Anda di halaman 1dari 15

PENGARUH PH DAN TEKANAN OSMOTIK TERHADAP

PERTUMBUHAN MIKROBIA
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
MIKROBOLOGI PANGAN DAN PENGOLAHAN

Disusun oleh :
NOER AZA FAUZIANA
15/18028/THP-STIPP B

SARJANA TEKNOLOGI INDUSTRI PERKEBUNAN DAN


PANGAN
JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN STIPER
YOGYAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran atau substansi
atau masa zat suatu organisme, misalnya kita makhluk makro ini dikatakan
tumbuh ketika bertambah tinggi, bertambah besar atau bertambah berat.
Pada organisme bersel satu pertumbuhan lebih diartikan sebagai
pertumbuhan koloni, yaitu pertambahan jumlah koloni, ukuran koloni yang
semakin besar atau subtansi atau massa mikroba dalam koloni tersebut
semakin banyak, pertumbuhan pada mikroba diartikan sebagai pertambahan
jumlah sel mikroba itu sendiri.
Osmosis adalah difusi melintasi semipermiabel yang memisahkan dua
macam larutan dengan konsentrasi solut yang berbeda. Proses ini cenderung
untuk menyamakan konsentrasi solut pada kedua sisi membran tersebut.
Pada sel hewan yang tidak mempunyai dinding yang kaku, dapat teramati
penyusutan sel yang sesungguhnya sebagai akibat plasmolisis. Bakteri
memiliki dinding sel yang kaku yang dapat mempertahankan perubahan
tekanan osmosik, sehingga biasanya tidak menunjukkan perubahan bentuk
ataupun ukuran yang menyolok bila terjadi plasmolisis atau plasmoptisis.
Oleh karena itu melalui percobaan ini agar praktikan dapat mengetahui
pengaruh pH dan tekanan osmotik dengan percobaan variasi pH dan gula
terhadap pertumbuhan mikroorganisme dan menentukan pertumbuhan
bakteri yang terbanyak serta yang lebih sedikit berdasarkan keberhasilan
pembentukan nata de coco.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari Praktikum Mikrobiologi Pangan dan Pengolahan
acara pH dan Tekanan OsmotikTerhadap Pertumbuhan Mikrobia yaitu
untuk mengetahui pengaruh pH terhadap pertumbuhan mikrobia.
1.3 Manfaat
Adapun tujuan dari Praktikum Mikrobiologi Pangan dan Pengolahan
acara pH dan Tekanan OsmotikTerhadap Pertumbuhan Mikrobia yaitu dapat
mengetahui pengaruh pH terhadap pertumbuhan mikrobia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Nata De Coco


Nata terbentuk dari aktivitas bakteri Acetobacter xylinum dalam sari
buah yang mengandung glukosa yang kemudian diubah menjadi asam asetat
dan benang-benang selulosa. Lama-kelamaan akan terbentuk suatu massa
yang kokoh dan mencapai ketebalan beberapa sentimeter. Selulosa yang
dikeluarkan ke dalam media itu berupa benang-benang yang bersama-sama
dengan polisakarida berlendir membentuk jalinan yang terus menebal
menjadi lapisan nata. Bakteri Acetobacter xylinum akan dapat membentuk
nata jika ditumbuhkan dalam air kelapa yang sudah diperkaya dengan
Karbon (C) dan Nitrogen (N), melalui proses yang terkontrol. Dalam kondisi
demikian, bakteri tersebut akan menghasilkan enzim akstraseluler yang
dapat menyusun zat gula menjadi ribuan rantai serat atau selulosa. Dari
jutaan renik yang tumbuh pada air kelapa tersbeut, akan dihasilkan jutaan
lembar benang-benang selulosa yang akhirnya nampak padat berwarna putih
hingga transparan (Purnomo, 2011).
2.2 Acetobacter xylinum
Acetobacter adalah sebuah genus bakteri penghasil asam asetat,
ditandai dengan kemampuannya mengubah etanol (alkohol) menjadi asam
asetat (asam cuka) dengan bantuan udara. Pertumbuhan Acetobacter pada
anggur dapat dicegah dengan sanitasi yang efektif, pemisahan udara dari
anggur secara sempurna, maupun penggunaan secukupnya sulfur
dioksida sebagai pengawet pada anggur (Suharni, 2005).
Di laboratorium, Acetobacter dikenali dengan mudah dengan
pertumbuhan koloninya di medium yang mengandung 7% etanol, dan
ditambahi kalsium karbonat secukupnya untuk memburamkan medium
sebagian. Ketika koloni tersebut membentuk asam asetat yang cukup,
kalsium karbonat kemudian melarut sehingga terbentuk daerah bening yang
jelas pada medium (Suharni, 2005).
2.3 Faktor Lingkungan Bakteri Acetobacter xylinum
Faktor-faktor yang mempengaruhi Acetobacter xylinum mengalami
pertumbuhan adalah nutrisi, sumber karbon, sumber nitrogen, serta tingkat
keasaman media temperatur, dan udara (oksigen). Senyawa karbon yang
dibutuhkan dalam fermentasi nata berasal dari monosakarida dan disakarida.
Sumber dari karbon ini yang paling banyak digunakan adalah gula. Sumber
nitrogen bias berasal dari bahan organic seperti ZA, urea. Meskipun
bakteriAcetobacter xylinum dapat tumbuh pada pH 3,5 7,5, namun akan
tumbuh optimal bila pH nya 4,3. sedangkan suhu ideal bagi pertumbuhan
bakteri Acetobacter xylinum pada suhu 28 31C. bakteri ini sangat
memerlukan oksigen. Sehingga dalam fermentasi tidak perlu ditutup rapat
namun hanya ditutup untuk mencegah kotoran masuk kedalam media yang
dapat mengakibatkan kontaminasi (Purnomo, 2011).
2.4 pH
Mikroba umumnya menyukai pH netral (pH 7). Beberapa bakteri
dapat hidup pada pH tinggi (medium alkalin). Contohnya adalah bakteri
nitrat, rhizobia, actinomycetes, dan bakteri pengguna urea. Hanya beberapa
bakteri yang bersifat toleran terhadap kemasaman, misalnya Lactobacilli,
Acetobacter, dan Sarcina ventriculi. Bakteri yang bersifat asidofil
misalnya Thiobacillus. Jamur umumnya dapat hidup pada kisaran pH
rendah. Apabila mikroba ditanam pada media dengan pH 5 maka
pertumbuhan didominasi oleh jamur, tetapi apabila pH media 8 maka
pertumbuhan didominasi oleh bakteri.(Waluyo, 2005).
2.5 Tekanan Osmotik
Pengaruh tekanan osmosis pada pertumbuhan bakteri disebabkan
karena adanya perbedaan tekanan osmosis di dalam dan di luar sel yang
akan menyebabkan gangguan pada sistem metabolisme di dalam sel bakteri
jika lingkungan mempunyai tekanan osmosis yang besar akan dapat
mengganggu metabolisme dalam sel. Meskipun demikian beberapa jenis
bakteri dan juga mikroba lainnya ada yang mempunyai ketahanan terhadap
tekanan osmosis tinggi, misalnya mikroba golongan osmofilik (Waluyo,
2005).
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Tempat dan Tanggal Praktikum
Praktikum ini dilakukan pada hari Selasa, 1 Agustus 2017 di
Laboratorium Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi
Pertanian, Institut Pertanian Stiper Yogyakarta.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu kompor,
panci, gelas ukur, tisu, plastik, botol kaca, nampan, karet, dan neraca.
Sedangkan bahan yang digunakan adalahsusu starter nata, ZA, gula pasir,
NaOH/CH3COOH, dan air kelapa tua.
3.3 Cara Kerja
3.3.1 Teoritis
1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2. Merebus air kelapa sebanyak 1,5 L menggunakn panci.
3. Menambahkan gula 112,5 gram, ZA 7 gram dan garam 0,75
gram.
4. Menambahkan larutan NaOH/asam cuka.
5. Membagi larutan menjadi 7 bagian dengan perlakuan sebagai
berikut :
a. Pengaruh pH : pH 4, pH 7 dan pH 10
b. Pengaruh tekanan osmotik : penambahan gula 11,25 gram,
22,5 gram, 33,75 gram dan 45 gram.
6. Melakukan pemanasan lanjutan.
7. Menuangkan ke dalam botol kaca.
8. Menutup botol dengan koran dan mengikat dengan karet.
9. Menginkubasi selama 24 jam.
10. Menambahkan 10 mL starter nata.
11. Menginkubasi selama 1 minggu.
12. Melakukan pengamatan nata.
3.3.2 Diagram Alir

1,5 L air kelapa.

Dimasukkan panci.

Di tambah gula 112,5 gram, ZA 7


gram dan garam 0,75 gram.

Ditambahkan larutan
NaOH/asam cuka.

Dibagi menjadi 7 bagian.

Dipanaskan.

Dituangkan botol kaca.

Ditutup dengan koran dan diikat


dengan karet.

Diinkubasi selama 24 jam.

Ditambahkan 10 mL starter nata.

Diinkubasi selama 1 minggu.

Diamati.

Gambar 1. diagram alir pengaruh pH dan tekanan osmotik pertumbuhan


mikrobia
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


Adapun hasil pengamatan dari praktikum Pengaruh pH dan Tekanan
Osmotik Terhadap Pertumbuhan Mikrobia adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Pengaruh pH Terhadap Pertumbuhan Mikrobia
Pengamatan
Variasi
Pembentukan Ketebalan
pH Berat nata Sisa media
nata nata
4 +++ 2 cm 52,16 gram 88 mL
7 +++ 1,5 cm 40,79 gram 100 mL
10 * * * 160 mL
Keterangan :
(*) = Tidak ada pembentukan nata
+ = Terbentuk nata tipis
++ = Terbentuk nata agak tebal
+++ = Terbentuk nata tebal
Tabel 2. Pengaruh Tekanan Osmotik Terhadap Pertumbuhan Mikrobia
Pengamatan
Variasi
Pembentukan Ketebalan
pH Berat nata Sisa media
nata nata
11,25 +++ 1,4 cm 40,97 gram 108 mL
22,5 +++ 1,9 cm 34,99 gram 110 mL
33,75 ++ 0,9 cm 24,64 gram 135 mL
45 ++ 0,7 cm 17,275 gram 140 mL
Keterangan :
(*) = Tidak ada pembentukan nata
+ = Terbentuk nata tipis
++ = Terbentuk nata agak tebal
+++ = Terbentuk nata tebal
4.2 Pembahasan
Pada praktikum pengaruh suhu terhadap pertumbuhan mikrobia,
praktikan diharapkan dapat mengetahui pengaruh suhu serta pengaruh
tekanan osmotik terhadap pertumbuhan mikrobia. Adapun bahan yang
digunakan dalam percobaan ini adalah air kelapa yang akan di proses
menjadi nata de coco.
Nata de coco merupakan jenis makanan hasil fermentasi oleh bakteri
Acetobacter xylinum. Acetobacter xylinum dalam pertumbuhan dan
aktivitasnya membentuk nata memerlukan suatu media yang tepat memiliki
kandungan komponen-komponen yang dibutuhkan sehingga produksi nata
yang dihasilkan dapat secara optimal.
Bahan baku pembuatan nata menggunakan air kelapa karena
mengandung nutrisi yang dibutuhkan bagi pertumbuhan,
perkembangbiakan, dan aktivitas bibit nata. Air kelapa mengandung unsur
hara makro yang terdiri dari karbon (C) dan nitrogen (N).
Kebutuhan carbon (C) berupa karbohidrat sederhana yaitu sukrosa,
glukosa, dan fruktosa. Sedangkan kebutuhan nitrogen (N) diperoleh dari
protein yang ada pada air kelapa. Jumlah protein ini cukup kecil akan tetapi
tersusun dari asam amino yang lengkap. Kriteria fisik air kelapa yang
digunakan adalah kelapa dengan umur tua optimal. Air kelapa yang terlalu
tua mengandung minyak yang dapat menghambat pertumbuhan bibit
nata Acetobacter xylinum. Sedangkan, air kelapa yang masih terlalu
muda belum mengandung mineral yang cukup di dalamnya, sehingga
kurang baik apabila digunakan sebagai bahan pembuatan nata.Namun, pada
praktikum ini praktikan menggunakan air kelapa tua sebagai upaya
pemanfaatan limbah.
Zuelzeneur anonia (Za) atau urea mengandung nitrogen yang berguna
meningkatkan aktifitas atau sumber nutrisi Acetobacter xylinum.
Keuntungannya nata yang dihasilkan akan lebih banyak dalam waktu yang
singkat. Sebaliknya tanpa penggunaan nitrogen, nata yang dihasilkan akan
sedikit.
Penambahan gula dimaksudkan untuk memperkaya unsur karbon (C)
yang telah ada pada air kelapa. Unsur karbon (C) dibutuhkan banyak oleh
Acetobacter xylinum karena digunakan sebagai nutrisi bagi pertumbuhan
pada saat proses metabolism dan juga sebagai sumber energi pada saat
perombakan glukosa dan fruktosa menjadi selulosa.
Pada praktikum ini juga dilakukan penambahan berbagai macam
konsentrasi gula tambahan untuk pengujian pengaruh tekanan osmotik
terhadap pertumbuhan mikrobia. Konsentrasi yang digunakan adalah 11,25
gram, 22,5 gram, 33,75 gram dan 45 gram. Pengaruh tekanan osmosis pada
pertumbuhan bakteri disebabkan karena adanya perbedaan tekanan osmosis
di dalam dan di luar sel yang akan menyebabkan gangguan pada sistem
metabolisme di dalam sel bakteri jika lingkungan mempunyai tekanan
osmosis yang besar dapat mengganggu metabolisme dalam sel. Medium
yang paling cocok bagi kehidupan bakteri Acetobacter xylinum ialah
medium yang isotonik terhadap isi sel bakteri. Jika bakteri di tempatkan di
dalam suatu larutan yang hipertonik terhadap isi sel, maka bakteri akan
mengalami plasmolisis. Dimana plasmolisis ini adalah proses mengerutnya
protoplasma dan diikuti dengan penarikan sitoplasma dari dinding sel
karena gerakan air keluar yang keluar dari sel. Proses plasmolisis pada
praktikum ini ditunjukkan dengan diakukannya penambahan gula yang
terlalu banyak, sehingga menyebabkan bakteri menjadi dehidrasi dan mati.
Dari hasil percobaan penambahan gula untuk memperkaya unsur karbon (C)
pada pembuatan nata berada pada konsentrasi 11,25 gram 22,5 gram
karena dihasilkan nata yang tebal dan cukup berat.
Asam asetat digunakan untuk menurunkan pH atau meningkatkan
keasaman air kelapa. Asam asetat yang baik adalah asam asetat glacial
(99,8%). Asam asetat dengan konsentrasi rendah dapat digunakan, namun
untuk mencapai tingkat keasaman yang diinginkan yaitu pH 4,5 5,5
dibutuhkan dalam jumlah banyak. Dimana pH tersebut merupakan pH
optimum bagi bakteri nata sehingga memberikan kemungkinan untuk
terbentuknya lapisan nata yang tebal. Apabila pH tidak bisa dijaga untuk
tetap berada pada kisaran 4,5-5,5 akan menyebabkan aktifitas enzim
menurun tajam yang menimbulkan kecepatan beberapa reaksi enzimatis
yang amat penting bagi organisme. Dari hasil percobaan diketahui bahwa
kondisi lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan nata adalah pH 4
ditunjukkan dengan tebalnya lapisan nata dan beratnya lapisan nata yang
terbentuk. Sedangkan pada pH 6 nata masih cukup tebal dan berat, karena
bakteri Acetobacter xylinum masih dapat mentolerir pH tersebut. Namun
pada pH 10 bakteri Acetobacter xylinum sudah tidak dapat tumbuh karena
kondisi lingkungan abiotiknya tidak memungkinkan terjadinya pertumbuhan
Factor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembentukan nata
yaitu dengan memberikan kondisi lingkungan yang optimal bagi
pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum. Faktor lingkungan yang optimal
menjadikan bakteri Acetobacter xylinum dapat menghasilkan enzim
ekstraseluler yang dapat menyusun zat gula menjadi ribuan rantai serat atau
selulosa. Dari jutaan renik yang tumbuh pada air kelapa tersebut, akan
dihasilkan jutaan lembar benang-benang selulosa yang akhirnya nampak
padat berwarna putih hingga transparan, yang disebut sebagai nata.
Berdasarkan percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa
bakteri yang digunakan sebagai starter dalam pembuatan nata de coco
adalah bakteri Acetobter xyilinum. Faktor kebersihan air kelapa, tersedianya
karbon dan nitrogen, serta usia dari bakteri sangat mempengaruhi nata yang
dihasilkan. Bakteri Acetobacter xylinum akan produktif pada usia
peremajaan 10 12 hari. Bakteri yang sudah cukup tua perlu diremajakan
lagi agar dapat membentuk nata dengan baik. Nata yang terbentuk berada
pada bagian atas, sedangkan air kelapa yang belum membentuk nata berada
pada bagian bawah.
Nata yang dihasilkan tentunya bisa beragam kualitasnya. Kualitas
yang baik akan terpenuhi apabila air kelapa yang digunakan memenuhi
standar kualitas bahan nata, dan prosesnya dikendalikan dengan cara yang
benar berdasarkan pada factor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan
aktivitas Acetobacter xylinum yang digunakan. Apabila rasio antara karbon
dan nitrogen diatur secara optimal, dan prosesnya terkontrol dengan baik,
maka semua cairan akan berubah menjadi nata tanpa meninggalkan residu
sedikitpun.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil percobaan diketahui bahwa kondisi lingkungan yang sesuai
untuk pertumbuhan nata adalah pH 4 ditunjukkan dengan tebalnya lapisan
nata dan beratnya lapisan nata yang terbentuk. Sedangkan pada pH 6 nata
masih cukup tebal dan berat, karena bakteri Acetobacter xylinum masih
dapat mentolerir pH tersebut. Namun pada pH 10 bakteri
Acetobacter xylinum sudah tidak dapat tumbuh karena kondisi lingkungan
abiotiknya tidak memungkinkan terjadinya pertumbuhan
Proses plasmolisis pada praktikum ini ditunjukkan dengan
diakukannya penambahan gula yang terlalu banyak, sehingga menyebabkan
bakteri menjadi dehidrasi dan mati. Dari hasil percobaan penambahan gula
untuk memperkaya unsur karbon (C) pada pembuatan nata berada pada
konsentrasi 11,25 gram 22,5 gram karena dihasilkan nata yang tebal dan
cukup berat.
5.2 Saran
Ada baiknya jika praktikum dilaksanakan dmenjadi dua golongan
sehingga proses pentransferan ilmu dapat berjala dengan kondusif dan
legiatan praktikum berjalan dengan lancar.
DAFTAR PUSTAKA

Purnomo. 2011 . Mikrobiologi Air . P.T. Alumni : Bandung


Suharni. 2005. Mikrobiologi dan Parasitologi . P.T. Citra Aditya Bakti :
Bandung.
Waluyo. 2005. Diktat Kuliah Mikrobiologi Dasar . UPN Veteran Yogyakarta :
Yogyakarta.

Yogyakarta, 15 Agustus 2017


Mengetahui,
Co. Ass Praktikan

Andreas Kawar Sembiring Brahmana Noer Aza Fauziana


LAMPIRAN

Pengambilan air kelapa tua. Proses pemasakan air Penuangan ke dalam botol
kelapa dan penambahan kaca.
beberapa bahan.

Penambahan gula untuk Pengukuran pH yang akan Pemanasan larutan nata


percobaan tekanan osmotik. digunakan. sebelum diinkubasi.

Hasil lapisan nata yang


Perlakuan sebelum Proses pengukuran sisa air
terbentuk.
inkubasi. nata.