Anda di halaman 1dari 6

Hasil Penelitian dan Kegiatan PTLR Tahun 2012 ISSN 0852-2979

PENGOPERASIAN COOLING WATER SYSTEM UNTUK PENURUNAN


TEMPERATUR MEDIA PENDINGIN EVAPORATOR

Ahmad Nurjana
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif-BATAN

ABSTRAK
PENGOPERASIAN COOLING WATER SYTEM UNTUK PENURUNAN
TEMPERATUR MEDIA PENDINGIN EVAPORATOR. Pengoperasian cooling water telah
dilaksanakan oleh subbidang Operasi Sistem Penyedia Media dan Energi (OSPME) pada tahun
2012. Pada proses evaporasi, sistem cooling water digunakan sebagai alat penunjang evaporator
yang berfungsi untuk mendinginkan dan mengembunkan uap dari evaporator. Air yang keluar dari
evaporator sebagai pendingin primer diturunkan temperaturnya oleh sistem pendingin sekunder
menggunakan plate heat exchanger dan cooling tower. Kemampuan sistem cooling water dalam
sistem pendingin sekunder dapat menurunkan temperatur pendingin primer dari 42oC menjadi
29C, sehingga dapat digunakan sebagai media pendingin evaporasi.
Kata kunci : air pendingin, media pendingin, pendingin evaporator

ABSTRACT
OPERATION OF COOLING WATER SYSTEM TO REDUCE THE TEMPERATURE
OF EVAPORATOR COOLANT. Operation of the cooling water system has been carried out by
subdivision of Operation of Media and Energy Supply System in the year 2012. In evaporation,
cooling water system is used as a supporting facility that serves to cool and condense the vapor
from the evaporator. Water discharged from the evaporator as primary coolant is reduced its
temperature by a secondary cooling system using a plate heat exchanger (PHE) and cooling
tower. The cooling water system in the secondary cooling system can reduce the temperature of
primary coolant from 42C to 29C, so it can be used as evaporator coolant.
Keywords : cooling water, cooling media, evaporator, coolant.

PENDAHULUAN
Cooling Water System digunakan sebagai alat penunjang Evaporator yang
berfungsi untuk mendinginkan dan mengembunkan uap dari Evaporator. Sistim
pada Cooling water ini merupakan sistim terbuka yang mensirkulasikan air
dengan pompa Pompa primer 62101A dan Pompa primer 62101B untuk kemudian
didinginkan oleh Cooling Tower E 62101A dan E 62101B.[1] Kebutuhan air
pendingin kondensor Evaporator adalah 50 m3/jam dengan tekanan 7,5 kg/cm2,
suhu 29 C dan pH 4 ~ 9. Kandungan Khlor dalam air harus lebih kecil dari 100
mg/liter dan kandungan padatan tidak boleh lebih dari 5 mg/liter.[2] Sistem
Cooling Water ini di operasikan hanya berdasarkan permintaan bidang
pengolahan limbah pada saat pengolahan limbah radioaktif cair.[3] dan operasi
pemanasan alat sesuai jadwal pemanasan.
Operasi Sistem Cooling water dapat dilihat pada gambar 1.

761
Hasil Penelitian dan Kegiatan PTLR Tahun 2012 ISSN 0852-2979

Gambar 1. Diagram Alir Cooling Water System[3]

Sistem air pendingin dilengkapi dengan beberapa peralatan penunjang


sebagai berikut :
2 Unit Cooling Tower (E 62101A dan E 62101B) yang dioperasikan
bergantian secara manual.
1 Unit Expansion Tank.
1 Unit Air Separator.
4 Unit Circulating Pump A dan B yang dioperasikan bergantian secara
otomatis.
1 Unit Heat Exchanger
Chemical Feeder System.
pH meter dan Chloride Control.
Make Up Water System
Make Up water Cooling Tower System.
Make Up water Cooling Water System.
Bleed Off System.

Sebelum dilakukan pengoperasian, pada sistem Cooling Water dilakukan


pemeriksaan, antara lain :
a. Pemeriksaan instalasi seluruh sistem air pendingin, pemeriksaan karakteristik
air pendingin, pemeriksaan kedudukan valve pada saat akan dioperasikan
atau pada saat beroperasi normal.
b. Pemeriksaan peralatan utama:
Cooling Tower (A dan B).
Evaporasi (R 62101).
Heat Exchanger ( E 62102).
Peralatan kontrol (Indicator dan Switch)
.

762
Hasil Penelitian dan Kegiatan PTLR Tahun 2012 ISSN 0852-2979

c. Pemeriksaan kesiapan sistem penunjang:


1. Make up Water, Cooling Water dan Water Cooling Tower serta air dari
Puspiptek.
2. Menghidupkan power utama di dalam gedung MES dengan mengatur
handle ke posisi ON pada panel.

TATA KERJA [4]


Mengoperasikan Cooling Tower System
1. Cooling Tower A/B dihidupkan dengan menekan tombol start pada panel
lokal atau melalui panel utama.
2. Circulation pump A/B dihidupkan dengan memutar saklar Start di posisi
ON pada panel utama (sesuai dengan pilihan pompa yang dikehendaki).
3. Motor Stirer M 6213 dan pompa injeksi P 6213 dihidupkan sebagai
penambah NaOHCO3 dan khlorida dengan menekan tombol start di panel
lokal.
Mematikan Cooling Tower System
Motor stirer dan pompa injeksi penambah khlorida dan NaOHCO3 dimatikan
dengan menekan tombol stop di panel local.
Circulation pump dimatikan dengan menurunkan saklar ke posisi OFF pada
panel utama.
Cooling Tower dimatikan dengan menekan 6 (enam) tombol stop pada panel
local.
Kegiatan operasi Cooling water pada tahun 2012, ditunjukkan pada Tabel 1.
Diagram alir Cooling Water System ditunjukkan pada Gambar 1.

Tabel 1. Kegiatan Operasi Cooling Water System pada Tahun 2012 [5]
BULAN
KEGIATAN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Persiapan Operasi            
Operasi Alat        
Perawatan Alat     
Pemanasan Alat            
Evaluasi  
Pembuatan
   
Laporan

Keterangan :  = 5 jam

HASIL DAN PEMBAHASAN


Sistem Cooling Water merupakan suatu sistem pendingin tipe terbuka
yang terdiri dari 2 buah Cooling Tower, 2 buah Pompa distribusi dan 1 buah alat
penukar panas (Heat Exchanger) yang kesemuanya secara sinergi berfungsi untuk
mendinginkan media pendingin primer sebagai media utama pendingin
Evaporator pada proses pengolahan limbah radioaktif cair. Berdasarkan data
operasi sistem pendingin primer dan sekunder yang di catat setiap 1 jam
ditunjukan bahwa peningkatan temperatur saat masuk ke dalam sistem inlet dan

763
Hasil Penelitian dan Kegiatan PTLR Tahun 2012 ISSN 0852-2979

saat keluar dari sistem atau outlet tidak ada perubahan yang melebihi standar yang
di ijinkan yaitu T in untuk pendingin sekunder 250C dan T out 350C, pada tekanan
air 4,5 6,5 Kg/Cm2, adapun stndar yang diijinkan untuk sistem pendingin
primer adalah T in 420C dan T out 320C serta tekanan airnya 2,5 3,5 Kg/Cm2.
Hasil pencatatan data teknis operasi sistem pendingin primer maupun sekunder
secara lengkap dapat dilihat pada tabel 2. Untuk perubahan temperatur air
pendingin sekunder secara bertahap dengan perbedaan waktu 1 jam mengalami
sedikit perubahan yang dapat dilihat pada gambar 2, adapun perubahan
temperatur untuk air pendingin primer terhadap perbedaan waktu dapat dilihat
pada gambar 3, sedangkan gambar 4 dan 5 menunjukkan adanya perubahan
tekanan air saat kedua sistem pendingin tersebut beroperasi berdasarkan
perbedaan waktu. Demikian juga gambaran kemampuan sistem pendingin
sekunder dalam menurunkan temperatur air (T) pada air pendingin primer
mencapai 8 100C dapat dilihat pada gambar 6 .

Tabel 2. Temperatur Air Masuk dan Keluar pada Pendingin Primer dan Sekunder.

No Jam Pendingin Sekunder Pendingin Primer


0
. ke T-in C T-out 0C Press Kg/cm2 T-in C T-out 0C PressKg/cm2
0

1. 1 25 35 2,5 42 32 2,5
2. 2 25 35 2,5 42 32 2,5
3. 3 25 35 2,5 42 32 2,8
4. 4 25 35 2,5 42 32 2,5
5. 5 25 35 2,5 42 32 2,5
6. 6 25 35 3,5 42 32 2,5
7. 7 24 34 2,5 42 32 2,5
8. 8 24 34 3,5 42 32 3,2

Pendingin Sekunder

40
35
Temperature ( C )

30
25
T in
20
T out
15
10
5
0
1 2 3 4 5 6 7 8
Waktu ( jam )

Gambar 2. Grafik Hubungan Temperatur Pendingin Sekunder Terhadap Waktu

764
Hasil Penelitian dan Kegiatan PTLR Tahun 2012 ISSN 0852-2979

Pendingin Primer

45
40
Temperature ( C)
35
30
25 T in
20 T out
15
10
5
0
1 2 3 4 5 6 7 8
Waktu ( jam )

Gambar 3. Grafik Hubungan Temperatur Pendingin Primer Terhadap Waktu

Tekanan pendingin sekunder


5
Te kanan (Kg/cm)

1
1 2 3 4 5 6 7 8
Waktu (jam)

Gambar 4. Grafik Hubungan Tekanan Pendingin Sekunder Terhadap Waktu

Tekanan pendingin primer


5
Tekanan (Kg/cm)

3
2

1
1 24 5 3 6 7 8
Waktu (jam)
Gambar 5. Grafik Hubungan Tekanan Pendingin Primer Terhadap Waktu

765
Hasil Penelitian dan Kegiatan PTLR Tahun 2012 ISSN 0852-2979

Untuk memperoleh temperatur operasi yang dikehendaki proses evaporasi


batas T in yang baik yaitu < 250C, maka air pendingin yang keluar dari pendingin
sekunder harus didinginkan lagi dengan menggunakan Heat Exchanger chiller
karena kemampuan menurunkan temperatur pada pendingin sekunder hanya maks
10 oC.

Gambar 6. Ilustrasi Perpindahan Panas pada Cooling Water System

KESIMPULAN
Dari Pengoperasian Cooling Water System dapat disimpulkan, Bahwa
tekanan dan temperatur suhu air pendingin saat beroperasi selalu stabil sesuai
dengan spesifikasi teknis yang ditentukan. Pada pendingin sekunder air masuk
pada suhu 250C dan setelah mengambil panas keluar dengan suhu 350C. Tekanan
air yang masuk pendingin sekunder 2,5 kg/cm2 dan keluar dengan tekanan yang
sama. Sedangkan pada pendingin primer air masuk pada suhu 420 C dan keluar
dengan suhu 290 C. Tekanan air yang masuk pendingin primer 2,5 kg/cm2 dan
keluar dengan tekanan yang sama. Volume air pada pendingin primer dan
sekunder harus selalu dipantau karena bila air berkurang akibat penguapan maka
proses pendinginan akan terhambat. Oleh karena itu bila air berkurang maka
operator harus menambahkan air dengan membuka valve make up wter. Bila
temperatur air pendingin primer mengalami peningkatan secara mendadak , hal
ini disebabkan volume air pendingin sekunder banyak berkurang karena
terjadinya penguapan, oleh karena itu harus dilakukan penambahan air pendingin
sekunder dengan membuka valve make up water secukupnya.

DAFTAR PUSTAKA
[1]. ANONIM, Cooling Water LBC, BTDD - P2PLR, Serpong Tahun 2004
[2]. ANONIM, Juklak dan Protap Sistem Cooling Tower, PTLR, Serpong,
Tahun2008.
[3]. P & ID, SISTEM PENDINGIN SEKUNDER
[4]. INSTRUKSI KERJA PENGOPERASIAN COOLING WATER SISTEM,
PTLR-BATAN, Serpong,2010
[5]. AHMAD NURJANA, log book laporan harian operasi Cooling Tower, 2012

766