Anda di halaman 1dari 29

KONSEP ZAKAT DALAM ISLAM

I. TINJAUAN UMUM ZAKAT


Islam adalah agama suci dan Allah SWT menghendaki agar para pemeluknya
(kaum muslimin) memiliki kesucian, sebab tidak akan bisa masuk surga kecuali orang-
orang yang suci. Kesucian yang dituntut dalam Islam bersifat komprehensif atau dalam
segala hal, baik lahir maupun batin. Syari`at zakat yang telah ditetapkan Allah SWT dan
Rasul-Nya Saw yang terdiri atas zakat maal (harta) dan zakat fithri (jiwa) merupakan
suatu bentuk upaya dalam rangka penyucian harta dan jiwa kaum muslimin.

A. Definisi Zakat
Menurut Bahasa
Kata zakat diambil dari Bahasa Arab yang berasal dari kata zakkaa-yuzakkii-
tazkiyatan-zakaatan yang artinya menyucikan. Selain itu, zakat juga berarti barakah
(keberkahan), namaa (pertumbuhan dan perkembangan), thaharah (kebersihan), dan
shalah (keberesan dan amal shalih).

Menurut Istilah
Zakat adalah penunaian hak yang yang diwajibkan atas harta tertentu yang
diperuntukkan bagi orang tertentu, yang kewajibannya didasari oleh haul (batas waktu
satu tahun) dan nishab (batas ukuran minimum). Al-Hafidz Ibnu Hajar mendefinisikan
zakat adalah memberikan sebagian dari harta yang sejenis yang sudah sampai nishab
selama setahun dan diberikan kepada orang fakir dan semisalnya (mustahiq zakat) yang
bukan dari keturunan Bani Hasyim dan Bani Muthalib.

B. Zakat Merupakan Ibadah


Ibadah adalah segala sesuatu yang dilakukan dalam rangka mentaati Allah SWT.
Harta zakat yang dikeluarkan oleh muzakki (orang yang mengeluarkan zakat) adalah
dalam rangkan mentaati Allah SWT untuk menggapai keridhaan-Nya. Karena itu pada
hakekatnya zakat adalah ibadah. Selain salah satu dari rukun Islam, zakat juga dapat
digunakan sebagai parameter ketaatan seseorang kepada Allah SWT.
Zakat merupakan indikator dari keislaman seseorang (QS.9: 5), persaudaraan
muslim (QS.9: 11), mukmin yang sukses dan bahagia (QS.23: 1-4), orang-orang yang
berhak memakmurkan masjid (QS.9: 18), orang yang akan mendapatkan pertolongan
Allah (QS.22: 40-41), orang yang benar-benar bertaqwa (QS.2: 177), orang yang
mendapatkan rahmat Allah (QS.9: 71), dan orang yang akan mendapatkan ampunan Allah
(QS.5: 12).

C. Hukum Menunaikan Zakat


Zakat hukumnya wajib bagi setiap muslim yang sudah memenuhi syarat
kewajibannya untuk mengeluarkan sebagian harta yang bersifat mengikat dan bukan
anjuran. Karena zakat merupakan bagian dari rukun Islam yang lima, dan zakat
merupakan pilar Islam yang agung. Kewajiban zakat ini terdapat dalam al-Quran dan al-
Sunnah, dengan dilengkapi keterangan berdasarkan Ijma ulama.
Allah SWT berfirman yang artinya, Padahal mereka tidak disuruh melainkan
supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan
menunaikan zakat, yang demikian itulah agama yang lurus (QS. Al-Bayyinah: 5).
Rasulullah Saw bersabda yang artinya, Islam dibangun di atas lima dasar:
bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah
hamba dan utusan-Nya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan
berpuasa di bulan Ramadhan (HR. Bukhari dan Muslim).
Awalnya, ketika Rasulullah masih berada di Mekkah, zakat diwajibkan secara
mutlak tanpa ada batasan dan rincian yang jelas (QS. Al-Dzariyat: 19), kemudian setelah
tahun ke-2 H. Allah menerangkan soal hukum zakat secara lebih rinci (Macam harta,
kadar nishab dan jumlah yang harus dikeluarkan zakatnya), lalu setelah tahun ke-9 H.
(ketika sudah banyak wilayah yang masuk Islam) Rasulullah mengirim petugas ke-
wilayah-wilayah Islam untuk memungut zakatnya.

D. Jenis Zakat
Zakat dibagi dalam dua jenis, yaitu: zakat nafs (jiwa) atau yang lazim disebut
zakat fitri (zakat fitrah) dan zakat maal (harta).

Zakat Fitrah
Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim kaya atau
miskin, laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak, bahkan bayi yang baru
lahir, sebelum memasuki Hari Raya Idul Fitri, atau tepatnya sebelum dilaksanakan Shalat
Idul Fitri. Jumlah zakat yang dikeluarkan sebanyak 2,5 kg atau 3,5 liter makanan pokok
masyarakat setempat.
Kata fitri diambil dari kata fitrah, yakni asal-usul penciptaan jiwa manusia,
sehingga setiap jiwa yang lahir ke dunia wajib dikeluarkan zakat fitrahnya. (Kajian
tentang zakat fitrah ini dibahas pada bagian tersendiri).

Zakat Maal (Harta)


Pengertian maal menurut terminologi bahasa adalah segala sesuatu yang selalu
diinginkan oleh manusia untuk disimpan, dimiliki dan dimanfaatkan. Sedangkan menurut
istilah syariah, maal adalah segala macam benda (materi) berupa kekayaan yang dapat
dimiliki (dikuasai) dan dapat dipergunakan atau dimanfaatkan menurut kelazimannya.
Artinya, segala sesuatu baru dapat dikatakan sebagai harta kekayaan jika bisa
dimiliki, dihimpun, dikuasai, disimpan dan bisa dimanfaatkan, seperti rumah, pabrik,
mobil, uang, emas-perak, hasil perkebunan, hasil peternakan, hasil pertanian, hasil
pertambangan dan lainnya. (Kajian tentang zakat harta inilah yang dibahas pada tulisan
ini).

II. ZAKAT FITRAH


Istilah zakat fitrah dalam syari`at Islam lebih dikenal dengan sebutan zakat al-
fithri atau shadaqah al-fithri. Makna zakat fitrah adalah shadaqah yang wajib ditunaikan
dengan sebab fithri (berbuka) dari puasa Ramadhan. Dengan kata lain, zakat fitrah adalah
zakat yang dikeluarkan pada setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri sebelum
dilaksanakannya shalat dan khutbah ied, oleh setiap orang Islam, baik laki-laki maupun
perempuan, tua-muda, bayi-dewasa, kaya-miskin, merdeka atau hamba.

A. Hukum Zakat Fitrah


Zakat fitrah hukumnya wajib. Imam Ibnu Munzir mengutip adanya ijma` ulama`
tentang kewajiban zakat fitrah ini. Beliau berkata, "Telah bersepakat semua ahli ilmu
yang kami menghafal darinya bahwa zakat fitrah adalah wajib". Maka kemudian menjadi
sebuah ketetapan bahwa zakat fitrah hukumnya wajib.

B. Orang yang Wajib Mengeluarkan Zakat Fitrah


Setiap orang muslim wajib hukumnya mengeluarkan zakat fitrah, baik kaya
maupun miskin, selagi ia mampu menunaikannya. Karena syarat diwajibkannya
mengeluarkan zakat fitrah ada dua, yaitu beragama Islam dan mampu menunaikan pada
waktunya.
Dalam sebuah Hadits disebutkan, "Dari Ibnu Umar ra., dia berkata: Rasulullah
Saw telah mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha` kurma atau satu sha` gandum.
Kewajiban itu dikenakan kepada budak, orang merdeka, lelaki, wanita, anak kecil, dan
orang tua dari kalangan umat Islam. Dan beliau memerintahkan agar zakat fitrah itu
ditunaikan sebelum keluarnya orang-orang menuju shalat (`Ied)".
Ukuran kemampuan sehingga seseorang wajib mengeluarkan zakat fitrah,
menurut jumhur ulama` (Malikiyah, Syafi`iyah, dan Hanbaliyah) ialah jika seseorang
telah memiliki kelebihan nafkah makanan pokok bagi dirinya dan orang-orang yang
menjadi tanggungannya untuk satu malam dan satu hari pada hari raya `Idul Fitri.
Adapun Hanafiah berpendapat lain, ukuran kemampuan itu adalah memiliki nisab
zakat uang atau senilai dengannya dan lebih dari kebutuhan tempat tinggalnya. Pendapat
ini dipandang lemah, karena: Pertama, kewajiban zakat fitrah tidak disyaratkan kondisi
kaya seperti pada zakat maal. Kedua, zakat fitrah tidak bertambah nilainya dengan
bertambahnya harta, sehingga nisab tidak menjadi ukuran.
Lalu bagaimana dengan janin, apakah orang tuanya wajib mengeluarkan zakat
fitrahnya atau tidak. Syeikh Salim bin `Id al-Hilali mengatakan bahwa sebagian ulama
berpendapat wajibnya zakat fitrah atas janin, tetapi tidak diketahui dalilnya. Sedangkan
Seikh Shalih bin Ghanim menyatakan bahwa mengeluarkan zakat bagi janin yang masih
berada di rahim ibunya adalah mustahab atau disukai bukannya wajib. Syeikh Usaimin
menambahkan, hukum mustahab tersebut jika janin sudah ditiupkan ruh pada jasadnya
(empat bulan dalam kandungan).

C. Orang yang Berhak Menerima Zakat Fitrah


Para ulama berbeda pendapat tentang orang yang berhak menerima zakat fitrah
ini, setidaknya ada tiga pendapat, siapa yang berhak menerima zakat fitrah, yaitu:
1. Delapan golongan sebagaimana zakat maal (QS.al-Taubah: 60). Ini merupakan
pendapat Hanafiyah, Syafi`iyah, dan Hanabilah.
2. Delapan golongan penerima zakat maal namun diutamakan orang-orang fakir-miskin.
Ini pendapat al-Syaukani.
3. Hanya orang fakir dan miskin yang berhak menerima zakat fitrah. Ini pendapat
Malikiyah.
Dari ketiga pendapat ini, hanya pendapat ke tiga lah yang dianggap paling tepat,
alasannya: Pertama, Sabda Nabi, "Zakat fitrah ini sebagai makanan bagi orang-orang
miskin. Kedua, zakat fitri termasuk jenis kafarat (penebus kesalahan atau dosa).

D. Bentuk dan Kadar Zakat Fitrah


Zakat fitrah berupa makanan yang mengenyangkan atau makanan pokok sesuai
dengan masing-masing tempat atau daerah, seperti beras, jagung, sagu, gendum, atau
yang lainnya. Tidak terbatas pada jenis makanan yang disebutkan dalam beberapa Hadits
Nabi tentang zakat fitrah Ini merupakan pendapat mayoritas ulama seperti Imam Syafe`i
dan lainnya. Demikian ini merupakan pendapat yang paling benar.
Adapun kadar atau ukuran banyaknya adalah satu sha` (ukuran Arab) atau setara
dengan 3,1 liter kurma kering, atau anggur kering, atau gandum, atau keju, atau makanan
pokok yang menggantikannya, seperti beras, jagung, atau lainnya. Dalam sebuah Hadits
diceritakan, "Dari Abu Sa`id ra., ia berkata, "Kami dahulu di zaman Rasulullah Saw
pada Hari Raya Fithri mengeluarkan satu sha` makanan". Abu Sa`id berkata, "Makanan
kami dahulu adalah gandum, anggur kering, keju dan kurma kering"(HR.Bukhari).
Jika zakat fitrah itu dengan beras, diperkirakan satu sha` beras sama dengan 10
canting atau kira-kira 2,5 kg atau lebih. Sebaiknya kadar banyaknya Zakat Fitrah
memakai ukuran takaran bukan ukuran berat.
Dalam sebuah Hadits diceritakan: Dari Ibnu Umar beliau berkata,Rasulullah
mewajibkan zakat fitrah (berbuka) bulan Ramadhan sebanyak satu sha` (3,1 liter) kurma
atau gandum atas tiap-tiap orang muslim merdeka atau hamba, laki-laki atau
perempuan (HR.Bukhari Muslim). Dalam Hadits lain disebutkan:Dari Abu Sa`id,
beliau berkata,Kami mengeluarkan Zakat Fitrah satu sa` dari makanan, gandum,
kurma, susu kering, atau anggur kering (HR.Bukhari Muslim).

E. Syarat-syarat Wajib Zakat Fitrah


Ada tiga syarat yang mewajibkan seseorang untuk mengeluarkan zakat fitrah,
yaitu:
1. Beragama Islam. Orang kafir tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah.
2. Lahir sebelum terbenam matahari pada hari penghabisan bulan Ramadhan. Anak yang
lahir setelah terbenam matahari (malam satu syawal) tidak wajib berzakat fitrah.
3. Mempunyai kelebihan harta untuk makan dirinya dan tanggungannya pada malam
hari raya dan siang harinya.

F. Waktu Membayar Zakat Fitrah dan Hukumnya


Ada lima macam kategori waktu pembayaran zakat fitrah terkait dengan
hukumnya, yaitu:
1. Waktu yang diperbolehkan, yaitu dari awal hingga akhir Ramadhan.
2. Waktu wajib, yaitu mulai terbenam matahari penghabisan Ramadhan hingga subuh.
3. Waktu sunah, yaitu dibayar setelah shalat subuh hingga sebelum shalat ied.
4. Waktu makruh, yaitu dibayar setelah shalat iedul fitri tetapi sebelum terbenam
matahari.
5. Waktu haram, yaitu dibayar setelah terbenamnya matahari pada hari raya iedul fitri.
Terkait dengan hal tersebut, dalam sebuah Hadits diterangkan: Dari Ibnu Abbas,
beliau berkata,Telah diwajibkan oleh Rasulullah Saw zakat fitrah sebagai pembersih
bagi orang puasa dan memberi makan orang miskin. Barang siapa yang menunaikannya
sebelum shalat hari raya maka zakat itu diterima, dan barang siapa membayarnya
sesudah shalat hari raya maka zakat itu sebagai sedekah biasa (HR.Abu Daud dan Ibnu
Majah). Dalam Hadits Bukhari disebutkan,Mereka membayar fitrah itu sehari atau dua
hari sebelum hari raya.

G. Membayar Zakat Fitrah dengan Harganya


Menurut mazhab Imam Syafe`i, membayar zakat fitrah dengan harganya (uang)
hukumnya tidak boleh, karena yang diwajibkan dalam Hadits adalah sesuatu yang
mengenyangkan. Namun mazhab Hanafi membolehkan, karena fitrah itu hak orang
miskin untuk menutupi hajat mereka, boleh dengan makanan dan boleh juga dengan
harganya.

H. Panitia Zakat Fitrah


Adanya orang tertentu yang ditunjuk untuk mengurusi zakat fitrah, ini merupakan
sunah Rasulullah Saw, alasannya adalah: Pertama, Nabi telah mewakilkan Abu Hurairah
untuk menjaga zakat fitrah. Kedua, Ibnu Umar biasa memberikan zakat fitrah kepada
para pegawai yang ditunjuk oleh imam atau pemimpin. Tetapi mereka tidak mendapatkan
bagian dari zakat fitrah tersebut dengan sebab mengurusinya, kecuali sebagai orang
miskin.

III. ZAKAT HARTA KEKAYAAN

A. Kekayaan yang Wajib Zakat


Pengertian Kekayaan
Al-Quran tidak memberikan ketegasan tentang jenis kekayaan yang wajib zakat,
dan syarat-syarat apa yang mesti dipenuhi, dan berapa besar yang harus dizakatkan.
Persoalan tersebut diserahkan kepada Sunnah Nabi.
Ada beberapa jenis kekayaan yang disebutkan Al-Quran seperti: emas dan perak
(9:34); tanaman dan buah-buahan (6:141); penghasilan dari usaha yang baik (2:267); dan
barang tambang (2:267). Namun demikian, Al-Quran hanya merumuskannya dengan
rumusan yang umum yaitu "kekayaan" ("Pungutlah olehmu zakat dari kekayaan
mereka,....." (QS. 9:103).
Kekayaan bisa diakui apabila memenuhi dua syarat, yaitu : dipunyai dan bisa
diambil manfaatnya. Inilah definisi yang paling benar menurut Yusuf Al-Qaradhawy.

Syarat Kekayaan Wajib Zakat


Terdapat 6 syarat kekayaan terkena wajib zakat:
1. Milik penuh
2. Berkembang
3. Cukup senisab
4. Lebih dari kebutuhan biasa
5. Bebas dari hutang
6. Berlalu setahun

Syarat Pertama: Milik Penuh


Kekayaan pada dasarnya adalah milik Allah. Yang dimaksud pemilikan di sini
hanyalah penyimpanan, pemakaian, dan pemberian wewenang yang diberikan Allah
kepada manusia, sehingga seseorang lebih berhak menggunakan dan mengambil
manfaatnya daripada orang lain.
Istilah "milik penuh" maksudnya adalah bahwa kekayaan itu harus berada di
bawah kontrol dan di dalam kekuasaannya. Dengan kata lain, kekayaan itu harus berada
di tangannya, tidak tersangkut di dalamnya hak orang lain, dapat ia pergunakan dan
faedahnya dapat dinikmatinya.
Konsekwensi dari syarat ini, maka tidak wajib zakat bagi: (1) Kekayaan yang
tidak mempunyai pemilik tertentu. (2) Tanah waqaf dan sejenisnya. (3) Harta haram,
karena sesungguhnya harta tersebut tidak syah menjadi milik seseorang. (4) Harta
pinjaman, dalam hal ini yang wajib berzakat adalah sang pemberi hutang (kecuali bila
hutang tersebut tidak diharapkan kembali), bagi orang yang meminjam dapat dikenakan
kewajiban zakat apabila dia tidak mau atau mengundur-undurkan pembayaran dari harta
tersebut, sementara dia terus mengambil manfaat darinya. Dengan kata lain orang yang
meminjam telah memperlakukan dirinya sebagai "si pemilik penuh". (5) Simpanan
pegawai yang dipegang pemerintah (seperti dana pensiun), harta ini baru akan menjadi
milik penuh di masa yang akan datang, sehingga baru terhitung wajib zakat pada saat itu.

Syarat Kedua: Berkembang


Pengertian berkembang yaitu harta yang senantiasa bertambah baik secara konkrit
(seperti ternak) dan tidak secara konkrit (yang berpotensi berkembang, seperti uang
apabila diinvestasikan).
Nabi tidak mewajibkan zakat atas kekayaan yang dimiliki untuk kepentingan
pribadi seperti rumah kediaman, peralatan kerja, perabot rumah tangga, binatang penarik,
dan lainnya. Karena semuanya tidak termasuk kekayaan yang berkembang atau
mempunyai potensi untuk berkembang. Dengan alasan ini, maka disepakati bahwa hasil
pertanian dan buah-buahan tidak dikeluarkan zakatnya berkali-kali walaupun telah
disimpan bertahun-tahun.
Dengan syarat ini pula, maka jenis harta yang wajib zakat tidak terbatas pada apa
yang sering diungkapkan sebahagian ulama yaitu hanya 8 jenis harta (unta, lembu,
kambing, gandum, biji gandum, kurma, emas, dan perak). Semua kekayaan yang
berkembang merupakan subjek zakat.

Syarat Ketiga: Cukup Senisab


Disyaratkannya nisab karena dimungkinkan orang yang mengeluarkan zakat
sudah terlebih dahulu berada dalam kondisi berkecukupan. Tidak mungkin syariat
membebani zakat kepada orang yang mempunyai sedikit harta yang dia sendiri masih
sangat membutuhkannya. Dengan demikian pendapat yang mengatakan hasil pertanian
tidak ada nisabnya menjadi tertolak. (Besarnya nisab untuk masing-masing jenis
kekayaan dijelaskan pada bagian lain).

Syarat Keempat: Lebih dari Kebutuhan Biasa


Kebutuhan adalah merupakan persoalan pribadi yang tidak bisa dijadikan patokan
besar-kecilnya. Adapun sesuatu kelebihan dari kebutuhan itu adalah bagian harta yang
bisa ditawarkan atau diinvestasikan yang dengan itulah pertumbuhan/perkembangan harta
dapat terjadi.
Kebutuhan harus dibedakan dengan keinginan. Kebutuhan yang dimaksud adalah
kebutuhan rutin, yaitu sesuatu yang betul-betul diperlukan untuk kelestarian hidup;
seperti belanja sehari-hari, rumah kediaman, pakaian, dan senjata untuk mempertahankan
diri, peralatan kerja, perabotan rumah tangga, kendaraan, dan buku-buku ilmu
pengetahuan untuk kepentingan keluarga (karena kebodohan dapat berarti kehancuran).
Kebutuhan ini berbeda-beda sesuai dengan berubahnya zaman, situasi dan
kondisi, juga besarnya tanggungan dalam keluarga yang berbeda-beda. Persoalan ini
sebaiknya diserahkan kepada penilaian para ahli dan ketetapan yang berwewenang.
Zakat dikenakan bila harta telah lebih dari kebutuhan rutin. Sesuai dengan ayat
2:219 "Sesuatu yang lebih dari kebutuhan..." dan juga hadits "Zakat hanya dibebankan ke
atas pundak orang kaya", dan hadits-hadits lainnya.

Syarat ke lima: Bebas dari Hutang


Harta milik yang dijadikan persyaratan wajib zakat harus sudah terbebas dari
hutang. Bila jumlah hutang akan mengurangi harta menjadi kurang senisab, maka zakat
tidak menjadi wajib.
Jumhur ulama berpendapat bahwa hutang merupakan penghalang wajib zakat.
Namun apabila hutang itu ditangguhkan pembayarannya (tidak harus sekarang juga
dibayarkan), maka tidak terlepas wajib zakat (seperti hutang karena mengkredit sesuatu).

Syarat ke enam: Berlalu Setahun (Haul)


Maksudnya bahwa harta yang berada di tangan si pemilik sudah berlalu masanya
dua belas bulan Qomariyah. Menurut Yusuf Al-Qaradhawy, persyaratan setahun ini
hanyalah untuk barang yang dapat dimasukkan ke dalam istilah "zakat modal" seperti:
ternak, uang, harta benda dagang, dan lain-lain. Adapun hasil pertanian, buah-buahan,
madu, logam mulia (barang tambang), harta karun, dan yang sejenis, semuanya termasuk
ke dalam istilah "zakat pendapatan" dan tidak dipersyaratkan satu tahun (maksudnya
harus dikeluarkan ketika diperoleh).
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para Shahabat dan Tabi'in mengenai
persyaratan "berlalu setahun" ini. Ada pendapat yang mengatakan bahwa zakat wajib
dikeluarkan begitu diperoleh bila sampai senisab, baik karena sendiri maupun karena
tambahan dari yang sudah ada, tanpa mempersyaratkan satu tahun. Perbedaan ini
dikarenakan "tidak adanya satu hadits yang tegas" mengenai persyaratan ini.
(Pembahasan masalah ini secara mendetail pada pembahasan zakat profesi/pendapatan).
Sesuatu yang tidak diperselisihkan sejak dulu adalah zakat kekayaan yang termasuk zakat
modal hanya diwajibkan satu kali dalam setahun.

B. Macam-macam Zakat Harta Kekayaan


Pembahasan berikut ini adalah tentang "Macam-macam Zakat Kekayaan dan
Besarannya". Untuk memudahkan pembahasan macam-macam zakat maal atau harta
kekayaan ini, di sini dibedakan zakat maal yang ada nashnya secara jelas (zakat maal
dalam fiqh klasik) dan zakat maal yang merupakan ijtihad dan qias para ulama masa kini
(zakat maal dalam fiqh kontemporer).

Jenis Zakat Maal dalam Perspektif Fiqh Klasik


1. Zakat hewan ternak
2. Zakat emas, perak dan uang
3. Zakat perniagaan/kekayaan dagang
4. Zakat pertanian
5. Zakat rikaz

Jenis Zakat Maal dalam Perspektif Fiqh Kontemporer


1. Zakat penghasilan dan profesi
2. Zakat perusahaan
3. Zakat barang tambang, hasil laut dan perikanan
4. Zakat hasil manfaat
5. Zakat macam lainnya

1. Zakat Hewan Ternak


Hewan ternak yang wajib dizakati meliputi hewan besar (unta, kerbau, sapi dan
kuda) dan hewan kecil (kambing, domba dan biri-biri).

a. Syarat Zakat Hewan Ternak


Zakat hewan ternak ini memiliki persyaratan:
1. Mencapai nishab, yaitu jumlah minimal hewan ternak yang dimiliki; 5 ekor untuk
unta, 30 ekor untuk sapi, dan 40 ekor untuk kambing, domba dan biri-biri.
2. Melewati haul, yaitu ternak yang mencapai jumlah nishab dan melewati satu tahun
dimiliki.
3. Digembalakan di tempat penggembalaan umum.
4. Hewan ternak tersebut tidak digunakan untuk keperluan pribadi atau sebagai hewan
pekerja, seperti mengangkut barang, membajak sawah dan lainnya.

b. Cara Penghitungan Zakat Hewan Ternak


1. Sapi, Kerbau dan Kuda
Nishab kerbau dan kuda disetarakan dengan nishab sapi, yaitu 30 ekor. Artinya
jika seseorang sudah memiliki sapi, kerbau atau kuda berjumlah 30 ekor dan dimiliki
sudah melewati satu tahun maka sudah harus dikeluarkan zakatnya. Berikut tabel cara
penghitungannya:

Jumlah Ternak
Zakat yang Dikeluarkan
(Ekor)
30 39 1 ekor sapi (jantan/betina) tabi (berumur 1 th masuk tahun ke-2)
40 49 1 ekor sapi betina musinnah (berumur 2 th masuk tahun ke-3)
60 69 2 ekor sapi (jantan/betina) tabi (berumur 1 th masuk tahun ke-2
70 79 1 ekor sapi musinnah dan 1 ekor tabi
80 89 2 ekor sapi musinnah

Jika setiap jumlah itu bertambah 30 ekor, maka zakatnya bertambah 1 ekor tabi,
dan jika setiap jumlah itu bertambah 40 ekor maka zakatnya bertambah 1 ekor musinnah.

2. Kambing, Domba dan Biri-biri


Nisab domba dan biri-biri disetarakan dengan nishab kambing, yaitu 40 ekor.
Artinya jika seseorang sudah memiliki kambing berjumlah 30 ekor dan dimiliki sudah
melewati satu tahun maka sudah harus dikeluarkan zakatnya. Berikut tabel cara
penghitungannya:

Jumlah Ternak
Zakat yang Dikeluarkan
(Ekor)
40 120 1 ekor kambing (berumur 2 tahun) atau domba (berumur 1 tahun)
121 200 2 ekor kambing/domba/biri-biri
201 300 3 ekor kambing/domba/biri-biri

Jika setiap jumlah kambing, domba dan biri-biri itu bertambah 100 ekor maka zakatnya
bertambah 1 ekor.

3. Unta
Nishab unta adalah 5 ekor. Artinya jika seseorang sudah memiliki unta berjumlah
5 ekor dan dimiliki sudah melewati satu tahun maka sudah harus dikeluarkan zakatnya.
Berikut tabel cara penghitungannya:

Jumlah Ternak
Zakat yang Dikeluarkan
(Ekor)
59 1 ekor kambing (berumur 2 tahun) atau domba (berumur 1 tahun)
10 14 2 ekor kambing (berumur 2 tahun) atau domba (berumur 1 tahun)
15 19 3 ekor kambing (berumur 2 tahun) atau domba (berumur 1 tahun)
20 24 4 ekor kambing (berumur 2 tahun) atau domba (berumur 1 tahun)
25 35 1 ekor unta bintu makhad (unta betina umur 1 tahun masuk 2 th)
36 45 1 ekor unta bintu labun (unta betina umur 2 tahun masuk 3 tahun)
46 60 1 ekor unta hiqah (unta betina umur 3 tahun masuk tahun ke-4)
61 75 1 ekor unta jadzah (unta betina umur 4 tahun masuk tahun ke-5)
76 90 2 ekor unta bintu labun (unta betina umur 2 tahun masuk 3 tahun)
91 120 2 ekor unta hiqah (unta betina umur 3 tahun masuk tahun ke-4)

Jika setiap jumlah unta itu bertambah 40 ekor, maka zakatnya bertambah 1 ekor
unta bintu labun, dan jika setiap jumlah itu bertambah 50 ekor maka zakatnya bertambah
1 ekor unta hiqah.

2. Zakat Emas dan Perak


Pembahasan mengenai zakat emas dan perak (E&P) perlu dibedakan antara E&P
sebagai perhiasan atau E&P sebagai uang (alat tukar). Sebagai perhiasan E&P juga dapat
dibedakan antara perhiasan wanita dan perhiasan lainnya (ukiran, souvenir, perhiasan pria
dan lainnya). Minimnya pemahaman fungsi E&P sebagai alat tukar atau mata uang
menyebabkan banyaknya simpanan uang di kalangan ummat Islam tidak tertunaikan
zakatnya.

a. Emas dan Perak sebagai Uang


E&P sejak pada zaman Rasulullah digunakan sebagai alat tukar (uang), yaitu uang
emas (dinar) dan uang perak (dirham). Kedua mata uang ini mereka peroleh dari
kerajaan-kerajaan tetangga yang besar, dinar banyak digunakan penduduk kerajaan
Romawi Bizantium sedangkan dirham pada kerajaan Persia.
Adapun maksud surat Al-Taubah ayat 34-35: "Dan orang-orang yang menyimpan
emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah,....", ayat ini condong pada
maksud E&P dalam artian uang, karena ia merupakan sesuatu yang dapat diinfakkan dan
alat yang dipakai langsung untuk infaq dan transaksi. Ancaman Allah dijumpai dalam
dua hal yaitu; penyimpanannya, dan tidak diinfakkannya pada jalan Allah. Ini dianggap
"tidak berzakat". Beberapa hadits juga menjelaskan dengan makna yang sama.

1. Hikmah Wajib Zakat Uang


Sesungguhnya kepentingan uang adalah untuk bergerak dan beredar, maka ia
dimanfaatkan oleh orang-orang yang mengedarkannya. Sebaliknya penyimpanan dan
pemendamannya akan menyebabkan tidak lakunya pekerjaan-pekerjaan, merajalelanya
pengangguran, matinya pasar-pasar, dan mundurnya kegiatan perekonomian secara
umum. Oleh karenanya pewajiban zakat bagi pemilik uang (yang sudah sampai nisab)
baik yang dikembangkan maupun tidak adalah merupakan langkah kongkrit yang patut
diteladani.

2. Besarnya Zakat Uang


Tidak terdapat perbedaan pendapat ulama dalam hal besarnya zakat uang yaitu
2,5%. Yusuf Al-Qaradhawy juga membantah keras beberapa peneliti dewasa ini yang
menganjurkan agar besar zakat ini ditambah sesuai dengan kebutuhan dan
perkembangaan keadaan. Alasan yang dikemukakan antara lain: Hal tersebut
bertentangan dengan nash yang jelas; bertentangan dengan ijmak ulama; bahwa zakat
adalah kewajiban, karena itu harus mempunyai sifat yang tetap, kekal dan utuh; adapun
kebutuhan dana bagi negara dewasa ini dapat diatasi dengan pengadaan pajak lain di
samping zakat.

3. Nisab Uang
Menurut penelitian Yusuf Al-Qaradhawy, ketentuan nisab zakat uang, yaitu 85
gram emas dan 200 gram perak. Adapun nisab untuk uang kertas dan surat-surat berharga
lain ditetapkan setara dengan 85 gram emas, dengan pertimbangan nilai emas jauh lebih
stabil dari pada perak.
Setiap uang milik penuh yang sudah sampai senisab, bebas dari hutang, dan
merupakan kelebihan dari kebutuhan pokok, maka wajib dikeluarkan zakatnya 2,5 %,
yaitu sekali dalam setahun. Mengenai kapan harus dikeluarkan, apakah di awal atau
akhir tahun atau pada saat diterima, Insya Allah akan dibahas dalam pembahasan "zakat
penghasilan/profesi".

b. Zakat Emas dan Perak Non Uang


Selain digunakan sebagai uang, E&P juga digunakan sebagai perhiasan.
Penggunaan E&P untuk perhiasan ada yang diperbolehkan oleh syara' dan ada yang tidak
diperbolehkan. Perhiasan emas yang dihalalkan adalah untuk kaum wanita dalam batas
yang tidak berlebihan, dan juga perak untuk pria. Sedangkan pria tidak dihalalkan
memakai perhiasan emas.
Perhiasan yang tidak wajib dizakati adalah perhiasan yang dipakai dan
dimanfaatkan. Adapun yang dijadikan sebagai benda simpanan, maka hal itu wajib
dizakati. Karena pada hakekatnya simpanan E&P ini mempunyai potensi untuk
dikembangkan.
Setelah menempuh analisis yang panjang, maka untuk masalah ini dapat
disimpulkan:
1. Kekayaan dari E&P yang digunakan sebagai simpanan wajib dikeluarkan zakatnya.
2. Jika kekayaan E&P tersebut untuk dipakai seseorang, maka hukumnya dilihat pada
macam penggunaannya; jika penggunaannya bersifat haram seperti untuk bejana-
bejana emas atau perak, patung-patung maka wajib dikeluarkan zakatnya.
3. Diantara pemakaian perhiasan yang diharamkan adalah yang ada unsur berlebih-
lebihan dan menyolok oleh seorang perempuan.
4. Jika perhiasan tersebut digunakan untuk hal yang mubah seperti perhiasan perempuan
yang tidak berlebih-lebihan, serta cincin perak untuk laki-laki, maka tidak wajib
dikeluarkan zakatnya, karena perhiasan tersebut merupakan harta yang tidak
berkembang (tidak memenuhi syarat harta yang wajib zakat), dan juga merupakan
salah satu di antara kebutuhan-kebutuhan manusia.
5. Tidak ada perbedaan antara perhiasan mubah tersebut dimiliki oleh seseorang untuk
dipakainya sendiri atau dipinjamkan kepada orang lain.
6. Yang wajib dizakati dari perhiasan yang tidak dibenarkan syara' (bejana, patung dll)
adalah sebesar ukuran mata uang dan dikeluarkan zakatnya sebanyak 2,5 % setiap
tahun dengan hartanya yang lain jika memiliki.
7. Hal ini dengan syarat telah mencapai nisab atau bersama dengan hartanya yang lain
memenuhi nisab, yaitu 85 gram emas, yaitu nilainya dan bukan ukurannya
(Perhatian: Nilai dan Ukuran itu berbeda, sebagai contoh, sebuah patung emas atau
perak bisa mempunyai nilai jual berlipat-lipat dari harga ukuran material emas/perak
tersebut).

3. Zakat Perniagaan/Kekayaan Dagang


Harta perniagaan adalah seluruh jenis harta yang memang untuk diperjual-belikan,
dalam bentuk apa pun, seperti makanan/minuman, perhiasan, pakaian, peralatan dan
sebagainya. Perniagaan ini dapat berbentuk perdagangan, industri, agroindustri, ataupun
jasa. Harta perniagaan wajib dizakati, dengan syarat-syaratnya sama dengan zakat emas
dan perak. Rasulullah Saw bersabda :
Kain-kain yang disediakan untuk dijual, wajib dikeluarkan zakatnya (HR.Hakim).
Dari Samurah, Rasulullah Saw memerintahkan kepada kami, agar kami menge-
luarkan zakat barang yang disediakan untuk dijual (HR.Daruqutni dan Abu Daud).
Sebagian ulama berpendapat, ada beberapa syarat yang menjadikan perniagaan
wajib dikeluarkan zakatnya, yaitu: ada kepemilikan harta baik pribadi atau bersama, ada
niat berniaga, tidak untuk kebutuhan sehari-hari, sudah sampai nishab, dan melewati haul.
Perniagaan dihitung dari mulainya niaga. Setelah akhir tahun dan cukup satu tahun
(haul) dan cukup senishab wajib dikeluarkan zakatnya. Nishab harta perniagaan dihitung
dari modalnya. Kalau modalnya emas, nisabnya seperti emas, dan jika modalnya perak
nisabnya seperti perak. Nishab zakat perniagaan juga seperti emas dan perak, yaitu 2,5 %.
Cara menghitungnya: (modal diputar + keuntungan + piutang yang dapat dicairkan
sewaktu-waktu) (hutang + kerugian) x 2,5% = harta yang dikeluarkan sebagai zakat.
4. Zakat Pertanian
Maksudnya adalah hasil komoditi pertanian yang diperoleh dari tanaman pangan
dan hortikultura yang memiliki nilai ekonomis atau komersial, seperti biji-bijian, buah-
buahan, umbi-umbian, sayur-mayur, tanaman hias, rumput-rumputan, dedaunan dan jenis
tetumbuhan lainnya.
Besarnya nishab komoditas pertanian adalah 5 wasq atau setara dengan 653 kg.
Nishab tersebut untuk hasil pertanian makanan pokok, seperti beras, gandum, jagung dan
kurma. Hasil pertanian yang bukan makanan pokok nishabnya disetarakan dengan
makanan pokok yang paling umum di daerah setempat, misalnya di Indonesia yaitu beras.
Jumlah besarnya zakat pertanian yang dikeluarkan ada 2 macam, yaitu:
a. Jika hasil dari pertanian yang diairi hujan atau air alami seperti sungai, danau dan
mata air, kadar zakat yang diwajibkan 10 %.
b. Jika pengairan menggunakan peralatan atau pengairan buatan yang membutuhkan
biaya, kadar zakat yang diwajibkan 5 %.
Waktu penunaian zakat pertanian ini adalah pada saat panen atau pemetikan.
Zakat tersebut dikeluarkan setelah dikurangi pembiayaan selama perawatan atau
pembudidayaannya dan sewa tanah atau peralatan lainnya jika menyewa.
Cara menghitungnya: (hasil pertanian biaya pembudidayaan) x 5 % atau 10 % =
harta yang dikeluarkan sebagai zakat.
Firman Allah SWT yang artinya, Dan Dialah (Allah) yang menjadikan kebun-
kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma dan tanaman-tanaman
yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya)
dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila ia
berbuah, dan tunaikanlah haknya pada hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan
zakatnya, dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berlebih-lebihan (QS.Al-Anam/6: 141).

5. Zakat Rikaz
Menurut jumhur ulama, harta rikaz adalah harta yang terpendam di perut bumi
dalam kurun waktu lama atau dari zaman dahulu, biasanya disebut dengan harta karun.
Termasuk juga harta rikaz adalah harta yang ditemukan tanpa pemilik atau tidak ada yang
mengakuinya.
Para ulama sepakat tentang wajibnya zakat harta rikaz, sebagaimana halnya
dengan barang hasil tambang. Dasarnya firman Allah SWT yang artinya, Hai orang-
orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang
baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu, dan
janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan, padahal kamu sendiri
tidak mau mengambilnya, melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya.
Ketahuilah bahwa Allah maha kaya lagi maha terpuji (QS.Al-Baqarah/2: 267).
Kewajiban mengeluarkan zakat harta rikaz ini tidak dikenakan syarat nishab dan
haul. Waktu mengeluarkan zakat ini adalah ketika harta tersebut diperoleh. Besarnya
zakat yang dikeluarkan adalah seperlima atau 20 % dari total harta yang ditemukan.
Dalam Hadits diriwayatkan: dari Abu Hurairah ra Rasulullah Saw bersabda, Zakat rikaz
itu adalah seperlima bagian (HR.Bukhari dan Muslim).
6. Zakat Penghasilan dan Profesi
Topik ini merupakan bagian dari zakat maal dalam fiqh zakat kontemporer yang
tidak terdapat kajiannya dalam fiqh zakat klasik. Hal ini merupakan ijtihad ulama dalam
rangka menentukan hukum yang jelas mengenai kedudukan harta penghasilan dan
profesi, sejak zaman sahabat hingga zaman sekarang.
Untuk menghilangkan keragu-raguan terhadap harta yang diperoleh melalu
profesi: Apakah itu terkait dengan kewajiban zakat? Bila ya, berapa besarnya? Berapa
nisabnya? Bagaimana cara pembayarannya? Dan sebagainya. Oleh karena itu topik ini
disampaikan secara lebih detil.
Bentuk penghasilan yang paling menyolok dewasa ini adalah harta yang
diperoleh berupa penghasilan suatu profesi, baik yang tergantung kepada orang lain
seperti pegawai (negeri atau swasta), atau yang tidak tergantung kepada pihak lain
(professional), seperti dokter, advokat, penjahit, seniman, dan lainnya. Jenis pekerjaan ini
mendatangkan penghasilan baik berupa gaji, upah ataupun honorarium.
Perbedaan pendapat di antara para ulama tentang kewajiban zakat harta
penghasilan dan profesi ini sudah berlangsung sejak lama. Adapun beberapa ulama
kontemporer beranggapan bahwa upaya menemukan hukum pasti terhadap zakat jenis ini
sangat mendesak, karena sekarang jenis penghasilan ini yang paling banyak dijumpai.
Bila tidak, berarti kita telah melepaskan banyak orang dari kewajiban zakat yang telah
dinyatakan jelas kewajibannya secara umum dalam al-Quran dan Sunnah ("Hai orang-
orang yang beriman keluarkanlah sebagian usaha kalian" (QS.2: 267).

a. Zakat Penghasilan dan Profesi dalam Perspektif Fiqh Islam


Zakat harta dari penghasilan dan Profesi (P&P) memang tidak ditemukan
contohnya dalam Hadits, namun dengan menggunakan kaidah ushul fiqh dapatlah harta
P&P digolongkan kepada "harta kekayaan", yaitu kekayaan yang diperoleh seseorang
muslim melalui bentuk usaha baru yang sesuai dengan syariat agama. Harta penghasilan
itu sendiri dapat dibedakan menjadi :
1. Penghasilan yang berkembang dari kekayaan lain, misalnya uang hasil menjual
produksi pertanian yang sudah dikeluarkan zakatnya 10% atau 5% yang tentunya
uang hasil penjualan tersebut tidak perlu dizakatkan pada tahun yang sama karena
kekayaan asalnya (produksi pertanian tersebut) sudah dizakatkan. Ini untuk mencegah
terjadinya apa yang disebut double zakat.
2. Penghasilan yang berasal karena penyebab bebas, seperti gaji, upah, honor, investasi
modal dan lainnya (pembahasan pada bagian ini berkisar pada jenis harta penghasilan
yang kedua ini). Karena harta yang diterima ini belum pernah sekalipun dizakatkan,
dan mungkin tidak akan pernah sama sekali bila harus menunggu setahun dulu.
Perbedaan yang menyolok dalam pandangan fiqh tentang harta penghasilan ini,
terutama berkaitan dengan adanya konsep "berlaku setahun/haul" yang dianggap sebagai
salah satu syarat dari harta yang wajib zakat. Sebagian pendapat mengungkapkan syarat
ini berlaku untuk semua jenis harta, tapi sebagian lainnya mengungkapkan syarat ini tidak
berlaku untuk seluruh jenis harta, terutama tidak berlaku untuk jenis harta penghasilan.
Jika syarat haul (satu tahun) itu diberlakukan untuk semua jenis harta kekayaan, maka
akan sulit melaksanakan kewajiban zakat untuk harta penghasilan.
Kelompok terakhir ini berpendapat, bahwa zakat penghasilan ini wajib
dikeluarkan zakatnya langsung ketika diterima tanpa menunggu waktu satu tahun.
Diantara kelompok terakhir ini adalah: Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud, Muawiyyah, Umar bin
Abdul Aziz dan lainnya.
Pendapat mana yang lebih kuat tentang kedudukan zakat P&P ini? Perlu ditelaah
kembali hadits-hadits tentang ketentuan setahun ini, seperti dijumpai dari empat hadits
dari empat shahabat, yaitu: Ali, Ibnu Umar, Anas dan Aisyah ra. Dua diantaranya: Hadits
dari Ali ra. dari Nabi Saw: Bila engkau mempunyai 200 dirham dan sudah mencapai
waktu setahun, maka zakatnya adalah 5 dirham,...... dan Hadits dari Aisyah ra,
Rasulullah pernah bersabda : Tidak ada zakat pada suatu harta hingga lewat setahun.
Tetapi ternyata hadits-hadits itu mempunyai kelemahan-kelemahan dalam
sanadnya sehingga tidak bisa untuk dijadikan landasan hukum yang kuat (hadits shahih),
apalagi untuk dikenakan pada jenis "harta penghasilan" karena akan berlawanan dengan
apa yang pernah dilakukan oleh beberapa shahabat. Adanya perbedaan pendapat di
kalangan para shahabat tentang persyaratan setahun untuk zakat penghasilan juga
mendukung ketidakshahihan hadits-hadits tersebut.
Bila benar hadits-hadits tersebut berasal dari Nabi Saw, maka pengertian yang
dapat diterima adalah: "harta benda yang sudah dikeluarkan zakatnya tidak wajib lagi
zakat sampai setahun berikutnya", zakat adalah tahunan.
Beberapa riwayat sahabat seperti Ibnu Mas'ud, menceritakan bagaimana harta
penghasilan langsung dikeluarkan zakatnya ketika diterima tanpa menunggu setahun.
Sehingga menjadi semakin jelas bahwa masa setahun tidak merupakan syarat, tetapi
hanya merupakan tempo antara dua pengeluaran zakat.
Setelah mengadakan studi perbandingan dan penelitian yang mendalam terhadap
nash-nash yang berhubungan dengan status zakat untuk bermacam-macam jenis
kekayaan, dengan memperhatikan hikmah dan maksud Allah mewajibkan zakat, dan
diperhatikan pula kebutuhan umat Islam pada masa sekarang, Yusuf Al-Qaradhawy
berpendapat bahwa harta hasil usaha seperti: gaji pegawai, upah karyawan, pendapatan
dokter, insinyur, advokat, penjahit, seniman, dan lainnya adalah wajib zakat dan
dikeluarkan zakatnya pada waktu diterima, dengan alasan yang dikuatkan dalil.
1. Persyaratan satu tahun dalam seluruh harta termasuk harta penghasilan tidak berdasar
nash yang mencapai tingkat shahih atau hasan yang darinya bisa diambil ketentuan
hukum syara' yang berlaku umum bagi ummat.
2. Para sahabat dan tabi'in memang berbeda pendapat dalam harta penghasilan; sebagian
mempersyaratkan adanya masa setahun, sedangkan sebagian lain tidak
mempersyaratkannya, yang berarti wajib dikeluarkan zakatnya pada saat harta
penghasilan tersebut diterima. Oleh karenanya persoalan tersebut dikembalikan
kepada nash-nash yang lain dan kaedah-kaedah yang lebih umum.
3. Ketiadaan nash ataupun ijmak dalam penentuan hukum zakat harta penghasilan
membuat mazhab-mazhab berselisih pendapat tajam sekali, yang bila dijajagi lebih
jauh justru menimbulkan berpuluh-puluh persoalan baru yang semakin merumitkan,
yang seringkali hanya berdasarkan dugaan-dugaan dan tidak lagi didasarkan pada
nash yang jelas dan kuat.
4. Mereka yang tidak mempersyaratkan satu tahun bagi syarat harta penghasilan wajib
zakat lebih dekat kepada nash yang berlaku umum dan tegas. Karena nash-nash yang
mewajibkan zakat baik dari al-Quran maupun sunnah datang secara umum dan tegas
dan tidak terdapat di dalamnya persyaratan setahun. Misalnya : "Hai orang-orang
yang beriman keluarkanlah sebagian usaha kalian" (QS.2:267). Kata "ma kasabtum"
merupakan kata umum yang artinya mencakup segala macam usaha: perdagangan
atau pekerjaan dan profesi. Para ulama fiqh berpegang pada keumuman maksud ayat
tersebut sebagai landasan zakat perdagangan, yang oleh karena itu kita tidak perlu
ragu memakainya sebagai landasan zakat penghasilan dan profesi. Bila para ulama
fiqh talah menetapkan setahun sebagai syarat wajib zakat perdagangan, karena antara
pokok harta dengan laba yang dihasilkan tidak dipisahkan, sementara laba dihasilkan
dari hari ke hari bahkan dari jam ke jam. Lain halnya dengan gaji atau sebangsanya
yang diperoleh secara utuh, tertentu dan pasti.
5. Disamping nash yang berlaku umum dan mutlak memberikan landasan kepada
pendapat mereka yang tidak menjadikan satu tahun sebagai syarat harta penghasilan
untuk wajib zakat, qias yang benar juga mendukungnya. Kewajiban zakat uang atau
sejenisnya pada saat diterima, diqiaskan dengan kewajiban zakat pada tanaman dan
buah-buahan pada waktu panen.
6. Pemberlakuan syarat satu tahun bagi zakat harta penghasilan berarti membebaskan
sekian banyak pegawai dan pekerja profesi dari kewajiban membayar zakat atas
pendapatan mereka yang besar, karena mereka itu akan menjadi dua golongan saja:
yang menginvestasikan pendapatan mereka terlebih dahulu, dan yang berfoya-foya
dan menghamburkan semua penghasilannya sehingga tidak mencapai masa wajib
zakatnya. Itu berarti zakat hanya dibebankan pada orang-orang yang hemat saja, yang
membelanjakan kekayaan seperlunya, yang mempunyai simpanan sehingga mencapai
masa zakatnya. Hal ini jauh sekali dari maksud kedatangan syariat yang adil dan
bijak. Hal ini justru akan memperingan beban orang-orang pemboros dan
memperberat orang-orang yang hidup sederhana.
7. Pendapat yang menetapkan setahun sebagai syarat harta penghasilan jelas terlihat
saling kontradiksi yang tidak bisa diterima oleh keadilan dan hikmat Islam
mewajibkan zakat. Misalnya seorang petani yang bercocok tanam hasilnya dikenakan
zakat sebanyak 10% atau 5%, sedangkan seorang dokter, insinyur, advokat, pemilik
mobil angkutan, pemilik hotel, dan lainnya yang dalam satu jam terkadang
memperoleh berjuta-juta rupiah tidak dikenakan zakat.
8. Pengeluaran zakat penghasilan setelah diterima akan lebih menguntungkan fakir
miskin dan orang-orang yang berhak lainnya. Ini akan menambah besar
perbendaharaan zakat dan juga memudahkan pemiliknya dalam mengeluarkan
zakatnya. Cara yang dinamakan oleh para ahli perpajakan dengan "Penahanan pada
Sumber" sudah dipraktekan oleh Ibn Mas'ud, Mu'awiyah dan juga Umar bin Abdul
Aziz yaitu dengan memotong gaji para tentara dan orang-orang yang di bawah
kekuasaan negara saat itu.
9. Menegaskan bahwa zakat wajib atas penghasilan dan profesi sesuai dengan tuntunan
Islam yang menanamkan nilai-nilai kebaikan, kemauan berkorban, belas kasihan dan
suka memberi dalam jiwa seorang muslim. Pelepasan kewajiban zakat dari jenis-jenis
penghasilan yang berkembang sekarang ini dengan menunggu masa setahunnya,
berarti membuat orang-orang hanya bekerja, berbelanja dan bersenang-senang, tanpa
harus mengeluarkan sebagian rezeki karunia Allah dan tidak merasa kasihan kepada
orang yang tidak diberi nikmat kekayaan itu dan kemampuan berusaha.
10. Tanpa persyaratan setahun bagi harta penghasilan akan lebih menguntungkan dari
segi administrasi baik bagi orang yang mengeluarkan maupun pihak amil yang
memungut zakat. Persyaratan satu tahun bagi zakat penghasilan, menyebabkan setiap
orang harus menentukan jatuh tempo pengeluaran setiap jumlah kekayaan yang
diterimanya. Ini berarti bahwa seseorang muslim bisa mempunyai berpuluh-puluh
masa tempo masing-masing kekayaan yang diperoleh pada waktu yang berbeda-beda.
Ini sulit sekali dilakukan, dan sulit pula bagi pengelola zakat untuk memungut dan
mengaturnya.

b. Nisab dan Besarnya Zakat Penghasilan dan Profesi


Nisab zakat penghasilan dan profesi adalah 85 gram emas, sama dengan nisab
zakat uang. Demikian pula dengan besarnya zakat yang dikeluarkan adalah 1/40 atau
(2,5%) sesuai dengan keumuman nash yang mewajibkan zakat uang sebesar itu.
Timbul persoalan tentang orang-orang yang memiliki penghasilan dari profesi.
Mereka menerima pendapatan dari profesinya tersebut tidak sama, ada yang setiap hari
seperti dokter, atau pada saat-saat tertentu seperti seorang advokat, kontraktor dan
penjahit, atau secara regular mingguan atau bulanan seperti kebanyakan para pegawai.
Bila nisab di atas ditetapkan untuk setiap kali upah atau gaji yang diterima, maka
banyak golongan profesi yang menerima gaji beberapa kali pembayaran dan jarang sekali
cukup nisab dari kewajiban zakat. Sedangkan bila seluruh gaji itu dalam satu waktu
tertentu dikumpulkan, maka akan cukup senisab bahkan lebih. Sementara waktu
penyatuan dari penghasilan itu yang dimungkinkan dan dibenarkan oleh syariat adalah
satu tahun, dimana zakat dibayarkan setahun sekali. Fakta juga menunjukkan bahwa
pemerintah mengatur gaji pegawainya berdasarkan ukuran tahun, meskipun dibayarkan
per bulan karena kebutuhan pegawai yang mendesak.
Penghasilan yang diukur nisabnya adalah penghasilan bersih, yaitu penghasilan
yang telah dikurangi dengan kebutuhan biaya hidup terendah atau kebutuhan pokok
seseorang berikut tanggungannya dan juga setelah dikurangi untuk pembayaran hutang
(hutang bukan karena kredit barang mewah tapi karena untuk memenuhi kebutuhan
pokok/primer seperti bayar kredit rumah BTN, hutang nunggak bayaran sekolah anak,
dan yang sejenis).
Bila penghasilan bersih itu dikumpulkan dalam setahun atau kurang dalam
setahun dan telah mencapai nisab, maka wajib zakat dikeluarkan 2,5 % nya. Bila
seseorang telah mengeluarkan zakatnya langsung ketika menerima penghasilan (karena
yakin dalam waktu setahun penghasilan bersihnya akan lebih dari senisab), maka tidak
wajib lagi bagi dia mengeluarkannya di akhir tahun (karena akan berakibat double zakat).
Selanjutnya muzaki harus membayar zakat dari penghasilan tersebut pada tahun kedua
dalam bentuk kekayaan yang mungkin berbeda.
Jika kelebihan itu disimpan dalam bentuk uang, emas dan perak, maka zakatnya
masuk dalam zakat uang, emas dan perak. Jika kelebihan itu diinvestasikan (pabrik,
gedung, rumah yang disewakan, kendaraan yang disewakan, dan yang sejenisnya), maka
zakatnya termasuk dalam zakat investasi. Jika harta tersebut diputar dalam perdagangan
maka zakatnya termasuk dalam zakat perdagangan. Jika dibelikan saham atau obligasi,
maka zakatnya masuk dalam zakat saham dan obligasi. Namun jika kelebihan itu
dibelanjakan untuk sesuatu yang dipergunakan sehari-hari atau yang tidak mempunyai
potensi berkembang, maka tidak ada kewajiban zakat lagi.

c. Cara Penghitungan Praktis


Berikut ini rumus cara penghitungan zakat penghasilan atau profesi secara
ringkas untuk kalkulasi yang bisa digunakan:
Penerimaan kotor selama setahun : A
Kebutuhan pokok setahun : B
Hutang-hutang yang dibayar dalam setahun : C
Penghasilan bersih setahun : D = A-(B+C)
Bila D > atau = nilai 85 gram mas, maka wajib zakat yaitu (2,5 %) x (D)
Bila D < nilai 85 gram emas, maka tidak wajib zakat.
Keterangan lambang: - (kurang), + (tambah), = (sama dengan), > (lebih besar), < (lebih
kecil), x (kali) dan % (per seratus).
Jadi bila kita yakin bahwa perkiraan besarnya D yang kita miliki dalam setahun
adalah sama atau lebih besar dari nilai harga 85 gram emas, maka kita tidak perlu lagi
ragu-ragu mengeluarkan zakat langsung ketika diterima. Misalnya dari gaji bulanan
diambil 2,5 % dari D/12 (karena perbulan).
Bila disamping gaji bulanan kita memperoleh tambahan penghasilan lain dari
profesi kita, misalnya bagi dosen universitas negeri yang juga mengajar di universitas
swasta. Misalnya memperoleh sebesar E dalam setahun, maka zakatnya adalah (2,5 %) x
(D+E), karena seluruh pembiayaan B dan C sudah dibayar sebelumnya ketika
menghasilkan D.
Perlu diingat bahwa ini hanya zakat dari penghasilan dan profesi. Bentuk-bentuk
kekayaan lain yang kita miliki, jika ada, seperti; peternakan, pertanian, investasi, emas
dan perak, uang tabungan, saham, obligasi, perdagangan dan lainnya, juga harus
dikeluarkan zakatnya dengan ukuran nisab dan besar zakat yang berbeda satu dengan
lainnya.

7. Zakat Hasil Perusahaan


Sebelum kita menentukan apakah perusahaan itu harus dikeluarkan zakatnya atau
tidak, sebaiknya dipahami dahulu arti dan seluk beluk perusahaan dari segi hukum fiqh
Islam.

a. Perusahaan Berdasarkan Tinjauan Hukum


Dalam UWDP (Undang-undang Wajib Daftar Perusahaan) definisi perusahaan
adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan jenis usaha yang bersifat tetap dan terus
menerus dan didirikan, bekerja, serta berkedudukan dalam wilayah negara Indonesia
untuk tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba.
Dalam pasal 1 huruf (d) UWDP, dirumuskan bahwa yang dimaksud usaha adalah
setiap tindakan perbuatan atau kegiatan apa pun dalam bidang perekonomian yang
dilakukan oleh setiap pengusaha untuk tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba.
Pengusaha adalah setiap perseorangan atau persekutuan atau badan hukum yang
menjadikan suatu jenis perusahaan.

b. Perusahaan Berdasarkan Tinjauan Fiqh


Perlunya perusahaan (syirkah) ditinjau dari segi Fiqh Islam menyangkut wajib
tidaknya zakat. Ulama Hanafiah mendefinisikan syirkah, Transaksi dua orang yang
berkongsi dalam modal dan keuntungan, ulama Malikiah mendefinisikannya, Akad
atau transaksi dua orang pemilik modal atau lebih dalam menggubakannya sebagai
modal usaha bersama dengan pembagian keuntungan diantara mereka sesuai dengan urf
(kebiasaan) yang berlaku.
Para fuqaha (ahli fiqh) membagi syirkah menjadi dua: Pertama, syirkah amlak,
yaitu kebersamaan dalam kepemilikan, seperti dua orang ahli waris yang mendapatkan
warisan satu rumah, maka rumah itu dimiliki oleh dua orang tersebut. Kedua, syirkah
uqudi atau akad perkongsianatau syirkah dalam transaksi.
Keputusan seminar zakat di Kuwait tanggal 3 April 1984 tentang ijtihad ulama
berkenaan dengan zakat perusahaan, memutuskan bahwa zakat perusahaan ditunaikan
apabila terpenuhi kondisi berikut ini:
1. Adanya peraturan yang mengharuskan pembayaran zakat perusahaan tersebut.
2. Anggaran dasar perusahaan memuat hal tersebut.
3. RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) mengeluarkan keputusan yang berkaitan
dengan zakat perusahaan.
4. Kerelaan para pemegang saham untuk menyerahkan pengeluaran zakat sahamnya
kepada dewan direksi perusahaan.

c. Landasan Syariah Zakat Perusahaan


Para ulama menjadikan riwayat al-khulthah (pembauran harta kekayaan berupa
ternak) sebagai landasan atau dalil untuk zakat perusahaan. Prinsip tersebut sudah terjadi
pada zaman Rasulullah Saw pada pembauran ternak yang dimiliki dua orang atau lebih
dan dikeluarkan zakatnya. Madzhab Syafii memperluas cakupan prinsip al-khulthah,
bukan hanya pada ternak saja namun pada yang lainnya, seperti pertanian dan uang.

d. Qiyas (Analogi) Zakat Perusahaan


Pada prinsipnya, zakat perusahaan dianalogikan dengan zakat perdagangan dan
investasi, termasuk cara penghitungannya. Namun ada sedikit perbedaan dari segi
kolektivitasnya. Karenanya, untuk penghitungan dipakai cara sebagai berikut:
1. Jika hasil perusahaan di bidang perdagangan, maka sama dengan aturan zakat
perdagangan, yakni sebesar 2,5 %.
2. Jika hasil perusahaan di bidang produksi, maka sama dengan aturan zakat investasi
atau pertanian. Hasil perusahaan ini dikeluarkan zakatnya ketika menghasilkan,
sedangkan modalnya tidak termasuk hitungan.
Abu Ishaq al-Syatibi berpendapat, Hukum zakat perusahaan adalah seperti
hukum zakat perdagangan, karena ia memproduksi kemudian menjualnya, atau
menjadikan yang diproduksinya itu sebagai komuditas perdagangannya, maka ia harus
mengeluarkan zakatnya tiap tahun dari yang dimilikinya, baik berupa stok barang yang
ada ditambah nilai dari hasil penjualan yang ada apabila telah mencapai nishab.

8. Zakat Barang Tambang, Hasil Laut dan Perikanan


Barang tambang (madin) adalah harta yang diciptakan Allah SWT di dalam
bumi, dapat berupa emas, perak, minyak bumi, gas bumi, batu bara, pasir besi, kapur,
belerang, batu dan lainnya. Menurut madzhab Maliki, barang-tambang tersebut wajib
dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5 %, dan tidak sama dengan harta rikaz.

Zakat barang tambang tidak disyaratkan haul, namun wajib dikeluarkan zakatnya
pada saat dihasilkan atau sudah selesai diolah, sama dengan zakat tanaman pertanian.
Karena itu bagi perseorangan atau perusahaan yang melakukan penambangan wajib
mengeluarkan zakatnya.
Demikian juga dengan hasil laut dan perikanan wajib dikeluarkan zakatnya
sebesar 2,5 %. Seorang nelayan atau perusahaan penangkapan dan pengolahan ikan yang
hasilnya dijual wajib mengeluarkan zakatnya setelah sampai senishab yang disetarakan
dengan nishab zakat emas, 85 gram.
Contoh cara penghitungan: jika hasil tambang atau tangkapan ikan setelah dijual
seharga atau lebih dari 85 gram emas, misalnya Rp 16.000.000,-, maka zakat yang harus
dikeluarkan adalah (Rp 16.000.000,-) x (2,5 %) = Rp 400.000,-

9. Zakat Hasil Manfaat


Harta atau barang yang dipakai, dipergunakan atau dimanfaatkan langsung oleh
yang memiliki dalam kehidupan sehari-hari, tidak dikenai kewajiban zakat. Adapun harta
atau barang yang mendatangkan pemasukan, seperti barang yang disewakan, maka
hasilnya wajib dikeluarkan zakatnya. Inilah yang disebut sebagai harta yang diambil hasil
manfaatnya.
Beberapa obyek zakat yang termasuk kategori ini diantaranya:
a. Pemasukan dari hasil kontrakan rumah atau bangunan lainnya.
b. Pemasukan dari hasil menyewakan sarana transportasi.
c. Pemasukan dari hasil ternak ayam petelur dan yang semisalnya.
d. Pemasukan dari hasil ternak yang dipekerjakan atau diambil hasilnya.
e. Pemasukan dari hasil pokok peternakan seperti wol dan susu.
f. Pemasukan dari hasil ternak lebah (madu).
g. Pemasukan dari hasil proyek tender bangunan.
Ketentuan cara penghitungannya adalah sebagai berikut:
a. Besarannya zakat yang harus dikeluarkan adalah 2,5 %.
b. Nisahabnya dianalogikan dengan nishab emas, 85 gram.
c. Mengakumulasikan hasilnya selama satu tahun (haul) dan mencapai satu nishab
minimal.
d. Biaya produksi, operasional dan perawatannya yang langsung maupun tidak langsung
juga hutang (jika ada) dikurangkan dari hasil keseluruhan, baru dihitung nishabnya,
dengan berpedoman kepada prinsip tidak berlebihan dalam cost.
Rumus: (Akumulasi hasil setahun) (Biaya produksi + biaya operasional + biaya
perawatan + pembayaran hutang) x (2,5 %) = zakat yang dikeluarkan.
10. Zakat Harta Macam Lainnya
Selain empat macam terakhir dari zakat harta kontemporer tersebut di atas, para
ulama fiqh Islam kontemporer masih menawarkan banyak macam lagi zakat harta dari
perolehan yang beragam, diantaranya:
a. Zakat infestasi properti.
b. Zakat saham dan surat berharga.
c. Zakat ansurasi syariah.
d. Zakat deposito.
e. Zakat perdagangan mata uang.
f. Zakat sektor usaha modern.
g. Zakat sektor usaha modern.
h. Zakat undian, hadiah dan tunjangan.
Pada prinsipnya nishab zakat dari macam zakat di atas disamakan dengan nilai
nishab emas, 85 gram, dan besarnya zakat yang dikeluarkan 2,5%. Sebagian ulama masih
memperselisihkan wajib tidaknya mengeluarkan zakatnya.

IV. SASARAN ZAKAT (MUSTAHIQ ZAKAT)


Upaya mendistribusikan zakat adalah persoalan yang tidak mudah dan
kompliketed dari pada sekedar mengumpulkannya. Sebagaimana yang diterangkan dalam
QS.9: 60, sasaran zakat ada 8 golongan (ashnaf): fakir, miskin, amil zakat, muallaf, untuk
memerdekakan budak belian (hamba sahaya), orang yang berutang, fisabilillah, dan ibnu
sabil. Sasaran zakat ini sangat penting dalam pandangan Islam, sehingga terdapat hadits
yang menjelaskan bahwa untuk menentukan sasaran zakat ini seakan-akan Allah tidak
rela bila Rasulullah Saw menetapkannya sendiri, sehingga Allah SWT menurunkan Surat
al-Taubah (9) ayat 60.

1. Fakir, dan 2. Miskin


Siapakah yang disebut fakir dan miskin? Terdapat beragam definisi mengenai
kata fakir dan miskin, tapi secara umum fakir dan miskin itu adalah mereka yang
kebutuhan pokoknya tidak tercukupi sedangkan mereka secara fisik tidak mampu bekerja
atau tidak mampu memperoleh pekerjaan. Golongan ini dapat dikatakan sebagai inti
sasaran zakat (Hadits: ... zakat diambil dari orang kaya dan diberikan kepada orang
miskin).
Selanjutnya kita dianjurkan pula untuk lebih memperhatikan orang-orang miskin
yang menjaga diri dan memelihara kehormatan. Sesuai hadits: "Orang miskin itu
bukanlah mereka yang berkeliling minta-minta agar diberi sesuap nasi, satu biji kurma,
tapi orang miskin itu ialah mereka yang hidupnya tidak berkecukupan kemudian diberi
sedekah, dan mereka pun tidak pergi meminta-minta pada orang" (HR.Bukhari Muslim).
Fakir miskin hendaklah diberikan harta zakat yang mencukupi kebutuhannya
sampai dia bisa menghilangkan kefakiran dan kemiskinannya. Bagi yang mampu bekerja
hendaknya diberikan peralatan dan lapangan pekerjaan. Sedangkan bagi yang tidak
mampu lagi bekerja (orang jompo, cacat fisik), hendaknya disantuni seumur hidupnya
dari harta zakat.
Maka jelaslah bahwa tujuan zakat bukanlah memberi orang miskin hanya sedikit
uang, tapi maksudnya ialah memberikan tingkat hidup yang layak. Layak sebagai
manusia yang dijadikan Allah sebagai khalifah di bumi, dan layak sebagai Muslim yang
telah masuk ke dalam agama keadilan dan kebaikan, yang telah masuk ke dalam ummat
pilihan dari kalangan manusia.
Tingkat hidup minimal bagi seseorang ialah dapat memenuhi makan dan minum
yang layak untuk diri dan keluarganya, demikian pula pakaian untuk musim dingin dan
musim panas, juga mencakup tempat tinggal dan keperluan-keperluan pokok lainnya baik
untuk diri dan tanggungannya.
3. Amil Zakat
Amil merupakan sasaran berikutnya setelah fakir miskin (QS.9: 60). Amil adalah
mereka yang melaksanakan segala kegiatan urusan zakat. Allah memerintahkan agar
menyediakan upah bagi mereka dari harta zakat sebagai imbalan. Dimasukkannya amil
sebagai ashnaf menunjukkan bahwa zakat dalam Islam bukanlah suatu tugas yang hanya
diberikan kepada seseorang (individual), tapi merupakan tugas jamaah (bahkan menjadi
tugas negara). Zakat punya anggaran khusus yang dikeluarkan darinya untuk gaji para
pengelolanya.

a. Syarat menjadi Amil Zakat:


Untuk menjadi seorang amil zakat, syaratnya adalah:
1. Seorang Muslim
2. Seorang mukallaf (memiliki tanggung jawab hukum syari)
3. Jujur (dapat dipercaya)
4. Memahami hukum zakat
5. Berkemampuan untuk melaksanakan tugas
6. Bukan keluarga Nabi Muhammad Saw
7. Sebagian ulama mensyaratkan amil itu laki-laki dan orang merdeka (bukan hamba)

b. Tugas Amil Zakat


Tugas seorang amil zakat adalah mengelola semua hal yang berhubungan dengan
pengaturan zakat, meliputi :
1. Mendata jumlah orang yang wajib zakat (muzakki) di wilayah tugasnya.
2. Mendata jumlah orang yang berhak menerima zakat (mustahiq) dan jumlah
kebutuhannya.
3. Memungut zakat dari para muzakki
4. Mengelola zakat secara profesional.
5. Mendistribusikan zakat kepada para mustahiq
6. Mengetahui macam-macam zakat yang diwajibkan
7. Mengetahui besar harta yang wajib dikeluarkan zakatnya

c. Jumlah Bagian Amil Zakat


Amil tetap diberi zakat walau ia kaya, karena yang diberikan kepadanya adalah
imbalan kerjanya bukan berupa pertolongan bagi yang membutuhkan. Amil adalah
pegawai, maka hendaklah diberi upah sesuai dengan pekerjaannya, tidak terlalu kecil dan
tidak juga berlebihan. Pendapat yang terkuat menurut Yusuf Qardawy adalah pendapat
Imam Syafi'i, yaitu maksimal sebesar 1/8 bagian. Kalau upah itu lebih besar dari bagian
tersebut, haruslah diambilkan dari harta di luar zakat, misalnya oleh pemerintah
dibayarkan dari sumber pendapatan pemerintah lainnya.

4. Muallaf
Muallaf adalah orang yang dianggap masih lemah imannya dan perlu dijinakkan
hatinya, karena baru masuk Islam. Mereka diberi zakat agar bertambah kesungguhan dan
keyakinannya dalam memeluk Islam. Ini menunjukkan bahwa Islam dan ummatnya
sangat memperhatikan mereka, agar mereka dapat menyesuaikan diri dengan keadaannya
yang baru yang merupakan bagian dari ummat Islam secara keseluruhan.

5. Hamba Sahaya
Hamba sahaya adalah orang yang statusnya sebagai budak belian dan ingn
memerdekaan dirinya. Zakat yang diberikan kepada hamba sahaya ini bertujuan untuk
memerdekaan dirinya agar statusnya dalam Islam sama dengan orang lain pada
umumnya. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat serius untuk menghilangkan
perbudakan, karena Islam menganut kesamaan status bagi setiap hamba Allah di muka
bumi ini, yang membedakannya adalah ketakwaannya.
Para ulama berpendapat bahwa untuk membebaskan perbudakan ini melalui dua
cara, yaitu:
a. Menolong pembebasan diri hamba mukatab, yaitu budak yang telah membuat
kesepakatan dan perjanjian dengan tuannya untuk membebaskan dirinya dengan
membayar sejumlah harta. Firman Allah yang artinya, Dan budak-budak yang kamu
miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan
mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, maka berikanlah kepada
mereka sebagian harta dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. (QS.al-
Nur/24: 33).
b. Seseorang atau sekelompok orang muzakki atau petugas zakat dengan zakatnya
membeli budak atau amah (budak perempuan) kemudian membebaskannya. Hal ini
juga terkait dengan masalah lain dalam munakahat. Firman Allah yang artinya,
Barang siapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya
untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, maka boleh mengawini wanita
beriman dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu...
(QS.al-Nisaa/4: 25).
Pembebasan budak ini juga disyariatkan dalam Islam jika seseorang melakukan
pelanggaran, seperti kafarat sumpah dan zihar (menyamakan istri dengan ibu kandungnya
sendiri).

6. Gharimin
Gharimin maksudnya adalah orang yang memiliki kewajiban untuk membayar
hutang, baik atas dirinya sendiri atau atas orang lain yang dalam tanggungannya atau
dalam tanggung jawabnya. Dari sini, maka gharimin dapat dibagi menjadi dua macam,
yaitu:

a. Orang yang berhutang untuk kemaslahatan sendiri


Kebutuhan hutang ini seperti untuk nafkah keluarga, berobat karena sakit,
mendirikan rumah dan sebagainya). Termasuk di dalamnya orang yang terkena bencana
sehingga hartanya musnah.

Syarat untuk gharimin ini :


1. Hendaknya ia mempunyai kebutuhan untuk memiliki harta yang dapat membayar
hutangnya.
2. Orang tersebut berhutang dalam melaksanakan ketaatan atau mengerjakan sesuatu
yang diperbolehkan syariat.
3. Hutangnya harus dibayar pada waktu itu. Apabila hutangnya diberi tenggang waktu
dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama apakah orang yang
berhutang ini dapat dikategorikan sebagai mustahiq.
4. Kondisi hutang berakibat sebagai beban yang sangat berat untuk dipikul.

Jumlah yang diberikan kepada orang yang berhutang


Orang yang berhutang karena kemaslahatan dirinya harus diberi sesuai dengan
kebutuhannya. Yaitu untuk membayar lunas hutangnya. Apabila ternyata ia dibebaskan
oleh yang memberi hutang, maka dia harus mengembalikan bagiannya itu. Karena ia
sudah tidak memerlukan lagi (untuk membayar hutang).
Sesungguhnya Syariat Islam, dengan menutup hutang orang yang berhutang
berarti telah menempatkan dua tujuan utama :
1. Mengurangi beban orang yang berhutang dimana ia selalu menghadapi kebingungan
di waktu malam dan kehinaan di waktu siang.
2. Memerangi riba.

b. Orang yang berhutang untuk kemaslahatan orang lain.


Umumnya hal ini dikaitkan dengan usaha untuk mendamaikan dua pihak yang
bersengketa, namun tidak ada dalil syara' yang mengkhususkan gharimin hanya pada
usaha mendamaikan tersebut. Oleh karenanya orang yang berhutang karena melayani
kepentingan masyarakat hendaknya diberi bagian zakat untuk menutupi hutangnya,
walaupun ia orang kaya.
Jadi orang yang mengambil kredit TV misalnya, tentunya tidak termasuk kaum
gharimin yang menjadi sasaran zakat. Karena ia bukannya sengsara karena hutang, tapi
justru menikmatinya.

7. Fi Sabilillah
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai definisi "Fisabilillah"
yang menjadi sasaran zakat dalam QS.9: 60. Apakah harus digunakan definisi dalam arti
sempit yaitu "jihad", atau definisi dalam arti luas yaitu "segala bentuk kebaikan di jalan
Allah".

a. Perlu diperhatikan hal-hal berikut:


1. Kesepakatan Madzhab Empat tentang sasaran fisabilillah.
2. Jihad secara pasti termasuk dalam ruang lingkup fisabilillah.
3. Disyariatkan menyerahkan zakat kepada pribadi mujahid, berbeda dengan
menyerahkan zakat untuk keperluan jihad dan persiapannya. Dalam hal ini terjadi
perbedaan pendapat di kalangan mereka.
4. Tidak diperbolehkan menyerahkan zakat demi kepentingan kebaikan dan
kemaslahatan bersama, seperti mendirikan dam, jembatan, masjid dan sekolah,
memperbaiki jalan, mengurus mayat dan lainnya. Biaya untuk urusan ini diserahkan
pada kas baitul maal dari hasil pendapatan lain seperti harta fai, pajak, upeti, dan
lainnya.
Namun beberapa ulama lain telah meluaskan arti fisabilillah ini seperti : Imam
Qaffal, Mazhab Ja'fari, Mazhab Zaidi, Shadiq Hassan Khan, Ar Razi, Rasyid Ridha dan
Syaltut. Pendapat yang dianggap kuat adalah, bahwa makna umum dari fisabilillah itu
tidak layak dimaksud dalam ayat ini, karena dengan keumumannya ini meluas pada
aspek-aspek yang banyak sekali, tidak terbatas sasarannya dan apalagi terhadap
orang-orangnya. Makna umum ini meniadakan pengkhususan sasaran zakat delapan, dan
sebagaimana hadits Nabi yang berbunyi: "Sesungguhnya Allah tidak meridhoi hukum
Nabi dan hukum lain dalam masalah sedekah, sehingga Dia menetapkan hukumnya dan
membaginya pada delapan bagian".
Makna fisabilillah secara khusus adalah jihad, yaitu jihad untuk membela dan
menegakkan kalimat Islam di muka bumi. Setiap jihad yang dimaksudkan untuk
menegakkan kalimat Allah termasuk fisabilillah, bagaimana pun keadaan dan bentuk
jihad serta senjatanya.
Yusuf Al-Qaradhawy memperluas arti Jihad ini tidak hanya terbatas pada
peperangan dan pertempuran dengan senjata saja, namun termasuk juga segala bentuk
peperangan yang menggunakan akal dan hati dalam membela dan mempertahankan
aqidah Islam. Contoh: "Mendirikan sekolah berdasarkan faktor tertentu adalah perbuatan
shalih dan kesungguhan yang patut disyukuri, dan sangat dianjurkan oleh Islam, akan
tetapi ia tidak dimasukkan dalam ruang lingkup jihad. Namun, apabila ada suatu negara
di mana pendidikan merupakan masalah utama, dan yayasan pendidikan telah dikuasai
kaum kapitalis, komunis, atheis ataupun sekularis, maka jihad yang paling utama adalah
mendirikan madrasah yang berdasarkan ajaran Islam yang murni, mendidik anak-anak
kaum Muslimin dan memeliharanya dari pencangkokan kehancuran fikiran dan akhlaq,
serta menjaganya dari racun-racun yang ditiupkan melalui kurikulum dan buku-buku,
pada otak-otak pengajar dan ruh masyarakat yang disahkan di sekolah-sekolah
pendidikan secara keseluruhan.
Sebaliknya tidak semua peperangan termasuk kategori fisabilillah, yaitu
peperangan yang ditujukan untuk selain membela agama Allah, seperti halnya perang
yang sekedar membela kesukuan, kebangasaan, atau membela kedudukan.

b. Penggunaan Bagian Fi-Sabilillah di zaman sekarang


Di antara penggunaan bagian fisabilillah adalah sebagai berikut:
1. Membebaskan Negara Islam dari hukum orang kafir
2. Bekerja mengembalikan Hukum Islam termasuk Jihad Fisabi-lillah, diantaranya
melalui pendirian pusat kegiatan Islam yang mendidik pemuda Muslim, menjelaskan
ajaran Islam yang benar, memelihara aqidah dari kekufuran dan mempersiapkan diri
untuk membela Islam dari musuh-musuhnya. Mendirikan percetakan surat khabar
untuk menandingi berita-berita yang merusak dan menyesatkan ummat, dan
sebagainya.

8. Ibnu Sabil
Ibnu sabil (anak jalan) adalah orang yang kehabisan bekalnya dalam perjalanan,
dengan syarat perjalanan atau musafirnya ini untuk keperluan yang dibenarkan syariat
dan dianjurkan agama, seperti silaturrahim, studi tour pada objek-objek yang bermanfaat
dan lainnya. Sebagian ulama berpendapat, untuk saat ini ibnu sabil boleh jadi adalah para
penuntut ilmu yang kehabisan bekal, karenanya zakat dapat dijadikan sebagai beasiswa
bagi para santri di pondok pesantren, sekolah dan perguruan tinggi.

Kesimpulan Mustahiq Zakat


Berikut ini adalah kesimpulan dari pembahasan mengenai persoalan distribusi
zakat yang diperoleh, apakah harus dibagi sama rata ke-8 golongan tersebut, atau bisa ada
kebijakan lain.
1. Harta zakat yang terkumpul harus dibagikan pada semua mustahik, apabila harta itu
banyak dan semua sasaran ada, kebutuhannya sama atau hampir sama. Tidak boleh
ada satu sasaran pun yang boleh dihalangi untuk mendapatkan, apabila itu merupakan
haknya serta benar-benar dibutuhkan. Hal ini berlaku bagi Imam atau Hakim agama
atau amil yang mengumpulkan zakat dan membagikannya pada mustahiq.
2. Ketika diperkirakan semua (delapan) mustahik itu ada, maka pemberiannya tidak
harus disamakan antara semua sasaran, tergantung pada jumlah dan kebutuhannya.
Sebab terkadang ada pada suatu daerah seribu orang fakir, sementara dari orang yang
berhutang atau ibnu sabil hanya sepuluh orang. Maka bagaimana mungkin pembagian
untuk sepuluh orang harus sama dengan orang yang seribu? Karenanya kita melihat,
yang paling tepat dalam masalah ini adalah pendapat Imam Malik dan yang
sebelumnya, yaitu Ibnu Syihab, yang mendahulukan sasaran yang paling banyak
jumlahnya dan kebutuhannya dengan bagian yang besar.
3. Diperbolehkan memberikan semua zakat, tertuju pada sebagian sasaran tertentu saja,
untuk mewujudkan kemaslahatan yang sesuai dengan syara' -yang meminta
pengkhususan itu- sebagaimana halnya ketika ia memberikan zakat kepada salah satu
sasaran saja, ia pun tidak diwajibkan menyamaratakan pemberian itu pada individu
yang diberinya. Akan tetapi boleh melebihkan antara yang satu dengan yang lain
sesuai dengan kebutuhan.
4. Hendaknya golongan fakir dan miskin adalah sasaran pertama yang harus menerima
zakat, karena memberi kecukupan kepada mereka, merupakan tujuan utama dari
zakat, sehingga Rasulullah Saw tidak menerangkan dalam Hadits Muadz dan juga
Hadis lain selain sasaran ini: "Zakat itu diambil dari orang yang kaya dan diberikan
kepada orang fakir". Hal ini dikarenakan sasaran ini membutuhkan perhatian yang
khusus.
5. Hendaknya mengambil pendapat Madzhab Syafi,i dalam menentukan batas yang
paling tinggi yang diberikan kepada petugas yang menerima dan membagikan zakat
itu, yaitu 1/8 dari hasil zakat, tidak boleh lebih dari itu.
6. Apabila harta zakat itu sedikit, seperti harta perorangan yang tidak begitu besar, maka
dalam keadaan demikian zakat diberikan pada satu sasaran saja, sebagaimana yang
dikemukakan oleh an-Nakha'i dan Abu Tsaur, bahkan diberikan pada satu individu,
sebagaimana dikemukakan oleh Abu Hanifah, agar pemberian itu dapat mencukupi
kebutuhan si mustahiq. Karena membagikan harta yang sedikit, untuk sasaran yang
banyak atau orang yang banyak dari satu sasaran, sama dengan menghilangkan
kegunaan yang diharapkan dari zakat itu sendiri, karena pemberian itu tidak akan
mencukupi.
Z A K A T
Pengertian dan Hukum Zakat
Zakat menurut bahasa artinya penyucian, sedangkan menurut Syari`at Islam zakat
adalah kadar harta tertentu, yang diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan
syarat-syarat tertentu pula sebagai penyuci dan pembuat ridha Allah.
Zakat hukumnya wajib atau fardlu ain bagi setiap orang Islam yang telah
mencukupi syarat-syaratnya. Zakat merupakan rukun Islam yang ketiga yang mulai
diwajibkan pada tahun kedua hijriyah. Allah berfirman :
.
Dirikanlah shalat dan dan bayarkanlah zakat (QS.An-Nisaa`: 77).

Macam-macam Zakat
Zakat ada dua macam, yaitu: zakat maal (zakat harta) dan zakat fitrah (zakat jiwa).

ZAKAT MAAL
Zakat mal yaitu zakat harta benda, yang meliputi :
1. Binatang Ternak.
Binatang ternak yang wajib dizakati ialah: unta, kerbau, sapi, dan kambing. Syarat
orang yang wajib berzakat ternak (muzaqy) adalah :
1. Islam. Orang non Islam tidak wajib zakat.
2. Merdeka. Hamba sahaya tidak wajib zakat.
3. Milik sendiri/milik sempurna.
4. Cukup satu nisab (ukuran kadar).
5. Cukup satu haul, sudah satu tahun dimiliki.
6. Digembalakan di rumput yang mubah.

Nisab Zakat Ternak


1. Nisab zakat unta :
Z a k a t n y a
N i s a b
Bilangan/Jenis Zakat U m u r
59 1 ekor kambing/domba 2 tahun lebih/1 thn lebih
10 14 2 ekor kambing/domba 2 tahun lebih/1 thn lebih
15 19 3 ekor kambing/domba 2 tahun lebih/1 thn lebih
20 24 4 ekor kambing/domba 2 tahun lebih/1 thn lebih
25 35 1 ekor anak unta 1 tahun lebih
36 45 1 ekor anak unta 2 tahun lebih
40 60 1 ekor anak unta 3 tahun lebih
61 75 1 ekor anak unta 4 tahun lebih
76 90 2 ekor anak unta 2 tahun lebih
91 120 2 ekor anak unta 3 tahun lebih
121 dst 3 ekor anak unta 2 tahun lebih
2. Nisab zakat sapi dan kerbau :
Z a k a t n y a
N i s a b
Bilangan/Jenis Zakat U m u r
30 39 1 ekor anak sapi/ 1 ekor kerbau 2 tahun lebih
40 59 1 ekor anak sapi/ 1 ekor kerbau 2 tahun lebih
60 69 2 ekor anak sapi/ 1 ekor kerbau 1 tahun lebih
70 dst 1 ekor anak sapi/1 ekor kerbau dan 2 tahun lebih
1 ekor anak sapi/ 1 ekor kerbau

1. Nisab zakat kambing :


Z a k a t n y a
N i s a b
Bilangan/Jenis Zakat U m u r
40 120 1 ekor kambing/domba betina 2 tahun lebih/1 thn lebih
120 200 2 ekor kambing/domba betina 2 tahun lebih/1 thn lebih
201 399 3 ekor kambing/domba betina 2 tahun lebih/1 thn lebih
400 dst 4 ekor kambing/domba betina 2 tahun lebih/1 thn lebih

2. Emas dan Perak


Syarat wajib bagi pemilik emas dan perak yang dizakati adalah :
1. Islam.
2. Merdeka
3. Milik yang sempurna
4. Sampai satu nisab
5. Sampai haul (satu tahun disimpan)
Allah SWT berfirman :
Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak, dan tidak menafkahkannya di jalan
Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapatkan) siksaan
yang pedih (QS.At-Taubah: 34).

Nisab Zakat Emas dan Perak


Emas wajib dizakati bila telah mencapai nisab 85 gram, zakatnya 2,5 %. Jika punya
emas mencapai 85 gram maka zakat yang dikeluarkan yaitu 2,12 gram. Sedangkan nisab
perak 624 gram, zakatnya 2,5 %. Jadi jika punya perak mencapai 624 gram maka zakat
yang dikeluarkan yaitu 15,6 gram.
Emas dan perak yang dipakai sehari-hari untuk perhiasan wanita tidak wajib
dizakati, karena disamakan dengan binatang ternak yang dipakai untuk membajak tidak
wajib dizakati.

3. Biji Makanan yang Mengenyangkan


Biji atau buah makanan yang mengenyangkan hukumnya wajib dizakati, seperti
beras, jagung, gandum, adas, dan sebagainya. Sedangkan biji atau buah makanan yang
tidak mengenyangkan tidak wajib dizakati, seperti kacang tanah, kacang panjang, buncis,
tanaman muda dan lainnya.
Syarat wajib bagi pemilik biji-bijian/buah-buahan yang wajib dizakati adalah :
1. Islam
2. Merdeka
3. Milik sempurna
4. Sampai nisab.
5. Biji makanan ditanam oleh manusia
6. Biji makanan itu mengenyangkan dan tahan disimpan lama.

Nisab Zakat biji-bijian dan buah-buahan yang mengenyangkan.


Nisab biji makanan dan buah-buahan yang mengenyangkan adalah 300 sya`, lebih
kurang 930 liter bersih dari kulitnya. Rasulullah bersabda , Tidak ada sedekah (zakat)
pada biji-bijian dan buah-buahan sehingga mencapai lima wasaq (930 liter)
(HR.Muslim).
Mengeluarkan zakat jenis ini langsung setelah panennya, tidak menunggu genap satu
tahun. Allah SWT berfirman : Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan
dikeluarkan zakatnya) (QS.Al-An`am : 141).
Biaya mengurus biji-bijian atau buah-buahan, seperti mengetam, mengeringkan,
membersihkan dan membawanya adalah tanggungan pemilik.

4. Buah-buahan
Hukum awalnya, buah-buahan yang wajib dizakati hanya kurma dan anggur saja,
sedangkan buah-buahan yang lain tidak.
Rasulullah saw telah menyuruh supaya menaksir buah anggur itu berapa banyak
buahnya, seperti menaksir buah kurma, dan Beliau menyuruh juga supaya memungut
zakat anggur sesudah kering, seperti mengambil zakat buah kurma juga sesudah
kering. (HR.Tirmidzi, dan ia menilainya sebagai Hadits Hasan)

Syarat bagi pemilik buah-buahan yang wajib dizakati itu ialah :


1. Islam
2. Merdeka
3. Milik sempurna
4. Nisab (cukup satu nisab).
Nisab zakat buah-buahan ini sama dengan nisab zakat biji-bijian yang
mengenyangkan. Dikeluarkan tanpa menunggu satu tahun, begitu panen langsung
dikeluarkan zakatnya.

5. Harta Perniagaan
Harta perniagaan wajib dizakati, dengan syarat-syaratnya sama dengan zakat emas
dan perak. Rasulullah Saw bersabda :
Kain-kain yang disediakan untuk dijual, wajib dikeluarkan zakatnya (HR.Hakim).
Dari Samurah, Rasulullah Saw memerintahkan kepada kami, agar kami menge-
luarkan zakat barang yang disediakan untuk dijual (HR.Daruqutni dan Abu Daud).
Perniagaan dihitung dari mulainya niaga. Setelah akhir tahun dan cukup satu tahun
(haul) dan cukup senisab wajib dikeluarkan zakatnya. Nisab harta perniagaan dihitung
dari modalnya. Kalau modalnya emas, nisabnya seperti emas, dan jika modalnya perak
nisabnya seperti perak. Zakatnya juga seperti emas dan perak, yaitu 2,5 %.
6. Hasil Tambang
Hasil tambang emas atau perak jika sudah cukup senisab wajib dizakati, walaupun
belum genap setahun, seperti halnya zakat biji-bijian atau buah-buahan. Besar zakat hasil
tambang adalah 2,5 %. Hadits Rasulullah Saw :
Bahwasanya Rasulullah Saw telah mengambil zakat dari hasil tambang di negeri
Qabaliyah (HR.Abu Daud dan Hakim).

7. Rikaz (Harta Terpendam)


Rikaz sering dikenal dengan harta karun, yaitu emas dan perak yang ditanam oleh
kaum jahiliyah (sebelum Islam). Jika kita mendapatkannya maka wajib dikeluarkan
zakatnya sebanyak 20 %. Sabda Rasulullah :
Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah Saw bersabda, Zakat rikaz adalah seperlima (1/5
atau 20 %) (HR. Bukhari dan Muslim).
Zakat rikaz tidak disyaratkan sampai satu tahun, namun begitu didapat langsung
dikeluarkan zakatnya saat itu juga. Sama halnya dengan zakat tambang emas dan perak.