Anda di halaman 1dari 16

TUGAS MAKALAH

AGEN ANTIMIKROBA

DI SUSUN OLEH

SITI WULANSARI G70115032


MIFTAHUL JANNAH G70115174

KELAS B
KELOMPOK 8

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT. atas berkat, kasih dan karuniaNya
sehingga Makalah Mikrobiologi Farmasi yang berjudul Agen Antimikroba
dapat selesai dengan lancar. Maksud dari penulisan makalah ini adalah
mengetahui lebih dalam tentang metabolisme yang dihasilkan oleh
mikroorganisme serta kegunaannya dalam dunia kesehatan dan kehidupan umat
manusia.
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada
pihak-pihak yang telah banyak membantu membangun gagasan ini. Penulis juga
tahu dan sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu saran
dan kritik yang membangun sangat diharapkan agar makalah ini dapat
berkembang dengan lebih baik. Penulis berharap agar makalah ini dapat
bermanfaat dan diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Palu, 10 Mei 2017

Penyusun
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai mikroorganisme


walaupun tidak kasat mata. Mikroorganisme terdapat di air, tanah, dan udara
bahkan di dalam tubuh kitapun terdapat mikroorganisme. Di dalam
makanan-makanan yang tidak higienis juga banyak terdapat
mikroorganisme, bahkan kalau kita lupa cuci tangan sehabis berjabat tangan
atau dalam interaksi lainnya dengan sesama manusia maka mikroorganisme
cepat masuk ke tubuh kita. Mikroorganisme tidak selamanya berdampak
negatif bagi kita. Justru mikroorganisme baik, dapat dimanfaatkan untuk
mengatasi mikrooganisme patogen di dalam tubuh. Mikroorganisme baik ini
dinamakan Antibiotik.
Anti mikroba adalah obat pembasmi mikroba, khususnya mikroba
yang merugikan manusia. Dalam pembicaraam disini, yang dimaksudkan
dengan mikroba terbatas pada jasad renik yang tidak termasuk kelompok
parasit. Antibiotik ialah zat yang di hasilkan oleh suatu mikroba, terutama
fungi, yang dapat menghambat atau membasmi mikroba jenis lain. Banyak
antibiotik dewasa ini di buat secara semi sintetik atau sintetik penuh. Namun
dalam praktek sehari hari AM sintetik yanpg diturunkan dari produk
mikroba ( misalnya Sulfonamid dan kuinolon ) juga sering di golongkan
sebagai anti biotik .
Agen anti bakteri atau Antibakteri adalah senyawa-senyawa kimia
alami yang dalam kadar rendah dapat menghambat pertumbuhan bakteri.
Salah satu bahan antibakteri adalah antibiotik. Antimikroba dapat berupa
senyawa kimia sintetik atau produk alami. Antimikroba sintetik dapat
dihasilkan dengan membuat suatu senyawa yang sifatnya mirip dengan
aslinya yang dibuat secara besar-besaran, sedangkan yang alami didapatkan
langsung dari organisme yang menghasilkan senyawa tersebut dengan
melakukan proses pengekstrakan.
1.2. Rumusan Masalah
1. apa yang dimaksud dengan antimikroba ?
2. Bagaimana interaksi hospes dengan mikroba ?
3. Apa sajah yang termasuk dalam senyawa- senyawa antimikroba?\
4. Bagaimana mekanisme senyawaantimikroba ?
5. Bagaimana resistensi mikroba terhadap senyawa antimikroba ?

1.3. Tujuan penulisan


1. Untuk mengetahui pengetian antimikroba
2. Untuk mengetahui interaksi hospes dengan mikroba
3. Untuk mengetahui senyawa- senyawa antimikroba
4. Untuk mengetahui mekanisme senyawaantimikroba
5. Untuk mengetahui resistensi mikroba terhadap senyawa antimikroba
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Antimikroba


Anti mikroba adalah obat pembasmi mikroba, khususnya mikroba
yang merugikan manusia. Dalam pembicaraam disini, yang dimaksudkan
dengan mikroba terbatas pada jasad renik yang tidak termasuk kelompok
parasit. Antibiotik ialah zat yang di hasilkan oleh suatu mikroba, terutama
fungi, yang dapat menghambat atau membasmi mikroba jenis lain. Banyak
antibiotik dewasa ini di buat secara semi sintetik atau sintetik penuh. Namun
dalam praktek sehari hari AM sintetik yanpg diturunkan dari produk
mikroba ( misalnya Sulfonamid dan kuinolon ) juga sering di golongkan
sebagai anti biotik .
Agen anti bakteri atau Antibakteri adalah senyawa-senyawa kimia
alami yang dalam kadar rendah dapat menghambat pertumbuhan bakteri.
Salah satu bahan antibakteri adalah antibiotik. Antimikroba dapat berupa
senyawa kimia sintetik atau produk alami. Antimikroba sintetik dapat
dihasilkan dengan membuat suatu senyawa yang sifatnya mirip dengan
aslinya yang dibuat secara besar-besaran, sedangkan yang alami didapatkan
langsung dari organisme yang menghasilkan senyawa tersebut dengan
melakukan proses pengekstrakan (Setyaningsih, 2004).
2.2. Interaksi hospes antimikroba
Adanya kuman dalam tubuh manusia tidak selalu diikuti dengan keadaan
sakit. Bahkan kebanyaakan interaksi hospes dan kuman tidak terwujud
dalam bentuk penyakit. Wujud hubungan hospes dan kuman tersebut
ditentukan oleh keseimbangan antara virulensi kuman dan daya tahan
hospes.
Virulensi kuman adalah derajat patogenitas yang dinyatakan dengan
jumlah mikroorganisme atau mikrogram toxin yang dibutuhkan untuk
membunuh binatang percobaan dengan syarat-syarat tertentu patogenesis
adalah kemampuan suatu mikroorganisme untuk menyebabkan penyakit.

Virulensi kuman dipengaruhi oleh:


1. Daya invasi
Daya invasi adalah kemampuan untuk berpenetrasi ke jaringan, mengatasi
pertahanan tubuh hospes, berkembang biak dan menyebar. Daya invasi
dipengaruhi oleh komponen permukaan enzim-enzim kuman tertentu yang
membantu penyebaran kuman serta membuatnya resisten terhadap
fagositosis. Komponen permukaan tersebut antara lain dapat berupa kapsul
polisakarida yang dihasilkan oleh Streptococcus pneumoniae, Haemophilus
influenzae, dan Klebsiella pneumoniae, M-protein dari streptococcus
pyogenes, dan kapsul polipeptida pada Bacillus anthracis.
Enzim-enzim yang dihasilkan kuman yang membantu penyebarannya antara
lain koagulase, fibrinolisin (strepto kinase), heyaluronidase, kolagenase,
lesetinase dan deogsiribonuklease.
2. Toksigenitas
Ada 2 jenis toksin yang dihasilkan kuman, yaitu:
1) Eksotoksin:
Eksotoksin dihasilkan oleh bakteri positif Gram antara lain:
Corynebacterium diphteriae, Clostridium tetani, Clostridium botulinum,
Staphylococcus serta beberapa bakteri Gram negatif termasuk Shigella
dysentriae, Vibrio Cholerae, dan beberapa strain Escherichia Coli.
2) Endotoksin:
Bakteri yang menghasilkan endotoksin antara lain: Salmonella, Shigella,
Brucella, Neisseria, Vibrio cholerae, Escherichia . coli, dan Pseudomonas
Aerugenosa.
Daya tahan tubuh dapat berupa kekebalan yang non spesifik dan
kekebalan spesifik. Bila daya tahan tubuh Hospes menurun, organisme yang
dalam keadaan tidak biasa dapat menimbulkan penyakit. Keadaan tersebut
dinamakan oportunisme dan organismenya disebut oportunis.
2.3. Mekanisme Aksi Obat Antimikroba
1. Antimikroba yang Menghambat Metabolisme Sel Mikroba
Mikroba membutuhkan asam folat untuk kelangsungan hidupnya. Mikroba
patogen harus mensintesis sendiri asam folat dari asam amino benzoat
(PABA) untuk kehidupan hidupnya. Koenzim asam folat diperlukan oleh
mikroba untuk sintesis purin dan pirimidin dan senyawa-senyawa lain
yang diperlukan untuk pertumbuhan seluler dan replikasi. Apabila asam
folat tidak ada, maka sel-sel tidak dapat tumbuh dan membelah. Melalui
mekanisme kerja ini diperoleh efek bakteriostatik.
Antimikroba seperti sulfonamide secara struktur mirip dengan PABA, asam
folat,dan akan berkompetisi dengan PABA untuk membentuk asam
folat, jika senyawa antimikroba yang menang bersaing dengan PABA,
maka akan terbentuk asam folat non fungsional yang akan mengganggu
kehidupan mikroorganisme. Yang termasuk ke dalam golongan ini
adalah Sulfa atau Sulfonamide, Trimetophrim, Azaserine.
a. Pada bakteri, Sulfonamide bekerja dengan bertindak sebagai
inhibitor kompetitif terhadap enzim dihidropteroate sintetase (DHPS).
Dengan dihambatnya enzim DHPS ini menyebabkan tidak terbentuknya
asam tetrahidrofolat bagi bakteri. Tetrahidrofolat merupakan bentuk
aktif asam folat[17], di mana fungsinya adalah untuk berbagai peran
biologis di antaranya dalam produksi dan pemeliharaan sel serta sintesis
DNA dan protein. Biasanya Sulfonamide digunakan untuk penyakit
Neiserria meningitis.
b. Trimetophrim juga menghambat pembentukan DNA dan protein
melalui penghambatan metabolisme, hanya mekanismenya berbeda dari
Sulfonamide. Trimetophrim akan menghambat enzim dihidrofolate
reduktase yang seyogyanya dibutuhkan untuk mengubah dihidrofolat
(DHF) menjadi tetrahidrofolat (THF).
c. Azaserine (O-diazo-asetyl-I-serine) merupakan antibiotik yang
dikenal sebagai purin-antagonis dan analog-glutamin. Azaserin
mengganggu jalannya metabolisme bakteri dengan cara berikatan
dengan situs yang berhubungan sintesis glutamin, sehingga mengganggu
pembentukan glutamin yang merupakan salah satu asam amino dalam
protein.

2. Antimikroba yang Menghambat Sintesis Dinding Sel Mikroba


Dinding sel merupakan lapisan luar sel bakteri yang berfungsi
mempertahankan bentuk sel dan pelindung sel bakteri yang memiliki
tekanan osmotic internal yang lebih tinggi daripada lingkungannya.
Tekanan osmosis internal bakteri gram positif lebih besar 3 hingga 5 kali
daripada tekanan osmosis.
Internal bakteri gram negatif. Penghambatan sintesis dinding sel
menyebabkan sel lisis. Dinding sel bakteri mengandung peptidoglikan
yang secara kimia berisi polisakarida dan campuran rantai polipeptida
yang tinggi. Polisakarida dari peptidoglikan berisi gula amino N-
acetylglucosamine dan asam acetylmuramic. Sifat keras pada dinding sel
disebabkan oleh hubungan saling silang rantai peptide (seperti melalui
ikatan pentaglycine) yang merupakan hasil reaksi transpeptidasi yang
dilakukan oleh beberapa enzim. Semua -lactam menghambat sintesis
dinding sel bakteri dengan berikatan pada reseptor sel (beberapa
merupakan enzim transpeptidase).
Reseptor yang berbeda memiliki afinitas yang berbeda terhadap antibiotic.
Protein reseptor ini berada dibawah control kromosom, sehingga mutasi
dapat mengubah jumlah atau afinitas reseptor terhadap antibiotic -
lactam. Setelah -lactam melekat pada satu atau beberapa reseptor,
reaksi transpeptidasi dihambat dan sintesis peptidoglikan dihentikan.
Kemudian terjadi perpindahan atau inaktivasi inhibitor enzim otolitik
pada dinding sel. Aktivitas enzim litik akan enyebabkan lisis jika
lingkungan isotonic. Penghambatan enzim tranpeptidase oleh penisilin
dan sefalosporin menyebabkan hilangnya D-alanine dari rantai
pentapeptida dalam reaksi transpeptidasi.

Antimikroba golongan ini dapat menghambat biosintesis peptidoglikan,


sintesis mukopeptida atau menghambat sintesis peptide dinding sel,
sehingga dinding sel menjadi lemah dan karena tekanan turgor dari
dalam, dinding sel akan pecah atau lisis sehingga bakteri akan mati.
Contoh: penisilin, sefalosporin, sikloserin, vankomisin, basitrasin, dan
antifungi golongan Azol.
Ada antibiotik yang merusak dinding sel mikroba dengan menghambat
sintesis enzim atau inaktivasi enzim, sehingga menyebabkan hilangnya
viabilitas dan sering menyebabkan sel lisis. Antibiotik ini menghambat
sintesis dinding sel terutama dengan mengganggu sintesis peptidoglikan.
Dinding sel bakteri yang menentukan bentuk karakteristik dan berfungsi
melindungi bagian dalam sel terhadap perubahan tekanan osmotik dan
kondisi lingkungan lainnya. Yang termasuk ke dalam golongan ini
adalah Beta-laktam, Penicillin, Polypeptida, Cephalosporin, Ampicillin,
Oxasilin.
a. Beta-laktam menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara berikatan
pada enzim DD-transpeptidase yang memperantarai dinding
peptidoglikan bakteri, sehingga dengan demikian akan melemahkan
dinding sel bakteri Hal ini mengakibatkan sitolisis karena
ketidakseimbangan tekanan osmotis, serta pengaktifan hidrolase dan
autolysins yang mencerna dinding peptidoglikan yang sudah terbentuk
sebelumnya. Namun Beta-laktam (dan Penicillin) hanya efektif terhadap
bakteri gram positif, sebab keberadaan membran terluar (outer
membran) yang terdapat pada bakteri gram negatif membuatnya tak
mampu menembus dinding peptidoglikan.
b. Penicillin meliputi natural Penicillin, Penicillin G dan Penicillin V,
merupakan antibiotik bakterisidal yang menghambat sintesis dinding sel
dan digunakan untuk penyakit-penyakit seperti sifilis, listeria, atau alergi
bakteri gram positif/Staphilococcus/Streptococcus. Namun karena
Penicillin merupakan jenis antibiotik pertama sehingga paling lama
digunakan telah membawa dampak resistansi bakteri terhadap antibiotik
ini. Namun demikian Penicillin tetap digunakan selain karena harganya
yang murah juga produksinya yang mudah.
c. Polypeptida meliputi Bacitracin, Polymixin B dan Vancomycin.
Ketiganya bersifat bakterisidal. Bacitracin dan Vancomycin sama-sama
menghambat sintesis dinding sel. Bacitracin digunakan untuk bakteri
gram positif, sedangkan Vancomycin digunakan untuk bakteri
Staphilococcus dan Streptococcus. Adapun Polymixin B digunakan
untuk bakteri gram negatif.
d. Cephalosporin (masih segolongan dengan Beta-laktam) memiliki
mekanisme kerja yang hampir sama yaitu dengan menghambat sintesis
peptidoglikan dinding sel bakteri. Normalnya sintesis dinding sel ini
diperantarai oleh PBP (Penicillin Binding Protein) yang akan berikatan
dengan D-alanin-D-alanin, terutama untuk membentuk jembatan
peptidoglikan. Namun keberadaan antibiotik akan membuat PBP
berikatan dengannya sehingga sintesis dinding peptidoglikan menjadi
terhambat.
e. Ampicillin memiliki mekanisme yang sama dalam penghancuran
dinding peptidoglikan, hanya saja Ampicillin mampu berpenetrasi
kepada bakteri gram positif dan gram negatif. Hal ini disebabkan
keberadaan gugus amino pada Ampicillin, sehingga membuatnya
mampu menembus membran terluar (outer membran) pada bakteri gram
negatif.
f. Penicillin jenis lain, seperti Methicillin dan Oxacillin, merupakan
antibiotik bakterisidal yang digunakan untuk menghambat sintesis
dinding sel bakteri. Penggunaan Methicillin dan Oxacillin biasanya
untuk bakteri gram positif yang telah membentuk kekebalan (resistansi)
terhadap antibiotik dari golongan Beta-laktam.
g. Antibiotik jenis inhibitor sintesis dinding sel lain memiliki spektrum
sasaran yang lebih luas, yaitu Carbapenems, Imipenem, Meropenem.
Ketiganya bersifat bakterisidal.

3. Antimikroba yang Menghambat Sintesis Protein Sel Mikroba


Sel mikroba memerlukan sintesis berbagai protein untuk kelangsungan
hidupnya. Sintesis protein berlangsung di ribosom dengan bantuan
mRNA dan tRNA. Ribosom bakteri terdiri atas dua subunit yang
berdasarkan konstanta sedimentasi dinyatakan sebagai ribosom 3OS dan
5OS. Supaya berfungsi pada sintesis protein, kedua komponen ini akan
bersatu pada pangkal rantai mRNA menjadi ribosom 7OS.
Antimikroba akan menghambat reaksi transfer antara donor dengan aseptor
atau menghambat translokasi t-RNA peptidil dari situs aseptor ke situs
donor yang menyebabkan sintesis protein terhenti. Yang termasuk ke
dalam golongan ini adalah Macrolide, Aminoglycoside, Tetracycline,
Chloramphenicol, Kanamycin, Oxytetracycline.
a. Macrolide, meliputi Erythromycin dan Azithromycin, menghambat
pertumbuhan bakteri dengan cara berikatan pada subunit 50S ribosom,
sehingga dengan demikian akan menghambat translokasi peptidil tRNA
yang diperlukan untuk sintesis protein. Peristiwa ini bersifat
bakteriostatis, namun dalam konsentrasi tinggi hal ini dapat bersifat
bakteriosidal. Macrolide biasanya menumpuk pada leukosit dan akan
dihantarkan ke tempat terjadinya infeksi. Macrolide biasanya digunakan
untuk Diphteria, Legionella mycoplasma, dan Haemophilus.
b. Aminoglycoside meliputi Streptomycin, Neomycin, dan Gentamycin,
merupakan antibiotik bakterisidal yang berikatan dengan subunit
30S/50S sehingga menghambat sintesis protein. Namun antibiotik jenis
ini hanya berpengaruh terhadap bakteri gram negatif.
c. Tetracycline merupakan antibiotik bakteriostatis yang berikatan
dengan subunit ribosomal 16S-30S dan mencegah pengikatan aminoasil-
tRNA dari situs A pada ribosom, sehingga dengan demikian akan
menghambat translasi protein. Namun antibiotik jenis ini memiliki efek
samping yaitu menyebabkan gigi menjadi berwarna dan dampaknya
terhadap ginjal dan hati.
d. Chloramphenicol merupakan antibiotik bakteriostatis yang
menghambat sintesis protein dan biasanya digunakan pada penyakit
akibat kuman Salmonella.

4. Antimikroba yang Menghambat Sintesis Asam Nukleat Sel Mikroba


Penghambat pada sintesis asam nukleat berupa penghambat terhadap
transkripsi dan translasi mikroorganisme. Yang termasuk ke dalam
golongan ini adalah Quinolone, Rifampicin, Actinomycin D, Nalidixic
acid, Lincosamides, Metronidazole.
a. Quinolone merupakan antibiotik bakterisidal yang menghambat
pertumbuhan bakteri dengan cara masuk melalui porins dan menyerang
DNA girase dan topoisomerase sehingga dengan demikian akan
menghambat replikasi dan transkripsi DNA. Quinolone lazim digunakan
untuk infeksi traktus urinarius.
b. Rifampicin (Rifampin) merupakan antibiotik bakterisidal yang bekerja
dengan cara berikatan dengan -subunit dari RNA polymerase sehingga
menghambat transkripsi RNA dan pada akhirnya sintesis protein.
Rifampicin umumnya menyerang bakteri spesies Mycobacterum.
c. Nalidixic acid merupakan antibiotik bakterisidal yang memiliki
mekanisme kerja yang sama dengan Quinolone, namun Nalidixic acid
banyak digunakan untuk penyakit demam tipus.
d. Lincosamides merupakan antibiotik yang berikatan pada subunit
50S dan banyak digunakan untuk bakteri gram positif, anaeroba
Pseudomemranous colitis. Contoh dari golongan Lincosamides adalah
Clindamycin.
e. Metronidazole merupakan antibiotik bakterisidal diaktifkan oleh
anaeroba dan berefek menghambat sintesis DNA.
5. Antimikroba yang Mengganggu Keutuhan Membran Sel Mikroba
Dibawah dinding sel bakteri adalah lapisan membran sel lipoprotein yang
dapat disamakan dengan membran sel pada manusia. Membran ini
mempunyai sifat permeabilitas selejtif dan berfungsi mengontrol keluar
masuknya subtaansi dari dan kedalam sel, serta memelihara tekanan
osmotik internal dan ekskresi waste products. Selain itu membran sel
juga berkaitan dengan replikasi DNA dan sintesis dinding sel. Oleh
karena itu substansi yang mengganggu fungsinya akan sangat lethal
terhadap sel. Contohnya antara lain Ionimycin dan Valinomycin.
Ionomycin bekerja dengan meningkatkan kadar kalsium intrasel
sehingga mengganggu kesetimbangan osmosis dan menyebabkan
kebocoran sel.
Selain itu obat yang termasuk dalam kelompok ini yaitu polimiksin,
golongan polien serta berbagai kemoterapeutik lain seperti antiseptik
surface active agents. Polimiksin sebagai senyawa amonium-kuartener
dapat merusak membran sel setelah bereaksi dengan fosfat pada
fosfolipid membran sel mikroba. Polimiksin tidak efektif terhadap
bakteri Gram positif karena jumlah fosfor bakteri ini rendah.
Bakteri Gram negatif menjadi resisten terhadap polimiksin ternyata jumlah
fosfornya menurun. Antibiotik polien bereaksi dengan struktur sterol
yang terdapat pada membran sel fungi sehingga mempengaruhi
permeabilitas selektif membran tersebut. Bakteri tidak sensitif terhadap
polien karena tidak memiliki struktur sterol pada membran selnya.
Antiseptik yang mengubah tegangan permukaan dapat merusak
permeabilitas selektif dari membran sel mikroba. Kerusakan membran
sel menyebabkan keluarnya berbagai komponen penting dari dalam sel
mikroba yaitu protein, asam nukleat, nukleotida.
Obat yang termasuk dalam golongan ini adalah rifamfisin, dan golongan
kuinolon.

2.5. Resistensi Antimikroba


Resistensi antimikroba (antimicrobial resistance) adalah hasil dari mikroba
mengubah cara-cara yang mengurangi atau menghilangkan efektivitas obat,
bahan kimia, atau agen lain untuk menyembuhkan atau mencegah infeksi.
Resistensi antimikroba (kemudian disebut dengan Anti Microbial
Resistence/AMR) adalah resistensi yang terjadi oleh mikroorganisme
terhadap obat-obat antimikroba untuk yang sebelumnya sensitif. Organisme
yang resisten (termasuk diantaranya adalah bakteri, virus dan beberapa
parasit) mampu melawan serangan obat-obatan antimikroba, seperti
antibiotik, anti-virus, dan anti-malaria, sehingga pengobatan standar menjadi
tidak efektif lagi. Sehingga infeksi yang muncul akan bertahan dan dapat
menyebar kepada orang atau populasi lain. AMR merupakan konsekuensi
logis dari penggunaan antimikroba. Termasuk didalamnya adalah
penggunaan reguler maupun penyalahgunaan. Obat-obatan antimikroba
akan menjadi resisten ketika mikroorganisme bermutasi atau mengakuisisi
suatu gen (Khalifan,2011).
Resistensi sel mikroba merupakan suatu sifat tidak terganggunya kehidupan
sel mikroba oleh antimikroba. Secara umum resistensi dapat diartikan suatu
keadaan dimana organisme secara normal mempunyai kemampuan untuk
menentang agen di sekitarnya yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangannya secara alamiah. Pada keadaan tertentu, apabila interaksi
antara obat dengan mikroba kurang baik atau tidak terjadi sama sekali, maka
dinyatakan bahwa antibiotika tersebut telah resisten terhadap mikroba
tertentu.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
1. Antibiotik adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang
mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di
dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri.
2. Penggolongan antibiotik berdasarkan sifatnya (daya hancurnya)
yaitu antibiotik yang bersifat bakteriostatik dan antibiotik yang bersifat
bakterisidal
3. Penggolongan antibiotik berdasarkan spektrum kerjanya yaitu spektrum
luas (aktivitas luas) dan spektrum sempit (aktivitas sempit).
4. Penggolongan antibiotik berdasarkan mekanisme kerjanya yaitu
antibiotik yang menghambat sintesis asam nukleat, antibiotik yang
menghambat sisntesis dinding sel, antibiotik yang menghambat sintesis
protein, antibiotik yang menghambat membran plasma, antibiotik yang
menghambat metabolit esensial mikroba.
DAFTAR PUSTAKA

Chandra Mohan, Antibiotics A Brief Overview, EMD Bioscience, San


Diego, 2008.
Chandra Mohan, Antibiotics and Antibiotic Resistance, EMD Bioscience,
San Diego, 2009.
Neal, Michael.J.2006. At a Glance Farmakologi Medis. Erlangga: Jakarta
Neal M. J., 2006, At a Glance Farmakologi Medis Edisi Kelima, Jakarta: Erlangga
Pratiwi, Sylvia T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Erlangga : Jakarta
Sylvia T. Pratiwi, Mikrobiologi Farmasi, Erlangga, 2008.
Tjay Tan Hoan. 2007. Obat-obat Penting. PT.Gramedia: Jakarta
http://panmedical.wordpress.com/2010/05/29/obat-anti-bakteri-penghambat-
sintesis-asam-nukleat. html.
Diakses pada tanggal 8 November 2016 pukul 23.00
http://rhyafile.blogspot.com/2013/01/antibiotik-yang-menghambat-
sintesis.html.
Diakses pada tanggal 8 November 2016 pukul 21.30

Anda mungkin juga menyukai