleura (yaitu gesekan pleura), atau perikardium (yaitu gesekan perikardial). Gesekan
perikardial khas mempunyai tiga komponen: satu sistolik dan dua diastolik. Komponen sistolik
terjadi selama ejeksi; dua komponen diastolik terjadi selama pengisian cepat dan kontraksi
atrium. Gesekan perikardial paling baik didengar pada pasien dalam posisi duduk sementara
menahan napasnya selama ekspirasi. Pasien dengan gesekan perikardial biasanya mengalami
nyeri dada yang berkurang dengan duduk membungkuk ke depan. Gesekan yang menghilang
apabila pasien menahan napas berasal dari pleura.

Tujuan Auskultasi

Tujuan pada akhir auskultasi adalah agar dapat melukiskan hal-hal berikut ini:

Inte
nsit
as
S1
di
se
mu
a
dae
rah

Inte
nsit
as
S2
di
se
mu
a
dae
rah

Ciri
-
ciri
seti
ap
bun
yi
sist
olik

Ciri
-
ciri
seti
ap
bun
yi
dia
stol
ik
Dengan pengalaman, pemeriksa akan dapat mendengarkan semua bagian siklus jantung pada
satu daerah dan membandingkan bunyi dan peristiwa yang terjadi dengan daerah lain.
Biasanya, S1 paling kuat di apeks dan S2 paling kuat di basis. Splitting S2 menjadi A2 dan P2
selama inspirasi paling jelas terdengar di daerah pulmonal dengan pasien berbaring telentang.
Seperti telah diuraikan di atas, hal ini meningkatkan aliran balik vena dan memperlebar
pemisahan A2-P2.

Pemeriksaan Edema

Bila tekanan vena perifer tinggi, seperti pada gagal jantung kongestif, tekanan di dalam vena
disebarkan secara retrograd pada pembuluh-pembuluh yang lebih kecil. Terjadi transudasi
cairan, yang mengakibatkan timbulnya edema di daerah dependen. Peningkatan cairan jaringan
ini menimbulkan edema yang "cekung" kalau ditekan.

Uji adanya Edema

Untuk memeriksa adanya pitting edema, jari ditekankan kepada daerah dependen, seperti
daerah pretibial, selama 2-3 detik. Jika ada pitting edema, jari-jari akan terbenam ke dalam
jaringan, dan bila jari itu diangkat, bekas tekanan jari akan tetap ada.

Pitting edema biasanya digolongkan dari 1+ sampai 4+, tergantung pada lamanya cekungan
tadi bertahan. Yang paling jelas adalah 4+. Pada pasien yang terbaring di tempat tidur, daerah
dependen biasanya sakruin dan bukan pretibia. Pada pasien seperti ini pemeriksa harus
memeriksa kemungkinan adanya edema di sakrum.

KORELASI KLINIKOPATOLOGIK

Perhatian sekarang akan dipusatkan kepada perubahan patologis, yang menyebabkan hal-hal
berikut ini:

Kelainan bunyi jantung pertama

Kelainan bunyi jantung kedua

Systolic click

Opening snap diastolic

Bising jantung (murmur)

Kelainan Bunyi Jantung Pertama

Kelainan Intensitas Sl

Faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas S1 adalah sebagai berikut :

Laj
u
ken
aik
an
tek
ana
n
ven
trik
el

Ke
ada
an
kat
up

Pos
isi
kat
up

Jar
ak
jant
ung
dari
din
din
g
dad
a

Makin cepat laju kenaikan tekanan ventrikel kiri, makin kuat komponen mitral dari S1.
Meningkatnya kontraktilitas akan meningkatkan intensitas Sl. Penurunan kontraktilitas akan
memperlemah S1.

Bila katup atrioventrikular menjadi kaku karena fibrosis atau kalsifikasi, penutupannya akan
lebih kuat. Katup yang mengalami defonnasi secara patologis (pada stenosis mitral) akan
menghasilkan S1 yang lebih kuat atau lebih jelas. Setelah bertahun-tahun, ketika katup
mengalami lebih banyak kalsifikasi, ia tidak akan dapat bergerak, sehingga S1 melemah.

Posisi katup pada waktu kontraksi ventrikel mempengaruhi intensitas S1. Arc of coaptation
adalah sudut melalui mana katup menutup. Jika katup dalam posisi pertengahan, jarak yang
ditempuhnya lebih sedikit ketimbang jarak yang ditempuh dari posisi terbuka lebar. Makin
besar terbukanya, makin lebar arc of coaptation, dan makin kuat S1. Ini berhubungan langsung
dengan tekanan di dalam atrium kin pada saat di mana tekanan ventrikel kiri melebihinya dan
menutup katup. Hal itu dapat dilihat pada keadaau-keadaan di mana ada interval PR yang
memendek pada elektrokardiogram. Katup mitral terbuka normal selama diastol untuk
pengisian ventrikel. Gelombang P pada elektrokardiogram sesuai dengan kontraksi atrium,
yang meninggikan tekanan atrium kiri (gelombang "a" pada perekaman atrium kiri), yang lebih
membuka lagi katup mitral pada masa diastolik akhir. Jika interval PR memendek, kontraksi
ventrikel terjadi sedemikian cepatnya setelah kontraksi atrium sehingga tekanan atrium masih
tinggi ketika tekanan ventrikel kiri melebihinya. Katup mitral tetap terbuka lebih lama dan
menutup lebih lambat ketimbang normal, selama fase cepat kenaikan tekanan di dalam
ventrikel, yang memperkeras S1.

Pada umumnya, makin panjang interval PR, makin lemah S1. Pemanjangan interval PR, seper[i
dijumpai pada fenomena Wenekebach , menghasilkan S1 yang melemah sampai terjadinya
dropped beat.

Bila jarak jantung dengan dinding dada menjadi lebih besar, St akan lebih lemah daripada
normal. Pada pasien yang sangat gemuk atau menderita penyakit paruparu obstruktif kronis,
intensitas Sl akan lebih lemah daripada normal. Pada pasien dengan efusi perikardium yang
besar, akan melemah pula.

Kelainan Bunyi Jantung Kedua

Kelainan Intensitas 2

Keadaan-keadaan yang mengubah intensitas S2 adalah sebagai berikut:

Per
uba
han
tek
ana
n
sist
olik

Ke
ada
an
kat
up

Tiap keadaan yang menimbulkan peningkatan tekanan sistolik akan memperbesar intensitas
S2. Sebaliknya, keadaan yang menurunkan tekanan sistolik akan mem perlemah S2. Hipertensi
meningkatkan tekanan sistolik aorta dan menimbulkan A2 yang keras dari komponen S2.

Kalsifikasi atau fibrosis katup senulunar akan menyebabkan melemahnya penutupan katup
tersebut. Karena katup semilunar merupakan tipe katup yang secara morfologis berbeda,
fibrosis tidak menimbulkan peningkatan intensitas, seperti pada penutupan katup
atrioventrikular yang, fibrotik.

Kelainan S2 yang Terpisah (Splitting)

Bunyi jantung kedua yang terpisah (Splitting) secara fisiologis normal telah diuraikan pada bab
mengenai anatomi dan fisiologi. Bab ini akan nienguraikan splitting yang abnormal.

Tiap keadaan yang memperlambat sistole ventrikel kanan, baik secara elektris maupun
mekanis, akan memperlambat P2 dan menimbulkan pelebaran splitting S2. Pengisian ventrikel
kanan akan diperlambat oleh blok cabang berkas kanan atau stenosis pulmonal. Komponen
pulmonal S2 akan diperlambat selama inspirasi dan ekspirasi, sehingga akan terjadi splitting S2
yang lebar.

Tiap keadaan yang mempersingkat sistole ventrikel kiri akan membuat A2 terjadi lebih awal
ketimbang normal, demikian pula akan terjadi splitting yang lebar. Keadaan-keadaan seperti
regurgitasi mitral, defek septum ventrikel, atau duktus arteriosus yang paten akan
mempersingkat sistole ventrikel kiri, dan interval Sl sampai A2 akan lebih singkat ketimbang
normal. Pada keadaan ini, "saluran keluar" ventrikel kiri ada dua, oleh karena itu sistolenya
akan lebih singkat. Pada defek septum ventrikel dengan jalan pintas kiri ke kanan, tidak hanya
sistole ventrikel kiri yang akan lebih singkat, tetapi juga sistole ventrikel kanan akan
memanjang, kedua faktor ini menjadi kunci dalam timbulnya splitting S2 yang lebar.

Tiap keadaan, baik elektris maupun mekanis, yang memperlambat pengosongan ventrikel kiri
akan menimbulkan splitting paradoks S2. Blok cabang berkas kiri atau stenosis aorta akan
memperlambat pengosongan ventrikel kiri. Keadaan ini memperlambat penutupan katup aorta
setelah terjadinya sistole ventrikel kanan dan P2. Urutan normal A2 P2 menjadi terbalik.
Selama inspirasi, P2 biasanya bergerak menjauhi S1 menuju A2. Splittingnya dikatakan
menyempit. Dengan ekspirasi, P2 bergerak normal dan mendekati Sl splitting P2 - A2 melebar.
Pelebaran selama ekspirasi ini adalah paradoks. Keadaan lain, seperti gagal ventrikel kiri dan
hipertensi berat, memperlambat ejeksi ventrikel kiri dan menyebabkan splitting paradoks S2.

Splitting menetap pada S2 adalah tanda auskultasi untuk adanya defek septum atrium. Pada
keadaan ini, splitting lebar dan lidak berubah dengan pernapasan: Ini karena peningkatan aliran
balik vena ke atrium kanan selama inspirasi secara normal meningkatkan tekanannya.. Selama
ekspirasi, tekanan atrium kanan lebih rendah, tetapi jalan pintas atrium kiri ke kanan membuat
volume atrium kanan tetap konstan selama pernapasan; oleh karena itu splitting normal tidak
terjadi.

Ejection Click
adalah bunyi bernada tinggi yang terjadi pada awal sistole pada permulaan ejeksi dan
dihasilkan oleh pembukaan katup semilunar yang mengalami deformasi secara patologis.
Stenosis pulmonal atau aorta dapat menimbulkan ejection click. Bunyinya singkat dan
terdengar seperti bunyi "klik". Ejection click pulmonal paling baik didengar di daerah
pulmonal, sedangkan ejection click aorta terdengar di daerah aorta. Bila kalsifikasi bertambah,
mobilitas katup berkurang dan ejection click lenyap.

Midsystolic click bukanlah ejection click. Mereka timbul pada pertengahan sistole. Mungkin
tunggal atau multipel, dan posisinya dalam siklus jantung dapat berubah bergantung gerakan
yang mengubah geometri ventrikel. Keadaan -yang paling sering berkaitan dengan midsystolic
click adalah prolaps katup mitral atau trikuspid.

Opening Snap Diastolik

Pembukaan katup atrioventrikular biasanya tidak menimbulkan bunyi dan terjadi kira-kira 100
mdetik setelah S2. Ini kira-kira sama dengan waktu yang diperlukan untuk mengatakan "ma-
ma" dengan cepat. Opening snap adalah suatu kejadian diastolik yaitu bunyi terbukanya katup
atrioventrikular yang mengalami deformasi secara patologis. Bunyi ini tajam dan bernada
tinggi. Opening snap mitral pada stenosis mitral terjadi setelah A2; opening snap trikuspid pada
stenosis trikuspid terjadi setelah P2.

Interval di antara S2 dan opening snap disebut interval S2 - OS dan mempunyai arti spesifik
dalam hal beratnya stenosis. Ketika stenosis mitral memburuk, tahanan dan sumbatan terhadap
alirau makin besar. Tekanan di dalam atrium kiri akan meningkat, dan perbedaan tekanan di
antara kedua sisi katup uiitral akan bertambah. Oleh karena itu katup mitral akan membuka
lebih dini ketimbang normal, ketika tekanan ventrikel kiri turun di bawah tekanan atrium kiri.
Waktu S2 - OS akan memendek kalau beratnya keadaan ini bertambah. Berusahalah
mengatakan "ma-da" secepat mungkin. Interval ini kira-kira 50-60 mdetik dan kira-kira sama
dengan interval S2 - OS yang sangat pendek, seperti terdengar pada stenosis mitral yang berat.

Bising Jantung (Murmur)

Bising jantung timbul kalau ada energi turbulen di dalam dinding jantung dan pembuluh darah.
Sumbatan terhadap aliran atau adanya aliran dari diameter kecil ke diameter yang lebih besar
akan menimbulkan turbulensi. Turbulensi menyebabkan arus berlawanan (eddies) yang
memukul dinding dan menimbulkan getaran yang didengar pemeriksa sebagai bising. Bising
dapat pula timbul bila sejumlah besar darah mengalir melalui lubang normal. Dalam keadaan
ini lubang normal relatif stenotik untuk volume yang bertambah itu. Bising "meniup" (blowing)
terjadi kalau ada perbedaan yang besar dengan volume aliran -yang berbeda-beda. Bising
"gemuruh" (rumbling) disebabkan oleh daerah dengan perbedaan tekanan kecil yang
tergantung pada aliran. Bising yang "kasar" (harsh) disebabkan oleh perbedaan tekanan yang
besar dan aliran yang besar pula.

Istilah ejection murmur ditujukan untuk bising yang dihasilkan oleh turbulensi melintasi katup
semilunar selama sistol seperti pada stenosis aorta atau stenosis pulmonal. Ejection murmur
berbentuk wajik dan dilukiskan sebagai "kresendo-dekresendo". Mereka mulai segera setelah
S1 dan berakhir sebelum S2. Ejection click karena stenosis katup semilunar mungkin
mendahului bising itu. Bising ini bernada sedang dan paling baik didengar dengan diafragma
stetoskop. Karena berdasarkan aliran, intensitas bising ini tidak mencerminkan beratnya
penyakit. Bertambahnya aliran melintasi katup aorta yang menyempit secara minimal akan
menimbulkan bising yang kuat; berkurangnya aliran melalui katup aorta yang mengalami
stenosis berat dapat menimbulkan bising yang hampir tidak dapat didengar. Setiap peningkatan
aliran atau volume dapat menimbulkan ejection murmur meskipun katupnya normal. Ejection
murmur sebagai tanda stenosis aorta merupakan penemuan dengan sensitivitas tinggi tetapi
spesifisitas rendah.

Bising systolic regurgitan dihasilkan oleh aliran retrograd dari daerah bertekanan tinggi ke
daerah bertekanan rendah selama sistole, seperti pada regurgitasi mitral atau trikuspid. Bising
ini disebut holosistolik atau pansistolik. Ia mulai bersama-sama dengan Sl dan berakhir setelah
S2. Bising ini berlangsung sampai setelah S2 karena tekanan ventrikel lebih tinggi daripada
tekanan atrium bahkan setelah penutupan katup semilunar. Suatu S3-yang menunjukkan beban
volume berlebihan pada ven-trikel--sering terdengar. Bising ini bernada tinggi dan paling jelas
didengar dengan diafragMa. Istilah "regurgitasi", "inkompetensi", dan "insufisiensi" sering
dipakai sebagai sinonim untuk jenis bising in~. Istilah yang lebih disukai adalah "regurgitasi",
karena Imenunjukkan arah aliran yang retrograd. Bising holosistolik pada regurgitasi katup
atrioventrikular adalah penemban d.engan sensiti, vitas tinggi.
Bising atrioventrikular diastoli,k dimulai pada waktu tertentu setelah S2 dengan membukahya
katup atrioventrikular. Stenosis mitral dan stenosis trikuspid merupakan contoh bising jenis ini.
Ada jeda di antara S2 dan permulaan bising. Relaksasi isovolumetrik sedang terjadi selama
periode ini. Bisingnya berbentuk dekresendo, dan dimulai dengan opening snap, jika katupnya
mobil. Bising ini bernada rendah dan paling je,jas didengar dengan bel stetoskop dan pasien
berbaring dalam posisi dekubitus lateral kiri. Karena katup atri ventrikular mengalami stenosis,
pengisian cepat tidak terjadi dan ada perbedaan tekanan di sepanjang diastole, Jika pasien
mempunyai irama sinus yang normal, kontraksi atrium akan memperbesar perbedaan tekanan
pada akhir diastole, atau presistole, dan akan terjadi peningkatan bising pada saat ini. Bising
atrioventrikular diastolik merupakan tanda yang sensitif dan spesifik untuk stenosis katup
atrioventrikular.

Bunyi Jantung Sikius Jantung


Bunyi Sistolik awal Ejection click

Bunyi pembukaan katup pretesa aorta

Sistole pertengahan/akhir Midsystolic click Rub

Diastoli k awal Opening snap S3

Bunyi pembukaan katup protesa mitra

Deburan tumor

Diastolik pertengahan S3

Summation gallop

Akhir diastolik S4

kadang-kadang Bunyi pacu jantung

disebut presistolik)

Pembukaan dan penutupan katup aorta prostetik terdengar pada banyak katup prostetik.
Pembukaannya sebanding dengan ejection click; penutupannya adalah suatu S2 "prostetik".

Pembukaan dan penutupan katup mitral prostetik terdengar pada banyak katup prostetik.
Pembukaannya sebanding dengan opening snappenutupannya adalah suatu S1 "prostetik".

Miksoma atrium yang bertangkai dapat keluar masuk cincin mitral, menyerupai tanda
stenosis mitral.

Pada denyut jantung yang cepat periode diastole memendek. Jika ada S3 dan Sq bunyinya
mungkin "disumasi" menjadi bunyi tunggal yang disebut summation gallop.
Bising semilunar diastolik ditnulai segera setelah S2, seperti terdengar pada regurgitasi aorta
atau pulmonal.

RISING SISTOLIK
Stenosis Regurgitast

Aorta Mitral

Lokasi Daerah aorta Apeks

Penyebaran Leher Aksila

Bentuk Wajik Holosistolik

Nada Sedang Tinggi

Kualitas Kasar Meniup

Tanda terkait A2 melemah S1

Ejection click S3

S4 Titik impuls maksi

Tekanan denyut mum (PMI) difus

sempit dan pindah ke lateral

Denyut meningkat

dengan perlahan

dan terlambat

Berbeda dengan bising atrioventrikular diastolik, setelah S2 tidak ada keterlambatan sampai
mulai tirubulnya bising itu. Bising bernada tinggi berbentuk dekresendo dan paling jelas
didengar dengan diafragma stetoskop, dengan pasien dalam posisi duduk membungkuk ke
depan. Bising semilunar diastolik adalah suatu tanda dengan sensitivitas rendah tetapi
spesifisitas tinggi.

TINJAUAN GEJALA SPESIFIK

Gejala-gejala penting penyakit jantung mencakup berikut ini:

Nyeri dada
Ketidakteraturan irama jantung (palpitasi)

Dispnea (sesak napas)

Sinkop (pingsan)

Kelelahan

Edema dependen (pembengkakan tungkai)

Hemoptisis (batuk darah)

Sianosis (kulit berwarna kebiruan)

Nyeri Dada

Nyeri dada mungkin merupakan gejala penyakit jantung yang paling penting. Tetapi ia tidak
patognomonik untuk penyakit jantung. Telah diketahui bahwa nyeri dada dapat disebabkan
oleh gangguan paru-paru, usus, kandung empedu, dan muskuloskeletal. Tanyakanlah
pertanyaan-pertanyaan berikut ini kepada setiap pasien dengan nyeri dada:

"Di mana nyerinya?"

"Sudah berapa lama Anda menderita nyeri itu?"

"Apakah episode nyerinya berulang?"

"Berapa lama Anda menderita nyeri itu ?"

"Berapa seringAnda mengalami nyeri itu?"

"Apa yangAnda lakukan untuk membuatnya lebih baik?"

'Apa yang membuat nyeri itu memburuk? ...

bernapas? ... berbaring? ... menggerakkan lengan atau leher?"

"Bagaimana deskprisi nyerinya? . . . rasa panas? . . .

menekan? ... memeras? ... tumpul? ...

nyeri terus-menerus? ... berdenyut?. . . seperti ditusuk pisau? ... tajam? ... menjepit? ...
menusuk-nusuk?"

'Apakah nyerinya timbul pada waktu beristirahat? ... melalaukan aktivitas ftsik? ... sesudah
makan? ... ketika menggerakkan lengan? ... waklu rriengalami stres emosional? ... ketika
tidur?.. . selama koitus?"

'Apakalt nyerinya berkaitan dengan sesak napas? ... palpitasi? ... nausea atau vomitus? ...
batuk? ... demam? . . . batuk darah? ... nyeri tungkai?"
Ciri-Ciri Nyeri Dada'
Angina Bukan Angina

Lokasi Retrosternal, difus Di bawah payudara

kiri, setempat Penyebaran Lengan kiri, rahang, Lengan kanan

punggung

Deskripsi "Nyeri terus menerus", "Tajam", "seperti

"tumpul", "tertekan", ditusuk-tusuk",

"seperti diperas", "seperti di sayat" " seperti dijepit"

Intensitas Ringan sampai berat Menyiksa

Lamanya Bermenit-menit Beberapa detik, berjam

jam, berhari-hari

Dicetuskan Usaha fisik, emosi, Pernapasao,sikap

oleh makan,dingin tubuh,gerakan

Dihilangkan Istirahat, nitrogliserin Apa saja oleh

Angina dan nyeri dada lain mungkin timbul dalam berbagai cara. Ciriciri yang tertera di sini
merupakan ciri-ciri yang lazim ditemukan. Tetapi daftar ini tidak mutlak. Daftar ini dipakai
hanya dipakai sebagai petunjuk.

Penyebab Lazim Nyeri Dada


Sistem organ Penyebab

Jantung Penyakit arteri koronaria

Penyakit katup aorta

Hipertensi pulmonal

Prolaps katup mitral

Perikarditis
Stenosis subaorta hipertrofik

idiopatik (IHSS)

Vaskular Diseksi aorta

Pulmonal Emboli paru

Pneumonia

Pleuritis

Pneumotoraks

Muskuloskeletal Kostokondritis

Artritis

Spasme otot

Tumor tulang

Neural Herpes zoster

Gastrointestinal Penyakit tukak

Penyakit kolon

Hiatus Hernia

Pankreatitis

Kolesistitis

Emosional Ansietas

Depresi

Sindrom Tietze, suatu peradangan tulang tawan kosta.

Herpes zoster, seraagan virus pada saraf tepi dalam distribusi dermatom.

Angina pektoris merupakan gejala sejati penyakit arteri koronaria. Angina merupakan akibat
hipoksia miokard yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara suplai koroner dan
kebutuhan miokard.

Sangat sering pasien melukiskan anginanya dengan mengepalkan tinjunya dan meletakkannya
di atas sternum. Ini adalah tanda patognomonik angina yang biasanya disebut tanda Levine.
Bila nyeri dada berkaitan dengan etiologi jantung, aterosklerosis koroner dan penyakit katup
aorta merupakan penyebab tetsering.

Palpitasi

Palpitasi adalah sensasi tidak nyaman di dada yang berkaitan dengan berbagai macam
aritmia. Pasien mungkin

Penyebab Lazim Palpitasi


Ekstrasistole

Denyut prematur atrium (APB)

Denyut prematur nodal

Denyut prematur ventrikel (VPB)

Takiaritmia

Takikardia supraventrikel paroksismal (PSVT)

Flutter atrium (AFI)

Fibrilasi atrium (AF)

Takikardia atrium multifokal (MAT)

Takikardia ventrikel (VT)

Bradiaritmia

Blok jantung

Henti sinus

Obat-obatan

Bronkodilator

Digitalis

Antidepresan

Merokok
Kafein

Tirotoksikosis

Dikenal pula sebagai kontraksi prematur atrium (APC) atau kontraksi atrium prematur
(PAC).

Dikenal pula sebagai kontraksi prematur ventrikel (VPC) atau kontraksi ventrikel prematur
(PVC).

Pasien mungkin melukiskan palpitasi sebagai "berdebar-debar", "denyut yang melompat",


"mengetuk-ngetuk", "meloncatloncat", "berhenti", atau "tidak teratur". Penting untuk
ditentukan apakah pasien pernah mengalama episode yang sama di masa lalu dan apa yang
dilakukan untuk menghilangkannya. Palpitasi sangat lazim dan tidak perlu menunjukkan
penyakit jantung yang serius. Setiap keadaan di mana terjadi peningkatan isi sekuncup (stroke
volume), seperti pada regurgitasi aorta, mungkin berkaitan dengan sensasi "kontraksi yang
kuat". Bi1a seorang pasien mengeluh palpitasi, penting untuk menanyakan pertanyaan berikut
ini:

"Be
rap
a
lam
a
An
da
sud
ah
me
nga
lam
i
pal
pita
si?"
'Ap
aka
h
ser
ang
an
pal
pita
sin
ya
terj
adi
sec
ara
ber
ula
ng-
ula
ng?
"Jik
a
ya,
"Be
rap
a
seri
ng?
"
"Ka
pan
dim
ulai
nya
ser
ang
an
ini?
"

"Be
rap
a
lam
a
ser
ang
an
ini
6er
lan
gsu
ng?
"
"Ba
gai
ma
na
ras
any
a?"

'flp
aka
h
tind
aka
n
ata
u
pos
isi
tert
ent
u
me
ngh
enti
kan
nya
?"

'Elp
aka
h
ser
ang
an
ini
ber
hen
ti
sec
ara
tiba
-
tiba
?"
'Ap
aka
h
An
da
dap
at
me
ngh
itun
g
den
yut
nad
i
An
da
sel
am
a
ser
ang
an?
"

"D
apa
tka
h
An
da
me
nge
tuk
kan
ira
ma
ters
ebu
t di
mej
a
ini?
"

'Ap
aka
h
An
da
me
nga
lam
i
pal
pita
si
sete
lah
lati
han
fisi
k
ber
at?.
.,
keti
ka
mel
aku
kan
akti
vita
s
fisi
k?
...
keti
ka
ber
bar
ing
pad
a
sisi
kiri
tub
ulz
? ...
ses
uda
h
ma
kan
?.. .
bila
lela
h?"
'Ap
aka
hA
nda
per
nah
pin
gsa
n
sel
am
a
pal
pita
si?
...
me
nga
lam
i
nye
ri
dad
a?"

'Ap
aka
h
pal
pita
si
dis
ert
ai
den
gan
mu
ka
ke
mer
aha
n,
nye
ri
kep
ala,
ata
u
ber
keri
nga
t?"
'Ap
aka
hA
nda
tida
k
tah
an
pan
as?
...
din
gin
?"
"O
bat
-
oba
tan
apa
yan
g
sed
ang
An
da
gun
aka
n?"
'Ap
aka
h
An
da
min
um
oba
t
unt
uk
par
u
par
u
An
da
?"

'Ap
aka
h
An
da
min
um
oba
t
unt
uk
kel
enj
ar
tiro
id?
"
'Ap
aka
h
An
da
per
nah
dib
erit
ahu
bah
wa
ada
gan
ggu
an
pad
a
kel
enj
ar
tiro
id
An
da?
"
"Be
rap
a
ban
yak
teh,
kop
i,
ata
u
sod
a
col
a
yan
g
An
da
min
um
seti
ap
har
i?"

'Ap
aka
h
An
da
mer
oko
k?"

'Ap
aka
h
An
da
min
um
min
um
an
yan
g
me
nga
ndu
ng
alk
oho
l?"

'Ap
aka
hA
nda
me
mp
erh
atik
an
bah
wa
sete
lah
pal
pita
siA
nda
har
us
bua
ng
air
kec
il?"

Di samping sebab primer kardiovaskular, keadaaan yang lazim berkaitan dengan palpitasi
adalah tirotoksikosis, hipoglikemia, demam, anemia, feokromositoma, dan ansietas.
Hipertiroidisme merupakan penyebab penting gangguan irama yang berasal dari luar jantung.
Kafein, tembakau dan obat-obatan juga merupakan faktor penting dalam aritmogenisitas.
Amine simpatomimetik yang dipakai dalam pengobatan bronkokonstriksi juga merupakan
perangsang kuat untuk terjadinya aritmia. Pada pasien dengan gangguan panik dan keadaan
ansietas lainnya, sensasi palpitasi dapat terjadi selama periode laju dan irama jantung yang
normal.

Pasien yang pernah mengalami serangan palpitasi harus ditanyakan pertanyaan-pertanyaan


berikut ini:

"Bagaimana serangan terdahulu berakhir?" "Berapa seringAnda mengalami serangan ini?" .


'Apakah Anda dapat mengakhirinya sendiri?" Jika ya, "Bagaimana caranya?"

'Ap
aka
h
An
da
per
nah
dib
erit
ahu
kan
bah
wa
An
da
me
nde
rita
sin
dro
m
Wo
lff-
Par
kin
son
-
Wh
ite?
"4

Dispnea
Keluhan dispnea sangat penting. Pasien akan melukiskan bahwa ia "sesak napas" atau bahwa
ia "tidak mendapat udara dalam jumlah yang cukup". Dispnea biasanya berhubungan dengan
penyakit jantung atau paru-paru.

Dispnea nokturnal paroksismal (PND) terjadi di malam hari atau bila pasien telentang. Posisi
ini meningkatkan volume darah intratorakal, dan jantung yang lemah mungkin tidak dapat
mengatasi peningkatan beban ini; sebagai akibatnya dapat timbul gagal jantung kongestif.
Pasien terbangun kira-kira 2 jam setelah tertidur, sangat sesak, sering kali batuk, dan
mengurangi rasa sesak dengan berlari ke jendela untuk "mendapatkan lebih banyak udara."
Episode PND relatif spesifik untuk gagal jantung kongestif.

Gejala PND sering berkaitan dengan gejala ortopnea. Ortopnea adalah keadaan di mana pasien
memerlukan lebih banyak bantal untuk tidur. Penting untuk bertanya ke pada semua pasien:
"Berapa banyak bantal yang Anda perlukan untuk tidur?" Untuk membantu mengukur beratnya
ortopnea, dapat dinyatakan, misalnya, "ortopnea 3 bantal selama 4 bulan terakhir."

Dispnea aktivitas fcsik (DOE) biasanya disebabkan oleh gagal jantung kongestif kronis atau
penyakit paru berat. Penting untuk mengukur beratnya dispnea dengan menanyakan,"Berapa
blok rumah yang dapat Anda tempuh sekarang ?

Sebab-sebab Umum Dispnea


Sistem Organ

atau Keadaan Penyebab

Jantung Gagal ventrikel kiri

Stenosis mitral

Paru-paru Penyakit paru obstruktif

Asma

Penyakit paru restriktif

Emboli paru

Hipertensi pulmonal

Emosional Ansietas

Pemaparan tempat tinggi Berkurangnya tekanan oksigen

Anemia Berkurengnya kapasitas pengangkut oksigen

"Berapa blok rumah yang dapat Anda lalui 6 bulan yang lalu?" Pemeriksa sekarang dapat
berusaha mengukur beratnya dispnea. Misalnya, "Pasien mengalami DAF 1 blok rumah selama
6 bulan terakhir. Sebelum 6 bulan yang lalu, pasien dapat berjalan melalui 4 blok rumah taripa
menjadi sesak napas. Di samping itu, selama 3 bulan yang lalu pasien mengalami ortopnea 4
bantal."

Trepopnea adalah bentuk jarang dispnea posisional di mana pasien dispnea berkurang sesaknya
bila berbaring pada sisi kiri atau kanannya. Patofisiologi trepopnea tidak diketahui dengan baik.

Sinkop

Pingsan, atau sinkop, adalah hilangnya kesadaran untuk sementara yang disebabkan oleh
perfusi serebral yang inadekuat. Penting untuk menanyakan kepada pasien apa yang
dimaksudkannya dengan "pingsan" atau "pusing". Sinkop mungkin berkaitan dengan penyebab
jantung atau pun bukan jantung. Bila pasien menyebutkan pingsan, penting untuk menanyakan
pertanyaan-pertanyaan berikut:

"Ap
a
yan
g
sed
ang
An
da
lak
uka
n
tep
at
seb
elu
m
An
da
pin
gsa
n
?"

'Ap
aka
h
An
da
me
nde
rita
ser
ang
an
pin
gsa
n
ber
ula
ng?
"
Jik
a
ya,
"Be
rap
a
seri
ng
An
da
me
nde
rita
ser
ang
an
ini?
"

"Ap
aka
h
pin
gsa
n
tim
bul
sec
ara
tiba
-
tiba
?"
'Ap
aka
h
An
da
keh
ilan
gan
kes
ada
ran
?"
'An
da
ber
ada
dal
am
pos
isi
apa
keti
ka
pin
gsa
n?"
'Ap
aka
h
pin
gsa
n
did
ahu
lui
ole
h
gej
ala
lain
? ...
nau
sea
?. .
.
nye
ri
dad
a?
...
pal
pita
si?
...
bin
gun
g?.
..
ma
d
ras
a?
...
lap
ar?
"

'Ap
aka
h
ada
tan
da
per
ing
ata
n
lain
yan
g
me
nun
juk
kan
bah
wa
An
da
aka
n
pin
gsa
n?"

'Ap
aka
h
tinj
a
An
da
ber
war
na
hita
m
sep
erti
ter
sete
lah
pin
gsa
n?"

Aktivitas yang dilakukan sebelum sinkop penting karena beberapa etiologi kardiak berkaitan
dengan sinkop selama aktivitas Ssik, misalnya stenosis katup aorta, stenosis subaorta
hipertrofik idiopatik, dan hipertensi pulmonal primer. Jika pasien menyebutkan palpitasi
sebelum sinkop, mungkin ada penyebab aritmogenik. Curah jantung mungkin berkurang oleh
aritmia atau lesi obstruktif.

Posisi pasien tepat sebelum pingsan penting karena informasi ini dapat membantu menentukan
penyebab

Penyebab Lazim Sinkop

Sistem Organ

atau Keadaan Penyebab

Jantung Berkurangnya perfusi serebral karena

gangguan irama jantung

Obstruksi keluaran ventrikel kiri

Metabolik Hipoglikemia

Hiperventilasi

Hipoksia

Psikiatrik Histeria

Neurologik Epilepsi

Penyakit serebrovaskular

Hipotensi ortostatik Berkurangnya volume darah

Obat antidepresan

Obat antihipertensi

Vasovagal Vasodepresi

Miksi Refleks viseral (vasodepresor)

Batuk Penyakit paru kronis

Sinus karotis Respons vasodepresor terhadap sensitivitas


sinus karotis

sinkop. Misalnya, jika pasien pingsan setelah bangun tiba-tiba dari tempat tidur di tengah
malam untuk berlari menjawab telepon, penyebabnya mungkin hipotensi ortostatik. Hipotensi
ortostatik adalah suatu bentuk sinkop postural dan disebabkan oleh keterbatasan otonom
perifer. Tekanan darah sistemik tiba-tiba turun karena kegagalan refleks adaptif untuk
mengkompensasi sikap tubuh tegak. Sinkop miksi adala6 sinkop yang biasanya terjadi selama
mengejan pada waktu buang air kecil di malam hari. Keadaan ini biasanya terjadi setelah
minum alkohol dalam jumlah cukup banyak.

Sinkop vasovagal adalah jenis pingsan yang paling sering ditemukan. Sinkop vasovagal terjadi
selama periode ketegangan emosional, seperti donor darah, menerima kabar buruk, atau
keadaan stres. Keadaan ini sering didahului oleh nausea, kelemahan, perspirasi, rasa tidak enak
di epigastrium, atau suatu "perasaan tenggelam".

Tahanan vaskular sistemik mendadak turun tanpa diimbangi dengan peningkatan curah jantung
sebagai akibat peningkatan vagotonia. Sinkop sinus karotis berkaitan dengan sinus karotis yang
hipersensitif dan lebih sering dijumpai pada orang berusia lanjut. Bila pasien dengan sinkop
sinus karotis memakai baju dengan kerah baju sempit atau memutar lehernya ke arah tertentu,
terjadi peningkatan rangsangan pada sinus karotis. Keadaan ini menyebabkan penurunan
tekanan darah sistemik secara tiba-tiba, sehingga terjadi sinkop. Ada dua macam
hipersensitivitas sinus karotis: jenis kardioinhibisi (bradikardia), dan jenis vasodepresor
(hipotensi tanpa bradikardia). Sinkop post-tusif biasanya terjadi pada pasien dengan penyakit
paru obstruktif kronis. Beberapa mekanisme telah dipostulasikan untuk menjelaskan terjadinya
hal- ini. Umumnya diterima bahwa batuk menyebabkan peningkatan tekanan intratoraks
sehingga mengurangi aliran balik vena dan menurunkan curah jantung. Mungkin terjadi pula
peningkatan tekanan cairan serebrospinal yang menyebabkan berkurangnya perfusi ke otak.

Ada sejumlah pertanyaan lain yang sebaiknya ditanyakan kepada pasien dengan sinkop yang
mengarahkan perhatian kita kepada etiologi neurologik.

Kelelahan

Kelelahan adalah gejala umum berkurangnya curah jantung. Pasien dengan gagal jantung
kongestif dan penyakit katup mitral sering kali mengeluh lelah. Tetapi kelelahan tidak spesifik
untuk penyakit jantung. Penyebab tersering kelelahan adalah ansietas dan depresi. Keadaan
lain yang berkaitan dengan kelelahan adalah anemia dan penyakit kmnis. Arah pertanyaan
harus berusaha membedakan kelelahan organik dari kelelahan psikogenik. Tanyakanlah
pertanyaan-pertanyaan berikut:

"Su
dah
ber
apa
lam
a
An
da
mer
asa
lela
h?"
'Ap
aka
h
tim
bul
nya
sec
ara
tiba
-
tiba
?"
"Ap
aka
h
An
da
mer
asa
lela
h
sep
anj
ang
har
i?
...
di
pag
i
har
i?
...
di
mal
am
har
i?"

"Bil
am
ana
An
da
mer
asa
pali
ng
lair
ang
lela
h?"
'Ap
aka
h
An
da
mer
asa
lebi
la
lela
h di
ru
ma
h
keti
m6
ang
di
tem
pat
kerj
a?"

'Ap
aka
h
ras
a
lela
hny
a
hila
ng
den
gan
ber
isti
rah
at?
"

Pasien dengan lelah psikogenik merasa lelah "sepanjang waktu". Mereka seringkali merasa
lebih lelah di rumah ketimbang di tempat kerja, tetapi kadang-kadang menyebutkan lebih lelah
di pagi hari. Mereka mungkin merasa paling sehat di penghujung hari, ketika kebanyakan
pasien dengan penyebab organik merasa paling kurang sehat.
Edema

Pembengkakan tungkai, suatu bentuk edema dependen, sangat sering dikeluhkan pasien.
Pewawancara harus menanyakan:

"Bil
am
ana
An
da
me
nge
tah
ui
per
tam
a
kali
ada
nya
ede
ma
?"

'Ap
aka
h
ked
ua
tun
gka
i
sa
ma
ben
gka
kny
a?"
"Ap
aka
h
ben
gka
k
tim
bul
tiba
-
tiba
?"
'flp
aka
h
ben
gka
k
me
mb
uru
k
pad
a
sua
tu
wa
ktu
dal
am
sat
u
har
i?"

'Ap
aka
h
ben
gka
k
hila
ng
sete
tah
tidu
r
mal
am
har
i?"

'Ap
aka
h
pen
ing
gia
n
tun
gka
i
me
mb
uat
ben
gka
k
ber
kur
ang
?"

'An
da
sed
ang
me
min
um
oba
t
apa
saj
a?"
'flp
aka
h
ada
riw
aya
t
pen
yak
it
ginj
al;
jant
ung
,
ata
u
hati
?"

'Ap
aka
h
An
da
me
nga
lam
i
ses
ak
nap
as?
"
Jik
a
yq
"M
ana
yan
g
lebi
h
dah
ulu,
ede
ma
ata
u
ses
ak
nap
as
?" -

'Ap
aka
h
An
da
me
nga
lam
i
ras
a
nye
ri
di
tun
gka
i?"
'Ap
aka
h
ada
ulk
us
di
tun
gka
iAn
da?
"

Jik
a
pas
ien
nya
wa
nita
,
'Ap
aka
h
An
da
min
um
pil '
KB
?"
'Ap
aka
h
ede
ma
ber
kait
an
den
gan
per
uba
han
dau
r
hai
d?"

Pasien dengan gagal jantung kongestif mengalami edema simetris pada tungkai bawah yang
memburuk dengan berjalannya hari. Keadaan paling baik di pagi hari setelah tidur dengan
meninggikan tungkai di tempat tidur. Jika pasien juga mengeluh dispnea, adalah berguna untuk
menentukan mana yang timbul lebih dahulu. Pada pasien dengan dispnea dan edema yang
disebabkan oleh gadgguan jantung, dispnea biasanya timbul lebih dahulu sebelum terjadinya
edema.
Sianosis

Terkadang mungkin dijumpai sianosis hanya pada ekstremitas inferior. Ini disebut sianosis
diferensial. Keadaan ini berkaitan dengan pintas kanan ke kiri melalui patent ductus arteriosus
(PDA). Pada pintas kanan ke kiti yang disebabkan oleh hipertensi pulmonal, darah di dalam
arteri pulmonal melintasi PDA, yang terletak di bawah tingkat arteti karotis dan subklavia kiri;
darah yang kurang mengandung oksigen hanya dipompa ke ekstremitas inferior untuk
menimbulkan sianosis hanya pada lokasi tersebut. Sebagian darah masuk ke paru-paru untuk
mengalami oksigenisasi dan akhirnya dipompa melalui aorta untuk menghasilkan warna kulit
yang normal di ekstremitas superior.

PEMERIKSAAN FISIK ABDOMEN

Anatomi

Hati terletak dibawah diafragma dan dilindungi oleh iga-iga bawah. Kubah diafragma dimulai
kira-kira pada sela iga keenam digaris midclavicula. Tepi bawahnya yang biasanya tipis dan
halus, menonjol ketepi bawah iga kanan. Tepi bawah hati dengan lebar normal ( 8-12 cm )
dapat dipalpasi pada sebagian orang normal yang melakukan inspirasi dalam. Bagian bawah
hati adalah cekung dan merupakan atap ginjal kanan, lambung pancreas dan usus. Hati
memiliki dua lobus utama, kanan dan kiri. Permukaan hati diliputi oleh peritoneum viseralis,
kecuali daerah kecil pada permukaan posterior yang melekat langsung pada diafragma. Hati
memiliki dua sumber suplai darah yaitu dari saluran cerna dan limpa melalui vena porta dan
dari aorta melalui arteri hepatica.

Kandung empedu dan porta hepatikus terletak dibawah kulit hipokondrium kanan.

Limpa terletak dibagian posterior kanan didepan iga kedelapan, kesembilan dan kesepuluh.
Ujung limpa sedikit dapat dipalpasi pada 5% pasien normal yang sudah mencapai umur
akademis.

Ginjal adalah organ profunda retroperitoneal didaerah pinggang, dan sering kali tidak dapat
dipalpasi. Ginjal diperdarahi oleh arteri renalis. Arteri renalis dicabangkan dari aorta
abdominalis kira-kira setinggi vertebra lumbalis II. Karena aorta terletak disebelah kiri garis
tengah, maka arteri renalis kanan lebih panjang dari arteri renalis kiri. Sedangkan vena renalis
menyalurkan darah kedalam vena cava superior yang terletak disebelah kanan garis tengah.
Akibatnya vena renalis kiri kira-kira dua kali lebih panjang dari vena renalis kanan. Karena
gambaran anatomis ini maka ahli bedah transplantasi biasanya lebih suka memilih ginjal kiri
donor yang kemudian diputar dan ditempatkan pada pelvis kanan resipien.

Sudut costo vertebral adalah sudut yang dibentuk oleh batas bawah iga kedua belas dan
prosesus transverses vertabra lumbalis. Hal ini menunjukan daerah nyeri tekan ginjal

Duodenum dan pancreas terletak didalam abdomen bagian atas. Normalnya tidak dapat
dipalpasi

Promontorium sacrum dapat dipalpasi pada pasien kurus dikutub atas sector hipogastrium
selama inspirasi dalam.
Aorta yang berdenyut dengan diameter kira-kira 2 cm, dapat teraba sebagai struktur digaris
tengah. Uterus dan vesika urinaria merupakan struktur-struktur digaris tengah yang biasanya
tidak dapat dipalpasi kecuali kalau telah membesar. Uterus dan Vesika urinaria yang membesar
dapat dipalpasi pada simpisis pubis.

Abdomen dibagi dalm sembilan regio yaitu : regio epigastrium, regio hypokondrium kanan
dan kiri, region umbilicalis, region lumbalis kanan dan kiri, region hypogastrika (supra pubik),
dan region inguinalis (iliaca) kanan dan kiri.
Inspeksi

Pemeriksaan abdomen dapat dilakukan dalam posisi pasien telentang atau tegak. Dinding perut
penderita harus dalam keadaan relax. Sebaiknya penderita bernafas melalui mulut atau diajak
bercakap-cakap. Kedua tungkai jika perlu dalam keadaan fleksi pada sendi paha dan lutut.
Vesika urinaria lebih baik dalam keadaan kosong. Pemeriksaan dilakukan dengan cara
inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.

Periksa : Bentuk abdomen

Kulit dinding perut dan umbilicus

Gerak dinding perut pada pernafasan

Gerak peristaltic usus yang tampak pada dinding perut

Bentuk Abdomen

Normal simetris, mendatar. Pada anak-anak agak membuncit hingga masa pubertas. Perut
yang tampak membuncit pada orang dewasa kemungkinan disebabkan oleh obesitas,
kehamilan, tumor intra abdominal, meteorismus, ascites, dan retensio urine.

Perut yang schapoid (cekung) adalah perut dimana konturnya menyerupai lunas perahu yang
turun secara tiba-tiba dari prosesus xipoideus, Keadaan ini dapat dijumpai pada orang yang
kekurangan makan atau dehidrasi.

Bentuk perut asimetris dapat disebabkan oleh adanya penonjolan pada salah satu sisi misalnya
karena adanya tumor atau pembesran hepar/lien.

Bentukperut yang seperti perut kodok yaitu buncit, dengan sagging pada pinggang (bila
bebaring telentang), disertai dengan umbilicus yang tertarik kekiri dan kekanan (smiling
umbilicus) terdapat pada ascites. Bila pasien ascites diinspeksi dalam posisi tegak, tampak
perut buncit, umbilicus menonjol ( tidak smiling ). Pada kehamilan atau adanya tumor intra
abdominal, pada posisi tegak maupun telentang perut tampak buncit tanpa sagging pada
pinggang dan tanpa smiling pada umbilicus.

Distensi harus dibedakan dari lemak. Tentukanlah apakah pembengkakan tersebut meliputi
seluruh abdomen atau setempat saja. Jika setempat, perhatikanlah daerah anatomiknya. Jika
ditemukan didaerah supra pubis, mungkin disebabkan oleh distensi kandung kemih atau
pembesaran uterus. Didaerah iliaka, ovarium, secum, atau sigmoid mungkin abnormal. Ginjal,
limpa atau hati mungkin menyebabkan distensi pinggang sedangkan aorta, lambung, atau
pancreas dapat menimbulkan pembengkakan epigastrium. Kelainan hati dan limpa dapat
menimbulkan pembengkakan didaerah hipokondrium.

Kulit Dinding Perut dan Umbilicus

Kulit abdomen perlu diperhatikann secara khusus. Perdarahan abdominal, pelvis atau
retroperitoneal dapat bermanifestasi sebagai ekimosis setempat didaerah pinggang atau
disekitar umbilicus.

Stria karena baru saja mengalami perubahan berat badan dan stria berpigmen pada sindrom
cushing terlihat dengan jelas pada dinding abdomen. Linea nigra, garis hiperpigmentasi yang
berjalan dari umbilicus sampe simfisis, menunjukan bahwa wanita tersebut pernah hamil.
Caput medusae adalah lingkaran vena-vena yang berdilatasi menyebar dari umbilicus dan
merupakan aliran kolateral vena pada sirosis dan hipertensi portal. Kadang-kadang, pada
keadaan ini darah akan mengalir kearah bawah untuk memintasi obstruksi pada vena cava
superior.

Jaringan parut bekas operasi memberikan petunjuk tentang kelainan abdomen. Periksalah
apakah pasien anda mempunyai jaringan parut, dan tanyakanlah riwayat penyakit yang
berkaitan.

Diastesis recti adalah suatu tonjolan digaris tengah yang dapat diperlihatkan dengan meminta
pasien mengangkat kepalanya. Kelainan ini sering ditemukan dan menunjukan kelemahan dan
terpisahnya musculus rectus.

Kulit yang keriput menandakan bahwa dinding perut mengalami distensi seperti misalnya
karena kehamilan, atau pernah ascites. Juga terdapat pada keadaan dehidrasi. Pada pembesaran
perut, kulit dinding perut akan tampak tegang , licin dan mengkilap.

Vena kulit mungkin tampak tetapi tidak menonjol dan berkelok-kelok, bila tampak demikian,
disebabkan oleh dilatasi venae yang mungkin disebabkan oleh adanya obstruksi vena porta
(misalnya pada sirosis hati), atrau obstruksi vena cava superior atau interior pada obstruksi
vena porta, vana yang berdilatasi terutama vena dibagian tengah dinding perut sedangkan pada
obstruksi vena cava, vena yang berdilatasi adalah vena yang terdapat di daerah perifer dinding
abdomen. Arah aliran darah didalam vena pada obstruksi vena porta ialah vena yang teletak
diatas umbilikus dari atas kebawah sedangkan pada vena yang terletak dibawah umbilikus dari
bawah ke atas,. Pada obstruksi vena cava superior, arah aliran darah dalam vena yang
berdilatasi itu semua keaarah bawah, sedangkan pada obtruksi vena cava interior, semua aliran
darah dalam vena dari bawah ke atas.

Pada umbilikus dapat terjadi hernia atau neoplasma. Pada tumor intra abdominal atau
kehamilan, umbilikus dapat menonjol. Pada obesitas, walau perut buncit umbilicus tidask
menonjol.

Gerak dinding perut dalam keadaan ststis dan pada waktu bernapas.

Pulsasi dapat tampak pada dinding perut di daerah epigastrium yang mungkin disebabkan oleh
hipertropi ventrikel kanan atau pada orang normal yang amat kurus. Pulsasi tampak jelas yang
berasal dari denyut aorta abdominalis yang diteruskan ke dinding perut. Tapi bila aorta
abdominalisnya mengalami aneurysma, maka denyut itu tampak walau pada orang yang tidak
kurus sekalipun dan bersifat ekspansif berdenyut kesegala arah). Pada penderita tumor
lambung pulsasi didaerah epigastrium pun akan tampak lebih menonjol.

Pulsasi didaerah hipokondrium kanan dapat berasal dari hepar pada pasien yang menderrita
insufisiensi katup trikusfpidalis.

Pada waktu bernapas normal dinding perut mengembang pada waktu inspirasi dan mengempis
pada ekspirasi secara simetris. Pada kelumpuhan diafragma, misalnya pada abses
subdiafragma, gerakan dinding perut menjadi sebaliknya.

Pada peritonitis tidak ada pergerakan dinding perut sama sekali. Pada ascites yang amat besar,
pergerakan dinding perut saat bernapas juga tidak tampak.
Gerak peristaltic usus yang tampak pada dinding perut.

Normal tidak tampak gerak peristaltic. Tapi pada obstruksi usus, akan tampak gerak peristaltic
disebelah proksimal dari temapt obstruksi traktus digestivus.

Abdomen hernia

Abdomen-ascites
Abdomen- caput medusae

Abdomen-obese
Abdomen-hepatomegaly

Palpasi abdomen

Informasi yang diperoleh dengan palpasi berbeda-beda tergantung pada perhatian dan
ketelitian yang dicurahkan.Periksalah abdomen dengan hati-hati, lemah-lembut, dan tidak
tergesa-gesa. Palpasi yang dilakukan secara tergesa-gesa,tangan yang dingin, atau pemeriksaan
yang dilakukan secara sepintas lalu akan menggagalkan usaha anda.

Jika ada alasan untuk mencurigai kelainan atau nyeri di suatu daerah, palpasilah daerah
tersebut pada saat terakhir. Dengan memakai bantalan jari-jari dan tangan yang sejajar
dengan abdomen, mula-mula palpasilah tiap sektor dengan perlahan-lahan dan dengan lemah-
lembut. Seorang pasien yang tegang dapat menjadi lebih santai jika sendi panggul dan sendi
lututnya difleksikan dan hanya tumitnya yang berada pada meja periksa. Pada tiap daerah
pemeriksaan, secara perlahan-lahan tingkatkanlah tekanan tangan yang memeriksa sampai
anda puas dengan hasilnya. Jika anda merasa perlu memeriksa lebih dalam lagi, letakkanlah
tangan lainnya pada tangan yang melakukan palpasi untuk menambah tekanan. Untuk
membantu mencapai bagian dalam abdomen, mintalah pasien untuk bernafas perlahan-lahan
dan dalam-dalam. Pada tiap ekspirasi abdomen turun, dan posisi ini dipertahankan sampai
ekspirasi berikutnya, dimana tangan dimasukkan lebih dalam lagi.

Pemeriksa yang berpengalaman akan mengalihkan perhatian pasien selama pemeriksaan


dengan membicarakan hal-hal ringan. Perhatikanlah wajah pasien untuk melihat tanda-tanda
perasaan tidak enak selama palpasi.

Palpasi bimanual yang sebenarnya bermanfaat untuk mengetahui garis bentuk organ, struktur
vaskuler, atau massa dengan mempalpasi kedua sisi berlawanan struktur tersebut. Ini dilakukan
dari depan kebelakang melalui pinggang atau dengan menekan kedua sisi struktur tersebut di
bagian anterior.

Ballotement bermanfaat, terutama kalau abdomen tersebut besar atau penuh dengan cairan.
Cara ini dapat memperlihatkan adanya massa atau pembesaran organ yang tidak dapat
diketahui dengan palpasi biasa. Ujung jari tangan ditekankan dengan gerak menusuk yang
cepat kedalam abdomen, yang untuk sementara memindahkan cairan yang berada diatasnya.

Palpasi abdomen yang menggelembung membantu dalam membedakan dilatasi usus, cairan,
dan lemak. Diantara ketiga keadaan ini, hanya cairan yang akan menghantarkan gelombang
tekanan. Mintalah asisten anda untuk menekan garis tengah dengan pinggir
tangannya.Letakkanlah satu tangan anda di pinggang dan ketuklah pinggang yang berlawanan
dengan ujung jari tangan anda. Jika ada cairan bebas, tangan yang melakukan palpasi akan
merasakan adanya benturan gelombang cairan.

Nyeri tekan pantulan adalah suatu tanda penting untuk adanya iritasi peritoneum. Tangan
yang melakukan palpasi secara perlahan-lahan dan dengan lemah-lembut ditekankan dalam
dalam ke dalam abdomen dan kemudian secara tiba-tiba dilepaskan. Ketika peritoneum
kembali ke posisi semula, pasien dapat menggerenyit atau berteriak. Jika demikian,
tanyakanlah dengan segera tempat iritasi maksimum. Kadang-kadang letaknya jauh sekali dari
jari-jari anda yang melakukan palpasi. Penarikan umbilikus kadang-kadang dapat dipakai
untuk memperlihatkan peradangan peritoneum.

Gelombang peristaltik dapat teraba dimana saja di dalam abdomen dan biasanya
menunjukkan obstruksi mekanis, baik persial maupun hamper lengkap.

Pada palpasi yang dilakukan di daerah hipokondrium kanan mungkin ditemukan pembesaran
hati atau kandung empedu. Tepi hati mungkin dapat diraba pada orang normal. Kalau teraba,
lebarnya harus ditentukan dengan perkusi. Pada palpasi hati, letakkan tangan kiri anda pada
iga kanan bawah dan arahkanlah jari-jari tangan kanan anda ke arah bahu kanan, dan
lakukanlah penekanan. Mintalah pasien untuk menarik nafas dalam. Tepi hati akan terasa
menyentuh ujung jari tangan anda ketika ia turun pada waktu inspirasi. Secara progresif,
lakukanlah palpasi lebih rendah sampai anda mencapai krista iliaka. Hati yang sangat
membesar lebih sering tidak di temukan ketimbang hati yang sedikit membesar.

Sebagai teknik alternatif, anda dapat meletakkan tumit tangan kiri anda pada margo kosta dan
melengkungkan jari-jari tangan anda di atas tepi hati ketika pasien sedang menarik nafas.
Pembesaran lobus kiri hati dapat melintasi garis tengah dan sampai ke hipokondrium kiri.
Kalau hati teraba, perhatikanlah apakah tepinya tidak nyeri, nyeri tekan, tajam, atau tumpul.
Yang terakhir ini merupakan tanda pembengkakan yang merata.

Kalau timbul kecurigaan bahwa pasien menderita penyakit akut pada kandung empedu, nyeri
tekan pada kuadran kanan atas dapat memberikan petunjuk yang bermanfaat. Tanda Murphy
diperoleh dengan meletakkan tangan kiri pada iga kanan pasien dan menyangkutkan ibu jari
anda di atas margo kosta. Mintalah pasien untuk menarik nafas dalam ketika anda berusaha
menjepit kandung empedu yang sedang meradang di antara ibu jari anda dan margo kosta.
Pasien akan tersendat-sendat ketika ia menarik nafas dalam, dan ia akan mengalami nyeri tekan
kalau anda mempalpasi kandung empedu tersebut. Demikian pula, nyeri tekan dapat
diperlihatkan dengan palpasi dalam secara langsung dengan jari tangan anda ketika pasien
sedang menarik nafas dalam.Anda dapat menggetarkan hati dengan melakukan perkusi dengan
telapak tangan anda pada iga dan memperlihatkan nyeri tekan di daerah hati tersebut.

Palpasi dalam pada epigastrium biasanya menimbulkan nyeri tekan pada pasien normal.
Lobus kiri hati dapat membesar dan mencapai daerah ini, dan ditemukan sebagai suatu massa
yang teraba pada palpasi. Pankreas bersilangan dengan tulang belakang di daerah ini, dan
lambung terletak di antaranya dan jari-jari yang melakukan palpasi.

Hipokondrium kiri mengandung fundus lambung, limpa dan ginjal kiri. Pembesaran limpa
paling baik di deteksi dengan palpasi yang dilakukan dengan cara yang sama seperti palpasi
hati. Sokonglah margo kosta kiri dengan tangan kiri anda dan masukkanlah secara perlahan-
lahan jari-jari tangan anda ke dalam daerah subkosta ketika pasien menarik nafas secara
perlahan-lahan dan dalam-dalam.Jika anda merasa tidak pasti tentang pembesaran limpa,
gulingkanlah tubuh pasien kearah anda sehingga berada dalam posisi dekubitus lateral kanan
untuk mendorong organ tersebut ke arah lebih superior dan anterior. Mungkin sangat sulit
untuk membedakan limpa yang besar dengan ginjal yang besar. Yang terakhir ini biasanya
akan turun menjauhi jari-jari tangan anda ketika anda berusaha mendekati margo kosta. Juga,
ginjal tidak bergerak pada waktu inspirasi.

Pinggang mengandung ginjal. Pada palpasi bimanual, satu tangan terletak di belakang dan satu
lagi di depan, seringkali anda dapat meraba ginjal kanan pada orang kurus dan, kadang-
kadang,kutub bawah ginjal kiri.

Daerah umbilikus perlu mendapat perhatian khusus. Umbilikus lazim menjadi tempat hernia.
Tekankanlah jari tangan anda ke dalam pusat. Pada hernia, anda akan meraba suatu cincin fasia
yang berbatas tegas di sekitar suatu depresi lunak di bagian tengah. Keganasan intraabdomen
dapat menjalar ke daerah ini sebagai Sister Mary Joseph node. Aorta abdominal terletak di
bawah dan sedikit di atas dan di sebelah kiri umbilikus. Palpasilah secara bimanual pada kedua
sisi aorta untuk mengetahui diameter lateralnya. Pulsasi lateral merupakan tanda bahwa anda
memang memegang kedua sisi pembuluh darah ini dan tidak di atasnya. Pada orang yang
berusia lanjut, ektasia mungkin sulit dibedakan dari aneurisma sejati. Tepat di bawah
umbilikus, aorta bercabang di atas promontorium sakrum. Lordosis yang menonjol dan
abdomen yang tipis dapat membuat promontorium ini jelas kelihatan.

Daerah iliaka kanan mengandung titik Mc Burney daerah dengan nyeri tekan maksimum
pada apendisitis, kira-kira di pertengahan antara umbilikus dengan spina iliaka anterior
superior. Di daerah iliaka kanan sering di temukan dilatasi sekum. Ia akan teraba seperti massa
berbentuk sosis lunak dan mungkin nyeri tekan kalau di guling-gulingkan di antara ujung-ujung
jari tangan. Tepat di sebelah medialnya terdapat ovarium kanan, yang dapat di palpasi kalau
mengalami pembesaran patologik, meskipun untuk kepastiannya perlu di lakukan pemeriksaan
pelvis. Demikian pula di sebelah kiri, sigmoid atau ovarium kiri dapat di temukan di daerah
fosa iliaka kiri.

Hipogastrium mengandung kandung kemih dan uterus, yang kalau membesar dapat di
tentukan garis bentuknya dengan palpasi.

Palpasi

Hati

Palpasi
dengan
jari-jari
yang fleksi
pada sendi
metakarpof
alangea
dengan sisi
telunjuk
sejajar
dengan
hati, saat
penderita
bernapas
agak
dalam.
Mulai kira-
kira 10 cm
di bawah
tepi iga dan
kemudian
ke atas ke
arah tepi
iga-iga.

Lukiskan
posisi tepi
hati dalam
cm di
bawah tepi
iga pada
garis mid-
klavikular.
Raba tepi
hati untuk
menentuka
n:

K
o
n
s
i
s
t
e
n
s
i

R
e
g
u
l
a
r
a
t
a
u
i
r
e
g
u
l
a
r

N
y
e
r
i
t
e
k
a
n

P
u
l
s
a
s
i

Perkusi
tepi atas
dan tepi
bawah hati
setelah
palpasi
untuk
memastika
n kelainan
yang
dijumpai.B
ila hati
tidak
teraba dan
hipokondri
um kanan
pekak, hati
mungkin
meluas ke
hipogastriu
m. Palpasi
tepi bawah
kea rah
bawah.
Bila hati
membesar:

K
e
r
a
s

I
r
e
g
u
l
a
r
?
M
e
t
a
s
t
a
s
i
s

T
i
d
a
k
n
y
e
r
i
t
e
k
a
n

M
e
m
b
e
s
a
r

K
e
r
a
s
l
i
c
i
n

T
i
d
a
k
n
y
e
r
i
t
e
k
a
n
?
S
i
r
o
s
i
s

M
e
m
b
e
s
a
r
?
L
i
m
f
o
m
a

L
i
c
i
n
?
G
a
g
a
l
j
a
n
t
u
n
g
k
o
n
g
e
s
t
i
f

N
y
e
r
i
t
e
k
a
n
?
A
l
k
o
h
o
l

M
e
m
b
e
s
a
r
?
I
n
f
e
k
s
i

Limpa

Seperti pada hati,


palpasi 10 cm di
bawah pinggir iga
pada
hipokondrium,
lakukan ke atas
kea rah iga-iga.

Minta penderita
untuk menarik
napas dalam,
untuk mendorong
limpa ke bawah
sehingga dapat di
palpasi.

Bila limpa tidak


teraba, periksa
daerah pekak dari
limpa dengan
perkusi-limpa
dapat membesar
hingga ke daerah
hipogastrium.Bila
terdapat
kecurigaan bahwa
limpa, sedikit
membesar,
baringkan
penderita pada sisi
kanan dengan
lengan kiri
tergantung bebas
di depan dan raba
kembali pada
inspirasi dalam.
Sifat-sifat dari
limpa :

T
e
m
p
a
t

B
e
n
t
u
k
(
?
c
e
k
u
n
g
a
n
)

T
i
d
a
k
d
a
p
a
t
m
e
r
a
b
a
b
a
g
i
a
n
a
t
a
s
n
y
a

B
e
r
g
e
r
a
k
p
a
d
a
r
e
s
p
i
r
a
s
i

P
e
k
a
k
p
a
d
a
p
e
r
k
u
s
i

Lukiskan seperti
pada hati. Limpa
sangat membesar :

?
L
e
u
k
e
m
i
a
m
y
e
l
o
i
d
k
r
o
n
i
k

?
M
i
e
l
o
f
i
b
r
o
s
i
s

Ginjal
Palpasi bimanual

Dorong ke atas dengan


tangan kiri pada sudut
ginjal dan raba ginjal dari
anterior dengan
menggunakan tangan
kanan.

Minta penderita untuk


bernapas dalam supaya
ginjal berada di antara
kedua tangan. Nyeri pada
ginjal sering bila terdapat
infeksi. Ginjal yang besar
mungkin menunjukkan
suatu tumor, penyakit
polikistik, atau
hidronefrosis.

Massa

Palpasi dengan teliti seluruh


abdomen

Bila di temukan massa, lukiskan :

Tempat.

Ukuran.

Bentuk.

Konsistensi-feses
mungkin
mencekung
(indented) dengan
penekanan.

Terfiksasi atau
dapat di gerakkan-
apakah bergerak
pada respirasi?

Nyeri tekan.

Pulsasi-
penyebaran pulsasi
dari aorta atau
pembengkakan
yang berpulsasi.

Pekak pada
perkusi-terutama
penting dalam
penentuan apakah
usus terdapat di
depan massa.

Apakah berubah
setelah defekasi
atau miksi?

Aorta

Palpasi pada garis tengah di atas


umbilikus untuk massa yang berpulsasi.
Bila dengan mudah teraba, mungkin
normal pada penderita kurus atau
aneurisma besar-ekspansif-bruit.

Pemeriksaan palpasi abdomen :

Tepi hati

Ujung limpa

Semua massa

Perhatikan nyeri
tekan

Nyeri pantulan

Defense musculare

Pemeriksaan untuk
gelombang cairan
kalau perlu

Penemuan-penemuan lazim pada palpasi abdomen

Nyeri tekan setempat atau umum harus dibedakan. Pasien yang mengalami nyeri tekan dapat
menegangkan otot-otot perutnya secara volunteer atau involunter. Penegangan otot-otot perut
yang terjadi secara volunter dapat di atasi dengan mengalihkan perhatian pasien, sedangkan
defense musculare yang sejati atau rigiditas tidak berada di bawah kendali kesadaran.
Abdomen yang benar-benar kaku menunjukkan peradangan peritoneum di bawahnya, yang
secara refleks menyebabkan spasme pada otot-otot abdomen. Dalam keadaan seperti itu, daerah
yang sakit akan teraba seperti kayu atau papan. Pada keadaan ini, penarikan umbilikus dapat
membantu menentukan adanya peritonitis, karena akan timbul nyeri tekan yang jelas. Ini
adalah daerah di mana peritoneum melekat pada kulit tanpa di halangi oleh otot.

Nyeri tekan pantulan adalah tanda penting peradangan peritoneum yang biasanya menyertai
Defense musculare sejati dan rigiditas. Jangan kacaukan dengan varian normal. Palpasi dalam
dada epigastrium biasanya menimbulkan nyeri tekan pada orang normal, demikian pula palpasi
aorta dan daerah hipogastrium pada banyak wanita. Ingatlah bahwa lobus kiri hati normal dapat
mencapai epigastrium dan menjadi massa yang dapat di palpasi.
Perkusi abdomen

Seperti di tempat-tempat lainnya, perkusi menggambarkan batas-batas statik antara jaringan-


jaringan dengan kepadatan yang berbeda-beda. Tekniknya sama seperti pada perkusi thoraks.
Jari pasif yang di letakkan dengan hati-hati di abdomen di ketuk oleh jari pleksor dengan
ketukan stakato, dan bunyi serta resistensinya di perhatikan.

Jika tepi hati telah teraba di hipokondrium kanan, anda harus menentukan apakah ia benar-
benar membesar atau hanya terdorong ke bawah. Lakukanlah perkusi pada paru-paru anterior
yang resonan dan bergeraklah ke bawah sampai pekak hati menunjukkan batas atas.Lebarnya
berbeda-beda dari pasien ke pasien, tetapi ukuran yang melebihi 12 cm mungkin abnormal.
Perkusi di daerah epigastrium dan hipokondrium kiri menimbulkan bunyi timpani karena
adanya gelembung gas di dalam lambung.

Pekak limpa seringkali di temukan di antara sela iga kesembilan dan kesebelas, di garis aksila
anterior. Pembesaran limpa yang ringan bermanifestasi sebagai perubahan timpani menjadi
pekak ketika sela iga terbawah di perkusi dan pasiennya menarik nafas dalam tanda perkusi
limpa. Pembesaran limpa dan ginjal dapat lebih di bedakan dengan bantuan perkusi. Ingatlah
bahwa fleksura lienika kolon terletak di belakang limpa tapi di depan ginjal. Seringkali terisi
dengan udara, ada atau tidak adanya timpani, bersama-sama dengan massa yang dapat di
palpasi, memberikan petunjuk yang jelas. Adanya massa tanpa timpani di kuadran kanan atas
mengarah pada pembesaran limpa. Massa dengan timpani menunjukkan pembesaran ginjal.

Timpani menunjukkan udara. Udara tersebut mungkin berada di dalam gelung usus yang
mengalami distensi atau terdapat bebas di dalam abdomen. Bersama-sama dengan cara-cara
lainnya, lokasi timpani dapat menentukan tempat obstruksi.

Perkusi memastikan dan memperjelas banyak penemuan pada palpasi. Nyeri pekak pantulan
dapat diperoleh dengan perkusi dan juga dengan palpasi. Pekak yang berpindah menunjukkan
asites. Cairan bebas menunjukkan usus yang mengandung udara terapung-apung di bagian
paling atas, dan kenyataan ini di manfaatkan dengan perkusi. Pada pasien yang berbaring,
mulailah perkusi di garis tengah dan bergeraklah ke kedua pinggang. Tandailah dengan pena
anda tempat di mana resonansi berubah menjadi pekak. Gulingkanlah tubuh pasien ke salah
satu sisi dan ulangilah prosedur itu pada sisi yang lebih rendah. Gulingkanlah tubuh pasien ke
sisi lainnya dan ulangi. Hal ini di sebut shifting dullness.Jarak antara garis-garis yang di buat
ketika pasien telentang dan ketika tubuhnya di gulingkan menunjukkan jumlah cairan karena
permukaan cairan akan selalu rata.

Ada dua sumber kesalahan potensial. Kadang-kadang perpindahan usus yang relative tidak
mengandung udara akan memberikan hasil positif palsu, dan cairan peritoneal yang terlokalisir
akan memberikan hasil negative palsu. Contoh khas keadaan yang terakhir ini adalah kista
ovarium. Kista ini dapat berukuran besar sekali dan terlihat sebagai distensi abdomen yang
sangat menyolok. Meskipun demikian, cairannya trdapat di dalam suatu ruang tertentu. Pada
keadaan ini di jumpai dua petunjuk : pertama, umbilikus tidak menonjol keluar; dan kedua,
pekak cairan tetap terdapat di bagian anterior pada pasien yang berada dalam posisi berbaring,
dan usus yang resonan terdorong ke bawah dan lateral tepat kebalikan asites bebas.

Pada kasus asites yang meragukan, berusahalah menemukan puddle sign (tanda genangan).
Suruhlah pasien untuk berdiri di atas empat anggota tubuhnya. Sekarang cairan akan tergenang
di umbilikus, di mana anda akan dapat menemukan daerah yang pekak.

Pemeriksaan perkusi abdomen : Ukuran hati dan limpa


M
a
s
s
a

P
e
m
e
r
i
k
s
a
a
n
p
i
n
d
a
h
n
y
a
p
e
k
a
k
k
a
l
a
u
p
e
r
l
u

Penemuan-penemuan pada perkusi abdomen

Perkusi memastikan penemuan-penemuan yang di peroleh dengan palpasi. Pekak alih


menunjukkan adanya asites, pekak yang menetap menunjukkan massa, dan timpani
menunjukkan adanya gas.
Auskultasi Abdomen

Auskultasi ialah salah satu dari bagian pemeriksaan fisik, dengan cara mendengarkan suara
melalui stetoskop. Auskultasi sebaiknya dilakukan sebelum palpasi atau perkusi agar tidak
merangsang timbulnya peristaltik. Auskultasi memberikan infromasi tentang kejadian dinamik.
Sumber suara abdomen mencakup peristaltik dan struktur vaskuler. Aktivitas peristaltik
memancarkan berbagai macam suara bergelembung ketika permukaan antara air dan udara
berubah dengan adanya gelombang kontraksi. Perubahannya adalah dalam hal intensitas,
frekuensi dan nadanya. Intensitas berkaitan dengan kekuatan peristaltik, frekuensi berkaitan
dengan kecepatan gelombang, dan nada berhubungan dengan ketegangan dinding visera.
Pemeriksaan auskultasi yang dilakukan pada abdomen adalah pemeriksaan:

Bising usus: Bising usus


disebabkan bunyi udara
dan cairan dalam usus
yang bergerak karena
peristaltik usus. Bising
usus didengarkan bila
terdapat tanda abnormal,
misalnya nyeri abdomen.
Peristaltik usus halus
cenderung bernada tinggi
ketimbang gemuruh
panjang kolon yang
bernada rendah.
Dengarkan pada seluruh
abdomen dengan
stetoskop diafragma kira-
kira 10-15 detik atau 1
menit. Normal bising usus
akan terdengar 13 kali per
menit. Bila peristaltik
meningkat seperti pada
diare atau gastroenteritis
bising usus terdengar 10-
15 kali per menit. Bila
selama 3-10 menit tidak
terdengar sekalipun bising
usus, keadaan ini disebut
"silent abdomen",
misalnya terdapat pada
peritonitis dan ileus
paralitikus. Pada
Obstruksi usus
memberikan bising usus
hiperaktif atau berdenting.
Pada obstruksi usus,
didapat nyeri kolik disertai
dengan bising usus yang
meningkat dan amat
nyaring.

Arterial bruit:Berasal
dari arteri,menunjukan
aliran turbulen didalam
pembuluh darah yang
berdilatasi, menyempit
atau berkelok. Setiap arteri
besar dalam abdomen
dapat menjadi sumber
bising. Arterial bruit
terdengar pada fase
sistolik jantung bersamaan
atau tepat setelah ictus
cordis. Arterial bruit juga
harus bisa dibedakan
dengan bising jantung
yang menyebar dan
berasal dari jantung. Aorta
abdominalis paling baik
didengar tepat diatas
pembuluh darah di
epigastrium, arteri
hepatica di hipokondrium
kanan, arteri lienalis di
hipokondrium kiri. Bising
arteri lienalis penting
karena stenosis arteri
renalis mungkin
merupakan penyebab
hipertensi.

Venous hum: Lebih halus


terdengarnya daripada
arterial bruit dan nadanya
lebih tinggi. Terdengar
sepanjang fase sistolik
maupan diastolic jantung.
Paling sering terdengar di
daerah umbilikalis atau
daerah hepar. Venuos hum
mingkin berasal dari vena
cava orang normal, tapi
mungkin juga terdengar
karena pasien menderita
sirosis hepatic dengan
hipertensi portal.

Friction rub: Bunyi ini


sama kedengarannya
seperti bunyi gesekan
pleura atau pericardial,
tapi terdengar bersamaan
dengan inspirasi dan
ekspirasi. Mungkin
terdengar di daerh hati
atau lien. Bunyi gesek
yang terdengar didaerah
hati mungkin dijumpai
pada hepatoma, atau
cholesystisis. Bunyi gesek
yang terdengar di daerah
lien mungkin disebabkan
oleh peradangan atau
infark limpa.

Gejala-gejala daerah
abdomen

Keluhan pada abdomen dapat berkaitan dengan kelainan lokal atau dapat disebabkan oleh
penyakit sistemik. Terdapat beberapa gejala atau kumpulan gejala yang karakteristik pada
suatu penyakit yang sering merupakan masalah bagi pasien untuk memperoleh pertolongan
medis. Gejala atau kumpulan gejala tersebut tak jarang menimbulkan persepsi atau interpretasi
yang berbeda diantara yang mengeluh, dalam hal ini pasien , dengan yang mendengarkan,
dalam hal ini dokter. Tidak jarang pula satu gejala medis tertentu diekspresikan secara berbeda-
beda, bergantung latar belakang pendidikan , sosial, atau budaya pasien. Sehingga diperlukan
tehnik anamnesis yang spesifik untuk menyamakan persepsi. Dibawah ini terdapat beberapa
simtom yang sering dikeluhkan oleh pasien didaerah abdomen, diantaranya:

DISPEPSIA
Merupakan kumpulan gejala/simtom atau sindrom yang terdiri dari keluhan nyeri ulu hati,
kembung, mual, muntah, sendawa, rasa cepat kenyang, rasa penuh/begah dan rasa panas di
dada/epigastrium. Keluhan ini tidak perlu selalu semua ada pada setiap pasien, dan bahkan
pada satu pasien pun keluhan dapat bervariasi dari segi jenisnya ataupun kualitasnya dari waktu
ke waktu.

Sindrom dyspepsia ini secara garis besar dapat disebabkan oleh gangguan lokal atau sistemik
serta oleh gangguan yang bersifat organik atau fungsional.

Etiologi

Gangguan pada lumen saluran cerna:


tukak peptik, tumor, gastritis.
Obat-obatan: anti-inflamasi nonsteroid,
antibiotic, digitalis, teofilin.

Penyakit pada hati, pancreas, dan saluran


empedu.

Penyakit sistemik: diabetes melitus,


penyakit tiroid, penyakit jantung koroner.

Fungional: dyspepsia fungsional atau


dispepsianon-ulkus.

Pendekatan Diagnostik

Anamnesis akurat untuk menilai apakah keluhan ini local


atau berdasarkan gangguan sistemik.

Pemeriksaan fisis untuk mengindentifikasi kelainan


intralumen yang padat misalnya massa intraabdomen,
tanda peritonitis, organomegali.

DIARE
Diare adalah meningkatnya frekuensi buang air besar, konsistensi feses menjadi cair, dan perut
terasa mules ingin buang air besar. Secara praktis dikatakan diare bila frekuensi buang air besar
lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi cair. Diare digolongkan keadaan akut atau bila telah
terjadi lebih dari 2 minggu digolongkan dalam diare kronik.

Diare Akut

Etiologi

Virus

Protozoa: Giardia lamblia, Entamoeba hystolitica.

Bakteri: yang memproduksi enterotoksin (S.aureus,


C.perfringens, E.coli, V.cholera, C.difficile) dan yang
menimbulkan inflamasi mukosa usus (Shigella,
Salmonella sp, Yersinia).

Iskemia intestinal.

Inflammatory bowel disease.

Colitis radiasi.

Pendekatan Diagnostik
Pada umumnya diare akut disebabkan infeksi atau toksin bakteri.

Adanya makan makanan tertentu (terutama makanan siap santap) dan


adanya keadaan yang sama pada orang lain, sangat mungkin merupakan
keracunan makanan yang disebabkan toksin bakteri.

Travelers diarrhea merupakan kejadian daire pada wisatawan.

Adanya riwayat pemakaian antibiotika yang lama, harus dipikirkan


kemungkinan diare karena C.diffficile.

Diare yang terjadi tanpa kerusakan mukosa usus (non-inflammatory)


dan disebabkan oleh toksin bakteri (terutama E.coli), biasanya
mempunyai gejala feses benar-benar cair, tidak ada darah, nyeri perut
terutama daerah umbilicus (karena kelainan terutama daerah usus
halus),kembung, mual, dan muntah. Bila muntahnya sangat mencolok,
biasanya disebabkan oleh virus atau S.aureus dalam bentuk keracunan
makanan.

Bila diare dalam bentuk bercampur darah, lender dan disertai demam,
biasanya disebabkan oleh kerusakan mukosa usus yang ditimbulkan
oleh invasi Shigella, Salmonella atau amebiasis. Daerah yang terkena
adalah kolon.

Pada umumnya diare akut bersifat sembuh sendiri dalam 5 hari dengan
pengobatan sederhana yang disertai rehidrasi.

Diare Kronik

Etiologi

Pada umumnya etiologi diare kronik dapat dikelompokkan dalam 4 kategori patogenesis
terjadinya.

diare osmotic: disebabkan oleh osmolalitas intralumen usus lebih tinggi dari
dalam serum. Hal ini terjadi pada intoleransi laktosa, obat laksatif (laktulosa,
magnesium sulfat), obat (antacid).

Diare sekretorik: terjadinya sekresi intestinal yang berlebihan dan berkurangnya


absorpsi menimbulkan diare yang cair dan banyak. Pada umumnya disebabkan
tumor endokrin, malabsorpsi garam empedu, laksatif katartik.

Diare karena gangguan motilitas: hal ini disebabkan transit usus yang cepat atau
justru karena terjadinya statis yang menimbulkan perkembangan bakteri
intralumen yang berlebihan. Penyebab yang klasik adalah irritable bowel
syndrome.

Diare inflamatorik: disebabkan oleh factor inflamasi seperti inflammatory


bowel disease.
Malabsorpsi: pada umumnya disebabkan oleh penyakit usus halus, reseksi
sebagian usus, obstruksi limfatik, defisiensi enzim pancreas, dan pertumbuhan
bakteri yang berlebihan.

Infeksi kronik: seperti G.lamblia, E.hystolitica, nematode usus atau pada


keadaan immunocompromized.

Pendekatan Diagnostik

Bila dengan puasa diare berkurang, biasanya disebabkan diare osmotic

Adanya penurunan berat badan yang bermakna, harus diwaspadai kemungkinan


suatu keganasan saluran cerna (terutama tumor kolon).

Anamnesis yang akurat pada umumnya akan mendekatkan kita pada


kemungkinan patogenesisnya.

KONSTIPASI
Konstipasi adalah persepsi gangguan buang air besar berupa berkurangnya
frekuensi buang air besar, sensasi tidak puasnya buang air besar, terdapat rasa
sakit, harus mengejan, atau feses keras. Disepakati bahwa buang air besar yang
normal frekuensinya adalah 3 kali sehari sampai 3 hari sekali. Dalam praktek
sehari-hari dikatakan konstipasi bila buang air besar berkurang dari 3 kali
seminggu atau lebih dari 3 hari tidak buang air besar atau dalam buang air besar
harus mengejan secara berlebihan.

Etiologi

Pola hidup: diet rendah serat, kurang minum, kebiasaan buang


air besar yang buruk, kurang olah raga.

Obat-obatan: antikolinergik, penyekat kalsium, alumunium


hidroksida, suplemen besi dan kalsium, opiate (morfin, kodein).

Kelainan stuktural kolon: tumor, striktur, hemoroid, abses


perineum, megakolon.

Penyakit sistemik: hipotiroidisme, gagal ginjal kronik, diabetes


mellitus.

Penyakit neurologis: Hirschprung, lesi medulla spinalis,


neuropati autonom.

Disfungsi otot dinding dasar pelvis.

Idiopatik: transit kolon yang lambat, pseudo-obstruksi kronik.

Pendekatan Diagnostik
Anamnesis yang akurat untuk mendeteksi adanya
penurunan berat badan, pendarahan saluran
cerna, riwayat keluarga kanker, pola buang air
besar sebelumnya.

Pemeriksaan fisis untuk menilai keadaan sistemik


dan local, terutama tanda adanya massa intra
abdomen, peristaltic usus dan tidak boleh
dilupakan adalah colok dubur.

NYERI PERUT
Nyeri perut dapat merupakan variasi kondisi dari
yang sangat ringan sampai yang bersifat fatal.
Dapat berasal dari nyeri viseral abdomen akibat
rangsang mekanik (seperti regangan, spasme)
atau kimiawi (seperti inflamasi, iskemia). Nyeri
viseral ini bersifat tumpul, rasa terbakar dan
samara batas lokasinya. Sedangkan nyeri
peritoneum parietal lebih bersifat tajam dan
lokasinya lebih jelas. Ujung saraf nyeri pada
organ padat seperti hati dan ginjal terbatas pada
kapsula-nya,jadi rasa nyeri timbul bila ada
regangan karena pembesaran organ. Referred
pain dapat dijelaskan pada keadaan di mana serat
nyeri viseral dan serat somatic berada pada satu
tingkat di susunan saraf spinal.

Etiologi

Inflamasi peritoneum parietal:


perforasi, peritonitis, apendistis,
divertikulitis, pankreatitis,
kolesistitis.

Kelainan mukosa viseral: tukak


peptik, inflammatory bowel
disease, colitis infeksi, esofagitis.

Obstruksi visceral: Ileus


obstruksi, kolik bilier atau renal
karena batu.

Regangan kapsula organ:


hepatitis, kista ovarium,
pielonefritis.

Gangguan vascular: iskemia atau


infark intestinal.
Gangguan motilitas: irritable
bowel syndrome, dyspepsia
fungsional.

Ekstra abdominal: herpes, trauma


muskuloskletal, infark miokard
dan paru dan lainnya.

Pendekatan Diagnostik

Berdasarkan lokasi nyeri:

Lokasi nyeri Dugaan sum


Kuadran kanan atas Hepar, Kantung empe
Kuadran kanan bawah Appendik, Usus halu
Kuadran kiri atas Pankreas, gaster, duo
Kuadran kiri bawah Ginjal, ovarium, kolo
Difus Pancreas, gaster, aort

Kualitas nyeri: perlu


diketahui kualitas rasa
nyeri tersebut. Hal ini
tidak mudah, terutama di
Indonesia, di mana
ekspresi bahasa tidak
sama untuk
menggambarkan rasa
nyeri. Pada dasarnya harus
dibedakan rasa nyeri kolik
seperti pada obstruksi
intestinal dan bilier, rasa
nyeri yang bersifat tumpul
seperti pada batu ginjal,
rasa seperti diremas pada
kolesistitis, rasa panas
seperti pada esofagitis,
apendisitis menimbulkan
rasa nyeri tumpul dan
menetap.

Intensitas nyeri: pada


keadaan akut, intensitas
nyeri relative dapat diurut
berdasarkan intensitas
nyeri yang paling hebat
sampai ke relative ringan
sebagai berikut; perforasi
ulkus, pankreastitis akut,
kolik ginjal, ileus
obstruksi, kolesistitis,
apendisitis, tukak peptic,
gastroenteritis, dan
esofagitis. Sedangkan
pada nyeri kronik lbih sulit
menentukannya karena
banyak factor psikologis
yang turut berperan.

Factor yang mencetuskan


dan factor yang
meringankan nyeri: nyeri
perut yang dapat
diringankan dengan
minum antacid dapat
diperkirakan menderita
tukak peptic (terutama
tukak duodenum). Nyeri
pada penyakit pancreas
sering terjadi setelah
makan, dan juga pada
iskemia intestinal. Pada
penyakit kolon, rasa nyeri
berkurang setelah buang
air besar.

Harus juga ditelusuri


gejala sistemik lain yang
menyertainya.
Dugaan sumber penyakit
berdasarkan lokasi nyeri.

PEMERIKSAAN FISIK GENITALIA

A. Pemeriksaan fisik Genitalia wanita

1. Anatomi Alat Reproduksi

Alat reproduksi wanita dibagi menjadi 2: Alat


genitalia externa dan Alat genitalia interna.

Alat Genitalia Externa


Mons veneris adalah bagian yang menonjol di
atas simfisis dan pada wanita dewasa ditutupi
oleh rambut kemaluan. Pada wanita umumnya
batas atasnya melintang sampai pinggir atas
simfisis, sedangkan ke bawah sampai ke sekitar
anus dan paha.

Labia mayora terdiri atas bagian kanan dan kiri,


lonjong mengecil ke bawah, dan terisi oleh
jaringan lemak. Ke bawah dan ke belakang kedua
labia mayora bertemu dan membentuk
kommisura posterior.

Labia minora adalah suatu lipatan tipis dari kulit


sebelah dalam dari labia mayora.

Klitoris kira-kira sebesar kacang hijau dan terdiri


dari glans klitoridis, korpus klitoridis, dan dua
krura yang menggantungkan klitoris ke os pubis.

Vulva kurva berbentuk lonjong dengan ukuran


panjang dari muka ke belakang dan dibatasi di
muka oleh klitoris, kanan dan kiri oleh kedua
labia minora, dan di belakang oleh perineum.

Bulbus vestibuli sinistra et dextra terletak di


bawah selaput lendir vulva, dekat ramus os pubis.

Introitus vagina mempunyai bentuk dan ukuran


yang berbeda-beda.
Perineum yang terletak antara vulva dan anus,
panjangnya rata-rata 4 cm.

Alat Genitalia Interna

Vagina adalah suatu penghubung antara introitus


dan uterus. Bentuk vagina sebelah dalam yang
berlipat-lipat disebut rugae, di tengah-tengahnya
ada bagian yang lebih keras disebut kolumna
rugarum. Di vagina tidak didapatkan kelenjar-
kelenjar bersekresi. Epitel vagina terdiri dari
epitel gepeng tidak bertanduk, dibawahnya
terdapat jaringan ikat yang mengandung banyak
pembuluh darah.

Vagina mendapat darah dari:

Arteria uterina yang memberikan


darah ke bagian sepertiga atas
vagina.

Arteria vesikalis inferior yang


memberikan darah ke bagian
sepertiga tengah vagina.

Arteria hemoroidalis mediana dan


Arteria pudendus interna yang
memberikan darah ke bagian
sepertiga bawah vagina.
Uterus berbentuk seperti buah advokat atau buah
peer yang sedikit gepeng ke arah muka belakang.
Ukurannya sebesar telur ayam dan mempunyai
rongga. Uterus terdiri dari fundus uteri, korpus
uteri, dan serviks uteri. Uterus ini sebenarnya
terapung-apung dalam rongga pelvis dengan
jaringan ikat dan ligamenta yang menyokongnya.

Ligamenta yang menyokongnya adalah:

Ligamentum kardinale
(Mackenrodt).

Ligamentum sakro-uterina.

Ligamentum rotundum.

Ligamentum latum.

Ligamentum infundibulo-
pelvikum.

Uterus diberi darah oleh Arteria uterina sinistra et


dextra yang terdiri dari ramus asenden dan ramus
desenden. Pembuluh darah ini berasal dari
Arteria iliaka interna (Arteria hipogastrika).
Pembuluh darah lain yang memberi darah ke
uterus adalah Arteria ovarika sinistra et dextra.

Tuba falloppii terdiri atas pars interstisialis, pars


ismika, pars ampullaris, dan infundibulum.

Ovarium adalah kurang lebih sebesar ibu jari


tangan dengan ukuran panjang kira-kira 4 cm,
lebar dan tebal kira-kira 1,5 cm. Wanita pada
umumnya mempunyai dua ovarium kiri dan
kanan.

2. Pemeriksaan Pelvis

Pemeriksaan pelvis yang dilakukan oleh seorang


dokter pria harus ditemani oleh asisten wanita.
Usahakanlah agar pasien tetap santai dengan
memberitahukannya tentang setiap bagian
pemeriksaan dan mengajaknya berpartisipasi
sepanjang pemeriksaan dilakukan.

Pastikan bahwa pasien baru saja buang air kecil.


Posisi litotomi merupakan posisi yang terbaik
untuk melakukan pemeriksaan. Periksalah
dengan inspeksi rambut pubis, perineum, dan
genitalia externa untuk melihat adanya
peradangan dan anatomi abnormal. Di bagian
anterior, periksalah klitoris yang ditutupi kedua
labia mayora untuk melihat tanda-tanda iritasi,
ulkus, atau pembesaran. Di bawah klitoris di garis
tengah, terdapat meatus uretra. Carilah jaringan
yang meradang dan pengeluaran sekret. Di
samping uretra, periksalah himen, kelenjar
parauretral, kelenjar bartolin, dan vestibulum
vagina. Jika dapat dilihat, membengkak dan nyeri
tekan, kemungkinan besar disebabkan oleh
infeksi

Lanjutkan dengan pemeriksaan spekulum.


Pertama, lumasi spekulum dengan air lalu
masukkan jari-jari tangan yang memakai sarung
tangan, lakukanlah penekanan ke arah posterior
dan masukkan spekulum dalam posisi vertikal,
lakukan penekanan ke arah posterior dan putarlah
spekulum tersebut dan bukalah.
Visualisasikanlah serviks dan dinding vagina.

Pemeriksaan bimanual dilakukan dengan


tujuan untuk meraba uterus dan adneksa, antara
tangan pada vagina dan tangan pada abdomen
dan untuk mengkombinasikan palpasi vagina dan
rektum dengan palpasi abdominal, untuk
menggambarkan organ-organ yang terdapat
dalam rongga pelvis. Satu atau dua jari tangan
vaginal kita basahi dengan bahan pelicin dan
dengan hati-hati kita masukkan ke dalam
introitus vagina. Rabalah dinding vagina sambil
anda terus memasukkan jari anda lebih dalam dan
kalau jari anda telah menyentuh serviks, maka
perhatikan konsistensi serviks dan adanya lesi-
lesi yang telah ada sebelumnya. Selain itu,
perhatikan adanya perasaan nyeri atau
pergerakan serviks. Kemudian letakkan jari anda
ke forniks posterior dan dengan tangan anda yang
lain, lakukan palpasi pada garis tengah abdomen
kira-kira sepertiga jarak ke umbilikus. Kemudian
dengan mempergunakan jari vaginal, angkatlah
serviks dan uterus ke atas agar anda dapat meraba
kedua tangan anda. Perhatikan kedudukan,
ukuran, bentuk, konsistensi, nyeri tekan, dan
mobilitas uterus.

Setelah melakukan pemeriksaan bimanual, maka


lakukan pemeriksaan gabungan rekto-vaginal
untuk menilai tonus m.sfingter ani dan
kompetensinya, dan untuk menemukan adanya
hemoroid dan penyakit rektum lainnya. Kalau
anda telah selesai melakukan pemeriksaan ini,
perhatikan jari rektal anda akan kemungkinan
adanya darah dan warna tinja.

B. Pemeriksaan Fisik Genitalia Pria

Anatomi Genitalia Pria


Penis

Batang penis dibentuk oleh 3


kolumna dari jaringan erektil
pembuluh darah yaitu korpus
spongiosum ( berisi uretra) dan 2
korpora kavernosa. Korpus
spongiosum membentuk bulbus
penis yang berakhir pada glans
dan bagian yang melebarnya
(corona). Pada laki-laki yang
belum disirkum, glans ditutup
oleh preputium dimana smegma
terkumpul. Sedangkan letak uretra
adalah di ventral dari batang
penis. Normalnya meatus uretra
terletak di ventral dari ujung glans

Skrotum

Skrotum adalah suatu kantong


yang terdiri dari 2 kompartemen
yang berisi testis. Testis sendiri
berfungsi menghasilkan
spermatozoa an testosteron.
Testosteron tersebut yang akan
menstimulasi pertumbuhan
genetalia dan perkembangan sex
sekunder.
Kantong skrotum merupakan
suatu kantong kulit, otot polos dan
fasia yang terletak posteroinferior
terhadap dasar batang penis.
Kantong skrotum tidak simetris,
sisi kiri tergantung lebih rendah
daripada sisi kanan pada
kebanyakan pria dan lebih tinggi
daripada sisi kanan pada beberapa
pria. Setiap bagian dari kantong
yang terbagi ini terdiri dari testis,
epididimis dan kumpulan struktur
secara selektif yang dikenal
dengan korda spermatika; struktur
ini terdiri dari vas deferens, arteri
dan vena, limfatik dan suplai
saraf.

Kelenjar Prostat

Prostat merupakan struktur


glandular yang terletak di dalam
pelvis, sekitar 2 cm dorsal
terhadap simfisis pubis. Dua lobus
lateral dan lobus posterior dari
prostat dapat dinilai melalui
dinding rektum.

Riwayat kesehatan

Gejala yang perlu ditanyakan adalah :

Fungsi seksualnya, orientasi


seksual

Respon seksual : Libido, orgasme,


ejakulasi

Cairan yang keluar dari penis atau


lesi di penis

Skrotum : Nyeri, bengkak dan lesi

Menurunnya libido disebabkan faktor psikogenik


seperti depresi, dan juga disebabkan oleh
disfungsi endokrin dan efek samping obat.

Gangguan ereksi disebabkan faktor psikogenik,


menurunnya hormon testosteron, menurunnya
aliran darah pada sistem arteri hypogastrik,
gangguan pada inervasi persyarafan.

Ejakulasi dini disebabkan oleh obat,


pembedahan, gangguan neurologik, menurunnya
androgen dan psikogenik.

Keluarnya cairan dari penis bisa disebabkan oleh


gonococcal bila cairannya berwarna kuning dan
non gonococcal uretritis bila cairannya berwarna
jernih atau putih.

Pemeriksaan Fisik Genitalia Eksterna

Gaya berat mempermudah pemeriksaan genital


pria, terutama penilaian untuk hernia inguinalis.
Pasien diminta untuk berdiri dan pemeriksa
duduk berhadapan dengan pasien. Klinisi selalu
menggunakan sarung tangan untuk memimpin
pemeriksaan. Daerah inguinal dan genital
seluruhnya terpapar, baik dengan

Meminta pasien untuk mengangkat dan


memegang gaunnya, atau menurunkan celana
dalamnya sampai lutut

PENIS

Inspeksi

Inspeksi penis meliputi :

a
.
K
u
l
i
t

Perhatikan kulit sekitar dasar


penis apakah ada ekskoriasi,
inflamasi dan perhatikan juga
rambut pubis

Ekskoriasi genital biasanya


disebabkan oleh kutu atau skabies

b. Prepusium ( kulit depan)


Bila belum disirkum, perhatikan
adanya retraksi prepusium atau
anjurkan pasien untuk meretraksi,
langkah ini penting untuk
mengetahui adanya chancre atau
carsinoma

Pimosis adalah suatu prepusium


yang melekat di mana prepusium
tidak dapat ditarik melampaui
glansnya. Sedangkan parapimosis
adalah prepusium yang melekat di
mana sekali prepusium ditarik,
tidak dapat dikembalikan sampai
bisa terjadi oedem.

Glans

Perhatikan adanya ulcus, jaringan


ikat, nodul atau tanda inflamasi.

Balanitis adalah radang pada


glans sedangkan balanoposthitis
adalah radang pada glans dan
prepusiumnya

Hipospadia adalah kelainan


kongenital di mana meatus
terletak pada inferior penis

Meatus uretra

Periksa posisi meatus uretra , periksa adakah


tanda-tanda peradangan atau sekret. Jangan
sentuh meatusnya kecuali jika biakan
diindikasikan, karena riwayat atau adanya
sekresi yang terlihat. Setelah inspeksi glans,
korona dan meatus uretra, perbaiki letak
preputium. Caranya adalah dengan menekan
glans di antara dua jari, jari telunjuk di atas dan
ibu jari di bawah. Buka meatus uretra sehingga
meatus terbuka dan memungkinkan kita melihat
cairan yang keluar dari meatus. Normalnya,
tidak ditemukan sekret.

Jika pasien mengatakan adanya


cairan keluar dari uretra tetapi
anda tidak melihat, maka suruh
dia melakukan gerakan mengurut
penis dari pangkal penis ke glans.
Atau bila perlu kita melakukannya
sendiri, sehinnga cairan bisa
terdorong keluar melalui meatus
uretra dan taruh di slide kaca
untuk pemeriksaan kultur.

Palpasi

Palpasi adanya abnormalitas pada


penis, adanya nyeri dan indurasi.

Indurasi di sepanjang permukaan


ventral penis, memberi kesan
adanya striktur uretra atau
karsinoma.

Rasa nyeri sekitar daerah indurasi


berarti adanya suatu peradangan
periuretra, akibat sekunder dari
striktur uretra.

SKROTUM DAN ISINYA

Inspeksi
Inspeksi skrotum meliputi:

Kulit

Lipat ke atas untuk


melihat bagian
permukaan
posterior,
perhatikan adanya
kulit kemerahan,
kista epidermoid
dan kemungkinan
kanker kulit.

Kulit kantong skrotum biasanya lebih


hiperpigmentasi dibandingkan dengan tempat
lain, tebal dan mempunyai rugae kasar. Bagian
skrotum kiri biasanya lebih panjang daripada
yang kanan sebagai akibat dari korda spermatika
kiri yang lebih panjang sehingga menyebabkan
skrotum tidak simetris. Kantong skrotum
memberikan respons terhadap rangsangan luar
dan sebagai contoh dapat terlihat berkontraksi
dan menebal jika ruangan dan tangan pemeriksa
dingin atau pasien gelisah.

Bentuk
perabaan dari
skrotum

Catat adanya
pembengkakan,
benjolan keras dan
vena-vena.

Adanya gangguan
perkembangan
skrotum pada satu
atau dua sisi,
kemungkinan
adanya
cryptorchidism(
undescensus
testikulorum).

Skrotum yang
bengkak dapat
disebabkan oleh ;
hernia inguinal
indirect, hidrokel,
dan skrotum yang
bengkak.

Adanya
pembengkakan
skrotum yang
nyeri dapat
disebabkan
epididimitis akut,
orkhitis akut,
hernia inguinal
strangulasi

Palpasi

a
.
P
a
l
p
a
s
i
m
a
s
i
n
g
-
m
a
s
i
n
g
t
e
s
t
i
s
d
a
n
e
p
i
d
i
d
i
m
i
s

Palpasi masing-
masing testis dan
epididimis,
menggunakan ibu
jari dan dua jari
pertama

Catat ukuran,
bentuk,
konsistensi, dan
rasa nyeri serta
rasakan adanya
nodul.

Penekanan pada
testis normalnya
menimbulkan rasa
nyeri viseral
dalam.

Adanya nyeri ringan pada nodul dalam pada testis


ada kemungkinan suatu kanker testikuler

b. Palpasi masing-
masing korda
spermatika(saluran
sperma) dan
vasdeferens
Palpasi korda spermatika termasuk vasdeferens,
telusuri dari epididimis sampai permukaan
kanalis inguinalis. Cari adanya nodul atau
pembengkakan. Pembengkakan dari skrotum dan
testis dapat dievaluasi secara transiluminasi.
Caranya denganm menggelapkan ruangan, sinari
bagian belakang skrotum dari arah belakang ke
massa yang dituju. Carilah perubahan sinar yang
berupa warna merah.

HERNIA

a. Hernia inguinalis

Terdapat dua tempat yang menunjukkan


hernia inguinalis. Pertama adalah defek
kongenital dekat tuberkel pubis (hernia
direk) dan kedua, yang paling sering,
adalah lemahnya integritas cincin
abdominal melalui daerah dimana isi
korda spermatika keluar dari kavun pelvis
(hernia indirek).

INSPEKSI

Observasi daerah inguinal untuk memeriksa


adakah tonjolan. Suruh pasien untuk
berbaring.Batuk , tertawa atau maneuver Valsava
dapat menyebabkan tonjolan.

Adanya tonjolan menunjukan adanya hernia

PALPASI

Untuk mencari hernia inguinalis, gunakan


tangan kanan untuk sisi kanan pasien dan tangan
kiri untuk sisi kiri pasien.Tekan kulit skrotum
dengan jari telunjuk, mulai dengan titik yang
cukup rendah sehingga jari-jari anda mempunyai
cukup mobilitas untuk meraih kanalis inguinalis
sejauh mungkin. Ikuti korda spermatika ke atas
sampai di sebelah atas ligamentum inguinalis
dan temukan segitiga pintu dari kanalis
inguinalis eksterna. Segitiga tersebut letaknya
sedikit di atas dan lateral pons pubis. Bila cincin
kanalis melebar, memungkinkan jari telunjuk
anda masuk ke dalam dan bila mungkin ikuti
alur dari kanalis inguinalis ke arah lateral sedikit
obliq. Dengan jari, cari lokasi dari cincin kanalis
sebelah luar. Caranya dengan menyruh pasien
untuk mengejan dan batuk. Apabila ada hernia
maka massa hernia akan tersentuh jari kita

Untuk mengevaluasi hernia femoralis, tempatkan


jari-jari pada sebelah anterior paha di regio
kanalis femoralis. Suruh pasien untuk menejan
atau batuk lagi. Lihat adanya pembengkakan atau
rasa nyeri .

b. Pemeriksaan pada hernia scrotalis

Inspeksi

Jika menemukan pembesaran massa


skrotum yang besar, hal ini adalah
kemungkinan adanya hernia, maka
anjurkan pasien untuk tidur terlentang.
Dengan posisi tersebut diharapkan massa
akan kembali sendiri ke dalam abdomen.
Jika massa tersebut masuk, maka massa
tersebut adalah suatu hernia.
Transiluminasi massa skrotum.
Pemeriksa menaikkan penis dengan
tangan yang tidak dominan agar seluruh
skrotum tampak. Dengan ruang
digelapkan , sorotan lampu yang
dikonsentrasikan. (dari lampu kecil atau
cahaya transiluminasi sinus) dipegang di
belakang massa yang dipalpasi dan
ditunjukan secara anterior. Kegagalan
massa untuk mentransmisikan cahaya
menunjukkan bahwa itu jaringan padat;
transmisi dari sorotan lampu malalui
massa menunjukkan adanya kista yang
mengandung cairan, baik hidrokel atau
spermatokel.

Palpasi

Masukkan jari di atas massa di dalam


scrotum, jika jari dapat masuk berarti
suspek hidrokel

Auskultasi

Dengarkan massa dengan stetoskop, jika


terdengar bunyi usus berarti suatu hernia,
tetapi jika terdengar bising usus berarti
suatu hidrokel

Keluhan-keluhan yang sering dijumpai pada


genitourinarius pria :

Sulit buang air kecil

Sulit buang air kecil atau disuria adalah


tanda peradangan saluran kemih bagian
bawah. Keadaan ini dapat disebabkan
stenosis meatus eksternus atau striktur
uretra. Piuria merupakan respon tubuh
terhadap terjadinya radang di dalam
saluran kemih.

Perubahan frekuensi dan volume urin

Terjadi pada inkontinentia dan


polakisuria. Biasanya disebabkan
berkurangnya ukuran kandung kemih,
iritasi dinding saluran kemih, atau
bertambahnya volume urin. Hipertroft
prostate merupakan penyebab tersering
berkurangnya kapasitas kandung kemih
yang dapat dipergunakan. Sistitis
menyebabkan seringnya buang air kecil
oleh karena iritasi mukosa kandung
kemih. Inkontinentia urin adalah
ketidakmampuan pasien untuk menahan
pengeluaran urin secara volunter.
Dorongan urin yang sedemikian kuatnya
menyebabkan timbul inkontinentia,
didapatkan pasien hipertrofi prostat.

Nyeri

Terjadi jika ada peregangan secara tiba-


tiba pada ureter, pelvis ginjal, atau
kandung kemih. Pembesaran ini
dirasakan sakit bila melalui proses yang
tiba-tiba, bila terjadi secara berangsur
biasanya tidak nyeri. Nyeri tumpul di
sudut kostovertebral berkaitan dengan
pegangan kapsul ginjal yang terjadi tiba-
tiba, yang disebabkan oleh pielonefritis
akut dan hidronefrosis obstruksi. Nyeri
spasmodik seperti kolik karena dilatasi
ureter bagian atas dapat menyebabkan
nyeri alih pada testis yang sama. Dilatasi
ureter bagian bawah dapat menyebabkan
nyeri alih pada skrotum, nyeri pada
distensi ureter sangatlah hebat, pasiennya
gelisah dan tidak nyaman dalam posisi
apa aja. Distensi kandung kemih
menyebabkan penuhnya perut bawah dan
suprapubis dengan keinginan kuat untuk
buang air kecil. Nyeri di lipat paha dapat
disebabkan oleh patologi di korda
spermatika, testis, atau kelenjar prostat,
limfadenitis, hernia, herpes zoster atau
kelainan neurologis. Nyeri pada testis
dapat disebabkan penyakit testis atau
pada epididimitis.

Urin berwarna merah

Gejala yang penting yang harus


dievaluasi karena sering menyebabkan
hematuria. Warna merah juga bias
disebabkan pemakaian obat piridium,
rifampicin, zat warna pada tumbuhan dan
makan bit secara berlebihan. Hematuria
merupakan petunjuk adanya penyalit
serius pada saluran kemih. Hematuria
yang terjadi pada awal berkemih
menunjukkan letak di uretra anterior,
pada akhir berkemih pada uretra
posterior, bila ada pada seluruh urin
menunjukkan letak perlukaan di atas
kelenjar prostat dan bila didapatkan 10-14
hari post ISPA bias berarti GNA.

Pembesaran skrotum

Bengkak dalam skrotum dapat berkaitan


dengan pembesaran testis atau
epididimitis, hernia, varikokel,
spermatokel, atau hidrokel. Pembesaran
testis dapat disebabkan oleh peradangan
atau tumor, kebanyakan pembesaran
bersifat unilateral. Pembesaran skrotum
yang nyeri dapat disebabkan oleh
peradangan akut epididimitis atau testis,
torsi korda spermatika, atau hernia
strangulata. Varikokel sering
menyebabkan ketidaksuburan.
Nov 20, 2007 2:22:56 PM

Comment 0
Reblog It 0

The comments to this entry are closed.

NEXT POST
Kasus : URTICARIA Prediksi : - Urticaria Pitirisis rosea Urticaria pigmentosa
URTICARIA a. Etiologi: Obat, makanan, gigitan serangga, bahan fotosensitizer
(griseofulvin, fenotiazin), inhalan (serbuk sari bunga, spora jamur), kontaktan (kutu binatang,
serbuk tekstil), trauma fisik (suhu), infeksi dan infestasi, psikis, genetik, penyakit sistemik. b.
Gejala klinis: - Keluhan subjektif: gatal, rasa terbakar, tertusuk....

ipenzog

1 Following
0 Followers
Search
My Other Accounts
Facebook664414555

Subscribe to this blog's feed


Powered by Typepad
FISIK DIAGNOSTIK
Sama seperti pada pemeriksaan Fisik Diagnostik untuk penyakit lain, pemeriksaan Fisik Diagnostik
untuk Penyakit Paru juga memiliki 2 komponen utama, yaitu:

1. ANAMNESE

2. PEMERIKSAAN FISIK

Setelah melakukan anamnese dan dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik pasien, maka kita sebagai
dokter akan menegakkan diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan. Tentu
saja diagnose yang didapatkan tidak dapat mendiagnose secara akurat, untuk itu diperlukan
pemeriksaan tambahan lainnya.

===========================

ANAMNESE
Anamnese adalah wawancara yang dilakukan seorang dokter untuk mendapatkan informasi atau
keterangan tentang penyakit yang diderita seorang pasien. Anamnese terbagi atas 2 golongan, yaitu
Auto Anamnese dan Allow Anamnese.

1.Auto anamnese:

Keterangan tentang penyakit diberikan langsung kepada pasien yang meminta pengobatan.

2. Allow anamnese

Keterangan tentang penyakit pasien didapatkan dari orang lain atau keluarga yang membawanya
kedokter untuk mendapatkan pengobatan atau pertolongan.
Perihal yang perlu ditanyakan baik secara auto ananmnese ataupun allow anamnse adalah perihal
sebagai berikut :

Keluhan utama dan keterangan tambahan lainnya


Riwayat /pengobatan terdahulu
Riwayat merokok
Penyakit penyerta lainnya
Tindakan bedah yg pernah dialami
Riwayat keluarga
Status sosial ekonomi

1.Keluhan Utama

Keluhan utama adalah keluhan atau derita pasien yang menyebabkan dia datang pada dokter untuk
meminta pengobatan atau pertolongan. Pada penyakit Paru keluhan utama dari pasien paru dikenal
dengan Kardinal Simtom sebagai penyataan pasien bahwa dia mengalami kelainan pada parunya.
Adapun mengenai Kardinal Simtom sudah dibahas secara panjang pendek pada bab sebelumnya yang
meliputi sebagai berikut :

1. Batuk
2. Sesak nafas
3. Batuk darah
4. Nyeri dada

Selain penjelasan Kardinal Simtom diatas, maka keterangan lain yang perlu didapatkan dari pasien
sehubungan dengan penyakit parunya adalah mengenai:

1. Sputum

2. Demam

3. Mengorok disaat tidur

4. Suara serak

5. Penurunan berat badan dan anorexia

Begitu selesai mendapatkan keterangan tentang keluhan utama.tentukan segera status KU tersebut
akut atau kronis. Perihal menentukan status keluhan ini penting sekali karena dalam manajemen
penanganan untuk kedua jenis penyakit tersebut berbeda satu dengan lainnya. Selanjutnya marilah
kita bahas perihal yang perlu ditanyakan pada keluhan utama.

a. Batuk :

Defenisi batuk adalah pengeluaran udara dari paru dan saluran nafas secara explosive dengan
tekanan yang tinggi sewaktu melewati glottis yang terbuka secara paksa dan mendadak.

Batuk perihal yang perlu ditanyakan :


- Tentukan batuk tersebut akut atau kronis

- Timbul dadakan dan sukar dihentikan

- Dahak ada atau tidak

- Timbul pada posisi tubuh tertentu

- Timbul pada saat atau cuaca tertentu

- Timbul setelah mencium sesuatu atau bahan kimia tertentu

- Terjadi setelah teraspirasi sesuatu benda baik yang bersifat padat atau cair

b. Sesak nafas (dyspnea) :

Defenisi keluhan yang bersifat subjektif berupa kesulitan atau rasa tidak enak pada saat bernafas.

Sesak nafas hal yang ditanyakan :

- Tentukan status sesak nafas tersebut

- Apakah sesak nafas timbul setelah batuk yang kuat

- Sesak nafas tersebut timbul pada saat-saat tertentu saja

- Sesak nafas terjadi setelah melakukan aktivitas

- Sesak timbul pada posisi tubuh tertentu

- Apakah sesak nafas ini timbul terus menerus

- Apakah sesak nafas ini disertai dengan mengi

c. Batuk darah (hemoptysis) :

Dari ke-4 kardinal simtom, maka batuk darah adalah simtom yang sangat menakutkan pasien, karena
dengan simtom ini pasien menganggap ajalnya sudah dekat.

Defenisi ekspektorasi darah segar, sputum yang disertai dengan bercak darah, atau darah yang
menyertai sputum.

Dalam melakukan anamnese pada pasien dengan sangkaan batuk darah harus berhati-hati, karena
sering sekali pasien menyatakan muntah darah sebagai batuk darah. Hal ini mungkin disebabkan
sewaktu terjadinya muntah darah sebagian kecil darah teraspirasi ke dalam saluran nafas sehingga
timbul refleks batuk, bersamaan dengan muntah darah tersebut terjadi batuk, maka oleh pasien
muntah darah yang dialaminya dinyatakan sebagai batuk darah.
Batuk darah perihal yang perlu ditanyakan :

- Tentukan status batuk darah tersebut

- Volume darah setiap kali batuk

- Apakah batuk darah terjadi setelah batuk yang kuat

- Apakah batuk darah timbul setelah batuk biasa

- Apakah darah yang keluar disertai sisa makanan

- Warna darah, merah cerah atau merah kehitaman

- Apakah darah yang dibatukkan berbusa

a. Nyeri dada (chest pain) :

Defenisi sensasi rasa tidak enak pada dada hingga rasa sakit yang dapat dinyatakan/ditunjuk baik
mengenai intensitas ataupun lokasinya.

Penyebab nyeri dada ini dapat berasal intra thoracal atau extra thoracal. Rasa nyeri merupakan
problema yang agak menyusahkan terutama dalam menentukan asal nyeri tersebut.

Pada nyeri dada (chest pain) hal yang perlu ditanyakan :

- Tentukan status nyeri dada tersebut, akut atau kronis

- Timbul setelah batuk dan disusul dengan sesak nafas

- Apakah rasa nyeri tersebut menyebar atau setempat

- Apakah dada pasien pernah mendapat trauma sebelumnya

Rasa nyeri pada dada timbul apabila pleura parietalis terkena rangsangan sehingga rasa sakit pada
dada dibagi menjadi 2 bahagian berdasarkan keterlibatan pleura yaitu pleuritic pain dan non-pleuritic
pain. Setelah pembahasan tentang kardinal simtom, selanjutnya anamnese dilanjutkan dengan
menanyakan hal lain yang erat kaitannya dengan kelainan paru.

b. Dahak (sputum) :

Defenisi aggregasi sekresi yang berasal sistem trakheobronkhial, paring, hidung, sinus dan mulut.
Pada orang yang tidak mempunyai kelainan pada paru, sputum diproduksi dalam jumlah yang relatif
sedikit dan tidak merangsang untuk terjadinya batuk. Pengeluaran sputum ini dilaksanakan dengan
bantuan batuk.

Dahak (sputum) perihal yang perlu ditanyakan :

- Tentukan kondisi dahak yang dinyatakan pasien bersifat akut atau kronis

- Viskositas dari sputum

- Warna dan bau sputum

- Apakah dahak tersebut sulit dibatukkan

- Jumlah sputum yang diproduksi, apakah produksi sputum tersebut mempunyai priodisitas
tertentu

- Apakah ada ditemukan butiran seperti pasir atau sejenisnya di dalam sputum tersebut

- Apakah produksi sputum bertambah pada posisi tertentu

c. Demam :

Defenisi peningkatan suhu tubuh > 380C (oral) atau > 38,50C (rectal).

Demam perihal yang perlu ditanyakan :

- Tentukan status demam, akut atau kronis

- Apakah demam ini disertai menggigil dan berkeringat

- Selama demam mulut terasa pahit dan nafsu makan tidak ada sama sekali

- Apakah demam tersebut mempunyai priodisitas

- Apakah demam yang dialami dengan panas tinggi atau tidak

CATATAN : Keringat malam merupakan hal yang abnormal bila keringat malam tersebut disertai
dengan penurunan suhu tubuh.

d. Mengorok disaat tidur :

Defenisi bising pernafasan sewaktu tidur

Mengorok yang perlu ditanyakan, apakah sewaktu tidur mengorok tersebut mulut pasien tertutup atau
terbuka. Bila mulutnya tertutup (nasal snoring) bukan hal yang patologis, tetapi bila mengorok tersebut
disertai dengan mulut yang terbuka, berarti ada sumbatan pada saluran nafas bahagian atas (oral
snoring). Untuk suara mengorok pada waktu tidur tentu memakai anamnese tertentu, anamnese yang
mana?

h. Suara serak (dysphonia/hoarsenes) :

Defenisi perubahan pada kekerasan dan ketajaman kualitas suara.


Suara serak ini berasal dari kelainan pada vocal cord, hendaklah suara serak dibedakan dari dysarthria,
dyslalia dan dysphasia.

Suara serak perihal yang perlu ditanyakan :

- Tentukan suara serak ini akut atau kronis

- Penyakit yang dialami sebelum terjadinya suara serak

- Apakah suara serak terjadi setelah terinhalasi sesuatu bahan

- Apakah suara serak timbul setelah mengkonsumsi obat

- Apakah serak ini terjadi setelah tindakan bedah

e. Anorexia dan penurunan berat badan (BB) :

Defenisi hilangnya selera/keengganan terhadap sesuatu yang berhubungan dengan makanan.


Penurunan berat badan didefenisikan sebagai pengurangan berat badan sebesar > 10% dari berat
badan base line.

Anorexia/penurunan BB perihal yang perlu ditanyakan :

- Status anorexia/penurunan BB akut atau kronis

- Apakah ada kelainan pada saluran cerna

- Apakah cepat merasa kenyang setelah mengkonsumsi sejumlah kecil makanan

- Apakah penurunan Berat Badan akibat anorexia tsb terjadi setelah


mengkonsumsi/menghentikan obat tertentu

2.Riwayat Penyakit/Pengobatan Sebelumnya

Setelah anamnese KU dan menentukan status penyakit akut atau kronis. Maka selanjutnya adalah
menanyakan tentang penyakit terdahulu termasuk pengobatannya.

Apakah pernah menderita sakit yang sama sebelumnya, jika ada, berapa lama berselang dari
sekarang ini (tentukan waktunya dalam hari, minggu, bulan atau tahun, jangan memakai
jawaban yang spekulatif misalnya baru-baru ini, sudah lama dan sebagainya).
Jika sebelumnya tidak pernah menderita penyakit seperti ini, anamnese dilanjutkan dengan
penyakit lain yang pernah diderita, jika ada, berapa lama berselang dari sakit sekarang ini.
Riwayat pengobatan/pemakaian obat-obatan, baik untuk penyakit yang sama dengan
sekarang ini atau penyakit lain, berapa lama memakai obat tersebut, kurang dari 2 minggu atau
lebih dari 2 minggu.
Cari tahu mengenai jenis obat yang dipakai, misalnya dengan menanyakan perubahan yang
dapat dirasakan/dikenal oleh pasien sewaktu mengkonsumsi obat tersebut.

3.Riwayat Merokok

Riwayat merokok perlu ditanyakan terutama pada pasien dengan umur lanjut (cancer age), tanyakan
jumlah rokok yang dikonsumsi, jangan tanya jumlah batang rokok, tetapi jumlah bungkus rokok yang
dikonsumsi perharinya, lama merokok, untuk ini tanyakan pada pasien sejak umur berapa mulai
merokok. Kalau sudah berhenti sudah berapa lama berselang dari saat sakit sekarang ini.

4.Penyakit Penyerta Lainnya


Penyakit penyerta lain yang dimaksud di sini adalah penyakit yang memerlukan pengobatan seumur
hidup (long live therapy). Penyakit yang dimaksud antara lain DM dan hipertensi, khusus untuk penyakit
pada paru, DM perlu ditanyakan, karena erat kaitannya dengan penyembuhan TB Paru yang diderita.

5.Tindakan Bedah Yang Pernah Dialami

Tindakan bedah yang pernah dialami perlu ditanyakan terutama pada orang dengan usia lanjut,
misalnya operasi prostat untuk pria atau mastektomie untuk wanita. Jangan lupa untuk menanyakan
berapa lama berselang operasi tersebut dilakukan sejak sakit sekarang ini. Cari tahu penyakit apa yang
menyebabkan pasien tersebut memerlukan tindakan bedah. Biasanya pasien dapat menjelaskannya
secara rinci.

6.Riwayat Keluarga

Perihal yang perlu ditanyakan dalam anamnese sehubungan dengan penyakit yang diderita dengan
keluarga adalah sebagai berikut :

1. Apakah ada keluarga pasien yang menderita penyakit sejenis dengan penyakit yang dialami
sekarang ini?
2. Apakah dalam keluarga ada riwayat atopi?
3. Apakah ada keluarga pasien yang menderita penyakit dengan keganasan atau penyakit yang
dapat diturunkan secara genetis?

7.Status Sosial Ekonomi

Status sosial ekonomi pasien perlu ditanyakan, hal ini menyangkut lingkungan tempat tinggal,
pekerjaan, pendidikan.

Status sosial ekonomi ini perlu ditanyakan berkaitan dengan keberhasilan dengan pengobatan, sebagai
contoh pasien yang sering sesak nafas karena tidak tahan dengan cuaca dingin, tinggal di pegunungan,
sering tidak menyadari bahwa sesak nafasnya dipicu oleh cuaca dingin tersebut, maka untuk pasien
yang demikian tidak ada salahnya kita anjurkan untuk mencari tempat tinggal baru yang lebih bercuaca
panas. Namun terkadang hal ini terkendala dengan kemampuan ekonomi serta kepentingan pekerjaan
pasien.

Dengan selesainya pembicaraan tentang anamnese status sosial ekonomi pasien, maka
pembicaraan tentang Anamnese dalam Fisik Diagnostik Penyakit Paru dapat dianggap selesai hingga
di sini, selanjutnya kita melangkah pada Pemeriksaan Fisik pasien.

==================

PEMERIKSAAN FISIK
Garis dan titik orientasi

Sebelum membicarakan tata cara pemeriksaan fisik pasien ada baiknya kita mempelajari struktur
rongga dada serta menentukan titik/garis orientasi sebagai letak topografi dari organ yang akan
diperiksa nantinya. Dinding rongga dada dibentuk oleh cutis, subcutis, muscle, fat, tulang, jaringan
syaraf, pembuluh darah dan pembuluh getah bening (pb.lymph).
Rongga dada diisi oleh jantung dan paru. Paru berfungsi sebagai alat pensuplai oksigen yang bermula
pada mulut/hidung, laring, trakhea, lalu bercabang dua menjadi main bronkhus kanan dan kiri, bronkhus
kanan bercabang tiga, sedangkan bronkhus kiri bercabang dua (bronkhus sekunder), bronkhus tertier
dan selanjutnya bercabang-cabang hingga mencapai ukuran tertentu yang disebut bronkhus terminalis,
bronkhus respiratorius, ductus alveolaris, saccus alveolaris dan berujung pada aveolus. Paru pada
dada terdiri atas 2 bahagian yaitu paru kiri dan paru kanan, kedua paru ini dibungkus oleh selimut yang
disebut dengan pleura, pleura ini terdiri atas 2 jenis yaitu pleura visceralis melekat langsung pada paru
dan pleura parietalis melekat pada dinding dada sebelah dalam. Diantara lapisan pleura tersebut
terdapat cairan yang berfungsi sebagai pelumas agar kedua lapisan pleura tersebut tidak mengalami
gesekan sewaktu paru mengembang ataupun mengempis. Pada waktu menarik nafas atau inspirasi
terjadi aliran udara yang dimulai dari mulut/hidung hingga sampai ke alveoli sebagai terminal akhir dari
perjalanan udara yang kaya O2, di sini terjadi aliran udara dari saluran nafas yang berdiameter besar
menuju ke saluran nafas yang berdiameter kecil sehingga terjadi perubahan kecepatan aliran udara,
akibat adanya perbedaan kecepatan aliran udara tersebut, maka akan terjadi turbulensi udara,
turbulensi udara inilah yang menimbulkan bising pernafasan atau bising paru. Sedangkan pada saat
ekspirasi udara berpindah dari saluran udara berdiameter kecil menuju saluran udara yang berdiameter
lebih besar, di sini turbulensi udara lebih kecil dibandingkan pada saat inspirasi. Disamping adanya
bising paru, aliran udara yang masuk ke paru akan menyebabkan gerakan dari dinding rongga dada,
ini dapat dilihat dengan ada pelebaran/penyempitan sela iga disaat inspirasi dan ekspirasi. Perbedaan
densitas organ yang terdapat dalam rongga dada akan memberikan suara yang berbeda disaat
pemeriksaan secara perkusi. Disamping itu pada gangguan aliran udara di dalam paru sendiri akan
memberikan sensasi raba yang berbeda disaat melakukan palpasi, demikian juga bising paru
tambahan yang terdengar disaat auskultasi. Garis atau titik orientasi sebagai batas topografi organ
yang akan diperiksa adalah sebagai berikut :

1. Garis midstenalis.

Garis yang terbentang dari pertengahan sternum

2. Garis para sternalis

Garis yang tepat berada pada kedua sisi sternum

3. Garis midklavikularis

Garis yang ditarik vertikal pada pertengahan klavikula kanan dan kiri

4. Garis aksillaris anteriror

Garis yang ditarik dari lipatan aksilla anterior

5. Garis aksilla posterior

Garis yang ditarik dari lipatan aksilla posterior

6. Garis mid aksillaris

Garis yang ditarik vertikal pada pertengahan garis aksilla posterior dengan mid axillaris anterior

7. Area interskapularis

Daerah dinding belakang dada yang terletak pada kedua skapula kanan dan kiri

8. Titik pungtum maksimum


Titik atau tempat di mana apex cordis memukul dinding dada kiri bahagian depan, titik ini
terletak pada sela iga ke-5 dan 1 jari medial garis midklavikularis kiri

Pungtum maksimum ini sangat penting sekali terutama pada kelainan yang telah melibatkan rongga
pleura.

Pemeriksaan fisik (jasmani) pada kelainan paru terdiri atas :

A. Inspeksi

B. Palpasi

C. Perkusi

D. Auskultasi

Untuk melakukan pemeriksaan fisik diperlukan peralatan sebagai berikut :

a. Stetoskop
b. Tensimeter
c. Tangue spatel
d. Termometer
e. Senter
f. Kipas angin (khusus bagi dokter paru)

Sebaiknya untuk dokter pria perlu didampingi oleh seorang paramedis wanita, untuk menjaga citra
dokter dan fitnah dari orang tertentu. Setelah peralatan tersebut tersedia, maka kita sudah dapat
memulai pemeriksaan fisik secara berurutan. Pasien kita suruh membuka baju. Sebaiknya untuk
pasien yang mengalami sesak nafas baik oleh karena kelainan paru terlebih lagi bila sesak nafas
tersebut oleh karena kelainan jantung, pasien jenis ini lebih baik didudukkan pada kursi yang tidak
mempunyai sandaran, karena kalau dalam posisi berbaring/tiduran untuk pasien dengan sesak nafas,
posisi berbaring tersebut akan menambah sesak nafasnya. Usahakan agar pasien berada dalam
kondisi yang tenang dan anak balita usahakan agar anak tersebut tidak panik atau menangis pada
saat diperiksa karena hal tersebut sangat menyulitkan dalam untuk menilai kelainan yang akan
diperiksa. Pemakaian kipas angin di sini adalah sebagai proteksi terhadap kemungkinan kontaminasi
dengan pasien yang batuk disaat melakukan anamnese ataupun saat pemeriksaan fisik/jasmani.
Karena umumnya infeksi penyakit paru ditularkan melalui udara yang dibatukkan oleh pasien, untuk
jaga dirilah.

INSPEKSI
Dada berbentuk tong

[ BARREL CHEST ]
Dada emfisematous Dada bronkhitis kronis

Dada dengan fibrosis paru Dada burung merpati

Dada dengan skoliosis berat

Keadaan lain yg perlu mendapat perhatian


Pola dan Irama Pernafasan

Pola Pernafasan :

Dalam keadaan sehat seseorang bernafas dengan frekuensi 18 s/d 22 kali/menit. Irama pernafasan
pada orang yang sehat sifatnya teratur dalam keadaan emosi seperti di waktu marah atau bekerja yang
membutuhkan tenaga yang besar frekuensi pernafasan dapat berubah menjadi lebih cepat.
Perbandingan frekuensi nadi dengan nafas adalah 4:1. Pada keadaan tertentu misalnya pada
pneumoni perbandingan tersebut bisa menjadi 1:1, pada keracunan obat-obatan perbandingan
frekuensi nadi dengan pernafasan bisa 6:1. Irama pernafasan terdiri atas inspirasi dan ekspirasi.

Jenis Pernafasan :

Rongga dada mengembang dan mengempis sesuai dengan irama inspirasi dan ekspirasi. Pernafasan
seperti ini disebut dengan pernafasan dada, kebalikannya adalah pernafasan perut, pengembangan
perut seirama dengan inspirasi dan pengempisan perut seirama dengan ekspirasi. Kembang dan
kempisnya paru juga dipengaruhi oleh pergerakan diafragma. Umumnya pria pernafasannya adalah
torakoabdominalis dan wanita/anak-anak adalah pernafasan tipe torakal.

Gangguan Pernafasan :

Gangguan pernafasan dapat berupa gangguan pada kecepatan frekuensi dan irama pernafasan.
Pernafasan yang cepat disebut dengan tachypnoe, sedangkan pernafasan yang melambat disebut
dengan bradypnoe. Perubahan pada frekuensi pernafasan tersebut dapat bersifat normal atau
patologis. Dalam keadaan emosi (marah) frekuensi pernafasan bisa menjadi cepat, pada pneumoni
frekuensi pernafasan menjadi cepat, di waktu tidur pernafasan melambat, pada keracunan obat-obatan
dari golongan barbiturat, uremia, koma diabetikum.miks oedem frekuensi pernafasan melambat.
Penderita asthma dalam serangan frekuensi pernafasan menjadi cepat sebagai akibat penciutan
diameter lumen saluran nafas

Beberapa Bentuk Pernafasan Patologis

1. Pernafasan Cheyne Stokes

Pada mulanya terjadi pernafasan yang dalam secara berulang-ulang dan kemudian secara
perlahan-lahan menjadi cepat dan dangkal hingga pada saat tertentu pernafasan terhenti sama sekali
(apnoe) untuk beberapa saat. Setelah itu periode dengan pernafasan yang dalam dimulai kembali
hingga terjadi apnoe kembali demikian seterusnya. Keadaan pernafasan seperti ini ditemukan pada
keracunan obat bius, kelainan jantung, kelainan ginjal, dan sebagainya.

2. Pernafasan Biot
Pernafasan yang cepat dangkal dan diantaranya terdapat masalah apnoe yang tidak teratur
sama sekali. Keadaan ini dapat dijumpai pada meningitis

3. Pernafasan Kusmaull

Pada pernafasan tipe ini, waktu inspirasi sama panjangnya dengan waktu ekspirasi, sehingga
siklus pernafasan menjadi lebih lambat dan dalam. Pernafasan bentuk ini ditemukan pada keracunan
alkohol, uremia dan peninggian tekanan intra cranial.

Pernafasan yang dangkal, di mana dinding dada hampir tidak bergerak sama sekali dapat ditemukan
pada emphycema, adanya tumor pada paru, effusi pleura dan tumor mediastinum.

===============

PALPASI
PENJELASAN

1. Jika kedua hemitoraks bergerak simetris,tetapi gerakan peranjakan sela iga


kecil,mungkin pasien mengalami pengembang paru yg abnormal,keadaan seperti ini
dapat ditemukan pada emfisema paru.

2. Volkal resonan sama kerasnya pada kedua hemitoraks.mungkin telah terjadi


konsolidasi pada jaringan paru,misalnya pada pneumoni dupleks.

3. Vokal resonan pada kedua hemitoraks sama lemahnya atau


menghilang,berkemungkinan pada pasien ini telah terjadi efusi pleura dupleks.

Catatan : Keseragaman pada palpasi pada kedua hemitoraks belumlah menjadi


pegangan bahwa kedua paru tsb dalkam batas normal

PALPASI KHUSUS
Perhatikan gambar sketsa leher diatas dengan cermat

=========================

PERKUSI
SEBELUM MELAKUKAN PEMERIKSAAN FISIK SECARA PERKUSI SEBAIKNYA

DIBAHAS DAHULU BATAS TOPOGRAFI ORGAN YANG AKAN DIPERIKSA

1.ANGULUS LUDOVICI

Tempat lekat iga ke-2 dengan sternum. Garis yg ditarik horizontal melalui

titik ini adalah batas atas jantung,titik ini jufga merupakan tempat percabangan trakhea

2. PAPILLA MAMMAE PRIA


Terletak pada sela iga ke-4,1 jari didalam garis midclavicularis

3. BATAS SCAPULA

Batas atas setinggi iga 2 atau 3,batas bawah setinggi iga ke-7

4.PUNGTUM MAKSIMUM

Terletak pada sela iga ke-5,1 jari didalam garis midclavicularis kiri

MENENTUKAN BATAS PARU DENGAN ORGAN SEKITARNYA SECARA


PERKUSI
BATAS Paru Jantung

Batas paru jantung secara perkusi dimulai setinggi angulus ludovici, dari arah lateral menuju arah
mendial, setiap perubahan suara sonor menjadi beda ditanda agar didapat batas paru jantung dengan
tegas. Perkusi pada hemithorax kiri dilanjutkan untuk iga-iga yang lebih bawah. Batas jantung ini lebih
kurang berbentuk segitiga. Batas paru jantung sebelah kanan adalah sekitar garis para sternalis kanan.
Batas paru jantung sebelah kanan adalah garis imajiner yang menghubungkan titik perpotongan garis
mid clavicularis kiri dengan iga ke-5 dan titik tempat pertemuan iga ke-3 dengan sternum.

Batas Paru Lambung

Batas Bawah Paru


Perkusi dimulai pada 3 garis orientasi, amati tempat dimana terjadi perubahan suara sonor disaat
melakukan perkusi. Tempat perubahan suara sonor tersebut dapat terjadi sebagai berikut :
1. Pada garis midclavicularis hingga iga-6
2. Pada garis midaxillaris hingga iga ke-8
3. Pada garis scapularis hingga iga ke-10
Pada hemithorax kanan batas tersebut lebih tinggi sekitar 1-2 jari.

========================

AUSKULTASI
]

Perubahan Yang Dapat Terjadi Pada Suara Paru

Sebelum mempelajari perubahan suara pada paru umumnya bersifat patologis, sebaiknya harus
membiasakan mendengarkan suara normal dari paru pada ketiga tempat seperti yang dijelaskan.

1. Suara pernafasan melemah atau menghilang

Keadaan suara paru seperti ini dapat ditemukan akibat adanya penebalan dinding dada, penurunan
aliran udara pada satu segmen paru akibat adanya hiperinflasi atau terpisahnya paru dengan dinding
dada akibat ada cairan atau udara pada rongga pleura.

2. Suara pernafasan mengeras

Apabila terjadi perubahan pada massa jaringan paru mengakibatkan hantaran suara menjadi lebih baik,
sehingga suara paru yang didengar lebih jelas, adakalanya kita dapat mendengar seperti suara trakheal
pada lapangan paru tertentu. Keadaan seperti ini dapat ditemukan pada konsolidasi massa paru,
misalnya pada pneumoni, atelektase, oedem paru, fibrosis jaringan paru yang luas.

Suara Tambahan Paru

Suara tambahan paru adalah bising paru yang berasal dari alat respirasi dan dinding dada yang tidak
dijumpai pada paru normal.

1. Krepitasi pada emphycema subkuitis


Bila terjadi penumpukkan udara pada subkuitis, bila kulit ditekan akan terdengar suara gemericik halus
seperti suara rambut diremas.

2. Gesekan pleura

Suara ini dapat terjadi bila dinding pleura tidak licin lagi sebagai akibat proses radang, bunyi suara
gesekan pleura ini mirip seperti gesekan jari tangan. Gesekan pleura dapat terdengar baik pada saat
inspirasi maupun pada saat ekspirasi.

3. Krepitasi

Suara ini timbul akibat alveoli yang mengempis tiba-tiba terbuka disaat inspirasi. Suara halus sekali
dan biasanya terdengar pada saat akhir inspirasi.

4. Ronkhi

Ronkhi adalah suara yang terjadi akibat penyumbatan pada bronkhus. Ronkhi dibagi menjadi 2
bahagian berdasarkan massa yang menyumbatnya, bila massa yang menyumbatnya mudah
dipindahkan pada saat batuk disebut sebagai ronkhi basah, bila sumbatan tersebut sulit untuk
dipindahkan disebut sebagai ronkhi kering. Baik ronkhi kering maupun ronkhi basah dapat terdengar
jelas pada saat inspirasi, namun bisa juga didengar pada saat ekspirasi. Berdasarkan lumen bronkhus
yang tersumbat, maka ronkhi dapat juga dibedakan atas gelembung kecil, sedang dan besar. Suara
yang terdengar mirip seperti suara gelembung air ditimbulkan yang ditiup memakai pipa sedotan
minuman, gemericik suara yang terjadi tergantung pada diameter sedotan yang dipergunakan.

5. Wheezing (mengi)

Adalah bising paru yang terjadi akibat konstriksi / spasma dari bronkhus, bukan oleh penyumbatan
seperti pada ronkhi, sehingga refleks batuk tidak dapat menghilangkannya. Suara wheezing ini mirip
suara suitan dengan intensitas suara yang tinggi dan nyaring. Auskultasi pada trakhea sangat baik
untuk mendengarkan wheezing.

6. Bising paru kombinasi

Bising ini merupakan gabungan dari beberapa macam suara tambahan. Bila kombinasi antara vesikular
dengan bronkhial terjadi, bila bising vesikular lebih menonjol maka bising kombinasi tersebut
dinamakan dengan vesikobronkhial.

Pemeriksaan Gema Suara Dan Gema Bisikan

Getaran suara dan gema bisikan dapat diperiksa dengan stetoskop, sebagaimana pada fremitus suara,
hal yang sama juga berlaku dalam pemeriksaan gema suara dan suara bisikan. Bila gema suara
terdengar lebih keras keadaan ini disebut sebagai bronkhoponi, bila bunyinya melengking disebut
dengan aegoponi. Untuk melakukan pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan menyuruh pasien
mengucapkan angka-angka tertentu seperti 77. Sedangkan untuk pemeriksaan gema bisikan pasien
disuruh mengucapkan huruf s atau pasien disuruh mengembus, gema bisikan sulit didengar dengan
stetoskop kecuali pada dada depan kanan atas, bila gema bisikan terdengar disembarang tempat ini
menyatakan gema bisikan mengeras. Tetapi bila pemeriksaan gema suara pada ditemukan mengeras
pada salah satu lobus paru sedangkan fremitus kedua pada kedua hemithorax sama, apakah
interpretasi tentang hal tersebut? Hal ini dapat diterangkan sebagai berikut : bila pada lapang paru kita
tempelkan telapak tangan kita tidak akan merasakan adanya perbedaan fremitus suara pada kedua
hemithorax disebabkan lapangan observasi sedemikian kecilnya sehingga tidak dapat dirasakan oleh
telapak tangan, sedangkan dengan pemeriksaan gema suara dapat kita dengar karena lapangan yang
diamati sebanding dengan luas membran/bell stetoskop.

Auskultasi Trachea
Tempatkan stetoskop di depan m.sternocleidomastoideus kanan atau kiri. Suara yang terdengar adalah
bising trachea dengan intensitas suara yang keras, nyaring, terkadang agak melengking. Bising trachea
dapat terdengar sepanjang ekspirasi. Wheezing dapat didengar pada tempat ini

Daftar Kepustakaan

1. Berkow,R : The Merck Manual of Diagnosis and Therapy,Merck & Co Inc.Rahway,Rahway


NY.USA,13th ed,1997,548-652
2. Crofyon.J,Douglas.A : Respiratory Diseases,Blackwell Scientific Publication,Oxford
London,1998,3th - ed,1-68
3. Ganong WF : Fisiologi Kedokteran,Penerbit ECG Buku Kedokteran,Jakarta,edisi 10,5530638
4. Stark JE et-all : Manual Ilmu Penyakit Paru,Bima Rupa Aksara,Jakarta,1990,1-32
5. Zagelbaum GL : Manual of Acute Respiratory Care,Medical Scientific International
Ltd,Tokyo,1991,Asian-ed,1887,548-652