Anda di halaman 1dari 22

I.

Identitas Pasien
Nama : Asriani
Jenis Kelamin : permpuan
Umur : 9 Tahun
Alamat : Pulau Barrang Lompo
Pekerjaan : Pelajar
Agama : Islam
Status Perkawinan : Belum menikah
Tgl. Masuk : 11-04-2014
Tgl. Keluar : 17-04-2014

II. Anamnesis
Keluhan Utama:
Bab encer berampas disertai darah.
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang ke RS TK-II PELAMONIA dengan keluhan buang air besar encer
berampas disertai darah sejak 1 minggu yang lalu sebelum masuk RS.
Buang air besar encer berampas disertai darah dirasakan setiap 3 kali sehari .Pasien juga
merasa mual dan muntah. Nafsu makan menurun, namun pasien selalu merasa cepat kenyang.
Buang air kecil normal tidak nyeri dan berwarna kuning bening. Pada hari ketujuh dirawat di RS
Pelamonia pasien buang air besar dan mengeluarkan cacing yang berukuran kurang lebih 10 cm,
pasien mengaku hal ini dialami pertama kali.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat penyakit yang sama tidak ada. Riwayat varisella (+), riwayat morbili (+) sejak umur 6
tahun.

Riwayat Penyakit Keluarga


Pasien mengaku tidak ada anggota keluarga yang pernah menderita penyakit seperti ini
sebelumnya.
III. PEMERIKSAAN FISIK

- Kesadaran : Compos mentis


- Tekanan darah : 100/70 mmHg
- Nadi : 110 x / menit, reguler
- Pernapasan : 38 x /menit
- Suhu : 37,20 C
- Ikterus : -/-
- Oedema : -/-
- Cyanotik : -/-
- Anemia : pucat (+)
- Ptechia : -
- Turgor kulit : Baik
- Tinggi Badan : cm
- Berat badan : 14 Kg

KEPALA
- Bentuk : Normochephal
- Rambut : Hitam, tidak mudah tercabut
- Mata : cekung (+), konjungtivitis (-)
- Telinga : Bentuk normal, simetris, otorhea (-)
- Hidung : Bentuk normal, rinorhea (-), epistaksis (-)
- Lidah : lidah kotor (+), hiperemis (-), stomatitis (-)

LEHER
Bentuk normal, deviasi trakhea (-), ikut gerakan menelan (+) dan ada pembesaran kelenjar
parotis (+).

THORAKS
- Inspeksi : Bentuk dada kanan kiri simetris
pergerakan napas kanan = kiri.
Iktus kordis tidak tampak
- Palpasi : Fremitus taktil kanan = kiri
- Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Batas Jantung
Batas atas : sela iga III garis sternalis kanan
Batas kanan : sela iga IV garis parasternalis kanan
Batas kiri : sela iga V garis midklavikula kiri
- Auskultasi : Pernapasan vesikuler, rhonki -/- , wheezing -/-
bunyi jantung I-II bising sistolik (+)

ABDOMEN
- Inspeksi : datar mengikuti gerak nafas
- Auskultasi : bunyi peristaltik (+), kesan normal
- Palpasi : Nyeri tekan pada regio epigastrium (+), hepar dan lien tidak teraba
- Perkusi : Tympani, Shifting dullnes (-)

GENITALIA
Tidak dilakukan evaluasi.

EKSTREMITAS
- Superior : Hangat
Eritema palmaris (-/-)
Sianosis (-/-)
Clubbing finger (-/-)
edema (-/-)

- Inferior : Hangat
edema (-/-)
Sianosis (-/-)

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan Laboratorium
Kimia klinik
Pemeriksaan darah lengkap

- RBC : 1,94 L 106/mm3


- HGB : 3,9 L g/dl
- HCT : 12,7 L %
- MCV : 65 L um3
- MCH : 20.0 L pg
- MCHC : 30,7 L g/dl
- RDW : 23,1 H %
- PLT : 228 103/mm3
- MPV : 7,4 uM3
- WBC : 6,9 103/mm3
- LED :-
Pemeriksaan darah tepi
Kesimpulan : Anemia mikrositik hipokrom suspek kausa
defesiensi Fe, dan ditemukan granulasi toksik
suspek kausa infeksi
Pemeriksan widal.
S. TYPHI O : 1/320
S. TYPHI H : NON REAKTIF
S. PARA TYPHI AO : NON REAKTIF
S. PARA TYPHI BO : NON REAKTIF
S. PARA TYPHI CO : NON REAKTIF
S. PARA TYPHI AH : 1/80
S. PARA TYPHI BH : NON REAKTIF
S. PARA TYPHI CH : NON REAKTIF

V. FOLLOW UP

Tanggal/jam Perjalanan penyakit Instruksi dokter


11/4/14 o Deman o IVFD RL 18 tetes/i
P: 30X/i o Bab encer,kecoklatan o Ceftriaxon 2x400mg
o Mual dan muntah o Metronidazol 3x140
N: 100X/i o Nyeri perut
drips
S: 38.4 OC o Sakit kepala o Antrain amp 3x140 iv
o Nafsu makan kurang o Zinc syr 1x1 cth
o Lab widal : S.Typhi O = o Pem Lab.
1/320.
Tanggal/jam Perjalanan penyakit Instruksi dokter
12/4/14 o Deman o Tx lanjut
T/D : 80/70 o Bab encer,kecoklatan o Transfusi WBC 1 bag
o Nyeri perut o O2 terapi
P: 30X/i o Nafsu makan kurang o Pem. Lab post transfusi
N: 88X/i o Bising sistolik
WBC 1 bag
O
o Lab darah tepi :anemia
S: 38.6 C
micrositik hipokrom
kausa defisiensi Fe,
ditemukan granulasi
toksik suspek kausa
infeksi
Tanggal/jam Perjalanan penyakit Instruksi dokter
13/4/14 o Buang air besar encer 3x
T/D : 90/50 kemarin, 1 kali hari ini
P:32 X/i
N:100 X/i o Tx lanjut
S: 37,4OC

Tanggal/jam Perjalanan penyakit Instruksi dokter


14/4/14 o Buang air besar encer 1x o Tx lanjut
TN: 70/60 o Transfusi WBC 1 bag
kali hari ini
o Hb: 3,9 dl o Ro Thorax
P: X/i o Sulfas ferosus 2x 1/2 tab
o Anak mulai mau makan
N: X/i o Becom C 2x1 cth
dan minum
S: OC
Tanggal/jam Perjalanan penyakit Instruksi dokter
15/4/14 o Bab encer berampas tadi o Tx lanjut
TN: 80/60 o Transfusi WBC 1 bag
pagi
o RoTthoraks : bronchitis o O2 terapi
P: X/i o Pem. Lab post transfusi
N: X/i (+), Cardiomegali (+)
o Lab darah : anemia WBC 1 bag
O
S: C
RBC:3.62L
4.00~~5.40
Hb :9.0L
10.3~~15,7
HCT:27.3L
32.0~~44.0
Tanggal/jam Perjalanan penyakit Instruksi dokter
16/4/14
TD: 90/60
P: X/i
o Buang air besar 3x
N: X/i o Tx lanjut
o KU baik
S: OC

Tanggal/jam Perjalanan penyakit Instruksi dokter


17/4/14 o Buang air besar keluar 2 o Tx lanjut
TN: 90/60 o Pyrantel pamoat
ekor cacing
P: X/i o Cacing (+) 1x150mg 2hari
o Sulfas ferrosus 1x1/2
N:64 X/i o Zamel 1x1 cth
S: OC o Pem Lab : feces dan
darah rutin

Resume:
Seorang anak usia 8 tahun datang ke RS dengan keluhan buang air besar encer berampas
di sertai darah sudah seminggu dirasakan.Pasien juga mengeluh mual dan muntah. Nafsu makan
baik, namun pasien selalu merasa cepat kenyang.Buang air kecil normal berwarna kuning. Pada
hari ketiga dirawat di RS Pelamonia, pasien buang air besar mengeluarkan cacing yang
berukuran kurang lebih 10 cm. Tidak ada riwayat keluarga yang menderita penyakit yang sama.
Pada pemeriksaan fisik terdapat nyeri tekan pada ulu hati dan nyeri kepala.
DIAGNOSIS KERJA
Askariasis
DIAGNOSIS BANDING
Ileus obstruktif

PROGNOSIS :
Quo ad vitam : Bonam
Quo ad functionam : Bonam
Quo ad sanationam : Bonam

V. PENATALAKSANAAN
1. Albendazole 400 mg (dosis tunggal)
2. Mebendazol 100 mg, 2x1 selama 3 hari
3. Pirantel Pamoat. Dosis tunggal 10mg/kgBB
4. Levamisol Hidroklorida. Dosis tunggal 150 mg untuk dewasa, dan 50 mg untuk orang

dengan berat badan <10 kg


5. Piperazin 30 ml

6. Edukasi :
a. menghindari kontak dengan tanah yang mungkin terkontaminasi kotoran manusia;
b. mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum mengambil makanan;
c. mencuci, mengupas atau memasak semua sayuran mentah dan buah-buahan;
d. melindungi makanan dari tanah dan mencuci atau memanaskan makanan apapun

yang jatuh di lantai.

Ketersediaan air yang digunakan untuk personal hygiene serta tempat

pembuangan kotoran yang sehat juga akan mengurangi jumlah kasus.

Dimanalimbah digunakan untuk irigasi kolam stabilisasi sampah dan beberapa


teknologilainnya yang efektif dalam penurunan transmisi akibat makanan tumbuh

di tanahyang terkontaminasi.10

PEMBAHASAN

A. PENDAHULUAN
Ascariasis disebabkan oleh infestasi cacing Ascariasis Lumbrocoides atau cacing gelang.

Ascaris lmbricoides adalah cacing bulat yang besar dan hidup dalam usus halus manusia. Cacing

ini terutama tumbuh dan berkembang pada penduduk di daerah yang beriklim panas dan lembab

dengan sanitasi yang buruk Di Indonesia prevalensi askariasis tinggi terutama pada anak.

Kurangnya pemakaian jamban keluarga menimbulkan pencemaran tanah dengan tinja di sekitar

halaman rumah, dibawah pohon, di tempat mencuci dan di tempat pembuangan sampah.(1)

Infeksi pada manusia terjadi kalau larva cacing ini mengkontaminasi makanan dan

minuman. Di dalam usus halus larva cacing akan keluar menembus dinding usus halus dan

kemudian menuju pembuluh darah dan limfe menuju paru. Setelah itu larva cacing ini akan

bermigrasi ke bronkus, faring dan kemudian turun ke esophagus dan usus halus. Lama perjalanan

ini sampai bentuk cacing dewasa 60-75 hari.panjang cacing dewasa 20-40 cm dan hidup dalam

usus halus manusia untuk bertahun-tahun lamanya. Sejak telur matang tertelan sampai cacing

dewasa bertelur diperlukan waktu kurang lebih 2 bulan. (1)

Cacing dapat mempertahankan posisinya didalam usus halus karena aktivitas otot-otot

ini. Jika otot-otot somatik di lumpuhkan dengan obat-obat antihelmentik, cacing akan

dikeluarkan dengan pergerakan peristaltik normal. 20 ekor cacing Ascaris lumbricoides dewasa

di dalam usus manusia mampu mengkonsumsi hidrat arang sebanyak 2,8 gram dan 0,7 gram

protein setiap hari. Dari hal tersebut dapat diperkirakan besarnya kerugian yang disebabkan oleh
infestasi cacing dalam jumlah yang cukup banyak sehingga menimbulkan keadaan kurang gizi

(malnutrisi). (2)

Telur ini akan menetas di usus, kemudian berkembang jadi larva menembus dinding usus,

lalu masuk ke dalam paru-paru. Masuknya larva ke paru-paru manusia disebut terinfeksi

sindroma loeffler. Setelah dewasa, Ascaris lumbricoides akan mendiami usus manusia dan

menyerap makanan disana, disamping tumbuh dan berkembang biak (3)

Gejala klinis akan ditunjukkan pada stadium larva maupun dewasa.. Pada stadium larva,

Ascaris dapat menyebabkan gejala ringan di hati dan di paru-paru akan menyebabkan sindrom

Loeffler. Sindrom Loeffler merupakan kumpulan tanda seperti demam, sesak nafas, eosinofilia,

dan pada foto Roentgen thoraks terlihat infiltrat yang akan hilang selama 3 minggu. (3)

Pada stadium dewasa, di usus cacing akan menyebabkan gejala khas saluran cerna seperti

tidak nafsu makan, muntah-muntah, diare, konstipasi, dan mual. Bila cacing masuk ke saluran

empedu makan dapat menyebabkan kolik atau ikterus. Bila cacing dewasa kemudian masuk

menembus peritoneum badan atau abdomen maka dapat menyebabkan akut abdomen (3)

B. DEFINISI

Ascariasis disebabkan oleh infestasi cacing Ascariasis Lumbrocoides biasa

disebut round worm of man atau cacing gelang. Ascaris lmbricoides adalah cacing

bulat yang besar dan hidup dalam usus halus manusia. Ascariasis adalah suatu penyakit

parasit usus pada manusia yang terbesar (1,3)

Ascaris lumbricoides merupakan cacing usus yang terbesar, mampu membesar

sehingga 35cm panjang dan 0,5cm garis tengah. Ascaris hidup di dalam usus dan telurnya
terdapat pada feses orang yang terinfeksi. Jika orang yang terinfeksi defekasi di luar atau

feses orang yang terinfeksi digunakan sebagai baja, maka telur akan berada di tanah, lalu

menjadi matang dan berada dalam bentuk infeksius. Ascariasis disebabkan oleh telur

yang tertelan. Hal ini bisa terjadi apabila jari atau tangan yang mengandungi tanah yang

mengandung telur tadi dimasukkan ke dalam mulut atau terjadi akibat konsumsi sayuran

atau buah yang tidak dicuci, tidak dibuang kulit atau tidak dimasak dengan cara yang

benar (4)

C. EPIDEMIOLOGI

Cacing ini terutama tumbuh dan berkembang pada penduduk di daerah yang

beriklim panas dan lembab dengan sanitasi yang buruk Di Indonesia prevalensi askariasis

tinggi terutama pada anak. Kurangnya pemakaian jamban keluarga menimbulkan

pencemaran tanah dengan tinja di sekitar halaman rumah, dibawah pohon, di tempat

mencuci dan di tempat pembuangan sampah.(1)

D. MORFOLOGI

Cacing dewasa berbentuk giling (silindris) memanjang, berwarna krem / merah

muda keputihan dan panjangnya dapat mencapai 40cm. Ukuran cacing betina 20-35cm,

diameter 3-6mm dan cacing jantan 15-31cm dan diameter 2,4mm. Mulut terdapat tiga

tonjolan bibir berbentuk segitiga (satu tonjolan di bagian dorsal dan dua lainnya di

ventrolateral) dan bagian tengahnya terdapat rongga mulut (buccal cavity). Cacing jantan

mempunyai ujung posterior melengkung ke ventral seperti kait, mempunyai 2 buah

copulatory spicule panjangnya 2mm yang muncul dari orifisium kloaka dan di sekitar

anus terdapat sejumlah papillae. Cacing betina pula mempunyai ujung posterior tidak

melengkung ke arah ventral tetapi luas. Cacing ini juga mempunyai vulva yang sangat
kecil terletak di ventral antara pertemuan bagian anterior dan tengah tubuh dan

mempunyai tubulus genitalis berpasangan terdiri dari uterus, saluran telur (oviduct) dan

ovarium (2)

Gambar 1 Ascaris lumbricoides (dikutip dari kepustakaan 3)

Cacing dewasa berbentuk silinder dan berwarna pink, yang jantan lebih kecil dari

betina. Cacing jantan berukuran sekitar 10-30 cm, sedangkan betina berkisar 22-35 cm.

Pada cacing jantan ditemukan spikula atau bagian seperti untaian untaian rambut di ujung

ekornya (posterior), pada betina pada sepertiga depan terdapat bagian yang disebut cincin

atau gelang kopulasi. Pada ujung kepala (anterior) terdapat tiga bibir yang tersusun

Chinese word .(3)

Gambar 2 tiga bibir pada bagian anterior (dikutip dari kepustakaan 3)


Cacing ini telah memiliki saluran pencernaan yang lengkap, organ reproduksi

berbentuk tubular, yang jantan mempunyai tubula reproduktif tunggal, yang betina

mempunyai dua buah tubula reproduktif dan vulva secara ventral terdapat pada bagian

posterior 1/3 bagian anterior tubuh.(3)

Cacing dewasa hidup pada usus manusia . Seekor cacing betina dapat bertelur

sampai 200.000 telur per harinya. Telur yang telah dibuahi berukuran 60 x 45 mikron,

sedangkan telur yang tidak dibuahi bentuknya lebih besar sekitar 90 x 40 mikron. Telur

yang telah dibuahi inilah yang menginfeksi manusia.(3)

Telur Ascaris ditemukan dalam dua bentuk, yang dibuahi (fertilized) dan tidak dibuahi

(unfertilized).

1. Fertil egg

Berbentuk oval, berwarna coklat, rata-rata ukurannya 60 x 45 m. Kulitnya

tipis terdiri dari ascaroide, lapisan chitin, membran fertil, yang berisi sel telur yang

fertil .Fertil egg msh dalam bentuk uniseluler ketika melewati feses.(3)

Gambar 3. fertile egg (dikutip dari kepustakaan 3)

2. Unfertil egg
lebih panjang dan lebih bulat dibandingkan dari fertil egg.lapisan kitin dan

albumin lebih tipis dari fertil egg tanpa ascaroide dan membran fertil. Berisi granul

refracable yang berbeda ukuran

Gambar 4. infertile egg (dikutip dari kepustakaan 3)

E. ETIOLOGI

Ascariasis disebabkan oleh mengkonsumsi makanan atau minuman yang

terkontaminasi roundworm eggs. ascariasis adalah infeksi cacing pada usus yang paling

umum. Ditemukan pada orang yang higienisnya buruk, sanitasi yang jelek, dan

penggunaan feses sebagai pupuk (3)

F. SIKLUS HIDUP ASCARIASIS


Gambar 5 siklus hidup Ascariasis Lumbricoides (dikutip dari kepustakaan 4)

Pertama Cacing dewasa tinggal di lumen usus kecil. Cacing betina dapat

menghasilkan sekitar 200.000 telur per hari, Telur dibuahi dapat dicerna tetapi tidak

infektif. Telur subur menjadi infektif setelah 18 hari sampai beberapa minggu tergantung

pada kondisi lingkungan. Setelah telur infektif yang tertelan larva menetas menyerang

mukosa usus, dan dibawa melalui portal, maka sirkulasi sistemik ke paru-paru, Larva

dewasa lanjut dalam paru-paru (10 sampai 14 hari), menembus dinding alveolar, naik

pohon bronkial ke tenggorokan, dan tertelan.Setelah mencapai usus kecil, mereka

berkembang menjadi cacing dewasa (4)

Pada tinja penderita askariasis yang membuang air tidak pada tempatnya dapat

mengandung telur askariasis yang telah dubuahi. Telur ini akan matang dalam waktu 21

hari. bila terdapat orang lain yang memegang tanah yang telah tercemar telur Ascaris dan

tidak mencuci tangannya, kemudian tanpa sengaja makan dan menelan telur Ascaris.

Telur akan masuk ke saluran pencernaan dan telur akan menjadi larva pada usus. Larva
akan menembus usus dan masuk ke pembuluh darah. Ia akan beredar mengikuti sistem

peredaran, yakni hati, jantung kemudian di paru-paru. (3)

Pada paru-paru, cacing akan merusak alveolus, masuk ke bronkiolus, bronkus,

trakea, kemudian di laring. Ia akan tertelan kembali masuk ke saluran cerna. Setibanya di

usus, larva akan menjadi cacing dewasa. Cacing akan menetap di usus dan kemudian

berkopulasi dan bertelur. Telur ini pada akhirnya akan keluar kembali bersama tinja.

Siklus pun akan terulang kembali bila penderita baru ini membuang tinjanya tidak pada

tempatnya (3)

G. GAMBARAN KLINIK

Gejala klinis yang timbul pada penderita disebabkan oleh cacing dewasa dan

larva. Selama bermigrasi larva dapat menimbulkan gejala bila merusak kapiler atau

dinding alveolus paru. Keadaan tersebut akan menyebabkan terjadinya perdarahan,

penggumpalan sel leukosit dan eksudat yang akan menghasilkan konsolidasi paru dengan

gejala panas , batuk berdarah, sesak nafas dan pneumonitis askariasis. Pada foto thorax

tampak infiltrate yang mirip pneumonia viral yang menghilang dalam waktu 3 minggu,

keadaan ini disebut sindrom loefler. Pada pemeriksaan darah akan didapatkan eosinofilia.
(1)

Larva cacing ini dapat menyebar dan menyerang organ lain seperti otak, ginjal,

mata, sumsum tulang belakang dan kulit. Dalam jumlah sedikit cacing dewasa tidak akan

menimbulkan gejala kadang- kadang penderita ini mengalami gejala gangguan usus

ringan seperti mual, nafsu makan berkurang, diare atau konstipasi. Bila infestasi tersebut

berat dapat menyebabkan cacing-cacing ini menggumpal dalam usus sehingga terjadi
obstruksi usus (ileus).. Cacing dewasa dapat juga menyebabkan gangguan nutrisi

terutama pada anak-anak. Cacingg ini dapat mengadakan sumbatan pada saluran empedu,

sluran pancreas, divertikel dan usus buntu. Selain hal tersebut diatas, cacing ini dapat

juga menimbulkan gejala alergik seperti urtikaria, gatal- gatal dan eosinofilia. Cacing

dewasa dapat keluar melalui mulut dengan perantaraan batuk, muntah atau langsung

keluar melalui hidung (1)

H. KELAINAN LABORATORIUM DAN PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan yang dilakukan adalah :


1. Pemeriksaan darah rutin
2. Pemeriksaan fungsi hati
3. USG

I. DIAGNOSIS

Diagnosis askariasis dilakukan dengan menemukan telur pada tinja pasien atau
(5).
ditemukan cacing dewasa pada anus, hidung, atau mulut. Kadang pada muntahan

penderita terdapat cacing dewasa, Pada pemeriksaan darah jumlah eosinofil meningkat.

Diagnosa pasti dengan pemeriksaan tinja telor/cacing dewasa (9)

Radiografi dada dapat menunjukkan kekeruhan sekilas selama migrasi paru.

Radiografi abdomen dapat menunjukkan pola pusaran cacing intraluminal. Tingkat cairan

udara berbasis sempit tanpa loop buncit usus pada film polos tegak menunjukkan

obstruksi parsial. Tingkat cairan udara berbasis lebar dengan loop buncit menunjukkan

obstruksi lengkap. (6)


Gambar 8: USG abdomen menunjukkan Ascaris sebagai single, panjang,

struktur Echogenic lengkung (panah tipis) di kantong empedu (panah tebal)

(dikutip dari kepustakaan 8)

J. PENATALAKSANAAN

a. PENCEGAHAN

Edukasi kesehatan memberikan pesan berikut akan mengurangi jumlah

orang yang terinfeksi penyakit askariasis:10

o menghindari kontak dengan tanah yang mungkin terkontaminasi kotoran

manusia;
o mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum mengambil makanan;
o mencuci, mengupas atau memasak semua sayuran mentah dan buah-

buahan;
o melindungi makanan dari tanah dan mencuci atau memanaskan makanan

apapun yang jatuh di lantai.

Ketersediaan air yang digunakan untuk personal hygiene serta tempat

pembuangan kotoran yang sehat juga akan mengurangi jumlah kasus.

Dimanalimbah digunakan untuk irigasi kolam stabilisasi sampah dan beberapa


teknologilainnya yang efektif dalam penurunan transmisi akibat makanan tumbuh

di tanahyang terkontaminasi.10

b. PENGOBATAN

Adapun obat yang sekarang ini dipakai dalam pengobatan adalah:10,11.12

1. Albendazole

Albendazole mempunyai aktivitas antihelmintik yang besar. Selain

bekerjaterhadap cacing dewasa, Albendazole telah terbukti mempunya aktivitas

larvisidal dan ovisidal obat ini secara selektip bekerja menghambat pengambilan

glukosa oleh usus cacing dan jaringan dimana larva bertempat tinggal. Akibatnya

terjadi pengosongan cadangan glikogen dalam tubuh parasit yang mana menyebabkan

berkurangnya pembentukan adenosine triphosphate (ATP). ATP ini penting

untuk reproduksi dan mempertahankan hidupnya, dan kemudian parasit akan mati.13

Spektrum aktivitasnya sangat luas yaitu meliputi Nematoda, Cestoda

daninfeksi Echinococcus pada manusia. Jadi, albendazole aktif terhadap

Ascarislumbricoides, cacing tambang, Trichuris trichiura, Taenia saginata.13

Albendazole merupakan obat yang aman, hanya sedikit jarang, ditemukan

efek samping berupa mulut kering, perasaan tak enak di epigastrium, mual, lemah dan

diare. S.C.Jagota (1986) meneliti efikasi Albendazole terhadap soil

Transmitted helminthiasis dengan dosis 400 mg dosis tunggal dan tinja

diperiksa ulang pada minggu ketiga setelah pemberian obat pada penelitian ini

diperolehangka kesembuhan 92.2% untuk Ancylostoma duodenale; 90 5% untuk

Trichuristrichiura dan 95.3% untuk Ascaris lumbricoides.13


Setelah pemberian tunggal dosis 400 mg, terlihat efek samping minor yaitu

nyeri pada epigastric dan diare, kurang dari 6% pasien yang mengalaminya.

2. Mebendazol.

Obat ini adalah obat cacing berspektrum luas dengan toleransi hospes yang

baik. Diberikan satu tablet (100 mg) dua kali sehari selama tiga hari, tanpa

melihatumur, dengan menggunakan obat ini sudah dilaporkan beberapa kasus

terjadimigrasi ektopik.

3. Pirantel Pamoat.

Dosis tunggal sebesar 10 mg/kg berat badan adalah efektif

untuk menyembuhkan kasus lebih dari 90 %. Gejala sampingan, bila ada adalah

ringandan obat ini biasanya dapat diterima (welltolerated). Obat ini

mempunyaikeunggulan karena efektif terhadap cacing kremi dan cacing tambang.

Obat 8 berspekturm luas ini berguna di daerah endemik dimana infeksi multipel

berbagaicacing Nematoda merupakan hal yang biasa.

4. Levamisol Hidroklorida.

Obat ini agaknya merupakan obat anti-askaris yang paling efektif

yangmenyebabkan kelumpuhan cacing dengan cepat. Obat ini diberikan dalam dosis

tunggal yaitu 150 mg untuk orang dewasa dan 50 mg untuk orang dengan berat badan

<10 kg. Efek sampingan lebih banyak dari pada pirantel pamoat dan mebendazol.

5. Piperazin.

Obat ini dipakai secara luas, karena murah dan efektif, juga untuk Enterobius

vermicularis, tetapi tidak terhadap cacing tambang. Piperazin sitrat diberikan dalam

dosis tunggal sebesar 30 ml (5 ml adalah ekuivalen dengan 750mg piperazin). Reaksi


sampingan lebih sering daripada pirantel pamoat dan mebendazol. Ada kalanya

dilaporkan gejala susunan syaraf pusat seperti berjalan tidak tetap dan vertigo

K. PROGNOSIS

Selama tidak terjadi obstruksi oleh cacing dewasa yang bermigrasi, prognosis

baik. Tanpa pengobatan, infeksi cacing ini dapat sembuh sendiri dalam waktu 1,5 tahun.
(1).

Pada umumnya, askariasis memiliki prognosis yang baik. Kesembuhan askariasis

mencapai 70 hingga 99%. (3)

DAFTAR PUSTAKA

1. Pohan H.T. Ascariasis. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid III edisi V. Jakarta : Pusat Penerbitan
FKUI 2007. Hal 2938 - 2942
2. Rasmaliah. Ascariasis. In epidemiologi FKM UISU Universitas Sumatera (online) 2013 (cited
2013 juli 07) available from www.repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/.../ikm-jun2007-
11%20(12)

3. Hasnah. Ascariasis (online) 2013 (cited 2013 juli 07) available from :
http://www.docstoc.com/docs/23578868/ASCARIS-LUMBRICOIDES

4. Anonym. Pathogenesis of Ascariasis. Center for disease control and prevention (online) 2013
(cited 2013 juli 07) available from : http://www.cdc.gov/parasites/ascariasis/biology.html

5. Anonym. Ascariasis. (online) 2013 (cited 2013 juli 07) available from :
http://id.wikipedia.org/wiki/Askariasis

6. Haburchak, David R.Ascariasis Division of Infectious Disease, Medical College of Georgia


available from : http://emedicine.medscape.com/article/212510-overview

7. Anonym. Ascariasis (online) 2013 (cited 2013 juli 07) available from :
http://medicastore.com/penyakit/96/Askariasis_%28infeksi_cacing_gelang_usus%29.html

8. Gude.D. Gallbladder Ascariasis International jurnal of health of Jss University (online) 2013
(cited 2013 juli 07) available from : http://www.ijhas.in/article.asp?issn=MPWK-
0010;year=2013;volume=2;issue=1;spage=56;epage=57;aulast=Gude

9. Anonym. Ascariasis, Bagian Ilmu kesehatan Anak FK USU. (online) 2013 (cited 2013 juli 07)
available from : www.ocw.usu.ac.id/course/download/1125.../mk_itps_slide_ascariasis.pdf

10. World Health Organization (WHO). Water related diseases: Ascariasis .Communicable Diseases
(CDS) and Water, Sanitation and Health unit (WSH) (cited 2013 juli 07) Available from :
http://www.who.int/water_sanitation_health/diseases/

11. Shoff, William H.PediatricAscariasis. Department of Emergency Medicine,Hospital of the


University of Pennsylvania. (cited 2013 juli 07) Available from :
http://emedicine.medscape.com/article/996482-overview

12. Syamsu, Yohandromeda. Ascariasis, Respons IgE dan UpayaPenanggulangannya . Program Studi
Imunologi Program Pasca SarjanaUniversitas Airlangga.
13. Jagota SC, 1986. Albendazole, a Broad Spectrum Anthelmintic, in theTreatment of Intenstinal
Nematode and Cestode Infection: A MulticenterStudy in 460 Patients. Clin.Ther ; 8 : 226-231,
1986.