Anda di halaman 1dari 9

PENGOLAHAN AIR MINUM

(DRINKING-WATER-TREATMENT)

Pengolahan secara biologis dikembangkan untuk menghilangkan elektron donor


biodegradasi dari air. Instabilitas biologis adalah elektron donor termasuk biodegradable
organic matter (BOM), ammoniak, nitrit, Fe, Mangan (II), dan sulfida. Keberadaan
konsentrasi komponen instabilitas dalam jumlah yang kecil dapat membantu pertumbuhan
bakteri dalam sistem distribusi. Meskipun pertumbuhan bakteri melalui oksidasi dari
komponen instabilitas terkadang dapat berbahaya bagi manusia, bakteri juga menyebabkan
adanya perubahan kualitas air sebagai berikut.
1. Peningkatan dalam perhitungan heterotrop, pertumbuhan kembali bakteri coliform,
dan turbiditas
2. Adanya rasa, bau dan nitrat
3. Konsumsi dari oksigen terlarut (DO)
4. Peningkatan korosi.
Bab ini membahas 2 pokok bahasan utama. Bagian pertama membahas mengenai
eliminasi instabilitas biologi dalam proses biofilm aerobik. Pada bagian ini dibahas tentang
karakteristik umum dari proses biofilm dan menjelaskan 3 pokok utama dalam proses biofilm
yaitu pretreatment biologis, biofiltrasi hibrid, dan biofiltrasi lambat. Bagian pertama
membahas mengenai biodegradasi komponen organik. Bagian kedua membahas tentang
proses anoksik yang digunakan dalam denitrifikasi.

12.1. Proses Biofilm Aerobik untuk mengurangi instabilitas biologi.


Semua proses biologi dalam pengolahan air minum bertujuan untuk menciptakan
kestabilan biologis dari air minum yang memiliki 3 karakteristik utama :
1. Lingkungan yang oligotrof, dimana substrat elektron donor memiliki konsentrasi yang
sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh konsentrasi dari elektron donor yang
digunakan rendah dan konsentrasi keluaran dianjurkan rendah dengan tujuan untuk
membatasi pertumbuhan bakteri selama distribusi.
2. Penggunaan biofilm yang bertujuan untuk mempertahankan biomassa karna proses
tersebut tidak memerlukan waktu penahanan cairan yang lama.
3. Kondisinya harus aerobik
Sebagian besar, sumber air mengandung BOM, namun ada 2 aspek BOM yang
membuat konsentrasi dan instabilitas nya berpengaruh terhadap kuantitas : konsentrasi yang
rendah dan sifat heterogen. Pengukuran BOM pada sumber air yaitu pada rentang kecil dari
100 g/l C hingga 1mg/l C; angka ini sama dengan kecil dari 260 g BOD L hingga 2,6 mg/l
BODL.
Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi BOM yang masuk dalam proses pengolahan
air minum adalah kecil dari konsentrasi effluent, hampir diseluruh pengolahan limbah.
Sebagian besar BOM dalam cadangan air adalah NOM(bahan organik alami) yang berasal
dari pembusukan polimer kompleks yang terdiri dari vegetasi dan mikroorganisme, dan
sebagian besar bersifat humus. Sebagian kecil dari BOM terdiri dari molekul yang mudah
terdegradasi seperti, asam organik, aldehid, alkohol, keton, dan karbohidrat.
Berikut adalah parameter umum yang dapat digunakan untuk menunjukkan kinetika
biodegradasi dari BOM yang mudah terdegradasi dan BOM humus.
Tabel 12.1. Parameter kinetika umum dari biodegradasi NOM yang mudah
terdegradasi dan humus.

Perbedaan yang paling menonjol dari parameter humus dibanding yang mudah
terdegradasi adalah nilai K yang lebih besar, dan nilai D dan Df yang lebih kecil. Ketika
kedua substrat menunjukkan potensial pertumbuhan yang sangat tinggi, BOM humus
memiliki Smin lebih tinggi dan JR yang lebih rendah. Karna kestabilan air secara biologi harus
memiliki konsentrasi BOM mendekati Smin, perkiraan rasio J/JR harus kecil dari 1.
Karna secara teori BOM yang terkandung didalam air minum memiliki konsentrasi
yang rendah. Pengukuran COD dan TOC tidak dilakukan, karna NOM tidak dapat terurai.
Oleh karena itu, rangkaian pengujian telah dirancang secara spesifik untuk pengukuran
konsentrasi terendah BOM dalam air minum.
12.1.1. Teknik Perhitungan BOM ( Biodegradable Organic Matter)
Sebagian besar dari teknik pengukuran BOM melibatkan inkubasi air secara batch
dengan pengontrolan bakteri. Proses ini dibagi menjadi 3 bagian.
1. Metode van der Kooij (1982)
Metode ini menggunakan bakteri murni yang diseleksi dari kemampuan
bakteri tersebut untuk tumbuh di dalam komponen organik. Maksimum pertumbuhan
dari ragi murni, yang biasanya dihitung menggunakan plate counts, hasilnya
dikonversikan ke konsentrasi dari AOC dengan konversi faktor yang berasal dari uji
substrat murni.
Van der Kooij (1982) menyatakan bahwa air secara biologi stabil jika AOC
lebih kecil dari C 10 g/l , atau BOD sekitar 26 g/l. Jika residual klorin dapat
dipertahankan melalui sistem distribusi, AOC dengan level yang lebih tinggi dapat
ditoleransi.
2. Beberapa teknik juga mengembangkan teknik inokulum yang kecil dari campuran
kultur bakteri dan mengukur penurunan maksimum didalam karbon organik terlarut
untuk mendapatkan BDOC. Pengujian BDOC tidak sensitif pengujian pertumbuhan
bakteri dan hasil pengukurannya biasanya C 100 g/l dan BODL nya 260 g/l.
3. Pengujian BDOC dengan menggunakan inokulum skala besar untuk mengatasi
keterbatasan dari 2 type pengujian : waktu inkubasi yang lama bahkan 30 hari. Semua
pengujian inokulum dengan skala tinggi adalah type BDOC. Pengujian sebenarnya
adalah type batch dengan waktu 1-7 hari.
Woolschlager dan Rittmann (1995) melakukan analisa secara sistematis mengenai
metode inokulum BOM yang rendah dan tinggi. Mereka menemukan formasi dari produk
kelarutan mikroba dan pembusukan dari bakteri disebabkan oleh kedua type pengujian
konsentrasi BOM. Efek yang ditimbulkan sangat besar jikan BOM mendekati
Smin.Contohnya, 300 g/l BODL dari BOM humus memberikan nilai BDOC dan AOC =0
karna tidak memungkinkan untuk pertumbuhan.

12.1.2 Penghilangkan Sumber Anorganik dari Instabilitas Biologis


Sumber Anorganik dari instabilitas biologi (NH4+, NO2-, Fe2+, HS-, dan Mn2+) dapat
dihilangkan dengan proses yang hampir sama. NH4+ adalah pendonor elektron anorganik yang
paling umum dan kebutuhan oksigennya 4,57 mg O2/mg N memberikan dampak yang sangat
potensial terhadap konsentrasi yang kecil. Nitrifikasi menghasilkan NO2 yang diketahui dapat
bereaksi dengan kloramin dan destroys (kombinasi dari residual klorin).Fitur utama dari
nitrifikasi biolfilm menunjukkan bahwa proses tersebut mempunyai potensial pertumbuhan
yang buruk (S* > 0,3), namun Smin sangat rendah (< 0,2 mg N/l). Jadi jika substrat flux nya
dijaga dibawah nilai JR(dimana dalam rentang 0,4-0,8 kg NH 4+-N /1000m2-d), sehingga
konsentrasi NH4+ dapat menjadi rendah. Rittman (1990) mengulas bahwa nitrifikasi dalam
pengolahan air minum berhasil dilakukan dan nilai flux NH 4+ didapatkan 0,003-0,5
kg/1000m2-d. Namun, nilai flux NH4+ -N yang didapat dari pengolahan limbah memberika
hasil yang sama yaitu 0,2-0,8 kg/1000 m2-d dan proses nitrifikasi stabil jika nilai S mendekati
nilai Smin selain itu juga mengoksidasi NO2- ke NO3-.
Oksidasi Fe2+ ke Fe3+ dan Mn2+ ke Mn4+ dikatalisis oleh bakteri aerob yang dapat
memberikan energi dalam reaksi oksidasi. Salah satu bentuk dari hasil oksidasi nya adalah
logam biasanya mengendap sebagai oksida atau karbonat.
12.1.3. Pengolahan awal secara Biofilm
Pengolahan secara biofilm dilakukan jika konsentrasi dari instabilitas anorganik tinggi
agar didapatkan sifat biologis yang stabil maka digunakan pengolahan pendahuluan biofilm.
Air dengan BOM yang tinggi langsung dialirkan ke partikel dari filter, seperti saringan pasir,
yang dapat mengganggu kinerja dari partikel filter. Pengolahan pendahuluan dengan sistem
biofilm juga dapat digunakan pada kondisi BOM yang rendah.
Konsep dari proses pengolahan pendahuluan secara biofilm dengan menciptakan
ukuran pori yang besar, sehingga medium tidak mengalami penyumbatan, yang menyebabkan
kelebihan head loss atau membutuhkan pembersihan bed. Pori-pori yang besar dapat dicapai
dengan menggunakan sistem fixed-bed dari media yang berukuran kerikil (4-14mm) atau
media fluidisasi yang berukuran seperti pasir (< 1 mm). Pori-pori yang besar dapat
meminimalkan kebutuhan akan backwashing dan memungkinkan untuk aerasi bed yang
digunakan untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang lebih besar dari konten DO dari air
masuk. Walaupun pori pori relatif besar, proses biofilm memiliki spesifik luas area yang
tinggi dengan detensi waktu tekanan hidrolik 5-30 menit.

12.1.4. Biofiltrasi Hybrid


Jika instabilitas biologi didalam air baku rendah, proses filtrasi secara tradisional
dapat ditingkatkan dengan menciptakan proses biofiltrasi hibrid yang dapat mengeliminasi
jumlah BOM dan donor elektron anorganik. Ozonisasi sering diterapkan sebelum proses ini
supaya NOM lebih biodegradable dan untuk desinfeksi primer, penghilangan rasa dan bau
atau untuk penyempurnaan koagulasi. Strategi lain untuk mengoptimasikan biodegradasi
meliputi penghilangan klorinasi bed, menggunakan media dengan ukuran yang lebih besar,
dan pengontrolan panjang dan berat backwashing untuk meringankan head loss dalam
mempertahankan dasar biofilm yang baik.
Tekanan hydraulik untuk biofilter hybrid adalah sama dengan filter lainnya yaitu 5-10
jam dan proses nya berdasarkan keseragaman partikel yang dihilangkan dan permukaan
muatan. Ozon sering diaplikasikan pada air umpan dengan takaran 0,5 hingga 1,0 O 3/mg
DOC. Ozonisasi meningkatkan kemampuan biodegradable dari NOM, sehingga
memungkinkan untuk penyisihan DOC dengan jumlah besar secara steady state di seluruh
adsorber. Sehingga kombinasi proses ozon dan GAC disebut dengan proses BAC (biological
activated sludge), meskipun ozon meningkatkan biomassa dan biodegradasi didalam kolom
GAC. Kolom GAC aktif secara biologis ketika pra-ozonisasi tidak dilakukan. Waktu yang
dibutuhkan untuk kontak dengan bed yang kosong dalam adsorpsi adalah 15-30 menit dan
spesifik luas area dari adsorber GAC kombinasi untuk memberikan nilai tegangan permukaan
BOM yang rendah adalah 0.03 kg BODL/1000 m2-d.
Hal terpenting namun kurang jelas dalam biofiltrasi hybrid adalah konsentrasi BOM
yang tinggi dapat terjadi sebelum akumulasi biofilm berlebih yang menyebabkan masalah
dalam operasi, seperti kelebihan headloss. Jika BOM umpan sangat tinggi, maka digunakan
proses pengolahan pendahuluan biofilm. Rittman (1993) menyatakan loading permukaan
(QS0/aV) adalah 0,04 kg BODL/1000m2-d dapat menyebabkan biofilm memiliki sedikit
penyumbatan. Nilai mendekati 10% dari JR (Tabel 12.1). Jika loading permukaan 0,12 kg
BOD/1000 m2-d atau lebih besar maka akan berpotensi adanya penyumbatan pada biofilm.
Disimpulkan bahwa tingginya loading permukaan maka meningkatkan potensi penyumbatan.
Loading permukaan (S.L) dapat dihitung dari persamaan berikut :
S.L. = QS0/aV
Dimana :
Q : Laju alir umpan
A : luas penampang
(Q/A) : hydraulic loading
S0 : konsentrasi BOM umpan
a : luas permukaan spesifik dari media
h : kedalaman dari bed filter

Nilai a tergantung dari diameter media (dp) :


a = 6(1-)/ dp
Untuk perhitungannya, ketetapan nilai kedalam filter (h) adalah 1m, nilai Q/A
didalam rentang 5-10 m/h (2-4 gpm/ft2), porositas = 0.4, = 1 dan diamater partikel adalah
1.0 mm.
Berikut adalah Tabel data hubungan loading permukaan BOM terhadap rentang
konsentrasi BOM pada umpan dan kondisi operasi dari filter.

Tabel 12.2. Data hubungan loading permukaan BOM terhadap rentang konsentrasi BOM
pada umpan dan kondisi operasi dari filter.
Kondisi Operasi Konsentrasi BOM pada umpan,
mgBODL/l
Diameter media Hydraulic loading, 0.25 1.0 2.0 4.0 10
(mm) (m/h)
1 5 0.0083 0.033 0.066 0.13 0.33
1 10 0.017 0.066 0.13 0.27 0.66
Kondisi yang dianggap konstan : dp = 1, porositas media = 0.4, shape factor = 1.

Nilai konversi : 1 m/h = 0.4 gpm/ft2 ; 1 mg BODL/l 0.4 mg BODC/l

Dari tabel diatas : angka yang ditanda tebal mengindikasikan bahwa loading permukaannya
adalah kecil dari 0.4 kg BODL/1000 m3-d atau tidak menimbulkan penyumbatan.

Angka yang bergaris miring mengindikasikan bahwa loading permukaannya besar dari 0,12
kg BODL/1000 m3-d atau menyebabkan penyumbatan.

Hasil yang didapatkan dari Tabel 12.2 menyarankan bahwa filtrasi cepat
memungkinkan tidak terjadinya penyumbatan yang berlebihan, ketika BOM umpan memiliki
konsentrasi kecil dari 1 mg BODL/l dimana sesuai dengan nilai BDOC 0.4 mg/l. Untuk
konsentrasi yang lebih besar dari 2 mg BODL/l (BDOC = 0,8 mg/l), maka operasi filter
hybrid akan memberikan kelebihan headloss (sesuai dengan angka bertulisan miring pada
tabel) dan sering backwashing dan masalah seperti yang terjadi pada 4 mg BDO L/l (1,6 mg/l
BDOC).
Montgomery (1985) menyatakan bahwa backwashing dibutuhkan ketika akumulasi
dari padatan dalam filter cepat lebih dari 550 g/m3 atau 550 kg/1000 m3. Apabila biofilm
mencapai kondisi steady-state, akumulasi dihitung sebagai XfLfa = Y J a/b. Kita asumsikan
bahwa J dapat dijadikan sebagai loading permukaan , Y = 0.42 kg VSSa/kg BOD L, dan b
dapat diprediksi menjadi 0,5/d yang sesuai dengan dari biofilm yang akan dihilangkan
dengan backwashing dan detachment setiap hari. Loading permukaan (J) yang sesuai dengan
XfLfa = 550 kg/1000m3 dan backwashing untuk menghilangkan akumulasi biofilm adalah
0,18 kg BODL/1000 m2 d untuk dp = 1mm. Jika jumlah akumulasi biofilm dari total
padatam yang terakumulai, maka flux BODL terjadi penyumbatan berlebih sekitar 0.09 kg
BODL/1000 m2-d, yang sesuai dengan nilai pada Tabel 12.2. Hal ini menunjukkan bahwa
biofiltrasi hybrid dapat menimbulkan masalah jika BOM umpan lebih besar dari 2 mg
BODL/l atau 0,8 mg/l BODC.

12.1.5. Biofiltrasi Lambat


Biofiltrasi lambat dapat digunakan apabila sampel dan luas area nya tersedia. Laju
infiltrasi lambat mempunyai 3 efek. Pertama; proses ini membutuhkan luas area yang luas.
Kedua; sebagian besar dari aktivitas mikroorganisme nya dikonsentrasikan pada kedalaman
bed yang kecil. Ketiga; laju infiltrasi lambat membuat headloss menumpuk lebih sedikit dari
pada filtrasi cepat.
Saringan pasir lambat adalah proses pengolahan secara tradisional yang masih
digunakan oleh masyarakat daerah. Bed dari pasir yang memiliki ukuran efektif 0,25 hingga
0.35 mm adalah lambat dan 3-15 m/d adalah bertahap dengan 5 m/d merupakan yg khas.
Saringan pasir lambat adalah proses yang paling efektif dan sederhana jika luas area tersedia
(dengan catatan bahwa hydraulic pressure nya 20 kali lebih kecil dari saringan pasir cepat)
dan nilai BOM serta turbiditas nya rendah pada air baku (air yang akan diolah).

12.2. Pelepasan mikroorganisme


Semua proses biofilm mengeluarkan bakteri pada hasil keluaran karena adanya
pelepasan. Mikroorganisme yang paling dominan pada hasil keluaran adalah bakteri
heterotrof dan autorotrof yang mengoksidasi substrat dan tumbuh di dalam reaktor.
Mikroorganisme ini umumnya tidak berbahaya bagi manusia hanya saja pada pelepasan
dengan jumlah tinggi akan menyebabkan kekeruhan dan heterotrof plate counts.

12.3. Biodegradasi Senyawa Organik Tertentu


Keberadaan senyawa hydrocarbon minyak bumi adalah mikropolutan pada air tanah
dan air permukaan. Senyawa aromatiknya terdiri dari benzene, toluene, ethyl benzene, dan
xylene (BTEX). Semua senyawa hydrokarbon minyak bumi dapat terdegradasi secara
biologis (biodegradable) oleh bakteri aerobik melalui reaksi oksigenase. Reaksi awal
oksigenase sensitif terhadap konsentrasi DO yang rendah untuk mempertahankan kondisi
aerobik. Solusi terkini terhadap polusi yang disebabkan oleh pembakaran gasoline adalah
adanya penambahan MTBE pada gasoline untuk mengurangi pembentukan kabut asap.
MTBE adalah senyawa yang aktif didalam air tanah seperti senyawa BTEX. Biodegrabilitas
MTBE menjadi isu penelitian saat ini, namun MTBE jauh lebih lama terdegradasi dibanding
dengan BTEX. Penggunaan MTBE dalam biofilter untuk pengolahan air minum belum bisa
diprediksi dapat berlangsung dengan baik.
Secara luas industri banyak menggunakan pelarut, plastisizer, dan cat yang
merupakan senyawa turunan dari hidrokarbon minyak bumi. Karna kelarutan dari air tinggi
daripada alkohol, phenol, eter, dan keton, sehingga membuat senyawa tersebut menjadi
kontaminan umum di perairan yang berdampak kepada aliran air masuk di industri. Senyawa
ini biasanya dapat dimineralisasi keseluruhan dengan serangkaian reaksi hidroksilasi dan
dehidrogenasi yang dilakukan oleh banyak bakteri aerob.
Hidrokarbon alifatik dengan 1 dan 2 karbon yang terhalogenasi merupakan pelarut
industri yang umum digunakan (1,1 trikloroetana, trikloroetena, tetrakloroetena, dan karbon
tetraklorida) dan beberapa dijadikan sebagai desinfeksi dari produk samping klorinasi
(kloroform dan dibromoklorometana), dan yang lainnya sebagai senyawa intermediet dari
biotransformasi anaerobik. Sebagian besar dari senyawa tersebut tahan terhadap biodegradasi
dalam sistem aerobik. Namun, metana yang terklorinasi ringan rentan terhadap deklorinasi
hidrolitik, dan dikloromethan dan trikloroetan dapat diklorinasi secara oksidatif oleh
mikroorganisme yang mengandung enzim monooksigenase yang biasanya diinduksi oleh
fenol, metana dan amoniak. Karna senyawa tersebut mudah menguap, maka senyawa alifatik
ini lebih cenderung untuk dipisahkan ke fasa uap daripada dibiodegrasi dengan sistem aerasi.
Benzen, fenol dan siklohexan terklorinasi digunakan dalam pestisida oleh industri.
Senyawa ini dapat di biodegradasi secara aerobik, biasanya setelah monooksidasi cincin
aromatik, diikuti oleh pemutusan cincin melalui dioksigenasi.
Senyawa yang menyebabkan adanya rasa dan bau dapat terdegradasi oleh bakteri
yang ada dalam proses biofilm. Senyawa tersebut diantaranya adalah geosmin,
methylisoborneol dan trikloroanisol yang merupakan senyawa penyebab bau. Begitu juga
dengan senyawa-senyawa penyebab bau amis (amina dan aldehid alifatik), penyebab bau
rawa (senyawa belerang yang tereduksi), dan penyebab bau antiseptik (fenol dan dan benzen
yang terklorinasi) dapat terdegradasi dibawah kondisi aerobik pada pengolahan air minum
(Rittman, 1995; Rittman el al., 1995).

12.4. Denitrifikasi
Dasar proses denitrifikasi dengan menggunakan NO3- atau NO2- sebagai aseptor
elektron primer. Hal yang perlu diperhatikan dalam proses ini adalah :
1. Harus ditambahkan donor elektron eksogen untuk mendorong respirasi NO3- untuk
menghilangkan DO (oksigen terlarut).
2. Konsentrasi DO harus rendah, biasanya lebih kecil dari 0,2 mg/l, konsentrasinya harus
dipertahankan dengan meminimalisasi kontak dengan udara.
3. Berbagai proses fixed-bed dan fluidized-bed yang digunakan harus sesuai.
Aplikasi pengolahan air minum mempunyai dua fitur yang unik yang
membedakannya dengan pengolahan air limbah tersier. Fitur khusus pertama adalah kualitas
effluent (NO3--N atau NO2--N), dimana standar dari keluaran NO3--N adalah 10 mg N/l yang
berarti bahwa denitrifikasi secara parsial dapat dilakukan. Fitur kedua adalah donor elektron
residual harus minimal untuk menjaga kestabilan biologi air. Oleh karena itu rasio J/J R dari
elektron donor harus dibawah 1 dan jumlah donor yang ditambahkan kecil dari perhitungan
stoikiometri yang dibutuhkan untuk denitrifikasi.
Fitur unik ketiga adalah pemilihan donor elektron yang ditambahkan. Walaupun
metanol sering digunakan dalam pengolahan limbah dan telah digunakan juga pada
pengolahan air minum, namun itu tidak baik karena sangat beracun bagi manusia dan juga
sumber elektron yang cukup mahal. Elektron donor organik alternatif yang dapat digunakan
adalah etanol dan asetat, etanol lebih murah daripada asetat dan metanol, namun penggunaan
etanol dalam penambahan pada pengolahan air minum dibutuhkan peraturan politik karna
mengandung senyawa alkohol.
Denitrifikasi autorotrof dengan penggunaan unsur sulfur atau gas H 2 sebagai donor
elektron sangat menjanjikan. Unsur belerang biasanya diimpregnasikan pada media padat dan
diberikan sesuai dengan kebutuhan dengan cara melarutkannya. Proses ini memiliki
keuntungan yaitu : donor elektron residual diabaikan pada output, perolehan biomassa
rendah, dan lebih murah dari pada donor elektron organik.
Sistem heterotrof menggunakan metanol, etanol dan asetat sebagai sumber energi
elektron donor.