Anda di halaman 1dari 26

Hitam Merah

Selasa, 04 Maret 2014


Akuntansi Joint Venture

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tidak semua kegiatan usaha bisa dilakukan sendiri, karena berbagai alasan, baik alasan
teknis produksi, alasan penguasaan pasar, maupun semata-mata alasan keuangan. Maka beberapa
orang atau beberapa pihak bersama-sama mendirikan satu perusahaan, baik dengan pihak-pihak
dalam satu negara bahkan lintas negara. Pada era globalisasi seperti sekarang, sudah biasa
melihat perusahaan patungan dengan pemegang saham yang berasal dari banyak negara. Karena
itu sudah menjadi makin susah untuk menyebut negara asal mana yang mendominasi satu
perusahaan.
Usaha patungan atau yang biasa disebut Joint Venture merupakan suatu pengertian yang
luas. Dia tidak saja mencakup suatu kerja sama dimana masing-masing pihak melakukan
penyertaan modal (equity joint ventures) tetapi juga bentuk-bentuk kerjasama lainnya yang lebih
longgar, kurang permanen sifatnya serta tidak harus melibatkan partisipasi modal. Yang pertama
mengarah pada terbentuknya suatu badan hukum, sedangkan pola yang kedua perwujudannya
tampak dalam berbagai bentuk kontrak kerjasama (contractual joint ventures) dalam bidang
manajemen (management contract), pemberian lisensi (license agreement), bantuan teknik dan
keahlian (technical assistance and know-how agreement), dan sebagainya. Dengan joint venture
diharapkan dapat menghimpun sinergi dari berbagai pihak, khususnya pihak yang menguasai
pasar dan pihak yang menguasai teknologi produksi.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Joint Venture


Joint venture disingkat JV, di Indonesia biasa disebut usaha patungan, adalah entitas yang
dibentuk oleh dua pihak atau lebih untuk menyelenggarakan aktivitas ekonomi bersama. Pihak-
pihak yang terlibat sepakat untuk membentuk entitas baru, masing-masing menyetorkan modal,
berbagi risiko dan keuntungan,serta kendali atas entitas tersebut. Joint venture bisa dibentuk
hanya untuk satu projek tertentu, lalu dibubarkan. Akan tetapi, joint venture juga bisa saja
dibentuk untuk hubungan bisnis yang berkelanjutan.
Menurut Peter Mahmud joint venture merupakan suatu kontrak antara dua perusahaan
untuk membentuk satu perusahaan baru, perusahaan baru inilah yangdisebut dengan perusahaan
joint venture. Sedangkan pengertian menurut Erman Rajagukguk ialah suatu kerja sama antara
pemilik modal asing dengan pemilik modal nasional berdasarkan perjanjian, jadi pengertian
tersebut lebih condong pada joint venture yang bersifat internasional.
Join ventura adalah kerjasama diantara dua orang atau lebih juga bisa berupa badan usaha
untuk mengusahakan usaha tertentu. Waktunya terbatas dan masing-masing pihak dapat
menyerahkan barang atau uang sebagai kontribusi terhadap usaha bersama itu. Salah satu pihak
yang bekerja sama itu besarnya ditunjuk sebagai pemimpin usaha kerjasama atau joint venture
disebut sebagai Managing Patner yang berkewajiban menyelenggarakan pembukuan dan
penyajian laporan keuangan.
Berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 12 Bagian Partisipasi dalam
Ventura Bersama , Ventura bersama adalah perjanjian kontraktual dimana dua atau lebih pihak
menjalankan aktivitas ekonomi yang tunduk pada pengendalian bersama. Pihak dalam joint
venture yang ikut melakukan pengendalian - bersama terhadap joint venture disebut Venturer.
Berdasarkan pengertian diatas maka dapat kita ketahui unsur-unsur yang terdapat dalam
joint venture ialah :
1. Kerjasama dua pihak atau lebih.
Joint venture merupakan kerjasama dua pihak atau lebih yang sepakat untuk membentuk
perusahaan baru dengan nama baru.
2. Ada modal
Dalam joint venture masing-masing pihak memberikan modal untuk disetor dan dipakai bersama
untuk mengoperasikan perusahaan baru.
3. Ada surat perjanjian
Sebagai bentuk adanya kerjasama antara dua belah pihak, maka dalam joint venture harus ada
surat perjanjian yang berfungsi untuk mengikat kedua belah pihak tersebut. Dalam joint venture
karena melibatkan orang lain, maka perlu diperhatikan dan diteliti apakah pihak yang akan diajak
kerjasama tersebut adalah pihak yang bisa dipertanggungjawabkan.
Ciri Ciri Join Venture:
1. Waktunya terbatas
2. Kontribusi masing-masing pihak dapat berupa barang atau uang.
3. Keuntungan atau kerugian dibagi sama.
4. Sebelum Keuntungan dibagi diperhitungkan dahulu bunga modal, komisi,bonus dan lain-lain
untuk pihak-pihak yang telah berjasa.
5. Salah satu pihak ditunjuk sebagai pimpinan usaha joint venture yang disebut "managing partner"
Perbedaan Joint Venture dengan Firma
Join Venture Firma/Sekutu
Lingkup usahanya lebih terbatas Lingkupnya tak terbatas, semua usaha yangmeng
laba
Waktunya terbatas, hingga tujuan tercapai Waktu tak tentu, yaitu selamanya
2.2 Alasan Pembentukan Joint Venture
a. Alasan internal:
1. Membangun kekuatan perusahaan
2. Menyebarkan biaya dan risiko
3. Menambah akses ke sumber daya keuangan
4. Ekonomi skala dan keuntungan kekuatan
5. Akses ke teknologi dan pelanggan baru
6. Akses ke praktek manajer inovatif
b. Tujuan persaingan :
1. Mempengaruhi evolusi struktural industri
2. Kompetisi sebelum selesai
3. Tanggapan defensif untuk menghapuskan batas-batas industri
4. Penciptaan unit kompetisi yang kuat
5. Kecepatan pasar
6. Menambah ketangkasan
c. Tujuan strategi :
1. Sinergi
2. Transfer teknologi/kecakapan
3. Diversifikasi
2.3 Struktur Organisasi Ventura Bersama
1. Pengendalian bersama operasi
Operasi dari beberapa ventura bersama melibatkan penggunaan aset dan sumber daya
lainnya dari venturer bukan pendirian suatu perseroan terbatas, persekutuan, atau entitas lainnya,
atau suatu struktur keuangan yang terpisah dari venturer. Setiap venturer menggunakan aset tetap
dan persediaannya. Venturer menanggung beban dan liabilitas dan memperoleh pembiayaan,
yang mewakili kewajibannya. Aktivitas ventura bersama dapat dilaksanakan oleh karyawan
venturer bersamaan dengan aktivitas venturer yang serupa. Perjanjian ventura bersama biasanya
mengatur demikian rupa sehingga pendapatan dari penjualan produk bersama dan beban yang
terjadi dibagi antar para venturer.
Contoh pengendalian bersama operasi adalah ketika dua atau lebih venturer
menggabungkan kegiatan operasi, sumber daya, dan keahliannya untuk menciptakan pasar dan
menyalurkan produk tertentu secara bersama, seperti pesawat terbang. Bagian yang berbeda dari
proses manufaktur dikerjakan oleh setiap venturer. Setiap venturer menanggung biayanya dan
memperoleh bagian pendapatan dari penjualan pesawat, dimana bagian tersebut ditentukan
sesuai dengan perjanjian kontraktual.
Sehubungan dengan bagian partisipasi dalam pengendalian bersama operasi, venturer
mengakui dalam laporan keuangannya :
a) Aset yang dikendalikan dan liabilitas yang ditanggung.

b) Beban yang ditanggung dan bagian pendapatan yang diperoleh dari penjualan barang dan jasa
ventura bersama.

Dikarenakan aset, liabilitas, pendapatan, dan beban diakui dalam laporan keuangan
venturer, maka tidak ada penyesuaian atau prosedur konsolidasi lainnya yang disyaratkan
sehubungan dengan unsur-unsur tersebut ketika venturer menyajikan laporan keuangan
konsolidasian.
2. Pengendalian bersama aset
Beberapa venturer bersama melibatkan pengendalian bersama, dan seringkali kepemilikan
bersama, oleh venturer atas satu atau lebih aset yang dikontribusikan kepada ventura bersama
atau diperoleh untuk tujuan dari ventura bersama dan didedikasikan untuk tujuan dari ventura
bersama. Aset tersebut digunakan untuk memperoleh manfaat bagi venturer. Setiap venturer
dapat mengambil suatu bagian output aset dan menanggung suatu bagian yang disetujui dari
beban yang terjadi.
Ventura bersama tersebut tidak melibatkan pendirian suatu peseroan terbatas, persekutuan,
atau entitas lainnya, atau suatu struktur keuangan yang terisah dari venturer. Setiap venturer
memiliki pengendalian atas bagiannya dari manfaat ekonomi masa depan melalui bagiannya
dalam pengendalian bersama aset.
Banyak aktivitas dalam industri ekstraksi minyak, gas, dan mineral melibatkan
pengendalian bersama aset. Misalnya, sejumlah perusahaan yang memproduksi minyak
mengendalikan dan mengoperasikan bersama suatu pipa saluran minyak. Setiap venturer
menggunakan pipa saluran tersebut untuk mengangkut produknya dan menanggung proporsi
yang disetujui dari beban operasi pipa saluran. Contoh lain dari pengendalian bersama aset
adalah ketika dua entitas bersama-sama mengendalikan suatu properti, dimana masing-masing
pihak mengambil suatu bagian dari sewa yang diterima dan menanggung suatu bagian dari
beban.
Sehubungan dengan bagian partispasinya dalam pengendalian bersama aset, venturer
mengakui dalam laporan keuangan :
a. Bagiannya atas pengendalian bersama aset, yang diklasifikasikan sesuai dengan sifat aset.
b. Setiap liabilitas yang telah terjadi.
c. Bagiannya atas liabilitas yang terjadi bersama dengan venturer lain yang berkaitan dengan
venturer bersama.
d. Setiap penghasilan dari penjualan atau penggunaan bagiannya atas output ventura bersama,
bersama dengan bagiannya atas beban yang terjadi pada ventura bersama.
e. Setiap beban yang terjadi sehubungan dengan bagian partisipasinya dalam ventura bersama.
Sehubungan dengan bagian partisipasinya dalam pengendalian bersama aset, setiap
venturer membukukan dalam catatan akuntansinya dan mengakui dalam laporan keuangan.
a. Bagiannya dalam pengendalian bersama aset, diklasifikasikan sesuai dengan sifat aset bukan
sebagai investasi. Misalnya bagian dalam pengendalian bersama pipa saluran minyak
diklasifikasikan sebagai aset tetap.

b. Setiap liabilitas yang telah terjadi, misalnya yang terjadi dalam pembiayaan bagiannya atas aset.

c. Bagiannya atas setiap liabilitas yang ditanggung bersama dengan venturer lain yang berkaitan
dengan ventura bersama.

d. Setiap penghasilan dari penjualan atau penggunaan bagiannya atas output ventura bersama,
bersama dengan bagiannya atas beban yang terjadi pada ventura bersama.

e. Setiap beban yang telah terjadi sehubungan dengan bagian partisipasinya dalam ventura
bersama, misalnya beban yang berkaitan dengan pembiayaan bagian partisipasi venturer dalam
aset dan penjualan bagiannya atas output.
Dikarenakan aset, liabilitas, pendapatan, dan beban diakui dalam laporan keuangan
venturer, maka tidak ada penyesuaian atau prosedur konsolidasi lainnya yang disyaratkan
sehubungan dengan unsur-unsur tersebut ketika venturer menyajikan laporan keuangan
konsolidasian.
3. Pengendalian bersama entitas
Pengendalian bersama entitas adalah ventura bersama yang melibatkan pendirian suatu
perseroan terbatas, persekutuan atau entitas lainnya yang mana setiap venturer mempunyai
bagian partisipasi. Entitas tersebut beroperasi dalam cara yang sama seperti entitas lainnya,
kecuali adanya perjanjian kontraktual antar venturer yang menciptakan pengendalian bersama
atas aktivitas ekonomi entitas.
Pengendalian bersama entitas mengendalikan aset ventura bersama, menanggung liabilitas
dan beban, dan memperoleh penghasilan. Entitas tersebut dapat mengadakan kontrak atas nama
sendiri dan memperoleh pembiayaan untuk tujuan aktivitas ventura bersama. Setiap venturer
berhak atas bagian laba dari pengendalian bersama entitas, meskipun beberapa pengendalian
bersama entitas juga meliputi pembagian output ventura bersama.
Contoh umum pengendalian bersama entitas adalah ketika dua entitas menggabungkan
aktivitas mereka dalam lini usaha tertentu dengan mengalihkan aset dan liabilitas yang relevan
ke suatu pengendalian bersama entitas. Contoh lainnya adalah ketika entitas memulai suatu
usaha di luar negeri bekerjasama dengan pemerintah atau lembaga lain di negara tersebut,
dengan cara mendirikan entitas terpisah yang dikendalikan bersama oleh entitas dan pemerintah
atau lembaga.
Pengendalian bersama entitas melakukan catatan akuntansi sendiri serta menyusun dan
menyajikan laporan keuangan dengan cara yang sama seperti entitas lainnya.
Setiap venturer biasanya mengkontribusikan kas atau sumber daya lainnya kepada
pengendalian bersama entitas. Kontribusi tersebut dimasukkan dalam catatan akuntansi venturer
dan diakui dalam laporan keuangan sebagai investasi pada pengendalian bersama entitas.

2.4 Pembagian Laba Joint Venture


Metode pembagian laba yang dapat dipakai juga sama dengan metode pembagian laba
persekutuan, yaitu :
a. Laba dibagi sama
b. Laba dibagi dengan ratio tertentu
c. Laba dibagi sesuai dengan ratio modal, yaitu :
1. Modal mula-mula
2. Modal awal periode
3. Modal akhir periode
4. Modal rata-rata
d. Laba dibagi dengan memperhitungkan bunga modal dan sisanya dibagi menurut cara a, b atau c.
e. Laba dibagi dengan memperhitungkan gaji dan bonus dan sisanya dibagi menurut cara a, b atau
c.
f. Laba dibagi dengan memperhitungkan bunga modal, gaji serta bonus dan sisanya dibagi
menurut cara a, b atau c.
2.5 Perusahaan yang Tergabung Dalam Joint Venture
Berikut adalah contoh perusahaan yang tergabung dalam Joint Venture:
1. ASUS dengan Gigabyte
Meningkatnya persaingan bisnis di bidang perangkat keras (hardware) untuk produk-produk
komputer, mendorong beberapa perusahaan untuk melakukan kerja sama guna mempertahankan
posisinya di antara para pesaingnya. Hal ini juga dilakukan oleh dua perusahaan besar asal
Taiwan,yaitu Gigabyte dan ASUS, yang selama ini berkompetisi ketat di kategori produk
motherboard, graphics card, dan beberapa komponen lain. Kedua perusahaan tersebut pada tahun
2007 melakukan kerja sama untuk membuat strategi baru dalam pembuatan dan pemasaran
produk motherboard dan graphics card, dan beberapa komponen lain. Produk-produk hasil kerja
sama ini akan menyandang nama Gigabyte.
2. Indofood dengan Nestle
Untuk memantapkan penetrasi pasar di industri consumer goods, dua perusahaan PT
Indofood Sukses Makmur Tbk (Indofood) dan Nestle S.A(Nestle), Switzerland, membentuk
perusahaan patungan (joint venture). Perusahaan joint venture itu adalah PT Nestle Indofood
Citarasa Indonesia. Perusahaan joint venture itu akan fokus di bisnis kuliner (bumbu penyedap
makanan). Menurut CEO PT Indofood Anthoni Salim, pendirian usaha patungan baru ini, akan
menciptakan peluang memperbesar pangsa pasar. Sebab, dua perusahaan besar ini akan saling
memanfaatkan dan mengembangkan kekuatan yang dimiliki.
3. PT. Kimia Farma dan PT. Tigakarsa Satria
Joint Venture seperti yang terjadi pada PT. Kimia Farma dan PT.Tigakarsa Perkasa yang
menghasilkan PT. Sari Husada. Konsorsium ini menyatukan pemerintah dan industri yang
notabene bergerak dalam bidang penjualan dan distribusi berskala nasional. PT. Sari Husada
adalah perusahaan Joint Venture dari dua perusahaan pemerintah dan swasta, PT. Kimia Farma
dan PT. Tigakarsa Satria dengan komposisi modal Kimia Farma sebesar 55% dan Tigakarsa
sebesar 45%. Pada tahun 1983 PT. Sari Husada go public dan komposisi modalnya berubah
menjadi PT. Tiga Karsa 39,5%, PT. Kimia Farma menjadi 33% dan masyarakat 27%.
2.6 Metode Akuntansi Untuk Joint Venture
Pada prinsipnya ada dua metode :

1. Buku diselenggarakan terpisah dari pembukuan masing-masing anggota;


Pembukuan masing-masing anggota diselenggarakan secara terpisah rekening pembukuan di
dalam joint venture meliputi aktiva, hutang, pendapatan, biaya-biaya dan modal yang
diselenggarakan untuk tiap anggota.
Contoh 1 :
Tuan Habib, Imam dan Mulyono bersepakat mengadakan kerjasama dalam suatu usaha
(joint venture) HIM yang mengusahakan penjualan Al Quran elektronik bulan puasa sampai
bulan haji dengan ketentuan sebagai berikut:
asi : Tuan Habibi dan Mulyono menyerahkan barang dagangan sebagi penyertaan sebesar
Rp.60.000,00 dan Rp.80.000,00 Tuan Imam menyerahkan uang tunai sebesar Rp.70.000,00
as : Tuan Mulyono ditunjuk sebagai pimpinan(managing partner). Ia setuju memasarkan Al Quran
tersebut ke konsumen dan menyampaikan laporan-laporan yang berhubungan dengan transaksi-
transaksi atas nama joint venture.
gian laba : Tuan Mulyono diberi komisi 4% dari penjualan; bunga modal diberikan kepada masing-masing
anggota sebesar 6% dari laba usaha dan selebihnya dibagi sama. Joint venture dimulai 1
September 2012 dan berakhir 31 Desember 2012.
Penyelesaiaan ;

Buku Joint Venture


1. 1 September 2012 investasi barang dagangan oleh Tuan Habibi dan Tuan Mulyono sebesar
Rp.60.000,00 dan Rp.80.000,00 serta investasi uang tunai Tuan Imam sebesar Rp.70.000,00.
Jurnal :
Persed. Br. Dagangan Rp.140.000
Modal Habibi Rp.60.000
Modal Mulyono Rp.80.000
Kas Rp.70.000
Modal Imam Rp.70.000
2. Ditarik sebuah promes Rp.10.000,00 dengan bunga 9% jangka waktu 2 bulan, Bunga dihitung
sebagai berikut :
(2/12) x 9% x Rp.10.000 = 150
Kas Rp.9.850
Biaya bunga Rp.150
Wesel bayar Rp.10.000
3. Penjualan kredit barang dagangan Rp.100.000 dan tunai Rp.50.000
Jurnal :
Kas Rp.50.000
Piutang dagang Rp.100.000
Penjualan Rp.150.000
HPP Rp.112.025
Persediaan Rp.112.025
4. Dibeli barang dagangan sebesar Rp.84.050
Jurnal :
Persediaan Rp.84.050
Kas Rp.84.050
5. Penjualan kredit barang dagangan Rp.150.000
Jurnal :

Piutang dagang Rp.150.000


Penjualan Rp.150.000
HPP Rp.112.025
Persediaan Rp.112.025
6. Penerimaan piutang Rp.249.500
Jurnal :
Kas Rp.249.500
Piutang dagang Rp.249.500
7. Penghapusan piutang dagang Rp.500
Jurnal :
Pengh. piutang dagang Rp.500
Piutang dagang Rp.500
8. Pembayaran macam-macam biaya usaha Rp.12.600
Jurnal :
Macam-macam biaya Rp.12.600
Kas Rp..600
9. Pembayaran/pelunasan wesel bayar Rp.10.000
Jurnal :
Wesel bayar Rp.10.000
Kas Rp.10.000
10. 31 Desember 2012 dilakukan penentuan laba bersih. Saldo pendapatan dan biaya-biaya ditutup
ke rekening modal, serta pembagian laba (rugi) dengan ketentuan komisi tuan Mulyono 4% dari
penjualan dan bunga modal masing-masing anggota sebesar 6%.
Menutup penjualan ke rugi laba:
Jurnal :
Penjualan Rp.300.000
Rugi laba Rp.300.000
Menghitung bunga modal:
Habibi = 6% x 4/12 x Rp.60.000 = Rp.1.200
Imam = 6% x 4/12 x Rp.70.000 = Rp.1.400
Mulyono = 6% x 4/12 x Rp.80.000 = Rp.1.600
Menghitung komisi Mulyono:
4% x 300.000.000 = 12.000.000
Habibi Imam Mulyono Total
Komisi - - Rp.12.000 Rp.12.000
Bunga modal Rp.1.200 Rp.1.400 Rp.1.600 Rp.4.200
Sisa laba Rp.15.500 Rp.15.500 Rp.15.500 Rp.46.500
Total Rp.16.700 Rp.16.900 Rp.29.100 Rp.62.700
Rugi laba Rp.237.300
Harga pokok penjualan Rp.224.050
Macam-macam biaya Rp.12.600
Penghapusan piutang Rp.500
Biaya bunga Rp.150
Rugi laba Rp.62.700
Modal Habibi Rp.16.700
Modal Imam Rp.16.900
Modal Mulyono Rp.29.100
11. Mengembalikan modal masing-masing partner.
Modal Habibi Rp. 76.700
Modal Imam Rp. 86.900
Modal Mulyono Rp.109.100
Kas Rp. 272.700
Catatan Buku masing-masing partner
a. Saat investasi awal 1 September 2004
Buku Tuan Habibi:
Investasi pada joint venture HIM Rp.60.000
Barang-barang untuk JV. HIM Rp.60.000
Buku Tuan Imam:
Investasi pada joint venture HIM Rp.70.000
Kas Rp.70.000
Buku Tuan Mulyono
Investasi pada joint venture HIM Rp.80.000
Barang-barang untuk JV. HIM Rp.80.000
b. Saat penutupan/pembubaran 31 Desember 2004
Buku Tuan Habibi:
Investasi pada joint venture HIM Rp.16.700
Laba Joint Venture HIM Rp.16.700
Kas Rp.76.700
Investasi pada JV HIM Rp.76.700
Buku Tuan Imam:
Investasi pada joint venture HIM Rp.16.900
Laba Joint Venture HIM Rp.16.900
Kas Rp.86.900
Investasi pada JV HIM Rp.86.900
Buku Tuan Mulyono:
Investasi pada joint venture HIM Rp.29.100
Laba Joint Venture HIM Rp.29.100
Kas Rp.109.100
Investasi pada JV HIM Rp.109.100
2. Rekening-rekening untuk setiap transaksi dalam joint venture ada dan dicatat didalam buku
masing-masing anggota,(tidak diselenggarakan pembukuan secara terpisah terhadap aktiva joint
venture atau digabung).
Masing-masing anggota harus mempunyai rekening joint venture pada buku-bukunya,
meskipun masing-masing patner mecatat transaksi-transaksi yang terjadi pada buku managing
patner tetap harus dibentuk rekening joint venture. Misal kas JV, piutang JV, Hutang JV, dll.
Dalam metode ini, joint venture tidak menyelenggarakan akuntansi secara tersendiri.
Akuntansi terhadap joint venture diselenggarakan oleh masing-masing sekutu (partner). Dalam
hal ini, akuntansinya dapat dibagi menjadi dua yaitu :
1. Managing Partner
Pada dasarnya managing partner akan menyelenggarakan rekening secara lengkap, yaitu
rekening-rekening aktiva, utang, modal, pendapatan, dan biaya. Oleh karena akuntansi tersebut
dicampur dengan akuntansi perusahaannya sendiri, maka untuk membedakannya setiap rekening
joint venture diberi tanda tersendiri, yaitu dengan penambahan istilah joint venture pada setiap
rekening. Rekening-rekening yang diselenggarakan managing partner meliputi :
a. Rekening Aktiva-Joint Venture
b. Rekening Utang-Joint Venture
c. Rekening sekutu atau partner
d. Rekening Joint Venture
2. Non- Managing Partner
Non- managing partner hanya menyelenggarakan 2 macam rekening, yaitu :
a. Rekening Joint Venture
b. Rekening Sekutu (Partner)
1. Rekening Managing Partner
Berikut mekanisme pendebitan dan pengkreditan rekening ini:
Pendebitan dilakukan apabila terjadi transaksi yang berakibat:
Aktiva joint venture bertambah
Utang joint venture berkurang dan
Modal atau managing partner berkurang
Pengkreditan dilakukan apabila terjadi transaksi yang berakibat:
Aktiva joint venture berkurang
Utang joint venture bertambah dan
Modal atau managing partner bertambah
2. Rekening Sekutu non-Managing Partner yang lain.
Contoh 2 :
Apabila usaha bersama antara Tuan Habibi, Tuan Imam dan Tuan Mulyono seperti pada contoh
1 di muka, pembukuannya diselenggarakan dengan tidak menggunakan buku joint venture secara
terpisah, dan setiap partner mencatat semua transaksi pada bukunya masing-masing, maka
pencatatannya akan tampak sbb:
Penyelesaiaan :
1. 1 September 2012 investasi barang dagangan oleh Tuan Habibi dan Tuan Mulyono sebesar
Rp.60.000 dan Rp.80.000 serta investasi uang tunai Tuan Imam sebesar Rp.70.000
Buku Habibi Joint venture Rp.140.000
Persed. Br. Dagangan JV Rp.60.000
Tuan Mulyono Rp.80.000
Buku Imam Joint venture Rp.140.000
Tuan Habibi Rp.60.000
Tuan Mulyono Rp.80.000
Buku Mulyono Joint venture Rp.140.000
Tuan Habibi Rp.60.000
Persed. Br. Dagangan JV Rp.80.000
2. Investasi tunai oleh Tuan Imam sebesar Rp.70.000 langsung dikirim ke Managing partner.
Buku Habibi Tuan Mulyono Rp.70.000
Tuan Imam Rp.70.000
Buku Imam Tuan Mulyono Rp.70.000
Kas Rp.70.000
Buku Mulyono Kas-Joint venture Rp.70.000
Tuan Imam Rp.70.000
3. Ditarik sebuah promes Rp.10.000 dengan bunga 9% jangka waktu 2 bulan.
Bunga dihitung sbb: (2/12) x 9% x Rp.10.000= Rp.150
Buku Habibi Joint venture Rp.150
Tuan Mulyono Rp.150
Buku Imam Joint venture Rp.150
Tuan Mulyono Rp.150
Buku Mulyono Kas-Joint venture Rp.9.850
Joint venture Rp.150
Wesel bayar joint venture Rp.10.000
4. Penjualan kredit barang dagangan Rp.300.000
Jurnal :
Buku Habibi Tuan Mulyono Rp.300.000
Joint venture Rp.300.000
Buku Imam Tuan Mulyono Rp.300.000
Joint venture Rp.300.000
Buku Mulyono Piutang dagang JV Rp.300.000
Joint venture Rp.300.000
5. Penerimaan piutang Rp.299.500
Buku Habibi tidak ada pencatatan
Buku Imam tidak ada pencatatan
Buku Mulyono Kas-Joint Venture Rp.299.500
Piutang dagang- JV Rp.299.500
6. Penghapusan piutang dagang Rp.500
Buku Habibi Joint venture Rp.500
Tuan Mulyono Rp.500
Buku Imam Joint venture Rp.500
Tuan Mulyono Rp.500
Buku Mulyono Joint venture Rp.500
Piutang dagang- joint venture Rp.500
7. Pembayaran macam-macam biaya usaha Rp.12.600
Buku Habibi Joint venture Rp.12.600
Tuan Mulyono Rp.12.600
Buku Imam Joint venture Rp.12.600
Tuan Mulyono Rp.12.600
Buku Mulyono Joint venture Rp.12.600
Kas Rp.12.600
8. Pembayaran/pelunasan wesel bayar Rp.10.000
Buku Habibi tidak ada pencatatan
Buku Imam tidak ada pencatatan
Buku Mulyono Joint Venture Rp.10.000
Kas- Joint Venture Rp.10.000
9. 31 Desember 2004 dilakukan pembagian laba (rugi) dengan ketentuan komisi tuan Mulyono
4% dari penjualan dan bunga modal masing-masing anggota sebesar 6%. Sisanya dibagi rata.
Menghitung bunga modal:
Habibi = 6% x 4/12 x Rp.60.000 = Rp.1.200
Imam = 6% x 4/12 x Rp.70.000 = Rp.1.400
Mulyono = 6% x 4/12 x Rp.80.000 = Rp.1.600
Menghitung komisi Mulyono:
4% xRp. 300.000 = Rp.12.000
Habibi Imam Mulyono Total
Komisi - - Rp.12.000 Rp. 12.000
Bunga modal Rp.1.200 Rp. 1.400 Rp. 1.600 Rp. 4.200
Sisa laba Rp.15.50 Rp.15.500 Rp.15.500 Rp. 46.500
Total Rp.16.700 Rp.16.900 Rp.29.100 Rp.62.700
Buku Habibi Joint venture Rp.62.700
Laba Joint venture Rp.16.700
Tuan Imam Rp.16.900
Tuan Mulyono Rp.29.100

Buku Imam Joint venture Rp.62.700


Laba Joint venture Rp16.900
Tuan Habibi Rp.16.700
Tuan Mulyono Rp.29.100

Buku Mulyono Joint venture Rp.62.700


Laba Joint venture Rp.29.100
Tuan Habibi Rp.16.700
Tuan Imam Rp.16.900
10. Mengembalikan modal masing-masing partner.
Buku Habibi
Kas Rp.76.700
Tuan Imam Rp.86.900
Tuan Mulyono Rp.163.600

Buku Imam
Kas Rp.86.900
Tuan Habibi Rp.76.700
Tuan Mulyono Rp.163.600

Buku Mulyono
Kas Rp.109.100
Tuan Habibi Rp.76.700
Tuan Imam Rp.86.900
Kas-joint venture Rp.272.700
2.7 Joint Venture yang Belum Selesai
Dalam hubungannya dengan joint venture yang belum selesai tersebut timbul masalah
akuntansi, yaitu mengenai pengakuan laba atau rugi joint venture yaitu apakah perlu mengakui
rugi-laba atas joint venture yang belum selesai. Perlu tidaknya mengakui rugi-laba joint venture
yang belum selesai harus memperhatikan prinsip-prinsip yang mendasari pengakuan rugi laba
(pendapatan dan biaya).
Dalam hal anggota joint venture mengakui laba atas joint venture yang belum selesai ini
menimbulkan 2 masalah, yaitu penentuan besarnya laba atau rugi yang diakui dan pencatatannya
akan tergantung pada metode akuntansi yang digunakan.

1. Metode Akuntansi Terpisah


Apabila joint venture menyelenggarakan akuntansi dengan metode ini maka besarnya laba
adalah selisih antara pendapatan dan biaya. Apabila diperlukan maka untuk menghitung laba
atau rugi tersebut diperlukan penyesuaian. Laba atau rugi tersebut akan dibagi sesuai dengan
rasio atau metode pembagian laba yang disepakati. Dengan metode ini maka masing-masing
sekutu hanya akan mencatat bagian laba atau rugi yang menjadi haknya.

2. Metode Akuntansi Tidak Terpisah


Apabila joint venture menggunakan metode akuntansi tidak terpisah maka besarnya laba atau
rugi dapat diketahui dari saldo rekening Joint Venture, yaitu :

Laba, apabila rekening Joint venture bersaldo kredit dan


Rugi, apabila rekening Joint venture bersaldo debit.
Seperti yang dijelaskan bahwa joint Venture hanya bisa dihitung laba/ruginya apabila telah
berakhir usaha yang menjadi obyeknya maka dalam pembukuan ini mengalami hal hal yang
perlu dilakukan karena pembukuan secara tidak terpisah sedikit berbeda dari pembukuan secara
terpisah, yang membedakan adalah hak-hak para anggota di dalam joint venture dapat ditentukan
pada setiap saat yang menyangkut aktivitas joint venture.
Hak-hak para anggota adalah selisih antara jumlah komuatif semua rekening yang
mempunyai saldo debit dengan jumlah komulatif semua rekening yang mempunyai saldo kredit
dari pembukuan yang diselenggarakan oleh anggota yang bersangkutan.
Rekening-rekening dengan saldo debet menunjukkan aktiva joint venture (termasuk biaya
yang dibayar dimuka). Sedangkan rekening-rekening yang mempunyai saldo kredit adalah
rekening yang menunjukkan kewajiban-kewajiban koint venture kepada pihka ketiga dan hak-
hak anggota di dalam joint venture.
2.8 Barang yang Belum Terjual
Sisa barang dagangan yang belum terjual harus diperlakukan secara tepat sesuai
penggunaan sisa barang yang bersangkutan, yang dalam hal ini ada 3 kemungkinan yaitu :
1. Dibagi kepada Para Sekutu
Metode akuntansi terpisah
Apabila joint venture menyelenggarakan akuntansi secara terpisah maka pencatatan terhadap
pembagian sisa barang dagangan kepada para sekutu, tergantung sistem akuntansi persediaan.
Jika dengan sistem perpetual, maka pembagian sisa barang kepada para sekutu dicatat oleh joint
venture dengan mendebit rekening masing-masing sekutu dan mengkredit rekening persediaan.
Jika dengan sistem fisik, maka pembagian sisa barang dagangan tidak harus dicatat. Jika ingin
dicatat maka akan dicatat dengan mendebit rekening modal masing-masing sekutu dan
mengkredit rekening penjualan.
Metode akuntansi tidak terpisah
Apabila joint venture menyelenggarakan akuntansi secara tidak terpisah, maka pembagian sisa
barang kepada para sekutu tidak perlu dicatat.
2. Dijual kepada Pihak Luar
Apabila sisa barang dijual kepada pihak luar maka akan dicatat seperti halnya penjualan yang
biasa. Jika menggunakan metode akuntansi terpisah transaksi ini akan dikredit ke rekening
penjualan, yang akhirnya akan menambah laba sebesar harga jual. Jika menggunakan metode
akuntansi tidak terpisah transaksi ini akan dikredit ke rekening joint venture sebesar harga jual.
3. Dijual kepada Sekutu
Metode yang digunakan:
Metode akuntansi terpisah
Jika menggunakan metode akuntansi terpisah maka transaksi tersebut hanya akan dicatat oleh
joint venture dan sekutu yang bersangkutan dengan mendebit rekening sekutu yang membeli dan
mengkredit rekening penjualan, masing-masing sebesar harga jual.
Metode akuntansi tidak terpisah
Jika menggunakan metode akuntansi tidak terpisah maka transaksi tersebut akan dicatat oleh
semua sekutu. Sekutu pembeli akan mencatat dengan mendebit rekening pembelian atau
persediaan dan mengkredit rekening joint venture. Sekutu yang lain akan mencatat dengan
mendebit rekening sekutu pembeli dan mengkredit rekening joint venture, masing-masing
sebesar harga jual.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Untuk perusahaan yang mempunyai modal yang cukup besar,dengan jangkauan pemasaran
yang luas mungkin tidak masalah bila ingin menambah jenis usahanya. Tetapi bagi perusahaan
yang memiliki kendala misalnya dalam bidang modal. Hal itu dapat menjadi masalah untuk
mengembangkan usahanya. Tetapi ada satu cara yaitu dengan melakukan Joint Venture (JV).
Arti dari Joint Venture adalah bentuk usaha bersama, kongsi, atau kerjasama. Joint Venture
adalah satu kerjasama yang mekibatkan dua atau lebih peserta aktif sebagai mitra atau disebut
aliansi strategis. Dalam kerjasama tersebut tentu untuk mendapatkan keuntungan (bidang
ekonomi) merupakan alasan utama. Hal- hal yang mendukung terjadinya kerjasama tersebut
yaitu tersedianya bahan baku yang melimpah, tenaga kerja yang banyak, dan pasar yang
prospektif. Joint venture dapat bersifat nasional dan internasional. Dalam Joint Venture terdapat
perjanjian dalam hal kerjasama berdasarkan pada kontraktual.
3.2 Saran
Alasan dilakukannya Joint Venture di Indonesia karena terbatasnya modal yang dimiliki,
juga skill dan teknologi yang ada. Negara Indonesia sampai saat ini masih memerlukan
kehadiran pemilik modal asing untuk menanamkan modalnya. Karena bila hanya mengandalkan
kekayaan alam, tenaga kerja yang besar tetapi tanpa teknologi dan modal yang mencukupi maka
pertumbuhan ekonomi di Indonesia sulit meningkat. Disini sebenarnya peluang bagi negara
Indonesia untuk dapat menciptakan lapangan kerja, membangun daerah tertinggal, juga
meningkatkan sarana dan prasarana yang ada. Semoga makalah yang saya buat ini dapat
bermanfaat bagi kita untuk menambah wawasan kita khususnya mengenai Joint Venture.
DAFTAR PUSTAKA
Suparwoto, L. 2009. Akuntansi Keuangan Lanjutan, Edisi 1. Penerbit BPFE. Yogyakarta.

http://id.wikipedia.org/wiki/Joint_venture
http://kayadaribisnisinternet.com/manfaat-joint-venture/
http://www.unsri.ac.id/fasilkom/old_version/dosen/sulaiman/materi/acc4.pdf

Diposting oleh khairun Nisa di 01.51


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Beranda


Langganan: Posting Komentar (Atom)

Mengenai Saya

khairun Nisa
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog
2014 (9)
o Juni (1)
o Mei (1)
o April (4)
o Maret (3)
Anggaran Pemerintah
Regulasi dan Standar
Akuntansi Joint Venture

Tema PT Keren Sekali. Diberdayakan oleh Blogger.


Sfggggggggggggggggggggggggggggggggggggggg

enleis
" coz information is very important "
November 14, 2011

Akuntansi Keuangan Lanjutan ( Joint


Venture )
Soal:

Dalam Book Fair 2011 di Mandala Widyatama Maret 2011 yang lalu, X, Y, dan Z sepakat
mengadakan joint venture di bidang penjualan buku-buku teks mahasiswa selama Book fair.

Setoran modal masing-masing sekutu:

X : Rp20.000.000,00

Y : Rp27.000.000,00

Z : Rp33.000.000,00

Cara pembagian laba:

X sebagai managing partner mendapat bonus 25% dari laba

Sisa laba setelah bonus dibagi sbb: X 25%, Y 35% dan Z 40%

Transaksi yang terjadi selama berjalannya joint venture salah sbb:

a X menyetor modal berupa kas sebesar Rp20.000.000

b. Y menyerahkan barang dagangan sebagai setoran modal . Harga perolehan barang tersebut
Rp25.000.000,00 tetapi disepakati nilainya Rp27.000.000,00

c. Joint venture membayar biaya sewa stand Rp5.000.000,00

d. Z menyetor kas sebesar Rp33.000.000 sebagai setoran modal

e. Managing partner melakukan pembelian tambahan barang dagangan senilai Rp18.000.000,00


f. Joint venture membayar gaji penjaga stand Rp2.500.000,00

g. Joint venture membayar berbagai macam biaya usaha lainnya sebesar Rp2.000.000,00

h. Joint venture berhasil menjual barang dagangan seharga Rp62.500.000,00 secara tunai.

i. Rugi laba joint venture dihitung dan dibagikan kepada semua partner.

j. Joint venture dibubarkan dan semua kas dibagi pada para sekutu.

Buatlah pencatatan baik dari para joint venture maupun dari para partner dengan menggunakan:

1) Metode akuntansi terpisah.

2) Metode akuntansi tidak terpisah.

Jawaban : Click here

Advertisements

Share this:

Twitter
Facebook

Related

Kas KecilIn "Akuntansi dan Ekonomi"

Akuntansi Keuangan Lanjutan ( Konsinyasi)In "Akuntansi dan Ekonomi"

Sistem Akuntansi PerkebunanIn "Akuntansi dan Ekonomi"

This entry was posted in Akuntansi dan Ekonomi, Akuntansi Keuangan Lanjutan.
Bookmark the permalink.
Leave a comment
Post navigation
Previous Next

Leave a Reply

Recent Posts
Tips-tips merias wajah
Jong labar (jagung labar)
Kepiting Gulai Daun Ubi
Persediaan
BEA MATERAI

Archives
January 2012
December 2011
November 2011

Categories
Akuntansi dan Ekonomi
Akuntansi Keuangan Lanjutan
Akuntansi Keuangan Menengah
Guitar Music
Kecantikan
Masakan
Perpajakan
Perpajakan dan Administrasi
Resep
Smartphone
Uncategorized
Meta
Register
Log in
Entries RSS
Comments RSS
WordPress.com

enleis logo

Blogroll
Discuss
Get Inspired
Get Polling
Get Support
Learn WordPress.com
Theme Showcase
tri zulhijah wordpress
WordPress Planet
WordPress.com News

Blog Stats
46,199 hits

November 2011
M T W T F S S
Dec
1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30
enleis

Create a free website or blog at WordPress.com.