Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

DAMPAK LIMBAH PETERNAKAN SAPI TERHADAP


LINGKUNGAN DAN CARA PEMANFAATANNYA

IKM II (EPIDEMIOLOGI )
Dosen : RIKKY GITA H, SKM.,MKM.

Di Susun Oleh :
Cahya hasbuna

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


MITRA KENCANA TASIKMALAYA
2017
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb

Alhamdulillah lantunan syukur penulis panjatkan kehadirat Alloh SWT yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
pembuatan makalah ini dengan lancar.Terima kasih juga penulis ucapkan kepada
teman-teman semua yang telah memberikan ide dan masukan nya dalam
memfasilitasi pengerjaan makalah ini hingga selesai.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Ilmu Kesehatan
Masyarakat II Tentang KESEHATAN LINGKUNGAN di STIKES Mitra
Kencana Tasikmalaya.

Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi institusi kesehatan dan masyarakat
umum, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna,baik
isi maupun cara penyusunannya. Oleh karena iu, dengan segala kerendahan hati
penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun agar penyusunan
makalah selanjutnya bisa menjadi lebih baik. Akhir kata penulis sampaikan terima
kasih.

i
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i
DAFTAR ISI ....................................................................................................................... ii
BAB I .................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN............................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ........................................................................................................ 1
B. Permasalahan........................................................................................................... 3
C. Tujuan ..................................................................................................................... 3
BAB II ................................................................................................................................. 4
PEMBAHASAN ................................................................................................................. 4
A. Pengertian Limbah .................................................................................................. 4
B. Asal Limbah Peternakan ......................................................................................... 6
C. Dampak Limbah Peternakan ................................................................................... 6
D. Penanggulangan limbah peternakan ........................................................................ 7
E. Peran Pemerintah................................................................................................... 12
F. Peran Masyarakat .................................................................................................. 13
BAB III.............................................................................................................................. 15
PENUTUP ......................................................................................................................... 15
A. Kesimpulan ........................................................................................................... 15
B. Saran...................................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 16

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Lingkungan yang bersih dan sehat bebas dari pencemaran merupakan
dambaan setiap masyarakat. Lingkungan yang bersih ini akan menciptakan
suasana asri sehingga setiap warga merasakan hidup sehat baik dalam segi
jasmani maupun rohani.
Usaha peternakan dikembangkan karena tingginya permintaan akan produk
peternakan. Usaha peternakan juga memberi keuntungan yang cukup tinggi
dan menjadi sumber pendapatan bagi banyak masyarakat di Indonesia.
Namun demikian, sebagaimana usaha lainnya, usaha peternakan juga
menghasilkan limbah yang dapat menjadi sumber pencemaran. Oleh karena
itu, untuk meminimalkan limbah peternakan perlu dilakukan oleh pemerintah
kabupaten/kota untuk menjaga kenyamanan permukiman masyarakatnya.
Salah satu upaya kearah itu adalah dengan memanfaatkan limbah peternakan
sehingga dapat memberi nilai tambah bagi usaha tersebut.
Selama ini banyak keluhan masyarakat akan dampak buruk dari kegiatan
usaha peternakan karena sebagian besar peternak mengabaikan penanganan
limbah dari usahanya, bahkan ada yang membuang limbah usahanya ke
sungai, sehingga terjadi pencemaran lingkungan. Limbah peternakan yang
dihasilkan oleh aktivitas peternakan seperti feces, urin, sisa pakan, serta air
dari pembersihan ternak dan kandang menimbulkan pencemaran yang
memicu protes dari warga sekitar. Baik berupa bau tidak enak yang
menyengat, sampai keluhan gatal-gatal ketika mandi di sungai yang tercemar
limbah peternakan.
Seiring bertambahnya penduduk dan minimnya lahan pekerjaan, banyak
pengusaha yang menempatkan lahan pekerjaannya disekitar rumah penduduk,
lebihnya lagi dekat dengan area sekolah. Lalu bagaimana dengan peternak
hewan dan pengaruh limbahnya yang dekat dengan tempat-tempat yang telah

1
2

disebutkan sebelumnya. oleh karena itu, dalam makalah ini akan diungkapkan
sejauh mana limbah mempengaruhi lingkungan.
Pengelolaan limbah yang dilakukan dengan baik selain dapat mencegah
terjadinya pencemaran lingkungan juga memberikan nilai tambah terhadap
usaha ternak.Pemanfaatan limbah kotoran ternak sebagai pupuk kompos
dapat menyehatkan dan menyuburkan lahan pertanian.Selain itu kotoran
ternak juga dapat digunakan sebagai sumber energi biogas. Sumber energi
biogas menjadi sangat penting karena harga bahan bakar fosil yang terus
meningkat dan ketersediaan bahan bakar yang tidak konstan dipasaran,
menyebabkan semakin terbatasnya akses energi bagi masyarakat termasuk
peternak. secara praktis manajemen limbah kotoran untuk dijadikan biogas
dan kompos.
3

B. Permasalahan
Permasalahan ini muncul akibat limbah yang mempengaruhi keadaan lingkungan sekitarnya.
Agar lebih terperinci, penyusun akan membatasi permasalahan tersebut. Adapun
permasalahan tersebut diantaranya sebagai berikut :
1. Dari mana asal limbah ?
2. Mengapa permasalahan limbah ternak terjadi ?
3. Bagaimana akibat adanya limbah ternak ?
4. Bagaimana cara menanggulangi limbah ternak ?
5. Bagaimana peran dari pemerintah ?
6. Bagaimana peran dari masyarakat ?

C. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini diantaranya sebagai berikut :
1. Mengetahui pentingnya lingkungan yang sehat bagi masyarakat.
2. Mengingatkan kepada pemilik peternakan agar memikirkan pengaruh akibat limbah
ternak tersebut.
3. Mengupayakan pengelolaan limbah ternak tersebut agar bisa didaur ulang kembali untuk
kepentingan yang lain.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Limbah
Limbah atau sampah bisa diartikan sebagai kotoran hasil pengolahan pabrik ataupun
manusia yang mengandung zat kimia berupa sampah dan dapat menimbulkan polusi serta
menganggu kesehatan. Pada umumnya sebagian besar orang mengatakan bahwa limbah
adalah sampah yang sama sekali tidak berguna dan harus dibuang, namun jika pembuangan
dilakukan secara terus-menerus maka akan menimbulkan penumpukan sampah. Limbah
bukanlah suatu hal yang harus dibuang tanpa guna, karena dengan pengolahan dan
pemanfaat secara baik limbah akan menjadi barang yang lebih berguna dari sebelumya.
Limbah akan menjadi suatu yang sangat berguna dan memiliki nilai jual tinggi kala limbah
diolah secara baik dan benar. Limbah yang tidak diolah akan menyebabkan berbagai polusi
baik polusi udara, polusi air, polusi tanah dan juga polusi lain yang akan menjadi sarang
penyakit. Pada lingkungan tempat pembuangan sampah bisa dipastikan udara sekitar tidak
sehat dengan bau yang tak sedap dari limbah, sumber air sekitar lingkungan akan tercemar
dengan resapan limbah dan tanah yang ada di lingkungan ini akan terkontaminasi dengan zat
kimia limbah sehingga tanah akan tandus.
Dari pengertian limbah yang ada, yang disebut dengan limbah peternakan, berikut
penjelasannya:
1. Limbah organik termasuk pada jenis limbah yang mudah diuraikan zat-zatnya mejadi
partikel-partikel yang baik untuk lingkungan. Limbah organik bisa berupa sampah
rumah tangga, sampah industri yang tidak menggunakan bahan kimia misalnya sampah
sayur-sayuran dan sampah peralatan yang alami ataupun sampah hasil ternak. Limbah
organik dari rumah tangga tidak hanya berpaku pada sampah-sampah yang berupa hasil
olahan makhluk hidup saja tetapi limbah apapun asalkan mampu diolah menjadi benda-
benda yang lebih bermanfaat dan dapat diuraikan adalah limbah organik.

4
5

2. Limbah ternak adalah sisa buangan dari suatu kegiatan usaha peternakan seperti usaha
pemeliharaan ternak, rumah potong hewan, pengolahan produk ternak, dan sebagainya.
Limbah tersebut meliputi limbah padat dan limbah cair seperti feses, urine, sisa
makanan, embrio, kulit telur, lemak, darah, bulu, kuku, tulang, tanduk, isi rumen, dan
lain-lain. Semakin berkembangnya usaha peternakan, limbah yang dihasilkan semakin
meningkat.
Kotoran sapi yang terdiri dari feces dan urine merupakan limbah ternak yang terbanyak
dihasilkan dan sebagian besar manure dihasilkan oleh ternak ruminansia seperti sapi, kerbau
kambing, dan domba. Umumnya setiap kilogram susu yang dihasilkan ternak perah
menghasilkan 2 kg limbah padat (feses), dan setiap kilogram daging sapi menghasilkan 25
kg feses.
Menurut Soehadji, limbah peternakan meliputi semua kotoran yang dihasilkan dari suatu
kegiatan usaha peternakan baik berupa limbah padat dan cairan, gas, maupun sisa pakan.
Limbah padat merupakan semua limbah yang berbentuk padatan atau dalam fase padat
(kotoran ternak, ternak yang mati, atau isi perut dari pemotongan ternak). Limbah cair
adalah semua limbah yang berbentuk cairan atau dalam fase cairan (air seni atau urine, air
dari pencucian alat-alat). Sedangkan limbah gas adalah semua limbah berbentuk gas atau
dalam fase gas.
Pencemaran karena gas metan menyebabkan bau yang tidak enak bagi lingkungan sekitar.
Gas metan (CH4) berasal dari proses pencernaan ternak ruminansia. Gas metan ini adalah
salah satu gas yang bertanggung jawab terhadap pemanasan global dan perusakan ozon,
dengan laju 1 % per tahun dan terus meningkat. Apalagi di Indonesia, emisi metan per unit
pakan atau laju konversi metan lebih besar karena kualitas hijauan pakan yang diberikan
rendah. Semakin tinggi jumlah pemberian pakan kualitas rendah, semakin tinggi produksi
metan.
6

B. Asal Limbah Peternakan


Kotoran dapat mencakup limpasan Darurat. Sistem pembuangan limbah mampu menangani
stormwater dikenal sebagai sistem gabungan. Sistem saluran pembuangan gabungan
biasanya dihindari sekarang karena curah hujan sangat beragam menyebabkan arus
mengurangi efisiensi pengolahan limbah. Selokan gabungan membutuhkan jauh lebih besar,
fasilitas pengobatan yang lebih mahal, dari selokan sanitasi. Limpasan badai berat dapat
membanjiri sistem pengolahan limbah, menyebabkan tumpahan atau overflow. Selokan
Sanitary biasanya jauh lebih kecil daripada selokan gabungan, dan mereka tidak dirancang
untuk transportasi Darurat. Backup limbah baku dapat terjadi jika Infiltrasi berlebihan /
Inflow diizinkan masuk ke sistem saluran pembuangan saniter.
Kemudian ada dua jenis limbah yang dihasilkan oleh peternakan sapi yaitu limbah padat,
seperti sisa pakan dan fases (kotoran sapi), serta limbah cair berupa urine sapi, dan air bekas
pencucian kandang. Kotoran sapi adalah limbah besar yang dihasilkan, karena seekor sapi
potong atau sapi perah dewasa, rata-rata menghasilkan kotoran sebanyak 6% dari bobot
tubuhnya.

C. Dampak Limbah Peternakan


Limbah ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk mendorong
kehidupan jasad renik yang dapat menimbulkan pencemaran. Suatu studi mengenai
pencemaran air oleh limbah peternakan melaporkan bahwa total sapi dengan berat badannya
5.000 kg selama satu hari, produksi manurenya dapat mencemari 9.084 x 10 7 m3air. Selain
melalui air, limbah peternakan sering mencemari lingkungan secara biologis yaitu sebagai
media untuk berkembang biaknya lalat. Kandungan air manure antara 27-86 % merupakan
media yang paling baik untuk pertumbuhan dan perkembangan larva lalat, sementara
kandungan air manure 65-85 % merupakan media yang optimal untuk bertelur lalat.
Lalu, dampak bagi sebagian warga dekat dengan salah satu peternakan sapi di daerah
tersebut yaitu, pencemaran udara yang mengakibatkan terciumnya aroma tidak sedap dari
limbah/kotoran sapi-sapi tersebut. Memang diantara mereka tidak pernah memprotes tentang
keberadaan ternak sapi tersebut, sebab peternakan yang telah berdiri sejak tahun 1929
tersebut tidak pernah membuat warga disekitar daerah tersebut mengidap penyakit hingga
mengalami kematian, sampai mereka protes kepada pemilik ternak tersebut. Tetapi pemilik
7

ternak menyangkal bahwa sekolah tersebutlah yang memang harus merasakan resikonya,
karena peternakan tersebut lebih dulu berdiri dibandingkan dengan sekolah tersebut.
Walaupun tidak pernah menyebabkan kematian, tetapi pencemaran udara yang
ditimbulkannya menjadikan orang-orang disekitarnya merasa terganggu dengan aroma tidak
sedap dari limbah/kotoran sapi-sapi tersebut. Disamping itu, sekolah yang letaknya
berdekatan dengan ternak tersebut merasa tidak nyaman saat kegiatan belajar mengajar
berlangsung.
Kehadiran limbah ternak dalam keadaan kering pun dapat menimbulkan pencemaran yaitu
dengan menimbulkan debu. Pencemaran udara di lingkungan penggemukan sapi yang paling
hebat ialah sekitar pukul 18.00, kandungan debu pada saat tersebut lebih dari 6000 mg/m3,
jadi sudah melewati ambang batas yang dapat ditolelir untuk kesegaran udara di lingkungan
(3000 mg/m3).
Salah satu akibat dari pencemaran air oleh limbah ternak ruminansia ialah meningkatnya
kadar nitrogen. Senyawa nitrogen sebagai polutan mempunyai efek polusi yang spesifik,
dimana kehadirannya dapat menimbulkan konsekuensi penurunan kualitas perairan sebagai
akibat terjadinya proses eutrofikasi, penurunan konsentrasi oksigen terlarut sebagai hasil
proses nitrifikasi yang terjadi di dalam air yang dapat mengakibatkan terganggunya
kehidupan biota air.

D. Penanggulangan limbah peternakan


Limbah peternakan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, apalagi limbah tersebut
dapat diperbaharui (renewable) selama ada ternak. Limbah ternak masih mengandung nutrisi
atau zat padat yang potensial untuk dimanfaatkan. Limbah ternak kaya akan nutrient (zat
makanan) seperti protein, lemak, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), vitamin, mineral,
mikroba atau biota, dan zat-zat yang lain (unidentified subtances). Limbah ternak dapat
dimanfaatkan untuk bahan makanan ternak, pupuk organik, energi dan media berbagai
tujuan.

1. Pemanfaatan Untuk Pakan dan Media Cacing Tanah


Sebagai pakan ternak, limbah ternak kaya akan nutrien seperti protein, lemak BETN,
vitamin, mineral, mikroba dan zat lainnya. Ternak membutuhkan sekitar 46 zat makanan
8

esensial agar dapat hidup sehat. Limbah feses mengandung 77 zat atau senyawa, namun
didalamnya terdapat senyawa toksik untuk ternak. Untuk itu pemanfaatan limbah ternak
sebagai makanan ternak memerlukan pengolahan lebih lanjut. Tinja ruminansia juga telah
banyak diteliti sebagai bahan pakan termasuk penelitian limbah ternak yang difermentasi
secara anaerob.
Penggunaan feses sapi untuk media hidupnya cacing tanah, telah diteliti menghasilkan
biomassa tertinggi dibandingkan campuran feces yang ditambah bahan organik lain,
seperti feses 50% + jerami padi 50%, feses 50% + limbah organik pasar 50%, maupun
feses 50% + isi rumen 50%.

Gambar Media Cacing tanah dari kotoran sapi


2. Pemanfaatan Sebagai Pupuk Organik
Pemanfaatan limbah usaha peternakan terutama kotoran ternak sebagai pupuk organik
dapat dilakukan melalui pemanfaatan kotoran tersebut sebagai pupuk organik.
Penggunaan pupuk kandang (manure) selain dapat meningkatkan unsur hara pada tanah
9

juga dapat meningkatkan aktivitas mikrobiologi tanah dan memperbaiki struktur tanah
tersebut.
Kandungan Nitrogen, Posphat, dan Kalium sebagai unsur makro yang diperlukan
tanaman, tersaji dalam tabel berikut.

Kadar N, P dan K dalam Pupuk Kandang dari Beberapa Jenis Ternak

Jenis Pupuk Kandungan (%)


Kandang N P2O5 K2O
Kotoran Sapi 0.6 0.3 0.1
Kotoran Kuda 0.4 0.3 0.3
Kotoran Kambing 0.5 0.3 0.2
Kotoran Ayam 1.6 0.5 0.2
Kotoran Itik 1.0 1.4 0.6

Sumber : Nurhasanah, Widodo, Asari, dan Rahmarestia, 2006

Kotoran ternak dapat juga dicampur dengan bahan organik lain untuk mempercepat
proses pengomposan serta untuk meningkatkan kualitas kompos tersebut .

3. Pemanfaatan Untuk Biogas


Permasalahan limbah ternak, khususnya manure dapat diatasi dengan memanfaatkan
menjadi bahan yang memiliki nilai yang lebih tinggi. Salah satu bentuk pengolahan yang
dapat dilakukan adalah menggunakan limbah tersebut sebagai bahan masukan untuk
menghasilkan bahan bakar biogas. Untuk mengurangi pencemaran yang dihasilkan dari
ternaknya, beliau mengolah limbah sapi-sapinya menjadi biogas untuk bahan baku energi,
dan sisanya dimanfaatkan untuk pupuk tanaman. Kotoran ternak ruminansia memang
sangat baik untuk digunakan sebagai bahan dasar pembuatan biogas. Ternak ruminansia
mempunyai sistem pencernaan khusus yang menggunakan mikroorganisme dalam sistem
pencernaannya yang berfungsi untuk mencerna selulosa dan lignin dari rumput atau
hijauan berserat tinggi. Oleh karena itu pada tinja ternak ruminansia, khususnya sapi
mempunyai kandungan selulosa yang cukup tinggi.
Biogas adalah campuran beberapa gas, tergolong bahan bakar gas yang merupakan hasil
fermentasi dari bahan organik dalam kondisi anaerob, dan gas yang dominan adalah gas
metan (CH4) dan gas karbondioksida (CO2). Biogas memiliki nilai kalor yang cukup
tinggi, yaitu kisaran 4800-6700 kkal/m3, untuk gas metan murni (100 %) mempunyai
10

nilai kalor 8900 kkal/m3. Produksi biogas sebanyak 1275-4318 I dapat digunakan untuk
memasak, penerangan, menyeterika dan mejalankan lemari es untuk keluarga yang
berjumlah lima orang per hari.
Pembentukan biogas dilakukan oleh mikroba pada situasi anaerob, yang meliputi tiga
tahap, yaitu tahap hidrolisis, tahap pengasaman, dan tahap metanogenik. Pada tahap
hidrolisis terjadi pelarutan bahan-bahan organik mudah larut dan pencernaan bahan
organik yang komplek menjadi sederhana, perubahan struktur bentuk primer menjadi
bentuk monomer. Pada tahap pengasaman komponen monomer (gula sederhana) yang
terbentuk pada tahap hidrolisis akan menjadi bahan makanan bagi bakteri pembentuk
asam. Produk akhir dari gula-gula sederhana pada tahap ini akan dihasilkan asam asetat,
propionat, format, laktat, alkohol, dan sedikit butirat, gas karbondioksida, hidrogen dan
amoniak.
Model pemroses biogas yang banyak digunakan adalah model yang dikenal sebagai
fixed-dome. Model ini banyak digunakan karena usia pakainya yang lama dan daya
tampungnya yang cukup besar. Meskipun biaya pembuatannya memerlukan biaya yang
cukup besar.
Untuk mengatasi mahalnya pembangunan pemroses biogas dengan model feixed-dome,
tersebut sebuah perusahaan di Jawa Tengah bekerja sama dengan Balai Pengkajian dan
Penerapan Teknolgi Ungaran mengembangkan model yang lebih kecil untuk 4-5 ekor
ternak, yang siap pakai, dan lebih murah karena berbahan plastic yang dipendam di dalam
tanah.
11

Di pedesaan, biogas dapat digunakan untuk keperluan penerangan dan memasak sehingga
dapat mengurangi ketergantungan kepada minyak tanah ataupun listrik dan kayu bakar.
Bahkan jika dimodifikasi dengan peralatan yang memadai, biogas juga dapat untuk
menggerakkan mesin.

4. Pemanfaatan Lainnya
Selain dimanfaatkan untuk pupuk, bahan pakan, atau biogas, kotoran ternak juga dapat
dimanfaatkan sebagai bahan bakar dengan mengubahnya menjadi briket dan kemudian
dijemur/dikeringkan. Briket ini telah dipraktekkan di India dan dapat mengurangi
kebutuhan akan kayu bakar.
Pemanfaatan lain adalah penggunaan urin dari ternak untuk campuran dalam pembuatan
pupuk cair maupun penggunaan lainnya.
12

Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari pengelolaan limbah ternak yang tepat adalah:
menciptakan usaha budidaya sapi perah dan produksi susu berjalan optimal
meniadakan unsur pencemar di dalam lokasi kegiatan,
menghasilkan produk susu yang lebih berkualitas,
menghindari pencemaran di lokasi peternakan dan lingkungan sekitar,
menciptakan kondisi yang harmonis dengan masyarakat sekitar.

E. Peran Pemerintah
Peran pemerintah dalam mengembangakan sumber energi alternatif didukung oleh
univerisitas dalam penelitian-penelitian yang berbasis sumber energi alternatif ramah
lingkungan yang salah satu berasal dari limbah peternakan. Selain itu, peran industri dalam
mendukung pemerintah dan univesitas dalam pengembangan sumber energi alternatif
seharusnya mampu mempercepat proses tersebut karena industri salah satu pengguna
terbesar dari bahan bakar minyak untuk proses produksinya sehingga industri turut
bertanggung terhadap pengembang energi alternatif yang berbasis sumber daya lokal.
Pemerintah, universitas dan industri adalah pihak-pihak yang mempunyai kewenangan untuk
memberikan arahan kepada masyarakat mengenai pengembangan pemanfataan limbah
peternakan sebagai sumber energi alternatif ramah lingkungan. Limbah peternakan melalui
proses anaerobic digestion akan dikonversi menjadi biogas dengan beberapa keuntungan
antara lain sebagai energi dengan tidak menggunakan bahan yang masih memiliki manfaat
termasuk biomassa sehingga biogas tidak merusak keseimbangan karbondioksida yang
diakibatkan oleh salah satunya dengan adanya penggundulan hutan (deforestation) dan
perusakan tanah, energi biogas dapat berfungsi sebagai energi pengganti bahan bakar
minyak sehingga akan menurunkan gas rumah kaca di atmosfer dan emisi lainnya, metana
merupakan salah satu gas rumah kaca yang keberadaannya di atmosfer akan meningkatkan
temperatur, dengan menggunakan biogas sebagai bahan bakar maka akan mengurangi gas
metana di udara, limbah peternakan berupa feses, ekskreta, urin, sisi pakan dan bahan-bahan
organik lainya yang dapat dioptimalkan pemanfaatannya, bahkan bisa mengganggu
kesehatan serta mencemari lingkungan. Aplikasi anaerobic digestion akan meminimalkan
efek tersebut dan meningkatkan nilai manfaat dari limbah peternakan dan selain keuntungan
energi yang didapat dari proses anaerobic digestiondengan menghasilkan biogas, produk
13

samping berupa sludge atau slurry. Sludge atau slurry ini diperoleh dari sisa
proses anaerobic digestion yang berupa padat, semi padat dan cair. Masing-masing dapat
digunakan sebagai pupuk berupa pupuk cair, pupuk semi padat dan pupuk padat.
Jenis reaktor biogas ada beberapa yang dikembangkan antara lain reaktor jenis kubah tetap
(fixed-dome), reaktor terapung (floating drum), reaktor jenis balon, jenis horizontal, jenis
lubang tanah, jenis ferrocement dan saat ini sedang dikembangakan biodigester skala rumah
tangga yang portable dengan biaya yang terjangkau, tidak membutuhkan tempat yang luas
serta mudah dipindahkan sehingga memudahkan dalam penempatannya. Biodigester atau
reaktor untuk pembentukan biogas pada dasar membuat suatu tempat menjadi tanpa udara
sehingga terjadi proses secara anaerobic digestion.
Ketergantungan rumah tangga terhadap bahan bakar minyak harus dikurangi bahkan
dihilangkan dengan ketersediaannya yang kian hari kian berkurang bahkan tidak dapat
perbarui (unrenewable). Limbah peternakan sebagai sumber daya lokal yang dihasilkan oleh
ternak yang dimiliki oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang notabene-nya petani
dengan memelihara ternak sebagai usaha pendukung. Limbah peternakan yang apabila
dibiarkan saja akan dapat mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan. Akan tetapi
dengan adanya sentuhan teknologi sederhana melalui proses anaerobic digestion dalam
biodigester atau reaktor limbah peternakan dapat diubah menjadi gas metan (CH4) yang
mudah terbakar sehingga dapat diaplikasikan sebagai pengganti bahan bakar minyak bagi
rumah tangga yang ramah lingkungan karena hasil luaran dari pembentukan biogas
merupakan bahan-bahan organik yang sudah terdekomposisi adalah unsur hara yang dapat
diimplementasikan sebagai pupuk organik bagi tanaman dan dapat menyuburkan tanah.

F. Peran Masyarakat
Dua manfaat sekaligus yang dapat diaplikasikan oleh masyarakat dalam pemanfaatan limbah
peternakan. Limbah peternakan sebagai sumber daya lokal untuk masyarakat dapat bangkit
dari keterpurukan terutama ketergantungan akan energi menjadi salah satu usaha yang
harusnya diunggulkan untuk ke depannya. Sumber daya lokal berupa limbah peternakan
akan terus meningkat seiring dengan kebutuhan masyarakat akan protein hewani maka
peternakan Indonesia akan mengalami peningkatan dan hal ini akan berbanding lurus
dengan kepemilikan ternak oleh masyarakat dan limbah peternakan yang dihasilkan yang
14

semakin banyak. Keadaan ini akan sangat mendukung untuk pengembangan pemanfaatan
limbah peternakan sebagai sumber energi alternatif ramah lingkungan berupa biogas melalui
proses anaerobic digestion dengan program pemerintah yang sedang mengembangkan
sumber energi alternatif berbasis sumber daya lokal yang banyak dihasilkan tetapi belum
maksimal pemanfaatannya.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Limbah usaha peternakan berpeluang mencemari lingkungan jika tidak dimanfaatkan.
Namun memperhatikan komposisinya, kotoran ternak masih dapat dimanfaatkan sebagai
bahan pakan, media pertumbuhan cacing, pupuk organik, biogas, dan briket energi.
Pemanfaatan limbah ternak akan mengurangi tingkat pencemaran lingkungan baik
pencemaran air, tanah,maupun udara. Pemanfaatan tersebut juga menghasilkan nilai tambah
yang bernilai ekonomis.

B. Saran
Sebaiknya pemilik ternak harus memikirkan dampak yang ditimbulkan dari limbah
peternakannya. Karena limbah-limbah yang dihasilkan menjadikan lingkungan disekitarnya
tercemar dengan bau tak sedap. Tetapi pemerintah juga harus membantu para peternak di
Indonesia, karena peternakan sangat penting keberadaannya. Jika tidak ada peternak maka
apa daya, tidak akan ada susu di negeri ini kecuali ASI.

15
DAFTAR PUSTAKA

Soeparman dan Suparmin.2001.Pembuangan Tinja dan Limbah Cair : Suatu


Pengantar.Jakarta : EGC

Sofyadi Cahyan, 2003. Konsep Pembangunan Pertanian dan Peternakan Masa


Depan. Badan Litbang Departemen Pertanian. Bogor.

Sihombing D T H. 2000. Teknik Pengelolaan Limbah Kegiatan/Usaha


Peternakan. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian,
Institut Pertanian Bogor

Soehadji, 1992. Kebijakan Pemerintah dalam Industri Peternakan dan Penanganan


Limbah Peternakan. Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen
Pertanian. Jakarta.

Widodo, Asari, dan Unadi, 2005. Pemanfaatan Energi Biogas Untuk Mendukung
Agribisnis Di Pedesaan. Publikasi Balai Besar Pengembangan Mekanisasi
Pertanian Serpong.

http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/06223/kel4_sem1_023.htm diakses tanggal


29 Januari 2016 pukul 18.15 WIB

http://www.e-jurnal.com/2015/11/diskontinuitas-penerapan-inovasi-biogas.html
diakses tanggal 29 Januari 2016 pukul 18.00 WIB
https://id.wikipedia.org/wiki/Limbah diakses tanggal 29 Januari 2016 pukul 17.55
WIB
http://pondokcacing.weebly.com/articles.html diakses tanggal 29 Januari 2016
pukul 17.56 WIB

16